Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, serta inayah-Nya sehingga kami dapat merampungkan
penyusunan makalah Bahasa Indonesia dengan judul “Sejarah Perkembangan
Tasawuf Pada Masa Rasululullah, Sahabat, Tabi’i” tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini telah semaksimal mungkin kami upayakan dan
didukung bantan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancarkan dalam
penyusunanya. Untuk itu tidak lupa kam mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah.
Namun tidak lepas dari semua itu kami menyadari sepenuhnya bahwa
masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainya.
Oleh karena itu dengan lapang dada kami membuka pintu bagi para pembaca yang
ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana
ini dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para
pembaca untuk mengangkat permasalah lain yang berkaitan pada makalah-
makalah selanjutnya.

Tulungagung, September 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................1
DAFTAR ISI.....................................................................................................................2
BAB I................................................................................................................................3
PENDAHULUAN.............................................................................................................3
A. LATAR BELAKANG...........................................................................................3
B. RUMUSAN MASALAH......................................................................................3
C. TUJUAN...............................................................................................................4
BAB II...............................................................................................................................5
PEMBAHASAN...............................................................................................................5
A. TASAWUF DI MASA RASULULLAH SAW.....................................................5
B. TASAWUF DI MASA SAHABAT....................................................................10
C. TASAWUF DI MASA TABI’I...........................................................................11
BAB III...........................................................................................................................14
PENUTUP.......................................................................................................................14
A. KESIMPULAN...................................................................................................14
B. SARAN................................................................................................................14
DAFTAR ISI...................................................................................................................15

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sejarah timbulnya tasawuf dalam islam bersamaan dengan
munculnya agama islam itu sendiri, yaitu semenjak Nabi Muhammad
SAW diutus menjadi rasul untuk segenap umat manusia dan seluruh alam
semesta. Fakta sejarah juga menunjukkan bahwa pribadi Muhammad
sebelum diangkat menjadi rasul telah berulang kali melakukan tahannuts
dan khalwat di Gua Hira, untuk mengasingkan diri dari masyarakat kota
mekkah yang sibuk dengan hawa nafsu keduniaan. Kehidupan nabi yang
seperti itu bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan
oleh seorang sufi. Corak kehidupan kerohanian nabi itulah yang dijadikan
sebagai pedoman dalam hidup kerohanian sesudahnya sebagai materi
dalam tasawuf. Tasawuf itu merupakan ajaran yang diikuti oleh orang sufi,
dimana sufi itu dianggap penganut islam yang memisahkan kehidupan
dunia dengan akhirat.
Jika mencermati sirah, sejarah hidup Nabi maka akan terpapar
dengan jelas bahwa ada hubungan erat antara pola hidup Rasulullah yang
penuh kejuhudan dan kesederhanaan, dengan kehidupan kaum zuhud
dimasa permulaan Islam, kemudian kaum sufi sejati setelah mereka yang
menempa diri mereka dengan aneka macam riyadhah dengan tujuan
meminimalisir tuntutan-tuntutan fisik agar jiwa mereka mudah
menjalankan berbagai macam ibadah, berkomunikasi dengan Allah dan
berdekatan dengan-Nya.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah perkembangan Tasawuf dimasa Rasulullah
SAW ?
2. Bagaimana sejarah Tasawuf dimasa Sahabat ?
3. Bagaimana sejarah Tasawuf dimasa Tabi’in ?

3
4
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah perkembangan Tasawuf pada
masa Rasulullah SAW.
2. Untuk mengetahui sejarah perkembangan Tasawuf pada masa
Sahabat.
3. Untuk mengetahui sejarah Tasawuf pada masa Tabi’in.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. TASAWUF DI MASA RASULULLAH SAW


Bila berbicara masalah sejarah pertumbuan tasawuf dalam islam
maka sesungguhnya pertumbuhan dan perkembangna tasawuf itu sama
saja dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam itu sendiri. Hal ini
mengingat keberadaan tasawuf adalah sama dengan keberadaan agama
Islam itu sendiri. Karena pada hakiaktnya agama Islam itu ajarannya
hampir bisa dikatakan bercorak tasawuf.1

Sebenarnya kehidupan sufi sudah terdapat pada diri nabi


Muhammad SAW. Dimana dalam sebuah kehidupan beliau sehari-hari
terkesan amat sederhana dan menderita, disamping menghabiskan
waktunya untuk beribadah dan selalu mendekatkan diri kepada Allah
SWT. Bahkan seperti diketahui, bahwa sebelum beliau diangkat sebagai
rasul Allah, beliau seringkali melakukan kegiatan sufi dengan melakukan
uzlah di gua hira selama berbulan-bulan lamanya sampai beliau menerima
wahyu pertama saat diangkat sebagai rasul Allah.

