Anda di halaman 1dari 93

MENTERI PERHUBUNGAN

REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR KP 629 TAHUN 2017
TENTANG
RENCANA INDUK PELABUHAN CIREBON
PROVINSI JAWA BARAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun


2008 tentang Pelayaran dan Peraturan Pemerintah Nomor
61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64
Tahun 2015, setiap pelabuhan wajib memiliki Rencana
Induk Pelabuhan;
b. bahwa Rencana Induk Pelabuhan untuk pelabuhan
utama dan pelabuhan pengumpul ditetapkan oleh
Menteri Perhubungan setelah terlebih dahulu mendapat
rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota
mengenai kesesuaian dengan tata ruang wilayah provinsi
dan kabupaten/kota;
c. bahwa Rencana Induk Pelabuhan Cirebon Provinsi Jawa
Barat disusun dengan memperhatikan Rencana Induk
Pelabuhan Nasional, rencana tata ruang wilayah Provinsi
Jawa Barat, rencana tata ruang wilayah Kota Cirebon,
keserasian dan keseimbangan dengan kegiatan lain
terkait di lokasi pelabuhan Cirebon, kelayakan teknis,
ekonomis, dan lingkungan serta keamanan dan
keselamatan lalu lintas kapal;
d. bahwa ...
- 2 -

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana


dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu
menetapkan Keputusan Menteri Perhubungan tentang
Rencana Induk Pelabuhan Cirebon Provinsi Jawa Barat;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan


Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4725);
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4849);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5059);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana
telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9
Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5679);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang
Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5070) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun
2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah
Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 193, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5731);

6. Peraturan ...
-3-

6. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang


Kenavigasian (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2010 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5093);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang
Angkutan di Perairan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 26, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5108) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 22
Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di
Perairan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2011 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5208);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2010 tentang
Perlindungan Lingkungan Maritim (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 27, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5109);
9. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang
Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8);
10. Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2015 tentang
Kementerian Perhubungan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 75);
11. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 31 Tahun
2006 tentang Pedoman dan Proses Perencanaan
di Lingkungan Departemen Perhubungan;
12. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 36 Tahun
2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor
Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor PM 135 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 36 Tahun
2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor
Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1401);

13. Peraturan ...


-4-

13. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 51 Tahun


2015 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 311)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Perhubungan Nomor PM 146 Tahun 2016 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
PM 51 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan
Laut (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016
Nomor 1867);
14. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 189 Tahun
2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Perhubungan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 1844) sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 44 Tahun
2017 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri
Perhubungan Nomor PM 189 Tahun 2015 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor
816);
15. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 129 Tahun
2016 tentang Alur-Pelayaran di Laut dan Bangunan
dan/atau Instalasi di Perairan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2016 Nomor 1573);
16. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 432 Tahun
2017 tentang Rencana Induk Pelabuhan Nasional;

Memperhatikan: 1. surat Walikota Cirebon Nomor 550/ 1307-Bappeda


tanggal 25 Agustus 2016 perihal Rekomendasi Rencana
Induk Pelabuhan (RIP);
2. surat Gubernur Jawa Barat Nomor 552.3/6179/DISHUB
tanggal 30 Desember 2016 perihal Rekomendasi Rencana
Induk Pelabuhan Cirebon;

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN TENTANG RENCANA
INDUK PELABUHAN CIREBON PROVINSI JAWA BARAT.

PERTAMA: ..
-5-

PERTAMA : Menetapkan Rencana Induk Pelabuhan Cirebon, Provinsi Jawa


Barat, sebagai pedoman dalam pembangunan, pengoperasian,
pengembangan pelabuhan dan penentuan batas-batas Daerah
Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan
(DLKp) Pelabuhan Cirebon.

KEDUA : Untuk menyelenggarakan kegiatan kepelabuhanan pada


Pelabuhan Cirebon yang meliputi pelayanan jasa
kepelabuhanan, pelaksanaan kegiatan ekonomi dan
pemerintahan lainnya, serta pengembangannya sesuai
Rencana Induk Pelabuhan Cirebon, dibutuhkan areal daratan
seluas 166,52 Ha dan areal perairan seluas 9.216,79 Ha,
meliputi:
a. areal daratan eksisting Pelabuhan Cirebon seluas 51 Ha:
b. areal perairan Pelabuhan Cirebon, terdiri atas:
1. areal labuh seluas 35,70 Ha;
2. areal kolam pelabuhan seluas 17,63 Ha;
3. areal alur pelayaran seluas 699 Ha;
4. areal alih muat seluas 35,70 Ha;
5. areal keperluan darurat seluas 17,85 Ha;
6. areal pengembangan jangka panjang seluas 8.410,91
Ha.

KETIGA : Rencana pembangunan dan pengembangan fasilitas


Pelabuhan Cirebon untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
jasa kepelabuhanan dilakukan berdasarkan perkembangan
angkutan laut, sebagai berikut:
a. jangka pendek, dari Tahun 2016 sampai dengan Tahun
2020 ;
b. jangka menengah, dari Tahun 2016 sampai dengan
Tahun 2025; dan
c. jangka panjang, dari Tahun 2016 sampai dengan Tahun
2035;
dengan rincian sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan
Menteri ini.

KEEMPAT: ...
KEEMPAT : Penyelenggara Pelabuhan Cirebon menyusun dokumen desain
teknis untuk pelaksanaan pembangunan dan pengembangan
fasilitas Pelabuhan Cirebon.

KELIMA : Fasilitas Pelabuhan Cirebon yang direncanakan untuk


dibangun dan dikembangkan sebagaimana tercantum dalam
Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Keputusan Menteri ini, dilaksanakan dengan
mempertimbangkan prioritas kebutuhan dan kemampuan
pendanaan sesuai peraturan perundang-undangan dan wajib
dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan,
didahului dengan studi lingkungan.

KEENAM : Rencana penggunaan dan pemanfaatan lahan untuk


keperluan peningkatan pelayanan jasa kepelabuhanan,
pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi
lainnya serta pengembangan Pelabuhan Cirebon, dan
sekitarnya sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan
Menteri ini.

KETUJUH : Dalam hal penggunaan dan pemanfaatan lahan sebagaimana


dimaksud dalam Diktum KEENAM terdapat areal yang
dikuasai pihak lain, maka pemanfaatannya harus didasarkan
pada ketentuan peraturan perundang-undangan.

KEDELAPAN : Rencana Induk Pelabuhan Cirebon dapat ditinjau dan dikaji


ulang 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun atau sesuai
kebutuhan.

KESEMBILAN : Direktur Jenderal Perhubungan Laut melaksanakan


pembinaan dan pengawasan teknis terhadap pelaksanaan
Keputusan Menteri ini.

KESEPULUH: ...
-7-

KESEPULUH : Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 Juli 2017

MENTERI PERHUBUNGAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

BUDI KARYA SUMADI

SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada:


1. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian;
2. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman;
3. Menteri Dalam Negeri;
4. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia;
5. Menteri Perindustrian;
6. Menteri Perdagangan;
7. Menteri Badan Usaha Milik Negara;
8. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia;
9. Kepala Staf Angkatan Laut;
10. Gubernur Jawa Barat;
11. Walikota Cirebon;
12. Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal dan Direktur Jenderal
Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan;
13. Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Cirebon.

Salinan sesuai dengan aslinya


EPALA BIRO HUKUM,

k
SRI LESTARI RAHAYU
Pembina Utama Muda (IV/c)
NIP. 19620620 198903 2 001
LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN
NOMOR : KP 629 TAHUN 2017
TANGGAL : 7 JULI 2017

RENCANA INDUK PELABUHAN CIREBON


PROVINSI JAWA BARAT

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
DAFTAR ISI
BABI. PENDAHULUAN.................................................................................................................................... 1-1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................................................... 1-1
1.2 Dasar Hukum....................................................................................................................................... 1-1
1.3 Maksud Dan Tujuan.............................................................................................................................1-2
1.4 Hirarki Pelabuhan Cirebon Sesuai RIPN........................................................................................... 1-2
1.5 Lokasi Wilayah Studi............................................................................................................................1-2
BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUD I...............................................................................................11-1
11.1 Gambaran Umum Wilayah Provinsi Jawa B arat..............................................................................11-1
11.1.1 Rencana Pengembangan Dan Kebijakan W ilayah.................................................................. 11-1
11.2 Gambaran Umum Wilayah Kota Cirebon........................................................................................ 11-1
11.2.1 Letak dan Administratif Wilayah.............................................................................................. 11-1
11.2.2 Kondisi Fisik dan Klimatologi W ilayah..................................................................................... 11-2
11.2.3 Kondisi Kependudukan W ilayah...............................................................................................11-2
11.2.4 Kondisi Perekonomian W ilayah................................................................................................ 11-2
11.2.5 Sektor Unggulan Potensi Wilayah.......................................................................................... 11-3
11.2.6 Jaringan Transportasi Wilayah..................................................................................................11-3
11.2.7 Rencana Pengembangan Dan Kebijakan W ilayah..................................................................11-4
11.2.8 Rencana Pola Ruang Kota Cirebon........................................................................................... 11-4
BAB III. KONDISI EKSISTING PELABUHAN.............................................................................................. Ill-l
111.1 Gambaran Umum Pelabuhan........................................................................................................Ill-l
111.1.1 Status Pelabuhan....................................................................................................................Ill-l
111.1.2 Pelabuhan/Terminal Di Sekitar Lokasi Studi........................................................................... 111-2
111.1.3 Hinterland Pelabuhan............................................................................................................... 111-2
111.1.4 Kondisi Jalan Akses Dari dan KePelabuhan............................................................................. 111-2
111.1.5 Kondisi Bathymetri.....................................................................................................................111-2
111.1.6 Kondisi Topografi...................................................................................................................... 111-2
111.1.7 Kondisi Pasang Surut................................................................................................................. 111-3
111.1.8 Kondisi Arus Dan Gelombang.................................................................................................. 111-3
111.2 Fasilitas Eksisting Pelabuhan............................................................................................................. 111-4
111.2.1 Fasilitas Pokok Dan Penunjang Pelabuhan............................................................................. 111-4
111.2.2 Spesifikasi Kapal Yang Tambat Di Pelabuhan......................................................................... 111-4
111.2.3 Kedalaman Kolam Dan Alur Pelabuhan...................................................................................111-5

RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBON


Ringkasan Eksekutif

III.2.4 Data Peralatan Pelabuhan......................................................................................................... 111-5


III.3 Data Operasional Pelabuhan............................................................................................................ 111-5
111.3.1 Arus Turun Naik Penumpang.................................................................................................... 111-6
111.3.2 Arus Kunjungan Kapal................................................................................................................ 111-6
111.3.3 Trayek Kapal Penumpang Pelni Dan Perintis...........................................................................111-7
111.3.4 DataSBNP....................................................................................................................................111-7
111.3.5 Data Kinerja Operasional Pelabuhan........................................................................................111-7
BAB IV. ANALISIS PRAKIRAAN PERMINTAAN JASA ANGKUTAN LAUT................................................. IV-1
IV.l Metode Analisis................................................................................................................................. IV-1
IV.2 Analisis Perkembangan Wilayah...................................................................................................... IV-1
IV.2.1 Analisis Dan Proyeksi Kependudukan Wilayah Hinterland................................................... IV-1
IV.2.2 Analisis Dan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Hinterland..................................... IV-2
IV.3 Analisis Pergerakan Barang............................................................................................................... IV-3
IV.4 Analisis Kemasan................................................................................................................................ IV-5
IV.5 Analisis Pergerakan Kunjungan Kapal.............................................................................................. IV-5
BAB V. ANALISIS PENGEMBANGAN PELABUHAN...................................................................................... V-6
V.l Rencana Kebutuhan Fasilitas Pelabuhan..........................................................................................V-6
V. l . l Dasar Perencanaan..................................................................................................................... V-6
V .l.2 Kriteria Pengembangan..............................................................................................................V-6
V.2 Analisis Kapasitas Pelabuhan Existing...............................................................................................V-8
V.2.1 Dermaga.......................................................................................................................................V-8
V.2.2 Lapangan Penumpukan.............................................................................................................. V-8
V.2.3 Gudang..........................................................................................................................................V-8
V.3 Prediksi Kebutuhan Fasilitas.............................................................................................................. V-8
V.3.1 Dermaga.......................................................................................................................................V-8
V.3.2 Lapangan Penumpukan.............................................................................................................. V-8
V.3.3 Gudang..........................................................................................................................................V-8
V.3.4 Terminal Penumpang.................................................................................................................V-8
V.3.5 Peralatan Bongkar Muat............................................................................................................. V-8
V.4 Rencana Pengembangan Pelabuhan................................................................................................ V-9
V.4.1 Penyediaan Alur Pelayaran dan Kolam Pelabuhan............................................................... V-10
V.4.2 Rencana Zonasi dan Pentahapan Pengembangan Pelabuhan Cirebon.............................. V-10
V.4.3 Rencana Peruntukan Perairan................................................................................................. V - l l
V.4.4 Rencana Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLkp) V - l l
V.4.5 Rencana Kebutuhan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran......................................................... V - l l

1
V.4.6 Rencana Biaya Konstruksi....................................................................................................... V-24
BAB VI. KAJIAN EKONOMI DAN FINANSIAL............................................................................................. V l-l
VI.1 Kelayakan Rencana Pembangunan.................................................................................................V l-l
VI.2 Analisis Skenario..............................................................................................................................V l-l
VI.3 Analisis Sensitivitas.......................................................................................................................... VI-2
BAB VII. KAJIAN RONA AWAL LINGKUNGAN.......................................................................................... V ll-l
VII.1 Rona Lingkungan Pelabuhan Cirebon........................................................................................... V ll-l
VII.2 Kualitas Air Laut........................................................................................................................... VII-4
VII.3 Arahan Studi Lingkungan Yang Harus Dilakukan......................................................................VII-6

DAFTAR TABEL

Tabel ll-l Penduduk, Jumlah Kelurahan dan Rasio Jenis Kelamin Kota Cirebon menurut Kecamatan
Tahun 2011-2015................................................................................................................... 11-2
Tabel 11-2 Produk Domestik Regional Bruto Kota Cirebon Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2010 -
2013 (Milyar Rupiah).............................................................................................................11-3
Tabel lll-l Tabel Fasilitas D e rm a g a ....................................................................................................III-4
Tabel ui-2 Tabel Fasilitas Gudang di Pelabuhan C ire b o n ............................................................. 111-4
Tabel 111-3 Tabel Fasilitas Lapangan Penumpukan di Pelabuhan Cirebon..........................................111-4
Tabel 111-4 Spesifikasi Kapal di Pelabuhan............................................................................................. 111-5
Tabel 111-5 Kolam dan Alur Pelabuhan C ire b o n ................................................................................111-5
Tabel 111-6 Kapal Pandu dan Kapal Tunda dan Kapal PMK di Pelabuhan Cirebon..............................111-5
Tabel 111-7 Fasilitas Bongkar Muat Pelabuhan....................................................................................... 111-5
Tabel 111-8 Arus Barang Berdasarkan Perdagangan Pelabuhan CirebonTahun 2003-2014............. 111-5
Tabel 111-9 Arus Barang Berdasarkan Kemasan Pelabuhan Cirebon Tahun 2003-2014....................111-6
Tabel 111-10 Arus Barang Berdasarkan Komoditi Pelayaran Antar Negara Pelabuhan Cirebon Tahun
2010-2011............................................................................................................................. II1-6
Tabel 111-11 Arus Barang Berdasarkan Komoditi Pelayaran Antar Pulau Pelabuhan Cirebon Tahun
2010-2011..............................................................................................................................111-6
Tabel m-12 Arus Kunjungan Kapal Pelabuhan Cirebon Tahun 2 003-2014.................................111-7
Tabel 111-13 Kinerja Armada Bongkar Muat Batu bara dan BOR Jetty Muara Jati 1.............................. 111-7
Tabel 111-14 Kinerja Armada BM General Cargo dan BOR Dermaga...................................................... 111-8
Tabel 111-15 Kinerja Gudang dan Lapangan Penumpukan...................................................................... 111-8
RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBO N
Ringkasan Eksekutif

Tabel 111-16 SOR dan YOR di Pelabuhan Cirebon.................................................................................... 111-8


Tabel IV-1 Pertambahan Jumlah Penduduk Provinsi Jawa Barat Tahun 2003-2013.........................IV-2
Tabel IV-2 Proyeksi Jumlah Penduduk Provinsi Jawa Barat hingga Tahun 2035 (Jiwa).................... IV-2
Tabel IV-3 Tabel Proyeksi PDRB Berdasarkan Harga Konstan Provinsi Jawa Barat Hingga Tahun 2035
(dalam Juta Rupiah)............................................................................................................. IV-3
Tabel IV-4 Hasil Test Perangkat Proyeksi..........................................................................................iv-4
Tabel IV-5 Proyeksi Arus Barang Berdasarkan Perdagangan di Pelabuhan Cirebon (Ton)............. IV-4
Tabel IV-6 Proyeksi Arus Barang Berdasarkan Perdagangan di Pelabuhan Cirebon (Ton)............. IV-4
Tabel IV-7 Tabel Proyeksi Arus Barang Berdasarkan Kemasan di Pelabuhan Cirebon (Ton)..........IV-5
Tabel IV-8 Tabel Proyeksi Kunjungan Kapal di Pelabuhan Cirebon .......................................... iv-5
Tabel V -l Tabel Kebutuhan Fasilitas Pokok Wilayah Darat Pelabuhan Cirebon.............................. V-9
Tabel V-2 Rekapitulasi Pengembangan Fasilitas Pelabuhan Cirebon...............................................V-10
Tabel V-4 Rencana Biaya Konstruksi Pengembangan Pelabuhan Cirebon...................................... V-24
Tabel V l-l Nilai Investasi Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang................................................... V l-l
Tabel VI-2 Proyeksi Pendapatan, Beban Operasi, dan Arus Kas 2016-2035...................................... V l-l
Tabel VI-3 Hasil Analisa Kelayakan Keuangan (Skenario Moderat).................................................... V l-l
Tabel VI-4 Hasil Analisa Kelayakan Keuangan Masing-masing Skenario............................................VI-2
Tabel VI-5 Hasil Analisa Sensitivitas - Kenaikan Nilai Investasi......................................................... VI-2
Tabel VI-6 Hasil Analisa Sensitivitas - Pendapatan per T o n .............................................................. VI-2
Tabel VI-7 Hasil Analisa Sensitivitas - Kenaikan Pendapatan per T o n ............................................. VI-2
Tabel VI-8 Hasil Analisa Sensitivitas - Margin Operasi.......................................................................VI-3
Tabel VI-9 Hasil Analisa Sensitivitas - Batas Nilai Kritis......................................................................VI-3
Tabel V ll-l Kapasitas minimal reception facility................................................................................... VII-4
Tabel VII-2 Tabel Sumber Pencemaran Minyak Bumi........................................................................ VII-5
Tabel VII-3 Tabel Identifikasi Dampak yang ditimbulkan kegiatan pelabuhan..................................VII-5

2
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1-1 Peta Lokasi Stu d i...................................................................................................................... 1-2


Gambar ll-l Peta Rencana Tata Ruang....................................................................................................... 11-1
Gambar 11-2 Peta Rencana Pola Ruang.......................................................................................................11-1
Gambar 11-3 Peta Rencana Struktur Ruang Kota Cirebon........................................................................ 11-4
Gambar 11-4 Peta Rencana Pola Ruang Kota Cirebon................................................................................11-4
Gambar lll-l D LKR/D LKP Pelabuhan Cirebon........................................................................................Ill-l
Gambar ni-2 Pelabuhan Sekitar Pelabuhan Cirebon........................................................................... ill-2
Gambar 111-3 Peta Indikasi Hinterland.....................................................................................................111-2
Gambar 111-4 Grafik Pasang Su ru t............................................................................................................ III-3
Gambar Hl-5 W ave Rose Kejadian Selam a 10 Tahun (20 05 -2 01 4)................................................ III-3
Gambar ni-6 Diagram prediksi Sedimen di Pelabuhan Cirebon....................................................... III-3
Gambar 111-7 Lay Out Pelabuhan Pengumpul Cirebon........................................................................ lli-4
Gambar 111-8 Letak SBNP.............................................................................................................................. 111-7
Gambar IV-1 Diagram Alir Proyeksi Arus Barang.......................................................................................IV -l
Gambar IV-2 Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk Provinsi Jawa Barat Hingga Tahun 2035(Jiwa)....... IV-2
Gambar IV-3 Pertambahan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Provinsi Jawa BaratTahun 2003-2013
(dalam juta rupiah).............................................................................................................. IV-3
Gambar IV-4 Grafik Proyeksi PDRB Harga Konstan Provinsi Jawa Barat HinggaTahun 2035 (Jiw a). IV-3
Gambar IV-5 Proyeksi Arus Barang Berdasarkan Perdagangan di Pelabuhan Cirebon(Ton)................IV-4
Gambar IV-6 Gambar Proyeksi Arus Barang Berdasarkan Kemasan di PelabuhanCirebon.................IV-5
Gambar V -l Kondisi Lay-out Pelabuhan Cirebon Eksisting....................................................................V-12
Gambar V-2 Rencana Zonasi Pengembangan Pelabuhan Cirebon.......................................................V-14
Gambar V-3 Rencana Pengembangan Jangka Pendek Pelabuhan Cirebon.........................................V-15
Gambar V-4 Rencana Pengembangan Jangka Menengah Pelabuhan Cirebon....................................V-17
Gambar V-5 Rencana Pengembangan Jangka Panjang Pelabuhan Cirebon........................................ V-19
Gambar V-6 Alur Pelayaran Dan Failitas Perairan Pelabuhan Cirebon................................................ V-20
Gambar V-7 Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) Pelabuhan Cirebon........................................................ V-21
Gambar V-8 Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp) Pelabuhan Cirebon.......................................... V-22
Gambar V-9 Rencana Penempatan SBNP.................................................................................................V-23

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBON


Ringkasan Eksekutif

3
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas batas tertentu
sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai
tempat kapal bersandar, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal
dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran
dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda
transportasi. Sedangkan Rencana Induk Pelabuhan adalah pengaturan ruang pelabuhan berupa
peruntukan rencana tata guna tanah dan perairan di Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah
Lingkungan Kepentingan Pelabuhan. Bahwa berdasarkan Undang-Undang No. 17 Tahun 2008
Tentang Pelayaran dan Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan telah
ditetapkan antara lain bahwa setiap pelabuhan wajib memiliki Rencana Induk Pelabuhan yang
mengacu kepada Rencana Induk Pelabuhan Nasional sesuai dengan Keputusan Menteri
Perhubungan Nomor KP.901 Tahun 2016 tentang Rencana Induk Pelabuhan Nasional.
Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP.901 Tahun 2016 tentang Rencana Induk
Pelabuhan Nasional telah ditetapkan antara lain bahwa Pelabuhan Cirebon merupakan Pelabuhan
Pengumpul.
Pelabuhan Cirebon merupakan pintu gerbang kegiatan usaha bagi hinterland yang luas, yaitu
Provinsi Jawa Barat dan sebagian Provinsi Jawa Tengah di lintasan jalur jalan raya dan rel kereta
api ke seluruh kota di Pulau Jawa merupakan keuntungan utama bagi pelabuhan Cirebon.
Pengembangan Pelabuhan Cirebon merupakan suatu hal yang sangat positif dalam rangka
mendukung pembangunan di Provinsi Jawa Barat. Secara administratif Pelabuhan Cirebon masuk
ke dalam wilayah Kota Cirebon letaknya berada pada: 06°42' 55,6" Lintang Selatan; 108°34l13,89"
Bujur Timur dengan luas lahan pelabuhan 51 Ha.
Pelabuhan Cirebon dapat dicapai dengan mudah melalui jalan darat, baik dari arah Jakarta, Provinsi
Jawa Barat maupun dari Jawa Tengah. Kemudahan ini mendukung kelancaran distribusi barang
dari dan ke Pelabuhan Cirebon. Pelabuhan Cirebon didukung oleh kedalaman kolam -7 meter LWS.
Sedangkan kapal yang memiliki draft diatas 7 meter dapat dilayani di daerah lego jangkar kurang
lebih 10 km lepas pantai.

