Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bangsa Yunani mulai menambang emas dan perak yang terdapat di urat-
urat kuarsa pada batuan keras kurang lebih 2500 sampai 356 tahun sebelum
Masehi dan berbicara mengenai pertambangan di Indonesia, semua dimulai dari
daerah Sumatera Barat pada zaman Kerajaan Minangkabau. Dari hal tersebut
menunjukan bahwa semakin berkembangnya jaman maka akan semakin
dibutuhkannya bahan galian tambang untuk membangun suatu peradaban yang
lebih maju. Maka semakin berkembangnya ilmu pengetahuan diterapkanlah suatu
metode eksplorasi (pencarian) untuk mendapatkan bahan galian tersebut yang
diawali dengan kegiatan survey tinjau.
Hingga saat ini banyak para filosof yang telah mendapatkan berbagai
macam logam yang kemudian mereka amati hingga pada akhirnya tercipta
macam-macam teori, seperti teori dinsensionis oleh Van Cotta (1859) yang
mengatakan bahwa endapan berasal dari air permukaan yang meresap kedalam
bumi kemudian dipanaskan oleh panas alami , mengakibatkan logam yang
terdapat dalam batuan larut dan masuk kedalam celah batuan.
Ditengarahi, masa berikutnya akan disusul dengan kemajuan
tektronika,yaitu teknologi berbasis elektronika yang akan mempermudah kita untuk
dapat mengetahui dimana dan bagaimana endapan bahan galian logam maupun
non-logam terbentuk. Sehingga sebagai seorang calon explorer sangat diperlukan
untuk mempelajari perihal bentuk dan tipe endapan bijih yang akan selalu
dibutuhkan untuk memenuhi kehidupan modern, karena manusia tidak akan
pernah terlepas dari mineral bijih.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Maksud dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui dan
memahami mengenai survey tinjau dan jenis tipe serta bentuk endapan bahan
galian.

1
2

1.2.2 Tujuan
1. Dapat mengetahui aktivitas dalam kegiatan survey tinjau.
2. Dapat mengetahui deposit dan pembetukan mineral logam.
3. Dapat mengetahui jenis-jenis endapan bahan galian.

2
3

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Survey Tinjau


Survey tinjau (reconnaissance) merupakan kegiatan peninjauan secara
sepintas terhadap daerah-daerah yang diperkirakan memiliki potensi akan adanya
indikasi mineralisasi dari data geologi. Kegiatan peninjauan dilakukan secara
langsung dilapangan dengan melakukan pengamatan terhadap endapan atau
singkapan pada sungai aktif dengan menggunakan skala peta acuan 1:200.000
sampai dengan 1:100.000.
Kegiatan survey tinjau ini merupakan kegiatan awal dalam tahapan
eksplorasi yang terdiri dari pemetaan geologi regional, pemotretan udara, citra
satelit dan metode survey tidak langsung lainnya yang dilakukan untuk dapat
mengetahui keterdapatan anomali yang prospektif untuk diselidiki lebih lanjut.
2.1.1 Pemetaan Geologi Regional
Pemetaan geologi merupakan suatu kegiatan pendataan dari informasi
geologi permukaan yang disusun dalam bentuk pelaporan berupa peta geologi
yang dapat menggambarkan sebaran dan susunan batuan (lapisan batuan) serta
mencakup informasi dari gejala struktur geologi yang mempengaruhi daerah
tersebut. Selain itu, pada kegiatan ini juga digambarkan tanda-tanda mineralisasi
berupa alterasi mineral.

Sumber : Geologinesia,2009
Gambar 2.1
Contoh Peta Geologi

3
4

Untuk pemetaan geologi dalam tahapan survey tinjau dapat dilakukan


dengan menggunakan palu, kompas geologi, dulang, HNO3 dan peralatan lainnya
serta penentuan posisi melalui orientasi lapangan.
Informasi geologi permukaan pada umumnya diperoleh melalui
pengamatan singkapan batuan yang banyak ditemukan pada bagian permukaan
dengan tingkar erosi tinggi, seperti aliran sungai. Pengamatan yang dilakukan
pada singkapan tersebut antara lain :
1. Pengukuran jurus dan kemiringan lapisan yang tersingkap.
2. Pengukuran dan pengamatan struktur geologi (minor dan atau major).
3. Pemerian singkapan yang meliputi kenampakan megaskropis, sifat fisik,
tekstur, mineral utama, mineral sedikit, mineral aksesoris, fragmen-
fragmen serta dimensi dari endapannya.

