Anda di halaman 1dari 6

1. .

a. Al-ghazhali : - Ihya’ Ulumuddin - Arba’in Fi Ushuliddin. -


Bidayatul Hidayah - Qawa’idul Aqa’id, yang beliau satukan
dengan Ihya’ Ulumuddin pada jilid pertama. - Al Iqtishad Fil
I’tiqad. - Tahafut Al Falasifah. - Faishal At Tafriqah Bainal Islam
Wa Zanadiqah. - Al Ajwibah Al Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.
- Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi. - Qanun At Ta’wil. -
Fadhaih Al Bathiniyah dan Al Qisthas Al Mustaqim - Iljamul Awam
An Ilmil Kalam. - Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, - Ar
Risalah Alladuniyah. - Mahakun Nadzar - Al Mustashfa Min Ilmil
Ushul. - Mi’yarul Ilmi. - Ma’ariful Aqliyah. - Misykatul Anwar. - Al
Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. - Mizanul Amal.
- Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. - Al Munqidz Minad Dhalalah.
- Al Wasith. - Al Basith. - Al Wajiz. - Al Khulashah.
b. Imam ath-thufi : -Mukhtasarar-Roudgah al- Qodamiyah –syarh
Mukhtasar ar-Roudoh al-Qodamiyah -Mukhtasar al-hasil –
Mukhtasar al mahsul –mi’raj al wusul ila al wusul –azzari’ah illa
ma’rifah asrar as syariah
c. Imam Asy-syathibi Al-Muwafaqat, yang aslinya berjudul Unwan
At-Ta'rif bi Ushul At-Taklif sebuah kitab tentang ilmu ushul fikih
yang menerangkan tentang hikmah-hikmah di balik hukum taklif.
-Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan
seluk beluknya. -Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-
Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan
syarah dari Alfiyah Ibnu Malik. -Al-Majalis, kitab fikih yang
merupakan syarah dari Kitabul Buyu’ (Kitab Dagang) yang
terdapat dalam Shahih al-Bukhari. -Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-
isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah. -Ushul
al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah
dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu -Al-Ifadat wa al-Insyadat.
d. Syeh sulaiman as rasuli : -dihyaus siraj Il isra’ walmi’raj –
tsamaratul ihsan fi wiladah sayyidil ihsan –dawaul qulub fi qishah
yusuf wa ya’qub

Source: http://www.fiqihmuslim.com/2016/03/daftar-kitab-karya-
imam-al-ghazali.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Asy-Syathibi

2. ijma

a. Adanya kesepakatan seluruh mujtahid dari kalangan umat Islam

b. Kesepakatan yang dilakukan harus dinyatakan secara jelas

c. Kesepakatan terjadi setelah wafatnya Rasulullah saw.

d. Yang disepakati adalah hukum syara’

contoh : Haramnya pernikahan antara wanita muslimah dengan lki laki non
muslim

https://nidanabilah13.wordpress.com/2012/09/18/contoh-contoh-ijma/

qiyas :menyamakan suatu masalah yang tidak terdapat ketentuan hukumnya


dalam nash (Al-Qur'an dan Sunnah), karena adanya persamaan illat
hukumnya (motif hukum) antara kedua masalah itu.

Contoh : Dalam surah Al-maidah ayat 90 terdapat larangan keras minum


khamar. Khamar minuman keras yang dibuat dari anggur. Mengapa
dilarang ? dan bagaimana bila minuman keras itu dibuat dari bahan lainnya,
seperti dari beras kentan, ketela dan sebagainya ? Dalam hal ini, kita perlu
meneliti illat hukumnya (sebab adanya larangan keras minuman itu) ialah
karena bisa memabukkan, dan dapat merusak saraf otak/akal. Sudah tentu
unsur memabukkan itu diterdapat di semua minuman keras. Karena itu,
dengan qiyas, semua jenis minuman keras diharamkan.

http://www.ilmusaudara.com/2016/05/pengertian-qiyas-contohnya-dan-
motif.html

istihsan : salah satu cara atau sumber dalam mengambil hukum Islam.
Berbeda dengan Al-Quran, Hadits, Ijma` dan Qiyas yang kedudukannya
sudah disepakati oleh para ulama sebagai sumber hukum Islam

contoh :

bila seorang mewaqafkan sebidang tanah pertanian, maka dengan


menggunakan istihsan, yang termasuk diwaqafkan adalahhak pengairan, hak
membuat saluran air di atas tanah itu dan sebagainya. Sebab kalau menurut
qiyas (jali), hak-hak tersebut tidak mungkin diperoleh, karena tidak boleh
mengqiyaskan waqaf itu dengan jual beli.

