Anda di halaman 1dari 23

MEMPERTIMBANGKAN RISIKO KECURANGAN

DISUSUN OLEH :
GABRIELLA RONDONUWU (15)
MEISYA (22)
SELLA YENTI (29)
AUDIT KECURANGAN

Terdapat dua jenis audit kecurangan yaitu pelaporan keuangan yang curang
dan penyalahgunaan aktiva. Kecurangan pada pelaporan keuangan adalah salah saji
atau penghapusan yang disengaja atau pengungkapan yang bertujuan menipu
pengguna laporan keuangan. Kebanyakan kasus yang terjadi mengenai hal ini yaitu
perusahaan mencoba untuk menipu pembaca laporan keuangan dengan melebih-
lebihkan income maupun asset, ataupun menghapus liabilitas dan beban. Terkadang
perusahaan juga sengaja mengecilkan income, dengan tujuan untuk mengurangi
income taxes yang akan dibayar. Ada juga income yang dikecilkan ketika income
sedang tinggi, untuk menciptakan earnings yang tinggi pada periode selanjutnya atau
yang akan datang. Pengaturan laba tersebut disebut juga income smoothing dan
earnings management. Kedua istilah ini sama saja, hanya income smoothing adalah
suatu bentuk pengaturan laba di mana pendapatan dan beban ditukar-tukar atau
dipindahkan diantara periode-periode untuk mengurangi fluktuasi laba. Sedangkan
earnings management atau pengaturan laba merupakan tindakan manajemen yang
disengaja untuk memenuhi tujuan laba.
Jenis kedua dari audit kecurangan yaitu penyalahgunaan aktiva. Yang
merupakan kecurangan yang melibatkan pencurian aktiva perusahaan. Walaupun
tidak semuanya material pada laporan keuangan, namun tetap saja pencurian.
Sedikit-sedikit lama lama akan menjadi besar. Istilah penyalahgunaan aktiva ini
melibatkan pegawai ataupun orang-orang dalam perusahaan, bukan yang dilakukan
oleh pihak luar. Kebanyakan penyalahgunaan aktiva dilakukan oleh tingkat terendah
pada hirarki organisasi perusahaan. Walaupun ada juga kasus yang dilakukan oleh
top manager atas penyalahgunaan asset ini. Bahkan dampak yang dilakukan top
manager ini akan lebih besar dan top manager memiliki autoritas yang tinggi dan
control terhadap asset perusahaan. Sehingga akan lebih mudah baginya untuk
melakukan kecurangan tersebut untuk kepentingan pribadinya.

I. KONDISI-KONDISI PENYEBAB KECURANGAN


Terdapat tiga kondisi yang menyebabkan terjadinya kecurangan dalam laporan keuangan
dan penyalahguanaan aset sebagaimana dijelaskan dalam SAS 99 (AU 316) yaitu:
1) Insentif/Tekanan.
Manajemen atau pegawai lainnya memiliki insentif atau tekanan untuk melakukan
kecurangan.
2) Kesempatan.
Situasi yang memberikan kesempatan bagi manajemen atau pegawai untuk melakukan
kecurangan.
3) Sikap/Rasionalasi.
Adanya suatu sikap, karakter, atau seperangkat nilai-nilai etika yang memungkan
manajemen atau pegawai untuk melakukan tindakan yang tidak jujur, atau mereka
berada dalam suatu lingkungan yang memberikan mereka tekanan yang cukup besar
sehingga menyebabkan mereka membenarkan melakukan perilaku yang tidak jujur
tersebut.

a. Faktor-Faktor Resiko Untuk Kecurangan Dalam Laporan Keuangan


Pertimbangan penting bagi auditor untuk membongkar kecurangan adalah
mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan risikokecurangan. Dalam segitiga
kecurangan, pelaporan keuangan yang curang dan penyalahgunaan aktiva berbagi 3 kondisi yang
sam, Tetapi faktor-faktor resikonya berbeda.
Insentif/Tekanan Sebuah insentif yang umum bagi perusahaan untuk memanipulasi
laporan keuangan adalah adanya penurunan dalam prospek keuangan perusahaan. Sebagai contoh,
penurunan dalam laba dapat mengancam kemampuaan perusahaan dalam mendapatkan
pendanaan.
Kesempatan Meskipun laporan keuangan dari semua perusahaan potensial dapat terjadi
manipulasi, risiko menjadi lebih besar untuk perusahaan yang bergerak dalam industri yang
melibatkan penilaian subjektif dan estimasi yang signifikan. Sebagai contoh, terdapat
kemungkinan salah saji dalam persediaan dalam perusahaan-perusahaan memilki persediaan yang
terletak dibeberapa tempat yang berbeda.
Penggantian pegawai dibagian akuntansi atau kelemahan lainnya dalam proses akuntansi
dan informasi dapat menyebabkan munculnya kesempatan terjadinya salah saji. Banyak kasus
dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh komite audit dan dewan direksi yang tidak efektif
dalam melakukan pengawasan terhadap pelaporan keuangan.
Sikap/Rasionalisasi sikap manajemen puncak terhadap laporan keuangan merupakan
faktor risiko penting dalam menilai kemungkinan adanya kecurangan dalam laporan keuangan.
Jika CEO atau manajer puncak menunjukkan dominasi terhadap proses penyusunan laporan
keuangan, seperti terus menerus mengeluarkan proyeksi yang terlalu optimi, atau mereka terlalu
khawatir untuk memenuhi proksi laba para analisis pasar, kemungkinan terjadi kecurangan dalam
laporan keuangan menjadi lebih besar.

