Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP


BURUNG CENDERAWASIH

Disusun oleh :

ASEH ERNA S
Kelas : XI IPS 2

SMA NEGERI 1 PARANG


TAHUN PELAJARAN 2017 / 2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah AWT, karena dengan


rahmat hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan tugas makalah
Pelestarian Burung cendrawasih.

Harapan kami, makalah ini dapat meningkatkan pemahaman kami


tentang burung cendrawasih dan pelestarian lingkungan hidup.

Kami menyadari bahwa makalah ini tidak sempurna, oleh karena itu
saya menerima kritikan dan saran yang membangun dari pembaca.
Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................... i


Kata Pengantar .............................................................................. ii
Daftar Isi ....................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ......................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................... 3
C. Tujuan ..................................................................... 3
BAB II ISI

1. Taksonomi ............................................................... 4
2. Ekologi ..................................................................... 4
3. Etimologi .................................................................. 5
4. Morfologi .................................................................. 6
5. Anatomi dan Fisiologi ................................................ 7
6. Perilaku .................................................................... 8
7. Reproduksi ............................................................... 9
8. Makanan .................................................................. 10
9. Evolusi ..................................................................... 11
10. Populasi .................................................................. 12
11. Status Konservasi ..................................................... 19

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan............................................................... 20
B. Saran ....................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 22

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Burung-burung Cendrawasih mempunyai ciri khas bulunya
yang indah yang dimiliki oleh burung jantan. Umumnya bulunya
berwarna cerah dengan kombinasi beberapa warna seperti hitam,
cokelat, kemerahan, oranye, kuning, putih, biru, hijau dan ungu.

Keindahan bulu Cendrawasih jantan digunakan untuk menarik


perhatian lawan jenis. Untuk ‘merayu’ betina agar bersedia diajak
kawin, burung jantan akan memamerkan bulunya dengan melakukan
tarian-tarian indah. Sambil bernyanyi di atas dahan, pejantan
bergoyang dengan berbagai gerakan ke berbagai arah. Bahkan
terkadang hingga bergantung terbalik bertumpu pada dahan.
Namun, tiap spesies Cendrawasih tentunya punya tipe tarian
tersendiri.

Burung Cendrawasih layak digelari sebagai Burung Surga (Bird


of Paradise). Burung Cendrawasih yang merupakan burung khas
Papua, terutama yang jantan, memiliki bulu-bulu yang indah
layaknya bidadari yang turun dari surga (kayangan). Keindahan bulu
Cendrawasih tiada duanya.

Oleh masyarakat Papua, burung cendrawasih dipercaya


sebagai titisan bidadari dari surga. Dulunya burung ini dianggap
sebagai burung cantik tetapi tidak berkaki. Mereka tidak akan turung
ke tanah tetapi hanya berada di udara saja lantaran bulu-bulunya

1
yang indah. Karena itu kemudian burung Cenderawasih terkenal
sebagai Bird of Paradise atau Burung Surga (Kayangan). Dan
beberapa jenis yang terkenal adalah dari genus Paradisaea yang
penamaannya berasal dari kata Paradise.

Masyarakat di Papua sering memakai bulu cendrawasih dalam


pakaian dan adat mereka, dan beberapa abad yang lalu bulu itu
penting untuk dibuat topi wanita di Eropa. Perburuan untuk
mendapat bulu dan perusakan habitat menyebabkan penurunan
jumlah burung pada beberapa jenis ke tingkat terancm; perusakan
habitat karena penebangan hutan sekarang merupakan ancaman
utama.

Perburuan burung cendrawasih untuk diambil bulunya untuk


perdagangan topi marak di akhir abad 19 dan awal abad 20 (Cribb
1997), namun sekarang burung-burung itu dilindungi dan perburuan
hanya dibolehkan untuk kebutuhan perayaan dari suku setempat.
Dalam hal Cendrawasih Panji, disarankan mengambil dari rumah
sarang burung Namdur. Tatkala Raja Mahendra dari Nepal naik tahta
pada tahun 1955, ternyata bulu burung cendrawasih pada mahkota
kerajaan Nepal perlu diganti. Karena larangan perburuan,
penggantian akhirnya diperbolehkan dari kiriman yang disita oleh
hukum Amerika Serikat. Burung cendrawasih dewasa digambarkan
pada bendera Papua nugini.

