Anda di halaman 1dari 123

TA / TL / 2008 / 0256

TUGAS AKHIR

PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU


DI PERUMAHAN DAYU PERMAI
YOGYAKARTA

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh


gelar sarjana S1 pada Jurusan Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Disusun Oleh :

Nama : RIZKY RIZALDI


No. MHS : 02 513 139

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2008
HALAMAN PERSEMBAHAN

Kususun Tugas Akhir ini,


dengan ilmu yang kupelajari selama ini
dengan materi, tenaga, fasilitas, dukungan moral,
serta bimbingan dan anugrah ALLAH SWT dan,
kupersembahkan hasil karyaku ini
kepada orang-orang yang selalu membimbing dan melindungi
diriku,
yang selalu mengingatkan pada misi studiku,
kepada Ayahku terhormat Bapak H. Achmad Putro, S.Ag., M.Si,
Ibuku tercinta, dan Saudara-saudaraku tersayang.

iii
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.

Segala puja dan puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT, Yang Maha
Suci, Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna. Hanya dengan rahmat dan karunia-Nya
lah Tugas Akhir ini dapat diselesaikan. Sholawat dan salam semoga selalu
tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW, keluarga, sahabat, para pejuang
kebenaran dan kaumnya. Amin.
Pada kesempatan kali ini penulis mengangkat permasalahan menyusun
perencanaan pengelolaan sampah secara terpadu melalui penelitian dan uji sampel
untuk melihat potensi sampah yang dihasilkan oleh Perumahan Dayu Permai
Yogyakarta. Alternatif yang dipertimbangkan salah satunya adalah dengan
menggunakan metode pengomposan. Pertimbangan inilah yang kemudian penulis
angkat menjadi topik dalam tugas akhir ini.
Maka pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan rasa terima kasih
yang sebesar-besarnya atas bantuan, pengarahan dan bimbingan yang telah
diberikan kepada kami dalam menyusun laporan ini, yaitu kepada :
1. Kepada kedua orang tua kami yang selalu memberikan motivasi dan
semangat bagi kami.
2. Bapak Luqman Hakim, ST. M.Si.; selaku Ketua Jurusan Teknik
Lingkungan.
3. Bapak Ir. H. Widodo Brontowiyono, M.Sc.; selaku dosen pembimbing I
yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan hati dalam
membimbing penulis.
4. Bapak Eko Siswoyo, ST; selaku dosen pembimbing II yang telah
meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan hati dalam membimbing penulis.
5. Seluruh dosen Jurusan Teknik Lingkungan, Universitas Islam Indonesia.

iv
6. Rekan-rekan mahasiswa jurusan Teknik Lingkungan yang telah
memberikan dukungannya. Khususnya untuk Ari, Insan, Wahyu, Asep,
dan Nug terima kasih atas kekompakannya.
7. Semua pihak yang telah membantu penulis dan berperan dalam penulisan
laporan ini baik langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat lagi
disebutkan satu persatu.

Kami menyadari dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari


kesempurnaan, namun kami berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan
memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, khususnya di bidang Teknik
Lingkungan.
Semoga apa yang penulis sampaikan dalam laporan ini dapat berguna bagi
penulis, rekan-rekan mahasiswa maupun siapa saja yang membutuhkannya.

Wassalamualaikum. Wr.Wb.

Yogyakarta, Maret 2008

Penulis

v
PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI PERUMAHAN DAYU PERMAI
YOGYAKARTA

INTISARI

Pencemaran Lingkungan berhubungan erat dengan sampah karena sampah merupakan


sumber pencemaran. Permasalahan sampah timbul karena tidak seimbangnya produksi sampah
dengan pengolahannya dan semakin menurun daya dukung alam sebagai tempat pembuangan
sampah. Di satu pihak, jumlah sampah terus bertambah dengan laju yang cukup cepat, sedangkan di
lain pihak kemampuan pengolahan sampah masih belum memadai. Sesuai sumber penghasil sampah
dan kegiatan di sumber timbulan adalah pemukiman penduduk sebagai tempat tinggal masyarakat,
maka komponen sampah yang paling dominan adalah sampah organik. Pengelolaan yang paling
sesuai dengan jenis sampah organik adalah dengan cara komposting. Penelitian ini bertujuan untuk
merencanakan manajemen persampahan dan merencanakan suatu reaktor kompos dan menguji
parameter unsur N, P, K dan C/N dari hasil pengomposan.
Penelitian ini dilakukan di Perumahan Dayu Permai Yogyakarta. Pada penelitian ini sampah
dipilah langsung dari sumbernya berdasarkan jenis yakni organik, anorganik, dan non 3R. Dari
sampah organik dilakukan komposting secara aerobik dengan penambahan starter EM4.
Menggunakan reaktor dari drum plastik yang telah dilubangi bagian sampingnya. Untuk sampah
anorganik dan non 3R dikelola mulai dari pemilahan, pewadahan, pengumpulan, pengangkutan,
hingga ke TPS dan seterusnya dibuang ke TPA.
Penelitian menggunakan 10 titik sampling rumah dan didapat jumlah timbulan sampah
adalah 0,223 kg/orang/hari dengan berat sampah organik perumahan Dayu Permai adalah 0,14
Kg/orang/hari, volume sampah organik adalah 0,99 L/orang/hari, berat sampah anorganik adalah
0,08 Kg/orang/hari, volume sampah anorganik adalah 1,49 L/orang/hari, berat sampah non 3 R
adalah 0,003 Kg/orang/hari, volume sampah non 3 R adalah 0,1 L/orang/hari dan dihasilkan reaktor
kompos dengan kapasitas 147,93 liter untuk 1 rumah. Dilihat dari parameter karakteristik kompos
standar SNI yang terdiri dari pH, suhu, rasio C/N, N, P, K, kualitas kompos yang dihasilkan pada
penelitian ini cukup baik dengan kandungan pH sebesar 6,9, Nitrogen = 0,905 %, Phospor = 2,07 %,
Kalium = 2,3 %, dan rasio C/N = 51,707. Waktu pematangan kompos adalah 30 hari.

Kata kunci : kompos, sampah, Dayu Permai

vi
INTEGRATED SOLIDWASTE MANAGEMENT AT DAYU PERMAI HOUSING
YOGYAKARTA

ABSTRACTION

Environment contamination closely related with solidwaste, because solidwaste represent


the source of contamination. Solidwaste problems caused by the unbalanced solidwaste produces
with its processing and decreasing the nature support progressively as place for solidwaste to
exile. The amount of solidwaste continue to increase fastly, while on the other side, the ability of
solidwaste processing is still not yet adequate. According to the solidwaste source and the activity
beneath it, is a settlement place for society residence, hence most dominant solidwaste component
is organic matter. The most appropriate management with organic matter type are composting.
This research aim is to plan solidwaste management, designing an compost reactor, and then
testing the element parameter of N, P, K and C/N from result of composting.
At this research, solidwaste are classified from its type, they are organic, anorganic, and
non 3R. For organic solidwaste will processed with composting which conducted in aerobic with
addition of EM4 starter. Using plastic drum reactor with a number of hole on its side and the
bottom. For the anorganic and non 3R matter is processed with sorting, packaging, gathering,
transporting, TPS, and then thrown to TPA.
This research using 10 sample place and the amount of soildwaste arise obtained is 0,223
kg/people/day with the mass amount of organic 0,14 Kg/people/day and the volume 0,99
L/people/day, the anorganic amount 0,08 Kg/people/day and the volume 1,49 L/people/day, the
non 3R amount 0,003 Kg/people/day and the volume 0,1 L/people/day , and creating reactor with
capacities of 147,93 litres. Comparing with the characteristic in SNI such as pH, temperature, C/N
ratio, N, P, K, the compost quality is good enough with content of pH 6,9, Nitrogen (N) = 0,905 %,
Phospor (P) = 2,07 %, Kalium (K) = 2,3 % and C/N ratio = 51,707. Compost maturation time is
30 days.

Keyword : compost, solidwaste, Dayu Permai

vii
DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
Halaman Persembahan iii
Kata Pengantar iv
Abstraksi vi
Daftar Isi viii
Daftar Tabel xi
Daftar Gambar xiii

Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 5
1.3 Tujuan Penelitian 5
1.4 Batasan Masalah 6
1.5 Manfaat Penelitian 6

Bab II Tinjauan Pustaka


2.1 Pengertian Sampah 7
2.2 Sumber Sampah 7
2.3 Jenis Sampah 9
2.4 Karakteristik Sampah 9
2.5 Komposisi Sampah 10
2.6 Timbulan Sampah 10
2.7 Pengolahan Sampah 11
2.7.1 Sistem Pengelolaan Persampahan 13
2.7.2 Penyimpanan/Pewadahan Sampah 14
2.7.3 Pengumpulan Sampah 15
2.7.4 Pengangkutan Sampah 15
2.8 Standarisasi Pengelolaan Sampah 17

viii
2.9 Efek Samping Terhadap Manusia dan Kesehatan 18
2.10 Kompos 20
2.10.1 Prinsip Pengomposan 20
2.10.2 Manfaat Kompos 24
2.10.3 Proses Pengomposan 28
2.10.4 Waktu Pembalikan 32
2.10.5 Persyaratan Kompos 33
2.10.6 Pengaruh Kompos Terhadap Tanaman 35
2.10.7 Effective Microorganism 4 (EM4) 36
2.11 Klasifikasi Wilayah dari Pusat Kota ke Pedesaan 39
2.12 Hipotesa 39

Bab III Gambaran Umum Perencanaan


3.1 Lokasi 41
3.2 Kondisi Topografi 41
3.3 Batas Wilayah 41
3.4 Kependudukan 42
3.5 Potensi yang Sudah Ada 42
3.6 Pola Operasional Pengelolaan Sampah 42
3.7 Fasilitas Pengelolaan Sampah 43
3.8 Peran Serta Masyarakat 43

Bab IV Metode Penelitian


4.1 Ide Tugas Akhir 45
4.2 Studi Pustaka 45
4.3 Pengumpulan Data 45
4.4 Penelitian atau Sampling 46
4.5 Pengolahan Data 48
4.6 Tahapan Perencanaan Pengelolaan 49
4.7 Diagram Tahapan Perencanaan 50

ix
Bab V Hasil dan Pembahasan
5.1 Hasil Penelitian 51
5.2 Perhitungan Komposisi Sampah 53
5.3 Reaktor Kompos 54
5.4 Proses Pembuatan Kompos 56
5.5 Pengukuran pH 58
5.6 Pengukuran Suhu 60
5.7 Pengamatan Hubungan Suhu dan pH 61
5.8 Pengukuran Kualitas Kompos 62
5.9 Data Responden 68
5.10 Manajemen Sampah 70
5.11 Pengolahan Data Statistik 76
5.12 Perencanaan Pengelolaan Sampah 83
5.12.1 Teknik Operasional 86
5.12.2 Pemilahan 88
5.12.3 Pewadahan 90
5.12.4 Pengumpulan 95
5.12.5 Tempat Pembuangan Sementara (TPS) 97
5.12.6 Pengangkutan 97
5.12.7 Pengolahan 98
5.13 Implementasi Manajemen Sampah 100

Bab VI Kesimpulan dan Saran


6.1 Kesimpulan 104
6.2 Saran 106

Daftar Pustaka 107


Lampiran

x
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Komponen dan Komposisi Bahan Organik Sampah Kota 2


2.1 Analisis Kimia Kompos 27
2.2 Fungsi Mikroorganisme di Dalam Larutan EM4 36
5.1 Data Hasil Perhitungan Berat, Volume dan Berat Jenis 51
Sampah Organik
5.2 Data Hasil Perhitungan Berat, Volume dan Berat Jenis 52
Sampah Anorganik
5.3 Data Hasil Perhitungan Berat, Volume dan Berat Jenis 52
Sampah non 3R
5.4 Hasil Pengukuran Rata-Rata Komposisi Sampah di 53
Perumahan Dayu Permai
5.5 Perbandingan Pengomposan Aerob dan Anaerob 54
5.6 Hasil Pengukuran pH pada Reaktor Kompos 58
5.7 Hasil Penelitian Perubahan Suhu pada Reaktor Kompos 60
5.8 Hasil Pengukuran Kualitas Kompos 62
5.9 Standar Kualitas Kompos SNI 63
5.10 Perbandingan Kompos Hasil Penelitian dengan SNI dan 63
Produk Kompos di Pasaran
5.11 Descriptive untuk Tingkat Pendidikan dengan Kesadaran 77
untuk Memilah Sampah
5.12 Homogenitas Variansi untuk Tingkat Pendidikan dengan 77
Kesadaran untuk Memilah Sampah
5.13 Analysis of Variance (ANOVA) untuk Nilai Kesadaran 78
untuk Memilah Sampah
5.14 Post Hoc Tests 79
5.15 Descriptive untuk Nilai Tingkat Penghasilan dengan 80
Timbulan Sampah
5.16 Homogenitas Variansi untuk Nilai Tingkat Penghasilan 81
dengan Timbulan Sampah

xi
5.17 Analysis of Variance (ANOVA) untuk Nilai Tingkat 81
Penghasilan dengan Timbulan Sampah
5.18 Post Hoc Tests 83

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema Teknik Operasional Pengelolaan Persampahan 13


3.1 Denah Perumahan Dayu Permai Yogyakarta 44
4.1 Diagram Tahapan Perencanaan 50
5.1 Komposisi Sampah Perumahan Dayu Permai 54
5.2 Reaktor Kompos 55
5.3 Pencacahan Sampah Organik 56
5.4 Effective Microorganism 4 (EM4) 57
5.5 Reaktor Berisi Materi Kompos 57
5.6 Kompos yang Telah Matang 57
5.7 Grafik Hubungan Suhu dan pH 61
5.8 Jumlah Anggota Keluarga Responden 68
5.9 Jumlah Penghasilan Responden per Bulan 69
5.10 Pendidikan Terakhir Responden 70
5.11 Pembuangan Sampah oleh Responden 71
5.12 Pemilahan Sampah Rumah Tangga 72
5.13 Banyaknya Sampah yang Dibuang Setiap Hari 73
5.14 Jenis Sampah yang Sering Dibuang Setiap Hari 74
5.15 Pengetahuan Responden tentang Pemanfaatan Sampah 75
5.16 Peran Serta Responden terhadap Pengelolaan Sampah 76
Terpadu
5.17 Skema Community Based Solidwaste Management 85
5.18 Pola Pengelolaan Sampah Mulai dari Sumber Sampai ke 87
TPA di Perumahan Dayu Permai Yogyakarta
5.19 Neraca Persentase Sampah dari Sumber Sampai ke TPA di 90
Perumahan Dayu
5.20 Keranjang Plastik Rumah 91
5.21 Drum Plastik Pengomposan 93
5.22 Bin Fibre Glass 94
5.23 Gerobak Sampah 96

xiii
5.24 Mobil Pick Up Pengangkut 98

xiv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Perkembangan dan pertumbuhan penduduk yang pesat di daerah perkotaan


mengakibatkan daerah pemukiman semakin luas dan padat. Peningkatan aktivitas
manusia, lebih lanjut menyebabkan bertambahnya sampah. Faktor yang
mempengaruhi jumlah sampah selain aktivitas penduduk antara lain adalah :
jumlah atau kepadatan penduduk, sistem pengelolaan sampah, keadaan geografi,
musim dan waktu, kebiasaan penduduk, teknologi serta tingkat sosial ekonomi.
Penanganan sampah yang selama ini dilakukan belum sampai pada tahap
memikirkan proses daur ulang atau menggunakan ulang sampah tersebut.
Penanganan sampah yang selama ini dilakukan hanya mengangkutnya dari tempat
sampah di permukiman kota dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah
akhir atau membakarnya. Cara seperti ini kurang bisa mengatasi masalah sampah
karena masih dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.
Pencemaran Lingkungan berhubungan erat dengan sampah karena sampah
merupakan sumber pencemaran. Permasalahan sampah timbul karena tidak
seimbangnya produksi sampah dengan pengolahannya dan semakin menurun daya
dukung alam sebagai tempat pembuangan sampah. Di satu pihak, jumlah sampah
terus bertambah dengan laju yang cukup cepat, sedangkan di lain pihak
kemampuan pengolahan sampah masih belum memadai.
Beberapa masalah yang dapat ditimbulkan sampah sebagai berikut :
1. Sampah yang tercecer dan masuk ke dalam selokan akan menyumbat
saluran dan mengakibatkan banjir pada musim hujan. Keadaan seperti ini
sudah sering terjadi di beberapa kota di Indonesia.
2. Peningkatan jumlah sampah akan menimbulkan masalah dalam mencari
tempat pembuangan sampah yang baru. Tempat yang dijadikan lokasi
penimbunan sampah akan menjadi tempat berkembangnya organisme

1
patogen yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Tempat ini juga akan
menjadi sarang hewan liar atau lalat. Padahal, hewan liar ini dapat
mempercepat penyebaran bibit penyakit.
3. Sampah yang terlalu lama ditimbun akan menghasilkan bau yang tidak
enak dan akan mengganggu kesehatan orang yang tinggal di sekitarnya.
Air yang dikeluarkan dari timbunan sampah juga dapat mencemari air
sungai, air sumur, dan air tanah.

Komponen dan komposisi bahan organik sampah kota dapat dilihat dalam
tabel berikut :
Tabel 1.1
Komponen dan Komposisi bahan organik sampah kota
Bahan Organik Komposisi
Serat Kasar (%) 4,1 – 6,0
Lemak (%) 3,0 – 9,0
Abu (%) 4,0 – 20,0
Air (%) 30,0 – 60,0
Amonium (mg/g sampah) 0,5 – 1,14
N organik (mg/g sampah) 4,8 – 14,0
Total nitrogen (mg/g sampah) 4,0 – 17,0
Protein (mg/g sampah) 3,1 – 9,3
Keasaman (pH) 5,0 – 8,0
Sumber : Hadiwiyoto (1983)

Sistem pengelolaan persampahan di daerah perkotaan perlu mendapatkan


perhatian khusus, selain karena pengelolaan sampah didaerah perkotaan sangat
penting karena melihat dari timbulan sampah yang dihasilkan besar (kepadatan
penduduk tinggi) tidak adanya lahan baik sebagai tempat pengolahan dimana
akhirnya menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Persampahan
merupakan masalah yang tidak dapat diabaikan, karena di dalam semua aspek
kehidupan selalu dihasilkan sampah, disamping produk utama yang diperlukan.

2
Sampah akan terus bertambah seiring dengan banyaknya aktifitas manusia yang
disertai semakin besarnya jumlah penduduk di Indonesia.
Pengelolaan sampah meliputi pewadahan, pengumpulan, pemindahan,
pengangkutan, pengolahan dan pembuangan akhir. Sedangkan dalam ilmu
kesehatan lingkungan suatu pengelolaan sampah dianggap baik jika sampah
tersebut tidak menjadi tempat berkembang biaknya bibit penyakit serta sampah
tersebut tidak menjadi medium perantara menyebar luasnya suatu penyakit. Syarat
lainnya yang harus terpenuhi dalam pengelolaan sampah ialah tidak mencemari
udara, air dan tanah, tidak menimbulkan bau (segi estetis), tidak menimbulkan
kebakaran dan lain sebagainya. Sehingga jelas bahwa pentingnya pengelolaan
sampah, karena melihat perkembangan waktu yang senantiasa diiringi dengan
pertambahan penduduk maka otomatis jumlah timbulan sampah semakin
meningkat sementara lahan yang ada tetap. Sehingga jelas bahwa pentingnya
pengelolaan sampah, karena melihat perkembangan waktu yang senantiasa
diiringi dengan pertambahan penduduk maka otomatis jumlah timbulan sampah
semakin meningkat sementara lahan yang ada tetap.
Faktor utama yang akan membedakan jenis dan karakteristik terdapat pada
tingkat sosial budaya ekonomi masyarakat, hal ini terlihat perbedaan yang sangat
besar antara karakteristik, volume dan lain-lain. Sampah antara negara-negara
maju dan berkembang sangat berbeda jauh. Biasanya pada negara maju, sistem
manajemen pengolahan sampah sangat baik tanpa mengalami kesulitan dalam
pengelolaannya. Hal ini di dukung dengan hal-hal berikut ini:
a. Tingkat kesejahteraan nasional yang tinggi dan akan masih terus
bertambah.
b. Sistem perpajakan yang baik sehingga pendanaan untuk sampah teralokasi
pada perpajakan tersebut.
c. Kesejahteraan hidup bersih dan manajemen persampahan yang baik.
d. Partisipasi masyarakat yang baik dalam hal penanganan sampah.

Adapun perbaikan sistem pengelolaan persampahan adalah dengan


menggunakan sistem composting, karena sebagian besar sampah yang dihasilkan

3
berasal dari bahan organik, yaitu dengan pemanfaatan ulang sampah organik
melalui proses pembusukan.
Namun, yang menjadi masalah adalah masyarakat belum mengetahui
proses pengomposan limbah organik secara sederhana dan cepat, kurang
memahami nilai kompos, dan kurang memahami dampak negatif pencemaran
lingkungan. Mungkin faktor ini juga yang membuat masyarakat masih enggan
menggunakan kompos.
Untuk memahami permasalahan tersebut, perlu dilihat beberapa aspek
yang menaungi sistem pengelolaan persampahan tersebut, meliputi :
1. aspek teknis
2. aspek kelembagaan
3. aspek manajemen dan
4. keuangan.

Dengan melakukan peninjuan beberapa aspek diatas, dapat disimpulkan


perlunya suatu rencana tindakan (action plan) yang meliputi:
1. Melakukan pengenalan karekteristik sampah dan metode
pembuangannya.
2. Merencanakan dan menerapkan pengelolaan persampahan secara
terpadu (pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan akhir).
3. Memisahkan peran pengaturan dan pengawasan dari lembaga yang
ada dengan fungís operator pemberi layanan, agar lebih tegas dalam
melaksanakan reward & punishment dalam pelayanan.
4. Menggalakkan program Reduce, Reuse dan Recycle (3 R) agar dapat
tercapai program zero waste pada masa mendatang.
5. Melakukan pembaharuan struktur tarif dengan menerapkan prinsip
pemulihan biaya (full cost recovery) melalui kemungkinan penerapan
tarif progresif, dan mengkaji kemungkinan penerapan struktur tarif
yang berbeda bagi setiap tipe pelanggan.
6. Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang lebih
bersahabat dengan lingkungan dan memberikan nilai tambah ekonomi
bagi bahan buangan.

4
Salah satu alternatif pengolahan sampah adalah memilih sampah organik
dan memprosesnya menjadi kompos atau pupuk hijau. Namun, proses
pengomposan ini juga kadang-kadang masih mengundang masalah. Selama proses
pengomposan, bau busuk akan keluar dari kompos yang belum jadi. Keadaan ini
yang merupakan salah satu penyebab masyarakat enggan membuat kompos.
Mereka lebih senang membuang sampahnya ke sungai karena mereka lebih
praktis, tanpa memperhatikan dampak yang dapat ditimbulkan. Sebenarnya
mengubah sampah menjadi kompos masih jauh lebih baik daripada membuangnya
ke sungai dan akan memberikan nilai ekonomis lebih..

