Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap makhluk hidup pasti membutuhkan air untuk kelangsungan

kehidupannya. Air adalah kebutuhan pokok yang sangat penting bagi

kehidupan makhluk hidup. Jika makhluk hidup kekurangan air, maka

makhluk hidup akan mengalami kesulitan dalam kehidupan ini.Keberdaaan

air juga menjadi sarana ekosistem bagi makhluk hidup lain seperti tumbuhan

makrophyta. Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggal di sekitar air

dan didalam air yang berfungsi sebagai produsen penghasil energi pada suatu

ekosistem (Odum dan Barrett, 2005:18). Produsen pada suatu ekosistem air

tawar terdiri dari dua tipe yaitu, tanaman bentik yang kebanyakan anggota

Devisi Spermatophyta (tanaman berbiji) dan fitoplankton atau tanaman hijau

yang mengapung. Peranan ilmu biologi dalam hal ini sangat penting, biologi

merupakan cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari tentang

kehidupan makhluk hidup salah satu dalam memepelajari ilmu biologi yaitu

Makrophyta. makrophyta merupakan tanaman air yang tumbuh di dalam atau

dekat air baik muncul dipermukaan, sebagian terendam, atau mengambang.

Di danau makrophyta memberikan perlindungan bagi ikan dan substrat untuk

invertebrata air, menghasilkan oksigen, dan bertindak sebagai makanan

untuk beberapa ikan dan satwa liar. Makrophyta bereproduksi secara vegetatif

dan stolen. Makrophyta dapat bertahan hidup dengan lama serta tumbuh

dengan baik untuk berbagai lahan basah dengan jenis limbah

1
tertentu.Keberadaaan makrophyta yaitu Tumbuhan hydrofita adalah

tumbuhan yang tumbuh di habitat yang basah atau tumbuh di air, sebagian

atau seluruhnya. Jenis tumbuhan yang hidup di dalam atau di dekat air

disebut pula tumbuhan aquatik. Contohnya adalah Ceratophyllum demersum,

Chara sp, Eichornia crassipes, hydrilla verticilata, Nymphaea capensis,

Lemna minor, Pistia sp, Trapa sp, Wolffia sp dan sebagainya. Macam-

macam tumbuan air yaitu: teratai, hydrilia, dan enceng gondok.

Berdasarkan pengamatan (observasi) terdapat peneliti yaitu : DANAU

GEGAS, Danau Gegas Merupakan salah satu objek wisata musi rawas yang

memiliki luas kurang lebih 6000 Hektar .Terletak di Desa Sugih Waras

Kecamatan Surakarya Dulunya danau air gegas di jadikan sebagai bendungan

atau biasa masyarakat menyebutnya DAM Sebagai Irigasi untuk sarana

mengairi sawah bagi para petani sekitar .Namun pada saat itu harga karet

masih tinggi dan melimpah sehingga banyak masyarakat beralih dan

meninggalakan persawaan.Akhirnya danau ini tidak terurus dan

terbengkalai.Meskipun dulunya Danau Gegas Ini sudah tidak di fungsikan

lagi sebagai Irigasi akan tetapi masyarakat Musi Rawas khusunya warga

sekitar menjadi tempat ini sebagai tempat liburan bagi para remaja dan anak

anak sekolah disaat mereka liburan, provinsi sumatra selatan mempunyai

danau yang cukup luas dan indah berbagai tanamanyang menghiasi, kurang

lebih sekitar luas danau gegas sekitar, danau gegas banyak di liputi tanaman

tanaman . tanaman ini di jadikan sebagai tanaman peghias danau gegas .

2
Berdasarkan pengamatan penelitian terhadap Inventarisasi Jenis

Makrophyta di Danau Gegas Kabupaten Musi Rawas, peneliti tertarik untuk

menginventarisasi jenis makrophyta di danau air gegas dikarenakan samapi

saat ini belum ada penelitian makrophyta di danau gegas dan saya ingin

mengetahui tanaman yang ada di danau tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengadakan

penelitian ini di danau air gegas Kabupaten Musi Rawas dengan judul

“Inventarisasi Jenis Makrophyta Di Danau Gegas Kabupaten Musi Rawas”.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa saja jenis

tanaman makrophyta yang terdapat di danau gegas kabupaten musi rawas?

C. Ruang Lingkup

Mengingat keterbatasan peneliti serta untuk membuat penelitian ini

lebih terarah, maka masalah yang di kaji dibatasi pada hal-hal berikut:

1. Tempat pengambilan sampel di danau air gegas yaitu di dasar dekat danau,

di atas permukaan air, dan dan di dalam air. Masing masing sampel

memiliki 3 pengambilan dengan tiga kali pengulangan

2. Melihat pertumbuahan tanaman makrophyta sebagai tempat berkembang

ikan dengan melekatnya telurnya pada batangnya atau di atas daun yang

melebar

3
3. Jenis tumbuhan makrophyta ini akarnya dapat menyerap logam seperti

besi untuk menetralisir perairan dari pencemaran logam sehingga

keberadaanya dapat dijadikan sebagai indikator pencemaran perairan.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini

adalah Untuk mengetahui jenis-jenis tanaman makrophyta yang terdapat di

Danau Gegas Kabupaten Musi Rawas

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat, baik secara teoritis maupun praktis:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi

refrensi atau masukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan tentang

makhluk hidup dan lingkungan khususnya program studi pendidikan

biologi dan ilmu pengetahuan pada umumnya serta untuk mengetahui

jenis-jenis tanaman makrophyta yang ada di danau air gegas Kabupaten

Musi Rawas.

