Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN KASUS

SEORANG LAKI-LAKI DEWASA DENGAN TRAUMA


VERTEBRA

Disusun oleh :
dr. Muhammad Kemal Thoriq Machda Putra

Pembimbing :
dr. Swastika Juni Suryandari

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA


PERIODE IRNA 21 JULI 2017 – 21 NOVEMBER 2017

1
RSUD DR. R. SOETRASNO REMBANG

HALAMAN PENGESAHAN

Nama : dr. Muhammad Kemal Thoriq Machda Putra


Judul : Laporan Kasus Seorang Laki-laki Dewasa dengan Trauma
Vertebra
Bagian : Program Internship Dokter Indonesia
Pembimbing : dr. Swastika Juni Suryandari

Rembang, Agustus 2017


Pembimbing Penulis

dr. Swastika Juni S. dr. M.Kemal Thoriq M.P

2
BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn M
Umur : 54 Th.
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Weton 03/02 Rembang, Rembang
Agama : Islam
Ruang : IGD
No. CM : 389461
Tanggal Masuk : 14 Agustus 2017

B. DATA DASAR
1. Anamnesis (Alloanamnesis)
Alloanamnesis dengan istri penderita tanggal 14 Agustus 2017 pukul 17:41
WIB.
Keluhan Utama : Nyeri Punggung
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien baru datang dengan Nyeri punggung, nyeri punggung
dirasakan pasien 5 hari SMRS saat pasien memikul keranjang batu
saat bekerja. Nyeri dirasakan di punggung dan kemudian menjalar
sampai ke kedua kaki pasien berasa seperti tersengat listrik, setelah
nyeri dirasakan pasien lsg dibawa ke mantri terdekat oleh keluarga
pasien dan diberi obat minum saja, setelah 3 hari pasien diberi obat
tidak kunjung sembuh dan pasien malah tidak bisa menahan dan
merasakan pipis akhirnya seperti ngompol. Keluarga pasien tidak puas
dengan obat yang diberikan oleh mantri tersebut akhirnya pindah lagi
ke mantri yang lain dan hanya diberi obat minum. Akhirnya setelah 5
hari pasien baru di bawa ke IGD RSUD Rembang.
Pasien di IGD mengaku sudah tidak bisa berjalan dan
merasakan bagain bawah dari tubuh pasien. Tidak bisa berjalan ini

3
pasien rasakan sejak 3 hari setelah merasakan nyeri di punggung
bersama dgn hilangnya rasa untuk menahan pipis dan merasakan
pipis. Riwayat pijat di tubuh pasien diakui oleh keluarga pasien.
Pasien masih bisa merasakan dan menahan dari BABnya. Keluhan
seperti mual, muntah, panas dan sesak di sangkal oleh pasien.
a. Riwayat Penyakit Dahulu :
 Riwayat sakit yang sama : ()
 Riwayat Sakit Ginjal : (-)
 Riwayat Hipertensi : (-)
 Riwayat Kencing Manis : (-)
 Riwayat muntah darah : ( -)
 Riwayat Penyakit Saluran kemih : (-)
 Riwayat pengobatan batuk lama : (-)
 Riwayat gangguan berkemih : (-)

b. Riwayat Penyakit Keluarga :


 Riwayat TBC : (-)
 Riwayat Hipertensi : (-)
 Riwayat DM : (-)
 Riwayat sakit Ginjal : (-)

c. Riwayat Sosial Ekonomi


Penderita adalah tulang punggung keluarga. Pasien sebelum sakit
bekerja sebagai petani dan kerja serabutan . Biaya kesehatan pasien di
tanggung oleh BPJS PBI
Kesan sosial ekonomi : Kurang

d. Riwayat Pengobatan
Penderita semenjak merasakan nyeri dipunggung belakang hanya
berobat ke mantri dan tidak ada perubahan untuk sembuh justru kondisi
pasiennya memburuk.

2. Pemeriksaan Fisik
Tanggal 16 Agustus 2017 pukul 22 :00 WIB (di IGD RSUD Rembang)

4
Status Present
Jenis kelamin : Laki-laki
Usia : 42 tahun
Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : Somnolen GCS M : 6 E : 5 V : 4
Tanda vital : TD : 120/80 mmHg
HR = 82 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup.
: RR = 18 x/menit, reguler
: Suhu = 36,5o C (aksila)
: SPO2 : 98%

A. Pemeriksaan khusus
a. Kesan umum
- Rambut : Warna hitam , agak lurus, tidak mudah rontok
- Kulit : sawo matang, lembab, turgor kulit normal
b. Mata
- Bola mata : tidak terdapat eksoftalmus
- Konjungtiva : anemia -/-, perdarahan -/-
- Sklera : ikterus -/-
- Palpebra : oedema -/-
- Pupil : isokor 3 mm/ 3mm, reflek cahaya langsung
dan tak langsung +/+
- Lensa : katarak -/-
c. Telinga
- Bentuk : Normal
- Lubang : Normal
- Discharge : Tidak ada
- Tanda Radang : Tidak ada
d. Hidung
- Pernafasan cuping hidung Ada (-)
- Tidak tampak adanya sekret atau perdarahan
- Tidak ada tanda-tanda Sianosis.