1.2 RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dalam perencanaan pengelolaan sampah antara


lain :
1. Berapa besar volume sampah yang dihasilkan dan bagaimana
karakteristik, komposisi, timbulan berdasarkan sifatnya.
2. Manajemen persampahan yang meliputi sistem pewadahan/pemilahan,
pengumpulan, pengangkutan dan pengolahan yang bagaimanakah yang
paling cocok untuk daerah penelitian.
3. Bagaimanakah partisipasi dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan
sampah.

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Maksud penyusunan Laporan Tugas Akhir ini adalah mengevaluasi dan


merencanakan kembali sistem pegelolaan sampah domestik, meliputi :
1. Untuk mengetahui volume, karakteristik, komposisi, dari timbulan sampah
rata-rata per orang per hari sebagai dasar perencanaan pengelolaan sampah
terpadu.

5
2. Untuk mengetahui dan merencanakan sistem manajemen persampahan
yang meliputi sistem pewadahan/pemilahan, pengumpulan, pengangkutan,
dan pengolahan.
3. Untuk mengetahui partisipasi dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan
sampah.

1.4 BATASAN MASALAH

Batasan-batasan dan ruang dari pelaksanaan perencanaan pengelolaan


sampah adalah sebagai berikut :
1. Daerah yang akan diteliti adalah Perumahan Dayu Permai Yogyakarta.
2. Pengelolaan yang dilakukan adalah pengelolaan dari sumber timbulan
sampah, tempat penampungan sementara dan pembuatan reaktor kompos.
3. Akan diberikan alternatif pengolahan ditempat penampungan sementara
berdasarkan hasil penelitian.
4. Pengelolaan yang akan direncanakan adalah pengelolaan terhadap sampah
yang dihasilkan.
5. Menghitung besaran timbulan sampah dan mengukur volume sampah per
hari.
6. Tidak dilakukan perhitungan biaya yang diperlukan dalam pengelolaan.
7. Jenis sampling yang digunakan adalah metode random sampling.

1.5 MANFAAT

Manfaat dari penyusunan laporan Tugas Akhir ini adalah :


1. Dapat mengetahui dan merencanakan tempat sampah/bak sampah serta
bahan yang digunakan.
2. Memberikan pengetahuan mengenai pengelolaan persampahan.
3. Secara umum penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi peneliti yang
berminat untuk mengkaji lebih lanjut tentang pengelolaan persampahan.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN SAMPAH

Sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri atas zat organik dan zat
anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak
membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan. Sampah
umumnya dalam bentuk sisa makanan (sampah dapur), daun-daunan, ranting
pohon, kertas/karton, plastik, kain bekas, kaleng-kaleng, debu sisa penyapuan, dsb
(SNI 19-2454-1991).
Sampah adalah istilah umum yang sering digunakan untuk menyatakan
limbah padat. Sampah adalah sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuan-
perlakuan, baik karena telah sudah diambil bagian utamanya, atau karena
pengolahan, atau karena sudah tidak ada menfaatnya yang ditinjau dari segi sosial
ekonomis tidak ada harganya dan dari segi lingkungan dapat menyebabkan
pencemaran atau gangguan terhadap lingkungan hidup (Hadiwiyoto, 1983).
Sampah adalah limbah yang berbentuk padat dan juga setengah padat, dari
bahan organik dan atau anorganik, baik benda logam maupun benda bukan logam,
yang dapat terbakar dan yang tidak dapat terbakar. Bentuk fisik benda-benda
tersebut dapat berubah menurut cara pengangkutannya atau cara pengolahannya
(Anonim,1986).
Sampah padat adalah semua barang sisa yang ditimbulkan dari aktivitas
manusia dan binatang yang secara normal padat dan dibuang ketika tak
dikehendaki atau sia-sia (Tchobanoglous, 1993).

2.2 SUMBER SAMPAH

Menurut Anonim (1986), sumber sampah antara lain :


a. Sampah pasar, tempat-tempat komersil.

7
Terdiri dari berbagai macam dan jenis sampah seperti sisa sayuran, daun
bekas bungkus, sisa makanan dan sebagainya. Ciri-ciri sampahnya
biasanya mempunyai berbagai macam dan jenis sampah, yang masing-
masing volumenya hampir sama.
b. Sampah pabrik atau industri.
Benda-benda sisa atau bekas dari proses industri, atau merupakan ampas-
ampas dari pengolahan bahan baku.misalnya pabrik gula tebu akan
membuang ampas tebu. Ciri-cirinya tidak banyak macam dan jenisnya,
menonjol jumlahnya pada beberapa jenis saja. Sampah ini berasal dari
keseluruhan kegiatan proses produksi (bahan-bahan kimia
serpihan/potongan bahan), perlakuan dan pengemasan produk (kertas,
kayu, plastik, kain/lap yang jenuh dengan pelarut untuk pembersihan).
Sampah industri berupa bahan kimia yang seringkali beracun memerlukan
perlakuan khusus sebelum dibuang.
c. Sampah rumah tinggal, kantor, institusi, gedung umum dan lainnya serta
pekarangan.
Umumnya sampah rumah tangga berupa sisa pengolahan makanan,
perlengkapan rumah tangga bekas, kertas, kardus, gelas, kain, sampah
kebun/halaman dan lain-lain. Karakteristiknya hampir sama dengan
sampah dari pasar, kecuali ada sampah dari pengurasan septic tank.
d. Sampah kandang hewan dan pemotongan hewan.
Terdiri dari sisa-sisa makanan hewan dan kotorannya, sisa-sisa daging dan
tulang-tulangnya.
e. Sampah jalan, lapangan dan pertamanan.
Sampah ini terdiri dari pengotoran oleh pelewat jalanan atau pemakai
jalan, pemakai lapangan dan pertamanan, pemotong rumput, reruntuhan
bunga dan buah.
f. Sampah selokan, riol dan septic tank.
Terdiri dari endapan-endapan dan benda-benda yang hanyut sebagai
penyebab tersumbatnya selokan selokan riol. Isi septic tank merupakan
lumpur tinja yang biasanya diambil dan diangkut dengan mobil tangki
tinja yang dilengkapi dengan pompa hisap.

8
2.3 JENIS SAMPAH

Berdasarkan jenis sampah pada prinsipnya dibagi 3 bagian besar, yaitu :


a. Sampah padat.
b. Sampah cair.
c. Sampah dalam bentuk gas.

Sampah pada umumnya dibagi 2 jenis, yaitu :


1. Sampah organik : yaitu sampah yang mengandung senyawa-senyawa
organik, karena itu tersusun dari unsur-unsur seperti C, H, O, N, dll,
(umumnya sampah organik dapat terurai secara alami oleh
mikroorganisme, contohnya sisa makanan, karton, kain, karet, kulit,
sampah halaman).
2. Sampah anorganik : sampah yang bahan kandungan non organik,
umumnya sampah ini sangat sulit terurai oleh mikroorganisme. Contohnya
kaca, kaleng, alumunium, debu, logam-logam lain (Hadiwiyoto, 1983).

2.4 KARAKTERISTIK SAMPAH

Menurut Anonim (1986) karakteristik sampah adalah sebagai berikut :


a. Garbage, yakni jenis sampah yang terdiri dari sisa-sisa potongan hewan
atau sayuran hasil pengolahan dari dapur rumah tangga, hotel, restoran,
semuanya mudah membusuk.
b. Rubbish, yakni pengolahan yang tidak mudah membusuk. Pertama yang
mudah terbakar, seperti kertas, kayu dan sobekan kain. Kedua yang tidak
mudah terbakar, misalnya kaleng, kaca dan lain-lain.
c. Ashes, yakni semua jenis abu dari hasil pembakaran baik dari rumah
maupun industri.
d. Street sweeping, yakni sampah dari hasil pembersihan jalanan, seperti
halnya kertas, kotoran, daun-daunan dan lain-lain.

9
e. Dead animal, yakni bangkai binatang yang mati karena alam, kecelakaan
maupun penyakit.
f. Abandoned vehicle, yakni bangkai kendaraan, seperti sepeda, motor,
becak, dan lain-lain.
g. Sampah khusus, yakni sampah yang memerlukan penanganan khusus,
misalnya kaleng-kaleng cat, zat radioaktif, sampah pembasmi serangga,
obat-obatan dan lain-lain.

2.5 KOMPOSISI SAMPAH

Komposisi sampah adalah komponen fisik sampah seperti sisa-sisa


makanan, kertas, karbon, kayu, kain tekstil, karet kulit, plastik, logam besi-non
besi, kaca dan lain-lain (misalnya tanah, pasir, batu, dan keramik).
Menurut Tchobanoglous dkk. (1993) komponen sampah-sampah terdiri
dari :
1. Organik :
a. Sisa makanan. e. Karet .
b. Kertas. f. Kain
c. Karbon. g. Kulit
d. Plastik h. Kayu

2. Anorganik :
a. Kaca.
b. Alumunium.
c. Kaleng.
d. Logam.
e. Abu, debu

2.6 TIMBULAN SAMPAH

Kuantitas sampah yang dihasilkan suatu kota sangat tergantung dari


jumlah penduduk dan aktifitas masyarakat yang ada di daerah tersebut. Kuantitas

10
sampah dari pasar atau pertokoan tergantung dari luas bangunan dan jenis
komoditi yang dijual oleh pasar tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Pemukiman yang
bekerjasama dengan LPPM ITB pada tahun 1989, didapatkan laju timbulan
sampah seperti tercantum dibawah ini, laju timbulan sampah kota diekivalensikan
menjadi L/org/hari (perhitungan dilakukan pada sumber sampah).
Menurut SNI 19-3964-1994, bila pengamatan lapangan belum tersedia,
maka untuk menghitung besaran, sistem, dapat digunakan angka timbulan sampah
sebagai berikut :
a. Satuan timbulan sampah pada kota besar : 2 – 2,5 L/org/hari atau 0,4 – 0,5
kg/org/hari.
b. Satuan timbulan sampah pada kota sedang/kecil : 1,5 – 2 L/org/hari atau
0,3 – 0,4 kg/org/hari.

2.7 PENGOLAHAN SAMPAH

Pengolahan sampah adalah suatu upaya untuk mengurangi volume sampah


atau merubah bentuk menjadi lebih bermanfaat, antara lain dengan cara
pembakaran, pengomposan, penghancuran, pengeringan dan pendaur ulangan.
(SNI T-13-1990-F).
Adapun teknik pengolahan sampah adalah sebagai berikut :
1. Pengomposan (Composting).
Adalah suatu cara pengolahan sampah organik dengan memanfaatkan
aktifitas bakteri untuk mengubah sampah menjadi kompos (proses
pematangan).
2. Pembakaran sampah.
Pembakaran sampah dapat dilakukan pada suatu tempat, misalnya
lapangan yang jauh dari segala kegiatan agar tidak mengganggu. Namun
demikian pembakaran ini sulit dikendalikan bila terdapat angin kencang,
sampah, arang sampah, abu, debu, dan asap akan terbawa ketempat-tempat
sekitarnya yang akhirnya akan menimbulkan gangguan. Pembakaran yang
paling baik dilakukan disuatu instalasi pembakaran, yaitu dengan

11
menggunakan insinerator, namun pembakaran menggunakan insinerator
memerlukan biaya yang mahal.
3. Recycling.
Merupakan salah satu teknik pengolahan sampah, dimana dilakukan
pemisahan atas benda-benda bernilai ekonomi seperti : kertas, plastik,
karet, dan lain-lain dari sampah yang kemudian diolah sedemikian rupa
sehingga dapat digunaklan kembali baik dalam bentuk yang sama atau
berbeda dari bentuk semula.
4. Reuse.
Merupakan teknik pengolahan sampah yang hampir sama dengan
recycling, bedanya reuse langsung digunakan tanpa ada pengolahan
terlebih dahulu.
5. Reduce.
Adalah usaha untuk mengurangi potensi timbulan sampah, misalnya tidak
menggunakan bungkus kantong plastik yang berlebihan.

Pengomposan merupakan teknik pengolahan sampah organik yang


biodegradable, sampah tersebut dapat diurai oleh mikroorganisme atau cacing
(vermicomposting) sehingga terjadi proses pembusukan, kompos yang dihasilkan
sangat baik untuk memperbaiki struktur tanah, karena kandungan unsur hara dan
kemampuannya menahan air. Pengomposan dengan menggunakan system agitasi
dapat mempercepat proses pengomposan awal daripada sistem statis dan dalam
proses metro waste diperlukan waktu kurang lebih 7 hari, cara pengomposannya
yaitu dengan memberikan agitasi periodik dengan diputar. Proses pengomposan
secara agitasi dapat dilakukan secara aerobik dananaerobik, tetapi pengomposan
secara aerobic lebih banyak dilakukan karena tidak menimbulkan bau, waktu
pengomposan cepat, menghasilkan temperatur tinggi, serta kompos yang
dihasilkan lebih higienis. Proses stabilisasi pada komposting secara aerobik dapat
digambarkan sebagai berikut: Mikroorganisme yang bekerja pada proses
pengomposan dibedakan atas dua kelompok, yaitu kelompok Mesophilic
(mikroorganisme yang hidup pada temperatur 23°-45° C, seperti: jamur,
Actinomycetes, cacing tanah, cacing kremi, keong kecil, semut, kumbang tanah)

12
dan Thermopilic (mikroorganisme yang hidup pada temperatur 45°-65° C, seperti:
cacing pita, Protozoa, Rotifera, kutu jamur).(Damanhuri, 2004).

2.7.1 SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

Pengelolaan sampah adalah suatu bidang yang berhubungan dengan


pengendalian bagaimana sampah dihasilkan, penyimpanan, pengumpulan,
pengangkutan, pengolahan dan pembuangan sampah yangmenggunakan suatu
cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip pewadahan, pengumpulan, TPS. Bila
salah satu kegiatan tersebut terputus atau tidak tertangani dengan baik, maka akan
menimbulkan masalah kesehatan, banjir/genangan, pencemaran air tanah, dan
estetika.
Skema teknik operasional pengelolaan persampahan dapat dilihat pada
gambar 2.1 dibawah ini :

TIMBUNAN SAMPAH

PEWADAHAN PEMILAHAN

PENGUMPULAN

PENGANGKUTAN PENGOLAHAN

TPA

Gambar 2.1
Skema Teknik Operasional Pengelolaan Persampahan

13
2.7.2 PENYIMPANAN/PEWADAHAN SAMPAH

Penyimpanan/pewadahan sampah adalah tempat sampah sementara,


sebelum sampah tersebut terkumpul, untuk kemudian diangkat serta dibuang
(dimusnahkan). Jelaslah untuk ini perlu disediakan suatu tempat sampah, yang
lazimnya ditemui di rumah tangga, kantor, restoran, hotel, dan lain sebagainya.
Penyimpanan sampah yang bersifat sementara ini sebaiknya disediakan
tempat sampah yang berbeda untuk macam atau jenis sampah tertentu. Idealnya
sampah basah hendaknya dikumpulkan dengan sampah basah, demikian pula
sampah kering, sampah yang mudah terbakar, sampah yang tidak mudah terbakar
dan lain sebagainya hendaknya ditempatkan secara terpisah (Anonim, 1995).
Dalam pewadahannya sampah umumnya dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Individual : dimana disetiap sumber timbulan sampah terdapat tempat
sampah. Misalnya didepan setiap rumah dan pertokoan.
b. Komunal : yaitu timbulan sampah dikumpulkan pada suatu tempat
sebelum sampah tersebut diangkut ke TPA. Metode yang digunakan dalam
pengumpulan sampah secara komunal biasanya, yaitu :
1. Depo sampah, biasanya dipergunakan untuk menampung sampah dari
perumahan padat. Depo dibuat dari pasangan bata/batu dengan volume
antara 12 – 25 m3, atau ekivalen dengan pelayanan terhadap 10 ribu
jiwa. Jarak maksimum untuk mendapatkan depo adalah 150 m.
2. Bak dengan pintu tertutup, pewadahan komunal yang paling umum.
Biasanya terbuat dari kayu atau bata atau beton dengan pintu.
Kapasitas antara 1 -10 m3. Untuk bak dengan kapasitas 2 m3 mampu
melayani 2 ribu orang. Biasanya ditempatkan di pinggir jalan besar
atau ditempat terbuka.
3. Bak sampah tetap, biasanya pewadahan ini terbuat dari balok beton,
perbedaan jenis ini dengan bak pintu penutup adalah tidak adanya
pintu pembuangan. Kapasitas biasanya tidak lebih dari 2 m3.
4. Bak dari bis beton, biasanya digunakan didaerah dengan kepadatan
relatif rendah, ukuran relatif kecil dan relatif murah. Ukuran yang
biasa digunakan adalah diameter 1 m.

14
5. Drum 200 liter, pemanfaatan dari bekas drum minyak atau
semacamnya. Bagian dalam drum di cat dengan bitumen. Untuk jenis
ini pengambilan dilakukan setiap hari.
6. Bin baja yang mudah diangkat, biasanya dipergunakan di daerah
pemukiman kalangan atas, bin digalvanis dengan kapasitas 100 liter
untuk 10 keluarga.

2.7.3 PENGUMPULAN SAMPAH

Pengumpulan sampah adalah proses penanganan sampah dengan cara


pengumpulan dari masing-masing sumber sampah untuk diangkut ke (1) tempat
pembuangan sampah sementara, atau ke (2) pengolahan sampah skala kawasan,
atau (3) langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pemindahan
(Damanhuri, 2004).
Cara pengambilan sampah dari wadah umumnya dilakukan secara :
a. Langsung : kendaraan pengangkut mengambil sampah dan langsung di
bawa ke tempat pengolahan.
b. Tidak langsung : sampah diangkut dari wadahnya dengan gerobak
pengangkutan sampah atau sejenisnya untuk terlebih dahulu dikumpulkan
dan kemudian diambil oleh kendaraan pengangkut.

Faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan juga adalah jarak antara tempat-
tempat pengumpulan sementara. Jarak tersebut akan menentukan cara apa yang
akan digunakan, apakah menggunakan kendaraan bermotor, gerobak, atau tenaga
manusia.

2.7.4 PENGANGKUTAN SAMPAH

Pengangkutan sampah adalah proses memindahkan sampah dari suatu


tempat atau berbagai tempat ke suatu lokasi pengumpulan sampah tersebut
(Anonim, 1986).

15
Operasi pengangkutan yang ekonomis ditentukan oleh beberapa faktor,
antara lain :
a. Dipilih rute yang sependek-pendeknya dan sedikit hambatan.
b. Mempergunakan truck yang kapasitas daya angkutan maksimal yang
memungkinkan.
c. Mempergunakan kendaraan yang hemat bahan bakar.
d. Jumlah trip pengangkutan sebanyak mungkin dalam waktu yang di
izinkan.

Jenis peralatan pengangkutan sampah adalah sebagai berikut :


a. Truck biasa.
a). Harga lebih murah dan peralatan relatif murah.
b). Waktu operasi agak lama dan estetika kurang.
b. Dump truck.
a). Tidak banyak memerlukan tenaga terutama waktu penurunan, efektif
dan efisien.
b). Harga masih mahal, peralatan masih agak mahal.
c. Truck container.
a). Praktis dalam operasional, lebih bersih, sehat dan tidak banyak
memerlukan tenaga operasional.
b). Harga dan biaya operasional mahal.
c). Dioperasionalkan pada jalan-jalan yang cukup besar.

Persyaratan untuk kendaraan pengangkutan sampah adalah :


a. Sampah harus tertutup selama pengangkutan, minimal ditutup dengan
jaring.
b. Tinggi bak maksimum 1,6 m.
c. Sebaiknya ada alat ungkit.
d. Disesuaikan dengan kondisi jalan yang akan dilalui.

16
2.8 STANDARISASI PENGELOLAAN SAMPAH

Standar yang berhubungan dengan pengelolaan persampahan telah


diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum dan Badan Standarisasi Nasional
yaitu :
1. SK-SNI. S-04-1991-03, tentang Spesifikasi Timbulan Sampah untuk kota
kecil dan kota sedang di Indonesia, standar ini mengatur tentang jenis
sumber sampah, besaran timbulan sampah berdasarkan komponen sumber
sampah serta timbulan sampah berdasarkan klasifikasi kota.

2. SNI 19-2454-1991, tentang Tata Cara Pengolahan Teknik Sampah


Perkotaan.
Standar ini mengatur tentang Persyaratan Teknis yang meliputi :
a. Teknik operasional.
b. Daerah pelayanan.
c. Tingkat pelayanan.
d. Pewadahan sampah.
e. Pengumpulan sampah.
f. Pemindahan sampah.
g. Pengangkutan sampah.
h. Pengolahan.
i. Pembuangan akhir.

Kriteria penentuan kualitas operasional pelayanan adalah :


1. Penggunaan jenis peralatan.
2. Sampah terisolasi dari lingkungan.
3. Frekuensi pelayanan.
4. Frekuensi penyapuan.
5. Estetika.
6. Tipe kota.
7. Variasi daerah pelayanan.
8. Pendapatan dari retribusi.
9. Timbulan sampah musiman.

17
3. SNI 03-3241-1994, tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat
Pembuangan Akhir Sampah. Standar ini mengatur tentang ketentuan
pemilihan lokasi TPA, kriteria pemilihan lokasi yang meliputi kriteria
reional dan kriteria penyisih.

4. SNI 19-3964-1994, tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh


Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan. Standar ini mengatur tentang
tentang tata cara pengambilan dan pengukuran contoh timbulan sampah
yang meliputi lokasi, cara, pengambilan, jumlah contoh, frekuensi
pengambilan, serta pengambilan dan perhitungan.

2.9 EFEK SAMPING TERHADAP MANUSIA DAN KESEHATAN

A. Dampak Terhadap Kesehatan.


Lokasi dan pengolahan sampah yang kurang memadai (pembuangan
sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa
organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat
menjangkitkan peyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah
sebagai berikut :
a. Penyakit jamur yang dapat menyebar (misalnya jamur kulit).
b. Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang
berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air
minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga
meningkat dengan sepat didaerah yang pengelolaan sampahnya kurang
memadai.
c. Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu
contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita
(taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernaan binatang
ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.
d. Sampah beracun, telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40.000 orang
meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminansi oleh

18
raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut oleh
pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.

B. Dampak Terhadap Lingkungan.


a. Lindi (leachate) yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan
mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga
beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya
ekosistem perairan biologis.
b. Selain mencemari air permukaan, lindi juga berpotensi mencemari air
dalam tanah.
c. Sampah yang dibuang ke saluran drainase atau sungai akan menyumbat
atau menghambat aliran air.
d. Sampah yang kering menjadi relatif lebih mudah terbakar. Hal ini dapat
menimbulkan bahaya kebakaran.

C. Dampak Terhadap Keadaan Sosial dan Ekonomi.


a. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang
kurang menyenangkan bagi masyarakat. Bau yang tidak sedap dan
pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana-mana.
b. Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan.
c. Pengelolaan dampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat
kesehatan masyarakat. Hal penting disini adalah meningkatnya
pembiayaan secara langsung (untuk mengobati orang sakit) dan
pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja, rendahnya
produktifitas).
d. Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan
akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan,
jembatan, drainase dan lain-lain.
e. Infrastruktur lain dapat juga dipengarui oleh pengelolaan sampah yang
tidak memadai, seperti tingginya biaya yangdiperlukan untuk pengelolaan
air. Jika sarana penampugan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan

19
cenderung membuang sampah dijalan. Hal ini mengakibatkan jalan perlu
lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.

