Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN CHILD ABUSE

BAB

PEMBAHASAN

A. DEFINISI

Pada awalnya terminologi tindak kekerasan atau child abuse berasal dari dunia kedokteran. Sekitar
tahun 1946, seorang radiologist Caffey (dalam Ibnu Anshori, 2007) melaporkan kasus berupa gejala-
gejala klinik seperti patah tulang panjang yang majemuk (multiple fractures) pada anak-anak atau bayi
disertai pendarahan tanpa diketahui sebabnya (unrecognized trauma). Dalam dunia kedokteran, kasus
ini dikenal dengan istilah Caffey Syndrome (Ranuh dalam Anshori, 2007).

Kasus yang ditemukan Caffey diatas semakin menarik perhatian publik ketika Henry Kempe tahun 1962
menulis masalah ini di Journal of the American Medical Assosiation, dan melaporkan bahwa dari 71
Rumah Sakit yang ia teliti, ternyata terjadi 302 kasus tindak kekerasan terhadap anak-anak, dimana 33
anak dilaporkan meninggal akibat penganiayaan yang dialaminya, dan 85 mengalami kerusakan otak
yang permanen. Henry (dalam Anshori, 2007) menyebut kasus penelentaran dan penganiayaan yang
dialami anak-anak dengan istilah Battered Child Syndrome, yaitu setiap keadaan yang disebabkan
kurangnya perawatan dan perlindungan terhadap anak oleh orangtua atau pengasuh lain.

Selain Battered Child Syndrome, istilah lain untuk menggambarkan kasus penganiayaan yang dialami
anak-anak adalah Maltreatment Syndrome, yang meliputi gangguan fisik seperti diatas, juga gangguan
emosi anak dan adanya akibat asuhan yang tidak memadai, ekploitasi seksual dan ekonomi, pemberian
makanan yang tidak layak bagi anak atau makanan kurang gizi, pengabaian pendidikan dan kesehatan
dan kekerasan yang berkaitan dengan medis (Gelles dalam Anshori, 2007).

Menurut Sutanto (2006), kekerasan anak adalah perlakuan orang dewasa/anak yang lebih tua dengan
menggunakan kekuasaan/otoritasnya terhadap anak yang tak berdaya yang seharusnya menjadi
tanggung jawab/pengasuhnya, yang berakibat penderitaan, kesengsaraan, cacat atau kematian.
Kekerasan anak lebih bersifat sebagai bentuk penganiayaan fisik dengan terdapatnya tanda atau luka
pada tubuh sang anak.

Jika kekerasan terhadap anak didalam rumah tangga dilakukan oleh orang tua, maka hal tersebut dapat
disebut kekerasan dalam rumah tangga. Tindak kekerasan rumah tangga yang termasuk di dalam
tindakan kekerasan rumah tangga adalah memberikan penderitaan baik secara fisik maupun mental di
luar batas-batas tertentu terhadap orang lain yang berada di dalam satu rumah; seperti terhadap
pasangan hidup, anak, atau orang tua dan tindak kekerasan tersebut dilakukan di dalam rumah.

Banyak orangtua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan
kekerasan adalah bagian dari mendisiplinkan anak. Mereka lupa bahwa orangtua adalah orang yang
paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan, peningkatan
kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya. Keluarga adalah tempat pertama
kali anak belajar mengenal aturan yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Sudah barang tentu dalam proses belajar ini, anak cenderung melakukan kesalahan. Bertolak dari
kesalahan yang dilakukan, anak akan lebih mengetahui tindakan-tindakan yang bermanfaat dan tidak
bermanfaat, patut atau tidak patut. Namun orang tua menyikapi proses belajar anak yang salah ini
dengan kekerasan. Bagi orangtua, tindakan anak yang melanggar perlu dikontrol dan dihukum. bagi
orangtua tindakan yang dilakukan anak itu melanggar sehingga perlu dikontrol dan dihukum.

Wikipedia Indonesia (2006) memberikan pengertian bahwa kekerasan merujuk pada tindakan agresi dan
pelanggaran (penyiksaan, pemerkosaan, pemukulan, dll.) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk
menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain. Istilah kekerasan juga berkonotasi kecenderungan
agresif untuk melakukan perilaku yang merusak.

