Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

KORUPSI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah PBAK
Dosen Mata Ajar : Dwi Tjahyono,SH.,MM

Disusun Oleh :
Kelompok 3
1. Assad
2. Gita
3. Ima
4. Viky
5. Widyaningsih (2620152806)

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO


YOGYAKARTA
2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“………” tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dwi Tjahyono,SH.,MM sebagai pembimbing yang telah sebagai
telah memberikan bimbingannya, baik berupa materi maupun teknis demi
kesempurnaan makalah ini.
2. Teman-teman yang telah bekerjasama dalam penyelesaian makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan


baik pada teknik penulisan maupun materi. Untuk itu kami mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhirnya, kami berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Yogyakarta, 07
September 2016

Penulis
,
Daftar Isi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Korupsi merupakan perbuatan yang melanggar hukum. Korupsi sudah
berkembang di lingkungan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Hal ini jelas
sangat merugikan perekonomian negara serta menghambat jalannya
pembangunan bagi negara Indonesia. Tindak pidana korupsi telah dianggap
sebagai “extraordinary crime” atau kejahatan luar biasa.
Pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia telah diatur dalam hukum
positif yaitu Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Dalam undang-undang tersebut terdapat sanksi pidana yang penerapannya
dilakukan secara kumulatif.
Korupsi di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat dan sulit untuk
diberantas. Pada tahun 2012, Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan
285 kasus korupsi yang merugikan negara hingga Rp 1,22 triliun. ICW
mencatat jumlah tersangka korupsi mencapai 597 orang. Dari hasil temuan
ICW tersebut, perkembangan meningkatnya kasus korupsi perlu dilakukan
upaya pencegahan dan mengurangi terjadinya kasus korupsi. Salah satunya
tidak terlepas dari sanksi hukum yang dijatuhkan bagi pelaku korupsi atau yang
biasa disebut koruptor. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo.Undang-undang Nomor 20 Tahun
2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1991 tentang
Pemberantasan Korupsi memuat berbagai macam sanksi yang memungkinkan
dijatuhkannya pidana seumur hidup bagi para koruptor. Pada faktanya indeks
korupsi di Indonesia tidak juga turun.
Sanksi dalam undang-undang terkait tindak pidana korupsi belum mampu
mengurangi tindak pidana korupsi. Sangat diperlukan terobosan baru dan
tindakan konkret untuk mengatasi korupsi. Belakangan ini, ada cara alternatif
yang diwacanakan oleh para pengamat hukum supaya aparat penegak hukum
menggunakan sanksi pemiskinan koruptor. Wacana pemiskinan koruptor ini
semakin meluas ketika Kamis, 1 Maret 2012 lalu hakim Pengadilan Tipikor
Jakarta menjatuhkan vonis enam tahun penjara bagi Gayus Tambunan, denda
Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan menyita harta Gayus, termasuk
rumah mewah terpidana di Kelapa Gading Jakarta Utara. Gayus terbukti
melakukan korupsi dan pencucian uang saat berstatus sebagai pegawai pajak.
Vonis tersebut adalah vonis keempat yang diterima Gayus. Sebelumnya, Gayus
juga divonis untuk tiga perkara lain, yakni pemalsuan paspor, penggelapan
pajak, dan penyuapan dengan total hukuman selama 22 tahun. Kasus Gayus
tersebut bisa dijadikan momentum awal untuk melakukan pemiskinan
koruptor.
Pemiskinan koruptor memiliki potensi yang besar untuk memberantas
korupsi di Indonesia. Secara manusiawi tidak ada orang yang ingin miskin.
Tentu koruptor yang biasa hidup berkecukupan bahkan cenderung mewah akan
takut hidup miskin. Pemiskinan koruptor harus dikukuhkan dalam sebuah
aturan yang jelas agar tetap berada pada koridor asas-asas hukum dan tidak
mengarah pada pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia). Pada saat koruptor
dimiskinkan maka bukan hanya dia pribadi yang merasakan efeknya, tetapi
juga keluarganya ikut merasakan.
Kasus korupsi sudah menjadi masalah yang menghambat pembangunan
nasional. Korupsi juga dapat melemahkan sendi-sendi kehidupan di dalam
masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan adanya jumlah koruptor yang dari
tahun ke tahun semakin meningkat, maka penulis tertarik untuk meneliti
bagaimana konsep pemikiran dan dasar hukum pemiskinan koruptor sebagai
salah satu hukuman alternatif dalam tindak pidana korupsi dan bagaimana
implementasi sanksi pidana pemiskinan koruptor di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Korupsi
Banyak para ahli yang mencoba merumuskan korupsi, yang jka dilihat
dari struktrur bahasa dan cara penyampaiannya yang berbeda, tetapi pada
hakekatnya mempunyai makna yang sama. Kartono (1983) memberi batasan
korupsi sebagi tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan
jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum
dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari
kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber
kekayaan negara dengan menggunakan wewenang dan kekuatankekuatan
formal (misalnya denagan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk
memperkaya diri sendiri.
Korupsi terjadi disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang dan
jabatan yang dimiliki oleh pejabat atau pegawai demi kepentingan pribadi
dengan mengatasnamakan pribadi atau keluarga, sanak saudara dan teman.
Wertheim (dalam Lubis, 1970) menyatakan bahwa seorang pejabat dikatakan
melakukan tindakan korupsi bila ia menerima hadiah dari seseorang yang
bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil keputusan yang
menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Kadang-kadang orang yang
menawarkan hadiahdalam bentuk balas jasa juga termasuk dalam korupsi.
Selanjutnya, Wertheim menambahkan bahwa balas jasa dari pihak ketiga yang
diterima atau diminta oleh seorang pejabat untuk diteruskan kepada
keluarganya atau partainya/ kelompoknya atau orang-orang yang mempunyai