Setelah beliau resmi diangkat sebagai nabi utusan Allah, keadaan


dan cara hidup beliau masih ditandai oleh jiwa dan suasana kerakyatan,
meskipun beliau berada dalam lingkaran keadaan hidup dapat terpenuhi
semua keinginan lantaran kekuasaannya sebagai nabi yang menjadi
kekasih Tuhan-Nya.

Begitulah kehidupan sufi yang terjadi pada diri rasulullah saw,


sampai turun-temurun pada generasi selanjutnya hingga sekarang ini.
Sedang diantara sahabat nabi saw, yang mempratikkan ibadah dalam
bentuk tarekat ini adalah Hudzaifah Al-Yamani. Dan perkembangan sufi
ini kemudian dilanjutkan oleh para generasi dari kalangan Thabi’in, di

1 Moh. Saifulloh Al-aziz.Risalah Memahami Ilmu Tasawuf. (Gresik:Terbit Terang,1998), hlm. 49

6
antaranya adalah Imam Hasan Al-Basyri, seorang ulama besar Thabi’in
murid Hudzaifah Al-Yamani. Beliau inilah yang mendirikan pengajian
tasawuf di Basrah.

Pada abad-abad berikutnya ilmu tasawuf semakin berkembang


sejalan dengan perkembangan agama islam di berbagai belahan bumi.
Bahkan menurut sejarah, perkembangan agama islam ke Afrika, ke
segenap pelosok Asia ini, Asia kecil, Asia Timur, hingga ke negeri kita
Indonesia, semuanya dibawa oleh dai-dai islam dari kaum sufi. Pada
akhirnya ajaran tasawuf tersebar berkembang dengan cepat sejalan dengan
perkembangan agama islam itu sendiri. 2

Karena itu tidak heran bila kehidupan tasawuf tumbuh dan


berkembang bersamaan dengan agama Islam mulai sejak zaman nabi
Muhammad SAW diangkat secara resmi oleh Allah SWT sebagai
Rasulnya, kehidupan beliau sudah mencerminkan ciri-ciri dan perilaku
kehidupan sufi, dimana bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari beliau yang
sangat sederhana dan menderita, disamping menghabiskan waktunya
dalam beribadat dan bertaqarrub pada Tuhannya.
Dan seperti sudah sama-sama kita maklumi, sebelum beliau
menerima wahyu Allah pertama kali, beliau sudah seringkali melakukan
dakwa di gua Hira selama berbulan-bulan lamanya sampai beliau
menerima wahyu pertama saat diangkat oleh Allah sebagai Rasul pada
tanggal 17 Ramadhan tahun pertama kenabian.3
Setelah beliau resmi diangkat sebagai Nabi utusan Allah SWT,
keadaan dan cara hidup beliau masih ditandai oleh jiwa dan suasana
kerakyatan, meskipun belliau berada dalam lingkaran keadaan hidup yang
serba dapat terpenuhi semua keinginan lantaran kekuasaannya sebagai
Nabi yang menjadi kekasih Tuannya. Pada waktu malam sedikit sekali
tidu, waktunya dihabiskan untuk tahajjud kepada Allah dengan
memperbanyak dzikir kepada-Nya.

2 Keterangan ini dirangkum dari buku Moh. Toriqqudin, sekularitas Tasawuf, Membumikan
Tasawuf dalam Dunia Modern, (Yogyakart: UIN- Malang Press, 2008), hlm.35-4

