Anda di halaman 1dari 39

Alat-Alat dalam Praktek Kebidanan

Bekal seorang bidan sebelum melakukan praktek pada sebuah layanan rumah bersalin
adalah mengetahui nama-nama alat kebidanan beserta fungsinya. Dalam hal ini terdapat
bebeerapa Macam alat kebidanan dan alat-alt yang biasa digunakan dalam kebidanan beserta
fungsinya.

A. Beberapa Macam Alat Kebidanan

Ada beberapa alat dari usaha bidan, yang biasa digunakan selama persalinan.
1. Peralatan dasar
Setiap bidan akan membawa beberapa peralatan dasar untuk kelahiran. Ini
adalah item medis umum yang meliputi sarung tangan steril, pelumas larut dalam air,
gunting pusar, klem, jarum suntik, kain kassa steril, pitocin, peralatan oksigen dan
pernafasan, bayi okular alat kontrasepsi, bantalan feminin berat dan pakaian sekali
pakai. Barang-barang bantuan dalam kelahiran fisik bayi baru dan perawatan ibu. Jika
bidan yang membantu kelahiran di rumah sakit, item ini akan menjadi pra-trayed dan
dibawa ke ruang melahirkan di gerobak, siap untuk bidan untuk digunakan.
2. Peralatan pemantauan
Untuk kelahiran pusat rumah atau kelahiran, bidan akan menggunakan
peralatan pemantauan untuk mengawasi tanda-tanda vital ibu dan bayi. Beberapa jenis
peralatan bidan dapat membawa kelahiran terjadi di luar rumah sakit adalah stetoskop,
manset tekanan darah, dan USG Doppler gel transmisi atau fetoscope, dan stopwatch.
Peralatan ini membantu bidan hati-hati mengikuti perkembangan ibu dan bayi selama
proses persalinan. Dalam kelahiran rumah sakit, peralatan pemantauan yang biasa
mereka dapat atau tidak dapat digunakan, tergantung pada rumah sakit protokol,
standar bidan praktek, dan keinginan pasien.
3. Peralatan lainnya
Peralatan lain yang mungkin diperlukan oleh bidan adalah pad pemanasan atau
foil bayi bendera pak, cekungan emesis, pispot, cairan IV dan kit, konakion (vitamin
K), bahan menjahit, anestesi lokal dan alat-alat untuk membantu dalam tindakan
kenyamanan, seperti genggam pijat alat.
4. Peralatan untuk bidan belajar
Dalam proses pembelajaran, bidan membutuhkan beberapa alat bantu peraga
kebidanan. Beberapa di antaranya: phantom, relief, dan model.

1
B. Alat-alat Kebidanan dan Fungsinya

Berikut ini adalah daftar nama alat kebidanan beserta fungsinya:

1. Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu (temperatur),


ataupun perubahan suhu. Istilah termometer berasal dari bahasa Latin thermo yang
berarti panas dan meter yang berarti untuk mengukur.

2. Stetoskop (bahasa Yunani: stethos, dada dan skopeein, memeriksa) adalah sebuah
alat medis akustik untuk memeriksa suara dalam tubuh. Dia banyak digunakan untuk
mendengar suara jantung dan pernapasan, meskipun dia juga digunakan untuk
mendengar intestine dan aliran darah dalam arteri dan "vein".

3. Tensi meter utk mengukur tekanan darah.

2
4. Funduscope utk mendengarkan denyut jantung janin

5. Doppler utk mendengarkan denyut jantung janin(elektrik)

6. USG utk mengetahui keadaan dalam rahim, mis: janin, tumor, kanker, IUD.

3
7. Bak Instrumen sebagai tempat alat-alat yang akan digunakan untuk menolong
persalinan/merawat luka dan lain sebagainya.

8. Bengkok/ Nier bekken sebagai tempat alat-alat yang sudah terpakai saat menolong
persalinan/merawat luka dan lain sebagainya.

9. Gunting

4
Penggunaan Gunting dalam praktek kebidanan ada beberapa macam
diantaranya sebagai berikut:

 Gunting Diseksi (disecting scissor)


Gunting ini ada dua jenis yaitu, lurus dan bengkok. Ujungnya biasanga
runcing. Terdapat dua tipe yabg sering digunakan yaitu tipe Moyo dan tipe
Metzenbaum.

 Gunting Benang
Fungsi dari gunting benang ini adalah Untuk menggunting benang atau
bagian-bagian yang sulit digunting dengan gunting besar. Dan cara kerjanya adalah
dengan menekan bagian gagang gunting.

 Gunting Episiotomi

5
Gunting Episiotomi adalah instrument yang digunakan untuk menggunting
bagian perineum terutama jika perineum Ibu yang melahirkan kaku. Perineum
adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus.

 Gunting Tali Pusar


Gunting Tali Pusar adalah alat yang digunakan untuk menggunting tali pusar
bayi.

10. Klem
Fungsi umum klem adalah menjepit tali pusar. Klem memiliki beberapa jenis
yang masing-masing berbeda bentuk dan fungsinya.Namun yang digunakan dalam
kebidanan hanya klem yang berfungsi untuk menjepit tali pusar. \

6
 Klem Arteri Pean
Ada dua jenis yang lurus dan bengkok. Kegunaanya adalah untuk hemostatis
untuk jaringan tipis dan lunak.
 Klem Kocher
Ada dua jenis bengkok dan lurus. Sifatnya mempunyai gigi pada ujungnya
seperti pinset sirugis. Kegunaannya adalah untuk menjepit jaringan.
 Klem Allis
Penggunaan klem ini adalah untuk menjepit jaringan yang halus dan menjepit
tumor.
 Klem Babcock
Penggunaanya adalah menjepit dock atau kain operasi.

11. Suction pump untuk menyedot lendir dalam saluran pernapasan bayi

7
12. Kateter untuk membantu mengeluarkan urin.

13. Benang CatGut yaitu benang yang digunakan dalam menjahit luka.

14. Baby Scale untuk menimbang berat badan bayi.

15. Timbangan Orang dewasa untuk menimbang berat badan ibu hamil.

8
16. HB Sahli (Haemometer) untuk mengukur kadar hemoglobin dalam darah.

