Anda di halaman 1dari 115

ANALISIS PENGOLAHAN LIMBAH PADA PEMBANGKIT

LISTRIK TENAGA UAP (PLTU) LABUHAN ANGIN DI


KABUPATEN TAPANULI TENGAH

SKRIPSI

OLEH :

MITRA SETIAWATI GULO


NIM : 111000265

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

Universitas Sumatera Utara


ANALISIS PENGOLAHAN LIMBAH PADA PEMBANGKIT
LISTRIK TENAGA UAP (PLTU) LABUHAN ANGIN DI
KABUPATEN TAPANULI TENGAH

Skripsi ini diajukan sebagai


salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat

OLEH :

MITRA SETIAWATI GULO


NIM : 111000265

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Labuhan Angin menghasilkan


limbah yang diklasifikasikan menjadi limbah padat berupa abu sebanyak
45ton/hari/unit operasi, limbah cair yang dihasilkan dengan debit 60 M3/jam dan
limbah gas yang berupa emisi gas SOx, NOx dan partikulat. Limbah ini
menimbulkan dampak bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis
gambaran pengolahan limbah pada PLTU Labuhan Angin. Jenis penelitian ini
adalah survei bersifat deskriptif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan
wawancara dengan menggunakan lembar observasi, observasi langsung, dan
wawancara dengan menggunakan kuesioner.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah abu yang dihasilkan dibuang
ke landfill terbuka dengan pelapis High Density Polyethylene (HDPE) yang kedap
air. Petugas pengolah limbah sebagian besar memiliki tindakan yang baik dalam
menangani limbah. Sarana pengolahan limbah cair dan gas pada PLTU Labuhan
Angin sudah memenuhi syarat sehingga limbah yang dihasilkan tidak ada yang
melebihi baku mutu yang ditetapkan.
Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pengolahan limbah PLTU Labuhan
Angin sudah memenuhi syarat. Disarankan agar parameter yang sudah memenuhi
baku mutu tetap dipertahankan, melakukan pengukuran kecepatan alir emisi, dan
memberikan pelatihan kepada petugas pengolah limbah yang memiliki tindakan
yang sedang dan kurang dalam menangani limbah.

Kata Kunci : Pengolahan Limbah, Limbah Padat, Limbah Cair, Limbah


Gas, Pembangkit Listrik Tenaga Uap

Universitas Sumatera Utara


ABSTRACT

Steam power plant Labuhan Angin producing waste that is classified into
solid waste such as ash with quantity 45 tons / day / unit operation, liquid waste
generated by the discharge of 60 M3 / hr and gas waste in the form of the emission
of SOx, NOx and particulates. This waste impacts to human health and the
environment.
The aims of this study is to identify and analyze the representative on the
sewage treatment plant Labuhan Angin. This study was a descriptive survey. Data
collection methods is done through interview using observation sheets,
observation, and questionnaires.
The results showed that the ash was generated dumped to opened landfill
with layering High Density Polyethylene (HDPE) which is impermeable.
Personnel who handle the waste mostly has good action in handling the waste.
Wastewater treatment dan waste gas facilities at Labuhan Angin power plant has
qualified so there is no waste generated parameter does not exist that exceed
quality standards established.
The conclusion from this study is the processing of waste treatment in
Labuhan Angin Power Plant has qualified. It is recommended that parameter
already qualified the quality standards can be sustained , measuring the flow rate
of emissions, and providing training to personnel who handle the waste that has a
medium and lower behavior in handling waste.

Keywords: Waste Treatment, Solid Waste, Liquid Waste, Gas Waste, Power
Plant

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Mitra Setiawati Gulo

Tempat Lahir : Fodo

Tanggal Lahir : 19 Oktober 1993

Suku Bangsa : Nias

Agama : Kristen Protestan

Nama Ayah : Drs. Tehenasokhi Gulo

Suku Bangsa Ayah : Nias

Nama Ibu : Yaniria Zebua, S.Pd

Suku Bangsa Ibu : Nias

Pendidikan Formal

1. SD/Tamat Tahun : SDN No. 070981 Fodo / 2005


2. SMP/Tamat Tahun : SMP Negeri 1 Gunungsitoli / 2008
3. SMA/Tamat Tahun : SMA Negerti 1 (Plus) Matauli Pandan
4. Lama Studi di FKM Usu : 4 tahun

Universitas Sumatera Utara


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas

segalakasih dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

judul“ANALISIS PENGOLAHAN LIMBAH PADA PEMBANGKIT

LISTRIK TENAGA UAP (PLTU) LABUHAN ANGIN DI KABUPATEN

TAPANULI TENGAH” .

Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh

gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara. Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak, baik secara moril dan materil. Untuk itu pada

kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada :

1. Dr. Drs. Surya Utama, MS, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara (FKM USU).

2. Ir. Evi Naria, MKes, selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Ir. Evi Naria, M. Kes, selaku Dosen Pembimbing I sekaligus Ketua Penguji

yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan saran, bimbingan

dan arahan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

4. dr. Devi Nuraini Santi, M. Kes selaku Dosen Pembimbing II sekaligus

Penguji I yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan

dan arahan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara


5. Ir. Indra Chahaya, M.Si, selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan

bimbingan, saran serta masukan kepada penulis dalam perbaikan skripsi ini.

6. Prof. Dr. Dra. Irnawati Marsaulina, MS, selaku Dosen Penguji III yang telah

memberikan bimbingan, saran serta masukan kepada penulis dalam perbaikan

skripsi ini.

7. Seluruh Dosen, dan Staf di FKM USU yang telah banyak membantu dan

memberikan bekal ilmu selama penulis mengikuti pendidikan.

8. Bapak Ombun Sihombing, selaku Manager Sektor PT. PLN (Persero)

Pembangkitan Sumatera Utara Sektor Labuhan Angin, yang telah banyak

membantu dan memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian

di PLTU Labuhan Angin.

9. Seluruh keluarga besar PT. PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Utara

Sektor Labuhan Angin, khususnya Bapak Adang Taufik Hermansyah, selaku

Asisten Manager PT. PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Utara Sektor

Labuhan Angin, Bapak Andre Diaryan Tampubolon, selaku Junior Enjiner

Lingkungan & K2, Bang Ricky dan Alva, yang juga turut berpartisipasi dan

banyak membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian di lapangan.

10. Teristimewa kepada orangtuaku tersayang, Drs. Tehenasokhi Gulo dan

Yaniria Zebua, S.Pd serta adikku, Stefan Kristianto Gulo yang selalu

mendoakan yang terbaik untukku dan sudah menjadi motivator terbaikku.

11. Kepada Baya A. Yogi Lase sekeluarga dan juga Kak Pdt. Martina Gulo, S.Th,

yang memberi tumpangan dan kasih sayang yang tulus selama melakukan

penelitian.

Universitas Sumatera Utara


15. Untuk Bapak Sa’a dan Mama Sa’a (A/I. Happy Gulo), Bapak Talu dan Mama

Talu (A/I. Dema Gulo), Bapak Sakhi dan Mama Sakhi (A/I. Bertha Gulo)

sekeluarga dan keluarga besar yang lain, yang telah mendukung dalam doa.

16. Kepada warga jemaat gereja BNKP Betania dan seluruh rekan pelayanan di

Chapel Oikumene USU khususnya kepada Ibu Pdt. Gloria I. Balle dan Bapak

Pnt. Dhani Barus yang telah mendukug dalam doa.

17. Kepada keluarga besar POMK FKM terkhusus KK Sammantha (Dian, Herna,

Ita, Renita, Ririn) dan Anunciata Dominik (Asrina, Erafita, Monalisa, Nenny,

Vero) yang senantiasa mendukung dalam doa.

18. Kepada seluruh mahasiswa FKM USU 2011, terkhusus peminatan Kesehatan

Lingkungan, Alayers, teman-teman PBL dan LKP, dan masih banyak lagi,

yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah banyak

memberi semangat kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan baik

dari segi bahasa maupun isinya, sehingga saran dan masukan sangat diharapkan

untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, saya berharap Tuhan berkenan

membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini

membawa manfaat bagi pengembangan ilmu.

Medan, Juli 2015

Mitra Setiawati Gulo

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... i


ABSTRAK ........................................................................................................ ii
ABSTRACT ....................................................................................................... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ........................................................................ iv
KATA PENGANTAR ...................................................................................... v
DAFTAR ISI ..................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xii

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1


1.1 LatarBelakang ................................................................................. 1
1.2 RumusanMasalah ............................................................................ 3
1.3 TujuanPenelitian ............................................................................. 3
1.3.1 TujuanUmum .......................................................................... 3
1.3.2TujuanKhusus........................................................................... 4
1.4 ManfaatPenelitian .......................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 5


2.1PengertianLimbahIndustri................................................................ 5
2.2KlasifikasiLimbahIndustri ............................................................... 5
2.3DefenisiPembangkitListrikTenagaUap (PLTU) ............................. 7
2.4LimbahPembangkitListrikTenagaUap (PLTU) ............................... 11
2.4.1LimbahPadat PLTU ................................................................. 11
2.4.1.1 SumberLimbahPadat ....................................................... 11
2.4.1.2 KarateristikLimbahPadat ................................................. 12
2.4.1.3 PengolahanLimbahPadat ................................................. 13
2.4.1.4PersyaratanPengumpulandanPenyimpananLimbah B3 ....14
2.4.1.5 DampakLimbahPadat ...................................................... 16
2.4.2 LimbahCair PLTU ................................................................. 17
2.4.2.1 SumberLimbahCair ......................................................... 17
2.4.2.2 KarateristikLimbahCair ................................................... 18
2.4.2.3 Parameter LimbahCair..................................................... 19
2.4.2.4 PengolahanLimbahCair ................................................... 21
2.4.2.5 DampakLimbahCair ........................................................ 24
2.4.3 Limbah Gas PLTU ................................................................. 25
2.4.3.1 SumberLimbahGas .......................................................... 25

Universitas Sumatera Utara


2.4.3.2 KomposisiLimbahGas ..................................................... 26
2.4.3.3 Parameter LimbahGas ..................................................... 26
2.4.3.4 PengolahanLimbah Gas ................................................... 26
2.4.3.5 DampakLimbah Gas ....................................................... 29
2.5 KerangkaKonsep ......................................................................... 31

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 32


3.1 JenisPenelitian ............................................................................. 32
3.2 LokasidanWaktuPeelitian ............................................................ 32
3.2.1 LokasiPenelitian ................................................................. 32
3.2.2 WaktuPenelitian ................................................................. 32
3.3 ObjekPenelitian ........................................................................... 32
3.4 MetodePengumpulan Data ......................................................... 33
3.4.1 Data Primer ....................................................................... 33
3.4.2 Data Sekunder .................................................................... 33
3.5 DefenisiOperasional .................................................................... 33
3.6 AspekPengukuran ........................................................................ 35
3.7 Analisis Data .............................................................................. 36

BAB IV HASIL PENELITIAN ..................................................................... 37


4.1 GambaranUmum Perusahaan ..................................................... 37
4.1.2 StrukturOrganisasi ........................................................... 38
4.2 HasilPenelitian ............................................................................. 38
4.2.1 JumlahLimbah Yang Dihasilkan ........................................ 38
4.2.2 KarateristikPetugas Yang MenanganiPengolahan
Limbah ............................................................................... 39
4.2.2.1 UmurResponden .................................................. 39
4.2.2.2 JenisKelamin ........................................................ 39
4.2.2.3 Tingkat Pendidikan .............................................. 39
4.2.2.4 Lama Bekerja ....................................................... 40
4.2.2.5 TindakanResponden ............................................. 41
4.2.3 SaranaPengolahanLimbah .................................................. 42
4.2.4 Proses PengolahanLimbah ................................................. 44
4.2.4.1 LimbahPadat ........................................................ 44
4.2.4.2 LimbahCair .......................................................... 44
4.2.4.3 Limbah Gas .......................................................... 48
4.2.5 KarakteristikBangunan/TempatPenyimpananKemasan
Bekas B3 ............................................................................ 50
4.2.6 KualitasLimbahCair ........................................................... 51
4.2.7 KualitasEmisi ..................................................................... 52

BAB V PEMBAHASAN ............................................................................... 54


5.1 JumlahLimbah Yang Dihasilkan ................................................. 54
5.2 KarateristikPetugas Yang MenanganiPengolahanLimbah .......... 54
5.3 SaranaPengolahanLimbah ........................................................... 57
5.4 Proses PengolahanLimbah........................................................... 59

Universitas Sumatera Utara


5.4.1 PenangananLimbahPadat ................................................. 59
5.4.2 PengolahanLimbahCair ................................................... 61
5.4.3 PengolahanLimbah Gas ................................................... 62
5.5 KarakteristikBangunan/TempatPenyimpananKemasan
Bekas B3 ...................................................................................... 62
5.6 KualitasLimbahCair .................................................................... 63
5.7 KualitasEmisi .............................................................................. 64

BAB VI Kesimpulandan Saran ..................................................................... 65


6.1 Kesimpulan .................................................................................. 65
62 Saran ........................................................................................... 66

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 67


LAMPIRAN ........................................................................................................ 70

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 DistribusiRespondenBerdasarkanKelompokUmur


PadaPetugas Yang MenanganiPengolahanLimbah
di PLTU LabuhanAnginTahun 2015 ............................................... 39

Tabel 4.2 DistribusiRespondenBerdasarkan Tingkat Pendidikan


PadaPetugas Yang MenanganiPengolahanLimbah
di PLTU LabuhanAnginTahun 2015 .............................................. 40

Tabel 4.3 DistribusiRespondenBerdasarkan Lama Bekerja


PadaPetugas Yang MenanganiPengolahanLimbah
di PLTU LabuhanAnginTahun 2015 ............................................... 40

Tabel 4.4 DistribusiRespondenBerdasarkanPertanyaanPadaKuesioner


PadaPetugas Yang MenanganiPengolahanLimbah
di PLTU LabuhanAnginTahun 2015 ............................................... 41

Tabel 4.5 DistribusiRespondenBerdasarkanTindakanDalamMenangani


LimbahPadaPetugas Yang MenanganiPengolahanLimbah
di PLTU LabuhanAnginTahun 2015 ............................................... 42

Tabel 4.6 Data HasilPengukuranKualitasLimbahCair


PLTU LabuhanAnginTahun 2015 .................................................... 52

Tabel 4.7 Data HasilPengukuranKualitasLimbahCair


PLTU LabuhanAnginTahun 2015 .................................................... 53

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. PrinsipKerja PLTU ....................................................................... 8

Gambar 2. KerangkaKonsep ............................................................................ 31

Gambar 3. SkemaPenangananfly ash ............................................................... 44

Gambar 4. SkemaWaste Water Treatment Plant (WWTP) ............................ 47

Gambar 5. SkemaCoal Waste Water Treatment Plant (CWWTP).................. 48

Gambar 6. SkemaPengolalahanEmisi .............................................................. 50

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. LembarObservasiPenelitian ...................................................... 67

Lampiran 2. KuesionerPenelitian .................................................................. 74

Lampiran 3. KeputusanKa. Bapedal No. 1 Tahun 1995 ............................... 75

Lampiran 4. Lampiran I dan II Permen LH No.08 tahun 2009 .................... 77

Lampiran 5. Lampiran I B Permen LH No.09 tahun 2001 ........................... 79

Lampiran 6. Data HasilPengukuranLimbahCair ........................................... 80

Lampiran 7. Data HasilPengukurankualitasEmisi ......................................... 82

Lampiran 8. StrukturOrganisasi .................................................................... 83

Lampirna 9. Pengolahan Data SPSS ............................................................. 84

Lampiran 10. PermohonanIzinSurveiPendahuluan ......................................... 89

Lampiran 11. PermohonanIzinPenelitian/Riset ............................................... 90

Lampiran 12. Surat Keterangan dari PLTU LabuhanAngin ............................ 91

Lampiran 13. Dokumentasi Penelitian ............................................................ 92

Universitas Sumatera Utara


ABSTRAK

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Labuhan Angin menghasilkan


limbah yang diklasifikasikan menjadi limbah padat berupa abu sebanyak
45ton/hari/unit operasi, limbah cair yang dihasilkan dengan debit 60 M3/jam dan
limbah gas yang berupa emisi gas SOx, NOx dan partikulat. Limbah ini
menimbulkan dampak bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis
gambaran pengolahan limbah pada PLTU Labuhan Angin. Jenis penelitian ini
adalah survei bersifat deskriptif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan
wawancara dengan menggunakan lembar observasi, observasi langsung, dan
wawancara dengan menggunakan kuesioner.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah abu yang dihasilkan dibuang
ke landfill terbuka dengan pelapis High Density Polyethylene (HDPE) yang kedap
air. Petugas pengolah limbah sebagian besar memiliki tindakan yang baik dalam
menangani limbah. Sarana pengolahan limbah cair dan gas pada PLTU Labuhan
Angin sudah memenuhi syarat sehingga limbah yang dihasilkan tidak ada yang
melebihi baku mutu yang ditetapkan.
Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pengolahan limbah PLTU Labuhan
Angin sudah memenuhi syarat. Disarankan agar parameter yang sudah memenuhi
baku mutu tetap dipertahankan, melakukan pengukuran kecepatan alir emisi, dan
memberikan pelatihan kepada petugas pengolah limbah yang memiliki tindakan
yang sedang dan kurang dalam menangani limbah.

Kata Kunci : Pengolahan Limbah, Limbah Padat, Limbah Cair, Limbah


Gas, Pembangkit Listrik Tenaga Uap

Universitas Sumatera Utara


ABSTRACT

Steam power plant Labuhan Angin producing waste that is classified into
solid waste such as ash with quantity 45 tons / day / unit operation, liquid waste
generated by the discharge of 60 M3 / hr and gas waste in the form of the emission
of SOx, NOx and particulates. This waste impacts to human health and the
environment.
The aims of this study is to identify and analyze the representative on the
sewage treatment plant Labuhan Angin. This study was a descriptive survey. Data
collection methods is done through interview using observation sheets,
observation, and questionnaires.
The results showed that the ash was generated dumped to opened landfill
with layering High Density Polyethylene (HDPE) which is impermeable.
Personnel who handle the waste mostly has good action in handling the waste.
Wastewater treatment dan waste gas facilities at Labuhan Angin power plant has
qualified so there is no waste generated parameter does not exist that exceed
quality standards established.
The conclusion from this study is the processing of waste treatment in
Labuhan Angin Power Plant has qualified. It is recommended that parameter
already qualified the quality standards can be sustained , measuring the flow rate
of emissions, and providing training to personnel who handle the waste that has a
medium and lower behavior in handling waste.

