Anda di halaman 1dari 33

 Chumaidi Samin <chumaidisamin19@gmail.

com>

Kepada:rafidahthaib@yahoo.com

19 Mei jam 23.02

ab i

Pendahuluan

A. LATAR BELAKANG

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik

> 140 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg (Kee & Hayes).Tekanan Darah (TD)
didistribusikan terus menerus, tidak ada definisi absolut untuk hipertensi (Davey).Obat
antihipertensi adalah obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah tingggi hingga
mencapai tekanan darah normal.Semua obat antihipertensi bekerja pada satu atau lebih
tempat kontrol anatomis dan efek tersebut terjadi dengan mempengaruhi mekanisme
normal regulasi TD. EKG. Jakarta 1996.

Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit kehamilan dan merupakan


satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin. Di Indonesia
mortalitas dan morbidotas hipertensi dalam kehamilan juga masih cukup tinggi. Hal ini
disebabkan selain oleh etiologi tidak jelas , jiiga oleh perawatan dalam persalinan masih
dtangani oleh petugas nonmedik dan system rujukan yang belum sempurna. Hipertensi
dalam kehamilan dapat dialami oleh setiap lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan
tentang pengelolaan hipertensi dalam kehamilan harus banar-benar dipahami oleh semua
tenaga medic baik pusat maupun daerah.

Apapun yang seorang wanita hamil makan atau minum dapat memberikan pengaruh
pada janinnya. Seberapa banyak jumlah obat yang akan terpapar ke janin tergantung dari
bagaimana obat tersebut diabsorpsi (diserap), volume distribusi, metabolisme, dan
ekskresi (pengeluaran sisa obat). Penyerapan obat dapat melalui saluran cerna, saluran
napas, kulit, atau melalui pembuluh darah (suntikan intravena). Kehamilan sendiri
mengganggu penyerapan obat karena lebih lamanya pengisian lambung yang dikarenakan
peningkatan hormon progesteron.

Volume distribusi juga meningkat selama kehamilan, estrogen dan progesteron


mengganggu aktivitas enzim dalm hati sehingga berpengaruh dalam metabolisme obat.
Ekskresi oleh ginjal juga meningkat selama kehamilan. Hipertensi dalam kehamilan
dapat dialami oleh setiap lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang pengelolaan
hipertensi dalam kehamilan harus banar-benar dipahami oleh semua tenaga medic baik
pusat maupun daerah.

B.RUMUSAN MASALAH

 Apa yang Dimaksud Dengan Hipertensi dan Hipertensi pada kehamilan?

 Apa Jenis Obat Antihipertensi Yang Aman Bagi Ibu Hamil?

 Pengobatan Hipertensi Pada Ibu Hamil dan Tingkat keamanan menurut FDA

 Klasifikasi “OBAT ANTI HIPERTENSI” didasarkan pada tempat regulasi utama atau
titik tangkap kerjanya dan Tingkat keamanan obat (FDA)

C.TUJUAN

Mahasiswa Diharapkan Mampu Mengetahui Tentang :

 Mengetahui pengertian Hipertensi Pada Kehamilan.

 Mengetahui Jenis Obat Antihipertensi Yang Aman Bagi Ibu Hamil

 Mengetahui Pengobatan Hipertensi Pada Ibu Hamil.Memahami Klasifikasi Hipertensi


Berdasarkan Penyebabnya

 Memahami Pengobatan Farmakologis


 Memahami Klasifikasi “OBAT ANTI HIPERTENSI” didasarkan pada tempat regulasi
utama atau titik tangkap kerjanya dan Tingkat keamanan obat (FDA)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

a. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah tekanan darah di atas 140/90mmHg

(WHO).

Klasifikasi Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)


Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-90
Hipertensi Tingkat 1 140-159 90-100
Hipertensi Tingkat 2 >160 >100

(Klasifikasi tekanan darah untuk usia 18 tahun atau lebih berdasarkan JNC VII,

2003)

Masa kehamilan adalah kondisi yang memerlukan perhatian khusus akan kesehatan

ibu dan janin atau bayi. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah

hipertensi.Hipertensi merupakan penyakit umum yang didefinisikan secara sederhana


sebagai peningkatan tekanan darah. Penyakit tersebut dapat menjadi penyebab tingginya

angka kesakitan dan kematian baik pada ibu dan janin/ bayi yang dilahirkan. Wanita hamil

dengan hipertensi memiliki resiko terjadinya komplikasi lebih, seperti penyakit pembuluh

darah dan organ, sedangkan janin atau bayi berisiko terkena komplikasi penghambatan

pertumbuhan. Oleh karena itu, perlu adanya penatalaksanaan khusus pada ibu hamil.

Sebagian besar ibu hamil tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi karena ibu

hamil terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala yang spesifik.