17. Sarung tangan / Handscoon untuk melindungi petugas kesehatan saat bekerja

18. Pinset anatomi yaitu alat untuk membantu proses menjahit luka, utk menjepit otot.

9
 Pinset Sirugis
Penggunaannya adalah untuk menjepit jaringan pada waktu diseksi dan
penjahitan luka, memberi tanda pada kulit sebelum memulai insisi.
 Pinset Anatomis
Penggunaannya adalah untuk menjepit kassa sewaktu menekan luka, menjepit
jaringan yang tipis dan lunak.
 Pinset Splinter
Penggunaannya adalah untuk mengadaptasi tepi-tepi luka ( mencegah
overlapping).
19. Jarum Hecting adalah jarum untuk membantu proses menjahit luka

20. Setengah Kocher

10
Setengah Kocher adalah alat yang digunakan untuk memecahkan/melubangi
selaput ketuban jika belum pecah.

21. Tong spatel

Nama lain dari Tong spatel adalah tongue depressor atau penekan lidah.juga sering di
sebut Tongue Blade (bahasa inggris) dan Zungenspatel (bahasa jerman). Fungsinya untuk
menekan lidah,agar dapat melihat lebih jelas keadaan di dalam tenggorokan, apakah ada
kelainan-kelainan, misalnya ada peradangan seperti pharyngitis,amandel,dan lain-lain.

22. Nald vooder/Needle Holder/Nald Heacting

11
Gunanya adalah untuk memegang jarum jahit (nald heacting) dan sebagai penyimpul
benang.

23. Sonde (Probe)

Penggunaannya adalah untuk penuntun pisau saat melakukan eksplorasi, dan


mengetahui kedalam luka.
24. Korentang

Penggunaannya adalah untuk mengambil instrumen steril, mengambil kassa,


jas operasi, doek, dan laken steril.
25. Spekulum

12
Spekulum adalah Alat yang berfungsi untuk melebarkan pembukaan vagina,
yang berfungsi untuk di gunakan untuk membuka vagina.
26. Pispot

Pispot adalah sebuah bejana yang diberi pegangan dan biasanya diletakkan di
bawah tempat tidur di dalam kamar dan digunakan untuk buang air kecil di malam
hari. Fungsi : alat yang di gunakan sebagai tempat untuk buang air kecil.
27. Leanec

Leanec adalah alat yang di gunakan untuk mendengarkan detak jantung bayi
pada ibu hamil. Yang berfungsi untuk mendengarkan detak jantung bayi pada ibu
hamil.
28. Pita ukur
Pita ukur adalah alat yang dipakai untuk mengambil ukuran badan untuk
mengetahui ukuran yang diperoleh dan alat pengukur pada waktu menggambar pola
besar. Cara kerja pita ukur ini adalah menggunakan pita ukuran dengan melihat
angka- angka yang diperoleh.

13
29. ARI timer untuk bagi
Kegunaan : Penghitung waktu selama anestesi.

30. Autoclick Device


Autoklik device merupakan alat tembak bentuknya seperti pulpen fungsinya
untuk mengambil sampel darah yang di perlukan pengecekan kadar gula
darah,kolesterol maupun asam urat dalam darah.Selain itu Juga untuk pengambilan
darah dalam terapi bekam atau cupping therapy.

14
31. Duk/Kain steril
Kain ini bertujuan untuk membatasi daerah tubuh tertentu.

32. Hechting Naid GR


Hechting digunakan untuk mendekatkan tepi luka dengan benang sampai
sembuh dan cukup untuk menahan beban fisiologis, karena robeknya perinium.

33. Infusion set dewasa


Kegunaan: Alat bantu saluran masuk serta penyetelan keluarnya cairan infus
ke dalam jaringan tubuh .

15
34. Infusion set paediatric

Regulator aliran efisien untuk penyesuaian akurat tingkat cairan. Infusion


mikro dengan ukuran penurunan 60 tetes / ml. Superior kualitas lateks tabung /
flashdisk bola untuk menyegel diri yang lebih baik.
35. Jarum disposible

Alat Suntik Sekali Pakai (Auto Disable Syringe) ini dirancang dengan
teknologi handal oleh Star Syringe Limited (K1) dimana setelah penyuntikan selesai
dilakukan, alat suntik secara otomatis terkunci / tidak berfungsi dan jika
piston/pendorong ditarik kembali maka akan patah.
36. Nasogastric tube

16
Dengan memasukkan selang nasogastrik, maka akan dapat akses ke perut dan
isinya. Hal ini memungkinkan untuk menguras isi lambung, dekompresi perut,
memperoleh spesimen dari isi lambung, atau memperkenalkan sebuah bagian dalam
saluran pencernaan. Ini akan memungkinkan untuk mengobati imobilitas lambung,
dan usus obstruksi. Ini juga akan memungkinkan untuk drainase dan / atau lavage di
overdosis obat atau keracunan. Dalam pengaturan trauma, tabung NG dapat
digunakan untuk membantu dalam pencegahan muntah dan aspirasi, serta untuk
penilaian GI perdarahan. Tabung NG juga dapat digunakan untuk makanan enteral
awalnya.
37. Resusiatator bayi standar

Resusiatator bayi standar adalah alat untuk memompa oksigen udara bebas.
digunakan untuk memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara memberikan pernafasan
buatan untuk menjamin kebutuhan oksigen dan pengeluaran gas CO2.

38. Troli

Troli yaitu tempat untuk meletakkan alat-alat instrument.

17
39. Rostur

Rostur adalah kursi roda untuk tempat pasien


40. Kasa
Kasa yaitu sejenis kain tipis seperti perban untuk menutupi luka
41. Vial

Vial yaitu obat injeksi dapat beberapa kali pakai


42. Waskom

Waskom yaitu tempat untuk mengisi air

18
43. Kom kasa
Kom kasa yaitu tempat untuk menaruh kasa
44. Kom betadine
Kom betadine yaitu tempat untuk manaruh betadine
45. Kom sputum
Kom sputum adalah tempat untuk mengisi sputum/dahak
46. Kom kasa steril
Kom kasa steril adalah tempat untuk kasa yang steril dan Wasped adalah alat
untuk memberikan makanan
47. Spuit

Spuit yaitu alat untuk injeksi atau menyuntik

48. Abocath

Abocath yaitu jarum untuk pemasangan inpus

19
49. Nal

Nal yaitu jarum injeksi/suntik


50. Selang impus

Selang impus adalah selang untuk impus

51. Kanala nasal / kateter nasal

Kanala nasal/kateter nasal yaitu selang untuk pemberian oksigen

20
52. Selang NGT

Selang NGT adalah selang untuk memberikan makanan


53. Selang masker

Selang masker adalah selang untuk memberikan oksigen


54. Standart impus

Standar impus adalah tempat untuk menggantungkan botol impus

21
55. Tabung oksigen

Tabung Oksigen yaitu alat untuk memberikan oksigenSpismamonometer,


umidipayer, klowmeter, tabung O.