b. Faktor-Faktor Risiko untuk Penyalahgunaan Aset

Tiga kondisi yang sama juga berlaku untuk penyalahgunaan aset. Namun demikian, dalam
melakukan penilaian risiko, penekanan yang lebih besar diberikan insentif dan kesempatan pribadi
untuk melakukan pencurian.
Insentif/Tekanan Tekanan keuangan merupakan insentif umum bagi pegawai yang
menyalahgunakan aset. Pegawai yang memiliki utang yang sangat besar, atau mereka yang terlibat
dalam masalah kecanduan narkotika dan perjudain, dapat mencuri untuk memenuhi kebutuhan
pribadi mereka. Dalam kasus lain, pegawai yang tidak puas dapat melakukan pencurian hanya
utnuk menunjukkan kehebatan mereka atau untuk menyerang perusahaan.
Kesempatan Kesempatan untuk melakukan pencurian ada pada semua perusahaan.
Namun, kesempatan tersebut lebih besar pada perusahaan yang akses terhadap kasnya sangat
mudah, atau pada perusahaan yang memiliki persediaan atau aset berharga lainnya, khususnya jika
ukuran aset tersebut kecil dan mudah dipindah-pindahkan. Sebagai contoh, kasino-kasino yang
menangani sejumlah besar uang kas dengan pencatatan formal yang sangat kecil atas penerimaan
kas. Demikian pula, pencurian komputer laptop lebih sering terjadi dbandingkan dengan pencurian
terhadap komputer meja.
Kelemahan dalam pengendalian internal menciptakan kesempatan terjadinya pencurian.
Pemisah tugas yang tidak memadai hampir dipastikan menjadi lisensi bagi para pegawai untuk
melakukan pencurian. Jika para karyawan menagani atau bahkan memiliki akses sementara
terhadap aset dan juga melakukan pembukuan untuk aset tersebut, maka muncul potensi terjadinya
pencurian. Jika para karyawan mengganti atau bahkan memiliki akses sementara terhadap aset dan
juga melakukan pembukuan untuk aset tersebut, maka muncul potensi terjadinya pencurian. Jika
pegawai di bagian gudang persediaan juga bertugas untuk melakukan pencatatan persediaan,
mereka akan dengan mudah mengambil persediaan dan menutupi pencurian tersebut dengan
menyesuaikan catatan akuntansinya. Kecurangan menjadi lebih besar di perusahaan yan lebih kecil
dan organisasi nirlaba karena lebih sulit bagi entitas tersebut untuk melakukan pemisahan tugas.

Sikap/Rasionalisasi Sikap manajemen terhadap pengendalian dan kode etik dapat


menyebabkan para karyawan dan manajer membenarkan pencurian terhadap aset. Jika manajemen
mencurangi para pelanggannya dengan menetapkan harga yang sangat tinggi untuk barang-barang
atau terlibat dalam taktik penjualan bertekanan tinggi, para pegawai dapat merasa bahwa mereka
juga dibenarkan untuk berbuat yang serupa dengan memalsukan pengeluaran atau memalsukan
waktu kerja.

II. PENILAIAN RESIKO KECURANGAN

Standar Auditing memberikan pedoman kepada auditor dalam mengukur risiko


kecurangan. Auditor harus menjaga suatu tingkat skeptisme professional ketika mereka
mempertimbangkan informasi yang luas termasuk faktor-faktor risiko kecurangan, untuk
mengedintifikasi dan menghadapi risiko kecurangan.
1. Skeptisisme Profesional
Dalam melaksanakan skeptisisme profesional, auditor “tidak mengasumsikan bahwa
manajemen tidak jujur tetapi juga tidak mengasumsikan kejujuran absolut”Untuk mempertahankan
skeptisime profesional tersebut, ada dua hal yang harus diingat:
a. Pikiran yang selalu mempertanyakan.Auditor harus selalu mempertimbangkan
kerentanan klien terhadap kecurangan, tanpa memperhitungkan kemungkinan kejujuran
atau integritasmanajemen.
b. Evaluasi kritis atas bukti audit.Setiap indikasi atau temuan harus dievaluasi dan dipelajari
secara mendalam.
2. SumberInformasi untuk Menilai ResikoKecurangan
Sumber informasi yangdigunakan untuk menilai resiko kecurangan ada lima sumber, yaitu:

1) Komunikasi di antara tim audit.


Diskusi dilakukan menyangkut hal-hal sebagai berikut:
a. Bagaimana dan di mana kemungkinan letak salah saji yang material akibat
kecurangan.Pertimbangan yangdiperlukan adalah ketiga faktor yang telah dibahas
sebelumnya, yakni: insentif/tekanan, kesempatan, dan sikap/rasionalisasi.
b. Bagaimana manajemen dapat melakukan dan menutupi pelaporan keuangan yang
curang.
c. Bagaimana seseorang dapat menyalahgunakan aktiva.
d. Bagaimana auditor menanggapi kerentanan salah saji yang material akibat
kecurangan tersebut.
2) Pengajuan pertanyaan kepada manajemen.
Pertanyaan yang diajukan harus spesifik termasuk kemungkinan manajemen mencurigai
adanya kecurangan. Pertanyaan juga diajuk an kepada pihak lain termasuk komite audit.
3) Faktor-faktor resiko.
Ketiga faktor resiko (insentif/tekanan, kesempatan, dan sikap/rasionalisasi) perlu
dipertimbangkan dengan semua informasi yang ada.Yang perlu diingat, kecurangan
muncul tidak melulu karena adanya ketiga faktor tersebut secara signifikan.
4) Prosedur analitis.
Prosedur analitis dirancang sejak perencanaan audit. Bila hasilnya berbeda dengan
ekspektasi, harus dievaluasi dengan memperhitungkan dengan informasi yang lain.
5) Informasi lain.
Informasi ini dapat diperoleh di setiap tahap atau bagian audit ketika menilai resiko
kecurangan, dan kebanyakan dapat mengindikasikan resiko kecurangan yang lebih
tinggi.

3. Mendokumentasikan Penilaian Kecurangan


Standar Auditing mengharuskan auditor mendokumentasikan hal-hal yang bersangkutan
dengan pertimbangan auditor mengenai salah saji yang material akibat kecurangan, yaitu:
1. Diskusi antara personil tim penugasan selama tahap perencanaan audit tentang
kerentanan laporan keuangan entitas terhadap kecurangan yang material.
2. Prosedur yang ditempuh untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk
mengidentifikasi dan menilai resiko kecurangan yang material.
3. Resiko khusus tentang kecurangan yang material yang sudah teridentifikasi.
4. Alasan yang mendukung kesimpulan bahwa tidak ada resiko yang signifikan atas
pengakuan pendapatan yang tidak tepat secara material.
5. Hasil dari prosedur yang ditempuh untuk menghadapi resiko pengabaian
pengendalian oleh manajemen.
6. Kondisi dan hubungan analitis yang menunjukan bahwa diperlukan prosedur
auditing tambahan atau respon lainnya.
7. Sifat komunikasi tentang kecurangan yang disampaikan kepada manajemen, komite
audit, dan pihak lainnya.

III. PENGAWASAN TATA KELOLA PERUSAHAAN UNTUK


MENGURANGI RESIKO KECURANGAN

Manajemen bertanggungjawab untuk menerapkan tata kelola perusahaan dan prosedur


pengendalian untuk meminimalisasikan risiko kecurangan, yang dapat dikurangi melalui
kombinasi antara tindakan pencegahan, antisipasi dan pendekteksian. Untuk membantu
manajemen dan dewan direksi dalam menjalankan usaha-usaha anti kecurangan, AICPA,
bekerjasama dengan beberapa organisasi profesi terkait, menerbitkan Program dan pengendalian
antikecurangan bagi Manajemen: Panduan untuk Membantu Mencegah, Mengantisipasi dan
Mendeteksi Kecurangan.

