Anda di halaman 1dari 45

SAP 2

HUKUM KONTRAK / HUKUM PERJANJIAN

Pengertian Kontrak dan Perjanjian


Pengertian Perjanjian
Istilah perjanjian dalam KUH Perdata merupakan terjemahan dari bahasa Belanda yaitu
“overeenkomst”. Istilah overeenkomst berasal dari kata kerja overeenkomen yang berarti
sepakat atau setuju, namun dalam berbagai kepustakaan terdapat berbagai istilah yang
dipandang oleh banyak pihak dapat menimbulkan kebingungan atau malah dianggap sama.
Dalam menerjemahkan istilah overeenkomst para ahli hukum menerjemahkannya sebagai suatu
perjanjian walaupun terdapat juga beberapa ahli hukum yang menerjemahkan istilah
oveerenkomst sebagai persetujuan.
Masyarakat pada umumnya lebih mengenal istilah perjanjian dari pada persetujuan
karena perjanjian merupakan jenis perikatan yang sering terjadi dalam kehidupan
bermasyarakat. Dalam setiap perjanjian terdapat asas kebebasan berkontrak dimana setiap
orang bebas mengadakan atau membuat isi suatu perjanjian baik yang sudah diatur dalam
peraturan perundang-undangan maupun yang belum diatur dalam peraturan perundang-
undangan.
Pengertian perjanjian disebutkan dalam buku ke III Bab II KUH Perdata, yaitu di dalam
Pasal 1313. Menurut KUH Perdata, perjanjian adalah kontrak. Pasal 1313 KUH Perdata
menyebutkan bahwa, “Yang dimaksud dengan perjanjian adalah suatu perbuatan dengan satu
orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.”
Perjanjian adalah satu persetujuan dengan dua orang atau lebih saling mengikatkan diri
untuk melaksanakan suatu hal.
Pengertian Kontrak
Kemudian, definisi kontrak (contract) menurut “Black’s Law Dictionary”, diartikan
sebagai suatu perjanjian antara dua orang atau lebih yang menciptakan kewajiban untuk
berbuat atau tidak berbuat sesuatu hal yang khusus.
Selain itu, Ricardo Simanjuntak dalam bukunya “Teknik Perancangan Kontrak
Bisnis” (hal. 30-32) menyatakan bahwa kontrak merupakan bagian dari pengertian perjanjian.
Perjanjian sebagai suatu kontrak merupakan perikatan yang mempunyai konsekuensi hukum

1
yang mengikat para pihak yang pelaksanaannya akan berhubungan dengan hukum kekayaan
dari masing-masing pihak yang terikat dalam perjanjian tersebut.
Secara gramatikal, istilah kontrak berasal dari bahasa Inggris, contract. Baik perjanjian
maupun kontrak mengandung pengertian yang sama, yaitu suatu perbuatan hukum untuk saling
mengikatkan para pihak kedalam suatu hubungan hukum perikatan. Istilah kontrak lebih sering
digunakan dalam praktek bisnis. Karena jarang sekali orang menjalankan bisnis mereka secara
asal-asalan, maka kontrak-kontrak bisnis biasanya dibuat secara tertulis, sehingga kontrak dapat
juga disebut sebagai perjanjian yang dibuat secara tertulis

Syarat Sahnya Suatu Kontrak


Pasal 1320 KUH Perdata menentukan adanya 4 (empat) syarat sahnya suatu perjanjian,
yaitu:
1. Adanya Kata Sepakat
Supaya kontrak menjadi sah maka para pihak harus sepakat terhadap segala hal
yang terdapat di dalam perjanjian. Pada dasarnya kata sepakat adalah pertemuan atau
persesuaian kehendak antara para pihak di dalam perjanjian. Seseorang dikatakan
memberikan persetujuannya atau kesepakatannya jika ia memang menghendaki apa
yang disepakati.
2. Kecakapan untuk Membuat perikatan
Pasal 1329 KUH Perdata menyatakan bahwa setiap orang adalah cakap untuk
membuat perjanjian, kecuali apabila menurut undang-undang dinyatakan tidak cakap.
Kemudian Pasal 1330 menyatakan bahwa ada beberapa orang yang tidak cakap untuk
membuat perjanjian, yakni:
a. Orang yang belum dewasa
b. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan; dan
c. Perempuan yang sudah menikah
3. Suatu Hal Tertentu
Syarat sahnya perjanjian yang ketiga adalah adanya suatu hal tertentu (een
bepaald onderwerp), suatu hal tertentu adalah hal bisa ditentukan jenisnya
(determinable). Pasal 1333 KUH Perdata menentukan bahwa suatu perjanjian harus
mempunyai pokok suatu benda (zaak) yang paling sedikit dapat ditentukan jenisnya.

2
Suatu perjanjian harus memiliki objek tertentu dan suatu perjanjian haruslah
mengenai suatu hal tertentu (certainty of terms), berarti bahwa apa yang
diperjanjikan, yakni hak dan kewajiban kedua belah pihak.

4. Suatu Sebab yang Halal


Syarat sahnya perjanjian yang keempat adalah adanya suatu sebab yang halal.
Jika objek dalam perjanjian itu illegal, atau bertentangan dengan kesusilaan atau
ketertiban umum, maka perjanjian tersebut menjadi batal. Sebagai contohnya,
perjanjian untuk membunuh seseorang mempunyai objek tujuan yang illegal, maka
kontrak ini tidak sah.
Keempat syarat tersebut biasa juga disingkat dengan sepakat, cakap, hal
tertentu, dan sebab yang halal.

Batal dan Pembatalan Suatu Kontrak

Kontrak Penghentian Pemutusan Kontrak


Dibatalkan/ Batal Kontrak
Demi Hukum
Penyebab Tidak terpenuhinya 1. Kontrak selesai Penyedia tidak dapat
syarat sah nya 2. Kahar menyediakan
Kontrak, sehingga: 3. Pengguna tidak barang/jasa yang
1. Kontrak dapat melakukan diatur dalam Kontrak
dibatalkan; atau pembayaran
2. Kontrak batal
demi hukum.

3
Akibat Dalam hal kontrak 1. Penyedia berhak 1. Penyedia
bagi dibatalkan atau batal mendapatkan dinyatakan
Penyedia demi hukum, maka: pembayaran atas wanprestasi
1. Penyedia harus pekerjaan yang telah 2. Penyedia harus
mengembalikan dilakukan mengusahakan
kondisi seperti 2. Penyedia berhak dengan cara apapun
semula saat belum menghentikan sampai diperolehnya
dilaksanakannya pekerjaan barang/jasa yang
Kontrak. 3. Penyedia berhak diatur dalam Kontrak
2. Penyedia tidak mendapatkan ganti
boleh memperoleh rugi finansial
keuntungan finansial
dari Kontrak
Akibat Dalam hal kontrak 1. Pembeli harus Pembeli tidak perlu
bagi dibatalkan atau batal melakukan melakukan
Pengguna demi hukum pembayaran atas pembayaran jika
1. Jika barang/jasa barang/jasa yang barang/jasa yang
akan dimanfaatkan diterimanya diatur dalam Kontrak
oleh Pengguna, 2. Pembeli harus tidak diterima 100%,.
maka memberikan ganti
Penggunahanya rugi finansial atas
boleh membayar keterlambatan
sebatas biaya yang pembayaran
dikeluarkan oleh
Penyedia tanpa perlu
memberikan
keuntungan.
2. Jika barang/jasa
tdk dimanfaatkan
oleh Pengguna,
maka barang/jasa

4
dikembalikan

Anatomi Kontrak
Dalam menyusun sebuah kontrak atau perjanjian, adalah menjadi keharusan bagi para
pihak untuk menyedari sepenuhnya dan mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya mereka
kehendaki dan syarat-syarat apa yang disepakati untuk dituangkan dalam kontrak atau
perjanjian. Kelihatannya sederhana dan memang seharusnya begitu apabila orang mau membuat
kontrak. Namun demikian, kadang kita melupakan hal-hal yang dalam pandangan kita nampak
tidak penting, tapi ternyata kemudian menimbulkan masalah yang cukup membuat rumit.
Untuk menyusun sebuah kontrak, kita harus tahu “konstruksi” kontrak tersebut. Berikut ini
adalah susunan kontrak secara umum:

I. JUDUL
II. PENDAHULUAN Pembuka
Komparisi (Identitas pihak-pihak)
Penjelasan/latar belakang kontrak (premis)
III. ISI Definisi /Pengertian (Apabila diperlukan)
Transaksi
Ketentuan yg sifatnya spesifik
Ketentuan yg sifatnya umum
IV. PENUTUP
V. LAMPIRAN (Apabila ada)

5
Penjelasan untuk masing – masing hal tersebut di atas, adalah sebagaimana diuraikan
berikut di bawah ini.

1. Judul
Suatu judul perjanjian harus mencerminkan apa yang menjadi obyek perjanjian.
Judul perjanjian haruslah disusun dalam kalimat yang lugas, jelas dan singkat.
2. Pendahuluan
Pendahuluan terbagi atas kalimat pembuka, identitas dan penjelasan, sebagai
berikut :.
a. Pembuka berisi pembukaan perjanjian, yang biasanya berbunyi, seperti
sebagai berikut: “Pada hari ini…tanggal.., yang bertandatangan di bawah
ini :..”.
b. Komparisi / Identitas Para Pihak merupakan hal yang sangat penting untuk
diperhatikan, namun sering kurang mendapatkan porsi sebagaimana yang
seharusnya.
c. Premis (Penjelasan/Latar Belakang Kontrak) dijelaskan mengenai latar
belakang atau alasan mengapa kontrak tersebut dibuat. Biasanya dituliskan
sebagai berikut: “Para Pihak menerangkan terlebih dahulu, hal-hal sebagai
berikut :” a. Bahwa… dst“. Bagian ini juga merupakan bagian penting dari
sebuah kontrak. Bagian ini memberikan informasi hal-hal yang
melatarbelakangi dibuatnya suatu kontrak. Dibagian ini silahkan tulisakan
secara garis besar kronolgis yang melatarbelakngi perjanjian.

