Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
TENTANG K3

Anggota Kelompok :

1. Indana Zulfa
2. Reka Jayanti
3. Marsono

KELAS : X AK 1

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


SMK YOS SOEDARSO SIDAREJA
JI. Ranggasena no. 596 Sidareja
2018

i
PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah S.W.T. atas rahmat
serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“MAKALAH PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG K3”
MaKALAH ini di susun dari berbagai sumber pembelajaran di sekolah
maupun yang lainnya. Kami selaku penyusun berharap semoga laporan ini
bermanfaat bagi siswa siswi ataupun orang-orang yang membacanya untuk
menjadi ladang amal.
Akhirnya kami sampaikan terima kasih atas segala bentuk kerjasamanya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini, semoga
Allah SWT meridhoi ikhtiar kita dalam membangun generasi Indonesia melalui
makalah ini, Amin.

Sidareja, Mei 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
A. Latar belakang ...................................................................................... 1
B. Tujuan ................................................................................................. 2
C. Ruang Lingkup Materi ......................................................................... 3
D. Manfaat ................................................................................................ 3
BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................ 4
A. Pengertian ............................................................................................ 4
B. Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja ............................................. 4
C. Dasar Hukum Undang-Undang Keselamatan Kerja ............................ 5
D. Syarat Kesehatan Keselmatan Kerja (K3) ........................................... 6
E. Pembinaan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) .................................. 6
F. Pengawasan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) ................................ 7
G. Ketentuan Pelanggaran dan Ketentuan Pelaksanaan ............................ 8
BAB III PEMBAHASAN ................................................................................... 9
A. Masalah ................................................................................................. 9
B. Pembahasan........................................................................................... 9
BAB IV PENUTUP ............................................................................................ 12
A. Kesimpulan .......................................................................................... 12
B. Saran ..................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia
secara umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia
menempati posisi yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia, Filipina
dan Thailand. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan daya saing
perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah. Indonesia
akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami ketidakefisienan
pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). Padahal
kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya.
Karena itu disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu
memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja. Nuansanya harus bersifat manusiawi atau
bermartabat. Seperti yang disebutkan pada UUD 1945 pasal 27 ayat (2)
menyatakan bahwa “Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Dan atas dasar pasal tersebut
dikeluarkanlah UU No. 14 Tahun 1969 tentang Pokok-Pokok Tenaga Kerja,
yaitu pasal 9 : “Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas
keselamatan kesehatan, pemeliharaan moril kerja serta perlakuan yang sesuai
dengan martabat manusia dan moral agama”.
Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan
bisnis sejak lama. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat
terkait dengan kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan.
Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit
kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.
Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian
materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses
produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan
berdampak pada masyarakat luas.

1
Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan
petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam
dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di
beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan
kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering
terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan
pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko
kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah
tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus
melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan
pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya.
Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan
hidupnya. Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan
faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang
mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri,
keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir
Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan
mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja
dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari
pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
dalam materi kelompok peraturan perundang undangan keselamatan dan
kesehatan kerja pada semester 1 tahun pelajaran 2014/2015 tentang UU
no. 1 tahun 1970
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam pembuatan makalah ini adalah untuk meningkatkan
pemahaman akan pentingnya undang undang yang mengatur keselamatan
dan kesehatan kerja yang dilatar belakangi oleh kondisi keselamatan dan
kesehatan kerja yang ada saat ini di Indonesia.

2
C. Ruang Lingkup Materi
Undang-undang Keselamatan Kerja memuat aturan-aturan dasar atau
ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja dalam segala tempat
kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di
udara yang berada di wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. Hal
tersebut didasari oleh dua azaz yang digunakan dalam UU No. 1 tahun 1970,
yaitu sebagai berikut :
1. Azaz nationaliteit, azaz ini memberlakukan UU keselamatan kerja
kepada setiap warga negara yang berada di wilayah hukum Indonesia
(termasuk wilayah kedutaan Indonesia di luar negeri dan terhadap kapal-
kapal yang berbendera Indonesia)
2. Azaz teritorial yang memberlakukan UU keselamatan kerja sebagaimana
hukum pidana lainnya kepada setiap orang yang berada di wilayah atau
teritorial Indonesia, termasuk warga negara asing yang tinggal di
Indonesia (kecuali yang mendapat kekebalan diplomatik).