Panduan tersebut mengidentifikasikan tiga elemen berikut untuk mencegah, mengantisipasi dan
mendeteksi kecurangan.
1. Budaya kejujuran dan etika yang bernilai tinggi.
2. Tanggung jawab manajemen untuk mengevaluasi risiko-risiko kecurangan.
3. Pengawasan dari komite audit.

Budaya kejujuran dan etika yang bernilai Tinggi


Riset menunjukkan bahwa cara yang paling efektif untuk mencegah kecurangan dan
mengantisipasinya adalah dengan menerapkan program-program dan pengendalian-pengendalian
anti kecurangan yang berdasarkan pada nilai-nilai utama yang dianut oleh perusahaan.
Menciptakan suatu budaya kejujuran dan etika yang bernilai tinggi mencakup enam elemen berikut
ini.
Teladan dari Pemimpin. Manajemen dan dewan direksi bertanggung jawab untuk memberikan
teladan dalam perilaku yang beritika dalam perusahaan. Kejujuran dan intregitas dari manajemen
mendorong kejujuran yang integritas pada seluruh pegawai dalam organisasi tersebut. Teladan dari
pemimpin berdasarkan kejujuran dan integritas memberikan dasar dapat dikembangkan kode etik
yang lebih terperinci untuk memberikan panduan khusus mengenai perilaku yang diperbolehkan
dan dilarang.
Menciptakan lingkungan kerja yang positif. Penelitian yang menunjukkan bahwa perbuatan
salah lebihjarang terjadi ketika para pegawai memiliki perasaan positif mengenai pemberi kerjanya
dibandingkan ketika mereka merasa bahwa mereka teraniaya, terancam dan terabaikan. Para
pegawai juga harus bias mendapatkan nasihat secara internal sebelum mereka mengabil keputusan-
keputusan yang memiliki implikasi hukum atau etika.

Memperkerjakan dan Mempromosikan Pegawai yang Tepat. Agar berhasil mencgah


kecurangan,perusahaan yag sudah bekerja dengan baik harus menerapkan kebijakan pemilihn yang
efektifuntuk mengurangi kemungkinan empekerjakan dan mempromosika orang-orang yang
memiliki tngkat kejujuran yang rendah, khususnya untuk mereka yang memegang posisi-posisi
penting. Kebijakan tersebut dapat mencakup pengecekan terhadp latar belakang kandidat yang
akan dipekerjakan atau yan akan dipromosikan untuk posisi penting.

Pelatihan. Semua pgawai bau harus terlebih dahulu dilatih tntang ekspektasi perusahaan terhadap
perilaku etika para pegawainya. Pelatihan mengenai kewaspadaan terhadap kcurangan harus
disesuaikan dengan tanggung jawab spesifik pegawai.

Konfirmasi. Konfirmasi membantu menegakkan kebijakan kode etik dan juga membantu
mencegah para pegawai untuk melakukan kecurangan atau pelanggaran etika lainnya. Dengan
menindaklanjuti pengakuan-pengakuan dan tidak ada balasan, maka auditor internal atau lainnya
dpat mengungkpkan masalah-masalah penting.

Disiplin. Pera pegawai harus mengetahui bahwa mereka harus bertanggung jawab jika mereka
tidak mematuhi kode tik perusahaan. Pemberian hukuman atas pelanggaran kode etik, tanpa
mempertimbangkan jenjang pegawai yang dilakukan tindakan tersebut, memberikan pesan yang
jelas pada semua pegawai bahwa kepatuhan terhadap kode etik dan standar etika lainnya sangat
penting dan diharapkan.

Tanggung Jawab Manajemen Untuk Mengevaluasi Resiko-Resiko Kecurangan.


Kecurangan tidak dapat terjadi tanpa adanya kesempatan yang terbuka untuk melakukan dan
menutupi tindakan tersebut. manajemen bertanggung jawab untuk mengedintfikasi dan mengukur
resiko kecurangan, dan mengawasi pengendalian internal yang dapat mencegah dan mendeteksi
kecutangan.

Pengawasan Komite Audit


Dengan memperhatikan pembentukan serta tugas dan fungsinya, maka Komite Audit dapat
didefinisikan sebagai komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris Perusahaan untuk membantu Dewan
Komisaris Perusahaan melakukan pemeriksaan atau penelitian yang dianggap perlu terhadap pelaksanaan
fungsi direksi dalam melaksanakan pengelolan perusahaan serta melaksanakan tugas penting berkaitan
dengan sistem pelaporan keuangan melalui pengawasan terhadap proses pelaporan keuangan yang
dilakukan oleh manajemen dan auditor independent.

IV. Menghadapi Risiko Kecurangan


Manajemen tentunya memliki program-program yang dirancang untuk mencegah,
mengantisipasi dan mendeteksi kecurangan. Namun perlu juga dilakukan pertimbangan oleh
auditor apakah program-program antikecuranagn tersebut dapat mengatasi risiko yang ada atau
apakah kelemahan dalam pengendalian telah meningkatkan resiko kecurangan. Dari hal tersebut
maka timbulah respon auditor yang mencakup hal-hal sebagai berikut :

1. Mengubah Keseluruhan Pelaksanaan Audit


Pelaku kecurangan seringkali memiliki pengetahuan yang baik dalam prosedur audit. Untuk alasan
itu maka PSA 70 mengharuskan auditor untuk menerapkan rencana audit yang tidak dapat
diprediksi.
2. Merancang dan Melakukan Prosedur Audit untuk Menghadapi Resiko Kecurangan
Auditor merancang prosedur audit yang tepat digunakan untuk mengatasi resiko audit spesifik
sesuai dengan akun yang sedang diaudit dan jenis resiko kecurangan yang teridentifikasi.
3. Merancang dan Melakukan Prosedur-Prosedur untuk mengatasi Dominasi Manajemen Terhadap
Pengendalian.
Resiko Dominasi Manajemen terhadap pengendalian muncul pada hamper semua pengauditan.
Karena seringkali posisi manajemen dijadikan posisi yang paling efektif untuk melakukan
kecurangan melalui manipulasi pengendalian internal. Oleh sebab itu auditor harus menjalankan
prosedur-prosedur dalam setiap pengauditan untuk mengatasi resiko dominasi oleh manajemen.