2. Manfaat praktis

Manfaat yang di harapkan dari penelitian ini adalah:

a. Bagi mahasiswa, sebagai sumber informasi yang dapat menambah

ilmu pengetahuan mengenai jenis-jenis tumbuhan makrophyta yang

ada di danau. gegas air gegas Kabupaten musi rawas.

b. Bagi dinas, pariwisata Kabupaten Musi rawas sebagai dokumentasi.

4
c. Bagi masyarakat, sebagai sumber informasi untuk menamabah

pengetahuan wawasan mengenai jenis-jenis makrophyta yang ada di

danau air gegas Kabupaten Musi Rawas.

F. Definisi Operasional

Untuk menghindari salah penafsiran dari istilah istilah yang digunakan

dalam penelitian ini, maka perlu dijelaskan beberapa istilah:

1. Inventarisasi adalah suatu kegiatan untuk mengumpulkan data berupa

pencatatn atau pendataan. Inventarisasi dilakukan pada semua jenis

makrophyta yang terdapat dan terindentifikasi oleh peneliti yang dilakukan

di perairan di danau gegas Kabupaten

2. Makrophyta merupakan tanaman air yang tumbuh di dalam atau dekat air

baik muncul dipermukaan, sebagian terendam, atau mengambang. Di

danau makrophyta memberikan perlindungan bagi ikan dan substrat untuk

invertebrata air, menghasilkan oksigen, dan bertindak sebagai makanan

untuk beberapa ikan dan satwa liar. Makrophyta bereproduksi secara

vegetatif dan stolen Musi Rawas .

3. Danau gegas Kabupaten Musi Rawas merupakan suatu objek wisata yang

terletak di Desa Sugih Waras Kecamatan Surakarya yang memiliki luas

kurang lebih 6000 Hektar. Danau gegas Kabupaten Musi rawas ini

digunakan sebagai pengambilan sampel dalam penelitian, sampel yang

diambil dan diteliti berupa tanaman makrophyta, tanaman makrophyta

yatitu tanaman yang ada di permukaan air atau dalam air.

5
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teoritik

1. Inventarisasi

Menurut Poerwadarminta (1984:385) inventarisasi merupakan

daftar atau barang-barang yang di pakai dikantor, perusahaan. Reality

(2008:4) mengatakan inventaris merupakan daftar seluruh barang atau

peralatan yang dimiliki (perusahaan, sekolahan, kapal, dan sebagainya)

yang dipakai dalam bekerja Menurut Muda (2006:185) menjelaskan

pengertiaan inventaris yaitu daftar, ukuran, macam atau benda dan

sebagainya yang dikantor.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa inventaris

merupakan pengumpulan dan pencatatan dari daftar atau nama dari suatu

benda/arang yang ada di tempat tertentu. Pada penelitian ini

inventarsaris dilakukan pada makrophyta yang ada di perairan danau

gegas Kabupaten Musi Rawas.

2. Pengertian Makrophyta
Makrophyta merupakan tanaman air yang tumbuh di dalam atau

dekat air baik muncul dipermukaan, sebagian terendam, atau

mengambang. Di danau Makrophyta memberikan perlindungan bagi

ikan dan substrat untuk invertebrata air, menghasilkan oksigen, dan

bertindak sebagai makanan untuk beberapa ikan dan satwa liar.

Makrophyta bereproduksi secara vegetatif dan stolen. Makrophyta dapat

6
bertahan hidup dengan lama serta tumbuh dengan baik untuk berbagai

lahan basah dengan jenis limbah tertentu. Pertumbuhannya cepat

peningkatan berat jenis yang besar yaitu lebih dari 60 kg/m2 serta

pertambahan ukuran menjadi 60 cm/bulan (Malik, 2007:3).

Di danau, waduk, sungai, kanal dan saluran air, Macrophyta air

tawar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan sangat penting dari

ekosistem air tawar. Biasanya tidak perlu untuk melaksanakan

manajemen terhadap tanaman ini pada badan perairan. Namun ketika

pertumbuhan macrophyta air tawar mulai mengganggu fungsi system,

maka diperlukan tindakan pengendalian. Jika Makrophyta tumbuh dalam

jumlah banyak maka menyebabkan. Gulma air di perairan yang

mengalir dapat mengganggu aliran air (meningkatkan risiko banjir atau

menghambat drainase), dan sedimentasi meningkat. Mereka juga dapat

mengganggu navigasi atau penggunaan rekreasi air, dan menyebabkan

masalah kesehatan bagi masyarakat.

Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggal di sekitar air

dan didalam air yang berfungsi sebagai produsen penghasil energi pada

suatu ekosistem (Odum dan Barrett, 2005:3). Produsen pada suatu

ekosistem air tawar terdiri dari dua tipe yaitu, tanaman bentik yang

kebanyakan anggota Devisi Spermatophyta (tanaman berbiji) dan

fitoplankton atau tanaman hijau yang mengapung. Keberadaan tumbuhan

air yang hidup dengan baik akan menciptakan produktivitas perairan

yang tinggi dan menghasilkan keanekaragaman biota akuatik yang tinggi

7
pula. Beberapa peranan tumbuhan air yang sangat penting adalah sebagai

produsen primer, sebagai habitat biota, tempat perlindungan dan tempat

menempel berbagai hewan dan tumbuhan atau alga (Boyd, 1968).