hubungan pribadi dengannya, juga dapat dianggap sebagai korupsi. Dalam
keadaan yang demikian, jelas bahwa ciri yang paling menonjol di dalam
korupsi adalah tingkah laku pejabat yang melanggar azas pemisahan antara
kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat, pemisaham keuangan
pribadi dengan masyarakat.
B. Jenis-Jenis Korupsi
Memperhatikan Undang-undang nomor 31 tahun 1999 Undang-undang
Nomor 20 tahun 2001,maka tindak Pidana Korupsi itu dapat dilihat dari dua
segi yaitu korupsi Aktif dan Korupsi Pasif, Adapun yang dimaksud dengan
Korupsi Aktif adalah sebagai berikut :
1. Secara melawan hukum memperkaya diri sendiri atau orang lain atau
Korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian
Negara (Pasal 2 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999)
2. Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau Korporasi
yang menyalahgunakan kewenangan,kesempatan atau dapat merugikan
keuangan Negara,atau perekonomian Negara (Pasal 3 Undang-undang
Nomor 31 Tahun 1999)
3. Memberi hadiah Kepada Pegawai Negeri dengan mengingat kekuasaan
atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya,atau oleh
pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan
tersebut (Pasal 4 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999)
4. Percobaan pembantuan,atau pemufakatan jahat untuk melakukan Tindak
pidana Korupsi (Pasal 15 Undang-undang Nomor 20 tahun 2001)
5. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau
Penyelenggara Negara dengan maksud supaya berbuat atau tidak berbuat
sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya (Pasal
5 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor 20 tahun 2001)
6. Memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau Penyelenggara negara
karena atau berhubung dengan sesuatu yang bertentangan dengan
kewajibannya dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya (Pasal 5
ayat (1) huruf b Undang-undang Nomor 20 Tagun 2001)
7. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Hakim dengan maksud untuk
mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili
(Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001)
8. Pemborong,ahli bangunan yang pada waktu membuat bangunan atau
penjual bahan bangunan yang pada waktu menyerahkan bahan
bangunan,melakukan perbuatan curang yang dapat membahayakan
keamanan orang atau barang atau keselamatan negara dalam keadaan
perang (Pasal (1) huruf a Undang-undang Nomor 20 tahun 2001).
9. Setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan
bahan bangunan,sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana
dimaksud dalam huruf a (Pasal 7 ayat (1) huruf b Undang-undang Nomor
20 tahun 2001)
10. Setiap orang yang pada waktu menyerahkan barang keperluan Tentara
nasional Indonesia atau Kepolisian negara Reublik Indonesia melakukan
perbuatan curang yang dapat membahayakan keselamatan negara dalam
keadaan perang (Pasal 7 ayat (1) huruf c Undang-undang Nomor 20
tahun 2001).
11. Setiap orang yang bertugas mengawasi penyerahan barang keperluan
Tentara nasional indpnesia atau Kepolisian Negara Republik Indonesia
dengan sengaja mebiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud
dalam huruf c (pasal 7 ayat (1) huruf d Undang-undang Nomor 20 Tahun
2001)
12. Pegawai negeri atau selain pegawai negeri yyang di tugaskan
menjalankan suatu jabatan umum secara terus-menerus atau untuk
sementara waktu,dengan sengaja menggelapkan uang atau mebiarkan
uang atau surat berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain
atau membantu dalam melakukan perbuatan tersebut (Pasal 8 Undang-
undang Nomor 20 tahun 2001)
13. Pegawai negeri atau selain Pegawai Negeri yang diberi tugas
menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau sementara
waktu,dengan sengaja memalsu buku-buku atau daftar-daftar khusus
pemeriksaan administrasi (Pasal 9 Undang-undang Nomor 20 Tahun
2001)
14. Pegawai negeri atau orang selain Pegawai Negeri yang diberi tugas
menjalankan suatu jabatan umum secara terus-menerus atau untuk
sementara waktu dengan sengaja menggelapkan
menghancurkan,merusakkan,atau mebuat tidak dapat dipakai
barang,akta,surat atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau
membuktikan di muka pejabat yang berwenang yang dikuasai karena
jabatannya atau membiarkan orang lain menghilangkan, menghancurkan,
merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat atau
daftar tersebut (Pasal 10 Undang-undang Nomor 20 tahun 2001).
15. Pegawai negeri atau Penyelenggara Negara yang :
a. Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara
melawan hukum atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya
memaksa seseorang memberikan sesuatu atau menerima
pembayaran dengan potongan atau mengerjakan sesuatu bagi
dirinya sendiri (pasal 12 e undang-undang Nomor 20 tahun 2001)
b. Pada waktu menjalankan tugas meminta,menerima atau memotong
pembayaran kepada pegawai Negeri atau Penyelenggara negara
yang lain atau kas umum tersebut mempunyai hutang
kepadanya.padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan mrupakan
hutang (huruf f)
c. Pada waktu menjalankan tugas meminta atau menerima pekerjaan
atau penyerahan barang seplah-olah merupakan hutang pada
dirinya,padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan
hutang (huruf g)
d. Pada waktu menjalankan tugas telah menggunakan tanah negara
yang di atasnya terdapat hak pakai,seolah-olah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan,telah merugikan orang yang
berhak,apadahal diketahuinya bahwa perbuatan tersebut
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau
e. baik langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut serta
dalam pemborongan,pengadaan,atau persewaan yang pada saat
dilakukan perbuatan,untuk seluruhnya atau sebagian ditugaskan
untuk mengurus atau mengawasinya (huruf i)
16. Memberi hadiah kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan
atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya,atau oleh
pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan
itu (Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999).