Berikut prosedur-prosedur yang harus dijalankan :


Memeriksa Ayat-Ayat Junal dan Penyesuaian-Penyesuaian Lainnya sebagai bukti adannya
Kemungkinan Salah Saji yang Disebabkan Oleh Kecurangan.
Seringkali kecurangan disebabkan oleh penyesuaian-penyesuaian yang tidak tepat dalam laporan
keuangan sehingga auditor pertama kali harus mendapatkan pemahaman atas proses pelapran
keuangan entitas beserta pengendalian-pengendaliannya. Setelah itu menanyakan pada pegawai
yang terlibat dalam penyusunan laporan keuangan jika terjadi ketidaktepatan atau aktivitas yang
ganjal dalam pemrosesan ayat jurnal dan penyesuaiannya. Hasil Tanya jawab ini nantinya akan
berpengaruh terhadap keluasan pengujian terhadap jurnal dan penyesuaian-penyesuaian laporan
keuangan.
Menelaah Estimasi Akuntansi Untuk Setiap Hal yang Tidak Wajar
PSA 70 mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan potensi ketidakwajaran manajemen
ketika menelaah estimasi-estimasi tahun berjalan. Jadi Auditor diharuskan unutk mereview
kembali estimasi-estimasi signifikan pada periode sebelukmnya untuk mengidentifikasi setiap
perubahan dalam proses perusahaan.
Mengevaluasi Rasionalitas Bisnis untuk Transaksi-Transaksi yang Tidak Biasa
PSA 70 menempatkan focus yang lebih besar untuk pemahaman atas dasar rasionalitas bisnis
untuk transaksi-transaksi tidak biasa yang signifikan yang mungkin di luar kebiasaan bisnis
perusahaan. Jadi disini auditor harus mendapatkan pemahaman atas tujuan-tujuan dari setiap
transaksi yang signifkan untuk menilai apakah transaksi tersebut terkait dengan kecurangan dalam
laporan keuangan.

Mengamati Petunjuk Perilaku

Auditor yang mahir dalam menggunakan pengajuan pertanyaan akan mengevaluasi petunjuk lisan
dannonlisan ketika mendengarkan pihak yang diwawancarai. Petunjuk-petunjuk lisan
dapatmengindikasikan kegugupan, ketidaktahuan, atau bahkan kebohongan responden.
Penggunaan pengajuan pertanyaan juga memungkinkan auditor mengamati perilaku nonlisan. In
vestigator yang berpengalaman akan memperhatikan bahwa subjek yang tidak nyaman memberik
an jawaban atas pertanyaan yang sering kali mempertontonkan banyak perilaku nonlisan.Seorang
Auditor yang belum berpengalaman harus berhatihati ketika mereka mulai melihat sikap yang ti
dak biasa, dan mereka harus mendiskusikan kekhawatirannya dengan anggota senior tim audit
sebelum melakukan apa pununtuk merespons perilaku itu.

V. Bagian-Bagian Risiko Kecurangan yang Spesifik

a. Resiko Kecurangan dalam Pendapatan dan Piutang Dagang


Pendapatan dan beberapa akun piutang yang terkait serta akun kasi biasanya sangat
rentan terhadap manipulasi dan pencurian. Dan contoh dari kecurangan tersebut seperti :
Risiko kecurangan dalam laporan keuangan untuk akun pendapatan. Ada banyak
alasan mengapa pendapatan rentan terhadap manipulasi. Yang paling penting pendapatan
hampir selalu merupakan akun terbesar dalam laporan laba rugi, sehingga suatu salah saji
yang hanya berupa presentasi penjualan yang kecil tetap dapat berpengaruh besar terhadap
laba. Alasan lain pendapatan merupakan akun yang rentan terhadapa manipulasi adalah
kesulitan dalam menentukan waktu yang tepat untuk mengakui pendapatan dalam berbagai
situasi.
i. Pendapatan fiktif. bentuk kecurangan yang paling fatal melibatkan penciptaan
pendapatan-pendapatan fiktif, banyak kasus yang telah terungkap dengan cara menciptakan
pendapatan-pendapatan fiktif. umumnya pelaku mengetahui atau memahami pihak-pihak
yang melakukan pengisihan arsip dokumen untuk menciptakan kebijakan-kebijakan fiktif.
ii. Pengakuan pendapatan yang premature. Hal ini merupakan pencatatan pendapatan
yang bukan seharusnya di tempatnya. Missal, penpatan yang seharusnya di catat diperiode
mendatang tetapi oleh pelaku sudah dicatat pada periode berjalan.
iii. Manipulasi penyesuaian-penyesuaian pendapatan. Penyesuaian pendapatan yang
paling umum melibatkan retur penjualan dan pengurangan harga. Sebuah perusahaan dapat
menyembunyikan retur penjualan dari auditornya untuk melebihsajikan penjualan bersih dan
laba. Jika barang yang dikembalikan dihitung sebagai bagian dari persediaan fisik, maka retur
barang tersebut dapat meningkatkan laba yang dilaporkan. Dalam kasus ini, peningkatan dalam
suatu asset diakui melalui perhitungan fisik persediaan, namun pengurangan terhadap saldo
akun piutang dagang yang terkait tidak dilakukan.

Tanda-tanda peringatan kecurangan dalam pendapatan

Terdapata banyak tanda-tanda peringatan yang mengidentifikasi adanya suatu kecurangan,


tetapi ada dua peringatan yang paling berguna didapatkan dari prosedur analitis dan
ketidakkecocokan dalam dokumen-dokumen.
1. Prosedur analitis. Prosedur analitis sering kali dapat menandai kecurangan dalam
pendapatan,khususnya dari presentase margin kotor dan perputaran piutang dagang.
Pendapatan fiktif akan melebihsajikan presentasi margin laba, pengakuan pendapatan
yang premature juga melebihsajikan margin laba kotor jika biaya penjualan yangterkait
tidak diakuin. Penjualan fiktif juga perputaran piutang Karena penjualan fiktif juga
dimasukan dalam piutang tak tertagih.

2. Ketidakcocokan dokumen. Meskipun usaha terbaik telah dilakukan oleh pelaku


kecurangan, transaksi-transaksi fiktif jarang memiliki tingkat keandalan bukti yang sama
sebagaimana yang dihasilkan dari transaksi-transaksi yang sah. Para auditor harus
mewaspadai penandaan dan perubahan yang tidak biasa dalam dokumen-dokumen dan
meraka harus mengandalkan dokumen asli daripada salianan dokumen tersebut. Karena
pelaku kecurangan mencoba untuk menutupi kecurangan yang ia lakukan, meski hanya
satu transaksi yang tidak biasa yang ditemukan dalam suatu stempel harus
dipertimbangkan sebagai potensi indicator kecurangan yang harus diselidiki lebih lanjut.

Penyalahgunaan Penerimaan yang Melibatkan Pendapatan


Meski penyalahgunaan penerimaan kas jarang terjadi pelaporan pendapatan yang curang,
kecurangannya semacam ini bisa berdampak buruk terhadap organisasi karena aktiva langsung
hilang.

1. Kelalaian Mencatat Penjualan


Salah satu kecurangan yang paling sukar dideteksi adalah apabila penjualan tidak dicatat dan
kas dari penjualan itu dicuri. Kecurangan ini mudah dideteksi jika barang dikirim secara kredit
kepada pelanggan.