3 Moh. Saifulllo Al-aziz. Op.cit. hlm. 50-51

7
Kehidupan beliau dalam rumah tangganya yang amat sederhana
memberikan contoh bagi sahabatnya dalam hidup sederhana dan
meninggalkan kehidupan bermewah-mewah. Demikianlah contoh yang
diberikan oleh manusia termulia dan pemimpin manusia tertinggi ini,
untuk membuka mata sahabat-sahabatnya melihat, untuk apa sebenarnya
manusia itu hidup.
Didikan yang dibawa Nabi Muhammad SAW memang bukan
hanya sekedar pengajaran semata-mata. Beliau memberi contoh dengan
perbuatan dan tingkah lakunya, bukan hanya ia menyuruh atau
menganjurkan yang ia sendiri tidak melakukannya.4
Memang prinsip hidup sederhana semacam itulah yang sangat
menonjol dalam kehidupan nabi dan prinsip ini pula yang sangat dipegang
teguh dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan beliaupun
sempat memberikan ajaran tentang batas antara kaya dan miskin.
Gambaran kehidupan shufi yang telah dipraktekkan langsung ole Nabi
sangat berpengaruh pada kehidupan para sahabatnya, dapatlah dilihat dari
suasana sederhana dan bahkan serba kekurangan, tetapi dalam diri mereka
kehidupan para sahabat beliau yang hidup secara sangat memancar sinar
kesemangatan beribadah. Hal ini tampak dalam kehidupan para sahabat
beliau seperti Abu Hurairah, Salman Al-Farisi, Abu Bakar, Umar bin
Khattab, Ali bin Abi Talin, Ustman biin Affan.
Pengasingan diri Nabi SAW digua Hira ini merupakan acuan utama
para sufi dalam melakukan khalawat. Kemudian puncak kedekatan Nabi
SAW dengan Allah SWT tercapai ketika melakukan Isra Mikraj. Di dalam
Isra Mikraj itu nabi SAW telah sampai ke Sidratulmuntaha (tempat
terakhir yang dicapai nabi ketika mikraj di langit ke tujuh), bahkan telah
sampai kehadiran Ilahi dan sempat berdialog dgn Allah. Dialog ini terjadi
berulang kali, dimulai ketika nabi SAW menerima perintah dari Allah
SWT tentang kewajiban shalat lima puluh kali dalam sehari semalam. Atas
usul nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW memohon agar jumlahnya
diringankan dengan alasan umatnya nanti tidak akan mampu
melaksanakannya. Kemudian Nabi Muhammad SAW terus berdialog

4 Ahmad Bangun Nasution. Rayani Hanum Siregar. Akhlak Tasawuf. (Depok:Raja Grafindo
Persada. 2013)hlm. 17

8
dengan Allah SWT. Keadaan demikian merupakan benih yang
menumbuhkan sufisme dikemudian hari.

Perikehidupan (sirah) nabi Muhammad SAW juga merupakan


benih-benih tasawuf yaitu pribadi nabi SAW yang sederhana, zuhud, dan
tidak pernah terpesona dengan kemewahan dunia. Dalam salah satu
Doanya ia memohon: ”Wahai Allah, Hidupkanlah aku dalam kemiskinan
dan matikanlah aku selaku orang miskin” (HR.at-Tirmizi, Ibnu Majah dan
al-Hakim).

“Pada suatu waktu Nabi SAW datang kerumah istrinya, Aisyah


binti Abu Bakar as-Siddiq. Ternyata dirumahnya tidak ada makanan.
Keadaan ini diterimanya dengan sabar, lalu ia menahan lapar dengan
berpuasa” (HR.Abu Dawud, at-Tirmizi dan an-Nasa-i) .

Ibadah Nabi Muhammad SAW. Ibadah nabi SAW juga sebagai


cikal bakal tasawuf. Nabi SAW adalah orang yang paling tekun beribadah.
Dalam satu riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam
nabi SAW mengerjakan shalat malam, didalam salat lututnya bergetar
karena panjang dan banyak rakaat salatnya. Tatkala rukuk dan sujud
terdengar suara tangisnya namun beliau tetap melaksanakan salat sampai
azan Bilal bin Rabah terdengar diwaktu subuh. Melihat nabi SAW
demikian tekun melakukan salat, Aisyah bertanya: ”Wahai Junjungan,
bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang diampuni Allah,
mengapa engkau masih terlalu banyak melakukan salat?” nabi SAW
menjawab:” Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur”
(HR.Bukhari dan Muslim).

Selain banyak salat nabi SAW banyak berzikir. Beliau berkata:


“Sesungguhnya saya meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepada-
Nya setiap hari tujuh puluh kali” (HR.at-Tabrani).

Dalam hadis lain dikatakan bahwa Nabi SAW meminta ampun


setiap hari sebanyak seratus kali (HR.Muslim). Selain itu nabi SAW
banyak pula melakukan iktikaf dalam mesjid terutama dalam bulan
Ramadan.

9
Akhlak Nabi Muhammad SAW. Akhlak nabi SAW merupakan
acuan akhlak yang tidak ada bandingannya. Akhlak nabi SAW bukan
hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah SWT. Hal ini dapat
dilihat dalam firman Allah SWT yang artinya: “Dan sesungguhnya kami
(Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS.Al Qalam:4)
ketika Aisyah ditanya tentang Akhlak Nabi SAW, Beliau menjawab:
Akhlaknya adalah Al-Qur’an”(HR.Ahmad dan Muslim). Tingkah laku
nabi tercermin dalam kandungan Al-Qur’an sepenuhnya.