Sedangkan Korupsi Pasif adalah sebagai berikut :

1. Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian


atau janji karena berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya (pasal 5 ayat (2) Undang-
undang Nomor 20 tahun 2001)
2. Hakim atau advokat yang menerima pemberian atau janji untuk
mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili
atau untuk mepengaruhi nasihat atau pendapat yang diberikan berhubung
dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili (Pasal 6
ayat (2) Undang-undang nomor 20 Tahun 2001)
3. Orang yang menerima penyerahan bahan atau keparluan tentara nasional
indonesia, atau kepolisisan negara republik indonesia yang mebiarkan
perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau c
Undang-undang nomor 20 tahun 2001 (Pasal 7 ayat (2) Undang-undang
nomor 20 tahun 2001.
4. Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau
janji padahal diketahui atau patut diketahui atau patut diduga bahwa
hadiah atau janji tersebut diberikan utnuk mengerakkan agar melakukan
atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan
dengan kewajibannya,atau sebaga akibat atau disebabkan karena telah
melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang
bertentangan dengan kewajibannya (pasal 12 huruf a dan huruf b
Undang-undang nomor 20 tahun 2001)
5. Hakim yang enerima hadiah atau janji,padahal diketahui atau patut
diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi
putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili (pasal 12 huruf
c Undang-undang nomor 20 tahun 2001)
6. Advokat yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut
diduga,bahwa hadiah atau janji itu diberikan untuk mempengaruhi
nasihat atau pendapat uang diberikan berhubungan dengan perkara yang
diserahkan kepada pengadilan untuk diadili (pasal 12 huruf d Undang-
undang nomor 20 tahun 2001)
7. Setiap pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima
gratifikasi yang diberikan berhubungan dengan jabatannya dan
berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya (pasal 12 Undang-undang
nomor 20 tahun 2001).

