Anda di halaman 1dari 14

Laporan Paktikum Heat Pump

Daftar Isi

Daftar isi………………………………………………………………….. 1

I OBYEK dan TUJUAN

1.1 Obyek ………………………………………………………………………

1.2 Tujuan ……....................................................................................................

II PEMAHAMAN TEKNOLOGI

2.1 Skema Sistem Refrigerator .………………………………………………..

2.2 Parameter, Variabel, Konstanta, dan Alata Ukur ……..................................

2.3 Rumus-rumus Terpakai …………………………………………………..

III DATA

3.1 Primer/Pengukuran ………………………………………………………

3.2 Kompilasi ………………………………………………………………..

IV ANALISIS

4.1 Kesetimbangan Kalor (Proses Thermodinamika) ………

4.2 Performansi Sistem Refrigeran ………………………

V KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
OBYEK dan TUJUAN

2.1 OBYEK
Heat Pump adalah sistem Air Conditioning yang dapat diatur menjadi
dua mode, yaitu cooling mode dan heating mode dengan cara membalik
arah sirkulasi refrigeran. Heating Pump dapat diaplikasikan pada sistem
pendinginan udara dan sistem pemanasan air pada suatu gedung
contohnya penggunaan heating pump di hotel, yang pada saat heat
pump beroperasi pada cooling mode digunakan sebagai pendingin
ruangan dan pada saat heating mode heat pump berfungsi sebagai
pemanas air. Temperatur yang dihasilkan oleh kerja heat pump dapat
disesuaikan dengan pengaturan yang diinginkan.
Ketika heat pump beroperasi pada cooling mode diusahahan
diaplikasikan pada ruangan yang luas. Hal itu dikarenakan daya
kompresor yang dibutuhkan sangat besar.

2.2 TUJUAN
TUJUAN UMUM :
Mengidentifikasi performansi kerja sistem Heat Pump
TUJUAN KHUSUS :
Mengenal dan memahami sistem peralatan heat pump.
Mengidentifikasi komponen penyusun sistem dan mekanisme kerja heat
pump
Mengenal siklus refrijeran/fluida kerja maupun fluida yang ditangani
(obyek) pada setiap modul heat pump.

PEMAHAMAN TEKNOLOGI

2.1 Skema Sistem Heat Pump


Gambar 1.1 Skema Sistem Heat Pump

Gambar 1.2 Skema siklus refrigeran pada Heat Pump-Cooling Mode

Adapun komponen yang dibutuhkan pada sistem heat pump adalah


sebagai berikut:
Refrigeran
Untuk terjadinya suatu proses pendinginan diperlukan suatu bahan
yang mudah dirubah fasanya dari gas menjadi cair atau sebaliknya
(refrigeran) untuk mengambil panas dari evaporator dan membuangnya
di kondensor. Syarat-syarat refrigeran adalah:
Tidak beracun dan tidak berbau menyengat
Tidak dapat terbakar atau meledak bila bercampur dengan
udara, minyak pelumas dan sebagainya
Tidak menyebabkan korosi terhadap bahan logam yang dipakai
pada sistem pendingin.
Mempunyai titik didih dan tekanan kondensasi yang rendah.
Mempunyai panas laten penguapan yang besar,
Konduktivitas thermal tinggi
Viskositas dalam fase cair maupun fase gas rendah, agar tahanan
aliran refrigeran dalam pipa sekecil mungkin.
Terdapat banyak refrigeran, antara lain R11, R12, R13, R21, R22, R113,
R114, dll. Untuk Heat Pump menggunakan R12.

Kompresor
Kompresor adalah suatu alat mekanis yang berfungsi untuk menghisap
refrigeran dari evaporator dalam fase gas. Kemudian menekan
(mengkompres) refrigeran, dengan demikian suhu dan tekanan
refrigeran akan menjadi lebih tinggi. Kompresor atau pompa hisap
tekan berfungsi mengalirkan refrigeran ke seluruh sistem pendingin.
Sistem kerjanya adalah dengan cara mengubah tekanan sistem
sehingga refrigeran dapat berpindah dari sisi bertekanan tinggi ke sisi
bertekanan rendah.

Kondensor
Kondensor berfungsi sebagai tempat refrigeran melepas kalor ke air
(karena media pendinginannya dengan air). Kondensor adalah alat
untuk membuat kondensasi refrigeran dari kompresor dengan suhu
tinggi dan tekanan tinggi. Refrigeran di dalam kondensor akan
melepaskan kalor yang kemudian diserap oleh air. Kondensor
diletakkan antara kompresor dan expansi valve. Kondensor diletakkan
di luar ruangan yang sedang didinginkan agar dapat membuang
panasnya ke luar kemudian akan diserap zat yang mendinginkan
refrigeran.