Keindahan bulu dari burung inilah yang menyebabkan spesies


ini terancam punah. Perburuan dan perusakan habitat spesies ini
membuat semakin terancam punah. Kematian burung cendrawasih
tidak sesuai dengan angka kelahirannya, burung ini hanya dapat
menghasilkan 1-3 telur selama musim kawin. Itulah sekilas tentang

2
burung cendrawasih yang dijuluki dengan burung surga karena
keindahan bulunya dan tarian serta kicauannya yang merdu.

B. RUMUSAN MASALAH

Dalam penulisan makalah mengenai Burung Cendrawasih


Merah (Paradisaea rubra) terdapat beberapa rumusan masalah yaitu:

1. Apakah burung Cendrawasih Merah itu?


2. Kapan Burung Cendrawasih melakukan reproduksi ?
3. Kenapa Burung Cendrawasih Merah banyak diburu?
4. Dimana dapat ditemukan Burung Cendrawasih Merah?
5. Siapa yang harus melestarikan spesies ini?
6. Bagaimana cara pelestarian spesies ini?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui deskripsi dari Burung Cendrawasih Merah
(Paradisaea rubra).
2. Untuk mengetahui cara reproduksi dari Burung Cendrawasih
Merah (Paradisaea rubra).
3. Mengetahui keistimewaan Burung Cendrawasih Merah
(Paradisaea rubra).
4. Dapat mengetahui habitat dan persebaran Burung Cendrawasih
Merah (Paradisaea rubra).
5. Agar manusia sadar akan pentingnya melindungi spesies yang
hampir punah.
6. Agar dapat mengetahui cara-cara pelestarian dari spesies burung
ini.

3
BAB II

ISI

Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra)

1. Taksonomi
Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
Classis : Aves
Ordo : Passeriformes
Familia : Paradisaeidae
Genus : Paradisaea
Spesies : Paradisaea rubra

2. Ekologi
Cendrawasih merah, merupakan hewan endemik Indonesia.
Kita hanya dapat menemukan hewan ini di Indonesia bagian Timur,
tepatnya di dataran rendah pada pulau Waigeo dan Batanta di
kabupaten Raja Ampat, Irian Jaya Barat.

4
3. Etimologi

Burung Cenderawasih adalah sejenis burung dalam


mitologi. Dikenal di kawasan nusantara dan sekitarnya, burung ini
memiliki kedudukan yang mirip dengan burung feniks di Timur
Tengah atau pun burung fenghuang di Asia Timur.

Etimologi dari "cenderawasih" adalah dari "cendra" atau dewa-


dewi bulan dan "wasi" yang memiliki arti wakil atau utusan, jadi
"cenderawasih" artinya utusan dewa-dewi bulan.

Burung ini disebut-sebut dalam kitab mistis Tajul Muluk.


Burung ini berasal dari surga dan selalu berdampingan dengan para
wali. Kepalanya berwarna kuning keemasan dengan empat pasang
sayap yang tiada taranya. Yang menjadi ciri khasnya adalah dua utas
"antena" yang teruntai di ekornya. Barang siapa yang melihatnya
pastilah tertegun dan takjub akan keindahan dan keunikan burung
ini.

Menurut kitab-kitab lama, seandainya burung cendrawasih


turun ke bumi maka akan tamatlah riwayatnya. Namun ajaibnya, ia
tidak akan lenyap seperti bangkai binatang lain. Ini dikarenakan
burung cendrawasih hanya makan embun surga. Malah ia
mengeluarkan wangi yang sukar diungkapkan dengan kata-kata.
Banyak yang menginginkan burung ini karena berbagai khasiat yang
konon dimilikinya, termasuk dalam perobatan.Sebuah penelitian
telah dilakukan oleh Melayu Antique. Bisa dikatakan bahwa burung
cendrawasih adalah mitos di wilayah nusantara yang masih berkaitan
dengan burung fenghuang di Asia Timur dan berhubungan dengan
keluarga kerajaan. Orang Eropa menyebutnya dengan panggilan bird
of paradise sesuai dengan hikayat yang menyelubunginya. Tidak

5
heran kemudian nama "cendrawasih" dipakai untuk burung-burung
yang ada di dalam keluarga Paradisaeidae.

