Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

Kanker merupakan pembelahan sel tubuh yang tidak terkendali dan sel-
sel tersebut mampu menyerang jaringan tubuh lain yang masih normal. Pada
kanker payudara biasanya tumbuh di dalam kelenjar, saluran kelenjar, jaringan
lemak, maupun jaringan ikat pada payudara (Karsono, 2006).
Kanker payudara masih menjadi penyakit umum dengan angka
morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi. Daerah mediterania timur, kematian
akibat kanker payudara pada wanita menjadi peringkat kedua setelah kanker leher
rahim. Lebih dari 1,2 juta wanita di seluruh dunia, didiagnosis dengan kanker
payudara dengan angka kematian mencapai 502.000 setiap tahunnya. Jumlah
wanita yang terkena kanker payudara mencapai 100 orang dari 100.000 penduduk
di Indonesia setiap tahunnya, sedangkan di daerah propinsi jawa tengah pada
tahun 2001 di Kota Semarang ditemukan sebanyak 765 kasus, sedangkan pada
tahun 2004 sebesar 1.205 kasus. Di Negara maju, sebagian besar pasien (> 80%)
dengan kanker payudara dilakukan reseksi pembedahan (WHO, 2006)
Masalah penanganan kanker pada saat ini diantaranya adalah masalah
diagnostik, terapi dan penentuan prognosis yang akurat, efektif, mudah, dan
murah. Gold standard penilaian sel kanker untuk diagnostik, evaluasi terapi, dan
prognostic pasien adalah dengan histopatologi. Dalam penilaian histopatologi sel
kanker, dilihat perubahan gen sel kanker dan proliferasi selnya (WHO, 2006).
Pengobatan kanker payudara dapat dilakukan dengan pembedahan,
kemoterapi, radioterapi, terapi hormonal, dan yang terbaru dengan imunoterapi.
Hambatan dalam penatalaksanaan kanker payudara ini adalah efek samping dan
biaya. Kemoterapi merupakan salah satu modalitas terapi sistemik yang sering
digunakan. Kemoterapi pada kanker payudara tidak cukup diberikan hanya
dengan satu regimen. Diantara regimen kemoterapi untuk kanker payudara sering
digunakan adalah cyclophosphamide, Adriamycin, 5 Fluoro Urasil (5FU) dan
paklitaksel (WHO, 2006).

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi
Kanker payudara adalah keganasan yang berasal dari sel kelenjar,
saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit
payudara ( Depkes RI, 2009).
Ca mammae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat
adanya onkogen yang menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada
jaringan payudara (Karsono, 2006). Ca mammae merupakan tumor ganas
yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa tumbuh di dalam
kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak, maupun jaringan ikat pada
payudara (Brunner, 2002).
B. Faktor risiko kanker payudara
Sebagian besar kanker payudara berhubungan dengan faktor
hormonal dan genetik, yang berkaitan dengan:
1. Faktor yang berhubungan dengan diet yang berdampak negatif seperti:
a) Peningkatan berat badan yang berlebihan terutama setelah
menopause
b) Peningkatan tinggi badan yang cepat pada masa pubertas
c) Makanan cepat saji yang banyak mengandung lemak jenuh dan
makanan terlalu manis
d) Minuman beralkohol