Evaporator
Evaporator atau sering juga disebut boiler, freezer, froster, cooling coil,
chilling unit, dan lain-lain. Fungsi dari evaporator adalah untuk
menyerap panas dari udara atau benda yang berada di dalam mesin
pendingin dan mendinginkannya. Di evaporator, refrigeran akan
menyerap kalor benda atau zat yang akan didinginkan.
Evaporator fungsinya kebalikan dari kondensor, yaitu tidak membuang
panas kepada udara di sekitarnya, tetapi untuk mengambil panas dari
udara di dekatnya. Kondensor ditempatkan di luar ruangan yang sedang
didinginkan, sedangkan evaporator ditempatkan di dalam ruangan yang
sedang didinginkan. Kondensor terletak pada sisi tekanan tinggi, yaitu
diantara kompresor dan expansion valve. Evaporator terletak pada sisi
tekanan rendah, yaitu diantara expansion valve dan kompresor.
Katup Ekspansi
Alat ini digunakan untuk mengatur jumlah cairan refrigeran yang masuk
ke dalam evaporator. Alat ini terletak diantara evaporator dan
kondensor. Refrigeran yang keluar dari kondensor mempunyai suhu dan
bertekanan tinggi. Sedangkan refrigeran yang masuk ke dalam
evaporator harus memiliki suhu dan tekanan rendah. Oleh karena itu,
untuk menurunkan suhu dan tekanan tinggi ini diperlukan suatu alat
ekspansi.

2.2 Parameter, Variabel, Konstanta dan Alat Ukur


Ada beberapa parameter yang terdapat di dalam sistem heat pump,
yaitu temperatur, tekanan, laju volume.
Tekanan mempunyai satuan bar yang diukur menggunakan
pressure gauge. Dalam sistem heat pump tekanan refrigeran
diukur di 4 titik. Yaitu pada titik refrigeran masuk ke
kompresor (P1) dan titik refrigeran keluar dari kompresor
(P2), titik refrigeran masuk katup expansi (P3) dan titik
refrigeran keluar dari evaporator (P4).
Temperatur mempunyai satuan °C yang diukur
menggunakan thermocouple. Pada pengujian Heat Pump-
Cooling Mode suhu diukur pada 14 titik yang terdiri dari :
7 titik suhu refrigeran yakni refrigeran masuk ke
kompresor (T1), refrigeran keluar dari kompresor
(T2), refrigeran keluar kondensor (T6), refrigeran
keluar dari heat exchanger (T7),(T3),(T5), refrigeran
keluar dari evaporator (T4).
2 titik suhu air yakni air masuk ke kondensor (T10)
dan air keuar dari kondensor (T9)
4 titik suhu udara yakni udara kering (T13) dan udara
basah (T14) yang masuk ke evaporator dan udara
kering (T11) dan udara basah (T12) yang keluar dari
evaporator.
Laju volume air mempunyai satuan L/menit yang diukur
menggunakan flowmeter.
Laju volume refrigeran mempunyai satuan L/menit dan
hanya diukur pada 1 titik saja, yaitu pada titik setelah heat
exchanger dan sebelum katup expansi
Terdapat 2 variabel dalam sistem ini, yaitu fan speed control dan laju
volume air. Fan speed control akan diubah menjadi 3 macam kecepatan
yakni kecepatan 1, 2 dan 3. Sedangkan laju volume air akan disetting
menjadi 8 L/menit, 7 L/menit, 6 L/menit, dan 5 L/menit.

2.3 Rumus-rumus Terpakai


Adapun rumus yang kami gunakan dalam pengujian heat pump-cooling
mode adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1 Rumus – rumus yang digunakan untuk mengkompilasi data


operasional heat pump

Kemudian konversi satuan dari setiap parameter yang kami gunakan


dalam sistem heat pump adalah sebagai berikut:
Tabel 1.2 konversi satuan parameter

DATA

3.1 Data Primer/pengukuran


Berikut ini merupakan tabel operasional dari hasil pengujian sistem
heat pump yang kami dapatkan adalah sebagai berikut:

BAB IV

ANALISIS

4.1 Kesetimbangan kalor (proses thermodinamika)


Dalam suatu peralatan sistem pendingin dapat diketahui performansi
berdasarkan kerja kompresor dan kalor yang diserap oleh refrigeran di
evaporator. Yang mana besarnya COP berbanding lurus dengan kalor
yang diserap oleh refrigeran di evaporator dan berbanding terbalik
dengan kerja kompresor. COP ini dapat dibandingkan dengan ṁ-udara
yang ditampilkan pada grafik 1.1 sampai 1.4

