Anda di halaman 1dari 14

1.

Radiasi

Radiasi adalah pancaran energi yang berasal dari proses transformasi atom atau inti atom yang
tidak stabil. Ketidak-stabilan atom dan inti atom mungkin memang sudah alamiah atau buatan
manusia, oleh karena itu ada sumber radiasi alam dan sumber radiasi buatan. Sumber radiasi itu
sendiri dapat dibedakan menjadi sumber yang berupa zat radioaktif dan sumber yang berupa
mesin, seperti pesawat sinar-X, akselerator, maupun reaktor nuklir. Adapun jenis radiasi dapat
dibedakan menjadi radiasi partikel bermuatan, radiasi partikel tak bermuatan, dan gelombang
elektromagnetik atau foton. Ketiga jenis radiasi ini mempunyai karakteristik fisis dan cara
interaksi dengan materi yang sangat berbeda.

A. Radiasi Partikel Bermuatan Radiasi ini merupakan pancaran energi dalam bentuk partikel
yang bermuatan listrik. Beberapa jenisnya adalah radiasi alpha dan beta yang dipancarkan
oleh zat radioaktif (inti atom yang tidak stabil), serta radiasi elektron dan proton yang
dihasilkan oleh mesin berkas elektron ataupun akselerator.
 Alpha
Partikel alpha terdiri dari dua buah proton dan dua buah neutron, identik dengan inti
atom Helium, serta mempunyai muatan listrik positif sebesar 2 muatan elementer.
Radiasi alpha dipancarkan oleh zat radioaktif, atau dari inti ataom yang tidak stabil.
Jumlah proton dan jumlah neutron di dalam inti atom yang memancarkan radiasi alpha
akan berkurang dua.

 Beta
Terdapat dua jenis radiasi beta yaitu beta positif dan beta negatif. Beta negatif identik
dengan elektron, baik massa maupun muatan listriknya sedangkan beta positif identik
dengan positron (elektron yang bermuatan positif). Elektron mempunyai massa yang
sangat ringan bila dibandingkan dengan partikel nukleonik lainnya (» 0) sedangkan
muatannya sebesar satu muatan elementer.

Radiasi beta dipancarkan oleh zat radioaktif atau inti atom yang tidak stabil. Ketika
memancarkan radiasi beta negatif, di dalam inti atomnya terjadi transformasi neutron
menjadi proton, sebaliknya pada saat memancarkan beta positif terjadi transformasi
proton menjadi neutron.
 Electron
Radiasi elektron mempunyai sifat yang sama dengan radiasi beta negatif, yang
membedakan adalah asalnya. Partikel beta berasal dari inti atom sedangkan elektron
berasal dari atom. Radiasi elektron dapat berasal dari zat radioaktif yang meluruh
dengan cara “internal conversion” atau dari mesin berkas elektron (akselerator).
 Proton
Radiasi proton merupakan pancaran proton yang mempunyai massa 1 sma (satuan
massa atom) dan mempunyai muatan positif sebesar satu muatan elementer. Radiasi
proton dihasilkan dari akselerator proton.
(Bapetan)

Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel
atau gelombang elektromagnetik/cahaya (foton) dari sumber radiasi. Ada beberapa sumber
radiasi yang kita kenal di sekitar kehidupan kita, contohnya adalah televisi, lampu penerangan,
alat pemanas makanan (microwave oven), komputer, dan lain-lain.Radiasi dalam bentuk
gelombang elektromagnetik atau disebut juga dengan foton adalah jenis radiasi yang tidak
mempunyai massa dan muatan listrik. Misalnya adalah gamma dan sinar-X, dan juga termasuk
radiasi tampak seperti sinar lampu, sinar matahari, gelombang microwave, radar dan
handphone, (BATAN, 2008)

Selain benda-benda tersebut ada sumber-sumber radiasi yang bersifat unsur alamiah dan berada
di udara, di dalam air atau berada didalam lapisan bumi. Beberapa diantaranya adalah Uranium
dan Thorium didalam lapisan bumi; Karbon dan Radon di udara serta Tritium dan Deutrerium
yang ada di dalam air.