Beberapa diet yang dapat mengurangi risiko terjadinya


kanker payudara seperti

a) Memperbanyak konsumsi makanan mengandung serat seperti


sayur, buah sebanyak ½ kg per hari
b) Peningkatan konsumsi makanan yang mengandung vitamin seperti
C dan A
2. Hormon dan faktor reproduksi
a) Menarche atau haid pertama pada usia muda (kurang dari 12 tahun)
b) Melahirkan anak pertama pada usia lebih tua (di atas 50 tahun)
c) Pemakaian kontrasepsi oral dalam waktu lama (> 7 tahun)
d) Infertilitas atau mandul, tidak menikah
e) Tidak menyusui anak
3. Terpapar radiasi pengion pada saat pertumbuhan payudara
4. Adanya faktor genetik atau keturunan
5. Pernah menderita penyakit tumor jinak payudara atau pernah
menderita kanker payudara (Depkes RI, 2009).
C. Embriologi Payudara
Payudara merupakan suatu kelompok kelenjar-kelanjar besar yang
berasal dari epidermis, yang terbungkus dalam fascia yang berasal dari
dermis, dan fascia superficial dari permukaan ventral dada. Puting susu
sendiri merupakan suatu proliferasi lokal dari stratum spinosum epidermis.
Selama bulan kedua kehamilan, dua berkas lapisan tebal ectoderm muncul
pada dinding depan tubuh terbentang dari aksila ke lipat paha. Dua berkas
ini adalah milk line dan melambangkan jaringan kelenjar mamma yang
potensial (Gambar 2.1). Pada manusia, hanya bagian pectoral dari berkasi
ini yang akan menetap dan akhirnya berkembang menjadi kelenjar mamma
dewasa. Kadang-kadang, jaringan payudara yang tersisa atau bahkan
fungsional dapat muncul dari bagian lain dari milk line (De Jong, 2005).

Gambar 2.1. A. Milk line dari embrio mamalia secara umum, kelanjar mamma terbentuk sepanjang garis ini. B. Tempat
umum terbentuknya kelenjar mamma atau supernumerary nipples pada manusia (De Jong, 2005)
Gambar 1.2. Pembentukkan payudara. A-D : stadium pembentukkan kelenjar dan sistem duktus berasal dari epidermis.
Septa jaringan ikat berasal dari mesenkim dermis. E : eversi putting menjelang kelahiran (De Jong, 2005).

