Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH SISTEMATIKA TUMBUHAN

FAMILI ASPARAGACEAE

DOSEN :
Dr. Priyanti, M.Si

KELOMPOK 5 / 3B
Abdul Bagas Alkatiri (11160950000033)
Aisyah Yuni Fitriyah (11160950000045)
Cica Nurtia (11160950000054)

PRODI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2017
I. Latar Belakang

Peningkatan jumlah kendaraan bermotor berpotensi meningkatkan pencemaran udara


terutama di jalan-jalan protokol. Untuk mengurangi semakin tingginya bahan pencemar yang
dihasilkan kendaraan bermotor, perlu adanya pohon-pohon dan tanaman yang berfungsi
sebagai penyerap dan penjerap bahan pencemar dan debu di udara yang dihasilkan kendaraan
bermotor. Salah satu tanaman yang biasa digunakan sebagai pengurang polusi udara adalah
tanaman dari famili Asparagaceae.

Famili Asparagaceae daunnya dikurangi menjadi daun pelindung kecil, meninggalkan


batang hijau sebagai struktur utama yang bertanggung jawab untuk fotosintesis pertumbuhan
kayu melalui penebalan sekunder anomali relatif umum. Organ perennating bawah tanah
terdiri dari rimpang, umbi, subang, akar umbi atau caudex berkayu. Daunnya memiliki
pembuluh darah yang paralel dan bergiliran di sepanjang batang. Bunga-bunga itu memiliki
bagian bantalan serbuk sari dan bagian yang mengandung ovule atau mungkin bersifat
uniseksual, dan tumbuh pada tangkai dari persimpangan daun dan batang. Bunganya kecil,
berbentuk lonceng, berpisah tiga, dan terdiri dari dua whorls sepal dan kelopak serupa
(disebut tepal) yang terpasang di bawah indung telur (yaitu, indung telur lebih tinggi). Ada 6
benang sari dan 1 ovarium terdiri dari 3 buah karpel. Buah dari famili ini kadang berbentuk
kapsul-kapsul dan sering dijuampai berbentuk berry. Benih sering kali berwarna hitam karena
adanya phytomelanm (Wilkin, 2012).

Tanaman dari famili Asparagaceae selain sebagai pembersih udara dari polusi yang
dihasilkan oleh kendaran bermotor dan asap-asap pembakaran juga berfungsi sebagai tanaman
hias yang sering kita jumpai pada kehidupan sehari-hari, terdapat beberapa tanaman dari
famili Asparagaceae ini pada Kampus I Univeristas Islam Negri (UIN) Jakarta. Sehubungan
dengan hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui jenis tanaman
Asparagaceae yang ada pada lokasi tersebut.

II. Tujuan

1. Mendeskripsikan tanaman dari famili Asparagaceae.


2. Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan jenis tanaman dari famili Asparagaceae yang
terdapat pada Kampus I Universitas Negri Islam (UIN) Jakarta.
3. Mengetahui manfaat dari jenis tanaman famili Asparagaceae.
III. Manfaat

1. Mahasiswa dapat mendeskripsikan tanaman dari famili Asparagaceae.


2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasikan jenis tanaman dari famili
Asparagaceae yang terdapat pada Kampus I Universitas Negri Islam (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Mahasiswa dapat mengetahui manfaat dari jenis tanaman famili Asparagaceae.

IV. Metode

Pengamatan ini dilakukan di Kampus I UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada awal
bulan September sampai akhir bulan Desember 2017. Alat yang digunakan dalam pengamatan
ini adalah alat tulis, alat mendokumenatasikan gambar (kamera) dan buku pengenalan
tumbuhan. Objek penelitian ini adalah tumbuhan famili Asparagales yang ada di Kampus I
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Cara pengumpulan data tumbuhan famili Asparagales
diambil dengan metode observasi. Metode observasi ialah pengamatan langsung
menggunakan alat indera atau instrument sebagai alat bantu untuk penginderaan suatu subjek
yang juga merupakan basis sains (Kurniawan, 2011). Alasan menggunakan metode ini karena
dengan metode observasi pengamat mampu menemukan fakta di lapangan yang berhubungan
dengan materi pembelajaran di dalam kelas.