Radiasi dalam bentuk partikel adalah jenis radiasi yang mempunyai massa terukur. Sebagai
contoh adalahradiasi alpha dengan symbol : 42𝛼 angka 4 pada symbol radiasi menunjukan
jumlah massa dari radiasi tersebut adalah 4 satuan massa atom (sma) dan 2 angka 2 menunjukan
0
jumlah muatan radiasi tersebut adalah positif 2, serta radiasi beta dengan simbol: −1𝛽

menunjukan bahwa jumlah massa dari jenis radiasi tersebut adalah 0 dan jumlah muatannya
adalah 1 negatif.

Sedangkan radiasi neutron dengan symbol 01𝜂 menunjukan bahwa jumlah massa dari neutron
adalah 1 sma dan jumlah muatannya adalah 0. Radiasi dalam bentuk gelombang
elektromagnetik atau disebut juga dengan foton adalah jenis radiasi yang tidak mempunyai
massa dan muatan listrik. Misalnya adalah gamma dan sinar-X, dan juga termasuk radiasi
tampak seperti sinar lampu, sinar matahari, gelombang microwave, radar dan handphone.
Secara garis besar radiasi digolongkan ke dalam radiasi pengion dan radiasi non-pengion.

(BATAN, 2008)

2. Nuklir
Menurut Wikpedia Bahasa Indonesia Kata nuklir berarti bagian dari atau yang berhubungan
dengan nukleus atom (inti atom). Dalam fisika nuklir, sebuah reaksi nuklir adalah sebuah
proses di mana dua nuklei atau partikel nuklir bertubrukan, untuk memproduksi hasil yang
berbeda dari produk awal. Pada prinsipnya sebuah reaksi dapat melibatkan lebih dari dua
partikel yang bertubrukan, tetapi kejadian tersebut sangat jarang. Bila partikel-partikel tersebut
bertabrakan dan berpisah tanpa berubah (kecuali mungkin dalam level energi), proses ini
disebut tabrakan dan bukan sebuah reaksi.
Dikenal dua reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi nuklir dan reaksi fisi nuklir. Reaksi fusi nuklir
adalah reaksi peleburan dua atau lebih inti atom menjadi atom baru dan menghasilkan energi,
juga dikenal sebagai reaksi yang bersih. Reaksi fisi nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom
akibat tubrukan inti atom lainnya, dan menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa lebih
kecil, serta radiasi elektromagnetik. Reaksi fusi juga menghasilkan radiasi sinar alfa, beta dan
gamma yang sagat berbahaya bagi manusia.

Dalam pengertian umum, nuklir adalah berhubungan dengan atau menggunakan inti
atau energi (tenaga) atom. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989, hlm. 618)
Segala sesuatu yang berkaitan dengan nuklir adalah berhubungan dengan atom. Atom
merupakan bagian terkecil dari suatu benda yang terdiri atas proton, neutron dan elektron.
Nuklir merupakan inti atom yang tersusun dari proton dan neutron, namun proton dan neutron
ini juga tersusun dari beberapa partikel yang jauh lebih kecil bernama kuark.
(Ngarayana. “Nuklir Untuk Kehidupan” dimuat dalam
http://www.batan.go.id/psjmn/?p=137)
Kejadian pada kehidupan sehari-hari, fenomena alam, jarang sekali berkaitan dengan reaksi
nuklir. Hampir semuanya melibatkan gravitasi dan elektromagnetik. Keduanya adalah bagian
dari empat gaya dasar dari alam, dan bukanlah yang terkuat. Namun dua lainnya, gaya nuklir
lemah dan gaya nuklir kuat adalah gaya yang bekerja pada range yang pendek dan tidak bekerja
di luar inti atom. Inti atom terdiri dari muatan positif yang sesungguhnya akan saling menjauhi
jika tidak ada suatu gaya yang menahannya.
Dalam fisika nuklir, dikenal dengan dua reaksi nuklir yakni reaksi fusi dan reaksi fisi. Jika inti
atom bertabrakan, dapat terjadi fusi nuklir. Proses ini akan melepas atau menyerap energi.
Ketika inti atom hasil tabrakan lebih ringan dari besi, maka pada umumnya fusi nuklir
melepaskan energi. Ketika inti atom hasil tabrakan lebih berat dari besi, maka pada umumnya
fusi nuklir menyerap energi.
(“Teknologi Nuklir” dimuat dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_nuklir)

