Anda di halaman 1dari 49

STANDAR

KOMPETENSI DOKTER SPESIALIS BEDAH INDONESIA

I. Pembukaan

Daftar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia pertama kali dimuat dalam Katalog
Pendidikan Bedah Tahun 1992, yang disahkan oleh Kolegium Ilmu Bedah Indonesia (KIBI)
yang kemudian direvisi pada tahun 1997. Katalog ini telah digunakan sebagai acuan untuk
pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) di setiap pusat Pendidikan Dokter
Spesialis di berbagai universitas di Indonesia.

Standar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia (SKDSBI) memerlukan revisi
secara berkala, mengingat perkembangan yang ada terkait sinergisme sistem pelayanan
kesehatan dengan sistem pendidikan dokter, perkembangan yang terjadi di masyarakat
serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.

Berdasarkan pengalaman institusi pendidikan kedokteran dalam mengimplementasikan
SKDSBI tersebut, ditemukan beberapa hal yang mendapatkan perhatian, sebagai berikut:
1. SKDSBI harus mengantisipasi kondisi pembangunan kesehatan di Indonesia dalam kurun
waktu 5 tahun ke depan. Sampai dengan tahun 2020, Mutual Recognition Arrangement
(MRA) masih menjadi tujuan yang harus dicapai dengan baik. Untuk itu, fokus
pencapaian kompetensi terutama dalam hal yang terkait dengan pelayanan bedah
elektif dan emergensi yang paripurna.
2. Tantangan profesi kedokteran masih memerlukan penguatan dalam aspek perilaku
profesional, mawas diri, dan pengembangan diri serta komunikasi efektif sebagai dasar
dari rumah bangun kompetensi dokter Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan hasil
pertemuan Konsil Kedokteran se-ASEAN yang memformulasikan bahwa karakteristik
dokter yang ideal, yaitu profesional, kompeten, beretika, serta memiliki kemampuan
manajerial dan kepemimpinan.
3. Dalam mengimplementasikan program elektif, institusi pendidikan kedokteran perlu
mengembangkan muatan lokal yang menjadi unggulan masing-masing institusi sehingga
memberikan kesempatan mobilitas peserta didik dokter spesialis bedah secara regional,
nasional, maupun global.
4. Secara teknis, sistematika SKDSBI bersifat menyempurnakan sistemika Katalog
Pendidikan Bedah Tahun 1997, yang susunannya merujuk pada panduan dari Konsil
Kedokteran Indonesia. Hal ini untuk memberikan arahan yang lebih jelas bagi institusi
pendidikan dokter spesialis bedah dalam menyusun kurikulum.
II. 2
Agar SKDSBI dapat diimplementasikan secara konsisten oleh institusi pendidikan dokter
spesialis bedah, maka berbagai sumber daya seperti dosen, tenaga kependidikan, sarana
dan prasarana serta pendanaan yang menunjang seluruh aktivitas perlu disiapkan secara
efektif dan efisien.

II. Pendahuluan

A. Sejarah
Pendidikan Dokter Spesialis Bedah di Indonesia dimulai sejak tahun 1942 dengan
konsep magang (bersifat instructional, institutional based). Sesuai konsep ini, seseorang
dinilai layak sebagai seorang ahli bedah setelah mengikuti senior dalam suatu kurun waktu
tertentu dan memperoleh brevet. Pendidikan seperti ini berlangsung hingga dibentuk suatu


lembaga yang mengatur perihal mengenai pendidikan bedah pada tahun 1967, yaitu Majelis
Nasional Penilai Ahli Bedah (MNPAB); bersamaan dengan berdirinya organisasi profesi ahli
bedah (Ikatan Ahli Bedah Indonesia, disingkat IKABI). Pada tahun 1977, Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bersama Departemen
Kesehatan, Majelis Ahli, Ikatan Dokter Indonesia dan Perhimpunan Dokter Ahli merumuskan
Sistem Pendidikan Tinggi Bidang Kedokteran (scientific curriculum) yang diterapkan pada
Katalog Program Studi Ilmu Bedah 1978. Pada perkembangan selanjutnya, MNPAB disebut
Kolegium Ilmu Bedah Indonesia (KIBI). Mulai pada tahun 1980, pendidikan dokter spesialis
bedah lebih mengarah pada suatu pendidikan formal bernuansa akademik (university
based) yang diwarnai nuansa akademik yang tidak lama kemudian mengacu ke suatu bentuk
pendidikan yang berorientasi pada masalah (problem based learning). Oleh karena itu, KIBI
menyusun Katalog Pendidikan Bedah Tahun 1992, kemudian direvisi pada tahun 1997, dan
penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis bedah dilakukan oleh universitas melalui
fakultas kedokteran dan rumah sakit pendidikan. Oleh karena itu disusunlah silabus dan
kurikulum pendidikan dokter spesialis bedah oleh KIBI dan program studi Pendidikan Dokter
Spesialis Bedah di berbagai universitas di Indonesia.

Pendidikan ilmu bedah mengalami perubahan pesat sejak ditetapkannya Undang-
undang no 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Melalui undang-undang ini,
Kolegium Ilmu Bedah Indonesia sebagai lembaga independen di bidang profesi bedah
menetapkan standar kompetensi dokter spesialis bedah dan pendidikan bedah di
Indonesia, menyusun kurikulum pendidikan bedah di tingkat nasional, melakukan regulasi
berkenaan dengan penerapan kurikulum, melakukan evaluasi, membina dan mendorong
pusat–pusat pendidikan untuk maju dan berkembang dalam penyelenggaraan program
pendidikan bedah di Indonesia. Dengan demikian KIBI menetapkan sistem pendidikan
dokter spesialis bedah berbasis kompetensi (competence based) dengan sistem modul pada
tahun 2006.

Selain itu terdapat pula perubahan pesat di dalam pendidikan spesialis dari berbagai
cabang keilmuan di dalam ilmu bedah, yaitu ilmu bedah ortopedi, urologi, ilmu bedah
plastik, ilmu bedah kardiotoraks, serta ilmu bedah anak dan pendidikan subspesialis, yaitu
bedah digestif, bedah onkologi, kepala dan leher, serta bedah vaskular. Perkembangan ini
telah mendorong peran dokter spesialis bedah (umum) memiliki kompetensi utama pada
bedah emergensi, baik trauma, maupun non trauma dan berbagai kompetensi bedah elektif
pada kasus-kasus penyakit bedah yang secara insidensi sangat tinggi dan dapat dilakukan di
semua kelas rumah sakit. Hal ini menyebabkan perubahan signifikan di dalam sistem
pelayanan bedah oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di berbagai fasilitas
kesehatan di Indonesia yang telah terbagi menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan tingkat I, II,
dan III.

Demikian pula dengan telah diterapkannya Sistem Jaminan Kesehatan Nasional dan
Sistem Rujukan Nasional pada tahun 2014 telah mengubah strategi dan pola pelayanan
bedah spesialis dan subspesialis. Dalam hal ini KIBI telah menetapkan bahwa seorang dokter
spesialis bedah umum memiliki peran mulai PPK 2 yaitu di rumah sakit kelas D, C, dan B,
2


sampai dengan PPK3 yaitu kelas A di Indonesia. Kompetensi utama dokter spesialis bedah
(umum) adalah melakukan perawatan berbagai penyakit dan kelainan bedah emergensi,
dan bedah elektif (80%) yang harus dilakukan secara tuntas di PPK1 dan PPK2. Dengan
diberlakukannya hal-hal tersebut di atas, KIBI telah melakukan berbagai kursus nasional bagi
para peserta didik sehingga pada tahun 2012 dilakukan revisi penyempurnaan kurikulum
berbasis kompetensi yang telah ditetapkan pada tahun 2006.

B. Latar belakang

Perubahan struktur dan sistem pendidikan kedokteran berjalan sangat cepat dalam satu
dasawarsa terakhir, sejalan dengan perubahan permasalahan di bidang kedokteran dan
kesehatan yang semakin pelik dan rumit. Perkembangan di bidang kesehatan dan
pendidikan di lingkup global menuntut pemerintah melalui Konsil Kedokteran Indonesia
mengeluarkan kebijakan yang dapat dijadikan standar dalam pelaksanaan program
pendidikan dokter. Kolegium Ilmu Bedah Indonesia sebagai stake holder (pemangku
kepentingan) utama dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah di Indonesia
dituntut pula untuk dapat terus mengembangkan struktur dan sistem pendidikan yang
dapat menjawab tantangan global tersebut.

Buku Standar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia ini disusun sebagai panduan
bagi semua pemangku kepentingan di dalam penyelenggaran pendidikan dokter spesialis
bedah (umum) di berbagai program studi di Indonesia sehingga kurikulum di berbagai pusat
pendidikan memiliki kurikulum inti yang sama (90%) dengan penambahan kurikulum lokal
tidak lebih dari 10 % dari kurikulum nasional dan diselesaikan minimal dalam 8 semester
yang secara total minimal mempunyai beban 72 SKS. Oleh karena itu, buku panduan
pendidikan dokter spesialis bedah (petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis) perlu
diterbitkan oleh Ketua Program Studi sebagai penyesuaian terhadap situasi dan kondisi
dari masing-masing pusat pendidikan.

C. Landasan hukum

Pasal 24 ayat 7 Undang-undang No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran,
menyebutkan Standar Nasional Pendidikan Kedokteran untuk standar pendidikan profesi
paling sedikit memuat: Standar kompetensi lulusan, standard isi, proses, rumah sakit
pendidikan, dosen, tenaga kependidikan, pembiayaan, dan penilaian.
Menurut Penjelasan Pasal 8 c UU RI No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran:
Standar Kompetensi disusun oleh Asosiasi Institusi pendidikan kedokteran dan asosiasi
institusi pendidikan kedokteran gigi serta kolegium kedokteran dan kolegium kedokteran
gigi.
Peraturan Pemerintah No 17 tahun 2010 sebagai kelanjutan dari Undang undang No 20
tahun 2003 tentang sistim pendidikan nasional, pada pasal 188 dinyatakan peran Kolegium
sebagai Institusi penjaga mutu pendidikan profesi.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no 49 tahun 2014,
PP No 4 Tahun 2014, tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan
3


Perguruan Tinggi, serta Permendikbud No 73 tahun 2013 tentang penyelenggaraan KKNI di
Perguruan Tinggi menetapkan bahwa Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah di
Indonesia diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri sebagai salah satu
Pendidikan Dokter Spesialis 1 (PDSp1) di bawah koordinasi Dekan, Kolegium Ilmu Bedah
Indonesia (KIBI) dan Direktur Rumah Sakit Pendidikan. Sedangkan gelar yang diraih pada
program pendidikan ini adalah Dokter Spesialis Bedah atau disingkat Sp.B.. Hal ini sesuai
dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no 154 tahun
2014 tentang Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Gelar Lulusan Perguruan
Tinggi.

D. Pengertian umum

Standar kompetensi adalah suatu dokumen yang terstruktur yang dapat menjadi acuan
kerja dalam melakukan suatu keahlian. Standar kompetensi dibutuhkan untuk mengukur
berbagai dimensi yang bila dipergunakan secara utuh, pelakunya telah dapat disebut
“kompeten”.
Setiap organisasi menggunakan standar kompetensi sebagai :
• Kerangka acuan untuk menilai bagaimana suatu keahlian dilakukan.
• Parameter apakah seseorang telah kompeten dalam melakukan tindakan keahlian.

E. Pengertian Standar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia

Standar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia (SKDSBI) merupakan standar
kompetensi minimal lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah di Indonesia.
SKDSBI juga menjadi acuan dalam pengembangan struktur pendidikan dan sistem evaluasi
uji kompetensi dokter spesialis bedah yang bersifat nasional.

F. Manfaat Standar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia

Pelayanan bedah yang paripurna dapat dicapai dengan mengacu pada SKDSBI. Berbagai
pemangku kepentingan yang mendapatkan manfaat dari Standar Kompetensi Dokter
Spesialis Bedah Indonesia adalah sebagai berikut :
• Kolegium Ilmu Bedah Indonesia sebagai organisasi profesi dapat mengukur kinerja
setiap institusi pendidikan yang mengampu program pendidikan dokter spesialis bedah
di Indonesia dari hasil keluaran yang diluluskan.
• Program studi pendidikan dokter spesialis sebagai institusi pendidikan dapat
mengembangkan kurikulum yang mengacu pada standar kompetensi yang telah
ditetapkan oleh KIBI.
• Lembaga akreditasi Perguruan Tinggi Kesehatan (LAMPTKes) dapat menjadikan standar
kompetensi sebagai salah satu parameter untuk mengukur kinerja institusi pendidikan.
• Rumah sakit sebagai pengguna lulusan dapat memperkerjakan seorang dokter spesialis
bila telah memenuhi standar kompetensi.
• Peserta didik program pendidikan dokter spesialis bedah dapat mengukur diri dalam
pencapaian kompetensi.
4


• Masyarakat umum akan merasa aman dan nyaman bila dilayani oleh rumah sakit yang
memperkerjakan dokter spesialis bedah yang kompeten.

III. Isi standar kompetensi dokter spesialis bedah

A. Sistematika standar kompetensi dokter spesialis bedah
Standar Kompetensi Dokter Indonesia terdiri atas 7 (tujuh) area kompetensi yang
diturunkan dari gambaran tugas, peran, dan fungsi dokter spesialis bedah. Setiap area
kompetensi ditetapkan definisinya, yang disebut kompetensi inti. Setiap area kompetensi
dijabarkan menjadi beberapa komponen kompetensi, yang dirinci lebih lanjut menjadi
kemampuan yang diharapkan di akhir pendidikan, seperti terlihat pada Gambar 1.
Misi dari SKDSBI adalah untuk menjamin kualitas dokter spesialis bedah sehingga
mampu bekerja profesional dengan mengacu standar global dalam memberikan pelayanan
bedah yang paripurna, bermutu, profesional dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat
sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.


