Anda di halaman 1dari 262

PASANGAN (JADI) JADIAN

by
LusiWulan

Ratu-buku.blogspot.com
1
Part 1

Malam, memutar otak.

Priyayi memekik. Bibirnya membuka, matanya berbinar. "Ya,


ya, ya.... Sewakan kamar! Ide bagus," gumam Priyayi.
Matanya tetap mengikuti jalannya film South Kensington
yang DVD-nya ia sewa tadi dalam perjalanan pulang ke
rumah, tapi konsentrasinya terpecah sudah.

Apa pasal cewek manis ini sampai memekik "Sewakan


kamar"?

Dimulai dari keinginan Priyayi yang telah terpendam sekian


lama. Lama-lama status keinginan tersebut memuncak
menjadi impian besar. Dan menurutnya sekarang inilah
saatnya impian itu harus mulai diungkapkan kepada pihak-
pihak yang diperkirakan mampu dan akan menjadi sponsor
untuk mewujudkan impiannya tersebut dalam jangka waktu
relatif cepat.

Mau tahu apa impian Priyayi itu?

Benua Eropa.

Memang sih orangtua Priyayi termasuk dalam golongan orang


kaya yang mampu pergi ke belahan bumi mana saja kapan
saja. Jadi ke Eropa bukanlah hal yang sulit diwujudkan.
Sekarang masalahnya yang diimpikan Priyayi lebih dari
sekedar berangkat, check-in hotel, keliling kota, jalan-jalan
ke tempat wisata, beli cendera mata kemudian pulang.

Ratu-buku.blogspot.com
2
Yang diinginkan gadis itu adalah keliling di negara-negara
besar Eropa dalam rentang waktu yang tidak terbatas. Kalau
di-rating mulai dari 1 sampai 5, dengan 1 adalah berminat dan
5 adalah bosan, maka rating yang diinginkan Priyayi adalah 5.
Oke, 4 tak apa-apalah(4 adalah tidak ada lagi tempat
menarik bagiku).

Dia mengincar kota-kota besarnya, menikmati hotel, kafe,


restoran, tempat clubbing, dan perawatan kecantikan. Semua
dengan fasilitas kelas satu. Terlebih, Priyayi kepingin banget
belanja di butik-butik desainer kelas dunia, langsung di kota
asal mereka. Ia mengincar Milan, London, Paris sesuai dengan
yang dibacanya di majalah-majalah atau yang ia tonton di
jaringan TV kabel.

"Haaa?" Mamanya melongo mendengar penuturan anak


perempuannya." Kamu gila atau apa,Nak?"

"Ih...., Mama,biasa aja deh!"

"Mana bisa dianggap biasa?! Kalau satu-dua minggu dan cuma


jalan-jalan sih nggak apa-apa, mama dan papamu bayarin
semua, tapi ini.....?! Buang-buang duit namanya! Mendingan
dialokasikan untuk sesuatu yang lebih penting atau untuk
kegiatan sosial," oceh Mama.

"Ma, nanti aku tambahin pake tabunganku. Nggak sekarang


kok, masih beberapa tahun lagi." "Kenapa nggak Mama dan
Papa saja yang nambahin?" celetuk Papa angkat bicara.
Sebenarnya jawabannya sudah bisa ditebak. Papa hanya ingin
menyindirnya. Mama mengangguk-angguk tanda mendukung.

Ratu-buku.blogspot.com
3
"Potong warisan deh..."

Kontan mama dan papanya tergelak,

"Yakin amat ada warisan buatmu," seloroh Mama.

"Yakin donk, kalian memang kadang suka bikin sebal, tapi


kalian masih tetap orangtua yang baik dan peduli terhadap
anak-anaknya," sahut Priyayi, ada unsur merayu didalamnya.

"Berarti setengah pembayaran rumahmu dan membayar


penuh mobilmu tanpa memotong warisan," timpal mamanya
penuh kemenangan.

Papa merangkul bahu anaknya dan bertukas," Karena kami


sebagai orangtua terlalu baik, kami akan membayari tiket
pesawat pulang-perginya."

"Ditambahi biaya hotel dan jajan seminggu juga nggak apa-


apa, Pa?" usul Mama seraya tersenyum bak malaikat penuh
ampunan. Papanya ikut-ikutan. Priyayi tambah manyun.
Yaah..... Memang nggak bisa berharap banyak dari
orangtuanya.

Papa lantas menyeletuk, "GIRL, kenapa nggak coba minta


kakekmu?"

Priyayi memutar bola matanya, bibirnya menguncup meniup


udara dari rongga paru-paru. Well. Semua orang didunia tahu
kakek yang tinggal bersama orangtua Priyayi adalah sumber
harta dan kasih sayang bagi Priyayi. Hubungan mereka

Ratu-buku.blogspot.com
4
sangat dekat, sang kakek memanjakan cucunya, sang cucu
memuja kakeknya. Dan sejauh ini, imbas materi yang
diperoleh Priyayi adalah rumah besar di pusat kota beserta
isinya yang dibayar berdua dengan orangtua Priyayi dan dua
kartu kredit dengan limit yang tinggi. Tentu saja ada
persyaratan yang harus dipenuhi Priyayi. Tak ada yang
persen gratis di dunia ini!

Lantaran si kakek sudah memberi banyak, Priyayi merasa


tidaklah etis dan tidaklah tahu diri kalau minta yang lebih
besar lagi. Terlebih, kakeknya pasti nggak akan mengizinkan
dia bepergian sendirian sejauh itu dengan waktu selama itu.
Percaya deh!

Jadi, beberapa hari ini dia memutar otak bagaimana


memperoleh uang eksta dengan cepat, selain dari gaji
tentunya. Lalu putaran otak berhenti pada film South
Kensington tadi. Rupert Everett yang mewarisi rumah besar
beserta perabotan antik bernilai tinggi mengalami kesulitan
finansial sehingga menyewakan kamar-kamar di rumahnya
kepada orang lain dan menjual satu per satu koleksi
perabotan antiknya.

Berhubung Priyayi nggak punya perabotan bernilai tinggi,


tercetus ide di kepalanya menyewakan satu kamar kosong di
rumahnya. Priyayi mengusap-usap dagunya seraya berpikir,
hemm..... Lebih aman kalau diiklankan ke orang-orang yang
kukenal terlebih dahulu. Ia lantas bangkit mengambil kertas,
bolpoin, kalkulator, dan mulai mengalkulasi.

***

Ratu-buku.blogspot.com
5
Part 2

"Jadi barang-barangmu sekarang di mana?"

"Di motor."

"Haaah....?! Dan motormu sekarang di parkiran luar?"

Jagad menjawab dengan anggukan. Priyayi memutar bola


matanya. Gemas.

"Nggak mikir apa, ada yang mengambil buntelanmu itu? Kok


nggak dititipin di loker barang sih! Sambil mengomel, Priyayi
meraih ponsel dan menghubungi pos scurity agar ada yang
mengawasi barang-barang di atas motor berplat F 58xx xx
(tidak dicantumkan untuk umum, demi keamanan!).

"Berat. Sori ya," sahut Jagad enteng.

"Kenapa mendadak banget sih? Kamu nggak kasih


kesempatan buatku berpikir, tahu!"

Jagad mengira hidangan gado-gado dan es kelapa muda di


depan Priyayi mampu meredam omelannya, ternyata bak
mercon yang disulut api mulai dari ekor sampai kepala terus
terbakar nggak berhenti-henti, bret bret bret.... dhuarr!
Dhuarr!

Refensi dari Jagad, kalau mau beli mercon, beli merek


Priyayi, dijamin mengglegar, mant......

Ratu-buku.blogspot.com
6
"Atau kamu sengaja ya bikin aku nggak sempat berpikir
selain mengiyakan permintaanmu karena kamu tahu aku nggak
mungkin tega menelantarkan seorang teman tidur di jalan?"

Dengar.... mengglegar, kan? "Jagad!"

"Oh, anu, nggaklah. Aku udah memutar otak sebisa mungkin


nggak ngrepotin kamu. Tapi apa daya duit nggak bisa balik
karena kepake buat renovasi, udah bayar full enam bulan."

Ceritanya, rumah milik teman Jagad tempat ia menyewa


kamar mulai hari ini direnovasi dan ia harus mengungsi untuk
sementara.

"Kebetulan sekali kamu nyewain kamarmu, karena kalau


teman sendiri kan bayarnya ngga seketat nyewa di orang
asing, bisa nunggak gitu....."

Priyayi langsung nyolot." Mau enaknya aja!"

".....Dan bisa diskon.....," imbuh Jagad nggak tahu diri nggak


sadar asal-muasal, hehe. Priyayi tambah sewot. Raut
mukanya jelas-jelas menyiratkan penolakan.

"Yi, kalau aku ada budget lebih, suer aku ngekos beberapa
bulan. Pulang pergi ke rumah ortu biayanya sama dengan
ngekos, berat...."

"Kenapa nggak ikut temanmu pemilik rumah itu?"

Ratu-buku.blogspot.com
7
"Dia numpang di rumah saudaranya. Nggak mungkin, kan?"
"Dia harus bertanggung jawab atas nasibmu donk."

Jagad menepikan rambut yang jatuh di dahinya. "Penginnya


dia juga begitu, tapi kemampuannya terbatas, Yi. Aku udah
bersyukur banget selama ini dia nggak pernah ambil
keuntungan dariku." Priyayi menghela napas berat." Aku
pinjemin kamu duit buat kos."

