Anda di halaman 1dari 5

Tauhid Uluhiyah: Kewajiban Pertama

Seorang Manusia
22 September 2010 •oleh: Tim Redaksi • 2

Permasalahan tauhid sangat penting dalam pandangan Islam. Kesalahan dan penyimpangan
dalam masalah ini sangat berbahaya, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
para ulama memberikan perhatian serius dalam permasalahan ini. Khususnya tauhid uluhiyah
atau tauhid ibadah yang langsung menjadi intisari peribadatan setiap manusia.

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang kewajiban pertama bagi hamba
Allah adalah syahadatain yang berisi tauhid uluhiyah dan mutaba’ah, sebagaimana dijelaskan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Sesungguhnya para salaf dan para imam
sepakat memandang kewajiban pertama yang diperintahkan kepada hamba adalah
syahadatain. Juga sepakat orang yang mengucapkan syahadatain sebelum baligh-nya tidak
diperintahkan untuk memperbarui hal tersebut setelah (mencapai usia) baligh.” (Dar’u
Ta’arudh al-Aqli wan-Naqli, 8/11)

Dasar dari kesepakatan ini dapat diringkas dalam empat dalil yaitu:

Semua utusan Allah (rasul) berdakwah kepada tauhid uluhiyah dan mengikhlashkan ibadah
semata kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

‫تولتقتجد بتتعجثنتاَّ نفيِ غكلل أتطمةة طرغسوُلل أتنن اجعبغغدوا ات تواججتتننغبوُا الططاَّغغوُ ت‬
‫ت‬

“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),
‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.’” (Qs. an-Nahl/16: 36)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

‫ك نمنِ طرغسوُةل إنلطغنوُنحيِ إنلتجينه أتنطهغ لِ إنلتهت نإلِ أتنتاَّ فتاَّجعبغغدونن‬


‫توتمآَأتجرتسجلنتاَّ نمنِ قتجبلن ت‬

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan
kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku.’” (Qs. al-Anbiya`/21: 25)

Demikian juga banyak ayat turun menjelaskan individu para rasul yang menyeru kaumnya
kepada tauhid uluhiyah, sebagai contoh adalah:

Nabi Nuh yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‫لتقتجد أتجرتسجلنتاَّ غنوُلحاَّ إنتلىَ قتجوُنمنه فتقتاَّتل يتاَّقتجوُنم اجعبغغدوا ات تماَّلتغكم لمجنِ إنلتةه تغجيغرهغ إنلنيِ أتتخاَّ غ‬
‫ف تعلتجيغكجم تعتذا ت‬
‫ب يتجوُةم تعنظيةم‬

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku
sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu
tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar (kiamat).’”
(Qs. al-A’raf/7: 59)

Nabi Hud yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‫توإنتلىَ تعاَّةد أتتخاَّهغجم غهوُلدا قتاَّتل يتاَّقتجوُنم اجعبغغدوا ات تماَّلتغكم لمجنِ إنلتةه تغجيغرهغ أتفتلت تتتطغقوُتن‬

“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata, ‘Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka,
mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (Qs. al-A’raf/7: 65)

Nabi Shalih yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‫توإنتلىَ ثتغموُتد أتتخاَّهغجم ت‬


‫صاَّلنلحاَّ قتاَّتل يتاَّقتجوُنم اجعبغغدوا ات تماَّلتغكم لمجنِ إنلتةه تغجيغرهغ‬

“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka shalih. Ia berkata, ‘Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.’” (Qs. al-A’raf/7:
73)

Nabi Syu’aib yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‫توإنتلىَ تمجديتتنِ أتتخاَّهغجم غشتعجيبلاَّ قتاَّتل يتاَّقتجوُنم اجعبغغدوا ات تماَّلتغكم لمجنِ إنلتةه تغجيغرهغ‬

“Dan (kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata,
‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.’” (Qs. al-
A’raf/7: 85)

Dari dasar ini jelas nampak dua perkara:

Pada asalnya bani Adam bertauhid dengan benar dan itu berlalu sampai sepuluh abad antara
Nabi Nuh dengan Nabi Adam.

Jelas kesyirikan yang terjadi pada manusia adalah kesyirikan dalam uluhiyah.

Setelah jelas dua hal ini, nampaklah para rasul diutus untuk mengajak manusia untuk
bertauhid uluhiyah dengan benar dengan cara beribadah hanya kepada Allah dan tidak kepada
selain-Nya. Dari sini, jelaslah kewajiban pertama seorang hamba adalah menauhidkan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dengan tauhid uluhiyah, ditambah lagi adanya dalil-dalil yang
menunjukkan manusia dilahirkan dalam keadaan fithrah.

