Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

FITOKIMIA
PERCOBAAN KE III

ISOLASI FLAVONOID DARI TEMU KUNCI (Boesenbergia pandurta)

DISUSUN OLEH

Nama : Annisaa Dwinur Hasanah

NIM : 1606067005

Gol/Kel. : A/1

Tanggal : 30 April 2018

Dosen : Dian Ratna Rianti, M.Sc., Apt

LABORATORIUM FITOKIMIA

AKADEMI FARMASI INDONESIA YOGYAKARTA

2018
HALAMAN PENGESAHAN DAN PERNYATAAN

Laporan Praktikum Fitokimia Percobaan Ke III dengan Judul Isolasi Flavonoid dari Temu
Kunci (Boesenbergia pandurata) adalah benar dan sesuai dengan hasil praktikum yang telah
dilaksanakan. Laporan ini saya susun sendiri berdasarkan data hasil praktikum yang telah
dilakukan.

Yogyakarta, 21 Mei 2018

Dosen Pembimbing, Mahasiswa,

Dian Ratna Rianti, M.Sc., Apt Annisaa Dwinur Hasanah

Data Laporan
Hari, Tanggal Praktikum Hari, Tanggal Pengumpulan Laporan
Senin, 30 April 2018 Senin, 21 Mei 2018

Nilai Laporan
No Aspek Penilaian Nilai
1. Ketepatan waktu pengumpulan (10)
2. Kesesuaian laporan dengan format (5)
3. Kelengkapan dasar teori (15)
4. Skematika kerja (10)
5. Penyajian hasil (15)
6. Pembahasan (20)
7. Kesimpulan (10)
8. Penulisan daftar pustaka (5)
Uplod data via blog/wordpress/scribd/academia.edu
9.
(10)
TOTAL
PERCOBAAN III. ISOLASI FLAVONOID DARI
TEMU KUNCI (Boesenbergia pandurata)

I. Tujuan Praktikum
Mahasiswa mengetahui langkah – langkah isolasi, mampu melakukan isolasi
pinostrobin dari temu kunci dan mengidentifikasi isolat yang diperoleh.

II. Dasar Teori


A. Maserasi
Secara harfiah berarti merendam. Metode ini merupakan metode yang paling
sederhana. Tidak ada batas pelarut dalam metode ini. Catatan jika menggunakan metode
ini, simplisia dibasahkan terlebih dahulu, jika tidak di khawatirkan aka nada simplisia
yang tidak teraliri pelarut. Proses maserasi sendiri dilakukan secara berulang dengan
memisahkan cairan perendam dengan cara penyaringan, dekantir atau diperas,
selanjutnya ditambahkan lagi penyari segar kedalam ampas sehingga warna rendaman
sama dengan warna pelarut.
B. Flavonoid
Senyawa flavonoid adalah senyawa yang mengandung C5 terdiri atas dua inti
fenolat yang dihubungkan dengan tiga satuan carbon. Cincin A memiliki karakteristik
bentuk hidroksilasi florogusinol atau resorsinol, dan cincin B biasanya 4-, 3,4- atau 3,5,4-
terhidroksilasi (Sastrohamidjojo, 2001)
Struktur dasar flavonoid C6-C3-C6:

C. Kromatografi
Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan tertentu.
Pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fase yaitu fasa tetap
(stationary) dan fasa gerak (mobile), pemisahan tergantung pada gerakan relatif dari dua
fasa tersebut. Cara-cara kromatografi dapat digolongkan sesuai dengan sifat-sifat dari
fasa tetap, yang dapat berupa zat padat atau zat cair. Jika fasa tetap berupa zat padat maka
cara tersebut dikenal sebagai kromatografi serapan, jika zat cair dikenal sebagai
kromatografi partisi. Karena fasa bergerak dapat berupa zat cair atau gas maka semua
ada empat macam sistem kromatografi yaitu kromatografi serapan yang terdiri dari
kromatografi lapis tipis dan kromatografi penukar ion, kromatografi padat, kromatografi
partisi dan kromatografi gas-cair serta kromatografi kolom kapiler (Hostettmann,dkk,
1995)
Kromatografi lapisan tipis digunakan pada pemisahan zat secara cepat, dengan
menggunakan zat penyerap berupa serbuk halus yang dilapiskan serba rata pada lempeng
kaca. Lempeng yang dilapisi dapat dianggap sebagai kolom kromatografi terbuka dan
pemisahan didasarkan pada penyerapan, pembagian atau gabungannya, tergantung dari
jenis zat penyerapnya dan cara pembuatan lapisan zat penyerap dan jenis pelarut.
Kromatografi lapisan tipis dengan menyerap penukar ion dapat digunakan untuk
pemisahan senyawa polar. Harga Rf yang diperoleh pada kromatografi lapisan tipis tidak
tetap jika dibandingkan dengan yang diperoleh pada kromatografi kertas. Karena itu pada
lempeng yang sama disamping kromatogram dari zat yang diperiksa perlu dibuat
kromatogram dari zat pembanding kimia, lebih baik dengan kadar yang berbeda-beda
(Depkes RI, 1980)
hRf : adalah pembanding jarak perambatan suatu zat terhadap jarak perambatan fase
gerak dihitung dari titik penutulan (penetesan) larutan, dikalikan dengan angka
100. hRf yang dinyatakan dengan dua bilangan menunjukan lebar bercak yang
bersangkutan.
hRx : adalah perbandingan jarak perambatan suatu zat dengan jarak perambatan zat
warna dihitung dari titik penutulan (penetesan) larutan, dikalikan dengan angka
100. hRx yang dinyatakan dengan dua bilangan menunjukan lebar bercak yang
bersangkutan.