Sumber : Anonim, 2010


Foto 2.1
Kegiatan Pengamatan Singkapan
2.1.2 Penginderaan Jarak Jauh
Penginderaan jarak jauh atau disingkat “inderaja” atau dalam bahasa
Inggris “remote sensing” adalah kegiatan yang dilakukan untuk pengumpulan
informasi tentang suatu daerah secara tidak langsung yang biasanya
menggunakan data yang diambil dari satelit, pesawat atau kendaraan bawah air.
Dalam kegiatan penginderaan jarak jauh ini metode yang digunakannya bisa
meliputi fotografi, radar, spektroskopi dan magnet.

4
5

Sumber : Geologinesia, 2012


Gambar 2.2
Ilustrasi Sistem Penginderaan Jarak Jauh
Dalam kegiatan inderaja ini terdiri atas beberapa komponen yang bekerja
saling berkaitan. Komponen-komponen tersebut ialah :
1. Sumber tenaga
Sumber tenaga yang biasa digunakan adalah energi elektromagnetik dari
matahari dan tenaga buatan.Sehingga dihasilkanlah penginderaan sistem
pasif (tenaga pantulan matahari) dan sistem aktif (tenaga pancaran
buatan).
2. Atmosfer
Jendela atmofer yang merupakan bagian spektrum gelombang
elektromagnetik yang dapat mencapai bumi dapat menghalangi pancaran
sumber tenaga ke muka bumi, sehingga menghalangi interaksi antara
tenaga dan objek.
3. Interaksi antara Tenaga dan Objek
Objek yang pantulan tenaganya besar akan memiliki rona cerah dan begitu
pula sebaliknya.
4. Sensor
Kemampuan suatu sensor ketika dapat merekam data objek terkecil
disebut resolusi spasial.
5. Data Input
Komponen ini menunjukan sumber perolehan data yang digunakan, baik
secara manual visual maupun numerik atau digital.

5
6

6. Pengguna Data (user)


Kemampuan dari pengguna data akan menjadi komponen yang sangat
penting untuk mendapatkan manfaat langsung dari sistem ini.
Selain digunakan untuk kegiatan pemetaan, inderaja ini juga dapat
digunakanuntuk penentuan struktur geologi, pemantauan daerah bencana gempa
dan vulkanik, pemantauan pencemaran laut dan lapisan minyak di laut,
pemantauan distribusi sumber daya alam dan lain-lain.

2.2 Deposit Mineral dan Pembentukannya


2.2.1 Deposit Mineral
Logam-logam berharga biasanya terikat didalam mineral bijih bersama
dengan unsur kimia lainnya. Kebanyakan mineral bijih mempunyai kilap logam
seperti galenit, kalkopirit, cuprit, dan ada juga yang tidak mempunyai kilap logam
seperti malakhit, bauksit, sfalerit dan biasanya tergabung dalam unsur-unsur lain
seperti Al, Si, S dan O. Sehingga satu unsur logam dapat diambil dari beberapa
jenis mineral, seperti tembaga dapat diambil dari kalkopirit, malakhit, cuprit, azurit.
Sebaliknya pun bisa ketika satu mineral bijih dapat memisahkan lebih dari satu
logam, seperti galenit dapat diambil logam timbal, perak. Proses tersebut
dinamakan “ore dressing” yang akan memperbesar harga jualnya.
Mineral bijih juga dapat dikelompokan menjadi mineral primer (hipogene)
dan mineral sekunder (supergene). Mineral hipogene adalah mineral yang
terbentuk bersamaan dengan mineral lain sebelum mengalami pelapukan.
Sedangkan mineral supergene adalah mineral yang merupakan hasil pelapukan.
Tabel 2.1
Tipe-Tipe Deposit Mineral, Mineral Utama dan Contoh Deposit

