Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Rumusan Masalah

Peristiwa 2 Desember adalah aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh kalangn umat
islam di Indonesia dari berbagai daerah untuk menuntut agar Basuki Tjahaja Purnama
alias Ahok di tahan. Peristiwa ini dikarenakan Ahok dituding telah melecahkan al-
quran, tepat nya surat Al-Maidah ayat 51. Seperti diketahui Ahok belum ditahan oleh
penyidik Bareskrim Polri meski sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kapolri Jenderal
Tito karnavian beralasan terdapatnya perbedaan pendapat antar saksi ahli menjadi
pertimbangan tidak ditahanya Ahok.

Pidato yang asli di Kepulauan Seribu selama lebih dari 1 jam itu yang
menyinggung mengenai Surat Al-Maaidah ayat 51 diartikan berbeda antara kalangan
umat islam dan Ahok. Jika Ahok dianggap melecehkan Islam pasti dia tidak akan
pulang dari Pulau Seribu. Lalu mengapa baru 9 hari kemudian pidato ini menjadi
heboh? Terlebih setelah seorang dosen bernama Buni Yani menyebarkan melalui
Facebook nya video editan pidato Ahok yang menjadi hanya beberapa detik saja (dari
yang seharusnya lebih dari 1 jam) ditambah tulisan yang memprovokasi.

Tidak sampai disitu. Merasa mendapat celah untuk menjatuhkan Ahok, orang-
orang yang selama ini tidak menyukai Ahok dengan semangat isu empuk ini agar
masalah ini terus berlarut, makin besar, makin panas dan bisa ditarik sana sini.
Tujuannya menyingkirkan Ahok dari kursi Gubernur DKI Jakarta. Menjegal Ahok
dari Pilkada. Rasanya semua orang awam mengetahui tujuan akhirnya apa.

Inilah cara jitu orang-orang yang tidak menyukainya, membuat negara yang
besar ini menjadi “hanya” disibukkan dengan “bagaimana caranya” memenjarakan
Ahok dan menggusurnya dari gelaran Pilkada.

1
I.2. Dasar Hukum Penistaan agama

Tindakan penghinaan terhadap Agama di Indonesia diatur melalui instrumen


Penetapan Presiden Republik Indonesia No 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan
Penyalahgunaan / atau Penodaan Agama. Ketentuan yang lebih dikenal dengan UU
PNPS No 1 Tahun 1965 ini sangat singkat isinya, karena hanya berisi 5 PasalPasal 1
ketentuan ini menyatakan bahwa “Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka
umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk
melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan
kegiatan-kegiatan agama yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama
itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama
itu.Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 1 ini tidak bisa langsung dilakukan upaya
hukum dalam bentuk upaya penuntutan secara hukum. UU ini mengatur bahwa setiap
orang yang melanggar pasal 1 tersebut, maka ia akan diberikan perintah dan
peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya dalam suatu Keputusan Bersama
dari Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam NegeriApabila setelah
dikeluarkannya SKB tersebut, pelanggaran tersebut masih berulang dilakukan, maka
jika pelanggaran itu dilakukan oleh Organisasi atau aliran kepercayaan, maka Presiden
dapat membubarkan Organisasi tersebut dengan pertimbangan dari Menteri Agama,
Jaksa Agung, dan Menteri Dalam NegeriApabila orang/organisasi tersebut masih
melakukan penodaan agama, maka orang atau anggota, dan atau pengurus organisasi
tersebut dapat dipidana selama-lamanya 5 tahunUU ini juga memperkenalkan bentuk

2
tindak pidana baru yaitu tindak pidana penodaan agama kedalam KUHP dalam Pasal
156 a. Namun, penggunaan Pasal 156 a KUHP tetaplah tidak bisa dilakukan secara
langsung, namun harus dilakukan melalui beragam tindakan administratif
pendahuluan.