Gambar 1. Skema Susunan Standar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia.

Standar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia ini dilengkapi dengan Daftar
Pokok Bahasan, Daftar Masalah, Daftar Penyakit, dan Daftar Keterampilan Klinis. Fungsi
utama keempat daftar tersebut sebagai acuan bagi institusi pendidikan dokter spesialis
bedah dalam mengembangkan kurikulum institusional.

Daftar Pokok Bahasan, memuat pokok bahasan dalam proses pembelajaran untuk
mencapai 7 area kompetensi. Materi tersebut dapat diuraikan lebih lanjut sesuai bidang
ilmu yang terkait, dan dipetakan sesuai dengan struktur kurikulum masing-masing institusi.

Daftar Masalah, berisikan berbagai masalah yang akan dihadapi dokter spesialis bedah.
Oleh karena itu, institusi pendidikan dokter spesialis bedah perlu memastikan bahwa selama


pendidikan, peserta didik dipaparkan pada masalah-masalah tersebut dan diberi
kesempatan berlatih menanganinya.

Daftar Penyakit, berisikan nama penyakit yang merupakan diagnosis banding dari masalah
yang dijumpai pada Daftar Masalah. Daftar Penyakit ini memberikan arah bagi institusi
pendidikan dokter spesialis bedah untuk mengidentifikasikan isi kurikulum. Pada setiap
penyakit telah ditentukan tingkat kemampuan yang diharapkan, sehingga memudahkan
bagi institusi pendidikan kedokteran untuk menentukan kedalaman dan keluasan dari isi
kurikulum.

Daftar Keterampilan Klinis, berisikan keterampilan klinis yang perlu dikuasai oleh dokter
spesialis bedah di Indonesia. Pada setiap keterampilan telah ditentukan tingkat kemampuan
yang diharapkan. Daftar ini memudahkan institusi pendidikan dokter spesialis bedah
Indonesia untuk menentukan materi dan sarana pembelajaran keterampilan klinis.

Kompetensi dibangun dengan pondasi yang terdiri atas profesionalitas yang luhur,
mawas diri dan pengembangan diri, serta komunikasi efektif, dan ditunjang oleh pilar
berupa pengelolaan informasi, landasan ilmiah ilmu bedah, keterampilan klinis, dan
pengelolaan masalah kesehatan (Gambar 2).
Oleh karena itu area kompetensi disusun dengan urutan sebagai berikut:
1. Profesionalitas yang Luhur (etika, moral, medikolegal dan profesionalisme serta
keselamatan pasien)
2. Mawas Diri dan Pengembangan Diri
3. Komunikasi Efektif
4. Pengelolaan Informasi
5. Landasan Ilmiah Ilmu Bedah
6. Keterampilan Klinis, proses pelatihan / training process, latihan dan pembelajaran
7. Pengelolaan Masalah Kesehatan


Gambar 2. Pondasi dan Pilar Kompetensi.


KOMPONEN KOMPETENSI

Area Profesionalitas yang Luhur
• Berke-Tuhanan Yang Maha Esa/Yang Maha Kuasa
6


• Bermoral, beretika dan disiplin
• Sadar dan taat hukum
• Berwawasan sosial budaya
• Berperilaku profesional

Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri
• Menerapkan mawas diri
• Mempraktikkan belajar sepanjang hayat
• Mengembangkan pengetahuan

Area Komunikasi Efektif
• Berkomunikasi dengan pasien dan keluarga
• Berkomunikasi dengan mitra kerja
• Berkomunikasi dengan masyarakat

Area Pengelolaan Informasi
• Mengakses dan menilai informasi dan pengetahuan
• Mendiseminasikan informasi dan pengetahuan secara efektif kepada profesional
kesehatan, pasien, masyarakat dan pihak terkait untuk peningkatan mutu pelayanan
kesehatan

Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran
• Menerapkan ilmu Biomedik, ilmu Humaniora, ilmu Kedokteran Klinik, dan ilmu
Kesehatan Masyarakat/ Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas yang terkini
untuk mengelola masalah kesehatan secara holistik dan komprehensif.

Area Keterampilan Klinis
• Melakukan prosedur diagnosis
• Melakukan prosedur penatalaksanaan yang holistik dan komprehensif

Area Pengelolaan Masalah Kesehatan
• Melaksanakan promosi kesehatan pada individu, keluarga dan masyarakat
• Melaksanakan pencegahan dan deteksi dini terjadinya masalah kesehatan pada
individu, keluarga dan masyarakat
• Melakukan penatalaksanaan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
• Memberdayakan dan berkolaborasi dengan masyarakat dalam upaya meningkatkan
derajat kesehatan
• Mengelola sumber daya secara efektif, efisien dan berkesinambungan dalam
penyelesaian masalah kesehatan
• Mengakses dan menganalisis serta menerapkan kebijakan kesehatan spesifik yang
merupakan prioritas daerah masing-masing di Indonesia

PENJABARAN KOMPETENSI

1. Profesionalitas yang Luhur

1.1. Kompetensi Inti
Mampu melaksanakan praktik kedokteran yang profesional sesuai dengan nilai dan
prinsip ke-Tuhan-an, moral luhur, etika, disiplin, hukum, dan sosial budaya.
1.2. Lulusan Dokter Spesialis Bedah Mampu


1. Berke-Tuhan-an (Yang Maha Esa/Yang Maha Kuasa)
• Bersikap dan berperilaku yang berke-Tuhan-an dalam praktik kedokteran
• Bersikap bahwa yang dilakukan dalam praktik kedokteran merupakan upaya
maksimal
2. Bermoral, beretika, dan berdisiplin
• Bersikap dan berperilaku sesuai dengan standar nilai moral yang luhur dalam
praktik kedokteran
• Bersikap sesuai dengan prinsip dasar etika kedokteran dan kode etik kedokteran
Indonesia
• Mampu mengambil keputusan terhadap dilema etik yang terjadi pada
pelayanan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
• Bersikap disiplin dalam menjalankan praktik kedokteran dan bermasyarakat
3. Sadar dan taat hukum
• Mengidentifikasi masalah hukum dalam pelayanan kedokteran dan memberikan
saran cara pemecahannya
• Menyadari tanggung jawab dokter dalam hukum dan ketertiban masyarakat
• Taat terhadap perundang-undangan dan aturan yang berlaku
• Membantu penegakkan hukum serta keadilan
4. Berwawasan sosial budaya
• Mengenali sosial-budaya-ekonomi masyarakat yang dilayani
• Menghargai perbedaan persepsi yang dipengaruhi oleh agama, usia, gender,
etnis, difabilitas, dan sosial-budaya-ekonomi dalam menjalankan praktik
kedokteran dan bermasyarakat
• Menghargai dan melindungi kelompok rentan
• Menghargai upaya kesehatan komplementer dan alternatif yang berkembang di
masyarakat multikultur
5. Berperilaku profesional
• Menunjukkan karakter sebagai dokter yang profesional
• Bersikap dan berbudaya menolong
• Mengutamakan keselamatan pasien
• Mampu bekerja sama intra- dan interprofesional dalam tim pelayanan
kesehatan demi keselamatan pasien
• Melaksanakan upaya pelayanan kesehatan dalam kerangka sistem kesehatan
nasional dan global


2. Mawas Diri dan Pengembangan Diri

2.1. Kompetensi Inti
• Mampu melakukan praktik kedokteran dengan menyadari keterbatasan,
mengatasi masalah personal, mengembangkan diri, mengikuti penyegaran dan
peningkatan pengetahuan secara berkesinambungan serta mengembangkan
pengetahuan demi keselamatan pasien.
2.2. Lulusan Dokter Spesialis Bedah Mampu
1. Menerapkan mawas diri
• Mengenali dan mengatasi masalah keterbatasan fisik, psikis, sosial dan budaya
diri sendiri
• Tanggap terhadap tantangan profesi
• Menyadari keterbatasan kemampuan diri dan merujuk kepada yang lebih
mampu


• Menerima dan merespons positif umpan balik dari pihak lain untuk
pengembangan diri
2. Mempraktikkan belajar sepanjang hayat
• Menyadari kinerja profesionalitas diri dan mengidentifikasi kebutuhan belajar
untuk mengatasi kelemahan
• Berperan aktif dalam upaya pengembangan profesi
3. Mengembangkan pengetahuan baru
• Melakukan penelitian ilmiah yang berkaitan dengan masalah kesehatan pada
individu, keluarga dan masyarakat serta mendiseminasikan hasilnya


3. Komunikasi Efektif

3.1. Kompetensi Inti
• Mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal dan nonverbal dengan
pasien pada semua usia, anggota keluarga, masyarakat, kolega, dan profesi lain.
3.2. Lulusan Dokter Spesialis Bedah Mampu
1. Berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya
• Membangun hubungan melalui komunikasi verbal dan nonverbal
• Berempati secara verbal dan nonverbal
• Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti
• Mendengarkan dengan aktif untuk menggali permasalahan kesehatan secara
holistik dan komprehensif
• Menyampaikan informasi yang terkait kesehatan (termasuk berita buruk,
informed consent) dan melakukan konseling dengan cara yang santun, baik dan
benar
• Menunjukkan kepekaan terhadap aspek biopsikososiokultural dan spiritual
pasien dan keluarga
2. Berkomunikasi dengan mitra kerja (sejawat dan profesi lain)
• Melakukan tatalaksana konsultasi dan rujukan yang baik dan benar
• Membangun komunikasi interprofesional dalam pelayanan kesehatan
• Memberikan informasi yang sebenarnya dan relevan kepada penegak hukum,
perusahaan asuransi kesehatan, media massa dan pihak lainnya jika diperlukan
• Mempresentasikan informasi ilmiah secara efektif
3. Berkomunikasi dengan masyarakat
• Melakukan komunikasi dengan masyarakat dalam rangka mengidentifikasi
masalah kesehatan dan memecahkannya bersama-sama
• Melakukan advokasi dengan pihak terkait dalam rangka pemecahan masalah
kesehatan individu, keluarga dan masyarakat.

4. Pengelolaan Informasi

4.1. Kompetensi Inti
1. Mampu memanfaatkan teknologi informasi komunikasi dan informasi kesehatan
dalam praktik kedokteran.
4.2. Lulusan Dokter Spesialis Bedah Mampu
1. Mengakses dan menilai informasi dan pengetahuan
• Memanfaatkan teknologi informasi komunikasi dan informasi kesehatan untuk
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan


• Memanfaatkan keterampilan pengelolaan informasi kesehatan untuk dapat
belajar sepanjang hayat
2. Mendiseminasikan informasi dan pengetahuan secara efektif kepada profesi
kesehatan lain, pasien, masyarakat dan pihak terkait untuk peningkatan mutu
pelayanan kesehatan
• Memanfaatkan keterampilan pengelolaan informasi untuk diseminasi informasi
dalam bidang kesehatan.

5. Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran

5.1. Kompetensi Inti
1. Mampu menyelesaikan masalah kesehatan berdasarkan landasan ilmiah ilmu
kedokteran dan kesehatan yang mutakhir untuk mendapat hasil yang optimum.
5.2. Lulusan Dokter Spesialis Bedah Mampu

1. Menerapkan ilmu Biomedik, ilmu Humaniora, ilmu Kedokteran Klinik, dan ilmu
Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas yang
terkini untuk mengelola masalah kesehatan secara holistik dan komprehensif.
2. Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik, ilmu Humaniora, ilmu Kedokteran
Klinik, dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran
Komunitas yang berhubungan dengan promosi kesehatan individu, keluarga, dan
masyarakat
3. Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik, ilmu Humaniora, ilmu Kedokteran
Klinik, dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran
Komunitas yang berhubungan dengan prevensi masalah kesehatan individu,
keluarga, dan masyarakat
4. Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik, ilmu Humaniora, ilmu Kedokteran
Klinik, dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran
Komunitas untuk menentukan prioritas masalah kesehatan pada individu,
keluarga, dan masyarakat
5. Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik, ilmu Humaniora, ilmu Kedokteran
Klinik, dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran
Komunitas yang berhubungan dengan terjadinya masalah kesehatan individu,
keluarga, dan masyarakat
6. Menggunakan data klinik dan pemeriksaan penunjang yang rasional untuk
menegakkan diagnosis
7. Menggunakan alasan ilmiah dalam menentukan penatalaksanaan masalah
kesehatan berdasarkan etiologi, patogenesis, dan patofisiologi
8. Menentukan prognosis penyakit melalui pemahaman prinsip-prinsip ilmu
Biomedik, ilmu Humaniora, ilmu Kedokteran Klinik, dan ilmu Kesehatan
Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas
9. Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik, ilmu Humaniora, ilmu Kedokteran
Klinik, dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran
Komunitas yang berhubungan dengan rehabilitasi medik dan sosial pada individu,
keluarga dan masyarakat
10. Menerapkan prinsip-prinsip ilmu Biomedik, ilmu Humaniora, ilmu Kedokteran
Klinik, dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran
Komunitas yang berhubungan dengan kepentingan hukum dan peradilan

10


11. Mempertimbangkan kemampuan dan kemauan pasien, bukti ilmiah kedokteran,
dan keterbatasan sumber daya dalam pelayanan kesehatan untuk mengambil
keputusan

