Anda di halaman 1dari 5

Penjelasan Bank Mandiri terkait kredit

macet Tirta Amarta

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk menjelaskan mengenai kasus kredit


yang diberikan ke debitur produsen air minum PT Tirta Amarta Bottling. Kini, pemberian
kredit yang diduga menyebabkan kerugian negara Rp 1,4 triliun ke pemilik merek Viro ini,
berbuntut hukum.

Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama Bank Mandiri mengatakan, kasus ini terjadi sebelum
periode kepemimpinannya.

"Kredit ke Tirta Amarta tersebut merupakan kredit investasi, kenapa potensi kerugiannya
signifikan, karena jaminan dari sisi pabrik hanya Rp 200 miliar," kata Tiko sapaan akrabnya,
Rabu (31/1).

Menurut Tiko, untuk menyelesaikan beberapa kasus kredit bermasalah yang ada, bank akan
bekerjasama dengan Kejaksanaan Agung (Kejakgung) yang saat ini sedang menangani kasus
Amarta Bottling.

Selain Tirta, Bank Mandiri juga mewaspadai potensi kasus kredit bermasalah di segmen
komersial. Pada beberapa kasus, Bank Mandiri mencatat ada potensi penggelembungan aset.

Penanganan secara cepat debitur bermasalah ini diperlukan untuk mencegah risiko penurunan
aset karena risiko kredit macet atau non-performing loan (NPL). Jika dibiarkan, kata dia, ini bisa
menggerus laba dan menurunkan kinerja bank.
Jaksa terus periksa saksi kasus kredit Bank
Mandiri ke Tirta Amarta Bottling

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kejaksaan Agung masih terus melanjutkan kasus fasilitas kredit
PT Bank Mandiri Tbk kepada PT Tirta Amarta Bottling (Tirta). Hingga kini jaksa masih terus
melengkapi berkas dari kasus ini.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, M. Roem mengatakan instansinya masih
terus melengkapi berkas sebelum kasus ini dilanjutkan ke pengadilan.

"Kami masih memeriksa saksi-saksi yang berkaitan kasus," ujar Roem kepada KONTAN Senin
(29/1). Namun sayangnya ia masih belum mengetahui nama-nama yang akan diperiksa.
Termasuk apakah ada nama-nama direksi Bank Mandiri yang akan diperiksa.

"Saya belum dapat info nama-namanya," ujarnya.

Sebelumnya Kejaksaan masuk ke kasus ini karena dianggap merugikan negara triliunan rupiah.
Kasus ini bermula saat Direktur Tirta pada 15 Juni 2015 berdasarkan Surat No.08/TABco/VI/205
mengajukan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit ke Bank Mandiri Commercial Banking
Center Bandung.

Tirta Amarta mengajukan perpanjangan seluruh fasilitas kredit modal kerja (KMK) senilai Rp
880,60 miliar. Tirta juga mengajukan perpanjangan dan tambahan plafon LC senilai Rp 40
miliar, sehingga total plafon pinjaman menjadi Rp 50 miliar, ditambah kredit investasi Rp 250
miliar selama 72 bulan.

Dalam dokumen pendukung permohonan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit, terjadi
penggelembungan data aset Tirta Amarta. Akibatnya, nota analisa pemutus kredit Nomor
CMG.BD1/0110/2015 tanggal 30 Juni 2015 menyebut kondisi keuangan Tirta Amarta
mengalami perkembangan sehingga bisa menggaet perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit,
Rp 1,17 triliun, di tahun 2015.

Tirta Amarta juga menggunakan uang fasilitas kredit, antara lain Rp 73 miliar yang tidak sesuai
perjanjian kredit investasi dan KMK. Diduga ada kerugian keuangan negara Rp 1,4 triliun.
Bank Mandiri bisa eksekusi jaminan Tirta
Amarta

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Corporate Secretary PT Bank Mandiri Tbk Rohan Hafas


mengatakan aset yang dijaminkan oleh PT Tirta Amarta Bottling Company ke Bank Mandiri
dapat dieksekusi.

"Masih ada jaminan yang bisa dilikuidasi, tapi memang nilainya tak sebanding dengan utang.
Asetnya berupa lahan, bangunan, pabrik," kata Rohan di Plaza Mandiri, Senin (21/5).

Bahkan, kata Rohan sudah ada beberapa investor yang tertarik untuk membeli beberapa aset
milik Tirta Amarta tersebut. Meski demikian ia tak menyebutkan berapa nilai taksiran
(appraisal) aset-aset tersebut.

"Sudah banyak yang melirik, dan potensi pengembaliannya, nilainya bisa maksimum, karena
sudah ada beberapa yang melirik pabrik-pabriknya, ada dua investor yang tertarik beli pabrik,
karena sebenarnya teknologi dia bagus," sambung Rohan.

Meski demikian, upaya menjual aset-aset milik Tirta Amarta nampaknya tak bisa buru-buru
dilakukan oleh Bank Mandiri. Sebab, saat ini Kejaksaan Agung telah merampungkan berkas
penuntutan atas Direktur Tirta Amarta dan segera menyetirnya ke pengadilan.

