Anda di halaman 1dari 4

ALASAN MEMILIH FORMULA YANG DIGUNAKAN

Untuk zat aktif kloramfenikol yang akan diformulasikan menjadi sediaan oral, dipilih
bentuk sediaan suspensi basah karena kloramfenikol praktis tidak larut dalam air sehingga
jika dibuat menjadi larutan, maka obat tidak akan terdispersi secara merata yang pada
akhirnya akan mempengaruhi keseragaman dosis. Seperti kita ketahui obat akan memberikan
efek terapeutik bila dosis yang digunakan tepat. Maka untuk mengontrol keseragaman dosis
sediaan kloramfenikol saat formulasi sampai digunakan oleh pasien ditentukanlah bentuk
sediaan suspensi. Selain itu juga menurut Ansel (1985) bentuk cair lebih disukai ketimbang
bentuk padat (tablet atau kapsul dari obat yang sama). Dibuat sediaan suspensi oral
kloramfenikol sebanyak 100 ml dengan rincian 60 ml untuk dikemas dan sisanya digunakan
untuk dievaluasi.

Kloramfenikol yang digunakan adalah kloramfenikol palmitat karena rasanya yang


tidak sepahit kloramfenikol base. Sediaan suspensi adalah sediaan cair yang mengandung
partikel padat tidak terlarut yang terdispersi dalam fase cair. Oleh karena kloramfenikol tidak
dapat terlarut dalam air sebagai fasa kontinunya, maka dibutuhkan zat penstabil yaitu
suspending agent. Suspending agent berperan dalam menstabilkan zat aktif dalam hal ini
kloramfenikol untuk tetap terdispersi secara merata dalam sediaan agar dosis tetap terkontrol
dan secara estetika suspensi tetap menarik. Suspending agent yang digunakan adalah CMC
Na dengan pertimbangan karena selain merupakan suspending agent yang banyak digunakan
dan memenuhi sifat non toksis, CMC Na stabil pada pH 2-9. Konsentrasi yang digunakan
pada sediaan yaitu 1% berdasarkan rentang pemakaian menurut Rowe (2009).

Bahan tambahan lainnya yang digunakan yaitu propilenglikol. kloramfenikol larut


dalam propilenglikol (Depkes RI, 2014) sehingga digunakan untuk membantu
melarutkannya. Konsentrasinya dalam sediaan yang digunakan yaitu 20% berdasarkan
rentang pemakaian menurut Rowe (2014) yaitu sebanyak 10-25%. Untuk memeperbaiki rasa
maka ditambahkan pula syrupus simplex sebanyak 64% dari total sediaan yang akan dibuat.

Mengingat sediaan yang dibuat berupa suspensi yang mengandung air dan berpotensi
besar tercemar bakteri maka diperlukan penambahan antibakteri untuk menjaga stabilitas
sediaan. Meskipun sediaan yang dibuat adalah sediaan antibiotik (kloramfenikol) sebagai
antibakteri tetapi koramfenikol praktis tidak larut dalam air sehingga potensinya kecil untuk
melindungi fasa kontinyu (air) sediaan suspensi dari cemaran mikroba. Digunakan nipagin
dan nipasol dengan konsentrasi berturut-turut yaitu 0,1% dan 0,02% berdasarkan rentang
penggunaan bahan menurut Rowe (2009). Meskipun nipagin dan nipasol sukar larut dalam
air namun masih dapat bisa larut meskipun hanya sedikit, terlebih lagi penggunaan
propilenglikol dapat membantu melarutkan nipagin dan nipasol. Natrium sitrat digunakan
sebagai pendapar untuk mengatur pH sediaan agar tetap stabil. Na sitrat mempertahankan pH
pada daerah asam (pH < 7) yang termasuk rentang pH kestabilan kloramfenikol sebagai zat
aktif yaitu pada pH 4,5-7,5. Bahan tambahan lainnya yaitu perasa jeruk digunakan untuk
menutupi rasa sediaan aslinya dan pewarna yellow light digunakan untuk memperbaiki warna
sediaan dan menyesuaikannya dengan perasa jeruk.