"Aku nggak punya simpanan sama sekali, Yi. Maklum baru


diterima kerja dan cicilan motor."

dah ah ngantuk.......

***

Ratu-buku.blogspot.com
8
Part 3

Jagad belum sebulan mengajar di international junior high


school untuk mata pelajaran matematika. Math teacher,
begitu murid-muridnya memanggil.

"Duh, kamu mengenaskan banget sih," celetuk Priyayi sinis.


Jagad tersenyum kecut." Memang, Ke mana aja kamu selama
ini?" Tak urung Priyayi nyengir.

Jagad memandang Priyayi sungguh-sungguh." Yi, kita udah


berteman baik. Aku pasti bayar nanti....., aku nggak akan lari
ke mana-mana kok."

Priyayi menatap tajam temannya itu. Mimiknya mulai


berubah. Ahli penyirat wajah menerjemahkan Priyayi mulai
luluh dan mempertimbangkan keadaan darurat Jagad.

"Kalau kamu khawatir soal Jimmy," tambah Jagad


menyakinkan hati Priyayi." Boleh nunggak, nggak ada
potongan harga."

"Ayolah, Yi, kita kan berteman baik...."

"Kamu udah bilang tadi," seloroh Priyayi ketus.

"Sadar nggak Yi, Tuhan telah memberimu kesempatan untuk


berbuat baik guna menambah amalmu di dunia yang fana
ini....?"

Mendengar itu, dengusan Priyayi bertambah keras.

Ratu-buku.blogspot.com
9
Akhirnya Jagad mengubah strateginya. Ia berdeham dan
menyetel mimik muka menerawang dengan mata dibuat sayu.
Wajahnya jadi jauh dari cakep, tapi yang penting bisa
menakhlukkan hati Priyayi.

"Masih inget nggak saat kamu bertengkar hebat dengan


kakekmu, kamu dalam keadaan kalut, kamu berlari tapi nggak
ada tempat untuk berlari, siapa yang akhirnya mau
menyisihkan tempat untukmu tidur di malam hujan lebat
itu....?"

Priyayi angkat tangan, mengalah. Atas nama kemanusiaan dan


kisah baik diantara mereka. "Fine, fine!" Ia berdiri dan
merapikan pakaiannya. "Hari ini Mbak yang bersih-bersih
rumah dan cuci baju datang, aku akan minta tolong dia buat
bersihin kamar belakang. Ada beberapa barang, nanti aku
atur."

Priyayi segera meninggalkan kafeteria di Area Olahraga dan


bermain, kembali ke kantor yang terletak di area samping.
Jagad memekik girang berhasil menaklukkan hati Priyayi. Ia
berdiri menyusul Priyayi dan merangkulkan lengan ke bahu
temannya.

“Thanks, boddy!"

Priyayi melepaskan rangkulan Jagad, risi. "Apaan sih? Dilihat


banyak orang, tahu!" next.....

***

Ratu-buku.blogspot.com
10
Part 4

"Dia menerima kamu?"

Jagad mengangguk. Kontan dua temannya bereaksi antara


takjub dan sangsi dengan keputusan Priyayi meskipun hanya
untuk sementara. Oya, mereka semua saling mengenal.

"Kamu yakin kuat?" tanya Tio setengah bergurau setengah


serius.

Jagad menyeringai. "Kuat dong! Aku kan sudah menekan Yayi


supaya kasih bunga setengahnya. Dia nggak bisa rugi banyak
kok, kalau renovasinya cepat, mungkin bisa kelar tiga-empat
bulanan, dan dia dapat pahala karena menolong teman
kesusahan, hehe....."

Icang, teman yang satu lagi nimbrung sambil mencibir." Yayi


sih bakal tekor pahalanya nolongin golongan hitam kayak
dirimu, hahaha...."

Tio ikut ngakak kemudian berujar," Yang kumaksud bukan


kuat itu, tapi kuat menahan iman serumah dengan makhluk
berlawanan jenis yang oke macam Yayi."

Jagad nyengir." Buddy, kayak nggak kenal Yayi aja. Dia


kan..." Jagad diam sesaat,".... teman kita."

Icang menyeringai." Kalau teman lantas nggak tergoda,


begitu? Kamu tuh sok naif atau nggak normal?"

Ratu-buku.blogspot.com
11
Tio menimpali," Semua pria Indonesia akan bilang Yayi adalah
cewek cantik dan menyenangkan, dan semua pacar Indonesia
akan ketir-ketir kalau pasangannya serumah dengan cewek
seperti Yayi."

"Hei, aku cowok yang setia pacar," tangkis Jagad. Icang


merangkul bahu Jagad." Man, kamu harus membuka segala
kemungkinan. Dan satu saat kamu menghadapi kemungkinan
ini: kalian lagi santai di rumah, hubungan kalian makin akrab,
bahu-membahu,saling curhat,saling canda. Intinya kalian
hampir nggak berjarak. Dia mengenakan celana pendek,tank
top,duduk malas di sofa,menyelonjorkan kaki,kedua
tangannya diangkat ditekuk di belakang kepala, kemudian dia
merasa ngantuk,matanya dipejamkan,pakaiannya
tersingkap,bahasa tubuhnya rileks,lemas,dan....tidak ada
siapa-siapa selain kalian berdua. Pacarmu lagi menjengkelkan,
pacarnya juga entah dimana...."

Jagad mengedikkan bahu." Bisa kuatasi."

Icang dan Tio bersiul kemudian menyeringai lebar. Seringai


khas lelaki.

"Kita membicarakan Yayi, man....Yayi!" seloroh Tio.

Alkisah mereka membentuk satu lingkaran besar


pertemanan. Dan kalau sesama teman pria berkumpul dengan
topik bahasan teman-teman cewek, mayoritas lebih suka
menyorot Priyayi. Apa yang baru darinya, apa yang dilakukan,
dan apa yang dia bicarakan selagi hang out dengan salah satu
atau lebih dari mereka.

Ratu-buku.blogspot.com
12
Bukannya pacar-pacar mereka atau teman-teman cewek lain
nggak ada yang secantik Priyayi, namun secara otomatis
tanpa dikomando, atas kemauan sendiri mereka mengikut-
sertakan hal-hal seputar Priyayi dalam Minutes Meeting
mereka. Bisa jadi disebabkan pembawaan cewek itu yang
easy going dan gampang nyambung dengan obrolan mereka
dan juga gampang direcoki alias dimintai tolong mulai dari
hal-hal nggak penting sampai hal serius. Plus, well,
penampilannya tentu saja.

"Kalian terlalu mendramatisir," gumam Jagad mengomentari


ocehan teman-temannya. Sementara itu, di rumah Priyayi,
tepatnya di pantry, Yasmin tak kalah kaget dengan kata-kata
yang barusan keluar dari mulut Priyayi.

“What? Jagad? Dia kan cowok!"

Priyayi melengos, menjawab sinis." Oh ya? Cowok, ya?


Makasih sudah memberitahu...."

Yasmin nyengir kecut." Maksudku, apa nggak lebih baik


terima cewek aja, terhindar dari tanggapan miring dan
supaya pacarmu nggak mencak-mencak."

Priyayi mengempaskan tubuhnya di kursi pantry, wajahnya


cemberut. Semula dia juga berpikiran sama dengan yang
diutarakan sahabatnya itu. Nggak cuma Jimmy yang bakal
mencak-mencak, keluarganya pasti akan bereaksi sama,
bahkan lebih angker.

Masalahnya......

Ratu-buku.blogspot.com
13
"Jagad kemarin tiba-tiba nongol lengkap dengan barang-
barangnya, katanya cuma beberapa bulan, dia nggak punya
duit dan hanya ke aku dia bisa memohon keringanan."

"Katanya mau cari duit banyak...." Yasmin mempertanyakan


tujuan awal Priyayi menyewakan kamar.

"Iya sih, tapi kamu tahu kan aku orangnya nggak tegaan...."

"Terus, Jimmy sudah tahu?"

***

Ratu-buku.blogspot.com
14
Part 5

Depan komputer, sehabis petang......

Barusan Jimmy menelepon Priyayi, menanyakan jam berapa


mau dijemput di kantor. Uh....

Untunglah cowok itu nggak ngambek lagi. Baru hari


keempat__itu pun karena Jimmy hendak mampir ke
rumahnya__ Priyayi ngomong ke pacarnya itu kalau Jagad
menyewa kamar di rumahnya untuk, Priyayi ngakunya, dua
bulan. Jimmy sudah tahu siapa Jagad karena pernah
diperkenalkan padanya.

Jimmy sebal bukan main. Bayangin, pacarnya serumah dengan


cowok lain! Maka, dimulailah pengajuan alasan berlogika dari
Priyayi.

"Dia baru sebulan kerja, belum ada simpanan untuk


pengeluaran tak terduga." poin satu. "Nggak perlu cemburu,
dia udah punya pacar. Pacarnya lebih lama dari kita." poin
dua. "Dia penganut monogami, aku juga."Poin tiga.

"Kamu pacarku, aku mencintai kamu." Poin keempat. Lumayan


menyentuh.