Setiap orang yang belum mengakui keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala harus didakwahi
pertama kali untuk mengakui hal ini yang akan menjadi sarana untuk mengakui peribadatan
hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak pantas diberikan kepada selain-Nya.
Dengan demikian, kewajiban mengakui adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sarana
mengetahui kewajiban yang inti yaitu tauhid uluhiyah, sebab pengakuan Allah saja tidak
cukup.

Tujuan dari penciptaan manusia adalah ibadah.

Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


‫ت اجلنجطنِ توجانلن ت‬
‫س إنلطلنيتجعبغغدونن‬ ‫توتماَّتخلتجق غ‬

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-
Ku.” (Qs. adz-Dzariyaat/51: 56)

Dalam ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan penciptaan manusia
untuk tujuan ibadah, oleh karena itu perintah pertama kepada manusia adalah perintah ibadah
dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‫يتاَّأتيَيهتاَّ النطاَّ غ‬
‫س اجعبغغدوا تربطغكغم الطنذيِ تخلتقتغكجم توالطنذيتنِ نمنِ قتجبلنغكجم لتتعلطغكجم تتتطغقوُتن‬

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah/2: 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak dan memerangi manusia untuk


mengucapkan syahadatain.

Hadits-hadits tentang hal ini sangat banyak hingga Abul Muzhaffar as-Sam’aani
rahimahullah (wafat tahun 489 H) menyatakan, “Hadits-hadits yang menjelaskan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak orang-orang kafir kepada Islam dan syahadatain
sudah mutawatir.” (Mukhtashar al-Intishaar Liahlil Hadits – ada dalam kumpulan kitab
Shaun al-Mantiq, karya Imam as-Suyuthi, hal. 172)

Di antara hadits-hadits tersebut adalah:

‫صتم نملنىَ تماَّلتهغ تونتجفتسهغ إنلط بنتحقلنه تونحتساَّبغهغ تعتلىَ ط‬


‫ان‬ ‫اغ فتتمجنِ قتاَّتل لت إنلتهت إنلط ط‬
‫اغ فتقتجد تع ت‬ ‫ت أتجن أغقتاَّتنتل النطاَّ ت‬
‫س تحطتىَ يتغقوُغلوُا لت إنلتهت إنلط ط‬ ‫أغنمجر غ‬

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga menyatakan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’.
Maka, siapa yang menyatakan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ maka telah melindungi harta dan
jiwanya dariku, kecuali dengan haknya dan hisabnya ada pada Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada sahabat yang mulia Mu’adz
bin Jabal radhiallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman dengan wasiat yang berbunyi:

‫ب فتجليتغكجنِ أتطوتل تماَّ تتجدغعوُهغجم إنتلىَ أتجن يغتوُلحغدوا ط‬


َ‫ات تتتعاَّتلى‬ ‫ك تتجقتدغم تعتلىَ قتجوُةم نمجنِ أتجهنل اجلنكتتاَّ ن‬
‫إننط ت‬

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab, maka hendaknya ajakan
kamu kepada mereka yang pertama adalah mengajak mereka bertauhid.” (Muttafaqun ‘alaihi
dan lafadznya adalah lafadz al-Bukhari)

Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri ketika membai’at para


sahabatnya, baik yang lelaki, maupun yang wanita mengawali bai’atnya dengan ucapan:

َّ‫بتاَّينغعوُننيِ تعتلىَ أتجن تل تغجشنرغكوُا بناَّطلن تشجيئلا‬

“Berbai’atlah kalian untuk tidak berbuat syirik kepada Allah.” (HR al-Bukhori, lihat Fathu
al-Baari 1/64)

Ijma’ para ulama salaf. Hal ini disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana
telah dijelaskan di atas dan juga Ibnu al-Mundzir radhiallahu ‘anhu (wafat tahun 318 H)
menyatakan, “Semua ulama yang saya hafal bersepakat (ijma’), bahwa orang kafir apabila
mengucapkan syahadatain (asyhaduan laa ilaaha illa Allah wa asyhaduanna Muhammadan
abduhu warasuluhu), dan (meyakini) semua ajaran Muhammad adalah benar serta berlepas
diri dari semua agama yang menyelisihi agama Islam dalam keadaan baligh dan berakal,
maka ia adalah muslim” (Dinukil oleh Syeikhul Islam dalam kitab Dar’ut Ta’aarud al-Aql
wan-Naql, 8/7)

