Anda di halaman 1dari 51

PROFIL

PUSKESMAS NAMBO

TAHUN 2017

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 I


KATA PENGANTAR

Sebagai salah satu upaya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi

Kesehatan dan gambaran hasil berbagai program yang telah dilaksanakan Puskesmas

Nambo, Profil Kesehatan Puskesmas Nambo ini merupakan peremajaan dan perkembangan

data dari tahun sebelumnya sebagai hasil dari berbagai upaya Kesehatan . Data yang

digunakan dalam proses penyusunan profil kesehatan bersumber dari berbagai Program

baik di dalam Puskesmas maupun diluar gedung Puskesmas, sebagai refleksi perkembangan

kesehatan Puskesmas Nambo.

Dengan konsistensi penyusunan profil kesehatan yang dilaksanakan setiap tahun

maka berbagai perkembangan indikator yang digunakan dalam pembangunan kesehatan baik

indikator masukan, proses, maupun indikator luaran dan indikator dampak dapat diikuti

secara cermat. Fakta ini merupakan bahan yang sangat berguna untuk melakukan analisa

kecenderungan dalam konteks penentu strategi dan kebijaksanaan kesehatan di masyarakat

yang akan datang.

Untuk meningkatkan mutu profil kesehatan Pusksmas Nambo tahun berikutnya

diharapkan saran dan kritik yang membangun serta partisipasi dari semua pihak khususnya

dalam upaya mendapatkan data/informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai dengan

kebutuhan. Kepada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan tenaganya dalam

penyusunan Profil Kesehatan Puskesmas Nambo, kami sampaikan terima kasih.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 II


KATA SAMBUTAN

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa, penyusunan
“Profil Kesehatan Puskesmas Nambo tahun 2017” dapat diselesaikan dengan baik. Profil
Kesehatan Puskesmas adalah salah satu sarana yang dapat digunakan untuk melaporkan
pemantauan dan evaluasi terhadap pencapaian hasil pembangunan kesehatan, termasuk
kinerja dari penyelenggaraan pelayanan minimal di bidang kesehatan di Puskesmas Nambo.
Profil Kesehatan Puskesmas ini pada intinya berisi berbagai data / informasi yang
menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas
Nambo, yang dapat menjadi bahan masukan dalam penyusunan perencanaan di masa yang
akan datang.
Landasan dalam penyusunan Profil Kesehatan ini adalah semua kegiatan pada
jenis-jenis pelayanan kesehatan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM), serta
hasil cakupan / pencapaian dari program kesehatan yang ada di Puskesmas Nambo, dan
Poskesdes yang ada di wilayah Puskesmas Nambo, Kami menyadari bahwa profil kesehatan
ini masih banyak kekurangan terutama masih sulitnya memperoleh data yang valid dan
akurat dari berbagai sumber. Namun kami yakin, masalah ini akan dapat diatasi dengan
upaya melakukan optimalisasi tugas dan fungsi masing-masing pengelola program di
Puskesmas, Bidan Kelurahan dan Perawat
Dengan tersusunnya Profil Kesehatan Puskesmas Nambo ini diharapkan dapat
bermanfaat bagi semua pihak dan untuk penyempurnaan di masa yang akan datang, saran
dan pendapat sangat kami harapkan sehingga profil ini dapat menjadi lebih baik khususnya
dalam upaya mendapatkan data, informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai dengan
kebutuhan.
Akhir kata, atas perhatian dan kerjasama yang baik dari semua pihak yang telah
berkontribusi dalam penyusunan Profil Kesehatan Puskesmas Nambo Tahun 2017 terutama
dari seluruh staf Puskesmas Nambo, kami ucapkan terima kasih.

Nambo, 2017
Kepala Puskesmas Nambo

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 III


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................. I
KATA SAMBUTAN................................................................................................... II
DAFTAR ISI............................................................................................................... III
BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
BAB II. GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK ......................... 6
A. KONDISI GEOGRAFIS……………………………................................ 6
B. KEADAAN PENDUDUK ........................................................................ 7
C. KEADAAN LINGKUNGAN..................................................................... 8
1. Rumah Sehat…………………………..…………..…………………. 9
2. Akses Terhadap Air Bersih…………………………………………… 9
3. Jarak Sumber Air Minum Dengan TPA Kotoran/Tinja……………... 10
4. Ketersediaan Jamban………………………………………................ 10
D. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT................................................ 11
1. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar……………………........ 11
2. PHBS Masyarakat…………………………………………................. 13
3. PKM…………………………………………………………………. 14
BAB III. SITUASI DERAJAT KESEHATAN ....................................................... 15
A. MORTALITAS.......................................................................................... 15
B. MORBIDITAS……………..……………………………………………. 17
BAB IV. UPAYA KESEHATAN ............................................................................. 25
A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR……….......................................... 25
B. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG .............. 30
C. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT………………. 36
D. PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN………….. 41
BAB V. PENUTUP………………………………………………………………….. 44

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 IV


TABEL PROFIL

PUSKESMAS NAMBO

TAHUN 2017

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 V


PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 VI
BAB. I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANGAN

Pembangunan Kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

pembangunan Nasional karena menyentuh hampir disemua aspek kehidupan.

Pembangunan sangat terkait dan dipengarui oleh aspek demografi / kependudukan,

keadaan dan pertumbuhan ekonomi perkembangan lingkungan fisik dan biologis.

Keberhasilan pembangunan kesehatan dapat dilihat dari beberapa indikator yang

digunakan untuk memantau perkembangan derajat kesehatan seperti angka kesakitan

serta kematian ibu dan bayi.

Sistem Informasi Kesehatan merupakan suatu tatanan yang mencakup komponen

masukan (input) yang berpa data tentang kesehatan dan yang terkait, komponen proses

dan komponen keluaran (output). Informasi Kesehatan dan yang terkait digunakan

sebagai bahan dalam proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dalam

menejemen kesehatan dilakukan untuk perumusan kebijakan, perencanaan strategis,

menejemen operasional dan menejemen transaksi.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan informasi pada abad 21 yang merupakan era

informasi dan globalisasi serta menuntut percepatan arus informasi dan kecanggihanya

maka pengembangan Sistem Informasi Kesehatan. Dewasa ini perlu semakin

dimantapkan dan dikembangkan. Hal ini akan mendukung pelaksanaan menejemen

kesehatan dan pengembangan upaya – upaya kesehatan demi peningkatan derajat

kesehatan masyarakat. Salah satu keluaran dari informasi kesehatan yang dikembangkan

saat ini adalah profil kesehatan.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 1


B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Menyediakan data/informasi yang akurat, tepat waktu, sesuai dengan kebutuhan

dan kewwenangannya dalam rangka meningkatkan kemamuan menejemen kesehatan

secara berdaya guna dan berhasil guna.

2. Tujuan khusus

a. Dapat disajikan

-) Data/informasi umum dan lingkungan yang meliputi lingkungan fisik, biologis,

perilaku masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, data

kependudukan dan sosial ekonomi.

-) Data/informasi tentang status kesehatan masyarakat yang meliputi angka

kematian, angka kesakitan dan status gizi masyarakat.

-) Data/informasi tentang upaya kesehatan, yang meliputi cakupan kegiatan dan

sumber daya kesehatan.

b. Data/informaasi yang disajikan dapat digunakan untuk mendukung sistim

menejemen pada Setiap tingkat administrasi kesehatan ( perencanaan,

pemantauan, penggerakan pelaksanaan, dan evaluasi tahunan program – program

kesehatan )

c. Tersedianya data/informasi untuk bahan penyusunan profil kesehatan satu tingkat

diatasnya.