Oleh karena itu diperlukan monitoring terhadap tekanan darah, yang dapat diukur

menggunakan tensimeter. Pada kehamilan normal tekanan sistolik sedikit berubah,

sedangkan tekanan diastolik menurun kurang lebih 10 mmHg pada awal kehamilan

(minggu ke 13-20) dan akan naik kembali pada trimester ketiga. Anief, Moh, 1996

Hipertensi pada kehamilan digambarkan sebagai kondisi dengan variasi tekanan

darah yang besar. Dalam melakukan penatalaksanaan ini, perlu dipahami klasifikasi

hipertensi pada kehamilan. “Menurut laporan National High Blood Pressure Education

Program Working Group tahun 2000” tentang hipertensi pada kehamilan, terdapat

klasifikasi hipertensi pada ibu hamil yaitu hipertensi kronik, hipertensi gestasional, dan

preeklamsia. Diagnosis hipertensi kronik didasarkan pada riwayat hipertensi sebelum

kehamilan atau kenaikan tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg
sebelum kehamilan minggu ke-20 dengan minimal dua kali pengukuran menunjukkan hasil

yang relatif sama.

Hipertensi kronik sendiri dibagi menjadi dua yaitu hipertensi kronik ringan dengan tekanan

diastolik kurang dari 110 mmHg dan hipertensi kronik parah dengan tekanan diastolik 110

mmHg atau lebih.

Wanita hamil dengan hipertensi kronik ini dapat meningkatkan resiko terjadinya

preeklamsia, pengasaran plasenta, morbiditas dan mortalitas bayi, penyakit kardiovaskuler

dan ginjal. Hipertensi gestasional sendiri merupakan perkembangan peningkatan tekanan

darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg tanpa gejala preeklamsia, setelah

kehamilan minggu ke-20. Umumnya tekanan darah akan kembali normal tanpa terapi obat.

Preeklamsia digambarkan sebagai kejadian hipertensi, udem, dan proteinuria (protein

dalam urin) setelah kehamilan minggu ke-20 dengan tekanan darah lebih dari 140/90

mmHg.

Preeklamsia dapat dibagi menjadi preeklamsia ringan dan parah. Preeklamsia

disebabkan oleh kegagalan perpindahan trompoblastik ke arteri uterus sehingga terjadi

kerusakan pada plasenta dan kegagalan adaptasi sistem kardiovaskuler (peningkatan

volume plasma dan penurunan resistensi pembuluh sistemik). Perubahan tersebut

menyebabkan pengurangan perfusi pada plasenta, ginjal, liver, dan otak. Resiko

preeklamsia pada ibu hamil adalah kejang, hemoragi otak, pengasaran plasenta, udem pada

paru, gagal ginjal, hemoragi hati dan kematian. Pada bayi dapat beresiko pertumbuhan
yang lambat, hipoksemia, asidosis, prematur, dan kematian. Oleh karena hipertensi kronik

ini dapat berkembang menjadi preeklamsia atau lebih parah, maka deteksi dini dan

pengobatan pada keadaan ini diperlukan. Sasaran terapi dalam pengobatan hipertensi

kronik pada kehamilan adalah tekanan darah.

Tujuan terapi adalah untuk menurunkan tekanan darah pada level tekanan darah

diastolik dibawah 110 mmHg, yang akan mengurangi morbiditas dan mortalitas,

menurunkan insiden preeklamsia, pengasaran plasenta, kematian janin/ bayi dan ibu,

komplikasi strok dan kardiovaskuler. Strategi terapi dapat dilakukan dengan terapi

nonfarmakologi maupun terapi farmakologi. Terapi nonfarmakologis merupakan terapi

tanpa obat yang umum dilakukan pada wanita hamil, terutama pada hipertensi kronik

ringan (tekanan diastolik kurang dari 110 mmHg). Penatalaksanaan yang dilakukan antara

lain pembatasan aktivitas, banyak istirahat, pengawasan ketat, pembatasan konsumsi

garam, mengurangi makan makanan berlemak, tidak merokok, dan menghindari minuman

beralkohol.

Dari beberapa obat yang telah disebutkan diatas, metildopa merupakan obat pilihan

utama untuk hipertensi kronik parah pada kehamilan (tekanan diastolik lebih dari 110

mmHg) yang dapat menstabilkan aliran darah uteroplasenta dan hemodinamik janin.

Obat ini termasuk golongan α2-agonis sentral yang mempunyai mekanisme kerja dengan

menstimulasi reseptor α2-adrenergik di otak. Stimulasi ini akan mengurangi aliran


simpatik dari pusat vasomotor di otak. Pengurangan aktivitas simpatik dengan perubahan

parasimpatik akan menurunkan denyut jantung, cardiac output, resistensi perifer, aktivitas

renin plasma, dan refleks baroreseptor. Metildopa aman bagi ibu dan anak, dimana telah

digunakan dalam jangka waktu yang lama dan belum ada laporan efek samping pada

pertumbuhan dan perkembangan anak.

C. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Penyebabnya

1. Hipertensi Esensial/ Primer

Usia, stress psikologis, dan hereditas (keturunan). Sekitar 90%.