Kekerasan terjadi ketika seseorang menggunakan kekuatan, kekuasaan, dan posisi nya untuk menyakiti
orang lain dengan sengaja, bukan karena kebetulan (Andez, 2006). Kekerasan juga meliputi ancaman,
dan tindakan yang bisa mengakibatkan luka dan kerugian. Luka yang diakibatkan bisa berupa luka fisik,
perasaan, pikiran, yang merugikan kesehatan dan mental.kekerasan anak

Menurut Andez (2006) kekerasan pada anak adalah segala bentuk tindakan yang melukai dan merugikan
fisik, mental, dan seksual termasuk hinaan meliputi: Penelantaran dan perlakuan buruk, Eksploitasi
termasuk eksploitasi seksual, serta trafficking/ jual-beli anak.

Sedangkan Child Abuse adalah semua bentuk kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh mereka
yang seharusnya bertanggung jawab atas anak tersebut atau mereka yang memiliki kuasa atas anak
tersebut, yang seharusnya dapat di percaya, misalnya orang tua, keluarga dekat, dan guru.

Nadia (2004) mengartikan kekerasan terhadap anak sebagai bentuk penganiayaan baik fisik maupun
psikis. Penganiayaan fisik adalah tindakan-tindakan kasar yang mencelakakan anak, dan segala bentuk
kekerasan fisik pada anak yang lainnya. Sedangkan penganiayaan psikis adalah semua tindakan
merendahkan atau meremehkan anak. Alva menambahkan bahwa penganiayaan pada anak-anak
banyak dilakukan oleh orangtua atau pengasuh yang seharusnya menjadi seorang pembimbing bagi
anaknya untuk tumbuh dan berkembang.

Hoesin (2006) melihat kekerasan terhadap anak sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak-hak anak.
dan dibanyak negara dikategorikan sebagai kejahatan sehingga mencegahnya dapat dilakukan oleh para
petugas penegak hukum. Sedangkan Patilima (2003) menganggap kekerasan merupakan perlakuan yang
salah orang tua. Patilima mendefinisikan perlakuan salah pada anak adalah segala perlakuan terhadap
anak yang akibat-akibatnya mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik,
psikologi sosial, maupun mental.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk
perlakuan baik secara fisik maupun psikis yang berakibat penderitaan terhadap anak. Child abuse atau
perlakuan yang salah terhadap anak didefinisikan sebagai segala perlakuan buruk terhadap anak
ataupun adolens oleh orang tua, wali, atau orang lain yang seharusnya memelihara, menjaga, dan
merawat mereka.

Child abuse adalah suatu kelalaian tindakan atau perbuatan orangtua atau orang yang merawat anak
yang mengakibatkan anak menjadi terganggu mental maupun fisik, perkembangan emosional, dan
perkembangan anak secara umum.

Sementara menurut U.S Departement of Health, Education and Wolfare memberikan definisi Child
abuse sebagai kekerasan fisik atau mental, kekerasan seksual dan penelantaran terhadap anak dibawah
usia 18 tahun yang dilakukan oleh orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan
anak, sehingga keselamatan dan kesejahteraan anak terancam.

B. KLASIFIKASI CHILD ABUSE

Macam – macam Child Abuse :

· Emotional Abuse,

Perlakuan yang dilakukan oleh orang tua seperti menolak anak, meneror, mengabaikan anak, atau
mengisolasi anak. Hal tersebut akan membuat anak merasa dirinya tidak dicintai, atau merasa buruk
atau tidak bernilai. Hal ini akan menyebabkan kerusakan mental fisik, sosial, mental dan emosional anak.

Indikator fisik kelainan bicara, gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan. Indikator perilaku
kelainan kebiasaan ( menghisap, mengigit, atau memukul-mukul ).

· Physical Abuse

Cedera yang dialami oleh seorang anak bukan karena kecelakaan atau tindakan yang dapat
menyebabkan cedera serius pada anak, atau dapat juga diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh
pengasuh sehingga mencederai anak. Biasanya berupa luka memar, luka bakar atau cedera di kepala
atau lengan.

Indikator fisik – luka memar, gigitan manusia, patah tulang, rambut yang tercabut, cakaran. Indikator
perilaku – waspada saat bertemu degan orang dewasa, berperilaku ekstrem seerti agresif atau
menyendiri, takut pada orang tua, takut untuk pulang ke rumah, menipu, berbohong, mencuri.

· Neglect

Kegagalan orang tua untuk memberikan kebutuhan yang sesuai bagi anak, seperti tidak memberikan
rumah yang aman, makanan, pakaian, pengobatan, atau meninggalkan anak sendirian atau dengan
seseorang yang tidak dapat merawatnya.

Indikator fisik–kelaparan, kebersihan diri yang rendah, selalu mengantuk, kurangnya perhatian, masalah
kesehatan yang tidak ditangani.
Indikator kebiasaan. Meminta atau mencuri makanan, sering tidur, kurangnya perhatian pada masalah
kesehatan, masalah kesehatan yang tidak ditangani, pakaian yang kurang memadai ( pada musim dingin
), ditinggalkan.