Kerangka dasar pembangunan pelabuhan yang tertuang dalam Rencana Induk Pelabuhan tersebut
dijabarkan dalam tata ruang dengan tahapan pelaksanaan pembangunan jangka pendek (5 tahun),
menengah (10 tahun) dan panjang (20 tahun). Hal tersebut dimaksudkan untuk menjamin
kepastian usaha dan pembangunan pelabuhan yang terencana, terpadu, tepat guna, efisien dan
berkesinambungan serta adanya sinkronisasi antara rencana pengembangan pelabuhan dengan
rencana pengembangan wilayah.

RENCANA IND UK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

1.2 Dasar Hukum


Dalam melaksanakan Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Cirebon ini, terutama akan
mendasarkan pada Peraturan perundangan sebagai berikut:
a. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
b. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan
c. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
d. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran
e. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan
f. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
g. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah
h. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
i. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 Tentang Kepelabuhanan sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2015
j. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Kenavigasian
k. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan Di Perairan
l. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pengembangan
Pariwisata Nasional
m. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2010 Tentang Perlindungan Lingkungan Maritim
n. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 135 Tahun 2015 Tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 36 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan
o. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 25 Tahun 2011 Tentang Sarana Bantu Navigasi
Pelayaran
p. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 26 Tahun 2011 Tentang Telekomunikasi Pelayaran
q. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 129 Tahun 2016 Tentang Alur-Pelayaran Di Laut
dan Bangunan dan/atau Instalasi di Perairan
r. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 93 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan dan
Pengusahaan Angkutan Laut
s. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 20 Tahun 2015 Tentang Standar Keselamatan
Pelayaran
t. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 57 Tahun 2015 Tentang Pemanduan dan
Penundaan Kapal
u. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 119 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 37 Tahun 2015 Tentang Standar Pelayanan
Penumpang Angkutan Laut
v. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 136 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 52 Tahun 2011 Tentang Pengerukan dan
Reklamasi
w. Keputusan Menteri Perhubungan 31 Tahun 2006 Tentang Pedoman Perencanaan di Lingkungan
Departemen Perhubungan.
x. Keputusan Presiden No. 62 Tahun 2007 Tentang Fasilitas Umum
y. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 901 Tahun 2016 Tentang Rencana Induk
Pelabuhan Nasional

1-1
z. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 22 Tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi Jawa Barat
aa. Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kota Cirebon

1.3 Maksud Dan Tujuan

Maksud dan tujuan dari kegiatan "Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Pengumpul Cirebon, di
Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat" adalah sebagai berikut.
Maksud Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Pengumpul Cirebon adalah:
> Sebagai pedoman dalam pembangunan, pengembangan dan operasional kegiatan
kepelabuhanan di Pelabuhan Pengumpul Cirebon;
> Mengendalikan tercapainya target pembangunan jangka panjang sesuai rencana yang tertuang
dalam Rencana Induk Pelabuhan yang ditetapkan;
> Mengidentifikasi pelaksanaan pembangunan jangka pendek dengan memperhatikan
pelaksanaan pembangunan secara optimal;
> Mengoptimalkan penggunaan fasilitas eksisting pelabuhan dengan meningkatkan efisiensi
pemakaian fasilitas dan operasional pelabuhan;
> Mengakomodasi dan memperhatikan perubahan pola kebijakan maupun strategi
pembangunan dengan memperhitungkan kondisi realistis yang berkembang sehingga memberi
pengaruh terhadap arah rencana pembangunan dan pengembangan pelabuhan.

Tujuan Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Pengumpul Cirebonadalah kegiatan menyusun


program atau rencana kegiatan kepelabuhanan yang meliputi:
> Rencana penetapan fungsi kegiatan pokok dan penunjang pelabuhan jangka pendek,
menengah dan jangka panjang;
> Menyusun rencana pembangunan dan pengembangan fasilitas dan utilitas pelabuhan;
'y Menyusun rencana pengelolaan lingkungan geofisika dan arahan jenis-jenis penanganan
lingkungan;
y Menyusun rencana pelaksanaan tahapan pembangunan dan pengembangan jangka pendek,
menengah dan jangka panjang;
y Menyusun rencana kebutuhan ruang daratan dan perairan serta pemanfaatan ruang daratan
maupun ruang perairan.

1.4 Hirarki Pelabuhan Cirebon Sesuai RIPN


Menurut RIP Nasional sesuai Keputusan Menteri Perhubungan No. KP 901 Tahun 2016, hirarki
pelabuhan Cirebon adalah sebagai Pelabuhan Pengumpul dari tahun 2015 sampai dengan 2030.

1.5 Lokasi W ilayah Studi


Pelabuhan Cirebon terletak di Kota Cirebon, di pantai Utara Jawa Barat, kurang lebih 250 km dari
Jakarta ke arah Timur. Posisi geografis pelabuhan ini terletak pada koordinat: 06°42' 55,6" Lintang
Selatan; 108°34'13,89" Bujur Timur.
Pelabuhan Cirebon di Kota Cirebon dapat dicapai dengan mudah melalui jalan darat, baik dari arah
Jakarta, Provinsi Jawa Tengah maupun dari kota Bandung. Kemudahan ini mendukung kelancaran
distribusi barang dari dan ke Pelabuhan Cirebon.
RENCANA INDUK PELABU H AN CIREBO N
Ringkasan Eksekutif

••
Ja k a r ta
iP e la b u h a n C irebo n

Imagu Lan d s a:
NOAA U S! Navy NGA G E B C O
C '.lH V jle M '! 1

Gambar 1-1 Peta Lokasi Studi

1-2
BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

II. 1 Gambaran Umum Wilayah Provinsi J awa Barat


II.1.1 Rencana Pengembangan Dan Kebijakan Wilayah
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 22 tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Provinsi Jawa Barat , sistem perkotaan di provinsi Jawa Barat terdiri atas Pusat
Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Penetapan PKN dan PKW di Provinsi Jawa Barat mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Nasional, sebagaimana dipaparkan dalam gambar berikut

Sumber: RTRW Provinsi Jawa Barat

Gambar ll- l Peta Rencana Tata Ruang

RENCANA INDUK PELABU H AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

Sumber: RTRW Provinsi Jawa Barat


Gambar 11-2 Peta Rencana Pola Ruang

11.2 G a m b a r a n U m u m W ila ya h K o ta C irebo n

11.2.1 Letak dan Administratif Wilayah


Kota Cirebon terletak didaerah pantai utara Provinsi Jawa barat bagian timur. Dengan letak
geografis yang strategis sebagai jalur utama transportasi dari Jakarta menuju Jawa Barat,
Jawa Tengah, yang melalui daerah utara atau pantai utara (pantura). Letak tersebut
menjadikan suatu keuntungan bagi Kota Cirebon, terutama dari segi perhubungan dan
komunikasi. Geografis Kota Cirebon terletak pada posisi 108.33° dan 6.41° Lintang Selatan
pada pantai Utara Pulau Jawa, bagian timur Jawa Barat, memanjang dari barat ke timur + 8
kilometer, Utara Selatan +11 kilometer dengan ketinggian dari permukaan laut + 5 meter
dengan demikian Kota Cirebon merupakan daerah dataran rendah dengan luas wilayah
administrasi + 37,35 km2 atau + 3.735,8 hektar yang mempunyai batas-batas:

ll- l
Sebelah Utara : Sungai Kedung Pane
Sebelah Barat : Sungai Banjir Kanal / Kabupaten Cirebon
Sebelah Selatan : Sungai Kalijaga
Sebelah Timur : Laut Jawa
Sedangkan untuk perkiraan jarak antara Kota Cirebon terhadap wilayah PKN, dan
wilayah Ciayumajakuning lainnya sebagai berikut:
- Kota Bandung : 130 Km
Bekasi : 229 Km
- Indramayu : 54 Km
Majalengka : 61 Km
Kuningan : 35 Km

11.2.2 Kondisi Fisik dan Klimatologi Wilayah


Iklim, Air Tanah dan Sungai Keadaan angin terdapat tiga macam angin:
1. Pancaroba: April - Nopember
2. Angin Muson Barat: Desember - Maret
3. Angin Muson Timur: Mei - Oktober
Angin Kota Cirebon termasuk daerah iklim tropis, dengan suhu udara minimum rata-rata
25,43°C dan maksimun rata-rata 30,48°C dan banyaknya curah hujan 1.624,2 mm per tahun
dengan hari hujan 71 hari. Keadaan air tanah pada umumnya dipengaruhi oleh intrusi air laut,
sehingga kebutuhan air bersih masyarakat untuk keperluan minum sebagian besar
bersumber dari pasokan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Cirebon yang sumber
mata airnya berasal dari Kabupaten Kuningan.
Sedangkan untuk keperluan lainnya sebagian besar diperoleh dari sumur dengan kedalaman
antara dua meter sampai dengan enam meter, di samping itu ada beberapa daerah/wilayah
kondisi air tanah relatif sangat rendah dan rasanya asin karena intrusi air laut dan tidak dapat
digunakan untuk keperluan air minum.

11.2.3 Kondisi Kependudukan Wilayah


Penduduk yang jumlah besar merupakan asset bagi pembangunan jika penduduknya
berkualitas. Dengan besarnya jumlah penduduk akan menyebabkan besarnya jumlah
angkatan kerja. Besarnya angkatan kerja ini akan membutuhkan lapangan pekerjaan yang
lebih banyak lagi, dan membuka lapangan kerja tidak semudah membalik telapak tangan.
Melalui data kependudukan akan diperoleh gambaran mengenai dinamika, perkembangan
penduduk, perbandingan serta dapat diperoleh gambaran kondisi kependudukan Kota
Cirebon terhadap Provinsi Jawa Barat. Data kependudukan dapat diperoleh dari data dalam
angka Kota Cirebon dan Provinsi Jawa Barat. Kondisi Kependudukan Kota Cirebon dapat
digambarkan sebagai berikut:
a. Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin
Berdasarkan data dalam angka 2014 Kota Cirebon, jumlah penduduk Kota Cirebon dari
tahun ke tahun meningkat yaitu sebesar 300.434 jiwa pada tahun 2011 meningkat
menjadi 301.720 jiwa pada tahun 2012.

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

Tabel ll- l Penduduk, Jumlah Kelurahan dan Rasio Jenis Kelamin Kota Cirebon menurut Kecamatan
Tahun 2011-2015

Penduduk
No Kecamatan Kelurahan Sex Ratio
Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Harjamukti 5 53,536 52,451 105,987 102,07

2 Lemahwungkuk 4 27,908 26,880 54,788 103,82

3 Pekalipan 4 14,787 15,226 30,013 97,12


4 Kesambi 5 36,530 36,289 72,819 100,66
5 Kejaksan 4 21,467 22,420 43,887 95,75
Jumlah 2015 22 154,228 153,266 307,494 100,63
Jumlah 2014 22 153,362 152,537 305,899 100,54
Jumlah 2013 22 152,573 151,740 304,313 100,55
Jumlah 2012 22 151,273 150,447 301,720 100.55
Jumlah 2011 22 150,628 149,806 300,434 100.55
Sumber: Kota Cirebon dalom Angka, BPS 2016

11.2.4 Kondisi Perekonomian Wilayah


Kota Cirebon beberapa tahun terakhir telah berubah menjadi kota metropolis baru dipesisir
pantura. Hal ini tergambar dari pembagunan fisik yang menonjolkan kekhasan pembangunan
perkotaan. Salah satunya dapat dilihat dengan semakin banyaknya pembangunan pusat
perbelanjaan di Kota Cirebon. Disamping itu pembangunan hotel dan tempat tinggal yang
semakin marak membuat Kota Cirebon yang merupakan kota persinggahan dan hinterland di
daerah timur Jawa Barat mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi selama tahun 2015.
Sepanjang tahun 2013 semua sektor di Kota Cirebon mengalami pertumbuhan positif. Bila
pada tahun 2011 Kota Cirebon mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,93 persen dan
pada tahun 2012 tumbuh 5,57 persen, maka pada tahun 2013 pertumbuhannya sebesar 4,79
persen.
Secara umum kegiatan ekonomi dikelompokkan menjadi tiga sektor ekonomi yaitu:
1. Sektor Primer, yaitu sektor yang tidak mengolah bahan mentah atau bahan baku
melainkan hanya mendayagunakan sumber-sumber alam seperti tanah dan deposit
didalamnya. Yang termasuk kelompok ini adalah sektor pertanian serta sektor
pertambangan dan penggalian.
2. Sektor Sekunder, yaitu sektor yang mengolah bahan baku, baik yang berasal dari
sektor primer maupun sektor sekunder menjadi barang lain yang lebih tinggi nilainya.
Sektor Sekunder mencakup sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas, air bersih
dan sektor bangunan/konstruksi.
3. Sektor Tersier atau dikenal juga sebagai sektor jasa-jasa, yaitu sektor-sektor yang
tidak memproduksi dalam bentuk fisik melainkan dalam bentuk jasa. Yang termasuk
sektor ini adalah sektor perdagangan, sektor pengangkutan dan komunikasi, bank dan
lembaga keuangan, sewa rumah, pemerintahan dan jasa-jasa.
Dari pengelompokkan tersebut tampak bahwa kelompok tersier masih mendominasi dalam
penciptaan nilai tambah di Kota Cirebon. Total Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga

11-2
berlaku dari kelompok sektor tersier di tahun 2013 mencapai Rp. 10.207,21 milyar, atau
meningkat 11,18 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tabel 11-2 Produk Domestik Regional Bruto Kota Cirebon Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2010 -
2013 (Milyar Rupiah)

Kelompok/
2010 2011*1 2012*1 2013**)
Lapangan Usaha
1. Primer 39,25 42,23 40,85 46,96
1) Pertanian 39,25 42,23 40,85 46,96
2) Pertambangan - - - -

II. Sekunder 3.359,22 3.771,48 4.045,64 4.443,98


3) Industri 2.435,68 2.660,58 2.896,28 3.173,00
4) Listrik gas dan air 260,84 274,04 295,95 334,39
5 ) Bangunan 662,69 776,89 853,42 936,59
III. Tersier 7.532,97 8.363,34 9.180,40 10.207,21
6) Perdagangan 3.873,59 4.263, 72 4.703,24 5.211,90
7) Pengangkutan 1.619,65 1.859,28 2.020,66 2.270,30
8) Lembaga keuangan 1.166,95 1.271,04 1.397,31 1.546,02
9) Jasa-jasa 872,78 969,31 1.059,20 1.176,98
PDRB 10.931,43 12.117,05 13.266,90 14.698,15
Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Kota Cirebon 2010-2013

11.2.5 Sektor Unggulan Potensi Wilayah


o Di sektor pertanian Kota Cirebon merupakan salah satu lumbung padi nasional, demikian
pula mangga gedong gincu yang merupakan produk unggulan Kabupaten Majalengka,
Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Indramayu.
o Sektor industri jasa dan manufaktur, seperti batik, rotan, makanan olahan, dan
perdagangan, terpusat di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, sementara bola yang
diekspor ke Eropa dan Afrika Selatan adalah komoditas unggulan Kabupaten Majalengka.
Kabupaten Indramayu adalah penghasil minyak dan gas yang dikelola PT Pertamina.
o Sektor pariwisata menjadi andalan Kabupaten Kuningan yang menjual kelestarian hutan
di sekitar Gunung Ciremai. Demikian pula Kabupaten dan Kota Cirebon menyuguhkan
wisata budaya sekaligus religi dengan kehadiran tiga keraton dan makam Sunan Gunung
Jati yang tak pernah sepi dikunjungi.
o Infrastruktur pendukungnya adalah akses di Ciayumajakuning. Tol Palimanan-Kanci dan
tol Kanci-Pejagan kian mempercepat lalu lintas kendaraan dari Jawa Tengah ke DKI
Jakarta.
o Kota Cirebon memiliki letak geografis yang sangat strategis. Berada di persimpangan jalur
Jawa Barat dan Jawa Tengah, dilalui oleh jalur lintas nasional dan menjadi pusat
pertemuan / titik simpul seluruh moda transportasi. Sebagai konsekuensi letak geografis
tersebut kapasitas infrastruktur yang ada menjadi tidak sebanding dengan beban yang
terjadi. Sehingga saat ini sudah terasa bertambahnya titik-titik kemacetan terutama di
lintasan-lintasan sebidang jalur kereta api, selain itu jumlah jalan dengan kondisi rusak
pun semakin bertambah. Fenomena commuter Cirebon - Jakarta semakin hari semakin

RENCANA IND UK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

tinggi, hal ini dipicu dengan semakin membaiknya pelayanan dan infrastruktur jalur kereta
api lintas pulau Jawa.
o Keberadaan Pelabuhan Cirebon dipandang sebagai salahsatu fasilitas yang sangat
strategis karena hanya satu-satunya di wilayah pantai Utara khususnya Jawa Barat bagian
timur. Diharapkan dengan berkembangnya Pelabuhan Cirebon pelaku industri bisa
memangkas biaya Rp 2,5-3 juta per kontainer jika tak harus mengapalkan produk mereka
lewat Tanjung Priok.Dengan rata-rata ekspor 1.200 kontainer per bulan, pelaku industri
rotan Cirebon saja bisa menghemat biaya transportasi sampai Rp 3,6 miliar per bulan atau
Rp 43,2 miliar per tahun.
o Mayoritas arus barang di Pelabuhan Cirebon saat ini adalah batu bara yang akan
digunakan untuk memasok kebutuhan batu bara di kota-kota di Jawa Barat, utamanya
seperti Bandung, Bogor, maupun beberapa kota di Jawa Tengah bagian barat. Seiring
dengan kenaikan harga BBM yang beberapa saat lalu mencapai puncaknya (meskipun
sekarang sedang pada titik terendah), beberapa industri di Jawa Barat mengubah bahan
bakarnya dari BBM ke batu bara, sehingga potensi kenaikan arus barang terutama batu
bara masih terbuka.

11.2.6 Jaringan Transportasi Wilayah


Kota Cirebon memiliki letak geografis yang sangat strategis. Berada di persimpangan jalur
Jawa Barat dan Jawa Tengah, dilalui oleh jalur lintas nasional dan menjadi pusat pertemuan
/ titik simpul seluruh moda transportasi. Sebagai konsekuensi letak geografis tersebut
kapasitas infrastruktur yang ada menjadi tidak sebanding dengan beban yang terjadi.
Sehingga saat ini sudah terasa bertambahnya titik-titik kemacetan terutama di lintasan-
lintasan sebidang jalur kereta api, selain itu jumlah jalan dengan kondisi rusak pun semakin
bertambah. Fenomena commuter Cirebon - Jakarta semakin hari semakin tinggi, hal ini
dipicu dengan semakin membaiknya pelayanan dan infrastruktur jalur kereta api lintas pulau
Jawa. Waktu tempuh pun semakin singkat, dan bukan tidak mungkin Kota Cirebon menjadi
pilihan utama mereka yang bekerja di Jakarta untuk bertempat tinggal di Kota Cirebon.
Sementara untuk transportasi massal masih mengandalkan moda angkutan kota yang
jumlahnya cenderung tetap.
Persoalan lainnya adalah keberadaan Pelabuhan Cirebon dipandang sebagai salahsatu
fasilitas yang sangat strategis karena hanya satu-satunya di wilayah pantai Utara khususnya
Jawa Barat bagian timur. Sebelum transportasi darat berkembang pesat seperti saat ini, arus
barang dan penumpang yang keluar masuk pelabuhan Cirebon termasuk cukup tinggi.
Namun seiring dengan perkembangan transportasi darat yang semakin maju, keberadaan
pelabuhan Cirebon sebagai moda transportasi barang dan penumpang sedikit demi sedikit
mulai berkurang. Saat ini pelabuhan masih digunakan sebagai transit barang / kapal laut serta
lebih diutamakan untuk pengangkutan batu bara sebagai bahan bakar industri di wilayah
Bandung dan sekitarnya. Akibat perkembangan tersebut jalur transportasi Cirebon -
Bandung menjadi lebih cepat rusak karena dimuati oleh beban yang berlebih, belum dampak
dari debu batubara yang mencemari lingkungan sekitar pelabuhan dan kawasan permukiman
di wilayah tersebut. Waktu tempuh jalur Cirebon - Bandung pun menjadi lebih lama.
Aksesibilitas transportasi ke wilayah selatan juga masih menjadi persoalan. Peningkatan
aksesibilitas ke wilayah selatan diharapkan dapat menjadi pemicu peningkatan
perekonomian masyarakat sekitar yang saat ini masih tertinggal dibanding wilayah lainnya di
Kota Cirebon.