2. Pencurian Penerimaan Kas


Setelah Penjualan Dicatat Untuk menyembunyikan pencurian, pelaku kecurangan harus
mengurangi rekening pelanggan dengan salah satu dari tiga cara :
1.Mencatat suatu retur penjualan atau pengurangan harga
2.Menghapus rekening pelanggan
3. Mencatat pembayaran dari pelanggan lain dalam rekening pelanggan itu, yang disebut juga
sebagai lapping.

b. Risiko Kecurangan Persediaan

Persediaan sering kali merupakan akun terbesar dalam neraca dan auditor sering merasa
sullit memverifikasi eksistensi dan penilaian persediaan. Akibatnya persediaan rentan terhadap
manipulasi oleh manajer yang ingin mencapai tujuan pelaporan keuangan tertentu.

Risiko Pelaporan Keuangan yang Curang untuk Persediaan


Walaupun auditor diharuskan memverifikasi eksistensi persedian fisik, pengujian audit tetap
dilakukan atas dasar sampel, dan biasanya tidak semua lokasi persediaan diuji.

Tanda-tanda Peringatan Kecurangan Persediaan


Serupa dengan penipuan yang melibatkan piutang usaha, banyak tanda peringatan atau gejala
yang berpotensi menunjukan kecurangan persediaan.

Prosedur Analitis
Terutama persentase margin kotor dan perputaran persediaan sering kali membantu
membongkar kecurangan persediaan. Persediaan fiktif akan melebihsajiakan persentase margin
kotor, dan pengakuan pendapatan prematur juga melebihsajikan margin kotor jika HPP yang
terkait tidak diakui.

c. Risiko Kecurangan Pembelian


Kasus-kasus kecurangan dalam laporan keuangan yang melibatkan utang dagan relative
umum meskipun lebih jarang terjadi dibandingkan dengan kecurangan yang melibatkan
persediaan atau piutang dagang. Pengurangansajian utang dagang yang disengaja umumnya
mengakibatkan kurang saji dalam pembelian dan beban pokok penjualan serta lebih saji dalam
laba bersih.
· Risiko kecurangan laporan keungan untuk akun piutang dagang. Perusahaan-perusahaan
dapat terlibat dalam usaha-usaha yang disengaja untuk menguraisajikan utang dagang dan
melebihsajikan laba. Hal tersebut dapat dicapai dengan tidak mencatat utang dagang hingga
periode berikutnya atau dengan mencatat pengurangan fiktif dalam utang dagang.
Semua pembelian yang diterima sebelum akhir tahun harus dicatat sebagai kewajiban. Hal
itu relative lebih mudah untuk dibuktikan jika perusahaan mempertanggungjawabkan laporan
penerimaan barang yang telah diberi nomor terlebih dahulu. Namun, jika laporan penerimaan
barang tidak diberi nomor terdahulu atau perusahaan sengaja menghilangkan laporan
penerimaan barang dari catatan akuntansi, akan menjadi sulit bagi auditor untuk membuktikan
apakah semua kewajiban telah dicatat. Dalam kasus semacam itu, bukti analitis, seperti
perubahan yang tidak biasa dalam rasio-rasio, dapat menandai adanya kurang saji dalam utang
dagang.
· Penyalahgunaan dalam siklus pelaporan dan pembayaran. Kecurangan yang paling
umum dalam bagian perolehan adalah bagi sang pelaku untuk mengeluarkan pembayaran-
pembayaran kepada pemasok fiktif dan menyimpan kas di rekening fiktif. kecurangan
semacam itu dapat dicegah dengan membuat pembayaran hanya dilakukan pada pemasok
resmi dan memeriksa dokumentasi-dokumentasi yang mendukung pembelian tersebut dengan
saksama oleh personel yang memiliki otoritas sebelum pembayaran dilakukan. Dalam kasus
penyalahgunaan yang lain, petugas utang dagang atau pegawai lainnya mencuri sebuah cek
untuk suatu pemasok resmi. Informasi dari pembeli kemudian dilampirkan kembali agar dapat
dilakukan pembayaran pada pemasok tersebut.

d. Risiko Kecurangan lainnya


a. Asset tetap.
Asset tetap, sebuah akun neraca yang besar bagi banyak perusahaan, sering kali berdasarkan
pada penilaian yang ditentukan secara subjektif. Akibatnya, asset tetap dapat menjadi target
manipulasi, khususnya bagi perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki persediaan atau
piutang yang material.
b. Beban gaji.
Gaji biasanya bagian dari risiko yang signifikan pada kecurangan dalamlaporan keuangan.
Meski demikian, perusahaan dapat mengurangsajikan persediaan dan laba bersih dengan
mencatat biaya upah karyawan yang berlebihan dalam persediaan. Perusahaan terkadang
melibatkan pegawainya untuk membuat ast tetap. Biaya tenaga kerja yang berlebihan dapat
dikapitalisasi sebagai asset tetap dalam kondisi tersebut. Tunjangan tambahan yang material,
seperti tunjangan pension, juga dapat dimanipulasi.

VI. Mengevaluasi Respons atas Pengajuan Pertanyaan

Seringkali, jawaban pertama dari orang-orang yang diwawancarai itu menyembunyikan


berbagai informasi yang berguna bagi auditor. Namun pertanyaan selanjutnya yang baik akan
mampu membimbing auditor pada pengungkapan faktayang berguna. Oleh karena itu, auditor harus
memiliki kemampuan-kemampuan berikut:

1) Teknik Menyimak
Ketrampilan ini sangat diperlukan oleh auditor dalam proses pengajuan pertanyaan kepada
pihak-pihak yang berhubungan dalam proses audit, karena seorang auditor harus terus
memperhatikan kontak mata, menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa ia setuju, atau
memberikan ekspresi mengenai pemahaman atas apa yang diceritakan. Kemudian, auditor bisa
memanfaatkan saat berdiam diri guna memikirkan informasi yang telah diberikan dan melakukan
penentuaan prioritas serta mereview segala informasi yang telah ia terima.

2) Mengamati Petunjuk Perilaku


Auditor yang telah berpengalaman dalam menggunakan teknik wawancara atau pengajuan
pertanyaan akan dapat melakukan evaluasi atas petujuk yang diberikan oleh respoden baik lisan
maupun nonlisan. Adapun kunci untuk mengamati perilaku subjek adalah dengan melakukan
identifikasi kapankah individu tersebut mulai berubah dari perilaku normalnya.