D. Anatomi Payudara
Payudara pada pria dan wanita adalah sama sampai masa pubertas
(11-13 tahun) karena hormon estrogen dan hormon lainnya mempengaruhi
perkembangan payudara pada wanita. Pada wanita perkembangan
payudara aktif, sedangkan pada pria kelenjar dan duktus mamae kurang
berkembang dan sinus berkembang tidak sempurna. Payudara yang
sensitif terhadap pengaruh hormonal mengakibatkan payudara cenderung
mengalami pertumbuhan neoplastik baik yang bersifat jinak maupun ganas
(Abdulmuthalib, 2006).
Payudara merupakan bagian dari organ reproduksi yang fungsi
utamanya menyekresi susu untuk nutrisi bayi. Payudara terdiri dari
jaringan duktural, fibrosa yang mengikat lobus-lobus, dan jaringan lemak
di dalam dan diantara lobus-lobus. 85% jaringan payudara terdiri dari
lemak. Sedikit di bawah pusat payudara dewasa terdapat puting (papila
mamae), tonjolan yang berpigmen dikelilingi oleh areola. Puting dan
areola biasanya mempunyai warna dan tekstur yang berbeda dari kulit
disekitarnya. Warnanya bermacam-macam dari yang merah muda, pucat,
sampai hitam gelap selama masa kehamilan dan menyusui
(Abdulmuthalib, 2006)
Kanker payudara dapat terjadi dibagian mana saja dalam payudara,
tetapi mayoritas terjadi pada kuadran atas terluar dimana sebagian besar
jaringan payudara terdapat. Dalam menentukan lokasi kanker payudara,
payudara dibagi menjadi empat kuadran, yaitu kuadran lateral (pinggir
atas), lateral bawah, medial (tengahatas), dan median bawah
(Abdulmuthalib, 2006)
Gambar 2.3. Anatomi payudara dan kuadran letak kanker payudara (Abdulmuthalib, 2006)
E. Stadium
Pembagian stadium menurut Portmann yang disesuaikan dengan
aplikasi klinik yaitu:
a. Stadium I : Tumor terbatas dalam payudara, bebas dari jaringan
sekitarnya, tidak ada fiksasi/infiltrasi ke kulit dan jaringan yang di
bawahnya (otot). Besar tumor 1 - 2 cm dan tidak dapat terdeteksi dari
luar. Kelenjar getah bening regional belum teraba. Perawatan yang
sangat sistematis diberikan tujuannya adalah agar sel kanker tidak
dapat menyebar dan tidak berlanjut pada stadium selanjutnya. Pada
stadium ini, kemungkinan penyembuhan pada penderita adalah 70%.
b. Stadium II : Tumor terbebas dalam payudara, besar tumor 2,5 - 5 cm,
sudah ada satu atau beberapa kelenjar getah bening aksila yang masih
bebas dengan diameter kurang dari 2 cm. Untuk mengangkat sel-sel
kanker biasanya dilakukan operasi dan setelah operasi dilakukan
penyinaran untuk memastikan tidak ada lagi sel-sel kanker yang
tertinggal. Pada stadium ini, kemungkinan sembuh penderita adalah
30 - 40 %.
c. Stadium III A : Tumor sudah meluas dalam payudara, besar tumor 5 -
10 cm, tapi masih bebas di jaringan sekitarnya, kelenjar getah bening
aksila masih bebas satu sama lain. Menurut data dari Depkes, 87%
kanker payudara ditemukan pada stadium ini.
d. Stadium III B : Tumor melekat pada kulit atau dinding dada, kulit
merah dan ada edema (lebih dari sepertiga permukaan kulit payudara),
ulserasi, kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain atau ke