C. VISI, MISI, PROGRAM POKOK DAN FUNGSI PUSKESMAS

1. Visi Puskesmas

Menjadikan Pukesmas Nambo sebagai pusat Pelayanan Kesehatan yang

Prima secara Adil, cepat, mandiri dan bermutu dalamk upaya mewujudkan

Kecamatan Nambo Sehat 2020

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 2


2. Misi Puskesmas

Misi pembangunan Puskesmas Nambo adalah mendukung tercapainya misi

Pembangunan Kesehatan Nasional yaitu :

a. Memberikan Pelayanan Kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh seluruh

lapisan masyarakat

b. Menjadikan Puskesmas sebagai pusat system pelayanan yang prima bagi

masyarakat

c. Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia dalam pelaksanaan

pelayanan kesehatan

d. Menerapkan manajemen kesehatan yang dapat di pertanggung jawabkan pada

setiap program

3. Program Pokok

Kegiatan pokok Puskesmas dilaksanakan sesuai kemampuan tenaga maupun

fasilitasnya karena kegiatan pokok di setiap Puskesmas dapat berbeda-beda.

Namun kegiatan pokok Puskesmas yang lazim dan seharusnya dilaksanakan adalah

sebagai berikut :

1) Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (PKM)

2) Kesejahteraan ibu dan anak (KIA)

3) Usaha Peningkatan Gizi

4) Keluarga Berencana (KB)

5) Kesehatan Lingkungan

6) Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

 Program Lain

- Upaya Pengobatan termasuk pelayanan darurat kecelakaan

- Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Kesehatan Olah Raga

- Perawatan Kesehatan Masyarakat

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 3


- Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut

- Usaha Kesehatan Jiwa

- Kesehatan Mata

- Pencatatan dan Pelaporan Sistem Informasi Kesehatan

- Kesehatan Usia Lanjut

2. Fungsi Puskesmas

1) Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan

Berupaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha di wilayah

kerjanya sehingga penggerakan pembangunan yang berwawasan kesehatan, serta

aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap

program pembangunan di wilayah kerjanya.

2) Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan

masyarakat:

1) Memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan

masyarakat untuk hidup sehat.

2) Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk

pembiayaan

3) Ikut menetapkan dan memantau pelaksanaan program kesehatan

4) Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka

meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.

5) Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan

kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri

6) Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan

menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 4


3) Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara

menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan:

1) Pelayanan kesehatan perorangan

2) Pelayanan kesehatan masyarakat

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 5


BAB. II
GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK

A. KONDISI GEOGRAFIS

1. Letak Geografis dan Batas Wilayah

Puskesmas Nambo Merupakan Puskesmas Induk Non-Perawatan yang didefenitif

berdiri sejak bulan Juni 2010. Puskesmas yang berdiri diatas lahan seluas 16.171 m3 ini

terletak di Kelurahan Nambo Kecamatan Nambo, Puskesmas ini merupakan pemekaran

dari Puskesmas Abeli.

Sekilas tentang letak wilayah Kerja Puskesmas Nambo :

-) Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Konda

-) Sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Kendari

-) Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Moramo Utara Konsel

-) Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Abeli

Wilayah Kerja Puskesmas Nambo terletak dibagian Timur Kota Kendari dan

Seluruh wilayah berada didaratan Pulau Sulawesi. Luas wilayah menurut kelurahan

sangat beragam, Kelurahan Bungkutoko merupakan Kelurahan yang paling luas,

kemudian menyusul Kelurahan Nambo , Kelurahan Sambuli, Kelurahan Petoaha dan

Kelurahan Tondonggeu.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 6


B. KEADAAN PENDUDUK

Berdasarkan hasil pendataan terakhir, jumlah penduduk di wilayah kerja

Puskesmas Nambo adalah 8.247 jiwa yang tersebar dalam 5 (Lima) wilayah

kelurahan.

Adapun untuk lebih jelasnya distribusi penduduk perkelurahan, disajikan

dalam tabel berikut ini:

No. Kelurahan Jumlah Penduduk Jumlah KK


( Jiwa )
1. Petoaha 1992 491
2. Nambo 1616 301
3. Bungkutoko 1885 366
4 Sambuli 1.832 512
5. Tondonggeu 1002 254
JUMLAH 8327 1924
Tabel 1. Distribusi Jumlah Penduduk per Kelurahan

No. Kelurahan Jumlah Rumah

1. Petoaha 415
2. Nambo 244
3. Bungkutoko 387
4. Sambuli 381
5. Tondonggeu 167
JUMLAH 1594
Tabel 2. Jumlah rumah

Berdasarkan data terakhir, kehidupan sosial, ekonomi dan budaya

masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Nambo dapat kita lihat pada tabel berikut

ini:

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 7


Sarana Pendidikan Sarana Ibadah

No. KEL TK SD MT SM SM SM Masji Gereja

S P A K d

1. Petoaha 1 1 - - - 3 -

2. Nambo 1 2 - 2 1 1 1 -

3. Bungkutoko - 2 1 - - - 2 -

4. Sambuli - 3 - 1 - - 2 -

Tondonggeu - 1 - - - 2 -

Jumlah 2 9 - 3 - 1 10 -

Tabel 3. Sarana Pendidikan dan Sarana Ibadah

Mata pencaharian terbesar penduduk adalah petani/nelayan (62 %)

pedagang/industri (11 %). Selebihnya adalah PNS/ABRI (9 %), dan sisanya buruh,

sopir dan pekerja lainnya (18 %).

Masyarakat terdiri dari berbagai macam suku. suku Bugis, Muna, Tolaki,

Buton, Jawa, Bajo dan Makassar. Sebagian besar memeluk agama Islam. Agama lain

yang dianut adalah Kristen, Katolik dan Hindu.

C. KEADAAN LINGKUNGAN

Lingkungan merupakan salah satu variable yang kerap mendapat perhatian

khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat. Bersama dengan faktor prilaku,

pelayanan kesehatan dan genetik, lingkungan menentukan baik buruknya status

derajat kesehatan masyarakat.

Untuk mengambarkan keadaan lingkungan,akan disajikan indikator-indikator

seperti; presentase rumah tangga (rumah sehat, akses terhadap air bersih, Jarak

sumber air minum dengan TPA kotoran/tinja, dan ketersediaan jamban).

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 8


1. Rumah Sehat

Menurut WHO Rumah adalah suatu struktur fisik yang dipakai orang atau

manusia untuk tempat berlindung, dimana lingkugan dari struktur tersebut termasuk

juga fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang diperlukan,

perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosial

yang baik untuk keluarga dan individu . untuk mewujudkan rumah dengan fungsi

diatas, rumah tidak harus mewah/besar tetapi rumah sederhanapun dapat dibentuk

menjadi rumah yang layak huni. Secara umum rumah dikatakan sehat apa bila :

1. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawaan dan ruang

gerak yang cukup dan terhindar dari kebisingan yang menganggu.

2. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privasi yang cukup, komunikasi yang

sehat antara anggota keluarga dan penghuni rumah.

3. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah

dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas

vector penyakit dan tikus dan kepadatan hunian yang tidak berlebihan.

4. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan Adapun presentase rumah

sehat yang ada di wilayah kerja puskesmas Nambo tahun 2017 Jumlah Rumah yang

yang diperiksa 1594, Yang memenuhi syarat kesehatan 1080 (65%).

2. Akses Terhadap Air Bersih

Akses masyarakat terhadap sanitasi dan air bersih yang layak merupakan

bagian dari upaya promotif – preventif yang harus di utamakan di wilayah kerja

puskesmas Nambo. Upaya promotif-preventif yang epektif akan menekan kejadian

penyakit, menurunkan jumlah orang yang sakit dan orang yang berobat serta

berdampak pada efisiensi biaya kesehatan yang menjadi beban pemerintah dan

masyarakat. Diwilayah kerja Puskesmas Nambo akses terhadap air bersih masih

relatif mudah di jangkau dengan meratanya kepemilikan masyarakat terhadap sarana

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 9


air bersih baik dari sumur gali pribadi/umum sebesar 22 %, sumur bor sebesar 49 %

Mata air terlindungi 0,1 % dan sarana air bersih dari PDAM sebesar 10 % walaupun

hanya menjangkau sebagian Kelurahan yang ada di wilayah kerja puskesmas

Nambo.