4. Morfologi

Hewan yang mempunyai nama ilmiah Paradisaea Rubra


merupakan hewan pekicau yang berukuran sedang. dengan panjang
34 cm. Biasanya hewan ini berwarna merah dan coklat, iris kuning
dan kaki berwarna merah-coklat keabu-abuan serta tenggorokan
zamrud hijau tua dan kerah kuning diantara tenggorokan. Sang
jantan lebih besar daripada betina. Burung cendrwasih jantan
dewasa mempunyai panjang sekitar 72 cm. Burung jantan juga
memiliki bulu muka hijau berwarna zambrud gelap. Diekornya
terdapat dua buah tali berbentuk pilin ganda berwarna hitam.
Berbeda dengan sang jantan, cendrwasih betina lebih berukuran
kecil. Tidak mempunyai hiasan pada bagian sisi perutnya.
Cendrwasih betina mempunyai muka warna coklat tua. Burung
betina menetaskan dan mengasuha nak sendiri di pakan yang terdiri
dari buah-buahan dan serangga.

6
5. Anatomi dan Fisiologi

Burung ini berwarna kuning dan coklat, dan Berparuh kuning.


Ciri-ciri burung jantan dewasa: Berukuran sekitar 72cm yang
termasuk bulu-bulu hiasan berwarna merah darah dengan ujung
berwarna putih pada bagian sisi perutnya, Bulu muka berwarna hijau
zamrud gelap dan diekornya terdapat dua buah tali yang panjang
berbentuk pilin ganda berwarna hitam. Ciri-ciri burung betinanya:
Berukuran lebih kecil dari burung jantan, dengan muka berwarna
coklat tua dan tidak punya bulu-bulu hiasan

7
6. Perilaku

Saat cenderawasih kasmaran, kepakan sayap dengan bulu-


bulu ekor kuning putih satin keemasan, tegak dan bergerak-gerak.
Tubuh jantan yang bergerak-gerak sambil berjumpalitan, diiringi
siulan dan bunyi suara kerongkongannya. Burung jantan itu
poligami. Setelah kawin karena lamaran bertarian display bulu-bulu
mekar itu sukses, dia pergi dan mencari pasangan lainnya. Betina
yang memerami telurnya yang kadang bisa dua butir. Lalu
membesarkan piyik, hingga mampu terbang dan cari makan sendiri.
Perilaku burung betina "menerima" lamaran jantan pemacaknya,
perilaku piyik burung Papua itu. Sejak keluar sarang, belajar jalan
dan loncat sana loncat sini, sambil belajar
dan hingga mampu terbang pada usia 50 hari.

8
7. Reproduksi

Di musim kawin, burung jantan yang kasmaran selalu saling


saing dengan tarian kepakan sayap, tegakan bulu, serta gerak
lompat loncat akrobatik yang amat indah. Pada saat musim kawin
Cendrawasih jantan menggunakan bulu indahnya untuk menarik
perhatian lawan jenis. Untuk ‘merayu’ betina agar bersedia diajak
kawin, burung jantan akan memamerkan bulunya dengan melakukan
tarian-tarian indah. Sambil bernyanyi di atas dahan, pejantan
bergoyang dengan berbagai gerakan ke berbagai arah. Bahkan
terkadang hingga bergantung terbalik bertumpu pada dahan.
Namun, tiap spesies Cendrawasih tentunya punya tipe tarian
tersendiri.

Burung Cendrawasih memiliki ritual kawin yang berbeda-beda,


dengan sistem kawin jenis-jenis Paradisaea adalah burung jantan
berkumpul untuk bersaing memperlihatkan keelokannya pada burung
betina agar dapat kawin. Sementara jenis lain seperti jenis-jenis
Cicinnurus dan Parotia memiliki tari perkawinan yang beraturan.