jaringan sekitarnya dengan diameter 2 - 5 cm. Kanker sudah menyebar
ke seluruh bagian payudara, bahkan mencapai kulit, dinding dada,
tulang rusuk dan otot dada.
e. Stadium IV : Tumor seperti pada yang lain (stadium I, II, dan III).
Tapi sudah disertai dengan kelenjar getah bening aksila supra-
klavikula dan Metastasis jauh. Sel-sel kanker sudah merembet
menyerang bagian tubuh lainnya, biasanya tulang, paru-paru, hati,
otak, kulit, kelenjar limfa yang ada di dalam batang leher. Tindakan
yang harus dilakukan adalah pengangkatan payudara. Tujuan
pengobatan pada stadium ini adalah palliatif bukan lagi kuratif
(menyembuhkan) (Moningkey, 2000).
F. Diagnosis
1. Anamnesis
a) Gejala yang timbul
1) Massa pada payudara
2) Nyeri pada payudara
3) Discharge pada puting payudara
4) Retraksi kulit pada puting payudara
5) Massa atau nyeti padaketiak
6) Bengkak pada lengan tangan
7) Gejala yang mungkin timbul pada metastasis
8) Kecurigaan yang ditemukan pada saat pemeriksaan rutin
mamografi
b) Riwayat penyakit pada payudara
c) Riwayat penyakit keluarga dengan kanker payudara atau kanker
gunekologi lain
d) Riwayat reproduksi:
1) Usia menstruasi pertama
2) Usia saat melahirkan pertama kali
3) Jumlah riwayat mengandung, jumlah anak, dan riwayat
keguguran
4) Riwayat hormonal termasuk pil kontrasepsi (tipe dan durasi)
dan terapi pengganti hormonal (tipe dan durasi)
e) Riwayat penyakit dahulu (WHO, 2006).
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan:
a) Performa pasien
b) Berat badan, tinggi badan, dan area permukaan
c) Pemeriksaan umum dari sistem yang lain
d) Pemeriksaan status lokalis:
1) Massa pada payudara
- Ukuran
- Lokasi (spesifik arah jarum jam dan jarak dari tepi areola)
- Bentuk
- Konsistensi
- Fiksasi terhadap kulit, otot pectoral, dan dinding dada
- Jumlah
2) Perubahan pada kulit
- Eritema (lokasi dan ekstensi)
- Edem (lokasi dan ekstensi)
- Cekungan
- Infiltrasi
- Ulserasi
- Nodul satelit
3) Perubahan pada puting payudara
- Retraksi
- Eritema
- Erosi dan ulserasi
- Discharge
4) Status pada nodul
- Bejolan pada ketiak (jumlah, ukuran, lokasi)
- Benjolan pada supraklavikula
5) Pemeriksaan lokal pada daerah metastasis (WHO, 2006).
3. Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan darah lengkap, fungsi ginjal, dan fungsi hati
b) Mamografi bilateral
Pemeriksaan dengan metode radiologis sinar x yang diradiasikan
pada payudara. Kelebihan mammografi adalah kemampuannya
mendeteksi tumor yang belum teraba (radius 0,5 cm) sekalipun
masih dalam stadium dini. Waktu yang tepat untuk melakukan
mammografi pada wanita usia produktif adalah hari ke 1-14 dari
siklus haid. Pada perempuan usia nonproduktif dianjurkan untuk
kapan saja. Ketepatan pemeriksaan ini berbeda-beda berkisar
antara 83%-95%.
c) USG
Metode ini dapat membedakan lesi/tumor yang solid dan kistik,
dan hanya dapat membuat diagnosis dugaan berdasarkan
pemantulan gelombang suara.
d) Scintimamografi
Teknik pemeriksaan radionuklir dengan menggunakan radioisotop.