Sumber : Bateman, 1960

6
7

Kumpulan mineral yang ditambang sebagai bijih tergantung pula pada


mineral gangue (non-logam) yang terdapat ataupun kandungan mineral lain
walaupun dalam jumlah sedikit, karena mereka mempunyai kemungkinan untuk
dapat dimanfaatkan. Sebagai contoh bijih timbal, seng atau tembaga menjadi tidak
bernilai ketika mengandung bismut (Bi), arsen (As) atau kadmium (Cd) karena
mineral tersebut walapun sedikit tetapi akan menyulitkan pemisahan logam-
logamnya.
2.2.2 Pembentukan Mineral
Magma merupakan sumber dan faktor penentu untuk terbentuknya bahan
galian logam. Proses-proses pembentukan bahan galian logam dan non logam
adalah sebagai berikut :
1. Kristalisasi Magma
Dalam perjalanan magma melalui rekahan ataupun celah-celah sepanjang
kulit bumi akan terjadi proses bertahap sebagai berikut :
a. Magmatik awal dimana terjadi proses permulaan kristalisasi magma.
b. Magmatik akhir dimana magma yang tertinggal akan menjadi magma
sisa dan dapat terjadi pemisahan terjadi bersamaan dengan
pembekuan magma.
2. Sublimasi
Merupakan proses pengendapan langsung dari uap dan gas akibat
terjadinya penurunan tekanan.
3. Metasomatisme Kontak
Intrusi magma yang telah menjadi padatan mempunyai sisa magma yang
berupa cairan dan gas yang bersuhu tinggi. Cairan dan gas ini apabila
masuk dan bersentuhan pada celah batuan dapat menimbulkan reaksi
kimia dan menghasilkan mineral-mineral baru.
4. Hidrotermal
Hasil akhir proses pembekuan magma yang telah mengintrusi adalah
cairan sisa magma. Cairan ini mungkin mengandung konsentrasi logam
dan tidak ikut dalam proses pengkristalan sebelumnya. Cairan tersebut
dinamakan cairan hidrotermal yang akan membawa logam-logam ke
tempat baru.

7
8

2.3 Jenis Endapan Bahan Galian


2.3.1 Endapan Sedimenter
Endapan bahan galian yang terbentuk secara sedimentasi antara lain besi,
mangan, tembaga, uranium-vanadium, fosfat, batubara, lempung, serpih, minyak
bumi, bentonit, diatomit, dan lain-lain. Untuk mendapatkan endapan sedimen
diperlukan beberapa persyaratan sebagai berikut :
1. Cukup tersedia sumber sedimen
2. Pengumpulan material-material dan proses pelarutan ataupun lainnya.
3. Cara pengangkutan material-material dari sumbernya ke tempat
pengumpulannya.
4. Cara pengendapan material-material didalam cekungan pengendapan.
Tenor adalah kandungan logam dalam bijih.
2.3.2 Endapan Penguapan
Endapan penguapan disebut juga dengan evaporasi yang dimana
menghasilkan kebanyakan bukan logam. Proses ini hanya efektif didaerah iklim
kering dan panas. Endapan evaporit berasal dari perairan danau maupun laut
tertutup. Kandungan unsur kimia didalam air laut biasanya ialah Cl (55,29%), Na
(30,59%), SO4 (7,69%), Mg (3,72%), Ca (1,19%), K (1,1%), CO3 (0,2%), Br
(0,19%), dan unsur lainnya.
2.3.3 Endapan Konsentrasi Mekanik
Proses ini terjadi secara alami yakni berupa pemisahan gravitasi antara
mineral berat dengan mineral ringan oleh aliran air atau aliran angin. Mineral berat
akan dipisahkan dan diendapkan lebh dahulu, sedangkan mineral ringan akan
diangkut pada suatu saat akan diendapkan apabila energi pengangkutan sudah
melemah. Agar mineral berharga dapat terkumpul sehingga mempunyai nilai
ekonomi beberapa persyaratan harus terpenuhi :
1. Mempunyai berat jenis tinggi.
2. Resisten atau tahan terhadap pelapukan kimia.
3. Keras dan tahan terhadap tumbukan, gesekan selama pengankutan.
Beberapa mineral placer yang mempunyai sifat-sifat tersebut adalah emas,
perak, platina, kasiterit, magnetit, khromit, rutile, tembaga, zirkon, monazit,
batupermata, fosfat, dan korundum.
Berdasarkan atas tempat terbentuknya endapan placer dibedakan :
1. Placer elluvial, dimana konsentrasi mineral terjadi di lereng-lereng bukit.