9
Burung jantan pada jenis dimorfik seksual bersifat poligami. Banyak
burung hibrida yang dideskripsikan sebagai jenis baru, dan beberapa
spesies diragukan kevalidannya. Jumlah telurnya agak kurang pasti.
Pada jenis besar mungkin hampir selalu satu telur, akan tetapi pada
jenis yang kecil dapat menghasilkan sebanyak 2-3 telur.

Setelah betina dibuahi oleh sang jantan, selanjutnya sang


betina akan bertelur sedangkan pejantan akan pergi dan mencari
betina lain. Setelah dilakukan masa pengeraman selama 17 hari,
telur akan menetas dan anakan baru Cendrawasih akan lahir. Selama
dalam masa asuhan, betina akan agressif untuk melindungi
anakannya. Setelah 2 bulan, anak cendrawasih telah memiliki bulu
yang lengkap dan bisa terbang untuk melakukan kehidupan barunya

8. Makanan

Pakan burung Cendrawasih Merah terdiri dari buah-buahan


dan aneka serangga. Burung ini sbenarnya merupakan pemakan

10
buah-buahan, akan tetapi untuk memperoleh asupan protein burung
ini memakan serangga seperti jangkrik, ulat, larva semut merah, dll.

9. Evolusi

Pada dasarnya burung cendrawasih merah adalah burung liar,


yang hidup berkelompok didalam hutan yang lebat dengan
ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut sulit diteliti
perkembangannya dan sarangnya yang berbentuk seperti mangkuk
terletak di atas pohon dengan tinggi antara 3 sampai 10 meter dari
tanah. Kehidupan burung cendrawasih merah di hutan sangat
memprihatinkan, hal itu karena perburuan untuk diambil bulunya
yang indah dan kerusakan habitat aslinya karena penebangan liar

Ada beberapa faktor kemungkinan yang menyebakan burung


tersebut populasinya menurun, antara lain:

a. Faktor Gejala Alam


Faktor ini bisa disebabkan oleh adanya bencana alam, misalnya
akibat gempa bumi, tanah longsor dl.

11
b. Faktor Gangguan Musuh-musuh Cendrawasih Merah
Bisa karena adanya faktor binatang yang mengganggu “stabilitas
nasional” mereka, seperti ular, tikus, elang, burung hantu dan
binatang lain.Atau mungkin juga karena ulah manusia yang
cenderung mengeksploitasi sumberdaya alam tanpa
memperhitungkan wawasan lingkunganya.

c. Faktor Kurangnya Daya Dukung Pakan


Yang dimaksud adalah kawasan hutan yang menjadi habitat
Cendrawasih Merah. Daerah jelajah Cendrawasih Merah dalam
mencari makanan mencapai radius 2 km dari lokasi sarangnya.
Daya dukung pakan ini bisa berkurang karena adanya
penggundulan hutan atau adanya kebakaran hutan termasuk
“pembakaran hutan”. Atau justru populasinya yang meroket
tajam sehingga keseimbangan makanan dan populasi timpang
tidak seimbang. Faktor daya dukung pakan ini di duga kuat yang
menyebabkan populasi walet di Pulau Jawa kini menurun drastis.
Karena kita tahu bagaimana kerusakan lingkungan (hutan) kita
yang sangat parah. Ironisnya, hutan-hutan di luar Jawapun
sama, malah bisa-bisa lebih parah. Burung Cendrawasih Merah
akan hengkang ke suatu habitat yang bisa menjamin konsumsi
/pakannya. Dan itu hanya tempat dimana hutan-hutanya relatif
sehat.

12
10. Populasi

Burung Cendrawasih layak digelari sebagai Burung Surga


(Bird of Paradise). Burung Cendrawasih yang merupakan burung
khas Papua, terutama yang jantan, memiliki bulu-bulu yang indah
layaknya bidadari yang turun dari surga (kayangan). Keindahan bulu
Cendrawasih tiada duanya.