2.10 KOMPOS

Ada beberapa pengertian kompos dan pengomposan yang dijadikan dasar


teori dalam penelitian ini :
1. Pengomposan adalah suatu cara untuk menghancurkan sampah secara
biologis menjadi pupuk alami sehingga dapat mengembalikan sampah ke
tanah dimana telah terdegradasi oleh mikroorganisme pengurai dan
hasilnya tidak berbahaya bagi lingkungan (Polprasert,1989).
2. Kompos adalah bentuk akhir dari bahan bahan organik setelah mengalami
pembusukan, dekomposisi melalui proses biologis yang dapat berlangsung
secara aerobik dan anaerobik (Anonim, 2001).
3. Kompos adalah sejenis pupuk kandang dimana kandungan unsur N, P, dan
K tidak terlalu besar sehingga berbeda dengan pupuk buatan seperti Fe, B,
Ca, Mg dan lainnya dalam kompos relatif besar (Anonim, 2001).
4. Pengomposan adalah dekomposisi dan stabilisasi substrat organik dalam
kondisi yang diikuti kenaikan suhu termofilik sebagai akibat dari panas
yang dihasilkan, dengan hasil akhir yang cukup stabil untuk penyimpanan
dan pemakaian pada tanah tanpa memberi efek merugikan pada
lingkungan (Polprasert, 1989).

2.10.1 PRINSIP PENGOMPOSAN

Nilai C/N tanah sekitar 10-12 apabila bahan organik mempunyai


kandungan C/N mendekati tanah maka bahan tersebut dapat digunakan atau
diserap oleh tanaman, (Djuarnani, 2004). Prinsip pengomposan adalah
menurunkan C/N rasio bahan organik dengan demikian semakin tinggi C/N bahan
maka proses pengomposan akan semakin lama. Faktor – faktor yang
menyebabkanya adalah :

20
1. Rasio C/N
C (karbon) merupakan sumber energi bagi mikroorganisme, sedangkan N
(nitrogen) digunakan untuk membangun sel-sel tubuh bagi mikroorganisme. Jika
rasio C/N terlalu tinggi dekomposisi berjalan lambat. Jika rasio C/N rendah
meskipun pada awalnya terjadi dekomposisi yang sangat cepat, tetapi
berikutnyakecepatannya akan menurun karena kekurangan karbon sebagai sumber
energi dan itrogen akan hilang melalui penguapan ammonia.
Dalam melakukan dekomposisi bahan organik mikroorganisme
memerlukan sejumlah nitrogen dan karbon untuk pertumbuhannya, jumlah
optimal nitrogen yang dibutuhkan mikroorganisme bervariasi sesuai dengan jenis
substrat dan mikroorganisme itu sendiri. Besarnya perbandingan C/N optimum
untuk pengomposan adalah 22-35. Sedangkan rasio C/N yang disarankan pada
awal pengomposan adalah 20-40.

2. Ukuran Bahan
Ukuran bahan yang baik adalah 2,5-5 cm. Sedngkan untuk bahan yang
keras sebaiknya dicacah dengan ukuran 2,5-7,5 cm. Ukuran bahan sangat
menentukan ukuran dan volume pori – pori dalam bahan jika ukuran partikel
bertambah kecil, maka pori-pori semakin kecil. Pori-pori yang kecil dapat
menghambat pergerakan udara yang biasanya merupakan masalah dalam proses
pengomposan. Ukuran partikel yang semakin kecil menyababkan luas permukaan
bahan semakin luas sehingga makin luas pula permukaan yang terbuka terhadap
aktivitas mikroorganisme.

3. Tinggi Tumpukan
Dalam tumpukan mikroorganisme melakukan aktivitas yang menimbulkan
energi dalam bentuk panas. Sebagian panas akan tersimpan dalam tumpukan dan
sebagian lainnya digunakan untuk proses penguapan atau terlepas ke lingkungan
sekitar. Semakin besar tumpukan, semakin besar tumpukan, semakin tinggi daya
isolasinya sehingga panasyang dihasilkan dalam tumpukan semakain sulit terlepas
dan suhu tumpukan menjadi lebih panas, tumpukan bahan yang terlalu rendah
akan membuat bahan lebih cepat kehilangan panas sehingga temperatur yang

21
lebih tinggi tidak bisa dicapai. Selain itu, mikroorganisme patogen tidak akan mati
dan proses dekomposisi oleh mikroorgsnisme termofilik tidak akan tercapai.
Ketinggian tumpikan yang baik dari berbagai jenis bahan adalah 1-1,2 m, dan
tinggi maksium 1,5-1,8 m.

4. Komposisi Bahan
Seringkali untuk mempercepat dekomposisi ditambahkan kompos yang
sudah jadi atau kotoran hewan sebagai aktivitas, ada juga yang menambahkan
bahan makanan dan zat pertumbuhan yang dibutuhkan mikroorganisme sehingga
selain dari bahan organik mikroorganisme juga mendapatkan bahan tersebut dari
luar.

5. Jasad-Jasad Pembusuk
Proses pengomposan tergantung pada berbagai jasad renik. Nerdasarkan
kondisi habitatnya (terutama suhu), jasad renik terdiri dari 2 golongan yaitu
mesofilia dan thermofilia, masing-masing jenis membentuk koloni atau habitatnya
sendiri. Jasad renik golongan mesofilia hidup padasuhu 100-450 C, contoh
mikroorganisme tersebut adalah jamur jamuran, actinomycetes, cacing tanah,
cacing kremi, keong kecil, lipan, semut, dan kumbang tanah. Jasad renik
thermofilia hidup pada suhu 450-650 C, contohnya cacing pita (hematoda),
protozoa (binatang bersel satu), rotifera, kutu jamur dan sebagainya dilihat dari
fungsinya, mikroorganisme mesofilik berfungsi untuk memperkecil ukuran
partikel bahan organik sehingga luas permukaan bahan bertambah dan
mempercepat proses pengomposan. Sementara itu, bakteri termofilik yang tumbuh
dalam waktu terbatas berfungsi untuk mengkonsumsi karbohidrat dan protein
sehingga bahan kompos dapat terdegradasi dengan cepat.

6. Kelembaban dan Oksigen


Kelembapan yang ideal antara 40 %- 60 % dengan tingkat yang terbaik
adalah 50 %, kisaran ini harus dipertahankan untuk memperoleh jumlah popilasi
jasad renik yang terbesar. Karena semakin besar jumlah populasi jasad pembusuk,
berarti semakin cepat proses pembusukan.

22
Jika tumpukan terlalu lembab maka proses pengomposan akan terhambat.
Kelebihan akan menutupi rongga udara di dalam tumpukan, sehingga akan
membatasi kadar oksigen dalam tumpukan tersebut. Kekurangan udara akan
membatasi kadar oksigen dalam tumpukan tersebut. Kekurangan udara akan
meyebabkan jasad renik mati dan sebaliknya merangsang berkembang-biaknya
jasad pembusukan yang anaerobik. Sebaliknya jika bahan organik tersebut terlalu
kering maka proses pengomposan akan terganggu. Jasad renik membutuhkan air
sebagai habitatnya, sehigga kurangnya kadar air dalam tumpukan akan membatasi
ruang hidup jasad renik tersebut. Kadar air antara 505-705 dan rata-rata 605
sangat cocok untuk proses pengomposan harus dijaga selama periode reaksi aktif,
yaitu fase mesofilik dan thermofilik.
Persyaratan konsentrasi optimum dari oksigen di dalam messa kompos
antara 5-15 % volume. Peningkatan kandungan oksigen melewati 15 %misalnya
akibat pengaliran udara yang terlalu cepat atau terlalu sering dibalik akan
menurunkan temperatur dari sistem. Setidaknya diperlukan kandungan oksigen >5
% untuk menjaga kestabilan kondidi aerobik, meskipun pada kondisi konsentrasi
oksigen didalam tumpukan yang hanya ~0,5 % tidak didapati adanya kondisi
anaerobik.

7. Derajat keasaman (pH)


Kondisi pH optimum pertumbuhan bakteri pada umumnya adalah antara
6.0-7.5 dan 5.5-8.0 untuk fungi. Selama proses dan dalam tumpukan umumnya
kondisi pH bervariasi dan akan terkontrol dengan sendirinya. Kondisi pH awal
yang relatif tinggi, misalnya akibat penggunaan CaO pada sludge, akan
melarutkan nitrogen dalam kompos dan selanjutnya akan diemisikan sebagai
ammoniak. Tidaklah mudah untuk mengatir kondisi pH dalam tumpukan massa
kompos untuk pencapaian pertumbuhan biologis yang optimum, dan untuk itu
juga belum ditemukan kontrol operasional yang efektif.
Seperti faktor lainnya, pH perlu dikontrol selama proses pengomposan
berlangsung. Jika pH terlalu tinggi atau terlalu basa, konsumsi oksigen akan naik
dan akan memberikan hasil yang buruk bagi lingkungan. pH yang terlalu tinggi
juga akan menyebabkan unsurnitrogen dalam bahan kompos akan berubah

23
menjadi amonia, sebaliknya dalam keadaan pH rendah akan menyebabkan
sebagian mikroorganisme mati. pH yang terlalu tinggi dapat dituruunkan dengan
penambahan kotoran hewan, urea atau pupuk nitrogen, jika pH rendah bisa
ditingkatkan dengan menambahkan kapur atau abu dapur kedalam bahan kompos.

8. Suhu
Untuk tumpukan kisaran ideal adalah 550-650, tetapi harus <800 dengan
suhu minimum 450 selama proses pengomposan. Kondisi temperatur tersebut juga
diperlukan untuk peroses inaktivasi dari bakteri pathogen didalam sludge (jika
ada). Moisture content, kecepatan aerasi, ukuran dan bentuk tumpukan, kondisi
lingkungan sekitar dan kandungan nutrisi sangat mempengarui distribusi
temperatur dalam tumpukan kompos. Sebagai contoh, kecenderungan temperatur
akan lebih rendah jika kondisi kelembapan berlebih karena panas yang dihasilkan
akan digunakan untuk proses penguapan. Sebaliknya kondisi kelembapan yang
rendah akan menurunkan aktivitas mikroba dan menurunkan kecepatan
pembentukan panas.

2.10.2 MANFAAT KOMPOS

Kompos mempunyai beberapa manfaat penting terutama dalam bidang


pertanian :
a. Meningkatkan kondisi kehidupan dalam tanah.
Organisme dalam tanah memanfaatkan bahan organik sebagai nutriennya
sedangkan berbagai organisme tersebut mempunyai fungsi penting bagi
tanah.
b. Mengandung nitrogen bagi tumbuhan.
Nutrien dalam tanah hanya sebagian yang dapat diserap oleh tumbuhan,
bagian yang penting kadang kala bahwa tersedia sesudah bahan organik
terurai.
c. Meningkatkan daya serap tanah terhadap air.
Bahan organik mempunyai daya absorbsi yang besar terhadap tanah,
karena itu kompos memberikan pengaruh positif pada musim kering.

24
d. Memperbaiki struktur tanah.
Pada waktu terjadi penguraian bahan organik dalam tanah, terbentuk
produk yang mempunyai sifat sebagai perekat, dan kemudian mengikat
butiran pasir menjadi butiran yang lebih besar.
e. Meningkatkan kesuburan tanah.
Suatu kondisi yang sangat penting bagi pertumbuhan dan kesehatan
tanaman adalah persediaan unsur hara yang memadai dan seimbang secara
tepat waktu yang bisa diserap oleh akar tanaman. Produksi tanaman dapat
terhalang jika unsur hara yang terkandung di dalam tanah kurang atau
tidak seimbang, terutama di daerah yang kadar unsur haranya buruk atau
tanahnya terlalu asam atau basa.
Upaya yang dapat dilakukan untuk membatasi hilangnya unsur hara dan
mengembalikan kesuburan tanah adalah dengan mendaur ulang limbah
organik, seperti limbah dari kandang peternakan, kotoran manusia, sisa
tanaman, atau sisa pengolahan tanaman menjadi kompos. Dengan
memanfaatkan pupuk organik, unsur hara dalam tanah bisa diperbaiki atau
ditingkatkan. Sehingga, kehilangan unsur hara akibat terbawa air hujan
atau menguap ke udara dapat ditekan (Djuarnani, 2004).
f. Mengurangi pencemaran lingkungan.
Pencemaran lingkungan erat hubungannya dengan sampah karena sampah
merupakan sumber pencemaran. Permasalahan sampah timbul karena
tidak seimbangnya produksi sampah dengan pengolahannya dan semakin
menurun daya dukung alam sebagai tempat pembuangan sampah. Salah
satu alternatif pengolahan sampah adalah memilih sampah organik dan
memprosesnya menjadi kompos atau pupuk hijau. Namun, proses
pengomposan ini juga terkadang masih bermasalah. Selama proses
pengomposan, bau busuk akan keluar dari kompos yang belum jadi.
Meskipun demikian pembuatan kompos akan lebih baik dan berguna bagi
tanaman (Djuarnani, 2004).
g. Mempengaruhi sifat fisik tanah.
Warna tanah dari cerah akan berubah menjadi kelam. Hal ini akan
berpengaruh baik pada sifat fisik tanah, karena bahan organik membuat

25
tanah menjadi gembur dan lepas. Lepas sehingga aerasi dan agregat tanah
menjadi lebih baik serta lebih mudah di tembus perakaran tanaman. Pada
tanah yang bertekstur pasiran, bahan organik akan meningkatkan
pengikatan antar partikel dan meningkatkan kapasitas mengikat air.
h. Mempengaruhi sifat kimia tanah.
Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan ketersediaan hara meningkat dengan
penggunaan bahan organik. Asam yang dikandung humus akan membantu
meningkatkan proses pelapukan bahan mineral.
i. Mempengaruhi sifat biologi tanah.
Bahan organik akan menambah energi yang diperlukan kehidupan
mikroorganisme tanah. Tanah yang kaya bahan organik akan mempercepat
perbanyakan fungsi, bakteri, mikro flora dan mikro fauna tanah lainnya.
j. Mempengaruhi kondisi sosial.
Daur ulang limbah perkotaan maupun pemukiman akan mengurangi
dampak pencemaran dan meningkatkan penyediaan pupuk organik.
Meningkatkan lapangan kerja melalui daur ulang yang menghasilkan
pupuk organik sehingga akan meningkatkan pendapatan.
k. Menyediakan unsur hara mikro bagi tanaman.
l. Menggemburkan tanah.
m. Mempebaiki porositas, aerasi, dan komposisi mikroorganisme tanah.
n. Meningkatkan daya ikat tanah terhadap air.
o. Memudahkan pertumbuhan akar tanaman.
p. Menyimpan air tanah lebih lama.
q. Mencegah lapisan kering pada tanah.
r. Mencegah beberapa penyakit akar.
s. Menghemat pemakaian pupuk kimia dan atau pupuk buatan.
t. Meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk kimia.
u. Menjadi salah satu alternatif pengganti (substansi) pupuk kimia karena
harganya lebih murah, berkualitas dan akrab lingkungan.
v. Bersifat multiguna karena bisa dimanfaatkan untuk bahan dasar pupuk
organik yang diperkaya dengan mineral, inokulum bakteri.

26
Unsur hara yang dibutuhkan tanaman dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu :
A. Unsur hara makro.
a. Unsur hara makro primer.
1. Nitrogen (N).
2. Fosfor (P).
3. Kalium (K).
b. Unsur hara makro sekunder.
1. Kalsium (Ca).
2. Magnesium (Mg).
3. Belerang (S).
B. Unsur hara mikro.
1. Besi (Fe).
2. Mangan (Mn).
3. Tembaga (Cu).
4. Seng (Zn).

Komponen kompos yang paling berpengaruh terhadap sifat kimiawi tanah


adalah kadungan humusnya. Humus dalam kompos mengandung unsur hara yang
dibutuhkan tanaman. Humus yang menjadi asam humat atau jenis asam lainnya
dapat melarutkan zat besi (Fe) dan Alumunium (Al) sehingga fosfat yang terikat
besi dan alumunium akan lepas dan dapat diserap oleh tanaman. Selain itu, humus
merupakan penyangga kation yang dapat mempertahankan unsur hara sebagai
bahan makanan untuk tanaman. Kandungan kimiawi kompos dapat dilihat di
dalam tabel 2.1.
Tabel 2.1
Analisis Kimia Kompos
Bahan Kadar
Nitrogen (%) 1,33
P2O5 (%) 0,83
K2O (%) 0,36
Humus (%) 53,70

27
Bahan Kadar
Kalsium (%) 5,61
Zat Besi (%) 2,1
Seng (ppm) 285
Timah (ppm) 575
Tembaga (ppm) 65
Kadmium 5
pH 7,2
Sumber : Djuarnani, 2004

2.10.3 PROSES PENGOMPOSAN

Pemahaman dasar pada proses pengomposan dapat membantu


meningkatkan hasil kompos yang berkualitas tinggi, mencegah beberapa masalah
yang biasanya terjadi, mikroorganisme dalam kompos, pemenuhan udara, air,
makan yang cocok dan suhu dapat menciptakan pengomposan yang baik.
Pengomposan adalah proses aerobik, yang berarti itu bisa terjadi dengan adanya
oksigen. Oksigen dapat disediakan dengan 2 (dua) jalan, yakni :
a. Dengan membalik tumpukan kompos.
b. Dengan aerasi buatan, yaitu dengan membuat pipa udara yang masuk ke
dalam tumpukan kompos.

Proses pengomposan dapat diklasifikasikan dalam 2 sistem, yaitu :


1. Sistem terbuka (Unconfined process).
a. Windrow (turned windrow)
Sistem terbuka, proses windrow dan aerated static pile, banyak
dilakukan di USA. Tahapan dasar dari kedua proses adalah serupa,
hanya teknologi prosesnya yang berbeda. Pada metode windrow,
kontak oksigen dengan tumpukan kompos berlangsung secara
konveksi alami dengan pembalikan, sedangkan pada static pile aerasi
dilakukan dengan pengaliran udara. Sistem terbuka bukanlah tidak
tertutup sama sekali tetapi masih memerlukan atap untuk perlindungan

28
terhadap hujan. Pada sistem terbuka umumnya digunakan
peralatan/mesin yang portable untuk proses pencampuran dan
pengadukan/pembalikan (Yuwono, 2006).
Proses windrow, umumnya dilakukan pada kondisi terbuka sehingga
cukup ventilasi dengan melakukan pengadukan/pembalikan tumpukan
masa kompos untuk menjaga kondisi aerobik. Pada area dengan curah
hujan tinggi dibutuhkan penutup. Pada proses ini campuran yang akan
dikomposkan ditumpuk memanjang berbaris secara paralel.
Penampang melintangnya dapat berbentuk trapesium ataupun segitiga,
tergantung dari peralatan dan cara yang akan digunakan untuk
pencampuran dan pembalikan. Lebar dasar pada umumnya ~ 5 m dan
ketinggian ditengah ~ 1 – 2 m.
Sistem windrow dapat digunakan untuk pengomposan sludge cake
yang masih basah dengan mencampurkan bahan organik lain dan/atau
bulking agent seperti serbuk gergaji, jerami/sekam padi, kulit padi.
Penambahan tersebut dapat diatur untuk mencapai kondisi campuran
dengan moisture content ~ 50 – 60 %. Penggunaan bahan tambahan
tersebut juga akan meningkatkan integritas struktural dari campuran
untuk menjaga bentuk windrow. Porositas campuran juga meningkat
yang berarti meningkatkan karateristik aerasi. Disamping itu, material
tambahan tersebut juga berfungsi sebagai sumber karbon yang
diperlukan untuk proses pengomposan. C/N ratio dari wastewater
sludge yang relatif rendah < 10; dapat ditingkatkan mencapai 20 – 30
dalam campuran.

Perencanaan sistem windrow yang optimum adalah sebagai berikut :


a). Minimalisasi handling dan biaya.
b). Maksimalisasi penggunaan peralatan operasional.
c). Minimalisasi penggunaan bahan tambahan lain yang menambah
beban biaya dan tidak dapat didaur ulang.
d). Minimisasi moisture content dari wastewater sludge untuk
minimisasi penggunaan recycled compost dan juga mengurangi

29
bahan tambahan lain yang dibutuhkan untuk mengatur moisture
content dalam sistem. Harus diperhatikan bahwa biaya untuk
maksimalisasi proses dewatering harus tidak lebih besar
dibandingkan biaya yang dapat dihemat dari fasilitas
pengomposan.

b. Aerated static pile (forced aeration static windrow).


a). Individual pile.
b). Extended pile.
Proses Aerated static pile, sistem ini dikembangkan dalam rangka
mengeliminasi masalah kebutuhan lahan dan masalah sulit lain pada
sistem windrow. Tahapan proses ini adalah sebagai berikut :
a). Pencampuran wastewater sludge dengan bulking agent.
b). Pembentukan tumpukan massa kompos.
c). Proses pengomposan.
d). Pengayakan dan pemisahan campuran kompos.
e). Curing dan storage (penyimpanan).

Penggunaan/pengaliran uidara tekan memberikan kemudahan


operasional dan ketepatan pengaturan kandungan oksigen dan kondisi
temperatur di dalam tumpukan, yang tidak akan dijumpai pada sistem
windrow. Dalam hal ini porositas sangat berperan dan diatur dengan
penggunaan bulking agent yang akan didaur –ulang setelah proses
pengomposan sempurna. Meskipun porositas memegang peranan pada
proses pengomposan sistem aerated pile, pengaturan moisture content
juga tetap masih memegang peranan, yaitu antara 50-60 %. Dengan
kondisi yang lebih terkendali tersebut maka waktu pengomposan
relatif lebih cepat dan kemungkinan kondisi anaerobik juga dapat
dicegah, sehingga masalah resiko bau dapat dikurangi (Yuwono,
2006).
Sistem aerated pile banyak diaplikasikan secara efektif pada skala
besar di beberapa lokasi di USA. Setelah tahap start-up, temperatur

30
rata-rata dapat mencapai 700 C dan setelah kondisi stabil tercapai
temperatur minimum rata-rata mencapai ~ 550 C. Pada konstruksi
penumpukan yang benar, baik curah hujan maupun kondisi temperatur
lingkungan tidaklah berpengaruh terhadap operasional pengomposan.
Dewasa ini pengomposan wastewater sludge umumnya terfokus pada
sistem ini. Aplikasi untuk pengolahan undigested sludge memberikan
keuntungan yang nyata dibanding sistem windrow. Keuntungan-
keuntungan lain adalah :
a). Mengatasi masalah bau dengan lebih baik.
b). Proses inaktivasi bakteri patogen lebih efektif.
c). Keseragaman pemaparan temperatur terhadap seluruh sludge lebih
terjamin.
d). Penggunaan lahan lebih sedikit.
e). Total biaya relatif lebih murah. Pada operasional yang modern,
biaya investasi juga relatif lebih rendah, meskipun biaya dari
bulking agent menjadikan total biaya operasionalnya menjadi
sedikit lebih mahal.