5
e. Mulut
- Bibir : tidak ada kelainan kongenital, sianosis (-),
oedem (-)
- Lidah : ukuran normal, tidak kotor, tidak tremor
- Gigi : tidak ada yang goyang, karies (-)
- Mukosa : hiperemi (-)
f. Leher
- Deviasi trakea : tidak ada
- Kaku kuduk : tidak ada
- Tiroid : tidak ada pembesaran
- JVP : tidak ada peningkatan JVP ( DBN)
- KGB : tidak ada pembesaran
- Sensorik : pasien di rangsang nyeri, raba halus, dan
rabaan kasar tidak bisa membedakan dan tidak begitu
merasakan atau sensorik turun.
g. Thorak
- PULMO
- Pulmo anterior
o Inspeksi : simetris, ketertinggalan gerak (-/-),
nafas teratur dan retraksi (-/-), pergerakan otot bantu
pernafasan (-/-), terdapat luka (-/-)
o Palpasi : nyeri tekan (-), gerakan dada simetris,
tidak ada ketertinggalan gerak, luka (-/-), krepitasi (-/-)
o Perkusi : hemithorax dextra et sinistra sonor
o Auskultasi : vesikuler +/+, Rhonki-/- , Wheezing -/-
 Pulmo posterior
o Inspeksi : nafas teratur dan pergerakan simetris,
retraksi tidak ada jejas tidak ada.
o Palpasi : gerakan simetris, krepitasi -/- vokal
fremitus N/N
o Perkusi : sonor +/+
o Auskultasi : vesikuler +/+, Rhonki-/-, wheezing -/-

6
- COR :
 Inspeksi : Ictus cordis tak tampak
 Palpasi : Ictus cordis tidak teraba, Thrill (-)
 Perkusi : Batas Jantung DBN
 Auskultasi : S1>S2 , gallop s3 dan s4 (-)
 Kulit dada : di rangsan nyeri, raba halus, dan kasar
pasien tidak bisa merasakan dan
membedakan jenis rangsangannya.
h. Abdomen
- Inspeksi : Datar, Jejas (-),
- Auskultasi : bising usus (+) normal, bising (-)
- Palpasi : nyeri tekan dan nyeri tekan lepas (-), Hepar
DBN, lien ukuran normal,
- Perkusi : Timpani, shifting dullness (-), acites (-)
- Kulit : tidak bisa merasakan rangsang nyeri, raba
halus dan kasar. Baal.
i. Ekstremitas :
- Superior : Akral dingin -/-, Oedema -/-, capillary refill
<2 detik
- Inferior : Akral dingin -/-, Oedema -/-, capillary refill
<2 detik, deformitas(-/-), sianosis (-/-).

- Ekstremitas :Tidak ada deformitas


Superior Inferior
Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Oedem -/- -/-
Capillary refill < 2″ < 2″
- ADP Kuat Kuat

- Sensorik -/- -/-


- Motorik 4/4 0/0
Laborat :

7
Kesan : anemia normokrom normositer, leukositosis, Hepatitis B, Akut
Kidney Injury, Kadar bilirubin dan merker liver meningkat tajam,
B. DAFTAR MASALAH
a. Anamnesis :
i. Nyeri punggung setelah menganggkat batu
ii. Nyeri menjalar ke bagain tubuh bawah seperti
kesetrum
iii. Tidak bisa berjalan
iv. Tidak bisa merasakan dan menahan pipis seperti
ngompol.
v. Baal di bagian tubuh bawah
vi. Dibawa ke mantri dan diberi obat tidak kunjung
sembuh

b. Pemeriksaan fisik :
Leher
i. Pasien tidak bisa merasakan rangsangan baik nyeri,
raba halus dan raba kasar pada kulit leher pasien.
Thorax
i. Pasien tidak bisa merasakan rangsangan baik nyeri,
raba halus dan raba kasar pada kulit dada pasien
sesuai dermatom saraf.
Abdomen
i. Pasien tidak bisa merasakan rangsangan baik nyeri,
raba halus dan raba kasar pada kulit perut pasien
sesuai dermatom saraf.
Ekstremitas

j. Sensorik -/- -/-


k. Motorik 4/4 0/0

8
Laboratorium

9
DIAGNOSA BANDING
DD
 Paralisis periodik hipokalemia
 SGB

C. DIAGNOSA

10
1. Trauma Vertebra setinggi Cervical

D. PENATALAKSANAAN
1. Non Farmakologik
a. DC urine
b. Cervical Collar
2. Farmakologik :
a. IVFD RL 20 tpm
b. Inj. Methylprednisolon 125 mg/8 jam
c. Inj. Omeprazole 40/8jam
d. PCT 3x500 mg
3. Edukasi : Edukasi diberikan kepada istri dan keluarga pasien
kalau kondisi pasien sekarang ini masih stabil tetapi sudah
mengalami gangguan neurologik yang berat dan sebaiknya
pasien di rujuk ke RS dengan fasilitas dan SDM yang memadai.
a. Monitor : KU, TTV, Sesak, Urine, dan tanda2 bahaya lainnya.

E. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. MRI
Untuk mencari lesi di medulla spinalis setinggi cervical berapa ?
2. Elektrolit
Untuk menyingkirkan penyakit lain

F. PROGNOSA
Qua ad vitam : dubia ad bonam
Qua ad sanam : dubia ad malam
Qua ad fungsionam : dubia ad malam

11
BAB II
PEMBAHASAN

TRAUMA VERTEBRA

II.1. ANATOMI
Vertebra adalah pilar yang berfungsi sebagai penyangga tubuh dan

melindungi medulla spinalis. Pilar itu terdiri atas 33 ruas tulang belakang yang

tersusun secara segmental yang terdiri atas 7 ruas tulang servikal (vertebra

servikalis), 12 ruas tulang torakal (vertebra torakalis), 5 ruas tulang lumbal

(vertebra lumbalis), 5 ruas tulang sakral yang menyatu (vertebra sakral), dan 4

ruas tulang ekor (vertebra koksigea).6

Gambar 1. Anatomi Tulang Belakang

12
Setiap ruas tulang belakang dapat bergerak satu dengan yang lain oleh

karena adanya dua sendi di posterolateral dan diskus intervertebralis di anterior.

Pada pandangan dari samping, pilar tulang belakang membentuk lengkungan

atau lordosis di daerah servikal dan lumbal. Keseluruhan vertebra maupun

masing-masing tulang vertebra berikut diskus intervertebralisnya merupakan

satu kesatuan yang kokoh dengan diskus yang memungkinkan gerakan antar

korpus ruas tulang belakang. Lingkup gerak sendi pada vertebra servikal adalah

yang terbesar. Vertebra torakal berlingkup gerak sedikit karena adanya tulang

rusuk yang membentuk toraks, sedangkan vertebra lumbal mempunyai ruang

lingkup gerak yang lebih besar dari torakal tetapi makin ke bawah lingkup

geraknya semakin kecil.6

Secara umum, struktur tulang belakang tersusun atas dua yaitu :

1. Korpus vertebra beserta semua diskus intervetebra yang berada di antaranya.


2. Elemen posterior (kompleks ligamentum posterior) yang terdiri atas lamina,

pedikel, prosesus spinosus, prosesus transversus dan pars artikularis,

ligamentum-ligamentum supraspinosum dan intraspinosum, ligamentum

flavum, serta kapsul sendi.6

Setiap ruas tulang belakang terdiri atas korpus di depan dan arkus neuralis

di belakang yang di situ terdapat sepasang pedikel kanan dan kiri, sepasang

lamina, 2 pedikel, 1 prosesus spinosus, serta 2 prosesus transversus. Beberapa

ruas tulang belakang mempunyai bentuk khusus, misalnya tulang servikal

pertama yang disebut atlas dan ruas servikal kedua yang disebut odontoid.

Kanalis spinalis terbentuk antara korpus di bagian depan dan arkus neuralis di

bagian belakang. Kanalis spinalis ini di daerah servikal berbentuk segitiga dan

13
lebar, sedangkan di daerah torakal berbentuk bulat dan kecil. Bagian lain yang

menyokong kekompakan ruas tulang belakang adalah komponen jaringan lunak

yaitu ligamentum longitudinal anterior, ligamentum longitudinal posterior,

ligamentum flavum, ligamentum interspinosus, dan ligamentum supraspinosus.6

Stabilitas tulang belakang disusun oleh dua komponen, yaitu komponen

tulang dan komponen jaringan lunak yang membentuk satu struktur dengan tiga

pilar. Pertama yaitu satu tiang atau kolom di depan yang terdiri atas korpus serta

diskus intervertebralis. Kedua dan ketiga yaitu kolom di belakang kanan dan kiri

yang terdiri atas rangkaian sendi intervertebralis lateralis. Tulang belakang

dikatakan tidak stabil, bila kolom vertikal terputus pada lebih dari dua

komponen. 6

Gambar 2. Sendi dan Ligamen Kolumna Vertebra

14
Medulla spinalis berjalan melalui tiap-tiap vertebra dan membawa saraf

yang menyampaikan sensasi dan gerakan dari dan ke berbagai area tubuh.

Semakin tinggi kerusakan saraf tulang belakang, maka semakin luas trauma

yang diakibatkan. Misal, jika kerusakan saraf tulang belakang di daerah leher,

hal ini dapat berpengaruh pada fungsi di bawahnya dan menyebabkan seseorang

lumpuh pada kedua sisi mulai dari leher ke bawah dan tidak terdapat sensasi di

bawah leher. Kerusakan yang lebih rendah pada tulang sakral mengakibatkan

sedikit kehilangan fungsi.6

Gambar 3. Persarafan Tulang Belakang

15
Gambar 4. Gerakan Kolumna Vertebra

16
Gambar 5. Otot yang Memproduksi Gerakan dari Sendi Intervertebra Torakal dan

Lumbal

Semua trauma tulang belakang harus dianggap suatu trauma yang hebat,

sehingga sejak awal pertolongan pertama dan transportasi ke rumah sakit penderita

harus diperlakukan secara hati-hati.

Trauma pada tulang belakang dapat mengenai :

1. Jaringan lunak pada tulang belakang, yaitu ligament, diskus dan faset
2. Tulang belakang sendiri
3. Sumsum tulang belakang

Sebagian besar trauma tulang belakang yang mengenai tulang tidak disertai kelainan

pada sumsum tulang belakang (80%) dan hanya sebagian (20%) yang disertai

kelainan pada sumsum tulang belakang.

Penyebab kelainan tulang belakang:

1. Kecelakaan lalu lintas


2. Kecelakaan olahraga
3. Kecelakaan industry
4. Kecelakaan lain seperti jatuh dari pohon atau bangunan
5. Luka tusuk, luka tembak
6. Trauma karena tali pengaman (fraktur Chance)
7. Kejatuhan benda keras

II.2. MEKANISME CEDERA

Pada cedera tulang belakang, mekanisme cedera yang mungkin adalah:

1. Fleksi

Trauma ini terjadi akibat fleksi dan disertai kompresi pada vertebra.