Diagnosis pasti hanya ditegakan dengan pemeriksaan


histopatologis. Bahan pemeriksaan dapat diambil dengan berbagai
cara, yaitu:

a) Biopsi aspirasi (fine needle biopsy)


b) Needle core biopsy dengan jarum Silverman (WHO, 2006).
G. Patofisiologi
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang
disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi menurut
Brunner (2002):
a. Fase Inisiasi
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel
yang memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik
sel ini disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa
berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari.
tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu
karsinogen. kelainan genetik dalam sel atau bahan lainnya yang
disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu
karsinogen. bahkan gangguan fisik menahunpun bisa membuat sel
menjadi lebih peka untuk mengalami suatu keganasan.
b. Fase Promosi
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan
berubah menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak
akan terpengaruh oleh promosi. karena itu diperlukan beberapa faktor
untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu
karsinogen).
H. Terapi
1. Kanker Payudara Non-Invasif
a. Ductal Carsinoma Insitu (DCIS)
Dengan adanya program skrining masal terhadap payudara,
maka insiden DCIS semakin meningkat yaitu mencapai 58.000
kasus akan didiagnosis pada tahun 2006 dan akan terus meningkat.
DCIS adalah suatu keadaan dimana sel -kanker (yang berasal dari
epitelium TDLU) belum menembus membrana basalis, atau jika
telah menembus mikroskopis tidak mencapai 1 mm. Terdapat
subtipe comedo, solid, cibriform, micropapillary, dan papillary.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan terapi DCIS adalah
adanya lesi multifokal dan multisentris (Manuaba, 2010).
Prognostic score berdasarkan pada van nuys prognostic index
(2003, silverstein) berdasarkan ukuran tumor, margin eksisi, umur
penderita, dan klasifikasi patologi. Beberapa terapi untuk DCIS
yaitu (Manuaba, 2010):
1) Mastectomy simple (tidak dilakukan eksisi aksila) : adapun
rasional untuk melakukan mastektomi adalah adanya
pertimbangan multifokalitas dan multisentrisitas ataupun
kalsifikasi yang difus pada mamografi. Hal ini terlihat pada
mamografi. Mastektomi juga sebaiknya dilakukan pada tumor
dengan diameter > 4 cm, dan grading histologis yang tinggi.
2) Breast Corserving Therapy/ Surgery (BCT/BCS): termasuk
BCT adalah segmental mastectomy, lumpectomy, tylectomy,
wide local excision dengan atau tanpa diseksi aksila. Pasien
dengan BCT akan menjalani radioterapi adjuvant baik pada
seluruh payudara yang terkena dengan booster pada lapang
pembedahan. Pada non palpable DCIS, untuk melakukan
BCS/BCT diperlukan lokalisasi lesi atau tumor dengan jarum
(Kopan’s wirea) dan identifikasi jaringan yang diangkat
(dengan x ray) apakah sudah tepat.
Syarat untuk BCS/BCT:
a) Informed concent
b) Dapat dilakukan follow up yang teratur
c) Tumor sebaiknya di perifer (tumor letak sentral perlu
pembedahan yang khusus)
d) Besar tumor proporsional dengan besarnya payudara. Jika
tidak harus dilakukan rekonstruksi langsung untuk
mencapai kosmetik yang baik.
e) Tumor tidak multifokal atau multisentris (mamografi, MRI)
f) Pasien belum pernah mendapat redioterapi di dada dan
tidak menderita penyakit kolagen.
g) Terdapat sarana dan fasilitas yang baik untuk pemeriksaan
patologi (konvensional dan pengecatan imunohistokimia),
dan radioterapi yang baik.
Terapi Adjuvant
Terapi adjuvant hanya diberikan pada pasien dengan resiko tinggi
terjadi rekurensi, antara lain usia muda (< 35 tahun), reseptor
hormon negatif, HER2 overekspresi, metastasis KGB aksila (St.
Gallen 20099)
Radioterapi diberika pada pasien dengan BCS/BCT, kecuali
dengan petimbangan khusus - diameter <1cm, margin bedah
yang cukup dan grade yang rendah. Terapi hormonal diberikan
pada pasien dengan ER dan atau PR positif, tanpa riwayat
gangguan tromboembolism.
b. Lobular Carcinoma Insitu (LCIS)
Diagnosis seringkali insidental, biasanya nonpalpable, lebih
sering pada wanita premenopause. Adanya LCIS ini dianggap
sebagai faktor resiko untuk terjadinya invasif karsinoma.
Penemuan dari Alpino (2004) adanya LCIS syncronous dengan
invasif karsinoma sebanyak 0 - 10% dan 0 - 50% synchronous
bersama dengan DCIS maka terapi yang dianjurkan adalah eksisi
dari tumor dan follow up yang baik (Manuaba, 2010).
Terapi adjuvant pada LCIS adalah pemberian tamoxiven
yang menurunkan resiko terjadinya invasif sampai 56%.
Pemberian radioterapi masih belum jelas (Manuaba, 2010).
Surveillance marupakan hal penting pada LCIS antara lain
pemeriksaan fisik (MD Anderson, 2006) setiap 6 bulan sampai 1
tahun dan mamografi.
2. Kanker Payudara Invasif
Karsinoma mamma invasif adalah karsinoma dari epitel mamma yang
telah infiltratif keluar dan menembus membrana basalis duktal.
Adanya infiltrasi keluar membrana basalis duktal menunjukkan
bahwa karsinoma invasif mempunyai kemampuan untuk terus
melakukan infiltrasi jaringan sekitar dan bermetastasis pada kelenjar
getah bening regional maupun bermetastasis ke organ jauh (Manuaba,
2010).
Pada umumnya termasuk pada karsinoma invasif adalah
karsinoma mama familial dengan adanya mutasi pada gen BRCA1 dan
BRCA2 (Manuaba, 2010).
Terapi bedah stadium dini (T1,T2,N0,N1).
- BCS/BCT: biasanya dilakukan dengan tumor yang relatif kecil
<3 cm dengan tanpa pembesaran KGB. BCS/BCT dapat dilakukan
dengan atau tanpa iseksi KGB aksila, tergantung pada klinis, USG
ataupun dengan teknik lympatic mapping dan sentinel lymph node
byopsi jika mempunyai fasilitas (Manuaba, 2010).
a. Mastektomi radikal modifikasi (Patey/Maaden dan Uchincloss):
dipertimbangkan jika tumor besar, adanya faktor resiko yang tinggi
untuk rekurensi seperti usia muda, high nuclear grade, comedo
type necrosis, margin positif, DNA aneuploidy (Manuaba, 2010).
b. Rekonstruksi bedah: dapat dipertimbangkan pada senter yang
mampu ataupun ahli bedah yang mempunyai kemampuan
rekonstruksi pembedahan payudara tanpa mengorbankan prinsip
bedah onkologi. Rekonstruksi pada bedah onkologi dapat
dikerjakan oleh ahli bedah plastik, ahli bedah onkologi atau ahli
bedah umum yang kompeten (Manuaba, 2010).

