Anda di halaman 1dari 8

PERANAN HUKUM

DAN SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT

AKBAR HASYIM

K012171164

TUGAS MKK-KON. EPID PS. KESMAS PPS-UNHAS

SEMESTER I TAHUN AJARAN 2017/2018


KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah yang telah menolong hambanya menyelesaikan


makalah ini dengan penuh kemudahan tanpa pertolongannya penyusun tidak akan
sanggup menyelesaikan dengan baik. Makalah ini disusun dengan berbagai
rintangan baik yang dating dari penyusun maupun dari luar. Namun dengan penuh
kesabaran dan pertolongan-NYA akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan
baik.

Makalah ini memuat tentang Peranan hukum terhadap System Informasi


Manajemen Rumah Sakit. Sengaja penulis pilih karena menarik perhatian penulis
untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Penyusun juga
mengucapkan terima kasih kepada guru atau dosen pembimbing yang telah
banyak membantu menyusun agar dapat menyelesaikan masalah ini, semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan kepada pembaca walaupun makalah ini
memiliki banyak kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritik. Terima
kasih

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Berkembangnya teknologi sistem informasi, maka penyajian informasi
yang cepat dan efisien sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Perkembangan
teknologi yang semakin pesat saat ini menuntut diubahnya pencatatan manual
menjadi sistem yang terkomputerisasi. Demikian juga halnya pembayaran pasien
pada suatu Rumah Sakit. Rumah sakit sebagai salah satu institusi pelayanan
umum di bidang kesehatan membutuhkan keberadaan suatu sistem informasi yang
akurat, handal, serta cukup memadai untuk meningkatkan pelayanannya kepada
para pasien serta lingkungan yang terkait lainnya. Sistem informasi rumah sakit
digunakan untuk mempermudah dalam pengelolaan data pada rumah sakit.

Sistem Informasi Manajemen (SIM) bagi suatu rumah sakit merupakan hal
yang sangat penting untuk segera diterapkan. Hal ini mengingat semakin
kompleksnya permasalahan yang ada dalam data medik pasien maupun data-data
administrasi yang ada di rumah sakit. Namun menyediakan SIM bukanlah hal
yang mudah, terutama jika dikaitkan dengan biaya pengadaan SIM yang relatif
sangat besar.

Penerapan sistem informasi pada suatu rumah sakit memerlukan suatu


perencanaan yang matang. Bila dilakukan secara tergesa-gesa tanpa melakukan
perencanaan terlebih dahulu dikhawatirkan akan memakan biaya yang mahal,
kemungkinan ada biaya baru baik untuk riset kelayakan dan lain-lain akan
menambah biaya selanjutnya. Dalam penerapan sistem informasi maka masalah
finansial merupakan faktor yang sangat penting.

Sistem Informasi Manajemen yang dimaksudkan adalah suatu sistem yang


telah berbasiskan komputer untuk mengolah data-data medik pasien maupun data-
data administrasi yang dimiliki rumah sakit.Selama ini jika kita bicara tentang
rumah sakit, yang paling mudah diingat adalah pelayanannya yang tidak
memuaskan ketika melakukan administrasi atau waktu yang terlalu yang
dibutuhkan oleh perawat untuk mencari data-data medik pasien.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008
TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

A. bahwa informasi merupakan kebutuhan pokok setiap orang bagi


pengembangan pribadi dan lingkungan sosialnya serta merupakan bagian penting
bagi ketahanan nasional;

B. bahwa hak memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia dan


keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis
yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaraan
negara yang baik;

C. bahwa keterbukaan informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan


pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan Badan Publik lainnya
dan segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik;

D. bahwa pengelolaan informasi publik merupakan salah satu upaya untuk


mengembangkan masyarakat informasi; e. bahwa berdasarkan pertimbangan
sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu
membentuk Undang-Undang tentang Keterbukaan Informasi Publik;

BAB II ASAS DAN TUJUAN Bagian Kesatu Asas Pasal 2

(1) Setiap Informasi Publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap
Pengguna Informasi Publik.

(2) Informasi Publik yang dikecualikan bersifat ketat dan terbatas.

(3) Setiap Informasi Publik harus dapat diperoleh setiap Pemohon Informasi
Publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana.