6. Keterampilan Klinis

6.1. Kompetensi Inti
1. Mampu melakukan prosedur klinis yang berkaitan dengan masalah kesehatan
dengan menerapkan prinsip keselamatan pasien, keselamatan diri sendiri, dan
keselamatan orang lain.
6.2. Lulusan Dokter Spesialis Bedah Mampu
1. Melakukan prosedur diagnosis
• Melakukan dan menginterpretasi hasil auto-, allo- dan hetero-anamnesis,
pemeriksaan fisik umum dan khusus sesuai dengan masalah pasien
• Melakukan dan menginterpretasi pemeriksaan penunjang dasar dan
mengusulkan pemeriksaan penunjang lainnya yang rasional
2. Melakukan prosedur penatalaksanaan masalah kesehatan secara holistik
dankomprehensif
• Melakukan edukasi dan konseling
• Melaksanakan promosi kesehatan
• Melakukan tindakan medis preventif
• Melakukan tindakan medis kuratif
• Melakukan tindakan medis rehabilitatif
• Melakukan prosedur proteksi terhadap hal yang dapat membahayakan diri
sendiri dan orang lain
• Melakukan tindakan medis pada kedaruratan klinis dengan menerapkan prinsip
keselamatan pasien
• Melakukan tindakan medis dengan pendekatan medikolegal terhadap masalah
kesehatan/kecederaan yang berhubungan dengan hukum

7. Pengelolaan Masalah Kesehatan

7.1. Kompetensi Inti
1. Mampu mengelola masalah kesehatan individu, keluarga maupun masyarakat
secara komprehensif, holistik, terpadu dan berkesinambungan dalam konteks
pelayanan kesehatan primer dan sekunder.
7.2. Lulusan Dokter Spesialis Bedah Mampu
1. Melaksanakan promosi kesehatan pada individu, keluarga dan masyarakat
• Mengidentifikasi kebutuhan perubahan pola pikir, sikap dan perilaku, serta
modifikasi gaya hidup untuk promosi kesehatan pada berbagai kelompok umur,
agama, masyarakat, jenis kelamin, etnis, dan budaya
• Merencanakan dan melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi
kesehatan di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat
2. Melaksanakan pencegahan dan deteksi dini terjadinya masalah kesehatan pada
individu, keluarga dan masyarakat
• Melakukan pencegahan timbulnya masalah kesehatan
• Melakukan kegiatan penapisan faktor risiko penyakit laten untuk mencegah
dan memperlambat timbulnya penyakit
• Melakukan pencegahan untuk memperlambat progresi dan timbulnya
komplikasi penyakit dan atau kecacatan

11


3. Melakukan penatalaksanaan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
• Menginterpretasi data klinis dan merumuskannya menjadi diagnosis
• Menginterpretasi data kesehatan keluarga dalam rangka mengidentifikasi
masalah kesehatan keluarga
• Menginterpretasi data kesehatan masyarakat dalam rangka mengidentifikasi
dan merumuskan diagnosis komunitas
• Memilih dan menerapkan strategi penatalaksanaan yang paling tepat
berdasarkan prinsip kendali mutu, biaya, dan berbasis bukti
• Mengelola masalah kesehatan secara mandiri dan bertanggung jawab (lihat
Daftar Pokok Bahasan dan Daftar Penyakit) dengan memperhatikan prinsip
keselamatan pasien
• Mengkonsultasikan dan/atau merujuk sesuai dengan standar pelayanan medis
yang berlaku (lihat Daftar Penyakit)
• Membuat instruksi medis tertulis secara jelas, lengkap, tepat, dan dapat dibaca
• Membuat surat keterangan medis seperti surat keterangan sakit, sehat,
kematian, laporan kejadian luar biasa, laporan medikolegal serta keterangan
medis lain sesuai kewenangannya termasuk visum et repertum dan identifikasi
jenasah
• Menulis resep obat secara bijak dan rasional (tepat indikasi, tepat obat, tepat
dosis, tepat frekwensi dan cara pemberian, serta sesuai kondisi pasien), jelas,
lengkap, dan dapat dibaca.
• Mengidentifikasi berbagai indikator keberhasilan pengobatan, memonitor
perkembangan penatalaksanaan, memperbaiki, dan mengubah terapi dengan
tepat
• Menentukan prognosis masalah kesehatan pada individu, keluarga, dan
masyarakat
• Melakukan rehabilitasi medik dasar dan rehabilitasi sosial pada individu,
keluarga, dan masyarakat
• Menerapkan prinsip-prinsip epidemiologi dan pelayanan kedokteran secara
komprehensif, holistik, dan berkesinambungan dalam mengelola masalah
kesehatan
• Melakukan tatalaksana pada keadaan wabah dan bencana mulai dari
identifikasi masalah hingga rehabilitasi komunitas
4. Memberdayakan dan berkolaborasi dengan masyarakat dalam upaya
meningkatkan derajat kesehatan
• Memberdayakan dan berkolaborasi dengan masyarakat agar mampu
mengidentifikasi masalah kesehatan aktual yang terjadi serta mengatasinya
bersama-sama
• Bekerja sama dengan profesi dan sektor lain dalam rangka pemberdayaan
masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan
5. Mengelola sumber daya secara efektif, efisien dan berkesinambungan dalam
penyelesaian masalah kesehatan
• Mengelola sumber daya manusia, keuangan, sarana, dan prasarana secara
efektif dan efisien
• Menerapkan manajemen mutu terpadu dalam pelayanan kesehatan primer
dan sekunder dengan pendekatan kedokteran klinik
• Menerapkan manajemen kesehatan dan institusi layanan kesehatan
6. Mengakses dan menganalisis serta menerapkan kebijakan kesehatan spesifik yang
merupakan prioritas daerah masing-masing di Indonesia

12


• Menggambarkan bagaimana pilihan kebijakan dapat memengaruhi program
kesehatan masyarakat dari aspek fiskal, administrasi, hukum, etika, sosial, dan
politik.


B. Standar kompetensi dokter spesialis bedah

KIBI melakukan revisi silabus dan kurikulum nasional pada tahun 2015 sehingga
menyesuaikan dengan perkembangan berbagai undang-undang dan peraturan yang berlaku
saat ini.
SKDSBI ini disusun sebagai panduan bagi semua pemangku kepentingan di dalam
penyelenggaran pendidikan dokter spesialis bedah di berbagai program studi di Indonesia
sehingga kurikulum di berbagai pusat pendidikan memiliki kurikulum inti yang sama (90%)
dengan penambahan kurikulum lokal tidak lebih dari 10 % dari kurikulum nasional dan
diselesaikan minimal dalam 8 semester yang secara total minimal mempunyai beban 72
SKS.

i. Tahapan Pencapaian Kompetensi Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah



Pencapaian Kompetensi Spesialis bedah
Pencapaian Kompetensi sebagai spesialis bedah akan didapatkan melalui proses
pendidikan dua tahap yaitu tahap bedah dasar dan tahap bedah lanjut.


TAHAP BEDAH DASAR

Kompetensi yang harus dicapai pada tahap ini adalah kompetensi pada ranah kognitif
pada berbagai masalah dan penyakit bedah dan prosedur bedah esensial bagi dokter
spesialis bedah umum pada berbagai cabang ilmu bedah. Oleh karena itu tahap ini diikuti
oleh para peserta didik dari berbagai program studi dokter spesialis I dalam rumpun ilmu
bedah. Untuk mencapai hal tersebut, tahap ini terdiri dari 2 tahap yaitu kursus pra bedah
dasar dan rotasi klinik bedah dasar.

TAHAP PRA BEDAH DASAR

Ranah kompetensi kognitif :

1. Ilmu Dasar Bedah

1.1. Batasan
Ilmu dasar yang menjadi landasan dan relevan dengan ilmu bedah yaitu prinsip anatomi,
fisiologi, patologi, mikrobiologi, farmakologi, serta radioanatomi.

1.2. Tujuan Umum:

Setelah mengikuti kegiatan ini, peserta PPDS akan mampu menjelaskan tentang
anatomi dan fisiologi terapan pada ilmu bedah, patologi penyakit dan kelainan bedah,
mikrobiologi pada infeksi bedah, farmakologi, radioanatomi yang relevan dengan
13


penyakit bedah, serta menerapkannya pada prinsip-prinsip penatalaksanaan bedah.
(K2)

1.3. Materi:
1.3.1. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Bedah
1.3.2. Konsep Dasar Mekanisme Penyakit Bedah
1.3.3. Pengantar Anatomi Bedah
1.3.3.1. Embriologi dan tumbuh kembang
1.3.3.2. Anatomi permukaan tubuh
1.3.3.3. Anatomi berbagai sistem organ
1.3.3.4. Anatomi pencitraan (Imaging Anatomy)

1.3.4. Fisiologi:
1.3.4.1. Fisiologi dasar sel: Integrasi dan Koordinasi
1.3.4.2. Homeostasis & Mekanisme kontrol
1.3.4.3. Integrasi fungsi organ
1.3.4.4. Metabolisme dan Termoregulasi
1.3.4.5. Perdarahan dan syok hipovolemia
1.3.4.6. Keseimbangan cairan dan elektrolit, dan terapi cairan perioperatif
1.3.4.7. Keseimbangan dan gangguan asam basa
1.3.4.8. Hemostasis: Perdarahan, Koagulasi, dan Transfusi Darah
1.3.4.9. Nutrisi perioperatif

1.3.5.Patologi:
1.3.5.1. Cidera sel (Cell Injury).
1.3.5.2. Nekrosis dan apoptosis
1.3.5.3. Trauma
1.3.5.4. Imunologi dasar
1.3.5.5. Penyakit autoimun
1.3.5.6. Inflamasi, SIRS, dan MODS
1.3.5.7. Respon intestinal dan hepar pada trauma
1.3.5.8. Respon endokrin dan metabolisme pada trauma
1.3.5.9. Respon imun pada trauma
1.3.5.10. Penyembuhan luka, Jaringan dan Fibrosis
1.3.5.11. Infeksi, dan Sepsis
1.3.5.12. Penyakit Vaskuler
1.3.5.13. Kelainan pertumbuhan, diferensiasi dan morfogenesis.
1.3.5.14. Genetika:

1.3.5.14.1. Klasifikasi otosomal resesif, dominan dan sex linked


recessive
1.3.5.14.2. Klasifikasi sex linked dominan & multigenik
1.3.5.14.3. Genetik molekuler
1.3.5.14.4. Farmakogenetik

14


1.3.5.15. Genetika molekuler pada Neoplasma: genom DNA, Siklus Sel,
Apoptosis, Telomer.
1.3.5.16. Patogenesis dan Biologi Neoplasma: defek gen, aktivasi proto-
onkogen, inaktivasi gen supresor, inisiasi, promosi, progresi,
metastasis, dan sindroma paraneoplastik.
1.3.5.17. Klasifikasi Neoplasma
1.3.5.18. Gradasi histopatologi dan stadium pada kanker
1.3.5.19. Respon imun pada kanker
1.3.5.20. Prinsip pemeriksaan histopatologi, potong beku, dan
immunohistokimia.

1.3.6.Mikrobiologi:
1.3.6.1. Diversifikasi mikroorganisme pada infeksi bedah (akut dan kronik)
1.3.6.2. Patogenesis infeksi bakterial, infeksi lokal dan sepsis
1.3.6.3. Infeksi pada jaringan lunak: selulitis, abses, fasciitis nekrotikans,
gas gangren.
1.3.6.4. Infeksi nosokomial dan Surgical Site Infection
1.3.6.5. Respon imun pada infeksi bedah
1.3.6.6. Genetika dan Biologi molekuler mikroorganisme
1.3.6.7. Antimikroba
1.3.6.8. Kontrol terhadap mikroorganisme dan mekanisme resistensi
antibiotika pada mikroorganisme
1.3.6.9. Prinsip-prinsip pencegahan infeksi: disinfeksi, sterilisasi, tindakan
a dan anti septik.

1.3.7.Farmakologi:
1.3.7.1. Farmakologi pada kasus bedah trauma: analgetik, antibiotika,
obat kardiovaskular, dan obat anesthesia.
1.3.7.2. Farmakologi pada kasus bedah sepsis
1.3.7.3. Terapi rasional antibiotik pada infeksi bedah: terapeutik empirik
dan profilaksis
1.3.7.4. Farmakologi antibiotika pada pasien-pasien kritis
1.3.7.5. Farmakologi obat-obat inotropik dan vasoaktif pada pasien kritis
1.3.7.6. Farmakologi kemoterapi
1.3.7.7. Farmakologi obat anti epilepsi, anti koagulan, dan penyakit
endokrin.

1.3.8.Radioanatomi:
1.3.8.1. Radioanatomi organ pada foto sinar X dengan dan tanpa zat
kontras
1.3.8.2. Radioanatomi organ pada pemeriksaan ultrasonografi
1.3.8.3. Radioanatomi organ pada pemeriksaan CT Scan
1.3.8.4. Radioanatomi organ pada pemeriksaan MRI

15


2. Ilmu Bedah Dasar

2.1. Batasan
Ilmu bedah dasar adalah meliputi ilmu dasar klinik yang diperlukan di dalam melakukan
penatalaksanaan pasien bedah, baik tahap perioperatif maupun intra operatif.