Vertebra akan mengalami tekanan dan remuk yang dapat merusak

ligamen posterior. Jika ligamen posterior rusak maka sifat fraktur ini

17
tidak stabil sebaliknya jika ligamentum posterior tidak rusak maka

fraktur bersifat stabil. Pada daerah cervical, tipe subluksasi ini sering

terlewatkan karena pada saat dilakukan pemeriksaan sinar-X vertebra

telah kembali ke tempatnya.7

2. Rotasi-fleksi

Cedera spina yang paling berbahaya adalah akibat kombinasi fleksi

dan rotasi. Ligamen dan kapsul sendi teregang sampai batas

kekuatannya, kemudian dapat robek, permukaan sendi dapat

mengalami fraktur atau bagian atas dari satu vertebra dapat ter potong.

Akibat dari mekanisme ini adalah pergeseran atau dislokasi ke depan pada

vertebra di atas, dengan atau tanpa kerusakan tulang. Semua fraktur-

dislokasi bersifat tak stabil dan terdapat banyak risiko munculnya

kerusakan neurologik.7

3. Kompresi vertical (aksial)

18
Kekuatan vertikal yang mengenai segmen lurus pada spina servikal atau

lumbal akan menimbulkan kompresi aksial. Nukleus pulposus akan

mematahkan lempeng vertebra dan menyebabkan fraktur vertikal pada

vertebra, dengan kekuatan yang lebih besar, bahan diskus didorong masuk

ke dalam badan vertebral, menyebabkan fraktur remuk (burst fracture).

Karena unsur posterior utuh, keadaan ini didefinisikan sebagai cedera

stabil. Fragmen tulang dapat terdorong ke belakang ke dalam kanalis

spinalis dan inilah yang menjadikan fraktur ini berbahaya, kerusakan

neurologik sering terjadi. 7

4. Hiperekstensi (kombinasi distraksi dan ekstensi)

Hiperekstensi jarang terjadi di daerah torakolumbal tetapi sering pada

leher, pukulan pada muka atau dahi akan memaksa kepala ke belakang

dan tanpa menyangga oksiput sehingga kepala membentur bagian

atas punggung. Ligamen anterior dan diskus dapat rusak atau arkus

saraf mungkin mengalami fraktur. Cedera ini stabil karena tidak

merusak ligamen posterior. 7

19
5. Fleksi dan kompresi digabungkan dengan distraksi posterior

Kombinasi fleksi dengan kompresi anterior dan distraksi posterior

dapat mengganggu kompleks vertebra pertengahan, di samping kompleks

posterior. Fragmen tulang dan bahan diskus dapat bergeser ke dalam

kanalis spinalis. Berbeda dengan fraktur kompresi mur ni, keadaan ini

merupakan cedera tak stabil dengan risiko progresi yang tinggi.

Fleksi lateral yang terlalu banyak dapat menyebab kan kompresi pada

setengah corpus vertebra dan distraksi pada unsur lateral dan

posterior pada sisi sebaliknya. Jika permukaan dan pedikulus remuk, lesi

bersifat tidak stabil.7

6. Translasi Horizontal

Kolumna vertebralis teriris dan segmen bagian atas atau bawah dapat

bergeser ke anteroposterior atau ke lateral. Lesi bersifat tidak stabil dan

sering terjadi kerusakan syaraf.7

II. 3. TRAUMA VERTEBRA SERVIKAL

Trauma pada vertebra servikalis lebih jarang dari pada trauma pada vertebra
torakal dan lumbal, tetapi merupakan suatu trauma yang serius dan dapat
menyebabkan kematian segera oleh karena gangguan pernafasan. Walaupun kelainan

20
pada trauma vertebra servikalis hanya mengenai jaringan lunak seperti whiplash,
tetapi harus tetap dilakukan penanganan yang memadai.

Klasifikasi trauma servikal berdasarkan mekanismenya


A. Klasifikasi berdasarkan mekanisme trauma
a. Trauma Hiperfleksi
1. Subluksasi anterior
terjadi robekan pada sebagian ligament di posterior tulang leher ;
ligament longitudinal anterior utuh. Termasuk lesi stabil. Tanda
penting pada subluksasi anterior adalah adanya angulasi ke posterior
(kifosis) local pada tempat kerusakan ligament. Tanda-tanda lainnya :
- Jarak yang melebar antara prosesus spinosus
- Subluksasi sendi apofiseal

Gambar 1. Subluksasi anterior

2. Bilateral interfacetal dislocation


Terjadi robekan pada ligamen longitudinal anterior dan kumpulan
ligament di posterior tulang leher. Lesi tidak stabil. Tampak diskolasi
anterior korpus vertebrae. Dislokasi total sendi apofiseal.