V. Hasil

Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan 6 spesies dari famili Asparagales yang ada
di Kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah. Spesies-spesies tersebut antara lain :

1. Andong (Cordyline fruticosa (L.) A.Chev.)


2. Lidah Mertua Bercoreng (Sansevieria trifasciata Prain.)
3. Lili Paris (Chlorophytum comosum)
4. Dracaena marginata
5. Corn Plant (Dracaena fragrans)
6. Lidah Buaya Amerika (Agave americana L.)
VI. Pembahasan
Famili Asparagaceae

Famili Asparagaceae daunnya dikurangi menjadi daun pelindung kecil, meninggalkan


batang hijau sebagai struktur utama yang bertanggung jawab untuk fotosintesis pertumbuhan
kayu melalui penebalan sekunder anomali relatif umum. Organ perennating bawah tanah
terdiri dari rimpang, umbi, subang, akar umbi atau caudex berkayu. Daunnya memiliki
pembuluh darah yang paralel dan bergiliran di sepanjang batang. Bunga-bunga itu memiliki
bagian bantalan serbuk sari dan bagian yang mengandung ovule atau mungkin bersifat
uniseksual, dan tumbuh pada tangkai dari persimpangan daun dan batang. Bunganya kecil,
berbentuk lonceng, berpisah tiga, dan terdiri dari dua whorls sepal dan kelopak serupa
(disebut tepal) yang terpasang di bawah indung telur (yaitu, indung telur lebih tinggi). Ada 6
benang sari dan 1 ovarium terdiri dari 3 buah karpel. Buah dari famili ini kadang berbentuk
kapsul-kapsul dan sering dijuampai berbentuk berry. Benih sering kali berwarna hitam karena
adanya phytomelanm (Wilkin, 2012).

Famili Asparagaceae adalah salah satu suku dari tumbuhan berbunga. Menurut sistem
klasifikasi APG II suku ini dimasukkan ke dalam bangsa Asparagales, klad monocots. Daftar
tanaman dalam keluarga Asparagaceae, Famili Asparagaceae terdiri dari sekitar 153 marga
dan sekitar 2.500 spesies tumbuhan berbunga. Didistribusikan hampir di seluruh dunia, dan
anggotanya disatukan terutama oleh hubungan genetik dan evolusioner dibanding kesamaan
morfologi. Berikut adalah daftar beberapa spesies dari famili Asparagaceae yang berada pada
Kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5.1 Klasifikasi dan Deksripsi

Cordyline fruticosa (L.) A.Chev.


Andong Merah
Sumber : Dokumen Pribadi, 2017
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridiplantae
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asparagales
Famili : Asparagaceae
Genus : Cordyline
Spesies : Cordyline fruticosa

Cordyline fruticosa termasuk perdu tegak dengan tinggi 2-4 m, jarang bercabang, batang
bulat, keras, bekas daun rontok berbentuk cincin. Daun tunggal dengan warna hijau ada juga
yang berwarna merah kecoklatan. Letak daun tersebar pada batang, terutama berkumpul di
ujung batang. Helaian dan panjang berbentuk lanset dengan panjang 20—60 cm dan lebar 5-
13 cm. Ujung dan pangkalnya runcing, tepi rata, pertulangan menyirip dan tangkai daunnya
berbentuk talang. Bunga bermalai besar, muncul dari tengah-tengah kluster daun. Panjang
bunga antara 30-38 cm, melengkung dan bercabang. Bunga berwarna keunguan dan terdiri
dari kelopak bunga yang sempit dengan 6 lobus runcing, 6 benang sari dan putik putih dengan
3 ovarium (Little Jr. dan Skolmen, 1989).
Distribusi : Tumbuhan ini tersebar luas dari Asia Tenggara, Malanesia, Australia, Kepulauan
di Samudera Hindia hingga Polinesia
Lokasi : Pusat Laboratorium Terpadu (PLT), Fakultas Sains dan Teknologi (FST).
Nama lokal : Bak Juang (Aceh), Linjuang (Medan), Tumjuang (Palembang), Hanjuang
(Sunda), Andong (Jawa Tengah), Kayu Urip (Madura), Andong (Jakarta), Endong (Bali),
Renjuang (Dayak), Endong (Nusa Tenggara), Tabango (Gorontalo), Palili (Makasar),
Panjureng (Bugis), dan Weluga (Ambon) (Depkes, 2001).
Pemaanfaatan : Tumbuhan jenis ini dapat digunakan sebagai bahan obat yang sering
digunakan sebagai pembatas lahan, sawah atau kebun, dan tanaman hias. Daun tanaman
andong banyak digunakan sebagai obat sakit kepala, diare, disentri, TBC paru, asma, sakit
kulit, inflamasi mata, sakit punggung, rematik, dan encok (Wijayakusuma, 1994).