2.2. Tujuan Umum
Setelah mengikuti modul ini, peserta didik akan akan mampu:

• Menjelaskan teori klinik umum yang berhubungan dengan penatalaksanaan pasien


bedah. (K2)

2.3. Materi
2.3.1.1. Patologi dan masalah klinik berbagai penyakit dan kelainan bedah.
2.3.1.2. Prinsip pengelolaan trauma dan kondisi kritis:

2.3.1.2.1. Tata kerja dan tindakan pencegahan dalam Ruang Perawatan


Intensif
2.3.1.2.2. Trauma massal
2.3.1.2.3. Sistem skor pada trauma
2.3.1.2.4. Dukungan metabolik dan nutrisi pada penderita trauma
2.3.1.2.5. Systemic Inflammatory Response Syndrome, sepsis, sepsis berat,
dan syok septik
2.3.1.2.6. Gagal organ multipel pasca trauma
2.3.1.2.7. Patofisiologi dan pencegahan ARDS pada penderita trauma
2.3.1.2.8. Pencegahan dan penanganan infeksi pasca trauma
2.3.1.2.9. Prinsip total care pada perawatan pra dan pasca bedah
2.3.1.2.10. Pemantauan dan pengelolaan syok perdarahan dan koagulopati
2.3.1.2.11. Terapi nutrisi perioperatif
2.3.1.2.12. Indikasi dan pemantauan pemasangan ventilator

2.3.1.3. Dasar-dasar anestesi pada kasus bedah elektif dan darurat

2.3.1.4. Skrining dan Registrasi kanker
2.3.1.5. Prinsip terapi kanker: pembedahan, radioterapi, kemoterapi,
immunoterapi, dan terapi hormonal.

2.3.1.6. Ketrampilan bedah dasar


2.3.1.7. Luka gigitan binatang, tetanus, gas gangren
2.3.1.8. Kamar bedah dan tatacara kerja kamar bedah
2.3.1.9. Infeksi bedah
2.3.1.10. Infeksi nosokomial
2.3.1.11. Asepsis dan antisepsis
2.3.1.12. Maksud dan tujuan, cara pengambilan dan pemeriksaan histopatologi dan
Fine Needle Aspiration Biopsy
2.3.1.13. Transplantasi organ

16


2.3.2. Dasar-dasar persiapan pemeriksaan dan pembacaan foto polos, dan foto polos
dengan kontras
2.3.3. Dasar-dasar persiapan pemeriksaan dan pembacaan CT Scan
2.3.4. Dasar-dasar persiapan pemeriksaan dan pembacaan MRI
2.3.5. Dasar-dasar persiapan pemeriksaan dan pembacaan USG abdomen
2.3.6. Dasar-dasar dan jenis radioterapi, tehnik, dan evaluasi hasil radiasi, proteksi
radiasi

3. Ilmu dasar umum dan humaniora

3.1. Batasan

Ilmu dasar umum adalah ilmu-ilmu dasar yang menjadi komponen area kompetensi dokter
spesialis bedah sehingga dapat menjalankan profesinya dengan praktek bedah terbaik dan
mampu mengembangkan ilmu bedah melalui penelitian ilmu bedah. Ilmu-ilmu dasar umum
tersebut meliputi Filsafat Ilmu, Epidemiologi Klinik, Metodologi Penelitian Bedah,
Biostatistik, Ilmu Bedah Berbasis Bukti serta humaniora yang meliputi Etik, Bioetik, Hukum
Ilmu Bedah, Profesionalisme Bedah, Keselamatan pasien, dokter dan personel kesehatan,
Hubungan inter personal, dan Komunikasi.

3.2. Tujuan Umum

Setelah menyelesaikan modul ini, para peserta didik akan mampu:

• menjelaskan konsep filsafat ilmu, metodologi penelitian kedokteran, biostatistika,


etika penelitian, bioetik, serta menerapkannya di dalam bentuk penelitian
mandiri.(K3)
• melakukan telaah kritis hasil-hasil penelitian kedokteran dengan menerapkan
prinsip praktek bedah berbasis bukti.(K3)
• menjelaskan berbagai aspek etik, bioetik, hukum kesehatan yang terkait dengan
berbagai masalah perioperatif.(K2)
• menjelaskan profesionalisme bedah.(K2)
• menerapkan dasar-dasar hubungan antar personal dan komunikasi profesi dalam
praktek bedah yang baik.(K3)
• Menjelaskan prinsip-prinsip dasar keselamatan pasien, dokter, dan personal
kesehatan.(K2)

3.3. Materi

3.3.1.Filsafat ilmu dan epidemiologi klinik:

3.3.1.1. Pengantar filsafat ilmu dan epidemiologi klinik


3.3.1.2. Dasar-dasar epidemiologi klinik
3.3.1.3. Metode ilmiah
3.3.1.4. Metode penalaran


17


3.3.2.Metodologi penelitian bedah

3.3.2.1. Pengantar metodologi penelitian (pengertian, fungsi, tujuan)
3.3.2.2. Pengembangan Ilmu dan penelitian kedokteran
3.3.2.3. Proses penelitian (deducto-hipotetico-verifikatif)
3.3.2.4. Desain penelitian klinik bedah
3.3.2.5. Jenis-jenis penelitian klinik observasional
3.3.2.6. Jenis-jenis penelitian klinik eksperimental
3.3.2.7. Teknik Pengumpulan data (seleksi, sampel, drop out, definisi dan jenis
variabel, cara kerja dan alur penelitian)
3.3.2.8. Pengolahan dan analisis data
3.3.2.9. Etika Penelitian
3.3.2.10. Formulasi usulan penelitian
3.3.2.11. Rancangan laporan penelitian
3.3.2.12. Seminar proposal penelitian
3.3.2.13. Penulisan dan publikasi artikel jurnal kedokteran

3.3.3.Biostatistik:

3.3.3.1. Pengantar statistik


3.3.3.2. Teori probabilitas
3.3.3.3. Statistik deskriptif
3.3.3.4. Data (pengumpulan dan pengolahan)
3.3.3.5. Sampling dan distribusi
3.3.3.6. Statistika inferensial dan teori estimasi
3.3.3.7. Pengujian hipotesis dan pemilihan uji statistik
3.3.3.8. Statistik parametrik (uji-t)
3.3.3.9. Analisis data nominal (uji X-2, uji eksak Fisher)
3.3.3.10. Uji statistik korelasi
3.3.3.11. Uji diagnostik
3.3.3.12. Aplikasi perangkat lunak biostatistik

3.3.4.Ilmu bedah berbasis bukti dan telaah kritis penelitian bedah

3.3.4.1. Prinsip-prinsip ilmu bedah berbasis bukti


3.3.4.2. Telaah kritis: Penelitian Penyebab dan risiko
3.3.4.3. Telaah kritis: Penelitian klinik diagnosis
3.3.4.4. Telaah kritis: Penelitian klinik terapi
3.3.4.5. Telaah kritis: Penelitian Klinik prognosis

3.3.5.Humaniora:

3.3.5.1. Etika profesi
3.3.5.2. Hubungan interpersonal dokter-klien
3.3.5.3. Hukum kedokteran
3.3.5.4. Aplikasi hukum kedokteran dalam praktek
3.3.5.5. Etik keperawatan
3.3.5.6. Etik rumah sakit
3.3.5.7. Etika pada mati batang otak
18


3.3.5.8. Dasar-dasar bioetik
3.3.5.9. End of Life Care
3.3.5.10. Komunikasi interpersonal
3.3.5.11. Profesionalisme dan praktek bedah yang baik
3.3.5.12. Keselamatan pasien
3.3.5.13. Keselamatan dokter dan personel kesehatan

4. Metode Pendidikan Bedah (Belajar dan Mengajar)
4.1. Batasan

Metode pendidikan bedah adalah ilmu dan ketrampilan di dalam proses belajar dan
mengajar ilmu bedah di berbagai sarana dan prasarana pendidikan.

4.2. Tujuan Umum

Setelah menyelesaikan modul ini, para peserta didik akan mampu menerapkan berbagai
metode belajar dan mengajar di dalam pendidikan ilmu bedah.(K3)

4.3. Materi

4.3.1.Pengantar metode belajar mengajar


4.3.2.Metode Kuliah
4.3.3.Metode tutorial, diskusi kelompok dan bed side teaching
4.3.4.Metode pelatihan ketrampilan klinik dan prosedur bedah
4.3.5.Praktek role play


Ranah kompetensi psikomotor serta sikap dan prilaku (afektif) :

1. Ketrampilan Klinik Dasar Bedah

1.1. Batasan

Ketrampilan klinik dasar bedah adalah ketrampilan berupa pemeriksaan klinik yang meliputi
anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnostik, serta prosedur bedah dasar yang menjadi
kompetensi esensial bagi setiap dokter spesialis bedah.

1.2. Tujuan Umum:

Setelah menyelesaikan modul ini para peserta didik akan mampu melakukan ketrampilan
klinik dan prosedur bedah dasar sesuai dengan standar terbaik (P5)

1.3. Materi

1.3.1.Bantuan hidup dasar pada trauma
1.3.2.Ventilasi Mekanik
1.3.3.Persetujuan pasien berdasarkan informasi (Informed Consent)
1.3.4.Pemeriksaan klinik (anamnesis dan fisik diagnostik):
1.3.4.1. Bedah Digestif:

19


1.3.4.1.1. Abdomen akut
1.3.4.1.2. Ikterus obstruktiva
1.3.4.1.3. Perdarahan saluran cerna atas dan bawah
1.3.4.1.4. Massa intraabdomen
1.3.4.1.5. Obstruksi intestinal
1.3.4.1.6. Benjolan di lipat paha
1.3.4.2. Bedah Onkologi, Kepala dan Leher:
1.3.4.2.1. Benjolan di payu dara
1.3.4.2.2. Benjolan di leher
1.3.4.2.3. Tukak atau lesi di kulit
1.3.4.2.4. Benjolan di jaringan lunak
1.3.4.2.5. Trauma maksilofasial dan leher
1.3.4.3. Orthopaedi:
1.3.4.3.1. Fraktur tulang dan disklokasi
1.3.4.3.2. Sindroma kompartemen akut
1.3.4.3.3. Tumor tulang
1.3.4.4. Urologi:
1.3.4.4.1. Lower Urinary Tract Symptoms
1.3.4.4.2. Obstruksi saluran kemih atas
1.3.4.4.3. Hematuria dan inkontinensia urin
1.3.4.5. Kardiothoraks:
1.3.4.5.1. Trauma thoraks: pneumothoraks, hematothoraks, dan
tamponade jantung
1.3.4.6. Bedah Vaskular:
1.3.4.6.1. Oklusi arteri perifer
1.3.4.6.2. Varises tungkai
1.3.4.7. Bedah Anak
1.3.4.7.1. Obstruksi usus pada neonatus dan anak
1.3.4.7.2. Malformasi anorektal
1.3.4.7.3. Hernia dan benjolan pada skrotum
1.3.4.8. Bedah Plastik:
1.3.4.8.1. Sumbing bibir dan langitan
1.3.4.8.2. Luka Bakar
1.3.4.8.3. Kontraktur
1.3.4.8.4. Infeksi kulit : abses dan selulitis
1.3.4.9. Bedah Saraf:
1.3.4.9.1. Trauma Kepala
1.3.4.9.2. Glasgow Coma Scale
1.3.5.Prosedur bedah:
1.3.5.1. Ketrampilan bedah dasar (Basic Surgical Skills)
1.3.5.2. Trakeostomi
1.3.5.3. Insersi chest tube
1.3.5.4. Pemasangan jalur intravena: konvensional maupun melalui prosedur
pembedahan
20


1.3.5.5. Pemasangan akses vena sentral emergensi
1.3.5.6. Melakukan drainase abses tungkai
1.3.5.7. Melakukan debridemen
1.3.5.8. Melakukan Fasiotomi tungkai
1.3.5.9. Pembalutan
1.3.5.10. Pembidaian
1.3.5.11. Traksi kulit dan tulang

TAHAP ROTASI BEDAH DASAR

1. Ilmu Bedah Dasar pada Berbagai Sistem Organ

Ranah kompetensi kognitif :

Kompetensi yang harus dicapai pada tahap ini adalah kompetensi ranah kognitif pada
berbagai masalah dan penyakit bedah, serta prosedur bedah esensial bagi dokter spesialis
bedah pada berbagai cabang ilmu bedah.

Tujuan umum:

Setelah menyelesaikan tahap rotasi klinik bedah dasar para peserta didik akan mampu:

1.1. menjelaskan masalah-masalah penyakit dan kelainan bedah pada berbagai sistem
organ tubuh beserta dengan prinsip dasar pengelolaan (pemecahan masalah)
perioperatifnya. (K2)
1.2. menerapkan prinsip dasar anatomi bedah dan relevansinya di dalam pengelolaan
operatif berbagai penyakit dan kelainan bedah pada berbagai sistem organ tubuh. (K3)

Ruang lingkup topik pembelajaran adalah mencakup sebagai berikut:

1. Bedah Digestif:

1.1. Pemberian makan dini pada penderita pasca bedah (Early Recovery After Surgery)
1.2. Patofisiologi nyeri pada kelainan biliodigestif
1.3. Fungsi keseimbangan flora normal pada traktus gastrointestinal
1.4. Kolestasis
1.5. Mekanisme pertahanan mukosa
1.6. Respon hepar dan traktus gastrointestinal pada trauma
1.7. Faktor penyebab dan patogenesis dari karsinoma usus besar
1.8. Hematochesia
1.9. Sepsis enterobakterial
1.10. Infeksi intraabdominal
1.11. Obstruksi intestinal
1.12. Surgical approach bedah digestif



2. Kepala dan Leher

21


2.1. Fisiologi hormon tiroid dan paratiroid
2.2. Paratiroidisme
2.3. Hipertiroidisme
2.4. Jaringan limfe kepala dan leher
2.5. Obstruksi jalan nafas bagian atas
2.6. Faktor penyebab dan patogenesis kanker rongga mulut
2.7. Kanker kepala dan leher
2.8. Maloklusi dan koreksi
2.9. Surgical approach bedah kepala dan leher

3. Onkologi Bedah

3.1. Karsinogenesis
3.2. Skrining kanker
3.3. Pencegahan kanker
3.4. Deteksi dini kanker
3.5. Penentuan stadium kanker
3.6. Prinsip Onkologi Bedah
3.7. Pemilihan modalitas terapi untuk penderita kanker
3.8. Dukungan nutrisi untuk penderita kanker
3.9. Terapi paliatif dan penanganan nyeri kanker
3.10. Surgical approach bedah payudara