3) Tanggung Jawab Lain Apabila Dicurigai Ada Kecurangan

Apabila auditor curiga bahwa mungkin ada kecurangan, standar auditing mengharuskan auditor
memperoleh bukti tambahan untuk menetunkan apakah kecurangan yang material sudah terjadi.
1. Analisis Perangkat Lunak Audit

Auditor sering kali menggunakan perangkat lunak audit seperti ACL atau IDEA untuk
menentukanapakah mungkin ada kecurangan. Auditor menggunakan perangkat lunak audit,
termasuk alat bantuSpreadsheet dasar seperti Excel, untuk memilah transaksi atau saldo akun ke
dalam beberapasubkategori guna diuji lebih lanjut. Auditor juga memakai alat bantu
Spreadsheet dasar, seperti Excel, untuk melaksanakan prosedur analitis pada tingkat disagregat.
Tren yang tidak biasa, yang tidakteramati pada tingkat agregat, mungkin terdeteksi bila data
dianalisis secara lebih terinci.
2. Pengujian Substantif yang Diperluas

Auditor juga dapat memperluas prosedur substantive lainnya untuk menanggapi risiko
kecuranganyang lebih tinggi. Dalam beberapa contoh, auditor mungkin mengkonfirmasi setiap
transaksi, dan bukan keseluruhan saldo akun, terutama untuk transaksi bernilai besar
yang dicatat menjelang akhir tahun. Sering kali risiko kecurangan ini tinggi untuk akun-akun yang
didasarkan pada estimasisubjektif manajemen. Untuk menanggapi risiko yang lebih tinggi bahwa
manajemen menggunakan asumsi yang tidak tepat dalam mengestimasi saldo akun, seperti
penyisihan untuk keusangan persediaan,auditor,
dapat memanfaatkan spesialis guna membantu mengevaluasi keakuratan dan kelayakan asumsi-
asumsi kunci.
3. Implikasi Audit Lainnya

Standar auditing mengharuskan auditor memperhitungkan implikasi bagi aspek audit lainnya.
Sebagaicontoh, kecurangan yang melibatkan penyalahgunaan kas dari dana kas kecil yang
berjumlah sedikit biasanya dianggap tidak signifikan oleh auditor, kecuali masalah itu melibatkan
manajemen dari tingkat yang lebih tinggi, yang mungkin mengindikasikan persoalan yang lebih
luas menyangkutintegritas manajemen. Hal ini mungkin menunjukkan kepada auditor akan
perlunya mengevaluasikembali penilaian risiko kecurangan serta dampaknya terhadap sifat,
waktu, dan luas bukti audit.
Apabila auditor menetapkan bahwa kecurangan mungkin saja terjadi, standar auditing
mengharuskan auditor membahas masalah itu serta pendekatan audit untuk investigasi lebih lanjut
dengan tingkat manajemen yang tepat, sekalipun masalah itu mungkin dianggap tidak
penting.Tingkat manajemen yang tepat paling tidak harus satu tingkat di atas orang-orang yang
terlibat, serta manajemen senior dan komite audit. Jika auditor yakin bahwa manajemen senior
mungkin terlibat dalam kecurangan itu, auditor harus membahas masalahnya langsung dengan
komite audit.Penemuan bahwa ada kecurangan juga berimplikasi bagi laporan auditor perusahaan
publikmengenai pengendalian internal atas pelaporan keuangan. PCAOB Standard 5 menyatakan
bahwa kecurangan sebesar berapa pun oleh setidaknya manajemen senior harus dianggap sebagai
defisiensiyang signifikan, dan mungkin merupakan kelemahan yang material dalam pengendalian
internal atas pelaporan keuangan. Hal ini mencakup kecurangan oleh manajemen senior yang
menimbulkan salahsaji yang tidak material sekalipun. Jika auditor memutuskan bahwa kecurangan
oleh manajemensenior merupakan kelemahan yang material, laporan auditor mengenai
pengendalian internal atas pelaporan keuangan akan memuat pendapat tidak wajar
BAB 13

Rencana Audit dan Program Audit Secara


Keseluruhan
JENIS-JENIS PENGUJIAN

Dalam mengembangkan suatu rencana audit secara keseluruhan, auditor menggunakan


lima jenis pengujian untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar.

1. Prosedur Penilaian Risiko. Penilaian ini dilaksanakan untuk menilai risiko salah saji yang
material dalam laporan keuangan. Auditor melaksanakan pengujian pengendalian, pengujian
substantif atas transaksi, prosedur analitis, dan pengujian atas rincian saldo sebagai respons
terhadap penilaian auditor atas risiko salah saji yang material. Sebagian besar prosedur penilaian
risiko auditor dilakukan untuk memahami pengendalian internal.
2. Pengujian Pengendalian. Pemahaman auditor atas pengendalian internal digunakan untuk
menilai resiko pengendalian bagi setiap tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi. Apabila
kebijakan dan prosedur pengendalian dianggap telah dirancang secara efektif, auditor akan menilai
risiko pengendalian pada tingkat yang mencerminkan keefektifan relatif pengendalian tersebut.
Untuk mendapatkan bukti tepat yang mencukupi guna mendukung penilain itu, auditor
melaksanakan pengujian pengendalian. Pengujian pengendalian, baik secara manual maupun
terotomatisasi, dapat mencakup jenis-jenis bukti berikut: meminta keterangan dari personil klien
yang tepat; memeriksa dokumen, catatan, dan laporan; mengamati aktivitas yang berkaitan dengan
pengendalian; dan melaksanakan-ulang prosedur klien. Auditor melaksanakan walkthrough sistem
sebagai bagian dari prosedur untuk mendapatkan pemahaman guna membantunya menentukan
apakah pengendalian telah berjalan dengan semestinya. Pengujian pengendalian juga digunakan
untuk menentukan apakah pengendalian tersebut efektif dan biasanya meliputi pengujian atas
sampel transaksi. Prosedur untuk memahami pengendalian internal biasanya tidak memberikan
bukti yang tepat yang mencukupi bahwa pengendalian telah beroperasi secara efektif. Suatu
pengecualian dapat diberlakukan untuk pengendalian yang terotomatisasi karena kinerjanya sudah
konsisten.
3. Pengujian Substansial atas Transaksi. Pengujian substantif adalah prosedur yang dirancang
untuk menguji salah saji dolar (salah saji moneter) yang secara langsung mempengaruhi kebenaran
saldo laporan keuangan. Auditor dapat mengandalkan pada tiga jenis pengujian substantif:
pengujian substantif atas transaksi; prosedur analitis; dan pengujian rincian saldo.

Pengujian substantif atas transaksi, digunakan untuk menentukan apakah keenam tujuan audit
yang berkaitan dengan transaksi telah dipenuhi bagi setiap kelas transaksi. Dua dari tujuan untuk
transaksi penjualan itu adalah ada transaksi penjualan (tujuan keterjadian) dan transaksi penjualan
yang ada telah dicatat (tujuan kelengkapan). Jika yakin bahwa semua transaksi telah dicatat dengan
benar dalam jurnal dan diposting dengan benar, dengan mempertimbangkan keenam tujuan audit
yang berkaitan dengan transaksi, auditor dapat yakin bahwa total buku besar sudah benar. Auditor
dapat melaksanakan pengujian pengendalian secara terpisah dari semua pengujian lainnya, tetapi
sering kali lebih efesien melakukannya secara bersamaan dengan pengujian substantif atas
transaksi.