BAB II

ISI

II.1. Ijin dan Jalannya Aksi 2 Desember

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI)


akan kembali melakukan aksi demo pada tanggal 2 Desember 2016 . Mereka
menuntut agar Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok
tidak hanya sekedar ditersangkakan, melainkan juga ditahan. Saat menetapkan Ahok
menjadi tersangka, Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta agar masyarakat
menghargai proses hukum. Tito berkata, kalau ada desakan untuk menetapkan Ahok
ditahan, kemungkinan desakan tersebut memiliki agenda lain. Lantas tanggapan dari
Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait tuduhan tersebut, bahwa persoalan itu MUI
serahkan kepada para ahli hukum, ahli konstitusi, bahwa hak unras (unjuk rasa) adalah
hak massa. Selama memang unjuk rasa damai, menuntut keadilan, dan ini dua juta
orang lebih ini karena merasa keadilannya belum terpenuhi. Lebih lanjut MUI
berpendapat bahwa penahanan terhadap Ahok merupakan hal yang sangat diperlukan.
Sebab Ahok sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama
dengan ancaman penjara 5 tahun sesuai Pasal 156a KUHP. Kemudian MUI juga
beranggapan bahwa Ahok berpotensi mengulangi perbuatan sesuai dengan sikap
arogannya selama ini, yang suka mencaci dan menghina ulama dan umat Islam.

Menurut Wiranto, awalnya Aksi Bela Islam III dirancang tak sekedar unjuk
rasa di kawasan jalan protokol di ibu kota. Ia berkata, aksi tersebut akan diarahkan
hingga unjuk pemaksaan terhadap pemerintah menuntut untuk dipenjarakan Ahok.
Namun, unjuk pemaksaan dipastikan tak akan terjadi setelah sejumlah tokoh
Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI menyepakati teknis aksi dengan Kapolri

3
Jenderal Tito Karnavian, Senin (28/11). Dalam kesepakatan itu, Aksi Bela Islam III
digelar secara damai di kawasan Monumen Nasional dengan bentuk doa dan salat
jumat.
Unjuk rasa yang tadinya akan berubah menjadi unjuk pemaksaan sudah diubah
menjadi zikir, doa, tausyiah bersama. Dari aksi unjuk kekuatan menjadi aksi gelar
sajadah.

Karena kesepakatan bersama telah lahir, Wiranto yakin Aksi Bela Islam III
akan berjalan lancar dan tidak berdampak negatif terhadap aktivitas warga ibu kota.
Namun, ia mengingatkan bahwa aparat keamanan akan tetap menindak tegas
demonstran yang menggelar aksi di luar kawasan Monas akhir pekan nanti.
Demo dilaksanakan dengan mengacu rambu dan undang-undang pasti aman.
Kalau ada unjuk rasa di luar Monas, itu tidak ada izin dan tidak dikoordinasikan oleh
pimpinan pengunjuk rasa yang ingin super damai, dan akan dibubarkan secara tegas.

Wiranto juga tak mempermasalahkan keberadaan warga maupun pedagang


yang hendak beraktivitas di kawasan Aksi Bela Islam III. Ia bahkan mendorong para
pedagang kaki lima untuk turut menjajakan barang-barangnya saat Aksi Bela Islam III
digelar.

Izin berdagang diberikan Wiranto karena ia ingin membuktikan kondusifitas


masyarakat saat aksi yang digagas GNPF MUI itu digelar. Wiranto menghimbau
masyarakat tetap tenang dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Bahkan pedagang kaki
lima juga mungkin bakal panen.

II.2. Kesepakan Dalam Aksi 2 Desember

Kepolisian Indonesia dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama


Indonesia (GNPF-MUI), sepakat bahwa unjuk rasa pada tanggal 2 Desember jadi
dilaksanakan di Jakarta. Berikut ini lima hal yang perlu Anda ketahui tentang aksi
tersebut:

4
1. Unjuk rasa akan diadakan di lapangan Monumen Nasional

Unjuk rasa yang diorganisir Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama
Indonesia (GNPF-MUI), yang dipimpin oleh Front Pembela Islam dan diikuti
sejumlah organisasi massa lain, disebut Aksi Bela Islam III. Demo ini akan diisi
dengan zikir dan salat Jumat, dan akan diselenggarakan di lapangan Monumen
Nasional.

Lokasi itu disepakati Polisi dan GNPF-MUI setelah dialog yang dimediasi
Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kapolri Tito Karnavian mengatakan, lapangan
Monas dapat menampung sekitar 700.000 orang. Jika jumlah peserta melampaui itu,
disiapkan tempat di Jalan Merdeka Selatan. Lebih lanjut Kapolri menjelaskan,
pihaknya melarang kegiatan salat Jumat di Bundaran Hotel Indonesia, (HI), yang
sebelumnya direncanakan GNPF-MUI, dengan alasan mengganggu ketertiban umum.
Polisi bermaksud menghindari preseden buruk sekaligus mencegah konflik, kata Tito.

