Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

SISTEM PROTEKSI SWITCHGEAR

Untuk Memenuhui Tugas Mata Kuliah Sistem Proteksi


Yang dibina oleh Bapak Lauhil

Oleh :

Ilham Akbar Priabudi 1541150064

Irpan Sujiono A 1541150035

Laili Ramadhani 1541150043

Rio Anjasmara 1541150014

Slamet Danang WDS 1541150022

D4 SKL 3B

POLITEKNIK NEGERI MALANG


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN
NOVEMBER 2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Proteksi transmisi tenaga listrik sangat penting dalam proses penyalurandaya
dari satu tempat ke tempat yang lain. Ini dikarenakan prinsip dalam transmisitenaga
listrik yang baik salah satunya adalah aman selain andal dan ekonomis.Proteksi tenaga
listrik merupakan bagian yang menjamin bahwa dalam transmisitenaga lisrik dapat
dikatakan aman. Dapat dikatakan aman karena dalam transmisitenaga listrik akan
diberikan suatu alat yang berfungsi untuk mengamankantransmisi dari gangguan
bahkan mengamankan manusia dari bahaya yangditimbulkan oleh pemindahan daya
listrik dari suatu tempat ke tempat yang lain.Proteksi transmisi tenaga listrik sangat
diperlukan dalam transmisi tenagalistrik. Dengan proteksi yang bagus, maka transmisi
tidak akan rusak ketika adasebuah gangguan yang bersifat sementara. Jika proteksi
transmisi tenaga listrik baik, maka nilai ekonomis dapat diperoleh karena jika dalam
suatu transmisiterjadi gangguan, maka kerusakan peralatan tidak dapat menyebar
keperalatanyang lain dikarenakan ada sebuah proteksi transmisi. Nilai ekonomis dan
amandapat dipadukan menjadi nilai andal. Andal yang dimaksud disini adalah
tidak membahayakan manusia yang berada disekitar transmisi tenaga listrik
sehinggamanusia yang berada disekitar transmisi ini tidak mengalami gangguan
kesehatanmaupun gangguan material.

1.2. Rumusan masalah


1. Apa fungsi Switching (melalui Circuit Breaker atau Load Break Switch atau
Disconnecting Switch, dll)?
2. Apa fungsi Proteksi (switchgear dilengkapi dengan fuse atau relay untuk
proteksibeban seperti overcurrent, overload, reverse power, under/over
voltage, dll)?
3. Apa fungsi pengukuran (switchgear dilengkapi dengan meter untuk
pengukuranbesaran listrik seperti arus, tegangan, kwh, frekwensi, Power
Factor, dll)?
4. Apa fungsi Monitoring (switchgear dilengkapi dengan pilot
indicator/fasilitasmonitoring untuk memonitor status seperti status on/off
maupun abnormal/trip),bisa untuk remote monitoring melalui
PLC/DCS/SCADA?
1.3. Tujuan
1. Untuk menjelaskan apa fungsi Switching (melalui Circuit Breaker atau Load
Break Switch atau Disconnecting Switch, dll)
2. Untuk menjelaskan apa fungsi Proteksi (switchgear dilengkapi dengan fuse
atau relay untuk proteksibeban seperti overcurrent, overload, reverse power,
under/over voltage, dll)
3. Untuk menjelaskan apa fungsi pengukuran (switchgear dilengkapi dengan
meter untuk pengukuranbesaran listrik seperti arus, tegangan, kwh, frekwensi,
Power Factor, dll)?
4. Untuk menjelaskan apa fungsi Monitoring (switchgear dilengkapi dengan
pilot indicator/fasilitasmonitoring untuk memonitor status seperti status on/off
maupun abnormal/trip),bisa untuk remote monitoring melalui
PLC/DCS/SCADA?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Switchgear
Switchgear adalah panel distribusi yang mendistribusikan beban kepanel-panel
yang lebih kecil kapasitasnya. Panel Tegangan Menengah (PTM) atau juga disebut
MVMDB (Medium Voltage Main distribution Board) dan sedangkan untuk tegangan
rendah disebut LVMDB (Low Voltage Main Distribution Board). Switchgear adalah
komponen-komponen hubung/ pemutus dan pendukung-pendukungnya dalam satu
kesatuan (unit) terintegrasi, sehingga dapat difungsikan sebagai penghubung, pemutus,
dan pelindung terhadap dua sisi rangkaian tersebut