(4) Informasi Publik yang dikecualikan bersifat rahasia sesuai dengan Undang-
Undang, kepatutan, dan kepentingan umum didasarkan pada pengujian tentang
konsekuensi yang timbul apabila suatu informasi diberikan kepada masyarakat
serta setelah dipertimbangkan dengan saksama bahwa menutup Informasi Publik
dapat melindungi kepentingan yang lebih besar daripada membukanya atau
sebaliknya.

Bagian Kedua Tujuan Pasal 3 Undang-Undang ini bertujuan untuk:

a. menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan


publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan publik, serta
alasan pengambilan suatu keputusan publik;

b. mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik;

c. meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik dan


pengelolaan Badan Publik yang baik;

d. mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik, yaitu yang transparan, efektif


dan efisien, akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan;

e. mengetahui alasan kebijakan publik yang mempengaruhi hajat hidup orang


banyak;

f. mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan bangsa;


dan/atau

g. meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan Badan


Publik untuk menghasilkan layanan informasi yang berkualitas.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009


TENTANG KESEHATAN

BAB XIV INFORMASI KESEHATAN Pasal 168

(1) Untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan
informasi kesehatan.

(2) Informasi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui
sistem informasi dan melalui lintas sektor.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Dalam UU 44 Tahun 2009 tentang RS

Bab XI Pencatatan Dan Pelaporan Pasal 52

(1) menyatakan bahwa Setiap Rumah Sakit wajib melakukan pencatatan dan
pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit dalam bentuk
Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit.

(2) Pencatatan dan pelaporan terhadap penyakit wabah atau penyakit tertentu
lainnya yang dapat menimbulkan wabah, dan pasien penderita ketergantungan
narkotika dan/atau psikotropika dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Sama yang diatur dengan PMK No. 82 tahun 2013 tentang Sistem Informasi
Rumah Sakit a.) Bahwa sesuai ketentuan pasal 52 ayat (1) UU nomor 44 tahun
2009 tentang Rumah sakit, setiap rumah sakit wajib melakukan pencatatan dan
pelaporan semua kegiatan penyelenggaraan rumah sakit dalam bentuk sistem
informasi manajemen Rumah sakit b.) Bahwa pembentukan sistem informasi
manajemen rumah sakit dilakukan dalam rangka meningkatkan efisiensi dan
efektifitas penyelenggaraan rumah sakit di Indonesia c.) Atas pertimbangan
tersebut maka perlu menetepkan peraturan Mentri Kesehatan tentang sistem
Informasi manajemen rumah sakit

Pasal 1 Ayat 2

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit yang selanjutnya disingkat


SIMRS adalah suatu sistem teknologi informasi komunikasi yang memproses dan
mengintegrasikan seluruh alur proses pelayanan Rumah Sakit dalam bentuk
jaringan koordinasi, pelaporan dan prosedur administrasi untuk memperoleh
informasi secara tepat dan akurat dan merupakan bagian dari Sistem
InformasiKesehatan

Pasal 2

Pengaturan SIMRS bertujuan meningkatkan efisiensi, efektivitas,


profesionalisme, kinerja, serta akses dan pelayanan Rumah Sakit

Pasal 3

Setiap rumah sakit wajib menyelenggarakan simrs

Pasal 4

Setiap Rumah Sakit harus melaksanakan pengelolaan dan


pengembangan SIMRS

Pasal 5

SIMRS harus dapat diintegrasikan dengan program Pemerintah dan


Pemerintah Daerah serta merupakan bagian dari Sistem Informasi Kesehatan.

Pasal 6

1. Arsitektur SIMRS paling sedikit terdiri atas:

a) kegiatan pelayanan utama (front office);

b) kegiatan administratif (back office); dan

c) komunikasi dan kolaborasi

Pasal 7

SIMRS yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit harus memenuhi 3


(tiga) unsur yang meliputi keamanan secara fisik, jaringan, dan sistem aplikasi

Pasal 8
Penyelenggaraan SIMRS harus dilakukan oleh unit kerja struktural
atau fungsional di dalam organisasi Rumah Sakit dengan sumber daya
manusia yang kompeten dan terlatih.