2. Sistem tertutup (Confined processes).


Sistem terbuka bukanlah tidak tertutup sama sekali tetapi masih
memerlukan atap untuk perlindungan terhadap hujan. Pada sistem terbuka
umumnya digunakan peralatan atau mesin yang portable untuk proses
pencampuran dan pengadukan/pembalikan. Sedangkan pada sistem
tertutup digunakan fasilitas kontainer atau reaktor tertutup.
Meskipun setiap teknik pengomposan mempunyai ciri tersendiri, tetapi
proses dasarnya serupa. Tahap dasar proses pengomposan adalah sebagai
berikut :
a. Jika diperlukan, ditambahkan bulking agent sebagai fungsi
pengatur/pengontrol porositas dan kelembaban.
b. Penambahan bahan organik lain sebagai sumber nutrisi, umumnya
sumber senyawa Karbon (contohnya serbuk gergaji, jerami, sekam,
dan kulit padi, enceng gondok, dan lain-lain) yang dicampurkan ke

31
blotong untuk mendapatkan campuran yang sesuai bagi kelangsungan
proses pengomposan. Campuran tersebut harus cukup berpori, stabil
secara struktural dan proses pengomposan dapat berlangsung dengan
sendirinya.
c. Temperatur dapat mencapai 550 – 650 sehingga bakteri patogen akan
mati, disamping itu juga untuk mendorong proses penguapan sehingga
kandungan air dari produk akhir akan menurun.
d. Kompos disimpan selama beberapa waktu kemudian untuk stabilisasi
pada temperatur rendah, mendekati temperatur sekeliling.
e. Jika diperlukan, pengaliran udara kering pada kompos yang terlalu
basah untuk kemudahan transportasi dan aplikasi selanjutnya.
f. Pemisahan bulking agent, jika pada awalnya digunakan dan akan
didaur-ulang.

Mekanisasi proses pengomposan berlangsung dalam sistem atau


kontainer/reaktor tertutup. Sistem ini dirancang untuk mengatasi masalah
bau dan mempercepat waktu proses dengan pengaturan kondisi
lingkungan, seperti : aliran udara, temperatur dan konsentrasi oksigen.
Sistem tertutup ini membutuhkan biaya investasi yang jauh lebih mahal
dibandingkan sistem terbuka. Hanya beberapa tempat saja di USA yang
mengoperasikan sistem ini, terutama untuk pengomposan campurah
sampah dengan wastewater sludge (Yuwono, 2006).

2.10.4 WAKTU PEMBALIKAN

Dilakukan pembalikan pada keadaan :


1. Suhu tumpukan diatas 650 C, pembalikan dilakukan untuk mencegah panas
dan pengeluaran H2O dan CO2 yang berlebihan.
2. Suhu tumpukan dibawah 450 C pada tumpukan berusia 1 - 30 hari, suhu
dibawah optimum (kurang dari 450 C) menunjukkan bahwa kegiatan jasad
renik tidak terjadi secara optimum, hal ini disebabkan oleh kekurangan

32
oksigen, terlalu basah atau terlalu kering. Usia tumpukan lebih dari 30 hari,
suhu dibawah 450 C bisa berarti kompos telah matang.
3. Tumpukan terlalu basah, pembalikan dilakukan untuk mempercepat
penguapan air dari tumpukan.
4. Tumpukan terlalu padat, kepadatan akan membatasi rongga udara, oksigen
terlalu sedikit atau tanpa oksigen akan menyebabkan pembusukan terjadi
secara anaerobik.

2.10.5 PERSYARATAN KOMPOS

A. Kematangan Kompos.
Kualitas kompos sangat ditentukan oleh tingkat kematangan kompos,
disamping kandungan logam beratnya. Bahan organik yang tidak terdekomposisi
secara sempurna akan menimbulkan efek yang merugikan pertumbuhan tanaman.
Penambahan kompos yang belum matang ke dalam tanah dapat menyebabkan
terjadinya persaingan bahan nutrien antara tanaman dan mikroorganisme tanah.
Keadaan ini dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Karakteristik kompos yang telah selesai mengalami proses dekomposisi
menurut Djuarnani (2004), adalah sebagai berikut :
1. Penurunan temperatur diakhir proses.
2. Penurunan kandungan organik kompos, kandungan air, dan rasio C/N.
3. Berwarna coklat tua sampai kehitam-hitaman dan tekstur seperti tanah.
4. Berkurangnya pertumbuhan larva dan serangga diakhir proses.
5. Hilangnya bau busuk.
6. Adanya warna putih atau abu-abu, karena pertumbuhan mikroba.
7. Memiliki temperatur yang hampir sama dengan temperatur udara.
8. Tidak mengandung asam lemak yang menguap.

Kematangan kompos ditunjukkan oleh hal-hal berikut (SNI 19 – 7030 – 2004) :


1. C/N – rasio mempunyai nilai (10 – 20) : 1.
2. Suhu sesuai dengan suhu air tanah.
3. Berwarna kehitaman dan tekstur seperti tanah.

33
4. Berbau tanah.

B. Tidak Mengandung Bahan Asing.


Tidak mengandung bahan asing seperti berikut :
1. Semua bahan pengotor organik atau anorganik seperti logam, getas, plastik
dan karet.
2. Pencemar lingkungan seperti senyawa logam berat, B3 dan kimia organik,
seperti pestisida.

C. Unsur Mikro.
Unsur mikro nilai-nilai ini dikeluarkan berdasarkan :
1. Konsentrasi unsur-unsur mikro yang penting untuk pertumbuhan tanaman
(khususnya Cu, Mo, Zn).
2. Logam berat yang dapat membahayakan manusia dan lingkungan tergantung
pada konsentrasi maksimum yang diperbolehkan dalam tanah.

D. Organisme Patogen.
Organisme patogen tidak melampaui batas berikut :
1. Fecal coli 1000 MPN/gr total solid dalam keadaan kering.
2. Salmonella sp. 3 MPN / 4 gr total dalam keadaan kering.

Hal tersebut dapat dicapai dengan menjaga kondisi operasi pengomposan pada
temperatur 550 C.

E. Pencemar Organik.
Kompos yang dibuat tidak mengandung bahan aktif pestisida yang
dilarang sesuai dengan KEPMEN PERTANIAN No. 434.1/KPTS/TP.270/7/2001
tentang Syarat dan Tata Cara Pendaftaran Pestisida pada Pasal 6 mengenai jenis-
jenis Pestisida yang mengandung bahan aktif yang telah dilarang.

34
2.10.6 PENGARUH KOMPOS TERHADAP TANAMAN

Kompos merupakan hasil pelapukan bahan-bahan organik yang dapat


memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan pertumbuhan dan resistensi
tanaman. Unsur hara yang terdapat pada kompos ini adalah N, P, K. Adapun
pengaruh masing-masing unsur hara tersebut terhadap pertumbuhan tanaman
adalah sebagai berikut :
A. Pengaruh Nitrogen (N) terhadap tanaman.
Pengaruh Nitrogen terhadap tanaman adalah sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman.
2. Untuk menyehatkan pertumbuhan daun-daun tanaman lebar dengan warna
yang lebih hijau, kekurangan N menyebabkan khlorosis (pada daun muda
berwarana kuning).
3. Meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman.
4. Meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun.

B. Pengaruh Posfor (P) terhadap tanaman.


Pengaruh Posfor terhadap tanaman adalah sebagai berikut :
1. Dapat mempercepat pertumbuhan akar semai.
2. Dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda
menjadi tanaman dewasa.
3. Dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah.
4. Dapat meningkatkan produksi biji-bijian.

C. Pengaruh Kalium (K) terhadap tanaman.


Pengaruh Kalium terhadap tanaman adalah sebagai berikut :
1. Pembentukan protein dan karbohidrat.
2. Mengeraskan jerami dan bagian kayu dari tanaman.
3. Meningkatkan resistensi tanaman terhadap penyakit.
4. Meningkatkan kualitas biji (buah).

35
2.10.7 EFFECTIVE MICROORGANISM 4 (EM4)

Effective Microorganism 4 (EM4) merupakan bahan yang mengandung


beberapa mikroorganisme yang sangat bermanfaat dalam proses pengomposan.
Mikroorganisme yang terdapat dalam EM4 terdiri dari beberapa mikroba, seperti
mikroba lignolitik, selulotik, proteulitik, nitrogen fiksasi non siliotik, Lubricus
(bakteri asam laktat) serta sedikit bakteri fotosintesis, Acanomycetes,
Streptomyces sp., jamur fermentasi, dan ragi yang dapat digunakan sebagai
inokulan untuk meningkatkan keragaman mikroba tanah dan dapat memperbaiki
kesehatan serta kualitas tanah. Pada gilirannya juga akan memperbaiki
pertumbuhan serta jumlah mutu hasil tanaman.
Berikut ini adalah fungsi dari masing-masing mikroorganisme larutan
EM4 pada tabel 2.2 :

Tabel 2.2
Fungsi Mikroorganisme di Dalam Larutan EM4
Nama Fungsi
Bakteri fotosintesis 1. Membentuk zat-zat yang bermanfaat dari sekresi akar
tumbuhan, bahan organik, dan gas-gas berbahaya
(misalnya hidrogen sulfida) dengan menggunakan
sinar matahari dan panas bumi sebagai sumber energi.
Zat-zat bermanfaat itu antara lain asam amino, asam
nukleik, zat-zat bioaktif, dan gula. Semuanya
mempercepat pertumbuhan dan perkembangan
tanaman.
2. Meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme lainnya.

Bakteri asam laktat 1. Menghasilkan asam laktat dari gula.


2. Menekan pertumbuhan mikroorganisme yang
merugikan, misalnya Fusarium.
3. Meningkatkan percepatan perombakan bahan-bahan
organik.

36
Nama Fungsi
4. Dapat menghancurkan bahan-bahan organik seperti
lignin dan selulosa, serta memfermentasikan tanpa
menimbulkan pengaruh-pengaruh merugikan yang
diakibatkan oleh bahan-bahan organik yang terurai.
Ragi 1. Membentuk zat antibakteri dan bermanfaat bagi
pertumbuhan tanaman dari asam-asam amino dan gula
yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintesis.
2. Meningkatkan jumlah sel aktif dan perkembangan
akar.
Actinomycetes 1. Menghasilkan zat-zat antimikroba dari asam amino
yang dihasilkan oleh bakteri fotosintesis dan bahan
organik.
2. Menekan pertumbuhan jamur dan bakteri.

Jamur fermentasi 1. Menguraikan bahan organik secara tepat untuk


menghasilkan alkohol, ester, dan zat-zat mikroba.
2. Menghilangkan bau serta mencegah serbuan serangga
dan ulat yang merugikan.
Sumber : Yuwono, 2006

EM4 (Effective Microorganism 4) berupa larutan cair berwarna kuning


kecoklatan, ditemukan pertama kali oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas
Ryukyus Jepang. Cairan ini berbau sedap dengan rasa asam manis dan tingkat
keasaman (pH) kurang dari 3,5. Apabila tingkat keasaman, melebihi 4,0 maka
cairan ini tidak dapat digunakan lagi.
Effective Microorganism (EM4) dapat meningkatkan fermentasi limbah
dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan unsur hara untuk tanaman, serta
menekan aktivitas serangga, hama dan mikroorganisme patogen.
Proses penguraian yang dilakukan EM4 adalah kemampuan bakteri yang
terkandung di serbuk itu memisahkan komponen karbon (C), hidrogen (H),

37
oksigen (O2), nitrogen (N) dan sulfur (S) yang ada dalam komponen limbah
tersebut sehingga tidak menimbulkan bau.
Ikatan senyawa CHONS yang ada dalam limbah itu, merupakan
bersatunya komponen kimiawi yang menimbulkan racun dan bau tidak sedap.
EM4 yang merupakan himpunan bakteri itu mempunyai kekuatan untuk
menguraikan senyawa tersebut sehingga tidak berbau bahkan tidak beracun dan
menjadi pupuk kompos.
Cara kerja Effective Microorganism 4 (EM4) telah dibuktikan secara
ilmiah dan EM4 dapat berperan sebagai :
a. Menekan pertumbuhan patogen tanah.
b. Mempercepat fermentasi limbah dan sampah organik.
c. Meningkatkan ketersediaan unsur hara dan senyawa organik pada tanaman.
d. Meningkatkan aktivitas mikroorganisme indogenus yang menguntungkan
seperti Mycorrhiza sp., rhizobium sp. dan bakteri pelarut fosfat.
e. Meningkatkan nitrogen.
f. Mengurangi keutuhan pupuk dan pestisida kimia.
g. Pengurai lignin dan selulosa.
h. Membuka fotosintesa.

Effective Microorganism 4 (EM4) dapat menekan pertumbuhan


mikroorganisme patogen yang selalu menjadi masalah pada budi daya monokultur
dan budi daya tanaman sejenis secara terus menerus (continuous cropping). EM4
juga memfermentasikan limbah dan kotoran ternak, hingga lingkungan menjadi
tidak bau, ternak tidak mengalami stres dan nafsu makan ternak meningkat.
EM4 merupakan larutan yang berisi beberapa mikroorganisme yang sangat
bermanfaat untuk menghilangkan bau pada limbah dan mempercepat pengolahan
limbah. Effective Microorganism (EM4) dapat digunakan untuk memproses bahan
limbah menjadi kompos dengan proses yang lebih cepat dibandingkan dengan
pengolahan limbah secara tradisional. Limbah dari jenis apapun yang mempunyai
bau tidak enak sekalipun, jika diberi EM4 ini akan menjadi netral atau hilang bau
tidak sedapnya, bahkan bangkai hewan yang telah membusuk dengan bau yang
menyengat pun jika diberi cairan ini baunya juga akan hilang. Begitu juga septik

38
tank yang berisi kotoran manusia bila diberi EM4 ini, selain bau lenyap kotoran
itupun menjadi kompos.

2.11 KLASIFIKASI WILAYAH DARI PUSAT KOTA KE PEDESAAN


Jika kita umpamakan dengan papan permainan dart atau papan target anak
panah, maka pusat kota berada pada pusat papan dart atau papan target anak
panah dan begitu seterusnya garis-garis lingkaran yang mengelilinginya berurutan
adalah wilayah sub urban atau suburb, kemudian diikuti dengan daerah urban dan
yang terakhir adalah daerah rural yang masih-masing memiliki sifat dan ciri-ciri
tersendiri. Urutan-urutannya adalah sebagai berikut:

1. City adalah pusat kota yang menjadi pusat sub urban, urban, dan rural
area.
2. Suburban/Faubourgh adalah daerah tempat atau area di mana para
penglaju/commuter tinggal yang letaknya tidak jauh dari pusat kota.
penglaju atau kommuter adalah orang-orang yang tinggal di pinggiran kota
yang pulang pergi ke kota untuk bekerja setiap hari.
3. Suburban Fringe adalah area wilayah yang mengelilingi daerah sub urban
yang menjadi daerah peralihan kota ke desa.
4. Urban fring adalah daerah perbatasan antara kota dan desa yang memiliki
sifat yang mirip dengan daerah wilayah perkotaan. Urban adalah daerah
yang penduduknya bergaya hidup modern.
5. Rural Urban Fringe adalah merupakan daerah jalur yang berada di antara
desa dan kota.
6. Rural adalah daerah pedesaan atau desa yang penduduknya hidup
sederhana.

2.12 HIPOTESA

Komponen sampah yang paling dominan dihasilkan oleh perumahan Dayu


Permai adalah sampah organik yang mudah membusuk. Pengelolaan yang paling

39
sesuai adalah komposting sedangkan sampah anorganik dapat dilakukan proses
3R.
Untuk pewadahan perlu dilakukan pemilahan antara sampah organik,
anorganik dan sampah non 3R. Pengumpulan dan pengangkutan sampah
diperlukan alat angkut berupa gerobak sampah dan mobil pick-up.

40
BAB III
GAMBARAN UMUM PERENCANAAN

3.1 LOKASI

Perumahan Dayu Permai, merupakan salah satu perumahan yang berada di


Kelurahan Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Berdasarkan letak astronomis terletak di titik 7043’53” LS dan 110023’43” BT
(Google Earth). Dalam perkembangannya wilayah Perumahan Dayu Permai
adalah area suburban yang berarti kegiatan-kegiatan di ruangnya merupakan
pengaruh trend dari kawasan pusat kota. Wilayah suburban Ngaglik, dimana disitu
adalah daerah pinggiran kota yang menjadi lalu lalang orang yang akan ke kota
maupun keluar kota untuk beraktifitas sehari-hari dan banyak pendatang yang
menetap di wilayah tersebut. Dengan penduduk yang cukup padat menyebabkan
banyak sampah yang timbul belum mendapat penanganan secara baik.

3.2 KONDISI TOPOGRAFI

Perumahan Dayu Permai, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman berada pada titik


± 205 m dari permukaan air laut. Kondisi topografi berupa dataran rendah.
Banyaknya curah hujan 2000 s/d 3000 mm/tahun. Dan suhu udara rata-rata adalah
250 s/d 400.

3.3 BATAS WILAYAH

Perumahan Dayu Permai mempunyai batas-batas wilayah, antara lain :


• Sebelah Utara : Perum Merapi View
• Sebelah Selatan : Perum Dayu Asri
• Sebelah Barat : Perum Jaban

41
• Sebelah Timur : Dusun Dayu

3.4 KEPENDUDUKAN

Jumlah penduduk menurut :


a. Jumlah : 1120 orang
b. Keluarga : 205 KK

3.5 POTENSI YANG SUDAH ADA

Perumahan Dayu Permai memiliki beberapa kegiatan seperti arisan antar


RT dan arisan antar RW. Dari kegiatan tersebut, kegiatan mengenai pengelolaan
sampah sering juga diselipkan agar warga juga memiliki kesadaran terhadap
lingkungannya. Sebagai perumahan yang juga aktif di bidang keagamaan, banyak
aktifitas keagamaan yang dikembangkan didaerah ini. Aktifitas keagamaan
tersebut antara lain, seperti pengajian, tadarus keliling dan lain-lain. Melalui
kegiatan ini juga ditanamkan kesadaran akan bersih lingkungan kepada warganya.

3.6 POLA OPERASIONAL PENGELOLAAN SAMPAH

Pola pengelolaan sampah yang telah berjalan di perumahan Dayu Permai


Yogyakarta adalah dengan menggunakan jasa pengambilan sampah, yang
dilakukan dengan menggunakan mobil bak terbuka dan juga jasa gerobak dorong.
Pengambilan sampah dilakukan setiap hari. Dimana untuk pengelolaanya setelah
diambil hanya dilakukan pembuangan di TPS sementara di daerah sebelah barat
perumahan tersebut. Untuk itu setiap bulan warga membayar Rp 15.000,00 untuk
biaya pengambilan sampah.

42
3.7 FASILITAS PENGELOLAAN SAMPAH

Setiap KK di perumahan Dayu Permai memiliki tempah sampah sendiri


baik yang berupa drum sampah ataupun bak sampah permanen. Sedangkan dari
pihak pengelola sampah perumahan hanya menyediakan jasa angkut sampah dari
rumah-rumah ke TPS.

3.8 PERAN SERTA MASYARAKAT

Selama ini terlihat bahwa masyarakat belum mempunyai budaya yang baik
dalam masalah sampah, terbukti dengan belum adanya kesadaran penuh akan
pentingnya kebersihan dan pengelolaan sampah yang baik. Warga di perumahan
ini mayoritas hanya berperan serta dalam membayar iuran pembuangan sampah
namun belum mempunyai usaha untuk ikut berperan serta dalam pengelolaan
sampah secara mandiri Sehingga sejauh ini peran serta masyarakat dalam
pengelolaan sampah masih kurang.

43
44
BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 IDE TUGAS AKHIR

Melihat pengelolaan persampahan yang kurang efisien dan tidak inovatif


yang banyak diterapkan di perumahan yang ada di Yogyakarta maka muncul ide
tugas akhir mengenai pengelolaan persampahan secara terpadu yang akan
diterapkan khususnya di Perumahan Dayu Permai Yogyakarta.

4.2 STUDI PUSTAKA

Mencari dan mengumpulkan data-data dengan mempelajari buku-buku,


tulisan ilmiah dan peraturan perundangan yang berhubungan dengan penelitian
ini.

4.3 PENGUMPULAN DATA

Tahap pengumpulan data adalah teknik untuk mengumpulkan data yang


dibutuhkan untuk mendukung penelitian dalam tugas akhir. Jenis data yang
dikumpulkan adalah :
a. Data Primer
1. Pengamatan langsung di lapangan.
2. Hasil pengukuran.
3. Data dari wawancara dan kuisioner.
b. Data sekunder, berupa data fisik lokasi penelitian.

45
4.4 PENELITIAN ATAU SAMPLING

Metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan sampah


berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-3964-1994 :
a. Lokasi
Perumahan Dayu Permai Yogyakarta.
b. Frekwensi
Pengambilan sampel dilakukan dalam 8 hari berturut-turut pada lokasi yang
sama pada setiap pukul 07.00 WIB.
c. Penentuan jumlah sampel
Penentuan jumlah sampel yang akan diambil menggunakan rumus berikut :
a). Bila jumlah penduduk 106 jiwa
P = Cd Ps ……………………………………………………..4.1
Dimana :
Ps = jumlah penduduk bila 106 jiwa
Cd = koefisien
Cd = 1 bila kepadatan penduduk normal
Cd <1 bila kepadatan penduduk jarang
Cd >1 bila kepadatan penduduk padat
b). Bila jumlah penduduk > 106 jiwa
P = Cd .Cj. Ps .............................................................................4.2
Σpenduduk
Cj = ..........................................................................4.3
10 6
Ps = jumlah penduduk bila ≥ 106 jiwa
Cd = koefisien
Cd = 1 bila kepadatan penduduk normal
Cd <1 bila kepadatan penduduk jarang
Cd >1 bila kepadatan penduduk padat

Dari jumlah penduduk di perumahan Dayu Permai Yogyakarta = 1120 jiwa.


Maka rumus yang digunakan adalah persamaan 4.1.

46
Jumlah titik sampel adalah :

P = Cd Ps
= 1,5 1120
= 50,2

Karena 1 rumah di perumahan ini rata-rata terdiri dari 5 orang, maka :


50,2
Sample = = 10,04 ≈ 10 titik
5

Dari jumlah sampel ini, ditentukan titik sampling secara random sampling
berdasarkan dari stratifikasi penghasilan penduduk perumahan. Dengan
klasifikasi sebagai berikut :
• Range 1 = < 500.000
• Range 2 = 500.000 – 1.000.000
• Range 3 = 1.000.000 – 2.000.000
• Range 4 = > 2.000.000

d. Pengukuran sampel timbulan sampah


Sampah terkumpul diukur volumenya dengan wadah pengukur dan ditimbang
beratnya.
e. Peralatan dan perlengkapan
1. Timbangan.
2. Kotak Kayu (20x20x50 cm3).
3. Meteran atau penggaris.
4. Perlengkapan berupa alat pemindah seperti sekop dan sarung tangan.
f. Cara pengambilan dan pengukuran sampel
1. Menentukan lokasi pengambilan sampel.
2. Menentukan tenaga pelaksana.
3. Menyiapkan peralatan.
4. Melakukan pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi
sampah sebagai berikut :

47
a). Membagikan kantong plastik yang sudah diberi tanda kepada sumber
sampah satu hari sebelum pengumpulan.
b). Mencatat jumlah unit masing-masing penghasil sampah.
c). Mengumpulkan kantong plastik yang sudah terisi sampah.
d). Mengangkut seluruh kantong plastik ke tempat pengukuran.
e). Menimbang kotak pengukur.
f). Menuangkan secara bergiliran ke kotak pengukur.
g). Menghentak 3 kali dengan ketinggian kotak 20 cm.
h). Mengukur dan mencatat volume sampah.
i). Menimbang dan mencatat berat sampah.
j). Memilah sampah berdasarkan komponen komposisi sampah.
k). Menimbang dan mencatat berat sampah.
l). Menghitung komponen komposisi sampah.
5. Menghitung komponen komposisi sampah sebagai berikut :
a). Menimbang sampah total.
b). Memilah sampah sesuai karakteristik.
c). Menimbang masing-masing sampah.
d). Menghitung komposisi sampah.
g. Menganalisis hasil kualitas kompos.
Uji kualitas hasil kompos dilakukan di Laboratorium Kimia Analitik MIPA
UGM.