Disamping itu, tumbuhan air dapat juga sebagai daerah asuhan, padang

pengembalaan dan makan dari berbagai jenis ikan herbivora, hal ini

terlihat dari banyaknya larva-larva dan juvenil biota air yang ditemukan

pada tumbuhan air. Daun tumbuhan air yang lebat dan besar pada jenis

tertentu akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus sehingga

perairan di sekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar

dapat menahan dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan dan

menstabilkan dasar permukaaan. Chambers (1970:34) menegaskan

bahwa tumbuhan air memiliki peranan yang penting dalam struktur dan

fungsi ekosistem perairan.

Tumbuhan air memiliki 4 tipe habitat yaitu tipe habitat tanaman

berakar dengan daun tersembul (Emergent) terdiri dari jenis Brachiaria

mutica, Polygonum sp, Oryza sativa, Murdannia sp., Rhynchospora

corymbosa, dan Colocasia esculenta, tipe habitat terendam sempurna

(Free Submerged) hanya ditemukan satu jenis yaitu Hydrilla verticillata,

tipe habitat terapung sempurna (Free floating) terdiri dari jenis

Eichhornia crassipes, dan Pistia stratiotes, sedangkan jenis Ipomoea

aquatic memiliki tipe habitat daun terapung dengan akar tenggelam

(Rooted with floating leave).

8
Odum dan Barrett (2005:12) mengelompokkan tumbuhan air

menjadi terrestrial plants yaitu tumbuhan air yang seluruh organ

tubuhnya belum tertutup oleh air, emerget plants yaitu tumbuhan air yang

akarnya berada dalam air dan bagian lainnya berada di permukaan air,

submerged plants yaitu tumbuhan air yang seluruh bagian tubuhnya

berada dalam air, dan floating plants yaitu tumbuhan air yang bagian akar

dan batangnya mengapung di perairan (Odum dan Barrett, (2005: 76)

Esteves (1998:180)disitasi oleh Pereira (2012:34) membagi tipe habitat

(morphoecological group) tumbuhan air menjadi enam kategori yaitu

emergent, rooted with floating leaves, submerged rooted, free

submerged, dan free floating. Umumnya, empat tipe habitat digunakan

untuk mengklasifikasi tumbuhan air macrophytes yaitu submerged,

floating-leaved, emergent dan free-floating. Jenis-jenis tumbuhan air

yang termasuk pada empat kategori diatas mampu hidup dengan baik

pada beberapa tipe lingkungan perairan seperti danau, dan sungai

(Sculthorpe, 1985:111.

Piedade, et al., (1991:156) menegaskan bahwa jenis-jenis

tumbuhan air dengan tipe Emergent sering diamati karena peranannya

yang penting dan sebagai produksi utama yang luar biasa di perairan.

Odum dan Barrett (2005:220) menambahkan bahwa Tanaman yang

menyembul ini membentuk rantai penting yang menghubungkan

lingkungan darat dengan air dan memiliki distribusi hidup yang luas.

Tipe habitat terapung sempurna (free floating) dan terendam sempurna

9
(free sumerged) merupakan tipe habitat dari jenis-jenis tumbuhan air

yang memiliki persen penutupan yang paling tinggi di lokasi

pengamatan. Tipe habitat terapung sempurna (free floating)

menggunakan semua bagian permukaan berfotosintesis horizontal dan

dapat mengurangi penetrasi cahaya ke dalam air. Howard-Wiliams dan

Al-lanson (1981:187) disitasi oleh Goldsborough dan Kemp (1988:234)

menyataan bahwa produksi primer dari tumbuhan dengan tipe habitat

terendam (submersed) merupakan sumber utama bahan organik yang

penting untuk kehidupan di ekosistem perairan. Distribusi serta seluruh

produksi dari tumbuhan tipe ini sangat berhubungan dengan keberadaan

cahaya dan penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan.

3. Jenis Makrophyta dan Klasifikasinya

Makrophyta bersifat makroskopik, berbeda dengan tumbuhan

lain, ganggang misalnya, yang biasanya mikroskopik. Kebanyakan

makrophyta membutuhkan akar dan oleh karena itu berkembang didalam

air yang relative dangkal. Makrophyta di danau tumbuh secara normal

dan muncul dari air. Makrophyta yang tumbuh tinggi

misalnya Phragnites. Makrophyta yang daunnya mengapung datar di

permukaan air adalah bunga teratai (Nymphaea) dan rumput-rumputan

liar (misalnya Patamogeton). Sebagian tumbuhan ada yang berada pada

dasr air seperti Myriophyllum dan Ceratophyllum. Diantara tumbuhan

yang megapung pada permukaan, tumbuhan yang paling kecil menempati

10
tempat ini adalah Lemma, dan yang paling besar meliputi eceng gondok

(Eichornia) dan tumbuhan hydrilia (Fazli, 2008: 6).