http://barnur.blogspot.co.id/2011/08/pengertian-ihtihsan-dan-contohnya.html

maslahah murshalah : sesuatu yang pantas untuk disyari’atkan hukum, tetapi


syari’ tidak menetapkan dalil yang menganggap ataupun menyia-nyiakan
sesuatu tersebut,

contoh : melakukan pembukuan, mewajibkan pajak dan lain lain .

http://arwave.blogspot.co.id/2015/12/pengertian-maslahah-mursalah-dan.html

sududz zhariah : Saddu Dzara’i berasal dari kata sadd dan zara’i. Sadd
artinya menutup atau menyumbat, sedangkan zara’i artinya pengantara

contoh : Zina hukumnya haram, maka melibat aurat wanita yang


menghantarkan kepada perbuatan zina juga merupakan haram

istihbab : menjadikan hukum yang sudah ada sebelumnya tetap menjadi


hukum hingga sekarang sampai ada dalil yang menunjukkan adanya
perubahan.

Contohnya seperti hak kepemilikan yang sudah tetap dengan adanya akad
jual beli sebelumnya, Maka hak kepemilikan itu tetap sampai sekarang,
sampai ada dalil yang menunjukkan adanya perubahan, hukum suci yang
sudah ada sebelumnya, maka tetap menjadi hukum hingga sekarang, sampai
ada dalil yang menunjukkan atas hilangnya hukum suci tersebut, dan
seterusnya.

http://arwave.blogspot.co.id/2015/12/pengertian-istishab-dan-contohnya.html

urf : sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan
di kalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Contoh : Dalam akad jual beli. Seperti standar harga, jual beli rumah yang
meliputi : bangunanya meskipun tidak disebutkan.

http://erickyonanda.blogspot.co.id/2010/10/erick-yonanda-ushul-fiqh-
tentang.html
3. Secara bahasa maqashid syari’ah terdiri dari dua kata yaitu
maqashid dan syari’ah. Maqashid berarti kesengajaan atau tujuan,
maqashid merupakan bentuk jama’ dari maqsud yang berasal dari
suku kata Qashada yang berarti menghendaki atau memaksudkan.
Maqashid berarti hal-hal yang dikehendaki dan dimaksudkan

http://majelispenulis.blogspot.co.id/2013/09/maqashid-asy-syariah-
tujuan-hukum-islam.html

4. Al ‘am : Aam tetap berlaku bagi satuan-satuan yang masih ada


sesudah dikeluarkan satuan tertentu yang ditunjukkan oleh mukhassis

Al khas : lafadz yang menunjukkan perseorangan tertentu seperti


“Mushtofa”, satuan jenis seperti “laki-laki”, atau beberapa satuan yang
terbatas seperti “seratus, seribu”, dan lafadz-lafadz lain yang
menunjukkan beberapa bilangan beberapa satuan, tetapi tidak
mencakup satuan-satuan tersebut

Al mutlaq : suatu lafal yang menunjukan satu bagian atau jenis , tanpa
ada pengecualiannya. Seperti nama orang, hamba sahaya atau orang
persi

Amar : suatu tuntutan (perintah) untuk melakukan sesuatu dari pihak


yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah
tingkatannya.

Nahi : Larangan melakukan suatu perbuatan dari pihak yang lebih


tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah tingkatannya
dengan kalimat yang menunjukkan atas hal itu

http://nurulhasanah0.blogspot.co.id/2014/05/kaidah-kaidah-ushul-fiqh-
amr-dan-nahi.html

5. a. Ibarah Nash : menjelaskan antara jual beli dan riba’ itu dua
hal yang berbeda atau tidak sama. Kemudian ayat ini diartikan pula
bahwa jual beli itu boleh dan riba’ itu haram.Kedua pengertian ini
dipahami atau diperoleh dari petunjuk susunan lafal yang terdapat
dalam ayat.
b. Isyarah Nash : petunjuk lafal atas sesuatu yang bukan dimaksudkan
untuk arti menurut asalnya.Tegasnya, isyârat al-nash itu ialah dilâlah
lafal yang didasarkan atas arti yang tersirat, bukan atas dasar yang
tersurat
c. Dalalah Nash : lafal nash atau suatu ketentuan hukum juga berlaku
sama atas sesuatu yang tidak disebutkan karena terdapatnya
persamaan ‘illat antara keduanya.
d. Iqtida’ Nash : penunjuk lafal nash kepada sesuatu yang tidak
disebutkan dan penunjuk ini akan dapat dipahami jika yang tidak
disebutkan itu harus diberi tambahan lafal sebagai penjelasannya