4. Bedah Anak

4.1. Respon endokrin dan metabolik pada pembedahan anak
4.2. Pengelolaan cairan dan elektrolit pada pembedahan anak
4.3. Infeksi bedah pada bayi dan neonatus
4.4. Dukungan nutrisi pada pembedahan anak
4.5. Pencegahan hipotermi pada pembedahan anak
4.6. Diagnostik prenatal dan pembedahan intra uterin
4.7. Permasalahan hematologik pada pembedahan anak
4.8. Permasalahan pernafasan pada penderita perioperatif anak
4.9. Permasalahan kardiovaskuler pada penderita perioperatif anak
4.10. Kelainan kongenital traktus urinarius)* [pelaksanaan diserahkan program studi)

5. Bedah Kardiothoraks

5.1. Elektrokardiografi
5.2. Pemantauan hemodinamik
5.3. Ventilasi mekanik dan terapi oksigen
5.4. Transfusi darah intrabedah dan pasca bedah
5.5. Surgical approach bedah thoraks

6. Bedah Vaskular

6.1. Faktor risiko dan patogenesis selulitis, abses jaringan lunak dan infeksi luka
6.2. Indikasi dan interpretasi pemeriksaan mikrobiologi dan pencitraan pada infeksi
jaringan lunak

22


6.3. Patogenesis dan faktor-faktor etiologi ulkus kronik tungkai akibat gangguan arteri
dan vena
6.4. Patogenesis dan faktor etiologi Ulkus diabetes
6.5. Regionalisasi dan zona trauma leher, keluhan, serta tanda-tanda gangguan pembuluh
darah pada trauma vaskular leher
6.6. Indikasi untuk eksplorasi bedah dan keterlibatan subspesialis lain pada trauma
vaskuler
6.7. Anatomi vena subklavia dan vena jugularis serta vena sentral lainnya
6.8. Pemilihan dan pengenalan faktor risiko serta komplikasi akses vaskular
6.9. Akut iskemia, dan penyakit arteri perifer
6.9.1. Gambaran klinik dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, ABI, penegakkan
diagnosis, dan identifikasi berbagai kondisi medik yang berhubungan dengan
terjadinya akut iskemia, dan penyakit arteri perifer
6.10. Penyakit vena dan tromboemboli vena
6.10.1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik, serta keterbatasan pemeriksaan fisik
6.10.2. Peranan pemeriksaan duplex pada kelainan vena
6.10.3. Peranan kompresi terapi dan pilihan pengobatan lainnya untuk kelainan vena
termasuk varises vena tungkai
6.10.4. Patofisiologi dari kelainan tromboemboli serta kondisi hiperkoagulabel
6.10.5. Metoda tromboprofilaksis dan faktor resiko untuk terjadinya trombosis vena
dalam
6.10.6. Mengetahui peranan endovaskular dalam pengobatan trombosis vena.

7. Bedah Plastik

7.1. Penanganan luka abrasi, terbuka, laserasi
7.2. Trauma wajah
7.3. Patofisiologi luka bakar
7.4. Resusitasi dan terapi awal pada luka bakar
7.5. Patofisiologi dan pencegahan jaringan parut
7.6. Trauma inhalasi
7.7. Prinsip dasar dan macam tandur kulit
7.8. Prinsip dasar dan macam Z-plasty
7.9. Prinsip dasar dan macam rotation flap
7.10. Prinsip dasar dan macam pedicle flap
7.11. Prinsip dasar dan macam free flap
7.12. Prinsip penanganan dan perawatan celah bibir dan celah langit

8. Bedah Saraf

8.1. Patofisiologi dan penanganan peningkatan tekanan intrakranial
8.2. Perubahan patofisiologi pada lesi saraf perifer
8.3. Penyembuhan jaringan pada lesi saraf perifer
8.4. Prinsip dasar reparasi saraf perifer
8.5. Patofisiologi dan penanganan trauma kepala
8.6. Pemeriksaan neurologik dan monitoring neurologik di ICU
8.7. Skoring gangguan kesadaran serta implikasinya

23


8.8. Patofisiologi dan diagnosis hematoma epidural
8.9. Prinsip dasar penanganan fraktur depresi
8.10. Patofisiologi dan diagnosis hidrosefalus
8.11. Kelainan kongenital bedah saraf
8.12. Mati batang otak
8.13. Surgical approach bedah saraf

9. Urologi

9.1. Urodinamik
9.2. Persiapan pemeriksaan, pembacaan IVP,sistografi dan uretrografi
9.3. Infeksi traktus urinarius
9.4. Obstruksi traktus urinarius bagian atas dan bagian bawah
9.5. Batu urinarius, patofisiologi dan pencegahan
9.6. Patofisiologi gagal ginjal akut
9.7. Keganasan pada traktus urinarius
9.8. Kelainan kongenital traktus urinarius)* [pelaksanaan diserahkan program studi)
9.9. Inkontinensia
9.10. Acute scrotum
9.11. Dasar diagnosis dan penanganan varikokel dan hidrokel
9.12. Kateterisasi, perawatan dan komplikasinya
9.13. Surgical approach bedah urologi

10. Orthopaedi

10.1. Respon jaringan muskuloskeletal terhadap penyakit dan trauma
10.2. Biomekanik fraktur
10.3. Penyembuhan tulang
10.4. Prinsip umum penanganan fraktur
10.5. Komplikasi fraktur dan penanganannya
10.6. Cedera jaringan lunak (otot, tendon dan ligamentum)
10.7. Penyembuhan jaringan lunak (otot, tendon dan ligamentum)
10.8. Rehabilitasi pada trauma musculoskeletal
10.9. Osteomielitis akut dan kronis
10.10. Tumor muskuloskeletal
10.11. Kelainan kongenital orthopaedi
10.12. Penyakit degeneratif orthopaedi
10.13. Surgical approach ekstremitas superior dan ekstremitas inferior

Ranah Kompetensi Psikomotor dan Afektif (Sikap dan Prilaku)

Kompetensi yang harus dicapai pada tahap ini adalah kompetensi pada ranah psikomotor dan
afektif berbagai ketrampilan klinik dan prosedur bedah dasar di dalam pengelolaan (diagnosis
dan terapi) berbagai masalah dan penyakit bedah, serta prosedur bedah pada berbagai cabang
ilmu bedah.

Tujuan umum:

Setelah menyelesaikan tahap rotasi klinik bedah dasar para peserta didik akan mampu:

24


1.1. Mendemonstrasikan berbagai ketrampilan pemeriksaan klinik perioperatif yang meliputi
anamnesis, pemeriksaan fisik, interpretasi pemeriksaan alat bantu dan terapi perioperatif
pada penyakit dan kelainan bedah dari berbagai sistem organ tubuh sesuai dengan
standar prosedur terbaik.(K5)
1.2. Mendemonstrasikan berbagai ketrampilan prosedur operatif dasar berbagai penyakit dan
kelainan bedah pada berbagai sistem organ tubuh. (K5)
1.3. Menunjukkan sikap dan prilaku praktek bedah yang baik. (A5)

Ruang lingkup topik pembelajaran adalah mencakup sebagai berikut:

1. Bedah Digestif :

1.1. Pengelolaan perioperatif pasien:
1.1.1. Disfagia dan achalasia
1.1.2. Hernia
1.1.3. Ikterus obstruktif dan Cholangitis
1.1.4. Infeksi intraabdominal: peritonitis dan abses
1.1.5. Akut abdomen
1.1.6. Perdarahan saluran cerna atas dan bawah
1.1.7. Pankreatitis akut
1.1.8. Appendisitis
1.1.9. Karsinoma kolorektal
1.1.10. Prolaps Hemorrhoid
1.1.11. Abses perianal dan fistula ani
1.1.12. Fissura ani
1.1.13. Obstruksi usus
1.1.14. Trauma tumpul abdomen
1.1.15. Trauma penetrans abdomen
1.1.16. Fistula enterokutaneus dan proteksi jaringan sekitar terutama kulit
1.1.17. Short Bowel Syndrome
1.1.18. Enterostoma
1.1.19. Sindroma kompartemen abdominal
1.2. Melakukan terapi nutrisi perioperatif pada pasien:
1.2.1. Sepsis dan Sepsis berat
1.2.2. Trauma abdomen
1.2.3. Kanker sistem gastrointestinal dan hepatobilier
1.2.4. Ikterus obstruktif
1.3. Interpretasi pembacaan imaging :
1.3.1. Akut Abdomen (Identifikasi Udara Bebas, Obstruksi Usus Halus, Ileus, Obstruksi
Kolon, Volvulus)
1.3.2. Upper GI Series
1.3.3. Barium Enema (identifikasi neoplasma, tanda-tanda iskemia)
1.3.4. USG dan CT-Scan Abdomen
1.4. Evaluasi dan pengelolaan problem luka abdomen (surgical site infection, eviserasi, fasiitis,
dehisensi)
1.5. Perawatan dan pemantauan:
1.5.1. Pipa nasogastrik
1.5.2. Pipa intestinal (pipa rektum,pipa gastrostomi, pipa jenunostomi)
1.5.3. Drain Intra abdominal
1.5.4. T-tube saluran empedu

25


1.6. Prosedur operatif:
1.6.1. Prosedur anorektal (anuskopi, rektoskopi, drainase abses perianal)
1.6.2. Appendektomi (terbuka, drainase abses)
1.6.3. Pemasangan akses nutrisi enteral (gastrostomi) dan parenteral (vena sentral)
1.6.4. Herniorrhapy inguinal

2. Bedah Kepala dan Leher

2.1. Pengelolaan perioperatif pasien:
2.1.1. struma nodosa
2.1.2. karsinoma tiroid
2.1.3. karsinoma rongga mulut
2.1.4. neoplasma jinak dan ganas kelenjar liur
2.1.5. higroma leher
2.1.6. limfadenopati leher
2.1.7. penyakit thyroid dan parathyroid non neoplasma
2.1.8. trauma wajah termasuk fraktur maksilofasial dan laserasi
2.1.9. problem jalan nafas secara darurat pada pada penyakit kepala dan leher
2.1.10. sialadenitis
2.1.11. luka terkontaminasi kepala leher termasuk gigitan binatang
2.1.12. abses/ infiltrat daerah kepala leher
2.1.13. fraktur maksilofaksial pelaksanaan diserahkan program studi)

2.2. interpretasi pemeriksaan imaging (X-ray, USG, CT-Scan, MRI) pada kelainan kepala dan
leher
2.3. Prosedur operatif:
2.3.1.Intubasi
2.3.2.Krikotirotomi
2.3.3.Trakeostomi
2.3.4.Biopsi terbuka kelenjar getah bening, tumor kepala dan leher termasuk rongga
mulut

3. Bedah Onkologi

3.1. Pengelolaan perioperatif pasien:
3.1.1.tumor jinak payudara (fibroadenoma, fibrokistik,mastitis)
3.1.2.tumor ganas payudara (termasuk menentukan indikasi pemeriksaan reseptor
estrogen dan progesteron)
3.1.3.basalioma
3.1.4.melanoma maligna
3.1.5.karsinoma sel skwamosa
3.1.6.tumor jinak jaringan lunak
3.1.7.tumor ganas jaringan lunak
3.1.8.tumor kulit jinak dan ganas

3.2. Interpretasi tanda keganasan pada mammogram (stellate, micro calcification)
3.3. Edukasi penderita untuk pemeriksaan payudara sendiri
3.4. Prosedur operatif
3.4.1.Melakukan FNA tumor payudara
3.4.2.Drainase abses payudara

26


3.4.3.Cutting needle biopsy tumor payudara
3.4.4.Biopsi eksisi atau insisi tumor payudara
3.4.5.Eksisi fibroadenoma, fibrokistik payudara
3.4.6.Biopsi pada tumor ganas kulit dan jaringan lunak
3.4.7.Eksisi tumor jinak kulit dan jaringan lunak sederhana.

4. Bedah Anak

4.1. Pengelolaan perioperatif (hetero anamnesis, pemeriksaan fisik, interpretasi
pemeriksaan penunjang diagnostik) pasien :

4.1.1. Apendisitis akut
4.1.2. Malformasi anorektal
4.1.3. Penyakit Hirschsprung
4.1.4. Stenosis pilorus hipertofi
4.1.5. Atresia duodenum
4.1.6. Atresia ileum
4.1.7. Atresia esofagus
4.1.8. Omfalokel
4.1.9. Gastroskisis
4.1.10. Hidrokel
4.1.11. Hernia umbilikalis dan inguinalis,

4.2. Menegakkan diagnosis dan menentukan indikasi pembedahan pada kelainan kongenital
neonatus sebagai berikut:

4.2.1. Malrotasi, atresia intestinal, entero kolitis nekrotikans, ileus mekonium,
4.2.2. Hernia diafragmatika
4.2.3. Ekstropi buli, undecensus testis, hypospadia.

4.3. Melakukan prosedur operatif:
4.3.1. insisi abses kulit
4.3.2. Businasi
4.3.3. vena seksi
4.3.4. appendektomi
4.3.5. reparasi hernia inguinal
4.3.6. Ligasi tinggi hidrokel
4.3.7. Sirkumsisi

5. Bedah Kardio thoraks

5.1. Pengelolaan perioperatif pasien dengan:
5.1.1.Hematothoraks
5.1.2.Pneumothoraks
5.1.3.Trauma jantung
5.1.4.Penyakit dan kelainan thoraks non trauma, termasuk keganasan paru
5.1.5.Penanganan awal dari fraktur kosta dan sternum
5.1.6.Thorakotomi elektif, termasuk faktor risiko, macam operasi, fungsi paru-paru dan
komplikasi pasca bedah.