Pengamanan dengan menutup jalan protokol, akan membuat polisi berhak


membubarkan. Ini akan berakibat situasi tidak kondusif. Bisa terjadi konflik, Bisa ada
pengunjuk rasa yang luka, polisi yang luka seperti saat demonstrasi 4 November ada
18 polisi yang luka. Kendati berkompromi soal tempat, Rizieq Shihab mengatakan
GNPF-MUI tetap menuntut agar aparat menahan gubernur Jakarta nonaktif, Basuki
Tjahaja Purnama alias Ahok.

5
2. Unjuk rasa selesai setelah salat Jumat

Rizieq Shihab mengatakan, unjuk rasa pada 2 Desember berupa zikir dan doa
untuk keselamatan negeri serta ceramah dari para pemuka agama dan ulama. Ketua
Umum MUI Ma'ruf Amin akan menjadi khatib dalam salat Jumat.

Acara dimulai dari pukul 08.00 WIB hingga selesai salat Jumat, sekitar pukul
13.00 WIB. Satgas GNPF-MUI akan berkoordinasi dengan Polri dan TNI untuk
mengatur teknis pelaksanaannya. Seusai salat jumat, lanjut Rizieq, GNPF-MUI akan
bertanggung jawab atas pembubaran massa.

Pimpinan GNPF akan membagi tugas untuk melepas mereka. Bagi yang pulang
ke arah utara, selatan, timur, barat, akan ada pimpinan GNPF yang menyapa mereka
dan menjelaskan agar mereka pulang dengan tertib ke daerah masing-masing.

3. Polisi akan mengamankan aksi di luar tempat dan waktu yang ditentukan

Polri dan GNPF-MUI menjamin bahwa aksi akan berjalan "super damai".
Rizieq Shihab menyatakan, jika ada gerakan pada tanggal 2 Desember di luar lokasi
dan waktu yang disepakati, maka itu bukan bagian dari Aksi Bela Islam III. Serta Polri
berhak mengantisipasi dan mengatasinya.

4. Polisi berjanji tidak menghalangi warga ikut unjuk rasa

Polri sepakat tidak akan menghalangi warga dari luar Jakarta untuk mengikuti
unjuk rasa. Sebelumnya, polisi di sejumlah daerah dilaporkan menghadang warga
datang ke Jakarta untuk mengikuti unjuk rasa, bahkan melarang perusahaan operator
bus melayani pemberangkatan para peserta aksi.

"Saya akan meminta ke seluruh jajaran kepolisian supaya para perusahaan


pengangkutan dapat mengantarkan saudara-saudara kita," kata Kapolri.

Rizieq Shihab mengatakan, saat ini peserta aksi di sejumlah daerah sempat
menyatakan bahwa mereka nekat jalan kaki ke Jakarta.

6
Demi memastikan mobilisasi massa berjalan dengan tertib, satgas GNPF di
sepanjang Sudirman-Thamrin akan menyambut para pengunjuk rasa dari berbagai
daerah kemudian menuntun mereka ke lokasi.

5. Polisi mengantisipasi penyusupan kelompok teroris

Kapolri Tito Karnavian mengatakan terdapat sejumlah pihak yang


memanfaatkan isu dan pengumpulan massa ini untuk tujuan negatif, termasuk
kelompok teroris. Dalam sepekan ke belakang, polisi telah menangkap sejumlah
orang terduga anggota kelompok yang berbaiat kepada ISIS..

Sebelumnya, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Boy Rafli Amar
mengatakan, Densus 88 telah menangkap sembilan anggota Khafilah Syuhada al-
Hawariyun pimpinan Abu Nusaibah pada Sabtu (27/11) lalu. Mereka diduga berniat
memanfaatkan kerusuhan seusai demonstrasi pada 4 November untuk untuk merebut
senjata api milik aparat. Rencana ini gagal karena aparat saat itu tidak membawa
senjata api. Kemudian pada Minggu (28/11), polisi dilaporkan menangkap dua orang
terduga kasus terorisme yang berencana mengebom markas polisi, gedung DPR dan
juga sejumlah kantor kedutaan besar negara asing di Indonesia.