Fusi nuklir (reaksi termonuklir) adalah sebuah proses saat dua inti atom bergabung,
membentuk inti atom yang lebih besar dan melepaskan energi. Fusi nuklir merupakan sumber
energi yang menyebabkan bintang bersinar dan bom hidrogen meledak.
(“Fusi nuklir” dimuat dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Fusi_nuklir)

Fisi nuklir adalah proses pembelahan inti menjadi bagian-bagian yang hampir setara, dan
melepaskan energi dan neutron dalam prosesnya. Jika neutron ini ditangkap oleh inti lainnya
yang tidak stabil, inti tersebut akan membelah juga dan memicu reaksi berantai.
(“Teknologi Nuklir” dimuat dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_nuklir)

Reaksi fisi nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom (nukleus) akibat tubrukan inti atom
lainnya sehingga menghasilkan energi dan atom baru yang mempunyai massa lebih kecil dan
juga radiasi elektromagnetik. Kalau reaksi fisi menghasilkan radiasi elektromagnetik (Radiasi
adalah energi yang dipancarkan dalam bentuk partikel atau gelombang. Jika suatu inti tidak
stabil, maka inti mempunyai kelebihan energy dan tidak dapat bertahan sehingga inti akan
melepaskan kelebihan energi dan mungkin melepaskan satu atau dua atau lebih partikel atau
gelombang sekaligus. Setiap inti yang tidak stabil akan mengeluarkan energi atau partikel
radiasi yang berbeda. (“Pengenalan Radiasi”
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/1-2.htm)
maka reaksi fusi menghasilkan radiasi sinar alfa, beta dan gamma. (“Reaksi Nuklir”, dikutip
http://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi_nuklir). Ketiga jenis radiasi terjadi secara alami dimana
radiasi sinar gamma adalah yang paling berbahaya dan sulit ditahan.

Nuklir merupakan benda misterius yang mana manusia selalu berusaha untuk menguak
rahasianya. Berbagai usaha dilakukan manusia untuk meneliti teknologi nuklir tersebut. Albert
Einstein (1879-1955), melalui teori Relativitas Khusus mengungkapkan bahwa massa dapat
dianggap sebagai bentuk lain dari energi. Menurut Einstein, jika entah bagaimana massa diubah
menjadi energi, dan akan mungkin untuk membebaskan sejumlah besar energi. Hal ini
kemudian diteliti dan dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan lain dan akhirnya menemukan
energi nuklir dengan berbagai pengaplikasian teknologi nuklir tersebut. Akan ada banyak
manfaat yang diperoleh manusia jika teknologi nuklir ini dimanfaatkan secara benar.