27


5.2. Prosedur operatif:
5.2.1.Pemasangan Chest Tube Thoracostomy dan Water Shields Drainage
5.2.2.Thoracocentesis
5.2.3.Perikardiosentesis

6. Bedah Vaskular

6.1. Melakukan pengelolaan perioperatif pasien dengan:
6.1.1. Iskemia akut dan penyakit arteri perifer, termasuk penyakit Buerger & penyakit
arteri perifer obstuktif (PAPO):
6.1.1.1. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, ABI, penegakkan diagnosis, dan
identifikasi berbagai kondisi medik yang berhubungan dengan terjadinya
akut iskemia, dan penyakit arteri perifer.
6.1.2. Penyakit vena dan tromboemboli vena
6.1.2.1. Melakukan Anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien dengan penyakit
vena dan thromboemboli vena.
6.1.2.2. Melakukan pemeriksaan USG Doppler duplex pada kelainan vena
6.1.2.3. Menerapkan terapi kompresi dan pilihan pengobatan lainnya untuk kelainan
vena termasuk varises vena tungkai
6.1.2.4. Menerapkan metoda tromboprofilaksis dan menetapkan faktor resiko untuk
terjadinya trombosis vena dalam
6.2. Melakukan prosedur operatif bedah vaskular:
6.2.1. Pemasangan jalur intravena: konvensional maupun melalui prosedur pembedahan
(vena seksi)
6.2.2. Pemasangan akses vena sentral untuk pemantauan dan terapi cairan, serta
nutrisi.
6.2.3. Melakukan drainase abses tungkai
6.2.4. Melakukan debridemen
6.2.5. Melakukan Fasiotomi tungkai


7. Bedah Plastik & Rekonstruksi

7.1. Pengelolaan perioperatif pasien:
7.1.1. celah bibir
7.1.2. celah langit-langit
7.1.3. hemangioma
7.1.4. kontraktur
7.1.5. luka bakar
7.1.6. trauma wajah
7.1.7. luka abrasi dan luka bakar yang sederhana
7.1.8. resusitasi, evaluasi dan terapi awal penderita luka bakar
7.1.9. luka tangan
7.1.10. kelainan kongenital pada kulit, wajah dan ekstremitas
7.1.11. Pressures Sore

28


7.2. Prosedur operatif:
7.2.1. Terapi luka terbuka dan luka laserasi
7.2.2. Debridemen luka terbuka dan luka bakar
7.2.3. Operasi tandur kulit
7.2.4. flap kulit lokal sederhana untuk penutupan luka

8. Bedah Saraf

8.1. Pengelolaan perioperatif pasien:
8.1.1.cedera otak
8.1.2.korda spinalis
8.1.3.meningokel
8.1.4.hidrosefalus
8.1.5.tumor otak
8.1.6.tumor mielum
8.1.7.Hernia Nukleosus Pulposus
8.2. Prosedur operatif:
8.2.1.Melakukan pembedahan reparasi laserasi kulit kepala

9. Urologi

9.1. Pengelolaan perioperatif pasien:
9.1.1.Hidrokel
9.1.2.Varikokel
9.1.3.Hiperplasia Prostat Benigna
9.1.4.Trauma ginjal
9.1.5.Trauma uretra
9.1.6.Trauma buli
9.1.7.Batu saluran kemih
9.1.8.Karsinoma prostat

9.2. Melakukan pemeriksaan klinik dan membuat diagnosis banding, serta merencanakan
terapi:
9.2.1. Acute scrotum
9.2.2. Hematuria
9.2.3. Obstruktif uropati
9.2.4. Infeksi Saluran Kemih
9.2.5. Pembesaran prostat
9.2.6. Tumor ginjal

9.3. Interpretasi:
9.3.1.Foto BNO, IVP, dan USG pada masalah urologi
9.3.2.USG dan CT Scan Abdomen pada trauma traktus urinarius
9.3.3.uretrogram pada trauma uretra
9.3.4.sistogram pada trauma buli
9.4. Prosedur operatif:
9.4.1.Kateterisasi buli
9.4.2.Sistostomi (troikar dan terbuka)

29


10. Orthopaedi

10.1. Melakukan pemeriksaan klinik dan diagnosis penyakit /kelainan orthopaedi meliputi:
10.1.1. trauma: fraktur tertutup dan terbuka femur, cruris, humerus, antebrakii, pelvis,
manus dan pedis, klavikula, fraktur vertebra dan ruptur tendon, serta crush
syndrome.
10.1.2. kelainan kongenital: talipes equinovarus (Club Foot)
10.1.3. penyakit degeneratif: osteoarthrosis dan osteoporosis.
10.1.4. proses inflamasi dan infeksi: osteomyelitis akut dan kronik.
10.1.5. Neoplasma tulang: osteosarkoma
10.1.6. Sindroma kompartemen dan emboli lemak pada fraktur tulang

10.2. interpretasi pemeriksaan penunjang diagnosis yang tepat (laboratorium dan
imaging) untuk kelainan orthopaedi :
10.2.1. laboratorium prabedah
10.2.2. X-ray
10.2.3. CT-Scan
10.2.4. MRI

10.3. Pengelolaan perioperatif:
10.3.1. fraktur femur
10.3.2. fraktur kruris
10.3.3. fraktur pelvis
10.3.4. fraktur humeri
10.3.5. fraktur antebrakii
10.3.6. fraktur vertebra
10.3.7. osteosarkoma

10.4. Prosedur orthopaedik:
10.4.1. Melakukan immobilisasi vertebra servikalis
10.4.2. Splinting (pembidaian) fraktur tertutup
10.4.3. Reposisi tertutup pada fraktur tulang panjang
10.4.4. Reposisi pada dislokasi panggul, siku dan bahu
10.4.5. Pemasangan traksi: traksi kulit dan tulang
10.4.6. Pemasangan Casts
10.4.7. Debridement patah tulang terbuka
10.4.8. Melakukan fasiotomi
10.4.9. Melakukan aspirasi sendi


TAHAP BEDAH LANJUT

Kompetensi yang harus dicapai pada tahap ini adalah kompetensi pada ranah kognitif,
psikomotor dan afektif berbagai di dalam pengelolaan (diagnosis dan terapi) berbagai masalah
dan penyakit bedah, serta prosedur bedah pada berbagai cabang ilmu bedah yang terkait
dengan bedah emergensi dan elektif yang dapat dikelola pada PPK 2 dan 3.

30


Tujuan umum:

Setelah menyelesaikan tahap rotasi klinik bedah lanjut para peserta didik akan mampu:

1.1. Melakukan berbagai ketrampilan pemeriksaan klinik perioperatif yang meliputi
anamnesis, pemeriksaan fisik, interpretasi pemeriksaan alat bantu dan terapi perioperatif
pada penyakit dan kelainan bedah emergensi dan elektif yang dapat dikelola di PPK1 dan
2 dari berbagai sistem organ tubuh sesuai dengan standar prosedur terbaik.(P5)
1.2. Melakukan berbagai ketrampilan prosedur operatif penyakit dan kelainan bedah pada
berbagai sistem organ tubuh. (P5)
1.3. Menunjukkan sikap dan prilaku praktek bedah yang baik. (A5)

Ruang lingkup topik pembelajaran adalah mencakup sebagai berikut:

1. Bedah Digestif

1.1. Melakukan perawatan perioperatif pada penderita (K3,P5):
1.1.1.karsinoma lambung
1.1.2.karsinoma kolorektal
1.1.3.karsinoma pankreas
1.1.4.cedera organ padat intra-abdominal, yaitu hepar, pankreas dan lien.
1.1.5.cedera organ berongga intra-abdominal, termasuk usus halus, kolon dan rektum.
1.1.6.kolelitiasis
1.1.7.koledokolithiasis
1.1.8.peritonitis umum
1.1.9.radang granulomatosa usus, termasuk tuberkulosis, dan inflammatory bowel
diseases

1.2. Melakukan operasi (P5) :
1.2.1. Prosedur anorektal (fistulotomi, fissurektomi dan sphincterotomi lateral,
hemorrhoidektomi)
1.2.2. Appendektomi (terbuka dan laparoskopi)
1.2.3. Enterostomi (Gastrostomi, ileostomy, kolostomi, Hartman colostomy, reparasi
/tutup stoma)
1.2.4. Reparasi defek dinding abdomen (Hernia inguinalis, femoralis, insisionalis,
umbilikalis, hernia diafragmatika, dan burst abdomen)
1.2.5. Trauma abdomen (splenektomi, splenorafi, penanggulangan cedera hepar,
reparasi cedera usus dan kolorektal, pankreatektomi distal dan drainase)
1.2.6. Reseksi Gastro Intestinal dan anastomosis (gastrektomi, gastroenterostomi,
entero-enterostomi, kolektomi, reseksi anterior, reseksi abdomino perineal )
1.2.7. Bedah sistem bilier (kolesistektomi terbuka dan per laparoskopik )
1.2.8. Bedah pankreas (drainase abses pankreas dan pankreatitis akut,
pankreatektomi distal)
1.2.9. Bedah pada Kolon Sigmoid (Volvulus, Divertikel)
1.2.10. Adhesiolysis ASBO (Acute Small Bowel Obstruction)
1.2.11. Eksisil uas tumor dinding abdomen pada tumor Desmoid & dinding abdomen
yang lain.
1.2.12. Endoskopi diagnostik (esofafo gastroduodenoskopi, kolonoskopi)



31



2. Kepala dan Leher

2.1. Melakukan perawatan perioperatif ( diagnosis, interpretasi pemeriksaan penunjang, dan
perencanaan dan persiapan pre operatif dan perawatan post operatif) pada penderita
(K4, P5, A5) :
2.1.1. Karsinoma rongga mulut
2.1.2. Tumor parotis
2.1.3. Karsinoma tiroid
2.1.4. Limfadenopati di leher dan kepala
2.1.5. Tumor jinak rongga mulut: Kista odontogenik, Ranula, Ameloblastoma
2.1.6. Tumor jinak jaringan lunak di kepala dan leher
2.1.7. Higroma leher
2.1.8. Struma
2.1.9. Kista brankiogenik
2.1.10. Kista duktus tiroglosus
2.1.11. Trauma jaringan lunak wajah
2.1.12. Fraktur maksilofasial : nasal, maksila, zigoma, dan mandibula

3. Melakukan operasi (P5):

3.1. Penatalaksanaan operatif penyakit dan kelainan kelenjar tiroid: Ismolobektomi, sub
total tiroidektomi, dan tiroidektomi total.
3.2. Penatalaksanaan operatif penyakit dan kelainan kelenjar liur : Parotidektomi
3.3. Ekstirpasi kista duktus tiroglosus (Prosedur Sistrunk),
3.4. Eksisi Kista Brankialis
3.5. Penatalaksanaan operatif tumor rongga mulut (eksisi epulis, kista rahang
(odontogenik), ranula)
3.6. Penataksanaan oeratif infeksi kepala leher (plegmon, abses maksilo facial)
3.7. Eksisi luas dan rekonstruksi sederhana pada tumor jaringan lunak
3.8. Eksisi Higroma Colli
3.9. Reparasi trauma jaringan lunak wajah
3.10. Trauma maksilofasial dan leher pelaksanaan diserahkan program studi)


4. Bedah Onkologi,:

4.1. Melakukan perawatan perioperatif ( diagnosis, interpretasi pemeriksaan penunjang,
dan perencanaan dan persiapan pre operatif dan perawatan post operatif) pada
penderita (K4, P5, A5):

4.1.1.Neoplasma jinak payudara
4.1.2.Neoplasma jaringan lunak
4.1.3. Neoplasma jinak kulit
4.1.4.Karsinoma payudara
4.1.5.Sarkoma jaringan lunak
4.1.6.Karsinoma kulit

4.2. Melakukan operasi (P5):

4.2.1.Drainase Abses Mamma
32


4.2.2.Mastektomi simpel
4.2.3.Mastektomi modifikasi radikal
4.2.4.Mastektomi radikal
4.2.5.Eksisi luas karsinoma kulit non melanoma
4.2.6.Eksisi luas melanoma maligna
4.2.7.Eksisi luas sarkoma jaringan lunak

5. Bedah Anak

5.1. Melakukan perawatan perioperatif ( diagnosis, interpretasi pemeriksaan penunjang, dan
perencanaan dan persiapan pre operatif dan perawatan post operatif) pada penderita
(K4, P5, A5):

5.1.1. Neonatal sepsis
5.1.2. Neonatal peritonitis
5.1.3. Necrotising enterocolitis
5.1.4. Atresia esofagus
5.1.5. Sindroma obstruksi intestinal letak tinggi meliputi: stenosis pilorik hipertrofi,
atresia duodenum, stenosis duodenum, dan Pankreas anulare.
5.1.6. Sindroma obstruksi intestinal letak rendah meliputi: Intussusepsi, Atresia/
stenosis jejuno ileal, Meconium ileus, Malformasi anorektal, Penyakit Hischprung,
volvulus, Malrotasi usus halus dan adesi peritoneal.
5.1.7. Tumor ginjal
5.1.8. Defek dinding abdomen : Omfolakel dan gastroskisis, Patent omphalomesenteric
duct.
5.1.9. Kelainan kongenital di inguinal dan genitalia: Hernia, hidrokel, Kriptor kismus dan
Hipospadia
5.1.10. Trauma abdomen

5.2. Melakukan operasi :

5.2.1. Eksisi limfangioma
5.2.2. Kolostomi dan penutupan stoma pada neonatus
5.2.3. Operasi omfalokel kecil
5.2.4. Gastroschizis (pemasangan silo bag)
5.2.5. Penatalaksanaan operatif pada sindroma obstruksi usus letak rendah:
5.2.5.1. Malformasi anorektal letak rendah: anoplasti dan cut back
5.2.5.2. Laparotomi dan reduksi invaginasi
5.2.5.3. Atresia ileum
5.2.5.4. Kolostomi pada malformasi anorektal
5.2.6. Penatalaksanaan operatif pada sindroma obstruksi letak tinggi
5.2.6.1. Gastrostomi pada atresia esofagus
5.2.7. Penatalaksanaan operatif peritonitis:
5.2.7.1. Appendektomi
5.2.7.2. Reseksi dan anastomosis usus
5.2.8. Splenektomi
5.2.9. Penatalaksanaan operatif trauma abdomen
5.2.10. Polipektomi rektal

33


6. Kardiothoraks

6.1. Melakukan perawatan perioperatif ( diagnosis, interpretasi pemeriksaan penunjang, dan
perencanaan dan persiapan pre operatif dan perawatan post operatif) pada penderita
(K4, P5, A5):
6.1.1. Trauma tumpul thoraks : patah tulang iga, hematothoraks, pneumothoraks, Flail
chest, kontusio paru, dan tamponade jantung.
6.1.2. Luka tusuk dinding thoraks dan thorakoabdominal: pneumothoraks terbuka,
hematothoraks, trauma diafragma dan tamponade jantung.
6.1.3. Trauma trachea-bronchial.
6.1.4. Tumor mediastinum
6.1.5. Karsinoma paru
6.1.6. Tumor dinding dada
6.1.7. Emergensi thoraks non trauma: efusi pleura, empyema, dan efusi perikardial

6.2. Melakukan operasi (P5) :
6.2.1.Pengelolaan operatif trauma toraks:
6.2.1.1. Fiksasi internal iga ( clipping costa )
6.2.1.2. Thoratokotomi emergensi
6.2.1.3. Reparasi luka trauma tusuk jantung
6.2.2.Perikardiosintesis, dan pericardial window.