3. Isi
Selanjutnya, marilah kita masuk pada bagian isi, yang dapat dibagi menjadi
definisi/pengertian, transaksi, spesifik dan umum, sebagai berikut di bawah ini.
a. Definisi/Pengertian. Pasal ini mengatur tentang berbagai definisi, istilah,
interprestasi dalam kontrak.
b. Transaksi. Pasal ini mengatur tentang transaksi atau obyek dari kontrak atau
perjanjian tersebut.

6
c. Ketetuan yang Spesifik. Pasal ini mengatur hal-hal yang secara khusus hanya
dikenal pada transaksi yang bersangkutan.
d. Ketentuan yang Sifatnya Umum. Pasal-pasal yang mengatur hal-hal yang sifatnya
antisipatif dan pada umumnya klausula ini terdapat pada hampir semua kontrak.
4. Penutup
Pada bagian ini terdapat kalimat penutup, yang diikuti dengan penempatan kolom
tanda tangan. Bagian ini, termasuk bagian lampiran, sudah jelas, sehingga tidak perlu
dibahas disini.
5. Materai
Hal lain yang juga kerap menjadi pertanyaan adalah materai. Apakah suatu
Kontrak atau Perjanjian harus dibubuhi materai? Apalah seandainya tidak dibubuhi
materai, kontrak menjadi tidak sah? Secara singkat dapat dikatakan bahwa materai
tidak menentukan sah tidaknya suatu perjanjian, namun materai merupakan
kewajban para pembuat kontrak atau perjanjian kepada negara (semacam pajak).

7
SAP 3
WAN PRESTASI

Pengertian Wanprestasi

Seringnya hal-hal yang menjadi persoalan dalam hukum perjanjian adalah pengingkaran
atau kelalaian seorang debitur kepada kreditur, atau pemenuhan janji yang dilakukan oleh
debitur. Dalam hukum perdata, keduanya disebut dengan prestasi bagi yang memenuhi janji dan
wanprestasi bagi yang tidak memenuhi janji. Riduan Syahrani mendefinisikan bahwa prestasi
adalah suatu yang wajib dan harus dipenuhi oleh debitur dalam setiap perikatan.

Prestasi adalah sesuatu yang wajib dipenuhi oleh debitur dalam setiap perikatan. Prestasi
adalah objek perikatan, sehingga dalam hukum perdata kewajiban memenuhi prestasi selalu
disertai jaminan harta kekayaan debitur. Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata dinyatakan bahwa
harta kekayaan debitur, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada
maupun yang akan ada, menjadi jaminan pemenuhan utangnya terhadap kreditur. Namun,
jaminan umum tersebut dapat dibatasi dengan jaminan khusus berupa benda tertentu yang
ditetapkan dalam perjanjian antarpihak.

Wanprestasi berasal dari bahasa Belanda, yang berarti prestasi buruk. Wanprestasi artinya
tidak memenuhi kewajiban yang telah disepakati dalam perikatan. Tidak dipenuhinya kewajiban
oleh debitur karena dua kemungkinan alasan:

1) Karena kesalahan debitur, baik karena kesengajaan maupun kelalaian


2) Karena keadaan memaksa (force majeure) di luar kemampuan debitur, sehingga debitur
tidak bersalah.

Akibat Hukum Wanprestasi

Tidak dipenuhinya perikatan yang diakibatkan oleh kelalaian debitur atau wanprestasi
sebagai akibat situasi dan kondisi yang resikonya ada pada diri debitur menimbulkan beberapa
akibat. Akibat-akibat wanprestasi adalah:

a. Debitur harus membayar ganti rugi (Pasal 1279 BW)

8
b. Beban resiko bergeser ke arah kerugian debitur. Suatu halangan yang timbul ke
permukaan dapat dipertanggungjawabkan kepada kreditur setelah pihak debitur
melakukan wanprestasi, kecuali ada kesengajaan atau kelalaian besar (culpa lata) pada
pihak kreditur atau tidak dapat mengendalikan (overmacht).
c. Jika perikatan timbul dari suatu persetujuan timbal balik, maka pihak kreditur dapat
membebaskan diri dari kewajiban melakukan kontraprestasi melalui cara Pasal 1302 BW
atau melalui exceptionon adimpleti contractus menangkis tuntutan debitur untuk
memenuhi perikatan.

Sedangkan, sanksi atau akibat yang diberikan kepada pihak yang melakukan wanprestasi
diancam beberapa sanksi atau hukuman ada 4 macam , yaitu :

1. Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau dengan singkat dinamakan
ganti-rugi.
Ganti rugi sering dirinci dalam tiga unsur:
a) Biaya adalah segala pengeluaran atau perongkosan yang nyata-nyata sudah
dikeluarkan oleh satu pihak.
b) Rugi adalah kerugian karena kerusakan barang-barang kepunyaan kreditur yang
diakibatkan oleh kelalaian si debitur.
c) Bunga adalah kerugian yang berupa kehilangan keuntungan yang sudah dibayangkan
atau dihitung oleh kreditur..
2. Pembatalan perjanjian atau juga dinamakan pemecahan perjanjian

Pembatalan perjanjian bertujuan membawa kedua belah pihak kembali pada keadaan
sebelum perjanjian diadakan. Dikatakan bahwa pembatalan itu berlaku surut sampai pada
detik dilahirkannya perjanjian. Kalau suatu pihak sudah menerima sesuatu dari pihak
yang lain, baik uang maupun barang, maka itu harus dikembalikan.

Pembatalan perjanjian karena kelalaian debitur diatur dalam pasal 1266 KUHPerdata
yang mengatur mengenai perikatan bersyarat, yang berbunyi: “Syarat batal dianggap
selamanya dicantumkan dalam perjanjian-perjanjian yang timbal balik, manakala salah
satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Dalam hal demikian perjanjian tidak batal
demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada hakim.Permintaan ini juga

9
harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban itu
dinyatakan dalam perjanjian.Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam perjanjian, hakim
leluasa menurut keadaan atas permintaan si tergugat, untuk memberikan suatu jangka
waktu guna kesempatan memenuhi kewajibannya, jangka waktu mana tidak boleh lebih
dari satu bulan”.

3. Peralihan Risiko

Sebagai sanksi ketiga atas kelalaian seorang debitur disebutkan dalam pasal 1237
KUHPerdata. Yang dimaksudkan dengan “risiko” adalah kewajiban untuk memikul
kerugian jika terjadi suatu peristiwa di luar kesalahan salah satu pihak, yang menimpa
barang yang menjadi objek perjanjian.

Peralihan risiko dapat digambarkan demikian :

Menurut pasal 1460 KUHPerdata, maka risiko dalam jual beli barang tertentu dipikulkan
kepada si pembeli, meskipun barangnya belum diserahkan. Kalau si penjual itu terlambat
menyerahkan barangnya, maka kelalaian ini diancam dengan mengalihkan resiko tadi
dari si pembeli kepada si penjual. Jadi dengan lalainya sipenjual, resiko itu beralih
kepada dia.

4. Membayar biaya perkara, jiks sampai diperkarakan di depan hakim.

Tentang pembayaran ongkos biaya perkara sebagai sanksi keempat bagi seorang debitur
yang lalai adalah tersimpul dalam suatu peraturan Hukum Acara, bahwa pihak yang
dikalahkan diwajibkan membayar biaya perkara.

Menurut pasal 1267 KUHPerdata, pihak kreditur dapat menuntut si debitur yang lalai
untuk melakukan :

a) pemenuhan perjanjian
b) pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi
c) ganti rugi saja
d) pembatalan perjanjian; pembatalan disertai ganti rugi

10
SAP 4
PERUSAHAAN MAATSCHAP (PERSEKUTUAN PERDATA)

Pengertian Persekutuan Perdata

Persekutuan Perdata ini diatur di dalam ketentuan-ketentuan pasal 1618 sampai


dengan pasal 1652 KUHPer, Buku Ketiga, Bab Kedelapan, tentang Perserikatan Perdata
(Burgerlijk Maatschap). Persekutuan perdata atau lebih popular disebut Maatschap
merupakan bentuk umum dari Persekutuan Firma,Persekutuan Komanditer (CV) dan
Perseroan Terbatas (PT). Jelasnya, apa yang diatur dalam BW mengenai Maatschap berlaku
pula terhadap Firma dan CV. Keadaan ini terbaca dalam Pasal 15 KUHD, yang menyatakan
bahwa persekutuan-persekutuan yang disebut dalam Buku I, Bab III, Bagian I KUHD, diatur
oleh perjanjian-perjanjian antara para pihak dan oleh BW.

Dalam kepustakaan dan ilmu hukum, istilah persekutuan bukanlah istilah tunggal,
karena ada istilah pendampingnya yaitu perseroan dan perserikatan. Ketiga istilah ini sering
digunakan untuk menerjemahkan istilah bahasa Belanda “maatschap”; “vennootschap”. Maat
maupun vennoot dalam bahasa aslinya (Belanda) berarti kawan atau sekutu. “Persekutuan”
artinya persatuan orang-orang yang sama kepentingannya terhadap suatu perusahaan tertentu.
Sedangkan “sekutu” artinya peserta dalam persekutuan.Jadi, persekutuan berarti
perkumpulan orang-orang yang menjadi peserta pada perusahaan tertentu. Persekutuan
perdata adalah suatu badan usaha yang termasuk dalam hukum perdata khusus (hukum
dagang), sebab menjalankan perusahaan.

Jenis – Jenis dan Bentuk – Bentuk Persekutuan Perdata


a. Jenis persekutuan perdata menurut pasal 1622 BW dan 1623 BW ada 2 yaitu :
 Maatschap Umum (Pasal 1622 BW)
Dalam Persekutuan Perdata jenis umum diperjanjikan suatu
pemasukan (in-breng) yang terdiri dari seluruh harta kekayaan masing-masing
sekutu atau sebagian tertentu dari harta kekayaannya secara umum, tanpa
adanya suatu perincian pun.Namun di dalam pasal 1621 KUHPer dilarang
adanya Persekutuan Perdata macam ini: dengan rasio bahwa pemasukan

11
seluruh atau sebagian harta kekayaan tanpa adanya perincian, mengakibatkan
tidak akan dapat dibaginya keuntungan secara adil seperti yang ditetapkan di
dalam ketentuan pasal 1633 KUHPer.Persekutuan Perdata jenis umum ini ada
juga yang diperbolehkan, asalkan diperjanjikan terlebih dahulu bahwa
masing-masing sekutu akan mencurahkan segala potensi kerjanya, agar
mendapatkan keuntungan (laba) yang dapat dibagi-bagi di antara para sekutu.
Dalam pasal 1622 KUHPer, Persekutuan Perdata jenis ini menurut H.M.N.
Purwosutjipto, S.H. dinamakan "Persekutuan Perdata Keuntungan" (algehele
maatschap van winst).