"Ini kan rumahku, jadi aku berhak ngapain aja." Yang ini
cuma di dalam hati Priyayi doang. Jujur, reaksi Jimmy bukan
faktor pemberat bagi Priyayi mengenai hidup berbagi atap
dengan seseorang atau siapa saja, bukan hanya Jagad.
Semenjak tahun kedua kuliah, Priyayi memutuskan masih

Ratu-buku.blogspot.com
15
satu kota. Kakeknya harus meneruskan memegang usaha
Area Olahraga (dulu belum ditambahi embel-embel bermain)
yang didirikan sang kakek sebagai bayarannya. With all my
pleasure, kata Priyayi. Dia terlalu menghormati dan
menyayangi kakeknya. Maklum, waktu itu tempat tersebut
nggak mampu kasih keuntungan besar, makanya anak-
anaknya, yakni Papa Priyayi dan Om Gito, nggak ada yang mau
meneruskan usaha itu. Cucu yang sudah cukup umur adalah
kakak beradik Restu Priyayi. Restu memilih menjadi pialang
saham. Jadilah Priyayi yang didaulat untuk bekerja di sana.

Nah, sejak saat itu, Priyayi menikmati yang namanya tinggal


sendiri, yang dapat diartikan kebebasan privasi seluas-
luasnya. Memang sih para teman, handai taulan, pacar sering
bertandang, tapi pada akhirnya mereka pulang dan Priyayi
kembali memperoleh waktu pribadinya.

Sedangkan sekarang..... Hmmm.... Geraknya jadi nggak bisa


semau-maunya. Nggak ada lagi acara berkeliaran pakai
pakaian dalam, nyanyi-nyanyi histeris tanpa peduli kunci
nada, vibrasi, dan picth control, menari jingkrak-jingkrak
kayak monyet mulai disudut depan sampai dapur, kentut
dengan nada dasar C, G, semua huruf deh, ahh.... Nggak bisa
lagi sekarang.

Oya, juga nggak lagi leluasa melakukan adegan bermanjaan


dengan Jimmy, perpelukan di sofa depan TV. Ruang gerak sih
masih sama, tapi macam gerak itu yang sekarang lebih
terbatas. Bermanjaan di rumah Jimmy juga nggak mungkin
mengingat cowok itu serumah dengan orangtua dan
saudaranya.

Ratu-buku.blogspot.com
16
Oke, bisa aja Priyayi tetap melakukan "Ritual-ritual"
tersebut, toh dia yang punya rumah, tapi....JAIM DONG AH!

Sebagai penghiburan diri, berkali-kali ia berkomat-kamit


dalam hati kalau semua itu hanya berlangsung beberapa
bulan, nggak sampai setengah tahun kok. Selanjutnya, kalau
penyewanya cewek, dia bisa bertingkah lebih longgar,
walaupun untuk adegan bermanjaan dengan Jimmy tetap
harus disensor.

Jadilah Priyayi sekarang memilih pulang malam. Kalau nggak


ngendon di kantor, ya pergi jalan dulu dengan Jimmy atau
dengan teman lain. Kecuali kalau dirinya lagi capek berat.
Priyayi merenung, aku yang punya rumah, kok malah aku yang
menghindar ya.

***

Ratu-buku.blogspot.com
17
Part 6

Di rumah, peace man....

Sesampainya di rumah, Priyayi nggak langsung masuk kamar


seperti malam-malam biasanya. Jarum jam menunjuk celah
antara angka sepuluh dan sebelas tapi dia belum merasa
capek. Iseng dia melongok kamar Jagad. Tumben, jam segini
pintu kamar Jagad masih terbuka, gumam Priyayi dalam hati.
Iseng dia menghampiri dan melongokkan kepala di ambang
pintu kamar. Ada dua tas plastik besar entah berisi apa
teronggok di lantai.

"Hei, tumben masih melek."

Jagad yang sedang jongkok membelakangi pintu menoleh.


"Iya, lagi cari celana renang nih." "Besok mau renang?"

"He-eh, sama anak-anak." Jagad meneruskan pencarian


celana renangnya.

Priyayi menyimpulkan dua tas plastik itu pastilah untuk anak-


anak tersebut. Mereka adalah anak-anak kurang mampu yang
diajar Jagad tanpa dipungut bayaran. Jagad dan beberapa
teman relawan, baik itu sesama pengajar atau bukan,
mengajar anak-anak dari permukiman kumuh yang tidak
mengenyam pendidikan formal di sekolah setiap sore sampai
malam. Biasanya setiap kelompok anak dipegang dua orang,
masing-masing mengajar tiga kali dalam seminggunya. Karena
sudah dilakukan lumayan lama, jaringan mereka mulai

Ratu-buku.blogspot.com
18
tersebar di beberapa titik daerah, seiring dengan
bertambahnya relawan dan donator.

"Perlu dibantu nyari nggak?"Priyayi beranjak masuk, duduk


berselonjor di lantai. "Halah, nggak usah. Terima kasih atas
basa-basinya," sahut Jagad.

Priyayi nyengir." Daripada kamu begadang cuma karena


celana renang? Lagian aku tahu celana renangmu kok, garis-
garis vertikal cokelat-kuning kayak lapis legit."

Dulu Jagad membeli " lapis legit" itu tatkala jalan ramai-
ramai, termasuk dengan Priyayi. Dan Priyayi-lah yang memilih
si "lapis legit" dan diiyakan oleh teman-temannya. Waktu itu
mereka kompak ngerjain Jagad, memilih corak yang norak
dengan harga yang mahal! Tampang mereka sok serius dan
penuh perhatian, benar-benar teman titisan dari surga!

"Iya, kalian menyesatkan waktu itu," timpal Jagad, masih


bersungut-sungut kalau ingat kejadian itu. Priyayi terbahak.

"Salah sendiri jadi orang gampang dipengaruhi, hehehe....,"


sahut Priyayi celingukan, siapa tahu matanya menangkap
"lapis legit" itu.

"Yi, minta alamatmu dong, aku mau minta Mama ngirim


kelengkapan surat untuk arsip personalia," ujar Jagad sambil
menyodorkan kertad dan bolpoin kepada Priyayi.

"Ortumu tahu kamu tinggal di rumahku? Dan Mila?" tanya


Priyayi menuju pertanyaan inti. Mila adalah pacar Jagad.

Ratu-buku.blogspot.com
19
"Eits, jangan sampai deh! Ibarat nyamuk minta disemprot
Baygon, cari mati. Aku cuma bilang pindah sementara ke
rumah teman, titik." Jagad kemudian membalikkan badan ke
arah Priyayi. "Jimmy sejauh ini gimana?"

"Nggak usah dipikirin. Dia nyantai aja kok," jawab Priyayi,


berbohong.

"Oya, selama aku disini, biar aku aja yang bersih-bersih


rumah, jadi kamu nggak perlu bayar orang."

"Ah, nggak usah, emang apaan...."

"Suer, Yi. Aku rela kok, hitung-hitung membayar yang


setengahnya dengan jasa," timpal Jagad sungguh-sungguh.

"Iya, aku tahu niat baikmu, tapi kasihan si Mbak itu, nanti
penghasilannya berkurang, cuma cuci baju dan masak doang,"
sahut Priyayi coba berkelit. Gila aja, masa teman sendiri
disuruh bersih-bersih rumah!

Masih dengan sungguh-sungguh, Jagad berkata, "Yi, jangan


pernah terlintas kalau aku hanya manfaatin kamu ya."

"Santai aja. Aku tahu resikonya berteman ama orang susah,


salah satunya ya begini ini, hehe....," timpal Priyayi nyengir.
Jagad mencibirkan bibir.

Mereka melanjutkan obrolan sampai hampir jam dua pagi.


Saat itu sempat terselip dalam benak Priyayi, mungkin punya
teman serumah nggak seburuk yang dikira.

Ratu-buku.blogspot.com
20
Tapi selipan pikiran itu segera berubah lagi begitu Priyayi
bangun enam jam kemudian, menikmati enaknya
menelentangkan badan disofa hanya dengan kaus tipis dan
celana pendek tipis berenda.

Dan terutama, dia bisa mengundang Jimmy datang. Dalam


kondisi badan lesu saat akhir pekan begini, malas rasanya
kalau harus keluar sekadar ingin ketemu pacar. Tapi bajunya
nggak seperti ini dong....

***

Ratu-buku.blogspot.com
21
Part 7

Meringkuk, capek tapi cinta.

Jagad jalan berjingkat melewati ruang tengah, takut


membangunkan Priyayi yang tidur meringkuk di sofa. Kali ini
sendirian. Televisi masih menyala. Bajunya sudah berganti
kaus butut.

Dalam perjalanan pulang tadi, Jagad agak ragu antara pulang


atau tidak. Dia nggak enak seandainya pulang dan mendapati
Priyayi tengah berasyik-masyuk dengan cowoknya. Dia
bakalan menjadi pengganggu privasi orang lain. Tapi kalau
nggak pulang, dirinya malas mengungsi ke tempat lain.

"Ah, pulang ajalah. Nanti mataku kututup rapat," gumam


Jagad menetapkan keputusan. Ternyata Jimmy memang
sudah nggak ada. Doanya untuk nggak perlu jalan merem
setibanya di rumah terkabul.

Pelan-pelan Jagad mematikan layar televisi, lalu


membetulkan letak tangan kanan Priyayi yang mengulur
terkulai ke lantai. Dirasakan tangan Priyayi agak panas.
Perlahan Jagad meraba kening Priyayi.