PEMBAHASAN PROSEDUR KERJA

Pada prosedur kerja yang dilakukan dalam pembuatan sediaan suspensi oral
kloramfenikol perlu diperhatikan beberapa hal yaitu kloramfenikol yang sukar larut dalam air
terlebih dulu dilarutkan dalam sebagian propilenglikol. Kemudian pembuatan mucilago CMC
Na dilakukan dengan terlebih dahulu mendispersikannya dalam air sebanyak 20x beratnya.
Digunakan air hangat untuk mengoptimalkan proses pembuatan mucilago ini, kemudian
didiamkan beberapa saat sampai serbuk CMC-Na terbasahi, barulah dilakukan pengadukan
dan proses lainnya. Nipagin dan nipasol dilarutkan terlebih dahulu juga ke dalam
propilenglikol.

Kemudian semua bahan barulah dicampurkan. Pencampuran dapat menggunakan


lumpang atau insrument lainnya. Kami menggunakan homogenizer sebagai alat pencampur
dengan kecepatan sekitar 600 rpm sampai sediaan terlihat homogen. Setelah sediaan jadi, 60
ml dimasukkan ke dalam botol untuk dikemas dan sisanya dievaluasi.

EVALUASI SEDIAAN

Evaluasi sediaan yang dilakukan terhadap suspensi oral kloramfenikol yaitu evaluasi
organoleptis, pH, homogenitas, dan volume sedimentasi. Hasil evaluasi organoleptis
menunjukkan yaitu sediaan suspensi oral yang kami buat berwarna kuning cerah, harum jeruk
namun agak lemah yang mungkin dikarenakan penambahan perasa jeruk yang terlalu sedikit
dan rasa agak pahit. Sebenarnya rasa dari kloramfenikol palmitat yang diformulasikan sedikit
berasa pahit, serta penambahan syrupus simplex dan perasa jeruk seharusnya dapat menutupi
rasa pahit tersebut. Rasa pahit pada sediaan kami mungkin dikarenakan kloramfenikol yang
digunakan bukan kloramfenikol palmitat, namun tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya
karena depo kloramfenikol yang kami gunakan tidak memiliki etiket yang tertera.
Dilakukan evaluasi pH dengan pH indikator, didapatkan pH sediaan yaitu 7. pH ini
sudah sesuai persyaratan dan masuk rentang pH dimana pada rentang pH 4,5-7,5 yang telah
dicantumkan pada data preformulasi, kloramfenikol sebagai zat aktifnya berada pada laju
penguraian yang paling lambat.

Evaluasi homogenitas dilakukan dengan melihatnya secara langsung dan


meratakannya pada kaca objek. Dimana sediaan yang kami peroleh masih ada sedikit
gumpalan halus kecil-kecil yang diduga merupakan kloramfenikol. Hal ini disebabkan karena
pada saat sebelum pencampuran, serbuk kloramfenikol tidak digerus terlebih dahulu untuk
memperkecil ukuran serbuk. Pada kebanyakan suspensi sediaan farmasi yang baik, diameter
partikel berkisar antara 1-50 mikron (Ansel, 1985).

Pada pengamatan sediaan hari ke 3 dan ke 5 terlihat pemisahan pada suspensi menjadi
supernatan dan endapan. Endapan yang seharusnya terjadi kebawah (mengendap), pada
sediaan ini mengalami floatasi yaitu endapan mengapung di atas, sedangkan bagian
supernatan jernih berada di bawah. Hal ini disebabkan karena kloramfenikol yang digunakan
cukup banyak, sifatnya yang tidak larut dalam air, serbuk kloramfenikol yang tidak
dihaluskan terlebih dahulu sebelum pengolahan dan jumlah humektan (PPG) yang digunakan
untuk membasahi kloramfenikol sedikit. Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan sedimen
terapung ke atas.

hari 1 hari 3 hari 5


ho (cm) 7 7 7
hu (cm) 7 4,3 4
F 1 0,614286 0,571429

Evaluasi volume sedimentasi dilakukan dengan mengamati tinggi endapan sediaan


pada hari pertama, ketiga dan kelima. Volume sedimentasi dapat dilihat pada tabel diatas.
Pada hari ke-5 dilakukan resuspensi pada sediaan dengan waktu resuspensi yaitu 9 detik.
Sediaan suspensi kloramfenikol yang kami buat merupakan sediaan suspensi terflokulasi.
Karena endapan yang terjadi cukup mudah diresuspensikan yang sekaligus menjadi kelebihan
suspensi terflokulasi, sedangkan kekurangan suspensi terflokulasi yaitu bentuk sediaan yang
kurang menarik.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2014. Farmakope Indonesia. Edisi V. Jakarta : Departemen Kesehatan RI

Ansel, H.C. 1989. Bentuk Sediaan Farmasi. Cet.1. Penerjemah Farida Ibrahim. Jakarta : UI
Press