Jenis korupsi yang lebih operasional juga diklasifikasikan oleh tokoh


reformasi, M. Amien Rais yang menyatakan sedikitnya ada empat jenis
korupsi, yaitu (Anwar, 2006:18):
1. Korupsi ekstortif, yakni berupa sogokan atau suap yang dilakukan
pengusaha kepada penguasa.
2. Korupsi manipulatif, seperti permintaan seseorang yang memiliki
kepentingan ekonomi kepada eksekutif atau legislatif untuk membuat
peraturan atau UU yang menguntungkan bagi usaha ekonominya.
3. Korupsi nepotistik, yaitu terjadinya korupsi karena ada ikatan
kekeluargaan, pertemanan, dan sebagainya.
4. Korupsi subversif, yakni mereka yang merampok kekayaan negara
secara sewenang-wenang untuk dialihkan ke pihak asing dengan
sejumlah keuntungan pribadi.

Diantara model-model korupsi yang sering terjadi secara praktis adalah:


pungutan liar, penyuapan, pemerasan, penggelapan, penyelundupan,
pemberian (hadiah atau hibah) yang berkaitan dengan jabatan atau profesi
seseorang.
Jeremy Pope (2007: xxvi) mengutip dari Gerald E. Caiden dalam Toward a
General Theory of Official Corruption menguraikan secara rinci bentuk-
bentuk korupsi yang umum dikenal, yaitu:
1. Berkhianat, subversif, transaksi luar negeri ilegal, penyelundupan.
2. Penggelapan barang milik lembaga, swastanisasi anggaran
pemerintah, menipu dan mencuri.
3. Penggunaan uang yang tidak tepat, pemalsuan dokumen dan
penggelapan uang, mengalirkan uang lembaga ke rekening pribadi,
menggelapkan pajak, menyalahgunakan dana.
4. Penyalahgunaan wewenang, intimidasi, menyiksa, penganiayaan,
memberi ampun dan grasi tidak pada tempatnya.
5. Menipu dan mengecoh, memberi kesan yang salah, mencurangi dan
memperdaya, memeras.
6. Mengabaikan keadilan, melanggar hukum, memberikan kesaksian
palsu, menahan secara tidak sah, menjebak.
7. Tidak menjalankan tugas, desersi, hidup menempel pada orang lain
seperti benalu.
8. Penyuapan dan penyogokan, memeras, mengutip pungutan, meminta
komisi.
9. Menjegal pemilihan umum, memalsukan kartu suara, membagi-bagi
wilayah pemilihan umum agar bisa unggul.
10. Menggunakan informasi internal dan informasi rahasia untuk
kepentingan pribadi; membuat laporan palsu.
11. Menjual tanpa izin jabatan pemerintah, barang milik pemerintah, dan
surat izin pemrintah.
12. Manipulasi peraturan, pembelian barang persediaan, kontrak, dan
pinjaman uang.
13. Menghindari pajak, meraih laba berlebih-lebihan.
14. Menjual pengaruh, menawarkan jasa perantara, konflik kepentingan.
15. Menerima hadiah, uang jasa, uang pelicin dan hiburan, perjalanan
yang tidak pada tempatnya.
16. Berhubungan dengan organisasi kejahatan, operasi pasar gelap.
17. Perkoncoan, menutupi kejahatan.
18. Memata-matai secara tidak sah, menyalahgunakan telekomunikasi
dan pos.
19. Menyalahgunakan stempel dan kertas surat kantor, rumah jabatan,
dan hak istimewa jabatan.

