Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SD

Judul : Pembelajaran Apresiasi Prosa di Sekolah Dasar

Dosen : Dr. H. Ahmad Ridhani, M.Pd

Kelompok 8

1. Resia Dwi Mulyani 1505115171


2. Sri Lestari 1505115177
3. Putri Ambar Sari 1505115201

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua,
sehingga penyusun mampu menyelesaikan makalah dengan judul “Pembelajaran
Apresiasi Prosa di Sekolah Dasar” mata kuliah Pembelajaran Bahasa Indonesia
SD tepat pada waktunya.
Tujuan pembuatan makalah ini agar pembaca dapat menambah wawasan
mengenai karya sastra tepatnya tentang prosa.
Dalam penulisan makalah ini, masih terdapat banyak kekurangan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun kami harapkan dari para pembaca
agar dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Samarinda, 12 Februari 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i

KATA PENGANTAR .................................................................................. ii

DAFTAR ISI ................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah............................................................................... 2
C. Tujuan Makalah.................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Apresiasi Sastra Prosa....................................................... 3


B. Jenis-jenis Prosa.................................................................................. 4
C. Unsur-unsur Prosa............................................................................... 7
D. Langkah-langkah Dalam Pengajaran Apresiasi Prosa........................ 9

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan.......................................................................................... 11
B. Saran.................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA …………………......................................................... 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sastra pada dasarnya merupakan ciptaan dan sebuah kreasi yang dibuat
seseorang. Karya sastra sebagai bentuk dan hasil sebuah pekerjaan kreatif,
pada hakikatnya adalah suatu media yang digunakan untuk mengungkapkan
kehidupan manusia. Oleh sebab itu, sebuah karya sastra, pada umumnya,
berisi tentang permasalahan yang melingkupi kehidupan manusia.
Kemunculan sastra lahir dilatar belakangi adanya dorongan dasar manusia
untuk mengungkapkan eksistensi dirinya. (dalam Sarjidu, 2004: 2).
Dengan berapresiasi terhadap sastra, pengetahuan dan wawasan siswa
akan bertambah. Sehingga kepekaan terhadap karya sastra akan semakin
terasah. Dengan demikian diperlukannya pengalaman dalam meng-
apresisasikan karya sastra serta terjun langsung ke dalam karya sastra
tersebut.
Masalah dalam pengajaran sastra memang telah menjadi masalah klasik
dikarenakan kurangnya apresiasi sastra siswa di sekolah-sekolah. Tidak
jarang siswa merasa jenuh dalam belajar bahasa Indonesia khususnya yang
berhubungan dengan karya fiksi.
Menurut Hendro Martono hal ini terjadi disebabkan beberapa hal yakni,
pemerintah kurang terlihat serius dalam mengarahkan kurikulum Bahasa dan
Sastra Indonesia. Bisa dilihat dari porsi pengajaran sastra lebih minim
dibandingkan pengajaran bahasa. Selanjutnya, secara teknis guru-guru bahasa
umumnya tidak secara otomatis mampu menjadi guru sastra.
Jika dalam pengajaran sastra memerlukan bakat maka hal ini agak sulit
karena tidak banyak guru yang memnuhi kualifikasi dalam pengajaran sastra.
Akibatnya, proses belajar hanya tertumpu pada kajian teoretis dan menghafal
saja.
Berdasarkan latar belakang tersebut, dalam makalah ini akan dibahas
mengenai apresiasi pengajaran satra yang terfokus pada kajian prosa.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Apresiasi Sastra Prosa ?
2. Apa saja jenis-jenis Prosa ?
3. Apa saja unsur-unsur Prosa ?
4. Bagaimana langkah-langkah pengajaran Apresiasi Prosa ?

C. Tujuan Makalah
1. Untuk menjelaskan apa itu Apresiasi Sastra Prosa ?
2. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis Prosa ?
3. Untuk menjelaskan unsur-unsur Prosa ?
4. Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah dalam pengajaran
Apresiasi Prosa ?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Apresiasi Sastra Prosa