4. Prosedur analitis melibatkan perbandingan jumlah yang tercatat dengan harapan yang
dikembangkan oleh auditor. Dua tujuan paling penting dari prosedur ini dalam mengaudit saldo
akun adalah: menunjukkan salah saji yang mungkin dalam laporan keuangan; dan memberikan
bukti substantif. Apabila auditor mengembangkan ekspektasi dengan menggunakan prosedur
analitis dan menyimpulkan bahwa saldo akhir akun tertentu mungkin diabaikan atau ukuran
sampel dikurangi. Standar auditing menyatakan bahwa prosedur analitis merupakan jenis
pengujian substantif, apabila dilaksanakan untuk memberikan bukti tentang saldo akun.
5. Pengujian rincian saldo berfokus pada saldo akhir buku besar baik untuk akun neraca maupun
laporan laba-rugi. Penekanan utamanya dalam sebagian besar pengujian rincian saldo adalah pada
neraca. Pengujian atas saldo akhir ini sangat oenting karena bukti-bukti biasanya diperoleh dari
sumber independen dengan klien, dan dianggap sangat dapat dipercaya. Pengujian rincian saldo
dapat membantu dalam menetapkan kebenaran moneter akun-akun yang berhubungan dan
karenanya merupakan pengujian substantif.

MEMILIH JENIS PENGUJIAN YANG AKAN DILAKSANAKAN

Beberapa faktor dapat mempengaruhi pilihan auditor atas jenis pengujian yang akan
dipilih, termasuk ketersediaan delapan jenis bukti, biaya relatif dari setiap jenis pengujian,
efektivitas pengendalian internal, dan resiko inheren.

1.Ketersediaan Jenis Bukti untuk Prosedur Audit Selanjutnya

Masing-masing dari empat jenis prosedur selanjutnya hanya melibatkan jenis bukti tertentu
(konfirmasi, dokumentasi, dan sebagainya).
2.Biaya Relatif

Ketika auditor harus memutuskan jenis pengujian mana yang akan dipilih untuk memperoleh bukti
yang tepat yang mencukupi, biaya bukti itu merupakan pertimbangan yang penting. Jenis
pengujian yang tercantum berikut ini disusun menurut peningkatan biayanya:

1. Prosedur analitis dianggap paling murah karena relatif mudah dihitung dan dibandingkan.
2. Prosedur penilaian risiko, termasuk prosedur untuk memahami pengendalian internal, tidak
semahal pengujian audit lainnya karena auditor dengan mudah dapat melakukan tanya jawab dan
pengamatan serta melaksanakan prosedur analitis perencanaan.
3. Pengujian pengendalian juga melibatkan pengajuan pertanyaan atau tanya-jawab, pengamatan,
dan inspeksi, biaya relatifnya juga lebih rendah dibandingkan dengan pengujian substantif.
Namun, pengujian pengendalian jauh lebih mahal dibandingkan prosedur penilaian risiko auditor
karena luas pengujian yang diperlukan jauh lebih besar untuk mendapatkan bukti bahwa
pengendalian telah beroperasi secara efektif, terutama bila pengujian pengendalian itu melibatkan
pelaksanaan ulang.
4. Pengujian substantif atas transaksi lebih mahal dibandingkan pengujian pengendalian yang tidak
mencakup pelaksanaan ulang, karena sering kali memerlukan rekalkulasi dan penelusuran.
5. Pengujian rincian saldo

Hubungan Antara Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif

Suatu pengecualian dalam pengujian pengendalian hanya mengidentifikasi kemungkinan


salah saji yang mempengaruhi nilai dolar laporan keuangan, sedangkan pengecualian dalam
pengujian substantif atas transaksi atau pengujian rincian saldo merupakan salah saji laporan
keuangan. Pengecualian dalam pengujian pengendalian disebut deviasi pengujian pengendalian.

Auditor kemungkinan besar yakin bahwa ada salah saji mata uang yang material dalam
laporan keuangan apabila deviasi pengujian pengendalian dianggap sebagai deviasi yang
signifikan atau kelemahan yang material. Auditor kemudian harus melaksanakan pengujian
substantif atas transaksi atau pengujian rincian saldo untuk menentukan apakah salah saji mata
uang yang material telah benar-benar terjadi.

Hubungan Antara Prosedur Analitis dan Pengujian Substantif

Fluktuasi yang tidak biasa dalam hubungan antara satu akun dengan akun lainnya, atau
dengan informasi nonkeuangan, dapat mengindikasikan kemungkinan yang meningkatbahwa ada
salah saji yang material itu. apabila prosedur analitis mengidentifikasi fluktuasi yang tidak biasa,
auditor harus melaksanakan pengujian substantif atas transaksi atau pengujian rincian saldo untuk
menentukan apakah salah saji mata uang telah benar-benar terjadi. Jika auditor melaksanakan
prosedur analitis dan yakin bahwa kemungkinan salah saji yang material nilainya kecil, pengujian
substantif lainnya dapat dikurangi.

Trade-Off Antara Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif


Ada trade-off antara pengujian pengendalian dan pengujian substantif. Selama tahap
perencanaan, auditor memutuskan apakah akan menilai risiko pengendalian di bawah maksimum.
Jika melakukannya, auditor kemudian harus melaksanakan pengujian pengendalian untuk
menentukan apakah penilaian tingkat risisko pengendalian itu didukung. Jika pengujian
pengendalian mendukung penilaian risiko pengendalian, risiko deteksi yang direncanakan dalam
model risiko audit akan meningkat, dan karenanya, pengujian substantif yang direncanakan dapat
dikurangi.

DAMPAK TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP PENGUJIAN AUDIT

Standar auditing mengakui bahwa jika ada sejumlah besar bukti audit dalam format
elektronik, mungkin tidak praktis atau mungkin untuk mengurangi risiko deteksi hingga tingkat
yang dapat diterima dengan hanya melakukan pengujian substantif. Walaupun beberapa pengujian
substantif masih diperlukan, auditor dapat mengurangi pengujian substansi secara signifikan jika
hasil pengujian pengendalian mendukung keefektifan pengendalian itu. dalam audit perusahaan
publik, pengendalian yang dilaksanakan komputer harus diuji jika auditor mempertimbangkan
sebagai pengendalian kunci untuk mengurangi kemungkinan salah saji yang material dalam
laporan keuangan. Namun, karena konsistensi yang melekat dalam pemrosesan TI auditor
mungkin dapat mengurangi luas pengujian atas pengendalian yang terotomatisasi.