2.2 Pemroresan Alat

A. Definisi pemrosesan alat

Pemrosesan alat adalah salah satu cara untuk menghilangkan sebagian besar
mikroorganisme berbahaya penyebab penyakit dari peralatan kesehatan yang sudah terpakai.
Pemrosesan alat juga dikatakan suatu tindakan yang dilakukan untuk membunuh kuman pada
alat – alat medis. Pemrosesan alat dilakukan dengan menggunakan bahan desinfektan melalui
cara dekontaminasi, mencuci atau membilas, dan sterilisasi.

B. Jenis-jenis Pemroresan Alat


Proses pencegahan infeksi dasar yang dianjurkan untuk menurunkan penularan
penyakit dari instrumen yang kotor, sarung tangan bedah, dan barang-barang lain yang
dipakai kembali adalah dekontaminasi, pembersihan, dan sterilisasi atau disinfeksi tingkat
tinggi (DTT).
1. Dekontaminasi alat
Dekontaminasi alat adalah proses yang membuat benda mati lebih aman untuk
ditangani oleh staf sebelum dibersihkan (umpamanya menginaktivasi HBV, HBC, dan
HIV) dan mengurangi, tapi tidak menghilangkan mikroorganisme yang
mengontaminasi. Dekontaminasi merupakan tindakan pencegahan yang sangat efektif
meminimalkan risiko penularan virus kepada petugas pelayanan kesehatan, khususnya

22
pada petugas kebersihan dan rumah tangga, ketika menangani alat, sarung tangan
operasi dan benda lainnya yang tercemar. Tindakan-tindakan ini merupakan langkah
yang penting untuk memutuskan rantai penularan infeksi pada pasien.
Sudah lebih dari 20 tahun, dekontaminasi terbukti dapat mengurangi tingkat
kontaminasi mikrobial pada instrumen bedah. Misalnya, studi yang dilakukan oleh
Nystrom (1981) menemukan kurang dari 10 mikroorganisme pada 75% dari alat yang
tadinya tercemar dan pada 98% kurang dari 100 pada alat yang telah dibersihkan dan
didekontaminasi. Berdasarkan penemuan ini, sangat dianjurkan agar alat dan benda-
benda lain yang dibersihkan dengan tangan, didekontaminasi terlebih dahulu untuk
meminimalkan risiko infeksi kepada petugas yang tidak sengaja terluka saat
membersihkan serta mengurangi kontaminasi kuman pada tangan mereka.
Dekontaminasi merupakan langkah pertama dalam menangani peralatan medis.
o Produk-produk Dekontaminasi
Larutan klorin terbuat dari sodium hipoklorit yang umumnya tidak mahal dan
merupakan produk dengan reaksi yang paling cepat dan efektif pada proses
dekontaminasi, tetapi ada juga bahan lainnya yang bisa digunakan seperti etil atau
isopropil alkohol 70% dan bahan fenolik 0,5% - 3%.
Apabila tidak tersedia disinfektan untuk proses dekontaminasi, diperlukan
kewaspadaan tinggi saat menangani dan membersihkan benda tajam tercemar (misal
jarum jahit, gunting, dan pisau bedah).

Tabel. 1 Menyiapkan Larutan Klorin Cair dari Bubuk Kering

Klorin yang dibutuhkan 0,5 % 0,1 %

Kalsium hipoklorit (70% dari klorin yang ada) 7,1 g/l 1,4 g/l

Kalsium hipoklorit (35% dari klorin yang ada) 14,2 g/l 2,8 g/l

NaDCC(60% klorin yang ada) 8,3 g/l 1,5 g/l

Tabletklomarin (1 g dari klorin yang ada per 20 g/l (20 4 g/l


tablet) tablet/liter) (4 tablet/liter)

Tablet-berdasar NaDCC (1,5 g dari klorin yang 4 tablet/liter 1 tablet/liter


ada per tablet)

23
WHO (1989) menganjurkan larutan klorin (0,5%) digunakan untuk
mendekontaminasi instrumen dan permukaan sebelum dibersihkan karena air ledeng
(bersih) yang biasa diminum, sering tidak tersedia untuk membuat larutan. Sebagai
tambahan, karena jumlah mikroorganisme yang banyak dan atau bahan organik (darah
atau duh lainnya) yang menempel pada alat yang tercemar, penggunaan larutan 0,5%
untuk dekontaminasi menghasilkan margin yang lebih luas bagi keselamatan. Untuk
DTT, larutan klorin 0,1% dapat digunakan dalam air matang atau air yang sudah
disaring (jika perlu) untuk proses pengenceran, dan alat-alat sudah dibersihkan dan
dicuci secara menyeluruh.

Setelah dekontaminasi, instrumen harus segeradicuci dengan air dingin untuk


menghilangkan bahan organik sebelum dibersihkan secara menyeluruh. Jarum habis
pakai dan semprit harus didekontaminasi diletakkan dalam wadah yang tahan tusukan,
dienkapsulasi, dibakar, maupun dikubur. Apabila akan digunakan kembali, maka jarum
dn semprit harus dibersihkan dan dicuci secara menyeluruh setelah didekontaminasi.
Sebab jarum yang terkontaminasilah yang paling sering menimbulkan cidera, oleh
karena itu dianjurkan hanya semprit yang diproses sebelum digunakan kembali,
dantidak untuk jarum.

Permukaan yang halus, misalnya pada pemeriksaan pelvis atau meja operasi,
yang kemungkinan besar bersentuhan dengan darah atau duh tubuh harus
didekontaminasi. Menyeka dengan disinfektan yang tepat seperti larutan klorin 0,5%
sebelum digunakan kembali atau saat terkena kontaminasi, merupakan cara yang
mudah dan murah untuk proses dekontaminasi pada permukaan luas.

Sekali instrumen atau benda lainnya telah didekontaminasi, maka selanjutnya


bisa diproses dengan aman. Tindakan ini meliputipembersihan dan akhirnya dengan
melakukan sterilasasi atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT).

o Tip Dekontaminasi
o Gunakan tempat plastik untuk dekontaminasi agar mencegah:
o Tumpulnya pisau (misal gunting) saat bersentuhan dengan kontainer logam,
dan
o Berkaratnya instrumen karena reaksi kimia (elektrolisis) yang terjadi antara dua
logam yang berbeda (misal instrumen dan wadah) bila direndam dalam air.

24
o Jangan merendam instrumen logam yang berlapis elektro (artinya tidak 100%
baja tahan gores) meski dalam air biasa selama beberapa jam karena akan
berkarat.
2. Pencucian Alat
Pembersihan penting karena:
o Sebuah cara yang efektif untuk mengurangi jumlah mikroorganisme pada
peralatan dan instrumen tercemar, terutama endospora yang menyebabkan
tetanus.
o Tidak prosedur sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT) yang efektif
tanpa melakukan pencucian terlebih dahulu.