 Maatschap Khusus (Pasal 1623 BW)


Maatschap khusus (bijzondere maatschap) adalah maatschap yang
gerak usahanya ditentukan secara khusus, bisa hanya mengenai barang-barang
tertentu saja, atau pemakaiannya, hasil yang akan didapat dari barang-barang
itu, atau mengenai suatu usaha tertentu atau penyelenggaraan suatu
perusahaan atau pekerjaan tetap. Jadi, penentuannya ditekankan pada jenis
usaha yang dikelola oleh maatshap (umum atau khusus), bukan pada
inbrengnya. Mengenai inbreng, baik pada maatschap umum maupun
maatschap khusus harus ditentukan secara jelas/terperinci. Kedua maatschap
ini dibolehkan. Yang tidak dibolehkan adalah maatschap yang sangat umum
yang inbrengnya tidak diatur secara terperinci seperti yang disinggung oleh
Pasal 1621 BW.

b. Bentuk – Bentuk Persekutuan Perdata


 Persekutuan perdata dapat terjadi antara pribadi-pribadi yang melakukan suatu
pekerjaan bebas (profesi). Dalam bentuk ini, asosiasinya tidak menjalankan
perusahaan tetapi mengutamakan anggotanya dan tidak menjadikan elemen
modal organisatorisnya sebagai unsur utama. Misalnya asosiasi akuntan,
dokter, pengacara dan lain-lain.
 Persekutuan bertindak keluar kepada pihak ketiga secara terang-terangan dan
terus menerus untuk mencari laba maka persekutuan perdata tersebut

12
dikatakan menjalankan perusahaan. Misalnya pengusaha A dan B membentuk
persekutuan untuk melakukan usaha di bidang lain.
 Perjanjian kerja sama dari suatu transaksi sekali segera setempat.
Contoh: kerja sama membeli barang bersama-sama kemudian dijual dengan
mendapatkan laba.

SAP 5
PENGATURAN DAN BENTUK-BENTUK PERUSAHAAN

Pengertian dan Ciri-ciri dari Bentuk Usaha Firma

Firma atau sering juga disebut Fa, adalah sebuah bentuk badan usaha untuk menjalankan
usaha antara dua orang atau lebih (disebut Firmant) dengan memakai nama bersama atau salah
satu nama dari sekutu yang digunakan bersama untuk memperluas usahanya. Firma bukan
merupakan badan usaha yang berbadan hukum karena: tidak ada pemisahan harta kekayaan
antara persekutuan dan pribadi sekutu‐sekutu, setiap sekutu bertanggung jawab secara pribadi
untuk keseluruhan. Tujuan dari firma adalah untuk memperluas usaha dan menambah modal
agar lebih kuat dan mampu bersaing perusahaan yang lain.

Unsur-Unsur Firma (Fa)

Adapun persekutuan perdata adalah perjanjian dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan
diri untuk menyetorkan sesuatu kepada persekutuan dengan tujuan untuk memperoleh manfaat
atau keuntungan (Pasal 1618 KUHPer). Berdasarkan definisi tersebut, dapat dinyatakan bahwa
persekutuan itu disebut Firma apabila mengandung unsur-unsur pokok berikut ini :

1. Persekutuan perdata (Pasal 1618 KUHPer);


2. Menjalankan perusahaan (Pasal 16 KUHD);
3. Dengan nama bersama atau firma (Pasal 16 KUHD); dan
4. Tanggung jawab sekutu bersifat pribadi untuk keseluruhan (Pasal 18 KUHD)

13
Dari pengertian Firma menurut Pasal 16 UU Hukum Dagang, dapat di simpulakan bahwa, Firma
merupakan persekutuan perdata dan termasuk bagian dalam perusahaan serta dijalankan atas satu
nama bersama. Hal ini didukung dengan isi Pasal 1618–1652 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata, yang menjelaskan Persekutuan perdata diberlakukan terhadap perseroan Firma sejauh
tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

Ciri-Ciri Firma (Fa)

Seperti halnya persekutuan yang lain, firma juga memiliki sifat atau ciri-ciri. Adapun ciri-ciri
firma antara lain :

1. Para sekutu aktif di dalam mengelola perusahaan;


2. Tanggung jawab yang tidak terbatas atas segala resiko yang terjadi;
3. Akan berakhir jika salah satu anggota mengundurkan diri atau meninggal dunia;
4. Anggota firma biasanya sudah saling mengenal sebelumnya dan sudah saling
mempercayai;
5. Perjanjian suatu firma dapat dilakukan dihadapan notaris;
6. Dalam kegiatan usaha selalu memakai nama bersama;
7. Setiap anggota dapat melakukan perjanjian dengan pihak lain;
8. Adanya tanggungjawab atas resiko kerugian yang tidak terbatas;
9. Apabila terdapat hutang tak terbayar, maka setiap pemilik wajib melunasi dengan harta
pribadi;
10. Setiap anggota firma memiliki hak untuk menjadi pemimpin;
11. Seorang anggota tidak berhak memasukkan anggota baru tanpa seizin anggota yang
lainnya;
12. Keanggotaan firma melekat dan berlaku seumur hidup;
13. Seorang anggota mempunyai hak untuk membubarkan firma; dan
14. Mudah memperoleh kredit usaha

14
Sifat Firma (Fa)

Sifat dari Persekutuan Firma adalah:

1. Keagenan atau perwakilan bersama;


2. Umur terbatas;
3. Tanggung jawab tak terbatas;
4. Pemilikan kepentingan;
5. Partisipasi (Keikutsertaan) dalam Persekutuan Firma;
6. Bentuk firma ini telah digunakan baik untuk kegiatan usaha berskala besar maupun kecil;
7. Dapat berupa perusahaan kecil yang menjual barang pada satu lokasi, atau perusahaan
besar yang mempunyai cabang atau kantor di banyak lokasi;
8. Masing-masing sekutu menjadi agen atau wakil dari persekutuan firma untuk tujuan
usahanya
9. Pembubaran persekutuan firma akan tercipta jika terdapat salah satu sekutu
mengundurkan diri atau meninggal;
10. Tanggung Jawab seorang sekutu tidak terbatas pada jumlah investasinya;
11. Harta benda yang diinvestasikan dalam persekutuan firma tidak lagi dimiliki secara
terpisah oleh masing-masing sekutu; dan
12. Masing-masing sekutu berhak memperolah pembagian laba persekutuan firma.

Dasar Hukum dari Firma


Firma harus didirikan dengan akta otentik yang dibuat di muka notaris.Akta Pendirian
Firma harus didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi
tempat kedudukan Firma yang bersangkutan.Setelah itu akta pendirian harus diumumkan dalam
Berita Negara atau Tambahan Berita Negara.Tetapi karena Firma bukan merupakan badan
hukum, maka akta pendirian Firma tidak memerlukan pengesahan dari Departemen Kehakiman
RI.Pendirian, pengaturan dan pembubaran Firma diatur di dalam Kitab Undang‐Undang Hukum
Dagang (KUHD) (Wetboek van Koophandel voor Indonesie) S.1847-23. Hukum mengenai
Firma terdapat dalam bagian 2 dalam KUHD dengan judul “Perseroan Firma Dan Perseroan

15
Dengan Cara meminjamkan Uang Atau Disebut Perseroan Komanditer” yang dimulai dari pasal
16 sampai 35

Proses Pendirian Firma dan Pembubaran Firma

Pendirian firma telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dengan cukup
lengkap, terutama dalam Pasal 22 hingga Pasal 29 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Ada
tiga unsur penting dalam isi Pasal di atas, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
(i) Firma harus didirikan dengan akta otentik,
(ii) Firma dapat didirikan tanpa akta otentik dan
(iii) Akta yang tidak otentik tidak boleh merugikan pihak ketiga.

Apabila akta Firma tersebut tidak didaftarkan kepada Panitera, maka pendirian Firma tersebut
hanya dianggap sebagai persekutuan umum, didirikan tanpa batas, dianggap tidak ada sekutu
yang dikecualikan bertindak atas nama Firma (Pasal 29 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang)
bahkan tiap sekutu berhak menandatangani dan berbuat perbuatan hukum bagi
persekutuannya. Tetapi karena Firma bukan merupakan badan hukum, maka akta pendirian
Firma tidak memerlukan pengesahan dari Departemen Kehakiman RI.
Pembubaran Firma telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang terutama di dalam
Pasal 31 hingga Pasal 35, yang dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Perubahan harus dinyatakan
dengan data otentik.2)Perubahan akta harus didaftarkan kepada Panitra Pengadilan Negri;
3)Perubahan akta harus diumumkan dalam berita negara; 4)Perubahan akta yang tidak
diumumkan akan mengikat pihak ketiga; 5)Pemberesan oleh persero adalah pihak lain yang
disepakati atau yang ditunjuk oleh Pengadilan.

Pengertian Bentuk Usaha CV

Persekutuan komanditer adalah firma yang mempunyai satu ataubeberapa orang sekutu
komanditer.Sekutu komanditer (silent partner) adalah sekutu yang hanya menyerahkan uang,
barang, atau tenaga sebagai pemasukan pada persekutuan, dan tidak turut campur dalam
pengurusan atau penguasaan persekutuan.CV berada di antara Firma dan Perseroan Terbatas,
dengan demikian, CV adalah perekutuan dengan setoarn uang, barang tenaga atau sebagai

16
pemasukan para sekutu, dibentuk oleh satu orang atau lebih anggota aktif yang bertanggung
jawab secara renteng, di satu pihak dengan satu atau lebih orang lain sebagai pelepas uang.
Persekutuan komanditer mempunyai dua macam sekutu, yaitu: 1)Sekutu komplementer
(complementary partner)Sekutu komplementer adalah sekutu aktif yang menjadi pengurus
persekutuan.2)Sekutu komanditer (silent partner)Sekutu komanditer adalah sekutu pasif yang
tidak ikut mengurus persekutuan.Kedua macam sekutu ini menyerahkan pemasukan pada
persekutuan secara bersama untuk memperoleh keuntungan bersama dan kerugian juga dipikul
bersama secara berimbang dengan pemasukan masing-masing.Apabila dikaji, ketentuan Pasal 19
– Pasal 21 KUHD yang mengatur tentang firma, jelas bahwa persekutuan komanditer adalah
firma dalam bentuk khusus. Kekhususan itu terletak pada eksistensi sekutu komanditer yang
tidak ada pada firma.Firma hanya mempunyai sekutu aktif yang disebut firmant.