2. Hipertensi Sekunder

Kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit

adrenal. Sekitar 10%.

D. Klasifikasi “OBAT ANTI HIPERTENSI” dan berdasarkan pada tempat

regulasi utama atau titik tangkap kerjanya

1. DIURETIK

Bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah jantung dan


menyebabkan ginjal meningkatkan ekskresi garam dan air.
 Khasiat antihipertensi diuretik :

adalah berawal dari efeknya meningkatkan ekskresi natrium, klorida, dan air, sehingga

mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel. TD turun akibat berkurangnya curah

jantung, sedangkan resistensi perifer tidak berubah pada awal terapi. Pada pemberian

kronik, volume plasma kembali tetapi masih kira-kira 5% dibawah nilai sebelum

pengobatan. Curah jantung kembali mendekati normal.TD tetap turun karena sekarang

resistensi perifer menurun. Vasodilatasi perifer yang terjadi kemudian tampaknya bukan

efek langsung tiazid tetapi karena adanya penyesuaian pembuluh darah perifer terhadap

pengurangan volume plasma yang terus-menerus. Kemungkinan lain adalah berkurangnya

volume cairan interstisial berakibat berkurangnya kekakuan dinding pembuluh darah dan

bertambahnya daya lentur (compliance) vaskular.

A. DIURETIK TIAZID

Menghambat reabsorpsi natrium dan klorida pada pars asendens ansa henle tebal,

yang menyebabkan diuresis ringan. Suplemen kalium mungkin diperlukan karena

efeknya yang boros kalium.

1) ( TABLET HYDROCLOROTHIAZIDE ( HTC ) )

Golongan obat antihipertnsi ini merupakan obat antihipertensi yang prosesnya melalui
pengeluaran cairan tubuh via urin. Golongan antihipertensi ini cukup cepat menurunkan
tekanan darah namun dengan prosesnya yang melalui pengeluaran cairan, ada
kemungkinan besar potassium ( kalium ) terbuang.

 Sediaan obat : Tablet


 Mekanisme kerja : mendeplesi (mengosongkan) simpanan natrium sehingga

volume darah, curah jantung dan tahanan vaskuler perifer menurun. Dan

menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dalam pars asendens ansa henle tebal

dan awal tubulus distal. Hilangnya K+, Na+, dan Cl- menyebabkan peningkatan

pengeluaran urin 3x. Hilangnya natrium menyebabkan turunnya GFR.

 Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Didistribusi

keseluruh ruang ekstrasel dan hanya ditimbun dalam jaringan ginjal.

 Indikasi : digunakan untuk mengurangi udema akibat gagal jantung, cirrhosis

hati, gagal ginjal kronis, hipertensi, Obat awal yang ideal untuk hipertensi, edema

kronik, hiperkalsuria idiopatik. Digunakan untuk menurunkan pengeluaran urin

pada diabetes inspidus (GFR rendah menyebabkan peningkatan reabsorpsi dalam

nefron proksimal, hanya berefek pada diet rendah garam)

 Kontraindikasi : hypokalemia, hypomagnesemia, hyponatremia, hipertensi

pada kehamilan, hiperurisemia, hiperkalsemia, oliguria, anuria, kelemahan,

penurunan aliran plasenta, alergi sulfonamide, gangguan saluran cerna.

 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C

 Dosis :

o Dewasa 25 – 50 mg/hr

o Anak 0,5 – 1,0 mg/kgBB/ 12 – 24 jam


B. LOOP DIURETIC

Lebih potensial dibandingkan tiazid dan harus digunakan dengan hati-hati untuk

menghindari dehidrasi. Obat-obat ini dapat mengakibatkan hipokalemia, sehingga kadar

kalium harus dipantau ketat. (Furosemid/Lasix)

1) FUROSEMIDE

 Nama paten : Cetasix, farsix, furostic, impungsn, kutrix, Lasix, salurix,

uresix.

 Sediaan obat : Tablet, capsul, injeksi.

 Mekanisme kerja : mengurangi reabsorbsi aktif NaCl dalam lumen tubuli ke

dalam intersitium pada ascending limb of henle dan menghambat reabsorpsi

klorida dalam pars asendens ansa henle tebal. K+ banyak hilang ke dalam urin.

 Indikasi : Diuretik yang dipilih untuk pasien dengan GFR rendah dan

kedaruratan hipertensi. Juga edema, edema paru dan untuk mengeluarkan banyak

cairan. Kadangkala digunakan untuk menurunkan kadar kalium serum.Edema

paru akut, edema yang disebabkan penyakit jantung kongesti, sirosis hepatis,

nefrotik sindrom, hipertensi.

 Kontraindikasi : wanita hamil dan menyusui

 Efek samping : pusing. Lesu, kaku otot, hipotensi, mual, diare.

Hiponatremia, hipokalemia, dehidrasi, hiperglikemia, hiperurisemia,


hipokalsemia, ototoksisitas, alergi sulfonamide, hipomagnesemia, alkalosis

hipokloremik, hipovolemia.