Keywords: Waste Treatment, Solid Waste, Liquid Waste, Gas Waste, Power
Plant

Universitas Sumatera Utara


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak revolusi industri abad ke-18 telah terjadi perubahan tatanan ekonomi

masyarakat dunia, dari sistem agraris menjadi sistem industrialisasi yang berbasis

pada teknologi yang membutuhkan bahan bakar minyak bumi, gas dan batubara.

Proses industri semacam ini menghasilkan produk samping serta limbah yang

dibuang ke lingkungan (Kristanto, 2013).

Salah satu industri yang menghasilkan limbah adalah pembangkit listrik

tenaga uap (PLTU) (Kristanto, 2013). PLTU merupakan pembangkit listrik yang

mengandalkan energi dari uap untuk menghasilkan energi listrik. Pembangkit

listrik ini menggunakan bahan bakar batubara, minyak atau gas sebagai sumber

energi primer (Marsudi, 2005).

Selain menghasilkan listrik yang bermanfaat bagi manusia, PLTU

berbahan bakar batubara juga menghasilkan aneka limbah yang dapat mencemari

lingkungan. Proses pembakaran batubara pada unit pembangkit uap(boiler)

menghasilkan dua jenis abu yaitu abu terbang (fly ash) danabu dasar (bottom ash).

Komposisi abu batubara yang dihasilkanterdiri dari 10 - 20 % abu dasar, sedang

sisanya sekitar 80 - 90 %berupa abu terbang.Beberapa logam berat juga

terkandung dalam abu batubara seperti Cu, Pb, Zn, Cd, dan Cr (Munir, 2008).

Hasil analisis pada PLTU 50 MWatt dengan bahan bakar batubara

sebanyak 210,1 ton/hari dihasilkan limbah padat berupa abu layang sebanyak

Universitas Sumatera Utara


1.7284,65 kg (Megasari, K., dkk., 2008). Limbah abu ini mengandung unsur

toksik dan berpotensi besar menjadi masalah lingkungan, bahkan Kementerian

Negara Lingkungan Hidup (KNLH) telah menetapkannya ke dalam kategori

limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) berdasarkan PP No. 85 Tahun 1999

tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang

pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (Lestiani, DD., dkk, 2010).

Kegiatan operasi PLTU batubara juga menghasilkan limbah cair yang

secara umum tergolong zat pencemar dengan kriteria yang bersifat fisika dan

kimia termasuk kandungan unsur logam dan minyak (Pusat Penelitian

Lingkungan Hidup, 2007). Menurut laporan Sprint Consultant (2014), hasil

pemantauan pH air PLTU Paiton pada inletwaste water treatment plant (WWTP)

periode Mei 2014 adalah 10,43.

PLTU batubara juga menghasilkan limbah gas yang dapat menimbulkan

emisi pencemaran udara. Emisi yang dihasilkan terdiri dari SOx, NOx, COx, dan

partikel debu yang mengandung unsur radioaktif (Iswan, 2010). Gas SO2 di udara

bereaksi dengan uap air atau larut pada tetesan air membentuk H2SO4 yang

merupakan komponen utama dari hujan asam. Dengan cara yang sama, NOx

diudara bereaksi dengan uap air atau larut pada tetesan air membentuk HNO3

yang juga merupakan komponen utama dari hujan asam (Mulia, 2005).

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuhan Angin merupakan salah

satu penyuplai listrik yang berada di wilayah Desa Tapian Nauli 1, Tapanuli

Tengah, Sumatera Utara. Bahan bakar PLTU Labuhan Angin menggunakan

batubara (Togu, 2014). Menurut Herni, dkk (2009), prediksi emisi

Universitas Sumatera Utara


CO2berdasarkan konsumsi batubara di PLTU Labuhan Angin 115 MW dengan

nilai efesiensi 35% dan laju alir batubara 70 ton/jam dihasilkan CO2 sebanyak 103

ton/hari.

Hasil survei pendahuluan yang dilakukan peneliti bahwa PLTU Labuhan

Angin menghasilkan ash sebanyak 45 ton/hari/uni operasi. Abu (ash) ini belum

dilakukan pengolahannya. Saat ini pemanfaatan abu yang dihasilkan PLTU

Labuhan angin sedang dalam tahap menjalin kerjasama dengan pihak ketiga .

Upaya menjaga kesehatan lingkungan memerlukan pengolahan limbah

yang tepat sehingga limbah yang dibuang ke lingkungan sesuai dengan baku mutu

yang telah di tetapkan.Berdasarkan pemaparan di atas, penulis bermaksud untuk

melakukan analisispengolahan limbah pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU)

Labuhan Angin di Kabupaten Tapanuli Tengah.

1.2 Rumusan Masalah

Proses pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara

menghasilkan limbah padat meliputi fly ash dan bottom ash, limbah cair meliputi

perubahan pH air, TSS, Cl2, Cr2, Cu, Fe, Zn, PO4-, SO4(2-), salinitas, minyak dan

lemak, dan limbah gas berupa SO2, NO2, dan total partikulat. Oleh karena itu

perlu dilakukan analisis pengolahan limbah pada PLTU Labuhan Angin tersebut.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran pengolahan limbah pada pembangkit listrik

tenaga uap (PLTU) Labuhan Angin dan mengetahui kualitas limbah setelah diolah

serta membandingkannya dengan baku mutu yang telah ditetapkan.

Universitas Sumatera Utara


1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui jumlah limbah padat, limbah cair dan limbah gas yang

dihasilkan dari kegiatan operasional PLTU Labuhan Angin

2. Untuk mengetahui karakteristik petugas yang menangani pengolahan limbah di

PLTU Labuhan Angin.

3. Untuk mengetahui sarana pengolahan limbah padat, limbah cair dan gas yang

ada di PLTU Labuhan Angin.

4. Untuk mengetahui proses pengolahan limbah padat, limbah cair dan gas yang

ada di PLTU Labuhan Angin.

5. Untuk mengetahui karakteristik bangunan/tempat penyimpanan kemasan

bekas bahan berbahaya dan beracun (B3).

6. Untuk menganalisis data hasil pengukuran kualitas limbah cair meliputi pH,

TSS, Cl2, Cr, Cu, Fe, Zn, SO4(2-), PO-4, temperatur, salinitas, minyak dan lemak

7. Untuk menganalisis data hasil pengukuran emisi berupa SO2, NO2, total

partikulat, dan opasitas.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Memberikan informasi kepada petugas yang menangani pengolahan limbah

tentang dampak yang ditimbulkan dari limbah yang ditangani.

2. Menambah pengetahuan dan pengalaman penulis dalam hal penanganan

limbah industri khususnya PLTU.

3. Sebagai bahan informasi kepada pembaca tentang pengolahan limbah PLTU

berbahan bakar batubara.

Universitas Sumatera Utara


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Limbah Industri

Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat

tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis

(Kristanto, 2013). Menurut Palar (2004), limbah industri adalah semua jenis

bahan sisa atau bahan buangan yang berasal dari hasil samping suatu proses

perindustrian. Limbah industri dapat menjadi limbah yang sangat berbahaya bagi

lingkungan hidup dan manusia.

2.2 Klasifikasi Limbah Industri

Menurut Setiawan (2015), berdasarkan dari wujud limbah yang dihasilkan,

limbah dibagi menjadi tiga yaitu limbah padat, limbah cair dan gas.Limbah yang

dihasilkan dari proses atau kegiatan industri antara lain:

1. Limbah padat

Limbah padat industri menurut Kristanto (2013) secara garis besar

diklasifikasikan menjadi limbah padat yang mudah terbakar, limbah padat yang

tidak mudah terbakar, limbah padat yang mudah membusuk, debu, lumpur, dan

limbah yang dapat di daur ulang.PLTU menghasilkan sisa pembakaran berupa

limbah padat abu dasar (bottom ash) dan abu terbang (fly ash) (Lestiani, dkk,

2010). Adapun kategori untuk limbah padat pada industri adalah :

a. Limbah padat non B3 (bahan berbahaya dan beracun) diantaranya lumpur,

boiler ash, sampah kantor, sampah rumah tangga, spare part alat berat, sarung

Universitas Sumatera Utara


tangan, dan sebagainya.

b. Limbah padat B3 (bahan berbahaya dan beracun) diantaranya bahan radioaktif,

bahan kimia, toner catridge, minyak, dan sebagainya (Marbun, 2008).

Menurut PP No. 18 tahun 1999, limbah bahan berbahaya dan beracun,

disingkat limbah B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung

bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya

dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat

mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat

membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta

makhluk hidup lain. Limbah yang termasuk sebagai limbah B3 apabila memiliki

salah satu atau lebih karakteristik sebagai berikut :

a. mudah meledak

b. mudah terbakar

c. bersifat reaktif

d. beracun

e. menyebabkan infeksi dan

f. bersifat korosif

2. Limbah cair

Limbah cair adalah limbah yang berwujud cair. Limbah cair terlarut dalam

air, selalu berpindah, dan tidak pernah diam. Contoh limbah cair industri adalah

bahan kimia, hasil pelarut, air bekas produksi, oli bekas, dll (Setiawan, 2015).

Limbah cair yang dihasilkan dalam kegiatan operasi PLTU batubara dapat

diketagorikan sebagai limbah domestik, air larian permukaan, limbah cair proses

Universitas Sumatera Utara


operasi, sisa atau bekas minyak berupa oli bekas dan ceceran minyak (Pusat

Penelitian Lingkungan Hidup, 2007).

3. Limbah gas

Limbah gas adalah limbah zat (zat buangan) yang berwujud gas (Setiawan,

2015). Kondisi udara di dalam atmosfer tidak pernah ditemukan dalam keadaan

bersih, melainkan sudah tercampur dengan gas-gas lain dan partikulat-partikulat

yang tidak kita perlukan. (Sumantri, 2013). Jenis bahan pencemar yang paling

sering dijumpai ialah karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), sulfur

dioksida (SO2), komponen organik terutama hidrokarbon, dan substansi partikel

(Darmono, 2001).

Limbah gas dan partikel adalah limbah yang dibuang ke udara. Jenis

industri yang menjadi sumber pencemaran udara (Kristanto, 2013) yaitu : industri

besi dan baja, industri semen, industri kendaraan bermotor, industri pupuk,

industri aluminium, industri pembangkit tenaga listrik, industri kertas, industri

kilang minyak, dan industri pertambangan.

2.3 Defenisi Pembangkit Litrik Tenaga Uap (PLTU)

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) adalah pembangkit yang

mengandalkan energi dari uap untuk menghasilkan energi listrik. Pembangkit

listrik ini menggunakan bahan bakar batubara, minyak atau gas sebagai sumber

energi primer (Marsudi, 2005).

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), merupakan salah satu andalan

pembangkit tenaga listrik yang merupakan jantung untuk kegiatan industri. Salah

satu bahan bakar yang digunakan adalah batubara. Konsep dasar dari PLTU

Universitas Sumatera Utara


batubara ini adalah batubara sebagai bahan bakar utama harus disediakan dengan

kualifikasi tertentu untuk jangka waktu lama (Sukandarrumidi, 2006).

Prinsip kerja PLTU batubara secara umum adalah sebagai berikut

(Nursyahid, 2013):

Gambar 1. Prinsip Kerja PLTU

Keterangan gambar :
1. Cooling tower 15. Penampung batubara
2. Cooling water pump 16. Pemecah batubara
3. Transimission line 3 phase 17. Tabung Boiler
4. Transformer 3-phase 18. Penampung abu batubara
5. Generator Listrik 3-phase 19. Pemanas
6. Low pressure turbine 20. Forced draught fan
7. Boiler feed pump 21. Preheater
8. Condenser 22. combustion air intake
9. Intermediate pressure turbine 23. Economizer
10. Steam governor valve 24. Air preheater
11. High pressure turbine 25. Precipitator
12. Deaerator 26. Induced air fan
13. Feed heater 27. Cerobong
14. Conveyor batubara

Universitas Sumatera Utara


Prinsip kerja :

1. Batubara dari luar dialirkan ke penampung batubara dengan conveyor(14)

kemudian dihancurkan dengan thepulverized fuel mill(16) sehingga menjadi

tepung batubara.

2. Kemudian batubara halus tersebut dicampur dengan udara panas(24) oleh

forced draught fan(20) sehingga menjadi campuran udara panas dan bahan

bakar (batu bara).

3. Dengan tekanan yang tinggi, campuran udara panas dan batu bara

disemprotkan kedalam boiler sehingga akan terbakar dengan cepat seperti

semburan api.

4. Kemudian air dialirkan keatas melalui pipa yang ada dinding boiler, air

tersebut akan dimasak dan menjadi uap, dan uap tersebut dialirkan ke tabung

boiler(17) untuk memisahkan uap dari air yang terbawa.

5. Selanjutnya uap dialirkan ke superheater(19) untuk melipatgandakan suhu

dan tekanan uap hingga mencapai suhu 570°C dan tekanan sekitar 200 bar

yang meyebabkan pipa ikut berpijar merah.

6. Uap dengan tekanan dan suhu yang tinggi ini, menjadi sumber tenaga turbin

tekanan tinggi(11) yang merupakan turbin tingkat pertama dari 3 tingkatan.

7. Untuk mengatur turbin agar mencapai set point, kita dapat menyeting steam

governor valve (10) secara manual maupun otomatis.

8. Suhu dan tekanan uap yang keluar dari turbin tekanan tinggi (11) akan sangat

berkurang drastis, untuk itu uap ini dialirkan kembali ke boiler reheater (21)

untuk meningkatkan suhu dan tekanannya kembali.

Universitas Sumatera Utara


9. Uap yang sudah dipanaskan kembali tersebut digunakan sebagai penggerak

turbin tingkat kedua atau disebut turbin tekanan sedang (9), dan keluarannya

langsung digunakan untuk menggerakkan turbin tingkat 3 atau turbin tekanan

rendah (6).

10. Uap keluaran dari turbin tingkat 3 mempunyai suhu sedikit diatas titik didih,

sehingga perlu dialirkan ke condensor(8) agar menjadi air untuk dimasak

ulang.

11. Air tersebut kemudian dialirkan melalui deaerator (12) oleh feed pump (7)

untuk dimasak ulang. Awalnya dipanaskan di feed heater (13) yang panasnya

bersumber dari high pressureset, kemudian ke economizer (23) sebelum

dikembalikan ke tabung boiler (17).

12. Air pendingin dari condensor akan disemprotkan kedalam cooling tower (1) ,

dan inilah yang meyebabkan timbulnya asap air pada cooling tower.

kemudian air yang sudah agak dingin dipompa balik ke condensor sebagai air

pendingin ulang.

13. Ketiga turbin di gabung dengan shaft yang sama dengan generator 3

phase(5). Generator ini kemudian membangkitkan listrik tegangan menengah

(20-25kV).

14. Dengan menggunakan transformer 3phase(4) , tegangan dinaikkan menjadi

tegangan tinggi berkisar 250-500 kV yang kemudian dialirkan ke sistem

transmisi 3 phase.

Universitas Sumatera Utara


15. Sedangkan gas buang dari boiler diisap oleh kipas pengisap(26) agar

melewati electrostatic precipitator(25) untuk mengurangi polusi dan

kemudian gas yang sudah disaring akan dibuang melalui cerobong(27).

2.4 Limbah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)

Batubara dan minyak merupakan bahan bakar utama untuk menghasilkan

tenaga listrik. Banyak keuntungan yang diperoleh dari penggunaan bahan bakar

tersebut, yaitu biayanya relatif murah dan mudah didapatkan karena produknya

berlimpah. Di lain pihak, batubara ini dapat menimbulkan masalah serius dalam

lingkungan (Darmono, 2001).

2.4.1 Limbah Padat PLTU

2.4.1.1 Sumber Limbah Padat

Sumber limbah padat yang dihasilkan dari pengoperasian PLTU batubara

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (2007) :

a. selama penampungan dan pemindahan batubara menghasilkan debu batubara,

b. sisa pembakaran batubara yang terbawa bersama-sama gas buang

menghasilkan abu terbang (fly ash),

c. sisa pembakaran batubara yang terakumulasi di bawah tungku pembakaran,

menghasilkan abu dasar (bottom ash),

d. di dasar kolam pengendapan, air larian permukaan, lapangan penumpukan

batubara, dan kolam instalasi pengolahan air limbah lainnya terkumpul

endapan lumpur (sludge).

Universitas Sumatera Utara


2.4.1.2 Karakteristrik Limbah Padat

PLTU berbahan bakar batubara biasanya menghasilkan limbah padat

dalam bentuk abu. Abu batubara yang merupakan limbah dari proses pembangkit

tenaga listrik tersebut dapat berupa abu terbang, abu dasar dan lumpur flue gas

desulfurization (Samijo, 2010). Limbah B3 yang dihasilkan oleh pembangkit

antara lain : fly ash, bottom ash, sludge cake (lumpur dari IPAL), oli bekas , bahan

terkontaminasi, glasswool, serta limbah laboratorium yang berupa botol kemasan

bahan kimia dan bahan kimia kadaluwarsa (Sprint Consultan, 2014).

Jumlah abu batubara yang dihasilkan per hari dapat mencapai 500 - 1000

ton (Samijo, 2010). Partikulat debu melayang (fly ash) merupakan campuran yang

sangat rumit dari berbagai senyawa organik dan anorganik yang tersebar di udara

dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan

maksimal 500 mikron. Partikulat debu tersebut akan berada di udara dalam waktu

yang relatif lama dalam keadaan melayang-layang di udara dan masuk kedalam

tubuh manusia melalui saluran pernafasan (Pasaribu, 2010).

2.4.1.3 Pengolahan Limbah Padat

Pengolahan limbah padat dapat dilakukan melalui proses sebagai berikut:

1. Pemisahan

Pemisahan perlu dilakukan karena dalam limbah terdapat berbagai ukuran dan

kandungan bahan tertentu. Proses pemisahan dapat dilakukan dengan cara-cara

sebagai berikut :

a. Sistem Balistik : pemisahan cara ini dilakukan untuk mendapatkan ukuran

yang lebih seragam, misalnya atas berat dan volumenya.

Universitas Sumatera Utara


b. Sistem Gravitasi : pemisahan dilakukan berdasarkan gaya beratnya,

misalnya terhadap bahan yang terapung dan bahan yang tenggelam dalam

air yang karena gravitasi akan mengendap.

c. Sistem Magnetis : bahan yang bersifat magnetis akan menempel pada

magnet yang terdapat pada peralatan sedangkan yang tidak mempunyai akan

langsung terpisah.