Pertanggungjawaban Hukum dari CV

Dalam melangsungkan kegiatan usahanya, aktivitas bisnis CV dilakukan oleh para pesero
aktifnya.Mereka-lah yang bertanggungjawab untuk melakukan tindakan pengurusan atau bekerja
di dalam perseroan tersebut.Di sisi lain, para pemberi modal atau pesero komanditer, tidak bisa
terlibat dalam menjalankan aktivitas perusahaan. Hal tersebut diatur secara tegas di dalam Pasal
20 KUHD yang menjelaskan bahwa pesero komanditer ini tidak boleh melakukan tindakan
pengurusan atau bekerja dalam perusahaan perseroan tersebut, meskipun ada pemberian kuasa
sekalipun.Namun jika pesero komanditer terbukti ikut menjalankan perusahaan sebagaimana
yang dilakukan pesero komplementer dan mengakibatkan kerugian perusahaan, maka sesuai
dengan Pasal 21 KUHD, pesero komanditer ikut bertanggung jawab secara tanggung renteng
terhadap semua utang dan perikatan perseroan tersebut.

Proses Pendirian dan Pembubaran CV

Syarat-syarat untuk mendirikan CV adalah : 1)Adanya perjanjian (pasal 15 KUHD) yakni


kesepakatan dari para pihak yang mau mendirikan usaha.2)Pendirian oleh minimal 2 (dua) orang
dalam di mana dari antara pendiri tersebut ada yang bertindak sebagai penyuplai modal dan ada

17
yang menyumbang semua potensi (tenaga dan pikiran) untuk mengurus dan mengelola
perusahaan.3)Adanya akta notaris yang berbahasa Indonesia. Pada waktu pendirian CV, yang
harus dipersiapkan sebelum datang ke notaris adala: (i) Calon nama CV, (ii)Tempat kedudukan
CV, (iii) Nama persero aktif dan persero diam dan (iv)Maksud dan tujuan yang spesifik dari CV

SAP 6
PERSEROAN TERBATAS (PT)

Pengertian Perseroan Terbatas


Berdasar Pasal 1 UUPT No. 40/2007 pengertian Perseroan Terbatas (Perseroan) adalah
badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan
kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.
Hukum Perseroan Terbatas (Berdasarkan Uu Nomor 40 Th 2007 Tentang Perseroan
Terbatas)
Secara khusus badan usaha Perseroan Terbatas diatur dalam Undang-Undang No. 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), yang secara efektif berlaku sejak tanggal 16
Agustus 2007. Sebelum UUPT 2007, berlaku UUPT No. 1 Th 1995 yang diberlakukan sejak 7
Maret 1996 (satu tahun setelah diundangkan) sampai dengan 15 Agustus 2007, UUPT tahun
1995 tersebut sebagai pengganti ketentuan tentang perseroan terbatas yang diatur dalam KUHD
Pasal 36 sampai dengan Pasal 56, dan segala perubahannya(terakhir dengan UU No. 4 Tahun
1971 yang mengubah sistem hak suara para pemegang saham yang diatur dalam Pasal 54 KUHD
dan Ordonansi Perseroan Indonesia atas saham -Ordonantie op de Indonesische Maatschappij op
Aandeelen (IMA)- diundangkan dalam Staatsblad 1939 No. 569 jo 717.

Perseroan Terbatas = Subyek Hukum

PT merupakan perusahaan yang oleh undang-undang dinyatakan sebagai perusahaan yang


berbadan hukum. Dengan status yang demikian itu, PT menjadi subyek hukum yang menjadi
pendukung hak dan kewajiban, sebagai badan hukum, PT memiliki kedudukan mandiri (persona
standi in judicio) yang tidak tergantung pada pemegang sahamnya. Dalam PT hanya organ yang
dapat mewakili PT atau perseroan yang menjalankan perusahaan (Ery Arifudin, 1999: 24). Hal

18
ini berarti PT dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum seperti seorang manusia dan dapat
pula mempunyai kekayaan atau utang (ia bertindak dengan perantaraan pengurusnya).

Unsur – Unsur Perseroan Terbatas

Berdasarkan pengertian tersebut maka untuk dapat disebut sebagai perusahaan PT menurut
UUPT harus memenuhi unsur-unsur:
1. Berbentuk badan hukum, yang merupakan persekutuan modal;
2. Didirikan atas dasar perjanjian;
3. Melakukan kegiatan usaha;
4. Modalnya terbagi saham-saham;
5. Memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam UUPT serta perat

Persyaratan Material Pendirian Perseroan Terbatas

Untuk mendirikan suatu perseroan harus memenuhi persyaratan material antara lain:
1. Perjanjian antara dua orang atau lebih;
2. Dibuat dengan akta autentik
3. Modal dasar perseroan
4. Pengambilan saham saat perseroan didirikan

Syarat umum pendirian Perseroan Terbatas (PT)

1. Copy KTP para pemegang saham dan pengurus, minimal 2 orang


2. Copy KK penanggung jawab / Direktur
3. Nomor NPWP Penanggung jawab
4. Pas photo penanggung jawab ukuran 3X4 = 2 lbr berwarna
5. Copy PBB tahun terakhir sesuai domisili perusahaan
6. Copy Surat Kontrak/Sewa Kantor atau bukti kepemilikan tempat usaha
7. Surat Keterangan Domisili dari pengelola Gedung jika berdomisili di Gedung
Perkantoran
8. Surat Keterangan RT / RW (jika dibutuhkan, untuk perusahaan yang berdomisili di
lingkungan perumahan) khusus luar Jakarta
9. Kantor berada di Wilayah Perkantoran/Plaza, atau Ruko, atau tidak berada di wilayah
pemukiman.
19
10. Siap di survey

Struktur Permodalan
Seperti pada perusahaan pada umumnya, perseroan terbatas juga memiliki struktur permodalan.
Di dalam badan perseroan terbatas memiliki kekayaan yang terpisah dengan kekayaan dari para
pemegang saham perseroan. Modal yang ada pada Perseroan Terbatas terdiri dari 3 bagian
modal, yakni:

 Modal dasar perseroan yang tertulis dalam akta pendirian. Paling sedikit Rp 50 juta.
 Modal yang ditempatkan minimal sebesar 25 persen dari modal dasar.
 Modal penyetoran yang disetorkan oleh pemegang saham ke kas perseroan.
Bila ada perubahan jumlah modal harus disahkan terlebih dahulu pada menteri kehakiman.
Demikianlah beberapa syarat pendirian PT yang bisa anda jadikan acuan untuk mendirikan
sebuah perusahaan dengan badan hukum perseroan terbatas.

Struktur Permodalan

Perseroan mempunyai kekayaan sendiri terpisah dari kekayaan masing–masing pemegang saham
perseroan. Termasuk dalam harta kekayaan perseroan terbatas adalah modal, yang terdiri dari:

 Modal perseroan atau modal dasar, yaitu jumlah maksimum modal yang disebut dalam
akta pendirian.Ketentuan modal dasar diatur pada pasal 31-32 UU No.40 Tahun 2007.
Modal dasar perseroan terdiri atas seluruh nilai nominal saham.(Pasal 31 (1)).Modal
dasar paling sedikit Rp.50.000.000,00 (Pasal 32 ayat 1).
 Modal yang disanggupkan atau ditempatkan diatur pada pasal 33 UU No. 40 Tahun
2007. Paling sedikit 25% dari modal dasar sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 harus
ditempatkan dan disetor penuh (Pasal 33 ayat 1).
 Modal yang disetor, yakni modal yang benar-benar telah disetor oleh para pemegang
saham pada kas perseroan. Diatur pada pasal 34 UU No.40 tahun 2007. Penyetoran atas
modal saham dapat dilakukan dalam bentuk uang dan/atau dalam bentuk lainnya (Pasal
34 ayat 1). Penyetoran atas modal saham selanjutnya diatur pada pasal 34 ayat 2 dan 3.
Perubahan atas besarnya jumlah modal perseroan harus mendapat pengesahan dari Menteri
Kehakiman, sesudah itu didaftarkan dan kemudian diumumkan seperti biasa.

20
SAP 7
PERSEROAN TERBATAS (PT)
Organ-Organ Perseroan Terbatas

Organ PT berarti organisasi yang menyelenggaran suatu Perseroan Terbatas, yaitu yang
terdiri dari Rapat Umum pemegang Saham (RUPS), Direksi dan Dewan Komisaris. Masing-
masing organ tersebut memiliki fungsi dan perannya sendiri-sendiri.

Struktur Organisasi PT

 RUPS ( RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM )


 DIREKSI
 DEWAN KOMISARIS
 KOMITE AUDIT
 KOMITE NOMINASI DAN REMUNERASI

Bubarnya Perseroan Terbatas

Berakhirnya perseroan karena:

1. Berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (“RUPS”);


2. Karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir;
3. Berdasarkan penetapan pengadilan;
4. Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit perseroan tidak cukup untuk membayar
biaya kepailitan;
5. Karena harta pailit perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan
insolvensi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang; atau
6. Karena dicabutnya izin usaha perseroan sehingga mewajibkan Perseroan melakukan
likuidasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pembubaran perseroan berdasarkan keputusan RUPS diajukan oleh Direksi, Dewan Komisaris
atau 1 (satu) pemegang saham atau lebih yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh)

21
bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara. Keputusan RUPS tentang pembubaran
perseroan adalah sah apabila diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat dan/atau paling
sedikit dihadiri oleh ¾ (tiga perempat) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara hadir
atau diwakili dalam RUPS dan disetujui paling sedikit ¾ (tiga perempat) bagian dari jumlah
suara yang dikeluarkan.