3. Radiasi Nuklir

Radiasi adalah pancaran energy melalui partikel dalam bentuk partikel atau gelombang elektro
magnetic. Radiasi partikel adalah jenis radiasi yang memiliki massa terukur dan bermuatan.
Sedangkan radiasi gelombang elektromagnetik atau foton adalah jenis radiasi yang tidak
memiliki massa dan muatan.
Ditinjau dari massanya, radiasi dapat dibagi menjadi radiasi elektromagnetik dan radiasi
partikel. Radiasi elektromagnetik adalah radiasi yang tidak memiliki massa. Radiasi ini terdiri
dari gelombang radio, gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak, sinar-X, sinar gamma dan
sinar kosmik. Radiasi partikel adalah radiasi berupa partikel yang memiliki massa, misalnya
partikel beta, alfa dan neutron.
Jika ditinjau dari "muatan listrik"nya, radiasi dapat dibagi menjadi radiasi pengion dan
radiasi non-pengion. Radiasi pengion adalah radiasi yang apabila menumbuk atau menabrak
sesuatu, akan muncul partikel bermuatan listrik yang disebut ion. Peristiwa terjadinya ion ini
disebut ionisasi. Ion ini kemudian akan menimbulkan efek atau pengaruh pada bahan, termasuk
benda hidup. Radiasi pengion disebut juga radiasi atom atau radiasi nuklir. Termasuk ke
dalam radiasi pengion adalah sinar-X, sinar gamma, sinar kosmik, serta partikel beta, alfa dan
neutron. Partikel beta, alfa dan neutron dapat menimbulkan ionisasi secara langsung. Meskipun
tidak memiliki massa dan muatan listrik, sinar-X, sinar gamma dan sinar kosmik juga termasuk
ke dalam radiasi pengion karena dapat menimbulkan ionisasi secara tidak langsung. Radiasi
non-pengion adalah radiasi yang tidak dapat menimbulkan ionisasi. Termasuk ke dalam radiasi
non-pengion adalah gelombang radio, gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak dan
ultraviolet.

 Radioaktivitas

Jika suatu inti tidak stabil, maka inti mempunyai kelebihan energi. Inti itu tidak dapat
bertahan, suatu saat inti akan melepaskan kelebihan energi tersebut dan mungkin melepaskan
satu atau dua atau lebih partikel atau gelombang sekaligus. Setiap inti yang tidak stabil akan
mengeluarkan energi atau partikel radiasi yang berbeda. Pada sebagian besar kasus, inti
melepaskan energi elektromagnetik yang disebut radiasi gamma, yang dalam banyak hal
mirip dengan sinar-X. Radiasi gamma bergerak lurus dan mampu menembus sebagian besar
bahan yang dilaluinya. Dalam banyak kasus, inti juga melepaskan radiasi beta. Radiasi beta
lebih mudah untuk dihentikan. Seng atap atau kaca jendela dapat menghentikan radiasi beta.
Bahkan pakaian yang kita pakai dapat melindungi dari radiasi beta. Unsur-unsur tertentu,
terutama yang berat seperti uranium, radium dan plutonium, melepaskan radiasi alfa. Radiasi
alfa dapat dihalangi seluruhnya dengan selembar kertas. Radiasi alfa tidak dapat menembus
kulit kita. Radiasi alfa sangat berbahaya hanya jika bahan-bahan yang melepaskan radiasi
alfa masuk kedalam tubuh kita.
http://fuadrofiqi.blogspot.co.id/2012/05/radiasi-nuklir.html

4. Pengukuran Radiasi
A. Besaran yang Diukur
Radiasi merupakan suatu cara perambatan energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa
membutuhkan medium atau bahan penghantar tertentu. Radiasi nuklir memiliki dua sifat
yang khas:
 tidak dapat dirasakan secara langsung dan
 dapat menembus berbagai jenis bahan.
oleh karena itu untuk menentukan ada atau tidak adanya radiasi nuklir diperlukan suatu alat,
yaitu pengukur radiasi, yang digunakan utuk mengukur kuantitas, energi, atau dosis radiasi.

 Kuantitas radiasi
adalah jumlah radiasi per satuan waktu per satuan luas, pada suatu titik
pengukuran. Kuantitas radiasi ini berbanding lurus dengan aktivitas sumber dan
berbanding terbalik dengan kuadrat jarak (r) antara sumber dan sistem pengukur.

Gambar di atas menunjukkan bahwa jumlah radiasi yang mencapai titik pengukuran
(kuantitas radiasi) merupakan hanya sebagian saja dari semua radiasi yang dipancarkan
oleh sumber.
 Energi radiasi (E)

merupakan ‘kekuatan’ dari setiap radiasi yang dipancarkan oleh sumber radiasi. Bila
sumber radiasi berupa radionuklida maka tingkat energi yang dipancarkan tergantung
pada jenis radionuklidanya. Kalau sumber radiasinya berupa pesawat sinar-X, maka
energi radiasinya bergantung pada tegangan anoda (kV). Tabel berikut menunjukkan
contoh energi radiasi dari beberapa radionuklida.