Dalam diri nabi SAW terkumpul sifat-sifat utama, yaitu rendah


hati, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar,
tidak angkuh, santun dan tidak mabuk pujian. Nabi SAW selalu berusaha
melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya dan tidak pernah
berputus asa dalam berusaha.

Oleh karena itu, Nabi SAW merupakan tipe ideal bagi seluruh
kaum muslimin, termasuk pula para sufi. Hal ini sesuai dengan firman
Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:”Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat
dan dia banyak menyebut nama Allah.”.

10
B. TASAWUF DI MASA SAHABAT
Sumber lain yang menjadi sumber acuan oleh para sufi adalah
kehidupan para sahabat yang berkaitan dengan keteguhan iman,
ketakwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh karena setiap orang
yang meneliti kehidupan rohani dalam islam tidak dapat mengabaikan
kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi
diabad-abad sesudahnya.

Kehidupan para sahabat dijadikan acuan oleh para sufi karena para
sahabat sebagai murid langsung Rasulullah SAW dalam segala perbuatan
dan ucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi Muhammad
SAW. Oleh karena itu perilaku kehidupan mereka dapat dikatakan sama
dengan perilaku kehidupan Nabi SAW, kecuali hal-hal tertentu yang
khusus bagi Nabi SAW. Setidaknya kehidupan para sahabat adalah
kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang dicontohkan oleh
Nabi Muhammad SAW karena mereka menyaksikan langsung apa yang
diperbuat dan dituturkan oleh Nabi SAW. Oleh karena itu Al-Qur’an
memuji mereka: ” Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk
islam) diantara orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun
ridha kepada Allah dan Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-
lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At Taubah:100).

Para sahabat juga mencontohi kehidupan rasulullah yang serba


sederhana, dimana hidupnya hanya semata-mata diabdikan kepada Tuhan-
Nya. Beberapa sahabat yang tergolong sufi di abad pertama, dan
berfungsi maha guru bagi pendatang dari luar kota Madinah, yang tertarik
pada kehidupan sufi antara lain :

a. Abu Bakar Ash-Shiddiq


b. Umar Bin Khattab
c. Ustman Bin Affan
d. Ali Bin Abi Thalib

11
e. Salman Al-Farisyi
f. Abu Zar Al-Ghifari
g. Ammar Bin Yasir
h. Hudzaifah Bin Al-Yaman
i. Niqdad Bin Aswad5
Tentang keutamaan pribadi para sahabat, telah banyak dicatat
didalam sejarah, mreka telah meneladani langsung perilaku atau pribadi
Nabi Muhammad SAW. Sebab pribadi mereka telah digembleng dan
dikaderkan oleh Rasulullah SAW agar menjadi manusia-manusia utama
yang akan dicontoh dan ditiru oleh ummat yang dibelakang mereka.
Para sahabat tetap berpegang teguh kepada ajaran Al-Qur’an dan
telah meneladan Rasulullah SAW yang telah baru saja meninggalkan
mereka atau baru saja menghilang ditengan-tenga mereka.

Ciri-ciri tasawuf di masa sahabat adalah :

1) Memegang teguh ajaran kerohanian yang dipetik dari Al-Qur’an


2) Meneladani peri hidup Rasulullah SAW sepenuhnya

C. TASAWUF DI MASA TABI’I


Ulama sufi dari kalangan tab’in, adalah murid dari ulama-ulama
sufi dari kalangan sahabat. Ada beberapa tokoh-tokoh ulama sufi tabi’in
antara lain :