Pengadilan Negeri dapat membubarkan perseroan dengan alasan:

1. Permohonan kejaksaan berdasarkan alasan perseroan melanggar kepentingan umum atau


Perseroan melakukan perbuatan yang melanggar peraturan perundang-undangan;
2. Permohonan pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan adanya cacat hukum dalam
akta pendirian;
3. Permohonan pemegang saham, Direksi atau Dewan Komisaris berdasarkan alasan
perseroan tidak mungkin untuk dilanjutkan.

Likuidator mempunyai kewajiban untuk memberitahukan kepada semua kreditor mengenai


pembubaran perseroan dengan cara mengumumkan pembubaran perseroan dalam Surat Kabar
dan Berita Negara Republik Indonesia dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari
terhitung sejak tanggal pembubaran perseroan. Pemberitahuan kepada kreditor tersebut memuat:

1. Mengenai pembubaran perseroan dan dasar hukumnya;


2. Nama dan alamat likuidator;
3. Tata cara pengajuan tagihan; dan
4. Jangka waktu pengajuan tagihan.

22
SAP 8
KEPAILITAN

Dasar Hukum Kepailitan dan Pengertian Kepailita


Dasar Hukum Kepailitan
Undang-undang tentang Kepailitan (Faillissements verordening, Staatsblad 1905:217
juncto Staatsblad 1906:348), sebab itu, telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang tentang
Kepailitan, yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang berdasarkan Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 1998. Perubahan tersebut juga ternyata belum memenuhi perkembangan dan
kebutuhan hukum di masyarakat, sehingga pada tahun 2004 pemerintah memperbaikinya lagi
dengan Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (Undang-undang Kepailitan dan PKPU). Dan juga adapun BW secara umum
khususnya pasal 1131 sampai dengan 1134.

Pengertian Kepailitan
Dalam pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Undang-undang Kepailitan dan PKPU), “kepailitan”
diartikan sebagai sita umum atas semua kekayaan Debitur Pailit yang pengurusan dan
pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas. Menurut
kamus, pailit berarti “bangkrut” atau “jatuh miskin”. Dengan demikian maka kepailitan adalah
keadaan atau kondisi dimana seseorang atau badan hukum tidak mampu lagi membayar
kewajibannya (Dalam hal ini utangnya) kepada si piutang.

Permohonan Kepailitan
Permohonan kepailitan harus diajukan secara tertulis oleh pemohon yang isinya antara lain :
1. Nama, tempat kedudukan perusahaan yang dimohonkan
2. Nama, tempat kedudukan pengurus perusahaan atau direktur perusahaan yang berbentuk
perseroan terbatas
3. Nama, tempat kedudukan para kreditor
4. Jumlah keseluruhan utang

23
5. Alasan pemohon
Selanjutnya, dalam pasal 6 UU No. 37 Tahun 2004 ditentukan bahwa panitera pengadilan,
setelah menerima permohonan itu, melakukan pendaftaran dalam registernya dengan
memberikan nomor pendaftaran dan kepada pemohon diberikan tanda bukti tertulis yang
ditandatangani panitera.
Tanggal bukti penerimaan itu harus sesuai dengan tanggal pendaftaran permohonan. Dalam
jangka waktu 1 x 24 jam, panitera menyampaikan permohonan kepailitan itu kepada ketua
pengadilan untuk dipelajari selama 2 x 24 jam untuk kemudian oleh ketua pengadilan akan
ditetapkan hari persidangan.
Setelah hari persidangan ditetapkan, para pihak (permohonan dan termohon) dipanggil
untuk menghadiri pemeriksaan kepailitan. Pemeriksaan harus sudah dilakukan paling lambat dua
puluh hari sejak permohonan didaftarkan di kepaniteraan.
Dalam hal pemanggilan para pihak, pasal 8 ayat 1 UU No. 4 tahun 2004 menentukan sebagai
berikut :
1. Jika permohonan kepailitan diajukan debitur, pengadilan tidak wajib memanggil debitur
dalam persidangan.
2. Sebaliknya jika permohonan diajukan oleh kreditor/ para kreditor atau kejaksaan, debitur
wajib dipanggil. Pemanggilan tersebut dilakukan paling lambat tujuh hari sebelum hari
persidangan guna memberikan kesempatan kepada debitur untuk mempelajari
permohonan kepailitan.
Prosedur Permohonan Pernyataan Pailit
Prosedur permohonal pailit dalam Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dan Kepailitan (“UU 37/2004”) adalah sebagai
berikut:

1. Permohonan pernyataan pailit diajukan kepada Ketua Pengadilan melalui


Panitera. (Pasal 6 ayat 2).
2. Panitera menyampaikan permohonan pernyataan pailit kepada Ketua Pengadilan
paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan. Dalam jangka
waktu 3 (tiga) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan, pengadilan
menetapkan hari sidang.

24
3. Sidang pemeriksaan dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh)
hari setelah tanggal permohonan didaftarkan (pasal 6).
4. Pengadilan wajib memanggil Debitor jika permohonan pailit diajukan oleh
Kreditor, Kejaksaan, Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal atau Menteri
Keuangan (Pasal 8).
5. Pengadilan dapat memanggil Kreditor jika pernyataan pailit diajukan oleh Debitor
dan terdapat keraguan bahwa persyaratan pailit telah dipenuhi (Pasal 8).
6. Pemanggilan tersebut dilakukan oleh juru sita dengan surat kilat tercatat paling
lama 7 hari sebelum persidangan pertama diselenggarakan (Pasal 8 ayat 2).
7. Putusan Pengadilan atas permohonan pailit harus dikabulkan apabila terdapat
fakta terbukti bahwa persyaratan pailit telah terpenuhi dan putusan tersebut harus
diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah didaftarkan (Pasal 8).

8. Putusan atas permohonan pernyataan pailit tersebut harus memuat secara lengkap
pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut berikut pendapat dari
majelis hakim dan harus diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum dan
dapat dilaksanakan
Putusan Kepailitan
Zainal Asikin, menguraikan beberapa akibat hukum dari putusan pailit. Hal yang utama
adalah dengan telah dijatuhkannyaputusan kepailitan, si debitur (si pailit) kehilangan hak untuk
melakukan pengurusan dan penguasaan atas harta bendanya.Pengurusan dan penguasaan harta
benda tersebut beralih ke tangan curator/Balai Harta Peninggalan.
Menurut Pasal 8 ayat (5), putusan pengadilan atas permohonan pernyataan pailit harus
diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit
didaftarkan.Inilah yang membedakan antara Pengadilan Niaga dan Peradilan umum dimana
Hakim diberi batasan waktu untuk menyelesaikan perkara.Putusan atas permohonan pernyataan
pailit diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum.Majelis hakim dalam menjatuhkan
putusan harus memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan
dan/atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili; dan pertimbangan
hukum dan pendapat yang berbeda dari hakim anggota atau ketua majelis (dissenting opinion).
Secara umum isi dan sistematika putusan juga sama dengan putusan pada perkara perdata yang
meliputi :

25
a. Nomor putusan
b. Kepala putusan “ Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”
c. Identitas pemohon pailit dan kuasa hukumnya, serta termohon pailit dan kuasa hukumnya
d. Tentang duduk perkaranya
e. Tentang Pertimbangan Hukumnya
f. Amar Putusan
g. Tanda tangan Majelis Hakim dan Panitera

26
SAP 9
BUMN DAN BUMD

Pengertian BUMN

Berdasarkan PP No. 45 tahun 2005, BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau
sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal
dari kekayaan negara yang dipisahkan.

Dasar Hukum

1. Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945
2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas
3. Undang -undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
4. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
5. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara
6. Peraturan pemerintah Nomor 45 tahun 2005 tentang Pendirian, Pengurusan, Pengawasan,
dan Pembubaran BUMN

Pendirian BUMN

Sesuai dengan UU No. 19 tahun 2003 , BUMN didirikan dengan maksud :

1. Memberikan sumbangan bagi perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan


Negara pada khususnya

2. Mengejar keuntungan

3. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang


bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak

4. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang dapat dilaksanakan oleh sektor swasta
dan koperasi

27
5. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi
lemah, koperasi dan masyarakat

Pendirian BUMN ditetapkan dengan peraturan pemerintah, dimana dalam peraturan pemrintah
tersebut setidaknya memuat :

1. Penetapan pendirian BUMN

2. Maksud dan tujuan didirikan BUMN

3. Penetapan besarnya penyertaan besarnya kekayaan Negara yang dipisahkan dalam


rangka pendirian BUMN

Yang dimaksud pendirian BUMN meliputi :

1. Pembentukan Perum atau Persero baru


2. Perubahan bentuk unit instansi pemerintah menjadi BUMN
3. Perubahan bentuk badan hukum BUMN
4. Pembentukan BUMN sebagai akibat dari peleburan Persero dan Perum.

Pengertian BUMD

Badan usaha milik negara yang dikelola oleh pemerintah daerah disebut badan usaha
milik daerah (BUMD). Perusahaan daerah adalah perusahaan yang didirikan oleh pemerintah
daerah yang modalnya sebagian besar / seluruhnya adalah milik pemerintah daerah. Tujuan
pendirian perusahaan daerah untuk pengembangan dan pembangunan potensi ekonomi di daerah
yang bersangkutan. Contoh perusahaan daerah antara lain: perusahaan air minum (PDAM) dan
Bank Pembangunan Daerah (BPD). Badan Usaha Milik Daerah ( BUMD ) memiliki kedudukan
sangat panting dan strategis dalam menunjang pelaksanaan otonomi.

Dasar Hukum BUMD


Dasar hukum pembentukan BUMD adalah berdasarkan UU No 5 tahun 1962 tetang
perusahaan daerah. UU ini kemudian diperkuat oleh UU No 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok
pemerintahan daerah (Nota Keuangan RAPBN, 1997/1998).