No. Rumah Tangga Akses Terhadap Air Bersih Persentase

(%)

1. Sumur Bor 45

2. Sumur Gali 33

3. Mata Air 22

4. PDAM -

Tabel 4. Persentase rumah tangga Akses terhadap air bersih

a. Jarak Sumber Air Minum Dengan TPA Kotoran/Tinja

Sumber air minum sering menjadi sumber pencemaran pada penyakit water

borne disease. Oleh karena itu sumber air minum harus memenuhi syarat lokalisasi

dan konstruksi. Syarat lokalisasi mengiginkan agar sumber air minum terhindar dari

pengotoran, sehingga perlu diperhatikan jarak sumber air minum dengan cubluk

(kakus) lubang galian sampah, lubang galian untuk air limbah dan sumber-sumber

pengotor lainnya. Jarak tersebut tergantung keadaan tanah dan kemiringannya. Pada

umumnya jarak sumber air minum dengan beberapa sumber pengotor termasuk

tempat penampungan akhir (TPA) kotoran / tinja kurang dari 10 meter dan usahakan

agar letaknya tidak berada dibawah suber-sumber tersebut.

b. Ketersediaan Jamban

Jamban/kakus adalah bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja

atau kotoran manusia.tinja bagi keluarga. Manfaat jamban adalah untuk mencegah

penularan penyakit dan pencemaran dari kotoran manusia. Syarat jamban sehat

adalah:

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 10


a. Tidak mencemari sumber air minum (jarak sumber air minum dengan lubang

penampungan minimum 10 m, bila tidak memungkinkan perlu konstruksi kedap

air).

b. Tidak berbau dan tinja tidak dijamak oleh serangga dan tikus

c. Tidak mencemari tanah di sekitarnya

d. Mudah dibersihkan

e. Aman digunakan

f. Dilengkapi dinding dan atap pelindung

g. Cukup penerangan

h. Lantai kedap air

i. Luas ruangan cukup

j. Ventilasi cukup baik

k. Tersedia air dan alat pembersih

Diwilayah kerja Puskesmas Nambo tahun 2017 Cakupan ketersediaan

Jamban Rumah tangga yang mengunakan leher angsa sebesar 972 (61%),

Cemplung/ cubluk 0% , dan tidak pakai kloset sebesar 39%.

D. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT

1. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar

Untuk mewujudkan komitmen global sebagaimana amanat resolusi WHA ke-

58 tahun 2017 dijenewa yang mengiginkan setiap Negara mengembangkan

Universal Health Coverage (UHC) bagi seluruh penduduk, maka pemerintah

bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui program

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Usaha kearah itu sesungguhnya telah dirintis pemerintah dengan

menyelenggarakan beberapa bentuk jaminan social dibidang kesehatan, diantaranya

melalui PT Askes dan PT Jamsostek yang melayani antara lain pegawai negeri sipil,

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 11


penerima pensiun, veteran, dan pegawai swasta. Untuk masyarakat miskin dan tidak

mampu pemerintah pusat memberikan jaminan melalui skema Jaminan Kesehatan

Masyarakat (Jamkesmas) dan pemerintah daerah dengan Jaminan Kesehatan Daerah

(Jamkesda). Namun demikian, skema-skema tersebut masih terfragmentasi, terbagi-

bagi sehingga biaya kesehatan dan mutu pelayanan menjadi sulit terkendali.

Untuk mengatasi hal tersebut, pada tahun 2004 dikeluarkan undang-undang

nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). undang-

undang nomor 40 tahun 2004 mengamanatkan bahwa program jaminan social wajib

bagi seluruh penduduk termasuk program jaminan kesehatan melalui satu badan

penyelenggara Jaminan Sosial. Badan penyelenggaraan social telah diatur dengan

Undang-Undang Nomor. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan

Sosial (BPJS) yang terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenaga kerjaan yang

implementasinya sudah dimulai sejak 1 Januari 2014. Program tersebut selanjutnya

disebut sebagai Program JKN.

Di wilayah kerja Puskesmas Nambo sampai dengan Desember 2017 Jumlah

yang terdaftar sebagai peserta BPJS FKTP Puskesmas Nambo baik dari BPJS

Kesehatan/mandiri, BPJS Ketenaga Kerjaan dan Jamkesmas yang sekarang menjadi

Kartu Indonesia Sehat (KIS) berjumlah 4.873 Jiwa masih sangat sedikit dari jumlah

penduduk yang ada diwilayah ini, selain karena ke tidak tahuan masyarakat akan

pentingnya BPJS, karena kurangnya sosialisasi dari Pihak BPJS kesehatan juga

karena masih banyaknya penduduk kurang mampu yang tidak terdaftar sebagai

penerima Kartu Indonesia Sehat (KIS).

URAIAN JUMLAH KET

BPJS 6.302

UMUM 2.451

TOTAL 8.753

Tabel 5. Jumlah Kunjungan Puskesmas Nambo Tahun 2017

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 12


2. PHBS Masyarakat

Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan di Wilayah Puskesmas Nambo

dengan cara menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yakni perilaku

yang diperaktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang

menjadikan seseorang, keluarga, kelompok dan masyarakat menolong dirinya sendiri

(mandiri). Cakupan rumah tangga yang melaksanakan PHBS di Wilayah Kecamatan

Kambu dari target 100% atau sekitar 4.293 rumah tangga hanya 2.167 rumah tangga

atau 50% saja yang mengalami peningkatan PHBS pada tingkat rumah tangga.

PHBS dapat dilakukan diberbagai tatanan masyarakat, tatanan rumah tangga, sekolah

tempat kerja dan tempat-tempat umum, Untuk mencapai rumah tangga yang ber

PHBS, terdapat sepuluh upaya untuk dilakukan yaitu :

1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan

2. Memberikan bayi ASI eksklusif

3. Menimbang Balita Setiap Bulan

4. Menggunakan Air Bersih

5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun

6. Menggunakan Jamban Sehat

7. Memberantas jentik dirumah sekali seminggu

8. Makan sayur dan buah setiap hari

9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari

10.Tidak merokok di dalam rumah

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 13


3. PKM

Target Pencapaian
No Jenis Kegiatan Sasaran
(%) (%)

1. a. Penyuluhan Kelompok 11 Posyandu >70 % 100%

b. Penyuluhan anak sekolah 25 Sekolah

2. Rumah tangga sehat 1080 >80% 65%

Tabel 6. Cakupan Kegiatan Promosi Kesehatan Masyarakat

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 14


BAB. III
A. MORTALITAS SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Gambaran situasi derajat kesehatan masyarakat kerap dipaparkan dengan berbagai

indicator yang secara garis besar terdiri dari 2 aspek yaitu mortalitas dan morbiditas. Pada

bab ini kondisi derajat kesehatan juga digambarkan melalui dua aspek tersebut.

1. Angka kematian Bayi ( AKB )

Infan Mortality Rate atau Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indicator

yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat, baik dalam

tatanan provinsi dan nasional. selain itu, program-program kesehatan di Indonesia

banyak yang menitik beratkan pada upaya penurunan AKB. Angka kematian bayi

merujuk kepada jumlah bayi yang meninggal pada pase antara kelahiran hingga bayi

belum mencapai umur 1 tahun per 1000 kelahiran hidup.

Diwilayah kerja Puskesmas Nambo untuk tahun 2017 tidak ada Kematian

Bayi, kecendrungan penurunan AKB dapat dipengaruhi oleh pemeratan pelayanan

kesehatan berikut fasilitasnya. Pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat

berperan melalui perbaikan gizi yang pada gilirannya mempengaruhi daya tahan

terhadap serangan penyakit.

2. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka kematian Balita atau AKABA menggambarkan peluang untuk

meninggal pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. Di wilayah

puskesmas Nambo jumlah angka kematian balita (AKABA) berjumlah 0 orang.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 15


3. Angka Kematian Ibu Maternal ( AKI )
Terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur status

kesehatan ibu pada suatu wilayah, salah satunya yaitu Angka Kematian Ibu (AKI),

AKI merupakan salah satu indikator yang peka terhadap kualitas dan aksesibilitas

pasiltas pelayanan kesehatan.

Dalam Upaya penurunan angka kematian ibu, puskesmas Nambo,

pemerintah bersama masyarakat bertanggung jawab untuk menjamin setiap ibu

memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, mulai dari saat

hamil, pertolongan persalinan dari tenaga kesehatan terlatih, perawatan pasca

persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi,

memperoleh cuti hamil dan melahirkan, serta akses terhadap keluarga berencana.