D. Temu kunci
Nama tanaman asal : Boesenbergia pandurate
Famili : Zingiberaceae
Zat berkhasiat : mminyak atsiri, damar, pati
Pemerian : bau khas aromatik, rasa agak pahit menimbulkan rasa agak tebal
Temu kunci adalah (Boesenbergia pandurata) adalah sejenis rempah-rempah yang
rimpangnya dipakai sebagai bumbu dalam masakan Asia Tenggara. Bentuk temu kunci
agak berbeda dengan temu-temuan yang lain karena tumbuhnya yang vertikal kebawah.
Tumbuhan ini dapat ditemukan di hutan lebat hingga ketinggian 1000 meter dan
penyebarannya dari Yunan ke selatan hingga Indonesia dan ke barat hingga India dan
Sri Lanka, namun umumnya dibudidayakan di Indocina. Di Thailand temu ini dikenal
dengan nama krochai, sementara pustaka Inggris menyebut fingerroot atau Chinese
ginger. Menurut penelitian, rimpang atau temu kunci berkhasiat untuk mengatasi
gangguan pencernaan dan daunnya diketahui memiliki efek antiracun.
III. Alat dan Bahan
Alat
1. Seperangkat alat maserasi
2. Seperangkat alat KLT
3. Beaker glass
4. Stirrer
5. Rotavapour
6. Cawan porselin
Bahan
1. Simplisia temu kunci (Boesenbergia pandurata)
2. Etanol
3. Etil asetat
4. Heksan
5. Standar pinostrobin

IV. Skematika Kerja


1. Ekstraksi
Serbuk temu kunci
20 ml etanol
Diaduk 1 jam dengan stirrer

Campuran

Disaring

Hasil saringan

Diuapkan dengan
rotavapour

Ekstrak
2. Isolasi dengan KLT Preparatif

Ekstrk kental
Ditotolkan 10x
Pengembang etil asetat : heksan (1:4)

Plat Silika GF 254

Bercak

Ditandai, dikerok
Dilarutkan etanol
Diuapkan 1 minggu

Kristal padatan

3. Identifikasi

Padatan/sampel
Larutkan etanol
Dianalisis kualitatif

Preparasi KLT
Fase diam Silika Gel GF 254
Fase gerak etil asetat : heksan (1:4)
Sampel dan pembanding temu kunci dan pinostrobin
KLT

Deteksi pada UV 366

Hitung harga Rf
V. Hasil
Nama simplisia : Temu Kunci (boesenbergia pandurata)
Metode ekstraksi : maserasi
Jumlah pelarut : 200 ml
Pemerian ekstrak
Aroma : aromatic
Warna : coklat kekuningan
Bentuk : ekstrak kental
Pengamatan kromatografi
Fase diam : silica gel GF 254
Fase gerak : etil asetat : heksan = 1:4
Pembanding : Pinostrobin
Deteksi : UV 366
Rendemen
Berat serbuk : 5 gram
Berat ekstrak : 3,409 gram
3,409 𝑔𝑟𝑎𝑚
Rendemen : × 100% = 68,18 %
5 𝑔𝑟𝑎𝑚

Deteksi UV 366

A = Pembanding (Pinostrobin)
8 cm

B = Sampel (Ekstrak Temu Kunci)