28
Ciri-ciri BUMD adalah sebagai berikut:
1. Pemerintah memegang hak atas segala kekayaan dan usaha
2. Pemerintah berkedudukan sebagai pemegang saham dalam pemodalan perusahaan
3. Pemerintah memiliki wewenang dan kekuasaan dalam menetapkan kebijakan perusahaan
4. Pengawasan dilakukan alat pelengkap negara yang berwenang
5. Melayani kepentingan umum, selain mencari keuntungan
6. Sebagai stabillisator perekonomian dalam rangka menyejahterakan rakyat
7. Sebagai sumber pemasukan negara
8. Seluruh atau sebagian besar modalnya milik negara
9. Modalnya dapat berupa saham atau obligasi bagi perusahaan yang go public
10. Dapat menghimpun dana dari pihak lain, baik berupa bank maupun nonbank
11. Direksi bertanggung jawab penuh atas BUMN, dan mewakili BUMN di pengadilan

Pendirian BUMD
Langkah pendirian BUMD berbadan hukum perseroan terbatas adalah:
Pemda menetapkan Perda ttg Pendirian PT XYZ. Hal-hal yang perlu diatur dalam perda
tersebut adalah:
1. Nama sebutan PT dan alternatif sebutan nama PT, sebab sangat mungkin PT XYZ yang
akan di daftarkan di Menteri Hukum dan HAM sudah terdaftar oleh pihak lain. Bila perlu
hal ini diatur lebih lanjut dalam peraturan kepala daerah.
2. Susunan pengurus PT, meliputi nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat
tinggal, kewarganegaraan anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang pertama kali
diangkat.
3. besarnya jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor.
4. Dan lain-lain data & informasi yang diperlukan oleh Notaris.

Pembubaran BUMD
Pembubaran BUMN tertuang pada UU Nomor 5 tahun 1962 pada pasal 29 dengan bunyi sbb:
1. Pembubaran Perusahaan Daerah dan penundjukan likwidaturnja ditetapkan dengan
Peraturan Daerah dari Daerah jang mendirikan Perusahaan Daerah dan jang berlaku
setelah mendapat pengesahan instansi atasan.

29
2. Semua kekajaan Perusahaan Daerah setelah diadakan likwidasi dibagi menurut
perimbangan nilai nominal saham-saham.
3. Pertanggungan-djawab likwidasi oleh likwidatur dilakukan kepada Pemerintah Daerah
jang mendirikan Perusahaan Daerah dan jang memberikan pembebasan tanggung-djawab
tentang pekerdjaan jang telah diselesaikannja.
4. Dalam hal likwidasi, Daerah termaksud pada ajat (1) bertanggung-jawab atas kerugian
jang diderita oleh pihak ketiga apabila kerugian itu disebabkan oleh karena neratja dan
perhitungan laba-rugi jang telah disahkan tidak menggambarkan keadaan perusahaan
jang sebenarnja.

Mekanisme Pendirian Dan Pembubaran /Likuidasi

Pembubaran BUMN tertuang pada UU Nomor 5 tahun 1962 pada pasal 29 dengan bunyi sbb:
1. Pembubaran Perusahaan Daerah dan penundjukan likwidaturnja ditetapkan dengan
Peraturan Daerah dari Daerah jang mendirikan Perusahaan Daerah dan jang berlaku
setelah mendapat pengesahan instansi atasan.
2. Semua kekajaan Perusahaan Daerah setelah diadakan likwidasi dibagi menurut
perimbangan nilai nominal saham-saham.
3. Pertanggungan-djawab likwidasi oleh likwidatur dilakukan kepada Pemerintah Daerah
jang mendirikan Perusahaan Daerah dan jang memberikan pembebasan tanggung-djawab
tentang pekerdjaan jang telah diselesaikannja.
4. Dalam hal likwidasi, Daerah termaksud pada ajat (1) bertanggung-jawab atas kerugian
jang diderita oleh pihak ketiga apabila kerugian itu disebabkan oleh karena neratja dan
perhitungan laba-rugi jang telah disahkan tidak menggambarkan keadaan perusahaan
jang sebenarnja.

30
SAP 10
HAK CIPTA

Pengertian Hak Cipta


Di Indonesia, masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta, yaitu, yang berlaku
saat ini, Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014. Dalam undang-undang tersebut, Hak Cipta
merupakan salah satu bagian dari kekayaan intelektual yang memiliki ruang lingkup objek
dilindungi paling luas, karena mencakup ilmu pengetahuan, seni dan sastra (art and literary)
yang di dalamnya mencakup pula program komputer. Perkembangan ekonomi kreatif yang
menjadi salah satu andalan Indonesia dan berbagai negara dan berkembang pesatnya teknologi
informasi dan komunikasi mengharuskan adanya pembaruan Undang-Undang Hak Cipta,
mengingat Hak Cipta menjadi basis terpenting dari ekonomi kreatif nasional. Dengan Undang-
Undang Hak Cipta yang memenuhi unsur pelindungan dan pengembangan ekonomi kreatif ini
maka diharapkan kontribusi sektor Hak Cipta dan Hak Terkait bagi perekonomian negara dapat
lebih optimal.

Pengaturan Hak Cipta


1. Jangka waktu perlindungan hak cipta
Sebagaimana diketahui bahwa sejak ciptaan diwujudkan berakibat munculnya hak cipta
terhadap ciptaan tersebut, ini berarti sejak saat itu hak cipta mulai berlaku. Pencipta resmi
memiliki hak untuk menerbitkan ciptaannya, menggandakan ciptaannya, mengumumkan
ciptaannya, dan melarang pihak lain untuk melipat gandakan dan atau menggunakan secara
komersial ciptaannya.
2. Penegakan hukum atas hak cipta
Penegakan hukum atas hak cipta biasanya dilakukan oleh pemegang hak cipta dalam
hukum perdata, namun ada pula sisi hukum pidana. Sanksi pidana secara umum dikenakan
kepada aktivitas pemalsuan yang serius, namun kini semakin lazim pada perkara-perkara lain.
Sanksi pidana atas pelanggaran hak cipta di Indonesia secara umum diancam hukuman penjara
paling singkat satu bulan dan paling lama tujuh tahun yang dapat disertai maupun tidak disertai
denda sejumlah paling sedikit satu juta rupiah dan paling banyak lima miliar rupiah, sementara

31
ciptaan atau barang yang merupakan hasil tindak pidana hak cipta serta alat-alat yang digunakan
untuk melakukan tindak pidana tersebut dirampas oleh Negara untuk dimusnahkan.
3. Perkecualian dan batasan hak cipta
Akhir-akhir ini banyak terjadi pelanggaran terhadap hak cipta yang dilakukan baik oleh
seseorang secara pribadi maupun oleh badan hokum

Subjek dan Objek Hak Cipta


Subyek Hak Cipta
Subyek Hukum (Rechts Subyek) yaitu merupakan segala sesuatu yang menurut hukum
dapat menjadi pendukung (dapat memiliki) hak dan kewajiban ataupun menurut Algra adalam
setia orang yang mempunyai hak dan kewajiban, yang menimbulkan wewenang hukum
(rechtsbevoegheid). Adapaun pengertian wewenang hukum sendiri yaitu kewenangan untuk
menjadi subyek dari hak-hak. Yang termasuk kedalam pengertian subyek hukum adalah Manusia
(Naturlijke Person) dan Badan Hukum (Vicht Person) yaitu Pencipta dan Pemegang Hak Cipta
Objek Hak Cipta
Obyek Hak Cipta adalah Ciptaanya itu hasil setiap karya Pencipta dalam bentuk yang khas dan
menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Ciptaan yang
dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra

Pendaftaran Hak Cipta


Pendaftaran hak cipta merupakan suatu keharusan bagi sang pencipta sebuah karya agar tidak
diduplikasi oleh orang lain. Menurut UU 19 Tahun 2002 pada bab IV pasal 37 tata cara
pendaftaran hak cipta, sebagai berikut :
(1) Pendaftaran Ciptaan dalam Daftar Umum Ciptaan dilakukan atas Permohonan yang
diajukan oleh Pencipta atau oleh Pemegang Hak Cipta atau Kuasa.
(2) Permohonan diajukan kepada Direktorat Jenderal dengan surat rangkap 2 (dua) yang ditulis
dalam bahasa Indonesia dan disertai contoh Ciptaan atau penggantinya dengan dikenai
biaya.
(3) Terhadap Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktorat Jenderal akan
memberikan keputusan paling lama 9 (sembilan) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya

32
Permohonan secara lengkap.
(4) Kuasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah konsultan yang terdaftar pada
Direktorat Jenderal.
(5) Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara untuk dapat diangkat dan terdaftar sebagai
konsultan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan
Pemerintah.
(6) Ketentuan lebih lanjut tentang syarat dan tata cara Permohonan ditetapkan dengan
Keputusan Presiden.

Menurut Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 Pasal 38 dalam pengajuan hak cipta untuk suatu
badan yang dikelola bersama-sama diwajibkan membawa salinan akta resmi atas keterangan
tertulis untuk pembuktian hak tersebut.
Pada daftar umum ciptaan dimuat, antara lain:
 nama Pencipta dan Pemegang Hak Cipta;
 Tanggal penerimaan surat Permohonan;
 Tanggal lengkapnya persyaratan menurut Pasal 37; dan
 Nomor pendaftaran Ciptaan.

33
SAP 11
HAK PATEN

Pengertian Hak Paten

Hak kekayaan intelektual (HKI) terbagi menjadi dua, yaitu hak cipta dan hak milik
perindustrian. Hak milik perindustrian masih terbagi lagi menjadi merek, paten, desain industri,
dan rahasia dagang. Menurut pasal 1 angka 1 UU No. 14 Tahun 2001 memuat ketentuan hukum
mengenai paten yaitu sebagai hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas
hasil invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri
invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya

Subjek –Subjek Yang Dapat Dipatenkan

Secara umum, ada tiga kategori besar mengenai subjek yang dapat dipatenkan: proses,
mesin, dan barang yang diproduksi dan digunakan. Proses mencakup algoritma, metode bisnis,
sebagian besar perangkat lunak (software), teknik medis, teknik olahraga dan semacamnya.
Mesin mencakup alat dan aparatus. Barang yang diproduksi mencakup perangkat mekanik,
perangkat elektronik dan komposisi materi seperti kimia, obat-obatan, DNA, RNA, dan
sebagainya. Khusus Sel punca embrionik manusia (human embryonic stem atau hES) tidak bisa
dipatenkan di Uni Eropa. Kebenaran matematika, termasuk yang tidak dapat dipatenkan.
Software yang menerapkan algoritma juga tidak dapat dipatenkan kecuali terdapat aplikasi
praktis (di Amerika Serikat) atau efek teknikalnya (di Eropa). Saat ini, masalah paten perangkat
lunak (dan juga metode bisnis) masih merupakan subjek yang sangat kontroversial. Amerika
Serikat dalam beberapa kasus hukum di sana, mengijinkan paten untuk software dan metode
bisnis, sementara di Eropa, software dianggap tidak bisa dipatenkan, meski beberapa invensi
yang menggunakan software masih tetap dapat dipatenkan

Objek hak paten

Objek Paten Sederhana tidak mencakup proses, penggunaan, komposisi, dan produk yang
merupakan product by process. Objek Paten Sederhana hanya dibatasi pada hal -hal yang bersifat
kasat mata(tangible), bukan yang tidak kasat mata (intangible). Di beberapa negara, seperti di

34
Jepang, Amerika Serikat, F ilipina, dan Thailand, pengertian Paten Sederhana disebut utility
model, petty patent, atausimple patent, yang khusus ditujukan untuk benda (article) atau alat
(device).