Disamping itu, pentingnya melakukan intervensi lebih kehulu yakni kepada

kelompok remaja dan dewasa muda dalam upaya percepatan penurunan Angka

Kematian Ibu (AKI). Di wilayah puskesmas Nambo jumlah angka kematian ibu

Maternal (AKI) berjumlah 0 orang.

4. Angka Kematian Kasar ( AKK )


Angka kematian di wilayah kerja Puskesmas Nambo pada tahun 2017 telah

membuahkan hasil yang memuaskan, dalam arti tingkat kematian pada tahun 2017

ini menurun dibanding tahun sebelumnya Angka Kematian Kasar : ………. / 1000

Penduduk

5. Umur Harapan Hidup ( UHH )


Penurunan Angka Kematian Bayi sangat berpengaruh pada kenaikan umur

harapan Hidup (UHH) waktu lahir. Angka Kematian Bayi sangat peka terhadap

perubahan dengan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga perbaikan

derajat kesehatan tercermin pada penurunan AKB dan kenaikan Umur Harapan

Hidup (UHH) pada waktu lahir, meningkatnya umur harapan hidup secara tidak

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 16


B. MORBIDITAS
Angka Kesakitan penduduk didapat dari data yang berasal dari masyarakat

(community based data) yang dapat diperoleh dengan melalui studi morbiditas dan

hasil pengumpulan data baik dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data )

yang diperoleh melalui system pencatatan dan pelaporan Dalam meningkatkan dan

lebih meratakan upaya pelayanan kesehatan maka dalam pelaksanaannya tidak

terlepas dari penyakit-penyakit utama yang didapatkan dalam kurun waktu 1 tahun

pelaksanaan program. Adapun 10 besar penyakit yang ditemukan pada tahun 2017

pada Puskesmas Nambo adalah sebagai berikut:

No. Penyakit Jumlah

1 Peny. lain pada saluran pernapasan bagian atas 1350

2 Gastritis 813

3 Penyakit Tulang 723

4 Hipertensi 561

5 Penyakit Pulpa 394

6 Ispa Lain 389

7 Gingivitis 279

8 Penyakit kulit Alergi 263

9 Penyakit Kulit Infeksi 237

10 Kecelakaan 219

Tabel 7. Sepuluh puluh besar penyakit yang ditemukan pada tahun 2017

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 17


1. Penyakit Menular

Penyakit menular yang disajikan data profil kesehatan antara lain penyakit

ISPA, Diare, Suspek TB, Malaria Klinis, DBD, Campak dan Suspek Flu Burung.

a. Penyakit Malaria

Penyakit malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia,

perkembangan penyakit malaria dipantau melalui annual parasite incidence

(API), dari hasil laporan dan pengamatan di lapangan hanya ditemukan 1

penderita.

b. Penyakit TB Paru

Menurut hasil Surkesnas 2001, TB Paru menempati urutan ke 3 penyebab

kematian umum (9,4 %), selain menyerang paru, Tuberculosis dapat menyerang

organ lain (extra pulmonary). Dari data programer TB di Wilayah Puskesmas

Nambo menunjukkan kasus BTA (+) pada tahun 2017 sebanyak 13 orang,

diobati 13 orang dan yang sembuh 13 orang (100 %), RO(+) BTA(-) 4 orang

pindah 1 orang dan penderita TB luar paru berjumlah 1 orang.

c. Penyakit HIV/AIDS

Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan,

meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan.

Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra

pembangunan ekonomi di Indonesia., meningkatnya perilaku seksual yang tidak

aman dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui suntikan, secara

simultan telah memperbesar tingkat resiko penyebaran HIV/AIDS.

Jumlah penderita HIV/AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena

gunung es, yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil dari pada

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 18


jumlah yang sebenarnya. Hal ini berarti bahwa jumlah penderita HIV/AIDS di

Indonesia yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti. Di puskesmas Nambo

sampai dengan Desember 2017 tidak ditemukan satu pun penderita HIV/AIDS.

d. Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )

ISPA sebagai penyebab utama kematian pada bayi dan balita diduga

karena pneumonia dan merupakan penyakit yang akut dan kualitas

penatalaksanaannya masih belum memadai. Upaya dalam rangka pemberantasan

penyakit infeksi saluran pernafasan akut lebih difokuskan pada upaya penemuan

dini dan tatalaksana kasus yang cepat dan tepat terhadap penderita pneumonia

balita yang ditemukan.

e. Penyakit Kusta

Meskipun Indonesia sudah mencapai eliminasi kusta pada pertengahan

tahun 2000, sampai saat ini penyakit kusta masih menjadi salah satu masalah

kesehatan masyarakat. Hal ini terbukti dari masih tingginya jumlah penderita

kusta di Indonesia dan merupakan Negara urutan ketiga penderita terbanyak di

dunia. Penyakit kusta dapat mengakibatkan kecacatan pada penderita. Masalah

ini diperberat dengan masih tingginya stigma dikalangan masyarakat dan

sebagian petugas. Akibat dari kondisi ini sebagian penderita dan mantan

penderita dikucilkan sehingga tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan

serta pekerjaan yang berakibat pada meningkatnya angka kemiskinan.

2. Penyakit Menular Yang dapat Dicegah Dengan Iminisasi ( PD3I )

PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/ditekan

denganpelaksanaan program imuniasasi, pada profil kesehatan ini akan dibahas

penyakit tetanus neonatorum, campak, difteri, pertusis dan hepatitis B.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 19


a. Tetanus Neonatorum

Jumlah kasus tetanus neonatorum di Puskesmas Nambo pada tahun ini tidak

ada kasus, hal ini diduga karena meningkatnya cakupan persalinan oleh tenaga

kesehatan, namun secara keseluruhan CFR masih tetap tinggi. Penanganan tetanus

neonatorum tidak mudah, yang terpenting adalah usaha pencegahan yaitu

pertolongan persalinan yang higienis ditunjang dengan imuniasasi TYT pada ibu

hamil.

b. Campak

Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan

kejadian luar biasa. Sepanjang tahun 2017 di Wilayah Puskesmas Nambo tidak

ada KLB campak.

c. Difteri

Difteri termasuk penyakit menular yang jumlah kasusnya relative

rendah, rendahnya kasus difteri sangat dipengaruhi adanya program imunisasi.

Jumlah kasus penyakit difteri di Puskesmas Nambo tahun 2017 sebesar 0

kasus ( 0 %).

d. Pertusis

Jumlah kasus pertusis di Puskesmas Nambo pada tahun 2017 adalah 0.

e. Hepatitis B

Jumlah kasus Hepatitis pada tahun 2017 sebanyak 0 kasus

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 20


3. Penyakit Potensi KLB / Wabah

a. Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar luas ke seluruh

wilayah. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan angka

kematian relative tinggi. Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun

ke tahun. Pada awalnya pola epidemic terjadi setiap lima tahunan, namun dalam

kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan periode antara

2-5 tahunan, sedangkan angka kematian cenderung menurun. Upaya pemberantasan

DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan

serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3 M), pemantauan angka bebas

jentik (ABJ) serta pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga.

Kasus penyakit DBD di Puskesmas Nambo pada tahun 2017 yang ditangani

sebanyak 4 kasus,

b. Filariasis

Kasus penyakit Filariasis di Puskesmas Nambo pada tahun 2017 sebanyak 0

kasus, yang ditangani 0 kasus (0 %).

4. Penyakit Tidak Menular

Semakin meningkatnya arus globalisasi di segala bidang, perkembangan

teknologi dan industri telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup

masyarakat, serta situasi lingkungan misalnya perubahan pola konsumsi makanan,

berkurangnya aktivitas fisik dan meningkatnya polusi lingkungan. Perubahan tersebut

tanpa disadari telah memberi pengaruh terhadap terjadinya transisi epidemiologi dengan

semakin meningkatnya kasus-kasus penyakit tidak menular seperti Penyakit Jantung,

Tumor, Diabetes, Hipertensi, Gagal Ginjal, dan sebagainya.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 21


a. Sakit Persendian / Rematik.