Sansevieria trifasciata Prain.


Lidah Mertua Bercoreng / Snake Plant

Sumber : Dokumen Pribadi, 2017


Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridiplantae
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asparagales
Famili : Asparagaceae
Genus : Sansevieria
Spesies : Sansevieria trifasciata Prain.

Lidah mertua adalah tanaman hias yang cukup popular sebagai penghias bagian dalam
rumah karena tanamaan ini dapat tumbuh dalam kondisi ssedikit air dan cahaya matahari.
Sansevieria trifasciata memiliki daun keras, sekulen, tegak dengan ujung meruncing (Dewi
dkk, 2012). Akar sansevieria berbentuk serabut. Akar berwarna putih ini tumbuh dari bagian
pangkal daun dan menyebar ke segala arah di dalam tanah. akar sansevieria berbentuk
serabut. Akar berwarna putih ini tumbuh dari bagian pangkal daun dan menyebar ke segala
arah di dalam tanah. Selain terdapat akar, terdapat organ yang menyerupai batang, organ ini
disebut sebagai rimpang atau rhizoma yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sari-sari
makanan hasil fotosintesis dan juga berperan dalam perkembang biakan. Rimpang menjalar di
bawah tanah dan kadang-kadang di atas permukaan tanah. Ujung organ ini merupakan
jaringan meristem yang selalu tumbuh memanjang. Daun tumbuh di sekeliling batang semu di
atas permukaan tanah. Bentuk daun panjang dan meruncing pada bagian ujungnya. Tulang
daun sejajar. Bunga sansevieria terdapat dalam malai yang tumbuh tegak dari pangkal batang
dan termasuk bunga berumah dua, putik dan serbuk sari tidak berada dalam satu kuntum
bunga. Biji dihasilkan dari pembuahan serbuk sari pada kepala putik yang berperan penting
dalam perkembangbiakan tanaman. Biji sansevieria berkeping tunggal seperti tumbuhan
monokotil lainnya yang bagian terluar dari biji berupa kulit tebal yang berfungsi sebagai
lapisan pelindung. Di sebelah dalam kulit terdapat embrio yang merupakan bakal calon
tanaman.
Distribusi : Tanaman asli Afrika tropis, yang kemudian diperkenalkan ke Amerika, Asia,
Australia, dan Kepulauan Pasifik sebagai tanaman hias dan serat (PIER, 2012).
Lokasi : Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Audiorium Harun Nasution
Nama lokal : Lidah Mertua (Indonesia); Letah Menyawak (Sumatra); Pancing Towo (Jawa);
Mandafika (Madura); Lidah Jin (Melayu).
Pemaanfaatan : umumnya digunakan sebagai tanaman pot dalam ruangan dan sangat populer
di perdagangan pembibitan karena telah ditemukan bahwa spesies ini adalah salah satu
tanaman paling efisien untuk membersihkan udara dengan mengeluarkan racun seperti
formaldehid yang ada di rumah dan kantor (Wolverton et al., 1989). Tanaman ini juga
digunakan sebagai sumber serat, dan dalam pengobatan tradisional di Afrika dan Asia
Tenggara (Watt and Breyer-Brandwijk, 1962; Sunilson et al., 2009).