 Interaksi obat : indometasin menurunkan efek diuretiknya, efek ototoksit

meningkat bila diberikan bersama aminoglikosid. Tidak boleh diberikan bersama

asam etakrinat. Toksisitas silisilat meningkat bila diberikan bersamaan.

 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C

 Dosis : Dewasa 40 mg/hr

Anak 2 – 6 mg/kgBB/hr

C. DIURETIK HEMAT KALIUM

Meningkatkan ekskresi natrium dan air sambil menahan kalium. Obat-obat ini

dipasarkan dalam gabungan dengan diuretic boros kalium untuk memperkecil

ketidakseimbangan kalium. (Spirinolactone)

1) AMILORID (MIDAMOR)

 Mekanisme Kerja : secara langsung meningkatkan ekskresi Na+ menurunkan

sekresi K+ dalam tubulus kontortus distal.


 Indikasi : Digunakan bersama diuretik lain karena efek hemat K+ mengurangi efek

hipokalemik. Dapat mengoreksi alkalosis metabolik.

 Efek tak diinginkan : Hiperkalemia, kekurangan natrium atau air. Pasien dengan

diabetes militus dapat mengalami intoleransi glukosa.

 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C

2) SPIRONOLAKTON (ALDACTONE)

 Mekanisme Kerja : antagonis aldosteron (aldosteron menyebabkan retensi Na+).

Juga memiliki jerja serupa dengan amilorid.

 Indikasi : digunakan dengan tiazid untuk edema (pada gagal jantung kongestif),

sirosis, dan sindrom nefrotik. Juga untuk mengobati atau mendiagnosis hiperaldo-

steronisme. Efek tak diinginkan : seperti amilorid. Juga menyebabkan

ketidakseimbangan endokrin (jerawat, kulit berminyak, hirsutisme, ginekomastia).

 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C

3) TRIAMTERIN (DYRENIUM)
 Mekanisme Kerja : secara langsung menghambat reabsorpsi Na+ serta sekresi K+

dan H+ dalam tubulus koligentes.

 Indikasi : tidak digunakan untuk hiperaldosteronisme. Lain-lain seperti

Spironolakton.

 Efek tak diinginkan : dapat menyebabkan urin menjadi biru dan menurunkan aliran

darah ginjal. Lain-lain seperti amilorid.

D. DIURETIK OSMOTIK

Menarik air ke urin, tanpa mengganggu sekresi atau absorpsi ion dalam ginjal.

(Manitol/Resectisol)

1) MANITOL (MIS. RESECTISOL)

 Mekanisme kerja : secara osmotic menghambat reabsorpsi natrium dan air.

Awalnya menaikkan volume plasma dan tekanan darah.

 Indikasi : gagal ginjal akut, glaucoma, sudut tertutup akut, edema otak, untuk

menghilangkan kelebihan dosis beberapa obat.

 Efek tak diinginkan : sakit kepala, mual, muntah, menggigil, pusing, polidipsia,

letargi, kebingungan, dan nyeri dada.

 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C

2. ANTI ADRENERGIK
Agonis adrenergik meningkatkan tekanan darah dengan merangsang jantung (reseptor

ß1) dan/atau membuat konstriksi pembuluh darah perifer (reseptor α1). Pada pasien

hipertensi, efek adrenergik dapat ditekan dengan menghambat pelepasan agonis

adrenergik atau melakukan antagonisasi reseptor adrenergik.

a. Penghambat pelepasan adrenergik prasinaptik;

dibagi menjadi antiadrenergik “sentral” dan “perifer”. Antiadrenergik sentral

mencegah aliran keluar simpatis (adrenergic) dari otak dengan mengaktifkan

reseptor α2 penghambat. Antiadrenergik perifer mencegah pelepasan norepinefrin

dari terminal saraf perifer (misal yang berakhir di jantung). Obat-obat ini

mengosongkan simpanan norepinefrin dalam terminal-terminal saraf.

b. Blocker alfa dan beta

bersaing dengan agonis endogen memperebutkan reseptor adrenergik.

Penempatan reseptor α1 oleh antagonis menghambat vasokontriksi dan

penempatan reseptor ß1 mencegah perangsangan adrenergik pada jantung.

A. ANTAGONIS RESEPTOR BETA

Bekerja pada reseptor Beta jantung untuk menurunkan kecepatan denyut dan curah

jantung.
1) ASEBUTOL (BETA BLOKER)

 Nama Paten : sacral, corbutol,sectrazide.

 Sediaan obat : tablet, kapsul.

 Mekanisme kerja : menghambat efek isoproterenol, menurunkan aktivitas

renin, menurunka outflow simpatetik perifer.

 Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia,feokromositoma, kardiomiopati

obtruktif hipertropi, tirotoksitosis.

 Kontraindikasi : gagal jantung, syok kardiogenik, asma, diabetes mellitus,

bradikardia, depresi.