D. Manfaat
1. Agar tenaga kerja dan setiap orang lainnya yang berada dalam tempat
kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat.
2. Bagi mahasiswa, agar dapat menambah wawasan tentang pentingnya
penerapan aturan kesehatan dan keselamatan kerja untuk diterapkan

3
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian
Tempat kerja dalam UU No. 1 Tahun 1970 merupakan tiap ruangan atau
lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja
bekerja, atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan
dimana terdapat sumber bahaya terhadap pekerja. Yang termasuk tempat
kerja adalah semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang
merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja
tersebut.
Safety menurut kamus adalah mutu suatu keadaan aman atau kebebasan
dari bahaya dan kecelakaan. Keselamatan kerja atau safety adalah suatu
usaha untuk menciptakan keadaan lingkungan kerja yang aman bebas dari
kecelakaan Kecelakaan adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak
diinginkan atau tidak disengaja serta tiba-tiba dan menimbulkan kerugian,
baik harta maupun jiwa manusia. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang
terjadi dalam hubungan kerja atau sedang melakukan pekerjaan disuatu
tempat kerja. Keselamatan kerja adalah menjamin keadaan, keutuhan dan
kesempurnaan, baik jasmaniah maupun rohaniah manusia serta hasil karya
dan budayanya tertuju pada kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan
manusia pada khususnya.

B. Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja


Dari pemahaman diatas sasaran keselamatan kerja adalah:
1. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
2. Mencegah timbulnya penyakit akibat suatu pekerjaan.
3. Mencegah/ mengurangi kematian.
4. Mencegah/mengurangi cacat tetap.
5. Mengamankan material, konstruksi, pemakaian, pemeliharaan bangunan,
alat-alat kerja, mesin-mesin, instalasi dan lain sebagainya.

4
6. Meningkatkan produktivitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan
menjamin kehidupan produktifnya.
7. Mencegah pemborosan tenaga kerja, modal, alat dan sumbersumber
produksi lainnya.
8. Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, nyaman dan aman sehingga
dapat menimbulkan kegembiraan semangat kerja.
9. Memperlancar, meningkatkan dan mengamankan produksi industri serta
pembangunan
Dari sasaran tersebut maka keselamatan kerja ditujukan bagi:
1. Manusia (pekerja dan masyarakat)
2. Benda (alat, mesin, bangunan dll)
3. Lingkungan (air, udara, cahaya, tanah, hewan dan tumbuhtumbuhan)

C. Dasar Hukum Undang – Undang Keselamatan Kerja


1. Undang-Undang Dasar 1945, pasal 5, 20 dan 27
2. Undang Undang RI No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
Selain itu ada beberapa Peraturan yang Berkaitan dengan K3, antara lain:
1. UU No. 1 tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya UU Kerja Tahun
1948 No. 1, yang memuat aturan-aturan dasar tentang pekerjaan anak,
orang muda dan wanita, waktu kerja, istirahat dan tempat kerja.
2. UU UAP (Stoon Ordonantie, Stdl. No.225 tahun 1930), yang mengatur
keselamatan kerja secara umum dan bersifat nasional.
3. UU Timah Putih Kering, yang mengatur tentang larangan membuat,
memasukkan, menyimpan atau menjual timah putih kering kecuali untuk
keperluan ilmiah dan pengobatan atau dengan izin dari pemerintah.
4. UU Petasan, yang mengatur tentang petasan buatan yang diperuntukkan
untuk kegembiraan/keramaian kecuali untuk keperluan pemerintah.
5. UU Rel Industri, yang mengatur tentang pemasangan, penggunaan jalan-
jalan rel guna keperluan perusahaan pertanian, kehutanan, pertambangan,
kerajinan dan perdagangan.
6. UU No. 3 Tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 120
mengenai Hygiene dalam Perniagaan dan Kantor-kantor.
7. UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial :

5
a. Jaminan kecelakaan kerja
b. Jaminan kematian
c. Jaminan hari tua
d. Jaminan pemeliharaan kesehatan

D. Syarat Kesehatan Keselamatan Kerja ( K3 )


Persyaratan Kesehatan Keselamatan Kerja ditetapkan dalam pasal-pasal di
bawah ini:
1. Pasal 3 ayat 1 berisikan arah dan sasaran yang akan dicapai.
2. Pasal 2 ayat 3 merupakan escape clausul , sehingga rincian yang ada
dalam pasal 3 ayat 1 dapat diubah sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknik dan teknologi serta penemuan-penemuan di
kemudian hari.
3. Pasal 4 ayat 2, mengatur tentang kodifikasi persyaratan teknis
keselamatan dan kesehatan kerja yang memuat prinsip-prinsip teknis
ilmiah menjadi suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur,
jelas dan praktis.