II.3. Pernyataan Ahok Dalam Nota Keberatan

Selama karir politik Ahok dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru,
menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampaimengikuti Pemilu, kampanye
pemilihan Bupati, bahkan sampaiGubernur, ada ayat yang sama yang Ahok begitu
kenal digunakan untuk memecah belah rakyat, dengan tujuan memuluskan jalan
meraih puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan “rohkolonialisme”.Ayat ini
sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elit, karena tidak bisa bersaing dengan visi
misi program, dan integritas pribadinya.Mereka berusaha berlindung dibalik ayat-ayat
suci itu, agar rakyat dengan konsep “seiman” memilihnya. Dari oknum elit yang
berlindung dibalik ayat suci agama Islam,mereka menggunakan surat Almaidah 51.

7
Isinya, melarang rakyat,menjadikan kaum Nasrani dan Yahudi menjadi pemimpin
mereka,dengan tambahan, jangan pernah memilih kafir menjadi pemimpin.Intinya,
mereka mengajak agar memilih pemimpin dari kaum yang seiman. Padahal, setelah
saya (Ahok) tanyakan kepada teman-teman, ternyata ayat ini diturunkan pada saat
adanya orang-orang muslim yang ingin membunuh Nabi besar Muhammad, dengan
cara membuat koalisi dengan kelompok Nasrani dan Yahudi di tempat itu. Jadi,jelas,
bukan dalam rangka memilih kepala pemerintahan, karena di NKRI, kepala
pemerintahan, bukanlah kepala agama/Imam kepala. Bagaimana dengan oknum elit
yang berlindung, dibalik ayat suci agama Kristen? Mereka menggunakan ayat disurat
Galatia 6:10. Isinya, selama kita masih ada kesempatan, marilahkita berbuat baik
kepada semua orang, tetapi terutama kepadakawan-kawan kita seiman.Saya (Ahok)
tidak tahu apa yang digunakan oknum elit di Bali yang beragama Hindu, atau yang
beragama Budha. Tetapi Ahok berkeyakinan, intinya, pasti, jangan memilih yang
beragama lain atau suku lain atau golongan lain, apalagi yang ras nya lain.Intinya,
pilihlah yang seiman/sesama kita (suku, agama, ras, dan antar golongan). Mungkin,
ada yang lebih kasar lagi, pilihlah yangsesama kita manusia, yang lain bukan, karena
dianggap kafir, atau najis, atau binatang! Karena kondisi banyaknya oknum elit yang
pengecut, dan tidak bisa menang dalam pesta demokrasi, dan akhirnya mengandalkan
hitungan suara berdasarkan se-SARA tadi, maka betapa banyaknya, sumber daya
manusia dan ekonomi yang kita siasiakan. Seorang putra terbaik bersuku Padang dan
Batak Islam,tidak mungkin menjadi pemimpin di Sulawesi. Apalagi di Papua.Hal
yang sama, seorang Papua, tidak mungkin menjadi pemimpin di Aceh atau Padang.
Kondisi inilah yang memicu kita, tidak mendapatkan pemimpinyang terbaik dari yang
terbaik. Melainkan kita mendapatkan yang buruk, dari yang terburuk, karena rakyat
pemilih memang diarahkan, diajari, dihasut, untuk memilih yang se-SARA
saja.Singkatnya, hanya memilih yang seiman (kasarnya yang sesama manusia).