 Efek samping : mual, kaki tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, lesu

 Interaksi obat : memperpanjang keadaan hipoglikemia bila diberi bersama

insulin. Diuretic tiazid meningkatkan kadar trigleserid dan asam urat bila diberi

bersaa alkaloid ergot. Depresi nodus AV dan SA meningkat bila diberikan bersama

dengan penghambat kalsium

 Dosis : 2 x 200 mg/hr (maksimal 800 mg/hr).

 ]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

2) ATENOLOL (BETA BLOKER)


Golongan ini merupakan obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan

darah bekerja dengan melalui proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar

pembuluh darah.

 Nama paten : Betablok, Farnomin, Tenoret, Tenoretic, Tenormin, internolol.

 Sediaan obat : Tablet

 Mekanisme kerja : pengurahan curah jantung disertai vasodilatasi perifer,

efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin akibat aktivasi

adrenoseptor di ginjal.

 Indikasi : hipertensi ringan – sedang, aritmia

 Kontraindikasi : gangguan konduksi AV, gagal jantung tersembunyi,

bradikardia, syok kardiogenik, anuria, asma, diabetes.

 Efek samping : nyeri otot, tangan kaki rasa dingin, lesu, gangguan tidur, kulit

kemerahan, impotensi.

 Interaksi obat : efek hipoglikemia diperpanjang bila diberikan bersama

insulin. Diuretik tiazid meningkatkan kadar trigliserid dan asam urat. Iskemia

perifer berat bila diberi bersama alkaloid ergot.

 Dosis : 2 x 40 – 80 mg/hr

 ]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C


3) METOPROLOL (BETA BLOKER)

 Nama paten : Cardiocel, Lopresor, Seloken, Selozok

 Sediaan obat : Tablet

 Mekanisme kerja : pengurangan curah jantung yang diikuti vasodilatasi

perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin akibat

aktivasi adrenoseptor beta 1 di ginjal.

 Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Waktu

paruhnya pendek, dan dapat diberikan beberapa kali sehari.

 Farmakodinamik : penghambat adrenergic beta menghambat perangsangan

simpatik, sehingga menurunkan denyut jantung dan tekanan darah. Penghambat

beta dapat menembus barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI.

 Indikasi : hipertensi, miokard infard, angina pektoris

 Kontraindikasi : bradikardia sinus, blok jantung tingkat II dan III, syok

kardiogenik, gagal jantung tersembunyi

 Efek samping : lesu, kaki dan tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, diare

 Interaksi obat : reserpine meningkatkan efek antihipertensinya

 Dosis : 50 – 100 mg/kg


 ]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

4) PROPRANOLOL (BETA BLOKER)

 Nama paten : Blokard, Inderal, Prestoral

 Sediaan obat : Tablet

 Mekanisme kerja : tidak begitu jelas, diduga karena menurunkan curah

jantung, menghambat pelepasan renin di ginjal, menghambat tonus simpatetik di

pusat vasomotor otak.

 Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Waktu

paruhnya pendek, dan dapat diberikan beberapa kali sehari. Sangat mudah

berikatan dengan protein dan akan bersaing dengan obat – obat lain yang juga

sangat mudah berikatan dengan protein.

 Farmakodinamik : penghambat adrenergic beta menghambat perangsangan

simpatik, sehingga menurunkan denyut jantung dan tekanan darah. Penghambat

beta dapat menembus barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI.

 Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia jantung, migren, stenosis

subaortik hepertrofi, miokard infark, feokromositoma

 Kontraindikasi : syok kardiogenik, asma bronkial, brikadikardia dan blok

jantung tingkat II dan III, gagal jantung kongestif. Hati – hati pemberian pada

penderita biabetes mellitus, wanita haminl dan menyusui.


 Efek samping : bradikardia, insomnia, mual, muntah, bronkospasme,

agranulositosis, depresi.

 Interaksi obat : hati – hati bila diberikan bersama dengan reserpine karena

menambah berat hipotensi dan kalsium antagonis karena menimbulkan penekanan

kontraktilitas miokard. Henti jantung dapat terjadi bila diberikan bersama

haloperidol. Fenitoin, fenobarbital, rifampin meningkatkan kebersihan obat ini.

Simetidin menurunkan metabolism propranolol. Etanolol menurukan absorbsinya.

 Dosis : dosis awal 2 x 40 mg/hr, diteruskan dosis pemeliharaan.

 ]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

B. ANTAGONIS RESEPTOR-ALFA

Menghambat reseptor alfa diotot polos vaskuler yang secara normal berespon

terhadap rangsangan simpatis dengan vasokonstriksi.

OBAT ANTI ADREGERNIK SENTRAL.

1) METILDOPA

 Nama Dagang: Dopamet (Alpharma), Medopa (Armoxindo), Tensipas (Kalbe

Farma), Hyperpax (Soho)


 Indikasi: Hipertensi, bersama dengan diuretika, krisis hipertensi jika tidak

diperlukan efek segera.