2. Penyusutan Ukuran

Ukuran bahan diperkecil untuk mendapatkan ukuran yang lebih homogen

sehingga mempermudah pemberian perlakuan terhadap pengolahan berikutnya,

dengan maksud antara lain :

a. Ukuran bahan menjadi lebih kecil

b. Volume bahan lebih kecil

c. Berat dan volume bahan lebih kecil

3. Pengomposan, bahan kimia yang terdapat di dalam limbah diuraikan secara

biokoimia.

4. Pembuangan limbah.

Limbah dapat dibuang di laut maupun di darat (sanitary landfill). Pembuangan

ke laut harus memperhatikan pemanfaatan laut oleh masyarakat di sekitar

tempat pembuangan juga memperhatikan kedalaman laut. Hendaknya lokasi

yang ditetapkan adalah lokasi yang benar-benar tidak ekonomis (non-

ekonomis) untuk kepentingan apapun (Kristanto, 2013).

Limbah padat yang mengandung bahan berbahaya dan beracun, diperlukan

cara pengolahan yang lebih spesifik (Mulia, 2005). Pengolahan limbah B3 dapat

Universitas Sumatera Utara


dilakukan dengan cara thermal dengan mengoperasikan insinerator dengan

speksifikasi sesuai dengan karakteristik dan jumalah limbah B3 yang diolah, dapat

memenuhi efisiensi pembakaran minimal 99,99% dan efisiensi penghancuran dan

penghilangan.

Hirarki pengelolaan limbah B3 dimaksudkan agar limbah B3 yang

dihasilkan masing-masing unit produksi sesedikit mungkin dan bahkan

diusahakan sampai nol, dengan mengupayakan reduksi pada sumber dengan

pengolahan bahan, subtitusi bahan, pengaturan operasi kegiatan, dan

digunakannya teknologi bersih. Bilamana masih menghasilkan limbah B3 maka

diupayakan pemanfaatan limbah B3 (PP RI No. 18 tahun 1999).

2.4.1.4 Persyaratan Penyimpanan Dan Pengumpulan Limbah B3 :

1. Tata cara penyimpanan kemasan limbah B3 :

a. Penyimpanan kemasan harus dibuat dengan sistem blok.

Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan, sehingga dapat dilakukan

pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan sehingga jika terdapat

kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani.

b. Lebar gang antar blok harus memenuhi persyaratan peruntukannya.

Lebar gang untuk lalu lintas manusia minimal 60 cm dan lebar gang untuk lalu

lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan

pengoperasiannya.

c. Penumpukan kemasan limbah B3 harus mempertimbangkan kestabilan

tumpukan kemasan. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter), maka

tumpukan maksimum adalah 3 (tiga) lapis dengan tiap lapis dialasi palet (setiap

Universitas Sumatera Utara


palet mengalasi 4 drum). Jika tumpukan lebih dan 3 (tiga) lapis atau kemasan

terbuat dari plastik, maka harus dipergunakan rak.

d. Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap

atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 (satu)

meter.

e. Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan

secara terpisah, tidak dalam satu blok, dan tidak dalam bagian penyimpanan

yang sama. Penempatan kemasan harus dengan syarat bahwa tidak ada

kemungkinan bagi limbah-limbah yang tersebut jika terguling/tumpah akan

tercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan lain.

2. Persyaratan bangunan tempat penyimpanan kemasan limbah B3

a. memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan

jenis, karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan;

b. terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak

langsung;

c. dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk

mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan, serta

memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau

binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan;

d. memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yangmemadai untuk

operasional penggudangan atau inspeksirutin. Jika menggunakan lampu, maka

lampu peneranganharus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan

dengansakelar (stop contact) harus terpasang di sisi luar bangunan;

Universitas Sumatera Utara


e. dilengkapi dengan sistem penangkal petir;

f. pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan

tata cara yang berlaku.

3. Persyaratan Lokasi Pengumpulan Limbah B3

a. Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya

sekurang-kurangnya 1 (satu) hektar;

b. Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan;

c. Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu.

Jarak terdekat yang diperkenankan adalah:

 150 meter dari jalan utama atau jalan tol; 50 meter dari jalan lainnya;

 300 meter dari fasilitas umum seperti daerah pemukiman, perdagangan,

rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, hotel, restoran,

fasilitas keagamaan, fasilitas pendidikan, dll.

 300 meter dari perairan seperti garis pasang tertinggi laut, badan sungai,

daerah pasang surut, kolam, danau, rawa, mata air, sumur penduduk, dll.

 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam, hutan lindung,

kawasan suaka, dll (Keputusan Kepala Bapedal No. 1 tahun 1995).

2.4.1.5 Dampak Limbah Padat

1. Terhadap lingkungan

a. Dampak menguntungkan

Limbah batubara mempunyai potensi untuk dimanfaatkan salah satunya

sebagai sumber beberapa hara mikro pada tanah ampas (Lestiani, dkk 2010).

Universitas Sumatera Utara


b. Dampak merugikan

Partikel debu dengan diameter > 10 μm biasanya jatuh ke permukaan tanah.

Peningkatan kadar debu terbang (fly ash) diperkirakan dapat mengganggu/

menurunkan produktifitas usaha perkebunan yang terdapat di sekitar lokasi

proyek (Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, 2007).

2. Terhadap manusia

a. Dampak menguntungkan

Abu dari PLTU yang tertampung dapat dijual untuk kebutuhan di pabrik

semen atau pada pembuatan paving block (Iswan, 2010).

b. Dampak merugikan

Abu dasar dan abu terbang PTLU mengandung unsur toksik seperti arsen

(As) dan kromium (Cr) pada dan berpotensi besar menjadi masalah

lingkungan (Lestiani, dkk , 2010). Arsen adalah racun yang bekerja dalam

protoplasma sel secara umum. Sekitar 90% arsen yang diabsorbsi di dalam

tubuh tersimpan dalam hati, ginjal, dinding saluran pencernaan, limfa, dan

paru (Darmono, 2001).

2.4.2 Limbah Cair PLTU

2.4.2.1 Sumber Limbah Cair

Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan

air dalam proses produksinya. Di samping itu ada, pula bahan baku yang

mengandung air sehingga dalam proses pengolahannya, air tersebut harus dibuang

(Kristanto, 2013).

Universitas Sumatera Utara


Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 08 tahun 2009, air

limbah dari usaha dan/atau kegiatan pembangkit listrik tenaga termal bersumber

dari: proses utama, kegiatan pendukung dan kegiatan lain yang menghasilkan oily

water. Proses utama adalah proses yang menghasilkan air limbah yang bersurnber

dari proses pencucian (dengan atau tanpa bahan kimia) dari semua peralatan

logam, blowdown cooling tower, blowdown boiler, laboratorium, dan regenerasi

resin water treatment plant. Kegiatan pendukung meliputi kegiatan fasilitas air

pendingin, kegiatan fasilitas desalinasi, kegiatan fasilitas stockpile batu bara, dan

kegiatan air buangan dari fasilitas flue gas desulphurization (FGD) sistem

seawater scrubber.

2.4.2.2 Karakteristik Limbah Cair

Air buangan dari pabrik membawa sejumlah padatan dan partikel, baik

yang larut maupun mengendap. Kerap kali air buangan pabrik berwarna keruh dan

bersuhu tinggi. Air limbah yang tercemar mempunyai ciri yang dapat

diidentifikasi secara visual lewat kekeruhan, warna, rasa, bau, yang ditimbulkan

dan indikasi lainnya. Secara laboratorium, limbah cair ditandai dengan

peruabahan sifat kimia air, dimana air telah mengandung bahan berbahaya dan

beracun (B3) dalam konsentrasi yang telah melampauhi batas Kristanto (2013).

Limbah cair yang dihasilkan dalam kegiatan operasi PLTU batubara

menurut Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (2007) dapat diketagorikan sebagai

limbah domestik, air larian permukaan, limbah cair proses operasi, sisa atau bekas

minyak (oli bekas, ceceran minyak). Limbah cair tersebut secara umum

Universitas Sumatera Utara


tergolongzat pencemar dengan kriteria yang bersifat fisika dan kimia (termasuk

kandungan

unsur logam dan minyak).

2.4.2.3 Parameter Limbah Cair

Menurut Sumantri (2013), dalam air limbah terdapat beberapa parameter

yang perlu untuk diketahui. Beberapa parameter ini diantaranya :

1. Biochemical Oxygen Demand (BOD)

Biochemical Oxygen Demand (BOD) adalah banyaknya oksigen dalam ppm

atau miligram/liter (mg/L) yang diperlukan untuk menguraikan benda organik

oleh bakteri pada suhu 20oC selama 5 hari. Biasanya hanya dalam waktu 5

hari, sebanyak 60-70% kebutuhan terbaik karbon dapat tercapai.

2. Chemical Oxygen Demand (COD)

Chemical Oxygen Demand (COD) menggambarkan jumlah total oksigen

yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, baik

yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegredable) maupun yang

sukar didekomposisi secara biologis (nonbiodegredable). Oksigen yang

dikonsumsi setara dengan jumlah dikromat yang diperlukan untuk

mengoksidasi air sampel.

3. Oksigen Terlarut (Disolved Oxygen)

Oksigen Terlarut (Disolved Oxygen) adalah banyaknya oksigen yang

terkandung di dalam air dan diukur dalam satuan mg/L. Semakin besar

oksigen terlarut, maka menunjukkan derajat pengotoran semakin kecil.

4. Kesadahan

Universitas Sumatera Utara


Kesadahan adalah gambaran kation logam divelansi (valensi 2) yang terdapat

dalam air. Kation-kation ini dapat bereaksi dengan sabun membentuk

endapan (presipitas) maupun dengan anion-anion yang terdapat di dalam air

membentuk endapan atau karat pada peralatan logam.

5. Seattleable Solid

Adalah lumpur yang mengendap degan sendirinya pada kondisi yang tenang

selama satu jam secara gaya beratnya sendiri.

6. TSS ( Total Suspended Solid)

Adalah jumlah berat dalam mg/L kering lumpur yang di dalam air limbah

setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron.

Suspended Solid (material tersuspensi) dapat dibagi menjadi zat padat dan

koloid. Selain suspended solid ada juga istilah dissolved solid (padatan

terlarut).

7. MLSS (Mixed Liquor Suspendid Solid)

MLSS adalah jumlah TSS yang berasal dari pengendap lumpur aktif setelah

dipanaskan pada suhu 103o - 105oC.

8. MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspendid Solid)

MLVSS adalah kandungan organicmatter yang terdapat dalam MLSS.

Didapat dari pemanasan MLSS pada suhu 600oC. Benda volatile menguap

disebut MLVSS.

9. Kekeruhan (Turbidy)

Universitas Sumatera Utara


Kekeruhan adalah ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai dasar

untuk mengukur keadaan air. Kekeruhan ini disebabkan oleh adanya benda

tercampur atau benda koloid dalam air.

2.4.2.4 Pengolahan Limbah Cair

Mulia (2005), pengolahan air limbah dapat dilakukan secara alamiah

maupun peralatan. Pengolahan air limbah secara alamiah biasanya dilakukan

dengan bantuan kolam stabilisasi. Pengolahan air limbah dengan bantuan

peralatan biasanya dilakukan pada instalasi pengolahan air limbah/IPAL (Waste

Water Treatment Plant/ WWTP).

Berdasarkan karakteristik dari limbah, proses proses pengolahan dapat

digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu proses fisika, kimia, dan biologi

(Kristanto, 2013) :

1. Proses fisika

Perlakuan terhadap air limbah dengan cara fisika adalah proses

pengolahan secara mekanis dengan atau tanpa penambahan bahan kimia. Proses

tersebut diantaranya adalah :

a. Penyaringan, agar padatan yang larut dan bahan kasar lainnya terpisah.

b. Penghancuran, agar padatan yang larut menjadi butir yang lebih kecil dan

seragam.

c. Perataan air, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu perataan aliran dengan

mengubah sistem saluran dan dengan membuat kolam. Tujuan daripada kedua

cara ini adalah agar terdapat keseragaman aliran pada saat terjadi percampuran

dengan bahan kimia, sehingga memudahkan pengolahan lanjut.

Universitas Sumatera Utara


d. Penggumpalan

Partikel yang tak larut di dalam air akan terapung di atas permukaan air atau

membentuk endapan di dasar wadah. Penambahan zat kimia tertentu membuat

partikel ini akan beraksi membentuk suatu gumpalan sehingga dimensi partikel

menjadi lebih besar dan karena pengaruh gravitasi maka partikel tersebut akan

mengendap. Bahan kimia yang digunakan untuk penggumpalan, misalnya

aluminum sulfat atau ferro sulfat. Untuk mempercepat reaksi pada umumnya

diguankan bantuan pengaduk yang kecepatannnya dapat diatur.

e. Sedimentasi, untuk mengendapkan bahan lain yang tidak ikut bereaksi.

f. Pengapungan

Dalam proses ini digunakan bantuan pompa kompresor untuk memasukkan

udara ke dalam air tujuannya agar bahan-bahan lemak dan minhyak dengan

cepat naik ke permukaan air. Pemasukan udara ke dalam air akan menciptakan

gelembung-gelembung yang melekat pada suatu partikel dan dibawa naik ke

permukaan air.

g. Filtrasi

Merupakan proses penyaringan padatan halus yang tidak mengendap walaupun

sudah ditambah bahan kimia. Penyaringan ini menggunakan media seperti

pasir, kerikil dan karbon aktif.

2. Proses Kimia

a. Pengendapan dengan bahan kimia.

Bahan pencemar yang dapat dikurangi atau dihilangkan adalah :

Universitas Sumatera Utara


- fosfat terlarut dapat direduksi jika konsentrasinya kurang dari 1 mg/l dengan

bahan aluminium feri sulfat.

- Beberapa kalsium, magnesium, silica dapat dihilangkan dengan NaOH.

- Beberapa logam berat dapat dihilangkan dengan kapur (lime)

- Pengurangan bakteri virus dapat dicapai dengan kapur pada kondisi pH

10,5-11,5 dengan cara penggumpalan dan sedimentasi.

b. Proses dengan lagon

Lagon atau kolam sering diguakan sebagai reactor biological. Lagon

dilengkapi dengan peralatan aerasi baik secara alamiah, atau memberikan udara

dengan menggunakan kompresor jika dalam kolam tumbuh algae.

c. Netralisasi

Air limbah yang terdapat dalam kondisi asam atau basa membutuhkan

netralisasi sebelum dan sesudah perlakuan (treatment).

d. Sedimentasi

Proses ini menggunakan bantuan koagulan (zat pengendap). Tujuan utama

proses sedimentasi melalui proses kimia adalah untuk menghilangkan padatan

tersuspensi.

e. Oksisdasi dan reduksi

f. Klorinasi

g. Oksidasi phenol dan sulfur

3. Proses bilogi

Universitas Sumatera Utara


a. Pengolahan cara anaerob, melalui reactor aerobik yang berfungsi untuk

mengubah bahan organik menjadi air dan karbon dioksida dalam keadaan

tersedia oksigen.

b. Pengolahan cara anaerob, mengubah bahan organik dalam limbah cair tanpa

ada oksigen.

4. Proses fisika-kimia-biologi

Ada diantara bahan-bahan yang tidak dapat dihilangkan atau diendapkan

dengan penambahan basa atau asam. Karena itu gabungan proses kimia-fisika-

biologi amat dibutuhkan untuk meningkatkan efesiensi peralatan pengolahan.

Proses kimia meliputi netralisasi, oksidasi, dan reduksi, pengendapan dengan

bahan kimia tambahan untuk mengikat bahan pencemar kimia anorganik. Proses

fisika menekankan pengolahan pada unsur fisik bahan pencemar, misalnya ukuran

bahan yang terlalu kasar dan padat, bannyaknya minyak yang bercampur.

5. Pengolahan lanjut

Seringkali proses pengolahan limbah pada proses fisika-kimia-biologi

tidak memberikan hasil yang memuaskan. Proses lanjutan ini terdiri dari beberapa

pilihan proses, yaitu : stripping udara, karbon aktif, absorbsi, dan regenerasi.

Upaya pengolahan limbah cair PLTU yaitu dengan waste water treatment

plant (WWTP). WWTP dirancang dan dibangun untuk menampung, memproses

serta membuang limbah cair yang dihasilkan oleh pabrik pembangkit saat

beroperasi, termasuk luapan air limpasan dari areal penyimpanan batubara. Proses

pengolahan diantaranya berlangsung melalui tahapan penambahan zat koagulan

Universitas Sumatera Utara


dilanjutkan pengadukan secara cepat, pengadukan lambat dan pengendapan,

penyaringan, serta penyesuaian akhir kadar pH (Sprint Consultant, 2014).

2.4.2.5 Dampak Limbah Cair

1. Terhadap lingkungan

Pengoperasian PLTU juga akan menghasilkan bahan buangan (limbah)

cair yang jika tidak sempurna proses pengolahannya akan dapat mencemari badan

air penerima. Jika limbah cair yang dibuang ke lingkungan sekitar tersebut tanpa

proses pengolahan terlebih dahulu diperkirakan akan dapat menyebabkan

penurunan kualitas air yang akan berdampak langsung pada penurunan kepadatan

dan kelimpahan, serta perubahan komposisi jenis biota akuatik.

2. Terhadap manusia

Kegiatan pemeliharaan dan pengecekan sistem kerja peralatan PLTU

dilakukan terhadap: boiler dan bag house (akan menghasilkan logam teroksidasi),

peralatan balance of plant (akan menghasilkan logam dan ceceran oli), kolam

penampung lindi, batubara dan oil water separator (akan menghasilkan padatan

tersuspensi, logam dan ceceran oli). Hasil pemeliharaan peralatan ini apabila tidak

terkelola dengan baik potensial untuk masuk ke dalam aliran air ke sungai

sehingga meningkatkan kadar COD, padatan tersuspensi, minyak, dan logam berat

di perairan umum (Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, 2007).

Menurut Darmono (2001), minyak yang mencemari daratan dan terbawa

arus air hujan atau air sungai dapat mencemari daerah panai dan berdampak serius

terhadap sistem perekonomiann daerah sekitar pantai. Aktivitas para nelayan dan

industri pariwisata akan sangat terganggu.