Pada tumbuhan air, daun- daun dan batang makrophyta berisi

rongga udara yang besar yang berisi tumbuhan tersebut apabila

kekurangan oksigen. Keseluruhan tumbuhan yang ada pada permukaan

air tidak bisa memperoleh oksigen dari udara bebas dan harus mengambil

udara dan air. Mereka mempnyai daun-daun sangat tiptis dan sebagian

besar oksigen hasil fotosintesis tidak semua dikeluarkan, hal itu bertujuab

untuk mengurangi kekurangan pada akar. Beberapa jenis tumbuhan air

yang tergolong makrophyta diantaranya:

a. Tumbuhan teratai

Teratai merupakan nama umum untuk genus Nymphaea yang

merupakan tumbuhan air. Tanaman teratai memiliki ciri khas dengan

daun yang mengambang di permukaan air yang tenang. Tanaman teratai

pun menghasilkan bunga mempesona yang memiliki warna beraneka

ragam. Di beberapa daerah di Indonesia teratai dikenal dengan beberapa

nama yang hampir mirip seperti teratai, dan terate. Dalam bahasa Inggris,

bunga dari genus Nymphaea ini dikenal sebagai water-lily atau waterlily.

Tanaman teratai tumbuh di permukaan air yang tenang. Tanaman

teratai juga memiliki daun yang tumbuh mengambang dipermukaan air.

Bunga teratai terdapat di permukaan air, bunga dan daun teratai keluar

dari tangkai yang berasal dari rizoma yang berada di dalam lumpur pada

dasar kolam, sungai atau rawa. Habitat Teratai adalah diatas air dengan

11
kondisi cuaca yang sejuk namun cukup matahari. Akarnya menjulur

kedalam air.

Klasifikasi Ilmiah bunga teratai:

Kerajaan : Plantae

Subkingdom :Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas : Magnoliidae

Ordo : Nymphaeales

Famili : Nymphaeaceae

Genus : Nymphaea

Spesies : Nymphea alba L

b. Tumbuhan hydrila (Hydrilla verticillata)

Hydrilla adalah tumbuhan Spermatophyta yang hidup di air,

sehingga ia memiliki bentuk adaptasi yang berbeda dengan

Spermatophyta darat. Dinding selnya tebal untuk mencegah osmosis air

12
yang dapat menyebabkan lisisnya sel. Sel Hydrilla berbentuk segi empat

beraturan yang tersusun seperti batu bata. Memiliki kloroplas dan klorofil

yang terdapat didalamnya. Pada daun Hydrilla, dapat pula diamati proses

aliran sitoplasma, yaitu pada bagian sel – sel penyusun ibu tulang daun

yang memanjang di tengah – tengah daun. Pada hydrilla juga terdapat

trikoma yang berfungsi untuk mencegah penguapan yang berlebihan.

Hydrilla merupakan tumbuhan tenggelam, biasanya berakar,

hidup selamanya di air dengan panjang batang mencapai 9 m (30 kaki).

Berasal dari rimpang dan berujung dengan umbi kecil. Hydrilla memiliki

resistensi yang tinggi terhadap salinitas (> 9-10ppt) dibandingkan dengan

tanaman air lain yang terkait di air tawar. Hydrilla mirip beberapa

tanaman air lainnya, termasuk Egeria dan Elodea.

Adapun kegunaan Hydrilla adalah sebagai berikut:

1) Hydrilla dalam dunia ikan hias dapat dijadikan sebagai penghias

akuarium/aquarium seperti jenis tanaman lainnya

2) Kegunaan Hydrilla dapat juga menjadi tempat untuk pemijahan Ikan

hias, Biasanya digunakan untuk ikan-ikan ukuran kecil.

3) Menjadi sumber makanan ikan

4) Tempat Sembunyi Ikan.

Klasifikasi Ilmiah Tumbuhan hydrila:

Kindom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Divisi : Magnoliphyta

13
Super divisi : Spermatophyta

Kelas : Liliopsida

Sub kelas : Alismatide

Ordo : Hydrocharitaceae

Famili : Hydrllia

Genus : Hydrilia

Spesies : Hydrilia verticillata (L.f) Royle

c. Tumbuhan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes)

Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solm.) merupakan

tanaman gulma di wilayah perairan yang hidup terapung pada air yang

dalam atau mengembangkan perakaran di dalam lumpur pada air yang

dangkal. Eceng gondok berkembangbiak dengan sangat cepat, baik

secara vegetatif maupun generatif. Perkembangbiakan dengan cara

vegetatif dapat melipat ganda dua kali dalam waktu 7-10 hari. Hasil

penelitian Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Sumatera Utara di

Danau Toba (2003) melaporkan bahwa satu batang eceng gondok dalam

waktu 52 hari mampu berkembang seluas 1 m2, atau dalam waktu 1

14
tahun mampu menutup area seluas 7 m2. Heyne (1987) menyatakan

bahwa dalam waktu 6 bulan pertumbuhan eceng gondok pada areal 1 ha

dapat mencapai bobot basah sebesar 125 ton.

Perkembangbiakannya yang demikian cepat menyebabkan

tanaman eceng gondok telah berubah menjadi tanaman gulma di

beberapa wilayah perairan di Indonesia. Di kawasan perairan danau,

eceng gondok tumbuh pada bibir-bibir pantai sampai sejauh 5-20 m.

Perkembangbiakan ini juga dipicu oleh peningkatan kesuburan di

wilayah perairan danau (eutrofikasi), sebagai akibat dari erosi dan

sedimentasi lahan, berbagai aktivitas masyarakat (mandi, cuci,

kakus/MCK), budidaya perikanan (keramba jaring apung), limbah

transportasi air, dan limbah pertanian.(Pasaribu,Tanpa Tahun).

Habitat Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah

basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat penampungan air

dan sungai. Tumbuhan ini dapat beradaptasi dengan perubahan yang

ekstrem dari ketinggian air, arus air, dan perubahan ketersediaan nutrien,

pH, temperatur dan racun-racun dalam air. Pertumbuhan eceng gondok

yang cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang

tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat. Kandungan garam dapat

menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada

danau-danau.