Wah, anak ini demam. Sebaiknya gimana, ya? Diselimutin dan


dibiarkan tidur di sofa sampai pagi? Kasihan juga.
Dibangunin? Kasihan tidurnya berganggu. Dibopong ke
kamar? Halah, film banget! Akhirnya Jagad membangunkan
Priyayi agar pindah ke kamar, tapi sebelumnya Jagad
menyodorkan obat penurun demam dan segelas air putih.

Ratu-buku.blogspot.com
22
"Aku demam, ya?" gumam Priyayi ketika dibangunkan.

Wah parah..., nggak bisa merasakan badannya sendiri, pikir


Jagad.

"Jimmy udah pulang, belum?" tanya Priyayi bergumam saat


merebahkan diri di tempat tidur dituntun Jagad.

Haa? Dia nggak tahu cowoknya pulang? "Udah," jawab Jagad.

"Oh ya, tadi pamit ding." Priyayi bergumam dengan mata


terpejam." Kacau, marah-marah melulu. Apa salahnya
membantu teman. Dia juga bermanis-manis ke teman
ceweknya. Capek di hati...., tapi aku cinta...." Priyayi meracau
sebelum akhirnya benar-benar terlelap.

Jagad tertegun sesaat setelah menyelimuti Priyayi.

Menjelang siang, menghibur.

Keesokan pagi, menjelang siang tepatnya, Priyayi bangun dari


tidur tanpa menyisakan kejengkelannya semalam. Karena
nyawanya belum sepenuhnya terkumpul, jadi dia belum sadar
seratus persen.

"Hemm..." Priyayi berjalan tersaruk keluar dari kamar.


Hidungnya mengendus-endus. "Baunya sedap..." Maksud
Priyayi aroma masakan di pantry. Ia duduk di depan meja
pantry, dagunya ditopang kedua tangan yang tegak dia atas
siku. Sesekali matanya terpejam. Rambut pendeknya

Ratu-buku.blogspot.com
23
mencuat berantakan. Ia tetap setia dengan potongan rambut
ala Natalie Imbruglia di video klip Torn.

"Masih demam?" tanya Jagad memerhatikan wajah Priyayi


yang lesu

"Nggak, tapi kepala pening, tenggorokan sakit, kayaknya mau


flu."

"Nah, ini aku masak sup ayam, bagus untuk flu." Jagad
menyodorkan sepanci sup ayam panas lengkap dengan
mangkok dan sendok untuk Priyayi.

"You're angel of the morning, buddy," ujar Priyayi. " Emm....


Enak, Gad," komentarnya pada suapan pertama.

Sejenak mereka tidak mengeluarkan suara, asyik dengan isi


mangkok masing-masing. Apalagi ada telur mata sapi segala.
Ada nasi, tapi Priyayi nggak terbiasa makan terlalu berat di
pagi hari, jadi dia melewatkan bagian nasi.

"Yi, aku minta maaf...., gara-gara aku, Jimmy marah...."

Priyayi mengangkat muka. " Dari mana kamu tahu Jimmy


marah?"

"Semalam kamu bergumam-gumam begitu."

"Ow."Priyayi berusaha mengingat. " itu kan lagi ngaco, nggak


usah digubris."

Ratu-buku.blogspot.com
24
Jagad beranggapan sebaliknya, justru kalau seseorang
berada di bawah kesadaran, dia akan mengeluarkan apa yang
tersimpan di dalam pikirannya tanpa dibuat-buat. "Yi, kalau
dia sulit menerima...."

Priyayi memotong," kan aku pernah bilang, nggak usah


dipikirin. Kemarin Jimmy lagi banyak pikiran, jadinya sensitif
gitu." Lagi-lagi Priyayi sedikit memanipulasi fakta.

"Aku tetap aja merasa bersalah keberadaanku di sini


menambah bad mood Jimmy, sekecil apa pun."

"Gad, kalau nggak di sini, kamu mau di mana? Nambah pikiran


ortumu? Saudaramu? Kamu bilang mereka udah kerepotan
tanpa kamu ngerecokin mereka. Selama aku bisa bantu, ya
aku akan bantu. Kalau memang aku nggak sanggup bantu, ya
aku akan bilang apa adanya. Lagi pula kamu sudah kasih
bantuan yang nggak sedikit untuk aku." Priyayi
menyenggolkan sikunya ke lengan Jagad, mencoba
membesarkan hati temannya itu.

***

Ratu-buku.blogspot.com
25
Part 8

Dibuat dingin, pagi-pagi

Memang nggak gampang "menyelundupkan" cowok di rumah,


apalagi dalam hitungan bulan. Antipasi beberapa titik yang
memiliki potensi bikin runyam karena salah paham telah
dilakukan. Misalnya nih, mewanti-wanti keluarga Priyayi dan
teman-teman untuk tidak datang tanpa pemberitahuan
terlebih dahulu. Priyayi berdalih kalau sekarang ia jarang di
rumah, banyak kerjaan, banyak urusan,dsb. Dan dia jadi lebih
sering setor muka ke rumah orangtuanya, jadi mereka nggak
perlu datang ke rumahnya. Mereka sih heran karena Priyayi
jadi mendadak perhatian gini, namun Priyayi berlagak merasa
nggak ada yang berbeda. Sok nggak sensitif! Lantaran
mereka semua hidup di alam, maka berlakulah hukum alam,
salah satunya adalah manusia boleh berencana, tetap Tuhan-
lah yang menentukan. Jadi, selalu ada satu-dua hal meleset
di luar rencana. Pasangan yang pakai kontrasepsi aja bisa
kebobolan, apabila yang bukan pasangan. Lho, kok gini
analoginya?! Maksudnya, meski kita melakukan tindakan
prevetif, kadang tetap kecolongan juga.

"Daah...., nek." Priyayi melambaikan tangan lunglai, selunglai


badannya, melepas kepergian Yasmin di halaman rumah. Pagi
ini mereka janjian untuk jogging bareng, tapi berhubungan
gerimis, mereka sepakat membatalkannya. Yasmin
mengajaknya ke gym sebagai alternatif olahraga pagi itu.

"Ke Jim? Ngapain pagi-pagi ke tempat Jimmy?!" Priyayi


telmi, otaknya masih beku kena hawa pagi.

Ratu-buku.blogspot.com
26
"Dudul! GYM, ji, way, em!" Yasmin mengeja huruf g, y, dan m
dengan perhafalan bahasa Inggris. Priyayi menolak ikut.
Buain udara dingin diiringi rintik air hujan menghanyutkan
Priyayi untuk ogah bergerak ke mana-mana. Hanya ada satu
keinginan di benaknya:tidur di balik selimut, aah....

Balik ke dalam rumah, Priyayi baru menyadari bahwa Jagad


tidur di sofa. " Ya ampun, posenya jelek amat sih," gumam
Priyayi iseng sembari menyeret langkah ke kamar.

Priyayi sempat terlelap sampai suara berisik di halaman


sedikit membangunkan. Sedikit, masih kalah sama buaian dua
alam yang sedang indah-indahnya, alam semesta dan alam
mimpi. Dan barulah suara ketiga yang mampu merenggut
paksa Priyayi untuk tersadar dan terbangun. Bukan hanya
melek, tapi mendelik. Karena pertama, suara itu berupa
lengkingan. Kedua, lengkingan itu keluar dari pita suara
mamanya. Ketiga, mamanya melengking di... ruang tengah!
“YAYIIIIIKK!!”

Jagad gerapan terbangun, luar biasa kaget. Remote control


jatuh ke lantai. Selimutnya melorot. Ia sampai tersedak
ludahnya sendiri. Matanya melotot. Priyayi menghambur
keluar. "MAMA! Kok bisa masuk?!"

Hanya mamanya dan beberapa tetua keluarga Priyayi yang


menyebut nama panggilannya dengan penekanan "k" di
belakang, sepertinya kalau si "k" itu tidak ikut terucap, maka
akan menjadi semacam ganjalan di tenggorokan mereka yang
berpotensi kian buruk dengan menjelma jadi semacam
gondong.

Ratu-buku.blogspot.com
27
"Pintunya nggak dikunci, udah Mama ketok-ketok sampai jari
bengkak!" jawab Mama kemudian nggak mengunci kembali
pintu tadi. "Ini siapa, Yik?!"

"Biasa aja dong Ma suaranya.....," celetuk Priyayi lirih.

"Gimana mau biasa, pagi-pagi ada laki-laki tidur di rumah


anak perempuanku!"

"Anu, Tante...." Jagad bingung mau berkata apa, Blank.


Blocking.

Priyayi segera menyahut. " Ini Jagad. Emm.... Saudaranya


Yasmin..."

Mata Priyayi dan Jagad bertemu. Oke, terserah,


kupasrahkan hidupku padamu, Yi. Kata Jagad dalam hati.

"Kok ada di sini?"Selidik Mama, matanya masih belum bisa


mengecil.

"Mm....keluarganya Yasmin lagi ada arisan keluarga besar


empat generasi. Terus.... Itu.... Rumahnya nggak muat untuk
mereka bermalam."

Jagad memandang Priyayi tak berkedip. Takjub temannya itu


bisa merimprovisasi cerita bak pendongeng. Arisan empat
generasi? Ide brilian!