Istilah apresiasi berasal dari bahasa Inggris "apresiation" yang berarti
penghargaan, penilaian, pengertian. Bentuk itu berasal dari kata kerja " ti
appreciate" yang berarti menghargai, menilai, mengerti dalam bahasa
indonesia menjadi mengapresiasi. Dengan demikian, yang dimaksud dengan
apresiasi sastra adalah penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya
sastra, baik yang berbentuk puisi maupun prosa atau suatu kegiatan
menggauli sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian,
penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik
terhadap cipta sastra. Adapun definisi apresiasi sastra menurut para ahli,
yaitu:
1) Apresiasi sastra ialah penghargaan (terhadap karya sastra) yang
didasarkan atas pemahaman (Sudjiman, 1990:9).
2) Apresiasi sastra adalah penghargaan dan pemahaman atas suatu hasil
seni atau budaya (Natawidjaja, 1981:1).
3) Apresiasi sastra adalah penaksiran kualitas karya sastra serta pemberian
nilai yang wajar kepadanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman
yang sadar dan kritis (Tarigan, 1984:233).
4) Apresiasi adalah penimbangan, penilaian, pemahaman, dan pengenalan
secara memadai (Hornby, 1973:41).
5) Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan
sungguh-sungguh hingga timbul pengertian, penghargaan, kepekaan
pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra
(Effendi, 1982:7).
6) Apresiasi sastra ialah kegiatan memahami cipta sastra dengan sungguh-
sungguh hingga menimbulkan pengertian dan penghargaan yang baik
terhadapnya. (Zakaria, 1981:6).

3
7) Apresiasi sastra ialah proses (kegiatan) pengindahan, penikmatan,
penjiwaan, dan penghayatan karya sastra secara individual dan
momentan, subjektif dan eksistensial, ruhaniah dan budiah, khusuk dan
kafah, dan intensif dan total, supaya memperoleh sesuatu daripadanya
sehingga tumbuh, berkembang, dan terpiara kepedulian, kepekaan,
ketajaman, kecintaan, dan keterlibatan terhadap karya sastra (Saryono,
2009:34).
Sedangkan Prosa Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
adalah karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yg terdapat dalam puisi).
Menurut H.B. Jassin (dalam Suroto, 1989) Prosa adalah pengucapan seorang
penyair dengan pikiran yang berbeda dengan puisi yang merupakan
pengucapan penyair dengan perasaan. Sedangkan menurut Henry Guntur
Taringan (1993) Prosa adalah karya sastra fiksi dalam bahasa Indonesia
secara singkat dari buah hasil imajinasikan. Dari beberapa pengertian diatas
dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra prosa adalah memberi penghargaan
dengan sebaik-baiknya dan seobjektif mungkin pada suatu karya sastra prosa.
Seobjektif mungkin dapat diartikan bahwa pemberian penghargaan dilakukan
setelah karya sastra itu dibaca, telaah unsur-unsur pembentuknya dan
tafsirkan berdasarkan wawasan dan visi kita terhadap karya sastra itu.
B. Jenis-jenis Prosa
Pada umumnya prosa terbagi menjadi dua macam yaitu prosa lama dan
prosa baru.
1. Prosa Lama
Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh
dari sastra atau kebudayaan barat. Karya sastra prosa lama yang mula-
mula timbul disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum
dikenalnya bentuk tulisan. Prosa lama memiliki ciri-ciri diantaranya
sebagai berikut:
a. Bersifat Statis

4
Prosa lama memiliki bentuk sama, pola-pola kalimatnya sama, banyak
kalimat dan ungkapan yang sama, tema ceritanya sama sesuai dengan
perkembangan masyarakat yang lambat atau pada waktu itu.
b. Diferensiasi Sedikit
Cerita lama pada umumnya merupakan ikatan unsur-unsur yang sama
karena perhubungan beberapa unsur kuat sekali.
c. Bersifat Tradisional
Prosa lama bersifat tradisional, kalimat-kalimat dan ungkapan-
ungkapan yang sama terdapat dalam cerita-cerita yang berlainan,
bahkan di dalam satu cerita juga sering diulang.
d. Ceritanya Anonim “tanpa nama”
Prosa lama merupakan milik bersama yaitu menggambarkan tradisi
masyarakat yang lebih menonjolkan kekolektifan daripada
keindividualan.
e. Tidak Mengindahkan Sejarah atau Perhitungan Tahun
Sejarah menurut pengertian lama adalah karangan tentang asal usul
raja dan kaum bangsawan dan kejadian-kejadian yang penting, tanpa
memperhatikan perurutan waktu dan kejadian-kejadiannya (tidak
kronologis) sehingga alur cerita sulit dipahami
f. Bahasanya Menunjukkan Bentuk-bentuk yang Tradisional
Bahasanya bersifat klise, bahasanya dipengaruhi oleh kesustraan
Budha dan Hindu yang sulit untuk dipahami dan dipengaruhi bahasa
melayu.
g. Sifatnya Fantasis dan Khayal
Hampir seluruhnya berbentuk hikayat, tambo atau dongeng. Pembaca
dibawa ke dalam khayal dan fantasi.
1) Hikayat, berasal dari India dan Arab, berisikan cerita
kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-
raja yang memiliki kekuatan gaib. Contohnya Kabayan, si
Pitung, dan lain-lain.

