Anda di halaman 1dari 16

Analisis Laporan Keuangan PT.

Pertamina Persero 2016


Berdasarkan Sudut Pandang Investor

Disusun oleh:

Andika Saputra 16312367


Bandoro Danu Resky Wibowo 16312370

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA 2017/2018
A. SEJARAH SINGKAT PERUSAHAAN

 1957
Pada 10 Desember 1957, perusahaan tersebut berubah nama menjadi PT Perusahaan
Minyak Nasional, disingkat PERMINA. Tanggal ini diperingati sebagai lahirnya
Pertamina hingga saat ini. Pada 1960, PT Permina berubah status menjadi Perusahaan
Negara (PN) Permina. Kemudian, PN Permina bergabung dengan PN Pertamin menjadi
PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) pada 20 Agustus 1968.
 1971
Selanjutnya, melalui UU No.8 tahun 1971, pemerintah mengatur peran Pertamina untuk
menghasilkan dan mengolah migas dari ladang-ladang minyak serta menyediakan
kebutuhan bahan bakar dan gas di Indonesia. Kemudian melalui UU No.22 tahun 2001,
pemerintah mengubah kedudukan Pertamina sehingga penyelenggaraan Public Service
Obligation (PSO) dilakukan melalui kegiatan usaha.
 2003
Berdasarkan PP No.31 Tahun 2003 tanggal 18 Juni 2003, Perusahaan Pertambangan
Minyak dan Gas Bumi Negara berubah nama menjadi PT Pertamina (Persero) yang
melakukan kegiatan usaha migas pada Sektor Hulu hingga Sektor Hilir. Pada 10
Desember 2005, Pertamina mengubah lambang kuda laut menjadi anak panah dengan
warna dasar hijau, biru, dan merah yang merefleksikan unsur dinamis dan kepedulian
lingkungan.
 2006
Pada 20 Juli 2006, PT Pertamina (Persero) melakukan transformasi fundamental dan
usaha Perusahaan. PT Pertamina (Persero) mengubah visi Perusahaan yaitu, “Menjadi
Perusahaan Minyak Nasional Kelas Dunia“ pada 10 Desember 2007. Kemudian tahun
2011, Pertamina menyempurnakan visinya, yaitu “Menjadi Perusahaan Energi Nasional
Kelas Dunia“. Melalui RUPSLB tanggal 19 Juli 2012, Pertamina menambah modal
ditempatkan/disetor serta memperluas kegiatan usaha Perusahaan.
 2015
Pada 14 Desember 2015, Menteri BUMN selaku RUPS menyetujui perubahan Anggaran
Dasar Pertamina dalam hal optimalisasi pemanfaatan sumber daya, peningkatan modal
ditempatkan dan diambil bagian oleh negara serta perbuatan-perbuatan Direksi yang
memerlukan persetujuan tertulis Dewan Komisaris. Perubahan ini telah dinyatakan pada
Akta No.10 tanggal 11 Januari 2016, Notaris Lenny Janis Ishak, SH.
 2016
Pada 24 November 2016, Menteri BUMN selaku RUPS sesuai dengan SK BUMN No. S-
690/MBU/11/2016, menyetujui perubahan Anggaran Dasar Pertamina terkait dengan
komposisi Direksi dan Dewan Komisaris, kewenangan atas nama Direktur Utama,
pembagian tugas dan wewenang Direksi, kehadiran rapat Direktur Utama dan Dewan
Komisaris.

B. Laporan Keuangan
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

Current Ratio (CR)


Current Ratio merupakan rasio likuiditas. Current Ratio yaitu kemampuan untuk
membayar hutang yang harus dipenuhi dengan aktiva lancar. Rasio ini paling sering digunakan
untuk mengukur kemampuan membayar hutang jangka pendek total, karena mununjukkan
seberapa besar tuntutan kreditur jangka pendek yang dapat dipenuhi oleh aktiva yang diharapkan
dapat menjadi kas dalam periode yang hampir sama dengan masa jatuh tempo tuntutan tersebut.
Aktiva lancar yang dimaksud terdiri dari kas, surat berharga, piutang dagang, dan
persediaan sedangkan kewajiban lancar terdiri dari utang dagang, wesel bayar jangka pendek ;
utang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun, pajak penghasilan yang
terutang, dan beban-beban lain yang terutang (terutama gaji dan upah).
Semakin tinggi current ratio berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban finansial jangka pendek. CR merupakan perbandingan antara aktiva lancar
dengan hutang lancar. CR dapat dihitung dengan formula sebagai berikut

Current ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam
likuiditas dan sebaliknya jika perusahaan yang current ratio-nya terlalu tinggi juga kurang
bagus, karena menunjukkan banyaknya dana yang menganggur pada akhirnya dapat mengurangi
kemampuan laba perusahaan. Current ratio yang tinggi bisa disebabkan oleh kondisi
perdagangan yang kurang baik atau manajemen yang yang bobrok. Dalam masa resesi pihak
manajemen mungkin enggan mengganti barangnya. Dengan demikian, persediaan barang dan
utang dagang ditekan sampai tingkat yang paling rendah, atau saldo piutang yang terlalu besar
karena adanya kebijakan kredit dan penagihan yang kurang efektif.
Pada PT. Pertamina Persero tahun 2016 diketahui sebagai berikut :
16.240.987
CR= = 2,003
8.107.156

Artinya, setiap $ 1 hutang lancar yang segera jatuh tempo, dijamin oleh $ 2,003 aset lancar.