· Sexual Abuse

Termasuk menggunakan anak untuk tindakan sexual, mengambil gambar pornografi anak-anak, atau
aktifitas sexual lainnya kepada anak. Indikator fisik , kesulitan untuk berjalan atau duduk, adanya noda
atau darah di baju dalam, nyeri atau gatal di area genital, memar atau perdarahan di area genital /
rektal, berpenyakit kelamin.

Indikator kebiasaan pengetahuan tentang seksual atau sentuhan seksual yang tidak sesuai dengan usia,
perubahan pada penampilan, kurang bergaul dengan teman sebaya, tidak mau berpartisipasi dalam
kegiatan fisik, berperilaku permisif / berperilaku yang menggairahkan, penurunan keinginan untuk
sekolah, gangguan tidur, perilaku regressif ( misal: ngompol ).

Sedangkan menurut para ahli yang lain, sebagai berikut :

Terry E. Lawson (dalam harian-pikiran.rakyat.com, 2006), psikiater internasional yang merumuskan


definisi tentang kekerasan terhadap anak, menyebut ada empat macam abuse, yaitu emotional abuse,
verbal abuse, physical abuse, dan sexual abuse.

Emotional abuse terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak setelah mengetahui anaknya
meminta perhatian, mengabaikan anak itu. Ia membiarkan anak basah atau lapar karena ibu terlalu
sibuk atau tidak ingin diganggu pada waktu itu. Ia boleh jadi mengabaikan kebutuhan anak untuk
dipeluk atau dilindungi. Anak akan mengingat semua kekerasan emosional jika kekerasan emosional itu
berlangsung konsisten. Orang tua yang secara emosional berlaku keji pada anaknya akan terus-menerus
melakukan hal sama sepanjang kehidupan anak itu.

Verbal abuse terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak, setelah mengetahui anaknya
meminta perhatian, menyuruh anak itu untuk diam atau jangan menangis. Jika si anak mulai berbicara,
ibu terus-menerus menggunakan kekerasan verbal seperti, “kamu bodoh”, “kamu cerewet”, dsb. Anak
akan mengingat semua kekerasan verbal jika semua kekerasan verbal itu berlangsung dalam satu
periode.

Physical abuse, terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak memukul anak (ketika anak
sebenarnya memerlukan perhatian). Pukulan akan diingat anak itu jika kekerasan fisik itu berlangsung
dalam periode tertentu.

Sexual abuse biasanya tidak terjadi selama delapan belas bulan pertama dalam kehidupan anak.
Eksploitasi seksual pada anak adalah ketergantungan, perkembangan seksual aktivitas yang tidak matur
pada anak dan orang dewasa, dimana mereka tidak sepenuhnya secara komprenhensif dan tidak
mampu untuk memberikan persetujuan karena bertentangan dengan hal yang tabu di keluarga.
Menurut Moore (dalam Nataliani, 2004), kekerasan atau perlakuan salah terhadap anak pada umumnya
dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori, antara lain kekerasan fisik, seksual dan emosional.

Purbani (2003) mengatakan kekerasan dalam rumah tangga baik dilakukan oleh suami kepada istrinya
atau orang tua terhadap anaknya bisa berbentuk fisik atau nonfisik. Kekerasan nonfisik bisa berbentuk
verbal seperti pelecehan, penghinaan, mencuekin (mendiamkan) istri, atau bentuk lain seperti tidak
membiayai selama berbulan-bulan, sedangkan kekerasan fisik bisa berbentuk pemukulan, penjambakan,
dll.

Sedangkan Patilima (2003) menganggap bahwa kekerasan pada anak merupakan perlakuan yang salah.
Hamid mendefinisikan perlakuan salah pada anak adalah segala perlakuan terhadap anak yang akibat-
akibatnya mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikologi sosial,
maupun mental. Perlakuan salah menurut DR. Irwanto (dalam Hamid, 2003), dapat digolongkan ke
dalam berbagai kategori menurut dampak dari perlakuan, yaitu:

1. Perlakuan salah secara seksual;

2. Perlakuan salah secara fisik; dan

3. Perlakuan salah secara mental.

Bentuk-bentuk kekerasan yang terdapat dalam Undang-undang no. 23 tahun 2004 (www.kowani.or.id)
mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), dimana ingkup rumah tangga dalam
Undang-Undang ini meliputi suami, isteri dan anak, yaitu;

1. Kekerasan fisik; Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang
mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat;

2. Kekerasan psikis adalah; Kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b adalah
perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk
bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang;