15
Klasifikasi Ilmiah Tumbuhan hydrila :

Kerajaan: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Liliopsida

Ordo: Commelianales

Famili: Pontederiaceae

Genus: Eichhornia, Kunth

Spesies: E. Crassipes

4. Peran Makrophyta

a. Makrophyta di perairan selain berdampak negatif juga mempunyai

fungsi positif bagi perikanan. Hasil penelitian Petr (2000:78) Pokorny

& Kvet (2004:125) Pipalova (2006:197) dan Krismono et al.

(2007:127) menyatakan bahwa makrophyta merupakan komponen

yang penting dalam ekosistem sebagai habitat pemijahan ikan, asuhan

ikan, menempelnya pakan alami dan penyerap konsentrasi nutrien

16
serta logam berat. Secara umum pengaruh makrophyta pada ekosistem

danau merupakan bagian dari rantai stabilitas perairan.

b. Tumbuhan jenis ini memiliki segi positif dengan menyediakan

oksigen bagi organisme di udara oleh daunnya yang tumbuh di atas

permukaan air, akarnya yang berada di dalam tanah juga tidak terlalu

mengganggu ketersediaan nutrien dan unsur hara yang ada di air

karena nutrien dan unsur hara yang diambilnya berasal dari dalam

tanah. Tumbuhan jenis ini juga dapat dijadikan sebagai tempat

berkembang biak ikan-ikan dengan melekatkan telurnya pada

batangnya. Segi negatif pada tumbuhan jenis ini adalah jika

keberadaannya melimpah dapat mengurangi area hidup

organisme/hewan perairan sehingga mengganggu pergerakan dan

aktivitasnya di air.

c. Tumbuhan yang daunnya muncul diatas permukaan air, batang dan

akarnya melayang didalam air.

d. Tumbuhan jenis ini memberikan oksigen di udara karena daunnya

yang tumbuh di atas permukaan air, akar-akarnya yang melayang di

dalam air dapat menyerap nutrien dan unsur hara yang terdapat di air,

selain itu beberapa jenis tumbuhan ini akarnya dapat menyerap logam

seperti besi untuk menetralisir perairan dari pencemaran logam

sehingga keberadaannya dapat dijadikan sebagai indikator

pencemaran perairan. Selain itu akarnya bisa dijadikan tempat

pemijahan ikan. Seperti eceng gondok, kemampuan tanaman inilah

17
yang banyak di gunakan untuk mengolah air buangan, karena dengan

aktivitas tanaman ini mampu mengolah air buangan domestik dengan

tingkat efisiensi yang tinggi. Segi negatif dengan melimpahnya

tumbuhan jenis ini adalah akarnya dapat menyerap nutrien dan unsur

yang terdapat di air sehingga organisme/hewan air lain tidak

memperoleh nutrien dan unsur hara yang cukup untuk tumbuh.

e. Tumbuhan yang daunnya muncul di atas permukaan air, tidak

memiliki batang, dan akarnya melayang didalam air.

f. Tumbuhan jenis ini kelimpahannya memiliki beberapa segi positif

dengan menyerap senyawa toksik terlarut dalam saluran air masuk

(irigasi) dan saluran air keluar (drainase) seperti Fe dan SO4 sehingga

memiliki sifat toleran terhadap kelarutan besi yang tinggi. Terdapat

tumbuhan air jenis ini yang akarnya dapat mengikat logam seperti

tanaman gelam Melaleuca sp sehingga dapat menjadi indikator

pencemaran air. Sedangkan segi negatif dengan adanya kelimpahan

tumbuhan ini adalah terhalangnya cahaya masuk ke dalam perairan

sehingga organisme/hewan air tidak dapat menerima cahaya dengan

baik, selain itu akar-akarya yang tumbuh menyerap nutrien dan unsur

hara yang terdapat di air yang seharusnya dikonsumsi oleh

organisme/hewan air, contohnya eceng gondok, yang juga dapat

menyebabkan pendangkalan perairan.

5. Manfaat tanaman makrophyta

Menurut Dewiyanti (2012:78) Manfaat tanaman makrophyta atau


tanaman air adalah sebagai berikut:

18
a. Elemen estetika pada kolam.

Estetika menjadi alasan utama mengapa kita menggunakan

tanaman pada kolam. Sebuah rumah tanpa kehadiran taman bakal

tampak kurang asri. Begitu pula kolam yang tidak dihiasi tanaman

air, terasa sepi dan dingin. Selain itu, tanaman air juga dapat menjadi

solusi bagi kita yang tinggal di rumah dengan lahan terbatas. Dari

pada menanam tanaman yang langsung ditanam di tanah, tanaman

air yang mengambang bisa menjadi pilihan.

b. Menjadi habitat ikan

Jika kita memelihara ikan di kolam, tanaman air bisa menjadi

tempat berlindung dan bertelur ikan. Tanaman air dengan ukuran

daun yang lebar dapat melindungi ikan dari teriknya matahari,

sementara akarnya yang panjang merupakan tempat berlindung ikan

dari predator dan juga perubahan lingkungan. Akar tanaman bisa

menjadi tempat ikan untuk meletakkan telurnya.