7. Bedah Vaskular

7.1. Melakukan pengelolaan perioperatif pasien dengan:
7.1.1. Iskemia akut:
7.1.1.1. Menentukan multimodalitas dari pengobatan iskemia tungkai akut yang
meliputi medikal dan radiologis (K3)
7.1.1.2. Menyebutkan indikasi dan tindakan trombolisis (K1)
7.1.2. Penyakit Pembuluh Darah Perifer Kronik:
7.1.2.1. Menentukan multimodalitas pengobatan yang mencakup medikal,
endovaskular dan pembedahan terbuka (K3)
7.1.2.2. Menyebutkan indikasi untuk pembedahan terbuka dan endovaskular (K1)
7.1.2.3. Membedakan pengobatan endovaskular dan pembedahan serta
keterbatasan masing masingnya (K3)
7.1.3. Aneurisma
7.1.3.1. Mendiskusikan pengobatan aneurisma aorta abdominalis (K4)
7.1.3.2. Mendiskusikan pengobatan aneurisma yang ditemukan secara kebetulan (K4)
7.1.3.3. Menjelaskan perbedaan pengobatan pembedahan terbuka dan endovaskular
(K4)
7.1.4. Gangguan Vaskular pada penderita diabetes
7.1.4.1. Mendeskripsikan prosedur revaskularisasi (K2)
7.1.5. Kebutuhan akses vaskular
7.1.5.1. Menjelaskan indikasi akses vaskular (K2)
7.1.5.2. Mendiskusikan perbedaan antara akses AV shunt dengan teknik hemodialisa
peritoneal (K4)
7.1.5.3. Menyebutkan berbagai macam jenis tindakan akses vaskular (K1)
7.1.5.4. Mendiskusikan komplikasi dari prosedur akses vaskular (K4)
34


7.1.6. Kelainan vena termasuk varises vena tungkai dan thrombosis vena dalam
7.1.6.1. menjelaskan dan melakukan pengobatan komplikasi dari stasis vena kronik
(K3)
7.1.7. Trauma vaskular
7.1.7.1. Menggambarkan metoda reparasi vaskular (K2)
7.1.7.2. Menggambarkan pendekatan operasi daerah leher (K2)
7.1.8. Penyakit limfatik
7.1.8.1. Mengidentifikasi etiologi dan patogenesis limfedema dan limfokel (K2).
7.1.8.2. Menentukan diagnosis banding edema tungkai (K4, P4)
7.1.8.3. Menjelaskan penatalaksanaan pengobatan konservatif dan pilihan
pengobatan lainnya (K2)
7.1.8.4. Menggambarkan pengelolaan komplikasi kelainan limfatik (K2)
7.1.9. Malformasi Vaskular dan hemangioma ( Anomali Vaskular)
7.1.9.1. Mendeskripsikan anomali vaskular dan menjelaskan tindakan
penatalaksanaannya (K2)
7.1.9.2. Menjelaskan manfaat tindakan pembedahan (K2)

7.2. Melakukan pengelolaan operatif (P5):
7.2.1. Embolektomi
7.2.2. Anastomosis arteri
7.2.3. Rekonstruksi vaskular perifer
7.2.4. Amputasi minor, bawah lutut serta atas lutut
7.2.5. Pembuatan arteriovenous fistula (cimino) untuk hemodialisis
7.2.6. Debridement luka kronik serta luka diabetes
7.2.7. Eksplorasi luka leher zona 2
7.2.8. Stripping varises
7.2.9. Eksisi pseudoaneurisma

8. Bedah Plastik & Rekonstruksi

8.1. Melakukan perawatan perioperatif ( diagnosis, interpretasi pemeriksaan penunjang, dan
perencanaan dan persiapan pre operatif dan perawatan post operatif) pada penderita
(K4, P5, A5):
8.1.1. Keloid
8.1.2. Kontraktur
8.1.3. Sumbing bibir
8.1.4. Celah langit-langit
8.1.5. Luka bakar kritis
8.1.6. Hipospadia
8.1.7. Fraktur maksilofasial


9. Melakukan pengelolaan operatif :
9.1.1.Labioplasti
9.1.2.Fraktur maksilofasial
9.1.3.Luka bakar
9.1.4.Release kontraktur
35


9.1.5.Pressure Sore

10. Bedah Syaraf

10.1. Melakukan perawatan perioperatif ( diagnosis, interpretasi pemeriksaan penunjang,
dan perencanaan dan persiapan pre operatif dan perawatan post operatif) pada
penderita (K4, P5, A5):
10.1.1. Fraktur impresi tengkorak
10.1.2. Fraktur basis kranii
10.1.3. Cedera kepala ringan
10.1.4. Cedera kepala sedang
10.1.5. Hematom epidural
10.1.6. Cedera sumsum tulang belakang

10.2. Melakukan pengelolaan operatif (P5) :
10.2.1. Burr hole hematoma epidural
10.2.2. Elevasi fraktur depresi tulang tengkorak
10.2.3. Reposisi fraktur impresi
10.2.4. Reparasi cidera saraf perifer

11. Urologi

11.1. Melakukan perawatan perioperatif ( diagnosis, interpretasi pemeriksaan penunjang,
dan perencanaan dan persiapan pre operatif dan perawatan post operatif) pada
penderita (K4, P5, A5):
11.1.1. Karsinoma penis
11.1.2. Tumor testis
11.1.3. Torsio testis
11.1.4. Fournier gangrene
11.1.5. Hidrokel
11.1.6. Varikokel
11.1.7. Benign prostat hyperplasia ( BPH )
11.1.8. Karsinoma prostat
11.1.9. Tumor ginjal
11.1.10. Pionefrosis dan abses perirenal
11.1.11. Ruptur uretra
11.1.12. Ruptur buli-buli
11.1.13. Trauma ureter
11.1.14. Trauma ginjal
11.1.15. Batu saluran kemih

11.2. Melakukan pengelolaan operatif (P5):
11.2.1. Nefrostomi
11.2.2. Vasektomi
11.2.3. Prosedur pada scrotum dan testis ( orkhidektomi, orkhidopeksi,
varicocelektomi, Ligasi tinggi pada varikokel, hidrokelektomi)
11.2.4. Trauma sistem urinarius (Nefrektomi, reparasi buli, urethra anterior)
11.2.5. Batu sistem urinarius (vesikolitotomi, ureterolitotomi, pielolitotomi)
11.2.6. Fournier gangrene dan drainase infiltrat urin

36


11.2.7. BPH (Prostatektomi terbuka )
11.2.8. Amputasi penis

12. Orthopaedi

12.1. Melakukan perawatan perioperatif ( diagnosis, interpretasi pemeriksaan penunjang,
dan perencanaan dan persiapan pre operatif dan perawatan post operatif) pada
penderita (K4, P5, A5):
12.1.1. Tumor jinak tulang
12.1.2. Patah tulang terbuka
12.1.3. Fraktur kompresi vertebra
12.1.4. Fraktur klavikula
12.1.5. Fraktur humerus
12.1.6. Fraktur suprakondiler humeri
12.1.7. Dislokasi siku akut
12.1.8. Dislokasi bahu akut
12.1.9. Dislokasi panggul akut
12.1.10. Fraktur antebrakii
12.1.11. Fraktur olekrenon
12.1.12. Fraktur Colles
12.1.13. Fraktur femur
12.1.14. Fraktur patella
12.1.15. Fraktur kruris
12.1.16. Fraktur Pelvis
12.1.17. Ruptur tendon

12.2. Melakukan pengelolaan operatif (P5):
12.2.1. Penanganan fraktur terbuka dan tertutup tulang panjang (konservatif, operatif)
12.2.2. Penanganan non-operatif dislokasi akut
12.2.3. Amputasi ekstremitas dan rehabilitasinya
12.2.4. Penanganan Non-operatif Congenital Talipes Equino varus (Clubbed foot)
12.2.5. Penanganan emergensi fraktur pelvis ( insersi C- Clamp)
12.2.6. Kista sinovial
12.2.7. Eksisi tumor jinak tulang
12.2.8. Biopsi tulang
12.2.9. Reparasi Tendon

13. Profesionalisme dan manajemen bedah:

13.1. Melakukan manajerial pengelolaan penderita bedah di poliklinik, kamar operasi,
bangsal, instalasi rawat darurat, dan kamar terima bedah.
13.2. Melakukan pelayanan bedah di rumah sakit satelit atau afiliasi.
13.3. Melakukan pelayanan konsultasi untuk Bagian-Bagian lain di Rumah Sakit Pendidikan
dan Rumah Sakit Satelit

14. Kemampuan akademik bedah (Academic Surgery)

14.1. Melakukan penelitian dan penulisan hasil penelitian sebagai materi tesis.

37


14.2. Melakukan publikasi tesis secara oral dan tertulis melalui jurnal ilmiah bedah
terakreditasi.
14.3. Melakukan kegiatan mendidik yaitu memberikan bimbingan mengenai ilmu bedah
umum pada mahasiswa fakultas kedokteran dan siswa perawat


i. Level kompetensi keterampilan prosedur bedah dokter spesialis bedah
ii.
No Tahap Kompetensi Pencapaian Tingkat
Kompetensi Kompetensi
(Jumlah
Kasus)
I. Bedah Asisten Mandiri 1 2 3 4
Dasar
1.1 Bedah Digestif

1. Prosedur anorektal:
1.1. anuskopi, 1 6
1.2. rektoskopi, 1 6
1.3. drainase abses perianal 3 6
2. Appendektomi:
2.1. terbuka 3 6
2.2. drainase abses appendiks 1 3
3. Pemasangan akses nutrisi:
3.1. Enteral (gastrostomi) 1 3
3.2. Kateter vena sentral 1 6
4. Herniorrhapy:
4.1. inguinal 2 6

1.2. Kepala Leher

1. Intubasi 2 6

2. Krikotirotomi 2 6

3. Trakeostomi 2 6

4. Biopsi terbuka kelenjar getah 2 6
bening, tumor kepala dan leher
termasuk rongga mulut

1.3. Bedah Onkologi

1. Melakukan FNA tumor 2 6


payudara
2. Drainase abses payudara 1 6

3. Cutting needle biopsy tumor 1 6


payudara

38


4. Biopsi terbuka tumor payudara
4.1. eksisi 2 6
4.2. insisi 2 6
5. Eksisi tumor payudara:
5.1. fibroadenoma, 2 6
5.2. fibrokistik 2 6
6. Biopsi pada tumor ganas:
6.1. kulit 2 6
6.2. jaringan lunak 2 6
7. Eksisi tumor jinak:
7.1. kulit 2 6
7.2. jaringan lunak. 2 6

1.4. Bedah Anak

1. insisi abses kulit 1 6

2. Businasi 1 6

3. vena seksi 2 6

4. appendektomi 2 6

5. reparasi hernia inguinal 2 6


(herniotomi)
6. Ligasi tinggi hidrokel 2 6

7. Sirkumsisi 2 6

1.5. Bedah Kardiothoraks

1. Pemasangan Chest Tube 2 6


Thoracostomy(CTT) dan Water
Shields Drainage (WSD)
2. Thoracocentesis 1 6

3. Perikardiosentesis 1 3

1.6. Bedah Vaskular

1. Pemasangan jalur intravena: 2 6


konvensional maupun melalui
prosedur pembedahan (vena
seksi)
2. Pemasangan akses vena sentral 1 6
untuk pemantauan dan terapi
cairan, serta nutrisi.
3. Melakukan drainase abses 1 6
tungkai
4. Melakukan debridemen 1 6