Chlorophytum comosum
Lili Paris / Spider Plant
Sumber : Dokumen Pribadi, 2017
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridiplantae
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asparagales
Famili : Asparagaceae
Genus : Chlorophytum
Spesies : Chlorophytum comosum

Chlorophytum Comosum atau lili paris adalah nama dari tanamaman hias jenis semak
yang biasa digunakan sebagai material pembuatan taman dan Chlorophytum Comosum
merupakan tanaman tahunan, tinggi 10-25 cm. Batang menjalar, bulat, dan membentuk
stolon, berwarna hijau kekuningan. Daun berbentuk pita agak tipis, letak daun pada sumbunya
berbentuk roset dengan helaian daunya membuka atau mendatar, tepi daun rata dan
pertulangan sejajar. Daun berwarna hijau dan putih, warna hijau terletak sebagai garis pada
kedua tepi daun sedangkan bagian tengah daunya berwarna putih. Bunga majemuk, diameter
10-18 mm bentuk malai, dan berada di ketiak daun, bertangkai panjang, bunga bentuk bintang
dan kecil, bunga berwarna putih.Biji lonjong, keras, hitam. Akar serabut, membentukumbi,
putih.

Tumbuhan Chlorophytum Comosum umumnya hidup/di budidayakan sebagai tanaman


hias pada ketinggian 10 meter sampai1500 meter diatas permukaan laut. Tumbuhan ini
menyukai tanah yang sedikit berpasir atau liat asal mengandung banyak bahan organik. Biasa
hidup di daerah tropis khususnya hutan hujan tropis yang memiliki curah hujan tinggi.
Penyebaranya tumbuh subur d idaerah beriklim tropis dan basah. Tanaman Lili Paris tumbuh
subur pada ketinggian 50-800 m dpl dengan cahaya matahari 80-100% dan kelembaban 50%.
Temperatur udara mencapai 18-24°Cdengan pH tanah 6,5-7,0.
Distribusi : Afrika Selatan, Asia Tenggara
Lokasi : Fakultas Ushuludin, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH)
Nama lokal : Lili Paris (Indonesia), Spider Plant (Inggris)
Pemaanfaatan : Lili Paris ditanam sebagai tanaman pembersih udara dan tanaman hias.
Umbi Chlorophytum comosum berkhasiat untuk penyegar badan.

Dracaena marginata
Bunga manggar

Sumber : Dokumen Pribadi, 2017

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridiplantae
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asparagales
Famili : Asparagaceae
Genus : Dracaena
Spesies : Dracaena marginata
Dracaena Marginata biasa disebut Dragon Tree yang dapat tumbuh hingga 4 m atau
lebih, memiliki daun yang runcing dengan strip merah keunguan sepanjang daunnya.
Dracaena marginata, jenis ini dapat mencapai ketinggian hingga 10 kaki, daun berbentuk
kecil dan panjang. Spesies dasar memiliki daun waarna hijau dengan tepi merah. Varietas
Tricolor mempunyai 3 warna yaitu kuning, hijau dan merah sehingga menghasilkan efek hijau
keemasan. Varietas Colorama mempunyai pita tepi warna merah yang dominan sehingga
secara keseluruhan tampak kemerahan. Perbanyakan tanaman ini dapat dilakukan dengan stek
batang, atau pun penanaman mahkota.
Distribusi : Tanaman asal Madagaskar dan biasa dibudidayakan di seluruh bagian Asia,
Australia dan bagian tropis Amerika
Lokasi : Fakultas Sains dan Teknologi (FST)
Nama lokal : Bunga Manggar
Pemaanfaatan : Sebagai bahan baku buket para desainer perangkai bunga dan daun potong,
sebagai background dekorasi pada acara tertentu, misalnya pesta perkawinan, pembukaan
kantor baru, acara seremonial lain, sebagai bahan pengganti asparagus untuk membuat
korsase/rangkaian bunga yang biasanya digunakan sebagai penghias kebaya, dan sebagai
“pemanis”, finishing, dan pemantul warna (Direktorat Budidaya Tanaman Hias, 2009)

Dracaena fragrans
Corn plant

Sumber : Dokumen Pribadi, 2017


Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridiplantae
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asparagales
Famili : Asparagaceae
Genus : Dracaena
Spesies : Dracaena fragrans