5,7 cm

5,8 cm

A B

5,8
Harga Rf = = 0,6823
8

Harga HRf = 0,6823 X 100 = 68,23


VI. Pembahasan
Pada praktikum fitokimia percobaan 3 ini bertujuan untuk melakukan isolasi
pinostrobin dari temu kunci dan mengidentifikasi isolat yang diperoleh. Metode ekstraksi
yang dilakukan pada praktikum ini yaitu metode maserasi. Metode identifikasi zat aktif yang
digunakan adalah metode kromatografi lapis tipis yang sebelumnya dilakukan isolasi terlebih
dahulu dengan KLT preparative.
Temu kunci(Boesenbergia pandurata) merupakan tanaman obat tradisional yang biasa
digunakan masyarakat sebagai obat nyeri, obat peluruh dahak, obat cacing, dan penambah
nafsu makan. Temu kunci mudah didapatkan dengan harga yang murah dan mudah
dikembangbiakan. Temu kunci termasuk dalam family Zingiberaceae yang memiliki
senyawa antioksidan. Ekstrak rimpang temu kunci diketahui memiliki kandungan utama
senyawa flavonoid dan minyak atsiri. Isolasi dan karakterisasi senyawa flavonoid dari temu
kunci berhasil memperoleh lima senyawa yaitu senyawa flavonoid pinostrobin, pinocebrim,
alpinetin dan dua senyawa kalkon yaitu kardamonin dan pandurita (Frindryani & Atun,
2016).
Flavonoid adalah senyawa fenol alam yang terdapat dalam hamper semua tumbuhan.
Sejumlah tanaman obat yang mengandung flavonoid memiliki aktivitas antioksidan,
antibakteri, antivirus, antiradang, antialergi dan antikanker. Flavonoid terdapat pada semua
bagian tumbuhan termasuk daun akar kayu, kulit tepung sari, nectar, bunga, buah dan biji
(Neldawati, et al., 2013). Golongan flavonoid digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-
C6, artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzene) disambungkan
oleh rantai alifatik tiga karbon (Sjahid, 2008).
Maserasi merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana. Bahan simplisia yang
dihaluskan sesuai dengan syarat farmakope (umumnya dipotong-potong atau berupa serbuk
kasar) disatukan dengan bahan pengekstraksi. Selanjutnya rendaman disimpan terlindung
dari cahaya langsung dan kocok kembali (Sjahid, 2008). Dalam praktikum ini, serbuk temu
kunci sebanyak 5 gram ditambahkan 200 ml etanol. Campuran diaduk selama 1 jam
menggunakan stirrer lalu disaring. Hasil saringan kemudian diuapkan menggunakan
rotavapour dan diperoleh ekstrak kental.
Isolasi dilakukan dengan KLT preparative. KLT preparative merupakan proses isolasi
yang terjadi berdasarkan perbedaan daya serap dan daya partisi serta kelarutan dan
komponen-komponen kimia yang akan bergerak mengikuti kepolaran eluen oleh karena daya
serap absorben terhadap komponen kimia tidak sama, maka komponen bergerak dengan
kecepatan yang berbeda sehingga hal inilah yang menyebabkan pemisahan (Rahman, 2016).
Ekstrak kental ditotolkan pada plat silica GF 254 dengan pengembang etil
asetat:heksan(1:4). Bercak yang timbul kemudian dikerok lalu dilarutkan menggunakan
etanol. Larutan didiamkan agar menguap sampai diperoleh padatan zat.
Identifikasi zat aktif dilakukan dengan kromatografi lapis tipis. Padatan zat yang
diperoleh dari isolasi dilarutkan etanol. Larutan kemudian ditotolkan ke silica gel GF 254
dan dianalisa secara kualitatif dengan menggunakan fase gerak etil asetat:heksan (1:4). Harga
Rf yang diperoleh adalah 0,6823 dan harga HRf adalah 68,23. Hasil rendemen ekstrak
sebesar 68,18%.

VII. Kesimpulan
Dari hasil praktikum ini, diperoleh kesimpulan bahwa ekstrak simplisia daun temu
kunci mengandung zat aktif flavonoid. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Harga
Rf sampel sebesar 0,6823 dengan HRf 68,23. Hasil rendemen sebesar 68,18%.

VIII. Daftar Pustaka


Depkes RI, 1980. Materia Medika Jilid IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Frindryani, L. F. & Atun, S., 2016. Isolasi Dan Uji Aktivitas Antioksidan Senyawa Dalam
Ekstrak Etanol Temu Kunci Dengan Metode DPPH. Jurnal Kimia Dasar, Volume
5 No.6.

Hostettmann,dkk, 1995. Cara Kromatografi Preparatif. Bandung: Penerbit ITB.

Neldawati, Ratnawulan & Gusnedi, 2013. Analisis Nilai Absorbansi Dalam Penentuan Kadar
Flavonoid Untuk Berbagai Jenis Daun Tanaman Obat. Pillar Of Physics, Volume
2, pp. 76-83.

Rahman, I., 2016. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif Fraksi Aktif. [Online]
Available at: http://irmarahman86.blogspot.co.id/2016/04/kromatografi-lapis-
tipis-preparatif.html
[Accessed 21 May 2018].

Sastrohamidjojo, H., 2001. Kromatografi. Yogyakarta: Liberty.

Sjahid, L. R., 2008. Isolasi dan Identifikasi Flavonoid dari Daun Dewandaru (Eugenia
uniflora L.), Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.