"Emang nggak diinapin di hotel?" Mama yang tahu kondisi


Yasmin termasuk dalam kategori kaya.

Ratu-buku.blogspot.com
28
Sambil mencoba mencari jawaban yang masuk akal sekaligus
menenangkan diri, Priyayi beranjak ke pantry membuat
minuman. "sebagian. Jagad datang bermalaman, terus
numpang di sini bareng Yasmin, cuma tadi Yasmin ke gym.
Kopi atau teh, Ma?"

"Kopi, pake krimer."

Sekali lagi Mama Priyayi melirik Jagad. Segera Jagad


melemparkan senyum, kaku, kemudian segera membereskan
sofa supaya si Mama bisa duduk. Tapi beliau memilih duduk
di bangku pantry. Jagad permisi ke belakang.

"Ada apa pagi-pagi kemari, Ma?"

"Mama ada jadwal syuting di jalan dekat sini, tapi diundur,


nunggu hujan berhenti. Jadi daripada bengong di sana, Mama
mampir kemari."

"Kweni mana?" Kweni adalah asisten mamanya.

"Stand by di sana. Adegan Mama sih dikit, tapi soal molot


dan ditunda begini yang bisa bikin seharian."

Setahun terkhir ini mama Priyayi menjadi pemain sinetron.


Sebelumnya, ia ibu rumah tangga dan desainer tas tangan.
Sebelumnya lagi, maksudnya semasa masih lajang, beliau
bekerja menjadi desainer tas tangan untuk satu merek
terkenal di Indonesia kala itu. Tapi semenjak menikah dan
memiliki anak, ia berhenti bekerja lalu hanya mendesain dan
membuat untuk perorangan. Karena bersifta eksklusif, tentu

Ratu-buku.blogspot.com
29
harga yang dipatok juga eksklusif. Lantas ibunya nyasar ke
dunia sinetron karena diajak oleh pelanggannya, seoramg
produser sinetron yang lantas menjadi teman baik. Peran
pertamanya sih cuma figuran.

"Mereka butuh pemain ibu-ibu yang karakter wajahnya


elegan, glamor, tapi nggak arogan," itu kata mama Priyayi.
Percaya deh, Ma!

Nah, semenjak merambah dunia baru, meskipun nggak pernah


menjadi pemeran utama--nggak ada tempat luas untuk tokoh
tua di sinetron, kan?--beliau tidak lagi mendesain tas.

Mama kemudian ke kamar kecil. Buru-buru Priyayi menuju


kamar Jagad. Di pojok belakang, ia melihat jemuran pakaian
Jagad. Wah, bahaya! Disambarnya semua jemuran dan di
bawa ke kamar Jagad.

"Nih, jemurannya disembunyiin dulu. Basah lagi, kena hujan.


Eh, sandal dan sepatumu, umpetin dulu," intruksi Priyayi
kepada Jagad dengan suara berbisik. "Gad, kamu taruh apa
aja di kamar mandi?"

Jagad menggeleng. Priyayi mengembuskan napas lega.

"Sampai jam berapa mamamu di sini, Yi?" suara Jagad ikut


berbisik.

"Sampai dia dipanggil ke lokasi, dan itu nggak tahu jam


berapa. Yang jelas aku telepon Yasmin dulu. Kamu mendingan
ngacir hari ini."

Ratu-buku.blogspot.com
30
Jagad mengangguk. "Yi, sorry banget jadi kucing-kucingan
gini."

Priyayi mengibaskan tangan. " Masih mending, daripada


anjing-anjingan." Jagad nyengir mendengar jawaban iseng
Priyayi.

"Yayiiik...." suara Mama keras memanggil. Jantung Priyayi


kembali dag-dig-dug. Ia bergegad keluar kamar. Bersamaan
dengan Priyayi menutup pintu kamar dari luar, mamanya
nongol. "Lagi ngapain?"

"Eengg.....angkat jemuran. Yuk, ke depan aja, Ma." Priyayi


menarik tangan mamanya menjauhi kamar Jagad. "Sinetron
apa sih, Ma? Berapa episode? Pemeran utamanya siapa?
Priyayi menghujani mamanya pertanyaan dengan maksud
membelokkan perhatian mamanya.

"Biasanya strategi itu selalu berhasil. Mamanya menggebu-


gebu berceriya tentang sinetron yang dibintanginya.

Bukan. Mama Priyayi nggak pernah jadi bintang di sinetron-


sinetron. Yang benar cuma itu main aja!

***

Ratu-buku.blogspot.com
31
Part 9

Sejak kemudian, di kamar

Yasmin cekikikan sementara Priyayi terkapar telentang di


atas kasur.

"Untung banget Mama keburu di telepon suruh balik.


Kamunya nggak datang-datang, huh!"

Yasmin menyeringai. "Iyalah, ada cowok cakep di gym.


Bodinya mengagumkan."

"Kenalan?" tebak Priyayi.

Yasmin menganggukdengan mata mengerjap-ngerjap.

Priyayi mencibir.

"Mana Jagad sekarang?" tanya Yasmin, melepas jaket kaus


dan ikut rebahan.

"Ada, dia tadi mau cabut, eh Mama ditelepon....., ya udah


nggak jadi. Tahu nggak, saking ingin menghindari perhatian
Mama, Jagad jalannya berjingkat-jingkat dan di kamar mandi
itu nggak kedengaran suara air. Cuci muka doang kali."

"Jangan-jangan mo kentut aja ditahan," celetuk Yasmin.


Keduanya nyengir. "Jadi...." Yasmin menyenggol lengan
Priyayi. " Udah bisa berbagi ruang nih?"

Ratu-buku.blogspot.com
32
"Ih, bukan berarti yee!" Priyayi langsung bangun dari
rebahannya. "Nggak! Well, memang sih ada enaknya juga,
tapi jauh lebih enak tinggal sendiri. Bebaaass..."

"Meski yang serumah denganmu itu aku?"

"Uuh.... Apalagi kamu! Kamu kan malas mandi, menjijikkan!"

"Sialan." Yasmin melempar bantal ke Priyayi.

"Eh omong-omong soal menjijikkan...." Priyayi memelankan


suaranya. "Kemarin di kamar mandi, itunya Jagad
ketinggalan."

"Itunya?" Yasmin ikut bangun." Apanya?"

"Itu....celana dalamnya." Kali ini suara Priyayi berbisik.

Yasmin menyeringai.

"Di depannya ada tulisan Buddy. Padahal dia kan kerap ku


panggil Buddy...." Priyayi geleng-geleng kepala.

Yasmin ngakak keras. "Sempat-sempatnya baca tulisannya.


Kamu pegang-pegang, ya?" ejek Yasmin.

Priyayi bergidik." Ih, amit-amit. Yang belum dipakai aja ogah


megang, apalagi yang udah di pakai.... Hiih...."

"Hahaha... Kok tahu yang itu udah dipakai?" pancing Yasmin


tertawa lebar.

Ratu-buku.blogspot.com
33
Muka Priyayi memerah. Bukannya menjawab, Priyayi memukul
Yasmin dengan guling.

"Ukurannya apa? L atau XL? Huahahaha....." Yasmin makin


terpingkal.

Terdengar suara ketukan di pintu kamar." Aku buat nasi


goreng!" seru Jagad. "Les't have breakfast, buddies!"

Priyayi dan Yasmin kompak tergelak keras.

***

Belakang meja kerja, tengah hari

"YAYI, ayo makan siang sama-sama." Kakek Priyayi. Hari ini


beliau datang ke kantor untuk meeting dengan divisi
keuangan.

Priyati yang berkonsentrasi pada setumpuk lembaran,


mendongakkan kepala." Aduh, maafkan aku, kek. Aku udah
bikin janji ama teman."

"Ya sudah, kakek langsung pulang saja kalau begitu."

"Oke, kek. Hati-hati ya, salam buat orang-orang rumah,"


sahut Priyayi. Sang kakek tinggal bersama orangtua Priyayi.
Istrinya alias nenek Priyayi sudah wafat empat tahun silam.

Kakek Priyayi ini adalah ayah dari Papa Priyayi. Belasan tahun
beliau abdikan sebagai aparat pemerintahan khusus bidang

Ratu-buku.blogspot.com
34
olahraga dan kepemudaan. Sekitar tiga tahun menjelang
pensiun, beliau mendirikan Area Olahraga ini. Dulu fasilitas
pertama yang dibangun adalah kolam renang dan lapangan
basket--masing-masing dilengkapi peralatan--dan kantin
untuk pengunjung. Priyayi bergabung saat menginjak akhir
tahun kedua di bangku kuliah. Mama-papanya semula nggak
setuju, takut kuliahnya terganggu, tapi dia berkeras
membuktikan kalau dia sanggup. Sebenarnya dia hanya ikut
teman-temannya untuk mengisi libur panjang tengah tahun
dengan bekerja lepas. Banyak teman ceweknya menjadi sales
promotion girl (SPG) atau model. Nah, dia berpikir daripada
ikut-ikut mereka, mending "bantu-bantu" di tempat
kakeknya, toh ke depannya dia juga akan berkarier di sana.