2.2. Fungsi Switchgear


 Menghubungkan dan memutuskan sisi sumber tenaga listrik dengan sisi beban.
 Menghubungkan dan memutuskan sumber tenaga listrik dengan peralatan
listrik yang lain.
 Menghububgkan jaringan listrik utama dengan jaringan listrik cabang :
1. Fungsi Switching (melalui Circuit Breaker atau Load Break Switch
atauDisconnecting Switch, dll).
2. Fungsi Proteksi (switchgear dilengkapi dengan fuse atau relay untuk
proteksibeban seperti overcurrent, overload, reverse power, under/over
voltage, dll).
3. Fungsi pengukuran (switchgear dilengkapi dengan meter untuk
pengukuranbesaran listrik seperti arus, tegangan, kwh, frekwensi,
Power Factor, dll).
4. Fungsi Monitoring (switchgear dilengkapi dengan pilot
indicator/fasilitasmonitoring untuk memonitor status seperti status
on/off maupun abnormal/trip),bisa untuk remote monitoring melalui
PLC/DCS/SCADA.

2.3. Komponen – komponen pada Switchgear


a. Pemutus Tenaga ( Circuit breaker )
b. Saklar Pemisah ( Disconnecting switch )
c. Saklar Pembumian ( Earthing switch )
d. Trafo arus (Current transformer )
e. Trafo Tegangan (Potential transformer )
f. Rel Daya (Busbar )
g. Sambungan kabel (Cable connection )
h. Panel control (Control panel )
2.4. Gangguan-gangguan yang biasa / umum terjadi pada switchgear
a. Panas
b. Sering trip tanpa sebab yang diketahui dengan pasti.
c. Tidak dapat ddioperasikan.
Pelacakan penyebab gangguan :

a. Panas :
• Periksa arus beban.
• Periksa sambungan-sambungan.
• Periksa kotoran yang menempel / debu.
• Periksa system pendingin dan suhu ruangan.
b. Sering trip tanpa sebab pasti :
• Periksa atau acak pada kabel-kabel pada rangkaian pengontrol sesuai
gambar diagram rangkaian control.
• Periksa penyetelan/setting dari relay proteksi.
• Periksa tegangan catu daya rangkaian control.
• Periksa kondisi/spesifikasi peralatan proteksi dan pemutus
(switchgear).
• Periksa hubungan ke beban.
c. Gagal di operasikan (on / off)
• Periksa kondisi fisik switchgear
• Periksa atau melacak kabel-kabel control
• Periksa komponen rangkaian kontol dan karakteristik atau spesifikasi
• Periksa hubungnnya ke beban

2.5. Konstruksi Pemasangan Operasi dan Pemilihan Rating


A. Gardu induk, gardu distribusi
- Gardu induk pada umumnya digunakan pada system tegangan tinggi dan
tegangan menengah sebagai pemutus dan penghubung jaringan transmisi
dan distribusi

B. Switchboard
- Switchboard adalah unit switchgear yang berbentuk box atau lemari
hubung (cubicle) bagian utama pada system tenaga listrik yang berfungsi
untuk mengoperasikan beban dan jaringan.
 Switchboard rangkaian daya (tegangan rendah dan tegangan
menengah).
 Switchboard rangkaian control, yang berfungsi untuk
mengoperasikan dan mengontrol rangkain daya pada gardu induk
(GI).
 Switchboard rangkain pengukuran daya. Switchboard dengan
fungsinya sebagai penghubung dan pembagi biasa disebut dengan
panel hubung bagi atau perlengkapan hubung bagi (PHB).
Konstruksi dan pemasangan Switchboard meliputi persyaratan pemasangan
perlengkapan-perlengkapan Switchgear meliputi :
 Box panel
- Bahan
- Dimensi
- Standar keamanan o Bus bar
- Bahan
- Dimensi
- Jarak pemasangan o Peralatan hubung (Switchgear) :
- Circuit breaker (MCB, MCCB, ACB, OCB, GCB)
- Switch pemutus beban (LBS)
- Switch / disconnecting switch (S/DS)
- Pemutus lebur (Fuse) o Trafo lebur (instrument transformer)
- Trafo tegangan (PT)
- Trafo arus (CT) o Relai proteksi
- OCR
- UV / OV relay