Grafik 1.1 Perbandingan COP dengan ṁ-udara pada ύwater 8 L/menit

Berdasarkan grafik 1.1, jika Fan Speed Control pada posisi 3, ṁ air
menunjukkan angka 0.41dan COP 3.13, pada posisi 2 ṁ air
menunjukkan angka 0.62 dan COP 3.13, pada posisi ṁ air menunjukkan
angka 0.83 dan COP 3.00
Jadi, apabila fan speed control di turunkan, maka ṁ air akan cenderung
meningkat. Tetapi COP akan cenderung menurun jika fan speed control
di turunkan. Sehingga laju aliran massa udara berbanding terbalik
dengan COP.
Grafik 1.2 Perbandingan COP dengan ṁair pada ύwater 7 L/menit

Berdasar pada grafik 1.2, diketahui pada ύwater 7 L/menit dengan fan
speed control 3 didapatkan ṁair 0,45 kg/s, untuk fan speed control 2 dan
1 didapatkan ṁair 0,62 kg/s dan 0,82 kg/s. Dilihat berdasarkan ύwater 7
L/menit, ṁair-nya semakin meningkat bila fan speed controlnya
dikecilkkan.
COP yang dihasilkan oleh Heat Pump-cooling mode, pada ύwater 7
L/menit dengan speed control 3, 2 dan 1 adalah 3,08; 3,04; dan 2,92.
Semakin fan speed controlnya dikecilkan maka COP yang dihasilkan
semakin mengecil. Maka fan speed control dengan COP berbanding
lurus.
Dapat disimpulkan berdasarkan ύwater 7 L/menit, COP dan
ṁair berbanding terbalik dikarenakan semakin besar ṁair maka COP yang
dihasilkan semakin mengecil.
Grafik 1.3 Perbandingan COP dengan ṁair pada ύwater 6 L/menit

Berdasarkan diagram di atas bahwa, jika Fan Speed Control pada posisi
3, ṁ air menunjukkan angka 0.44 dan COP 2.48, pada posisi 2 ṁ air
menunjukkan angka 0.62 dan COP 2.48, pada posisi ṁ air menunjukkan
angka 0.82 dan COP 2.48
. jadi pada laju aliran massa water 6liter/menit ini hanya
menunjukan peningkatam laju aliran massa air apabila fan speed
control diturunkan dan pada COP cenderung konstan.
Grafik 1.4 Perbandingan COP dengan ṁair pada ύwater 5 L/menit
Berdasarkan diagram di atas bahwa, jika Fan Speed Control pada
posisi 3, ṁ air menunjukkan angka 0.41dan COP 2.80, pada posisi
2 ṁ air menunjukkan angka 0.62 dan COP 2.80, pada posisi ṁ air
menunjukkan angka 0.83 dan COP 2.75
. Jadi apabila fan speed control di turunkan, maka ṁ air akan
cenderung meningkat. Tetapi COP akan cenderung menurun jika fan
speed control di turunkan. Sehingga laju aliran massa udara berbanding
terbalik dengan COP.

BAB V
KESIMPULAN

Heat Pump merupakan salah satu aplikasi sistem pendingin dimana


terdapat 3 fluida yaitu refrigerant,air dan udara. Pada saat kompilasi, di
kondensor mengalami penurunan tekanan dikarenakan laju aliran air
yang masuk ke kondensor terlalu besar. Semakin tinggi kalor yang
diserap refrigerant di evaporator dan semakin rendah kerja kompresor
maka semakin baik COPnya karena COP berbanding lurus dengan kalor
yang diserap refrigerant di evaporator dan berbanding terbalik dengan
kerja kompresor.

DAFTAR PUSTAKA

Kusuma Goerge, 2013, Modul Ajar HVAC vol. 3, Jurusan Permesinan


Kapal, PPNS
National Refrigerants, 2004, Refrigerant Reference Guide 4th edition

Heat pump adalah alat yang dgunakan untuk medistribusikan udara


dengan suhu tertentu kesuatu tempat. Heat Pump merupakan sistem Air
Conditioning yang dapat diatur menjadi dua mode, yaitu cooling mode dan
heating mode dengan cara membalik arah sirkulasi refrigeran. Heating
Pump dapat diaplikasikan pada sistem pendinginan udara dan sistem
pemanasan air pada suatu gedung contohnya penggunaan heating pump di
hotel, yang pada saat heat pump beroperasi pada cooling mode digunakan
sebagai pendingin ruangan dan pada saat heating mode heat pump
berfungsi sebagai pemanas air. Temperatur yang dihasilkan oleh kerja
heat pump dapat disesuaikan dengan pengaturan yang diinginkan.
Ketika heat pump beroperasi pada cooling mode diusahahan diaplikasikan
pada ruangan yang luas. Hal itu dikarenakan daya kompresor yang
dibutuhkan sangat besar.
Heat pump banyak digunakan pada daerah yang memiliki perbedaan suhu
yang signifikan antara ruang dalam dengan suhu lingkungan luar.
Pompa Kalor (Heat Pump) dan Refrigerasi