C. Model Dan Bentuk Korupsi

Tindak pidana korupsi dalam berbagai bentuk mencakup pemerasan,


penyuapan dan gratifikasi pada dasarnya telah terjadi sejak lama dengan pelaku
mulai dari pejabat negara sampai pegawai yang paling rendah. Korupsi pada
hakekatnya berawal dari suatu kebiasaan (habit) yang tidak disadari oleh setiap
aparat, mulai dari kebiasaan menerima upeti, hadiah, suap, pemberian fasilitas
tertentu ataupun yang lain dan pada akhirnya kebiasaan tersebut lama-lama
akan menjadi bibit korupsi yang nyata dan dapat merugikan keuangan negara.
Beberapa bentuk korupsi diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Penyuapan (bribery) mencakup tindakan memberi dan menerima suap,
baik berupa uang maupun barang.
2. Embezzlement, merupakan tindakan penipuan dan pencurian sumber
daya yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang mengelola sumber
daya tersebut, baik berupa dana publik atau sumber daya alam tertentu.
3. Fraud, merupakan suatu tindakan kejahatan ekonomi yang melibatkan
penipuan (trickery or swindle). Termasuk didalamnya proses manipulasi
atau mendistorsi informasi dan fakta dengan tujuan mengambil
keuntungan-keuntungan tertentu.
4. Extortion, tindakan meminta uang atau sumber daya lainnya dengan cara
paksa atau disertai dengan intimidasi-intimidasi tertentu oleh pihak yang
memiliki kekuasaan. Lazimnya dilakukan oleh mafia-mafia lokal dan
regional.
5. Favouritism, adalah mekanisme penyalahgunaan kekuasaan yang
berimplikasi pada tindakan privatisasi sumber daya.
6. Melanggar hukum yang berlaku dan merugikan negara.
7. Serba kerahasiaan, meskipun dilakukan secara kolektif atau korupsi
berjamaah.

D. Faktor Pendorong Terjadinya Korupsi di Indonesia


1. Konsentrasi kekuasan di pengambil keputusan yang tidak bertanggung
jawab langsung kepada rakyat, seperti yang sering terlihat di rezim-rezim
yang bukandemokratik.
2. Gaji yang masih rendah, kurang sempurnanya peraturan perundang-
undangan, administrasi yang lamban dan sebagainya.
3. Sikap mental para pegawai yang ingin cepat kaya dengan cara yang
haram, tidak ada kesadaran bernegara, tidak ada pengetahuan pada
bidang pekerjaan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah.
4. Kurangnya transparansi di pengambilan keputusan pemerintah
5. Kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih
besar dari pendanaan politik yang normal.
6. Proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar.
7. Lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan "teman
lama".
8. Lemahnya ketertiban hukum.
9. Lemahnya profesi hukum.
10. Gaji pegawai pemerintah yang sangat kecil.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Diskripsi Kasus
Kasus Suap Penanganan Sengketa Pilkada Akil
Mochtar yang Menggurita
JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus korupsi yang
dilakukan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar telah
menggurita. Akil pun diganjar hukuman seumur hidup karena
menerima suap dan gratifikasi terkait penanganan belasan sengketa
pilkada di MK, serta tindak pidana pencucian uang.
Bahkan, menurut jurnalis senior Harian Kompas yang
menulis buku "Akal Akal Akil", Budiman Tanuredjo, kasus
korupsi Akil merupakan salah satu skandal terbesar sepanjang
sejarah peradilan Indonesia. Belum pernah terjadi seorang hakim
yang juga Ketua MK masuk penjara gara-gara terbukti melakukan
korupsi dan pencucian uang yang melibatkan uang sampai ratusan
miliar rupiah. Tertangkap tangan pula.
Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi menyatakan, Akil
terbukti menerima suap sebagaimana dakwaan pertama, yaitu
terkait penanganan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas (Rp
3 miliar), Kalimantan Tengah (Rp 3 miliar), Pilkada Lebak di
Banten (Rp 1 miliar), Pilkada Empat Lawang (Rp 10 miliar dan
500.000 dollar AS), dan Pilkada Kota Palembang (sekitar Rp 3
miliar).
Hakim juga menyatakan bahwa Akil terbukti menerima
suap sebagaimana dakwaan kedua, yaitu terkait sengketa Pilkada
Kabupaten Buton (Rp 1 miliar), Kabupaten Pulau Morotai (Rp
2,989 miliar), Kabupaten Tapanuli Tengah (Rp 1,8 miliar), dan
menerima janji pemberian terkait keberatan hasil Pilkada Provinsi
Jawa Timur (Rp 10 miliar).
Akil juga terbukti dalam dakwaan ketiga, yaitu menerima Rp 125
juta dari Wakil Gubernur Papua periode tahun 2006-2011, Alex
Hesegem. Pemberian uang itu terkait sengketa Pilkada Kabupaten
Merauke, Kabupaten Asmat, Kabupaten Boven Digoel, Kota
Jayapura, dan Kabupaten Nduga.