6. Maqasid Syari’ah berarti tujuan Allah dan Rasul-Nya dalam


merumuskan hukum-hukum Islam. Tujuan itu dapat ditelusuri dalam
ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah sebagai alasan logis bagi
rumusan suatu hukum yang berorientasi kepada kemaslahatan umat
manusia. Sebagaimana dikemukakan oleh Abu Ishaq al-Syatibi bahwa
tujuan pokok disyariatkan hukum Islam adalah untuk kemaslahatan
manusia baik di dunia maupun di akherat. Lebih lanjut Abu Ishaq al-
Syatibi melaporkan hasil penelitian para ulama terhadap ayat-ayat Al-
Qur’an dan Sunnah Rasulullah bahwa hukum-hukum disyariatkan
Allah untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia, baik di dunia
maupun akhirat kelak. Kemaslahatan yang akan diwujudkan itu
menurut al-Syatibi terbagi kepada tiga tingkatan, yaitu kebutuhan
dharuriyat, kebutuhan hajiyat, dan kebutuhan tahsiniyat

https://duniacemoro.wordpress.com/2012/09/27/ibarah-nas-isyarah-
nash-dalalah-nash-dan-iqtida-nash/

7. mengukur sebuah pendapat hukum dari segi ke-manqul- annya,


yaitu sejauhmana pendapat itu bisa dibenarkan secara teks al-Qur’an
dan Sunnah. Bila pembenaran secara manqul sudah ditemukan,
argumentasi itu sudah dianggap cukup dan tidak butuh argumen lain.
Kedua, pengukuran argumen secara ma’qul (reasoning) kurang
diindahkan, karena ma’qul harus ditundukkan oleh manqul.

https://sakirman87.blogspot.co.id/2012/11/maqasid-syariah-imam-asy-
syatibi.html
8. landasan etik penetapan hukum nyaris tak pernah disentuh.
Sebagai misal, fatwa MUI tentang keharaman TKW, bila tak disertai
mahram. Secara manqul, barangkali keputusan itu ada benarnya. Tapi
secara ma’qul mulai agak lemah, apalagi sisi etiknya, karena fatwa itu
tidak menghasilkan solusi apapun bagi TKW yang kesulitan mencari
penghidupan di negerinya sendiri. Dalam kasus TKW, tentu saja tidak
cukup hanya dengan memberi hukum halal atau haram, tapi harus
disertai dengan solusi

http://clampic.blogspot.co.id/2014/10/makalah.html

9. inamis nash-nash fuqaha dalam konteks permasalahan yang


dicari hukumnya. Sedangkan istinbath dalam pengertian pertama
(cenderung ke arah perilaku ijtihad yang oleh ulama NU dirasa sangat
sulit karena keterbatasan-keterbatasan yang disadari oleh mereka.
Terutama di bidang ilmu-ilmu penunjang dan pelengkap yang harus
dikuasai oleh yang namanya muj’tahid. Sementara itu, istinbath dalam
pengertiannya yang kedua, selain praktis, dapat dilakukan oleh semua
ulama NU yang telah mampu memahami ibarat kitab-kitab fiqih sesuai
dengan terminologinya yang baku

10. Indonesia mempunyai wadah permusyawarahan para ulama


yang di sebut dengan MUI, dalam anggaran dasar MUI dapat dilihat
bahwa majlis diharapkan melaksanakan tugasnya dalam memberikan
fatwa-fatwa dan nasihat dalam memecahkan dan menjawab seluruh
persoalan sosial-keagamaan dan kebangsaan yang timbul di tengah-
tengah masyarakat. Jawaban yang diberikan oleh MUI adalah fatwa
yang dikeluarkan melalui Komisi Fatwa MUI secara kolektif, baik di
tingkat pusat maupun provinsi dan kabupaten/kota. Penetapan fatwa
MUI didasarkan sumber hukum Islam yaitu Al-Qur’an, Sunnah (Hadis),
Ijma` dan Qiyas. Penetapan fatwa bersifat responsif, proaktif dan
antisipatif.