Anda di halaman 1dari 8

4.

Toksigenitas
Bakteri patogen mempunyai kemampuan memproduksi toksin yang disebut toksigenitas.
Toksigenitas berfungsi sebagai alat utk merusak sel inang dan mendapatkan nutrisi yang
diperlukan dari sel inangnya. Secara umum dapat dibedakan 2 macam berdasarkan proses
pembentukan toksin oleh bakteri yaitu eksotoksin dan endotoksin
Toksikologi terdapat unsur-unsur yang saling berinteraksi dengan suatu cara-cara tertentu
untuk menimbulkan respon pada system biologi yang dapat menimbulkan kerusakan pada system
biologi tersebut. Salah satu unsur Toksikologi adalah agent-agent kimia atau fisika yang mampu
menimbulkan respon pada system biologi. Selanjutnya cara-cara pemaparan merupakan unsur lain
yang turut menentukan timbulnya efek-efek yang tidak diinginkan ini. Biotoksin adalah zat racun
yang terbentuk dari jaringan jasad hidup, berasal dari biota, dan dapat berupa racun asli atau racun
primer (biota memang beracun) atau racun sekunder yaitu akibat kontaminasi dengan
lingkungannya.
1. Eksotoksin
Merupakan toksin yang dikeluarkan dari tubuh sel. Pada infeksi bakteri yang
tergolong ke dalam eksotoksin, eksotoksin yang dikeluarkannya menyebar melalui aliran
darah ke seluruh tubuh, keadaan ini dinamakan taksoemia. Eksotoksin mudah dipisahkan
dari sel bakteri dengan jalan penyaringan. Kebanyakan eksotoksin mudah terurai dengan
perebusan atau penyinaran yang kuat. Eksotoksin tidak begitu berbahaya jika tertelan, akan
tetapi akan berbahaya jika masuk dalam peredaran darah. Produksi toksin ini biasanya
spesifik pada beberapa species bakteri tertentu (bisa Gram positif maupun Gram negatif)
yang menyebabkan terjadinya penyakit terkait dengan toksin tersebut. Sebagai contoh,
toksin botulin hanya dihasilkan oleh Clostridium botulinum, Pada beberapa pathogen,
toksin merupakan faktor virulence: toksin hanya diproduksi oleh strain yang virulent.
Beberapa pathogen bisa mensekresikan eksotoksin ke dalam pangan. Pada kondisi ini,
walaupun bakterinya tidak ada, toksin akan menyebabkan keracunan pangan jika masuk
ke saluran pencernaan (intoksikasi). Pada beberapa patogen, bakteri hidup masuk ke
saluran pencernaan dan memproduksi toksin yang dapat menyebabkan keracunan pangan
(toksiko-infeksi).Eksotoksin berukuran lebih besar dari endotoksin, dengan berat molekul
sekitar 50 – 1000 kDa. Toksin ini berfungsi seperti enzim. Aktivitas biologis dari
eksotoksin berlangsung dengan mekanisme reaksi dan substrat yang spesifik. Substrat
(didalam inang) bisa berupa komponen dari sel-sel jaringan, organ atau cairan tubuh.
Biasanya, bagian yang dirusak oleh toksin mengindikasikan lokasi dari substrat untuk
toksin tersebut. Istilah seperti enterotoksin, neuro-toksin, dan hemolysin kadangkadang
digunakan untuk mengindikasikan sisi target dari suatu eksotoksin. Eksotoksin bersifat
antigenik. Artinya, secara in vivo, aktivitasnya da-pat dinetralkan oleh antibody yang
spesifik untuk eksotoksin tersebut.
Jika toksin disuntikan kepada jasad hidup, maka jasad ini di dalam tubuhnya akan
membuat bahan bahan penentang (antitoksin). Eksotoksin tidak begitu berbahaya jika
tertelan, akan tetapi membawa maut jika masuk ke dalam peredaran darah. Khususnya
Toksin Botulinum dapat membawa maut jika sampai masuk ke dalam alat-alat pencernaan.
Eksotoksin dapat dibagi menjadii beberapa jenis, antara lain:
- Menurut jenis sel yang diserang, antara lain: Sitotoksin, Neurotoksin, Leukotoksin,
Hepatoksin, Kardiotoksin.
- Menurut bakteri penghasilnya, antara lain: Kolera toksin, Shiga toksin, Difteria toksin.
- Menurut struktur dan aktivitas, antara lain: Eksotoksin A-B, Eksotoksin perusak
membrane, Eksotoksin superantigen.
Pada eksotoksin A-B terdiri atas active part yang berfungsi dalam perusakan sel
dan binding cell yang erfungsi menghantarkan toksin ke sel inang) akan mengeluarkan zat
racun atau eksotoksin ke sel inang yang selanjutnya akan ditangkap oleh media reseptor
kemudian sel inang akan mengeluarkan antibody. Pada proses antibody ada toksin yang
mati jika antibody berhasil berinteraksi dengan eksotoksin sedangkan akan hidup atau
berkembang apabila toksin tersebut berhasil melawan antibody sel inang.
2. Endotoksin
Toksin yang merupakan bagian integral dari dinding sel bakteri Gram negatif. Aktivitas
biologis dari endotoksin dihubungkan dengan keberadaan lipopolisakarida (LPS). LPS
merupakan komponen penyusun permukaan dari membran terluar (outer membran) bakteri
Gram negatif seperti E. coli, Salmonella, Shigella dan Pseudomonas. LPS terletak pada
membran terluar. Karena LPS hanya dimiliki oleh bakteri Gram negatif, maka endotoksin
dapat dikatakan sebagai toksin yang khas dimiliki oleh bakteri Gram negative Efek toksik
dari LPS disebabkan oleh komponen lipid (lipid A) dari LPS sementara polisakarida O
yang hidrofilik berperan sebagai carrier pembawa lipid A. Gejala penyakit karena aktivitas
endotoksin (LPS) terjadi jika bakteri mati (misalnya karena aktivitas antimikroba, aktivitas
phagosit atau obat antibiotika) dan mengalami lisis sehingga LPS akan dilepas ke
lingkungan. Endotoksin akan memberi efek negatif jika terdapat dalam jumlah yang cukup
besar (LPS lebih dari 100 μg). Karena bersifat non enzimatis, maka mekanisme reaksinya
tidak spesifik. LPS menyerang sistim pertahanan tubuh menyebabkan demam,penurunan
kadar besi, peradangan, pembekuan darah, hipotensi dan sebagainya.
Efek biologis endotoksin bervariasi, yaitu leukopenia, leukositosis, depresi tekanan darah,
aktivasi keping darah, nekrosis sumsum tulang, hipotermia dan induksi sintesis
prostaglandin. Namun terdapat efek dari endotoksin yang menguntungkan inang, yaitu efek
mitogenik limfosit B (dapat meningkatkan resistensi terhadap infeksi virus dan bakteri),
induksi sintesis g-interferon oleh limfosit T(dapat mengaktifkan makrofag dan sel-sel
pembunuh dan mengaktifkan penolakan terhadap sel tumor), aktivasi komplemen, induksi
nonspesifik resistensi infeksi, aktivasi makrofag, induksi sintesis faktor nekrosis tumor,
dan inksi toleransi endotoksin
STRUKTUR LIPOPOLYSACCHARIDE
Lipid A merupakan toxic komponen dari endotoksin dimana ketika sel toxin masuk
kedalam tubuh akan dimakan atau di lawan oleh makrofag (fagositosis) selanjutnya didalam
makrofag itu bakteri tersebut mengaktifkan aktifitas sel makrofag untuk menghasilkan lipid aktif,
radikal aktif, radikal bebas yang akan bekerja sesuai tingkat mikroorganisme yang akan
mendatangkan efek kerusakan lisis sehingga mengeluarkan zat racunnya. Endotoksin merupakan
toksin yang dikeluarkan oleh bakteri gram negatif yang diebaskan ketika bakteri tersebut lisis/
hancur.