c. Menyerap racun pada air

Ketika memelihara ikan di kolam, kotoran dan urinenya dapat

menghasilkan zat yang berbahaya bagi ikan sendiri. Selain itu, sisa

makanan dan zat yang membusuk juga dapat menghasilkan amoniak

yang akan menjadi racun bagi ikan. Kehadiran tanaman air dapat

menjadi solusinya. Tanaman air mampu menyerap amoniak yang

akan diubah menjadi makanan bagi tanaman tersebut. Berkat

19
tanaman air, kadar amoniak pada air akan berkurang sehingga air

terbebas dari zat yang membahayakan bagi ikan.

d. Mencegah pertumbuhan lumut

Lumut sangat cepat tumbuh di tempat yang basah. Jika sudah

begini tentunya sangat mengganggu pemandangan, juga

mengesankan kolam yang tidak terawat. Dengan kehadiran tanaman

air dalam kolam, pertumbuhan lumut dapat dicegah. Lumut dapat

tumbuh pesat jika terjadi kelebihan zat makanan dalam air, namun

tanaman air lebih cepat menyerap zat makanan di dalam air

dibandingkan lumut. Sehingga lumut akan “kalah” oleh tanaman air.

e. Meningkatkan kandungan oksigen dalam air

Seperti layaknya tanaman berklorofil, tanaman air juga dapat

menghasilkan oksigen. Saat proses fotosintesis, tanaman air akan

membentuk bahan organik dengan bantuan sinar matahari. Dari

proses tersebut, tanaman ini akan menghasilkan oksigen yang

dilepaskan ke dalam air. Dengan meningkatnya kadar oksigen di

dalam air, ikan dan hewan lainnya dalam air dapat bernafas dengan

baik.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Sillahi (2009), dengan judul Keanekaragaman dan Kemelimpahan

tumbuhan makrophyta Pada Daerah Persawahan Di Desa Sungai Lumbah

Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala. Dengan hasil penelitian

makrophyta merupakan tumbuhan thallus yang hiduo diperairan. Nutrien

20
yang paling penting untuk pertumbuhan makrophyta adalah nitrogen dan

fosfor. Umumnya, daerah persawahan di Desa Sungai Lumbah Kecamatan

Alalak Kabupaten Barito Kuala diberikan pupuk. Makrophyta mikroskopis

yang ditemukan pada Danau gegas yaitu tanaman makrophyta.

C. Kerangka Penelitian

Berdasarkan hasil observasi lokasi dan wawancara yang dilakukan

oleh peneliti bersama warga yang tinggal di sekitar Danau gegas kabupaten

musi rawas, peneliti menyimpulkan bahwa 6000 hektar luasnya, di

sekelilingnya banyak pohon- pohon karet. Bagian Danau pun unik karena

luas sekali banyak sungai kecilnya. Penduduk setempat banyak menjadikan

danau sebagai tempat mata pencarianya mereka karena sebagai objek wisata

dan juga sebagai tempat mencari ikan. Keadaan Danau gegas Kabupaten

Musi Rawas yang diamati oleh penelitian saat melakukan observasi, seperti

keadaan perairan yang tenang, bersih dan digunakan sebagai objek wisata.

Tahap selanjutnya peneliti melakukan penelitian pada tiga titik stasiun

yang telah ditentukan, penentuan stasiun berdasarkan perbedaan ekosistem.

Data hasil penelitian selanjutnya diolah secara deskriptif kualitatif, yaitu di

jelaskan dengan kata-kata tentang keadaan yang sebenarnya tanpa menambah

ataupun mengurangi, sehingga akan diperoleh kesimpulan mengenai

Inventarisasi Makrophyta di Danau gegas Kabupaten Musi Rawas, Lebih

jelas nya dapat dilihat pada kerangka penelitian gambar 2.1 dibawah ini:

21
DANAU GEGAS

Belum ditemukannya
Kondisi Observasi, air
penelitian tentang
tenang, bersih dan jernih
Inventarisasi Makrophyta

Penentuan Stasiun

Pelaksanaan penelitian
tentang Inventarisasi
Makrophyta

Jenis-jenis Makrophyta di Danau Gegas

Gambar 2.1 Kerangka Peneliti

22
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Menurut Arikunto

(2010:3) Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk

menyelidiki keadaan, kondisi atau hal-hal lain yang sudah disebutkan, yang

hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian. Data yang diambil

dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh melalui observasi langsung di

Danau Gegas.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian tentang inventarisasi Tumbuhan Makrophyta di Danau

Gegas Kabupaten Musi Rawas. Lokasi penelitian dipilih area yang cukup

mudah, serta merupakan tempat yang paling banyak didapatkan tumbuhan

teratai, enceng gondok dan tumbuhan hydrilia. Pengamatan dan pengambilan

data dilakukan mulai tanggal 8 - 30 April 2018.

C. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Alat

Alat-alat yang digunakan pada pengambilan sampel di Danau gegas

dalah gayung digunakan untuk mengambil sampel air. Plankton net 20

micron untuk menyaring sampel air, Botol air mineral ukuran 350 ml,

untuk menyimpan air, thermometer untuk mengukur suhu air dan DO

meter untuk mengukur oksigen yang terlarut. Sechi disk, untuk mengukur

23
kecerahan air, alat-alat yang digunakan saat pengamatan sampel

laboratorium adalah mikroskop cahaya, kaca objek, cawan petri, pipet tetes

dan kamera. Adapaun langkah- langkah kerja dalam penelitian ini yaitu:

2. Bahan

Pada tahap ini dilakukan kegiatan persiapan alat, bahan dan

persiapan admistrasi. Kegiatan persiapan alat dan bahan ditunjukan untuk

mencari alat dan bahan yang akan dibutuhkan dalam kegiatn penelitian.