Jenis radionuklida
Energi Probabilitas
Cd-109 88 keV 3,70%

Cs-137 662keV 85%

Co-60 1173 keV dan 1332 keV 99% dan 100%


 Dosis radiasi
Dosis radiasi sering diartikan sebagai jumlah energi radiasi yang diserap atau diterima
oleh materi termasuk tubuh manusia. Nilai dosis sangat ditentukan oleh kuantitas radiasi,
jenis dan energi radiasi serta jenis materi yang dikenainya.
Dalam bidang proteksi radiasi nilai ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan
efek yang ditimbulkan radiasi pada tubuh manusia. Terdapat batasan nilai akumulasi
dosis tahunan (NBD) yang diizinkan serta turunannya per jam yaitu:
 50 mSv. per tahun atau
 25 µSv. per jam
B. Mekanisme Pendeteksian Radiasi
Detektor radiasi bekerja dengan cara mengukur perubahan yang disebabkan oleh penyerapan
energi radiasi oleh medium penyerap. Sebenarnya terdapat banyak mekanisme yang terjadi
di dalam detektor tetapi yang sering digunakan adalah proses ionisasi dan proses sintilasi.
 Proses Ionisasi
Ionisasi adalah peristiwa lepasnya elektron dari ikatannya karena menyerap energi
eksternal. Peristiwa ini dapat terjadi secara langsung oleh radiasi alpha atau beta dan
secara tidak langsung oleh radiasi sinar-X, gamma dan neutron.

Jumlah elektron lepas ( N ) sebanding dengan jumlah energi yang terserap S E dibagi
dengan daya ionisasi materi penyerap ( w ).

Dalam proses ionisasi, energi radiasi diubah menjadi pelepasan sejumlah elektron (energi
listrik). Bila terdapat medan listrik maka elektron akan bergerak menuju ke kutub positif
sehingga dapat menginduksikan arus atau tegangan listrik. Semakin besar energi
radiasinya maka arus atau tegangan listrik yang dihasilkannya juga semakin besar pula.
 Proses Sintilasi
Proses sintilasi adalah terpancarnya percikan cahaya ketika terjadi transisi elektron dari
tingkat energi yang lebih tinggi ke tingkat energi yang lebih rendah di dalam detektor,
bila terdapat kekosongan elektron pada orbit yang lebih dalam. Kekosongan tersebut
dapat disebabkan oleh lepasnya elektron (proses ionisasi) atau loncatnya elektron ke
lintasan yang lebih tinggi ketika dikenai radiasi (proses eksitasi).

Dalam proses sintilasi ini, energi radiasi diubah menjadi pancaran cahaya tampak.
Semakin besar energi radiasi yang diserap maka semakin banyak percikan cahayanya.
C. Cara Pengukuran Radiasi
Terdapat dua cara pengukuran radiasi yaitu cara pulsa (pulse mode) dan cara arus (current
mode). Sistem pengukur yang digunakan dalam kegiatan proteksi radiasi, seperti
survaimeter dan monitor radiasi biasanya menerapkan cara arus (current mode) sedangkan
dalam kegiatan aplikasi dan penelitian menerapkan cara pulsa (pulse mode).

 Cara pulsa
Setiap radiasi yang mengenai alat ukur akan dikonversikan menjadi sebuah pulsa listrik,
baik dengan mekanisme ionisasi maupun sintilasi. Bila kuantitas radiasinya semakin
tinggi maka jumlah pulsa listrik yang dihasilkannya semakin banyak. Sedangkan semakin
besar energinya semakin tinggi pulsanya.
Informasi yang dihasilkan dengan cara pulsa adalah
 jumlah pulsa (cacahan)
 tinggi pulsa listrik.
Untuk meng "konversi" kan sebuah radiasi menjadi sebuah pulsa listrik dibutuhkan waktu
tertentu, yang sangat dipengaruhi oleh jenis detektornya. Bila terdapat dua buah radiasi
yang datang secara berurutan dengan selang waktu lebih cepat daripada waktu konversi
detektor, maka radiasi yang terakhir tidak akan tercacah.
Tampilan sistem pengukur dengan cara pulsa biasanya berupa angka seperti gambar
berikut.