 Kontraindikasi: depresi, penyakit hati aktif, feokromositoma, porfiria, dan

hipersensitifitas

 Efek samping: mulut kering, sedasi, depresi, mengantuk, diare, retensi cairan,

kerusakan hati, anemia hemolitika, sindrom mirip lupus eritematosus,

parkinsonismus, ruam kulit, dan hidung tersumbat

 Peringatan: mempengaruhi hasil uji laboratorium, menurunkan dosis awal pada

gagal ginjal, disarqankan untuk melaksanakan hitung darah dan uji fungsi hati,

riwayat depresi

 Tingkat keamanan obat menurut (FDA) : Metildopa memiliki faktor resiko B

pada kehamilan

 Dosis dan aturan pakai: oral 250mg 2 kali sehari setelah makan, dosis

maksimal 4g/hari, infus intravena 250-500 mg diulangi setelah enam jam jika

diperlukan.

OBAT ANTIADRENERGIK PERIFER

1) RESERPIN (MIS. SERPASIL)

Mekanisme kerja : sebagian mengosongkan simpanan katekolamin pada system saraf

perifer dan mungkin pada SSP. Menurunkan resistensi perifel total, frekuensi jantung,

dan curah jantung.


Indikasi : jarang digunakan untuk hipertensi ringan sampai sedang. Tidak dianjurkan

pada kelainan psikiatri.

Efek tak diinginkan : “dominan parasimpatik” (brakikardi, diare, bronkokonstriksi,

peningkatan sekresi), penurunan kontraktilitas dan curah jantung, hipotensi postural

(mengosongkan norepinefrin sehingga menghambat vasokonstriksi), ulkus peptikum,

sedasi, dan depresi bunuh diri, gangguan ejakulasi, ginekomastia. Risiko hipertensi balik

rendah karena durasi kerja lama.

 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

2) GUANETIDIN (MIS. ESIMEL)

Mekanisme kerja : ditempatkan ke dalam ujung saraf adrenergic. Awalnya

melepaskan norepinefrin (meningkatkan tekanan darah dan frekuensi jantung). Lalu

mengosongkan norepinefrin dari terminal dan mengganggu pelepasannya. Kemudian

tidak terjadi refleks takikardi karena kosongnya norepinefrin.

Indikasi : hipertensi berat jika obat lain gagal. Jarang digunakan.

Efek tak diinginkan : peningkatan awal frekuensi jantung dan tekanan darah

(disebabkan pelepasan norepinefrin). Hipotensi ortostatik dan saat istirahat.

Brakikardi, menurunnya curah jantung, dispnea pada pasien PPOM, kongesti hidung

berat.

 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

3) GUANEDREL (HYLOREL)

Mekanisme kerja : seperti guanetidin, tapi bekerja lebih cepat, melepaskan


norepinefrin pada awalnya (peningkatan sementara tekanan darah), dan mempunyai

aktivitas sedikit.

Indikasi : hipertensi ringan sampai sedang.

Efek tak diinginkan ; seperti guanetidin tapi kurang berat.

Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

4). PARGILIN (EUTONYL)

Mekanisme kerja : menghambat monoamine oksidase dalam saraf adrenergik.

Menghambat pelepasan norepinefrin.

Indikasi : karena efek berbahaya, obat ini merupakan obat antihipertensi pilihan terakhir.

Efek tak diinginkan : efek yang mengancam jiwa (stroke, krisis hipertensi, infark

miokardial, aritmia) dapat terjadi bila diminum bersama makanan (produk fermentasi,

keju) dan obat-obat (pil diet, obat-obat flu) yang mengandung simpatomimetik. ]

 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

C. ANTAGONIS KALSIUM

Menurunkan kontraksi otot polos jantung dan atau arteri dengan mengintervensi influks

kalsium yang dibutuhkan untuk kontraksi. Penghambat kalsium memiliki kemampuan

yang berbeda-beda dalam menurunkan denyut jantung. Volume sekuncup dan resistensi

perifer.

1) DILTIAZEM (KALSIUM ANTAGONIS)

 Nama paten : Farmabes, Herbeser, Diltikor.


 Sediaan obat : Tablet, kapsul

 Mekanisme kerja : menghambat asupan, pelepasan atau kerja kalsium

melalui slow cannel calcium.

 Indikasi : hipertensi, angina pectoris, MCI, penyakit vaskuler perifer.

 Kontraindikasi : wanita hamil dan menyusui, gagal jantung.

 Efek samping : bradikardia, pusing, lelah, edema kaki, gangguan saluran

cerna.

 Interaksi obat : menurunkan denyut jantung bila diberikan bersama beta

bloker. Efek terhadap konduksi jantung dipengaruhi bila diberikan bersama

amiodaron dan digoksin. Simotidin meningkatkan efeknya.

 Dosis : 3 x 30 mg/hr sebelum makan

 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

2) NIFEDIPIN (ANTAGONIS KALSIUM)

 Nama paten : Adalat, Carvas, Cordalat, Coronipin, Farmalat, Nifecard,

Vasdalat.