Sakit persendian/rematik adalah penyakit radang kronis yang menyerang

persendian dan mengganggu fungsi persendian. Berdasarkan diagnosis tenaga

kesehatan 11 % penduduk berumur 35 tahun keatas atau lebih pernah mengalami

penyakit persendian.

b. Dibetus Melitus dan Darah Tinggi (Hipertensi)

Di Puskesmas Nambo penderita Diabetes Melitus dan Hipertensi merupakan

kunjungan rawat jalan cukup banyak, untuk mengurangi pasien dengan penderita

tersebut Puskesmas Nambo bekerja sama dengan BPJS melakukan kegiatan senam

Prolanis setiap hari minggunya, PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan

kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang

melibatkan Peserta, FasilitasKesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka

pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit

kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan

kesehatan yang efektif dan efisien. peserta.peserta PROLANIS adalah peserta BPJS

yang dinyatakan telah terdiagnosa DM Tipe 2 dan atau Hipertensi oleh Dokter

Spesialis di Faskes Tingkat Lanjutan

5. Penyalahgunaan NAPZA/Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya)

Ditinjau dari jenisnya, ketergantungan NAPZA merupakan penyakit mental

dan perilaku, yang dapat berdampak pada kondisi kejiwaan yang bersangkutan dan

masalah lingkungan sosial. Walaupun tidak ada data yang pasti mengenai jumlah

kasus penyalahguna NAPZA, namun diperkirakan dalam beberapa tahun terakhir ini

jumlah kasus penyalahguna NAPZA cenderung semakin meningkat, bahkan jumlah

yang sebenarnya ada di masyarakat diperkirakan jauh lebih besar daripada kasus yang

dilaporkan, seperti fenomena “gunung es”.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 22


Faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks yang diakibatkan

interaksi antara faktor-faktor yang terkait dengan individu, lingkungan dan

tersedianya zat (NAPZA). Tidak ada penyebab tunggal (single cause) yang

mempengaruhi terjadinya penyalahgunaan NAPZA. Kegiatan untuk mencegah

penyalah gunaan NAPSA pada tahun 2017 di Puskesmas Nambo dilakukan

penyuluhan dengan sasaran tokoh masyarakat, tokoh agama, pendidik, LSM, murid

sekolah.

C. STATUS GIZI

Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator, antara lain bayi

dengan berat badan lahir rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi wanita usia subur

kurang energi kronis (KEK).

1. Bayi Dengan Berat Badan lahir Rendah (BBLR)

Berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu

faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR

dibedakan dalam 2 katagori yaitu BBLR karena premature atau BBLR karena

intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi

berat badannya kurang. Di Negara berkembang banyak BBLR dengan IUGR karena

ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria dan menderita penyakit menular seksual

(PMS) sebelum konsepsi atau pada saat kehamilan. Sementara itu jumlah BBLR di

Kecamatan Nambo sebanyak 11 bayi. Bayi dengan BBLR yang ditangani sebesar 11

3bayi (100 %) dari jumlah bayi yang BBLR.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 23


2. Status Gizi Balita

Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat

kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah

pengukuran secara anthropometric yang menggunakan indeks berat badan menurut

umur (BB/U).

3. Status Gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Kronik (KEK)

Salah satu cara untuk mengetahui status gizi Wanita Usia Subur (WUS) umur

15-49 tahun adalah dengan melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA).

Hasil pengukuran ini bisa digunakan sebagai salah satu cara dalam mengidentifikasi

seberapa besar seorang wanita mempunyai risiko untuk melahirkan bayi BBLR.

Indikator Kurang Energi Kronik (KEK) menggunakan standar LILA <23,5cm.

Jumlah status gizi wanita usia subur kurang energi kronik (KEK) di puskesmas

Nambo berjumlah 20 orang atau 2, 7 %.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 24


BAB. IV
UPAYA KESEHATAN

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat, telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan. Berikut ini

diuraikan gambaran situasi upaya kesehatan khususnya pada tahun 2017.

A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR

Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting

dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dengan pemberian

pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan sebagian besar masalah

kesehatan masyarakat sudah dapat diatasi.

Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan

kesehatan adalah sebagai berikut :

1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

Hasil kegiatan pelayanan KIA di Puskesmas Nambo Tahun 2017 dapat

dilihat pada tabel berikut.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 25


Sasaran Target
No. Jenis kegiatan Kumulatif %
(tahun) (tahun)
1 K1 206 100 208 100
2 K4 206 95 200 97
3 Persalinan Nakes 197 90 180 91,3
6 KB 1368 75 1026 75
7 PKO 41 80 33 80.4
8 Kematian Ibu 0 0 0 0
9 Lahir Hidup 197 90 177 90
10 Lahir Mati 0 0 3 0
11 BBLR 0 0 11 0
12 PKN 30 80 25 83,3
13 KN 1 197 90 178 90,3
14 KN Lengkap 199 90 175 89
15 Pelayanan Bayi 198 90 182 92
16 Pelayanan Anbal 692 90 631 91,1
17 Penjaringan Anak 336 100 319 94.9
Sekolah
Tabel 8. Cakupan Program KIA bulan Januari s.d. Desember 2017

Keterangan :

 Pelayanan Antenatal ( K1 & K4 )

Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan

gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke

fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal.

Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan

pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali

kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester

dua dan dua kali pada trimester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk

melihat kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil.

 Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi

Kebidanan

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 26


Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar

terjadi pada masa di sekitar persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak

dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan

(professional). Hasil pengumpulan data / indikator kinerja SPM bidang

kesehatan di Puskesmas Nambopada tahun 2017 menunjukkan bahwa prosentase

cakupan persalinan dengan perolongan oleh tenaga kesehatan sebesar (100 %).

 Ibu Hamil Resiko Tinggi yang Dirujuk

Dalam memberikan pelayanan kesehatan khususnya oleh bidan di desa

dan puskesmas, beberapa ibu hamil di antaranya tergolong dalam kasus resiko

tinggi (risti), maka kasus tersebut memerlukan pelayanan kesehatan rujukan ke

unit kesehatan yang memadai. untuk ibu hamil resiko tinggi yang dirujuk

sebesar 100 %.

 Kunjungan Neonatus

Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan umur yang

paling rentan atau memiliki resiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya

kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut antara lain dengan

melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan

kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal 2 kali, satu kali pada 0-7 hari dan

satu kali pada umur 8-28 hari. Dalam melaksanakan pelayanan neonatus,

petugas kesehatan disamping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga

melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu.

2. Pelayanan Imunisasi

Pencapaian universal child immunization pada dasarnya merupakan suatu

gambaran terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara

lengkap. Bila UCI dikaitkan dengan batasan wilayah tertentu, berarti dalam wilayah

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 27


tersebut dapat digambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat terhadap

penularan PD3I. Pada tahun 2017 dilaporkan Desa/ Kelurahan yang telah mencapai

desa/keluaran UCI sebesar 4 (100 %) dari 4 desa / kelurahan yang ada. Dari 4 Desa /

Kelurahan semua telah mencapai UCI 100 %.

Pelayanan imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG, DPT ( 3 kali ), Polio ( 4

kali ), Hepatyitis B ( 3 kali ) dan Campak ( 1 kali ), yang dilakukan melalui

pelayanan rutin di posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainya. Jumlah WUS

bisa dilihat di (Tabel 26). Upaya meningkatkan kekebalan pada masyarakat juga

dilakukan pada kelompok-kelompok sasaran khusus lainnya, misalnya pemberian

imunisasi DT dan TT pada anak sekolah melalui program Bulan Imunisasi Anak

Sekolah (BIAS) atau pelaksanaan Crash Program imunisasi Campak pada anak

Balita di lokasi pengungsian atau Catch Up Campaign imunisasi campak pada anak

sekolah kelas 1 sampai VI SD.