1. Al-Hasan Al-Bashri hidup tahun 22 H-110 H


2. Rabi’ah Al-Adawiyah, wafat tahun 105 H
3. Sufyan bin Said Ats-Tsaury hidup tahun 97 H-161 H

5 Ahmad Bangun Nasution dan Royani Hanum Siregar.Op.cit hlm.19

12
1. Abad ketiga dan Keempat Hijriyah
a) Perkembangan Tasawuf pada abad ketiga Hijriyah
Pada abad ini, terlihat perkembangan tasawuf pesat, ditandai dengan
adanya segolongan ahli tasawuf yang mencoba memiliki inti ajaran
tasawuf yang berkembang masa itu.
b) Perkembangan Tasawuf pada abad keempat Hijriyah
Pada abad ini, ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih
pesat dibandingkan dengan kenajuannya di abad ketiga hijriyah karena
usaha maksimal para ulama tasawuf untuk mengembangkan ajaran
tasawuf masing-masing. Upaya untuk mengembangkan ajaran tasawuf
di luar kota Baghdad. Perkembangan tasawuf di berbagai negeri dan
kota tidak mengurangi perkembangantasawuf di kota Baghdad.
2. Pada Abad Kelima Hijriyah
Di samping adanya pertentangan yang turun temukan antara ulama sufi
dengan ulama fiqh, maka abadd kelima ini, keadaan semakin rawan ketika
berkembang mazhab syiah ismailiyah yaitu, suatu mazhab(paham) yang
hendak mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keturunan Ali bin
Abi Thalib
3. Abad Keenam,Ketujuh, dan Kedelapan Hijriyah
Perkembangan Tasawuf pada abad keenam hijriyah banyak ulama tasawuf
yang sangat berpengaruh dalam perkembangan tasawuf abad ini adalah
Syihabuddin abul Futu As-suhrawardy wafat tahun 587 H/1191 M. Ia
mula-mula belajar filsafat dan ushulul fiqh pada Asy-syekh Al-Iman
Majdudin Al-Jily di Aleppo, bahkan sebagai besar ulama dari berbagai
disiplin ilmu agama di negeri itu, telah dikunjungi untuk menimba ilmu
pengetahuan dari mereka.
4. Pada Abad Kesembilan, Kespuluh dan sesudahnya
Di sini tasawuf sangat sunyi di dunia Islam, berarti nasibnya lebi buruk
lagi dari keadaannya pada abad keenam,ketujuh,kedelapan Hijriyah.

13
Faktor yang menonjol menyebabkan runtuhnya ajaran tasawuf di dunia
Islam, yaitu :
a) Karena memang ahli tasawuf sudah kehilangan kepercayaan di
kalangan masyarakat Islam, sebab banyak di antara mereka yang
terlalu menyimpang di ajaran Islam yang sebenarnya.
b) Karena ketika itu, penjajah bangsa Eropa yang beragama nasrani
sudah mengusai seluruh negeri Islam. Tentu paham-paham selalu
dibawa dan digunakan untuk menghancurkan ajaran tasawuf yang
sangat bertentangan dengan pahamnya.6

6 Ahmad Bangun Nasution dan Royani Hanum Siregar. Op.cit.hlm 21-23

14
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Sejarah pertumbuan tasawuf dalam islam maka sesungguhnya
pertumbuhan dan perkembangna tasawuf itu sama saja dengan
pertumbuhan dan perkembangan Islam itu sendiri. Hal ini mengingat
keberadaan tasawuf adalah sama dengan keberadaan agama Islam itu
sendiri. Karena pada hakiaktnya agama Islam itu ajarannya hampir
bisa dikatakan bercorak tasawuf
2. Kehidupan para sahabat dijadikan acuan oleh para sufi karena para
sahabat sebagai murid langsung Rasulullah SAW dalam segala
perbuatan dan ucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi
Muhammad SAW. Oleh karena itu perilaku kehidupan mereka dapat
dikatakan sama dengan perilaku kehidupan Nabi SAW, kecuali hal-hal
tertentu yang khusus bagi Nabi SAW.
3. Setelah periode sahabat, dalam sejarah perkembangannya, ajaran
kaum sufi dapat dibedakan ke dalam beberapa periode, yang setiap
periode mempunyai karakteristik masing-masing. Periode tersebut
adalah: (1)Abad pertama dan kedua Hijriah, (2) abad ketiga dan
keempat Hijriah, dan (4) abad keenam dan seterusnya.

B. SARAN
1. Menjadikan Makalah ini sebagai sarana yang dapat mendorong
para mahasiswa dan mahasiswi berfikir aktif dan kreatif
2. Untuk teman-temanku jika ingin menambah wawasan tentang
judul makalah kami, kami sarankan untuk membaca buku yang
berkaitan dengan “SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF DI
MASA RASULULLAH, SAHABAT, DAN TABI’I”
1.

15
2.

DAFTAR ISI
Ahmad Bangun Nasution dan Royani Hanum Siregar.Akhlak Tasawuf. 2013.
Jakarta:PT.Raja Gravindo Persada

Saifulloh Al-aziz ,Moh..Risalah Memahami Ilmu Tasawuf.1998.Gresik:Terbit


Terang.

Toriqqudin,Moh., sekularitas Tasawuf, Membumikan Tasawuf dalam Dunia


Modern,2008.Yogyakart: UIN- Malang Press

16