5
2) Dongeng adalah cerita yang dikisahkan tentang hal-hal yang
tidak masuk akal atau tak mungkin terjadi.
2. Prosa Baru
Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat
pengaruh sastra atau budaya Barat. prosa baru memiliki ciri-ciri
diantaranya sebagai berikut:
a. Tertulis
Prosa baru bersifat tertulis yang disampaikan dalam bentuk tulisan.
b. Masyarakatnya sentris
Pokok cerita yang terdapat dalam prosa baru mengambil bahan atau
kejadian dari kehidupan masyarakat sehari-hari yaitu hal yang biasa
terjadi di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.
c. Bahasa tidak bersifat klise dan dipengaruhi oleh kesusastraan Barat
d. Diketahui siapa pengarangnya karena dinyatakan dengan jelas
Pembuat prosa baru dinyatakan secara jelas dalam sehingga prosa
bukan milik bersama masyarakat namun milik perorangan.
e. Bersifat modern/ tidak tradisional
Unsur-unsur dalam prosa mengenai hal-hal yang terjadi pada masa
sekarang (modern).
f. Memperhatikan urutan peristiwa
Dalam menggambarkan suatu keadaan disesuaikan dengan urutan
kejadian sehingga alur yang digunakan dapat mudah dipahami.
g. Tokoh yang digunakan umumnya manusia
h. Bersifat Rasional
Bentuknya roman, cerpen, novel, riwayat, drama yang berjejak di
dunia yang nyata berdasarkan kebenaran dan kenyataan.
1) Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan
pelaku utamanya dengan segala suka dukanya.
2) Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian
kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik,
dan yang mengandung konflik.

6
3) Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian
kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling
menarik.
4) Riwayat (biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi
pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi)
atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga
dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia.
5) Drama menggambarkan realita kehidupan, watak, serta tingkah
laku manusia melalui peran dan dialog yang dipentaskan.
C. Unsur-unsur Prosa
1. Unsur-unsur Intrinsik
a. Tema
Tema adalah gagasan yang menjalin struktur isi cerita. Tema suatu
cerita menyangkut segala persoalan, baik itu berupa masalah
kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, kecemburuan, dan sebagainya.
Untuk mengetahui tema suatu cerita, diperlukan apresiasi menyeluruh
terhadap berbagai unsur karangan itu. Bisa saja tema terdapat pada
unsur penokohan, alur, atau latar. Tema jarang dituliskan secara
tersurat oleh pengarangnya. Untuk dapat merumuskan tema cerita
fiksi, seorang pembaca harus terlebih dahulu mengenali unsur-unsur
intrinsik yang dipakai oleh pengarang untuk mengembangkan cerita
fiksinya.
b. Alur
Alur merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh
hubungan sebab-akibat. Bagian-bagian alur tersebut tidaklah seragam.
Kadang-kadang susunannya itu langsung pada penyelesaian lalu
kembali pada bagian pengenalan. Ada pula yang diawali dengan
pengungkapan peristiwa, lalu 13 pengenalan, penyelesaian peristiwa,
dan puncak konflik. Tidak sedikit pula cerita yang alurnya berbelit-
belit dan penuh kejutan, juga kadang-kadang sederhana.
c. Tokoh dan Penokohan