Pencucian yang benar dengan menggunakan sabun dan air juga dapat
menghilangkan bahan organik seperti darah dan duh tubuh. Hal ini penting mengingat
bahan organik kering dapat menjebak mikroorganisme, termasuk endospora, sisanya
bisa melindunginya melawan sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi, sehingga
menjadi tidak efektif.

Penggunaan sabun penting untuk pembersihan yang efektif karena air sendiri
tidak dapat menghilangkan protein, minyak, dan lemak. Penggunaan sabun (batangan)
tidaklah berguna karena asam lemak dalam sabun bereaksi dengan mineral dalam air
meninggalkan sisa atau buih (garam kalsium yang tidak larut), yang sangat sukar
untuk dihilangkan. Gunakan sabun cair, ini dipilih karena sabun ini dapat dengan
mudah bercampur dengan air daripada sabun bubuk. Sebagai tambahan, sabun cair
bisa memecahkan dan meghilangkan atau menyingkirkan lemak, minyak, dan benda
asing lainnya dalam larutan sehingga dengan mudah dapat dimusnahkan dalam proses
pencucian.

Jangan menggunakan pembersih yang bersifat mengikis (misalnya Vitn dan


Cornet) atau serat baja berlubang, karena produk-produk ini bisa menyebabkan
goresan. Goresan ini kemudian menjadi sarang bagi mikroorganisme yang membuat
proses pembersihan kian sulit dan juga meningkatkan timbulnya korosi (karat)

Sebagian besar mikroorganisme (lebih dari 80%) dalam darah dan bahan
organik lainnya hilang selama proses pembersihan. Terlebih lagi, pada standar
pembersihan berikut, kebanyakan instrumen bedah nonlumen mengandung kurang
dari 100 colony forming units (CFU) atau unit pembentukan koloni yang berisi

25
mikroorganisme non patogenik. Studi ini menegaskan bahwa pembersihan secara
menyeluruh lebih efektif daripada metode sebelumnya dan mencatat pentingnya
pembersihan dalam menghasilkan produk yang aman bagi pembedahan.

Metode Efektifitas Titik Akhir


(membunuh atau menghilangkan
mikroorganisme)

Dekontaminasi Membunuh HBV dan HIV & Perendaman selama 10 menit


mikroorganisme lain

Pembersihan Sampai 50% Sampai benar-benar bersih


(air saja)

Pembersihan Sampai 80% Sampai benar-benar bersih


(sabun san
cuci dengan
air)

Sterilisasi 100% Penguapan tingkat tinggi, pemanasan


kering atau kimiawi dengan waktu
yang dianjurkan

Disinfeksi 95% (tidak membunuh beberapa Perebusan, penguapan, atau kimiawi


Tingkat Tinggi endospora) selama 20 menit

Metode yang efektif dalam pemrosesan alat


Setiap kali alat dibersihkan harus pula dicuci dan biasanya dikeringkan.
Pencucian dengan air bersih dapat menghilangkan sisa sabun yang bisa bercampur
dengan proses sterilisasi atau DTT. Sesudah dicuci, alat-alat harus dikeringkan,
terutama bila akan disteril atau didisinfeksi tingkat tinggi dengan menggunakan
disinfektan kimiawi. Air yang masih menempel pada alat (misalnya alat-alat bedah)
bisa mengencerkan larutan dan proses menjadi gagal.

o Tip Pencucian
1. Gunakan sarung tangan saat memberihkan instrumen dan peralatan. (sarung tangan
rumah tangga yang tebal berfungsi dengan baik). apabila sobek atau rusak, sarung
tangan harus segera dibuang, sebaliknya jika tidak rusak, harus dibersihkan dan
dibiarkan mengering selama satu hari untuk digunakan pada hari berikutnya.

26
2. Gunakan pelindung mata (plastik, pelindung muka, goggles atau kaca mata) dan
celemek plastik jika ada, saat membersihkan alat dan perlengkapan untuk
meminimalkan risiko cipratan cairan yang terkontaminasi pada mata dan ke badan.
3. Instrumen harus dibersihkan dengan sikat yang lembut (sikat gigi bekas baik untuk
digunakan) dalam air sabun. Perhatian khusus harus dilakukan pada alat/instrumen
yang bergigi, sendi atau sekrup tempat bahan organik berkumpul. Setelah
dibersihkan, alat tersebut harus dicuci secara menyeluruh dengan air bersih untuk
menghilangkan sisa sabun yang bercampur dengan disinfektan kimiawi yang
digunakan untuk proses disinfektan tingkat tinggi atau sterilisasi.
4. Semprit (berbahan kaca atau plastik) saat akan digunakan kembali harus dilepas
stelah didekontaminasi dan dibersihkan dengan air sabun. Kemudian dicuci
sedikitnya sebanyak dua kali dengan air bersih untuk menghilangkan sabun dengan
membuang air melalui semprit ke wadah lain (untuk mencegah kontaminasi pada
air cucian), dan kemudian dikeringkan.
5. Sarung tangan bedah harus dibersihkan dalam air sabun. Kedua bagian luar dan
bagian dalam dibersihkan dan dicuci dengan air bersih sampai tidak ada sabun yang
tersisa. Periksa sarung tangan bila terdapat lubang dengan cara memompa dengan
tangan dan pegang sarung tangan di dalam air. (gelembung udara akan muncul jika
ada lubang).
6. Karet atau tabung plastik, misalnya tabung penghisap nasogastrik untuk bayi baru
lahir, bila akan digunakan kembali harus dibersihkan secara menyeluruh, dicuci,
dan dikeringkan.
7. Termometer oral atau rektal tidak boleh dicampur meskipun telah dibersihkan,
letakkan terpisah dengan peralatan lain.
8. Endoskop operatif, (misalnya laparoskop) harus secara hati-hati dibersihkan karena
pembersihan yang tidak benar merupakan penyebab utama masalah mekanis,
seperti penyebab penularan kepada pasien berikutnya. Segera setelah digunakan
(dan sebelum dilepas), seka seluruh permukaan dengan kain kasa yang direndam
dalam alkohol 60-90% dan dicuci dengan air dingin. Kemudian lepaskan
laparoskop dan tempatkan dalam air hangat yang berisi sabun yang tidak bersifat
abrasif. Bersihkan seluruh permukaan dengan sikat yang lembut. Perhatian khusus
harus dilakukan pada daerah tempat darah dan jaringan bisa berkumpul- saluran
yang paling dalam dari laparoskop, Falope-Ring Aplikator dan trokar/kanula. Stelah
dibersihkan, laparoskop harus dicuci sebanyak 3 kali dengan air bersih untuk

27
menghilangkan seluruh sisa sabun. Air yang tersisa harus dibuang sebelum
dilakukan sterilisasi kimia atau DTT dan tidak digunakan lagi pada proses
pengenceran larutan kimia.