Sejumlah kepala daerah dan juga pihak swasta turut terseret


dalam pusaran kasus Akil. Sebut saja, Gubernur Banten Atut
Chosiyah dan adiknya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan.
Keduanya terbukti menyuap Akil terkait sengketa Pilkada Lebak.
Kini keduanya telah divonis penjara, empat tahun untuk Atut dan
lima tahun untuk Wawan.

Berikut kasus sengketa Pilkada di MK yang dijadikan


"proyek" oleh Akil, yang tengah disidik KPK mau pun yang
masih "hangat" di pengadilan Tipikor:

1. Sengketa Pilkada Lebak

Jatuhnya vonis terhadap Gubernur Banten Atut Chosiyah dan


Adiknya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan tidak lantas
membuat kasus sengketa Pilkada Lebak di MK ditutup. KPK
mengembangkan penyidikan terhadap kasus ini sehingga
menyeret mantan kandidat Pilkada Lebak 2013, yaitu Amir
Hamzah dan Kasmin sebagai tersangka.

Amir dan Kasmin diduga bersama-sama Atut dan Wawan


menyuap Akil untuk memengaruhinya dalam memutus
permohonan keberatan hasil Pilkada Lebak yang diajukan
pasangan tersebut. Dalam Pilkada Lebak, Amir-Kasmin kalah
suara dengan pesaingnya, pasangan Iti Oktavia Jayabaya-Ade
Sumardi. Atas kekalahan itu, Amir mengajukan keberatan hasil
Pilkada Lebak ke MK. Adapun Susi Tur Andayani merupakan
kuasa hukum Amir-Kasmin.

2. Sengketa Pilkada Tapanuli Tengah

KPK menetapkan Gubernur Tapanuli Tengah Bonaran Situmeang


sebagai tersangka pada 19 Agustus lalu. Dalam amar putusan
majelis hakim Pengadilan Tipikor, Akil terbukti menerima suap
terkait dengan Pilkada Tapanuli Tengah sebesar Rp 1,8 miliar.
Diduga, uang yang berasal dari Bonaran itu disetorkan ke
rekening perusahaan istrinya, CV Ratu Samagat, dengan slip
setoran ditulis

"angkutan batu bara".

Pemberian uang diduga untuk mengamankan posisi Bonaran yang


digugat di MK setelah dinyatakan menang oleh KPUD Tapanuli
Tengah. Pilkada Kabupaten Tapanuli Tengah dimenangi oleh
pasangan Raja Bonaran dan Sukran Jamilan Tanjung. Namun,
keputusan KPUD tersebut digugat oleh pasangan lawan.

Selanjutnya, pada 22 Juni 2011, permohonan keberatan hasil


Pilkada Tapanuli Tengah ditolak sehingga Bonaran dan Sukran
tetap sah sebagai pasangan bupati dan wakil bupati terpilih. Meski
demikian, Akil sebenarnya tidak termasuk dalam susunan hakim
panel. Panel untuk sengketa pilkada saat itu adalah Achmad
Sodiki (ketua), Harjono, dan Ahmad Fadlil Sumadi.

3. Sengketa Pilkada Palembang

Wali Kota non-aktif Palembang Romi Herton dan istrinya,


Masyito, didakwa secara bersama-sama menyuap Akil sebesar Rp
14,145 miliar. Romi dan asangan kandidatnya, Harno Joyo,
mengajukan gugatan terhadap hasil Pilkada Palembang dan
meminta l Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara
Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Palembang
dibatalkan. Hasil Pilkada Palembang menyatakan bahwa
pasangan Romi-Harno kalah suara dari pasangan Sarimuda-Nelly
Rasdania dengan selisih 8 suara.

Dalam sidang putusan perkara sengketa Pilkada Palembang yang


digelar 20 Mei 2013, majelis hakim yang diketuai Akil
mengabulkan permohonan Romi untuk membatalkan Berita
Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Wali
Kota dan Wakil Wali Kota Palembang. Putusan tersebut
membatalkan unggulnya pasangan Sarimuda-Nelly Rasdania dan
menyatakan Romi-Anwar memenangkan Pilkada Palembang.