 Cara Arus
Pada cara arus, radiasi yang memasuki detektor tidak dikonversikan menjadi pulsa listrik
secara satu per satu, melainkan rata-rata dari akumulasinya dalam konstanta waktu
tertentu dan dipresentasikan sebagai arus listrik. Semakin banyak kuantitas atau energi
radiasi per satuan waktu yang memasuki detektor, akan semakin besar arusnya.
Karena proses konversi pada cara arus ini tidak dilakukan secara individual maka cara ini
tidak dapat memberi informasi jumlah pulsa (cacahan) maupun tinggi setiap pulsa.
Informasi yang dihasilkan cara pulsa ini adalah intensitas radiasi yang sebanding dengan
perkalian jumlah pulsa dan tingginya.
Tampilan sistem pengukur dengan cara arus biasanya berupa jarum penunjuk seperti
gambar berikut.
D. Jenis Detektor Radiasi
Detektor merupakan suatu bahan yang peka terhadap radiasi, yang bila dikenai radiasi akan
menghasilkan tanggapan mengikuti mekanisme yang telah dibahas sebelumnya. Perlu
diperhatikan bahwa suatu bahan yang sensitif terhadap suatu jenis radiasi belum tentu
sensitif terhadap jenis radiasi yang lain. Sebagai contoh, detektor radiasi gamma belum tentu
dapat mendeteksi radiasi neutron.
Sebenarnya terdapat banyak jenis detektor, tetapi di sini hanya akan dibahas tiga jenis
detektor yaitu, detektor isian gas, detektor sintilasi, dan detektor semikonduktor.
 Detektor Isian Gas
Detektor isian gas merupakan detektor yang paling sering digunakan untuk mengukur
radiasi. Detektor ini terdiri dari dua elektroda, positif dan negatif, serta berisi gas di antara
kedua elektrodanya. Elektroda positif disebut sebagai anoda, yang dihubungkan ke kutub
listrik positif, sedangkan elektroda negatif disebut sebagai katoda, yang dihubungkan ke
kutub negatif. Kebanyakan detektor ini berbentuk silinder dengan sumbu yang berfungsi
sebagai anoda dan dinding silindernya sebagai katoda sebagaimana berikut.

Radiasi yang memasuki detektor akan mengionisasi gas dan menghasilkan ion-ion positif
dan ion-ion negatif (elektron). Jumlah ion yang akan dihasilkan tersebut sebanding
dengan energi radiasi dan berbanding terbalik dengan daya ionisasi gas. Daya ionisasi
gas berkisar dari 25 eV s.d. 40 eV. Ion-ion yang dihasilkan di dalam detektor tersebut
akan memberikan kontribusi terbentuknya pulsa listrik ataupun arus listrik.
Ion-ion primer yang dihasilkan oleh radiasi akan bergerak menuju elektroda yang
sesuai. Pergerakan ion-ion tersebut akan menimbulkan pulsa atau arus listrik. Pergerakan
ion tersebut di atas dapat berlangsung bila di antara dua elektroda terdapat cukup medan
listrik. Bila medan listriknya semakin tinggi maka energi kinetik ion-ion tersebut akan
semakin besar sehingga mampu untuk mengadakan ionisasi lain.