TARGET
NO JENIS KEGIATAN SASARAN %
(%) CAKUPAN

1 BCG 196 100 194 99


2 DPT HB 1 196 100 194 99
3 DPT HB 2 196 100 194 99
4 DPT HB 3 196 100 192 98
5 POLIO 1 196 100 196 100
6 POLIO 2 196 100 194 99
7 POLIO 3 196 100 194 99
8 POLIO 4 196 100 188 95.9
9 CAMPAK 196 100 189 96.4
10 UNIJEK 196 100 119 60.7
11 TT 1 336 100 328 97.6
12 TT 2 336 100 319 94.9
Tabel 9. Cakupan Imunisasi Rutin Januari s.d. Desember 2017

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 28


3. Pelayanan Gizi

Program gizi merupakan program perbaikan gizi keluarga yang lebih

menitikberatkan pada pertumbuhan anak bayi dan balita, ibu hamil dan ibu nifas.

Program perbaikan gizi dilaksanakan secara bertahap untuk meningkatkan status gizi

masyarakat. Di ruang lingkup Puskesmas Nambo telah banyak dilakukan kegiatan

perbaikan gizi antara lain penyuluhan gizi, pemberian PMT, konseling gizi buruk, dll.

Semua ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal. Program gizi

dalam laporannya mengikuti kegiatan posyandu dan hasilnya dapat dilihat pada tabel

berikut;

No. Jenis Kegiatan Sasaran Target (%) Pencapaian


(Tahun)
1 Pemberian Fe 1 Ibu hamil 206 100% 206

2 Pemberian Fe 3 Ibu hamil 206 100% 182

3 Distribusi Vit. A Balita 692 80% 607

4 Distribusi Vit. A Bayi 198 80% 96

5 Vit. A Bufas 206 85% 685

6 Cakupan Garam Beryodium 8247 90% 8192

7 Cakupan Balita Gizi Buruk - - 2

8 Cakupan Balita Gizi Kurang - - 4

9 Cakupan Balita BGM - - 8

10 Jumlah Balita Ditimbang (D) 669 80% 660

Tabel 10. Cakupan Program Gizi Januari s.d. Desember 2017

B. MANFAATAN OBAT

Dalam rangka melaksanakan pelayanan pengobatan, Puskesmas Nambo

mendapatkan sarana obat-obatan yang berasal/bersumber dari:

a. Obat-obatan PKD (APBD)

b. Obat-obatan Program

c. Pembelian bagi obat-obatan yang dirasa perlu

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 29


Adapun penggunaan di Puskesmas dan pangambilan obat di Gudang Farmasi

Kota Kendari didasarkan atas pola penyakit yang ada di wilayah kerja Puskesmas

Nambo.

No Nama Obat Jumlah

1 amoksisilin kapsul 500 mg 6.248 Kaplet

2 Klorfeniramin maleat (ctm) tablet 4 mg 5.956 Tablet

3 Parasetamol tablet 500 mg 5.664 Tablet

4 Prednison tablet 5 mg 4.758 Tablet

5 Gliseril Guayakolat tablet 100 mg 3.339 Tablet


6 Vitamin B kompleks tablet 3.127 Tablet

7 Antasida doen tablet. Kombinasi 3.612 Tablet

8 Piridoksin Hcl tablet 10 mg 2.049 Tablet

9 Asam askorbat (vit. C) tablet 50 mg 4.135 Tablet

10 Kalsium laktat (kalk) tablet 500 mg 3.502 Tablet

11 Asam mefenamat kaplet 500 mg 2.177 Tablet

12 Tiamin Hcl mononitrat (vit B1) tablet 50 2.651 Tablet

13 Tablet Tambah Darah Kombinasi 1.906 Tablet

14 Captopril tablet 25 mg 1.532 Tablet

15 Kotrimoksazol dewasa tablet 1.012 Tablet

16 Amlodipin tablet 10 mg 989 Tablet

17 Deksametason tablet 0,5 mg 991 Tablet

18 Piroksincam tablet 20 mg 809 Tablet

19 Ibuprofen tablet 200 mg 500 mg 704 Tablet

20 Supra Livron tab 869 Tablet

Tabel 11. 20 Besar Pemakaian Obat

C. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG

1. Pelayanan Kesehatan Rujukan

Salah satu kelemahan pelayanan kesehatan adalah pelaksanaan rujukan yang kurang

cepat dan tepat. Rujukan bukan suatu kekurangan, melainkan suatu tanggung jawab yang

tinggi dan mendahulukan kebutuhan masyarakat. Adapun pelayanan rujukan di puskesmas

Nambo mencakup :

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 30


 Prosedur Administrasif Merujuk Pasien

1. Dilakukan setelah pasien di berikan tindakan pra rujukan

2. Melakukan konseling dan informed consent (persetujuan rujukan)

3. Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien

4. Membuat catatan rekam medis pasien dan mencatat dalam register rujukan

5. Bukti rujukan harus di tanda tangani oleh pihak penerima rujukan

6. Menjalin komunikasi dengan tempat rujukan

7. Pengiriman pasien dilaksanakan setelah administrasi di selesaikan kecuali pasien

gawat darurat .

 Prosedur Standar Menerima Rujukan Balik Pasien

1. Memperhatikan anjuran tindakan yang di sampaikan oleh Rumah Sakit/ puskesmas

yang terakhir merawat pasien tersebut

2. Melakukan tindakan lanjut atau perawatan kesehatan masyarakat dan

memantau(follow up) kondisi klinis pasien sampai sembuh, termasuk melakukan

kunjungan rumah.

 Prosedur Administrasif Menerima Rujukan Balik Pasien

1. Meneliti isi surat rujukan balik dan mencatat informasi tersebut di buku register

rujukan, kemudian mencantumkan tanggal pelaksanaan tindak lanjut

2. Menginformasikan segera kepada pengirim bahwa surat rujukan balik telah di terima

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 31


BAGAN RUJUKAN PASIEN KOTA KENDARI
PUSKESMAS NAMBO

Gambar 11 . Bagan rujukan pasien Puskesmas Nambo tahun 2017

2. Pelayanan Penunjang

Puskesmas Nambo terletak di Kelurahan Nambo dimana wilayah kerja

Puskesmas Nambo terdapat 2 jenis sarana kesehatan yaitu sarana kesehatan

pemerintah dan sarana kesehatan bersumber daya masyarakat, dengan rincian sebagai

berikut:

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 32


No. Jenis Sarana Kesehatan Jumlah

1. Sarana kesehatan pemerintah:


Puskesmas non perawatan 1
Puskesmas pembantu 4

2. Sarana kesehatan bersumber daya masyarakat:


Posyandu Balita 11
Posyandu Lansia 7
Tabel 14. Jenis dan Jumlah Sarana Kesehatan

a. Puskesmas Induk

Puskesmas induk Nambo terletak di Kelurahan Nambo Kecamatan Abeli

dan mempunyai ruangan berjumlah 13 ruangan. Dari seluruh ruangan tersebut

difungsikan sebagai Ruangan Kepala Puskesmas, Ruangan Tata Usaha, Ruangan

Poli Umum, Ruangan Poli Gigi, UGD, Ruangan Kartu, Ruangan Kesling/Promkes,

Ruangan Gizi, Ruangan P2M, Ruangan Apotik, Ruangan KIA/KB, Ruangan

Rapat, dan Ruangan Gudang Obat.

B. Puskesmas Pembantu

Di Puskesmas Nambo terdapat 4 (empat) buah Pustu yaitu Puskesmas

Pembantu Petoaha, Sambuli, Bungkutoko dan Tandonggeu

C. Posyandu

Posyandu yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Nambo secara

keseluruhan termasuk dalam kategori Posyandu Pratama, Puskesmas Madya,

Posyandu Purnama. Terdapat 11 (sebelas) buah posyandu yang tersebar di 5 (lima)

Kelurahan. Setiap Posyandu dibina oleh beberapa orang petugas dari Puskesmas.

Pembina Posyandu diwajibkan hadir setiap ada Posyandu di kelurahan binaannya.

Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut:

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 33


No Nama Posyandu Strata Jumlah Kader

1. Merpati Madya 5
2. Nyiur Melambai Purnama 5
3. Gaya Baru Madya 5
4. Wekoila Madya 5
5. Delima Purnama 5
6. Nelayan Madya 5
7. Padang Pasar Madya 5
8. Pokadulu Madya 5
9. Kasih Ibu Madya 5
10. Putra Harapan Madya 5
11. Harapan Bunda Madya 5
Tabel 16. Hasil Telaah Kemandirian Pos Pelayanan Terpadu

D. Tenaga Kesehatan

Dalam menjalankan fungsinya sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat,

Puskesmas Nambo memiliki beberapa staf sebagai pelaksana tugasnya, yang masing-

masing bekerja sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 34


Jenis Ketenagaan di Puskesmas Nambo tahun 2017 adalah sebagai berikut:

PTT / HONORER
NO NAMA KETENAGAAN PNS / MENGABDI
1 Dokter Umum 1
2 Dokter Gigi 1 1
3 Perawat (S.1) 2 1
4 Perawat (D.3) 3 4
5 Perawat (D.1 SPK) 3
6 Perawat Gigi (D.III) 1 1
7 Bidan (D.IV) 1
8 Bidan (D.III) 4 5
9 Bidan (D.I) 0
10 Kesehatan Masyarakat (S.1) 5 2
11 Gizi (S.1) 0 1
12 Gizi (D.III) 1 2
13 Gizi (SPAG) 1
14 Kesehatan Lingkungan (D.III) 1
15 Farmasi (S.1) 1
16 Farmasi (D.III) 1 1
17 Non Kesehatan (S.1) 0
18 Non Kesehatan (SMU / SMK) 1 1
TOTAL 27 19

Tabel 17. Jumlah Ketenagaan di Puskesmas Nambo

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 35


E. Sarana dan Prasarana

NO. SARANA/PRASARANA KELURAHAN JML


NAMBO PETOAH SAMBULI BUNGKUT
A OKO
1. Sarana Kesehatan
Pemerintah
a. Puskesmas Induk 1 1
b. Puskesmas Pembantu 1 1 1 5
2. Sarana Kesehatan
Bersumber
a. Posyandu 2 3 2 3 11
b. Posyandu Lansia 1 1 1 1 4
c. SD Dengan Dokter 1 1 1 1 4
Kecil
d. Poskeskel 1 1
e. Dokter Praktek Swasta 0 0 0 10 0
f. Bidan Praktek Swasta 0 0 0 0
3. Kendaraan Operasional

a. Kendaraan Roda 4 2
b. Kendaraan Roda 2 5
Tabel 18. Jumlah sarana dan prasarana

F. Transportasi Dan Komunikasi

Puskesmas Nambo terletak di Kelurahan Nambo kecamatan Abeli. Sarana

transportasi yang dimiliki Puskesmas Nambo saat ini terdiri dari 6 (enam) unit

kendaraan roda dua dan 2 (dua) unit kendaraan roda empat. Sarana komunikasi

Telekomunikasi baik, tetapi jaringan internet masih susah.

D. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT

1. PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR

Upaya pemberantasan penyakit menular lebih ditekankan pada pelaksanaan

surveilans epidemiologi dengan upaya penemuan penderita secara dini yang

ditindaklanjuti dengan penanganan secara cepat melalui pengobatan penderita. Di

samping itu pelayanan lain yang diberikan adalah upaya pencegahan dengan

pemberian imunisasi, upaya pengurangan faktor risiko melalui kegiatan untuk

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 36


peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan peran serta masyarakat dalam

upaya pemberantasan penyakit menular yang dilaksanakan melalui berbagai kegiatan.

Uraian singkat berbagai upaya tersebut seperti berikut ini.

a. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa

Upaya penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan Kejadian Luar

Biasa (KLB) merupakan tindak lanjut dari penemuan dini kasus-kasus

penyakit berpotensi wabah yang terjadi pada masyarakat. Upaya

penanggulangan yang dilakukan dimaksudkan untuk mencegah penyebaran

lebih luas dan mengurangi dampak negatif yang dapat ditimbulkan.

Berdasarkan hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM bidang kesehatan

dari Desa selama tahun 2017 jumlah desa/kelurahan yang melaporkan terkena

KLB dan yang mendapatkan penanganan kurang dari 24 jam adalah 0.

b. Pemberantasan Penyakit Polio

Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Polio telah dilakukan

melalui gerakan imunisasi Polio. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan

kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus Acute

Flaccid Paralysis (AFP) kelompok umur <15 tahun hingga dalam kurun

waktu tertentu, untuk mencari kemungkinan adanya virus Polio liar yang

berkembang di masyarakat dengan pemeriksaan spesimen tinja dari kasus

AFP yang dijumpai. Berdasarkan kegiatan surveilans AFP pada penduduk

<15 tahun selama tahun 2017 di Puskesmas Nambo tidak ada kasus Polio

sama sekali. Setiap kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi

surveilans, akan dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui ada

tidaknya virus Polio Liar yang menyerang masyarakat. Sementara itu,

cakupan imunisasi Polio-3 pada bayi di Puskesmas Nambopada tahun 2017

sebesar 100 %.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 37


c. Pemberantasan TB-Paru

Upaya Pencegahan dan pemberantasan TB-Paru dilakukan dengan

pendekatan DOTS (Directly Observe Treatment Shortcource) atau

pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan

Obat (PMO). Kegiatan ini meliputi upaya penemuan penderita dengan

pemeriksaan dahak di sarana pelayanan kesehatan yang ditindaklanjuti

dengan paket pengobatan. Dari upaya penemuan penderita TB selama tahun

2017 ditemukan gambaran kasus.

Dalam penanganan program, semua penderita TB yang ditemukan

ditindaklanjuti dengan paket-paket pengobatan intensif. Melalui paket

pengobatan yang diminum secara teratur dan lengkap, diharapkan penderita

akan dapat disembuhkan dari penyakit TB yang dideritanya. Namun demikian

dalam proses selanjutnya tidak tertutup kemungkinan terjadinya kegagalan

pengobatan akibat dari paket pengobatan yang tidak terselesaikan atau drop

out (DO), terjadinya resistensi obat atau kegagalan dalam penegakan

diagnosa di akhir pengobatan. Tingkat kesembuhan dari penderita pasca

pengobatan biasanya sangat sulit ditegakkan oleh karena kendala dari

penderita dalam mengeluarkan dahak yang memenuhi persyaratan, sehingga

dalam pemantauan hasil akhir lebih diarahkan pada tingkat kelengkapan

pengobatan atau succes rate (SR).

d. Pemberantasan Penyakit ISPA

Upaya dalam rangka Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan

Akut (P2 ISPA) lebih difokuskan pada upaya penemuan secara dini dan tata

laksana kasus yang cepat dan tepat terhadap penderita Pneumonia balita yang

ditemukan. Upaya ini dikembangkan melalui suatu manajemen terpadu dalam

penanganan balita sakit yang datang ke unit pelayanan kesehatan atau lebih

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 38


dikenal dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Dengan pendekatan

MTBS semua penderita ISPA langsung ditangani di unit yang menemukan,

namun bila kondisi balita sudah berada dalam Pneumonia berat sedangkan

peralatan tidak mencukupi maka penderita langsung dirujuk ke fasilitas

pelayanan yang lebih lengkap. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir hasil

penemuan dan pengobatan Pneumonia cakupan penemuan penderita masih

kurang dari target (perkiraan penderita) masih relatif rendah.

e. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS

Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit

HIV/AIDS, di samping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan

juga diarahkan pada upaya pencegahan melalui penemuan penderita secara

dini yang dilanjutkan dengan kegiatan konseling.

Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS

terhadap darah donor, pemantauan pada kelompok berisiko penderita

Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Wanita Penjaja Seks (WPS),

penyalahguna obat dengan suntikan (IDUs), atau sesekali dilakukan

penelitian pada kelompok berisiko rendah seperti ibu rumah tangga dan

sebagainya. Hasil pelaksanaan surveilans HIV/AIDS selama tahun 2017

menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna

Walaupun jumlah penderita AIDS secara kumulatif relatif

kecil (Case Rate 1,33 per 100.000 penduduk), namun dalam perjalanan

penyakit dari HIV + menjadi AIDS dikenal istilah ”windows periods” yang

tidak diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga kelompok ini menjadi

sangat potensial dalam menularkan penyakit. Pada kelompok ini disamping

dilakukan pengobatan yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk

menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 39


penularan lebih lanjut. Upaya pemantauan yang dilakukan pada kelompok

berisiko melalui kegiatan survei dan kegiatan rutin serta skrining darah donor.

f. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Upaya pemberantasan DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi

masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk

(gerakan 3 M+), Juru Pemantauan Jentik (Jumantik) untuk memantau Angka

Bebas Jentik (ABJ), serta pengenalan gejala DBD dan penanganannya di

rumah tangga. Upaya kesehatan yang telah dilakukan dalam rangka

penanggulangan DBD selama tahun 2017 tersebut antara lain adalah

penemuan penderita secara dini melalui sistem surveilans, penegakan

diagnosa secara cepat dan penanganan penderita secara tepat, serta gerakan

pemantauan dan pengendalian vektor melalui gerakan 3 M.

g. Pemberantasan Penyakit Malaria

Penegakan diagnosa penderita secara cepat dan pengobatan yang tepat

merupakan salah satu upaya penting dalam rangka pemberantasan penyakit

Malaria di samping pengendalian vektor potensial. Terdapat dua model

pendekatan dalam upaya penegakan diagnosa penderita, yaitu wilayah Jawa

Bali dilakukan secara aktif (Active Case Detection) oleh Juru Malaria Desa

dengan mendatangi warga yang mengeluh gejala klinis Malaria, sedangkan

untuk wilayah luar Jawa Bali dilakukan secara pasif dengan menunggu pasien

datang berobat ke pelayanan kesehatan. Upaya pengobatan tidak hanya

diberikan kepada penderita klinis atau penderita dengan konfirmasi

laboratorium namun juga diberikan pada kelompok tertentu untuk

tujuan profilaksis.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 40


Diwilayah Puskesmas Nambo sepanjang tahun 2017 tidak ditemukan

satupun kasus malaria. Jadi untuk sementara bisa dikatakn aman dari penyakit

malaria.

h. Pemberantasan Penyakit Kusta

Upaya pelayanan terhadap penderita penyakit Kusta antara lain adalah

melakukan penemuan penderita melalui berbagai survei anak sekolah, survei

kontak dan pemeriksaan intensif penderita yang datang ke pelayanan kesehatan

dengan keluhan atau kontak dengan penderita penyakit Kusta.

Semua penderita yang ditemukan langsung diberikan pengobatan paket

MDT yang terdiri atas Rifampicin, Lampren, dan DDS selama kurun waktu

tertentu. Sedangkan untuk penderita yang ditemukan sudah dalam kondisi parah

akan dilakukan rehabilitasi melalui institusi pelayanan kesehatan yang memiliki

fasilitas pelayanan lebih lengkap.

i. Pemberantasan Penyakit Filaria

Upaya kesehatan dalam rangka pemberantasan penyakit Filaria

difokuskan pada kegiatan penemuan penderita, pengobatan dan pengendalian

vektor potensial di wilayah-wilayah endemis. Upaya penemuan penderita yang

dilakukan disemua Desa diwilayah Kecamatan sekaran telah dilaksanakan secara

maksimal namun sejak beberapa tahun sampai dengan tahun 2017 ini tidak

satupun kasus Filaria yang ditemukan.

D. PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN

Upaya pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan merupakan bagian yang tidak

terpisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara paripurna. Upaya tersebut

dimaksudkan untuk (1) menjamin ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan obat

generik dan obat esensial yang bermutu bagi masyarakat, (2) mempromosikan

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 41


penggunaan obat yang rasional dan obat generik, (3) meningkatkan kualitas pelayanan

kefarmasian di farmasi komunitas dan farmasi klinik serta pelayanan kesehatan dasar,

serta (4) melindungi masyarakat dari penggunaan alat kesehatan yang tidak memenuhi

persyaratan, mutu, dan keamanan.

1. Peningkatan Penggunaan Obat Rasional

Upaya peningkatan penggunaan obat rasional, diarahkan kepada peningkatan

cakupan dan kualitas pelayanan pembinaan penggunaan obat yang rasional melalui

pelaksanaan advokasi secara lebih intensif agar terwujud dukungan masyarakat yang

kondusif serta terbangunnya kemitraan dengan unit pelayanan kesehatan formal.

Sampai dengan akhir tahun 2017, penggunaan obat rasional telah mencapai 100 %.

Angka tersebut telah mencapai target yang harus dicapai adalah 100%. Walau begitu

Berkaitan dengan hal tersebut masih perlu terus diupayakan meningkatan obat esensial

nasional di setiap fasilitas kesehatan masyarakat dan melindungi masyarakat dari risiko

pengobatan irasional.

2. Penerapan Penggunaan Obat Esensial Generik

Kegiatan ini dimaksudkan agar terjaminnya ketersediaan, keterjangkauan,

dan pemerataan obat dalam pelayanan kesehatan, yang pelaksanaannya mencakup

pengadaan buffer stock obat generik esensial, revitalisasi pemasyarakatan konsepsi

obat esensial dan penerapan penggunaan obat esensial generik pada fasilitas

pelayanan pemerintah maupun swasta. Pada tahun 2017. Ketersediaan obat esensial

nasional sudah mencapai 90%.

3. Pemberdayaan Masyarakat dalam Penggunaan Alat Kesehatan dan Perbekalan

Kesehatan Rumah Tangga (PKRT)

Kegiatan ini dimaksudkan agar masyarakat terlindungi dari penggunaan alat

kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga yang tidak memenuhi persyaratan,

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 42


mutu dan keamanan, yang dilaksanakan melalui antara lain monitoring sarana

produksi dan distribusi alat kesehatan dalam rangka Cara Pembuatan Alat Kesehatan

(CPAK), sampling terhadap alat kesehatan dan PKRT yang beredar di pasar dan

dijumpai 4,2% dari yang disampling tidak memenuhi syarat mutu.

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 43


BAB. V
PENUTUP

Data dan informasi merupakan sumber daya yang strategis bagi pimpinan dan

organisasi dalam pelaksanaan manajemen, maka penyediaan data dan informasi yang

berkualitas sangat diperlukan sebagai masukan dalam proses pengambilan keputusan.

Dibidang kesehatan, data dan informsi ini diperoleh melalui penyelenggaraan system

informasi kesehatan. Salah satu luaran utama dari penyelenggaraan system informasi

kesehatan, sejak tahun 1998 telah dikembangkan paket sajian data dan informasi oleh Pusat

Data Kesehatan RI, merupakan kumpulan informasi yang sangat penting, karena dibutuhkan

baik oleh jajaran kesehatan, lintas sector maupun masyarakat.

Namun sangat disadari, system informasi kesehatan yang ada saat ini masih belum

dapat memenuhi kebutuhan data dan informasi kesehatan secara optimal, apalagi dalam era

desentralisasi pengumpulan data dan informasi dari Desa menjadi relative lebih sulit. Hal ini

berimplikasi pada kualitas data dan informasi yang disajikan dalam Profil Kesehatan

Puskesmas Nambo yang diterbitkan ini belum sesuai dengan harapan. Walaupun demikian

Profil Kesehatan Puskesmas Nambo dapat memberikan gambaran secara garis besar dan

menyeluruh tentang seberapa jauh keadaan kesehatan masyarakat yang telah dicapai.

Walaupun Profil Kesehatan Puskesmas Nambo sering kali belum mendapatkan

apresiasi yang memadai, karena belum dapat menyajikan data dan informasi yang sesuai

dengan harapan, namun ini merupakan salah satu publikasi data dan informasi yang meliputi

data capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Indikator Indonesia Sehat dan Target

Pemerintah yang kini terus dikejar bangsa Indonesia adalah Millenium Development Goals

(MDG’s), yaitu program dunia yang menjadi acuan untuk mengukur tingkat kemajuan suatu

negara yang memfokuskan diri pada upaya peningkatan taraf kesehatan masyarakat. Oleh

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 44


karena itu dalam rangka meningkatkan kualitas Profil Kesehatan Puskesmas Nambo perlu

dicari terobosan dalam mekanisme pengumpulan data dan informasi secara cepat untuk

mengisi kekosongan data agar dapat tersedia data dan informasi khususnya yang bersumber

dari Kelurahan.

Wassalam

Pe n y u s u n

PROFIL PUSKESMAS NAMBO TAHUN 2017 45