E. Pembinaan Kesehatan Keselamatan Kerja ( K3 )


Pembinaan K3, dapat dilakukan antara lain dengan :
1. Penyuluhan, dapat berupa :
 Ceramah-ceramah K3
 Pemasangan poster-poster K3
 Pemutaran film/slide K3
2. Safety Talk (Toolbox Meeting)
Dilakukan setiap awal gilir kerja/shif
3. Safety Training
 Pelatihan penggunaan peralatan keselamatan Kerja
 Pelatihan pemadam kebakaran
 Pelatihan pengendalian keadaan darurat
 Pelatihan P3K
4. Safety Inspection
 Inspeksi rutin

6
 Inspeksi berkala
 Inspeksi K3 bersama, dll
5. Safety Investigasi
Investigasi terhadap kejadian berbahaya/hampir kecelakaan
6. Safety Meeting
Suatu pertemuan yang membahas hal-hal yg berkaitan dgn permasalahan
K3
7. Safety audit
Pemantauan Lingkungan Kondisi Kerja
8. Penyedian Alat-Alat Perlengkapan K3
 Alat Pelindung Diri
 Alat Perlengkapan K3
9. Organisasi K3
10. Program K3 Tahunan
Berguna sbg evaluasi pelaksanaan K3 yang telah diterapkan (dpt sbg
monitoring).
Unsur-unsur program K3 :
 Kebijakan/Policy K3
 Tanggung Jawab K3
 Rasa Keterlibatan
 Motivasi

F. Pengawasan Kesehatan Keselamatan Kerja ( K3 )


Sesuai dengan Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1970 ayat 8 pengawasan
K3 meliputi :
1. Pengurus diwajibkan memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan
kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan
dipindahkan sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan padanya.
2. Pengurus diwajibkan memeriksa semua tenaga kerja yang berada di
bawah pimpinannya,

7
3. Secara berkala pada Dokter yang ditunjuk oleh Pengusaha dan
dibenarkan oleh Direktur. Norma-norma mengenai pengujian kesehatan
ditetapkan dengan peraturan perundangan.
G. Ketentuan Pelanggaran dan Ketentuan Pelaksanaan
1. Ketentuan Pelanggaran
Ancaman hukuman dari pelanggaran ketentuan UU Keselamatan Kerja
adalah hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan atau denda
setingginya Rp. 100.000,-. Proses projustisia dilaksanakan sesuai dengan
UU No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP.
2. Ketentuan Pelaksanaan
Dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Peraturan pelaksanaan yang bersumber dari Velleigheidsreglement
(VR) 1910 berupa peraturan khusus yang masih diberlakukan
berdasarkan pasal 17 UU Keselamatan Kerja.
b. Peraturan pelaksanaan yang dikeluarkan berdasarkan UU
Keselamatan Kerja sendiri sebagai peraturan organiknya.
c. Tujuan undang – undang Nomor 1 Tahun 1970 adalah :
d. Agar tenaga kerja dan setiap orang lainnya yang berada dalam
tempat kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat.
e. Agar sumber produksi dapat dipakai secara aman dan digunakan
secara efisien.
f. Agar proses produksi dapat berjalan tanpa hambatan apapun.