Ion-ion yang dihasilkan oleh ion primer disebut sebagai ion sekunder. Bila medan listrik
di antara dua elektroda semakin tinggi maka jumlah ion yang dihasilkan oleh sebuah
radiasi akan sangat banyak dan disebut proses ‘avalanche’.
Terdapat tiga jenis detektor isian gas yang bekerja pada daerah yang berbeda yaitu :
Detektor Kamar Ionisasi (ionization chamber)
Detektor Proporsional
Detektor Geiger Mueller (GM)
 Detektor Sintilasi
Detektor sintilasi selalu terdiri dari dua bagian yaitu bahan sintilator dan photomultiplier.
Bahan sintilator merupakan suatu bahan padat, cair maupun gas, yang akan
menghasilkan percikan cahaya bila dikenai radiasi pengion. Photomultiplier digunakan
untuk mengubah percikan cahaya yang dihasilkan bahan sintilator menjadi pulsa listrik.
Mekanisme pendeteksian radiasi pada detektor sintilasi dapat dibagi menjadi dua tahap
yaitu :
proses pengubahan radiasi yang mengenai detektor menjadi percikan cahaya di
dalam bahan sintilator dan
proses pengubahan percikan cahaya menjadi pulsa listrik di dalam tabung
photomultiplier
Bahan Sintilator
Sintilator Cair (Liquid Scintillation)
Tabung Photomultiplier

 Detektor Semikonduktor
Bahan semikonduktor, yang diketemukan relatif lebih baru daripada dua jenis detektor di
atas, terbuat dari unsur golongan IV pada tabel periodik yaitu silikon atau germanium.
Detektor ini mempunyai beberapa keunggulan yaitu lebih effisien dibandingkan dengan
detektor isian gas, karena terbuat dari zat padat, serta mempunyai resolusi yang lebih baik
daripada detektor sintilasi.

Pada dasarnya, bahan isolator dan bahan semikonduktor tidak dapat meneruskan arus
listrik. Hal ini disebabkan semua elektronnya berada di pita valensi sedangkan di pita
konduksi kosong. Perbedaan tingkat energi antara pita valensi dan pita konduksi di bahan
isolator sangat besar sehingga tidak memungkinkan elektron untuk berpindah ke pita
konduksi ( > 5 eV ) seperti terlihat di atas. Sebaliknya, perbedaan tersebut relatif kecil
pada bahan semikonduktor ( < 3 eV ) sehingga memungkinkan elektron untuk meloncat
ke pita konduksi bila mendapat tambahan energi.
Energi radiasi yang memasuki bahan semikonduktor akan diserap oleh bahan sehingga
beberapa elektronnya dapat berpindah dari pita valensi ke pita konduksi. Bila di antara
kedua ujung bahan semikonduktor tersebut terdapat beda potensial maka akan terjadi
aliran arus listrik. Jadi pada detektor ini, energi radiasi diubah menjadi energi listrik.