8
9

2. Placer alluvial, dimana konsentrasi mineral terjadi di sungai.


3. Placer pantai, dimana konsentrasi mineral terjadi di pantai.
4. Placer angin, dimana konsentrasi mineral disebabkan angin.
2.3.4 Endapan Residual
Proses konsentrasi residual menyebabkan terkonsentrasinya mineral
bahan galian ditempat. Bahan-bahan yang lain dari batuan induknya terangkut
pergi akibat proses pelapukan kimia. Beberapa persyaratan untuk memungkinkan
terjadinya endapan residual adalah :
1. Terdapatnya sumber mineral didalam batuan induknya.
2. Keadaan iklim yang menguntungkan terjadinya pelapukan kimia.
3. Keadaan medan yang relatif datar.
Beberapa contoh endapan residual yang mempunyai nilai ekonomi adalah
endapan residual besi, endapan residual mangan, endapan bauksit, endapan
lempung dan endapan nikel.

9
10

BAB III
KESIMPULAN

Dari hasil pembuatan laporan awal ini dapat disimpulkan bahwa :


1. Survey tinjau (reconnaissance) merupakan kegiatan peninjauan secara
sepintas terhadap daerah-daerah yang diperkirakan memiliki potensi akan
adanya indikasi mineralisasi dari data geologi. Kegiatan survey tinjau ini
merupakan kegiatan awal dalam tahapan eksplorasi yang terdiri dari
pemetaan geologi regional, pemotretan udara, citra satelit dan metode
survey tidak langsung lainnya yang dilakukan untuk dapat mengetahui
keterdapatan anomali yang prospektif untuk diselidiki lebih lanjut.
2. Satu unsur logam dapat diambil dari beberapa jenis mineral, seperti
tembaga dapat diambil dari kalkopirit, malakhit, cuprit, azurit. Sebaliknya
pun bisa ketika satu mineral bijih dapat memisahkan lebih dari satu logam,
seperti galenit dapat diambil logam timbal, perak. Proses tersebut
dinamakan “ore dressing” yang akan memperbesar harga jualnya.Proses-
proses pembentukan bahan galian logam dan non logam adalah
Kristalisasi Magma, Sublimasi, Metasomatisme Kontak, Hidrotermal
3. Jenis endapan bahan galian terbagi menjadi empat, diantaranya endapan
sedimenter, endapan penguapan, endapan konsentrasi mekanik dan
endapan residual.

10
11

DAFTAR PUSTAKA

1. Afif, 2012. “ Eksplorasi Mineral”, http://afifnugraha.wordpress.com. Diakses


pada Tanggal 19 Februari 2018. Pukul 20.00 WIB.

2. Anonim, 2011 “Penginderaan Jarak Jauh”, http://geolognesia.com. Diakses


pada Tanggal 19 Februari 2018. Pukul 18.00 WIB.

3. Rozali, 2014. “Pemetaan Geologi/Alterasi”, http://geonviron.blogspot.com


Diakses pada tanggal 19 Februari 2018. Pukul 09.00 WIB.

4. Sukandarrumidi, 2007 “Geologi Mineral Logam”. Penerbit : Gadjah Mada


University Press. Dibaca tanggal 19 Februari 2018, Pukul 15.00
WIB.

11
12

LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN
(Jenis-Jenis Alterasi Disertai Foto)

12
13

LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN
(Gambar Bentuk Tubuh Bijih)

13
14

LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN
(KEPMEN 1453 LAMPIRAN 13 A)

14
15

LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN
(LAPORAN EKSPLORASI)

15