Anda di halaman 1dari 3

PERBANDINGAN POPULASI LOBSTER (Panulirus sp.

) DARI BANTUL
DAN CILACAP, JAWA TENGAH INDONESIA

Disusun Oleh :

Wiwin Hadianti
B1J014029

TUGAS TERSTRUKTUR KARSINOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
Journal Titles : Comparation of Spiny Lobster (Panulirus sp.)
Populations from Bantul and Cilacap, Central Java,
Indonesia
Published : Jurnal Teknologi, Volume 4, Issue 2, Februari 2016
eISSN 2180-3722.
Author : Florencius Eko Dwi Haryono, Sahala Hutabarat,
Johannes Hutabarat & Ambariyanto.

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati dan


sumber daya kelautan yang tinggi, sehingga dikenal sebagai pusat
megabiodivercity. Hal ini disebabkan karena beragamnya organisme yang
ditemukan hidup di suatu perairan. Eksploitasi sumber daya kelautan di Indonesia
masih sangat tinggi, terutama bagi organisme laut yang dapat dikonsumsi dan
memiliki nilai ekonomi yang tinggi di pasar. Hal ini akan menyebabkan masalah
seperti punahnya organisme, baik tingkat lokal maupun nasional.
Pemerintah telah mengeluarkan peraturan untuk menjaga populasi alam
Indonesia, oleh sebab itu diperlukan suatu mekanisme pengelolaan populasi
berbagai organisme laut. Lobster menjadi salah satu perbincangan dari masalah
yang terkait tersebut. Berkembangnya usaha perikanan komersial lobster di banyak
tempat ini mendorong nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan lobster,
sehingga menimbulkan penurunan populasi alami lobster.
Produksi lobster dunia sekitar 260.000 pertahunnya, nilai ini sangat besar
karena tingginya permintaan konsumsi lobster. Lobster menjadi sumber ekonomi
yang penting dibeberapa daerah dan telah dieksploitasi selama beberapa dekade.
Lobster jenis Panulirus juga banyak dieksploitasi dibeberapa negara seperti Brasil
dan Karibia. Aspek biologi dan ekologi lobster umumnya tidak diketahui karena
sedikitnya informasi yang tersedia, sehingga perlu ditingkatkan pemahaman
tentang populasi lobster di alam.
PEMBAHASAN

Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara acak di Cilacap


dan Bantul. Semua lobster yang tertangkap diidentifikasi secara morfologi.
Terdapat lima spesies lobster yang tertangkap di dua lokasi penelitian yaitu
Panulirus homarus, Panulirus organtus, Panulirus versicolor, Panulirus
peniculatus, dan Panulirus poliphagus. Lobster yang tertangkap di Bantul hanya
ada tiga spesies sedangkan di Cilacap ditemukan lima spesies. Setiap organisme
laut memiliki persyaratan kualitas air yang spesifik agar bisa menunjang
kehidupannya. Kondisi lingkungan yang kurang baik memberikan gangguan bagi
kehidupan organisme, populasi dan masyarakat di suatu ekosistem. Perairan
Cilacap memiliki kondisi yang sesuai untuk menunjang kehidupan lobster.
Tingkat eksploitasi populasi alami lobster lebih tinggi terjadi di Bantul
dibandingkan dengan di Cilacap. Hal ini karena posisi Bantul yang dekat dengan
Yogyakarta yang dimana wisatawan domestik dan mancanegara sangat tinggi.
Sekitar 93,82% lobster jenis Panulirus homarus lebih banyak ditemukan
dibandingkan Panulirus organtus dan Panulirus peniculatus. Kondisi ini
mencerminkan jika kualitas perairan di Bantul lebih sesuai untuk spesies Panulirus
homarus. Disisi lain spesies Panulirus homarus memiliki nilali gizi yang tinggi
daripada spesies lobster lain.
Eksploitasi lobster yang tidak teratur ini menjadi masalah yang serius untuk
pasokan seafood lobster sebagai konsumsi. Hal ini dapat menjadi penyebab
kepunahan lokal dan global jika penurunan populasi alami lobster karena
pemanenan tidak dibatasi. Konservasi dan pemulihan penduduk melalui restocking
jika tidak bisa dihindari maka diperlukan suatu pengelolaan yang komprehensif
yang melibatkan kearifan lokal termasuk peraturan pemanenan lobster di alam.

KESIMPULAN

Tingkat eksploitasi populasi alami lobster di alam untuk pasokan seafood


lobster sebagai konsumsi terlalu tinggi sehingga dibutuhkan konservasi, pemulihan
penduduk melalui restocking, pengelolaan yang komprehensif dan peraturan
pemanenan lobster.