39


5. Melakukan Fasiotomi tungkai 1 6

1.7. Beda Plastik dan Rekonstruksi

1. Terapi luka terbuka dan luka 1 6


laserasi
2. Debridemen luka terbuka dan 1 6
luka bakar

3. Operasi tandur kulit 2 6

4. flap kulit lokal sederhana untuk 2 6
penutupan luka

1.8. Bedah Saraf

1. Melakukan pembedahan 1 4
reparasi laserasi kulit kepala

1.9. Urologi

1. Kateterisasi buli 1 6

2. Sistostomi (troikar dan 1 6


terbuka)
1.10. Bedah Orthopaedi

1. Melakukan immobilisasi 1 3
vertebra servikalis

2. Splinting (pembidaian) fraktur 1 6
tertutup

3. Reposisi tertutup pada fraktur 1 3
tulang panjang

4. Reposisi pada dislokasi:
4.1. panggul, 1 3
4.2. siku 1 3
4.3. bahu 1 3

5. Pemasangan traksi:
5.1. traksi kulit 1 3
5.2. traksi tulang 1 3

6. Pemasangan Casts 1 6

7. Debridement patah tulang 1 6
terbuka

40


8. Melakukan fasiotomi 1 6

9. Melakukan aspirasi sendi 1 3

II. Bedah
Lanjut
2.1. Bedah Digestif

1. Prosedur anorektal
1.1. fistulotomi, 2 3
1.2. fissurektomi dan 1 2
sphincterotomi lateral,
1.3. hemorrhoidektomi 2 6

2. Appendektomi
2.1. terbuka 1 10
2.2. laparoskopi 2 2

3. Enterostomi
3.1. Gastrostomi, 1 3
3.2. Ileostomy, 2 6
3.3. Kolostomi, 1 6
3.4. Hartman colostomy, 1 3
3.5. Reparasi /tutup stoma) 1 3

4. Reparasi defek dinding
abdomen
4.1. Hernia inguinalis, 2 6
4.2. femoralis, 2 6
4.3. insisionalis, 1 3
4.4. umbilikalis, hernia 1 3
4.5. diafragmatika, dan 1 3
4.6. burst abdomen 1 3

5. Trauma abdomen
5.1. splenektomi, 1 6
5.2. splenorafi, 1 3
5.3. penanggulangan cedera 2 3
hepar,
5.4. reparasi cedera usus dan 2 6
kolorektal,
5.5. pankreatektomi distal dan 1 2
drainase

6. Reseksi Gastro Intestinal dan
anastomosis:
6.1. gastrektomi 1 3
6.2. gastroenterostomi 1 6

41


6.3. entero-enterostomi 2 3
6.4. kolektomi: hemikolektomi 2 6
dextra, sinistra, reseksi
ileocaecal, transverse
kolektomi
6.5. reseksi anterior 2 2
6.6. reseksi abdomino perineal 2 6

7. Bedah sistem bilier:
7.1. kolesistektomi terbuka 2 6
7.2. kolesistektomi per 4 5
laparoskopi

8. Bedah pankreas:
8.1. drainase abses pankreas 1 3
8.2. drainase pankreatitis akut, 2 6
8.3. pankreatektomi distal 1 2
pada trauma

9. Bedah pada Kolon Sigmoid:
9.1. Volvulus 1 2
9.2. Divertikel 1 2

10. Adhesiolysis ASBO (Adhesive 2 6
Small Bowel Obstruction)

11. Eksisi luas tumor dinding 1 3
abdomen pada tumor
Desmoid & dinding abdomen
yang lain.

12. Endoskopi diagnostik :
12.1. esofagogastroduodenoskopi, 3 6
12.2. kolonoskopi 3 6

2.2. Kepala dan Leher

1. Penatalaksanaan operatif
penyakit dan kelainan kelenjar
tiroid:
1.1. Ismolobektomi, 2 6
1.2. sub total tiroidektomi, 1 6
1.3. tiroidektomi total. 1 3

2. Penatalaksanaan operatif
penyakit dan kelainan kelenjar
liur : Parotidektomi 2 3

3. Ekstirpasi kista duktus 1 3
tiroglosus (Prosedur Sistrunk),

42



4. Eksisi Kista Brankialis 1 3

5. Eksisi Higroma Colli 1 3

6. Penatalaksanaan operatif
tumor rongga mulut:
6.1. eksisi epulis, 1 3
6.2. kista rahang 1 3
(odontogenik),
6.3. ranula 1 3

7. Penataksanaan operatif infeksi
kepala leher:
7.1. plegmon, 1 3
7.2. abses maksilo facial 1 3

8. Eksisi luas dan rekonstruksi 1 6
sederhana pada tumor jaringan
lunak

9. Reparasi trauma jaringan lunak 1 6
wajah
10. Trauma maksilofasial dan leher 1 6

2.3. Bedah Onkologi

1. Drainase Abses Mamma 1 3



2. Mastektomi simpel 1 6

3. Mastektomi modifikasi radikal 1 6

4. Mastektomi radikal 1 3

5. Eksisi luas karsinoma kulit non 1 6
melanoma

6. Eksisi luas melanoma maligna 1 3

7. Eksisi luas sarkoma jaringan 1 3
lunak

2.4. Bedah Anak

1. Eksisi limfangioma 1 3

2. Kolostomi dan penutupan 2 6


stoma pada neonatus
3. Operasi omfalokel kecil 2 3

43


4. Gastroschizis (pemasangan silo 1 3
bag)

5. Penatalaksanaan operatif pada 2 6
sindroma obstruksi usus letak
rendah:

6. Malformasi anorektal letak
rendah:
6.1. anoplasti dan cut back 2 3
6.2. Laparotomi dan reduksi 2 6
invaginasi
6.3. Atresia ileum 1 3
6.4. Kolostomi pada malformasi 2 6
anorektal

7. Penatalaksanaan operatif pada
sindroma obstruksi letak tinggi
7.1. Gastrostomi pada atresia 1 3
esofagus

8. Penatalaksanaan operatif
peritonitis:
8.1. Appendektomi 2 6
8.2. Reseksi dan anastomosis 2 6
usus

9. Splenektomi 1 3

10. Penatalaksanaan operatif 1 3
trauma abdomen

11. Polipektomi rektal 1 3

2.5. Bedah Kardiothoraks

1. Pengelolaan operatif trauma


toraks:
1.1. Fiksasi internal iga 1 3
(clipping costa )
1.2. Thoratokotomi emergensi 1 3
1.3. Reparasi luka trauma tusuk 1
jantung
2. Perikardiosintesis, 1 3

3. pericardial window. 1 3

2.6. Bedah Vaskular

1. Embolektomi 2 3

44


2. Anastomosis arteri 2 3

3. Rekonstruksi vaskular 1 3
perifer

4. Amputasi minor, bawah 2 6
lutut serta atas lutut

5. Pembuatan arteriovenous 2 6
fistula (cimino) untuk
hemodialisis

6. Debridement luka kronik 2 6
serta luka diabetes

7. Eksplorasi luka leher zona 2 1 3

8. Stripping varises 2 3

9. Eksisi pseudoaneurisma 1 6

2.7. Bedah Plastik dan Rekonstruksi

1. Labioplasti 2 6

2. Fraktur maksilofasial 2 6

3. Nekrotomi dan debridement 1 6
Luka bakar

4. Release kontraktur 2 6

5. Pressure Sore 2 6

2.8. Bedah Saraf

1. Burr hole hematoma epidural 2 3



2. Elevasi fraktur depresi tulang 2 3
tengkorak

3. Reposisi fraktur impresi 1 3

4. Reparasi cidera saraf perifer 1 3

2.9. Urologi

1. Nefrostomi 1 3

45


2. Vasektomi 1 6

3. Prosedur pada scrotum dan
testis:
3.1. orkhidektomi, 1 3
3.2. orkhidopeksi, 1 3
3.3. varicokelektomi 2 6
3.4. Ligasi tinggi pada varikokel 2 6
3.5. hidrokelektomi 1 3

4. Trauma sistem urinarius:
4.1. Nefrektomi, 1 6
4.2. reparasi buli, 1 3
4.3. urethra anterior 1 3
5. Batu sistem urinarius:
5.1. Vesikolitotomi 1 6
5.2. Ureterolitotomi 1 3
5.3. Pielolitotomi 1 3

6. Nekrotomi dan deberidement 1 6
Fournier gangrene
7. Drainase infiltrat urin 1 3

8. BPH (Prostatektomi terbuka) 2 6

9. Amputasi penis 1 3

2.10. Bedah Orthopaedi

1. Penanganan fraktur terbuka 2 6


dan tertutup tulang panjang
(konservatif, operatif)
2. Penanganan non-operatif 1 3
dislokasi akut
3. Amputasi ekstremitas dan 1 6
rehabilitasinya
4. Penanganan Non-operatif 1 3
Congenital Talipes Equino
varus (Clubbed foot)
5. Penanganan emergensi fraktur 1 3
pelvis ( insersi C- Clamp)

6. Kista sinovial 1 6
Reparasi Tendon
7. Eksisi tumor jinak tulang 1 3

8. Biopsi tulang 1 6

46

47

Tingkat kemampuan / kompetensi dibagi menjadi 4, yakni :


Tingkat 1 : mengetahui dan menjelaskan
Tingkat 2 : pernah melihat atau pernah didemonstrasikan
Tingkat 3 : pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi
Tingkat 4 : mampu melakukan secara mandiri


iii. Kompetensi afektif

Tingkat Capaian
Kompetensi
Kompetensi
Kompetensi Umum 1 2 3 4
Etika Profesionalisme
Etika profesionalisme Peserta didik Bedah adalah untuk
menjadi Dokter Spesialis Bedah yang baik dan bermanfaat bagi
masyarakat yang mempunyai kemampuan yang baik:
1. Sikap terhadap penderita
2. Sikap terhadap Staf pendidik & Kolega
< 60 60-69 70-79 > 80
3. Sikap terhadap paramedis dan non paramedis
4. Disiplin dan tanggung jawab
5. Ketaatan pengisian dokumen medik
6. Ketaatan tugas yang diberikan
7. Ketaatan melaksanakan pedoman penggunaan obat dan
alat
Komunikasi Efektif
Komunikasi terhadap kolega, pasien/ keluarga, paramedis dan
staf pengajar dilakukan dengan :
< 60 60-69 70-79 > 80
1. Jujur
2. Terbuka
3. Bersikap baik
Kemampuan Kerjasama
1. Kerjasama yang baik antara kolega, dokter, perawat,
karyawan kesehatan, pasien dan keluarga pasien < 60 60-69 70-79 > 80
2. Bisa bekerjasama dalam bentuk tim secara harmonis
untuk pelayanan secara optimal
Patient Safety
Mengikuti kaidah-kaidah Patient Safety
< 60 60-69 70-79 > 80
IPSG 1-6: Identifikasi, Cuci tangan, Time Out, Komunikasi
efektif, Pencegahan Infeksi, Pemberian Obat.


IV. Evaluasi Proses Pendidikan

Sistem evaluasi pencapaian kompetensi dibahas dan dijelaskan dalam Standar Uji Kompetensi
Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Indonesia (yang dibuat komisi ujian).

48


V. Daftar Pustaka
1. Norman S. Williams, Christopher J. K. Bulstrode, P. Ronan O'Connell (Editor). Bailey
& Love's Short Practice of Surgery. 26th edition. Hodder Arnold UK.
2. Jeffrey Norton, Philip S. Barie, Ralph R. Bollinger, Alfred E. Chang, Stephen Lowry,
Sean J. Mulvihill, Harvey I. Pass, Robert W. Thompson (Editor). Surgery: Basic
Science and Clinical Evidence. 19th edition. Springer.
3. F. Brunicardi, Dana Andersen, Timothy Billiar, David Dunn, John Hunter, Jeffrey
Matthews, Raphael E. Pollock (Author). Schwartz's Principles of Surgery, Tenth
Edition. McGraw-Hill.
4. Hugh Dudley, David C. Carter, R.C.G. Russell (Editor). Atlas of General Surgery.
Butterworth-Heinemann ELBS.
5. Robert M. Zollinger, Jr. and E. Christopher Ellison. Zollinger's Atlas of Surgical
Operations. 9th edition. McGraw-Hill Education.
6. De Jong, Sjamsuhidajat. Buku ajar Ilmu Bedah Indonesia 3rd ed.
7. Sabiston DC (editor). Textbook of surgery. 19th ed. Philadelphia: WB Saunders
Company
8. RACS (2011) Royal Australian College of Surgeons, Surgical Competence and
Performance. www.Surgeons.Org
9. Standar Pendidikan Profesi Dokter Indonesia, 2012

Penutup

Lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah adalah tenaga profesional yang akan
mengabdi di masyarakat dalam berbagai pengabdian dan pelayanan. Menciptakan tenaga
kualitas yang profesional tersebut menjadi tanggung jawab bersama baik institusi pendidikan
maupun organisasi profesi. Karena itu sinergi dan kualitas yang dibangun oleh dua lembaga
tersebut sangat dibutuhkan.
Kolegium ilmu bedah indonesia selaku organisasi profesi yang mengatur kurikulum dan
evaluasi sistem pendidikan dokter spesialis bedah di Indonesia bertugas untuk menjamin
perbaikan kualitas pendidikan dan kompetensi yang harus dicapai oleh masing-masing lulusan
pendidikan dokter spesialis bedah. Uji komptetensi yang dilaksanakan oleh KIBI merupakan
salah satu langkah dalam menentukan standar lulusan spesialis bedah, selalu mengalami
perkembangan dan peningkatan kualitas yang berkesinambungan sehingga buku pedoman ini
secara periodik akan dikaji serta diperbaiki agar dapat memfasilitasi perkembangan dan
kebutuhan peningkatan kualitas demi terwujudnya pelaksanaan uji kompetensi yang kredibel,
akuntabel dan transparan. Dengan demikian diharapkan dokter spesialis bedah yang dihasilkan
dapat menghadirkan kualitas kesehatan yang lebih baik di masa depan.

49