21
Gambar 2. Bilateral interfacetal
dislocation
3. Flexion tear drop fracture dislocation
Tenaga fleksi murni ditambah komponen kompresi menyebabkan
robekan pada ligamen longitudinal anterior dan kumpulan ligamen
posterior disertai fraktur avulse pada bagian antero-inferior korpus
vertebra. Lesi tidak stabil. Tampak tulang servikal dalam fleksi :
- Fragmen tulang berbentuk segitiga pada bagian antero-inferior
korpus vertebrae
- Pembengkakan jaringan lunak pravertebral

Gambar 3. Flexion tear drop fracture dislocation


4. Wedge fracture
Vertebra terjepit sehingga berbentuk baji. Ligament longitudinal
anterior dan kumpulan ligament posterior utuh sehingga lesi ini
bersifat stabil.

22
Gambar 4. Wedge fracture

5. Clay shovelers fracture


Fleksi tulang leher dimana terdapat kontraksi ligament posterior
tulang leher mengakibatkan terjadinya fraktur oblik pada prosesus
spinosus ; biasanya pada CVI-CVII atau Th1.

Gambar 5. Clay Shovelers fracuter


b. Trauma Fleksi-rotasi
Terjadi dislokasi interfacetal pada satu sisi. Lesi stabil walaupun
terjadi kerusakan pada ligament posterior termasuk kapsul sendi apofiseal
yang bersangkutan.
Tampak dislokasi anterior korpus vertebra. Vertebra yang
bersangkutan dan vertebra proksimalnya dalam posisi oblik, sedangkan
vertebra distalnya tetap dalam posisi lateral.

23
Gambar 6. Trauma Fleksi-rotasi
a. Tampak Lateral b. Tampak AP c. Tampak oblik

c. Trauma Hiperekstensi
1. Fraktur dislokasi hiperekstensi
Dapat terjadi fraktur pedikel, prosesus artikularis, lamina dan
prosessus spinosus. Fraktur avulse korpus vertebra bagian postero-
inferior. Lesi tidak stabil karena terdapat kerusakan pada elemen
posterior tulang leher dan ligament yang bersangkutan.
2. Hangmans fracture
Terjadi fraktur arkus bilateral dan dislokasi anterior C2 terhadap C3.

Gambar 7. Hangmans Fracture


d. Ekstensi-rotasi
Terjadinya fraktur pada prosesus artikularis satu sisi
e. Kompresi vertical
Terjadinya fraktur ini akibat diteruskannya tenaga trauma melalui kepala,
kondilus oksipitalis, ke tulang leher.
1. Bursting fracture dari atlas (jeffersons fracture)

24
Gambar 8. Jeffersons fracture
2. Bursting fracture vertebra servikal tengah dan bawah

B. KlasifikasiGambar 8. Bursting
berdasarkan derajatfracture vertebra servical tengah & bawah
kestabilan
a. Stabil
b. Tidak stabil
Stabilitas dalam hal trauma tulang servikal dimaksudkan tetap utuhnya
komponen ligament-skeletal pada saat terjadinya pergeseran satu segmen tulang
leher terhadap lainnya.
Cedera dianggap stabil jika bagian yang terkena tekanan hanya bagian
medulla spinalis anterior, komponen vertebral tidak bergeser dengan pergerakan
normal, ligamen posterior tidak rusak sehingga medulla spinalis tidak terganggu,
fraktur kompresi dan burst fraktur adalah contoh cedera stabil. Cedera tidak stabil
artinya cedera yang dapat bergeser dengan gerakan normal karena ligamen
posteriornya rusak atau robek, Fraktur medulla spinalis disebut tidak stabil jika
kehilangan integritas dari ligamen posterior.
Menentukan stabil atau tidaknya fraktur membutuhkan pemeriksaan
radiograf. Pemeriksaan radiografi minimal ada 4 posisi yaitu anteroposterior, lateral,
oblik kanan dan kiri. Dalam menilai stabilitas vertebra, ada tiga unsur yamg harus

25
dipertimbangkan yaitu kompleks posterior (kolumna posterior), kompleks media dan
kompleks anterior (kolumna anterior).
Pembagian bagian kolumna vertebralis adalah sebagai berikut :
1. kolumna anterior yang terbentuk dari ligament longitudinal dan duapertiga
bagian anterior dari corpus vertebra, diskus dan annulus vertebralis
2. kolumna media yang terbentuk dari satupertiga bagian posterior dari corpus
vertebralis, diskus dan annulus vertebralis
kolumna posterior yang terbentuk dari pedikulus, sendi-sendi permukaan, arkus
tulang posterior, ligamen interspinosa dan supraspinosa
Jenis fraktur daerah cervical, sebagai berikut:
1. Fraktur Atlas C 1

Fraktur ini terjadi pada kecelakaan jatuh dari ketinggian dan posisi kepala menopang
badan dan daerah cervical mendapat tekanan hebat. Condylus occipitalis pada basis
crani dapat menghancurkan cincin tulang atlas. Jika tidak ada cedera angulasi dan
rotasi maka pergeseran tidak berat dan medulla spinalis tidak ikut cedera.
Pemeriksaan radiologi yang dilakukan adalah posisi anteroposterior dengan mulut
pasien dalam keadaan terbuka. Terapi untuk fraktur tipe stabil seperti fraktur atlas ini
adalah immobilisasi cervical dengan collar plaster selama 3 bulan, namun jika terjadi
terjadi kelaina pada sumsum tulang keadaan ini merupakan suatu kelainan yang
serius yang perlu ditangani segera dengan menggunakan traksi serta perawatan pada
perawatan dengan kelainan tertrapalegi.