Universitas Sumatera Utara


2.4.3 Limbah Gas PLTU

2.4.3.1 Sumber Limbah Gas

Menurut Kristanto (2013), pada dasarnya limbah gas industri bersumber

dari penggunaan bahan baku, proses dan sisa-sisa pembakaran. Limbah yang

terjadi disebabkan karena reaksi kimia, kebocoran gas, penghancuran bahan-

bahan, dan lain-lain. Pengoperasian PLTU yang membakar sejumlah batubara

akan menghasilkan emisi yang dikeluarkan dari cerobong (Pusat Penelitian

Lingkungan Hidup, 2007).

2.4.3.2 Komposisi Limbah Gas

Pembakaran batubara akan menghasilkan sejumlah polutan berupa gas dan

abu. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara yang berkapasitas 2 x 15

MW, prediksi jumlah abu yang dihasilkan sebanyak 358.298,61 mg/detik. 10%

akan mengendap di tungku pembakaran berupa abu dasar (bottom ash) dan

sisanya berupa abu terbang (fly ash) yang diemisikan melalui cerobong ke udara

bebas (udara ambien).

Pembakaran batubara juga menghasilkan CO2 yang berperan dalam proses

pemanasan global (Megasari, dkk, 2008). Apabila proses pembakaran batubara

berlangsung tidak sempurna, akan timbul gas CO (Sukandarrrumidi, 2006).

2.4.3.3 Parameter Limbah Gas

Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 21 Tahun

2008, parameter emisi yang diukur pada sumber tidak bergerak bagi usaha

dan/atau kegiatan pembangkit tenaga listrik termal meliputi SO2, NO2, tota

Universitas Sumatera Utara


lpartikulat, dan opasitas dengan baku mutu SO2 adalah 750 mg/Nm3, NO2 adalah

750 mg/Nm3, total partikulat adalah 100 mg/Nm3 dan opasitas 20 %.

2.4.3.4 Pengolahan Limbah Gas

1. SOx

Teknologi (Flue Gas Desulfurization) FGD digunakan untuk mengurangi

emisi SO2 yang dapat mencemari air hujan menjadi hujan asam. Ada dua tipe

FGD yaitu FGD basah (Wet Limestone Scrubbing) dan FGD kering (Dry

Limestone Scrubbing). Pada FGD basah, campuran air dan gamping (batu kapur)

disemprotkan dalam gas buang. Cara ini dapat mengurangi emisi SO2 sampai 70-

95 %. Kalsium karbonat (CaCO3) dalam batu kapur diubah terlebih dahulu

menjadi kalsium sulfit (CaSO3). SO2 yang diserap kemudian direaksikan dengan

CaSO3 membentuk senyawa baru yaitu kalsium sulfat (CaSO4) atau gypsum.

FGD kering menggunakan campuran air dan batu kapur atau gamping yang

diinjeksikan ke dalam ruang bakar. Cara ini dapat mengurangi emisi SO2 sampai

70-97 %. FGD kering menghasilkan produk sampingan gypsum yang bercampur

dengan limbah lainnya (Sugiono, 2000).

2. NOx

Penelitian dan pengembangan untuk melakukan kendali terhadap

pencemaran NOx terutama ditujukan pada dua model kendali, yaitu :

a. Modifikasi pembakaran dengan menurunkan jumlah NOx yang dihasilkan

b. Menghilangkan NOx dari gas buang

Semakin tinggi suhu pemabakaran, semakin banyak NOx dihasilkan. Rasio

udara-bahan bakar yang lebih tinggi (kelebihan udara) akan menghasilkan NOx

Universitas Sumatera Utara


lebih sedikit, tetapi kelebihan udara pada konsentrasi tertentu akan mengencerkan

gas-gas pembakaran sehingga menghasilkan suhu pembakaran yang lebih rendah,

dan akibatnya akan terjadi penurunan konsentrasi NOx. Beberapa cara telah

dilakukan untuk menguragi NOx yang diproduksi selama pembakaran :

a. Metode pembakaran dua tahap, yaitu sebagian bahan bakar dibakar dengan

udara dalam jumlah stoikiometrik lebih rendah dari yang tersedia sehingga

oksigen yang tersedia tidak berlebih dan mengurangi produksi NOx. Pada tahap

kedua, pembakaran dilanjutkan setelah injeksi udara ke dalam campuran.

Menghilangkan panas di antara kedua tahapan tersebut, suhu dimana

pembakaran terjadi pada keadaan kelebihan udara menjadi lebih rendah

sehingga konsentrasi NO yang terbentuk juga berkurang.

b. Resirkulasi gas buang kembali ke ruang bakar akan menurunkan suhu api dan

menurunkan konsentrasi oksigen yang tersedia. Kedua hal ini mengakibatkan

penurunan produksi NOx.

c. Uap air atau air yang diinjeksikan ke dalam ruang bahan bakar juga dapat

menurunkan suhu api dan mengurangi produksi NOx (Kristanto, 2013).

3. Partikel Debu

Electrostatic precipitator (ESP) yang dipasang pada setiap boiler berfungsi

untuk memastikan bahwa partikel debu fly ash yang dihasilkan dari proses

pembakaran batubara dapat ditangkap oleh alat ini. ESP tersebut dirancang untuk

mencapai efisiensi hingga 99% (Sprint Consultant, 2014).

ESP atau pengendap udara electrostatik adalah suatu alat yang

membersihkan partikel-partikel dari udara yang mengalir dengan menggunakan

Universitas Sumatera Utara


suatu gaya yang diinduksikan. Alat ini mengalirkan tegangan yang tinggi dan

dikenakan pada aliran gas yang berkecepatan rendah. Debu yang telah menempel

dapat dihilangkan secara beraturan dengan cara getaran. Keuntungan yang

diperoleh dari penggunaan pengendap elektrostatik ini ialah didapatkannya debu

yang kering dengan ukuran rentang 0,3 - 40 mikron (Pasaribu, 2010).

Menurut Mulia (2005) alat ini digunakan untuk membersihkan udara yang

kotor dalam jumlah (volume) yang relative besar. Alat pengendap ini berupa

tabung silinder yang di tengahnya dipasang kawat yang dialiri arus listrik.

2.4.3.5 Dampak Limbah Gas

1. Terhadap lingkungan

Analisis emisi udara pada PLTU 50 MWatt, diperoleh jenis emisi udara

NOx, SOx, CO dan CO2, partikulat dan senyawa organik volatile (Megasari, dkk,

2008). Gas SO2 dan SO3, apabila kontak dengan air akan membentuk asam sulfat

(H2SO4) yang bersifat korosif dan dapat merusak instalasi tungku serta dapat

membentuk kabut di atmosfer, sehingga mengakibatkan terjadinya hujan asam

yang membahayakan kehidupan tanaman dan binatang. Gas nitrogen oksida

apabila bereaksi dengan uap atau gas dari senyawa organik dengan bantuan sinar

matahari akan menimbulkan kabut fotokimia (Sukandarrumidi, 2006).

Peningkatan kadar debu di udara juga mengenai populasi fauna darat

(terutama aves) yang berkurang atau menghilang dari kawasan PLTU dan wilayah

terkena dampak debu (Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, 2007). Menurut

Darmono (2001), partikel ukuran < 1μm dapat bertahan lama dan melayang di

udara sehingga cukup lama dapat terbawa angin ke seluruh penjuru dunia.

Universitas Sumatera Utara


Kristanto (2013), partikel dengan diameter <1μm biasanya diklasifikasikan

sebagai debu dan partikel ini cukup kecil untuk mengendap di tanah, tetapi

berlaku sebagai aerosol.

2. Terhadap manusia

a. Dampak menguntungkan

Iswan (2010), menyatakan bahwa hasil samping dari teknik FGD pada

PLTU yang dipakai untuk menekan gas SO2 adalah gypsum sintetis yang senyawa

kimianya sama dengan gypsum alam. Gipsum yang dihasilkan sangat bernilai

ekonomis, karena dapat dimanfaatkan untuk keperluan bangunan. Gipsum ini

dapat dibuat papan gipsum (gypsum board) yang dipakai untuk plafon (langit-

langit rumah), dinding penyekat (partition board) dan pelapis dinding (wall

board).

b. Dampak merugikan

Menurut Iswan (2010), batubara sebagai bahan bakar akan menimbulkan

emisi berupa SO2, NO2, CO, CO2, VHC (Volatile Hydrocarbon) dan SPM

(Suspended Particulate Matter). SOx merupakan sumber gangguan paru-paru dan

berbagai penyakit pernapasan. SO2 dapat dideteksi dari baunya pada konsentrasi

3-5 ppm. Konsentrasi 20 ppm merupakan jumlah minimal SO2 mengakibatkan

iritasi pada mata; dan pada konsentrasi 400-500 ppm berbahaya walaupun kontak

secara singkat (Kristanto, 2013).

Universitas Sumatera Utara


Sukandarrumidi (2006) menjelaskan bahwa CO timbul sebagai akibat dari

pembakaran batubara yang berlangsung tidak sempurna. Gas ini apabila terhisap

oleh manusia melalui pernafasan akan bereaksi dengan hemoglobin dalam darah,

sehingga akan menghambat transfer oksigen yang pada akhirya membahayakan

kehidupan manusia. Kedua bentuk NOx, yaitu NO dan NO2 sangat berbahaya bagi

manusia dan bahwa NO2 empat kali lebih berbahaya dibandingkan NO. NO2

bersifat racun terutama terhadap paru-paru Kristanto (2013).

2.5 Kerangka Konsep


Limbah padat :
KepKaBapedal
No.1 / 1995

Karakteristik Memenuhi
Sarana 1. Penanganan Limbah Bangunan/ Syarat
pengolahan Padat Tempat
limbah - Penimbunan Abu Penyimpanan
PLTU - Penyimpanan Kemasan
Kemasan Bekas B3 Tidak
Bekas B3
memenuhi
2. Proses Pengolahan Syarat
Karakteristik Limbah Cair
petugas : - Waste water treatment
Umur, plant (WWTP) Memenuhi
JenisKelamin, - CWWTP Syarat
Pendidikan, Kualitas
Masa kerja, 3. Proses Pengolahan limbah cair dan
Limbah Gas limbah gas
Tindakan
- Pengolahan Emisi Tidak
memenuhi
Syarat

Limbah cair :
PerMen LH No.08 / 2009
Limbah gas :
PerMen LH No.21 / 2008

Gambar 2. Kerangka Konsep

Universitas Sumatera Utara


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah survei bersifat deskriptif yang dilakukan dengan

melakukan wawancara dan obsevasi lokasi penelitian untuk melakukan analisis

pengolahan limbah pada PLTU Labuhuan Angin di Kabupaten Tapanuli Tengah.

3.2 Lokasi dan waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di PLTU Labuhan Angin Kabupaten Tapanuli

Tengah. Alasan pemilihan lokasi ini karena :

1. Limbah PLTU merupakan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang

harus dikelola dengan baik sehingga memenuhi baku mutu yang ditetapkan.

2. Belum pernah dilakukan penelitian tentang analisis pengelolaan limbah di

PLTU Labuhan Angin.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulanApril sampai dengan bulan Juni tahun

2015.

Universitas Sumatera Utara


3.3 Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah sarana dan proses pengolahan limbah yang

dilakukan di PLTU Labuhan Angin Kabupaten Tapanuli Tengah.

3.4 Metode Pengumpulan Data

3.4.1 Data Primer

Data primer diperoleh dengan cara observasi langsung terhadap objek

penelitian, wawancara dengan pimpinan PLTU Labuhan Angin ataudengan

pegawai di bidang pengolahan limbah atau lingkungandan melalui kuesioner yang

akan diberikan kepada petugas/tenaga kerja yang menangani pengolahan limbah

yang ada di PLTU Labuhan Angin untuk mengetahui karakteristikpetugas/tenaga

kerja pengolah limbah tersebut.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dengan mengumpulkan semua data-data dari

perusahaan, peraturan pemerintah, buku, dan jurnal yang berhubungan dengan

pelaksanaan pengolahan limbah pada PLTU.

3.5 Defenisi Operasional

1. Sarana pengolahan limbah adalahmedia atau alat yang digunakan dalam

pengolahan limbah padat, cair dan gas pada PLTU.

2. Petugas adalah tenaga kerja / staf yang menangani pengolahan limbah di

PLTU Labuhan Angin.

Universitas Sumatera Utara


3. Umur adalah usia responden yang dimiliki sejak lahir hingga dilakukan

penelitian ini.

4. Jenis kelamin adalah jenis kelamin responden yang menangani pengolahan

limbah.

5. Pendidikan adalah tingkat pendidikan formal yang dimiliki responden saat

penelitian ini dilaksanakan.Tingkat pendidikan ini dibagi menjadi :

a. Tingkat pendidikan rendah : yaitu petugas yang menangani pengolahan

limbah yang tidak pernah duduk dibangku sekolah, tidak menyelesaikan

SD, dan tamat SD.

b. Tingkat pendidikan yang sedang : yaitu petugas yang menangani

pengolahan limbah yang memiliki ijazah terakhir SLTP dan SLTA.

c. Tingkat pendidikan tinggi : yaitu petugas yang menangani pengolahan

limbah yang memiliki ijazah terakhir akademi dan perguruan tinggi.

6. Lama kerja adalah waktuyang sudah dihabiskan responden sejak

bekerjasebagai petugas yang menangani limbah di PLTU Labuhan Angin.

7. Tindakan adalah cara atau perbuatan responden menangani limbah dengan

baik dan benar.

8. Penanganan limbah padat adalah perlakuan yang diberikan terhadap limbah

padat yang dihasilkan PLTU Labuhan Angin meliputi penimbunan Abu dan

penyimpanan kemasan Bekas B3

9. Proses pengolahan limbah cair adalah tahapan-tahapan pengolahan air limbah

dari sumber limbah sampai menjadi air bersih meliputi unit waste water

treatment plant (WWTP) dan coal waste water treatment plant (CWWTP).

Universitas Sumatera Utara


10. Proses pengolahan limbah gas adalah tahapan-tahapan kerja peralatanyang

digunakan PLTU Labuhan Angin dalam mengendalikan emisi denganbahan

pencemar berupa partikulat, SO2, dan NO2 untuk menjaga kadar parameter

emisi tidak melebihi baku mutu yang ditetapkan.

11. Karakteristik bangunan/ tempat penyimpanan kemasan B3 adalah konstruksi

bangunan penyimpanan limbah B3 yang akan dibandingkan sesuai dengan

persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 dalam KepKa Bapedal No.1

Tahun 1995.

12. Kualitas limbah cair adalah hasil pengukuran parameter limbah cair yang

meliputi pH, TSS, Cl2, Cr, Cu, Fe, Zn, SO4(2-), PO-4temperatur, salinitas,

minyak dan lemak.

13. Kualitas limbah gasadalah hasil pengukuran parameter emisi gas buang yang

meliputi SO2, NO2, total partikulat dan opasitas.

14. Memenuhi syarat kesehatan adalah apabila bangunan penyimpanan limbah

B3 memenuhi syarat yang ditetapkan dalam KepKaBapedal No. 1 tahun

1995, parameter limbah cair tidak melebihi baku mutu air limbah dalam

PerMen LH No. 08 tahun 2009, dan parameteremisitidak melebihi baku mutu

emisi berdasarkan PerMen LH No. 21 tahun 2008.

15. Tidak memenuhi syarat kesehatan adalah apabila limbah padat, cair dan emisi

tidak sesuai dengan dengan perundangan yang digunakan.

3.6 Aspek Pengukuran

Karakteristik tenaga pengolah limbah diketahui berdasarkan jawaban dari

pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada kuesioner. Kuesioner ini berisi 8 butir

Universitas Sumatera Utara


pertanyaan dengan total skor 16. Ada pun ketentuan pemberian skor yaitu : jika

reponden menjawab “ya”, maka diberi skor 2 dan jika responden menjawab

“Tidak”, maka diberi skor 0. Berdasarkan jumlah skor, selanjutnya tindakan

tenaga pengolah limbah dikategorikan sebagai berikut :

a. Baik, apabila responden mendapat nilai > 75% dari seluruh skor yang ada atau

lebih dari 12.

b. Sedang, apabila responden mendapat nilai 45-75% dari skor yang ada atau

antara 8-12.

c. Kurang, apabila responden mendapat nilai < 45% dari skor yang ada atau

kurang dari 8.

3.7 Analisis Data

Data yang dikumpulkan disajikan dalam bentuk tabel distribusi kemudian

dinarasikan. Kemudian data kualitas limbahyang diperoleh dianalisis secara

deskriptif dengan cara membandingkannya dengan teori-teori yang ada dan baku

mutu yang digunakan untuk limbah padat berdasarkan Keputusan Kepala Bapedal

No. 1 tahun 1995 tentang tata cara dan persyaratan teknispenyimpanan dan

pengumpulan limbah bahanberbahaya dan beracun, untuk limbah cair berdasarkan

PerMen LH No. 08 tahun 2009 tentang baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau

kegiatan pembangkit listrik tenaga termal, dan untuk limbah gas berdasarkan

PerMen LH No. 21 tahun 2008 tentang baku mutu emisi sumber tidak bergerak

bagi PLTU.

Universitas Sumatera Utara


BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Perusahaan

Sesuai Kebijakan Nasional di bidang energi, maka untuk memenuhi

kebutuhan energi di dalam negeri dapat dimanfaatkan berbagai macam energi,

seperti tenaga air, minyak bumi, gas, batubara dan panas bumi. Berhubung

minyak bumi merupakan sumber devisa terpenting saat ini, maka dalam kebijakan

nasional di bidang energi, perlu adanya diversifikasi. Rencana pembangunan

PLTU Labuhan Angin di Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara merupakan

salah satu upaya pemerintah untuk melakukan diversifikasi energi.

Upaya tersebut merupakan salah satu usaha yang bertujuan untuk

meningkatkan pemenuhan kebutuhan enegi bagi industri di Sumatera Utara dan

Aceh secara khusus agar dapat mendorong kegiatan ekonomi daerah Tapanuli

Tengah.

Untuk menunjang hal tersebut dan melihat potensinya, maka pemerintah

dalam hal ini PT. PLN (Persero) bermaksud akan membangun pembangkit Listrik

Tenaga Uap Batubara Labuhan Angin dengan kapasitas terpasang sebesar 2 x 115

MW. Letak proyek di desa Tapian Nauli, Kecamatan Tapian Nauli I, Kabupaten

Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Lokasi Proyek ± 300 km dari Provinsi

Sumatera Utara di tepi Teluk Tapian Nauli, dimana lokasi tersebut terletak antara

010 37’ 15’’ – 010 14’ 18’’ LU dan 980 44’ 55’’ – 980 50’ 05’’ BT.