8
BAB III
PEMBAHASAN

A. Masalah
Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku
tahun 2020 mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah
satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang
dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota,
termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta
mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia adalah dengan
melaksanakan aturan kesehatan dan keselamatan kerja

B. Pembahasan
Berdasarkan masalah diatas maka kami mecoba memberikan beberapa
pembahasan yang mengarah kepada tujuan pembuatan makalah ini.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu
bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari
pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Dikarenakan begitu pentingnya peranan pelaksanaan kesehatan
keselamatan kerja sehingga pemerintah serta dinas terkait membuat
peraturan- pertauran ataupun kebijakan yang dapat dibuat sebagai landasan
perusahaan atau instansi yang menyelenggarakan kegiatan kerja
Contoh Pasal dalam Undang Undang RI No.13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan. yang dapat kami jelaskan saat ini adalah pasal 87 yang
berisikan
1) Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.
2) Ketentuan mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan
Peraturan Pemerintah. dan dalam pasal ini dapat kami coba menjelaskan

9
bahwa keselamatan kerja adalah penting yang harus diperhatikan suatu
perusahaan atau instansi dengan melibatakan sistem manajemen
perusahaan atau instansi itu sendiri terkait dengan keselamatan kesehatan
kerja ini seperti perencanaan, pelaksanaan,tanggung jawab, prosedur,
proses dan sumber daya yag dibutuhkan bagi pengembangan dan
pemeliharaan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka
pengendalian risiko yang erkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya
tempat kerja yang aman.
Contoh Pasal 9 dalam Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja yang berisikan:
1. Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga
kerja baru tentang :
a. Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam
tempat kerja;
b. Semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan
dalam tempat kerja;
c. Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan;
d. Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya.
2. Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang bersangkutan
setelah ia yakin bahwa tenaga kerja tersebut telah memahami syarat-
syarat tersebut di atas.
3. Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga
kerja yang berada di bawah pimpinannya, dalam pencegahan kecelakaan
dan pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan
kesehatan kerja, pula dalam pemberian pertolongan pertama pada
kecelakaan.
4. Pengurus diwajibkan memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat dan
ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang
dijalankan.
Dari isi pasal ini dapat terlihat bahwa undang undang pun mengaur secara
rinci tentang pentingnya penatalaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja
yang perlu diperhatikan oleh perusahaan atau instansi yang mengadakan

10
kegiatan kerja dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah
dibuat standar nya. Kewajiban yang harus dilakukan oleh penyelenggara
kegiatan kerja ini dan ada beberapa sanksi yang dapat diberikan bila tidak
melakukannya yang diatur dalam undang undang di pasal lainnya.

11
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tempat kerja dalam UU No. 1 Tahun 1970 merupakan tiap ruangan atau
lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja
bekerja, atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan
dimana terdapat sumber bahaya terhadap pekerja. Yang termasuk tempat kerja
adalah semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan
bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.
Keselamatan kerja adalah menjamin keadaan, keutuhan dan
kesempurnaan, baik jasmaniah maupun rohaniah manusia serta hasil karya
dan budayanya tertuju pada kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan
manusia pada khususnya. Demi menjadikan keselamatan kerja tersebut,
pemerintah membuat beberapa ketetapan melalui Undang-Undang Dasar
1945, pasal 5, 20 dan 27, Undang Undang RI No.13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan dan Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja.
Dikarenakan hal tersebut maka dalam melaksanakan suatu pekerjaan,
masalah keamanan dan keselamatan kerja merupakan faktor penting yang
harus menjadi perhatian utama semua pihak. Kerberhasilan kita dalam
melaksanakan pekerjaan tidak hanya diukur dari selesainya pekerjaan
tersebut. Banyak hal yang dijadikan sebagai parameter penilaian terhadap
keberhasilan suatu pekerjaan. Pekerjaan dinilai berhasil apabila keamanan dan
keselamatan semua sumber daya yang ada terjamin, dapat diselesaikan tepat
waktu atau bahkan bisa lebih cepat dari waktu yang ditentukan, memberikan
keuntungan bagi perusahaan, memberikan kepuasan kepada semua pihak
(pimpinan, karyawan dan pemberi kerja).

12
B. Saran
Besar harapan kami bahwa dari penulisan makalah ini dapat memberikan
pemahaman serta kesadaran semua pihak yang berkaitan agar melaksanakan
aturan – aturan K3 dalam peningkatan kesehatan dan keselamatan kerja.

13
DAFTAR PUSTAKA

http://prokum.esdm.go.id/uu/1970/uu-01-1970.pdf
http://k3danlingkungan.blogspot.com/2012/09/uu-no-1-tahun-1970-tentang-
keselamatan.html
https://www.academia.edu/5385328/K3_makalah_tugas
http://www.slideshare.net/mobile/rerulyanee/uu-no-1tahun-1970

14