Anda di halaman 1dari 2

1.

Pathogenesis SGB & pemberian immunoglobulin dalam tatalaksana SGB


SGB adalah penyakit yang diperantarai imun, dan merupakan penyakit postinfeksius.
Mekanisme selular dan humoral mungkin memegang peranan dalam terbentuknya penyakit ini.
Kebanyakan pasien dilaporkan dengan penyakit infeksi dalam beberapa minggu sebelum onset
SGB. Banyak agen infeksi yang telah diperkirakan memicu pembentukan antibody yang bereaksi
silang dengan ganglioside dan glikolipid seperti GM1 dan GD1b, yang terdapat di myelin pada
system saraf tepi.patofisiologi dari mekanisme penyakit yang terjadi dan SGB dapat ditandai oleh
infeksi campylobacter jejuni. Virulensi dari C jejuni diperkirakan berdasarkan keberadaan antigen
spesifik pada kapsul yang dimiliki oleh saraf. Respon imun diarahkan melawan antigen
lipopolisakarida pada kapsul C jejuni yang menghasilkan antibody yang bereaksi silang dengan
ganglioside GM1 pada myelin, menyebabkan kerusakan imunologis pada system saraf tepi. Proses
ini disebut molecular mimikri.
Temuan patologis dari SGB termasuk infiltrasi limpositik pada medulla spinalis dan saraf
perifer (saraf kranial juga dapat terlibat) diikuti oleh mediasi makrofag, striping multifocal myelin.
Phenomena ini merupakan hasil dari defek pada perambatan impuls elektrik saraf. Dengan
ketiadaan atau delay mendalam pada konduksi, menyebabkan paralisis flaksid, penyembuhan
biasanya berhubungan dengan remyelinasi.
Pada beberapa pasien dengan penyakit yang parah, akibat sekunder dari inflamasi aksonal para
yang terjadi adalah disrupsi dan kehilangna axonal. Pada sebuah kelompok pasien yang memiliki
serangan imun primer secara langsung pada axon saraf, yang mengenai myelin. Presentasi klinis
pada pasien ini sama dengan tipe utama.
Sumber : https://emedicine.medscape.com/article/315632-overview#a2 tanggal 19 Desember
2017

Pemberian immunoglobulin berperan kuat untuk penyembuhan penyakit ini, cara


kerjanya yaitu IVig menghambat efek toksik dari CD8 killer T-cell pada myelin di saraf dan CD4
CD45RO+ T cell, dan mereduksi jumlah limfosit B selain itu IVIg kemungkinan juga mempengaruhi
produksi antibody dan mengurangi inflamasi pada sel. IVIg juga memblok ikatan reseptor
Fc(gamma), sehingga mencegah bahaya fagositosis oleh makrofag. Terapi IVIg pada umumnya
diberikan sebagai lini pertama karena lebih mudah dalam proses pemberiannya dan aman. Dosis
terapi yang diberikan adalah 400 mg / kg BB per hari selama 5 hari (total dosis 2,0g/kgbb) melalui
infus, pemberian dilakukan secara kontinyu dalam jangka 5 hari. Namun pemberian IVIg bukan
tanpa resiko, karena dapat menyebabkan hepatitis dan gagal ginjal (pada kasus jarang), jika
digunakan lebih dari 5 hari.

Sumber : pithadia, A.B. Kakadia N. Guillain Barre Sindrome (GBS), pharmacological reports, 2010,
62. 220-232
Hui QH, Jun M. Xue DF, Mei Han, Xiu JS. Li Guo. Changes in lymphocyte subsets in patients with
guillain-barre syndrome treated with immunoglobulin. BMC neurology 2014. 14;202
2. Teori hubungan SGB dengan Zika virus
Jawab: teori mengenai hubungan langsung virus zika dengan terjadinya sindrom guillain barre
pada pasien masih belum dapat dipastikan namun penjelasan yang memungkinkan dari para ahli
yaitu virus zika dapat memulai proses dari mimikri molekuler pada system imun terhadap antigen
system saraf sebelum gejala klinis dari infeksi virus muncul, virus zika memproduksi gangguan
regulasi system imun yang memicu terjadinya sindrom guillain barre lewat mekanisme atau
sebuah mekanisme yang tidak berhubungan dengan mimikri molekuler, virus zika menghasilkan
respon imun hiper akut, atau ada pun yang secara langsung lewat mekanisme neuropatogenik
viral yang masih belum diketahui untuk sindrom guillain barre. Walaupun keberadaan virus zika
dalam csf dan kemampuan replikasi virus dalam 3 kasus menunjukkan proses neuroinvasif pada
syndrome guillain barre, dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk membuktikan mekanisme ini.
Sumber Beatriz, Parra. Dkk. Guillain–Barré Syndrome Associated with Zika Virus Infection in
Colombia. 2016. Diakses dari situs nejm.org tanggal 19 Desember 2017
3. Yang dikhawatirkan pada pasien SGB
Gangguan fungsi saraf pada system respirasi dan regulasi kardiovaskuler yang dapat sangat
berakibat fatal.