Tabel 3.1 Perbedaan eksotoksin dan endotoksin


Eksotoksin Endotoksin
1. Diproduksi oleh sel bakteri hidup, Diproduksi oleh sel bakteri yang telah mati
konsentrasinya tinggi dlm media cair
2. Tersusun atas molekul polipeptida, Tersusun atas lipopolisakarida kompleks,
dimana gugus lemak mrpk penentu tingkat
toksisitasnya
3. Relatif tidak stabil pada pemanasan; Masih stabil pd 600C selama 2 jam tanpa
rusak pd >600C, toksin akan kehilangan mengubah daya toksisitasnya
daya toksisitasnya
4. Bersifat antigenik; mampu menstimulasi Tidak bersifat antigenik, tidak mampu
membentukan antibodi. Mampu menstimulasi pembentukan antitoksin. Hanya
merangsang pembentukan antitoksin mampu membentuk antibodi terhadap gugus
polisakaridanya
5. Bisa dibuat toksoid dgn. Penambahan Tidak dapat dibuat toksoid
formalin, asam, pemanasan dll.
6. Mempunyai sifat toksisitas tinggi, fatal Lebih ringan, pd dosis tinggi fatal
pd hewan coba pd dosis yg sangat kecil Diperlukan dosis tinggi untuk dapat
Dosis rendah sdh mampu menimbulkan menimbulkan gejala
gejala
7. Tidak menimbulkan demam pd inang Menimbulkan demam pd inang
Berikut adalah contoh-contoh toksin yang dihasilkan oleh beberapa bakteri :
1. Botulinin
Senyawa beracun ini diproduksi oleh Clostridium botulinum. Keracunan yang
ditimbulkan akibat mengkonsumsi makanan yang mengandung botulinin ini disebut
botulisme. Botulinin merupakan neurotoksin yang sangat berbahaya bagi manusia dan
sering kali akut dan menyebabkan kematian. Bakteri Clostridium botulinum umum
terdapat pada makanan kaleng dengan pH lebih dari 4,6.