Sebelumnya, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Adi Toegarisman
menyatakan, dalam berkas penuntutan akan ada upaya penyitaan aset-aset milik Tirta Amarta.

"Nanti nilainya akan dihitung ulang, proses penyidikan kan kami menyita beberapa aset. Nanti
perhitungannya disimpulkan di penuntutan," jelas Adi Senin (21/5) di Kejaksaan Agung.

Jika aset-aset yang dimiliki Bank Mandiri akan disita, maka lelang kemudian akan dilakukan
oleh Kejaksaan. Potensi nilainya juga akan berkurang karena akan menggunakan acuan nilai
likuidasi (liquidation value). Menanggapi hal ini, Rohan mengaku akan mengikuti proses hukum
yang berlaku.

"(Penurunan nilai) Mungkin akan menarik bagi investor, tapi yang jelas kita tentu akan
menghormati proses hukum yang berjalan," jelas Rohan.

Asal tahu, Tirta Amarta Bottling Company merupakan perusahaan yang memproduksi air
minuman dalam kemasan (AMDK) dengan merek Viro. Perusahaan ini memiliki lima anak
usaha, yaitu PT Jimando perkasa, PT Tirta Amarta, PT Trison Star Investama, PT Kenanda
Investama dan PT Trimas Investama. Ketiga perusahaan terakhir merupakan perusahaan
investasi.
Bank Mandiri mulai memberikan fasilitas kredit modal kerja (KMK) pada 19 Desember 2008.
Kemudian sejalan dengan pertumbuhan perusahaan diberikan beberapa fasilitas tambahan dan
mendapat perpanjangan fasilitas KMK, Letter of Credit (LC) impor dan fasilitas treasury pada
15 April 2015.

Kala itu Rony mulanya mengajukan KMK senilai Rp 880 miliar. Kemudian Tirta Amarta
mengajukan perpanjangan dan penambahan LC sebesar Rp 40 miliar. Adapula pengajuan
fasilitas KI senilai Rp 250 miliar.

Tirta Amarta kemudian dilaporkan Bank Mandiri kepada Kejaksaan Agung lantaran dinilai
melakukan penyelewengan atas kredit yang diberikan Bank Mandiri.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah menghitung kerugian negara atas kasus ini senilai Rp
1,83 triliun.
Kasus Tirta Amarta rugikan Rp 1,83 triliun,
ini jawaban Bank Mandiri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas angkat bicara soal beda
nilai kerugian negara dari penyelewengan kredit yang dilakukan PT Tirta Amarta Bottling Company
antara hasil audit internal Bank Mandiri dengan hasil investigasi yang dilakukan Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK).

Asal tahu, Bank Mandiri melalui audit internalnya menyatakan kerugian senilai Rp 1,4 triliun. Sementara
dari hasil investigasi BPK kerugian melonjak menjadi Rp 1,83 triliun.

"Nilai audit dari kami senilai Rp 1,4 triliun itu hanya utang pokok. Sementara nilai dari BPK Rp 1,83 triliun
sudah menghitung bunga, dan denda. Karena biasanya perhitungan perbankan tak pakai denda dan
bunga, yang penting pokoknya," jelasnya di Plaza Mandiri, Senin (21/5).

Tadi pagi, Senin (21/5) BPK sendiri telah melaporkan hasil investigasi tersebut kepada Kejaksaan Agung
yang diterima Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Adi Toegarisman. Penyerahan diwakilinoleh
Auditor Investigasi Utama BPK I Nyoman Wara.

"Dari hasil investigasi kami ada kerugian negara senilai Rp 1,83 triliun. Jika nilainya berbeda dengan
audit Bank Mandiri kami tidak tahu, yang jelas kami menggunakan data-data yang valid dan kompeten
dari penyidik," kata Nyoman di Kejaksaan Agung, Senin (21/5).

Dalam kasus ini sendiri Kejaksaan Agung telah menetapkan lima tersangka selain Direktur Tirta Amarta
Rony Tedy. Mereka kesemuanya adalah pegawai di Bank Mandiri Commercial Banking Center (CBC)
Bandung.

Mereka adalah Manajer Komersial Perbankan Surya Baruna Semenguk, Relationship Manager Frans
Eduard Zandra, Senior Credit Risk Manager, Teguh Kartika Wibowo, Commercial Banking Head Totok
Sugiharto dan Wholesale Credit Head Purwito Wahyono.

Terkait, para pegawainya yang telah ditetapkan sebagai tersangka, Rohan mengatakan akan mengikuti
proses hukum.

Lagi pula katanya, kasus Tirta Amarta ini berawal dari hasil audit internal yang dilakukan oleh Bank
Mandiri atas krrdit-kredit macet yang dimilikinya. Sehingga kemudian Bank Mandiri melaporkannya ke
Kejaksaan Agung. Oleh karenanya Bank Mandiri akan mengikuti proses hukum yang sedang berjalan.

"Fraud di internal selalu jadi cerita klasik di perbankan, ke depan kita akan selalu melakukan review yang
ketat atas fasilitas kredit yang kita berikan," lanjut Rohan.