Heat pump atau pompa kalor adalah suatu sistem yang dapat menyerap kalor dari suatu tempat kemudian
membuangnya di tempat lain. Pompa kalor dapat digunakan sebagai pendingin jika memanfaatkan sisi
penyerapan kalor , inilah yang disebut dengan sistem refrigerasi. Sebaliknya pompa kalor juga dapat
digunakan sebagai pemanas jika memanfaatkan sisi pembuangan kalornya. Contoh sederhana pompa
kalor adalah air conditioner. Air conditioner menyerap kalor yang ada diruangan kemudian
membuangnya ke luar ruangan.

Untuk memahami prinsip pompa kalor maka analogi pompa air dapat digunakan karena secara prinsip
keduanya tidak berbeda. Air secara alami akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.
Untuk mengalirkan air dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi dibutuhkan suatu alat (pompa) dan
usaha/kerja/energi dari luar (mekanik). Dengan menggunakan pompa maka air yang ada di tempat yang
lebih dapat dihisap dan dikeluarkan di tempat yang lebih tinggi.

Pada kalor pun terjadi hal yang sama. Kalor secara alami mengalir/berpindah dari temperatur yang tinggi
ke temperatur yang rendah. Tinggi atau rendahnya temperatur merupakan salah satu indikasi besarnya
energi kalor yang dimiliki suatu zat. Semakin tinggi temperatur maka semakin tinggi energi kalornya.
Untuk memindahkan kalor dari tempat yang temperaturnya lebih rendah maka dibutuhkan sistem pompa
kalor. Seperti halnya pompa air, untuk menyerap kalor dan membuang kalor dibutuhkan
kerja/usaha/energi dari luar. Biasanya proses pompa kalor digambarkan seperti dibawah ini.
Dimana Ts adalah suhu lingkungan, Tc adalah temperatur pada sisi penyerapan kalor, Th adalah
temperatur pada sisi pembuangan kalor, W adalah kerja dari luar, Qc adalah kalor yang terserap dan
Qh adalah kalor yang dibuang.
Pada saat tidak ada W yang bekerja maka temperatur Ts, Tc, dan Th adalah sama (Ts=Th=Tc) dan tidak ada
proses perpindahan kalor diantaranya. Begitu ada kerja W dijalankan maka Tc menjadi lebih rendah
dibandingkan dengan Ts. Oleh karena itu energi kalor yang berada di sekitarnya terserap oleh sistem ini.
Kalor yang terserap ini dibuang ke sisi Qh sehingga temperatur Th menjadi lebih besar dari Ts. Pada
keadaan ini maka Tc < Ts < Th. Hubungan antara kalor yang diserap dan dibuang mengikuti persamaan:

Untuk menunjukkan sebarapa baik performa dari suatu pompa kalor, maka dikenal dengan istilah COP
(Coefficient of Performance) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan koefisien kinerja. COP ini
merupakan perbandingan antara output yang digunakan dengan input yang diberikan. Pada pompa kalor,
input adalah kerja dan output dapat merupakan penyerapan kalor atau pembuangan kalor. Jika pompa
kalor digunakan sebagai pendingin (Refrigerasi) maka output adalah penyerapan kalor. Sebaliknya, jika
pompa kalor digunakan sebagai pemanas (heater) maka outputnya adalah pembuangan kalor. Oleh karena
itu COP diekspresikan dengan:
- Untuk pendingin:

oleh karena

maka:

- Untuk Pemanas

atau

Dua jenis sistem pompa kalor yang sudah di komersilkan secara luas adalah sistem refrigerasi kompresi
uap (SRKU) dan thermoelectric. SRKU merupakan sistem yang paling banyak ditemui di dalam
kehidupan sehari-hari, sepeti Air conditioner (AC) dan lemari es. Keunggulan dari SRKU adalah COPnya
yang sangat tinggi. Hal inilah yang menyebabkan teknologi ini belum bisa digantikan oleh teknolgi lain.
Walaupun demikian, SRKU membutuhkan banyak komponen dan kurang bisa diterapkan di tempat yang
kecil.
Jenis pompa kalor thermoelectric sering dijumpai sebagai pendingin elektronik seperti prosesor.
Keunggulan teknologi ini adalah ukurannya yang kecil , sangat mudah diterapkan dan cukup dicatu
dengan listrik searah (DC). Namun COPnya masih sangat kecil dibandingkan dengan SRKU.
Sebenarnya ada beberapa jenis lain yang dapat digunakan sebagai sistem pompa kalor namun sulit untuk
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yaitu: sistem refrigerasi absorpsi, thermoacoustic,
thermomagnetic, dan tabung vortex.