 Peralatan pengukuran daya


- KW / KWH meter
- Ampere meter
- Volt meter
- Frekwensi meter

2.6. Pemasangan Switchgear


Dibedakan menurut :
A. Unit Switchgear
 Switchgear daya IP tinggi (IP55 atau lebih ) dipasang pada tempat-tempat
tertentu atau dalam ruangan perlengkapan Switchgear terlindung dari
sentuhan atau bahkan semprotan air dan debu sekalipun tidak mudah
menjangkau bagian dalamnya (kecuali pada bagian ventilasi yang dibuat
sedemikian rupa hingga aman.
 Switchgear dengan IP rendah (IP00), dipasang di dalam ruangan terutup /
terkunci sehingga tidak mudah dijangkau / didekati, kecuali hanya oleh
orang-orang tertentu / yang ahli saja Switchgear seperti ini berupa rangka-
rangka terbuka tempat menempelkan / memasang pelengkapan
perlengkapan Switching dan lain-lain dan hanya sebagian sisi yang tertutup
dapat mengoperasikan peralatan seperti tombol on-off dan Switch on,
Switch off perlengkapan listrik yang bertegangan tidak terlindung dari
sentuhan luar, tidak terlindung terhadap benda-benda luar maupun
semprotan / tetesan air jadi tingkat bahaya terhadap sentuhan langsung
tinggi.
 Switchboard semacam ini banyak dijumpai/ terpasang pada pusat-pusat
pembangkit listrik, gardu induk, tapi keberadaannya sudah berkurang,
digantikan oleh Switchboard dengan IP tinggi (IP55). Lebih praktis dan
aman sering dengan pekembangan tehknologi.
B. Pemasangan perlengkapan hubung dan komponen penghubungnya di dalam
box panel.
Meliputi pemasangan bagian-bagian yang tidak berisolasi seperti :
- Busbar
- Kabel terminal
- Fuse
- Titik-titik penyambung pada CB, Switch, dsb.
Disini jarak aman antar penghantar fasa dan antar penghantar daya bodi/angka perlu
dijag pada Switch board tegangan rendah (< 1 K) jarak aman yang ditetapkan = 5 cm.
Pada tegangan menengah jarak aman ditetapkan 5 cm + 1 cm/kV.

Contoh : Pada panel TM 20 kv, maka jarak aman pemasangan hantaran telanjang di
dalam box = 5 + 1 x 20 = 25 cm.
Bahwa hantaran jarak tersebut hanya berlaku pada Switchboard konvensional,
yaitu dengan medan udara.
Untuk Switchboard dengan medium / penyekat yang lain (minyak, SF6)
berbeda, akan lebih kecil atau kurang dari ketentuan di atas.Jadi yang berperan
dalam menentukan jarak aman ini adalah :

- Penempatan isolator pendukung menjaga jarak hantaran fasa dengan fasa dan
fasa dengan bodi.
- Ukuran/dimensi isolator pendukung menjaga jarak hantaran fasa dengan bodi..
- Pemasangan perlengkapan berisolasi seperti : CB, Switch, kabel tenaga, kabel
control, CT, PT, dsb.
Karena sudah tercetak / terakit dalam satu unit alat (pada peralatan 3 fasa)
dengan jarak aman yang sudah ditetapkan, sehingga yang terpenting adalah
menyatakan masing-masing alat seuai daya fungsinya. Juga dalam
terminating/penyambungan kabel pada terminal peralatan harus dijaga jangan sampai
mengurangi jarak aman.

2.7. Urutan Operasi Switchgear


• Operasi “ ON“ (CLOSING)
Dari posisi terbuka/posisi pemeliharaan ES posisi menutup (closed)
1. ES di buka (operasi off)
2. DS di tutup (operasi on) 3. CB di tutup (operasi on)
• Operasi “ OFF “ (OPENING)
Dari posisi pelayanan, CB posisi on (closed) :
1. CB di buka (operasi off)
2. DS di buka (operasi off)
3. DS di tutup (operasi on)

Dalam hal ini berlaku / mutlak bahwa :


- DS hanya dapat / boleh beroperasi on dan off apabila CB dalam posisi
terbuka (CB off).
- DS hanya dapat/boleh beroperasi on dan off apabila DS dalam posisi terbuka
(DS off).
Untuk menghindari kesalahan operator, kondisi operasi Switchgear ini hanya dapat
dijamin dengan cara :

1. Interloching secara mekanikal (dengan kunci interlocking).


2. Kontrol elektrik, terutama pada Switchgear yang tidak memungkinkan
mekanikal interlock.

2.8. PEMILIHAN RATING


Pemilihan rating atau besaran-besaran pengenal pada Switchgear meliputi :

- Tegangan kerja (kV/V)


- Arus nominal (kA/A)
- Frekwensi (HZ)
- Tegangan maksimum peralatan (kV)
- Tegangan impuls/BIL (kV
- Arus hubung singkat (kA)
- Suhu maksimum (oC)
- Indek proteksi (IP)
- Daerah ketinggian pemasangan (meter DPL)

2.9. Kapasitas pemutusan dan penyambungan pada Switchgear.


Yang dimaksud kapasitas pemutusan pada peralatan hubung/Switchgear
(CB, LBS, Switch, fuse, ES) adalah kemampuan terhadap arus hubung singkat yang
melewati dan memutuskannya ( terutama CB, fuse) tanpa mengalami kerusakan
fisik dan siap dioperasikan kembali dalam keadaan normal.