2. Toksoflavin Dan Asam Bongkrek


Kedua senyawa beracun ini diproduksi oleh Pseudomonas Cocovenenans, dalam jenis
makanan yang disebut tempe bongkrek, yaitu tempe yangdibuat dengan bahan utama
ampas kelapa. Pseudomonas Cocovenenans ini tumbuh pada tempe bongkrek yang gagal
dan rapuh. Pseudomonas Cocovenenans memerlukan substrat minyak kelapa, dengan
enzim yang diproduksinya mampu menghidrolisis lemak menjadi gliserol dan asam lemak
. Gliserol kemudian diubah menjadi toksoflavin (C7H7N5O2), dan asam lemaknya
terutama asam oleat diubah menjadi asam bongkrek ( C28H38O7 ) Asam bongkrek ini
dapat mengganggu metabolism glikogen dengan memobilisasi glikogen dari hati sehingga
terjadi hiperglikemia yang kemudian berubah menjadi hipoglikemia dan lalu menyebabkan
kematian.
Pertumbuhan Pseudomonas Cocovenenans dapat dicegah bila pH substrat
diturunkan dibawah 5,5 atau dengan penambahan garam NaCl pada substrat dengan
konsentrasi 2,75 – 3 %.

3. Enterotoksin
Enterotoksin adalah eksotosin yang aktivitasnya mempengaruhi usus halus,
sehingga umumnyaa menyebabkan sekresi cairan secara berlebihan ke rongga usus,
menyebabkan diare dan muntah – muntahh. Enterotoksin diproduksi oleh berbagai macam
bakteri, termasuk orgnisme termasuk keracunan makanan seperti Staphylococcus aureus,
Bacillus cereus, Salmonella enteriditis, dan Vibrio cholera disebut enterotoksin karena
menyebabkan gastroenteritis.
4. Mikotoksin
Mikotoksin merupakan senyawa beracun yang diproduksi oleh kapang atau jamur.
Mikotoksin yang terkenal adalah Aflatoksin yaitu senyawa beracun yang diproduksi oleh
Aspergillus yang misalnya Aspergillus parasiticus. Subtrat yng disenangi oleh Aspergillus
flavus adalah kacang tanah atau produk – produk dari kacang tanah serta bungkil kacang
tanah

KESIMPULAN

Dari beberapa penjelasan diatas, dapat kami tarik kesimpulan bahwa pathogenesis bakteri
merupakan kemampuan bakteri patogen untuk menghasilkan penyakit pada sel inang. Sebelum
seseorang terkena infeksi, maka mikroorganisme harus masuk ke dalam tubuh melalui port de
entry (jalan masuk) misalnya pada kulit yang merupakan barrier pertama, ketika kulit ini
mengalami cidera atau rusak maka mikroba mudah masuk ke dalam tubuh, selain itu dapat masuk
juga melaui inokulasi (penularan), inhalasi, ingesti, karies dan periodontal. Rute Parenteral
merupakan jalan masuk mikroba dimana mikroba dapat langsung menembus jaringan di bawah
kulit sehingga mikroba dapat terdeposit langsung ke dalam jaringan.
Biasanya masuk melalui tusukan, suntikan, gigitan serangga, luka, operasi, dll. Bakteri dapat
merusak sistem pertahanan inang melalui beberapa tahapan, antara lain: adhesi, kolonisasi, invasi,
dan toksigenesis. Mikroorganisme dapat ditemukan disemua tempat yang memungkinkan
terjadinya kehidupan, di segala lingkungan hidup manusia. Mereka ada di dalam tanah, di
lingkungan akuatik, dan atmosfer ( udara ) serta makanan, dan karena beberapa hal
mikroorganisme tersebut dapat masuk secara alami ke dalam tubuh manusia, tinggal menetap
dalam tubuh manusia atau hanya bertempat tinggal sementara. Mikroorganisme ini dapat
menguntungkan inangnya tetapi dalam kondisi tertentu dapat juga menimbulkan penyakit.

Dapus :

1. Jurnal eksotoksin dan endotoksin fakultas kedokteran universitas yasri, Ali


Haidar,2009
2.
3. Jawet, Melnick, & Adelberg. 1996. Mikrobiologi Kedokteran : Edisi 20. Jakarta :EGC