 Sediaan obat : Tablet, kaplet


 Mekanisme kerja : menurunkan resistensi vaskuler perifer, menurunkan

spasme arteri coroner.

 Indikasi : hipertensi, angina yang disebabkan vasospasme coroner, gagal

jantung refrakter.

 Kontraindikasi : gagal jantung berat, stenosis berat, wanita hamil dan

menyusui.

 Efek samping : sakit kepala, takikardia, hipotensi, edema kaki.

 Interaksi obat : pemberian bersama beta bloker menimbulkan hipotensi berat

atau eksaserbasi angina. Meningkatkan digitalis dalam darah. Meningkatkan

waktu protombin bila diberikan bersama antikoagulan. Simetidin meningkatkan

kadarnya dalam plasma.

 DOSIS : 3 X 10 MG/HR

 ]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

3) VERAPAMIL (ANTAGONIS KALSIUM)

 Nama paten : Isoptil

 Sediaan obat : Tablet, injeksi


 Mekanisme kerja : menghambat masuknya ion Ca ke dalam sel otot jantung

dan vaskuler sistemik sehingga menyebabkan relaksasi arteri coroner, dan

menurunkan resistensi perifer sehingga menurunkan penggunaan oksigen.

 Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia jantung, migren.

 Kontraindikasi : gangguan ventrikel berat, syok kardiogenik, fibrilasi, blok

jantung tingkat II dan III, hipersensivitas.

 Efek samping : konstipasi, mual, hipotensi, sakit kepala, edema, lesu,

dipsnea, bradikardia, kulit kemerahan.

 Interaksi obat : pemberian bersama beta bloker bias menimbulkan efek

negative pada denyut, kondiksi dan kontraktilitas jantung. Meningkatkan kadar

digoksin dalam darah. Pemberian bersama antihipertensi lain menimbulkan efek

hipotensi berat. Meningkatkan kadar karbamazepin, litium, siklosporin. Rifampin

menurunkan efektivitasnya. Perbaikan kontraklitas jantung bila diberi bersama

flekaind dan penurunan tekanan darah yang berate bila diberi bersama kuinidin.

Fenobarbital nemingkatkan kebersihan obat ini.

 Dosis : 3 x 80 mg/hr

 ]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

3. VASODILATOR

Contoh vasodilator antara lain:


a. Penghambat angiotensin converting enzyme (ACE)

Menekan sintesis angiotensin II, suatu vasokonstriktor poten. Selain itu,

penghambat ACE dapat menginduksi pembentukan vasodilator dalam tubuh.

A. ACE INHIBITOR

Berfungsi untuk menurunkan angiotensin II dengan menghambat enzim yang

diperlukan untuk mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II. Hal ini

menurunkan tekanan darah baik secara langsung menurunkan resisitensi perifer.

Dan angiotensin II diperlukan untuk sintesis aldosteron, maupun dengan

meningkatkan pengeluaran netrium melalui urine sehingga volume plasma dan

curah jantung menurun.

1) KAPTOPRIL

 Nama paten : Capoten, Zestril

 Sediaan obat : Tablet

 Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga

menurunkan angiotensin II yang berakibat menurunnya pelepasan renin dan

aldosterone.dan menghambat ACE pada paru-paru, yang mengurangi sintesis

vasokonstriktor, angiotensin II. Menekan aldosteron, mengakibatkan natriuesis.

Dapat merangsang produksi vasodilator (bradikinin, prostaglandin).


 Indikasi : hipertensi, gagal jantung. hipertensi, terutama berguna untuk

hipertensi dengan rennin tinggi. Obat yang disukai untuk pasien hipertensi dengan

nefropatidiabetik karena kadar glukosa tidak dipengaruhi.

 Kontraindikasi : hipersensivitas, hati – hati pada penderita dengan riwayat

angioedema dan wanita menyusui. Dan semua penghambat ACE : dosis pertama

hipotensi, pusing, proteinuria, ruam, takikardi, sakit kepala. Kaptopril jarang

menyebabkan agrunolositosis atau neutropenia.

 Dosis : 2 – 3 x 25 mg/hr.

 Tingkat keamanan obat menurut (FDA) : Meskipun ACE Inhibitor dan

ARBs memiliki factor resiko kategori C pada kehamilan trimester satu, dan kategori

D pada trimester dua dan tiga

 Efek samping : batuk, kulit kemerahan, konstipasi, hipotensi, dyspepsia,

pandangan kabur, myalgia.

 Interaksi obat : hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretika. Tidak

boleh diberikan bersama dengan vasodilator seperti nitrogliserin atau preparat nitrat

lain. Indometasin dan AINS lainnya menurunkan efek obat ini. Meningkatkan

toksisitas litium.

2) RAMIPRIL

 Nama paten : Triatec


 Sediaan obat : Tablet

 Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga

perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II terganggu, mengakibatkan

menurunnya aktivitas vasopressor dan sekresi aldosterone.

 Indikasi : hipertensi

 Kontraindikasi : penderita dengan riwayat angioedema, hipersensivitas. Hati

– hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui.