Status lahan yang digunakan untuk pembangunan PLTU Labuhan Angin

saat ini adalah tanah kawasan Industri milik Kementrian Pertahanan dan

Universitas Sumatera Utara


Keamanan (cq. TNI AL). Lahan yang membatasi PLTU Labuhan Angin adalah

sebagai berikut :

 Sebelah Utara berbatasan dengan lokasi rencana Dermaga Pelabuhan

Pendaratan Ikan.

 Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Tapian Nauli.

 Sebelah selatan berbatasan dengan Tanah Hak Pakai Nomor 10/1995 a.n Dep

Hankam RI (TNI-AL)

 Sebelah barat berbatasan dengan hutan alami.

4.1.1 Struktur Organisasi

PLTU Labuhan Angin dipimpin oleh seorang Manager Sektor dan

membawahi 5 bagian yakni Enjinering, Coal & Ash Handling, Operasi,

Pemeliharaan, Keuangan, SDM, & ADM. Dalam struktur organisasi, pengolahan

limbah padat, cair, dan gas merupakan bagian dari lingkungan yang berada di

bawah bagian operasi. Struktur organisasi PLTU Labuhan Angin dapat dilihat

pada lampiran.

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Jumlah Limbah Yang Dihasilkan

Limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan PLTU Labuhan Angin adalah

limbah yang berasal dari pembakaran bahan bakar batubara yaitu abu yang

meliuti fly ash (abu terbang)dan bottom ash (abu dasar) dan limbah yang berasal

dari pemakaian bahan kimia yang tergolong limbah bahan berbahaya dan beracun

(B3) yaitu kemasan bekas B3 seperti drum, tong, kaleng, dll.

Universitas Sumatera Utara


Adapun jumlah abu yang dihasilkan perhari adalah 45 ton/unit operasi.

Sampai saat ini abu yang dihasilkan di buang ke landfill terbuka dan pengelolaan

abu lebih lanjut masih dalam tahap menjalin kerja sama dengan pihak lain.

PLTU Labuhan Angin juga menghasilkan limbah cair yang bersumber dari

unit pengolahan air (Water Treatment Plant), blowdown boiler, dan air limpasan

batubara. Debit limbah yang dihasilkan sebanyak 60 M3/jam. Sedangkan pada

limbah gas belum dilakukan pengukuran kecepatan alir emisi yang dihasilkan.

4.2.2 Karakteristik Petugas Yang Menangani Pengolahan Limbah

4.2.2.1 Umur Responden

Umur responden pada saat penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur Pada


Petugas Yang Menangani Pengolahan Limbah di PLTU Labuhan
Angin Tahun 2015

No Kelompok Umur Jumlah (Orang) Persentase (%)


1 <25 tahun 14 56
2 25 – 50 tahun 9 36
3 >50 tahun 2 8
Jumlah 25 100
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa responden terbanyak terdapat pada

kelompok umur <25 tahun yaitu 14orang (56 %) dan paling sedikit pada

kelompok umur >50 tahun yaitu 2 orang (8 %).

4.2.2.2 Jenis Kelamin

Seluruh responden dalam penelitian ini berjeniskelamin laki-laki.

4.2.2.3 Tingkat Pendidikan Responden

Tingkat pendidikan petugas yang menangani pengolahan limbah di PLTU

Labuhan Angin dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini :

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pada
Petugas Yang Menangani Pengolahan Limbah di PLTU Labuhan
Angin Tahun 2015

No Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)


1 SD 1 4
2 SMA/SMK/STM 14 56
2 Diploma 6 24
4 Sarjana 4 16
Jumlah 25 100

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 25 orang petugas yang menangani

pengolahan limbahterdapat 1 orang (4 %) berpendidikan SD, 14 orang (56 %)

berpendidikan SMA/SMK/STM, 6 orang (24 %) berpendidikan Diploma, 4 orang

(16 %) berpendidikan Sarjana dengan tidak berlatar belakang pendidikan di

bidang lingkungan atau kesehatan.

4.2.2.4 LamaBekerja

Lamabekerja responden sampai pada tahun dilakukannya penelitian ini

terdapat pada tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Lama Bekerja Pada Petugas


Yang Menangani Pengolahan Limbah di PLTU Labuhan Angin
Tahun 2015

No Lama Kerja Jumlah (Orang) Persentase (%)


1 0-2 tahun 5 20
2 3-5 tahun 11 44
3 >5 tahun 9 36
Jumlah 25 100
Tabel 4.3 di atas menunjukkan lama bekerja responden di bidang

pengolahan limbah dengan jumlah responden terbanyak bekerja selama 3-5 tahun

yaitu 11 orang (44 %) dan responden paling sedikit bekerja selama 0-2 tahun yaitu

5 orang (20 %).

Universitas Sumatera Utara


4.2.2.5 Tindakan Responden

Tindakan responden dapat diketahui melalui jawaban yang diberikan

responden terhadap pertanyaan yang tertera pada kuesioner. Frekuensi responden

yang menjawab “ya” dan “tidak” pada kuesioner dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan Pada Kuesioner


Pada Petugas Yang Menangani PengolahanLimbah di PLTU
Labuhan Angin Tahun 2015

Ya Tidak Total
No Pertanyaan juml juml juml %
% %
ah ah ah
1 Apakah saudara pernah
22 88 3 12 25 100
mendengar/mengetahui arti limbah?
2 Apakah saudara mengetahui bahwa
limbah yang anda tangani tersebut dapat
24 96 1 4 25 100
merusak lingkungan jika tidak diolah
dengan baik?
3 Apakah saudara mengetahui bahwa
limbah tersebut dapat menimbulkan
25 100 0 0 25 100
gangguan terhadap kesehatan manusia
jika tidak diolah dengan baik?
4 Apakah saudara mengetahui ada
kandungan bahan berbahaya dalam 22 88 3 12 25 100
limbah yang saudara tangani?
5 Apakah saudara menggunakan alat
pelindung diri ketika bekerja menangani 21 84 4 16 25 100
limbah?
6 Ketika menangani limbah apakah
saudara menutup wadah atau alat
21 84 4 16 25 100
pengangkutan limbah tersebut agar
limbah tidak jatuh/tumpah?
7 Apakah saudara pernah mengikuti
pelatihan khusus dalam menangani 8 32 17 68 25 100
limbah tersebut?
8 Menurut saudara, apakah sarana
pengolahan limbah yang digunakan 23 92 2 8 25 100
sudah memenuhi syarat?
Tabel 4.4menunjukkan bahwa seluruh responden mengetahui bahwa

limbah dapat menimbulkan gangguan terhadap kesehatan manusia, 24 orang

(96%) mengetahui bahwa limbah dapat merusak lingkungan, 23 orang (92%)

Universitas Sumatera Utara


menyatakan bahwa sarana pengolahan limbah memenuhi syarat, 22 orang (88%)

pernah mendengar/mengetahui arti limbah dan mengetahui bahwa limbah yang

ditanyani mengandung B3, 21 orang (84 %) menggunakan APD ketika bekerja

dan menutup wadah/alat pengangkut limbah, dan 8 orang (32 %) pernah

mengikuti pelatihan khusus dalam menangani limbah.

Jawaban yang diberikan responden, dihitung skornya untuk melihat

gambaran perilaku responden dalam menangani limbah di PLTU Labuhan Angin

dapat.Distribusi perilaku responden dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut.

Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan TindakanDalam Menangani


Limbah Pada Petugas Yang Menangani Pengolahan Limbah di
PLTU Labuhan Tahun 2015

No Perilaku Jumlah (Orang) Persentase (%)


1 Baik 21 84
2 Sedang 3 12
3 Kurang 1 4
Jumlah 25 100
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa tindakan responden baik dalam menangani

pengolah limbah ada sebanyak 21 orang (84 %), tindakan sedang sebanyak 3

orang (12 %) dan tindakan kurang sebanyak 1 orang (4 %).Ditinjau dari

pendidikannya, responden yang perilakunya kurang ini memiliki tingkat

pendidikan rendah.

4.2.3 Sarana Pengolahan Limbah

Sarana pengolahan limbah merupakan media atau peralatan yang

digunakan untuk melakukan proses pengolahan limbah dari kegiatan operasional

PLTU Labuhan Angin. Adapun sarana pengolahan limbah tersebut antara lain :

Universitas Sumatera Utara


1. Sarana Penanganan Limbah Padat

Sarana yang digunakan untuk mengangkut abu yaitu dump truck yang

merupakan alat transportasi yang berfungsi untuk mengangkut abu dari silo keash

disposal (landfill). Landfill yang dimiliki telah dilapisi pelapis High-Density

Polyethylene(HDPE) dengan bahan polimer yang dibuat kedap air.

Kemasan bekas B3 disimpan dalam sebuah bangunan yang dinamakan

tempat penyimpanan sementara (TPS) limbah B3 dan diangkut oleh pengumpul

yang mempunyai izin sesuai peraturan kementrian lingkungan hidup (KLH).

2. Sarana Pengolahan Limbah Cair

Sarana pengolahan limbah cair pada PLTU Labuhan Angin meliputi waste

water treatment plant (WWTP) dan coal waste water treatment plant (CWWTP).

Pengolahan limbah cair dari blowdown boiler dan water treatment plant (WTP)

diolah melalui WWTP sedangkan limbah cair dari kegiatan penanganan batubara

diolah melalui CWWTP.Sarana pengolahan limbah ini memiliki saluran air

limbah yang tertutup dan kedap air.

3. Sarana Pengolahan Limbah Gas

Sarana pengolahan limbah gas PLTU Labuhan Angin adalah boiler jenis

CFB (Circulating Fluized Bed) dimana dengan boiler CFB ini mampu membakar

batubara dengan tingkat emisi yang rendah (SOx dan NOx yang sangat

rendah).Sarana atau teknologi tambahan yang digunakan PLTU Labuhan Angin

yaitu ESP (Electrostatic presipitator).ESP sebagai penangkap abu sisa

pembakaran batubara.

Universitas Sumatera Utara


4.2.4 Proses Pengolahan Limbah

4.2.4.1 Limbah Padat

Limbah padat yang berupa fly ash dan bottom ash dari silo diangkut

dengan menggunakan dump truck untuk dikumpulkan di landfill. Cara kerjanya

adalah dump truck diposisikan tepat berada di bawah silo dan abu jatuh ke dalam

bak dump truck. Setelah penuh, selanjutnya abu ini dibawa dan dibuang ke tempat

pembuangan abu (landfill) yang luasnya sekitar 5,6 Ha. PLTU Labuhan Angin

dalam pengolahan limbah abu ini akan menjalin kerjasama dengan pihak ketiga.

Limbah B3 seperti drum bekas, tong, kaleng, dll disimpan untuk sementara

waktu dalam sebuah bangunan khusus tempat penyimpanan sementara (TPS)

limbah B3. Bangunan tempat penyimpanan limbah B3 ini konstruksinya kokoh,

pencahayaannya baik, dan setiap limbah padat ini disusun berdasarkan kesamaan

jenis atau karakteristiknya.Dalam waktu tertentu limbah B3 ini diambil oleh pihak

ketiga untuk dikelola lebih lanjut.

fly
ash

ash disposal
(landfill)
dump truck ---- tanpa pengolahan ----

Gambar 3. Skema Penangan fly ash

4.2.4.2 Limbah Cair

Pengolahan limbah cair PLTU Labuhan Angin terdiri dari dua unit

pengolahan limbah dengan sumber limbah cair yang berbeda. Air limbah yang

berasal dari water treatment plant (WTP) dan blowdown boiler diolah dalam unit

Universitas Sumatera Utara


waste water treatment plant (WWTP), sedangkan air limbah yang berasal dari air

limpasan batubara diolah dalam unit coal waste water treatment plant (CWWTP).

1. Waste water treatment plant (WWTP)

Waste water treatment plant (WWTP) merupakan unit yang teritegrasi

terhadap sistem pembuangan limbah industri di PLTU Labuhan Angin. Limbah

boiler dan limbah WTP melalui beberapa proses, aerasi, penambahan kimia untuk

mengendalikan pH. Koagulan dan flokulan juga ditambahkan untuk mempercepat

proses sedimentasi, serta proses filtrasi untuk menghasikan air yang siap

dikembalikan ke lingkungan dan atau dipergunakan kembali untuk penyiraman

batubara.

Proses pengolahan yang terjadi yaitu proses kimia dan fisika. Air dari

blowdown boiler atau chemical cleaning dari boiler dipompakan menuju

netralisasi basin.Suhu air blowdown berkisar 500C.Di basin netralisasi air di

aerasi dan diatur pH nya. Aerasi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan

kontak antar udara dan air, sehingga terjadi proses oksidasi senyawa kimia dan

pengadukan. Pada neutralizing ini, dilakukan juga penambahan alkali dan asam

untuk memperbaiki pH.Kemudian air dipompakan ke waste water storage.Air

limbah WTP yang terkumpul di basin drainage, dipompakan juga menuju waste

water storage.

Air limbah melalui mixing basin untuk diatur kembali pH nya dan aerasi

untuk meningkatkan oksigen.Bagian akhir dari mixing basin ini adalah injeksi

koagulan dan flokulan dengan pengadukan agiator.Kemudian air dialirkan ke

sedimentation tank.Airakan mengalami pengendapan karena partikel padat

Universitas Sumatera Utara


menjadi besar dan berat. Pada tangki sedimentasi partikel yang besar akan

terperangkap pada lamella dan terkumpul di dasar tangki untuk kemudian partikel

padat yang membentuk lumpur dipindahkan ke sludge thickener, sedangkan

overflow akan mengalir ke filter water basin sebagai umpan autobackwash filter.

Air akan melewati filter dengan bantuan tekanan dari pompa filter water lit up,

kontamnan akan terperangkap dalam permukaan filter.

Selanjutnya air limbah tertampung pada middle water basin. Jika hasil

proses belum tercapai, pH maupun TSS nya, akan dikembalikan ke waste storage

basin.Purified waste water basinmenampung overflow dari middle water basin

dengan kapasitas 20 M3, dan siap dipompakan ke basineffluent yang

berdampingan dengan neutralizing basinuntuk kemudian digunakan sebagai

cadangan umpan coal flusing storage (penyiraman debu batubara) dan atau siap di

kembalikan ke lingkungan.

Penanganan sludge terjadi di sludge thickener dimana cara kerjanya

hampir sama dengan tangki sedimentasi. Feedwatermasuk ke tangki dan akan di

atur pengendapan sludgenya dengan scrapper agar terpusat di tengah dasar tangki.

Sedangkan effluentakanoverflow dari atas melewati weir, menuju industrial waste

water drainage pipe.Sludge dipompakan menuju membrane filter press atauplate

filter untuk memisahkan padatan yang tidak larut dalam air dan berupa lumpur

dengan air, sehingga menjadi padatan dalam bentuk cake dan air. Dua lempeng

plateini akan menutup dengan hidrolik, kemudian dialirkan sludge bertekanan

melewati lempeng plate. Lumpur akan tertahan di lempeng dan air akan kembali

Universitas Sumatera Utara


ke sludge thickener. Ketika platedibuka akan dihasilkan padatan lumpur (filter

cake) yang siap diproses selanjutnya.

WTP Waste Water Storage Mixing Basin


Basin
Blowdown boiler

Basin Middle filter


effluent Water Basin Coagulan
Sedimentation Tank

Sludge
thickener

Gambar 4. Skema Waste Water Treatment Plant (WWTP)

2. Coal Waste Water Treatment Plant(CWWTP)

Coal waste water treatment plant(CWWTP) merupakan unit yang

terintegrasi dengan Coal Ash Handling di area PLTU Labuhan Angin.Limbah

batubara yang dimaksud adalah limbah cair yang berasal dari limpasan air hujan

di sekitar coal yard yang ditampung dalam basin penampungan dan air limpasan

hasil penyemprotan/penyiraman debu batubara.Semua air limbah tersebut

ditampung dalam basin pengendapan untuk diproses selanjutnya.

Proses pengolahan yang terjadi adalah proses fisika dan kimia. Air

limpasan batubara dikumpulkan dalam basin penampungan dan dipindahkan ke

basin pengendapan yang berada di plant.Selanjutnya air dialirkan ke dalam kolam

sedimentasi.Di atas kolam sedimentasi terdapat kran yang dilengkapi eskavator

Universitas Sumatera Utara


untuk mengangkat lumpur hasil pengendapan.Air limbah dialirkan ke middle

water pond. Hasil overflowdiangkat ke waste water purifier disertai injeksi

koagulan dan flokulan. Waste water purifier berupa media filter yang menyaring

air dari middle water pond. Selanjutnya air hasil filtrasi tertampung dalam clean

water pond dan akan mengalir overflow menuju coalflushing storage. Basin ini

juga berguna sebagai tempat air untuk backwash waste water purifier.

Waste
Water
Purifie
r

Clean Water
Coal Yard Sedimentation Middle Water Pond
Rain Basin Pond Pond

Gambar 5. Skema Coal Waste Water Treatment Plant

4.2.4.3 Limbah Gas

Pengolahan emisi pada PLTU Labuhan Angin diawali dari tahapan

penyaluran batubara ke dalam tungku pembakaran. PLTU Labuhan Angin

mengunakan konsep pebakaran Circulating Fluidized Bed (CFB). Konsep

pembakaran pada CFB ini yaitu coal (batubara) dibakar pada bagian bed of hot

material yang mengambang dan terjadi sirkulasi dalam furnance karena kecepatan

udara yang tinggi sehingga menyebakan fluidisasi pada bed material.

PLTU Labuhan Anginmenambahkan alat penangkap debu dari gas buang

yaitu electrostatic precipitator (ESP). Proses yang terjadi adalah gas buang akan

melewati suatu ruang yang di dalamnya terdapat pelat-pelat yang bermuatan

Universitas Sumatera Utara


positif. Partikel abu yang berasal dari boiler furnance tidak bermuatan, kemudian

akan diberi muatan negatif oleh elektroda dan selanjutnya dengan teori electric

magnet akan ditangkap oleh collecting plate yang bermuatan positif.

Di dalam daerah penangkapan terdapatcollecting plate dan discharge

electrode (kawat) yangakanmembangkitkan suatu medan listrik yang cukup besar.

Selain itu juga akan menyebabkan molekul - molekul udara dipercepat

gerakannya sehingga bertabrakan yang mengakibatkan elektronnya terlepas dari

orbitnya dan menjadi elektron bebas.

Abu terbang yang melewati medan korona akan bertabrakan dengan ion

ion dan elektron bebas, sehingga partikel abu yang tidak bermuatan akan menjadi

bermuatan. Karena pengaruh medan listrik partikel partikel tersebut bergerak

menuju collecting plate. Partikel abu ini akan jatuh ke bawah karena gravitasi.