2. Pergeseran C 1 C2 ( Sendi Atlantoaxial)

Atlas dan axis dihubungkan dengan ligamentum tranversalis dari atlas yang
menyilang dibelakang prosesus odontoid pada axis. Dislokasi sendi atlantoaxial
dapat mengakibatkan arthritis rheumatoid karena adanya perlunakan kemudian akan
ada penekanan ligamentum transversalis.
Fraktur dislokasi termasuk fraktur basis prosesus odontoid. Umumnya ligamentum
tranversalis masih utuh dan prosesus odontoid pindah dengan atlas dan dapat
menekan medulla spinalis. Pemeriksaan radiologi yang dilakukan adalah posisi
anteroposterior dengan mulut terbuka,pemeriksaan Tomogram dan CT-Scan. Terapi
untuk fraktur tidak bergeser yaitu imobilisasi vertebra cervical. Terapi untuk fraktur
geser atlantoaxial adalah reduksi dengan traksi continues.

26
3. Fraktur Kompresi Corpus Vertebral

Tipe kompresi lebih sering tanpa kerusakan ligamentum spinal namun dapat
mengakibatkan kompresi corpus vertebralis. Sifat fraktur ini adalah tipe tidak stabil.
Terapi untuk fraktur tipe ini adalah reduksi dengan plastic collar selama 3 minggu
( masa penyembuhan tulang)
4. Flexi Subluksasi Vertebral Cervical

Fraktur ini terjadi saat pergerakan kepala kearah depan yang tiba-tiba sehingga
terjadi deselerasi kepala karena tubrukan atau dorongan pada kepala bagian
belakang, terjadi vertebra yang miring ke depan diatas vertebra yang ada
dibawahnya, ligament posterior dapat rusak dan fraktur ini disebut subluksasi,
medulla spinalis mengalami kontusio dalam waktu singkat.Tindakan yang diberikan
untuk fraktur tipe ini adalah ekstensi cervical dilanjutkan dengan imobilisasi leher
terekstensi dengan collar selama 2 bulan.
5. Fleksi dislokasi dan fraktur dislokasi cervical

Cedera ini lebih berat dibanding fleksi subluksasi. Mekanisme terjadinya fraktur
hampir sama dengan fleksi subluksasi, posterior ligamen robek dan posterior facet
pada satu atau kedua sisi kehilangan kestabilannya dengan bangunan sekitar. Jika
dislokasi atau fraktur dislokasi pada C7 –Th1 maka posisi ini sulit dilihat dari
posisi foto lateral maka posisi yang terbaik untuk radiografi adalah “swimmer
projection”. Tindakan yang dilakukan adalah reduksi fleksi dislokasi ataupun fraktur
dislokasi dari fraktur cervical termasuk sulit namun traksi skull continu dapat dipakai
sementara.
6. Ekstensi Sprain ( Kesleo) Cervical (Whiplash injury)

Mekanisme cedera pada cedera jaringan lunak yang terjadi bila leher tiba-tiba
tersentak ke dalam hiperekstensi. Biasanya cedera ini terjadi setelah tertabrak dari
belakang; badan terlempar ke depan dan kepala tersentak ke belakang. Terdapat
ketidaksesuaian mengenai patologi yang tepat tetapi kemungkinan ligamen
longitudinal anterior meregang atau robek dan diskus mungkin juga rusak. Pasien
mengeluh nyeri dan kekakuan pada leher, yang refrakter dan bertahan selama setahun
atau lebih lama. Keadaan ini sering disertai dengan gejala lain yang lebih tidak

27
jelas, misalnya nyeri kepala, pusing, depresi, penglihatan kabur dan rasa baal
atau paraestesia pada lengan. Biasanya tidak terdapat tanda-tanda fisik, dan
pemeriksaan dengan sinar-X hanya memperlihatkan perubahan kecil pada postur.
Tidak ada bentuk terapi yang telah terbukti bermanfaat, pasien diberikan analgetik
dan fisioterapi.

7. Fraktur Pada Cervical Ke -7 (Processus Spinosus)

Prosesus spinosus C7 lebih panjang dan prosesus ini melekat pada otot. Adanya
kontraksi otot akibat kekerasan yang sifatnya tiba-tiba akan menyebabkan avulsi
prosesus spinosus yang disebut “clay shoveler’s fracture” . Fraktur ini nyeri tetapi
tak berbahaya.
. DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN TRAUMA VERTEBRA

Diagnosis klinik adanya trauma vertebra didapatkan melalui anamnesis,

pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Kecurigaan yang tinggi akan

adanya cedera pada vertebra pada pasien trauma sangat penting sampai kita

mengetahui secara tepat bagaimana mekanisme cedera pasien tersebut. Setiap

pasien dengan cedera tumpul diatas klavikula, cedera kepala atau menurunnya

kesadaran, harus dicurigai adanya cedera cervical sebelum curiga lainnya. Dan

setiap pasien yang jatuh dari ketinggian atau dengan mekanisme kecelakaan

high-speed deceleration harus dicurigai ada cedera thoracolumbal. Selain itu

patut dicurigai pula adanya cedera medulla spinalis, jika pasien datang dengan

nyeri pada leher, tulang belakang dan gejala neurologis pada tungkai. 13

Pemeriksaan klinik pada punggung hampir selalu menunjukkan tanda-

tanda fraktur yang tak stabil namun fraktur remuk yang disertai paraplegia

umunya bersifat stabil. Sifat dan tingkat lesi tulang dapat diperlihatkan dengan

sinar-X, sedangkan sifat dan tingkat lesi saraf dengan CT atau MRI.