11-3
11.2.7 Rencana Pengembangan Dan Kebijakan Wilayah

Melalui Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 8 Tahun 2012 perencanaan pembangunan
Kota Cirebon telah diarahkan hingga periode tahun 2011- 2031. Rencana Struktur Ruang
dimaksud sebagaimana gambar berikut

776000 778000 730000 737000 734000

K A B . C IR E B O N

J . D f KAB. C REBO N
k ) 1

730000 734000

Sumber: RTRW Provinsi Jawa Barat

Gambar 11-3 Peta Rencana Struktur Ruang Kota Cirebon

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

11.2.8 Rencana Pola Ruang Kota Cirebon

Melalui Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 8 Tahun 2012 perencanaan Pola Ruang Kota
Cirebon telah diarahkan hingga periode tahun 2011- 2031. Sebagaimana gambar berikut

Sumber: RTRW Provinsi Jawa Barat

Gambar 11-4 Peta Rencana Pola Ruang Kota Cirebon

11-4
BAB III. KONDISI EKSISTING PELABUHAN

III.1 G a m b a r a n U m u m P ela b u h a n

III.1.1 Status Pelabuhan


Status Pelabuhan Cirebon sendiri adalah Pelabuhan Pengumpul sesuai dengan Rencana Induk
Pelabuhan Nasional. Oleh karenanya Pelabuhan Cirebon diharapkan dapat menjadi gerbang
utama dalam mendukung perkembangan perekonomian Jawa Barat yang merupakan sasaran
penanaman modal paling besar baik modal asing maupun modal dalam negeri, mengingat
Provinsi ini memiliki ragam jenis indrustri yang sangat banyak mulai dari indrusti makanan
sampai indrusti tekstil, indrustri barang, pertanian, logam mulia, kimia mesin, peralatan,
pabrik semen, pupuk.
Selain itu juga di sekitar Cirebon sendiri terdapat pabrik semen , pabrik tekstil, makanan
ternak, pabrik jala, dan yang paling utama adalah pengrajin rotan.
DLKP dan DLKR Eksisting
Berdasaran "Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perhubungan No. 58
tahun 1988 dan Nomor: KP 25/AL 108/PHB-88 tentang Batas-batas Daerah Lingkungan Kerja
dan Derah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan Cirebon", menetapkan, bahwa Pelabuhan
Cirebon mempunyai luas 51 ha Daerah Lingkungan Kerja dan 25 ha Daerah Lingkungan
Kepentingan, serta perairan Pelabuhan seluas 8.410,91 ha.
Pelabuhan Cirebon diharapkan bisa menampung segala kebutuhan dalam mendukung
kegiatan bongkar muat barang. Pelabuhan Cirebon didukung oleh kedalaman kolam sampai
-6,5 m LWS. Sedangkan kapal yang memiliki draft lebih dapat dilayani di daerah lego jangkar
kurang lebih 5 -1 0 km lepas pantai.
Secara lebih jelas Daerah Lingkungan Kerja dan Derah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan
Cirebon (DLKR/DLKP pelabuhan Cirebon) ini disajikan pada Gambar berikut.

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

108-35*

3 Km +

108*35
TITIK — TITIK K O O R D IN A T D A ER A H L IN G K U N G A N K E R JA
KETERAN G AN : D A N M E R A H LIN G K U N G A N K E P E N TIN G A N
TITIK K O O R D IN A T D A ER A H PERAIRA N

Pantoi n jBgrar.rn:
lOT-M“-»* .w 10r-J4’-1t* BT
ls _2E=«£=«sr±S
IT »or-ajT-tí* bt
Kontur * o»-4<y-por l<
ior-ay-44* bt T.7.
IOT-J4’-1B" BT iMr-4or-ea* bt
Jalón Arten tjl _2E=f£=Hla t* ..ar.-tf.-w ^ c. JBEriT=?r.tf
10T-XT-&2* BT lor-SA'-jjr bt Hw-ror-eer bt
Jalón Kereta Api r.«,
" ¿KESS i f l r -w - M 'B 10B’- » —«C*BT
Batos Perairan Daerah
Pelabuhan n‘ a tOB-SJ'-JT" i»
BT

Gambar lll-l DLKR/DLKP Pelabuhan Cirebon


III.1.2 Pelabuhan/Terminal Di Sekitar Lokasi Studi

Beberapa Pelabuhan di sekitar Pelabuhan Cirebon diantaranya adalah sebagaimana gambar berikut:
Legenda
* FELABUHAN
FELABUHAN CIREBON
PRABVWANTAIUJYj^RÓ«,
i j s j s Ibukota Jk1. \ ■: , W
ts HAT j H»H*> Pt lo SUV U
O í * * ' P V u W P W F iW . ^ }” \

•K iyTV-»
j o*) ■ . f) rP a r r a' , r X ^ PELA3J m<NPERIHANVJ :» E!A \
I C,4 • \ PEl.-.SL>K.NEBV j ANGASEALOWAN
/ p V) • S J 7\ ■ v '30 -d *ina*.i\ » vv
i y f) J l ' <*. r a f e 3'« . / . & *a t) Subang ■ ■ . .

r^ \ // V "’•J A Y </• (
? ■ x t

/ Kab Prwlka'ta 'Kola S u ta n g

L \ l PELABUHAN CIREBON
3 Boga' , PE.ASUHANPEPlKV-riAN^ I aWANP^T
'v \ ^ •- .n 'D iiii'iD j \t.ir

Km M^aengka
Kat ¿um edarg S O yj
Kab b r c ^ e a r ^ J ^ Bapakan
1' 1 •'Kaa B ét
)
<rV- i
nvM.yin Kat - : g-i • 'f} ^J

Gambar 111-2 Pelabuhan Sekitar Pelabuhan Cirebon

III.1.3 Hinterland Pelabuhan


Secara topografis, sebagian besar wilayah Kota Cirebon merupakan dataran rendah dan
sebagian kecil merupakan wilayah perbukitan yang berada di wilayah selatan kota. Kondisi
wilayah kota yang sebagian besar berupa dataran rendah menjadi kendala tersendiri karena
kecepatan aliran air hujan yang terbuang ke laut menjadi lambat dan sangat berpotensi
menimbulkan genangan banjir di beberapa tempat. Namun kondisi lahan yang relative datar
dapat mendukung bagi perkembangan kota dan peningkatan infrastruktur kewilayahan,
seperti misalnya pengembangan jalan poros, pengembangan terminal peti kemas. Selain itu
juga posisi geografis yang strategis (akses ke Jakarta dan Bandung serta akses ke Semarang
dan Yogyakarta).

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBO N


Sumber: Analisis Konsultan

Gam bar 111-3 Peta Indikasi Hinterland

menu)Upa"tura’
C\rebon
.1.4 Kondisi Jalan Akses Dari dan Ke Pelabuhan jalan Tol yang
Jalan akses Utama adalah jalan kias 1 yang m enghantar k
r» 3.0 km.
Jarak Pantura dengan Pelabuhan hanya berkisar 3 km 3^
menghantarkan ke Bandung dan sekitarnya, dalam k is a r s i
tuk kepent'°6an a'ur
.1.5 Kondisi Bathymetri
Kondisi Batimetri di alur Pelabuhan Cirebon cukup la n d ^
ft V ' 'SS&S* p' " s
pelayaran sangat tidak menguntungkan karena dengar»
sepanjang alur dan kolam pelabuhan.

.1.6 Kondisi Topografi

Wilayah kegiatan kepelabuhan secara geologi m em pun


yang terdiri dari perselang-selingan endapan lepung dan
laut perairan dangkal.
Keadaan bentang alam di lokasi Pelabuhan Cirebon ditandai dengan kemiringan kurang dari
2%. Satuan bentang alam didaerah ini merupakan satuan bentang alam dataran pantai.
Ketinggian dataran di lokasi Pelabuhan Cirebon berkisar antara 1-2 m diatas permukaan laut.
Kemudian keadaan dataran pantai ini ditandai dengan kelandaian yang jauh menjorok ke
laut, yaitu sekitar jarak 1.000 m dari garis pantai.

,1.7 Kondisi Pasang Surut


Pasang surut di muka pelabuhan Cirebon hampir sama dengan kondisi di wilayah perairan
pantura pada umumnya baik tunggang pasang surut maupun tipe pasang surutnya.
Hasil pengamatan yang telah dilakukan dimuka pelabuhan Cirebon sebagaimana
digambarkan dalam grafik pasang surut berikut

7| rtrp

Tanggal Pengamatan

HWS (High Water Surface) = + 1,21 m


MSL (Mean Sea Level) = + 0,59 m
LWS (Low Water Surface) = 0,00 m
Gambar 1)1-4 G rafik Pasang Surut

1.1.8 Kondisi Arus Dan Gelombang


Gelombang
Dimana jumlah seluruh kejadian untuk data angin lokasi pekerjaan dengan didukung data
angin selama 10 tahun mulai dari 2005-2014 dipergunakan untuk memprediksi gelombang
dengan hasil sebagaimana gambar wave Rose berikut:

RENCANA IND UK PELABU H AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

»%

Gambar 111-5 Wave Rose Kejadian Selama 10 Tahun (2005-2014)

Sedimen
Dari hasil prediksi untuk laju sedimentasi yang terjadi pada daerah pelabuhan Cirebon dapat
dilihat pada gambar berikut:

Total load-direction
• i!»

■«553

-8 700

■e7:2

-8.704

-8 708

-8 708

•8710

-8 712

-6 714

-8 718

-8 718

-8 720

Sumber:Analisis Konsultan
Gambar ni-6 Diagram prediksi Sedim en di Pelabuhan Cirebon.

Laju sedimentasi lokasi perairan pelabuhan Cirebon untuk titik pengamatan pada daerah alur
pelayaran terlihat tidak terlalu dibandingkan dengan area lokasi yang ada di depan pintu
masuk alur menuju ke lepas pantai terjadi perubahan sedimentasi hal ini dikarenakan adanya
pendangkalan pada wilayah tersebut. Selain itu juga arah gelombang yang mengarah ke arah
selatan.
III.2 F a silit a s E k sistin g P ela b u h a n

.2.1 Fasilitas Pokok Dan Penunjang Pelabuhan


Lay Out Pelabuhan
Pelabuhan Cirebon dapat dicapai dengan mudah melalui jalan darat, baik dari arah Jakarta,
Provinsi Jawa Tengah maupun dari kota Bandung. Kemudahan ini mendukung kelancaran
distribusi barang dari dan ke Pelabuhan Cirebon.
Pelabuhan Cirebon didukung oleh kedalaman kolam sampai -6,5 m LWS. Sedangkan kapal
yang memiliki draft lebih dapat dilayani di daerah lego jangkar kurang lebih 10 km lepas
pantai.
Dengan luas 51 ha Daerah Lingkungan Kerja dan 25 ha Daerah Lingkungan Kepentingan, serta
perairan Pelabuhan seluas 8.410,91 ha, Pelabuhan Cirebon diharapkan bisa menampung
segala kebutuhan dalam mendukung kegiatan bongkar muat barang.

KOTA C * C » O N

L cg rn d a
■ Dermaga
Gudang
Zona Curah Kenng
Zona Curah Cair
Zona Multipurpose
Zona Docking
■ Perkantoran
Rumoh Sakit
Business Center
Belum Termanfaatkan

Sumber: KSOP Cirebon

Gambar 111-7 Lay Out Pelabuhan Pengumpul Cirebon

Dermaga
Fasilitas dermaga yang ada di Pelabuhan Cirebon seperti dapat dilihat pada Tabel dibawah
dibedakan menjadi Dermaga Kolam Muarajati, Dermaga Kolam Pelabuhan II dan I dan
Dermaga Pelra

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

Tabel lll-l Tabel Fasilitas Dermaga

NO URAIAN SATUAN VOLUME KETERANGAN

1. DERMAGA KOLAM MUARAJATI


- Muarajati 1& III (Beton) Meter 355 Kedalaman (6) M Lws
II. DERMAGA KOLAM PELABUHAN II
- Muarajati II (Sheet pile Beton) Meter 248 Kedalaman (6) M Lws
Linggarjati (Sheet pile Beton) Meter 131 Kedalaman (6) M Lws
- Pelita 1- III (Beton) Meter 111 Kedalaman (6) M Lws
III. DERMAGA KOLAM PELABUHAN 1
- Surya Sumantri 1 - IV (Beton) Meter 68 Kedalaman (3-4) M Lws
Samadikun (Beton) Meter 67 Kedalaman (3-4) M Lws
- Perniagaan 1- IV (Beton) Meter 44 Kedalaman (2-3) M Lws
IV. DERMAGA KOLAM KHUSUS PELRA
- Pelra (Kayu) Meter 150 Kedalaman (2) M Lws

Sumber: KSOP Cirebon

Pergudangan dan Lapangan Penumpukan


Gudang yang terdapat di Pelabuhan Cirebon sebanyak 5 buah dengan luas total 8.342 m2 dan
perincian secara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel III.2

Tabel 111-2 Tabel Fasilitas Gudang di Pelabuhan Cirebon

NO URAIAN SATUAN VOLUME KETERANGAN


1 Muara Jati M2 4.000
2 101 M2 1.610
3 102 M2 1.366
4 103 M2 346
5 Samadikun M2 1.020
Sumber: KSOP Cirebon

Tabel 111-3 Tabel Fasilitas Lapangan Penumpukan di Pelabuhan Cirebon

No Uraian Satuani Volume Keterangan


1 Linggarjati (Konvensional) M2 9.620
2 Muarajati III (CY) M2 4.500
3 Suryat Sumatri (Stock Pile) M2 8.470
4 Pelita (Stock Pile) M2 14.300
Sumber: KSOP Cirebon

III.2.2 Spesifikasi Kapal Yang Tambat Di Pelabuhan

Kunjungan Kapal
Arus kunjungan kapal di Pelabuhan Cirebon dalam kurun waktu 2003-2014 mengalami
perkembangan cukup fluktuatif, rata-rata pertumbuhan dalam kurun waktu tersebut
berdasarkan unit kapal mengalami penurunan sebesar -1,03 % sedangkan berdasarkan GT
kapal rata-rata pertumbuhan mengalami peningkatan yaitu sebesar 5,76%.
Selain kapal barang dan Curah Cair juga Ponton Batu bara 270 Feet.
Tabel 111-4 Spesifikasi Kapal di Pelabuhan

rtiiT.’inic C13W
700 58 9 .7 3.7
1 .0 0 0 6-1 10.1 1,2
2 .0 0 0 RI 12,7 4 ,9
3 .0 0 0 92 11,2 5 ,7
5 .0 0 0 109 I<V,4 i* 8
8 .0 0 0 126 18.7 8 ,0
1 0 .0 0 0 13 7 19,9 8,5
1 5 .0 0 0 15 3 2 2 ,3 9 ,3
2 0 .0 0 0 177 2 3 ,4 10,0
3 0 .0 0 0 1S6 27,1 10 ,9
4 0 .0 0 0 201 2 9 ,4 11,7
5 0 .0 0 0 216 _____3U 5_____ 12,4
K*t>al M i.iv^k ( l ) W n
700 50 ß-5 -1.7
1 .0 0 0 <
•'»I 9 ,8 4,(J
i.OOO 77 12.2 S.CI
3 .0 0 0 88 1 i,K vi,fi
5 .0 0 0 IlH 16,2
1 0 .0 0 0 130 20,1 8 ,0
1 5 .0 0 0 148 2 2 ,8 9 .0

III.2.3 Kedalaman Kolam Dan Alur Pelabuhan


Hingga saat ini Pelabuhan Cirebon memiliki alur sepanjang 2.500 m dengan lebar 70 m dan
kedalaman bervariasi antara -6 hingga -7 m terhadap LWS.
Secara lebih jelas data kolam dan alur pelabuhan Cirebon ini dapat dilihat pada Tabel berikut
Tabel 111-5 Kolam dan Alur Pelabuhan Cirebon

NO URAIAN SATUAN VOLUME KETERANGAN


1. ALUR MASUK
Panjang Meter 2.500 Kedalaman (7) M Lws
- Lebar Meter 70
II KOLAM PELABUHAN Ha 10,92
- Kolam Muarajati 1 Ha 2,66 Kedalaman (7) M Lws
- Kolam Pelabuhan 1 Ha 2,66 Kedalaman (6) M Lws
- Kolam Pelabuhan II Ha 4,30 Kedalaman (6) M Lws
- Kolam Khusus Pelra Ha 1,12 Kedalaman (4) M Lws
III. PENAHAN GELOMBANG
- Panjang Meter 1.406
Sumber: KSOP Cirebon

III.2.4 Data Peralatan Pelabuhan


Kapal Pandu dan kapal Tunda
Pelabuhan Cirebon memiliki 1 (satu) unit Kapal Pandu kapasitas 2x400 PK dan 2
(dua) buah kapal tunda masing-masing berkapasitas 1.700 PK dan 1.200 PK. Daerah
pandu Pelabuhan Cirebon meliputi koordinat batas:

06°40' 00" LS; 108°37‘ 40" BT

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

06°44' 30" LS; 108°37' 40" BT


06°44' 30" LS; 108°35' 40" BT
06°40' 00" LS; 108°33' 10" BT

Tabel 111-6 Kapal Pandu dan Kapal Tunda dan Kapal PMK di Pelabuhan Cirebon

NO URAIAN SATUAN VOLUME KETERANGAN

1. KAPAL PANDU Unit 1


II. KAPAL TUNDA Unit 1
III PMK Kapasias 5000 Liter Unit 1
Sumber: KSOP Cirebon

111.3.6 Fasilitas Bongkar Muat


Pemanfaatan teknologi dapat dilihat dengan adanya fasilitas bongkar muat serta fasilitas
telekomunikasi sebagai fasilitas yang membantu kegiatan operasional pelabuhan. Fasilitas
bongkar muat dapat dilihat pada Tabel berikut

Tabel 111-7 Fasilitas Bongkar Muat Pelabuhan

NO URAIAN SATUAN VOLUME KETERANGAN


I. ALAT BONGKAR MUAT
Forklift Kap. 5 Ton
Unit 1
Mobile Crane Kap. 25 Ton
Unit 1
Wheel Loader Kap. 5 M3
Unit 2
Excavator Kapasitas Kap. 2,1
Unit 4
m3
Unit 4
Dump Truck Kap. 20 Ton
Unit 2
Rampdoor
Sumber: KSOP Cirebon

III.3 D a t a O p e r a s io n a l P ela b u h a n
Arus Bongkar Muat Barang
Arus barang berdasarkan perdagangan di Pelabuhan Cirebon Tahun 2010-2013 dapat
dibedakan atas ekspor dan impor serta bongkar dan muat, secara total rata-rata
perkembangannya sebesar 3 %, tidak ada arus barang ekspor. Arus barang yang terbesar
antara barang bongkar dan muat adalah berdasarkan barang yang bongkar (98%) dibanding
barang yang dimuat (2%).

Tabel 111-8 Arus Barang Berdasarkan Perdagangan Pelabuhan CirebonTahun 2003-2014

Arus Barang Berdasarkan Perdagangan (Ton)


Tahun Angkutan Luar Negeri Angkutan Dalam Negeri Jumlah
Ekspor Impor Bongkar Muat
2003 207 42,124 1,481,277 206,753 1,730,361
2004 - 46,109 2,306,248 106,360 2,458,717
2005 - 64,386 2,773,111 144,300 2,981,797
2006 - 72,873 2,981,779 215,791 3,270,443

111-5
Arus Barang Berdasarkan Perdagangan (Ton)
Tahun Angkutan Luar Negeri Angkutan Dalam Negeri Jumlah
Ekspor Impor Bongkar Muat
2007 - 76,478 3,324,367 143,675 3,544,520
2008 8,104 80,083 3,666,955 71,559 3,826,701
2009 4,003 53,840 3,471,277 55,014 3,584,134
2010 - 68,130 3,570,740 59,386 3,698,256
2011 - 125,249 3,757,248 199,279 4,081,776
2012 - 145,376 3,690,342 36,865 3,872,583
2013 - 229,332 3,784,493 32,348 4,046,173
2014 - 191,981 4,374,424 78,127 4,644,532
Sumber: KSOP Cirebon

Arus barang berdasarkan kemasan di Pelabuhan Cirebon Tahun 2010-2013 terdiri dari
general cargo, bag cargo, curah cair non BBM dan curah kering, untuk kemasan petikemas
pada tahun tersebut tidak ada.

Tabel 111-9 Arus Barang Berdasarkan Kemasan Pelabuhan Cirebon Tahun 2003-2014

Arus Barang Berdasarkan Kemasan (Ton)


Curah Curah Jumlah
Tahun General Bag Curah
Cair Cair Non Petikemas Lain-lain
Cargo Cargo Kering
BBM BBM
2003 208,472 441,760 171,377 965 906,979 - 808 1,730,361
2004 184,683 304,640 147,075 96 1,822,223 - - 2,458,717
2005 239,914 372,908 58,967 138,116 2,171,892 - - 2,981,797
2006 84,393 320,290 53,673 175,217 2,636,870 - - 3,270,443
2007 63,442 229,680 26,837 219,988 3,004,574 - - 3,544,520
2008 42,490 139,070 - 264,759 3,380,382 - - 3,826,701
2009 37,321 170,116 700 344,330 3,029,250 2,417 - 3,584,134
2010 41,159 215,772 - 355,540 3,085,785 - - 3,698,256
2011 34,342 226,724 - 405,387 3,415,323 - - 4,081,776
2012 25,141 138,769 - 345,561 3,363,112 - - 3,872,583
2013 9,299 120,829 - 346,328 3,569,717 - - 4,046,173
2014 10,570 137,350 - 393,681 4,102,931 - - 4,644,532
Sumber: KSOP Cirebon

Arus barang berdasarkan komoditi dapat dibedakan atas pelayaran antar negara dan antar
pulau. Arus barang komoditi berdasarkan antar negara di Pelabuhan Cirebon tahun 2010-
2011 untuk barang impor terdiri dari komoditi aspal dan gypsum, sedangkan barang yang di
ekspor tidak ada.

Tabel 111-10 Arus Barang Berdasarkan Komoditi Pelayaran Antar Negara Pelabuhan Cirebon Tahun
2010-2011

RENCANA IND UK PELABUH AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

No Uraian Satuan 2010 2011


1 Aspal Ton 42,307 41,051
2 Barang dalam Petikemas Ton 0 0
3 Barang Proyek Ton 0 0
4 Gypsum Ton 25,823 84,198
5 Lain-lain Ton 0 0
Jumlah Impor Ton 68,130 125,249
1 Barang dalam Petikemas Ton 0 0
2 Barang Proyek Ton 0 0
3 Lain-lain Ton 0 0
Jumlah Ekspor Ton 0 0
Sumber: KSOP Cirebon

Arus barang komoditi berdasarkan pelayaran antar pulau tahun 2010-2011 untuk barang
bongkar terdiri dari komoditi batubara, minyak sawit, tepung sagu, pupuk, gypsum, dan
komoditi lainnya. Komoditi bongkar ini sebagian besar adalah komoditi batubara (98% dari
barang yang di bongkar).

Tabel 111-11 Arus Barang Berdasarkan Komoditi Pelayaran Antar Pulau Pelabuhan Cirebon Tahun
2010-2011

No Uraian /Bongkar Satuan 2010 2011


1 Batu Bara Ton 2,920,889 3,085,508
2 Minyak Sawit Ton 288,830 335,786
3 Tepung Sagu Ton 112,615 91,739
4 Pupuk Ton 91,779 85,230
5 Gypsum Ton 77,504 38,217
5 Komoditi Lainnya Ton 79,123 120,768
Jumlah bongkar Ton 3,570,740 3,757,248
1 Semen Ton 29,230 174,145
2 Beras Ton 16,407 295
3 Barang Proyek/ Mesin Ton 7,489 22,259
4 Alat-alat Berat Ton 1,081 162
5 Pupuk Ton 604 0
6 Komoditi Lainnya Ton 4,575 2,418
Jumlah muat Ton 59,386 199,279
Sumber: KSOP Cirebon

111.3.1 Arus Turun Naik Penumpang


Tidak ada terminal dan dermaga khusus penumpang di dalam wilayah pelabuhan Cirebon

111.3.2 Arus Kunjungan Kapal


Arus kunjungan kapal di Pelabuhan Cirebon dalam kurun waktu 2003-2014 mengalami
perkembangan cukup fluktuatif, rata-rata pertumbuhan dalam kurun waktu tersebut
berdasarkan unit kapal mengalami penurunan sebesar -1,03 % sedangkan berdasarkan GT
kapal rata-rata pertumbuhan mengalami peningkatan yaitu sebesar 5,76%.