Sisa abu yang masih menempel pada collecting plate dan discharge electrodaakan

dibersihkan dengan system penghentakan (rapping). Kemudian abuakan jatuh ke

hopper setelah proses rapping. Mekanisme penghentakan bekerja dalam selang

waktu tertentu secara periodik.

Partikel abu yang terdapat dalam sisa pembakaran akan ditangkap oleh

ESP dan disalurkan ke pembuangan melalui transporter-transporter/conveyor-

conveyor.Transporter/transmitter adalah tabung yang berfungsi sebagai pemindah

abu hasil tangkapan ESP, abu dipindah ke penampung (silo) dengan cara

dihembus oleh udara yang berasal dari compressor yang dikeringkan terlebih

dahulu.

Universitas Sumatera Utara


PLTU Labuhan Angin telah melakukan uji toxicity characteristic leaching

procedure (TCLP) pada abu yang dihasilkannya dan tidak aada parameter yang

melebihi baku mutu sehingga limbah abu dapat dibuang dapat di landifill.

Boiler Furnance
ESP

Transporter

Silo

Gambar 6. Skema Pengolahan Emisi

4.2.5 Karakteristik Bangunan/Tempat Penyimpanan Kemasan Bekas B3

. Kemasan bekas B3 ini berasal dari penggunaan bahan kimia untuk

pengolahan air (WTP) dan proses pengolahan limbah cair WWTP dan CWWTP.

meliputi drum, tong, jeregen, dll.Kemasan bekas B3 dikategorikan sebagai limbah

padat B3.Limbah ini sangat berbahaya bila tidak dikelola dengan baik.

PLTU Labuhan Angin menyediakan gudang atau tempat penyimpanan

sementara (TPS) limbah B3 untuk menghindari hal-hal yang dapat

membahayakan kesehatan dan keselamatan. TPS limbah B3 yang dimiliki PLTU

Labuhan Angin dibuat tanpa plafon, ventilasi memadai serta telah dipasangkan

kasa sehingga terjamin sirkulasi udara di dalam ruangan dan mencegah masuknya

burung atau binatang kecil lain. TPS limbah B3 ini juga diberi sistem penerangan

yang memadai seperti lampu dan cahaya matahari, serta diberi simbol dan tata

Universitas Sumatera Utara


cara yang berlaku. Bangunan ini juga memiliki lantai yang kedap air dan tidak

bergelombang.

4.2.6 Kualitas Limbah Cair

PLTU Labuhan Angin memiliki izin pembuangan limbah cair dan saluran

pegolahan air limbahnya terpisah dari saluran air hujan.PLTU Labuhan Angin

juga melakukan pemantauan terhadap kualitas limbah cair untuk mencegah

dampak negatif terhadap lingkungan. Perusahaan juga melakukan pemantauan

kualitas limbah cair sekali dalam sebulan dan analisisnya dilakukan di

laboratorium Binalab yang telah terakreditasi.

Lokasi pemantauan limbah cair tersebutantara lain :

1. A – 1 :Sumber outlet WWTP / IPAL (Sumber Proses Utama)

2. A – 2 : Sumber outlet limbah Stockpile

3. A – 3 : Sumber Blowdown Boiler

4. A – 4 : Sumber limbah Desalinasi

Pengambilan sampel limbah cair dilakukan setiap bulan dengan membawa

contoh air limbah dan dianalisis oleh pihak laboratorium Binalab.Adapun hasil

pengukuran limbah cair PLTU Labuhan Angin pada bulan Oktober tahun 2014

dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.6 Data Hasil Pengukuran Kualitas Limbah Cair PLTU Labuhan
Angin Bulan Oktober 2014

NO Parameter Satuan Hasil Baku Metoda


Pengujian Mutu
1. Sumber Outlet WWTP
Fisika
1 TSS mg/L 32,25 100 SNI 06-6989.3-2004
Kimia
1 pH mg/L 7,5 6–9 SNI 06-6989.11-2004
2 Cu mg/L 0,08 1 APHA 3111 B 2005
3 Fe mg/L 0,95 3 APHA 3111 B 2005
4 Zn mg/L 0,31 1 APHA 3111 B 2005
5 Cl2 mg/L <0,01 0,5 APHA 4500-CI B 2005
6 Cr mg/L 0.09 0,5 APHA 3111 B 2005
7 Minyak dan mg/L 0,97 10
SNI 06-6989.10-2011
Lemak
8 PO4 mg/L 0,77 10 SNI 06-6989.31-2004
2. Sumber Outlet Limbah Stockpile
Fisika
1 TSS mg/L 141 200 SNI 06-6989.3-2004
Kimia
1 pH mg/L 6,8 6–9 SNI 06-6989.11-2004
2 Fe mg/L 1,22 5 APHA 3111 B 2005
3 Mn mg/L 0,74 2 APHA 3111 B 2005
Sumber : Binalab, 2014

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa seluruh parameter yang diukur pada outlet

WWTP dan stockpile tidak ada yang melebihi baku mutu yang ditetapkan dalam

Peraturan Pemerintah Lingkungan Hidup No. 08 tahun 2009 tentang baku mutu

air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan pembangkit listrik tenaga termal.

4.2.7 Kualitas Emisi

Cerobongasap PLTU Labuhan Angin mengeluarkan emisi yang dapat

mencemari lingkungan. Pengolahan yang dilakukan terhadap emisi ini yaitu

dengan memasang ESP yang dapat menurunkan kadar partikulat di udara. PLTU

Labuhan Angin melakukan pemantauan terhadap kualitas udara secara periodik

Universitas Sumatera Utara


sekali dalam enam bulan. Lokasi pengambilan contoh uji emisi adalah pada gas

turbin generator 2A, selanjutnya dianalisis di laboratorium Binalab dan hasil

laboratorium dibandingkan dengan baku mutu udara menurut Peraturan Menteri

Lingkungan Hidup No. 21 tahun 2008. Hasil analisisudara emisi dapat dilihat

pada tabel 4.7 dibawah ini:

Tabel 4.7 Data Hasil Pengukuran Emisi PLTU Labuhan Angin Bulan
Desember 2014

No Parameter Satuan Hasil Baku Metode


Pengujian Mutu
1 SO2 mg/Nm3 97,47 750 SNI 19-7119.7-2005
2 NO2 mg/Nm3 76,21 850 SNI 19-7119.2-2005
3 Total Partikulat mg/Nm3 33,3 150 SNI 19-7119.12-2005
4 Opasitas mg/Nm3 18 20 SNI 19-7119.11-2005
Sumber : Binalab, 2014

Tabel 4.7 menunjukkan bahwa seluruh parameter yang diukur untuk

menentukan kadar emisi tidak ada yang melebihi baku mutu yang ditetapkan

dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 21 tahun 2008 tentang baku

mutu emisi sumber tidak bergerak bagi usaha dan/atau kegiatan pembangkit

tenaga listrik termal.

Universitas Sumatera Utara


BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Jumlah Limbah Yang Dihasilkan

Produksi abu pada satu unit PLTU Labuhan Angin mencapai 45

ton/hari.Kondisi ini masih dibawah rata-rata jumlah abu yang dihasilkan PLTU

yaitu 500-1000 ton/hari (Samijo, 2010). Namun jika perlakuan terhadap abu ini

hanya dengan membuangnya ke landfill (tempat penimbunan abu) maka abu akan

terakumulasi di tempat penimbunan abu tersebut dalam jumlah yang sangat

banyakdan tidak dikelola dengan baik tentu saja suatu saat akan menimbulkan

masalah lingkungan. Hal ini seiring dengan pernyatan Kurniawan, dkk (2010),

jumlah abu batubara yang sangat besar dan apabila tidak dikelola dengan benar

dapat menimbulkan masalah lingkungan yang serius dan memerlukan tempat

penampungan yang sangat luas.Oleh karena itu pengolahan limbah segera

dilakukan misalnya memanfaatkan limbah abu tersebut.

Debit limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan PLTU Labuhan Angin 60

M3/jam sedangkan pengukuran kecepatan alir emisi yang dikeluarkan gas buang

belum dilakukan. Pengeluaran emisi harus dipantau secara terus menerus agar

dapatdiketahui cara pengolahan limbah yang tepat dan datanya dapat digunakan

sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki sarana pengolahan limbah jika

sewaktu-waktu terjadi masalah pencemaran lingkungan akibat emisi tersebut.

5.2 Karakteristik Petugas Yang Menangani Pengolahan Limbah

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 25 responden menunjukkan bahwa

responden terbanyak terdapat pada kelompok umur <25 tahun yaitu 14 orang

Universitas Sumatera Utara


(56%) dan paling sedikit pada kelompok umur >50 tahun yaitu 2 orang (8 %).

Umur merupakan salah satu yang menjadi indikator perusahaan dalam merekrut

karyawan, karyawan yang berproduktif yang akan direkrut untuk mengisi posisi

yang dibutuhkan.

Menurut Amron (2009), usiamempengaruhi produktivitas seseorang dalam

bekerja. Usia tenaga kerja cukup menentukan keberhasilan dalam melakukan

suatu pekerjaan, baik sifatnya fisik maupun non fisik. Pada umumnya, tenaga

kerja yang berumur tua mempunyai tenaga fisik yang lemah dan terbatas,

sebaliknya tenaga kerja yang berumur muda mempunyai kemampuan fisik yang

kuat.

Seluruh responden dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki.Hal ini

dikarenakan tingkat produktivitas laki – laki lebih tinggi dari perempuan. Hal

tersebut dipengaruhi oleh faktor – faktor yang dimiliki oleh perempuan seperti

fisik yang kurang kuat, dalam bekerja cenderung menggunakan perasaan atau

faktor biologis seperti harus cuti ketika melahirkan.Namun dalam keadaan

tertentu terkadang produktivitas perempuan lebih tinggi dibanding laki – laki,

misalnya pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.Jenis kelamin

dapat menunjukkan tingkat produktivitas seseorang.

Hasil penelitian berdasarkan pendidikan responden terhadap 25 orang

petugas yang menangani pengolahan limbah terdapat 1 orang (4 %) berpendidikan

SD, 14 orang (56 %) berpendidikan SMA/SMK/STM, 6 orang (24 %)

berpendidikan Diploma, 4 orang (16 %) berpendidikan Sarjana dengan tidak

berlatar belakang pendidikan di bidang lingkungan atau kesehatan.Pendidikan

Universitas Sumatera Utara


diartikan sebagai pendidikan formal yang dicapai ataudiperoleh di bangku

sekolah. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi juga

tingkat produktivitas atau kinerja tenaga kerja tersebut (Simanjuntak, 2001). Pada

umumnya orang yang mempunyai pendidikan formal maupun informal yang lebih

tinggi akan mempunyai wawasan yang lebih luas. Tingginya kesadaran akan

pentingnya produktivitas, akan mendorong tenaga kerja yang bersangkutan

melakukan tindakan yang produktif (Kurniawan, 2010).Pernyataan ini

menunjukkan bahwa tingkat pendidikan seorang tenaga kerja berpengaruh positif

terhadap produktivitas, sehingga orang yang berpendidikan lebih tinggi memiliki

pengetahuan yang lebih untuk meningkatkan kinerjanya.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 25 responden menunjukkan bahwa

lama bekerja responden di bidang pengolahan limbah dengan jumlah responden

terbanyak bekerja selama 3-5 tahun yaitu 11 orang (44 %) dan responden paling

sedikit bekerja selama 0-2 tahun yaitu 5 orang (20 %).Adanya tenaga kerja yang

memiliki pengalaman kerja diharapkan memperoleh pekerjaan sesuai dengan

keahliannya. Semakin lama seseorang dalam pekerjaan yang sesuai dengan

keahliannya makan akan mampu meningkatkan produktivitas kerjanya. Hal ini

dikarenakan (Amron, 2009), semakin banyak pengalaman yang didapatkan oleh

seorang pekerja akan membuat pekerja semakin terlatih dan terampil dalam

melaksanakan pekerjaannya.

Hasil penelitian terhadap 25 responden berdasarkan tindakan responden

dalam menangani limbah PLTU diperoleh bahwa tindakan responden baik dalam

menangani pengolah limbah ada sebanyak 21 orang (84 %), tindakan sedang

Universitas Sumatera Utara


sebanyak 3 orang (12 %) dan tindakan kurang sebanyak 1 orang (4 %). Ditinjau

dari pendidikannya, responden yang tindakannya kurang dalam menangani limbah

ini memiliki tingkat pendidikan rendah yaitu SD.

Tindakan petugas dapat mempengaruhi proses pengolahan limbah dan

kualitas limbah yang dihasilkan. Petugas yang tindakannya baik, menunjukkan

bahwa petugas tersebut adalah seorang yang produktif sehingga petugas semakin

kompeten dalam menangani limbah sehingga petugas yang demikian dapat

mencegah terjadinya pencemaran lingkungan akibat limbah yang ditanganinya

misalnya mencegah terjadinya tumpahan/ceceran bahan b3, mencegah debu yang

berterbangan, dan melaksanakan tugas sesuai perannya.

Dalam penelitian ini responden atau petugas yang menangani limbah

paling banyak memiliki tindakan yang baik dalam menangani limbah dan

memiliki tingkat pendidikan yang sedang hingga tinggi yaitu SMA/SMK/STM,

Diploma dan Sarjana.Menurut Andrew E. Sikula dalam Mangkunegara (2003),

tingkat pendidikan adalah suatu proses jangka panjang yang menggunakan

prosedur sistematis dan terorganisir, yang mana tenaga kerja manajerial

mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan-tujuan umum.

5.3 Sarana Pengolahan Limbah

Sarana pengolahan limbah yang ada di PLTU Labuhan Angin dibedakan

menurut limbah yang diolah meliputi limbah padat, limbah cair dan emisi.Sarana

penanganan limbah padat (abu) meliputi dump truck sebagai alat pengangkut

limbah abu yang digunakan untuk membawa abu ke ash

Universitas Sumatera Utara


disposal(landfill).Sedangkan kemasan bekas B3 di kumpulkan dalam sebuah

bangunan atau tempat penyimpanan sementara (TPS).

Dump truck (alat pengangkut limbah) dapat menjadi faktor yang

mempengaruhi penyebaran abu ke lingkungan karena abu sangat mudah

diterbangkan oleh angin.Oleh karena itu perusahaan harus memperhatikan syarat-

syarat dump truckyang digunakan. Menurut Damanhuri dan Padmi (2010) dalam

diklat kuliahnya, persyaratan alat pengangkut sampah sebagai berikut :

− harus dilengkapi dengan penutup sampah, minimal dengan jaring.

− Tinggi bak maksimum 1,6 m.

− Sebaiknya ada alat ungkit.

− Kapasitas disesuaikan dengan kondisi/kelas jalan yang akan dilalui.

− Bak truk/dasar kontainer sebaiknya dilengkapi pengaman air sampah.

Limbah padat diangkut oleh dump truck dan langsung dibawa ke ash

disposal.Ash disposal PLTU Labuhan Angin telah dilapisi pelapis yang kedap air

yang berbahan High Density Polyethilene (HDPE) sehingga mencegah terjadinya

perembesan air lindi limbah abu ke lingkungan.Lindi terbentuk akibat masuknya

air hujan menembus timbunan limbah abu sehingga dapat melarutkan materi-

materi yang terdapat pada limbah abu tersebut.Tchobanoglous (1993), lindi adalah

limbah cair yang timbul akibat masuknya air eksternal ke dalam timbunan

sampah, melarutkan dan membilas materi-materi terlarut, termasuk juga materi

organik hasil proses dekomposisi biologis.

Sarana limbah cair meliputi unit waste water treatment plant (WWTP) dan

coal waste water treatment plant (CWWTP) dengan saluran tertutup dan kedap

Universitas Sumatera Utara


air.Saluran air limbah yang tertutup dapat mencegah air limbah yang belum diolah

mencemari lingkungan dan mencegah perkembangbiakan vektor.Sarana

pembuangan air limbah yang sehat harus memenuhi persyaratan kesehatan,yaitu

tidak mencemari sumber air bersih, tidak menimbulkan genangan air yang

menjadi sarang serangga/nyamuk, tidak menimbulkan becek, kelembaban dan

pandangan yang tidak menyenangkan, bentuk saluran pembuangan tertutup, dan

lancar (Depkes RI, 1993).

Sarana yang digunakan untuk pengolahan emisi adalah diterapkannya

sistem pembakaran dengan konsep Circulating Fluized Bed (CFB) Boiler dan

menambahkan teknologi penangkap debu, electrostastic precipitator

(ESP).Namun, CFB Boiler hanya mampu menurunkan SOx dan NOx sedangkan

untuk emisi yang berupa partikulat tidak dapat diturunkan. Pemberian sarana

tambahan yaitu ESP sangat tepat sehingga produksi abu dapat ditekan.Oleh karena

itu, sarana pengolahan limbah yang dimiliki PLTU Labuhan Angin merupakan

unit-unit yang terintegrasi dengan baik sehingga mendukung tercapainya tujuan

dari pengolahan limbah yang dihasilkan.

5.4 Proses Pengolahan Limbah

5.4.1 Penanganan Limbah Padat

Sumber limbah padat PLTU Labuhan Angin berasal dari boiler furnance

berupa abu yang langsung dibuang ke ash disposal tanpa pengolahan lebih lanjut

dan sumber lain seperti kemasan bekas bahan kimia yang digunakan untuk

pengolahan air. Kemasan bekas B3 harus dikelola dengan baik dan harus berada

dibawah pengawasan pihak yang berwenang karena kemasan bekas B3 ini sangat

Universitas Sumatera Utara


potensial menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan maupun kesehatan

manusia.

Meskipun limbah abu sudah melalui proses uji toxisitas dan dinyatakan

aman, namun produksi abu akan terjadi setiap harinya menyebabkan abu

terakumulasi sangat banyak di tempat pembuangan akhir (landfill). Kondisi ini

bias saja menimbulkan masalah di kemudian hari. Misalnya landfill sudah tidak

bisa menampung abu yang banyak lagi. Oleh karena itu perlu dilakukan

pengelolaan lebih lanjut.