Terapi Adjuvant:
- Radioterapi adjuvant diberikan pada BCS/BCT, baik diberikan
pada seluruh payudara ataupun hanya pada area pembedahan (on
going trial).
- Pemberian terapi sistemik adjuvant bersifat individual dan
dibedakan berdasarkan status KGB, umur, ukuran tumor primer,
performance status, ekspresi onkogen HER2/NE2, status dari
steroid reseptor (ER/PR) dan grade nuklear (Manuaba, 2010).

Karsinoma Payudara Lanjut Lokal (karsinoma mama stadium III (IIIa,


IIIb, IIIc).
Presentasi atau insiden LABC di indonesia masih cukup tinggi dan
bervariasidari daerah yang berbeda. Biasanya berkisar antara 40 - 80%.
Yang termasuk pada LABC adalah T3 dengan N2 dan atau N3 (Manuaba,
2010).
1) Pembedahan
Peran modalitas bedah pada LABC adalah terbatas, terutama pada
stadium IIIa dan pada bebrapa penelitian, pemberian neoadjuvant
systemic therapy pada stadium ini pun perlu dipertimbangkan.
Pembedahan yang dianjurkan adalah mastektomi radikal modifikasi
ataupun dengan mastektomi radikal standar (Manuaba, 2010).
2) Terapi neoadjuvant (sistemik): adalah pemberian modalitas terapi lain
selain bedah dengan tujuan untuk mengeradikasi mikrometastasis
yang diasumsikan telah ada pada saat diagnosis karsinoma payudara
ditegakkan (Manuaba, 2010).
Dengan demikian diharapkan terapi neoadjuvan (sistemik) secara
teknis memudahkan pembedahan dan pada beberapa laporan dapat
dilakukan pembedahan konservasi payudara (BCS/BCT).
Beberapa obat yang dapat diberikan pada terapi neoadjuvant
(sistemik) adalah kemoterapi A.C (adriamycin, cyclophosphamide),
CAF (cyclophosphamide, adriamycin, 5 Fluoro Uracil) /CEF
(cyclophosphamide, epirubicin, 5 Fluoro Uracil), T-A (taxanes-
doxorubicin), sedangkan terapi hormonal hanya diberikan pada
ER/PR+ dan obat yang diberikan adalah golongan Ais (Aromatase
inhibitors) (Manuaba, 2010).

Karsinoma Payudara Inflamatoir (IBC)


Tipe karsinoma payudara di atas oleh beberapa pengarang
dimasukkan dalam tipe LABC, tetapi penelitian dan hasil terapi
menunjukkan bahwa IBC merupakan karsinoma mamma yang agresif dan
mempunyai prognosis lebih buruk. Terapi pada umumnya neoadjuvant
chemotherapy, surgery or radiation therapy, dan adjuvant chemotherapy.
Komponen terapi pada bedah IBC memberikan kontrol loko-regional yang
lebih baik dibandingkan radioterapi saja (Manuaba, 2010).