3. Kekerasan seksual adalah kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c meliputi:
Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetapkan dalam lingkup hidup
rumah tangga tersebut; Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah
tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu,

4. Penelantaran rumah tangga. Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah
tangganya, penelantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang
mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja
yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.
Menurut Sitohang (2004), bentuk-bentuk kekerasan pada anak meliputi;

1. Penganiayaan fisik, Non Accidental “injury” mulai dari ringan “bruiser laserasi” sampai pada trauma
neurologic yang berat dan kematian. Cedera fisik akibat hukuman badan di luar batas, kekejaman atau
pemberian racun;

2. Penelantaran anak/kelalaian, yaitu kegiatan atau behavior yang langsung dapat menyebabkan efek
merusak pada kondisi fisik anak dan perkembangan psikologisnya;

3. Penganiayaan emosional yaitu ditandai dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan anak, tidak
mengakui sebagai anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain;

4. Penganiayaan seksual, mempergunakan pendekatan persuasif. Paksaan pada seseorang anak untuk
mengajak berperilaku/mengadakan kegiatan seksual yang nyata, sehingga menggambarkan kegiatan
seperti : aktivitas seksual (oral genital, genital, anal atau sodomi) termasuk incest.

C. ETIOLOGI

Menurut Helfer dan Kempe dalam Pillitery ada 3 faktor yang menyebabkan child abuse, yaitu:

1. Orang tua memiliki potensi untuk melukai anak-anak. Orang tua yang memiliki kelainan mental, atau
kurang kontrol diri daripada orang lain, atau orang tua tidak memahami tumbuh kembang anak,
sehingga mereka memiliki harapan yang tidak sesuai dengan keadaan anak. Dapat juga orang tua
terisolasi dari keluarga yang lain, bisa isolasi sosial atau karena letak rumah yang saling berjauhan dari
rumah lain, sehingga tidak ada orang lain yang dapat memberikan support kepadanya.

2. Menurut pandangan orang tua anak terlihat berbeda dari anak lain. Hal ini dapat terjadi pada anak
yang tidak diinginkan atau anak yang tidak direncanakan, anak yang cacat, hiperaktif, cengeng, anak dari
orang lain yang tidak disukai, misalnya anak mantan suami/istri, anak tiri, serta anak dengan berat lahir
rendah (BBLR). Pada anak BBLR saat bayi dilahirkan, mereka harus berpisah untuk beberapa lama,
padahal pada beberapa hari inilah normal bonding akan terjalin.

3. Adanya kejadian khusus : Stress. Stressor yang terjadi bisa jadi tidak terlalu berpengaruh jika hal
tersebut terjadi pada orang lain. Kejadian yag sering terjadi misalnya adanya tagihan, kehilangan
pekerjaan, adanya anak yang sakit, adanya tagihan, dll. Kejadian tersebut akan membawa pengaruh
yang lebih besar bila tidak ada orang lain yang menguatkan dirinya di sekitarnya Karena stress dapat
terjadi pada siapa saja, baik yang mempunyai tingkat sosial ekonomi yag tinggi maupun rendah, maka
child abuse dapat terjadi pada semua tingkatan.

Menurut Rusel dan Margolin, wanita lebih banyak melakukan kekerasan pada anak, karena wanita
merupakan pemberi perawatan anak yang utama. Sedangkan laki-laki lebih banyak melakukan sex
abuse, ayah tiri mempunyai kemungkinan 5 sampai 8 kali lebih besar untuk melakukannya daripada
ayah kandung (Smith dan Maurer).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun
kekerasan psikis, diantaranya adalah:

Stress yang berasal dari anak.

a. Fisik berbeda, yang dimaksud dengan fisik berbeda adalah kondisi fisik anak berbeda dengan anak
yang lainnya. Contoh yang bisa dilihat adalah anak mengalami cacat fisik. Anak mempunyai kelainan fisik
dan berbeda dengan anak lain yang mempunyai fisik yang sempurna.

b. Mental berbeda, yaitu anak mengalami keterbelakangan mental sehingga anak mengalami masalah
pada perkembangan dan sulit berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.

c. Temperamen berbeda, anak dengan temperamen yang lemah cenderung mengalami banyak
kekerasan bila dibandingkan dengan anak yang memiliki temperamen keras. Hal ini disebabkan karena
anak yang memiliki temperamen keras cenderung akan melawan bila dibandingkan dengan anak
bertemperamen lemah.

d. Tingkah laku berbeda, yaitu anak memiliki tingkah laku yang tidak sewajarnya dan berbeda dengan
anak lain. Misalnya anak berperilaku dan bertingkah aneh di dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya.

e. Anak angkat, anak angkat cenderung mendapatkan perlakuan kasar disebabkan orangtua
menganggap bahwa anak angkat bukanlah buah hati dari hasil perkawinan sendiri, sehingga secara
naluriah tidak ada hubungan emosional yang kuat antara anak angkat dan orang tua.