Definisi Return on Assets (ROA)


Return on assets merupakan rasio profitabilitas. Return on assets juga sering disebut
sebagai Return on Investment (ROI). Return on Assets mengukur kemampuan perusahaan dalam
memanfaatkan aktivanya untuk memperoleh laba. Rasio ini mengukur tingkat kembalian
investasi yang telah dilakukan oleh perusahaan dengan menggunakan seluruh dana (aktiva) yang
dimilikinya dan dapat dibandingkan dengan tingkat bunga bank yang berlaku.
Return on Assets (ROA) atau sering disebut Return on Investment (ROI). ROI merupakan
salah satu bentuk rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan
dalam aktiva yang digunakan untuk operasional perusahaan. Dengan demikian, rasio ini
membandingkan keuntungan yang diperoleh dari sebuah kegiatan operasi perusahaan (net
operating income) dengan jumlah investasi atau aktiva (net operating assets) yang digunakan
untuk menghasilkan keuntungan tersebut.
ROA dapat dihitung dengan formula sebagai berikut :

ROA mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih setelah pajak
dan total asset yang digunakan untuk operasional perusahaan. Semakin tinggi rasio ini
menunjukkan bahwa perusahaan semakin efektif dalam memanfaatkan aktiva untuk
menghasilkan laba bersih setelah pajak. Hal ini akan menarik investor untuk memiliki saham
perusahaan tersebut.
Pada PT. Pertamina Persero tahun 2016 diketahui sebagai berikut :
3.098.778
ROA= = 0,065 = 6,5%
47.233.206

Artinya, perusahaan berada pada zona aman. Karena, menurut surat ketetapan BI
No.23/67/KEP/DIR nilai batas minimal ROA adalah 1%. Jika nilai ROA berada dibawah 1%
maka perusahaan berada di zona tidak aman.

Definisi Debt to Equity Ratio (DER)


Debt to Equiy Ratio merupakan rasio solvabilitas atau financial leverage ratio yang
menggambarkan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya.
Semakin tinggi rasio ini maka semakin besar resiko yang dihadapi dan investor akan meminta
tingkat keuntungan yang semakin tinggi dan rasio yang tinggi juga menunjukkan proporsi modal
sendiri yang rendah untuk membiayai aktiva.
DER merupakan perbandingan antara total hutang yang dimiliki perusahaan dengan total
ekuitasnya. DER dapat dihitung dengan formula sebagai berikut

DER yang terlalu tinggi menunjukkan tingginya ketergantungan permodalan perusahaan


terhadap pihak luar sehingga beban perusahaan juga semakin berat. DER akan mempengaruhi
kinerja perusahaan dan menyebabkan apresiasi dan depresiasi harga saham, DER yang terlalu
tinggi mempunyai dampak buruk terhadap kinerja perusahaan, karena tingkat hutang yang
semakin tinggi berarti beban bunga perusahaan akan semakin besar dan akan mengurangi
keuntungan.
Pada PT. Pertamina Persero tahun 2016 diketahui sebagai berikut :

25.158.639
DER= =1,13 = 113%
22.074.567
Artinya, DER-nya cukup kecil tetapi total utang jangka pendek sebesar $ 8.107.156, total utang
jangka panjang sebesar $ 17.051.483 sehingga utang-utang tersebut dalam ketegori cukup
berbahaya.

Pada buku The Investing Policy (TIP), mengatakan bahwa batas kewajaran utang suatu
perusahaan adalah maksimal tiga kali dari modalnya, atau DER-nya 300% dan dengan catatan
utang-utang tersebut bukan merupakan utang ‘berbahaya’.

PENUTUP

Dari hasil laporan keuangan yang telah dilakukan, berikut adalah kesimpulan dari analisa
yang menggunakan Current Ratio, Retrun on Assets dan Debt to Equity Ratio. PT. Pertamina
Persero memiliki nilai rasio yang cukup baik. Dengan Current Rationya sebesar 2,003 yang
Artinya, setiap $ 1 hutang lancar yang segera jatuh tempo, dijamin oleh $ 2,003 aset lancar.
Retrun on Assets sebesar 6,5% yang Artinya, perusahaan berada pada zona aman. Karena,
menurut surat ketetapan BI No.23/67/KEP/DIR nilai batas minimal ROA adalah 1%. Jika nilai
ROA berada dibawah 1% maka perusahaan berada di zona tidak aman. Dan yang terakhir Debt
to Equity Ratio sebesar 1,13 atau 113% yang Artinya, DER-nya cukup kecil tetapi total utang
jangka pendek sebesar $ 8.107.156, total utang jangka panjang sebesar $ 17.051.483 sehingga
utang-utang tersebut dalam ketegori cukup berbahaya.
Pada buku The Investing Policy (TIP), mengatakan bahwa batas kewajaran utang suatu
perusahaan adalah maksimal tiga kali dari modalnya, atau DER-nya 300% dan dengan catatan
utang-utang tersebut bukan merupakan utang ‘berbahaya’. Dengan hasil analisis ini kami dapat
menyimpulkan bahwa analisis laporan keuangan dapat digunakan untuk menilai kinerja
perusahaan, karena hasil dari analisis akan dapat menghilangkan situasi ketidakpastian dalam
informasi sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih tepat. Secara umum nilai rasio yang
baik adalah nilai rasio yang memiliki nilai yang tinggi, akan tetapi nilai yang terlalu tinggi belum
tentu mencerminkan nilai rasio yang baik, oleh karena itu pada dasarnya tidak ada yang optimum
karena kondisi setiap perusahaan yang berbeda-beda, maka dalam melakukan analisis rasio
diperlukan ketelitian sehingga tidak salah dalam menafsirkan hasil dari analisis atau kinerja suatu
perusahaan.