111-6
Untuk lebih jelasnya mengenai arus kunjungan kapal di Pelabuhan Cirebon tahun 2003-2014
dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 111-12 Arus Kunjungan Kapal Pelabuhan Cirebon Tahun 2003-2014

Arus Kapal i Unit Arus Kapal (GT)


Tahun
PLN PDN PR PL Jumlah PLN PDN PR PL Jumlah
2003 15 1,077 680 7 1,779 24,925 1,042,182 120,208 9,083 1,196,398
2004 16 1,357 611 21 2,005 25,823 1,332,302 101,182 27,578 1,486,885
2005 29 1,490 575 6 2,100 60,507 1,394,829 97,884 7,362 1,560,582
2006 22 1,633 296 6 1,957 32,584 1,643,770 33,368 6,600 1,716,322
2007 24 1,695 192 10 1,920 43,722 1,811,163 22,268 7,589 1,884,742
2008 25 1,756 88 14 1,883 54,860 1,978,555 11,168 8,578 2,053,161
2009 44 1,760 60 16 1,880 66,177 1,917,884 8,182 17,314 2,009,557
2010 46 1,538 40 17 1,641 85,789 1,853,945 6,445 11,608 1,957,787
2011 46 1,466 22 3 1,537 107,199 1,901,600 2,930 543 2,012,272
2012 51 1,513 11 12 1,587 139,529 2,038,938 2,399 1,991 2,182,857
2013 65 1,331 9 2 1,407 170,870 1,800,508 1,812 1,800 1,974,990
2014 54 1,468 11 3 1,536 128,369 2,008,356 1,100 1,256 2,139,081
Sumber: KSOP Cirebon

111.3.3 Trayek Kapal Penumpang Pelni Dan Perintis


Pelabuhan Cirebon tidak terlayani oleh Kapal Penumpang pelni maupun kapal Perintis

111.3.4 DataSBNP
Ada SBNP di Pelabuhan ini 1 di darat dalam area Pelabuhan dan dua lainnya sebagai tanda
pintu masuk area Pelabuhan yaitu du mulut alur masuk pelabuhan diujung kedua
breakwater.

RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

Gambar 111-8 Letak SBNP

III.3.5 Data Kinerja Operasional Pelabuhan


Kinerja Pelabuhan Cirebon sesuai data yang didapatkan dari KSOP Cirebon bias dirangkum
sebagaimana berikut:

Tabel 111-13 Kinerja Armada Bongkar Muat Batu bara dan BOR Jetty Muara Jati I

Parameter Pelayanan Kapal Jumlah Rcrata Perata Pro- Rerata Rerata Mdksimal Pemakaian Kebutuhan Tambatan
Armada BV
General Cargo Tahun Kapal Muatan duktifita* Waktu Tambat LOA I.OA Dermaga BOR Jumlah Panjang Panjang perlu BOR

Jumlah Gang 1 (unit) (Ion) (ton/jam) (jim ) (m) (m) ()*m ) Exirting Tam batan (m) (m) nuvim um
Produktifitas Gang 160
per JamGross (ton) 2010 365 5.000 120,00 66.6 7 90 90 24.341 278% 10 99 275 77% 60%
Produktifitas Kapal 160 2011 370 8.000 120 00 66.67 90 90 25.278 289% 10 99 286 m 60%
per Jam Kerja (ton) 2012 356 S.000 120,00 66,67 90 90 25.722 294% 1.0 99 291 82% 60%
Jam Kerja per Hari (jam) 18 2013 392 8.000 120,00 66,67 90 90 26.167 249% 10 99 296 83% 60%
Koefisien Kerja Kapal 0,75 2014 427 8.000 120,00 66,67 90 90 28.454 325% 1.0 99 322 91% 60%
Produktifitas Kapal per 120,00 2015 441 8.000 120,00 66,67 90 90 29.404 336% 10 99 332 94% 60%
Jam di Tambatan (ton) • -

111-7
Tabel 111-14 Kinerja Arm ada BM General Cargo dan BOR Dermaga
Parameter Pelayanan Kapal R i t .Ua Rcrata Pro­ Rrra ta Rcrata M akfinul Pem akaian Kebutuhan Tam balan

III
Arma da B\!
General Cargo Tahun Muatan duktif! ta» Waktu Tam bat LOA LOA Derm aga BOR jum lah Panjang Panjang perlu BOR
Jumlah Gang i (ton) (ton/jam) (m) (m) U*m) Exi aling Tam batan (m) (m) m axim um

Produktif! tas Gang 30


per Jam Grosa (ton) 2010 96 3.500 15,00 23333 76 76 22.292 254% 1.0 83 212 86% 60%
Produktifita» Kapal 30 2011 105 3.500 15,00 23333 76 76 24.561 230% 10 83 234 94% 60%
per Jam Kerja (ton) 20 U 119 3.500 1S.Û0 23333 76 76 27.358 313% W 83 26S 107% 60%
Jam Kerja per Hari (jam) 12 20 B 110 3.E00 15,00 23333 76 76 25.577 292% to 83 244 93% 60%
Koefisien Kerja Kapal 0,50 2014 191 3.500 15,00 23333 76 76 44.630 509% to 53 125 171% 60%
ProduktifitaB Kapal per 15,00 2015 190 3.500 15.Q0 23333 76 76 44.334 507% to 83 423 170% 60%
(am di Tambatan (ton) -

Tabel 111-15 Kinerja Gudang dan Lapangan Penum pukan


Parameter Pelayanan Kapal
I ï !

Rcrata Rcrata Pro Rcrata R e n ta Makaimal Pemakaian Kebutuhan Tambatan


Armada BN!
General Cargo Tahun Muatan duktifita» Waktu Tam bat tO A LOA Derm aga BOR Jumlah Panj»ng Panjang perlu BOR
lumlah Gang i (tun) (ton/join) 0«>i) (m) (m) Om » ) Eaiating Tambatan (» 0 (m) maxim um
Produktifitay Gang 130
per JarnGrons (ton) 2010 86 3.500 65,00 53,85 82 82 4.633 53% to 90 48 19% 60%
Produkttfita* Kapal 130 2011 103 3.500 65 00 53,85 82 82 5369 61% to 90 55 22% 60%
per Jam Kerja (ton) 2012 85 330 0 65,00 53,85 82 82 4.762 54% to 90 49 20% 60%
Jam Kerja per Hari (jam) 12 20 B 74 3300 65,00 53,85 82 82 4.007 46% to 90 41 17% 60%
Koefisien Kerja Kapal 0,50 2014 33 3300 65.00 53,85 82 82 4.469 51% 10 90 46 19% 60%
Produktifitas Kapal per 55,00 2015 36 3300 65,00 53,85 82 82 4.619 53% to 90 48 19V 60%
Tam di Tambatan (ton) -

Tabel 111-16 SOR dan YO R di Pelabuhan Cirebon

T o ta l B M P r o d u k t iit a s BM L u a s E x is tin g L u a s P e rlu E x is tin g M a x im u m

T ahu n G udang Y a rd G udang Y a rd G udang Y a rd G udang Y a rd SO R YOR SO R YOR

(to n ) (to n ) (to n ) (to n ) M2 M2 M2 M2


% % % %

2010 1 0 0 .3 1 3 7 5 1 .3 6 6 2 5 0 ,0 0 2 0 8 ,0 0 8 .3 4 2 3 6 .8 9 0 401 3 .6 1 2 5 10 70 70

2011 1 1 0 .5 2 6 7 9 0 .8 8 2 2 5 0 ,0 0 2 0 8 ,0 0 8 .3 4 2 3 6 .8 9 0 442 3 .8 0 2 5 10 70 70

2012 1 2 5 .3 6 1 8 2 6 .2 7 0 2 5 0 ,0 0 2 0 8 ,0 0 8 .3 4 2 3 6 .8 9 0 501 3 .9 7 2 6 11 70 70

2013 1 1 5 .0 9 7 8 1 9 .8 2 7 2 5 0 ,0 0 2 0 8 ,0 0 8 .3 4 2 3 6 .8 9 0 460 3 .9 4 1 6 11 70 70

2014 2 0 0 .8 3 5 1 .0 1 7 .6 2 3 2 5 0 ,0 0 2 0 8 ,0 0 8 .3 4 2 3 6 .8 9 0 803 4 .8 9 2 10 13 70 70

2015 1 9 9 .7 2 6 1 .0 3 8 .5 8 2 2 5 0 ,0 0 2 0 8 ,0 0 8 .3 4 2 3 6 .8 9 0 799 4 .9 9 3 10 14 70 70

- - - - - - - - - - - - -

RENCANA INDUK PELABUH AN C IR EBO N


Ringkasan Eksekutif
BAB IV. ANALISIS PRAKIRAAN PERMINTAAN JASA ANGKUTAN LAUT

IV. 1 Metode A nalisis


Metode proyeksi arus barang dan penumpang secara ideal dapat dilihat pada Gambar Data
tahunan dari objective port terdiri atas data kunjungan kapal, volume barang dan jumlah
penumpang. Sedangkan data dari laporan bulanan terdiri atas kunjungan kapal, ukuran kapal
(seperti GT,LOA), waktu sandar (BT), volume barang dan jumlah penumpang tiap-tiap kapal.

<1?
D a ta K u n ju n g a n K a p a l, G T , LO A , D a ta K u n ju n g a n K a p a l, G T , LO A ,
B T , A r u s B a ra n g , A ru s B T, A r u s B a ra n g , A r u s P e n u m p a n g ' ' >
Penum pang 2 2S

ET *5 2
AJ AJ _
SJ. ro
¡»
AKo

A lo k a s i P r o y e k s i A r u s B a r a n g ke
IHasil Proyeksi Arus Barang untuk Jangka Pendek
M a s in g - M a s in g U k u ra n K a p a l/ J e n is
& Jangka Menengah
P e la y a ra n

E s tim a s i K u n ju n g a n K a p a l B e r d a s a r k a n
A r u s B a ra n g

Gambar IV-1 Diagram Alir Proyeksi Arus Barang

Seperti yang ditunjukkan pada diatas, beberapa metode akan digunakan dalam proyeksi ini, di
mana selanjutnya akan ditentukan metode mana yang paling sesuai dengan memperhatikan data
aktual. Secara ringkas, dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Model Regresi Linear adalah metode proyeksi yang paling dasar (sederhana) dan paling
banyak digunakan. Model ini dapat dituliskan dalam bentuk rumusan sebagai berikut:
y (t ) = a •,x(r) + 6

b. Model Rata-rata Laju Pertumbuhan adalah suatu metode proyeksi yang didasarkan pada
rata-rata laju pertumbuhan tahunan. Model ini dapat dituliskan dalam bentuk rumusan
sebagai berikut:

RENCANA IND UK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

y(t + l) = A G R y { t )
dimana,

-1
/ n- 1

c. Model Geometric Trend adalah model proyeksi dengan menggunakan fungsi waktu yang
non-linier, berbeda dengan model tren biasa yang merupakan fungsi linier. Penggunaan
fungsi yang non-linier ini dimaksudkan untuk mengakomodasi karakteristik pertumbuhan
yang memang lebih pas pada beberapa variabel dibandingkan menggunakan fungsi tren
biasa. Berikut ini model matematis dari model tersebut:
Y = c ( i + g y

Dimana:
Y : Variabel yang akan diproyeksi
C : Parameter konstanta (didapat dari hasil regresi)
g : Parameter pertumbuhan (didapat dari hasil regresi)
t : Variabel waktu
Asumsi yang digunakan dalam menganalisa arus barang di Pelabuhan Cirebon adalah sebagai
berikut:
1. Wilayah hinterland dari Pelabuhan Cirebon adalah Provinsi Jawa Barat.
2. Pertumbuhan PDRB secara agregat di Provinsi Jawa Barat sebesar 5,83%.
3. Pertumbuhan rata-rata arus barang di Pelabuhan Cirebon dalam 10 tahun terakhir cukup
fluktuatif, secara keseluruhan rata-rata pertumbuhan sebesar 6.87%. Pertumbuhan pada
tahun 2013-2004 tidak disertakan karena data yang cukup ekstrem nilainya dibandingkan
tahun-tahun yang lain.
4. Dengan melihat kondisi pertumbuhan PDRB dan pertumbuhan arus barang sehingga
multiplier untuk proyeksi pertumbuhan arus barang di Pelabuhan Cirebon dibanding dengan
pertumbuhan PDRB sebesar 0.94, artinya 1% pertumbuhan ekonomi akan mengakibatkan
arus barang tumbuh menjadi 0.94%.

IV.2 A nalisis Perkembangan Wilayah


IV.2.1 Analisis Dan Proyeksi Kependudukan Wilayah Hinterland
Kondisi kependudukan merupakan faktor yang cukup berpengaruh pada tingkat aktivitas
suatu wilayah, termasuk tingkat bongkar muat dan arus penumpang yang menggunakan jasa
kepelabuhan. Dalam hal ini, terdapat indikator yang dapat dipergunakan sebagai faktor yang
mempengaruhi perkembangan lalulintas barang dan penumpang di Pelabuhan
Cirebonadalah jumlah penduduk Provinsi Cirebon. Dalam hal arus muat, banyaknya
penduduk menentukan berapa surplus produksi suatu daerah yang dapat dikirim ke daerah
lainnya.

IV-1
Tabel IV-1 Pertambahan Jum lah Penduduk Provinsi Jaw a Barat Tahun 2003-2013

Laju Pertumbuhan Penduduk


No Tahun
(Jiwa) (%)

1 2003 37,980,422
2 2004 38,472,185 1.29
3 2005 39,960,869 3.87
4 2006 40,737,594 1.94
5 2007 41,483,729 1.83
6 2008 42,194,869 1.71
7 2009 42,686,512 1.17
8 2010 43,413,973 1.70
9 2011 43,826,775 0.95
10 2012 45,509,147 3.84
11 2013 46,183,642 1.48

Rata-Rata Laju Pertumbuhan 1.98

Sumber: BPS Jawa Barat, 2014


Pada data penduduk Provinsi Jawa Barat diatas menunjukkan bahwa rata-rata laju
pertambahan penduduk Provinsi Jawa Barat dari Tahun2003-2013 sebesar 1,98 persen.
Proyeksi laju pertumbuhan penduduk untuk target tahun yang telah ditentukan dilakukan
dengan menggunakan 2 (dua) skenario yaitu:
1. Skenario Pertama, populasi diproyeksikan dengan melakukan trend terhadap data
populasi penduduk yang ada untuk wilayah hinterland;
2. Skenario Kedua, proyeksi populasi dilakukan dengan menghitung rata-rata laju
pertumbuhan populasi penduduk yang ada;
3. Skenario Ketiga, proyeksi populasi berdasarkan rata-rata dari hasil kedua metode
proyeksi diatas.
Tabel IV-2 Proyeksi Jum lah Penduduk Provinsi Jaw a Barat hingga Tahun 2035 (Jiwa)

Penduduk Prov. Proyeksi dengan Proyeksi dengan Rata-rata Hasil


Tahun
Jawa Barat Trend Method Average Growth Rate Proyeksi

2003 37,980,422
2004 38,472,185
2005 39,960,869
2006 40,737,594
2007 41,483,729
2008 42,194,869
2009 42,686,512

RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

Penduduk Prov. Proyeksi dengan Proyeksi dengan Rata-rata Hasil


Tahun
Jawa Barat Trend Method Average Growth Rate Proyeksi

2010 43,413,973
2011 43,826,775
2012 45,509,147
2013 46,183,642
2014 46,803,640 47,097,840 46,950,740
2015 47,597,433 48,030,134 47,813,783
2016 48,391,226 48,980,883 48,686,054
2017 49,185,018 49,950,451 49,567,735
2018 49,978,811 50,939,212 50,459,012
2019 50,772,604 51,947,546 51,360,075
2020 51,566,397 52,975,839 52,271,118
2025 55,535,361 58,430,808 56,983,085
2030 59,504,325 64,447,480 61,975,903
2035 63,473,289 71,083,694 67,278,492
Sumber: Hasil Analisa

2003 2008 2013 2018 2023 2028 2033

Gambar IV-2 Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk Provinsi Jawa Barat Hingga Tahun 2035 (Jiwa)

IV.2.2 Analisis Dan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Hinterland


Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator penting untuk
mengetahui kondisi perekonomian di suatu wilayah dalam periode tertentu, yang umumnya
satu tahun. PDRB merupakan jumlah nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh seluruh unit
usaha dalam suatu wilayah tertentu.

IV-2
Laju pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator ekonomi makro yang
menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan oleh berbagai sektor
ekonomi. Dengan demikian indikator ini dapat pula dipakai untuk menentukan arah
kebijakan pembangunan yang akan datang. Untuk mengukur besarnya laju pertumbuhan
ekonomi, dapat dihitung dari data PDRB atas dasar harga konstan. Untuk berbagai keperluan
analisa, PDRB harga konstan sering dipakai karena pengaruh naik turunnya harga terhadap
nilai PDRB telah dieliminir atau dengan kata lain telah ditiadakan. Untuk melihat fluktuasi
perekonomian secara riil, maka perlu disajikan PDRB atas dasar harga konstan secara berkala.
Perekonomian Provinsi Jawa Barat terus mengalami peningkatan hingga tahun 2013. Hal ini
ditunjukkan dengan total nilai tambah yang dihasilkan dari aktivitas perekonomian di wilayah
Provinsi Jawa Barat yang terus meningkat sejak tahun 2003 hingga tahun 2013. Total nilai
tambah yang terangkum dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Barat
atas dasar harga konstan pada tahun 2013 mencapai 386.838,8 miliar rupiah.

Gam bar IV-3 Pertam bahan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Provinsi Jaw a Barat Tahun 2003-2013
(dalam juta rupiah)

Seperti telah diketahui bahwa pertumbuhan nilai PDRB mempunyai korelasi yang kuat
dengan pertumbuhan arus barang, yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari. Untuk
melihat sejauh apa perkembangan ekonomi di wilayah hinterland Pelabuhan Cirebon, maka
akan dilakukan proyeksi PDRB dengan melihat data historis PDRB selama 10 (sepuluh) tahun
terakhir dan mencari laju pertumbuhan setiap tahunnya serta variabel bebas dari

RENCANA INDUK PELABU H AN C IREBO N


Ringkasan Eksekutif

pertumbuhan penduduk selama kurun waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir, maka PDRB
diprediksi untuk tahun-tahun mendatang dan hasil Proyeksi Pendapatan Domestik Regional
Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Barat atas dasar Harga Konstan adalah sebagai berikut:
Tabel IV-3 Tabel Proyeksi PDRB Berdasarkan Harga Konstan Provinsi Jawa Barat Hingga Tahun 2035
(dalam Juta Rupiah)

Tahun PDRB Proyeksi - Proyeksi - Proyeksi -


Tren Average Growth Rata-rata
2012 364,752 #N/A #N/A #N/A
2013 386,839 #N/A #N/A #N/A
2014 #N/A 409,397 394,256 401,826
2015 #N/A 433,271 410,939 422,105
2016 #N/A 458,537 427,622 443,080
2017 #N/A 485,277 444,306 464,791
2018 #N/A 513,576 460,989 487,282
2019 #N/A 543,525 477,672 510,599
2020 #N/A 575,221 494,356 534,788
2025 #N/A 763,676 577,772 670,724
2030 #N/A 1,013,874 661,189 837,531
2035 #N/A 1,346,042 744,606 1,045,324
Sumber: Hasil Analisa

Gambar IV-4 Grafik Proyeksi PDRB Harga Konstan Provinsi Jawa Barat Hingga Tahun 2035 (Jiwa)

IV.3 A nalisis Pergerakan Barang


Berikut ini analisa proyeksi dari beberapa metode yang digunakan. Dibandingkan dengan data
historis, error dari masing-masing metode antara 6-9% dan bila dari hasil rata-rata proyeksi error

dapat turun menjadi 5.48%.