Kegiatan adminstrasi ditunjukan untuk mempersiapkan surat iziin

peminjaman laboratium biologi STKIP-PGRI Lubuklinggau yang akan

digunakan sebagai tempat untuk pengamatan sampel, dan mempersiapkan

surat iin ke Dinas kebudayaan dan Pariwisata kota lubuk Linggau yang

bertujan untuk memohon periinan karena pengambilan sampel akan

dilakukan di dadanu gegas kabupaten Musi Rawas.

3. Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengambilan data adalah sebagai

berikut:

a. Menyiapkan semua peralatan yang akan digunakan.

b. Membersihkan dan mengecek apakah semua peralatan dapat berfungsi

dengan baik.

c. Dokumentasi jenis tanaman Makrophyta dalam bentuk foto.

d. Studi pustaka untuk mengidentifikasi jenis dengan acuan buku-buku

tentang identifikasi tanaman Makrophyta.

24
D. Prosedur Penelitian

Agar tidak ada kekeliruan, maka peneliti menjelaskan tahap-tahap

dalam pelaksanaan penelitian ini, adalah sebagai berikut:

1. Mengukur Faktor pH air

Pengukuran suhu dan pH air menggunakan alat ukur berupa pH

meter (pH air), pengukuran pH meter langsung dilakukan di tempat

peneliian, dengan cara sempel berupa air Danau Gegas Kabupaten

Musi Rawas dengan menggunakan gayung, kemudian alat tersebut di

celupkn kedalam gayung yang berisi air tersebut sampai nominal pada

alat tersebut stabil, kemudian di amati ukuran pH air tersebut, kemudian

di catat.

2. Mengukur Faktor Kecerahan

Pengukuran kecerahan menggunakan alat ukur berupa sechi disk

(kecerahan), pengukuran kecerahan langsung dilakukan di tempat

penelitian, yaitu dengan memasukan sechi disk langsung ke dalam air

Danau Gegas Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan, lalu

ukur berapa nilainya kemudian dicatat.

3. Mengukur Faktor Suhu

Pengukuran suhu air dengan menggunakan alat ukur thermometer,

pengukuran suhu langsung dilakukan di tempat penelitian, yaitu dengan

memasukan thermometer langsung ke dalam air Danau Gegas Kabupaten

Musi Rawas lalu ukur berapa nilainya kemudian dicatat.

4. Mengukur Faktor DO

25
Pengukuran oksigen terlarut dengan menggunakan alat ukur DO

meter, pengukuran oksigen terlarut langsung di lakukan ditempat

penelitian, yaitu dengan memasukan DO meter langsung ke dalam air

Danau Gegas Kabupaten Musi Rawas lalu diukur berapa nilainya

kemudian dicatat.

5. Tahap Pelaksanaan Pengambilan Sampel

a. Lokasi pengambilan sampel dilakukan di perairan Danau Gegas

Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan terdiri dari 3

stasiun yang berada mengikuti aliran sungai. Penentuan stasiun

berpacu pada hasil penelitian Ulqodry (2009), atau

berdasarkan perbedaan ekosistem yang ada di lingkungan

tersebut, stasiun I berada pada ekosistem tepi danau, stasiun II berada

pada ekosistem ditenga danau, dan stasiun III berada pada ekosistem

ujung danau,

b. Sampel penelitian di ambil secara observasi yaitu turun langsung ke

lapangan,

c. Pengambilan sampel di perairan Danau Gegas dengan 3 kali

pengulangan dan pengambilan sampel pada masing-masing periode di

lakukan pada sekitar pukul 08.00-10.00 WIB.

d. Pengambilan sampel dengan menggunakan gayung dan kemudian di

lakukan penyaringan dengan plankton net.

26
e. Sampel yang tersaring oleh plankton net di masukan ke dalam baskom

sebanyak 20 ml di beri lebel: nomor stasiun, tanggal pengambilan

sampel, hari dan jam.

f. Sampel kemudian dibawah ke laboratorium Biologi STKIP PGRI

Lubuklinggau untuk diamati.

g. Sebelum diamati dibawah mikroskop sampel ditetesi formalin 4%

sebanyak 1 tetes.

h. Sampel yang akan diamati, kemudian diambil menggunakan pipet

tetes sebanyak 1 tetes (0,05 ml) di teteskan pada kaca objek, kemudian

di amati dengan mikroskop cahaya.

i. Tiap makrophyta yang teramati diambil gambarnya dengan cara difoto

dengan menggunakan kamera, kemudian dilakukan identifikasi

morfologi pada genus atau spesies dengan cara mencocokan gambar

dengan menggunakan buku.

j. Setelah selesai melakukan pengamatan alat-alat (pipet tetes, glass

objek dan cawan petri) dibersihkan dengan menggunakan air aquades.

E. Pengumpulan Data

Jenis penelitian ini adalah penelitian survey sehingga pengumpulan

data dalam penelitian ini dilakukan secara observasi yaitu turun langsung ke

lapangan dengan cara pengambilan sampel air Danau Gegas Kabupaten Musi

Rawas Provinsi Sumatera Selatan secara beraturan dengan menggunakan alat

plankton net dan kemudian sampel akan diamati dengan menggunakan alat

plankton net dan kemudian sampel akan diamati dengan menggunakan

27
mikroskop dan kemudian akan diidentifikasi dengan cara mencocokan

gambar yang didapat dengan literature Edwar G. Bellinger dan David C.