Pada akhirnya, apabila instrumen disterilisasi, harus dibungkus atau di kemas


setelah dibersihkan.Savlon jangan digunakan pada proses akhir laparoskop karena
savlon bukan merupakan DTT dan akan menimbulkan kabut pada lensa.

3. Sterilisasi

Sterilisasi harus dilakukan untuk alat-alat, sarung tangan bedah, dan alat lain
yang kontak langsung dengan aliran darah atau jaringan normal steril. Hal in dapat
dicapai dengan uap bertekanan tinggi (otoklaf), pemanasan kering (oven), sterilisasi
kimiawi dan secara fisik (radiasi). Karena sterilisasi itu sebuah proses, bukan sebuah
peristiwa tunggal, maka seluruh komponen harus dilakukan secara benar agar sterilisasi
tercapai.

o Efektivitas
Agar efektif, sterilisasi butuh waktu, kontak, suhu dan dengan sterilisasi uap
bertekanan tinggi. Efektivitas setiap metode sterilisasi juga tergantung pada emapt
faktor berikut ini:
 Jenis mikroorganisme yang ada. Sebagian mikroorganisme sangat sulit
dibunuh. Sebagian lainya dapat dengan mudah dibunuh.
 Jumlah mikroorganisme yang ada. Lebih mudah membunuh satu organisme
daripada yang banyak.
 Jumlah dan jenis materi organik yang melindungi mikroorganisme tersebut.
Darah atau jaringan yang menempel pada alat-alat yang kurang bersih
berfungsi sebagai pelindung mikroorganisme selama proses sterilisasi.
 Jumlah retakan dan celah pada peralatan sebagai tempat menempel
mikroorganisme. Mikroorganisme berkumpul di dan dilindungi oleh goresan,
retakan, dan celah, seperti jepitan yang bergerigi tajam dari cunam jaringan.

Akhirnya tanpa pembersihan yang teliti, untuk membuang sisa bahan


organik yang melindungi mikroorganisme selama proses sterilisasi pada alat-alat,
tidak akan dapat menjamin tercapainya sterilisasi, walaupun waktu sterilisasi
diperpanjang.

28
o Sterilisasi Panas
Penguapan bertekanan tinggi yang menggunakan otoklaf atau pemanas kering
dengan menggunakan oven adalah metode sterilisasi yang paling umum dan
tersedia saat ini. Sterilisasi uap tekanan tinggi adalah metode sterilisasi yang
efektif, tetapi juga paling sulit untuk dilakukan secara benar. Pada umumnya
sterilisasi ini adalah metode pilihan untuk mensterilisasi instrumen dan alat lain
yang digunakan pada berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Bila aliran listrik
bermasalah, instrumen-instrumen dapat disterilisasi dengan sterilisator uap
nonelektrik dengan menggunakan minyak tanah atau bahan bakar lainnya sebagai
sumber panas.
Sterilisator panas kering (oven) baik untuk iklim yang lembab tetapi
membutuhkan aliran listrik yang terus menerus, menyebabkan alat ini kurang
praktis pada area terpencil (pedesaan). Lagipun, sterilisasi panas kering, dimana
perlu suhu yang lebih tinggi, hanya dapat digunakan untuk benda-benda gelas atau
logam- karena akan melelehkan bahan lainnnya.

 Kondisi Standar Sterilisasi Panas

Sterilisasi uap, suhu panas berada pada 121°C, tekanan harus pada 106
kPa (15 lbs/in2) 20 menit untuk alat tidak terbungkus, 30 menit untuk alat
terbungkus. Atau pada suhu yang lebih tinggi pada 132°C tekanan harus berada
pada 30 lbs/in2, , 15 menit untuk alat yang terbungkus. Biarkan alat kering
sebelum diambil dari sterilisator.

Catatan: Set tekanan (kPa), mungkin berbeda tergantung pada jenis


sterilisator yang digunakan. Ikutilah rekonmendasi pabrik jika mungkin.

Panas Kering:

 170°C selama 1 jam (total waktu perputaran meletakkan instrumen di oven,


panaskan hingga 170°C, selama 1 jam dan kemudian dinginkan 2-2,5 jam),
atau
 160°C selama 2 jam (total waktu perputaran dari 3-3,5 jam).

29
Ingat:

 Waktu paparan hanya dimulai setelah sterilisator telah mencapai suhu


sasaran.
 Tidak boleh memberi kelebihan beban pada sterilisator. (sisakan stidak-
tidaknya 7,5 cm [3 inchi] antara bahan-bahan dan dinding sterilisator). Beban
lebih akan mengubah konveksi panas dan meningkatkan waktu yang
dibutuhkan untuk streilisasi.

Instrumen steril dan instrumen lainnya harus digunakan segera kecuali jika:

 Dibungkus dengan dilapisi ganda kain katun, kertas atau bahan lainnya sebelum
proses sterilisasi: atau
 Dapat disimpan dalam wadah kering dan steril berpenutup rapat

Bahan yang digunakan untuk membungkus instrumen steril dan instrumen


lainnya harus berpori-pori agar uap dapat masuk tetapi beranyaman cukup ketat
untuk menghindari masuknya partikel-partikel debu dan mikroorganisme. Robek
atau usang pada bungkusnya, paket menjadi basah atau hal lainnya yang
menyebabkan mikroorganisme memasuki paket atau wadah tersebut.

o Sterilisasi Dengan Penguapan

Penguapan adalah sterilan yang efektif karena dua alasan. Pertama, uap pekat
adalah sebuah “kendaraan” energi termal yang sangat efektif. Jenis ini jauh lebih
efektif untuk mengangkat energi ke bahan yang akan disterilisasi daripada udara
panas (kering). Kedua, uap adalah sterilan yang efektif karena lapisan luar
mikroorganisme yang bersifat protektif dan resistan dapat dilemahkan oleh uap,
sehingga terjadi koagulasi (serupa dengan memasak putih telur) pada bagian dalam
mikroorganisme yang sensitif. Beberapa jenis kontaminan tertentu, khususnya yang
berminyak atau berlemak, dapat melindungi mikroorganisme dari efek uap, sehingga
mengganggu proses sterilisasi. Alasan ini yang menekankan kembali kepentingan
mencuci bersih bahan-bahan sebelum proses sterilisasi.