Dracaena Fragrans atau yang lebih dikenal dengan sebutan Corn Plant karena bentuk
daunnya yang mirip dengan Sweet Corn. Daunnya berwarna hijau cerah dengan strip kuning
di tengahnya. Dapat tumbuh hingga 1 -1,5 m, atau juga dapat juga dibuat menjadi semak kecil
dengan cara memotong ujung-ujungnya. Bunganya wangi sekali jika mekar dan semerbak di
malam hari. Habitus berupa terna, termasuk Monocotyledoneae karena memiliki biji yang
berkeping satu, daun tunggal membentuk rozet akar ,termasuk family Asparagaceae karena
berupa terna dengan rimpang atau umbi,memiliki bunga yang kecil.
Distribusi : Tanaman asli Afrika tropis yang banyak ditanam. Dibudidayakan di seluruh
bagian tropis Amerika, Asia, Australia Utara dan Kepulauan Pasifik (McConnell D.B., et al.,
2015).
Lokasi : Fakultas Sains dan Teknologi (FST)
Nama lokal : Sri gading (Indonesia); Cornstalk Plant (Inggris)
Pemaanfaatan : Digunakan sebagai tanaman pembatas antara rumah, ke jalur jalan masuk,
untuk penanaman jalan raya, atau untuk membuat struktur rangka dan biasa digunakan
sebagai tanaman hias.
Agave americana L
Lidah Buaya Amerika / Century Plant

Sumber : Dokumen Pribadi, 2017


Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridiplantae
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Asparagales
Famili : Asparagaceae
Genus : Agave
Spesies : Agave americana L.

Tanaman agave (Agave americana) merupakan tanaman penghasil serat alam,


tanaman ini juga sering disebut dengan century plant karena tanaman ini membutuhkan waktu
yang sangat lama untuk berbunga. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah dan iklim
daerah serta karakteristik tanaman itu sendiri. Nutrisi yang dibutuhkan untuk menghasilkan
bunga disimpan dalam daunnya yang berdaging. Agave americana dikenal juga dengan lidah
buaya Amerika, walaupun bukan termasuk golongan lidah buaya (aloe). Agave americana
pertama kali dikenal di Eropa pada pertengahan abad ke-16. Saat ini, tanaman tersebut telah
dikenal dan dibudidayakan secara meluas. Jenis-jenis tanaman ini mempunyai garis putih atau
kuning di tepi maupun tengah daun, dari pangkal hingga ujung daun. Tanaman ini biasa
ditanam di pot, menyukai matahari, namun tidak tahan terhadap butiran salju. Varietas agave
americana yang dibudidayakan meliputi Marginata yang bergaris kuning sepanjang tepi daun,
Medopicta dengan pita putih di tengah daunnya, Striata yang bergaris kuning-putih sepanjang
daunnya, dan Variegata yang bergaris putih di tepi daunnya. Jenis Agave yang banyak
dimanfaatkan untuk serat alam adalah Sisal (Agave sisaline Perrine). Penanaman Sisal terus
berkembang di Indonesia sejak tahun 1913, seiring dengan kebutuhan bahan baku tali dan
industri lainnya. Seperti jenis tanaman kaktus lainnya, sisal tumbuh baik pada lahan dan iklim
yang kering.
Distribusi : Habitat asli Agave americana adalah di Brasil (Amerika Selatan). Spesies ini
telah dibudidayakan secara luas. Naturalisasi telah berhasil dilakukan di beberapa tempat
seperti Florida, Hawaii, Pulau Marquesas, Polinesia, Tonga, dan banyak tempat lainnya
termasuk Indonesia.
Lokasi : Fakultas Tarbiyah, Fakultas Sains dan Teknologi (FST)
Nama lokal : Lidah Buaya Amerika, Giant False Agave, Rami Mauritius, Buaya
Hijau, Karata Perempuan, Maguey, Mayuey Criollo, Cocuisa, Cabuya Raksasa, dan
Gaharuvert
Pemaanfaatan : Agave dapat membantu menahan tanah, pembatas untuk satwa liar, dan
menambah estetika taman. Spesies ini secara luas, digunakan sebagai tanaman lansekap untuk
aksen dan pusat perhatian. Tersedia dalam beberapa variasi warna. Agave pernah
dibudidayakan secara luas untuk mendapatkan seratnya,