4.5 PENGOLAHAN DATA

Data yang telah diperoleh akan dianalisis dan digunakan dalam


perencanaan pengelolaan sampah. Tahapan pengerjaan yang harus dilakukan
adalah sebagai berikut :
a. Menghitung berat jenis sampah
Dalam perhitungan berat kenis sampah menggunakan rumus sebagai berikut :
Beratsampah( Kg )
Berat jenis sampah = ...............................................4.4
volumesampah(m 3 )

48
Dimana berat sampah didapat dengan cara menimbang sample, sedangkan
volumenya diukur dengan kotak kayu berukuran 20 x 20 x 50 cm3.
Rumus yang digunakan dalam mengukur volume sampah dalam kotak
sampling adalah :
Volume sampah = luas kotak x tinggi sampah………………………………4.5

b. Menghitung prosentase komposisi


Komposisi sampah dihitung dengan menggunakan rumus :
Beratkomponen
% komponen = x100% ………….……………………….4.6
Berattotalsampah

c. Menganalisa data kuisioner dengan membandingkan 2 hal yaitu karakteristik


responden dan deskriptif variabel pada kuisioner. Analisa statistik digunakan
metode one-way ANOVA untuk menyimpulkan hasil kuisioner.

4.6 TAHAPAN PERENCANAAN PENGELOLAAN

Perencanaan meliputi pewadahan, pengumpulan, pengangkutan,


pengolahan, dan sosialisasi. Perencanaan dilakukan berdasarkan analisa dari hasil
penelitian, meliputi :
a. Perhitungan jumlah timbulan dan karakteristik sampah Perumahan Dayu
Permai Yogyakarta.
b. Merencanakan jumlah pewadahan untuk :
1. Pewadahan sampah organik, anorganik, dan non 3R di dalam rumah.
2. Pewadahan sampah organik untuk proses pengomposan.
3. Pewadahan sampah anorganik dan non 3R diluar rumah sebelum
dilakukan pengumpulan.ke TPS.
c. Menghitung jumlah alat pengangkut untuk pengumpulan sampah ke TPS.
d. Merencanakan pengolahan sampah organik perumahan. Metode yang
digunakan adalah komposting.
e. Desain reaktor kompos untuk tiap KK.

49
f. Kegiatan sosialisasi dan implementasi sistem pengelolaan sampah terpadu
di perumahan Dayu Permai.

4.7 DIAGRAM TAHAPAN PERENCANAAN


Secara garis besar perencanaan ini meliputi kegiatan-kegiatan sebagai
berikut :

Studi Pustaka

Pengumpulan Data

Penelitian / Sampling

Mengolah Data :
§ Menghitung volume dan berat jenis sample
§ Menghitung besaran timbulan sampah
§ Mengolah data statistik kuisioner

Perencanaan Pengelolaan sampah :


§ Pewadahan
§ Pengumpulan
§ Pengangkutan
§ Pengolahan

Pengolahan Sampah
• Desain Reaktor
• Proses Komposting
• Uji kualitas kompos

Gambar 4.1
Diagram Tahapan Perencanaan

50
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 HASIL PENELITIAN

Berikut ini adalah hasil dari pengukuran di lapangan selama 8 hari


pengambilan sampel. Pengukuran volume sampah dari masing-masing dari
sumber menggunakan wadah kotak kayu berbentuk balok yang telah diketahui
ukurannya 20 x 20 x 50 cm3. Berikut adalah tabel hasil perhitungan berat, volume
dan berat jenis sampah yang didapatkan dari pengukuran di lokasi :

Tabel 5.1
Data Hasil Perhitungan Berat, Volume dan Berat Jenis Sampah Organik
No Berat Organik Volume Berat Jenis
Sampel (Kg/orang/hari) (Liter/Orang/hari) (Kg/m3)
I 0,15 1,35 104,65
II 0,09 0,84 91,26
III 0,10 1,15 105,21
IV 0,19 0,93 175,18
V 0,11 0,88 94,13
VI 0,04 0,48 29,58
VII 0,28 0,98 293,30
VIII 0,23 1,17 200,74
IX 0,13 1,23 94,21
X 0,08 0,86 100,46
Jumlah 1,40 9,86 1288,71
Rata-rata 0,14 0,99 128,87

51
Tabel 5.2
Data Hasil Perhitungan Berat, Volume dan Berat Jenis Sampah Anorganik
No Berat Anorganik Volume Berat Jenis
Sampel (Kg/orang/hari) (Liter/Orang/hari) (Kg/m3)
I 0,03 1,88 13,72
II 0,07 1,64 46,57
III 0,08 1,36 50,87
IV 0,17 1,39 102,30
V 0,23 1,51 164,88
VI 0,04 1,50 48,12
VII 0,04 1,26 34,00
VIII 0,04 1,36 27,98
IX 0,07 1,63 47,74
X 0,04 1,35 42,73
Jumlah 0,82 14,88 578,92
Rata-rata 0,08 1,49 57,89

Tabel 5.3
Data Hasil Perhitungan Berat, Volume dan Berat Jenis Sampah Non 3R
No Berat non 3R Volume Berat Jenis
Sampel (Kg/orang/hari) (Liter/Orang/hari) (Kg/m3)
I 0,015 0,55 21,88
II 0 0 0
III 0,01 0,26 9,86
IV 0 0 0
V 0,003 0,06 6,25
VI 0 0 0
VII 0 0 0
VIII 0 0 0
IX 0,004 0,09 19,53
X 0 0 0
Jumlah 0,03 0,96 57,51
Rata-rata 0,003 0,10 5,75
Sumber : Data Primer

Pengambilan sampel yang dilakukan di Perumahan Dayu Permai dengan


jumlah sampling 10 KK. Berdasarkan hasil pengambilan sampel pada 10 KK,
maka berat sampah rata-rata per hari untuk sampah organik 0,14 kg/orang/hari
dan volume sampah organik rata-rata per hari adalah 0,99 L/orang/hari. Untuk
sampah anorganik berat rata-rata per hari adalah 0,08 kg/orang/hari dan volume
sampah anorganik rata-rata per hari adalah 1,49 L/orang/hari. Untuk sampah non

52
3R rata-rata per hari adalah 0,003 kg/orang/hari, dan volume sampah non 3R rata-
rata per hari adalah 0,1 L/orang/hari.

Untuk timbulan sampah rata-rata per orang per hari adalah :


= berat sampah organik + berat sampah + berat non 3R
= 0,14 kg/orang/hari + 0,08 kg/orang/hari + 0,003 kg/orang/hari
= 0,223 kg/orang/hari

5.2 PERHITUNGAN KOMPOSISI SAMPAH

Komposisi sampah ditentukan berdasarkan pengambilan sampel di lokasi.


Hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 5.4
Hasil Pengukuran Rata-Rata Komposisi Sampah di Perumahan Dayu Permai
Hari Berat total Organik Anorganik Non 3R
( kg ) ( kg ) (%) ( kg ) (%) ( kg ) (%)
1 11,60 7,25 62,50 4,05 34,91 0,30 2,59
2 9,45 7,00 74,07 2,45 25,93 0,00 0,00
3 10,25 6,00 58,54 4,00 39,02 0,25 2,44
4 11,35 6,55 57,71 4,80 42,29 0,00 0,00
5 11,00 8,55 77,73 2,45 22,27 0,00 0,00
6 10,80 6,00 55,56 4,50 41,67 0,30 2,78
7 8,60 5,10 59,30 3,35 38,95 0,15 1,74
8 12,10 8,45 69,83 3,65 30,17 0,00 0,00
Jumlah 85,15 54,90 64,47 29,25 34,35 1,00 1,17
Sumber : Data Primer

Berikut adalah gambar grafik komposisi sampah di Perumahan Dayu Permai :

53
Non 3R
1%

Anorganik
34%

Organik
65%

Gambar 5.1
Komposisi Sampah Perumahan Dayu Permai

Komposisi sampah pada lokasi penelitian ini adalah komponen organik 65 %,


komponen anorganik 34 %, dan komponen non 3R 1 %.

5.3 REAKTOR KOMPOS

Reaktor yang akan digunakan menggunakan sistem aerobik dengan


mempertimbangkan berbagai karakteristik.
Tabel 5.5
Perbandingan Pengomposan Aerob dan Anaerob
No Karakteristik Aerob Anaerob
1 Reaksi Eksotermis, butuh energi Endotermis, tidak butuh energi
pembentukannya luar, dihasilkan panas luar, dihasilkan gas bio- sumber
energi
2 Produk Akhir Humus, CO2,H2O Lumpur,CO2,CH4
3 Reduksi Volume Lebih dari 50 % Lebih dari 50 %
4 Waktu proses (20-30) hari (20-40)hari
5 Tujuan utama Reduksi volume Produksi energi

54
6 Tujuan sampingan Produksi kompos Stabilisasi buangan
7 Estetika Tidak menimbulkan bau Menimbulkan bau
Sumber : Diktat Kuliah-Departemen Teknik Lingkungan ITB-2004

Untuk menentukan dimensi reaktor diperlukan data dari hasil perhitungan


volume sampah organik, kapasitas dimensi, waktu pengomposan. Selama proses
penimbunan bahan organik ke reaktor dianggap proses pengomposan mulai
berlangsung sehingga waktu pematangan berbeda-beda dari penimbunan awal
hingga akhir. Diperkirakan kompos akan jadi selama 30-60 hari dari awal
penimbunan bahan organik kedalam reaktor atau bisa lebih.

Cara menentukan kapasitas reaktor sebagai berikut :


• Volume sampah organik = 0,99 liter/orang/hari.
• Dimensi reaktor dapat diketahui dengan memperkirakan waktu pematangan
kompos yaitu 30-60 hari atau bisa lebih.
• Rata – rata 1 rumah memiliki 5 orang anggota keluarga.
• Digunakan waktu 30 hari, sehingga volume reaktor = 0,99 liter/orang/hari ×
30 hari × 5 orang = 147,93 liter/KK ≈ 150 liter/KK.

Gambar 5.2
Reaktor Kompos

Di dalam pelaksanaan desain reaktor disesuaikan juga dengan bahan yang


digunakan dan ada tidaknya bahan reaktor dipasaran. Reaktor menggunakan tong
bekas bahan kimia cair yang telah dibersihkan dengan kapasitas 150 liter.

55
Bahan reaktor yang digunakan menggunakan tong plastik bekas wadah
bahan kimia cair dengan diberi lubang udara pada sisi-sisinya dan dibawah untuk
mengalirkan cairan lindi dan juga untuk mengalirkan udara kedalam tong/reaktor.
Lubang ini berfungsi sebagai aerasi agar jumlah udara cukup untuk semua bagian
tumpukan kompos agar dapat memasok oksigen pada organisme dan
mengeluarkan karbondioksida yang dihasilkan.

5.4 PROSES PEMBUATAN KOMPOS

Langkah – langkah pembuatan kompos adalah sebagai berikut :


1. Sampah organik yang telah diukur dicacah/dirajang agar materi bahan ukuran
sama sekitar 1-5 cm.
2. Dicampur dengan aktifator (EM4) dengan cara disiram atau disemprot hingga
merata dengan tingkat kebasahan sekitar 50 %.
3. Sampah organik yang sudah dicampur EM4 dimasukkan ke reaktor, reaktor
ditutup agar bau tidak terlalu menyengat dan masuk hewan/serangga yang
dapat menggangu proses pengomposan.
4. Langkah ke-1 hingga ke-3 diulangi hingga reaktor penuh sekitar 8 hari.
5. Setelah proses penumpukan sampah organik selesai, setiap 3 hari sekali
diperiksa pH, suhu, dan kelembaban dan dilakukan pembalikan.

Gambar 5.3
Pencacahan Sampah Organik

56
Gambar 5.4
Effective Microorganism 4 (EM4)

Gambar 5.5
Reaktor Berisi Materi Kompos

Gambar 5.6
Kompos yang telah matang

Kegiatan penelitian diatas dilakukan pada akhir bulan Agustus hingga


bulan September 2007 setiap hari dimulai pada pagi hari antara pukul 07.00-08.00
WIB di 10 titik sampel penelitian.

57
Sampah yang terkumpul langsung dirajang/dipotong-potong dengan
ukuran 1-5 cm. Semakin kecil ukuran bahan organik, proses pengomposan akan
berjalan semakin cepat, karena bagian partikel lebih banyak kontak dengan udara
yang memasok oksigen untuk membantu dekomposisi bahan Untuk ukuran
partikel, tumpukan yang menggunakan aliran udara alami yang cocok adalah 50
sampai 80 mm. Untuk sistem aliran udara buatan ukurannya 10 mm.
Kelembaban perlu juga dikontrol karena semua organisme memerlukan air.
Pengomposan dapat berlangsung dengan baik apabila kandungan air antara 30 %
sampai 60 %. Tetapi apabila kandungan air dibawah 30 % reaksi biologis dalam
tumpukan kompos menjadi lambat. Kelembaban di cek 2 hari sekali dan
dilakukan penambahan air dicampur EM4 sebanyak 3 kali, yaitu hari 8,13,21.
Agitasi atau pembalikan, biasanya pada daerah tumpukan bawah pada
proses pembuatan kompos mungkin kekurangan oksigen, karena kurangnya
jumlah udara yang bergerak dalam tumpukan. Agitasi membantu memecahkan
masalah ini dengan cara membalik tumpukan bahan tersebut. Biasanya cara ini
dilakukan pada proses pembutan kompos yang tergantung pada aliran udara
alami. Agitasi dilakukan pada hari ke-5, 8,13, dan 21..

5.5 PENGUKURAN pH

Salah satu parameter yang mempengaruhi kelangsungan hidup


mikroorganisme dalam pembentukan kompos adalah pH. Pengukuran pH
dilakukan setiap 3 hari sekali menggunakan alat pH soil analyzer. Tabel
pengukuran pH selama proses pengomposan berlangsung dapat dilihat melalui
tabel 5.6 berikut ini:

Tabel 5.6
Hasil Pengukuran Perubahan pH Pada Reakor Kompos
Hari Pengukuran Ph
1 5,1
4 5,3
7 5,5
10 5,8

58
13 5,9
16 6
19 6,1
22 6,4
25 6,6
28 6,5
31 6,8
34 6,8
37 6,9
40 6,9
Sumber : Data Primer

Kisaran pH yang memungkinkan aktifitas mikroorganisme berjalan


optimal pada proses pembentukan kompos antara 6-7,5 (Yuwono, 2006).
Kenaikan pH yang berangsur-angsur disebabkan hasil dekomposisi bahan
organik dikonversikan sebagai metan dan CO2 berlangsung lebih lama. Selain itu
peningkatan pH juga disebabkan oleh protein dan nitrogen organik yang
menghasilkan ammonium yang dapat menaikkan pH. Selanjutnya akan terjadi
tahap nitrifikasi, yaitu nitrosomonas dan nitrobacter tumbuh secara optimal dala
am range ini Proses nitrifikasi ini ditunjukkan dengan penurunan nilai rasio C/N,
karena bahan karbon berkurang dengan pelepasan CO2 dilain sisi ada peningkatan
N-organik dalam bentuk yang lebih sederhana. Selanjutnya pada akhir proses
setelah tercapai fase pendinginan, nilai pH bersifat netral dan nilai rasio C/N
turun. (Polprasert, 1989).
Dari pengamatan pH selama proses pengomposan berlangsung pada
minggu pertama kompos berkisar 5,0-5,5; setelah minggu pertama pada kondisi
aerob pH terus menngkat karena pada saat penguraian bahan menjadi kompos
terjadi pola perubahan nilai pH sejalan dengan waktu pengamatan. Nilai pH pada
minggu pertama yaitu pada awal penguraian bahan organik adalah asam organik
sederhana. Pada minggu kedua dan ketiga nilai pH meningkat namun tidak terlalu
mencolok.
pH yang terlalu basa akan mengeluarkan ammonia yang berbau tidak
sedap. pH yang terlalu basa maupun terlalu asam akan mengeluarkan bau dan ini
akan mengundang lalat.

59
5.6 PENGUKURAN SUHU

Suhu merupakan indikator proses yang berkaitan dengan aktifitas


mikroorganisme. Dari tabel dapat dilihat bahwa suhu optimal untuk proses
pengomposan dapat tercapai. Suhu optimal yang dibutuhkan dalam keadaan
0
thermofilik berkisar antara 45-65 C dan sedapat mungkin dipertahankan
sekurang-kurangnya 3 hari agar mikroorganisme patogen mati (Djuarnani, 2004).
Untuk pengamatan suhu selama proses pengomposan berlangsung dapat dilihat
melalui Tabel 5.6 berikut ini :

Tabel 5.7
Hasil penelitian perubahan suhu pada reaktor kompos
Hari Pengukuran Suhu (Celcius)
1 47
4 49
7 50
10 48
13 46
16 43
19 40
22 38
25 35
28 31
31 29
34 28
37 27
40 27
Sumber : Data Primer

Pada awal proses pengomposan, temperatur reaktor kompos sesuai dengan


temperatur lingkungan. Pada awal proses yaitu pada tahap organisme yang
terdapat pada reaktor berkembang-biak, menyebabkan temperatur naik. Pada saat
temperatur mencapai 300C cendawan mesofilik berhenti bekerja dan aktifitas
penguraian digantikan oleh cendawan thermofilik.

60
Pada proses pembentukan kompos, cendawan thermofilik sangat berperan
hal ini disebabkan setelah mencapai suhu diatas 300C, aktivitas penguraian
dibantu oleh mikroorganisme yang mampu bertahan hidup pada temperatur tinggi.
Pada hari ke-31 suhu mulai turun pada temperatur 290C terjadi proses
pendinginan, jumlah aktivitas mikroorganisme thermofilik juga berkurang,
sehingga temperatur di dalam kompos terus menurun, dan organisme mesofilik
yang sebelumnya bersembunyi di bagian tumpukan yang agak dingin mulai
beraktivitas kembali. Organisme mesofilik akan merombak selulosa dan
hemiselulosa yang tersisa dari proses sebelumnya.
Tercapainya suhu 500C di hari ke-7 proses pengomposan diakibatkan
karena tumpukan yang cukup tinggi sehingga mampu menyimpan panas dengan
baik. Tinggi tumpukan kompos pada saat tercapainya temperatur maksimum pada
penelitian ini adalah antara 30-35 cm.

5.7 PENGAMATAN HUBUNGAN SUHU DAN pH

Hubungan antara suhu dan pH dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

60

50
Nilai Suhu dan pH

40

Nilai Suhu
30
Nilai pH

20

10

0
1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 34 37 40
Waktu (hari)

Gambar 5.7
Grafik Hubungan suhu dan pH

61
Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa hubungan suhu dan pH berbanding
terbalik, suhu dari kondisi yang tinggi menjadi semakin rendah, sedangkan pH
dari kondisi rendah menjadi semakin tinggi. Kenaikan suhu menunjukkan adanya
kalor yang dilepas dari aktifitas mikroorganisme. Menurut Polprasert (1989), pada
awal proses bakteri bekerja setelah terjadi masa fase laten yaitu penyesuaian diri
terhadap lingkungan baru. Suhu meningkat hingga mesofilik. Pada fase ini
dekomposisi biasanya didominasi oleh bakteri mesofilik dan fungi. Kenaikan pH
hingga netral disertai dengan penurunan suhu berangsur angsur mencapai suhu
tanah. Selanjutnya tercapai fase pendinginan, nilai pH bersifat netral dan rasio
C/N turun.

5.8 PENGUKURAN KUALITAS KOMPOS

Hasil pengukuran dan analisa kompos yang dilakukan setelah kompos


matang adalah sebagai berikut:

Tabel 5.8
Hasil pengukuran kualitas kompos
Hasil Pengukuran
Parameter Rata-rata
I II III
N (%) 0,919 0,893 0,902 0,905
P (ppm) 21210,086 20335,443 20554,104 20699,878
K (ppm) 21852,202 23398,518 23889,983 23046,901
C/N 50,893 52,381 51,847 51,707
Sumber : Data Primer

Kualitas kompos sangat ditentukan oleh tingkat kematangan kompos, di


samping kandungan logam beratnya. Bahan organik yang tidak terdekomposisi
secara sempurna akan menimbulkan efek yang merugikan pertumbuhan tanaman.
Standar kandungan kompos mengacu pada standar nasional Indonesia
dapat dilihat pada tabel 5.8. dibawah ini:

62
Tabel 5.9
Standar Kualitas Kompos SNI
No Parameter Satuan Minimum Maksimum
1. Kadar Air % - 50
0
2. Suhu C - Suhu air tanah
3. Warna - Kehitaman
4. Bau - Berbau Tanah
5. pH 6,8 7,49
6. Bahan Organik % 27 58
7. C/N rasio 10 20
8. %N % 0,40 -
9. %P % 0,10 -
10. %K % 0,20 -
Sumber : SNI 19-7030-2004

Dibawah ini merupakan perbandingan kompos hasil penelitian dengan SNI


dan produk kompos dipasaran ditunjukkan pada Tabel 5.11 dibawah ini :

Tabel 5.10
Perbandingan Kompos Hasil Penelitian dengan SNI dan Produk Kompos di
Pasaran
Parameter Reaktor kompos SNI 19-7030-2004 Bokashi Sari Bumi
Temperatur Suhu air tanah Suhu air tanah Suhu air tanah
Warna Kehitaman Kehitaman Kehitaman
Bau Berbau Tanah Berbau Tanah Berbau Tanah
pH 6,8 7,49 7,2
Nitrogen (N) 0,905 % 0,4 % 1,61 %
Phospor (P) 2,07 % 0,1 % 1,05 %
Rasio C/N 51,707 10-20 8,78
Kalium (K) 2,3 % 0,2 % 1,05 %

63
1. Unsur N
Unsur N termasuk unsur hara makro, Nitrogen merupakan komponen dari
asam-asam amino (juga protein), klorofil, koenzim dan asam nukleal. Unsur ini
diperlukan oleh tanaman dalam jumlah 1-4 % berat kering tanaman. Unsur
tersebut diperlukan oleh tanaman sebagai penyusun asam amino, protein, dan
klorofil. Apabila tanaman kekurangan unsur N akan menunjukkan gejala antara
lain klorosis pada daun. Gejala kekurangan N pertama kali akan muncul pada
daun tertua. (Anonim, 2007)
Dari ketiga kali pengujian kandungan nilai N rata-rata sebesar 0,905 %,
hal ini dipengaruhi oleh sampah organik yaitu sampah sisa makanan dan juga
sayuran sebagai bahan pembuatan kompos, dimana bahan-bahan kompos tersebut
dapat meningkatkan ketersediaan unsur N pada kompos.
Adapun pengaruh Nitrogen terhadap tanaman adalah untuk meningkatkan
pertumbuhan tanaman, untuk menyehatkan pertumbuhan daun, dapat membuat
daun tanaman lebar dengan warna yang lebih hijau, kekurangan N menyebabkan
khlorosis (pada daun muda berwarna kuning), meningkatkan kadar protein dalam
tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun.