Salah satu cara pengelolaan limbah B3 ini yaitu dengan cara

memanfaatkan kembali limbah B3 tersebut.Pemanfaatan kembali limbah B3 dapat

mengurangi volume limbah b3 yang dihasilkan. Perusahaan bisa mengolah sendiri

limbah abu tersebut atau menjalin kerja sama dengan pihak lain. Sebenarnya abu

terbang batubara memiliki berbagai kegunaan yang amat beragam (Setia, 2010) yaitu:

1. Penyusun beton untuk jalan dan bendungan

2. Penimbun lahan bekas pertambangan

3. Recovery magnetit, cenosphere, dan karbon

4. Bahan baku keramik, gelas, batu bata, dan refraktori

5. Bahan penggosok (polisher)

6. Filler aspal, plastik, dan kertas

7. Pengganti dan bahan baku semen

8. Aditif dalam pengolahan limbah (waste stabilization)

9. Konversi menjadi zeolit dan adsorben

Universitas Sumatera Utara


5.4.2 Pengolahan Limbah Cair

1. Waste water treatment plant (WWTP)

Pada unit WWTP PLTU Labuhan Angin terjadi yaitu pengolahan limbah

cair secara fisika dan kimia. Pengolahan secara fisika terjadi di kolam waste

water storage basin, dimana yang berasal dari unit neutralizing basin dan air

limbah dari unit water treatment plant (WTP) diendapkan pada kolam ini.

Pengolahan secara fisika bertujuan untuk memisahkan padatan terlarut yang ada

dalam air limbah tanpa menggunakan bahan kimia.

Pengolahan secara kimiawi terjadi pada saat penambahan alkali dan acid,

PAC (Polyacrylamide) dan PAM (Polyaluminium Chloride).Penambahan bahan

kimia ini bertujuan untuk menyesusaikan asam-basa air limbah, penyesuaian pH

dan mengendapkan partikel yang besar dan berat.

2. Coal Waste Water Treatment Plant(CWWTP)

Proses pengolahan limbah cair pada unit CWWTP juga terjadi secara

fisika dan kimia. Sebelumnya, pada unit ini terjadi pengolahan pendahuluan (pre-

treatment) yaitu penyaringan air untuk memisahkan padatan-padatan yang terikut

bersama air limpasan batubara. Pemisahan padatan ini juga dilakukan dengan cara

fisika yaitu melalui proses pengendapan. Pengolahan secara kimiawi terjadi pada

saat air limbah yang telah melalui proses pengendapan, diinjeksi koagulan dan

flokulan.

Tidak semua partikel dapat disaring pada pengolahan pendahuluan. Oleh

karena itu, penambahan koagulan merupakan cara yang baik untuk mengikat

padatan-padatan yang terlarut dalam air yang dapat lolos pada proses filtrasi pre-

Universitas Sumatera Utara


treatment. Koagulasiadalah peristiwa pembentukan ataupenggumpulan partikel-

partikel kecil menggunakan zat koagulan.Flokulasi adalahperistiwa pengumpulan

partikel-partikel kecilhasil koagulasi menjadi flok yang lebih besar sehingga cepat

mengendap (Putra, dkk, 2009). Air yang melalui proses koagulasi dan flokulasi

kemudian disaring lagi dan hasilnya adalah air bersih yang siap dibuang ke

lingkungan (laut).

5.4.3 Pengolahan Limbah Gas

Sumber emisi PLTU Labuhan Angin adalah berasal dari gas buang hasil

pembakaran batubara yang dikeluarkan melalui cerobong asap. Pengolahan emisi

pada PLTU Labuhan Angin adalah dengan menerapkan sistem pembakaran

unggun terfluidisasi yaitu dengan tipe Circulating Fluidized Bed (CFB).

CFB boiler pada PLTU Labuhan Angin dapat mengatasi masalah

lingkungan pada PLTU tanpa harus memasang peralatan pengendali SO2 (Flue

Gas Disulphurization) dan pengendali NO2 (low burner NOx).Hanya saja sistem

CFB Boiler ini harus selalu menyediakan bahan penyerap misalnya batu kapur

untuk menangkap SO2 yang terbentuk karena penggunaan bahan bakar batubara

dan pengaturan suhu rendah harus dipertahankan guna mencegah terbentuknya

gas NOx.

5.5 Karakteristik Bangunan/Tempat PenyimpananKemasan Bekas B3

PLTU Labuhan Angin memiliki gudang/tempat penyimpanan sementara

(TPS) limbah B3 untuk menyimpan limbah B3 yang meliputi drum/tong bekas,

jeregen bekas, dll. Bangunan tempat penyimpanan limbah B3 ini konstruksinya

kuat, dilengkapi dengan fasilitas penerangan (lampu) yang memadai.Penerangan

Universitas Sumatera Utara


pada bangunan TPS limbah B3 dapat menghindari pekerja dari kecelakaan kerja.

Penerangan yang memadai juga membantu pekerja melihat simbol dan label

limbah B3.

TPS limbah B3 memiliki ventilasi yang cukup dan diberi kasa sehingga

terlindung dari masuknya hewan-hewan seperti burung dan lain-lain.TPS limbah

B3 ini juga dibuat tanpa plafon sehingga menjamin terjadinya sirkulasi udara yang

baik.Limbah B3 bersifat mudah meledak, mudah terbakar, reaktif, dll, oleh karena

itu pengaturan suhu ruangan juga harus dikendalikan sesuai dengan kondisi

normal (Kep.Ka Bapedal No. 1 tahun 1995).

5.6 Kualitas Limbah Cair

Data pengukuran kualitas limbah cair PLTU Labuhan Angin

menunjukkan bahwa tidak adanya parameter yang melebihi baku mutu yang

ditetapkan dalam Permen LH No. 08 tahun 2009. Kualitas limbah cair yang

memenuhi syarat menjadi kunci terjaganya kualitas lingkungan terutama badan air

yang menjadi tempat akhir pembuangan limbah tersebut.Kualitas emisi yang

memenuhi syarat tercapai karena adanya sarana pengolahan limbah cair yang

memenuhi syarat dan tenaga kerja yang menangani pengolahan limbah cair

memiliki tindakan yang baik dalam menangani limbah tersebut.

Pengukuran kualitas limbah cair PLTU Labuhan Angin dilakukan secara

periodik yaitu setiap satu kali satu bulan.Pengukuran kualitas limbah cair pada

saluran pembuangan limbah industri dan badan air penerima limbah industri,

selain bermanfaat bagi masyarakat dan juga perusahaan pada dasarnya memiliki

tujuan sebagai berikut (Effendi,2003):

Universitas Sumatera Utara


1. Mengetahui karakteristik kualitas limbah cair yang dihasilkan

2. Membandingkan kualitas limbah cair dengan baku mutu kualitas limbah

industri, dan menentukan beban pencemaran menurut Kep.No.51/MEN-

LH/10/1995

3. Menilai efektivitas instalasi pengolahan limbah industri yang dioperasikan

4. Memprediksi pengaruh yang mungkin ditimbulkan oleh limbah cair tersebut

terhadap komponen lingkungan lainnya.

5.7 Kualitas Emisi

Pengukuran udara emisi PLTU Labuhan Angin dilakukan selama enam

bulan sekali. Adapun parameter yang diperiksa antara lain SO2, NO2, total

partikulat, dan opasitas dan semua parameter dinyatakan masih dibawah baku

mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 21 tahun

2008.

Tercapainya kualitas emisi yang memenuhi syarat dapat disebabkan karena

daya dukung sarana pengolahan limbah yang baik dan tenaga kerja yang memiliki

tindakan yang baik dalam menangani limbah gas tersebut. Sarana pengolahan

limbah gas seperti CFB Boilerdan ESP dapat menurunkan produksi emisi sampai

pada tingkat yang aman dan tenaga kerja yang menangani pengolahan limbah juga

mempengaruhi tercapainya kualitas emisi yang memenuhi syarat karena pada

umumnya tenaga kerja yang menangani emisi gas buang tersebut memiliki

tindakan yang baik dalam melakukan tugasnya.

Universitas Sumatera Utara


BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Kegiatan operasional PLTU Labuhan Angin menghasilkan limbah padat, cair,

dan gas. Produksi limbah padat yang berupa abu sebanyak 45 ton/hari untuk

satu unit operasi.Limbah cair sebanyak 60 m3/jam.

2. Karakteristik petugas dari 25 responden yang diteliti, dapat diketahui bahwa

distribusi responden terbanyak berada pada kelompok umur <25 tahun yaitu

14 orang, semua responden berjenis kelamin laki-laki, tingkat pendidikan

sedang (SMA/SMK/STM) yaitu 14 orang, lama bekerja 3-5 tahun yaitu 11

orang, dan petugas yang memiliki tindakan yang baik dalam mengelola

limbah ada 21 orang dimana pada umumnya petugas ini memiliki tingkat

pendidikan sedang hingga tinggi (SMA/SMK/STM, Diploma dan Sarjana).

3. Sarana pengolahan limbah PLTU Labuhan Angin terintegrasi dengan baik

sehingga mempengaruhi proses pengolahan limbah dan menghasilkan limbah

dengan kualitas yang memenuhi syarat.

4. Proses pengolahan limbah cair didasarkan pada sumber limbah. Limbah cair

dari blowdown dan water treatment plant (WTP) melalui unit pengolahan

WWTP.Limbah cair dari air limpasan batubara diolah dalam unit CWWTP.

Proses pengolahan limbah cair PLTU Labuhan Angin ini merupakan

pengolahan secara fisika dan kimiawi. PLTU Labuhan Angin menimbun abu

fly ash di ash disposal dan sedang menjalin kerjasama dengan pihak ketiga

dalam hal pengolahan limbah B3.

Universitas Sumatera Utara


5. Bangunan / Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) limbah bahan berbahaya

dan beracun sudah memenuhi syarat untuk luas tanah, geologis,dan jarak

dengan fasilitas umum dan ekosistem tertentu sesuai Keputusan Ka. Bapedal

No. 1 tahun 1995 .

6. Kualitas limbah cair sudah memenuhi syarat karena adanya sarana

pengolahan limbah cair yang memenuhi syarat dan petugas pengolah limbah

yang memiliki tidakan yang baik dalam menangani limbah.

7. Kualitas emisi sudah memenuhi syarat karena sarana pengolahan limbah gas

seperti CFB Boilerdan ESP dapat menurunkan produksi emisi sampai pada

tingkat yang aman dan petugas yang menangani pengolahan memiliki tidakan

yang baik dalam menangani limbah.

6.2 Saran

1. Parameter limbah cair dan emisi yang sudah memenuhi syarat diharapkan

untuk tetap dipertahankan.

2. Sebaiknya dilakukan pengukuran kecepatan alir emisi secara periodik sebagai

bahan evaluasi dalam memperbaiki sarana pengolahan limbah jika sewaktu-

waktu terjadi masalah pencemaran lingkungan akibat emisi yang dikeluarkan.

3. Petugas yang menangani limbah yang masih memiliki tindakan yang kurang

hingga sedang dalam menangani limbah sebaiknya diberikan pelatihan

tentang pengangan limbah yang dihasilkan PLTU batubara.

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA

Amron & Taufik Imran. 2009. Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh


Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja pada Outlet Telekomunikasi
Seluler Kota Makasar. JurnalSekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nobel
Indonesia.

Darmono, 2001.Lingkungan Hidup dan Penecemaran: Hubungannya dengan


Toksikologi Senyawa Logam. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Damanhuri, E dan Padmi, T., 2010. Diktat Kuliah : Pengelolaan Sampah.


Program Studi Teknik Lingkungan ITB, Bandung.

Effendi, H. 2003.Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan


Lingkungan Perairan. Cetakan Kelima. Kanisius.Yogjakarta.

Herni, K., dkk, 2009. Kajian Emisi CO2 Dari Pembakaran Batubara di
Indonesia.Puslitbang TekMIRA. Bandung.

Iswan, 2010.Penanggulangan Limbah PLTU Batubara.Jurnal Ilmiah Teknik


Mesin. Vol. 1, No. 2.

Keputusan Kepala Bapedal No. 1 Tahun 1995Tentang :Tata Cara Dan


Persyaratan Teknis Penyimpanan Dan Pengumpulan Limbah Bahan
Berbahaya Dan Beracun

Kristanto, P. 2013. Ekologi Industri. Edisi Kedua.Andi.Yogyakarta.

Kurniawan, dkk., 2010. Penelitian Pemanfaatan Abu Batubara PLTU Untuk


Penimbunan Pada Pra- Reklamasi Tambang Batubara.Puslitbang TekMIRA.
Bandung.
Lestiani, DD., Muhayatun, dan Natalia A., 2010. Karakteristik Unsur Pada Abu
Dasar Dan Abu Terbang Batu Bara Menggunakan Analisis Aktivasi
Neutron Instrumental.Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia. Vol.
9.No. 1

Mangkunegara, A.P., 2003. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya


Manusia. Refika Aditama. Bandung.

Marbun, R.D., 2008. Sistem Pengolahan Limbah Cair, Padat Dan Gas Di
Bagian Eksplorasi Produksi (EP)-I Pertamina Pangkalan Susu.
Skripsi.Universitas Sumatera Utara. Medan

Marsudi, D., 2005. Pembangkitan Energi Listrik. Erlangga. Jakarta.

Universitas Sumatera Utara


Megasari, K., Deni S., dan Maria C.P., 2008.Penakaran Daur Hidup
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara Kapasitas 50
Mwatt.Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir.STTN-Batan
Yogyakarta.
Mulia, R.M., 2005. Kesehatan Lingkungan. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Munir, M., 2008.Pemanfaatan Abu Batubara (Fly Ash) Untuk Hollow Block
Yang Bermutu dan Aman Bagi Lingkungan.Tesis. Universitas
Diponegoro. Semarang.

Notoatmodjo, S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta

Nursyahid, 2013.System Kerja PLTU Bahan Bakar


Batubara.http://chawqnoors.blogspot.com/2013/08/system-kerja-pltu-
bahan-bakar-batubara.html. Diakses pada 09 Juli 2015.

Palar, H., 2004.Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat.PT. Rineka Cipta.


Jakarta.

Pasaribu, D.A., 2010.Penggunaan Electrostatic Precipitator Sebagai


Penanggulangan Polusi Udara Pada Cerobong Gas Buang Boiler.
Tugas Akhir. Universitas Sumatera Utara.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 21 Tahun 2008 Tentang Baku Mutu
Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha dan/atau Kegiatan
Pembangkit Tenaga Listrik Termal.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 08 Tahun 2009 Tentang Baku Mutu
Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pembangkit Listrik
Tenaga Termal.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 18 Tahun 1999 Tentang


Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

Perdana, P.N., 2012. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bagian


1.(http://jendeladenngabei.blogspot.com/2012/01/pembangkit-listrik-
tenaga-uap-pltu.html).Diakses pada 07 Maret 2015.

Putra, S., Rantjono, S., Arifiamsyah, T., 2009.Optimasi Tawas Dan Kapur
Untuk Koagulasi Air Keruh Dengan Penanda I-131. Dalam Prosiding
Seminar Nasional V SDM Teknologi Nuklir ISSN 1978-0176.yogyakarta.

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, 2007.Upaya Pengelolaan Lingkungan dan


Upaya Pemantauan Lingkungan PLTU Batu Bara 2 x 30 MW PT
Makmur Sejahtera Wisesa. Lembaga Penelitian Universitas Lambung
Mangkurat.

Universitas Sumatera Utara


Riduwan, 2009.Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian.Alfabeta.
Bandung.

Samijo, 2010.Pembuatan Paving Block Dengan Menggunakan Limbah Abu


Boiler PKS Gunung Bayu Sebagai Bahan Pengisi Dengan Perekat
Alternatif Limbah Fly Ash PLTU Sibolga.Tesis. Universitas Sumatera
Utara. Medan.

Setia, B., 2010. Pemanfaatan Limbah Abu Terbang Batubara (Fly Ash)
PLTU Sibolga Dengan Serat Sintetis Ban Bekas (Scrab Tire Rubber)
CV Persahabatan Tj. Morawa Pada Pembuatan Batako.Skripsi.
Universitas Sumatera Utara. Medan.

Setiawan.B., 2015.Pengertian Limbah. (http://ilmulingkungan.com/pengertian-


limbah/). Diakses pada 09 Maret 2015.

Simanjuntak, P., 2001.Pengantar Ekonomi Sumberdaya Manusia. Lembaga


Penerbit Fakultas Ekonomi UI.Jakarta.

Situmorang, M. (2007).Kimia Lingkungan. Medan: Unimed Press.

Sodikin, I., dkk, 2011. Pengembangan Sistem Pembakaran Co-firing


Batubara – biomassa.Tugas Akhir. Puslitbang TekMIRA. Bandung.

Sprint Consultan, 2014. Laporan Monitoring Lingkungan.No : 72 PLTU


Paiton Swasta Tahap II. Jakarta.

Sugiono, A., 2000. Proses Penggunaan Teknologi Bersih untuk Pembangkit


Listrik dengan Bahan Bakar Batubara di Indonesia. Jurnal Teknologi
Lingkungan,Vol.1, No.1, Januari 2000 : 90-95, ISSN 1411-318X.

Sukandarrumidi. 2006. Batubara dan Pemanfaatannya. Gajah Mada University


Press.Yogyakarta.

Sumantri, A., 2013. Kesehatan Lingkungan. Edisi Revisi. Kecana. Jakarta.

Togu, O., 2014. Studi Keandalan (Reliability) Pembangkit Listrik Tenaga


Uap (PLTU) Labuhan Angin Sibolga.Skripsi. Universitas Sumatera
Utara. Medan.

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 1. Lembar Observasi

LEMBAR OBSERVASI
UNTUK PIMPINAN ATAU PEGAWAI DI BIDANG LINGKUNGAN

ANALISIS PENGOLAHAN LIMBAH PADA PLTU LABUHAN ANGIN


DI KABUPATEN TAPANULI TENGAH

I. Identitas Perusahaan

Nama Perusahaan :

Lokasi Perusahaan :

Tahun Berdiri :

Jenis Kegiatan :

Bahan bakar yang digunakan :

II. Identitas Responden

Nama Responden :

Bidang Pekerjaan :

Masa Kerja :

Jumlah jam kerja :

III. Pertanyaan Terkait Limbah Padat, Cair dan Gas pada PLTU

A. Limbah Padat

1. Sebutkan sumber limbah padat PLTU Labuhan Angin :

a. _____________________________________________________________

b.______________________________________________________________

2. Apa sajakah jenis limbah padat yang berasal dari PLTU ini?

Fly ash Bottom ash

lainnya, sebutkan :___________________

Universitas Sumatera Utara


3. Berapa jumlah limbah padat yang dihasilkan perhari sesuai jenis limbah?

a. Fly ash : _______ kg/hari

b. Bottom ash : _______ kg/hari

c. lainnya, sebutkan :________________________________________

4. Apakah perusahaan telah memiliki izin pengelolaan limbah B3 dari instansi

yang berwenang?