Burung Cendrawasih merupakan sekumpulan spesies burung


yang dikelompokkan dalam famili Paradisaeidae. Burung yang hanya
terdapat di Indonesia bagian timur, Papua Nugini, dan Australia
timur ini terdiri atas 14 genus dan dan sekitar 43 spesies. 30-an
spesies diantaranya bisa ditemukan di Indonesia.

Oleh masyarakat Papua, burung cendrawasih dipercaya


sebagai titisan bidadari dari surga. Dulunya burung ini dianggap
sebagai burung cantik tetapi tidak berkaki. Mereka tidak akan turung
ke tanah tetapi hanya berada di udara saja lantaran bulu-bulunya
yang indah. Karena itu kemudian burung Cenderawasih terkenal
sebagai Bird of Paradise atau Burung Surga (Kayangan). Dan

13
beberapa jenis yang terkenal adalah dari genus Paradisaea yang
penamaannya berasal dari kata Paradise.

Burung-burung Cendrawasih mempunyai ciri khas bulunya


yang indah yang dimiliki oleh burung jantan. Umumnya bulunya
berwarna cerah dengan kombinasi beberapa warna seperti hitam,
cokelat, kemerahan, oranye, kuning, putih, biru, hijau dan ungu.

Ukuran burung Cenderawasih beraneka ragam. Mulai dari


yang berukuran 15 cm dengan berat 50 gram seperti pada jenis
Cendrawasih Raja (Cicinnurus regius), hingga yang berukuran
sebesar 110 cm Cendrawasih Paruh Sabit Hitam (Epimachus
albertisi) atau yang beratnya mencapai 430 gram seperti pada
Cendrawasih Manukod Jambul-bergulung (Manucodia comrii).

Burung Cendrawasih mempunyai habitat hutan lebat yang


umumnya di daerah dataran rendah. Burung dari surga ini dapat
dijumpai di beberapa pulau di Indonesia bagian timur seperti Maluku
dan Papua. Selain itu juga dapat ditemukan di Papua Nugini dan
Australian Timur.

14
Cenrawasih terdiri atas 13 genus yang mempunyai sekitar 43
spesies (jenis). Indonesia merupakan negara dengan jumlah spesies
Cendrawasih terbanyak. Diduga sekitar 30-an jenis Cendrawasih bisa
ditemukan di Indonesia. Dan 28 jenis diantaranya tinggal di pulau
Papua.

Beberapa jenis Cendrawasih yang terdapat di Indonesia


diantaranya adalah:

 Cendrawasih Gagak (Lycocorax pyrrhopterus); endemik Maluku.

 Cendrawasih Panji (Pteridophora alberti); Papua

 Cendrawasih Kerah (Lophorina superba); Papua

 Cendrawasih Paruh-sabit Kurikuri (Epimachus fastuosus); Papua.

 Cendrawasih Botak (Cicinnurus respublica); endemik pulau


Waigeo, Raja Ampat.

 Cendrawasih Raja (Cicinnurus regius); Papua dan pulau sekitar.

 Cendrawasih Belah Rotan (Cicinnurus magnificus); Papua


(Indonesia dan Papua Nugini).

 Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii); endemik Maluku.

 Cendrawasih Mati Kawat (Seleucidis melanoleuca); Papua.

 Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor); Papua (Indonesia


dan Papua Nugini).

 Cendrawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda); Papua


(Indonesia dan Papua Nugini).

 Cendrawasih Raggiana (Paradisaea raggiana); Papua (Indonesia


dan Papua Nugini).

15
 Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra); endemik pulau Waigeo,
Indonesia.

 Toowa Cemerlang (Ptiloris magnificus); Indonesia, Papua Nugini,


dan Australia.

 Manukodia Mengkilap (Manucodia ater); Indonesia dan Papua


Nugini.

 Paradigala Ekor-panjang (Paradigalla carunculata); Papua.

 Astrapia Arfak (Astrapia nigra); endemik Papua, Indonesia.