Pemeriksaan neurologik harus dilakukan dengan amat cermat. Tanpa informasi

28
yang rinci, diagnosis dan prognosis yang tepat tidak mungkin ditentukan.

Pemeriksaan rektum juga harus dilakukan. Pemeriksaan tentang tanda-tanda

shock juga sangat penting. 13

Macam-macam shock yang dapat terjadi pada cadera tulang belakang :

a. Hypovolemic shock yang ditandai dengan takikardia, akral dingin dan

hipotensi jika sudah lanjut.


b. Neurogenic shock adalah hilangnya aktivitas simpatis yang ditandai

dengan hipotensi, bradikardi.


c. Spinal shock : disfungsi dari medulla spinalis yang ditandai dengan

hilangnya fungsi sensoris dan motoris. Keadaan ini akan kembali normal

tidak lebih dari 48 jam.13

Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan:

1. Roentgenography: pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat tulang vertebra,

untuk melihat adanya fraktur ataupun pergeeseran pada vertebra.

2. Computerized Tomography : pemeriksaan ini sifatnya membuat gambar

vertebra 2 dimensi . Pemeriksaan vertebra dilakukan dengan melihat irisan-irisan

yang dihasilkan CT scan.

3. Magnetic Resonance Imaging: pemeriksaan ini menggunakan gelombang

frekuensi radio untuk memberikan informasi detail mengenai jaringan lunak di

daerah vertebra. Gambaran yang akan dihasilkan adalah gambaran 3 dimensi .

MRI sering digunakan untuk mengetahui kerusakan jaringan lunak pada ligament

dan discus intervertebralis dan menilai cedera medulla spinalis.13

II.7. PENANGANAN DAN TERAPI

29
Pertolongan pertama dan penanganan darurat trauma spinal terdiri atas:

penilaian kesadaran, jalan nafas, pernafasan, sirkulasi, kemungkinan adanya

perdarahan dan segera mengirim penderita ke unit trauma spinal ( jika ada).

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan klinik secara teliti meliputi pemeriksaan

neurologis fungsi motorik, sensorik dan reflek untuk mengetahui kemungkinan

adanya fraktur pada vertebra.2

Terapi pada trauma vertebra diawali dengan mengatasi nyeri dan stabilisasi untuk

mencegah kerusakan yang lebih parah lagi, semuanya tergantung dari tipe

fraktur.

1. Braces & Orthotics


Ada tiga hal yang dilakukan yakni,
a. mempertahankan kesejajaran vertebra (alignment)
b. imobilisasi vertebra dalam masa penyembuhan
c. mengatasi rasa nyeri yang dirasakan dengan membatasi pergerakan.
Fraktur yang sifatnya stabil membutuhkan stabilisasi, sebagai contoh; brace

rigid collar (Miami J) untuk fraktur cervical, cervical-thoracic brace

(Minerva) untuk fraktur pada punggung bagian atas, thoracolumbar-sacral

orthosis (TLSO) untuk fraktur punggung bagian bawah, dalam waktu 8

sampai 12 minggu brace akan terputus, umumnya fraktur pada leher yang

sifatnya tidak stabil ataupun mengalami dislokasi memerlukan traksi, halo

ring dan vest brace untuk mengembalikan kesejajaran.3

2. Pemasangan alat dan proses penyatuan (fusion).


Teknik ini adalah teknik pembedahan yang dipakai untuk fraktur tidak stabil.

Fusion adalah proses penggabungan dua vertebra dengan adanya bone graft

dibantu dengan alat-alat seperti plat, rods, hooks dan pedicle screws. Hasil

30
dari bone graft adalah penyatuan vertebra dibagian atas dan bawah dari

bagian yang disambung. Penyatuan ini memerlukan waktu beberapa bulan

atau lebih lama lagi untuk menghasilkan penyatuan yang solid. 3

3. Vertebroplasty & Kyphoplasty


Tindakan ini adalah prosedur invasi yang minimal. Pada prinsipnya teknik ini

digunakan pada fraktur kompresi yang disebabkan osteoporosis dan tumor

vertebra. Pada vertebroplasti bone cement diinjeksikan melalui lubang jarum

menuju corpus vertebra sedangkan pada kypoplasti, sebuah balon

dimasukkan, dikembungkan untuk melebarkan vertebra yang terkompresi

sebelum celah tersebut diisi dengan bone cement.3

Pengelolaan penderita dengan paralisis meliputi :

a. Pengelolaan kandung kemih dengan pemberian cairan yang cukup,

kateterisasi tetapatau intermiten, dan evakuasi kandung kemih dengan

kompresi supra pubik setelah2 minggu


b. Pengelolaan saluran pencernaan dengan pemberian laksansia atau enema

setiap hari atau setiap dua hari


c. Monitoring cairan masuk dan cairan yang keluar dari tubuh
d. Pemberian nutrsi yang baik dengan diet tinggi protein tinggi, cairan

secara intravena, kalsiumdan transfuse

31
e. Cegah decubitus
f. Fisioterapi untuk mencegah kontraktur 2

DAFTAR PUSTAKA

1. Moore K. Essential Clinical Anatomy. Second Edition. Baltimore: Williams


and Wilkins. 2002
2. Rasjad C. Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Lamumpatue. 2003

3. Roper S. Spine Fracture. In: Dept. Neurosurgery Unversity of Florida. (Last

updated: 2003; accesed: 14 April 2012). Available from :

http://www.neurosurgery.ufl.edu/Patients/fracture.shtml

4. Harna. Trauma Medulla Spinalis. (Last updated: 2008; accesed: 14 April

2012). Available from : http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/17/trauma-

medula-spinalis/.
5. Schreiber, D. Spinal Cord Injury. (Last updated: 2004; accesed: 14 April 2012).