Ya, alasan ___________________________________________________

Tidak, alasan : _______________________________________________

5. Jika ya, bagaimana perusahaan mengelola limbah padat tersebut?

_____________________________________________________________

6. Bagaimana penanganan kemasan bekas B3 di perusahaan ini?

______________________________________________________________

7. Bagaimana konstruksi tempat penyimpanan limbah B3 tersebut?

_______________________________________________________________

______________________________________________________________

B. Limbah Cair

1. Sebutkan sumber utama air limbah selama proses kegiatan PLTU :

_______________________________________________________________

_______________________________________________________________

2. Berapa rata-rata debit limbah cair yang dihasilkan per hari?

_______________________________________________________________

Universitas Sumatera Utara


3. Apakah PLTU Labuhan Angin telah memiliki izin pembuangan limbah cair?

Ya, alasan ___________________________________________________

Tidak, alasan ________________________________________________

4. Apa saja sarana pengolahan limbah cair di tersebutdan bagaimana kondisinya?

_______________________________________________________________

_______________________________________________________________

5. Apakah PLTU Labuhan Angin memiliki saluran pembuangan limbah cair yang

terpisah dengan saluran air hujan?

______________________________________________________________

6. Bagaimana proses pengolahan limbah cair tersebut?

_______________________________________________________________

_______________________________________________________________

Pengolahan Fisika Pengolahan Biologi

Pengolahan Kimia Pengolahan Lanjutan

7. Apakah PLTU Labuhan Angin melakukan pemeriksaan kualitas air limbah?

a. Ya, ___ /___ bulan

b. Tidak, alasan _________________________________________________

8. Kualitas Limbah Cair PLTU Labuhan Angin:

Universitas Sumatera Utara


A. Sumber Kegiatan Utama

Kadar Hasil
Parameter MS/TMS
Maksimum Pengukuran
A. Sumber Proses Utama
pH 6-9
TSS 100 mg/l
Minyak dan Lemak 10 mg/l
Klorin Bebas (Cl2) 0,5 mg/l
Kromium Total (Cr) 0,5 mg/l
Tembaga (Cu) 1 mg/l
Besi (Fe) 3 mg/l
Seng (Zn) 1 mg/l
4-
Phosphat (PO ) ** 10 mg/l
Catatan : * Apabila cooling tower blowdown dialirkan ke IPAL
** Apabila melakukan injeksi Phosphat
B. Sumber Blowdown Boiler
pH 6-9
Tembaga (Cu) 1 mg/l
Besi (Fe) 3 mg/l
Catatan : Apabila sumber air limbah blowdown boiler tidakdialirkan ke IPAL
C. Sumber Blowdown Cooling Tower
pH 6-9 mg/l
Klorin Bebas (Cl2) 1 mg/l
Zink (Zn) 1 mg/l
4-
Phosphat (PO ) 10 mg/l
Catatan : Apabila sumber air limbah blowdown cooling tower tidakdialirkan ke IPAL
D. Sumber Demineralisasi/WTP
pH 6-9 mg/l
TSS 100 mg/l
Catatan : Apabila sumber air limbahdemineralisasi tidakdialirkan ke IPAL
Sumber : Permen LH No. 08 tahun 2009

Universitas Sumatera Utara


B. Sumber Kegiatan Pendukung

Hasil
Parameter Kadar Maksimum MS/TMS
Pengukuran
A. Sumber Pendingin (Air Bahang)
Temperatur 40oC *
Klorin Bebas (Cl4) 0,5 mg/l
Catatan : Apabila sumber air bahang tidak dialirkan ke IPAL
*Merupakan hasil pengukuran rata-rata bulanan di outlet kondensor

B. Sumber Desalinasi
pH 6-9
Salinitas Pada radius 30 m dari
lokasi pembuangan air
limbah ke laut, kadar
salinitas air limbah
sudah harus sama
dengan kadar salinitas
alami (o/).
Catatan :Apabila sumber air limbah desalinasi tidak dialirkan ke IPAL
C. Sumber FGD Sistem Sea Water Wet Scrubber
pH 6-9
SO4(2-) Kenaikan kadar
maksimum paremeter
Sulfat 4% dibanding
kadar sulfat titik
penataan inlet ke laut
Catatan : Apabila sumber air limbah FGD Sistem Sea Water Wet Scrubber tidak dialirkan
ke IPAL
D. Sumber Coal Stockpile
pH 6-9
TSS 100 mg/l
Minyak dan Lemak 10 mg/l
Klorin Bebas (Cl2) 0,5 mg/l
Catatan : Apabila sumber air limbah Coal Stockpile tidak dialirkan ke IPAL

Sumber : Permen LH No. 08 tahun 2009

Universitas Sumatera Utara


9. Apakah PLTU Labuhan Angin melaporkan debit dan kadar parameter limbah

cair kepada instansi berwenang?

Ya, ___ /___ bulan

Tidak, alasan _________________________________________________

10. Pernahkah PLTU mendapat teguran/ diperkarakan ke pengadilan atas

pelanggaran terhadap peraturan pengendalian pencemaran air selama tiga

tahun terakhir? Jika ya, jelaskan!

______________________________________________________________

C. Limbah Gas

1. Sebutkan sumber-sumber limbah gas yang dihasilkan dari kegiatan PLTU

Labuhan Angin.

_______________________________________________________________

_______________________________________________________________

2. Sebutkan jenis-jenis limbah gas yang dihasilkan dari kegiatan PLTU :

SO2 Partikulat

NO2 lainnya, sebutkan : ____________________

3. Apa sajakah sarana pengolahan limbah gas yang ada di PLTU Labuhan Angin?

_______________________________________________________________

_______________________________________________________________

4. Bagaimana proses pengolahan limbah gas tersebut?

_______________________________________________________________

_______________________________________________________________

Universitas Sumatera Utara


5. Apakah PLTU Labuhan Angin telah melakukan pemeriksaan kualitas limbah

gas?

a. Ya, ___ /___ bulan.

b. Tidak, alasan

6. Kualitas limbah gas PLTU Labuhan Angin :

Baku
Hasil
No Parameter Mutu MS/TMS
Pengukuran
(mg/Nm3)
_1 SO2 750
2 NO2 750
3 Total Partikulat 100

7. Pernahkah PLTU mendapat teguran/ diperkarakan ke pengadilan atas

pelanggaran terhadap peraturan pengendalian pencemaran udara selama tiga

tahun terakhir?Jika ya, mengapa?

_______________________________________________________________

_______________________________________________________________

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 2.Kuesioner Penelitian

KUESIONER UNTUK PETUGAS


YANG MENANGANI PENGOLAHAN LIMBAH

I. Identitas Responden
Nama Responden :
Jenis Kelamin :
Umur :
Pendidikan :
Bidang pekerjaan :
Jam Kerja :
Masa kerja :

II. Pertanyaan Terkait Limbah Yang Ditangani


No Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah saudara pernah mendengar/mengetahui
arti limbah?
2 Apakah saudara mengetahui bahwa limbah
yang anda tangani tersebut dapat merusak
lingkungan jika tidak diolah dengan baik?
3 Apakah saudara mengetahui bahwa limbah
tersebut dapat menimbulkan gangguan terhadap
kesehatan manusia jika tidak diolah dengan
baik?
4 Apakah saudara mengetahui ada kandungan
bahan berbahaya dalam limbah yang saudara
tangani?
5 Apakah saudara menggunakan alat pelindung
diri ketika bekerja menangani limbah?
6 Ketika menangani limbah apakah saudara
menutup wadah atau alat pengangkutan limbah
tersebut agar limbah tidak jatuh/tumpah?
7 Apakah saudara pernah mengikuti pelatihan
khusus dalam menangani limbah tersebut?
8 Menurut saudara, apakah sarana pengolahan
limbah yang digunakan sudah memenuhi
syarat?

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 3. Keputusan Ka Bapedal No. 1 Tahun 1995

Keputusan Kepala Bapedal No. 1 Tahun 1995


Tentang : Tata Cara Dan Persyaratan Teknis
Penyimpanan Dan Pengumpulan Limbah Bahan
Berbahaya Dan Beracun

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
Lampiran 4. Lampiran I dan II Permen LH No.08 tahun 2009

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup


Nomor 08 tahun 2009 Tentang :
Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan/Atau
Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Termal

Lampiran I

A. Sumber Proses Utama


Parameter Satuan Kadar Maksimum
1. pH - 6-9
2. TSS mg/l 100
3. Minyak dan Lemak mg/l 10
4. Klorin Bebas (Cl2) mg/l 0,5
5. Kromium Total (Cr) mg/l 0,5
6. Tembaga (Cu) mg/l 1
7. Besi (Fe) mg/l 3
8. Seng (Zn) mg/l 1
9. Phosphat (PO4-) ** mg/l 10
Catatan : * Apabila cooling tower blowdown dialirkan ke IPAL
** Apabila melakukan injeksi Phosphat

B. Sumber Blowdown Boiler


Parameter Satuan Kadar Maksimum
1. pH - 6-9
2. Tembaga (Cu) mg/l 1
3. Besi (Fe) mg/l 3
Catatan : Apabila sumber air limbah blowdown boiler tidakdialirkan ke IPAL

C. Sumber Blowdown Cooling Tower


Parameter Satuan Kadar Maksimum
1. pH - 6-9
2. Klorin Bebas (Cl2) mg/l 1
3. Zink (Zn) mg/l 1
4-
4. Phosphat (PO ) mg/l 10
Catatan : Apabila sumber air limbah blowdown cooling tower tidakdialirkan ke IPAL

D. Sumber Demineralisasi/WTP
Parameter Satuan Kadar Maksimum
1. pH - 6-9
2. TSS mg/l 100
Catatan : Apabila sumber air limbahdemineralisasi tidakdialirkan ke IPAL

Universitas Sumatera Utara


Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 08 tahun 2009 :Tentang
Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan/Atau
Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Termal

Lampiran II

A. Sumber Pendingin (Air Bahang)


Parameter Satuan Kadar Maksimum
o
1. Temperatur C 40*
2. Klorin Bebas (Cl2) mg/l 0,5
Catatan : Apabila sumber air bahang tidakdialirkan ke IPAL
* Merupakan hsil pengukuran rata-rata bulanan di outlet kondensor

B. Sumber Desalinasi
Parameter Satuan Kadar Maksimum
-
1. pH 6-9
o
2. Salinitas / Pada radius 30 m dari lokasi
pembuangan air limbah ke
laut, kadar salinitas air limbah
sudah harus sama dengan
kadar salinitas alami.
Catatan :Apabila sumber air limbah desalinasi tidak dialirkan ke IPAL

C. Sumber FGD Sistem Sea Water Wet Scrubber


Parameter Satuan Kadar Maksimum
-
1. pH 6-9
(2-)
2. SO4 % Kenaikan kadar maksimum
paremeter Sulfat 4%
dibanding kadar sulfat titik
penataan Inlet ke laut
Catatan : Apabila sumber air limbah FGD Sistem Sea Water Wet Scrubber tidak dialirkan ke
IPAL

D. Sumber Coal Stockpile


Parameter Satuan Kadar Maksimum
1. pH - 6-9
2. TSS mg/l 100
3. Minyak dan Lemak mg/l 10
4. Klorin Bebas (Cl2) mg/l 0,5
Catatan : Apabila sumber air limbah Coal Stockpile tidak dialirkan ke IPAL

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 5. Lampiran I B Permen LH No. 21 tahun 2008

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 6. Data Hasil Pengukuran Kualitas Limbah Cair PLTU Labuhan Angin

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
Lampiran 7. Data Hasil Pengukuran kualitas Emisi PLTU Labuhan Angin

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 8. Struktur Organisasi PLTU Labuhan Angin

Universitas Sumatera Utara


32

Lampiran 9. Pengolahan Data Melalui SPSS

Frequencies
Statistics
Jenis Kelamin Umur Pendidikan Lama Kerjak
N Valid 25 25 25 25
Missing 0 0 00

Frequency Table
Jenis Kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid laki-laki 25 100.0 100.0 100.0

Umur
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <25 14 56.0 56.0 56.0
25-50 9 36.0 36.0 92.0
>50 2 8.0 8.0 100.0
Total 25 100.0 100.0

Pendidikan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid SD 1 4.0 4.0 4.0
SMA/SMK/ST
14 56.0 56.0 60.0
M
Diploma 6 24.0 24.0 84.0
Sarjana 4 16.0 16.0 100.0
Total 25 100.0 100.0

Lama Kerjak
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 0-2 tahun 5 20.0 20.0 20.0
3-5 tahun 11 44.0 44.0 64.0
>5 tahun 9 36.0 36.0 100.0
Total 25 100.0 100.0

32

Universitas Sumatera Utara


Frequencies
Statistics
Tahu/dengar Rusak Ganggu
limbah Lingkungan Kesehatan Ada B3 Pakai APD
N Valid 25 25 25 25 25
Missing 0 0 0 0 0

Statistics
Tutupwdh/angkuta
n Ikut Pelatihan Memenuhi Syarat Skor
N Valid 25 25 25 25
Missing 0 0 0 0

Frequency Table

Tahu/dengar limbah
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tidak 3 12.0 12.0 12.0
ya 22 88.0 88.0 100.0
Total 25 100.0 100.0

Rusak Lingkungan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tidak 1 4.0 4.0 4.0
ya 24 96.0 96.0 100.0
Total 25 100.0 100.0

Ganggu Kesehatan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid ya 25 100.0 100.0 100.0

Ada B3
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tidak 3 12.0 12.0 12.0
ya 22 88.0 88.0 100.0
Total 25 100.0 100.0

Universitas Sumatera Utara


Pakai APD
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tidak 4 16.0 16.0 16.0
ya 21 84.0 84.0 100.0
Total 25 100.0 100.0

Tutupwdh/angkutan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tidak 4 16.0 16.0 16.0
ya 21 84.0 84.0 100.0
Total 25 100.0 100.0

Ikut Pelatihan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tidak 17 68.0 68.0 68.0
ya 8 32.0 32.0 100.0
Total 25 100.0 100.0

Memenuhi Syarat
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tidak 2 8.0 8.0 8.0
ya 23 92.0 92.0 100.0
Total 25 100.0 100.0

Skor
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid >12 21 84.0 84.0 84.0
8-12 3 12.0 12.0 96.0
<8 1 4.0 4.0 100.0
Total 25 100.0 100.0

Universitas Sumatera Utara


Jawaban Responden :

Nama Jns Umur Umurk Pnddkan Lama Lama


Kelamin Kerja Kerjak
Andre Diaryan 1 23 1 3 5 2
Tangkas S 1 30 2 3 7 3
Ricky Reymond 1 25 1 4 5 2
Ahmad Darwish 1 24 1 4 5 2
Dedie S 1 24 1 4 5 2
Alva Tatema 1 22 1 2 4 2
Fadli Hidayat 1 24 1 3 5 2
James M 1 25 1 2 7 3
Bobby S 1 23 1 2 4 2
Hendriko 1 23 1 3 3 2
Jhon Hasan 1 38 2 2 4 2
Zulhan 1 33 2 4 8 3
M Wahyudhi 1 23 1 2 4 2
Murhalem 1 28 2 3 6 3
Nixon A 1 24 1 3 4 2
Kabul B 1 25 1 2 6 3
Rizal D 1 25 1 2 6 3
Nuriadi 1 38 2 2 6 3
Suchairi G 1 38 2 2 6 3
Helpandi S 1 23 1 2 1 1
Mukhtaruddin H 1 60 3 2 7 3
Hendri 1 33 2 2 1 1
Astam 1 56 3 1 2 1
David 1 35 2 2 1 1
Maruli S 1 30 2 2 0 1

Universitas Sumatera Utara


Nama Arti lingk kese B3 APD ttpwd pelati sk perila Peril
Lim unga hata ah han or ku akuk
bah n n
Andre 2 2 2 2 2 2 2 2 16 1
Diaryan
Tangkas 2 2 2 2 2 2 0 2 14 1
Ricky 2 2 2 2 2 2 0 2 16 1
Reymond
Ahmad 2 2 2 0 2 2 2 2 14 1
Darwish
Dedie S 2 2 2 2 2 2 0 2 14 1
Alva Tatema 2 2 2 2 2 2 2 2 16 1
Fadli Hidayat 2 2 2 2 2 2 0 2 14 1
James M 2 2 2 2 0 0 0 0 8 2
Bobby S 2 2 2 2 2 2 0 2 14 1
Hendriko 2 2 2 2 2 2 2 2 16 1
Jhon Hasan 2 2 2 2 2 2 0 2 14 1
Zulhan 2 2 2 2 2 2 0 2 14 1
Murhalem 2 2 2 2 2 2 2 2 16 1
M Wahyudhi 2 2 2 2 2 2 2 2 16 1
Nixon A 2 2 2 2 2 2 2 2 16 1
Kabul B 2 2 2 2 2 2 2 2 16 1
Rizal D 2 2 2 2 2 2 0 2 14 1
Nuriadi 2 2 2 2 2 2 0 2 14 1
Suchairi 2 2 2 2 2 2 0 2 14 1
Helpandi 2 2 2 2 2 2 0 2 14 1
Mukhtaruddi 2 2 2 2 2 2 0 2 14 1
n
Hendri 0 2 2 2 2 2 0 2 12 1
Astam 0 0 2 0 0 0 0 0 2 3
David 2 2 2 0 0 0 0 2 8 2
Maruli S 0 2 2 2 0 0 0 2 8 2

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 10. Permohonan Izin Survei Pendahuluan

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 11. Permohonan Izin Penelitian

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 12. Surat Keterangan dari PLTU Labuhan Angin

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 13. Dokumentasi Penelitian

Gambar Lampiran 1. Proses Pengambilan Abu dari Ash Silo menuju Ash
Disposal

Gambaran Lampiran 2. Ash DisposalPLTU Labuhan Angin

Universitas Sumatera Utara


Gambar Lampiran 3. Tampak Depan TPS Limbah B3
PLTU Labuhan Angin

Gambar Lampiran 4. Kemasan Bekas B3 PLTU Labuhan Angin

Universitas Sumatera Utara


Gambar Lampiran 5. Waste Water Treatment Plant (WWTP)
PLTU Labuhan Angin

Gambar Lampiran 6. Coal Waste Water Sedimentation Pond


PLTU Labuhan Angin

Universitas Sumatera Utara


Gambar Lampiran 7. Pengisian Kuesioner Oleh Operator Coal and Ash
HandlingPLTU Labuhan Angin

Gambar Lampiran 8. Pengisian Kuesioner Kepada Operator Kimia


PLTU Labuhan Angin

Universitas Sumatera Utara