Priyayi banyak memberi ide segar. Sekarang sudah ada


jogging track dan kantin berubah menjadi kafeteria dengan
konsep yang lebih bagus. Lebih cozy, lebih gaul. Selain itu
ditambah juga alat permainan untuk anak-anak macam
perosotan, ayunan, dan balok-balok. Misinya untuk melatih
anak menggerkan otot tubuh mereka sejak dini. Selain itu, ia
juga melemparkan ide untuk menerapkan sistem tiket masuk
dihitung per jam dan menawarkan paket hemat untuk
keluarga atau rombongan atau pada hati tertentu.

Nggak terasa jarum jam bergerak di angka 12 dan 6. Alias


setengah satu. Priyayi hendak menelepon Jimmy, ternyata
ponselnya sudah berbunyi lebih dulu. Jimmy calling.

"Yi, sori, baru bisa menelepon sekarang. Masih meeting nih,


kayaknya bakalan lama, jadi nggak bisa makan siang bareng.
I'm sorry."

Ratu-buku.blogspot.com
35
Priyayi mendesah, sebal. Kenapa nggak dari tadi telepon.
Kalau begini, teman-teman kantor pada cabut, mana lagi
nggak bawa mobil pula! Ujung-ujungnya makan di kafeteria....
Uugh..... Padahal lagi ogah makan di sana!

"Yi...."

"Hmm.... Ya udah, mau kujawab apa lagi," jawab Priyayi


pasrah. "nanti pulang bisa jemput aku, kan?"

"Hm... Sebenarnya.... Aku ada janji dengan klien jam lima,


nggak tahu sampai jam berapa....."

Priyayi cemberut berat. "udah dua minggu lebih kayak begini,


kamu benar-benar nggak ada waktu." suara Priyayi merajuk.

"Yayi.... Aku kan udah bilang...." suara Jimmy berbisik, takut


ada yang mendengar.

"Ya, ya, ya!" priyayi dengan gemas mematikan ponsel.


Jidatnya berkerut-kerut,bibirnya maju-mundur-maju.
Kesebalannya berlipat ganda.

Kali ini nada SMS masuk. Dari Jimmy.

Sekali lagi maafkan. Demi order besar. Janji setelah ini, aku
akan ganti semua. Xoxo

Pryayi mengabaikan SMS yang baru dibacanya itu. Jimmy


memang sudah bercerita sedang menangani klien yang
membeli dua unit penthouse sekaligus. Fasilitas yang

Ratu-buku.blogspot.com
36
ditawarkan dari pihak manajemen adalah memberi pelayanan
menyeluruh, mulai dari konsultasi hingga menyediakan semua
detail interior yang telah dipilih. Dan ini adalah bagian tugas
Jimmy sebagai marketing executive.

Priyayi semula ikut antusias. Kekasih hati dapat order gede,


komisi pastilah bakalan gede, dia juga pasti kecipratan. Tapi
kemudian antusiasnya menyurut kala tahu siapa yang menjadi
klien besar itu.

Nada SMS masuk. Masih dari Jimmy.

Selama jadwal penuh, mobil jangan sering dipinjamkan


temanmu itu, bikin repot sendiri. Talk 2U soon xoxo

Priyayi mendengus. Yang dimaksud "temanmu" adalah Jagad.


Dia mau membalas SMS Jimmy bahwa Jagad tetap
mengantar jemput kalau di minta, namun di urungkan. Malas
berseteru lewat SMS, nggak seru. Lho, kok nggak seru?!
Lebih enak berhadapan langsung, lebih jelas apa maunya.
Jelas-jelas langsung mau dihabisi, hehe.

***

Dalam mobil pinjaman, interogasi

Ups. Jagad menepuk jidat, hampir aja lupa belum titipan


Priyayi. Dalam perjalanan pulang dengan mobil Priyayi karena
motornya lagi dipinjem Danu, sobat kentalnya, Jagad
menerima SMS dari di empunya mobil untuk hampir ke
minimarket dalam perjalanan pulang. Siap, Bos, laksanakan!

Ratu-buku.blogspot.com
37
Drrrt..... Ponsel Jagad bergetar dalam saku celana. Syamila
calling.

"Mas, lagi di mana?"

"Di minimarket. Kamu di mana?"

"Masih di kampus. Dari sana, langsung jemput aku ya Mas.


Nanti sekalian makan malam ya, aku pengin soto sapi nih.
Oya, nggak usah bawa helm, aku udah bawa."

Syamila, pacar Jagad, mengira Jagad membawa motor.


Jagad menimbang sejenak. Priyayi ,au pakai mobilnya lagi
nggak, ya? Ah, mungkin nanti bisa membujuk Mila untuk
langsung pulang. "Ehm.... Ya, Mil. Tapi agak lama, soalnya
putar balik."

"Oke, kutunggu. Makasih ya, Mas."

Ketika Jagad sampai di depan kamus, Syamila sudah berdiri


di sana, celingukan tidak menyadari mobil yang di depan mata
disopiri oleh Jagad.

Tin, tin. Jagad mengklakson lalu membuka pintu mobil. "Hai,


Mil, ayo!"

Syamila mengerutkan kening. "Ini mobilnya temanmu, kan?"


tanya Syamila saat mobil mulai jalan.

Jagad mengangguk. "Motorku dipinjam untuk survei ke


daerah beberapa hari."

Ratu-buku.blogspot.com
38
"Siapa namanya?"

"Yang pinjam motor?"

"Bukan, yang punya ini."

"Oh..., ehm..., Yayi. Priyayi."

"Ah, ya. Aku jadi inget wajahnya."

Syamila pernah bertemu dengan Priyayi sekali di pesta ulang


tahun teman Jagad dan Priyayi. Syamila masih inget. Di sana.
Jagad, Priyayi, dan dua teman berkasak-kusuk tentang kado
kejutan yang mereka rencanakan. Syamila lumayan merasa
terabaikan waktu itu.

Jagad melirik Syamila, mencoba membaca gelagat.

"Hanya dia yang kendaraanya fleksibel, yang lain sama sekali


nggak bisa. Rumah yang kutumpangi sekarang jauh dari
sekolah, takut telat kalau naik bus. Maklum, tiap hari dapat
jatah ngajar jam pertama." Jagad bertutur panjang...
Mencegah munculnya kecurigaan dari Syamila. Oya, dia hanya
memberitahu kalau dirinya tinggal sementara di rumah
teman. Dan pacarnya nggak repot-repot menari detail siapa
teman itu. Thank god. Asumsi Syamila bahwa si teman itu
pastilah seorang cowok.

Syamila hanya manggut-manggut sambil iseng menoleh ke


belakang. Ada tas plastik transparan tipis banget, mungkin
tas plastik ekonomis keluaran minimarket, kelihatan jelas

Ratu-buku.blogspot.com
39
berisi roti tawar dan..... Apa itu? Syamila menyipitkan mata
menajamkan pandangan. Itu kayak.....

"Pembalut? Tadi kamu beli pembalut wanita di minimarket?"


tanya Syamila heran.

Jagad menelan ludah. Ia mengangguk. "Buat.... Itu....eee....


Istrinya teman, tempatnya aku nyewa kamar sementara itu,
tadi SMS nitip beliin itu."

“Ooo.... Mereka suami -istri....! Kirain masih single."

Waduh, aku jadi makin ngelantur, ujar Jagad dalam hati. Ia


melajukan mobil secepat mungkin dan menolak makan malam
dengan dalih si " istri" membutuhkan pembalut tersebut
segera. Sampai di depan rumahnya, Syamila mengucapkan
terima kasih, dan... Masih belum selesai.

"Mas, ajak aku dong ke rumah temanmu itu. Sekadar


silaturahmi, gitu."

Waduh.....!

***

Ratu-buku.blogspot.com
40
Part 10

Sudut restoran, dalam penantian

Malam ini Priyayi mengajak Jimmy makan malam romantis.


Setelah yang kemarin-kemarin mereka sulit keluar bareng,
akhirnya malam ini mereka ketemu juga jadwalnya.

Sejam sudah Priyayi duduk di sudut restoran. Hanya


memesan ice lemon tea, memandang keluar jendela, mengirim
SMS, melepon Jimmy. Nggak tersambung juga sampai sejam
berikutnya. Dia memutuskan untuk mengakhiri penantian.
Dicarinya nama dalam daftar phonebook ponselnya. Jagad.

"Gad, bisa jemput aku sekarang?"

Jagad bingung. "Jimmy nggak bisa nganterin?"

"Boro-boro nganterin, datang aja enggak."

"Dinner-nya nggak jadi?"

"Nggak ada dinner-dinner-an. Bener-bener nyebelin, nggak


ada kabar sama sekali. Tahu nggak sanggup, asal ya-ya aja...."
suara Priyayi bergetar menahan marah. "Aku kecewa banget.
Aku cuma minta waktu sebentar untuk membagi perasaan
senang, bukan berita buruk, kenapa dia masih enggan juga
sih!" ucapan Priyayi mulai diselingi isakan.

"Oke, aku berangkat sekarang," sela Jagad sebelum Priyayi


menangis keras. Jagad sudah hafal kalau Priyayi ingin

Ratu-buku.blogspot.com
41
menangis keras, maka nggak peduli seramai apa pun
disekelilingnya dan malu apa pun efek sehabis nangis
dilihatin orang-orang, dia pasti tetap menangis keras saat
itu juga.

"Thanks."

"Jangan menangis, oke?"

"Iya!"

Ketika Priyayi menuju pintu keluar restoran dengan langkah


lunglai dan wajah super kesal, seorang greeter cowok
menyodorkannya sekuntum bunga mawar.