2. Unsur P
Dalam pengomposan jasad-jasad renik menghisap sebagian Phospor untuk
membentuk zat putih telur dalam tubuhnya. Jika pembuatan kompos berlangsung
baik, maka 50-60 % fosfor akan berupa bentuk terlarut sehingga mudah diserap
tanaman. (Murbandono, 2000)
Dari ketiga hasil pengukuran kandungan nilai P berkisar 20699,878 ppm,
hal ini dipengaruhi oleh sampah organik berupa sisa makanan dan juga buah-
buahan, dimana bahan kompos tersebut dapat meningkatkan ketersediaan unsur P
pada kompos.
Adapun pengaruh Phosfor terhadap tanaman adalah dapat mempercepat
pertumbuhan akar semai, dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan
tanaman muda menjadi tanaman dewasa, dapat mempercepat pembungaan dan
pemasakan buah, biji atau gabah, dapat meningkatkan produksi biji-bijian.

64
3. Unsur K
Dalam proses pengomposan sebagian besar Kalium (K) dalam bentuk
yang mudah larut sehingga sekitar 90-100 % kalium itu mudah diserap oleh
tanaman. (Murbandono, 2000)
Jika bahan organik awal yang digunakan untuk pembuatan kompos cukup
nitrogennya, maka biasanya unsur hara lainnya P dan K akan tersedia dalam
jumlah yang cukup. (Dalzell, 1987)
Dari ketiga hasil pengukuran terbesar pada hasil pengukuran yang ketiga
yaitu sebesar 23046,901 ppm, hal ini dipengaruhi oleh sumber utama bahan
pembuatan kompos berupa sisa makanan, sayuran dan juga buah-buahan.
Adapun pengaruh Kalium terhadap tanaman adalah membantu dalam
pembentukan protein dan karbohidrat, mengeraskan jerami dan bagian kayu dari
tanaman, meningkatkan resistensi tanaman terhadap penyakit, meningkatkan
kualitas biji, buah.

4. Rasio C/N
Proses pengomposan merupakan proses biokimia sehingga setiap faktor
yang mempengruhi mikroorganisme tanah dan akan mempengaruhi laju
dekomposisi tersebut. Laju dekomposisi bahan organik menjadi kompos matang
tergantung dari beberapa faktor salah satunya adalah Rasio C/N. (Simamora,
2006)
Dapat dilihat hasil pengukuran rasio C/N tinggi yaitu berkisar 51,707, hal
ini dikarenakan adanya penumpukan C karena tidak terjadinya respirasi yang juga
diakibatkan oleh kurangnya nitrogen (N). Faktor tidak imbangnya rasio C/N pada
hasil akhir lebih diakibatkan bahan dari kompos itu sendiri lebih banyak berasal
dari sisa makanan yang terdiri dari nasi dan juga sayuran dengan sedikit variasi
sehingga membuat rasio C/N tinggi. Jadi untuk pengaruh kompos ini apabila
digunakan memupuk tanaman, maka tanaman akan sulit untuk menyerap nutrient
yang ada pada kompos.
N, P dan K hasil pengujian laboratorium cukup baik sehingga kompos ini
bagus untuk tanaman penghasil daun ataupun tanaman penghasil buah sekalipun,
akan tetapi akan sulit untuk diserap oleh tanaman karena rasio C/N yang tinggi.

65
Berdasarkan kandungan N, P, K yang terdapat pada kompos hasil
penelitian dibandingkan dengan standar kualitas kompos SNI dan standar kualitas
kompos yang beredar di pasaran, maka pupuk kompos hasil penelitian memiliki
kualitas yang cukup baik, karena memiliki kandungan unsur N, P, K yang tinggi,
namun untuk kandungan C/N pupuk hasil penelitian ini belum sesuai dengan
Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu 10-20 , sehingga memerlukan penanganan
lebih lanjut agar sesuai dengan SNI sehingga apabila dipasarkan akan mampu
bersaing dengan pupuk lainnya.
Pemberian zat N yang banyak akan memiliki dampak yang baik terhadap
tanaman-tanaman penghasil daun, akan tetapi pemberian zat N yang sedemikian
terhadap tanaman-tanaman bukan penghasil daun, seperti tanaman padi akan
merugikan, untuk dampak positifnya antara lain yaitu :
1. Akan banyak menghasilkan daun dan batang.
2. batang akan lembek dan mudah rebah.
3. Kurang sekali menghasilkan buah/gabah.
4. Dapat melambatkan masaknya biji/butir-butir padi.

Untuk tanaman yang memiliki kekurangan unsur hara makro (N, P, K)


dapat berakibat pada penurunan pertumbuhan secara fisik antara lain yaitu :
a. Kekurangan unsur nitrogen (N).
a). Warna daun yang hijau akan berubah menjadi kuning, kering terus
berubah warna menjadi merah kecoklatan.
b). Perkembangan buah tidak sempurna, umumnya kecil-kecil dan cepat
matang.
c). Menimbulkan daun penuh dengan serat.
b. Kekurangan unsur Fosfor (P).
a). Pada tanaman gandum menimbulkan gejala pada jeraminya, berwarna
abu-abu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, sistem perakaran
buruk.
b). Pada tanaman serealia (padi-padian, rumput-rumputan penghasil biji
yang dapat dimakan, jewawut, gandum jagung), daun-daunya
berwarna hijau tua/abu-abu, mengkilap, sering pula terdapat pigmen

66
merah pada daun bagisn bawah, selanjutnya mati. Tangkai-tangkai
daun kelihatan lancip-lancip. Pembetukan buah jelek.
c. Kekurangan unsur kalium (K).
a). Gejala pada daun terjadi secara setempat-setempat. Pada awalnya
tampak agak mengkerut dan kadang-kadang mengkilap, selanjutnya
sejak ujung dan tepi daun tampak menguning, warna ini tampak pula
diantara tulang-tulang daun, pada akhirnya daun tampak bergerigi dan
kemudian mati.
b). Gejala pada batang yaitu batangnya lemah dan pendek-pendek,
sehingga tanaman tampak kerdil.
c). Gejala yang tampak pada buah, misalnya buah kelapa dan buah jeruk
banyak yang berjatuhan sebelum masak, sedangkan masaknya buah
berlangsung lambat.

Penyebab pembusukan pada bahan organik diakibatkan adanya karbon dan


nitrogen. Rasio C/N digunakan untuk mendapatkan degradasi biologis dari bahan-
bahan organik yaitu apakah sampah tersebut baik atau tidak untuk dijadikan
kompos, serta untuk menunjukkan umur dan kematangan kompos.
Rasio C/N optimum untuk pengomposan adalah 30-35. Organisme
menggunakan 30 bagian karbon untuk setiap bagian nitrogen. Rasio C/N setelah
menjadi kompos adalah 10-20. Kadar nitrogen yang tinggi terdapat pada sayuran
dengan rasio C/N 24:1, dan kadar karbon yang tinggi dijumpai pada kertas,
jerami, batang tebu, dan sampah kota (30:1).
Hal terpenting dari proses pembentukan kompos ini adalah bahwa dalam proses
pembentukannya, ada kaitan yang sangat erat antara unsur Carbon (C) dan
Nitrogen (N). Pokok permasalahannya justru terletak pada kenyataan bahwa
dalam proses dekomposisi bahan organik oleh jasad-jasad mikro, disamping
karbohidrat yang dijadikan sebagai sumber energi dan pertumbuhan mikroba,
ternyata juga dibutuhkan N dan P. Bahan-bahan yang terakhir ini diasimilir
menjadi bahan tubuhnya. Dengan jalan ini protein tumbuhan dialihkan menjadi
protein mikroba. Perbandingan dari C/N kompos dapat diperhitungkan dari
berbagai senyawa yang menyusun kompos.

67
Pada hasil kualitas laboratorium, nilai rata-rata C/N kompos didapat
sebesar 51,707. Untuk menurunkannya dapat digunakan aktivator dekomposisi
kompos yang dapat menurunkan rasio C/N dalam bahan sampah, yang awalnya
tinggi (>50) menjadi setara dengan angka C/N tanah. Dengan rasio antara
karbohidrat dengan nitrogen rendah sebagaimana C/N tanah (< 20) maka bahan
sampah menjadi dapat diserap tanaman. Dalam dekomposisi menggunakan
mikroba, bakteri, fungi dan jamur yang terdapat dalam aktivator dekomposisi
kompos (www.kencanaonline.com), dalam bahan sampah organik terjadi antara
lain : 1) karbohidrat, selulosa, lemak, dan lilin menjadi CO2 dan air; 2) zat putih
telur menjadi amonia, CO2 dan air; 3) peruraian senyawa organik menjadi
senyawa yang dapat diserap tanaman. Kadar karbohidrat akan hilang atau turun
dan sebaliknya senyawa N ( Nitrogen) yang larut ( amonia) meningkat. Atau C/N
rasio semakin rendah dan stabil mendekati C/N tanah.

5.9 DATA RESPONDEN

A. Jumlah Anggota Keluarga Responden.


Berikut adalah grafik jumlah anggota keluarga responden.

100

90

80

70 67

60 3
Persen 50 4-6
40 7

30
21
20
12
10

Gambar 5.8
Jumlah Anggota Keluarga Responden

68
Gambar menunjukkan jumlah anggota keluarga responden. Jumlah
anggota keluarga responden 3 orang sebanyak 21 responden (21 %). 4-6
orang sebanyak 67 responden (67 %). Responden yang 7 orang sebanyak
12 responden (12 %).

B. Penghasilan Rata-Rata Responden.


Berikut ini adalah grafik penghasilan rata-rata responden per bulan :

100

90

80
70

60 < 500000
500000 - 1000000
Persen 50
1000000 - 2000000
40 35 34 > 2000000
30
20 17
14
10

Gambar 5.9
Jumlah Penghasilan Responden per Bulan

Gambar menunjukkan penghasilan rata-rata responden per bulan. Untuk


responden dengan jumlah penghasilan rata-rata per bulan < 500.000
sebanyak 14 responden (14 %). Untuk responden 500.000-1.000,000
sebanyak 17 responden (17 %). Untuk responden 1.000.000-1.500.000
sebanyak 35 responden (35 %). Sedangkan responden > 2.000.000
sebanyak 34 responden (34 %).

C. Pendidikan Terakhir Responden.


Berikut ini adalah grafik pendidikan terakhir responden :

69
100

90

80 73
70
Tidak Sekolah
60 SD
Persen 50 SLTP

40 SLTA
Akademi/PT
30

20 17

10 4 6
0
0

Gambar 5.10
Pendidikan Terakhir Responden

Gambar menunjukkan pendidikan terakhir responden. Jumlah pendidikan


terakhir yang tidak sekolah sebanyak 0 responden (0 %). SD sebanyak 4
responden (4 %). SLTP sebanyak 6 responden (6 %). SLTA sebanyak 17
responden (17 %). Dan responden Akademi/Perguruan Tinggi sebanyak
73 responden (73 %).

5.10 MANAJEMEN SAMPAH


A. Pembuangan Sampah Rumah Tangga Setiap Hari.
Berikut ini adalah grafik pembuangan sampah rumah tangga oleh
responden setiap hari :

70
100

90 83
80

70

60 Tempat sampah sendiri


Sungai
Persen 50
Pekarangan
40 Lainnya
30

20 13
10 4
0
0

Gambar 5.11
Pembuangan Sampah oleh Responden

Gambar menunjukkan pembuangan sampah oleh responden setiap hari.


Jumlah responden yang membuang sampah pada tempat sampah sendiri
sebanyak 83 responden (83 %). Sungai sebanyak 0 responden (0 %).
Pekarangan sebanyak 13 responden (13 %). Lainnya sebanyak 4
responden (4 %). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan pada lokasi
perumahan tersebut, mayoritas masing-masing KK sudah memiliki tempat
sampah sendiri walaupun sebagian kecil juga masih ada yang
memanfaatkan pekarangan rumah mereka sendiri untuk dijadikan tempat
pembuangan sampah. Dari hasil ini dapat dilihat bahwa warga sudah
memiliki kesadaran untuk memiliki tempat sampah sendiri di rumah
mereka masing-masing.

B. Pemilahan Sampah oleh Responden.


Berikut ini adalah grafik pemilahan sampah oleh responden :

71
100

90 84
80

70

60
Ya
Persen 50
Tidak
40

30

20 16

10

Gambar 5.12
Grafik Pemilahan Sampah Rumah Tangga

Gambar menunjukkan pemilahan sampah oleh responden setiap hari.


Jumlah responden yang memilah sampah sebanyak 16 responden (16 %).
Yang tidak memilah sampahnya sebanyak 84 responden (84 %). Dari hasil
tersebut dapat disimpulkan bahwa warga perumahan mayoritas masih
belum melakukan pemilahan terhadap sampah yang mereka buang setiap
harinya. Ini dapat disebabkan karena kesibukan mereka dalam pekerjaan
atau juga masih kurangnya kesadaran untuk memilah sampah tersebut.
Dan dari jumlah kecil responden yang sudah melakukan pemilahan dapat
terlihat bahwa mereka sudah mengerti fungsi dari pemilahan tersebut.
Disini juga dapat disimpulkan bahwa responden wanita lebih aktif dalam
melakukan aktifitas pemilahan dengan dibantu peranan pembantu rumah
tangga yang juga cukup aktif dan bermanfaat dalam melakukan pemilahan.

C. Banyaknya Sampah yang Dibuang Setiap Hari.


Berikut ini adalah grafik banyaknya sampah yang dibuang setiap hari oleh
responden :

72
100

90

80

70
61
60 < 1 Kg
2 - 3 Kg
Persen 50
4 - 6 Kg
40 33 > 6 Kg
30

20

10 5
1
0

Gambar 5.13
Banyaknya Sampah yang Dibuang Setiap Hari

Gambar menunjukkan banyaknya sampah yang dibuang setiap hari.


Jumlah responden yang membuang sampah < 1 kg sebanyak 61 responden
(61 %). 2 – 3 kg sebanyak 33 responden (33 %). 4 – 6 kg sebanyak 5
responden (5 %). > 6 kg sebanyak 1 responden (1 %). Dari hasil tersebut
dapat disimpulkan bahwa warga perumahan tidak terlalu sering membuang
sampah berat. Ini disebabkan karena lokasi perumahan bukan merupakan
lokasi industri ataupun komplek pertokoan dimana dapat dihasilkan
sampah dan limbah berat. Warga perumahan lebih sering membeli
makanan berupa makanan cepat saji sehingga sampah yang dihasilkan
hanya berupa sisa-sisa makanan ataupun wadah pembungkusnya beserta
sampah-sampah lain berupa kertas dan plastik yang tidak memiliki massa
ataupun beban yang terlalu berat.

D. Jenis Sampah yang Sering Dibuang Setiap Hari.


Berikut ini adalah grafik jenis sampah yang sering dibuang setiap harinya
oleh responden :

73
100

90

80

70

60 Plastik
Kertas
Persen 50
Organik
40 35 Lainnya
30 25
20 20
20

10

Gambar 5.14
Jenis Sampah yang Sering Dibuang Setiap Hari

Gambar menunjukkan jenis sampah yang sering dibuang setiap harinya.


Jumlah responden yang membuang sampah plastik sebanyak 25 responden
(25 %). Kertas sebanyak 20 responden (20 %). Organik sebanyak 35
responden (35 %). Lainnya sebanyak 20 responden (20 %). Dari hasil
tersebut dapat disimpulkan bahwa sampah yang sering dihasilkan di
perumahan tersebut adalah sampah organik. Walaupun perbedaannya
jumlahnya tidak terlalu mencolok. Sampah organik ini mayoritas berupa
sisa-sisa makanan yang dibuang. Dapat dilihat bahwa warga perumahan
lebih sering membeli makanan cepat saji. Untuk sampah kertas dan plastik
mayoritas berupa wadah pembungkus makanan. Dan untuk lainnya berupa
kain potongan sisa, karena ada beberapa responden yang memiliki usaha
Penjahit Busana di rumahnya yang menghasilkan sampah kain sisa.

E. Pengetahuan Responden tentang Pemanfaatan Sampah.


Berikut ini adalah grafik mengenai pengetahuan responden tentang
sampah yang bisa dimanfaatkan :

74
100
90
80
70 66

60
Ya
Pe rsen 50
Tidak
40 34
30
20
10
0

Gambar 5.15
Pengetahuan Responden tentang Pemanfaatan Sampah

Gambar menunjukkan apakah responden mengetahui bahwa sampah bisa


dimanfaatkan. Jumlah responden yang mengetahui bahwa sampah bisa
dimanfaatkan sebanyak 66 responden (66 %). Yang tidak mengetahui
sebanyak 34 responden (34 %). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan
bahwa mayoritas warga perumahan sudah mengetahui pemanfaatan
sampah lebih lanjut. Hasil ini cukup bagus, karena mereka memberi
tanggapan yang positif terhadap metode pengomposan yang akan
diterapkan untuk pemanfaatan sampah organik. Dan dari hasil
pengomposan tersebut dapat mereka gunakan untuk pupuk tanaman
ataupun sebagai sumber penghasilan baru.

F. Peran Serta Responden terhadap Pengelolaan Sampah Terpadu.


Berikut ini adalah grafik kesediaan responden jika dilakukan pengelolaan
sampah secara terpadu di Perumahan Dayu Permai :

75
100
90
79
80
70
60
Ya
Pe rsen 50
Tidak
40
30
21
20
10
0

Gambar 5.16
Peran Serta Responden terhadap Pengelolaan Sampah Terpadu

Gambar menunjukkan kesediaan responden jika dilakukan pengelolaan


sampah secara terpadu di Perumahan Dayu Permai. Jumlah responden
yang bersedia berperan serta sebanyak 79 responden (79 %). Yang tidak
bersedia sebanyak 21 responden (21 %). Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa respon warga perumahan cukup bagus karena latar
pendidikan mereka yang cukup mendukung untuk menggerakkan mereka
dalam mengolah sampah-sampah sisa yang dapat dimanfaatkan kembali.
Dan dari hasil ini juga dapat disimpulkan bahwa warga sudah mulai sadar
akan arti pentingnya lingkungan bersih, sehat, dan nyaman untuk tempat
tinggal.

5.11 PENGOLAHAN DATA STATISTIK


A. Pengolahan Data Tingkat Pendidikan dengan Kesadaran untuk Memilah
Sampah dengan Metode Statistik One Way ANOVA
Pengolahan untuk data lebih dari 2 sampel sebaiknya menggunakan uji
ANOVA dengan asumsi populasi-populasi yang akan diuji berdistribusi normal.
Varians dari populasi-populasi tersebut adalah sama, serta sampel tidak

76
berhubungan satu dengan yang lain. Uji dilakukan untuk mengetahui apakah rata-
rata nilai tingkat pendidikan memiliki perbedaan yang signifikan. Adapun
ringkasan statistik dari data tingkat pendidikan dengan pengetahuan pemanfaatan
sampah dapat dilihat pada tabel 5.11 :

Tabel 5.11
Descriptive untuk tingkat pendidikan dengan kesadaran untuk memilah sampah
Descriptives

PMLHN_1
95% Confidence Interval for
Mean
N Mean Std. Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum
SD 4 ,50 ,577 ,289 -,42 1,42 0 1
SMP 6 ,17 ,408 ,167 -,26 ,60 0 1
SMA 17 ,18 ,393 ,095 -,03 ,38 0 1
Akademi/PT 73 ,05 ,229 ,027 ,00 ,11 0 1
Total 100 ,10 ,302 ,030 ,04 ,16 0 1

Test of Homogeneity dilakukan untuk menguji berlaku atau tidaknya


asumsi pada ANOVA, yaitu apakah keseratus sampel mempunyai tingkat
pendidikan yang sama. Adapun hasil perhitungan probabilitas dengan tes
homogenitas tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 5.12 di bawah ini:

Tabel 5.12
Homogenitas variansi untuk tingkat pendidikan dengan kesadaran untuk memilah
sampah.

Test of Homogeneity of Variances

PMLHN_1
Levene
Statistic df1 df2 Sig.
7,762 3 96 ,000

Hipotesis :
H0 : Keempat tingkat pendidikan identik
H1 : Keempat tingkat pendidikan tidak identik
Pengambilan keputusan :
§ Jika probabilitas > 0,05, maka H0 diterima

77
§ Jika probabilitas < 0,05, maka H0 ditolak

Berdasarkan Tabel 5.12 terlihat bahwa levene test hitung adalah 7,762,
dengan nilai probabilitas 0,000. Oleh karena itu probabilitas < 0,05, maka H0
ditolak atau tingkat pendidikan adalah tidak identik.
Setelah tingkat pendidikan telah terbukti tidak identik maka asumsi untuk
ANOVA tidak berlaku. Sedangkan untuk menguji apakah keseratus sampel
mempunyai rata-rata (mean) yang sama, maka uji ANOVA (Analysis of Variance)
dilakukan. Hasil analisis dengan menggunakan ANOVA dapat dilihat pada tabel
5.13 dibawah ini :

Tabel 5.13
Analysis of Variance (ANOVA) untuk nilai kesadaran untuk memilah sampah

ANOVA

PMLHN_1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups ,915 3 ,305 3,623 ,016
Within Groups 8,085 96 ,084
Total 9,000 99

Hipotesis :
H0 : Keempat tingkat pendidikan identik
H1 : Keempat tingkat pendidikan tidak identik
Pengambilan keputusan :
a. Berdasarkan Perbandingan F hitung dengan F tabel :
§ Jika F hitung < F tabel, maka H0 diterima
§ Jika F hitung > F tabel, maka H0 ditolak
b. Berdasarkan nilai probabilitas :
§ Jika probabilitas > 0,05, maka H0 diterima
§ Jika probabilitas < 0,05, maka H0 ditolak

78
Berdasarkan Tabel 5.13 diatas maka dapat terlihat bahwa F hitung adalah
3,623 dengan probabilitas 0,016. Oleh karena probabilitas < 0,05, maka H0 ditolak
atau rata-rata nilai kesadaran untuk memilah sampah pada tingkat pendidikan
tidak identik, berarti tingkat pendidikan memiliki pengaruh terhadap kesadaran
untuk memilah sampah di perumahan Dayu Permai. Setelah diketahui bahwa ada
perbedaan nilai kesadaran untuk memilah sampah yang nyata diantara keempat
tingkat pendidikan, maka dapat diketahui mana saja tingkat pendidikan yang
berbeda dan mana saja yang tidak berbeda. Hal ini akan dibahas pada analisis
Bonferroni dan Tukey dalam Post hoc. Hasil analisis dengan test Post Hoc dapat
dilihat pada tabel 5.14 berikut ini :
Tabel 5.14
Post Hoc Tests
Multiple Comparisons

Dependent Variable: PMLHN_1

Mean
Difference 95% Confidence Interval
(I) PNDDKN_1 (J) PNDDKN_1 (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
Tukey HSD SD SMP ,33 ,187 ,290 -,16 ,82
SMA ,32 ,161 ,193 -,10 ,75
Akademi/PT ,45* ,149 ,018 ,06 ,83
SMP SD -,33 ,187 ,290 -,82 ,16
SMA -,01 ,138 1,000 -,37 ,35
Akademi/PT ,11 ,123 ,801 -,21 ,43
SMA SD -,32 ,161 ,193 -,75 ,10
SMP ,01 ,138 1,000 -,35 ,37
Akademi/PT ,12 ,078 ,408 -,08 ,33
Akademi/PT SD -,45* ,149 ,018 -,83 -,06
SMP -,11 ,123 ,801 -,43 ,21
SMA -,12 ,078 ,408 -,33 ,08
Bonferroni SD SMP ,33 ,187 ,470 -,17 ,84
SMA ,32 ,161 ,286 -,11 ,76
Akademi/PT ,45* ,149 ,021 ,04 ,85
SMP SD -,33 ,187 ,470 -,84 ,17
SMA -,01 ,138 1,000 -,38 ,36
Akademi/PT ,11 ,123 1,000 -,22 ,44
SMA SD -,32 ,161 ,286 -,76 ,11
SMP ,01 ,138 1,000 -,36 ,38
Akademi/PT ,12 ,078 ,737 -,09 ,33
Akademi/PT SD -,45* ,149 ,021 -,85 -,04
SMP -,11 ,123 1,000 -,44 ,22
SMA -,12 ,078 ,737 -,33 ,09
*. The mean difference is significant at the .05 level.