8
II.4. Pendapat Penulis

Pada aksi unjuk rasa yang terjadi pada 2 Desember di Jakarta merupakan
Kelanjutan dari demo yang terjadi pada 4 November. Pada demo kali ini dilakukan di
area monas dengan menggelar aksi dzikir bersama yang dihadiri ribuan umat islam
dari penjuru tangah air. Pada aksi kali ini, demonstran menuntut untuk menahan
Basuku Tjahaja Purnama alias Ahok karena dituding sebagai tindakan penistaan
agama. Banyak pandangan mengenai kejadian ini, ada yang beranggapan bahwa ahok
melecehkan islam, ada yang menduga bahwa demo besar-besaran untuk
menngulingkan Ahok dari pilkada, dan lain sebagainya. Menurut saya sebagai penulis,
bahwa pernyataan Ahok tidak sesuai jika ia menyinggung ayat suci al-Quran dan
menafsirkanya , karena ia bukan beragama Islam.Apalagi menggunakan unsur agama
dalam kampanye menurut saya tidak sesuai karena agama sesuatu yang sensitif dan
dapat memunculkan perpecahan. Tetapi masalah itu sebenarnya tidak usah terlalu di
besar-besarkan mengingat adanya salah persepsi dalam pemahaman mengenai Surat
Al-Maidah ayat 51 antara Ahok dan kaum Islam. Ahok beranggapan bahwa para
polikus banyak yang berlindung di ayat tersebut supaya memilihnya karena kesamaan
agama, tetapi dalam prakteknya pejabat tersebut hanya memanfaatkan ayat tersebut
untuk mendapat dukungan yang banyak, begitu pernyataan Ahok dalam pidatonya di
Pulau Seribu. Sedangkan umat Islam menilai bahwa pernyataan tersebut merupakan
suatu penghinaan terhadap AlQuran, mereka menganggap Ahok melakukan tindakan
penistaan agama. Tapi disisi lain, kesempatan ini memugkinkan banyak digunakan
oleh orang-orang yang tidak menyukai Ahok untuk menggulingkan Ahok pada
Pilkada gubernur Jakarta. Aksi besar-besaran pun terjadi menginginkan bahwa Ahok
di penjarakan. Jika melihat perjalanan diri Ahok, ia merupakan seorang didikan dari
K.H Abdarahman Wahid, presiden ke 4 Indonesia yang merupakan ulama besar dan
pimpian Nahdatul Ulama. Ahok juga banyak membantu umat Islam seperti,
pembangunan masjid,sedekah,penyembelihan hewan kurban, pemberangkatan haji
kepada marbot masjid, dll selama beliau menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Ahok
juga memiliki orangtua angkat yang seorang ulama terpandang, Ahok juga
mengenyam pendidikan formal yang mayoritas beragama islam. Jadi, menurut saya

9
Ahok tidak mungkin memiliki niat untuk menghina Al-Quran, dikarenakan beliau
sejak dulu telah akrab dengan dunia islam. Kejadian ini hanyalah salah paham dan
tidak perlu terlalu dibesar-besarkan.

10
BAB III

PENUTUP

III.1. Kesimpulan

Aksi 2 Desember merupakan aksi lanjutan untuk menuntut Ahok untuk di


penjara dengan tuduhan penistaan agama. Aksi berjalan tertib dengan melaksanakan
dzikir bersama di lapangan Monas, Jakarta.

Ahok menganggap bahwa pidatonya di Kepulauan Seribu tidak menghina umat


islam. Ahok menilai banyak politisi yang berlindung di Surat Al-Maidah ayat 51
untuk mencari dukungan dengan sesama umat islam. Tetapi pernyataan tersebut
menuai reaksi keras bagi umat islam.

Masalah ini merupakan salah persepsi antara Ahok dan umat islam , sebaiknya
dapat diselasaikan secara kekeluargaan tanpa adanya pertikaian antar umat beragama.

III.2. Saran

 Dalam berkampanye politik tidak perlu menggunakan unsur agama, karena


merupakan hal tersebut rentan menyebabkan pertikaian.
 Sebaiknya jangan menafsirkan kitab suci agama lain, karena jika tidak tepat
dapat menyebabkan permusuhan antar umat beragama.
 Jika ada masalah mengenai agama diselesaikan secara baik-baik dan tidak
melakukan aksi yang menyebabkan pertikaian
 Sebagai bangsa yang memiliki keragaman suku,agama, dan budaya, kita
meningkatkan toleransi dan tidak membedabedakannya apalagi dalam dunia
politik

11
DAFTAR PUSTAKA
Anggara.2008. http://indonesianskeptics.blogspot.co.id/2013/10/uu-hukum-
pidana-kuhp-pasal-156-penodaan_11.html. Diakses pada 9 Januari 2017
Anugerah,Pijar. 2016. http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38127384. Di
akses 9 Januari 2017.
Tjahaja, Basuki . 2016. Nota Keberatan BTP. Jakarta
Yudha, Angga. 2016. https://www.merdeka.com/peristiwa/fakta-fakta-
persidangan-beratkan-ahok-di-kasus-penistaan-agama.html. Di akses 9 Januari
2017.

12