5.2. Identifikasi

Cordyline Dracaena Agave


Sansevieria Chlorophytum Dracaena
Identifikasi fruticosa (L.) Fragrans americana
trifasciata Prain comosum marginata
A.Chev L.
Akar Serabut Serabut Serabut Serabut Serabut Serabut
Habitus Perdu Perdu Perdu Perdu Perdu Perdu
Tipe daun Tunggal Tunggal Tunggal Tunggal Tunggal Tunggal
Ketebalan Tebal dan
Tipis Tebal dan kaku Tipis Tipis Tipis
daun kaku
Kedudukan Roset Roset Roset Roset
Roset Akar Roset Akar
daun Batang Batang Akar Akar
Tepi daun Integer Integer Divisus Integer Integer Integer
Ujung
Acutus Acutus Acutus Acutus Acutus Acutus
daun
Pangkal
Meruncing Obtusus Obtusus Obtusus Obtusus Obtusus
daun
Melekuk
Lekukan Melekuk ke pada
Lurus Lurus Lurus Lurus
daun tepi daun ujung
daun
5.3. Kunci Identifikasi

1. a. Pangkal daun Obtusus ................................................. 2


b. Pangkal daun Meruncing ............................................. Cordyline fruticosa
2. a. Roset Akar ................................................................... 3
b. Roset Batang ............................................................... Dracaena marginata
3. a. Tipe daun rata (integer) ............................................... 4
b. Tipe daun berombak (divisus) ..................................... Chlorophytum comosum
4. a. Ketebalan daun tebal dan kaku .................................... 5
b. Ketebalan daun tipis .................................................... Dracaena fragrans
5. a. Daun Melekuk ke arah tepi daun ................................. Sansevieria trifasciata Prain.
b. Daun Melekuk pada ujung daun ................................. Agave americana L.

VII. Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada kampus I UIN Syarif hidayatullah,
ditemukan 6 jenis tumbuhan famili Asparagales. Jenis-jenis dari famili tersebut adalah
Cordyline fruticosa (L.) A.Chev, Sansevieria trifasciata Prain, Chlorophytum comosum,
Dracaena marginata, Dracaena fragrans, dan Agave americana (L.). Tumbuhan
Asparagaceae merupakan tumbuhan yang biasa digunakan sebagai pengurang polusi udara di
sekitar kampus, sebagai tanaman hias dan tumbuhan obat.

Daftar pustaka :

Ahli Tanaman. 2016. Agave – Ciri Tanaman Serta Khasiat dan Manfaatnya. Diakses tanggal
23 Desember 2017. http://www.tanobat.com/agave-ciri-tanaman-serta-khasiat-dan-
manfaatnya.html

Deni, Kurniawan. 2011. Pembelajaran Terpadu Teori dan Praktek Penilian.


Bandung: Pustaka Cendikia Utama

Depkes RI. 2001. Pelayanan Informasi Obat. Departemen Kesehatan RI. Jakarta

Direktorat Budidaya Tanaman Hias. 2009. Pedoman Budidaya Tanaman Hias


yang Baik dan Benar. Diakses tanggal 31 Desember 2017. http://www.deptan.go.id.

Little Jr.,L. dan Skolmen, R.G. 1989. Agricultural Handbook.The Forest Service.U.S. Dept.
of Agriculture, USA.
McConnell D.B., J. Chen, R.J. Henny and K. C. Everitt. 2015. Cultural Guidelines for
Commercial Production of Interorscape Draceana. University of Florida, Gainesville,
Florida
PIER, 2012. Pacific Islands Ecosystems at Risk. Honolulu, USA: HEAR, University of
Hawaii.
Watt JM; Breyer-Brandwijk MG, 1962. The Medicinal and Poisonous Plants of Southern and
Eastern Africa. Edinburgh and London, UK: E & S Livingstone Ltd.
Wilkin P, Suksathan P, Keeratikiat K, van Welzen P, Wiland-Szymanska J. (2012) A new
endemic species from central and northeastern Thailand, Dracaena jayneana Wilkin,
Suksathan & Keeratikiat (Asparagaceae tribe Nolinoideae). Kew Bulletin 67: 697-705.
Wijayakusuma, H., 1994, Tumbuhan Berkhasiat Obat Indonesia, 93-97, Jakarta, Prestasi
Intan Indonesia.

Wolverton BC; Johnson A; Bounds K, 1989. Interior landscape plants for indoor air pollution
abatement. Final Report. Interior landscape plants for indoor air pollution abatement