Pendaftaran Paten

Sebelum masuk kedalam prosedure pendaftaran, sebaiknya kita melihat prosedure paten
yang sah di dalam negeri, disebutkan bahwa :

a. Pemohon paten harus memenuhi segala persyaratan.


b. Dirjen HAKI akan mengumumkannya 18 (delapan belas) bulan setelah tanggal
penerimaan permohonan paten.
c. Pengumuman berlangsung selama 6 (enam) bulan untuk mengetahui apakah ada
keberatan atau tidak dari masyarakat.
d. Jika tahap pengumuman ini terlewati dan permohonan paten diterima, maka
pemohon paten berhak mendapatkan hak patennya untuk jangka waktu 20 (dua
puluh) tahun sejak terjadi filling date.

35
SAP 12
HAK MEREK

Pengertian Merek

Meurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “merek” merupakan sebagai tanda yang
dikenakan oleh pengusaha (pabrik, produsen, dan sebagainya) pada barang yang dihasilkan
sebagai tanda pengenal (cap,tanda) yang menjadi pengenal untuk menyatakan nama.

Berdasarkan UU RI No.20 Tahun 2016 tentang merek dan indikasi geografis, bahwa
Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata,
huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara,
hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang
dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang
dan/atau jasa.

Subjek Dan Objek Hak Merek

1. Subjek Hak atas Merek.

Orang yang memperoleh hak atas merek disebut pemilik hak atas merek, namanya
terdaftar dalam Daftar Umum Merek yang diumumkan dalam Berita Resmi Merek.
Menurut Abdulkadir Muhammad Pemilik Merek terdiri dari:

a. Orang perseorangan (one person);


b. Beberapa orang secara bersama-sama (several persons jointly), atau
c. Badan hukum (legal entity).

Merek dapat dimiliki secara perorangan atau satu orang karena pemilik merek adalah
orang yang membuat merek itu sendiri. Dapat pula terjadi seseorang memiliki merek berasal
dari pemberian atau membeli dari orang lain. Subjek hak atas merek yang diatur dalam UUM
2001 adalah pihak yang mengajukan permohonan pendaftaran merek dan pihak yang
menerima permohonan pendaftaran merek dalam hal ini adalah kuasa yang telah diberikan
oleh pemohon atau pejabat kantor Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI).

36
Pendaftaran Hak Merek

Permohonan Pendaftaran Hak merek


Berdasarkan UU RI No.20 Tahun 2016 Pasal 4, 5, 6 dan 7 syarat dan tata cara
permohonan hak merek sebagai berikut.
1. Permohonan pendaftaran Merek diajukan oleh Pemohon atau Kuasanya kepada
Menteri secara elektronik atau non-elektronik dalam bahasa Indonesia.
2. Dalam Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mencantumkan:
a. tanggal, bulan, dan tahun Permohonan;
b. nama lengkap, kewarganegaraan, dan alamat Pemohon;
c. nama lengkap dan alamat Kuasa jika Permohonan diajukan melalui Kuasa;
d. warna jika Merek yang dimohonkan pendaftarannya menggunakan unsur
warna;
e. nama negara dan tanggal permintaan Merek yang pertama kali dalam hal
Permohonan diajukan dengan Hak Prioritas; dan
f. kelas barang dan/atau kelas jasa serta uraian jenis barang dan/atau jenis
jasa.
3. Permohonan ditandatangani Pemohon atau Kuasanya.
4. Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri dengan label Merek
dan bukti pembayaran biaya.
5. Biaya Permohonan pendaftaran Merek ditentukan per kelas barang dan/atau jasa.
6. Dalam hal Merek sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berupa bentuk 3 (tiga)
dimensi, label Merek yang dilampirkan dalam bentuk karakteristik dari Merek
tersebut.
7. Dalam hal Merek sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berupa suara, label Merek
yang dilampirkan berupa notasi dan rekaman suara.
8. Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilampiri dengan surat
pernyataan kepemilikan Merek yang dimohonkan pendaftarannya.
9. Ketentuan lebih lanjut mengenai biaya Permohonan sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

37
10. Dalam hal Permohonan diajukan oleh lebih dan satu Pemohon yang secara
bersama-sama berhak atas Merek tersebut, semua nama Pemohon dicantumkan
dengan memilih salah satu alamat sebagai alamat Pemohon yang ditandatangani
oleh salah satu dari Pemohon yang berhak atas Merek tersebut dengan
melampirkan persetujuan tertulis dari para Pemohon yang mewakilkan. Apabila
salah seorang Pemohonnya atau lebih warga negara asing dan badan hukum asing
yang berdomisili di luar negeri wajib diajukan melalui Kuasa.

11. Permohonan untuk lebih dari 1 (satu) kelas barang dan/atau jasa dapat diajukan
dalam satu Permohonan dan harus menyebutkan jenis barang dan/atau jasa yang
termasuk dalam kelas yang dimohonkan pendaftarannya.

12. Permohonan dan hal yang berkaitan dengan administrasi Merek yang diajukan
oleh Pemohon yang bertempat tinggal atau berkedudukan tetap di luar wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib diajukan melalui Kuasa yang dimana
wajib menyatakan dan memilih alamat Kuasa sebagai domisili hukum di
Indonesia.

38
SAP 13
ARBITRASE PERDAGANGAN DI INDONESIA

Definisi Arbitrase
Istilah arbitrase berasal darikata arbitrare (Latin), arbitrage (Belanda/Perancis),
arbitration (Inggris) dan shiedspruch (Jerman), yang berarti kekuasaan untuk menyelesaikan
sesuatu menurut kebijaksanaan atau perdamaian melalui arbiter atau wasit.Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia arbitrase adalah usaha perantara dalam meleraikan sengketa. Arbitrase di
Indonesia dikenal dengan “perwasitan” secara lebih jelas dapat dilihat dalam Undang-undang
No. 1 Tahun 1950, yang mengaturtentang acara dalam tingkat banding terhadap putusan-putusan
wasit, dengan demikian orang yang ditunjuk mengatasi sengketa tersebut adalah wasit atau biasa
disebut “arbiter”.
Menurut Subekti (1992:1) menyatakan bahwa arbitrase adalah : “Penyelesaian atau
pemutusan sengketa oleh seorang hakim atau para hakim berdasarkan persetujuan bahwa
para pihak akan tunduk pada atau menaati keputusan yang diberikan oleh hakim yang
mereka pilih.”
Dari pengertian Arbitrase berdasarkan Undang-Undang dapat diketahui bahwa perjanjian dalam
Arbitrase harus tertulis, bukan hanya sekedar perjanjian secara lisan.Disamping definisi-definisi
tersebut di atas, penting juga dikemukakan ciri-ciri arbitrase, yaitu :
1) Bahwa badan arbitrase ini adalah suatu cara atau metode penyelesaian sengketa. Sengketa
tersebut diselesaikan oleh pihak ketiga dan pihak (pihak) netral atau arbitrator yang
secara khusus ditunjuk.
2) Bahwa para arbitrator mempunyai wewenang yang diberikan oleh para pihak. Para
arbitrator diharapkan memutuskan sengketa menurut hukum.
3) Arbitrase merupakan sistem pengadilan perdata, artinya bahwa para pihaklah, dan bukan
negara yang mengawasi kewenangan dan kewajiban para pihak.
4) Keputusan yang dikeluarkan badan ini bersifat final dan mengakhiri persengketaan para
pihak.
5) Keputusan para arbitrator mengikat para pihak berdasarkan persetujuan diantara mereka
untuk menyerahkan sengketanya kepada arbitrase, bahwa mereka akan menerima dan
secara sukarela memberikan kekuatan kepada keputusan arbitrase tersebut.

39
6) Bahwa pada pokoknya proses berperkara melalui badan arbitrase dan putusannyaterlepas
dan bebas dari campur tangan negara.

Dasar Hukum Arbitrase


Dasar hukum berarbitrase adalah dasar hukum yang dipergunakan seseorang untuk dapat
menyelesaikan perselisihannya melalui arbitrase, baik dalam kerangka arbitrase nasional maupun
internasional. Dasar hukum tersebut adalah:
1) Penjelasan Pasal 3 ayat (1) UU No. 14 /1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Kekuasaan Kehakiman
2) Pasal 22 ayat (2) dan (3) UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing
3) Undang-undang No. 5 Tahun 1968
4) Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1981
5) Peraturan Mahkamah Agung No. 1/1990
6) UU No. 30/1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa
7) Pasal 58 s/d 60 UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman
Keuntungan Arbitrase
Keunggulan arbitrase dapat disimpulkan melalui penjelasan umum Undang-undang Nomor
30 tahun 1999 dapat terbaca beberapa keunggulan penyelesaian sengketa melalui arbitrase
dibandingkan dengan pranata peradilan. Keunggulan itu adalah :
1) Kecepatan dalam Proses
2) Pemeriksaan Ahli di Bidangnya
3) Sifat Konfidensialitas
Kelemahan Arbitrase
Beberapa faktor yang merupakan kelemahan arbitrase adalah sebagai berikut:
1) Hanya Untuk Para Pihak Bona Fide
2) Ketergantungan Mutlak Pada Arbiter
3) Tidak Ada Preseden Putusan Terdahulu
4) Masalah Putusan Arbitrase Asing