 Dosis : awal 2,5 mg/hr

 Tingkat keamanan obat menurut (FDA) : kategori C pada kehamilan

trimester satu, dan kategori D pada trimester dua dan tiga .namun obat tersebut

berpotensi menyebabkan tetatogenik.

 Efek samping : batuk, pusing, sakit kepala, rasa letih, nyeri perut, bingung,

susah tidur.

 Interaksi obat : hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretika.

Indometasin menurunkan efektivitasnya. Intoksitosis litiumm meningkat.

BLOCKER PINTU MASUK KALIUM

Mencegah influks kalsium ke dalam sel-sel otot dinding pembuluh darah. Otot polos

membutuhkan influks kalsium ekstrasel untuk kontraksinya. Blockade influks kalsium

mencegah kontraksi, yang menyebabkan vasodilatasi.


C. VASODILATOR LANGSUNG

Merelaksasi sel-sel otot polos yang mengelilingi pembuluh darah dengan mekanisme

yang belum jelas, tetapi mungkin melibatkan pembentukan nitrik oksida oleh endote

vascular.

1) Hidralazin

 Nama paten : Aproseline

 Sediaan obat : Tablet

 Mekanisme kerja : merelaksasi otot polos arteriol sehingga resistensi perifer

menurun, meningkatkan denyut jantung.

 Indikasi : hipertensi, gagal jantung.

 Kontraindikasi : gagal ginjal, penyakit reumatik jantung.

 Dosis : 50 mg/hr, dibagi 2 – 3 dosis.

 Tingkat keamanan obat menurut (FDA) :

 Efek samping : sakit kepala, takikardia, gangguan saluran cerna, muka

merah, kulit kemerahan.

 Interaksi obat : hipotensi berat terjadi bila diberikan bersama diazodsid.

 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C


2) DIAZOKSID (HYPERSTAT)

 Mekanisme kerja : menurunkan resistensi vascular perifer, mungkin dengan

mengantagonis kalsium. Juga meningkatkan kadar glukosa serum dengan

menekan pelepasan insulin dan meningkatkan pelepasan glukosa hati.

 Indikasi : kontrol jangka pendek hipertensi berat di rumah sakit.

Hipoglikemia akibat hiperinsulinisme yang refrakter terhadap bentuk pengobatan

lain.

 Efek tak diinginkan : retensi air dan natrium dan efek kardiovaskular yang

disebabkannya. Hiperglikemia, gangguan saluran cerna, hirsurisme, efek samping

skstrapiramidal.

 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C


5 NAMA OBAT ANTI HIPERTENSI YANG BEREDAR DI PASARAN

Tabel (Deuritik)

Merek
GolonganObat Indikasi Kontraindikasi Efek tak diharapkan
dagang
Ideal untuk Hipokalemia,
Tiazid Hydrodiuril hipertensi, dan Ibu hamil, anuria Hiperglikemi,Oliguria,
edema-kronik anuria, hiperkalsemia
Untuk darurat Dehidrasi,
Lasik hipertensi, Kekurangan hipokalemia,
Loop diuretic
(furosemid) edema, dan elektrolit, anuria hiperglikemi,
edema paru hipovolemia
Dapat Hiperkalemia
Antagonis Hiperkalemia,
Midamor mengoreksi berat dengan
reseptor kekurangan natrium
(amilorid) alkalosis suplemen
aldosteron atau air
metabolik kalsium
Tabel (Simpatolitik)

Golongan Efek tak


Merek dagang indikasi kontraindikasi
Obat diharapkan
Mulut kering,
Klonidin Baik untuk Bradikardi,hipotensi,sindrom hipotensi,
α – blocker
(Catapresan) hipertensi simpul sinus bradikardi,
sedasi
Baik untuk
Depresi dan
Atenolol hipertensi Diabetes berat, bradikardi,
β – blocker sedasi susunan
(Tenormin) ringan dan gagal jantung, asma
saraf pusat
sedang

Tabel (Penghambat Angiotensin)

Merek Efek tak


GolonganObat indikasi kontraindikasi
Dagang diharapkan
Hipertensi Hipotensi,
Kaptopril
ACE inhibitor dengan renin pusing, ruam,
(Capoten)
tinggi, takikardi
Gangguan
Vertigo, ruam
fungsiginjal,
Hipertensi kulit,
ARB Losartan (Lozaar) anak-anak,
esensial gangguan
kehamilan, masa
ortostatik
menyusui

Tabel (Vasodilatator)

Golongan Merek Efek tak


indikasi kontraindikasi
Obat dagang diharapkan
Retensi cairan,
Penyakit jantung
Hidralazin Apresoline Hipertensi sedang palpitasi, refleks
iskemik
takikardi
Lesi otot
Hipertensi yang Penyakit jantung jantung,
Monoksidil Loniten
belum terkontrol iskemik hidralazin,
hirsutisme,
Hipotensi berat,
Nitroprusid Nipride Krisis hipertensi
hepatotoksisitas

o
o
o
o