Dari tabel 5.14 diatas dapat terlihat bahwa hasil uji tukey diketahui bahwa
rata-rata probabilitas > 0,05 maka H0 diterima, atau perbedaan rata-rata nilai
kesadaran untuk memilah sampah memiliki perbedaan yang signifikan. Karena

79
nilai rata-rata dari variasi tingkat pendidikan tidak identik. Selain itu dari dari
*
hasil uji pun ditemukan tanda pada kolom Mean Difference maka perbedaan
tersebut nyata atau signifikan.

B. Pengolahan Data Tingkat Penghasilan dengan Timbulan Sampah dengan


Metode Statistik One Way ANOVA
Pengolahan untuk data lebih dari 2 sampel sebaiknya menggunakan uji
ANOVA dengan asumsi populasi-populasi yang akan diuji berdistribusi normal.
Varians dari populasi-populasi tersebut adalah sama, serta sampel tidak
berhubungan satu dengan yang lain. Uji dilakukan untuk mengetahui apakah rata-
rata nilai tingkat penghasilan memiliki perbedaan yang signifikan. Adapun
ringkasan statistik dari data tingkat penghasilan dengan timbulan sampah dapat
dilihat pada tabel 5.15 :

Tabel 5.15
Descriptive untuk nilai tingkat penghasilan dengan timbulan sampah
Descriptives

TIMBLN_1
95% Confidence Interval for
Mean
N Mean Std. Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum
<500000 14 1,14 ,363 ,097 ,93 1,35 1 2
500000-1000000 17 1,82 1,015 ,246 1,30 2,35 1 4
1000000-2000000 35 1,49 ,507 ,086 1,31 1,66 1 2
>2000000 34 1,79 ,410 ,070 1,65 1,94 1 2
Total 100 1,60 ,620 ,062 1,48 1,72 1 4

Test of Homogeneity dilakukan untuk menguji berlaku atau tidaknya


asumsi pada ANOVA, yaitu apakah keseratus sampel mempunyai tingkat
penghasilan yang sama. Adapun hasil perhitungan probabilitas dengan tes
homogenitas varians dapat dilihat pada tabel 5.16 di bawah ini:

80
Tabel 5.16
Homogenitas variansi untuk nilai tingkat penghasilan dengan timbulan sampah

Test of Homogeneity of Variances

TIMBLN_1
Levene
Statistic df1 df2 Sig.
10,542 3 96 ,000

Hipotesis :
H0 : Keempat tingkat penghasilan identik
H1 : Keempat tingkat penghasilan tidak identik
Pengambilan keputusan:
§ Jika probabilitas > 0,05, maka H0 diterima
§ Jika probabilitas < 0,05, maka H0 ditolak
Berdasarkan Tabel 5.16 terlihat bahwa levene test hitung adalah 10,542,
dengan nilai probabilitas 0,000. Oleh karena itu probabilitas < 0,05, maka H0
ditolak atau tingkat pengahasilan adalah tidak identik.
Setelah tingkat penghasilan telah terbukti tidak identik maka asumsi untuk
ANOVA tidak berlaku. Sedangkan untuk menguji apakah keseratus sampel
mempunyai rata-rata (mean) yang sama, maka uji ANOVA (Analysis of Variance)
dilakukan. Hasil analisis dengan menggunakan ANOVA dapat dilihat pada tabel
5.17 dibawah ini :

Tabel 5.17
Analysis of Variance (ANOVA) untuk nilai tingkat penghasilan dengan timbulan
sampah

ANOVA

TIMBLN_1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 5,513 3 1,838 5,431 ,002
Within Groups 32,487 96 ,338
Total 38,000 99

81
Hipotesis :
H0 : Keempat rata-rata populasinya identik
H1 : Keempat rata-ratanya tidak identik
Pengambilan keputusan :
a. Berdasarkan Perbandingan F hitung dengan F tabel :
§ Jika F hitung < F tabel, maka H0 diterima
§ Jika F hitung > F tabel, maka H0 ditolak
b. Berdasarkan nilai probabilitas :
§ Jika probabilitas > 0,05, maka H0 diterima
§ Jika probabilitas < 0,05, maka H0 ditolak

Berdasarkan Tabel 5.17 diatas maka dapat terlihat bahwa F hitung adalah
5,431 dengan probabilitas 0,002. Oleh karena probabilitas < 0,05, maka H0 ditolak
atau rata-rata nilai timbulan sampah pada tingkat penghasilan tidak identik, berarti
tingkat penghasilan memiliki pengaruh terhadap timbulan sampah di perumahan
Dayu Permai. Setelah diketahui bahwa ada perbedaan nilai timbulan sampah yang
nyata diantara keempat tingkat penghasilan, maka dapat diketahui mana saja
tingkat penghasilan yang berbeda dan mana saja yang tidak berbeda. Hal ini akan
dibahas pada analisis Bonferroni dan Tukey dalam Post hoc. Hasil analisis dengan
test Post Hoc dapat dilihat pada tabel 5.18 berikut ini :

82
Tabel 5.18
Post Hoc Tests
Multiple Comparisons

Dependent Variable: TIMBLN_1

Mean
Difference 95% Confidence Interval
(I) PNGHSL_1 (J) PNGHSL_1 (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
Tukey HSD <500000 500000-1000000 -,68* ,210 ,009 -1,23 -,13
1000000-2000000 -,34 ,184 ,251 -,82 ,14
>2000000 -,65* ,185 ,004 -1,13 -,17
500000-1000000 <500000 ,68* ,210 ,009 ,13 1,23
1000000-2000000 ,34 ,172 ,209 -,11 ,79
>2000000 ,03 ,173 ,998 -,42 ,48
1000000-2000000 <500000 ,34 ,184 ,251 -,14 ,82
500000-1000000 -,34 ,172 ,209 -,79 ,11
>2000000 -,31 ,140 ,130 -,67 ,06
>2000000 <500000 ,65* ,185 ,004 ,17 1,13
500000-1000000 -,03 ,173 ,998 -,48 ,42
1000000-2000000 ,31 ,140 ,130 -,06 ,67
Bonferroni <500000 500000-1000000 -,68* ,210 ,010 -1,25 -,12
1000000-2000000 -,34 ,184 ,392 -,84 ,15
>2000000 -,65* ,185 ,004 -1,15 -,15
500000-1000000 <500000 ,68* ,210 ,010 ,12 1,25
1000000-2000000 ,34 ,172 ,314 -,13 ,80
>2000000 ,03 ,173 1,000 -,44 ,49
1000000-2000000 <500000 ,34 ,184 ,392 -,15 ,84
500000-1000000 -,34 ,172 ,314 -,80 ,13
>2000000 -,31 ,140 ,181 -,69 ,07
>2000000 <500000 ,65* ,185 ,004 ,15 1,15
500000-1000000 -,03 ,173 1,000 -,49 ,44
1000000-2000000 ,31 ,140 ,181 -,07 ,69
*. The mean difference is significant at the .05 level.

Dari tabel 5.18 diatas dapat terlihat bahwa hasil uji tukey diketahui bahwa
rata-rata probabilitas > 0,05 maka H0 diterima, atau perbedaan rata-rata nilai
timbulan sampah memiliki perbedaan yang signifikan. Karena nilai rata-rata dari
variasi tingkat penghasilan tidak identik. Selain itu dari dari hasil uji pun
*
ditemukan tanda pada kolom Mean Difference maka perbedaan tersebut nyata
atau signifikan.

5.12 PERENCANAAN PENGELOLAAN SAMPAH

Kinerja sistem pengelolaan akan sangat menentukan wajah dari suatu


kawasan perumahan. Apabila kinerja sistem pengelolaan sampah baik, maka
wajah perumahan tersebut akan menjadi bersih dan demikian juga sebaliknya.
Nilai penting dari unjuk kerja sistem pengelolaan sampah tidak saja terhadap nilai
estetika lingkungan, tetapi juga meliputi manfaatnya terhadap :

83
- Perlindungan kesehatan masyarakat.
- Perlindungan pencemaran lingkungan.
- Pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
- Peningkatan nilai sosial budaya masyarakat.

Pengelolaan yang dikembangkan adalah pengelolaan sampah terpadu


berdasarkan atas konsep community based development, yang merupakan upaya
untuk meminimalkan sampah yang akan diangkut ke TPA sebanyak mungkin,
dengan melibatkan swadaya masyarakat dalam daur ulang sampah. Beberapa
keuntungan yang dapat diperoleh dari sistem pengelolaan sampah terpadu ini,
diantaranya :
1. Biaya pengangkutan dapat ditekan karena dapat memangkas mata
rantai pengangkutan sampah.
2. Tidak memerlukan lahan besar untuk TPA;
3. Dapat menghasilkan nilai tambah hasil pemanfaatan sampah menjadi
barang yang memiliki nilai ekonomis;
4. Dapat lebih mensejahterakan petugas pengelola kebersihan;
5. Bersifat lebih ekonomis dan ekologis;
6. Dapat menambah lapangan pekerjaan dengan berdirinya badan usaha
yang mengelola sampah menjadi bahan yang bermanfaat ;
7. Dapat lebih memberdayakan masyarakat dalam mengelola kebersihan
kota.

84
Sosialisasi

Pendampingan

Percontohan Pembentukan
lembaga

Penyiapan perlengkapan

Drum, genthong dll TPS Alat angkut

Gerakan masyarakat

Evaluasi

Gambar 5.17
Skema community based solid waste management

Nilai penting dari unjuk kerja sistem pengelolaan sampah ini tidak mudah
untuk disadari kemanfaatannya, kecuali apabila sistem pengelolaan sampah
perumahan sudah benar-benar lumpuh dan menimbulkan bencana kota.
Lingkungan yang dikelola sampahnya agar tercipta kondisi yang bersih
berkelanjutan adalah :
- Lingkungan pemukiman.
- Sarana umum (lapangan olahraga, poskamling, dan lain-lain).
- Prasarana (jalan, drainase, sungai, taman, instalasi perumahan lainnya).
- Sarana pengelolaan kebersihan (lokasi pemindahan sementara, tempah
pengolahan/daur-ulang (TPA)).

85
Dalam pengembangan sistem pengelolaan kebersihan juga diterapkan
prinsip umum, diantaranya yaitu :
Ø Mengutamakan citra pusat pengelolaan sampah TPS/TPA juga bersih.
Ø Seluruh prasarana dan sarana kebersihan mengisolasi sampah dari
lingkungannya.
Ø Mengutamakan penambahan kapasitas sarana dan prasarana kebersihan.
Ø Mengutamakan perluasan daerah pelayanan dan secepatnya sampah
terangkut.
Ø Sampah terkendali tidak selalu harus diangkut, bisa dikurangi, bisa
digunakan ulang, bisa dikomposkan, bisa didaur-ulang.
Ø Pengomposan di sumber untuk pengkondisi lahan halaman rumah.
Ø Pemilahan di sumber merupakan kunci efisiensi.

5.12.1 TEKNIK OPERASIONAL

Peningkatan pelayanan dilakukan melalui peningkatan penyelenggaraan


penyapuan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan pembuangan akhir
(termasuk pemeliharaan sarana) sampah dari seluruh sumber sampah.
• Pewadahan tertutup untuk mengatasi problem cuaca dilakukan secara
terpisah antara sampah organik dan non organik.
• Upayakan pemilahan di sumbernya untuk sampah organik dan non
organik.
• Pengumpulan menggunakan gerobak dengan perkiraan rasio 1 gerobak
untuk 70 rumah atau 200-300 jiwa.
• Pengangkutan sampah dari TPS menggunakan mobil pick-up ke TPA
dengan catatan jarak TPA tidak lebih dari 20 Km dengan lokasi TPS
perumahan.

Berikut ini adalah teknik operasional pengelolaan sampah mulai dari


sumber sampai pemrosesan akhir yang akan direncanakan di Perumahan Dayu
Permai Yogyakarta adalah seperti terlihat dalam gambar dibawah ini :

86
Sumber Sampah

Timbulan Sampah

Pemilahan di
Sumber

Sampah Sampah Sampah


Organik Anorganik Non 3R

Pewadahan
Pengomposan Residu Pewadahan

Pengumpulan
Dipakai Pewadahan Pengumpulan
Warga
Pengangkutan
Pengumpulan TPS

TPA
TPS

Pengangkutan

TPA

Gambar 5.18
Pola Pengelolaan Sampah Mulai dari Sumber Sampai ke TPA di Perumahan
Dayu Permai Yogyakarta

87
5.12.2 PEMILAHAN

Pemilahan sampah harus dilakukan mulai dari sumber sampah dihasilkan,


jadi pemilahan dilakukan di tiap-tiap rumah warga perumahan Dayu Permai.
Dimana pada skala rumah tangga, setiap individu harus melakukan pemisahan
dalam pengumpulan sampah, yaitu dibagi menjadi:
1. Sampah organik, seperti sisa-sisa makanan, sayuran, daun.
2. Sampah anorganik, seperti plastik, kertas, logam, kaca, kaleng,
alumunium, kain.
3. Sampah non 3R, seperti obat-obatan, baterai.

Sumber sampah yang paling besar di perumahan Dayu Permai adalah


sampah organik, dimana komposisi dari sampah organik sebesar 64,47 %,
sedangkan untuk sampah anorganik sebesar 34,35 % dan 1,17 % untuk sampah
non 3R.
Dari hasil penelitian didapatkan hasil volume sampah organik sebesar 0,99
lt/org/hari, sedangkan untuk sampah anorganik 1,49 lt/org/hari dan untuk sampah
non 3R volume 0,1 lt/org/hari, sehingga didapatkan :
a. Organik
Volume organik = 0,99 lt/org/hari x 1120 jiwa
= 1105 lt/hari
= 1,105 m3/hr

o Sampah organik yang dapat dijadikan kompos yaitu bekas sayur –sayuran,
buah-buahan, daun-daunan dan sisa makanan.
o Sedangkan sampah organik yang dibuang ke TPA adalah 8% dari
keseluruhan volume sampah organik, yaitu :
= 8% × 1,105 m3/hr = 0,088 m3/hr
o Sampah organik yang tidak bisa dijadikan kompos adalah tulang, batang
pohon, batok kelapa dll.

b. Anorganik
Volume anorganik = 1,49 lt/org/hari x 1120 jiwa

88
= 1667 lt/hari
= 1,667 m3/hr

o Residu yang akan dibuang ke TPA adalah 10% dari volume sampah an
organik adalah :
= 10% x 1,667 m3/hari
= 0,167 m3/hr

c. Non 3R
Volume non 3R = 0,1 lt/org/hr x jumlah penduduk
= 0,1 lt/org/hr x 1120 Jiwa
= 108 lt/hr
= 0,108 m3/hr

o Total residu yang dibuang ke TPA adalah :


= Volume residu sampah organik + Volume residu sampah anorganik+
volume sampah non 3 R
= 0,088 m3/hr + 0,167 m3/hr + 0,108 m3/hr
= 0,363 m3/hr

o Untuk pemanfaatan adalah =


= Pengomposan + Pemanfaatan Anorganik
= 1,016 m3/hr + 1,5 m3/hr
= 2,516 m3/hr

Berikut ini adalah neraca persentase sampah mulai dari sumber sampai ke TPA
seperti terlihat dalam gambar dibawah ini :

89
Sampah Domestik
2,879 m3/hr
(100 %)

Organik Non 3 R Anorganik


1,105 m3/hari 0,108 m3/hari 1,667 m3/hari
(38,37 %) (3,74 %) (57,89 %)

Pengomposan Residu Residu Pemanfaatan


1,016 m3/hari 0,088 m3/hari 0,167 m3/hari 1,500 m3/hari
(92 %) (8 %) (10 %) (90 %)

TPA
0,363 m3/hari
(12,6 %)

Pemanfaatan
2,516 m3/hari
(87,4 %)

Gambar 5.19
Neraca Persentase sampah dari sumber sampai ke TPA di Perumahan Dayu
Permai

5.12.3 PEWADAHAN

§ Jenis pewadahan : komunal, individual.


§ Kriteria wadah sampah :
- Bertutup, mudah dikosongkan, mudah dibersihkan, dan tahan terhadap
perubahan cuaca.

90
- Bukan perhiasan perumahan, tidak mengganggu lalu lintas kendaraan dan
pejalan kaki.
- Diupayakan terpilah untuk organik dan non organik.
- Operasional : pengosongan 1 – 2 hari, harus bersih.

§ Pewadahan di rumah – rumah dilakukan dengan 3 jenis, yaitu :


1. Pewadahan sampah organik, anorganik, dan non 3R di dalam rumah.
Pewadahan timbulan sampah bertujuan untuk memisahkan sampah
yang bersifat organik, anorganik, dan non 3R agar memudahkan dalam
proses pengolahan selanjutnya, dengan ketentuan sebagai berikut.
Wadah yang digunakan untuk sampah didalam rumah ini atau sampah
rumah tangga dengan menggunakan keranjang plastik. Alasan kenapa
yang dipakai adalah keranjang plastik, karena sehat, mudah, praktis,
dan cepat dalam operasi, dan dapat dipakai lebih dari satu kali. Untuk
membedakan mana sampah yang bersifat organik, anorganik dan non
3R, maka keranjang plastik dibedakan warnanya.
- Keranjang plastik berwarna hijau untuk sampah yang bersifat
organik.
- Keranjang plastik yang berwarna merah untuk sampah yang
bersifat anorganik.
- Keranjang plastik yang berwarna ungu untuk sampah non 3R.

Gambar 5.20
Keranjang Plastik rumah

91
Dari hasil pengukuran volume sampah perumahan Dayu Permai,
didapatkan volume untuk sampah organik 0,99 lt/orang/hari, untuk
sampah anorganik 1,49 lt/orang/hari, dan sampah non 3R 0,1
lt/orang/hari. Maka ukuran keranjang plastik yang digunakan untuk
pewadahan sampah adalah :
- Rata – rata 1 rumah memiliki 5 orang anggota keluarga.
- Banyaknya sampah organik adalah 0,99 lt/orang/hari x 5 orang
= 4,95 lt/hari.
- Banyaknya sampah anorganik adalah 1,49 lt/orang/hari x 5 orang
= 7,45 lt/hari.
- Banyaknya sampah non 3R adalah 0,1 lt/orang/hari x 5 orang
= 0,5 L/hari.
- Waktu pengambilan sampah dalam kantong plastik 2 hari sekali
maka :

Ukuran keranjang plastik untuk sampah organik atau keranjang yang


berwarna hijau adalah :
= 4,95 lt/hari x 2 hari = 9,9 liter

Ukuran keranjang plastik untuk sampah anorganik atau keranjang


berwarna merah adalah :
= 7,45 lt/hari x 2 hari = 14,9 liter

Ukuran keranjang plastik untuk sampah non 3R atau keranjang


berwarna ungu adalah :
= 0,5 lt/hari x 2 hari = 1 liter

Jadi keranjang plastik yang digunakan untuk ketiga sampah organik,


anorganik, dan non 3R adalah diambil ukuran yang terbesar yaitu
kapasitas 15 liter. Digunakannya keranjang plastik seragam
berkapasitas 15 liter adalah untuk mempermudah dalam
pengadaannya.

92
2. Pewadahan sampah organik untuk proses pengomposan.
Pewadahan untuk pengomposan dilakukan dengan menggunakan drum
plastik dengan ukuran :
- Dari hasil pengukuran didapatkan volume sampah organik 0,99
lt/orang/hari.
- Waktu pematangan kompos 30 hari.
- Rata – rata 1 rumah memiliki 5 orang anggota keluarga.
- Ukuran drum plastik :
= volume sampah organik x waktu pematangan kompos x jumlah
keluarga
= 0,99 lt/org/hr x 30 x 5
= 147,93 liter

Gambar 5.21
Drum plastik untuk pengomposan

3. Pewadahan sampah anorganik dan non 3R diluar rumah sebelum


dilakukan pengumpulan.ke TPS.
Maksud dari pewadahan ini adalah memilahkan antara sampah plastik,
kertas, logam, dan sampah non 3R sebelum dibawa ke tempat
pengumpulan atau ke TPS, sehingga di TPA tidak melakukan

93
pemilahan lagi. Wadah ini menggunakan bin fiberglass tertutup,
dengan alasan :
- Sehat.
- Dapat dipakai umum/pribadi.
- Tahan terhadap perubahan cuaca, masa pakai lama (awet).

Pewadahan dibagi menjadi 4 macam dengan diberi tanda atau kode :


1. Untuk sampah plastik.
2. Untuk sampah kertas.
3. Untuk sampah logam dan kaca.
4. Untuk sampah non 3R.

Gambar 5.22
Bin fibre glass

Penggunaan wadah ini diberlakukan untuk tiap 10 KK, dan


penempatan wadah ini di pinggir jalan, dengan tujuan agar
memudahkan dalam pengambilan untuk proses pengumpulan.
- Dari hasil pengukuran didapat volume sampah anorganik untuk
tiap KK, yaitu sebesar 7,45 lt/hari dan volume sampah non 3R
sebesar 0,1 lt/hari.
- Pengambilan dilakukan tiap 2 hari sekali.
- Jumlah rumah yang dilayani 10 rumah.
- Maka desain untuk wadah ini adalah :

Sampah anorganik = 7,45 lt/hari x 10 rumah x 2 hari


= 149 liter

94
Karena sampah anorganik dibagi menjadi 3 macam, yaitu
sampah kertas; plastik; logam dan kaca, maka volume bin = 149
liter : 3 = 49.67 liter ≈ 50 liter, sehingga untuk sampah kertas,
plastik, logam dan kaca menggunakan bin fiberglass dengan
ukuran 50 liter untuk faktor keamanan.

Sampah non 3R = 0,1 lt/hari x 10 rumah x 2 hari


= 2 lt/hari

Untuk sampah non 3R tetap menggunakan bin fiberglass dengan


ukuran 50 L sama dengan bin anorganik untuk faktor keamanan
dan juga kemudahan dalam pengadaannya.