Kapasitas pemutusan pada Switchgear ditunjukkan pada :

- Rating / besaran pengenal peralatan (kA) contoh


diatas :
- Tercantum / tertulis pada Switchboard bagian
luar misalnya
380/220 V; 50 kA; 50 HZ, kapasitas pemutusan pada peralatan listrik
berbanding terbalik dengan fungsi waktu, artinya semakin lama arus hubung
singkat berlangsung / mengalir, maka kapasitas pemutusan (kA) semakin kecil.

Penyambungan
Terminal hubung pada Switchgear baik yang terpasang pada gardu pasangan luar
dan yang terpasang di dalam lemari hubung (cubicle) disambungkan keluar pada kedua
belah sisi (incoming dan outgoing) dengan menggunakan :

o Plat tembaga (bus bar)


o Kabel berisolasi
o Hantaran pilin bulat, terutama pada gardu pasangan luar.

Kemampuan arus (baik arus nominal maupun arus hubung singkat) dan
kemampuan tegangan/terutama kabel tidak boleh kurang dari rating arus dan tegangan
yang dimiliki oleh Switchgear bersangkutan.

Pengerasan/penguatan sepatu kabel, klem penjepit, mur-baut harus memenuhi


standar, dilakukan dengan alat yang memiliki pengukur kekencangan baut.
Pemasangan kabel schoon/sepatu kabel ukuran lebih besar dari 16 mm2 harus
menggunakan press hydrolik.
2.10. Shunt Trip Coil
Seperti halnya Under Voltage Coil, shunt trip coil memperoleh sumber
tegangan luar (TR, AC atau DC) sehingga mengerjakan atau mengoperasikan
kontak “off“ pada rangkaian pemutus beban (CB, LBS).

Fungsi shun trip coil dibandingkan dengan Under Voltage Coil adalah:

a. Shunt trip coil sesuai dengan namanya adalah coil (kumparan) yang terpasang
secara shunt (parallel) terhadap kontak pemutus beban (LBS).
b. Shunt trip coil dalam keadaan normal tidak bertegangan apabila ada
hubungan dari sumber luar atau apabila memperoleh sumber tegangan luar,
maka akan segera mengoperasikan “ off “pada pemutus beban.
c. Hubungan dengan sumber tegangan luar tadi dikerjakan oleh relai arus lebih.

Pada umumnya peralatan listrik(LBS) yang dilengkapi dengan shunt trip coil
dipasang dan dioperasikan pada switch board tegangan menengah (switch board
TM).Pemasangan LBS yang dilengkapi shunt trip coil (lihat pada gambar
dibawah).Seperti halnya pada MCCB, pada LBS yang tidak dilengkapi dengan secara
molorrse,

2.11. Pengujian Fungsi Switchgear


Suatu Switchgear yang telah selesai dipasang (pasangan baru) atau selesai
diperbaiki/dipelihara sebelum tersambung untuk melayani beban/jaringan harus
melalui uji atau test.Test/uji ini dimaksudkan agar setelah tersambung dan
dioperasikan tidak mengalami kegagalan/gangguan meliputi:o Uji tegangan kerja.

o Uji tegangan frekwensi dan tegangan sesaat (impuls, BIL).


o Uji interlocking peralatan hubung.
o Uji operasi CB (on-off).
o Uji prinsip operasi yang akan dilayani sesuai dengan gambar kontrol dan
logic diagram system proteksi.
Dalam pemasangan peralatan baru uji fungsi dilakukan oleh tem komisioning.
Apabila dalam uji fungsi hasilnya masih belum memuaskan, maka akan dilakukan
perbaikan-perbaikan sesuai gambar kerja/gambar diagram kontrol oleh kontraktor.
Pada prinsipnya uji fungsi ini adalah operasi “ ON “ dan “ OFF “ circuit beraker sesuai
diskripsi kerja yang diterjemahkan dalam diagram kontrol dan diagram logic.