40
Jenis-Jenis Arbistrase
Jenis arbitrase ialah macam-macam arbitrase yang diakui eksistensi dan kewenangannya
untuk memeriksa dan memutus perselisihan yang terjadi antara para pihak yang mengadakan
perjanjian.Jenis arbitrase yang diakui dan memiliki validitas, diatur dan disebut dalam peraturan
dan berbagai konvensi. Dengan demikian, pembicaraan tentang eksistensi jenis arbitrase, tidak
hanya bertitik tolak dari Rv, tapi juga merujuk kepada Convention of The Settlement of
Investment Disputes Between States and National of Other States, Convention on the
Recognition and Enforcement of Foreign Arbital Awards serta UNCITRAL Arbitration Rules.
1) Arbitrase Ad Hoc (Ad Hoc Arbitration)
Arbitrase Ad hoc/valunter arbitrase disebut demikian karena sifat dari arbitrase ini tidak
permanen atau insidentil.Arbitrase ini keberadaannya hanya untuk memutus dan
menyelesaikan suatu kasus sengketa tertentu saja. Setelah sengketa selesai diputus, maka
keberadaan arbitrase ad hoc ini pun lenyap dan berakhir sendirinya
2) Arbitrase Institusional
Abitrase Institusional (institusional arbitration) merupakan lembaga atau badan arbitrase
yang bersifat “permanen”. Oleh karena itu arbitrase jenis ini adalah arbitrase yang
melembaga yang didirikan dan melekat pada suatu badan (body) atau lembaga
(institusion) tertentu. Arbitrase institusional ialah badan arbitrase yang sengaja
didirikan.Pembentukannya ditujukan untuk menangani sengketa yang timbul bagi mereka
yang menghendaki penyelesaian di luar pengadilan.Ia merupakan wadah yang sengaja
didirikan untuk menampung perselisihan yang timbul dari perjanjian. Pihak-pihak yang
ingin penyelesaian permasalahan mereka dilakukan oleh arbitrase, dapat menjanjikan
akan diputus oleh arbitrase institusional.

41
SAP 14
BADAN ARBITRASE NASIONAL INDONESIA (BANI)

Prosedur Arbitrase
Arbitrase merupakan cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum
yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang
bersengketa. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase hanya dapat dilakukan apabila terdapat
perjanjian arbitrase yang telah diperjanjikan oleh para pihak, baik berupa klausula arbitrase yang
tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa
(Pactum deCompromittendo), maupun suatu perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para
pihak setelah timbul sengketa (Acta Compromise).
BANI memiliki kewenangan untuk menyelesaikan sengketa hanya apabila terdapat perjanjian
arbitrase dan klausula arbitrase yang menunjuk BANI sebagai lembaga yang berwenang
menyelesaikan sengketa di bidang perdagangan.Berikut adalah tahapan prosedurnya.

1. Permohonan Arbitrase
Sesuai dengan Pasal 8 ayat (1) dan (2) UU No. 30/1999, pemberitahuan sebagaimana dimaksud
di atas harus memuat dengan jelas:
1. nama dan alamat para pihak;
2. penunjukan kepada klausula atau perjanjian arbitrase yang berlaku;
3. perjanjian atau masalah yang menjadi sengketa;
4. dasar tuntutan dan jumlah yang dituntut, apabila ada;
5. cara penyelesaian yang dikehendaki; dan
6. perjanjian yang diadakan oleh para pihak tentang jumlah arbiter atau apabila tidak pernah
diadakan perjanjian semacam itu, pemohon dapat mengajukan usul tentang jumlah arbiter
yang dikehendaki dalam jumlah ganjil.
2. Penunjukan Arbiter
Pada dasarnya, para pihak dapat menentukan apakah forum arbitrase akan dipimpin oleh
arbiter tunggal atau oleh Majelis.Dalam hal forum arbitrase dipimpin oleh arbiter tunggal, para
pihak wajib untuk mencapai suatu kesepakatan tentang pengangkatan arbiter tunggal pemohon
secara tertulis harus mengusulkan kepada termohon nama orang yang dapat diangkat sebagai
arbiter tunggal. Jika dalam 14 (empat belas) hari sejak termohon menerima usul pemohon para

42
pihak tidak berhasil menentukan arbiter tunggal maka dengan berdasarkan permohonan dari
salah satu pihak maka Ketua Pengadilan dapat mengangkat arbiter tunggal. Dalam hal forum
dipimpin oleh Majelis maka Para Pihak akan mengangkat masing-masing 1 (satu) arbiter..

3. Tanggapan Termohon
Apabila Badan Pengurus BANI menentukan bahwa BANI berwenang memeriksa, maka
setelah pendaftaran Permohonan tersebut, seorang atau lebih Sekretaris Majelis harus ditunjuk
untuk membantu pekerjaan administrasi perkara arbitrase tersebut.Sekretariat harus
menyampaikan satu salinan Permohonan Arbitrase dan dokumen-dokumen lampirannya kepada
Termohon, dan meminta Termohon untuk menyampaikan tanggapan tertulis dalam waktu paling
lama 30 (tiga puluh) hari.Dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah
menerimapenyampaian Permohonan Arbitrase, Termohon wajib menyampaikan Jawaban. Dalam
Jawaban itu, Termohon dapat menunjuk seorang Arbiter atau menyerahkan penunjukan itu
kepada Ketua BANI. Apabila, dalam Jawaban tersebut, Termohon tidak menunjuk seorang
Arbiter, maka dianggap bahwa penunjukan mutlaktelah diserahkan kepada Ketua BANI

4. Tuntutan Balik
Apabila Termohon bermaksud mengajukan suatu tuntutan balik (rekonvensi) atau upaya
penyelesaian sehubungan dengan sengketa atau tuntutan yang bersangkutan sebagai-mana yang
diajukan Pemohon, Termohon dapat mengajukan tuntutan balik (rekonvensi) atau upaya
penyelesaian tersebut bersama dengan Surat Jawaban atau selambat-lambatnya pada sidang
pertama.Majelis berwenang, atas permintaan Termohon, untuk memperkenankan tuntutan balik
(rekonvensi).
5. Sidang Pemeriksaan
Dalam sidang pemeriksaan sengketa oleh arbiter atau majelis arbitrase dilakukan secara
tertutup. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, kecuali atas persetujuan arbiter atau
majelis arbitrase para pihak dapat memilih bahasa lain yang akan digunakan. Para pihak yang
bersengketa dapat diwakili oleh kuasanya dengan surat kuasa khusus. Pihak ketiga di luar
perjanjian arbitrase dapat turut serta dan menggabungkan diri dalam proses penyelesaian
sengketa melalui arbitrase, apabila terdapat unsur kepentingan yang terkait dan keturutsertaannya
disepakati oleh para pihak yang bersengketa serta disetujui oleh arbiter atau majelis arbitrase
yang memeriksa sengketa yang bersangkutan.

43
Putusan Arbitrase
Putusan arbitrase merupakan suatu putusan yang diberikan oleh arbitrase ad hoc maupun
lembaga arbitrase atas suatu perbedaan pendapat, perselisihan paham maupun persengketaan
mengenai suatu pokok persoalan yang lahir dari suatu perjanjian dasar (yang memuat klausula
arbitrase) yang diajukan pada arbitrase ad- hoc tersebut, maupun lembaga arbitrase untuk
diputuskan olehnya. Sebagai suatu pranata (hukum), arbitrase dapat mengambil berbagai macam
bentuk yang disesuaikan dengan kondisi dan keadan yang dikehendaki oleh para pihak dalam
perjanjian.
Berdasarkan pada tempat di mana arbitrase tersebut diputuskan, secara umum putusan arbitrase
dapat kita bedakan ke dalam:
1. Putusan arbitrase nasional, yamg merupakan putusan arbitrase yang diambil atau dijatuhkan
di negara Republik Indonesia
2. Putusan arbitrase internasional atau arbitrase asing, yang merupakan putusan arbitrase yang
dijatuhkan di negara di luar negara Republik Indonesia.

Pelaksanaan Putusan Arbitrase


Dalam membicarakan pelaksanaan putusan arbitrase akan dibedakan cara pelaksanaan
putusan arbitrase nasional dan putusan arbitrase internasional
 Pelaksanaan Putusan Arbitrase Nasional
 Pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional
 Pembatalan Putusan Arbitrase

44
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/document/362767012/Sap-2-Hukum-Kontrak

https://www.scribd.com/document/360285806/Sap-3-Wanprestasi

http://pengetahuanoke.blogspot.co.id/2013/04/persekutuan-perdata-maatschap.html

http://blogprinsip.blogspot.co.id/2012/10/batal-dan-pembatalan-suatu-perjanjian.html

https://www.suduthukum.com/2016/05/pengaturan-bentuk-hukum-perusahaan.html

https://www.scribd.com/document/365483650/SAP-6-fix

http://pengetahuanoke.blogspot.co.id/2013/04/persekutuan-perdata-maatschap.html

http://artonang.blogspot.co.id/2015/12/pengertian-unsur-ciri-dan-sifat.html

https://dunianotaris.com/syarat-dasar-hukum-pendirian-pt-perseroan-terbatas-di-indonesia

http://enzifebrianti.blogspot.co.id/2013/05/struktur-permodalan-perseroan-terbatas.html

http://kuliahonline.unikom.ac.id/?listmateri/&detail=2964&file=/ORGAN-ORGAN-DALAM-PT.html

http://www.hukumperseroanterbatas.com/pembubaran-perseroan/pembubaran-perseroan-terbatas/

https://berseru.com/pengertian-dan-dasar-hukum-kepailitan-adalah/

http://bagaskororizky.blogspot.co.id/2017/04/prosedur-permohonan-pernyataan-pailit.html

http://www.hukumkepailitan.com/proses-perkara-kepailitan/proses-perkara-kepailitan-di-pengadilan-
niaga/

http://materihukumlengkap.blogspot.co.id/2017/09/pengertian-dan-dasar-hukum-serta-bagian.html

https://investasidaerah.wordpress.com/2013/07/17/pendirian-bumd/

https://id.wikipedia.org/wiki/Hak_cipta

http://alvisyahrin13.blogspot.co.id/2010/08/subyek-dan-obyek-hak-cipta.html

https://bplawyers.co.id/2018/02/07/inilah-prosedur-dan-syarat-pendaftaran-hak-cipta-di-indonesia/

https://iketutsuastika.wordpress.com/2012/05/03/pengaturan-hak-paten-pada-dunia-industri-di-
indonesia/

https://hendrign.wordpress.com/2015/06/12/hak-paten/

45