"Anda secantik mawar ini. Saya menunggu kedatangan anda


berikutnya."

"Yeah, I will. You're so sweet. Makasih, Anda membuat hati


saya senang." Priyayi membalas senyuman hangat si greeter.

Agak lama Jagad baru datang. Di jok sebelah kemudi, Priyayi


diam membuang pandangan ke luar jendela mobil. Dia
menonaktifkan ponselnya sebagai wujud rasa jengkelnya
terhadap Jimmy. Tahu-tahu mobi sudah berhenti. Tapi.... Ini
bukan depan rumah. "Ngapain ke sini?" tanya Priyayi heran.
Mereka ada di parkiran depan Area Olahraga dan bermain.

"Untung ada yang berenang sampai malam, jadi belum tutup,"


ujar Jagad nggak menjawab pertanyaan Priyayi.

Ratu-buku.blogspot.com
42
"Kok tahu?"

Lagi-lagi Jagad nggak menjawab dan bergegas mengeluarkan


perbekalan lengkap dengan terpal alas duduk. Priyayi
terheran-heran mengikuti cowok itu. Jagad lalu menghampiri
gardu operator untuk menyalakan lampu sorot lapangan
basket, lantas menggelar alas di lapangan basket.

"Ayo, makan," ajak Jagad duduk bersila dan membongkat


kotak makanan.

Priyayi tercengang. "Astaga.... Kamu...."

Jagad menarik tangan Priyayi untuk ikut duduk. Diberikannya


jaket Priyayi yang ia bawa dari rumah. "Sori, tadi masuk
kamarmu untuk ambil jaket, soalnya kamu pasti kedinginan."
Dengan lahap Jagad makan bakmi goreng seafood. Priyayi
ikut makan juga dengan mata tak lepas dari Jagad, masih
terheran-heran.

"Nggak ada bintang di langit, kamu ngelihatin aku melulu,"


gurau Jagad. Priyayi berlagak tersedak dan mencibir.

"Kalau sesuai rencanamu, besok lapangan basket ini mulai


dirombak, dilengkapi dengan bangku penonton, papan skor
digital, dan akan ada street competition yang aku yakin bakal
jadi event tahunan yang digemari. Jadi, malam ini kamu
mengingat lapangan ini untuk terakhir kali. Besok akan kadi
lapangan baru dengan temanku Priyayi sebagai pelaksana.
Proyek pertama dan harus sukses!" tutur Jagad panjang
lebar. Napasnya hanya sekali tarik. Hebat.

Ratu-buku.blogspot.com
43
Priyayi merasa terharu, ini yang tadi hendak dibagi kepala
Jimmy. Bahwa kakeknya memberinya wewenang pertama kali
sebagai pelaksana proyek, bukan hanya konseptor seperti
yang sudah-sudah. Ini hal yang berarti bagi Priyayi.

"Aku tahu setiap malam kamu berkutat mengerjakan ini,


bikin lay out,budget,materi,proposal,bolak-balik diubah
sampai bikin kamu naik darah....," imbuh Jagad. Priyayi
nyengir, ingat saat kakeknya mematahkan teori dan hitungan
yang dikerjakan berminggu-minggu dengan sekali kedip,
semangatnya pun langsung anjlok. Walhasil, di rumah sikap
Priyayi nggak ada baik-baiknya sama sekali. Orang yang
nggak punya andil apa-apa ikut terkena nggak enaknya. Ya,
siapa lagi kalau bukan Jagad. Waktu itu Jagad serasa
mengalami horror nights yang entah sampai kapan. Makanya,
malam ini dia berbaik hati bikin beginian untuk Priyayi
sebagai wujud rasa syukur penderitaan telah berakhir, hehe.

"Jadi, Yi, kamu nggak patut sedih malam ini, kerja kerasmu
sudah dihargai setimpal, oke?" Jagad menepuk bahu Priyayi.

Priyayi mengembangkan senyum. Dia nggak nyangka


penghargaan Jagad setinggi ini. Priyayi menghela napas
dalam-dalam. Kenapa bukan Jimmy yang mengatakan ini?
Kenapa bukan dia yang memberi sekuntum mawar? Kenapa
harus orang lain yang membuatku merasa dihargai? Aahh.....

Depan rumah, penantian

"Yi, lihat."

Ratu-buku.blogspot.com
44
Lamunan Priyayi buyar dalam perjalanan pulang dan
mengikuti pandangan Jagad. Jimmy berdiri bersandar pada
mobilnya yang terparkir di depan rumah Priyayi.

"Kamu keluar saja, biar kumasukkan mobilmu," cetus Jagad.

Dengan amat enggan Priyayi keluar dari mobil, melangkah


mendekati Jimmy. Ada beberapa putung rokok teronggok di
dekat sepatunya, dan di jemarinya sekarang terselip rokok.
Mereka tidak langsung bicara. Jimmy melepaskan tatapan
tajamnya dari Jagad sampai menghilang ke dalam rumah.

"Aku nggak bisa menghubungi HP-mu," kata Jimmy ketus.

"Aku biarin menyala selama dua jam di restoran dan aku


nggak menerima telepon atau SMS-mu. Apa nggak ada sinyal
ya di sana?" sindir Priyayi dengan nada dingin.

"Kamu matikan HP-mu selama bersama temanmu itu, agar


kalian nggak terganggu dengan teleponku, hah? Aku udah
nunggu sejam di sini, di jalan." Nada Jimmy meninggi.

"Keterlaluan kamu, Jim, kenapa kamu yang nyalahin aku,"


desis Priyayi. " Kamu yang ingkar janji, kamu nggak ada kabar
sama sekali, kamu yang menelantarkan aku kayak orang bego!
Kamu selalu minta dimaklumi, kamu yang seenaknya!" Priyayi
lepas kontrol, matanya berkaca-kaca.

"Kenapa kamu, Jim?" suara Priyayi berubah lirih. Matanya


menatap mata Jimmy. " kamu dulu nggak begini...."

Ratu-buku.blogspot.com
45
Jimmy memalingkan muka. Ia kembali bersandar pada mobil.
Priyayi juga mengikutinya, kepalanya menunduk, lelah. Sudah
hampir jam 12 malam.

"Maafkan aku, Yi," tukas Jimmy pelan. "Aku terlalu fokus


pada proyek ini, sampai kadang melewatkan sesuatu yang
lain. Yang sebenarnya penting bagiku....."

Jimmy meraih telapak tangan Priyayi. "Aku yakin kita punya


masa depan bersama. Untuk itu aku bekerja keras, aku akan
melakukan apa aja untuk mewujudkan itu menjadi hal terbaik
dalam hidup kita, Yi."

Dinding hati Priyayi tersentuh kala Jimmy mengucapkan


"masa depan bersama". Jimmy sudah berpikir sejauh itu.

Priyayi membalas erat genggaman tangan lelaki itu.

***

Ratu-buku.blogspot.com
46
Part 11

Minggu pagi, Kumala

Acara Priyayi hari Minggu ini adalah bertemu Kumala,


Sahabat lamanya yang baru saja tiba di Jakarta. Karena
sudah lama nggak saling cerita, pastilah mereka bakalan
menghabiskan waktu bareng seharian. Itu baru untuk saling
cerita. Belum belanja-belanjinya.

"Jadi penasaran kayak apa wujud Jagad sampai bisa


membuat Jimmy ketar-ketir." Kumala menyeringai penuh
arti.

"Jimmy ketar-ketir karena kami serumah, tahuu....," elak


Priyayi, mengartikan cengiran Kumala.

"Hei, aku kenal Jimmy sejak masih kecil. Yang kelihatan dari
dia adalah pedenya. Bisa jadi waktu emaknya hamil dia,
pedenya lahir duluan, baru kemudian oroknya, hehehe.....,"
seloroh Kumala. Ia lalu melanjutkan, "Kalau temanmu
serumah itu nggak cukup oke dibandingkan dirinya, Jimmy-
mu itu kupastikan tenang-tenang aja. Lagian kamu ama Jagad
kayak pasangan beneran, gantian pakai mobil, barangku
adalah barangmu, gitu ya.....?!"

"Ih, nggaklah!" bantah Priyayi. " Hari ini mobilku dia pakai
karena kamu bawa mobil. Mobilmu kan lebih keren,
hehehe....." intensi apa-apa. Waktu itu mereka ngumpul
dipesta senang-senang yang diadakan Kumala. Sekadar info
aja, Kumala ini banyak mendapat julukan dari teman-

Ratu-buku.blogspot.com
47
temannya. Ratu Pesta, Ratu Gaul, Miss Adventure, The
Player, Miss Having Fu** (Pelesetan dari having fun!),
semacam itu. Eh, ternyata Jimmy dan Priyayi saling tertarik
dan lantas jadian.

"Jadi...." Kumala memelintir ujung rambut kriwil seksinya.


"Kayak apa wujudnya?" Matanya mengerling.

Priyayi bergidik melihat gaya temannya itu. "Diharap untuk


mengendalikan libido erotis yang bukan pada waktu dan
tempatnya," ejek Priyayi disusul dengan cengiran Kumala.

"Baiklah, Nona Yang Tidak Ingin Cinta Ternoda oleh


Erotisme, ingatkan aku akan hal itu setiap berbincang
denganmu," balas Kumala.