Sterilisasi uap harus memenuhi empat kondisi: kontak yang memadahi, suhu
yang sangat tinggi, waktu yang tepat, dan kelembaban yang memadai. Walaupun
seluruhnya perlu untuk terjadinya sterilisasi, kegagalan sterilisasi di klinik dan

30
rumah sakit sering disebabkan oleh kurangnya kontak uap atau kegagalan untuk
mencapai suhu yang memadai.

 Kelebihan
 Metode sterilisasi yang paling sering dipakai dan efektif.
 Waktu siklus sterilisasi lebih pendek daripada panas kering atau siklus
kimia.
 Kekurangan
 Membutuhkan sumber panas yang terus menerus (bahan bakar kayu, minyak
tanah, atau aliran listrik).
 Membutuhkan peralatan (sterilisator uap) yang harus dipelihara dengan
cermat agar tetap berfungsi dengan baik.
 Membutuhkan ketaatan waktu, suhu dan tekanan secara ketat.
 Sering sulit menghasilkan paket kering karena gangguan prosedur sering
terjadi (misalnya mengangkat bahan sebelum kering, khususnya pada iklim
yang lembab dan panas).
 Siklus sterilisasi yang berulang-ulang dapat menyebabkan bopeng dan
penumpulan sisi instrumen yang tajam (seperti gunting).
 Bahan-bahan plastik tidak tahan suhu tinggi.
 Instruksi Sterilisator Uap
- Langkah 1 : mendekontaminasikan, membersihkan, dan mengeringkan
seluruh instrumen dan instrumen yang akan disterilisasi.
- Langkah 2 : semua peralatan berengsel harus terbuka atau tidak terkunci,
sedangkah instrumen yang terdiri lebih dari satu bagian atau
bagian sorong harus dibongkar.
- Langkah 3 : intrumen sebaiknya tidak terikat ketat dengan karet atau cara
lain yang dapat mencegah kontak uap dengan seluruh
permukaan.
- Langkah 4 : susun paket dalam ruangan untuk memudahkan sirkulasi yang
bebas dan penetrasi uap ke seluruh permukaan.
- Langkah 5 : ketika menggunakan sterilisator uap, sebaiknya instrumen
bersih atau bahan bersih lainnya dibungkus dengan kain
ganda atau kertas koran.

31
- Langkah 6 : lakukan sterilasasi pada suhu 121°C selama 30 menit untuk
alat terbungkus, 20 menit untuk alat tidak terbungkus. Waktu
ditentukan dengan jam.
- Langkah 7 : tunggu 20 hingga 30 menit (atau hingga meter tekanan udara
terbaca nol) sampai sterilisasi dingin. Kemudian buka
penutup atau pintunya mengeluarkan uap. Biarkan paket
instrumen kering seluruhnya sebelum diangkat, biasanya
hingga 30 menit.
- Langkah 8 : agar mencegah kodensasi ketika mengeluarkan paket-paket
tersebut dari ruang sterilisator uap, tempatkan baki dan paket
steril pada permukaan yang dilapisi dengan kertas atau bahan
kain.
- Langkah 9 : setelah sterilisasi, instrumen yang dibungkus dengan kain atau
kertas dianggap steril sepanjang paket tersebut tetap bersih,
kering dan utuh. Instrumen yang tidak dibungkus harus
digunakan segera atau disimpan dalam wadah-wadah yang
tertutup dan steril.
o Sterilisasi Dengan Panas Kering
Panas kering adalah sebuah cara yang praktis untuk sterilisasi atas jarum dan
instrumen lainnya. Dianjurkan memakai sebuah oven konveksi dengan ruangan baja
antikarat terisolasi dan rak-rak perforasi untuk memungkin sirkulasi udara panas,
namun sterilisasi panas kering ini akan dapat tercapai dengan sebuah oven
sederhana, asalkan sebuah termometer digunakan untuk memastikan suhu di dalam
oven.
Sterilisasi panas kering ini tercapai dengan proses konduksi panas. Pada
awalnya, panas diabsorsi oleh permukaan luar dari sebuah instrumen dan kemudian
dikirimkan ke lapisan berikutnya. Pada akhirnya keseluruhan obyek mencapai suhu
yang dibutuhkan untuk sterilisasi. Mikroorganisme mati pada saat penghancuran
protein secara lambat oleh panas kering. Proses sterilisasi panas kering berlangsung
lebih lama daripada sterilisasi uap, karena kelembaban dalam proses sterilisasi uap
secara pasti mempercepat penetrasi uap dan memperpendek waktu yang dibutuhkan
untuk membunuh mikroorganisme.

32
 Kelebihan
 Metode yang sangat efektif, seperti sterilisasi panas-kering dengan
konduksi menjangkau seluruh permukaan instrumen, bahkan untuk
instrumen yang tidak dapat dibongkar pasang.
 Bersifat protektif terhadap benda tajam atau instrumen dengan sisi
potong (lebih sedikit masalah dengan penumpulan sisi potong tersebut).
 Tidak meninggalkan sisa kimia.
 Mengurangi masalah “paket basah” di iklim lembab.
 Kekurangan
 Instrumen plastik dan karet tidak dapat disterilisasi dengan cara panas
kering, karena suhu yang digunakan (160-170°C) terlalu tinggi untuk
materi ini.
 Panas kering memenetrasi materi secara lambat dan tidak merata.
 Membutuhkan oven dan sumber listrik secara terus menerus.
 Instruksi (Oven Panas Kering)

Untuk memastikan dijalankan dengan benar, lihatlah instruksi melakukannya


yang diberikan oleh pabrik pembuat oven tersebut.

- Langkah 1 : lakukan dekontaminasi, bersihkan dan keringkan seluruh


instrumen dan instrumen lainnya yang akan disterilisasi.
- Langkah 2 : bila dikehendaki, bungkuslah instrumen-instrumen dengan
kertas aluminium atau tempatkan di sebuah kontainer
logam dengan penutup rapat. Pembungkusan membantu
mencegah proses kontaminasi ulang sebelum digunakan.
Jarum suntik atau jarum jahit harus dimasukkan dalam
tabung gelas dengan disumbat kapas.
- Langkah 3 : tempatkan instrumen-instrumen lepas (tidak dibungkus) dalam
wadah logam atau di atas baki di oven dan panaskan hingga
suhu yang diinginkan.
- Langkah 4 : setelah tercapai temperatur yang dikehendaki, mulailah
perhitungan waktu. Dianjurkan suhu/rasio waktu berikut ini:
 170°C 60 menit
 160°C 120 menit