 Parotia Arfak (Parotia sefilata); endemik Papua, Indonesia.

 Pale-billed Sicklebill (Drepanornis bruijnii); Indonesia dan Papua


Nugini.

 Burung Cendrawasih Mati Kawat (Seleucidis melanoleuca)


ditetapkan menjadi Fauna Identitas provinsi Papua. Dan
beberapa jenis seperti Cendrawasih Raja, Cendrawasih Botak,
Cendrawasih Merah, Toowa, dan Cendrawasih Kuning Kecil, telah
masuk dalam daftar jenis satwa yang dilindungi berdasarkan UU
No 5 Tahun 1990 dan PP No 7 Tahun 1999.

Burung cendrawasih yang paling terkenal adalah anggota


genus Paradisaea, termasuk spesies tipenya, cendrawasih kuning
besar, Paradisaea apoda. Jenis ini dideskripsikan dari spesimen yang
dibawa ke Eropa dari ekpedisi dagang. Spesimen ini disiapkan oleh
pedagang pribumi dengan membuang sayap dan kakinya agar dapat
dijadikan hiasan. Hal ini tidak diketahui oleh para penjelajah dan
menimbulkan kepercayaan bahwa burung ini tidak pernah mendarat
namun tetap berada di udara karena bulu-bulunya. Inilah asal mula
nama bird of paradise ('burung surga' oleh orang Inggris) dan nama
jenis apoda - yang berarti 'tak berkaki'.

16
Keindahan bulu Cendrawasih jantan digunakan untuk menarik
perhatian lawan jenis. Untuk ‘merayu’ betina agar bersedia diajak
kawin, burung jantan akan memamerkan bulunya dengan melakukan
tarian-tarian indah. Sambil bernyanyi di atas dahan, pejantan
bergoyang dengan berbagai gerakan ke berbagai arah. Bahkan
terkadang hingga bergantung terbalik bertumpu pada dahan.
Namun, tiap spesies Cendrawasih tentunya punya tipe tarian
tersendiri.

Banyak jenis mempunyai ritual kawin yang rumit, dengan


sistem kawin jenis-jenis Paradisaea adalah burung-burung jantan
berkumpul untuk bersaing memperlihatkan keelokannya pada burung
betina agar dapat kawin. Sementara jenis lain seperti jenis-jenis
Cicinnurus dan Parotia memiliki tari perkawinan yang beraturan.
Burung jantan pada jenis yang dimorfik seksual bersifat poligami.
Banyak burung hibrida yang dideskripsikan sebagai jenis baru, dan
beberapa spesies diragukan kevalidannya.

Jumlah telurnya agak kurang pasti. Pada jenis besar, mungkin


hampir selalu satu telur. Jenis kecil dapat menghasilkan sebanyak 2-
3 telur.

Populasi burung cenderawasih di tanah Papua terancam


punah. Para pekerja proyek jalan dan pengusaha hutan di daerah itu
sering memburu burung-burung bernilai jutaan rupiah ini, untuk
dijual. Masih ada 11 jenis cenderawasih berkeliaran di 13 kabupaten
di Papua, namun belum terdata. Suatu saat populasi cenderawasih di
Papua bakal punah. Pasalnya, tidak ada pemeliharaan dan
perawatan yang tepat, sementara hutan di Papua dari tahun ke
tahun terus dibabat. Selain itu penjualan satwa semakin marak saja.
Misalnya para pekerja proyek jalan dan buruh pengusaha hutan,

17
entah karena gaji kecil atau karena apa, sering tidur di hutan untuk
menangkap burung – burung itu. Harganya burung cenderawasih
yang sudah mati sampai jutaan rupiah di luar negeri, apalagi masih
hidup.