Imam Abul Muzhaffar as-Sam’aani rahimahullah (wafat tahun 489 H) menjelaskan, bahwa
pendapat yang menyatakan kewajiban pertama seorang adalah meneliti adalah pendapat
bid’ah yang tidak dikenal di kalangan para sahabat dan tabi’in. Karena, seandainya sudah
dikenal pastilah mereka nukilkan kepada kita, karena besarnya perhatian mereka terhadap
agama ini. Apalagi yang diklaim adalah kewajiban pertama seorang manusia! Yang sudah
terkenal mereka menyeru kepada Islam dan merekalah yang menyampaikan jalan tuntunan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dakwahnya. Hal ini menunjukkan yang sudah
jelas pasti di kalangan mereka adalah dakwah pertama kepada orang kafir adalah syahadatain
dan keduanya adalah kewajiban pertama dan utama (Lihat Mukhtashar al-Intishar Liahlil
Hadits, hal. 171-172)

Demikian juga Ibnu al-Qayyim rahimahullah, “Kaum muslimin ber-ijma’ (sepakat -ed),
bahwa orang kafir apabila mengucapkan Laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasulullah, maka
telah masuk Islam” (Madaarij as-Saalikin, 3/421)

Hal ini menunjukkan, bahwa syahadatain adalah kewajiban pertama seorang manusia dalam
Islam.

Dari penjelasan dasar-dasar yang menunjukkan kewajiban pertama seorang adalah


menauhidkan Allah dalam peribadatan yang mengandung di dalamnya jenis tauhid lainnya.

Satu Keharusan!

Mengajak manusia memahami dan meyakini tauhid dengan benar adalah satu keharusan yang
wajib diperhatikan dan tidak diremehkan, karena itu adalah kewajiban utama dan pertama
bagi para hamba Allah yang menginginkan kebahagian dunia dan akhirat. Ironisnya, banyak
sekali kaum muslimin masih meremehkan dan tidak peduli dengan tauhid uluhiyah ini
dengan tidak mempelajari dan mengajak orang kepada hal ini. Padahal, banyak sekali
kesyirikan dilakukan kaum muslimin dalam keadaan mereka tidak mengetahui hal itu adalah
kesyirikan dan lawan dari tauhid uluhiyah. Semua ini tidak lepas dari ketidaktahuan mereka
terhadap tauhid uluhiyah dan kandungan serta tuntutannya.

Bila melihat kepada kejahilan banyak kaum muslimin terhadap tauhid uluhiyah ini tidak lepas
dari beberapa sebab, di antaranya:

Kaum Muslimin belum mengerti urgensi tauhid dan kewajibannya seputar masalah ini.

Tidak adanya dakwah yang benar dalam menjelaskan kepada mereka permasalahan tauhid
ini.

Adanya ke-bid’ah-an yang terus dikembangkan para musuh Allah dengan sengaja dan kaum
muslimin sendiri tanpa sadar yang menutup dan menghalangi mereka mendengarkan
kenbenaran,
Adanya para da’i yang menyeru mereka untuk meninggalkan ilmu dan meremehkan
permasalahan tauhid ini.

Mengutamakan tradisi-tradisi budaya dengan mengesampingkan syariat, sehingga dengan


dalih mengembangkan tradisi budaya mereka kembangkan beranekaragam kesyirikan, seperti
sedekah laut dan sebagainya.

Hal-hal ini membutuhkan perhatian dan pengorbanan serta kesabaran yang tinggi dari para
ulama, da’i dan orang-orang yang telah berpegang teguh kepada al-Qur`an dan sunnah di atas
metode pemahaman salafush shalih dalam mempelajari, mengajak dan mengajarkan serta
mengamalkan tauhid ini dalam setiap sendi kehidupannya.

Inilah satu keharusan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi dalam upaya mencapai kejayaan
ummat, sebagaimana hal ini telah memperbaiki generasi-generasi mulia terdahulu.

Lihatlah pernyataan Imam Malik bin Anas rahimahullah:

‫صلنغح آنختر هتنذنه الغطمنة إنلط بنتماَّ ت‬


َّ‫صلتتح بننه أتطولغهتا‬ ‫لت ي غ ج‬

Tidak akan memperbaiki akhir umat ini, kecuali dengan sesuatu yang menjadikan awal umat
ini baik.

Cukuplah contoh dakwah para Nabi sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai dasar dan dalil yang jelas kebenaran dakwah yang mengajak
manusia mengenal tauhid uluhiyah.

Alangkah salah dan keliru orang yang tidak berdakwah kepada tauhid ini atau meremehkan
dakwah tauhid ini, serta tidak sabar di atas hal ini.

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.


Artikel: www.PengusahaMuslim.com