33
 150°C 150 menit
 140°C 180 menit
 121°C semalaman

Tergantung pada suhu yang dipilh, waktu total siklus


(prapemanasan, lamanya sterilisasi, dan pendinginan)
akan membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam pada 170°C
hingga lebih dari 8 jam pada 121°

- Langkah 5 : setelah dingin, angkatlah paket dan/atau wadah logam dan


simpanlah. Instrumen lepas sebaiknya dikeluarkan dengan
cunam yang steril dan gunakan segera atau tempatkan di wadah
steril dengan penutup yang rapat.
o Sterilisasi Kimia
Selain penguapan tekanan tinggi atau sterilisasi panas kering sebagai alternatif
adalah sterilisasi kimia (acapkali disebut sterilisasi dingin). Apabila objek harus
disterilisasi, sedangkan bila mempergunakan uap tekanan tingggi atau sterilisasi
panas-kering akan merusak objek tersebut atau apabila peralatan tidak tersedia (atau
operasional), maka objek itu dapat disterilisasi secara kimia.
Sejumlah disinfektan tingkat tinggi akan membunuh endospora setelah
paparan berkepanjangan (10-24 jam). Disinfektan umum yang dapat digunakan
untuk sterilisasi kimia terdiri dari giutaraldehid dan formaldehid. Sterilisasi
berlangsung dengan merendamnya selama sekurang-kurangnya 10 jam dalam
larutan glutaradehid 2-4% atau setidaknya 24 jam dalam larutan formaldehid 8%.
Glutaraldehid seperti Cidex acapkali jarang tersedia di pasaran dan harganya sangat
mahal, tetapi larutan ini satu-satunya sterilan yang praktis untuk instrumen tertentu,
seperti laparoskop yang tidak dapat dipanaskan. Baik glutaraldehid maupun
formaldehid membutuhkan penanganan khusus dan meninggalkan sisa pada
instrumen yang ditangani. Oleh karena itu, membilas dengan air steril adalah suatu
keharusan, apabila instrumen itu hendak dijaga tetap steril. Juga, apabila tidak
dibilas, sisa akan mengganggu (menyebabkan lengket) bagian geser laparoskop dan
juga akan memperkeruh lensa alat tersebut.
Walaupun lebih murah dari glutaraldehid, larutan formaldehid lebih
menyebabkan iritasi atas kulit, mata dan saluran nafas serta diklasifikasikan sebagai

34
potensial karsinogen. Apabila mempergunakan glutaraldehid atau formaldehid,
pakailah sarung tangan untuk menghindari kontak kulit, memakai kacamata untuk
melindungi percikan, membatasi waktu paparan, dan gunakan kedua zat kima hanya
pada area yang berventilasi baik.
Karena instrumen ini tidak terbungkus setelah sterilisasi kimia, instrumen ini
harus dipindahkan dan disimpan pada sebuah wadah steril dan tertutup.
 Kelebihan
 Larutan glutaldehid dan formaldehid tidak begitu mudah dinonaktifkan
oleh materi organik.
 Kedua larutan ini dapat digunakan untuk instrumen yang tidak tahan
sterilisasi panas, seperti laparoskop.
 Larutan formaldehid dapat digunakan hingga 14 hari (ganti apabila
keruh). Sebagian glutaraldehid dapat digunakan hingga 28 hari.
 Kekurangan
 Glutaraldehid dan formaldehid adalah kimiawi yang menyebabkan iritasi
kulit. Oleh karena itu, seluruh peralatan yang direndam dalam salah satu
larutan itu harus sepenuhnya dibilas dengan air steril setelah direndam.
 Karena glutaraldehid bekerja sangat baik pada suhu ruangan, sterilisasi
kimia tidak dijamin berfungsi baik pada lingkungan dingin (suhu kurang
dari 20°C), bahkan dengan proses perendaman yang berkepanjangan.
 Glutaraldehid mahal harganya.
 Uap dari formaldehid dikalisifikasi sebagai potensial karsinogen, dan pada
derajat yang lebih rendah glutaraldehid mengiritasi kulit, mata dan saluran
pernafasan. Pakailah sarung tangan dan kacamata, batasi waktu paparan,
dan gunakan kedua zat kimia hanya pada area berventilasi baik.
 Formaldehid tidak dapat dicampur dengan klorin karena memproduksi gas
berbahaya (bis-klorometil-eter).
 Instruksi (Sterilisasi Kimia)
- Langkah 1: lakukan dekontaminasi, bersihkan dan keringkan seluruh
instrumen dan instrumen lainnya yang akan disterilisasi.
- Langkah 2 : rendamlah seluruh instrumen dalam wadah bersih yang diisi
dengan larutan kimia dan tutuplah wadah tersebut.

35
- Langkah 3 : biarkan instrumen itu terendam. 10 jam dalam larutan
glutaraldehid atau sekurang-kurangnya 24 jam pada
formaldehid.
- Langkah 4 : angkatlah objek yang sudah direndam dari larutan dengan
cunam steril, bilaslah tiga kali dalam air steril dan keringkan
di udara.
- Langkah 5 : simpanlah objek yang sudah disterilisasi dalam wadah steril
dengan penutup yang ketat apabila instrumen tersebut tidak
akan digunakan segera.
 Memantau Prosedur Sterilisasi
Prosedur sterilisasi dapat dipantau secara rutin dengan mempergunakan
kombinasi indikator biologi, kima, dan mekanika sebagai parameter.
 Indikator biologi
Dianjurkan memantau proses sterilisasi dengan indikator biologi yang layak
pada regular interval. Pengukuran harus dilakukan dengan indikator biologi yang
menggunakan spora dengan resistensi baku pada populasi yang diketahui. Tipe
indikator biologi dan interval minimum yang dianjurkan harus berupa:
- Sterilisasi uap: basillus stearotermofilus, per minggu dan bila dibutuhkan.
- Sterilisasi panas-kering: basillus subtilis, per minggu dan bila dibutuhkan.
 Indikator kimia
Indikator kimia terdiri dari pita indikator atau lebel yang memantau waktu,
suhu, dan tekanan untuk sterilisasi uap dan waktu dan suhu untuk sterilisasi panas-
kering. Indikator ini harus digunakan baik di dalam di luar setiap paket atau wadah.
Indikator eksternal digunakan untuk memverifikasi bahwa instrumen telah
terpapar terhadap kondisi proses sterilisasi yang benar dan paket spesifik telah
sterilisasi. Indikator internal ditempatkan di dalam paket atau wadah di area yang
paling sulit untuk bahan sterilisasi untuk mencapainya (yaitu di tengah-tengah pak
linen). Hal ini adalah indikator yang menjelaskan apabila instrumen tersebut telah
disterilisasi.
Indikator kimia, seperti pita sensitif panas atau vial gelas yang mengandung
butir-butir yang mencair pada suhu tertentu dalam waktu tertentu, tidak menjamin
bahwa sterilisasi telah tercapai, tetap mengindikasikan masalah mekanikal atau
prosedural yang mungkin terjadi.