Sambungan semikonduktor dibuat dengan menyambungkan semikonduktor tipe N


dengan tipe P (PN junction). Kutub positif dari tegangan listrik eksternal dihubungkan ke
tipe N sedangkan kutub negatifnya ke tipe P seperti terlihat pada Gambar 7. Hal ini
menyebabkan pembawa muatan positif akan tertarik ke atas (kutub negatif) sedangkan
pembawa muatan negatif akan tertarik ke bawah (kutub positif), sehingga terbentuk
(depletion layer) lapisan kosong muatan pada sambungan PN. Dengan adanya lapisan
kosong muatan ini maka tidak akan terjadi arus listrik. Bila ada radiasi pengion yang
memasuki lapisan kosong muatan ini maka akan terbentuk ion-ion baru, elektron dan
hole, yang akan bergerak ke kutub-kutub positif dan negatif. Tambahan elektron dan hole
inilah yang akan menyebabkan terbentuknya pulsa atau arus listrik.
Oleh karena daya atau energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan ion-ion ini lebih
rendah dibandingkan dengan proses ionisasi di gas, maka jumlah ion yang dihasilkan oleh
energi yang sama akan lebih banyak. Hal inilah yang menyebabkan detektor
semikonduktor sangat teliti dalam membedakan energi radiasi yang mengenainya atau
disebut mempunyai resolusi tinggi. Sebagai gambaran, detektor sintilasi untuk radiasi
gamma biasanya mempunyai resolusi sebesar 50 keV, artinya, detektor ini dapat
membedakan energi dari dua buah radiasi yang memasukinya bila kedua radiasi tersebut
mempunyai perbedaan energi lebih besar daripada 50 keV. Sedang detektor
semikonduktor untuk radiasi gamma biasanya mempunyai resolusi 2 keV. Jadi terlihat
bahwa detektor semikonduktor jauh lebih teliti untuk membedakan energi radiasi.
Sebenarnya, kemampuan untuk membedakan energi tidak terlalu diperlukan dalam
pemakaian di lapangan, misalnya untuk melakukan survai radiasi. Akan tetapi untuk
keperluan lain, misalnya untuk menentukan jenis radionuklida atau untuk menentukan
jenis dan kadar bahan, kemampuan ini mutlak diperlukan.
Kelemahan dari detektor semikonduktor adalah harganya lebih mahal, pemakaiannya
harus sangat hati-hati karena mudah rusak dan beberapa jenis detektor semikonduktor
harus didinginkan pada temperatur Nitrogen cair sehingga memerlukan dewar yang
berukuran cukup besar.
 Keunggulan - Kelemahan Detektor
Dari pembahasan di atas terlihat bahwa setiap radiasi akan diubah menjadi sebuah pulsa
listrik dengan ketinggian yang sebanding dengan energi radiasinya. Hal tersebut
merupakan fenomena yang sangat ideal karena pada kenyataannya tidaklah demikian.
Terdapat beberapa karakteristik detektor yang membedakan satu jenis detektor dengan
lainnya yaitu efisiensi, kecepatan dan resolusi.
Efisiensi detektor adalah suatu nilai yang menunjukkan perbandingan antara jumlah
pulsa listrik yang dihasilkan detektor terhadap jumlah radiasi yang diterimanya. Nilai
efisiensi detektor sangat ditentukan oleh bentuk geometri dan densitas bahan detektor.
Bentuk geometri sangat menentukan jumlah radiasi yang dapat 'ditangkap' sehingga
semakin luas permukaan detektor, efisiensinya semakin tinggi. Sedangkan densitas
bahan detektor mempengaruhi jumlah radiasi yang dapat berinteraksi sehingga
menghasilkan sinyal listrik. Bahan detektor yang mempunyai densitas lebih rapat akan
mempunyai efisiensi yang lebih tinggi karena semakin banyak radiasi yang berinteraksi
dengan bahan.
Kecepatan detektor menunjukkan selang waktu antara datangnya radiasi dan
terbentuknya pulsa listrik. Kecepatan detektor berinteraksi dengan radiasi juga sangat
mempengaruhi pengukuran karena bila respon detektor tidak cukup cepat sedangkan
intensitas radiasinya sangat tinggi maka akan banyak radiasi yang tidak terukur meskipun
sudah mengenai detektor.
Resolusi detektor adalah kemampuan detektor untuk membedakan energi radiasi yang
berdekatan. Suatu detektor diharapkan mempunyai resolusi yang sangat kecil (high
resolution) sehingga dapat membedakan energi radiasi secara teliti. Resolusi detektor
disebabkan oleh peristiwa statistik yang terjadi dalam proses pengubahan energi radiasi,
noise dari rangkaian elektronik, serta ketidak-stabilan kondisi pengukuran.
Aspek lain yang juga menjadi pertimbangan adalah konstruksi detektor karena semakin
rumit konstruksi atau desainnya maka detektor tersebut akan semakin mudah rusak dan
biasanya juga semakin mahal.
Tabel berikut menunjukkan karakteristik beberapa jenis detektor secara umum
berdasarkan beberapa pertimbangan di atas.

Pemilihan detektor harus mempertimbangkan spesifikasi keunggulan dan kelemahan


sebagaimana tabel di atas. Sebagai contoh, detektor yang digunakan pada alat ukur
portabel (mudah dibawa) sebaiknya adalah detektor isian gas, detektor yang digunakan
pada alat ukur untuk radiasi alam (intensitas sangat rendah) sebaiknya adalah detektor
sintilasi, sedangkan detektor pada sistem spektroskopi untuk menganalisis bahan
sebaiknya detektor semikonduktor.

(http;//www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/Pengukuran_Radiasi/Dasar-04)