Sigee (2010), Belcher.H & Swale.E. (1978), Botes.L. (2001), Biggs. B.J.F., &

Cathy.K. (2000), Vuuren.S.J.V., Jonathan.T, Carin. V.G., & Annelisa.G.

(2006) dan Wehr.J.D., & Sheath.R.G. (2003).

Selain jenis mikroskopis dilakukan juga pengumpulan data

pengukuran parameter kualitas air yang menjadi salah atu faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan dan keberadaan jenis-jenis mikrophyta di Danau

Gegas Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan. Pengukuran

kualiras air menggunakn DO meter, pH meter, dan Sechi disk, DO meter

digunkan untuk mengukur suhu dan oksigen terlarut, pH meter digunakan

untuk mengukur pH atau derajat keasaman dan Sechi disk digunakan untuk

mengukur kecerahan air di air Danau Gegas Kabupaten Musi Rawas Provinsi

Sumatera Selatan.

F. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif.

Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang bersifat atau

memiliki karakteristik bahwa datanya dinyatakan dalam keadaan sewajarnya

atau sebagaimana adanya (natural setting) dengan tidak mengubah dalam

bentuk symbol dan bilangan (Arikunto 2010:3).

Jenis-jenis mikrophyta yang ditemukan pada saat penelitian di foto

dan didokumentasikan, kemudian diteliti dan di identifikasi dengan

menggunakan buku referensi. Buku-buku referensi tersebut yaitu buku

28
karangan Gembong Tjitrosoepomo (2011), buku karangan Siti Sutarmi

Tjitrosomo (2010) dan Bellinger & Sigee (2010), Belcher.H & Swale.E.

(1978), Botes.L. (2001), Biggs. B.J.F., & Cathy.K (2000), Vuuren.S.J.V.,

Jonathan.T, Carun.V.G., & Annelise.G. (2006) dan Wehr.J.D., & Sheath.R.G.

(2003).

G. Pertanggung jawaban penelitian

Untuk mendapatkan data yang baik dan sesuai dengan tujuan

penelitian, maka penelitian melakukan validasi alat-alat dan bahan penelitian.

Peralatan yang digunkan dalam penelitian harus dalam keadaan baik dan

layak digunakan sebagai alat-alat penelitian. Validasi alat dan bahan seperti

Plankton net 20 mesh, pH meter, thermometer, sechi disk, gelas kimia,

mikroskop, gelas objek, botol, pipet tetes, tisu, kamera, label, gayung, mistar

ukur dan alat tulis sedangkan Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah

sebagai berikut: sampel air Danau Mas Harun Bastari, Formalin 4% dan

aquades. Diperiksa oleh kepala Laboratorium Biologi STKIP PGRI

Lubuklinggau yaitu Endang Suswati, M. Pd. Alat dan bahan yang telah di

validasi oleh validator dapat digunakan pada saat melakukan penelitian.

29
BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasakan hasil pengamatan yang dilakukan di Danau Gegas

Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan dan Laboratorium Biologi

STKIP-PGRI Lubuklinggau dapat disimpulkan bahwa: Analisis sampel air

Gegas Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan terdiri dari

Makrophyta yang tumbuh tinggi seperti Phragnites. Makrophyta yang

daunnya mengapung datar di permukaan air adalah bunga teratai (Nymphaea)

dan rumput-rumputan liar (misalnya Patamogeton). Sebagian tumbuhan ada

yang berada pada dasar air seperti Myriophyllum dan Ceratophyllum.

Diantara tumbuhan yang megapung pada permukaan, tumbuhan yang paling

kecil menempati tempat ini adalah Lemma, dan yang paling besar meliputi

eceng gondok (Eichornia) dan tumbuhan hydrilia.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis mengemukakan saran

yaitu:

1. Bagi Masyarakat

Lebih memperhatikan dan menjaga lingkungan sekitar khususnya di

perairan Danau Mas Harun Bastari agar seimbangnya ekosistem perairan

sekitar perairan Danau Gegas Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera

Selatan.

30
2. Bagi Pemerintah Setempat

Lebih memperhatiakn kondisi Danau Gegas yang berada di Kabupaten

Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan agar Danau tersebut tidak

mengalami pencemaran.

31
DAFTAR PUSTAKA

Poewadarminta. W. J. S. 2006. Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ke Tiga.


Jakarta: Balai Pustaka.

Muda. K. A. 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Reality


Publisher.

32
Dewiyanti, I. 2012. Keragaman jenis dan persen penutupan tumbuhan air di
ekosistem Danau Laut Tawar, Takengon, Provinsi Aceh. Jurnal Depik,
1(2): 125-130, ISSN 2089-7790.
Sukmadinata, S.N. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT
Remaja Rosada.
Eceng Gondok, Gulma Sahabat Manusia" U. Sirojul Falah. Harian Pikiran
Rakyat.
28 September 2003.
BKSDA. 2011 Profil Kawasan cagar Alam Danau Dusun Besar. Bksda
Bengkulu.
Michel, P. 1995. Metode ekologi untuk penyelidikan Lapangan dan Laboratium.
UI
Press. Jakarta.
Akinjonggula, OJ, Yah, CS, Eghafona NO, dan Ogbemudia FO, 2010.
Antibacterial
activiy of Leave extracs of Nymphea lotus(Nympheaceae) on
Methicilinresistant.

33