BAURAN BUKTI

Memilih jenis pengujian mana yang akan digunakan dan seberapa ektensif pengujian itu
harus dilaksanakan dapat sangat bervariasi di antara audit dengan tingkat efektivitas pengendalian
internal dan risiko inheren yang berbeda. Bahkan dalam audit tertentu, variasi dapat terjadi dari
satu siklus ke siklus lain. Untuk mendapatkan bukti yang tepat yang mencukupi sebagai respons
terhadap risiko yang diidentifikasi melalui prosedur penilaian risiko, auditor menggunakan
kombinasi dari empat jenis pengendalian selanjutnya. Kombinasi ini sering kali disebut bauran
bukti.

PERANCANGAN PROGRAM AUDIT

Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi

Biasanya meliputi bagian deskriptif yang mendokumentasikan pemahaman atas


pengendalian internal yang diperoleh selama pelaksanaan prosedur penilaian risiko. Program itu
juga mungkin menyertakan suatu uraian tentang prosedur yang dilaksanakan untuk memperoleh
pemahaman atas pengendalian internal dan penilaian tingkat risiko pengendalian. Auditor
menggunakan informasi ini untuk mengembangkan program audit pengujian pengendalian dan
pengujian substantif atas transaksi. Metodologi untuk merancang pengujian pengendalian dan
pengujian substantif atas transaksi:

1. Memahami pengendalian internal


2. Menilai risiko pengendalian yang direncanakan
3. Menentukan luas pengujian pengendalian
4. Merancang pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi untuk memenuhi
tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi. Pengujian rincian saldo yang telah direncanakan
meliputi prosedur audit, ukuran sampel, item yang dipilih, dan penetapan waktu.

Proses Analitis

Prosedur analitis yang dilaksanakan selama pengujian substantif, seperti audit piutang
usaha, biasanya lebih terfokus dan lebih ekstensif ketimbang yang dilakukan sebagai bagian dari
perencanaan. Selama tahap perencanaan, auditor dapat mengkalkulasi persentase marjin kotor
untuk total penjualan, sementara selama pengujian substantif atas piutang usaha, auditor dapat
mengkalkulasi persentase marjin kotor per bulan atau per lini bisnis, ataumungkin keduanya.
Prosedur analitis yang dihitung dengan menggunakan jumlah bulanan biasanya akan lebih efektif
dalam mendeteksi salah saji ketimbang yang dihitung dengan menggunakan jumlah tahunan, dan
perbandingan lini bisnis biasanya akan lebih efektif ketimbang perbandingan seluruh perusahaan.

Pengujian Rincian Saldo

Untuk merancang prosedur audit pengujian rincian saldo, auditor menggunakan


metodologi yang berorientasi pada tujuan audit berkaitan dengan saldo. Perancangan prosedur ini
biasanya bagian yang paling sulit dari seluruh proses perencanaan, karena bersifat subjektif dan
memerlukan banyak pertimbangan profesional.

Program Audit Ilustratif

Program audit sering kali terkomputerisasi. Bentuk yang paling sederhana adalah mengetik
program audit pada pengolah kata dan menyimpannya dari satu tahun ke tahun berikutnya untuk
mempermudah pengubahan serta pemutakhiran. Pendekatan yang lebih canggih adalah
menggunakan perangkat lunak audit, yang akan membantu auditor berpikir melalui pertimbangan
perencanaan audit dan memilih prosedur yang sesuai dari database prosedur audit. Prosedur ini
kemudian disusun menjadi program audit.

IKHTISAR PROSES AUDIT

Fase I

Merencanakan dan Merancang Pendekatan Audit

1. Menerima klien dan melaksanakan perencanaan awal


2. Memahami bisnis dan industri klien
3. Menilai risiko bisnis klien
4. Melaksanakan prosedur analitis pendahuluan
5. Menetapkan materialitas dan menilai risiko audit yang dapat diterima serta risiko inheren
6. Memahami pengendalian internal dan menilai risiko pengendalian
7. Mengumpulkan informasi untuk menilai risiko kecurangan
8. Mengembangkan rencana audit dan program audit secara keseluruhan

Fase II

Melaksanakan Pengujian Pengendalian dan Pengujuian Substantif atas Transaksi

1. Melakukan pengujian pengendalian untuk memperoleh buktu untuk mendukung pengendalian


khusus yang berkontribusi pada penilaian risiko pengendalian oleh auditor (yaitu, bila dikurangi
di bawah maksimum) bagi audit laporan keuangan dan audit pengendalian internal atas pelaporan
keuangan perusahaan publik.
2. Melakukan pengujian subtantif atas transaksi untuk memperoleh bukti untuk mendukung
ketepatan moneter transaksi.

Sering kali kedua jenis pengujian ini dilaksanakan secara serentak atas transaksi yang sama.
Apabila pengendalian dianggap tidak efektif atau bila auditor menemukan penyimpangan,
pengujian substantif dapat diperluas dalam fase ini atau fase III, dengan mempertimbangkan
imlpikasi bagi laporan auditor tentang pengendalian internal atas pelaporan keuangan.

Karena hasil dari pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi merupakan
determinan utama dari luas pengujian rincian saldo, pengujian itu sering kali dilakukan 2 atau 3
bulan sebelum tanggal neraca. Ini membantu auditor dalam merevisi program audit pengujian
rincian saldo atas hasil yang tidak diharapkanpada pengujian sebelumnya, dan untuk
menyelesaikan audit secepat mungkin setelah tanggal neraca.

Fase III

Melaksanakan Prosedur Analitis dan Pengujian Rincian Saldo

Tujuan dari fase III adalah untuk memperoleh bukti tambahan yang mencukupi guna
menentukan apakah saldo akhir dan catatan kaki atas laporan keuangan telah dinyatakan secara
wajar.

Dua kategori umum:

1. Melakukan prosedur analitis substantif yang menilai kelayakan transaksi dan saldo secara
keseluruhan.
2. Menguji rincian saldo, yang merupakan prosedur audit untuk menguji salah saji moneter dalam
saldo laporan keuangan.

Fase IV
Menyelesaikan Audit dan Mengeluarkan Laporan Audit

1. Melaksanakan pengujian tambahan untuk penyajian dan pengungkapan. Prosedur yang


dilaksanakan auditor untuk mendukung empat tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi dan
yang berkaitan dengan saldo. Selama fase ini auditor melaksanakan prosedur audit yang berkaitan
dengan kewajiban kontinjen dan peristiwa setelah tanggal neraca. Kewajiban kontinjen adalah
kewajiban potensial yang harus diungkapkan dalam catatan kaki klien.
2. Mengumpulkan bukti akhir.
3. Mengeluarkan laporan audit. Jenis laporan yang akan dikeluarkan tergantung pada bukti yang
dikumpulkan dan temuan audit.
4. Berkomunikasi dengan komite audit dan manajemen. Auditor diwajibkan untuk
mengomunikasikan defisiensi yang signifikan dalam pengendalian internal kepada komite audit
atau manajemen senior.