Stress keluarga

a. Kemiskinan dan pengangguran, kedua faktor ini merupakan faktor terkuat yang menyebabkan
terjadinya kekerasan pada anak, sebab kedua faktor ini berhubungan kuat dengan kelangsungan hidup.
Sehingga apapun akan dilakukan oleh orangtua terutama demi mencukupi kebutuhan hidupnya
termasuk harus mengorbankan keluarga.

b. Mobilitas, isolasi, dan perumahan tidak memadai, ketiga faktor ini juga berpengaruh besar terhadap
terjadinya kekerasan pada anak, sebab lingkungan sekitarlah yang menjadi faktor terbesar dalam
membentuk kepribadian dan tingkah laku anak.

c. Perceraian, perceraian mengakibatkan stress pada anak, sebab anak akan kehilangan kasih sayang
dari kedua orangtua.

d. Anak yang tidak diharapkan, hal ini juga akan mengakibatkan munculnya perilaku kekerasan pada
anak, sebab anak tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orangtua, misalnya kekurangan fisik,
lemah mental, dsb.
Stress berasal dari orang tua,

a. Rendah diri, anak dengan rendah diri akan sering mendapatkan kekerasan, sebab anak selalu merasa
dirinya tidak berguna dan selalu mengecewakan orang lain.

b. Waktu kecil mendapat perlakuan salah, orangtua yang mengalami perlakuan salah pada masa kecil
akan melakuakan hal yang sama terhadap orang lain atau anaknya sebagai bentuk pelampiasan atas
kejadian yang pernah dialaminya.

c. Harapan pada anak yang tidak realistis, harapan yang tidak realistis akan membuat orangtua
mengalami stress berat sehingga ketika tidak mampu memenuhi memenuhi kebutuhan anak, orangtua
cenderung menjadikan anak sebagai pelampiasan kekesalannya dengan melakukan tindakan kekerasan.

D. DAMPAK CHILD ABUSE

Moore (dalam Nataliani, 2004) menyebutkan bahwa efek tindakan dari korban penganiayaan fisik dapat
diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Ada anak yang menjadi negatif dan agresif serta mudah
frustasi; ada yang menjadi sangat pasif dan apatis; ada yang tidak mempunyai kepibadian sendiri; ada
yang sulit menjalin relasi dengan individu lain dan ada pula yang timbul rasa benci yang luar biasa
terhadap dirinya sendiri. Selain itu Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik, seperti
perkembangan tubuh kurang normal juga rusaknya sistem syaraf.

Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku
menyimpang di kemudian hari. Bahkan, Komnas PA (dalam Nataliani, 2004) mencatat, seorang anak
yang berumur 9 tahun yang menjadi korban kekerasan, memiliki keinginan untuk membunuh ibunya.

Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (child abuse), antara lain;

1. Dampak kekerasan fisik, anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan menjadi
sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. Orang tua
agresif melahirkan anak-anak yang agresif, yang pada gilirannya akan menjadi orang dewasa yang
menjadi agresif. Lawson (dalam Sitohang, 2004) menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental
ada hubungannya dengan perlakuan buruk yang diterima manusia ketika dia masih kecil. Kekerasan fisik
yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera serius terhadap
anak, meninggalkan bekas luka secara fisik hingga menyebabkan korban meninggal dunia;

2. Dampak kekerasan psikis. Unicef (1986) mengemukakan, anak yang sering dimarahi orang tuanya,
apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia
nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk),
kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Menurut Nadia (1991),
kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata
seperti penyiksaan fisik. Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang
termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina
persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol,
ataupun kecenderungan bunuh diri;

3. Dampak kekerasan seksual. Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003) diantara korban yang masih
merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi
seksual, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang
dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika
kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari
yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur,
kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll
(dalam Nadia, 1991);

4. Dampak penelantaran anak. Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal ini adalah
kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak, Hurlock (1990) mengatakan jika anak
kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal
mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa
yang akan datang.

5. Dampak yang lainnya (dalam Sitohang, 2004) adalah kelalaian dalam mendapatkan pengobatan
menyebabkan kegagalan dalam merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan, meliputi
kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau
menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.

Berdasarkan uraian diatas dampak dari kekerasan terhadap anak antara lain;

a. Kerusakan fisik atau luka f