IV-3
Tabel IV-4 Hasil Test Perangkat Proyeksi

Tahun Realisasi Average Geometric Regresi Non Average Proyeksi


Growth Trend Linier Multiplier Rata-rata
2003 1,730,361
2004 2,458,717 1,849,163 2,840,717 2,855,499 1,825,164 2,342,636
2005 2,981,797 2,627,527 2,977,048 2,981,156 2,593,425 2,794,789
2006 3,270,443 3,186,520 3,119,922 3,122,061 3,145,163 3,143,417
2007 3,544,520 3,494,984 3,269,653 3,280,846 3,449,624 3,373,777
2008 3,826,701 3,787,878 3,426,570 3,440,836 3,738,717 3,598,500
2009 3,584,134 4,089,433 3,591,017 3,554,267 4,036,358 3,817,769
2010 3,698,256 3,830,212 3,763,357 3,727,391 3,780,501 3,775,365
2011 4,081,776 3,952,169 3,943,968 3,917,829 3,900,876 3,928,710
2012 3,872,583 4,362,021 4,133,246 4,111,089 4,305,408 4,227,941
2013 4,046,173 4,138,465 4,331,608 4,306,610 4,084,754 4,215,359
2014 4,644,532 4,323,974 4,539,490 4,502,848 4,267,854 4,408,542
Error 8.78% 6.30% 6.23% 8.94% 5.48%
Berikut ini hasil proyeksi keseluruhan hingga tahun 2035 (angka di bawah adalah hasil proyeksi
tanpa peti kemas karena terminal peti kemas diperkirakan akan mulai beroperasi 2020, lebih detil
lihat bagian proyeksi per kemasan):

Tabel 1V-5 Proyeksi Arus Barang Berdasarkan Perdagangan di Pelabuhan Cirebon (Ton)

Tahun Realisasi Average Geometric Regresi Non Average Proyeksi


Growth Trend Linier M ultiplier Rata-rata
2003 1,730,361
2004 2,458,717 1,849,163 2,840,717 2,855,499 1,825,164 2,342,636
2005 2,981,797 2,627,527 2,977,048 2,981,156 2,593,425 2,794,789
2006 3,270,443 3,186,520 3,119,922 3,122,061 3,145,163 3,143,417
2007 3,544,520 3,494,984 3,269,653 3,280,846 3,449,624 3,373,777
2008 3,826,701 3,787,878 3,426,570 3,440,836 3,738,717 3,598,500
2009 3,584,134 4,089,433 3,591,017 3,554,267 4,036,358 3,817,769
2010 3,698,256 3,830,212 3,763,357 3,727,391 3,780,501 3,775,365
2011 4,081,776 3,952,169 3,943,968 3,917,829 3,900,876 3,928,710
2012 3,872,583 4,362,021 4,133,246 4,111,089 4,305,408 4,227,941
2013 4,046,173 4,138,465 4,331,608 4,306,610 4,084,754 4,215,359
2014 4,644,532 4,323,974 4,539,490 4,502,848 4,267,854 4,408,542
2015 #N/A 4,963,414 4,757,349 4,708,029 4,898,996 4,831,947
2016 #N/A 5,304,190 4,985,663 4,922,559 5,167,402 5,094,954
2017 #N/A 5,668,363 5,224,935 5,146,864 5,450,513 5,372,669
2018 #N/A 6,057,540 5,475,689 5,381,391 5,749,135 5,665,939
2019 #N/A 6,473,436 5,738,478 5,626,604 6,064,118 5,975,659
2020 #N/A 6,917,886 6,013,878 5,882,990 6,396,358 6,302,778
2025 #N/A 9,641,982 7,602,286 7,351,181 8,351,384 8,236,708

RENCANA INDUK PELABUH AN C IREBO N


Ringkasan Eksekutif

Tahun Realisasi Average Geometric Regresi Non Average Proyeksi


Growth Trend Linier Multiplier Rata-rata
2030 #N/A 13,438,759 9,610,230 9,185,782 10,903,958 10,784,682
2035 #N/A 18,730,616 12,148,520 11,478,236 14,236,717 14,148,522

Gam bar IV-5 Proyeksi Arus Barang Berdasarkan Perdagangan di Pelabuhan Cirebon (Ton)

Bila dibagi berdasarkan perdagangan dalam dan luar negeri serta bongkar dan muat barang maka

hasilnya sebagai berikut:

Tabel IV-6 Proyeksi Arus Barang Berdasarkan Perdagangan di Pelabuhan Cirebon (Ton)

Arus Barang Berdasarkan Perdagangan (Ton)


Angkutan Luar Angkutan Dalam
Tahun Jumlah
Negeri Negeri
Ekspor Impor Bongkar Muat
2015 215,664 4,542,497 73,786 4,831,947
2016 245,447 4,778,906 70,601 5,094,954
2017 279,247 5,025,892 67,530 5,372,669
2018 317,589 5,283,780 64,570 5,665,939
2019 361,064 5,552,878 61,717 5,975,659
2020 410,336 6,233,475 58,967 6,702,778
2025 772,988 7,939,322 46,657 8,758,967
2030 1,437,631 9,992,488 36,448 11,466,567
2035 2,628,929 12,381,899 27,995 15,038,823

IV-4
IV.4 A n a lisis K em asan
Analisa arus barang berdasarkan kemasan di Pelabuhan Cirebon dapat dibedakan atas general
cargo, bag cargo, curah cair BBM, curah cair non BBM Curah kering dan petikemas.

Tabel IV-7 Tabel Proyeksi Arus Barang Berdasarkan Kemasan di Pelabuhan Cirebon (Ton)

Arus Barang Berdasarkan Kemasan (Ton)

Tahun Curah Jumlah


General Bag Curah Cair Curah
Cair Petikemas Lain-lain
Cargo Cargo Non BBM Kering
BBM

2015 7,715 123,234 429,722 4,271,276 4,831,947


2016 5,646 110,867 470,327 4,508,113 5,094,954
2017 4,129 99,666 514,381 4,754,492 5,372,669
2018 3,018 89,540 562,206 5,011,174 5,665,939
2019 2,204 80,400 614,152 5,278,902 5,975,659
2020 1,610 72,161 670,592 5,558,416 400,000 6,702,778
2025 332 41,819 1,035,690 7,158,867 522,259 8,758,967
2030 68 24,102 1,590,811 9,169,701 681,885 11,466,568
2035 14 13,838 2,434,146 11,700,523 890,301 15,038,824

Gam bar IV-6 Gam bar Proyeksi Arus Barang Berdasarkan Kem asan di Pelabuhan Cirebon

RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

IV.5 A nalisis Pergerakan Kunjungan Kapal


Analisa pergerakan kunjungan kapal di Pelabuhan Cirebon dapat dibedakan atas general cargo, bag
cargo, curah cair BBM, curah cair non BBM Curah kering dan Pakan Ternak, Petikemas/Kontainer
dan penumpang.

Tabel IV-8 Tabel Proyeksi Kunjungan Kapal di Pelabuhan Cirebon

CU RAH KERIN G DAN PAKAN


G EN ER A L D AN BAG CA R G O BATU BARA PETI KEM A S/K O N TA IN ER CU RA H C A IR TERN AK
TA H U N
> 5000- >10000- >5000- >10000- >5000- >20000- >5000- >10000- >5000- >10000-
<5000 10000 20000 <5000 10000 20000 <5000 10000 40000 < 5 000 10000 20000 <5000 10000 20000
2016 63 16 0 273 122 0 0 0 0 51 17 0 143 18 0
2017 65 16 0 283 126 0 0 0 0 52 17 0 160 20 0
2018 74 19 0 292 130 0 0 0 0 53 18 0 200 28 26
2019 79 21 0 302 134 0 0 0 0 55 18 0 268 42 58
2020 141 44 0 208 208 0 364 0 0 93 70 0 211 79 39
2021 147 38 4 215 143 43 392 0 0 52 52 26 226 82 41
2022 154 40 4 222 148 44 420 0 0 53 53 26 242 86 43
2023 161 42 4 229 153 46 448 0 0 53 53 27 257 89 45
2024 168 44 4 237 158 47 462 0 0 54 54 27 273 94 47
2025 129 45 11 420 280 84 476 322 126 55 55 27 215 99 68
2026 109 39 24 107 285 214 504 336 126 28 56 35 228 105 73
2027 114 41 24 109 291 218 518 336 126 28 56 35 242 111 78
2028 121 43 25 111 297 223 532 350 126 29 57 36 257 117 81
2029 127 45 27 114 303 227 546 364 140 29 58 36 271 123 86
2030 135 48 28 160 426 319 560 378 140 29 59 37 288 131 92
2031 142 50 30 162 432 324 574 378 140 30 60 37 306 140 97
2032 151 54 31 165 439 329 588 392 154 30 61 38 324 149 103
2033 159 56 33 167 446 334 602 406 154 31 62 39 343 159 111
2034 168 60 35 170 453 340 630 420 154 31 63 39 364 169 117
2035 178 63 36 173 552 345 644 420 154 32 64 40 386 180 125

IV-5
BAB V. ANALISIS PENGEMBANGAN PELABUHAN

V .l R e n c a n a K eb u tu h a n F a s ilit a s P ela b u h a n

Selaras dengan fungsi Pelabuhan dan sesuai dengan amanat Undang-Undang tentang Pelayaran
dan Kepelabuhanan, maka Pembangunan Pelabuhan tidak terlepas dari pembangunan masyarakat
dan pembinaan sumber daya alam sesuai dengan lingkungan eksternal dan internal yang ada. Hal
ini sejalan dengan Kebijaksanaan Umum Pembangunan Nasional dalam kaitannya dengan
pembinaan sumber daya dan pengentasan kemiskinan, sebagaimana tercermin dalam program-
program yang dirancang oleh Bappenas yang terlihat memberikan prioritas bagi kedua hal

tersebut.
Sehubungan dengan hal itu maka Pelabuhan Cirebon diarahkan pada pencapaian tujuan dan
sasaran pengembangan sumberdaya alam baik berupa tambang maupun agro Industri
Adapun tujuan dan sasaran pengembangan Pelabuhan dapat dikemukakan sebagai berikut.
Terdapat 5 (lima) tujuan pokok sebagai berikut:
1. Meningkatkan laju pergerakan barang dan penumpang;
2. Meningkatkan Pendapatan masyarakat di daerah hinterland Pelabuhan pada umumnya
3. Meningkatkan pendapatan Daerah;
4. Mengembangkan dan mengexplore potensi yang ada;
5. Menunjang pembangunan daerah.
Pembangunan Pelabuhan mencakup 3 hal pokok sebagai berikut:
1. Pembangunan Pelabuhan Cirebon dengan segala fasilitas sarana/prasarana yang
memadai untuk meningkatkan kegiatan usaha di daerah dalam berbagai sektor, baik
Industri maupun hasil sumberdaya alam yang dimiliki.
2. Pembangunan masyarakat disertai dengan penyediaan fasilitas kegiatan usaha
3. Pembinaan sumber daya manusia dan peningkatan pendapatan daerah guna
kesejahteraan rakyat di Cirebon khususnya dan Provinsi Jawa Barat pada umumnya.

V .l.l Dasar Perencanaan

Pelabuhan Cirebon merupakan salah satu gerbang pintu keluar masuknya barang dan
penumpang di Provinsi Jawa Barat yang sangat strategis. Secara geografis Pelabuhan Cirebon

RENCANA INDUK PELABUH AN C IREBO N


Ringkasan Eksekutif

berada di tengah tengah Provinsi Jawa Barat dan berada dekat dengan kota Cirebon bahkan
bisa dikatakan terletak daidalam kota Cirebon.
Ditinjau dari suatu system transportasi Pelabuahan Cirebon terhubungkan dengan moda
transportasi lain dengan jarak yang relative dekat, dengan bandara jalur kereta api hanya
memakan waktu tidak lebih dari 10 menit perjalanan menggunakan transportasi darat.
Dari sumber energy, di sebelah Timur ada pembangkit listrik tenaga uap dengan kapasitas
1000 mw.
Satu satunya kendala terbesar adalah sempitnya lahan yang dimiliki dan ketiadaan lahan
untuk pengembangan, disamping alur pelayaran yang dangkal dan panjang
Untuk perencanaan fasilitas pelabuhan, baik fasilitas darat maupun laut, digunakan pedoman
standar perencanaan sebagai berikut:
■ UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
■ Pedoman Teknis Rencana Induk Pelabuhan yang disusun oleh Direktorat
Pelabuhan dan Pengerukan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Departemen
Perhubungan, Tahun 2009
■ Port Development; handbook for planners in developing countries, 1985
■ Technical Standards for Ports and Harbour Facilities in Japan JICA, 1995.
■ Comments on Technical Standards for Ports and Harbour Facilities in Japan, 2002.

Konsep pengembangan pelabuhan dalam hal ini mereferensi kebijakan hirarki pelabuhan
yang telah ditetapkan dalam Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN), sesuai Permenhub
no 414/2013.

V.1.2 Kriteria Pengembangan

Skala Pelabuhan Cirebon secara Nasional merupakan Pelabuhan Pengumpul, dimana


pelabuhan ini harus mempunyai kedalaman minimal -10 dan lahan darat lebih dari 50 ha
mengingat pelabuhan ini harus bisa didarati oleh kapal besar untuk tujuan export.
Sesuai dengan peraturan yang ada KP 901 tahun 2016 Pelabuhan ini harus memenuhi
kriterian sebagai berikut:
a. kedekatan secara geografis dengan tujuan pasar internasional;
b. berada dekat dengan jalur pelayaran internasional ± 500 mil dan jalur pelayaran
nasional ± 50 mil;

V-6
c. memiliki jarak dengan pelabuhan utama lainnya minimal 200 mil;
d. memiliki luas daratan dan perairan tertentu serta terlindung dari gelombang
e. kedalaman kolam pelabuhan minimal -7 m-LWS;
f. berperan sebagai tempat alih muat peti kemas/curah/general cargo/penumpang
internasional;
g. melayani Angkutan petikemas sekitar 300.000 TEUs/tahun atau angkutan lain yang

setara;
h. memiliki dermaga peti kemas/curah/general cargo minimal 1 (satu) tambatan,
peralatan bongkar muat petikemas/curah/general cargo serta lapangan
penumpukan/gudang penyimpanan yang memadai.
i. berperan sebagai pusat distribusi peti kemas/curah/general cargo/penumpang di
tingkat nasional dan pelayanan angkutan peti kemas internasional;
Sedangkan Standard peruntukan Fasilitas Darat dan laut di sesuaikan dengan aturan yang

berlaku sebagai berikut:


Standard Fasilitas Darat
Sesuai ketentuan Pasal 22 PP 61/2009, rencana peruntukan wilayah daratan untuk Rencana
Induk Pelabuhan disusun berdasarkan kriteria kebutuhan 2 katagori fasilitas darat, yaitu:

Fasilitas Pokok dan Fasilitas penunjang, seperti berikut.

1) Fasilitas Pokok, meliputi:


a) dermaga
b) gudang lini 1;
c) lapangan penumpukan lini 1;
d) terminal pelabuhan (pelayanan: penumpang; general cargo; peti
kemas;terminal ro-ro; curah; dsb)
e) fasilitas penampungan dan pengolahan limbah;
f) fasilitas bunker;
g) fasilitas pemadam kebakaran;
h) fasilitas gudang untuk Bahan/Barang Berbahaya dan Beracun (B3);
i) fasilitas pemeliharaan dan perbaikan peralatan dan Sarana Bantu
Navigasi-Pelayaran (SBNP)

2) Fasilitas Penunjang, meliputi:


a) kawasan perkantoran;

RENCANA INDUK PELA BU H A N C IREBO N


Ringkasan Eksekutif

b) fasilitas pos dan telekomunikasi;


c) fasilitas pariwisata dan perhotelan;
d) instalasi air bersih, listrik, dan telekomunikasi;
e) jaringan jalan dan rel kereta api;
f) jaringan air limbah, drainase, dan sampah;
g) areal pengembangan pelabuhan;
h) tempat tunggu kendaraan bermotor;
i) kawasan perdagangan;
j) kawasan industri; dan
k) fasilitas umum lainnya

Standar Peruntukan Fasilitas Perairan.

Menurut Pasal 23 PP 61/2009, rencana peruntukan wilayah perairan untuk Rencana Induk
Pelabuhan disusun berdasarkan kriteria kebutuhan untuk: 1) Fasilitas pokok, dan 2)
Fasilitas Penunjang.

1) Fasilitas pokok meliputi:


a) alur-pelayaran;
b) perairan tempat labuh;
c) kolam pelabuhan untuk kebutuhan sandar dan olah gerak kapal;
d) perairan tempat alih muat kapal;
e) perairan untuk kapal yang mengangkut Bahan/Barang Berbahaya dan Beracun
(B3);
f) perairan untuk kegiatan karantina;
g) perairan alur penghubung intrapelabuhan;
h) perairan pandu; dan
i) perairan untuk kapal pemerintah.
2) Fasilitas penunjang meliputi:
a) perairan untuk pengembangan pelabuhan jangka panjang;
b) perairan untuk fasilitas pembangunan dan pemeliharaan kapal;
c) perairan tempat uji coba kapal (percobaan berlayar);
d) perairan tempat kapal mati;
e) perairan untuk keperluan darurat; dan
f) perairan untuk kegiatan kepariwisataan dan perhotelan.

Hasil penyusunan ruang peruntukan fasilitas perairan tersebut menjadi referensi


penetapan Daerah Lingkungan Kepentingan Perairan (DLKP) Pelabuhan.

V- 7
Rancangan pengembangan dan penyediaan fasilitas darat maupun fasilitas perairan
pelabuhan, dilaksanakan secara bertahap sebagaimana ketentuan KAK yaitu:

• Jangka pendek, tahun 2015-2020

• Jangka menengah, tahun 2015-2025


• Jangka panjang, tahun 2015-2035.

V.2 A nalisis Kapasitas Pelabuhan Existing


V.2.1 Dermaga
Total panjang dermaga yang dimiliki oleh Pelabuhan Cirebon adalah 1024 m dengan lebar
bervareasi dari 6 hingga 10 m, dermaga kayu 150 m merupakan dermaga Pelra kedalaman
desain dari dermaga ini adalah sampai -6,00 m LWS yang dimanfaatkan untuk bersandarnya
kapal curah cair dan General Cargo. Untuk lebih jelasnya secara rinci bisa dilihat di bab
sebelumnya yaitu pada bab kondisi existing pelabuhan (sub bab V.3.3.). Dengan kondisi
tersebut maksimal hanya bisa didarati kapal dengan bobot mati 5000 DWT.

V.2.2 Lapangan Penumpukan


Dominasi pemanfaatan lapangan penumpukan adalah berupa lapangan penumpukan
Batubara dan general cargo dan sebagian lain adalah curah cair. Luas lapangan penumpukan
Kontainer dan general cargo adalah 36.890 m2.

V.2.3 Gudang
Pelabuhan Umum Cirebon mempunyai gudang permanen baik di lini satu maupun ditempat
lainnya. Gudang yang ada digunakan sebagi fungsi penyimpanan dengan luas 4.071 m2.

V.3 Prediksi Kebutuhan Fasilitas


V.3.1 Dermaga

Sudah selayaknya Pelabuhan bertaraf Pelabuhan Pengumpul harus mempunyai dermaga


yang dedicated permasing masing jenis barangnya, baik itu berupa peti kemas, general cargo,
curah cair maupun curah kering dan lain sebagainya.
Prediksi kebutuhan dermaga dalam setiap jenis komoditinya dapat dilihat pada tabel di akhir
bab ini.

RENCANA INDUK PELABU H AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

V.3.2 Lapangan Penumpukan

Sesuai dengan proyeksi peningkatan setiap komoditi yang diprediksi melalui pelabuhan ini
akan membutuhkan lapangan penumpukan yang memadai baik dalam luas maupun jenisnya.
Prediksi pemakaian lapangan penumpukan dengan berbagai komoditi dan luasnya dapat
dilihat pada tabel di akhir bab ini.

V.3.3 Gudang

Ketersediaan gudang-gudang yang ada sudah mencukupi sampai dengan akhir


pengembangan pelabuhan. Mengenai luasan dan pemanfaatannya dapat dilihat pada tabel
di akhir bab ini.

V.3.4 Terminal Penumpang

Terminal Penumpang akan diadakan di dalam wilayah pelabuhan ini untuk mengakomodir
permintaan daerah termasuk di dalamnya sebagian wilayah pelabuhan yang dianggap
sebagai Heritoge oleh Pemerintah Daerah Cirebon.

V.3.5 Peralatan Bongkar Muat

Peralatan bongkar muat akan disesuaikan dengan kebutuhan hondling system yang
diperlukan oleh masing masing jenis komoditi baik general cargo, curah kering, curah cair
dan peti kemas.

V-8
Tabel V - l Tabel Kebutuhan Fasilitas Pokok W ilayah Darat Pelabuhan Cirebon
No. Nmiui/Jr- itis Standar Ki'lnilutcin Kapanltin / Ulmr lr.1
Yon« Digunakan 2020 2025 2035
w --------------------------- <21 (3) (4) (S> ------------- <«) --------------- 12 <»>
— —
I WILAYAH DARAT
A FASILITAS POKOK

........................ .......... ............................ . UNTAD " * ---------- ----------------------- ------ *


_____ a_ Dcnnaga General ¿fcBag Cargo 420 m 263 m 293 m 465 m
___ b Dermaga Batu Bara 200 in 95 m 223 m
____ c DcnnapiCtinh 0 in 65 in 103 m
il Dermaga Curah Cn* 25y m 105 rn 121 m
e Dermaga Pakan Tcrmk 0 in 91 m 106 m 196 m
___ £ DcmngaContanci 0 m 349 m 482 m 624 m
g. Dcnnaga Passanpcr 0 in 156 m 156 in 156 m Bint baru intifc kap«! 10000 DWT

2 Gudang ---- ---------------------- --------------------- ---------------------------

_ a. General ¿t Bug Cargo —


•1071 m'’ 1 177 m1 1.461 m' 3 164 m'
— b Contanei (CFS; m1 ...... ....................._... ____ 19.100 m' ____ 25 600 m2 34.000 m'___ Buat bani
3. Open Yard — —
- - _______________ .................. .................... ---------- ---------- ---------------------------

a General & Bag Cargo 21 025 m2 2


.941 m1 3 G52 m' 6 160 m'
_ . b Batu Bani 52 881 m' 19.93S m' 40 27S m' 6« 198 m' ..
C Cur.ihKcidv m1
.. _
d Curah Cn* 53 463 m2 1 565 m' 1 844 m' 2 152 m'
_____ c PakanTernak m’ 3 299 m* 3 898 m2 7 111 m'
___ £ Container III2 273 312 ni‘ 366 534 m' 487 078 m'
g Dock dan Gahngan kapal m2 400 000 m2 700 000 m2 1 000 000 m’ Lalim telih dkvMumsi scbagim
4. Passenger Terminal ------ ------------ ---------------------- ------- --------------------------------------- ---------

a Gedung Terminal m2 600 m2 1 200 in2


___ . ^.Tempat >,‘'»rl<ir n1 600 m2 600 m2 1 000 m7
B. FASILITAS PENUNJANG ............. ........................ — — — ------------------- -----------------------------

_ . ) Kantor Admaretmsi Pchbulnn m1 Neufert 600 m2 600 m2 600 m2


.2 _Kiw— n Perkantoran . ' *
7 744 m2 7 744 m2 7 744 m2 7 744 m’
____3 Ak Benih ............... ...........
1 Ruuv Pompa i 1
___ 2 Menara A* 1 3 .
.... 3_Sumber ar__ 1 1 1
___4 JannganLbUtI: PUIL 1988 400 KVA 500 KVA 600 KVA
5 Jaraigan Tcfckomunkasi TELKOM V V V
6 Jalinan Jalan Bm Mm«
__ a__Kereta Agi 2 000 m 2 000 m * ■
__ b Jahnbnsa 2 000 m 2 600 m 4 000 m .
7 - Tempat Parki Kerayaan Bermotor m2 200 m2 400 m2 600 n)2 __
8 JaiDgan Dranasc 4 000 m 5 200 m
__ y _ L*ubah 1 Unit 1 Unit 1 Unf
___l_0 Tempat Pcrnbinrgan SnmpnhAkJei 1 Unit i lMl 1 Unit
11 Pcngohli LtnbaJ^fRF) 1 1« 2 In 3 In
12 Toilet Umun
13 Tempat Ibadah NcufcH ni2 200 m2 400 m’
14 Pos Jaga 15 m2 30 in2
15 Pagar keL^ Masif
Pagar kehimg Besi 800 m 1 000 m
16 Gapira pchbulun - - ■
17 Pcngliiiaum 20 ••Lms Lalim V V V
18 Aical Pcxvcmbiu*omPehbidnn m2 m2
— — — — — —
n WILAYAH PERAIRAN
A FASILITAS POKOK __________________ __________ ___________
1 Alur Pchyaran
2 Break Wato 1 000 m 2(00 m 3 000 m
3 Perairan Tempat Labuh 357 030 m2 140.594 m2 140 584 m'
___ 4 Area AHi Mi»»t Kapal •
357 030 m2 77 329 m2 92 380 m’
5 KolamPetabiinn utii; Olahgerak Kapal 176 371 m2 88 7yG m2 88 796 m’
6 Pernran Pandu 55 221 m2 35 061 in2
7
g.
Perakan I Tntuk Kapal Pcmcinitah
Pengerukanakr danKohm
— --------------------------- 110,442 na 70122 na 70 122 m' ............................................. ...............
50 940 000 mV
B FASILlTASPENUNjANG ------------ ----------------— — --------------------------- zzzzzz
1 ............. —
Zom Docksy 100 000 m2 in2 in’
___ 2_ _ _Pcr.ii»n inhjk kcpcthwndnn>nt 178 515 m2 _
___3 PerairanUntuk Wnala m2
4 PerairanUnhic Kapal Mati m2 m2 m'
5 Perairan Unttic Pcngembaucui Pclabifnn m2 na |n,

RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

IA R encana P en g em ba n g a n P ela b u h a n

Penyusunan rencana kebutuhan pengembangan pelabuhan didasarkan pada pendekatan


penilaian kapasitas pelabuhan dan memperhatikan skema pembangunan pelabuhan. Selain
kebijakan pemerintah, ¡juga telah diperhatikan program pembangunan pelabuhan strategis di
Indonesii.
Pelabuhan Cirebon mempunyai wilayah hinterland yang paling luas di antara pelabuhan yang
ada di Provinsi Jawa Barat. Potensi yang ada dapat dikelompokkan menjadi 4 Kelompok besar
antara lan
1. Peti Kemas
2. Curah Cair
3. Curah Kering dan
4. General Kargo
Potensi inilah yang dilakukan bongkar muatnya di Pelabuhan Cirebon. Dari hasil analisis Potensi
Bongkar Muat barang yang perlu pengapalan melalui Pelabuhan Cirebon dan hasil analisis
kemampuan dan daya tampung pelabuhan Ciebon terlihat bahwa kondisi pelabuhan yang ada
sudah tidak lagi mampu melayani tuntutan bongkar muat dimasa mendatang. Dengan demikian
untuk memenuhi kebutuhan akan sarana dan prasarana Bongkar muat barang diperlukan

pengembangan wilayah darat maupun perairannya.