 Under Voltage Coil dan Shunt Trip Coil.


Under Voltage Coil dan Shunt Trip Coil adalah asesoris peralatan yang
dipasangkan pada MCB/MCCB.

Fungsi Under Voltage Coil pada MCCB adalah :

- Pada saat coil diberikan suatu tegangan sesuai dengan ratingnya, maka
hubungan mekanikal di dalam MCCB akan menahan kontak switch dalam
posisi “ on “.
- Pada saat coil diputuskan tegangannya, maka hubungan mekanikal di dalam
MCCB akan melepaskan kontak switch dalam posisi “ off “.
- Modul Under Voltage Coil ini dilengkapi dengan 2 jenis kontak bantu
(NO&NC) yang dapat difungsikan sebagai rangkaian control, sebagai pengatur
relai bantu di dalam rangkaian control.
- MCCB yang dilengkapi “Under Voltage Coil “ dalam pemasangan di dalam
switchboard dapat bekeja secara serempak atau saling bergantian (interlocking)
dengan MCCB/CB lainnya. Misal untuk mengoperasikan pompa listrik secara
bergantian.

 Under Voltage Coil


Fungsi Under Voltage Coil pada MCCB adalah :

- Pada saat coil diberikan suatu tegangan sesuai dengan ratingnya, maka
hubungan mekanikal di dalam MCCB akan menahan kontak switch dalam
posisi “ on “.
- Pada saat coil diputuskan tegangannya, maka hubungan mekanikal di dalam
MCCB akan melepaskan kontak switch dalam posisi “ off “.
- Modul Under Voltage Coil ini dilengkapi dengan 2 jenis kontak bantu
(NO&NC) yang dapat difungsikan sebagai rangkaian control, sebagai pengatur
relai bantu di dalam rangkaian control.
- MCCB yang dilengkapi “Under Voltage Coil “ dalam pemasangan di dalam
switchboard dapat bekeja secara serempak atau saling bergantian (interlocking)
dengan MCCB/CB lainnya. Misal untuk mengoperasikan pompa listrik secara
bergantian.

Kekurangan yang ada pada MCCB yang dilengkapi dengan Under Voltage Coil adalah:

1) Apabila tiba-tiba sumber/tegangan jaringan hilang, maka MCCB akan trip dan
apabila tegangan telah kembali (coil menjadi bertegangan lagi) harus ada
operator yang mengoperasikan/menghidupkan MCCB dari jarak dekat /
langsung pada alat.
2) Berbeda dengan apabila MCCB tidak dilengkapi Under Voltage Coil,
hanya akan trip apabila ada arus lebih dan hilangnya tegangan tanpa diikuti
kelebihan arus maka tidak akan terjadi trip pada kotak MCCB.

Kelebihan MCCB yang dilengkapi undervoltage coil dengan MCCB yang dilengkapi
adalah :

1) Pada MCCB yang dilengkapi ini system kerja bergantian (interlocking) sesama
MCCB dapat dilakukan secara mekanikal dan secara control elektrik,
sedangkan pada MCCB yang tidak dilengkapi hanya bisa saling interlocking
secara manual saja
(saling berdekatan)
2) Dapat membentuk rangkaian control melalui kontak-kontak bantunya yang
terhubung dengan relai-relai bantu. Contoh-contoh MCCB yang dilengkapi
dengan modul Uder Voltage relai banyak dipasaran atau katalog dari pabrik,
lengkap dengan tipe dan karakteristiknya.
MACAM-MACAM SWITCHGEAR

• Gas Insulated Switchgear (GIS)


• Cubicle type gas ( C-GIS )
DAFTAR ISI
Rusli, Andi. 2011. Standar Operasi Switchgear dan Standart Pemeliharaan
Switchgear.Sulawesi Selatan.
http://wwwpabriksawitcom.blogspot.com/2011/05/switchgear.html (diakses tanggal
13 Januari 2015)

Crayonpedia.org. 2013.Transformator Daya, Switchgear, Relay Protection, Excitacy


dan Control System 12.1.
http://www.crayonpedia.org/mw/Transformator_Daya,_Switchgear,_Rel
ay_Protection,_Excitacy_dan_Control_System_12.1 (diakses tanggal 13 Januari
2015)
Hutapea, RZ. 2013. 4 Bab II Gas Insuleted Switchgear (GIS).
repository.usu.ac.id/bitstream/.../4/Chapter%20ll.pdf (diakses tanggal 13 Januari
2015)

Beri Nilai