- Banyaknya bin fiberglass yang digunakan untuk satu perumahan,


yaitu :
Karena penempatan wadah ini setiap 10 kk atau 10 rumah, maka
205rumah
= = 21 lokasi.
10
Banyaknya bin yang diperlukan = 21 lokasi x 4 unit
= 84 unit

5.12.4 PENGUMPULAN

Pengumpulan dilakukan dengan mengambil sampah yang telah


ditempatkan dalam wadah yang telah dipilah menjadi menjadi 4 bagian, yaitu
untuk sampah kertas, sampah plastik, sampah logam dan kaca, dan sampah non
3R, yang penempatannya diletakkan dipinggir jalan agar mudah dalam
pengambilannya untuk kemudian diangkut ke TPS.
Pengumpulan sampah dilakukan setiap 2 hari sekali. diangkut dengan
menggunakan gerobak dengan kapasitas 1 m3, dengan alasan :
1. Operasi lebih mudah, luwes, dan murah.
2. Jenis sampah berukuran besar dapat terangkut.

95
3. Pemanfaatan volume cukup besar.
4. Mudah dan murah pemeliharaannya.

Untuk pelaksanaan pengumpulan adalah sebagai berikut :


- Bin yang akan diambil sampahnya berjumlah 84 : 4 (setiap lokasi bejumlah 4
unit) = 21 lokasi.
- Volume sampah anorganik (plastik, kertas, logam dan kaca) setiap 10 KK
adalah 149 liter dan 2 liter untuk sampah non 3R, jadi volume sampah total =
149 liter + 2 liter = 151 liter = 0,151 m3 untuk satu lokasi.
- Frekuensi pengambilan = 2 hari.
- Dengan faktor pemadatan 1,1, maka :
0,151
Volume tiap pengambilan = = 0,137 m3 untuk satu lokasi (10 rumah).
1,1
- Volume gerobak sampah 1 m3 = 1000 liter.
1 gerobak melayani = 1 m3 : 0,137 m3/lokasi pengambilan.
= 7 lokasi pengambilan.
- Jumlah gerobak sampah yang dibutuhkan
21lokasi
= = 3 gerobak.
7lokasi

Gambar 5.23
Gerobak Sampah

96
5.12.5 TEMPAT PEMBUANGAN SEMENTARA (TPS)

Tempat Penampungan Sampah Sementara berfungsi untuk mengumpulkan


sampah warga perumahan Dayu Permai, dimana sampah yang telah dikumpulkan
diangkut dengan gerobak ke TPS untuk dilakukan penyortiran lebih khusus lagi.
Untuk sampah yang masih bisa digunakan atau masih bisa dimanfaatkan kembali
dilakukan pengepakan untuk selanjutnya dijual pada pengepul sampah. Hasil dari
penjualan sampah tersebut digunakan untuk biaya operasional petugas dan sisanya
masuk ke kas warga untuk dana pengembangan dan pembangunan.
Berdasarkan dari hasil survey penelitian, pada perumahan ini sampah
anorganik yang dihasilkan terdapat hampir ± 30 % nya berupa potongan kain sisa.
Ini disebabkan karena pada perumahan terdapat 3 usaha Penjahit Busana yang
seharinya dapat mengahasilkan sampah atau sisa potongan kain yang cukup
banyak. Padahal dari hasil potongan kain sisa tersebut dapat digunakan kembali
sebagai kerajinan tangan ataupun menjadi barang yang bermanfaat lainnya. Untuk
itu, hal ini dapat dijadikan sebagai keuntungan lebih bagi pihak swasta pengelola
TPS apabila mereka ingin memanfaatkan kembali limbah sampah tersebut.
Sampah yang tidak bisa digunakan atau dimanfaatkan kembali akan
dibuang ke TPA yang bekerjasama dengan pihak swasta, dengan
mempertimbangkan :
1. Penetapan tarif retribusi berdasar kualitas pelayanan.
2. Keharmonisan dan kerjasama dengan mitra swasta untuk menjalankan kontrak
yang saling menguntungkan.
3. Penetapan tingkat kualitas layanan dan kualitas sarana dan prasarana.

5.12.6 PENGANGKUTAN

Pengangkutan sampah yang dilakukan mulai dari TPS ke TPA


menggunakan mobil bak terbuka. Alasan penggunaan mobil bak terbuka adalah
praktis dan cepat dalam pengoperasian, tidak memerlukan tenaga kerja yang
banyak, lebih bersih dan sehat, serta armada sudah terbiasa mengangkut sampah
warga perumahan Dayu Permai. Sampah yang terangkut ke TPA adalah sisa

97
sampah yang tidak diolah yaitu sejumlah 0,363 m3 /hari. Untuk pengambilan per 2
hari menggunakan gerobak, jumlah sampah = 0,363 m3/hari × 2 = 0,726 m3.
- Frekuensi pengangkutan sampah adalah 4 hari sekali.
- Volume sampah terangkut adalah :
= 0,726 m3 × 2
= 1,452 m3.

Gambar 5.24
Mobil Pick up pengangkut

5.12.7 PENGOLAHAN

Pada bagian ini, pengolahan sampah yang kita gunakan adalah metode
pemanfaatan kembali sampah organik untuk dijadikan kompos. Metode ini
digunakan berdasarkan dari jumlah sampah organik rumah tangga yang cukup
memadai untuk dilakukannya proses pengomposan. Berikut ini adalah langkah-
langkah pengolahannya :
1. Langkah 1 : Pemilahan Sampah
Sampah yang masuk ke lokasi pengomposan dipilah terlebih dahulu untuk
mendapatkan bahan organik pilihan sebagai bahan baku kompos. Untuk
mempermudah pekerjaan, akan lebih baik lagi bila sampah yang masuk sudah
dalam keadaan terpilah (pemilahan di sumber sampah). Satu hal yang harus
diperhatikan adalah, sampah yang akan diolah menjadi kompos harus sampah
segar dan pemilahan harus segera dilakukan. Bila hal ini tidak dilaksanakan
dengan baik, maka pembusukan liar akan terjadi dan akan timbul bau yang
dapat mengganggu lingkungan sekitarnya.

98
2. Langkah 2 : Pemotongan Sampah Organik Pilihan
Untuk mempercepat proses pengomposan, sebaiknya ukuran sampah
diperkecil terlebih dahulu. Pemotongan sampah dapat menggunakan alat
pemotong/pencacah (shredder), dan dapat pula dicacah secara manual.

3. Langkah 3 : Penumpukan Sampah Organik Pilihan


Proses pengomposan dapat berjalan dengan cepat dan baik bila perbandingan
antara kandungan karbon dan nitrogen dalam sampah atau rasio C/N adalah
30 : 1. Secara teoritis rasio C/N sampah rumah tangga adalah 15 : 1, maka
untuk mendapatkan rasio C/N ideal sampah tersebut harus dicampur dengan
material yang memiliki rasio C/N lebih tinggi, seperti serbuk gergaji. Langkah
ini dapat berlangsung selama dua hari, misalnya karena bahan/sampah tidak
mencukupi.

4. Langkah 4 : Inokulasi EM Melalui Penyiraman Larutan Effective


Microorganism 4 (EM4)
Larutan EM4 yang telah disiapkan disiramkan secara perlahan-lahan ke dalam
adonan secara merata sampai kandungan air mencapai ± 30%. Kemudian
tumpukan tersebut ditutup dengan tutup plastik. Penyemprotan dengan larutan
EM dilakukan setiap penumpukan sampah organik dilakukan.

5. Langkah 5 : Pemantauan pH dan Suhu


Pada tahap ini suhu tumpukan perlahan-lahan akan meningkat mencapai
500C. Suhu setinggi ini selama 1-2 hari diperlukan untuk mematikan gulma
dan mikroba patogen, serta membantu memperlunak bahan yang
dikomposkan. Suhu tinggi ini tidak boleh dipertahankan lama (lebih dari 2
hari), karena akan mematikan jasad renik yang diperlukan untuk proses
pengomposan. Pemantauan suhu dilakukan setiap hari, dan dipertahankan
antara 40 - 500C. Bila suhu mencapai lebih dari 500C, maka penutup harus
dibuka dan gundukan adonan dibolak balik, kemudian ditutup kembali.

99
Perlakuan ini berlangsung selama ± 2 minggu, sampai suhu mendekati suhu
kamar dan stabil.

6. Langkah 6 : Pematangan Kompos


Untuk meyakinkan bahwa kompos telah matang dan dapat menjamin bahwa
kompos benar-benar aman ketika dipakai oleh pengguna kompos, maka perlu
dilakukan langkah pematangan kompos. Pematangan ini ditandai dengan
suhu rata-rata tumpukan semakin menurun dan stabil mendekati suhu kamar
(27 - 300C), bahan telah lapuk dan menyerupai tanah dengan warna coklat
kehitaman. Tahap pematangan memerlukan waktu 5 – 7 hari dan suhu
tumpukan tetap diukur.

5.13 IMPLEMENTASI MANAJEMEN SAMPAH

Untuk mencapai kondisi masyarakat yang hidup sehat dan sejahtera di


masa yang akan datang akan sangat diperlukan adanya lingkungan permukiman
yang sehat. Dari aspek persampahan maka kata sehat akan berarti sebagai kondisi
yang akan dapat dicapai bila sampah dapat dikelola secara baik sehingga bersih
dari lingkungan permukiman dimana manusia beraktivitas di dalamnya. Secara
umum, daerah perumahan yang mendapatkan pelayanan persampahan yang baik
akan dapat ditunjukkan memiliki kondisi sebagai berikut :
a. Seluruh masyarakat memiliki akses untuk penanganan sampah yang dihasilkan
dari aktivitas sehari-hari.
b. Masyarakat memiliki lingkungan permukiman yang bersih karena sampah
yang dihasilkan dapat ditangani secara benar.
c. Masyarakat mampu memelihara kesehatannya karena tidak terdapat sampah
yang berpotensi menjadi bahan penularan penyakit seperti diarhea, thypus,
disentri, dan lain-lain; serta gangguan lingkungan baik berupa pencemaran
udara, air, atau tanah.
d. Masyarakat dan dunia usaha/swasta memiliki kesempatan untuk berpartisipasi
dalam pengelolaan persampahan sehingga memperoleh manfaat bagai
kesejahteraannya.

100
Kondisi tersebut di atas akan dapat tercapai bila visi pengembangan sistem
pengelolaan persampahan dapat dicapai yaitu :

Permukiman sehat yang bersih dari sampah

Visi di atas merupakan suatu keadaan yang ingin dicapai dimasa depan
secara mandiri melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara sinergis antar
pemangku kepentingan yang terkait secara langsung maupun tidak dalam
pengelolaan persampahan. Visi tersebut di atas selanjutnya dirumuskan dalam
beberapa misi sebagai terjemahan lebih lanjut arti visi yang telah ditetapkan; untuk
dapat mengidentifikasi arah kebijakan yang akan ditempuh.
Untuk dapat mewujudkan visi pengembangan sistem pengelolaan
persampahan maka dirumuskan beberapa misi yaitu sebagai berikut :
1. Mengurangi timbulan sampah dalam rangka pengelolaan persampahan yang
berkelanjutan.
Data penelitian sampah menunjukkan kecenderungan semakin besarnya
timbulan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dari tahun ke tahun. Hal ini
menyebabkan beban pelayanan persampahan di perumahan menjadi semakin
berat dari waktu ke waktu. Di pihak lain kemampuan pendanaan tidak
menunjukkan peningkatan yang signifikan khususnya untuk bidang
persampahan. Agar pengelolaan persampahan dapat dilaksanakan secara
berkesinambungan maka sangat diperlukan adanya upaya untuk mengurangi
timbulan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat.
2. Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan sistem pengelolaan
persampahan.
Pelayanan sistem pengelolaan persampahan haruslah mampu menjangkau
setiap anggota masyarakat yang ada di perumahan, baik masyarakat golongan
mampu maupun mereka yang kurang mampu. Jumlah anggota masyarakat
yang terjangkau oleh pelayanan juga harus meningkat dari waktu ke waktu
untuk dapat mencapai sasaran pelayanan yang diharapkan. Disamping itu
pelayanan juga harus disediakan/diberikan dengan kualitas yang baik sehingga

101
mampu menjamin tidak ditimbulkannya berbagai masalah gangguan,
pencemaran, atau bahkan perusakan lingkungan; baik pada tahap
pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, maupun pembuangan akhir.
3. Memberdayakan masyarakat dan meningkatkan peran aktif dunia usaha/swasta
Masyarakat merupakan penghasil sampah; karenanya masyarakat merupakan
aktor utama dalam pengelolaan sampah; yang perlu diberdayakan agar mampu
melakukan berbagai upaya penanganan yang bermanfaat bagi pengelolaan
secara umum. Dalam kondisi keterbatasan kapasitas pelayanan Pemerintah,
maka dunia usaha/swasta juga dapat dijadikan sebagai mitra untuk
mewujudkan pelayanan pengelolaan sampah yang baik.
4. Meningkatkan kemampuan manajemen dan kelembagaan dalam sistem
pengelolaan persampahan yang berupa :
a. Penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik dalam pengelolaan
persampahan.
b. Penyelenggaraan pengelolaan persampahan yang transparan, partisipatif,
serta akuntabel dalam pengelolaannya.
c. Pelibatan semua stakeholder dalam pengelolaan persampahan.
d. Pengelolaan persampahan secara efektif, efisien, dan profesional.
e. Penguatan kelembagaan dengan penyesuaian struktur dan kewenangan
kelembagaan pengelola persampahan.
5. Menegakkan hukum dan melengkapi peraturan perundangan utk meningkatkan
sistem pengelolaaan persampahan
a. Penegakan hukum dan pemberlakuan sanksi bagi pelanggaran
penyelenggaraan pengelolaan persampahan sebagai upaya pembinaan bagi
masyarakat, aparat, dan stakeholder terkait.
b. Melengkapi/meningkatkan produk hukum yang diperlukan bagi landasan
penyelenggaraan pengelolaan persampahan baik di tingkat Pusat, Provinsi,
maupun Kota / Kabupaten.

Kegiatan sosialisasi dan implementasi sistem pengelolaan sampah terpadu


di perumahan Dayu Permai. Proses sosialisasi dan implementasi sistem melalui
langkah-langkah sebagai berikut :

102
1. Menyampaikan gagasan sistem pengelolaan sampah secara mandiri dan
produktif kepada tokoh masyarakat perumahan Dayu Permai antara lain
Kepala Dusun, Wakil Badan Perwakilan Desa (BPD), Ketua RW, Ketua-ketua
RT, Dasa Wisma, Takmir Masjid, Pengurus Pengajian dan Pemuda.
Momentum ini sangat diperlukan guna mengetahui tanggapan awal tokoh
masyarakat untuk menerima atau menolak terhadap sistem pengelolaan
sampah yang ditawarkan.
2. Pembentukan Tim Pengelola Sampah perumahan. Tim ini sangat penting
peranannya dalam mengawal keberlangsungan sistem pengelolaan sampah
yang akan dijalankan oleh masyarakat. Mereka yang duduk dalam tim
sebaiknya dipilih mereka yang mempunyai sikap peduli terhadap lingkungan,
berdedikasi tinggi, bertanggung jawab dan mampu bekerjasama dengan
masyarakat. Bersama tokoh-tokoh masyarakat yang ada, tim ini bertugas
melakukan sosialisasi, edukasi, evaluasi dan motivasi secara terus menerus
kepada masyarakat agar mau dan mampu melaksanakan pengelolaan sampah
swakelola. Tim Pengelola Sampah menjadi bagian dari struktur organisasi
kampung.
3. Sosialisasi, edukasi dan motivasi ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat
(anak-anak hingga orang tua) dengan metode demonstrasi, tanya jawab,
permainan, membuat mural dan perlombaan-perlombaan. Lomba-lomba yang
diadakan meliputi lomba memisahkan sampah antar anak, lomba kebersihan
lingkungan antar kelompok dasawisma, lomba membuat mural, lomba
membuat kompos dan lomba kreasi daur ulang. Pemuda diberi peran besar
dalam sosialisasi ini antara lain menjadi organizer sosialisasi kepada pemuda/i
dan anak-anak.

103
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN

1. Berdasarkan hasil penelitian, berat sampah organik perumahan Dayu Permai


adalah 0,14 Kg/orang/hari, volume sampah organik adalah 0,99 L/orang/hari,
berat sampah anorganik adalah 0,08 Kg/orang/hari, volume sampah anorganik
adalah 1,49 L/orang/hari, berat sampah non 3 R adalah 0,003 Kg/orang/hari,
volume sampah non 3 R adalah 0,1 L/orang/hari. Timbulan sampah yang
dihasilkan adalah 0,223 Kg/orang/hari.
2. Persentase timbulan sampah di perumahan Dayu Permai adalah 64,47 %
organik; 34,35 % anorganik; dan 1,17 % non 3 R.
3. Dilihat dari parameter karakteristik kompos standar SNI yang terdiri dari pH,
suhu, rasio C/N, N, P, K dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas kompos
yang dihasilkan pada penelitian ini cukup baik dengan kandungan pH sebesar
6,9, Nitrogen 0,905 %, Phospor 2,07 %, Kalium 2,3 %, dan rasio C/N 51,707.
Tingginya rasio C/N didapat karena komposisi mayoritas kompos yang terdiri
dari sisa-sisa sayuran segar dan kering. Dan untuk menurunkannya dapat
digunakan aktivator dekomposisi kompos.
4. Perencanaan pengelolaan sampah secara terpadu di perumahan Dayu Permai
adalah :
a. Pemilahan sampah harus dilakukan mulai dari masing – masing rumah
penduduk dengan memilahkan antara sampah organik, anorganik, dan
sampah non 3R.

b. Pewadahan dilakukan dengan 3 jenis :

• Pewadahan sampah organik, anorganik, dan non 3R di rumah-rumah,


dengan menggunakan keranjang sampah plastik. Untuk sampah
organik dengan volume 9,9 liter, sampah anorganik volume 14,9

104
liter, dan sampah non 3R 1 liter. Jadi keranjang plastik yang
digunakan adalah diambil ukuran yang terbesar yaitu kapasitas 15
liter. Digunakannya keranjang plastik seragam berkapasitas 15 liter
adalah untuk mempermudah dalam pengadaannya.

• Pewadahan sampah organik untuk proses pengomposan dilakukan


dengan drum plastik.yang dapat menampung sampah organik yang
dihasilkan dari rata-rata 1 rumah dengan waktu pematangan kompos
selama 30 hari.

• Pewadahan sampah diluar rumah sebelum dibawa ke TPS dengan


menggunakan bin fibre glass yang dibagi menjadi 4 macam, yaitu
untuk sampah plastik, kertas, logam, dan non 3R dengan volume 50
liter.

c. Pengumpulan sampah dilakukan setiap 2 hari sekali dan diangkut dengan


menggunakan gerobak dengan kapasitas 1 m3. Diperlukan 3 gerobak
untuk beroperasi.

d. Tempat Pembuangan Sementara digunakan untuk melakukan


penyortiran lebih khusus lagi. Untuk sampah yang masih bisa digunakan
atau masih bisa dimanfaatkan kembali dilakukan pengepakan untuk
selanjutnya dijual pada pengepul sampah.

5. Desain reaktor dibuat dengan kapasitas 147,93 liter.


6. Pendekatan masyarakat dilakukan melalui kuisioner, dan hasilnya dilakukan
uji statitistik yang menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan tidak berpengaruh
terhadap kesadaran warga untuk memilah sampah, dan tingkat penghasilan
berpengaruh dengan besarnya jumlah timbulan sampah.

105
6.2 SARAN

1. Perlunya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya


pengelolaan sampah, agar tercipta lingkungan yang bersih.
2. Perlu dilakukan sosialisasi secara intensif dalam pengelolaan sampah secara
terpadu.
3. Perlu mengadakan koordinasi secara terpadu dari instansi yang bertanggung
jawab dalam pengelolaan sampah dengan semua instansi dan masyarakat.
4. Perlu adanya penelitian kualitas lindi yang dihasilkan dari proses
pengomposan.
5. Perlu dilakukan pengujian kandungan makro pada kompos seperti kandungan
logam berat yang kemungkinan terdapat dalam kompos.

106
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995. Metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan


komposisi sampah perkotaan (SNI 19-3964-1995). Badan Standar Nasional.
Jakarta.
Anonim, 2004. Spesifikasi Kompos dari Sampah Organik Domestik (SNI 19–
7030–2004). Badan Standar Nasional. Jakarta
Anonim, 1995. Teknologi Persampahan. Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta.
Anonim, 1994. Tata cara pengelolaan sampah di pemukiman (SNI 19-3242-
1994). Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta
Anonim, 1991. Tata cara pengolahan teknik sampah perkotaan (SNI T-13-1990-
F). Departemen Pekerjaan Umum, Yayasan LPMB. Bandung.
Anonim, 2007. Hara Mineral dan Transport Air Serta Hasil Fotosintesis Pada
Tumbuhan. Available from URL: www.google.co.id.
Anonim, 1986. Materi training untuk tingkat staf teknis proyek PLP sektor
persampahan. Direktorat Jenderal Cipta Karya. Jakarta.
Anonim, 1991. Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan, (SNI 19-2454-
1991). Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta.
Anonim, 1991. Spesifikasi Timbulan Sampah Untuk Kota Kecil dan Kota Besar di
Indonesia (SNI S-04-1991-03). Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta.
Anonim, 1994. Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah (SNI
03-3241-1994). Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta.
Anonim, 2001. Pupuk Kompos Untuk Meningkatkan Produksi Padi Sawah.
Departemen Pertanian.
CPIS (Center of Policy and Implementation Studies), 1992. Panduan Teknik
Pembuatan Kompos Dari Sampah.
Dalzell, H.W, 1987. Soil Management Compost Production and Use in Tropical
and Subtropical Environment. Rome.
Damanhuri. E. & Tri. P, 2004. Diktat Kuliah Teknik Lingkungan Pengelolaan
Sampah. Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung.
Darmasetiawan. M, 2004. Daur Ulang Sampah dan Pembuatan Kompos.
Ekamitra Engineering. Jakarta.

107
Darmasetiawan. M, 2004. Perencanaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ekamitra Enginering. Jakarta.
Djuarnani, 2004. Cara Cepat Membuat Kompos. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Hadiwiyoto. S, 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Idayu.
Jakarta.
Kardin, D, 2007. Humus Sebagai Teladan Sumber Bahan Organik. Available
from URL: www. jiwantoro.com
Murbandono, H.S, 2000. Membuat Kompos Edisi Revisi. Penebar. Surabaya.
Polprasert. C, 1989. Organik Waste Recycling. Inc. Indonesia.
Simamora. S, 2006. Meningkatkan Kualitas Kompos. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Sudarso, 1985. Pembuangan Sampah. Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga
Sanitasi Pusat, Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan.
Surabaya.
Supriyanto, 2001. Aplikasi Waste Water Sludge dari Industri Bahan Baku Obat
Antibiotik Golongan Penicillin Untuk Proses Pengomposan Serbuk Gergaji.
PT Novartis Biochemie. Bogor.
Tchobanoglous. G. Theisen. H & Vigil. S.A, 1993. Integrated Solid Waste
Management Engineering Principles and Management Issues. Mc Graw-
Hill. Singapore.
Yuwono. D, 2006. Kompos Cara Aerob dan Anaerob Menghasilkan Kompos
Berkualitas. Seri Agritekno. Jakarta.

108
LAMPIRAN