Dalam hal ini solusi pengembangan satu satunya hanya denga melakukan reklamsai untuk
menambah daratan yang diperlukan dan melakukan pengerukan baik untuk kolam maupun alur

pelayarannya.
Dengan terbatasnya lahan darat ditambah dengan adanya permintaan daerah untuk menjadikan
sebagian wilayah pelabuhan sebagai Heritage dan perlu diadakannya terminal penumpang, maka
dipandang perlu untuk melakukan rekonfigurasi pemanfaatan lahan yang ada.
Dalam kerangka besar rekonfigurasi ini Pelabuhan Cirebon dikondisikan sebagai pelabuhan yang
mempunyai porsi seimbang untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Minimal masih terdapat 4
Terminal yang perlu dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan sarana bongkar muat barang dan

naik turunnya penumpang, empat terminal tersebut adalah:


1. Terminal Penumpang
2. Terminal Peti Kemas
3. Terminal Curah Kering
4. Terminal Multi purpose

V-9
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan sedikit perubahan tata kelola dalam pelaksanaan
bongkar muatnya, kebutuhan terminal yang ada tidak dipisahkan dengan jelas pada peruntukan
dermaga dan daerah yang ada di belakangnya. Akan tetapi dibuat lebih fleksibel dengan
merencanakan dermaga yang ada menjadi dermaga multipurpose termasuk di dalamnya adalah
dermaga curah cair, alih fungsi dock yard yang ada menjadi terminal penumpang, yang lain seperti
peti kemas, curah kering dan relokasi Dock Yard memanfaatkan penambahan lahan darat dengan
reklamasi laut.

V.4.1 Penyediaan Alur Pelayaran dan Kolam Pelabuhan

Dari hasil analisis pada bab sebelumnya diketahui bahwa Pelabuhan Cirebon perlu
melakukan pengembangan ke arah laut dengan melakukan reklamasi dan pengerukan kolam
dan alur pelabuhan. Untuk dermaga yang ada akan ditingkatkan kekuatannya sesuai dengan
kebutuhan pemanfaatannya dengan menambah perkuatan dermaga di depan dermaga yang
ada untuk menahan kapal yang lebih besar dari desain semula yaitu hingga kapal dengan
bobot mati 10.000 DWT atau dengan kedalaman kolam hingga -10.00 m LWS. Sedangkan
untuk daerah reklamasi diperlukan dermaga yang lebih besar khususnya di dermaga peti
kemas sehingga mampu menampung kapal peti kemas dengan bobot mati 40.000 DWT atau
dengan kedalaman kolam dan alur hingga -12.00 mLWS

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBON


Ringkasan Eksekutif

V.4.2 Rencana Zonasi dan Pentahapan Pengembangan Pelabuhan Cirebon

Pelabuhan Cirebon akan dilakukan zonasinya disesuaikan dengan memanfaatkan semaksimal


mungkin kondisi yang ada ditambah dengan daerah pengembangan hingga 20 tahun ke
depan.

Ada 7 zona utama antara lain

1. Zona Multipurpose
2. Zona Curah Cair
3. Zona Passenger
4. Zona Curah Kering (non batubara)
5. Zona Peti Kemas
6. Zona Batubara
7. Zona Dock dan Galangan Kapal

Layout kondisi eksisting dan rencana zonasi pengembangan Pelabuhan Cirebon bisa dilihat
ber turut turut pada Gambar V -l dan V2. Tahapan pengembangan jangka pendek sampai
dengan jangka panang disajikan pada Gmbar V-3 s/d. V-5; pada lembar berikutnya dalam
laporan ini.

Tabel V -2 Rekapitulasi Pengem bangan Fasilitas Pelabuhan Cirebon


N u. R e n ca n a P engem bangan
N a iu o / Je n fe L) I n * n s 1 K x k t in g S a tu a n K eteran g an
2 0 1 6 -2 0 2 0 2016 -2 0 2 5 2 0 1 6 -2 0 3 5

01 (3 ) (4 ) <J1 (6 ) <J> t» )

I W IL A Y A H D A R A T

A FA SILITA S PO KO K
1. D erm ag a

a D e i m ig a G e n e r a l & B a g G a ig o (M u ltip u ip o ie ) 6 -10 m 440 795 795


3 5 5 i m h d h f i r g s i r u n m a y a r ii d e im i& i M ulti
b D e m i ig a C u u h K c m g (B a t u B a n i l 355 m 775 420 420 p ir p o s e

c D e n r n g a C ir u h K c r o p (W o n B a tu b a r a ) 0 m 0 0 240

d D c n r a g a C in JiC a ff 179 m 179 179 179

c D c m u g a C o n tain er 0 m 465 658 950

f D e n r a g a P a s s a i^ e r 0 m 200 200 200 A h h F u n g a D e n r a g * n a ib P u p o s c

2 Gudang

a. G e n e r a l «fc B u g C n ig p 4071 m3 4071 4 071 4 071

3. O pen Yard

•a. G en eral ¿t B u g C iu g p 21025 m1 21 0 2 5 21 0 2 5 21025 D ig im fc u i U n tu k A i e a M u jip u p o s e


Ja p g k a M e n e n g a h L o k a s i P e n u m p u k a n p in la h
69 000 99 000 218 000
b B a tu B a n i 69 000 n\ b : a rea r e tia n n a

c. C u r a h K e r in g n o n b a tu b a ra 0 nV 122 0 0 0 212 000 212 000

•J C u ra h C a ir 4 3 .5 0 0 m1 51 9 0 0 51 9 0 0 51900

e. C o n ta in e r 0 no?
0 96 500 219 000

t' D o c k d m G uLtugun k tp .tl 0 m: 370 000 3 7 0 .0 0 0 9 7 0 000

4. P assen ge r Term inal

D uk un r a n g k a p cn g crob u n & in u v a t a
0 m: 600 1 200 2 000
a G e d u n g T e r m in a l b n d a > a h a n tu g c

b T e m p a t P ark ir 0 m2 600 600 1000

V-10
N o. R e n can a P engem bangan
N a m a / Jtn k D im e n s i E x t s t b ig S a tu a n K etera n g a n
2 0 1 6 -2 0 2 0 2 0 1 6 -2 0 2 5 2 0 1 6 -2 0 3 5

(D 0 ) (3 ) ______ L *) i? ) iQ _______________0 ______________ (8 )

B. F A S IL IT A S P E N U N JA N G

K a n to r A d m n s tr a s iP o la b u ln n 0 n»2 600 600 600


1

n K a w a s a n P e rk a n to r a n 7 744 n? 7.744 7 744 7744


3 A jt B e r s ih

1) R im * Pom pa 1 1 1

2) M en ua A s 1 2 3
3) Sumber ar 1 1 1

4 Jarahan I-wti'5^ KVA 400 900 1 500


5 J a r s u t m T e h -k o m im ik a s i V V V
6 J a r in g a n J n l u i

n K e r e ta A p i m 2 000 2 000 2000

b J a lin b « s a m 2 000 2600 4 000


7 T e m p a t P a i k s K e n d a r a a n B e rm o to r m2 200 400 600
8 J a r n p a n D r a in a s e m 4 000 5 200 8 000

9 Ja n r g a n A k L s n b a li U ni 1 1 1

10 T em p at P c m b u m g a n S a m p a h A k i» UnS 1 1 1

11 P e iv o h li L in h a li ( R F ) hi 1 2 3
13 T o ile t U m t s n m2 40 80 120

13 T e m p a t Ib a d a h m2 . 200 400
14 P o s Ja g a m2 15 30 30
15 P a g a r k c ffii*: M a s if m 600 800 1 000
Pagar k e k b g B esi m 600 800 1 000
10 G .ip u a p e t ib ii u n itiit 1 1 1
17 P en rh aau n n V V V
18 A i e u l P c m e m b a t v a n P e la b u h a n

U W ILA YA H PE R A IR A N

A F A S IL IT A S P O K O K

1 A k r P e la y a r a n nv 6 990 000 6990 000 6990 000


r b b o r^ k ru ' ilr j a i y k a n w n e n g a h i t k r e k la m a s i
1 400 m 1 406 706 706
B r e a k W it t e r E k s n tm g c lo c k y a r d

B re a k W n te r E a m m 0 0 1 000
3 P e ra sa n Tem pat Labuh m' 357 030 140 S84 140 584
4 A rea A ih M iB t K a p a l nv 357 030 77329 92 380
5 K o h m P c h b iin n is tii: O b h p era k K apal nv 176 371 88 796 88 796
6 P e ra s a n P a n iu nv 55 221 35 061 35 061
7 P e r a s a n U n tii: K a p a l P e m e n r ta h nv 110 442 70122 70 122
8 P c p p e i iik a n a k r d a n K o h m M k« -8 -1 0 -12

B F A S IL IT A S P E N U N JA N G

1 Z o m D o c k iig m: 100 000

2. P e in s n m s tik k e p erk w i d a m a i m' 178 515


3 P e r a s a n U n tu k W K ata nv

4 P c r a r a n U n tu k K a p a l ) 4 a t i m:

5 P e r a s a n U n tu k P e n g e m b a n g a n P e h b i t n n nv

6 T a r R J f l i D is p o s a l A r c a m 0 0 10 200

7 D K p o sal A rca 0 0 2 900 000 Untuk pen am p u n g an m aterial h a sil keruk

V.4.3 Rencana Peruntukan Perairan


Rencana Peruntukan Perairan disajikan pada Gambar V-6.

RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

V.4.4 Rencana Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLkp)

Rencana Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLkp) disajikan
pada Gambar V-7 dan V-8.

V.4.5 Rencana Kebutuhan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran

Pelabuhan Cirebon berhadapan langsung dengan laut terbuka sehingga tidak banyak lapu navigasi
yang diperlukan, Lampu Suar sebagai penanda pelabuhan yang ada masih tetap bisa digunakan.
Pemindahan lampu navigasi sebagai tanda masuk alur pelabuhan yang selama ini terpasang di
ujung breakwater bisa dipindahkan ke ujung breakwateryang baru. Rencana penempatan SBNP
disajikan pada Gambar V-9.

V - ll
Executive Sum m ary

Gambar V -l LAY OUT PELABUHAN CIREBON

RENCANA IN D U K PELABU H AN CIREIBON


V-6
Executive Sum m ary

KEMENTRIAN PERHUBUNGAN
DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT
KANTOR KE8YAHBANOARAN DAN OTORDAS PELABUHAN KELAS H
C IR E B O N

RENCANA INDUK PELABUHAN CIREBON


PROVINSI JAWA BARAT

PELABUHAN CIREBON
DLKP

^ Ä rangan-

P a n ta i

K o n tu r

J a la n A rte ri

J a la n K e r e t a Api
B a t a s P e r a ir a n D a e r a h
P e la b u h a n

T A B E L KOORDINAT REN C A N A D L K R / Q L K P
KOORDINAT 05) (■ 0
A O S '—W - O O " l o f f - a a ’- i a *
B oe--40'-oo’ ioer-40*-oo*
C I O C —4 0 '—OO"
D OC"—44*—3 4 " ioer-3s*-40*

Gambar V-2 DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN CIREBON

RENCANA INDUK PELA BU H A N C IR EBO N


V-7
Executive Sum m ary

KEMENTRIAN PERHUBUNGAN
DIR EK T O R A T JE N D E R A L PERH U B U N G A N LAUT
« R J KAKTOR MJYAHBM04RAN DANOTOflITA#PSLMUIWi I4LAS #
^ CI REBON

RENCANA INDUK PELABUHAN CIREBON


PROVINSI JAWA BARAT

k s p eo o o n oooo

D ISPO SA L A R E A ZONASI PELABUHAN CIREBON


90 Ha

hi 9 2 H M K X ) OOOO

ACCESS ROAD

K 9 2 !;9 2 0 0 0 0 0 0

K D258SOO 0 0 0 0 D ISP O SA L A R E A
220.7 Ha

LEGEND :
N 9 2 6 B 4 0 0 OOOO
1 C O N T A IN E R Y A R D L —- - J
2 CO ALYARD E33
3 P A R K IR A R E A (= □

4 P A S S A N G E R T E R M IN A L □

5 D ERM A G A W .

0 K A N T O R P E M E R IN T A H CD
K 9 ? i a O 0 0 OOOO 7 K A N T O R LA IN N Y A (= □

B JA S A R E K R E A S I c= □
CÜ RÄHKEI
IHTY DRY 0 PERD A G A N G A N □

24.25 Ha 10 M ULTI P O U R P O S E EZl


MULTI/PURPOSE-'
11 D E R M A G A U O U fT

12 T A N K FA R M N O N B 3 M

13 P A S S A N G E R T E R M IN A L

14 DO CKYARD Esa
16 PLTU c= □
[CONTAINER YARD] JALAN &
JALUR KFREFA API ie AREA CADANGAN PENG EM BAN G AN tZ J
( J I K A D IP E R L U K A N )

k 9 ? s 7 ? n o oooo ¡CURAH KERING

N 9 P 6 6 B D 0 OOOO
3.4

Gambar V-3 ZONASI PELABUHAN CIREBON

REN C AN A IN D U K PELA BU H A N C IREBO N V-9


Executive Sum m ary

♦¡ J * KEMENTRIAN PERHUBUNGAN
™ DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT

RENCANA INDUK PELABUHAN CIREBON


PROVINSI JAWA BARAT

K 9?ßfiO O O OOOO

DLKR PELABUHAN CIREBON


D IS P O S A L A R E A
90 Ha

N 9 209000 OOOO

t. B2Ö920O 0000

DOCK YARD

LEGENDA

N 9 2 SG 4 0 0 OOOO T3ÜÖRT 1 C O N T A IN E R Y A R D
2 CO ALYARD

3 P A R K IR A H E A
CZD
4 P A S S A N G E R T E R M IN A L
czn
6 D ERM A G A

6 K A N T O R P E M E R IN T A H
□ZJ
N 92bflOOO OOOO 7 K A N T O R LA IN N Y A [=3
T A B E L KO O RDIN AT : G JA S A R EK R EA S I LZD
D PERD AGAN GAN □Z)
No (LS) (BT) 10 M ULTI P O U H P O S E EZ3
1 6* 41* 19.248“ 108' 35' 48.123" 11 D E R M A G A UQUTT E^a
\ii ¿S Hal 2 6" 41* 28.801" 108' 35' 39.039" 12 TANK FA R M N O N B B M
3 S' 41’ 53.506“ 108' 35' 4 .087’
K 92!T/pQO OOOO 4 6* 42’ 54.434“ 108' 35' 4.643’ 13 P A S S A N G E R T E R M IN A L l''! l
5 6* 43* 2.945" 108* 34' 33.233" 14 D O CKYARD 1 1

6 6- 43* 6.589" 108- 34' 20.689" 18 PLTU [Z D


JALUR KERETA API 7 & 43* 8.838" 108' 34' 16.676“ 16 A REA CADANGAN PENGEM BAN GAN (Z□
JÄLAN& 8 5 ’ 42' 57.951" 108' 34' 10.354’
JALUR KERETA API 9 6" 42' 49.514" 108' 34' 3.609“
10 6 ' 42' 44.998" 108’ 34' 1.415“
K 0 2 & V200 OOOO
11 6* 42' 41.094’ 108' 34' 6.880“
12 S’ 42' 1.614’ 108’ 34' 16.702“
13 ST 41* 3.713" 108’ 35' 13.508“
14 er 41* 17.343’ 108’ 35’ 27.487“
15 er 41' 17.229" 108* 35’ 34.177“
16 er 41' 11.377" 108’ 35* 39.785“

K 9 2 5 6 8 0 0 .0 0 0 0
3.4 Ho

Gambar V-4 DAERAH LINGKUNGAN KERJA (DLKr) PELABUHAN CIREBON

RENCANA INDUK P E L A B U H A N C IR EB O N V-10


Executive Sum m ary

lo
k> KEMENTRIAN PERHUBUNGAN
00 DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT
o

RENCANA INDUK PELABUHAN CIREBON


0* . 40* -
PROVINSI JAWA BARAT

PELABUHAN CIREBON
DLKP

2 Km

PERUNTUKAN WILAYAH LAUT (ARSIR)


A. FASILITAS POKOK
1 KOLAM PUTAR ¡mg
2 KOLAM ALIH r i
3. KOLAM LABUH
4 ALUR PELAYARAN
5 KOLAM KEADAAN DARURAT r~~i
6 KOLAM TAMBAT i i
TABEL KOORDINAT RENCANA DLKR/DLKP
7 KAPAL MATI Q_J
KOORDINAT (LS> (BO
1 OC. 41*. 57.301* 108-, 35*. 0.184*
2 oe*. 40*. 57.683* 10e. 34*. 53.800*
3 O«*. 40*. 52.011" 10 e. 34*. 47.791"
4 08*. 40*. 46.323* 105*. 34*. 41.960*
5 Oe*. 40*. 29.570* 10 e. 34*. 58.353*
6 06*. 40*. 35.252* 108*. 35*. 4.163"
7 Oe*. 40*. 40.737* 1 0 r . 34*. 37.431*
8 O e. 41*. 11.415* 108*. 35*. 40.122"
g oe*. 41 \ 10.903* 10e. 34*. 42.954*
10 06*. 39*. 31.700* 10 e. 37*. 15.562*
11 oe*. 39*. 39.500* 10e. 37*. 23.835*
12 OC*. 39*. 38.191* 10 e. 37*. 29.205*
13 oe*. 39*. 47.549* 108*. 37*. 40.900’
14 oe*. 39*. 50.630* 10 e. 37*. 38.252*
15 06*. 40*. 15.602* 10e. 37*. 38.177*
16 o e . 40'. 4.311* 1 0 r. 37*. 24.329*
17 o e . 39*. 52.930* 10ff. 37*. 12.882*

0 * .\ 4 4 “

Gambar V-5 ALUR PELAYARAN DAN FASILITAS PERAIRAN PELABUHAN CIREBON

RENCANA INDUK PEL A B U H A N C IR EB O N V - ll


Executive Sum m ary

KEMENTRIAN PERHUBUNGAN
DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT
KANTOR KESYAMBAN3ARAN DAN OTORITAS PELABUHAN KELAS »
9258600 C IR E B O N

RENCANA INDUK PELABUHAN CIREBON


PROVINSI JAWA BARAT

DENAH EXISTING PELABUHAN CIREBON

9258100

9257600

LEGENDA:
J BENCH MARK (BMI

I CONTROL POINT (CP)

] KONTUR

°p l BANGUNAN

JALAN

SUNGAI
9257100
JALUR POLIGON UTAM A

j----------------1 JALUR POLIGON CABANG

Gambar V-6 LAY OUT PELABUHAN CIREBON EXISTING

RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBO N


V-13
Executive Sum m ary

KEMENTRIAN PERHUBUNGAN
D IR E K T O R A T JE N D E R A L P E R H U B U N G A N L A U T
KAMTCR KZLiYATtWt DARAN DAN OrCfUTAS PELABUHAN KL LAS M
C IR E B O N

RENCANA INDUK PELABUHAN CIREBON


PROVINSI JAWA BARAT

9 2 8 0 0 0 0 .0 0 0 0

RENCANA PENGEMBANGAN
D IS P O S A L A R E A JANGKA PENDEK
90 Ha

92S9ÖOO.OUOO

92b9200.0CJ00

N 9 2 8 8 8 0 0 .0 0 0 0
D ISP O SA L A R eI a
200 Ha

LEGEN OA

3 2 8 8 4 0 0 .0 0 0 0 1 RENCANA JANGKA PENDEK | j

N 92880000000

9 2 8 7 6 0 0 .0 0 0 0

'JALAN 4
.UR KERETA API

9 2 8 7 2 0 0 .0 0 0 0

9 2 8 8 8 0 0 .0 0 0 0

Gambar V-7 RENCANA PENGEMBANGAN JANGKA PENDEK PELABUHAN CIREBON

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBO N


V-14
Executive Sum m ary

KEMENTRIAN PERHUBUNGAN
DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT

RENCANA INDUK PELABUHAN CIREBON


PROVINSI JAWA BARAT

N 9 2 6 0 0 00 .0 0 0 0

D IS P O S A L A R E A
90 Ha

N 02S3800.0CO O

N 9 2 b9 2 0 0 .00 0 0

D O C K YA RD

LEGENDA

1 R E N C A N A JA N G K A P E N D E K
N 92 ¡>8400 0 0 0 0

2 RENCANA JANGKA MENENGAH

mn'is»jsiäSä3M\

K 9 ? b /600.000/0

K 9257200 0000

Gambar V-8 RENCANA PENGEMBANGAN JANGKA MENENGAH PELABUHAN CIREBON

RENCANA INDUK P ELA BU H A N C IR EBO N V-15


Executive Sum m ary

m KEMENTRIAN PERHUBUNGAN
DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT
KAMTCM «n y M fiA W V W U M M M 0T0M1TA3 PELA8UHAM « T LASa
C IR E B O M

RENCANA INDUK PELABUHAN CIREBON


PROVINSI JAWA BARAT

N 9260000.0000

RENCANA PENGEMBANGAN
D ISPO SA L A R EA JANGKA PANJANG
90 Ha

H 9 259600.0000

N 91!b91i00 OOOO

6 0 Ha

D IS P O S A L A& EA
220.8 Ha

LEGENDA

N 9 256*00 0000
1 RENCANAJANGKA PENDEK | j
2 RENCANA JANGKA MENENGAH f j
3 RENCANA JANGKA PANJANG |/ . :: :|
4 CADANGAN PENGEMBANGAN

N 925 /6 00 0000

JALAN &
IJA LUR KERETA,API

C U R A H KERII
11.G Ha

3 .4 Ha

Gambar V-9 RENCANA PENGEMBANGAN JANGKA PANJANG PELABUHAN CIREBON

REN C A N A INDUK PELABUH AN CIREBO N


V-16
V.4.6 Rencana Biaya Konstruksi

Biaya konstruksi hingga tahap pengembangan jangka panjang pada tahun berjalan dihitung
berdasarkan harga yang berlaku pada tahun 2015. Sedangkan hasil hitungan biaya konstruksi
minimum sebagaimana tertuang dalam beberapa Tabel V.4 berikut:

Tabel V-3 Rencana Biaya Konstruksi Pengembangan Pelabuhan Cirebon

No. HARGA (Rp.)