Available from : http://emedicine.medscape.com/article/793582-overview.


6. Jong, W.D, Samsuhidayat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. 2005; 870-

874.
7. Apley,A.Graham. Apley’s System O Orthopaedic And Fracture.Seventh

Edition. London: Butterworth Scientific. 2000; 658-665.


8. Young W. Spinal Cord Injury Level And Classification. (Last updated: 2000;

accesed: 14 April 2012). Available from :

http://www.neurosurgery.ufl.edu/Patients/fracture.shtml
9. Deblick T. Burst Fracture. (Last updated: 2001; accesed: 14 April 2012).

Available from : http://www.emedicine.medscape.com/specialties


10. Claire M. The Three Column Concept. (Last updated: 2005; accesed: 14 April

2012). Available from: http://www.spineuniverse/columnconcept.html


11. Rimel R.W. An Educational Training Program for the Care at the Site of

Injury of Trauma to Central Nervous System. 2001; 9:23-28.

32
12. Thomas, V.M. Thoracolumbal Vertebral Fracture. Journal of Orthopaedics.

(Last updated: 2004; accesed: 14 April 2012). Available from :

http://www.jortho.org/index.html
13. Kuntz C. Spine Fracture. Emedicine Journals. (Last updated: 2004; accesed: 14

April 2012). Available from :

http://www.emedicine.com/orthoped/topic567.htm

14. Japardi I. Cervical Injury : FK USU. Last updated 2002. http://www.Bedah-


iskandar Japardi7.pdf. download at 08-10-2010

Daftar Pustaka
1. Wright WL, Encephalopathy. In : Handbook of neurocritical care. 10th Ed. New
Jersey. Humana Press, 2004 : 19-30

33
2. Posner JB, Saper CB, Schiff ND, Plum F. Multifocal, diffuse, and metabolic
brain disease causing delirium, stupor, or coma. In: Plum and Posner Diagnosis
of Stupor and Coma. 4th ed. Oxford: Oxford University Press, 2007: 224-240
3. Dhiman RK, Saraswat VA, Sharma BK, Sarin SK, Chawla YK, Butterwoth E et
al. 2010. Minimal hepatic encephalopathy: consensus statement of a working
party of the Indian National Association for Study of the Liver. Journal of
Gastroenterology and Hepatology 25 (2010) 1029–1041.
4. Tarigan P. Ensefalopati Hepatik. Dalam: Sulaiman A, Akbar N, Lesmana LA,
Noer S editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati. Edisi ke-1. Jakarta: Jayabadi,
2007: 407-419
5. Lizardi-Cervera J, Almeda P, Guevara L, Uribe M. hepatic encephalopathy : a
review in Annals of Hepatology 2003; 2(3): July-September: 122-130
6. Prakash R, Mullen KD. 2010 Mechanisms, diagnosis and management of
hepatic encephalopathy. Nat. Rev. Gastroenterol. Hepatol. 7, 515–525
7. Zubir N. Koma Hepatikum. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi A,
Simadibrata M, Setiadi S editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006: 499-
451
8. Lemberg A, Fernandez MA. 2009. Hepatic encephalopathy, ammonia,
glutamate, glutamine and oxidative stress. Annals of Hepatology; 8 (2) : April-
June: 95-102
9. Blei AT, Weissenborn K. Hepatic Rncephalophaty. In: Billler J et al eds. The
Interface of Neurology & Internal Medicine. Philadelphia: Wolter Kluwer
Lippicont Williams and Wilkins, 2008: 281-289
10. Komolmit P, Davies M. Hepatic Encephalopathy.In: Management of severe liver
disease. Leeds: The Medicine Publishing Company Ltd, 1999: 77-79
11. Ferenci P, Lockwood A, Mullen K, Tarter R, Weissenborn K, Blei AT. 2002.
Hepatic encephalopathy-definition, nomenclature, diagnosis, and quantification :
final report of the working party at the 11th world congresses of gastroenterology,
Vienna, 1998. Hepatology : 716-722
12. Hadi S. Koma Hepatikum.1995. Dalam : Gastroenterologi. Edisi ke-6.
Bandung : Penerbit Alumni : 447-460
13. Nirdjanah S. Sirosis Hati. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi A,
Simadibrata M, Setiadi S editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006: 443-
4446

34
14. Irawan C, Abdullah M, Tarigan TJE, Marbun MB, Rinaldi I, Chen K et al.
Ensefalopati Hepatik. Dalam: Irawan C, Tarigan THE, Marbun MB editor.
Panduan tatalaksana kegawatdaruratan di bidang ilmu penyakit dalam. Edisi ke-
1. Jakarta: Internal Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam, 2009: 44-
47
15. Setiawan, Purnomo B. Sirosis Hati. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam FK
Universitas Airlangga. Surabaya: Penyakit Dalam FK Unair, 2006: 129-136

35