7
Penokohan yaitu cara kerja pengarang untuk menampilkan tokoh
cerita. Penokohan dapat dilakukan menggunakan metode (1) analitik,
(2) dramatik, dan (3) kontekstual. Tokoh cerita akan menjadi hidup
jika ia memiliki watak seperti layaknya manusia. Watak tokoh terdiri
atas sifat, sikap, serta kepribadian tokoh. Cara kerja pengarang
memberi watak pada tokoh cerita dinamakan penokohan, yang dapat
dilakukan melalui penggambaran (1) fisik, (2) psikis, dan (3) sosial.
Latar berkaitan erat dengan tokoh dan alur.
d. Latar
Latar adalah seluruh keterangan mengenai tempat, waktu, serta
suasana yang ada dalam cerita. Latar tempat terdiri atas tempat yang
dikenal, tempat tidak dikenal, dan tempat yang hanya ada dalam
khayalan. Latar waktu ada yang menunjukkan waktu dengan jelas,
namun ada pula yang tidak dapat diketahui secara pasti. Cara kerja
pengarang untuk membangun cerita bukan hanya melalui penokohan
dan perwatakan, melainkan pula dapat melalui sudut pandang.
e. Sudut Pandang
Sudut pandang (point of view) adalah posisi pengarang dalam
membawakan cerita. Posisi pengarang ini terdiri atas dua macam,
yaitu berperan langsung, sebagai orang pertama dan berperan sebagai
pengamat atau sebagai orang ketiga.
f. Amanat
Amanat merupakan ajaran moral atau pesan didaktis yang
disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya. Amanat
tersimpan rapi dan disembunyikan pengarangnya dalam isi cerita.
2. Unsur-unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik prosa adalah segala faktor luar yang
melatarbelakangi penciptaan karya sastra, seperti faktor pendidikan
pengarang, faktor kesejarahan, dan faktor sosial budaya.

8
D. Langkah-langkah Pengajaran Apresiasi Prosa
Prosa sebagai salah satu bentuk cipta sastra, mendukung fungsi sastra
pada umumnya. Fungsi prosa adalah untuk memperoleh keindahan,
pengalaman, nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita, dan nilai-nilai
budaya yang luhur. Selain itu dapat pula mengembangkan cipta, rasa, serta
membantu pembentukan untuk pembelajaran (secara tidak langsung). Prosa
sebagai salah satu bentuk karya sastra, sering menimbulkan masalah dalam
mengajarkannya. Hal ini muncul karena cerita yang ditulis dalam bentuk
prosa pada umumnya panjang. Masalah ini tentu saja dapat mempengaruhi
proses pembelajaran prosa karena bimbingan apresiasi yang menyangkut teks
enggan diberikan. Seperti halnya puisi, prosa pun sebaiknya dinikmati oleh
siswa secara utuh agar fungsi prosa benar-benar terwujud.
Dalam berbagai buku sumber ada disebutkan langkah-langkah yang
dilakukan dalam melaksanakan apresiasi sastra prosa yakni :
1. Membaca novel (cerpen, roman) itu secara tenang dan seksama. Kalau
perlu bisa dilakukan dua tiga kali. Biasanya sebuah karya prosa yang
baik akan mengundang kita untuk membacanya berkali-kali karena
kita memperoleh kenikmatan dari pembacaan itu.
2. Melibatkan emosi ketika membaca prosa tersebut.
3. Mencoba menelaah apa tema cerita tersebut, dan mengetahui
bagaimana tema itu disajikan, menelaah plot, penokohan, setting atau
latar, dan berbagai unsur instrinsik lainnya.
4. Mencoba menelaah amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang
dengan novel (cerpen, roman) tersebut.
5. Mencoba menelaah penggunaan bahasa yang digunakan dalam karya
prosa tersebut melihat kekuatannya, dan mencari kekurangannya.
6. Mencoba menarik kesimpulan akan nilai karya prosa tersebut
berdasarkan telaah objektif terhadap unsur intrinsik dan unsur
ekstrinsiknya.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Apresiasi prosa adalah penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap
karya sastra prosa dengan sungguh-sungguh hingga menimbulkan pengertian
dan penghargaan yang baik terhadap prosa itu.
Pada umumnya prosa terbagi menjadi dua macam yaitu prosa lama dan
prosa baru. Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat
pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat, sedangkan prosa baru adalah
karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya
Barat.
Dalam prosa terdapat unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik
prosa adalah unsur yang berasal dari dalam, seperti: tema, alur, tokoh dan
penokohan, latar, sudut pandang dan amanat. Unsur ekstrinsik prosa adalah
segala faktor luar yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra, seperti
faktor pendidikan pengarang, faktor kesejarahan, dan faktor sosial budaya.

B. Saran
Dalam mengapresiasi karya sastra prosa harus dilakukan dengan
langkah-langkah yang benar, terutama langkah membaca. Ketika membaca
ada baiknya karya itu dibaca secara seksama dan bila perlu hingga
berulangkali. Hal itu sangat perlu dilakukan agar tidak terjadi kesalahan
dalam menelaah, mengetahui dan mencari unsur-unsur prosa yang diapresiasi,
sehingga apresiasi yang dibuat lebih jelas maksudnya dan bermanfaat bagi
pembaca.

10
DAFTAR PUSTAKA

Aminudin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru


Algesindo.

11