Keterangan
JANGKA PENDEK JANGKA M ENENGAH JANGKA PANJANG
(J ) <*> (81 (9) (10) (U I

I W IL A Y A H D A R A T 8.563.203.158.655 13.892.015.116.935 25.746.111.767.185

A FASILITAS POKOK 3,262,996,864.65? 6.608.057,093.206 10.888.262.954.638

1. D i'm in g n K32.H64,794.011 1.229.608.006.362 2.352.243.105.107

n Dcimiign General &Bag Cargo 40 8 2 7 9 1 » O il 46 973 097 984 89 000 lo 7 460 ok dgn perkuitan untuk kupal 20000 DW T

b Dermaga Balu Bara 33 370 920 000 90 208 143 790 200 210 164 *53 Buat bara itituk kapal 20000 D W T

c Dermaga Curah K c r r g 4» 539 520000 48 539 520 000 152 070 S33 942 Euat bara Ptnynng Dermaga Pcrkr 183 m, 200C0 D W T

il Dermaga Curah Cair 1» 006 816 000 47 656 952 604 47 656.952 604 ok dgn perkutt.ui rabuk kapal 20000 DW T

c Dermaga Pakan Tcrm k 62 022 720 000 62 022 720 000 194 312 73 2 259 Buat bara Paniang Dermaga Perkt 176 m. 20000 D W T

f Demwp» Container 548 597 700 Ooo 853 308 371 985 1 588 093 113 989 Euat bara irtuk kapal max 40 000 D W T

g Dermaga Pam nger 80 899 200 0GO 80 899 200 000 80 899 2oo 000 ok Perkuatan uituk kapal 10000 D W T

3. O pgnYard 1.737,252.594.644 3.836.469.903.591 5.861.810.713.531

u G«l*nil & Bag Cargo . . . dgumkim area rouki purpose

b Batu Bara 125 573 536.000 .739 449 904 039 1 136 880677211 ptvdah ke lokasi baru (duty dry buk)

c C u ia h K e rn j 95 198 670 273 152 438 211 459 383 881 096 218 Luuanaik' idergan tinggi 15 m. costmkO

tl Curah C a r 18 459 928 097 22 875 116 896 30 619 759 588 I,uisan lank turn (Dengan tiggi 19 m. cost tnnklamii

c Pakan Tenuk 46 329 260 274 57 599 702 219 153 843 900 426 Luisan ado i rlcngun tinggi 15 m, cost sil>)

f C'ontancr 70S 542 400 000 1 209 647 372 778 2 102 125 643 8*8 D i tihnn burarcklmvrei

g Dock dan Galangan kapal 683 148 800000 2 054 459 596 200 2 054 459 596 200 Lahnn te lah drektamasi sebagian

h 1Xick il;m Gatanam kapal 198 113 1J2 0O0 403 809 771 430 403 809 771 430 Lahan reklamasi baru

4. Passenger Terminal 8.797,776.000 5.7V7,776.000 17.876.429.2V3

a. Gedung Terminal 5 393 280000 5 393 280 000 16 896 759 327

b. Tempat Parkir 404 496 000 404 496 000 979 665 906

H. FASILITAS PENUNJANG 8.449,472.000 10.374.118.732 63,961.159.929

1 Kantor Arlmsiwtrasi P ehbihm 4 0 44 960 000 4 044 060 000 4 044 500 000 PevUhch area perkantoran

6 Jaringan Jakn . .

a Kereta Api 21 569 023 738

b Ja lm termuak akses ke Dock Yard 1 797 760 Ooo 2 519 502 524 S.203 647701

7 Tempat Paiku Kcmlaman Bermotor 134 832 000 315.267 631 602 *54 614

8 Jaringan Drainage 1 797 760 OOO 2.519 502 524 5 203 647 701

U Pagar keliling Masif 404 496000 584 931 631 872 518 614

14 Pagar kchbng Besi 269 664000 389 954 421 581 675 070

17 Baigunnn perangkap debu batu bara . 25 882 828 4*5

U W IL A Y A H P E R A IR A N 5.291.757.122.001) 7.273.583.904.998 14.793.887,(52.617

A FASILITAS POKOK 5,156.923,122.000 6.881.631.130.710 14.401.934.878.330

1 A k r Pelayaran . . .
2 Break Water « . 910 692 113 378

.7 Pemborgkarnn Break water hmn 11 286 562000 30 274 404 911 30 274 404 911

4 Tabid Pemhan Rekhmasi 566743 840 000 740 563 497 939 4 420 238 947 625
10 Pcigerukan a k r d.in Kolim 4 578 894 720 000 6 110 793 227 860 9 040 729 412 416

B FASILITAS PENUNJANG 134.832.UUO.OOO 391.952.774.288 391.952.774.288

1 Zom D o c krg 134 832 000 OGo 391 952 774 288 391 952 774 288

Sumber analisis konsultan

RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBON


Ringkasan Eksekutif

V-24
BAB VI. KAJIAN EKONOMI DAN FINANSIAL
VI. 1 K ela ya k a n R en c a n a P em ba n g u n a n

Dengan mengacu pada kebutuhan fasilitas dan peralatan yang telah dirinci pada bab sebelumnya,
maka didapatlah total nilai investasi sebesar Rp 25.7 triliun yang dibagi menjadi tiga periode. Pada
tabel berikut ini tersaji nilai investasi pada masing-masing periode.
Tabel V l-l Nilai Investasi Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang

Tahapan Nilai Investasi


(Juta Rp)
Jangka Pendek 8.563.203
Jangka Menengah 5.328.811
Jangka Panjang 11.854.096
Total 25.746.111
(Sumber: Hasil Analisa.)

Untuk menganalisa kelayakan rencana pembangunan Pelabuhan Cirebon tersebut, berikut ini
beberapa asumsi skenario moderat yang digunakan:
1. Pendapatan per Ton pada tahun 2016 sebesar Rp 37.000 per ton. Perkiraan nilai ini
didasarkan pada pertimbangan nilai pendapatan per ton historis dari Pelabuhan Cirebon
tahun 2014 sebesar Rp 31.495 per ton dan pendapatan historis dari Pelindo II di tahun
yang sama sebesar Rp 44.033 per ton.
2. Kenaikan pendapatan per ton setiap tahunnya sebesar 9%. Pertimbangan yang digunakan
juga data historis kenaikan pendapatan per ton dari Pelabuhan Cirebon dan Pelindo II
yaitu masing-masing sebesar 9.39% dan 5.13%.
3. Margin dari kegiatan operasi sebesar 20%. Hal ini berdasarkan nilai historis margin operasi
Pelabuhan Cirebon yaitu sebesar 15.87% dan Pelindo II sebesar 20.59%.
4. Adanya Tax Holiday selama 20 tahun untuk investasi infrastruktur pelabuhan.
5. Biaya modal (Cost of Equity) sebesar 16% yang merupakan rata-rata return indeks harga
saham gabungan di Bursa Efek Indonesia selama 15 tahun terakhir.
6. Biaya hutang (Cost of Debt) sebesar 10% yang merupakan rate bunga pinjaman korporasi
di tahun 2015.
7. Pembiayaan dengan menggunakan hutang sebesar 80% dari total nilai investasi.

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

Dengan menggunakan asumsi-asumsi di atas maka didapatlah pendapatan, beban operasi dan arus
kas masuk Pelabuhan Cirebon pada tahun 2035 diperkirakan mencapai 12.4 triliun pendapatan, 9,9
triliun beban operasi dan Rp 3,2 triliun arus kas. Detil per periodenya bisa dilihat pada tabel berikut.
Tabel VI-2 Proyeksi Pendapatan, Beban Operasi, dan Arus Kas 2016-2035

(Rp juta)
Tahun Pendapatan Beban Operasi Arus Kas Operasi
2016 390.674 312.540 103.138
2017 457.124 365.699 120.681
2018 535.219 428.176 141.298
2019 627.034 501.627 165.537
2020 853.294 682.635 225.270
2025 2.457.551 1.966.041 648.793
2030 5.647.853 4.518.282 1.491.033
2035 12.447.847 9.958.278 3.286.232
(Sumber: Hasil Analisa.)

Dengan perhitungan arus kas masuk tersebut, dan dibandingkan dengan pengeluraran investasi
untuk pembangunannya maka bisa disimpulkan bahwa pada skenario moderat, rencana
pembangunan Pelabuhan Cirebon tersebut layak dilaksanakan. Hal ini dikarenakan nilai IRR dari
rencana pembangunan tersebut sebesar 11.63% dimana nilai ini lebih tinggi dari nilai WACC
sebesar 11.2%. Dapat dilihat juga nilai NPV positif sebesar 483 milyar.
Tabel VI-3 Hasil Analisa Kelayakan Keuangan (Skenario Moderat)

K e te ra n g a n M o d e ra t

P e n d a p a ta n R p p e r T o n 2 0 1 6 3 7 .5 0 0
K e n a ik a n P e n d a p a ta n p e r T o n 9 ,0 0 %
M a rg in O p e r a s i 2 0 ,0 0 %
W ACC 1 1 ,2 0 %
IR R 1 1 ,6 3 %
N PV 4 8 3 m ilyar

(Sumber: Hasil Analisa.)

1.2 A nalisis Skenario


Selain dengan menggunakan skenario moderat, dihitung juga bagaimana hasilnya dengan
menggunakan skenario yang lebih konservatif maupun lebih optimis. Pada skenario konservati,
nilai pendapatan sedikit diturunkan yaitu pendapatan per ton menjadi 35.000 saja dan kenaikan
nilai pendapatan per ton setiap tahunnya hanya tumbuh sebesar 8%. Nilai marginnya juga turun
menjadi hanya 17,5%. Sementara pada skenario optimis, nilai pendapatan per tonnya dinaikan

Vl-l
menjadi 40.000 dengan pertumbuhan sebesar 10% dan margin yang lebih besar yaitu sebesar
22,5%.
Hasilnya, jika yang terjadi adalah skenario konservatif maka rencana pembangunan menjadi tidak
layak karena nilai NPVnya negatif yaitu sebesar minus 2.2 triliun dan IRR lebih kecil dari WACC.
Sementara pada skenario optimis, nilai NPV menjadi lebih besar lagi yaitu pada angka 4 triliun. Hasil
selengkapnya bisa dilihat pada tabel berikut:
Tabel VI-4 Hasil Analisa Kelayakan Keuangan Masing-masing Skenario

K e te ra n g a n K o n se r­ M o d e ra t Optimis H istoris H istoris


v atif C irebon Pelindo II
P e n d a p a ta n R p p e r T o n 2 0 1 6 3 5 .0 0 0 3 7 .5 0 0 4 0 .0 0 0 3 1 .4 9 7 4 4 .0 3 3
K e n a ik a n P e n d a p a ta n p e r T o n 8 ,0 0 % 9 ,0 0 % 1 0 ,0 0 % 9 ,3 9 % 5 ,1 3 %
M a rg in O p e ra s i 1 7 ,5 0 % 2 0 ,0 0 % 2 2 ,5 0 % 1 5 ,8 7 % 2 0 ,5 9 %
W ACC 1 1 ,2 0 % 1 1 ,2 0 % 1 1 ,2 0 %
IR R 1 1 ,6 3 % 1 4 ,2 8 %
NPV 4 8 3 m ilyar 4 triliun

(Sumber: Hasil Analisa,)

Dengan demikian pada tahap pelaksanaan harus benar-benar dijaga agar asumsi-asumsi pada
skenario moderat dapat dicapai.

V I.3 A n a lisis S en sitiv ita s

Berikutnya dilakukan analisa sensitivitas, yaitu analisa perhitungan bila yang berubah hanya salah
satu variabel (sebelumnya pada analisa skenario semua variabel berubah pada masing-masing
skenario). Analisa ini untuk melihat, variabel mana yang paling menentukan berubahnya hasil
analisa. Analisa sensitivitas ini dilakukan pada empat variabel yaitu berubahnya biaya investasi,
pendapatan per ton, kenaikan pendapatan per ton, dan margin operasi.
Tabel VI-5 Hasil Analisa Sensitivitas - Kenaikan Nilai Investasi

Kenakan Investasi NPV


-10,00% 1.413.894.041.519
-5,00% 948.626.722.302
0,00% 483.359.403.085
5,00% 18.092.083.868
5,19% 0

15,00% -912.442.554.566
(Sumber: Hasil Analisa.)

RENCANA INDUK PELABU H AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

Analisa sensitivitas yang pertama dilakukan pada variabel perubahan nilai investasi. Jadi akan
dilihat apa yang terjadi bila nilai investasi ternyata naik atau turun, terutama bila nilainya naik
karena akan mengurangi kelayakan rencana pembangunan. Dari tabel di atas terlihat bahwa bila
nilai investasi naik 5% ternyata rencana pembangunan masih layak. Namun bila kenaikan mencapai
10% rencana pembangunan menjadi tidak layak. Titik kritisnya adalah 5,19%, jadi bila kenaikan di
atas angka tersebut maka kenaikan terlalu tinggi dan menyebabkan rencana menjadi tidak layak
secara keungan.
Tabel VI-6 Hasil Analisa Sensitivitas - Pendapatan per Ton

Pend. Per Ton NPV


39.500 1.005.423.711.748
38.500 744.391.557.417
37.500 483.359.403.085
36.500 222.327.248.754
35.648 0
35.500 3 8 . 7 0 4 . 905.577
34.500 -299.737.059.909
(Sumber: Hasil Analisa.)

Analisa berikutnya terkait dengan varaibel pendapatan per ton, bagaimana pengaruh perubahan
pendapatan per ton ini terhadap kelayakan keuangannya. Terutama yang diperhatikan jika
pendapatan per ton ini mengalami penurunan. Dari tabel di atas terlihat bila pendapatan turun
sampai level 36.500 per ton pun secara keuangan masih layak. Angka kritisnya adalah pendapatan
per ton sebesar 35.648 per ton, jika turun dibawah angka tersebut rencana menjadi tidak layak.
Tabel VI-7 Hasil Analisa Sensitivitas - Kenaikan Pendapatan per Ton

Kenaikan Pend. NPV


10,00% 2,227.443.321.357
9,50% 1.320.054.119.889
9,00% 483.359.403.085
8,69% 0
8 , 50 % 2 8 7 . 9 9 0 .931.361
8,00% -998.958.145.351
7,50% -1.654.141.586.170
(Sumber: Hasil Analisa.)

Analisa berikutnya terkait dengan varaibel kenaikan pendapatan per ton per tahun. Dari tabel
diatas terlihat bila kenaikan turun ke level 8% saja, rencana menjadi tidak layak secara keuangan.

V 1-2
Nilai kritisnya adalah 8.69%, kenaikan per tahun yang kurang dari angka tersebut akan
menyebabkan rencana menjadi tidak layak.
Tabel VI-8 Hasil Analisa Sensitivitas - Margin Operasi

Margin Operasi NPV


22,00% 1.165.602.533.724
21,00% 824.480.968.405
20,00% 483.359.403.085
19,00% 142.237.837.766
18,58% 0

17,00% -540.005.292.873
(Sumber: Hasil Analisa.)

Analisa sensitivitas terakhir dilakukan pada variabel margin operasi. Dari tabel di atas terlihat
bahwa jika margin operasi turun sampai poin 19% rencana pembangunan masih layak. Bila
penurunan terjadi lebih lanjut lagi hingga mencapai angka 18%, maka rencana menjadi tidak layak
secara keuangan. Angka kritis untuk variabel margin operasi ini adalah 18,58%.
Berdasarkan analisa sensitivitas di atas, variabel yang sangat sensitif terhadap kelayakan proyek
adalah kenaikan pendapatan per ton per tahunnya. Angka kenaikan harus dijaga agar tidak turun
sampai di bawah angka 8.69%. Angka kritis untuk variabel lainnya terangkum pada tabel berikut.

Tabel VI-9 Hasil Analisa Sensitivitas - Batas Nilai Kritis

Variabel Moderat Angka Kritis


Kenaikan Investasi 0,00% 5,19%
Pendapatan per Ton 37.500 35.648
Kenaikan Pendapatar 9,00% 8,69%
Margin Operasi 20,00% 18,58%
(Sumber: Hasil Analisa,)

RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

VI-3
BAB VII. KAJIAN RONA AWAL LINGKUNGAN

V II.1 R o n a L in g k u n g a n P ela b u h a n C ir eb o n

Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP.901 Tahun 2016 tentang Penetapan
Rencana induk Pelabuhan Nasional telah ditetapkan antara lain bahwa Pelabuhan Cirebon
merupakan Pelabuhan Pengumpul. Pelabuhan Cirebon terletak di Kota Cirebon, lintas utama
pantai Utara Jawa Barat, kurang lebih 250 km dari Jakarta atau 130 km dari Bandung. Posisi
Geografis terletak pada Koordinat 6°42'54"LS,108°34'9"BT.
Pelabuhan Cirebon berada di Kelurahan Panjunan Kecamatan Lemahwungkuk yang langsung
berbatasan dengan daerah pantai pada Laut Jawa.

1. Isu Lingkungan Strategis Pelabuhan Cirebon


a. Transportasi Darat dan Laut
Kota Cirebon memiliki letak geografis yang sangat strategis. Berada di persimpangan jalur Jawa
Barat dan Jawa Tengah, dilalui oleh jalur lintas nasional dan menjadi pusat pertemuan / titik simpul
seluruh moda transportasi. Sebagai konsekuensi letak geografis tersebut kapasitas infrastruktur
yang ada menjadi tidak sebanding dengan beban yang terjadi. Sehingga saat ini sudah terasa
bertambahnya titik-titik kemacetan terutama di lintasan-lintasan sebidang jalur kereta api, selain
itu jumlah jalan dengan kondisi rusak pun semakin bertambah. Fenomena commuter Cirebon -
Jakarta semakin hari semakin tinggi, hal ini dipicu dengan semakin membaiknya pelayanan dan
infrastruktur jalur kereta api lintas pulau Jawa. Waktu tempuh pun semakin singkat, dan bukan
tidak mungkin Kota Cirebon menjadi pilihan utama mereka yang bekerja di Jakarta untuk
bertempat tinggal di Kota Cirebon. Sementara untuk transportasi massal masih mengandalkan
moda angkutan kota yang jumlahnya cenderung tetap.
Persoalan lainnya adalah keberadaan Pelabuhan Cirebon dipandang sebagai salahsatu fasilitas
yang sangat strategis karena hanya satu-satunya di wilayah pantai Utara khususnya Jawa Barat
bagian timur. Sebelum transportasi darat berkembang pesat seperti saat ini, arus barang dan
penumpang yang keluar masuk pelabuhan Cirebon termasuk cukup tinggi. Namun seiring dengan
perkembangan transportasi darat yang semakin maju, keberadaan pelabuhan Cirebon sebagai
moda transportasi barang dan penumpang sedikit demi sedikit mulai berkurang. Banjir dan

Genangan

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

Kota Cirebon merupakan merupakan kota pantai yang menjadi ujung sebagian aliran sungai-sungai
di wilayah Cirebon. Sebagai kota pantai,kondisi kemiringan lereng sangat landai dan hal ini
menyebabkan air larian cenderung lambat. Dengan bertambahnya fenomena pemanasan global
dan terjadinya kerusakan di wilayah hulu terutama di sekitar Gunung Ciremai, banjir dan genangan
hujan menjadi permasalahan yang kemudian muncul. Kondisi ini ditambah dengan berkurangnya
resapan air hujan karena pesatnya pembangunan fisik serta area ruang terbuka hijau yang semakin
hari semakin berkurang.
b. Sedimentasi dan Kerusakan Ekologis Laut dan Pantai
Terjadinya kerusakan lingkungan di wilayah hulu sungai (sekitar Gunung Ciremai) serta
berkurangnya daerah resapan ternyata berpengaruh pula pada tingginya sedimentasi di wilayah
pantai Kota Cirebon. Di sisi lain fenomena ini menambah luas fisik wilayah kota tetapi pada sisi lain
dijadikan tambahan lahan untuk pembangunan perumahan liar. Kondisi ini menyebabkan
lingkungan di sekitar pantai cenderung tidak tertata, kumuh, dan merusak ekosistem pantai.
Dampak yang kemudian terjadi adalah semakin jauhnya wilayah penangkapan ikan para nelayan
Cirebon, hal ini disebabkan karena habitat ekologis tempat berkembang biak hewan laut menjadi
hilang atau rusak.
c. Pelanggaran Tata Ruang
Kota Cirebon telah memiliki dokumen perencanaan tata ruang melalui Peraturan Daerah Nomor 8
Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Cirebon 2011- 2031. Peraturan
daerah ini masih dalam tahap baru dan pada saat RPJMD ini disusun sedang dilakukan penyusunan
Rencana Detil Tata Ruang. Yang kemudian menjadi permasalahan bahwa dokumen ini belum cukup
dijadikan acuan karena masih ada beberapa peraturan perundangan sebagai tindak lanjut perda
tersebut yang belum disusun, sebagai contoh terkait dengan aturan pengenaan sanksi administratif
pelanggaran tata ruang dan pengenaan insentif dan disinsentif tata ruang. Selain itu dalam
pelaksanaannya diperlukan konsistensi dan komitmen dalam penegakan hukum. Untuk itu,
diperlukan sinergitas antara Pemerintah Daerah, masyarakat dengan komunitas pemerhati
penataan ruang yang didukung oleh transparansi informasi
d. Pengelolaan Bongkar Muat Batu bara
Batu bara merupakan salah satu komuditas unggulan Pelabuhan Cirebon, namun demikian
pengelolaanya masih sangat konvensional sehingga dampak yang ditimbulkannya juga menuntut

V ll- l
perhatian khusus terutama pencemaran oleh debu batu bara dan kerusakan jalan oleh tonase dan
frekuensi kendaraan pengangkut batu bara.
Dalam rangka peningkatan kinerja dan hasil guna yang lebih baik diperlukan peningkatan perlakuan
terhadap komoditi ini sehingga memenuhi Standard pengelolaan yang berlaku dan aman.
Perbaikan sistem Bongkar muat dan teknis penumpukan batu bara di stock pile harus sesuai
Standard operasi pada umumnya.
Pembongkaran batu bara dari kapal harus dilewatkan oleh konveyor sampai stock pile yang
diperuntukkan untuk itu, dalam stock pile harus disediakan peralatan deteksi dini peningkatan
panas dan debu dan disediakan pula alat pencegahannya, sehingga selalu dalam kondisi terjaga
dari kebakaran dan peningkatan kandungan debu diudara hingga melewati ambang batas aman,
e. Pengelolaan Sampah
Kota Cirebon memiliki luas wilayah administratif yang relatif sempit dibandingkan dengan kota-
kota lainnya di Provinsi Jawa Barat. Dengan kondisi ini salahsatu permasalahan yang terkait
ketersediaan lahan adalah keberadaan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA). Kapasitas dan
daya tampung fasilitas tersebut akan berakhir dan harus segera digantikan dengan fasilitas baru
dengan sistem sanitary landfill. Sementara dengan perkembangan kegiatan kota yang sangat pesat
dan jumlah penduduk yang bertambah maka volume sampah yang dihasilkan pun meningkat pula.
Pola inovasi dan pengembangan pengelolaan sampah baru pernahdilakukan di beberapa lokasi
misal dengan pencanangan "'zero waste" di beberapa kantor instansi pemerintah dan di beberapa
komunitas perumahan. Namun hal tersebut belum cukup karena program yang ada cenderung
sporadis, belum masif dan belum menjadi prioritas. Dalam jangka waktu lima tahun ke depan
diperkirakan keberadaan tempat pembuangan akhir sampah masih sangatdibutuhkan, namun
karena Kota Cirebon tidak memiliki lahan yang mencukupi maka satu-satunya pilihan adalah
dengan menggunakan lahan di wilayah kabupaten/kota lain di sekitar Kota Cirebon.
2. Kajian fasilitas RF (reception facility)
Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor: PM 29 Tahun 2014
Tentang Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim Bab IV Pencegahan Pencemaran Dari
Kegiatan Kepelabuhanan Pasal 74 ayat (1) Setiap pelabuhan dan terminal khusus yang dioperasikan
wajib memenuhi persyaratan untuk mencegah timbulnya pencemaran yang bersumber dari
kegiatan operasional kapal dengan melengkapi fasilitas penampungan (reception facillties).