Karsinoma Payudara Bermetastasis


Pada stadium ini terapi bedah bukan merupakan pilihan lagi.
Pemberian terapi sistemik baik kemoterapi maupun terapi hormonal
menjadi pilihan utama (Manuaba, 2010).
Kemoterapi terapeutik merupakan pilihan utama pada viseral
metastasis (life threatening metastasis), agressive breast cancer (high
grade, HER2 overexspression ER/PR- P53 overekspression), umur muda.
Sebaliknya terapi hormonal diberikan pada karsinoma payudara yang
lebih indolen, ER/PR+, bone metastasis, low gradees. Peran bedah hanya
sebagai tindakan adjuvant atau paliatif, untuk mengambil sisa tumor,
menghentikan perdarahan, dengan sarat bahwa pembedahan tetap harus
memenuhi sarat pembedahan yang onkologis (Manuaba, 2010).
I. Rehabilitasi dan Follow Up
1. Rehabilitasi
a. Pra operatif:
1) Persiapan pembedahan:pemeriksaan lab, ko-morbiditas,
“imaging”
2) Evaluasi fungsi respirasi, pada usia lanjut “latihan nafas”
b. Pasca bedah:
Hari 1-2:
1) Latihan “lingkup gerak sendi” sekitar/ipsilateral daerah operasi
(sendi siku, bahu secara bertahap)
2) Latihan relaksasi otot leher dan thorak
3) Aktif mobilisasi
Hari 3-5
1) Latihan gerak lengan bahu ipsilateral operasi lebih bebas
2) Latihan relaksasi
3) Bebas gerakan
4) Edukasi untuk tetap mempertahankan “lingkup gerak sendi”
dengan berlatih secara teratur
5) Edukasi untuk menjaga agar lengan ipsilateral pembedahan
untuk tetap sehat, tidak dipasang infus (mencegah
trombophlebitis) dan untuk mencegah terjadinya lymphedema
lengan (Manuaba, 2010).
2. Follow Up
Sebagian besar rekurensi (>50%) biasanya terjadi dalam 2 tahun
sesudah pembedahan, tetapi rekurensi bisa terjadi sampai dengan 20
tahun pasca bedah. Follow up ditunjukan untuk menemukan rekuransi
dini. Beberapa senter di Indonesia menganjurkan interval kontrol
sebagai berikut (Manuaba, 2010):
Tahun 1 dan 2 : kontrol setiap 2 bulan.
Tahun 3 s/d 5 : kontrol setiap 3 bulan
Tahun > 5 : kontrol setiap 6 bulan
Atau
6 bulan pertama : kontrol setiap 1 bulan
6 bulan s/d 3 tahun : kontrol setiap 3 bulan
> 3 tahun s/d 5 tahun : kontrol setiap 6 bulan
> 5 tahun : kontrol setiap tahun
Pemeriksaan meliputi (Manuaba, 2010):
a. SADARI setiap bulan
b. Pemeriksaan fisik oleh dokter
c. Pemeriksaan imaging:
Mamografi setiap 6 bulan selama 3 tahun pertama
Torack foto setiap 6 bulan selama 3 tahun pertama
USG liver setiap 6 bulan selama 3 tahun pertama
Bone scan setiap 2 tahun, kecuali jika ada indikasi
d. Tumor marker CA 15-3: setiap 2-3 bulan, terutama jika hasil awal
tinggi, dan menurun setelah pengobatan ( monitoring rekurensi)
III. KESIMPULAN

Pengobatan kanker payudara biasanya meliputi pembedahan/operasi,


radioterapi/penyinaran, kemoterapi, dan terapi hormonal. Pembedahan terdiri dari
Mastektomi radikal (lumpektomi), Mastektomi total (mastektomi), Modified
Mastektomi radikal, dan BCS (Breast Conserving Surgery). Radioterapi
merupakan proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan
menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker
yang masih tersisa di payudara setelah operasi. Terapi hormonal terutama
diberikan kepada penderita kanker payudara dengan reseptor hormonal (streroid
receptor) yang positif, terutama ER (estrogen receptor) dan PR (progesterone
receptor) yang positif.
DAFTAR PUSTAKA

Abdulmuthalib. (2006). Prinsip dasar terapi sistemik pada kanker, dalam


Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M.K., & Setiati, S.
(2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. (3rd Ed.). (hlm 1879-1881).
Jakarta: Pusat Penerbit Departemen Penyakit Dalam FKUI
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta : EGC
Depkes RI. 2009. Buku Saku Pencegahan Kanker Leher Rahim dan Kanker
Payudara. Jakarta: Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular
Direktorat PP dan PL, Departemen Kesehatan RI
De jong, Syamsuhadi. 2005. Ilmu Bedah. EGC: Jakarta
Karsono, B. 2006. Teknik-Teknik Biologi Molekular Dan Selular Pada Kanker.
Dalam Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M.K., &
Setiati, S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam . (3rd Ed.). Jakarta:
Pusat Penerbit Departemen Penyakit Dalam FKUI
Manuaba, Tjakra Wibawa. 2010. Panduan Penatalaksanaan Kanker Solid. Jakarta
: Sagung Seto.
Moningkey dan Shirley I. 2000. Epidemiologi Kanker Payudara . Jakarta: Medika
WHO. 2006. Guidelines for management of breast cancer. Eastern Mediterranean:
WHO Library Cataloguing in Publication Data