Keterangan Tidak Benar dalam Sidang Akil

Selain kasus suap dan pencucian uang, orang-orang yang terlibat


dalam pusaran korupsi sengketa Pilkada Akil juga berusaha
menutupi kesalahan sejumlah pihak dengan memberi keterangan
tidak benar dalam persidangan. Hal tersebut terjadi dalam kasus
suap penanganan sengketa Pilkada Palembang.

Selain menyuap Akil, Romi dan Masyito pun disebut memberi


keterangan palsu dalan persidangan. Bahkan, orang dekat Akil
bernama Muhtar Ependy dianggap memengaruhi saksi di
persidangan dan mengarahkan saksi untuk memberi keterangan
seperti yang diperintahkan.

1. Wali Kota Palembang Romi Herton dan istrinya, Masyito


Wali Kota nonaktif Palembang Romi Herton dan istrinya,
Masyito, didakwa memberikan keterangan palsu dalam sidang
Akil pada 27 Maret 2014, terkait perkara tindak pidana korupsi
terkait sengketa Pilkada di MK dan tindak pencucian uang.
Orang dekat Akil yang bernama Muhtar Ependy berperan
mengarahkan keterangan Romi dan Masyito selaku saksi untuk
mengaburkan fakta di persidangan. Muhtar menyuruh keduanya
untuk mengaku tidak mengenal Muhtar dan tak pernah
menyerahkan sejumlah uang kepada Akil melalui Muhtar.
Padahal, keterangan saksi lainnya di sidang Akil dan sejumlah alat
bukti memperkuat fakta persidangan bahwa Romi dan Masyito
menyuap Akil melalui Muhtar.
Romi dan Masyito juga dipaksa mengaku tidak pernah memesan
atribut pilkada di PT Promic Internasional milik Muhtar. Padahal,
keduanya memesan atribut Pilkada di PT Promic Internasional
dengan bukti tagihan kepada Romi serta barang bukti berupa
produk yang dipesan Romi dan Masyito.

2. Pengusaha bernama Muhtar Ependy, teman dekat Akil


Muhtar Ependy, wirausahawan yang merupakan orang dekat Akil
didakwa secara sengaja merintangi proses pemeriksaan di
pengadilan terhadap saksi dalam perkara korupsi. Jaksa penuntut
umum Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan, Muhtar
memengaruhi keterangan sejumlah saksi dalam persidangan Akil.
Dalam surat dakwaan, Muhtar disebut memengaruhi Romi dan
Masyito, yang dihadirkan dalam sidang Akil. Muhtar meminta
keduanya untuk bersaksi bahwa tidak mengenal Muhtar dan tidak
pernah bersama-sama datang ke Bank Kalbar cabang Jakarta
untuk menyerahkan sejumlah uang.

Muhtar juga memengaruhi supirnya yang bernama Srino agar


tidak mengakui pernah mengantar Muhtar ke rumah Akil di
kawasan Pancoran untuk menyerahkan sejumlah uang.
Padahal, berdasarkan keterangan saksi lainnya dari Bank Kalbar
Cabang Jakarta yaitu Iwan Sutaryadi, Rika Fatmawati, dan Risna
Hasrilianti, dinyatakan bahwa Srino pernah mengantar Muhtar ke
bank tersebut untuk mengambil uang tunai senilai Rp 3 miliar
dalam bentuk dollar Amerika untuk diantar ke rumah Akil.
Muhtar lantas menghubungi Iwan untuk mencabut seluruh
keterangannya dalam berita acara pemeriksaan dan menggantinya
dengan keterangan baru yang tidak benar. Muhtar pun meminta
Iwan untuk menyampaikan kepada Rika dan Risna untuk
melakukan hal yang sama. Sehingga pada saat bersaksi di sidang
Akil pada 24 Maret 2014, Iwan, Rika, dan Risna kompak
menjawab tidak ingat pernah melihat kedatangan Masyito ke
Bank Kalbar Cabang Jakarta atau pun mengenali Masyito.
B.

http://www.kajianpustaka.com/2013/08/pengertian-model-bentuk-jenis-
korupsi.html
https://ridwanmuslim.wordpress.com/2013/04/03/makalah-korupsi-indonesia/