RENCANA IND UK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

Pencegahan pencemaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tersedianya fasilitas
penampungan [reception focilities) antara lain:
a. penampungan minyak kotor;
b. penampungan bahan cair beracun;
c. penampungan kotoran;
d. penampungan sampah;
e. penampungan bahan perusak ozon;
f. penampungan limbah B3;
g. penampungan sedimen/endapan air balas.
Kegiatan di pelabuhan termasuk di terminal khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
operasional kapal, pembangunan, perawatan, perbaikan, dan penutuhan kapal (ship recycling).
Fasilitas penampungan [reception focilities) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 harus dirancang
dan ditempatkan secara memadai untuk memenuhi keperluan penampungan tanpa
mengakibatkan keterlambatan yang tak perlu bagi kapal (undue delay).
Pertimbangan terhadap fasilitas penampungan (reception facilities) yang memadai sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 75 meliputi:

a. kapasitas harus cukup untuk menampung limbah kapal yang datang atau berkunjung di
pelabuhan;

b. sesuai dengan jenis limbah pada kapal yang datang atau berkunjung di pelabuhan;
c. mudah untuk diangkut ke tempat pembuangan akhir limbah.
Fasilitas penampungan (reception facilities) di pelabuhan dapat dirancang dengan tipe yang
bersifat tetap dan ataupun tipe yang dapat bergerak (mobile), yang memadai untuk menampung
limbah dari kapal.

Pengadaan fasilitas penampungan (reception facilities) di pelabuhan selain dari Pemerintah dapat
dilakukan oleh badan usaha atau perusahaan lainnya setelah mendapatkan persetujuan dari
Penyelenggara Pelabuhan dengan berpedoman pada Panduan IMO tentang Pelaksanaan Fasilitas
Penampungan (IMO Guide to Good Practicefor Reception Facility).
Kegiatan pengawasan terhadap pembuangan dan penampungan limbah di pelabuhan dilakukan
oleh Syahbandar di pelabuhan setempat.

VII-2
Pengadaan fasilitas pengelolaan limbah di pelabuhan merupakan bagian dari pelaksanaan Konvensi
Internasional tahun 1973 tentang pencegahan pencemaran dari kapal . Kapal yang telah
dimodifikasi oleh Protokol 1978 yang terkait dengan MARPOL 1973 jo 1978 (yang selanjutnya
disebut MARPOL 73/78) dan telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui Keputusan
Presiden No. 46 Tahun 1986, pada tanggal 9 September 1986. Selain itu dipertegas pula oleh
kewajiban pelabuhan untuk menyediakan fasilitas penampungan limbah yang dikeluarkan oleh
Departemen Perhubungan melalui Keputusan Menteri Perhubungan nomor 215 Tahun 1987
tentang Pengadaan Fasilitas Penampungan Limbah dari kapal. Akan tetapi dalam peraturan ini
Departemen Perhubungan hanya mewajibkan pengadaan fasilitas saja, tidak dijelaskan bagaimana
pengelolaan limbah selanjutnya.
Sesuai dengan prinsip pengelolaan limbah B3 di Kementerian Negara Lingkungan Hidup yaitu 3R
[Reuse, Recycle dan Recovery), maka limbah yang terdapat di Fasilitas Pengelolaan Limbah
[Reception Facilities) wajib dikelola sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dalam proses
perizinannya, jenis-jenis limbah B3 yang diizinkan untuk disimpan dan dikumpulkan di Reception
Facilities (RF) di pelabuhan terbatas hanya untuk limbah-limbah B3 yang telah diketahui secara
pasti dan dijamin ketersediaan fasilitas pengelolaan lanjutannya. Selain melakukan kegiatan
pengumpulan dan penyimpanan limbah B3, Reception Facilities (RF) limbah di pelabuhan juga
dapat memiliki fasilitas pengolahan (antara lain: oil separator, waste water treatment
p/cwt/WWTP) dan landfill residu atau limbah B3 lainnya (antara lain: incinerator) baik yang
berlokasi di kawasan pelabuhan maupun di luar kawasan pelabuhan. Adapun izin dari Kementerian
Negara Lingkungan Hidup yang perlu dimiliki oleh fasilitas semacam ini adalah pengoperasian alat
pengolahan, penyimpanan, pengumpulan, pengolahan, pemanfaatan, landfill dan rekomendasi
pengangkutan.
Limbah hasil operasional kapal yang diserahkan oleh pemilik kapal ke fasilitas pengelolaan limbah
di pelabuhan akan mendapatkan sertifikat penyerahan limbah (Certificate of Waste Discharge) dari
pihak pengelola fasilitas pengelolaan limbah. Sertifikat ini merupakan salah satu kelengkapan
dalam Surat Ijin Berlayar (SIB) yang dikeluarkan oleh Administrator Pelabuhan.
Hal ini karena kapal dalam operasional rutinnya menghasilkan limbah yang masuk kategori bahan
berbahaya dan beracun (B3) baik dalam bentuk padat maupun cair. Limbah cair B3 misalnya lumpur
dari bahan bakar, minyak, oli bekas, air bekas cuci dek/tangki, dan air ballast. Limbah padat B3
adalah sampah domestik yang dapat berupa barang-barang atau kemasan dari sintelis, plastik,

RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

kaca, metal, kain lap, tembikar dan sampah-sampah serupa (Sudrajai. 2006). Kesemua limbah B3
ini dilarang dibuang ke perairan, sehingga pihak pelabuhan mempunyai kewajiban untuk mengelola
limbah ini salah satunya dengan menyediakan fasilitas penampungan limbah dari kapal di
pelabuhan (reception facilities).
Pencemaran di perairan pelabuhan tidak saja akan menurunkan kualitas dan produktivitas perairan
pelabuhan tersebut, lebih dari itu, akan inempengaruhi kualitas dan produktivitas perairan
sekitarnya. Hal ini tentu sangat merugikan, karena wilayah perairan pelabuhan dan sekitarnya
umumnya digunakan untuk kegiatan lain seperti, rekreasi air, perikanan tangkap dan budidaya
perairan, seperti halnya di sekitar kawasan perairan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Oleh karena
itu, perlu adanya suatu sistem peiigelolaan limbah pelabuhan guna mempertahankan kualitas
perairan laut pada suatu tingkat baku mutu tertentu yang menjamin baiknya kualitas dan tingginya
produktivitas berbagai ekosistem laut dan pesisir.
Upaya pengelolaan limbah dari operasional kapal secara internasional telah ditetapkan oleh
International Maritime Organization (IMO) dalam International Convention for The Prevention of
Pollution from Ships, 1973 and The Protocol of 1978 Relatif There to yang dikenal dengan istilah
Marine Pollutiuon Convention (MARPOL) 73/78. Pemerintah Indonesia juga telah meratifikasi
peratuaran tersebut berdasarkan Kepres Nomor 46 Tahim 1986 tentang Pencegahan Pencemaran
dari Kapal. Tindak lanjut paling utama dari Kepres tersebut adalah dengan dikeluarkannya
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 215/AL.506/PHB-X7 tentang Pengadaan Fasilitas
Penampungan Limbah dari Kapal-kapal (reception facilities. Secara khusus dalam Peraturan
Menteri Perhubungan tersebut mewajibkan 5 (lima) pelabuhan utama yakni Belawan, Tanjung
Priok, Tanjung Perak dan Makasar telah memiliki fasilitas penampungan limbah dari kapal
selambat-lambatnya 1 April 1988.

Ketentuan MARPOL tersebut selanjutnya juga diakomodasi lebih lanjut dalam Peraturan
Perundangan di Indonesia, antara lain Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran,
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau
Perusakan Laut, Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan, dan
Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan, dimana semuanya memuat
kewajiban seluruh pelabuhan untuk menyediakan fasiltas penampungan limbah yang berasal dari
kegiatan kapal.

VII-3
Pelabuhan Cirebon membutuhkan fasilitas penampungan limbah dari kapal untuk jenis limbah ;
lumpur minyak [fuelsludge), air kotor berminyak (oilybilge water), air ballast berminyak (oil ballast
water) dan residu kargo berminyak (oily corgo residues). Berdasarkan proyeksi kunjungan kapal
diperoleh kebutuhan kapasitas fasilitas penampungan limbah dari kapal untuk masing- masing jenis
limbah: lumpur minyak {fuelsludge) kapasitas minimal penampungan 10 ton atau 1 ton x rata-rata
kunjungan kapal harian (RKH), air kotor berminyak {oily bilge water) kapasitas minimal
penampungan 10 ton atau 2 ton x rata-rata kunjungan kapal harian (RKH), air ballast berminyak {oil
ballast water) kapasitas minimal penampungan 30% kapasitas tanker terbesar atau 30% x rata-rata
kunjungan kapal harian (RKH) dan residu kargo berminyak {oily cargo residues) kapasitas minimal
penampungan 0,2% kapasitas tanker terbesar x 1 atau x rata-rata kunjungan kapal harian (RKH).
Sedangkan untuk galangan kapal pada jenis limbah air ballast berminyak (oil ballast water)
dibutuhkan kapasitas minimal penampungan 8% kapasitas bunker tanker terbesar, ± 1.500 ton
atau 4,5% kapasitas maksimum tanker dan residu kargo berminyak {oily cargo residues) kapasitas
minimal penampungan % DWT: minyak mentah 1%; black product 0,5%; white product 0,2%+Solid
0,1%.
Lokasi fasilitas penampungan limbah setidaknya seluas 1 (satu) hektar untuk kemudahan
penanganan dan perlindungan dari situasi darurat serta berada di luarkawasan kepabeanan
pelabuhan. Lokasi ini harus menjamin kemudahan akses baik untuk operasi pergerakan/manuver
kapal secara aman dan mencegah penundaan yang tidak diinginkan ataupun akses terhadap
berbagai keperluan yang dibutuhkan, antara lain listrik, uap, dan sebagainya. Lokasi ini juga secara
geologis dan geografis harus bebas banjir, longsor dan genangan serta mempunyai sistem drainase
yang baik dengan jarak sekurang-kurangnya 50 meter dari lokasi pemukiman, lingkungan yang
rentan, dan lingkungan untuk kepentingan tertentu guna meminimalkan dampak tehadap
lingkungan dan kesehatan.
Bangunan fasilitas penampungan limbah B3 di pelabuhan harus dilengkapi dengan berbagai
fasilitas penunjang dengan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan penyimpanan dan
pengumpulan limbah B3 dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan. Sedangkan
sarana dan prasarana tambahan mencakup laboratorium, sarana pencucian, sarana untuk bongkar
muat dan kolam pengumpul. Pihak pelabuhan atau operator juga diharuskan memiliki peralatan
penanganan tumpahan yaitu alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan untuk mengumpulkan dan
membersihkan ceceran atau tumpahan limbah bahan berbahaya dan beracun, dimana bekas alat

RENCANA INDUK PELABUH AN CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

atau bahan pembersih tersebut, jika tidak dapat digunakan kembali harus diperlakukan sebagai
limbah limbah bahan berbahaya dan beracun.
Hasil pengumpulan data diperoleh bahwa PT. Pelindo 2 cabang Cirebon telah memiliki reception
facility, namun belum jelas ukuran dan daya tampung yang dimiliki dalam fungsinya sebagai
penampung limbah pelabuhan.

Kapasitas minimal reception facility disajikan dalam tabel berikut.


Tabel Vll-l Kapasitas minimal reception facility

Pemuatan
Pemuatan
Jenis Limbah Minyak Pelabuhan Galangan kapal
Minyak lainnya
mentah
Lumpur minyak 10 ton atau
10 ton 10 ton -
(Fuel sludge) 1 ton x RKH
Air kotor
10 ton atau 10 ton atau 10 ton atau
berminyak (oily -
2 ton x RKH 2 ton x RKH 2 ton x RKH
bilge water)
8% kapasitas
bunkertanker
Air ballast 30% kapasitas 30% kapasitas
terbesar, 1.500
berminyak (oil tanker terbesar tanker terbesar -
ton atau 4,5% x
ballast water) atau 30% x RKH atau 30% x RKH
kapasitas
maksimum tanker
%DWT: minyak
Residu kargo 0,2% kapasitas mentah 1%; black
berminyak (oily - tanker terbesar - product 0,5%;
cargo residues) x 1 atau x RKH white product
0,2%+solid 0,1%
Sumber: Analisis Konsultan

VII.2 K u a lita s A ir La u t

Sumber-sumber Pencemaran Lingkungan Laut Menurut perkiraan, keseluruhan minyak bumi yang
masuk ke lingkungan laut adalah 3.2 juta metrik ton pertahun. Yang terbanyak adalah dari sumber-
sumber di daratan terutama dalam bentuk pembuangan dari kota dan industri. Tumpahan dari
kapal karena kecelakaan, ditambah dengan aktivitas eksplorasi dan produksi sebesar 6,47 juta
metrik ton, secara relatif kecil kalau dibandingkan dengan produksi sedunia sekarang yang
besarnya 3 milyar metrik ton. Yang setengahnya diangkut melalui laut.
Sumber pencemaran minyak bumi terbesar diakibatkan oleh kegiatan pembuangan industri yaitu
sebesar 37 % dan operasi kapal sebesar 33 %. Tabel di bawah ini memperlihatkan sumber-sumber
minyak bumi yang masuk kedalam lingkungan laut.

VII-4
Tabel VII-2 Tabel Sumber Pencemaran M inyak Bumi

NO. SUMBER PENCEMARAN MINYAK KETERANGAN


BUMI
1 Pembuangan Industri dan perkantoran 37%
2 Operasi kapal-kapal 33%
3 Kecelakaan kapal-kapal tanker 12%
4 Atmosfir 9%
5 Sumber-sumber alam 7%
6 Eksplorasi dan produksi 2%
Total 100 %
Sumber Data: Marpol 73/78

Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/ atau perairan dengan batas-batas
tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan
sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang, dan/ atau bongkar muat barang, berupa
terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan
pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra-dan
antarmoda transportasi.
Kegiatan pelabuhan menyebabkan dampak selain di laut juga di darat, identifikasi dampak yang
diakibatkan kegiatan pelabuhan disajikan dalam tabel berikut.
Tabel VII-3 Tabel Identifikasi Dampak yang ditimbulkan kegiatan pelabuhan

K O M P O N E N K E G IA T A N

JAS A
No. JENIS D A M P A K JASA P E LA YA N AN PENG OPERASIAN K EG IA TA N
JASA PELA YA N A N KAPAL LAINN
BA RA NG PERALATAN PERKAN TORAN
YA
A .l I A .2 I A ,3 | A .4 | A .5 | A .6 B .l 1 B.2 1 B. 3 C DI | D2 E .l 1 E.2
1 Ifisik-kimia
1.1 P e n u ru n a n K u a lita s Udara ico. no *. i o i , pmiii.tsiA___ laM I M 1i . LESn
1A P e n in g ka ta n K o blslngan 1 1 1 n □ m m
1.3 P e n u ru n a n K u a lita s A ir Laut I B mm i N
1.4 T im b u ln ya Ke ru sak an Jalan H m
1.S T im b u ln ya Lim bah D om estik V

H
1.6 P e n in g ka ta n Ke b u tu h a n A ir Bersih
1.7 T im b u ln ya Ka m ace tan Lalu U n ta i 1 1
r z «

zz
1.8 T im b u ln ya Lim bah B-3 V

frizz_ PZ
II BIO LO G I _ 1
2,1 Pe ru b ah a n Ka llm p ah a n Jenis Flora D arat _ J 1 i rm Z Z
2.2 G an g gu a n B iota A ir Ü 5 J ____ __ m m i r z
III SO SIA L-E K O N O M I-B U D A Y A z z
3.1 In te ra ksi So sial ■■ LZZ
tz z

rz
|3.2 P e n in g ka ta n A k tiv ita s E kom o m l M asya rak at V
3.3. A d a n ya p e n gg u n aa n te n ag a kerja lokal V o ■ s 1H
3.4. G a n g u an A k tlfita s N a la ya n (A raa Ta n gk a p ) V V n ^■1 ____ i i i

Izzzl tz:tZJ
IV K E SE H A TA N M A S Y A R A K A T z z z .......z r : .......... .. :........i z z . ............
4,1 Po la P e n ya kit z z z z Z Z Z Z z z Z Z 1 m r z z z Z Z Z IZ
4.2 Ke se h ata n Lin g ku n g a n z z t l J LZJ 1.....t w tZ Jt z J Z Z JLZ Z
KETERA N G A N :
H Q | D a m p a k y a n g te la h te rja d i a k ib a t k e g ia ta n p e n g o p e ra s ia n p e la b u h a n C ire b o n

A . l . P e la y a n a n L a b u h B . l . Jasa B o n g k a r M u a t D . l . A la t-a la t E l. Aktlfitas


A .2 . P e la y a n a n P a n d u B .2. Jasa P e n u m p u k a n d lla p a n g a n B e ra t Karyawan
A .3 . P e la y a n a n T u n d a B .3. Jasa P e n u m p u k a n d i G u d a n g D .2 . G e n s e t E2. Kegiatan
A .4 . P e la y a n a n T a m b a t Perkantoran
A .S . S u p la i A ir Be rsih
A .6 . S u p la i B u n k e r B B M

Kegiatan pelabuhan yang menyebabkan dampak terhadap lingkungan antara lain

RENCANA INDUK PELA BU H A N CIREBO N


Ringkasan Eksekutif

1. Pelayanan labuh
2. Pelayanan pandu
3. Pelayanan tunda
4. Pelayanan tambat
5. Suplai air bersih
6. Suplai bunker BBM
7. Jasa bongkar muat
8. Jasa penumpukan di lapangan
9. Jasa penumpukan di gudang
10. Jasa lainnya
11. Penggunaan alat-alat berat
12. Penggunaan genset
13. Aktivitas karyawan
14. Kegiatan perkantoran

VII-5
VII.3 A rahan Studi Lingkungan Yang Harus Dilakukan
Prediksi dam pak penting adalah suatu upaya untuk m encari ja w ab a n atas p ertanyaan ten tan g

besarnya perubahan nilai parameter lingkungan sebagai akibat adanya rencana kegiatan dan sifat
penting; dampak. Tujuan prediksi dampak penting adalah memprakirakan besaran dampak dan sifat
penting; dampak dalam studi ANDAL untuk masing-masing dampak penting hipotetik, termasuk
rumus-rumus dan asumsi prediksi dampaknya disertai argumentasi/alasan pemilihan metode
tersebut.
Prakira;an dampak penting yang timbul akibat kegiatan pelabuhan Cirebon yaitu :
I. Penurunan kualitas udara (baik oleh BM batu bara maupun yang lainnya)
Peningkatan kebisingan
31. Penurunan kualitas air laut
4. Timbulnya kerusakan jalan
Ei. Timbulnya limbah domestik
6i. Peningkatan kebutuhan air bersih
7. Timbulnya kemacetan lalu lintas
8. Timbulnya limbah B3
9. Perubahan kelimpahan jenis biota darat
10. Gangguan biota air
I I . Interaksi sosial
12. Peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat
13. Penggunaan tenaga kerja lokal
14. Gangguan aktivitas nelayan
15. Pola penyakit
16. Kesehatan lingkungan

RENCANA INDUIK PELABU H AN CIREBO N


Executive Sum m ary

Dampak-dampak tersebut berbeda beda tingkat kepentingannya, sehingga memerlukan kajian


lebih mendalam hingga diperoleh besaran yang pasti dalam mengelola dan memantau dampak
lingkungan.

M ENTERI PERHUBUNGAN
R EP U B LIK INDONESIA

ttd

BUDI KA RYA SUMADI

Salinan sesuai aslinya,


KEPA LA BIRO HUKUM KBM ENTERIAN PERHUBUNGAN

SR I LE STA R I RAH^jYU
Pembina Utama Muda (IV/c)
NIP. 19620620 198903 2 001

VII-6