Jenis-jenis cenderawasih yang berkeliaran di hutan belantara


Papua ada 11, yakni Ptilorii Magnificus di Merauke, Cicinurus Regius
di Biak, Cicinnurus Magnificus jarang ditemukan kecuali harus
menunggu berhari-hari di hutan, Cicinnurus Respublica juga jarang
ditemukan, Paradisae Minor terbanyak di Nabire dan Manokwari,
Paradisae Rubrae di Jayapura, Paradisae Apoda di Manokwari. Jenis
terakhir ini lebih besar dan bulu-bulu sayap yang indah dipakai oleh
perempuan Papua untuk menghias kepala pada pesta adat.
Kemudian Paradisae Reggiana di Timika, Lophorina Superba di
Manokwari, Seleucidis Melanoleuca di Jayapura dan Sorong dan
Pteridophora Alberti di Timika.

Pendataan dan pengawasan burung cenderawasih


membutuhkan banyak petugas, banyak dana dan fasilitas pendukung
dibutuhkan, dan harus dilakukan serentak, pada waktu yang sama di
seluruh daerah. hal ini yang menyebabkan proses pelestarian dan
proteksi cenderawasih sangat kurang. Pendataan satwa langka
seperti cenderawasih berada di bawah scientific authority, pusat
penelitan dan pengembangan biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) dan lembaga-lembaga pemerintah seperti BKSDA
dan Taman Nasional.

18
11. Status Konservasi

Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut,


serta populasi dan daerah dimana burung ini ditemukan sangat
terbatas, Cendrawasih Merah dievaluasikan sebagai beresiko hampir
terancam di dalam IUCN Red List. Burung ini didaftarkan dalam
CITES Appendix II.

19
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Burung Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra) merupakan


burung pemakan serangga dan buah-buahan yang suka berkicau
dan memiliki tarian yang khas.

2. Bulu Burung Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra) sangat


indah, oleh karena hal tersebut banyak diburu untuk keperluan
dalam pembuatan topi.
3. Klasifikasi Burung Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra) adalah
sebagai berikut:
Phyllum : Chordata
Sub Phyllum : Vertebrata
Classis : Aves
Ordo : Passeriformes
Family : Paradisaeidae
Genus : Paradisaea
Species : Paradisaea rubra
4. Burung Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra) memiliki status
yang hampir terancam punah akibat hilangnya habitatnya yaitu
hutan.

5. Populasi burung cenderawasih di tanah Papua terancam punah.


Para pekerja proyek jalan dan pengusaha hutan di daerah itu
sering memburu burung-burung bernilai jutaan rupiah ini, untuk
dijual. Masih ada 11 jenis cenderawasih berkeliaran di 13
kabupaten di Papua, namun belum terdata. Suatu saat populasi
cenderawasih di Papua bakal punah. Pasalnya, tidak ada

20
pemeliharaan dan perawatan yang tepat, sementara hutan di
Papua dari tahun ke tahun terus dibabat. Selain itu penjualan
satwa semakin marak saja. Misalnya para pekerja proyek jalan
dan buruh pengusaha hutan, entah karena gaji kecil atau karena
apa, sering tidur di hutan untuk menangkap burung – burung itu.
Harganya burung cenderawasih yang sudah mati sampai jutaan
rupiah di luar negeri, apalagi masih hidup.

B. SARAN
Untuk menjamin kelangsungan hidup Burung Cendrawasih
Merah (Paradisaea rubra) yang hampir terancam punah diperlukan
adanya konservasi. Usaha tersebut dilakukan dengan
menangkarkannya, dimana setiap Taman Nasional, Suaka Marga
Satwa,dll harus berusaha melakukan penangkaran tersebut meskipun
sulit. Untuk masyarakat harus meningkatkan kesadaran bahwa
Cendrawasih adalah aset keanekaragaman hayati yang tak ternilai
harganya.

21
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1992. Kicau Burung. Media Komunikasi Taman Burung TMII Vol.
IV. Jakarta: TMII.

Mc Kinnon, K. 1986. Alam Asli Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Edi. 2009. Keragaman Hewan Vertebrata. (http://www. Makalah Biologi


Tentang Keragaman Vertebrata. ucmp. berkeley/diapsids/bird. com).

Frestialdi. 2009. Aves Bulu-


Bulu Burung dan Mammalia.http://iqbalali.com/2008/10/07/aves-
bulu-bulu-burung-dan mammalia/. Diakses,

22