36
 Indikator mekanik
Indikator mekanik untuk sterilisator memberikan catatan waktu, suhu dan
tekanan untuk siklus sterilisasi tersebut. Hal ini biasanya berbentuk kertas laporan
atau grafik dari streilisator tersebut atau hal ini dapat berupa log waktu, suhu dan
tekanan yang disimpan oleh petugas yang bertanggung jawab atas proses sterilisasi
pada waktu itu.
4. Disinfeksi Tingkat Tinggi (DTT)

Proses DTT membunuh semua mikroorganisme kecuali beberapa endospora


bakterial. DTT dapat diperoleh dengan merebus dalam air, mengukus (dengan uap panas),
atau merendam alat dalam disinfektan kimiawi. Agar efektif, semua langkah dalam setiap
metode perlu dipantau dengan seksama. Suhu tertinggi yang dapat dicapai oleh air
mendidih atau uap tekanan rendah adalah 100°C pada permukaan laut. Karena titik didih
air 1,1°C lebih rendah pada setiap 1.000 kaki dari permukaan air laut, sebaiknya merebus
atau mengukus alat untuk DTT sekurang-kurangnya 20 menit. Dengan ini dapat dicapai
batas keamanan untuk ketinggian yang bervariasi sampai 5.500 meter, dan pada waktu
bersamaan dapat mengeliminasi infeksi dari beberapa endospora.

 DTT Dengan Merebus


Perebusan dalam air merupakan cara yang efektif dan praktis untuk DTT alat-
alat dan semua alat lainnya. Walaupun perebusan dalam air selama 20 menit akan
membunuh semua bakteria vegetatif, ragi dan jamur, perebusan tidak membunuh
semua endospora.
 Instruksi DTT dengan Perebusan
- Langkah 1 : dekontaminasi dan bersihakn semua alat-alat yang akan di
DTT.
- Langkah 2 : jika mungkin, semua alat harus terendam dalam air. Atur
permukaan air sedemikian rupa, sekurangnya 2,5 cm (1
inchi) air di atas alat. Sebagai tambahan, pastikan semua
wadah dan mangkok yang akan direbus telah terpenuhi air.
- Langkah 3 : tutup rapat dan biarkan air mendidih serta berputar (kurangi
panas pada perebusan). Air mendidih terlalu keras
memboroskan minyak dan dapat merusak alat

37
- Langkah 4 : mulai mencatat waktu. Proses DTT waktu dicatat setelah air
mendidih.
- Langkah 5 : rebus alat-alat selama 20 menit
- Langkah 6 : setelah merebus 20 menit, pindahkan alat-alat dengan yang telah
di-DTT lebih dahulu. Jangan biarkan alat-alat terus terendam
dalam air, karena sewaktu air mulai dingin, kuman dan partikel-
partikel masuk dalam kontainer dan dapat mengkontaminasi alat-
alat.
- Langkah 7 : pakailah alat-alat dan benda-benda lain segera, atau simpan dalam
kontainer yang telah di-DTT atau sarung tangan DTT dan
tertutup rapat. Jika kontainer basah (karena air tertinggal di
dasarnya), gantilah dengan kontainer yang kering dan dapat
ditutup rapat

Pengapuran akan berbentuk pada instrumen logam yang sering direbus. Pembentukan
kerak yang disebabkan oleh pengapuran garam dalam air sulit dihindari. Dengan
mengikuti langkah-langkah berikut masalah pengapuran dapat dikurangi.

- Langkah 1 : rebus air selama 10 menit setiap hari sebelum dipakai (hal ini
persiapan agar endapan dalam air akan mengendap sebelum
alat-alat dimasukkan).
- Langkah 2 : pakailah air yang sama sepanjang hari, tambah seperlunya agar
alat-alat terendam 1 inchi di bawah permukaan air waktu DTT
(seringkali pengeringan dan penggantian air dan perebusan terlalu
panas meningkatkan risiko adanya pengerakan pada instrumen).
- Langkah 3: keringkan dan bersihkan pot setiap hari setelah pekerjaan selesai
untuk membuang pengerakan.
 DTT Dengan Mengukur

Pengukusan sarung tangan bedah sebagai langkah akhir dalam pemrosesan sarung
tangan dilakukan sejak lama.

 Instruksi DTT dengan Pengukusan

Sesudah di dekontaminasi instrumen dan alat lainnya dicuci bersih, ini siap untuk di-
DTT dengan pengukusan.

38
- Langkah 1 : tempatkan instrumen dan alat lainnya di salah satu panci yang
ada lubang di dasarnya. Untuk memudahkan pengeluaran
instrumen jangan isi panci terlalu penuh.
- Langkah 2 : ulangi proses ini sampai ketiga panci terisi. Letakkan semua
panci di atas panci bawah yang berisi air untuk dididihkan.
Sebuah panci kosong tanpa lubang disiapkan di samping
sumber panas.
- Langkah 3 : tutup panci dan didihkan sampai air mendidih.
- Langkah 4 : waktu uap mulai keluar di antara panci dan tutup, mulai
mencatat waktu atau menulis waktu mulainya DT
- Langkah 5 : kukus selama 20 menit.
- Langkah 6 : angkat panci atas dan tutup panci berikutnya. Guncangkan
panci agar air turun dari panci yang baru diangkat.
- Langkah 7 : tempatkan panci yang baru diangkat ke atas panci kosong.
Ulangi sampai semua panci paling atas.
- Langkah 8 : biarkan alat-alat menjadi kering dalam panci (1-2 jam) sebelum
dipakai.
- Langkah 9 : dengan menggunakan penjepit yang DTT, pindahkan alat-alat
kering ke dalam kontainer yang kering dan telah di DTT,
bertutup rapat. Alat-alat dapat juga disimpan dalam panci uap
yang tertutup, sebelum digunakan.
 Keuntungan dan Kerugian DTT
 Keuntungan
- Murah
- Mudah diajarkan pada petugas kesehatan
- Tidak memerlukan bahan kimiawi atau larutan khusus
- Sumber panas (pemasak atau dandang) tersedia di mana-mana
 Kerugian
- Waktu pemrosesan harus diatur dengan seksama. Sekali mulai tidak boleh
menambahkan air atau alat-alat lain.
- Objek tidak dapat dipak sebelum di-DTT, sehingga kemungkinan
kontaminasi lebih besar.
- Sumber minyak diperlukan

39