Priyayi mencibirkan bibir, memaklumi prinsip yang dianut


Kumala. Selain berpetualang dari satu tempat ke tempat lain,
nona satu itu juga berpetualang dari satu cowok ke cowok
satunya lagi, atau yang satunya lagi, mungkin mengikuti
tempat ia berada. Tapi dia memang layak untuk itu. Bukan
hanya karena dia seksi, eksotis dengan kulit sawo matang
dan rambut ikal, tapi dia juga kaya raya. Plus, yang penting
adalah menguasai "medan dan teknik". She is the expert,
hehe.

"Yang jelas, Mal, aku yang sekarang nggak tenang. Klien yang
digembor-gemborkan, yang dilayaninya habis-habisan
sekarang adalah Bianca!"

"Si Nyonya Besar itu....?"Seloroh Kumala.

Ratu-buku.blogspot.com
48
"Koreksi, dia bukan nyonya lagi, makanya dia melenggang
kangkung mendekati Jimmy lagi. Masa malam kapan lalu itu
ponselnya benar-benar nggak bisa dihubungi, katanya sih ada
urusan bisnis yang nggak bisa diganggu...., aku kan jadi
berpikir yang terlalu jauh...."

Kumala nggak bisa melontarkan kalimat macam "Jimmy


mencintai kamu, dia nggak bakalan berpaling" kepada teman
dihadapannya ini, karena antara Bianca dan Jimmy pernah
ada hubungan serius sebelum kemudian Bianca memilih kawin
dengan pengusaha sex-appeal besar dan matang (Sebagai
kata ganti lebih halus untuk istilah lebih tua).

"Lusa Jimmy minta ditemenin ke pesta kantor, mengundang


klien besar mereka, makanya hari ini aku harus cari gaun.
Gaunnya harus seksi.... bukan cuma elegan, anggun, apalagi
klasik, tapi yang seksiihh..." tutur Priyayi dengan menyipitkan
mata. Dia bertekad tidak mau kalah dengan klien besar
Jimmy, The Big Lady yang pasti hadir.

Malam, terendus

Gaun yang diinginkan Priyayi sudah ditemukan di butik


langganan Kumala. Yang awalnya niat belanja sih Priyayi, tapi
yang belanja-belanji justru Kumala. Teteeep...

"Wah, sial," celetuk Kumala seraya menutup flip ponselnya.

"Aku sudah ditunggu teman, aku janji ngajak dia ke bar nanti
malam. Gimana ya, kamu nggak apa-apa pulang naik taksi?
Atau ikut kami aja yuk," ujar Kumala.

Ratu-buku.blogspot.com
49
"Nah taksi aja deh, besok aku harus bangun pagi, ada
meeting," jawab Priyayi, kemudian menyeletuk iseng," New
arrival, ha?"

Kumala nyengir." Yeah. Kenalan di Bangkok, terus ngikut ke


sini. Katanya pengin tahu Jakarta." Dan kita tahu itu bullshit.
He wants you," seloroh Priyayi tertawa.

Pucuk dicita ulam pun tiba, Jagad menelepon apakah perlu


dijemput pas Priyayi hendak memanggil taksi. Akhirnya
mereka balik ke dalam butik untuk menunggu sang
penjemput. Bagi Kumala, ini kesempatan untuk melihat
penampakan cowok bernama Jagad.

"Ah, itu dia datang." Priyayi menunjuk kepada Jagad yang


baru masuk.

Kumala menyeringai lebat. "Oh, please! No wonder Jimmy is


so jealous....."

Priyayi mendelik menyuruh Kumala tutup mulut. Mereka


berkenalan kekat ke arah Jagad. Oke, nggak bermaksud
berlebihan, Jagad memang punya modal fisik lumayan, tapi
payah di modal kuangan, hehe.

"Mal, jangan macam-macam," desis Priyayi.

"Hei, relax, girl! Aku nggak ngapa-ngapain," Kumala berkelit


seraya mengangkat kedua tangannya. Isengnya masih
berlanjut, "Nyimpen kayak gini di rumah dan nggak diapa-
apain? Ckckck...."

Ratu-buku.blogspot.com
50
"Sialan. Aku pemilik rumah, dia penyewa, titik." Priyayi
menangkup muka Kumala dengan telapak tangannya dan
segera berlari masuk mobil. Tak lupa lidahnya menjulur ke
arah Kumala.

Di mobil, Priyayi mengamati diam-diam sosok di jok


sebelahnya. Apa sih yang dilihat Kumala dari cowok ini?

Ada SMS masuk. Priyayi merogoh tas meraih ponsel. Dari


Kumala.

Sopir di sebelahmu menyadarkanku, cowok Indonesia nggak


kalah dari import.

Priyayi terkikik. Dibalasnya SMS Kumala.

HBPI yee? Haus Belaian Pria Indonesia

Secara otomatis, Priyayi kembali mengamati jagad yang


tenang menyetir. Wajahnya manis khas Indonesia.
Rambutnya hitam, potongannya acak, oke. Bandingkan dengan
Jimmy yang lebih senang rambutnya dipangkas rapi. Dan...
Perut Jimmy sedikiiit membuncit, sementara yang di
sampingnya ini rata. Dan keras. Priyayi pernah nggak sengaja
menyenggol bagian itu.

"Yi, jadi mampir ke supermarket?"

"Oh, ya, ya," jawab Priyayi gugup. Ia disergap rasa bersalah.


Hah, kerasukan setan apa kok sampai membandingkan dia
dengan Jimmy! No way, jangan pernah berpikir sekali pun...

Ratu-buku.blogspot.com
51
"Berarti turun sekarang, Bos!"

"Oh, udah sampai ya," celetuk Priyayi baru nyadar.

Tepat saat mereka keluar dari mobil, ada mobil yang


diparkiran si seberang hendak keluar. "Oh My God. Na,
lihat." Syamila menjawil lengan temannya supaya melihat
lebih saksama ke depan. Dari balik kaca depan mobil, mereka
melihat Jagad dan seorang cewek masuk ke supermarket.
Syamila megap-megap.

"Itu Jagad sama siapa, bo? tanya Nana, teman Syamila di


balik kemudi.

Namanya Priyayi. Udah beberapa hari ini Mas Jagad bawa


mobil cewek itu, motornya lagi dipinjam temannya," jelas
Syamila.

"Na, kita ikuti mereka," pinta Syamila kemudian. Nana


membelalakkan mata." mereka berselingkuh?" "Nggak tahu,
makanya kita cari tahu."

Berkali-kali Syamila melirik jam yang ada di dashboarg. Lima


belas menit serasa semalaman. "Mil, coba telepon aja," usul
Nana.

"Pulsaku habis."

"Nih, pake punyaku." Nana menyodorkan ponselnya. Syamila


menggeleng.

Ratu-buku.blogspot.com
52
"Ya sudah, labrak aja sekarang. Yuk!" desak Nana berkobar-
kobar.

Akhirnya Syamila mengambil ponsel Nana. Dering ketiga,


ponsel Jagad diangkat. "Halo?"

"Hai, Mas, ini Mila pake HP teman," sahut Syamila gugup.

"Oh, kamu Mil. Lagi belajar, ya? Udah makan belum?" Nada
suaranya setenang biasanya.

"I, iya. Udah. Masih di rumah sakit, Mas?"

"Nggak. Udah pulang kok."

"Oh." Syamila terdiam.

"Halo? Mil?"

"Oh, eh, ya sudah. Bye." Syamila linglung hingga nggak tahu


mesti ngomong apa lagi. Syamila menyandarkan kepala lemas.
"Dia bilang udah pulang...."

Begitu mobil Priyayi keluar, Nana dengan saksama mengikuti,


menjaga jarak nggak terlalu jauh tapi tapi juga nggak terlalu
dekat. Pokoknya kayak penguntit di film-film itu lho!

Mobil masuk kompleks permukiman dan berhenti di depan


rumah berpagar hijau tua. Priyayi keluar membuka pagar,
mobil masuk carport. Priyayi menutup pagar. Selanjutnya,
dada Syamila seperti ditempel lempeng panas. Nyosss....

Ratu-buku.blogspot.com
53
Jagad membawa tas plastik, Priyayi mencangklong paper bag
besar dan keduanya masuk ke rumah. Wajah Syamila pias.
Jantungnya berdegup kencang.

"Ya ampun, dia tinggal dengan perempuan itu...."

"Haaa?" celetuk Nana.

"Dia sampai sekarang nggak mengiyakan ajakanku ke rumah


uang ditumpanginya, yang katanya suami-istri iru. Suami-istri
apaan?! Dia udah bohong ke aku!" Syamila mengomel kesal.

"Belum tentu begitu. Nih, telepon dia lagi." Nana


menyodorkan ponselnya.

Syamila menolak. Ia menutup mata dan kuping dulu,


setidaknya sampai ujian di kampus besok. Atau mungkin
sampai ujian selesai karena ia ingin mengonsentrasikan diri
sepenuhnya pada ujian terlebih dahulu, kendati sekarang
konsentrasinya sudah sedikit terpecah.

***

Ratu-buku.blogspot.com
54
Part 12

Ballroom hotel, terasing

Malam ini Priyayi berhasil memukau Jimmy dengan gaun sexy


bak Eva Longoria di serial Desperate Housewives. Tapi
jangan senang dulu. Itu sebelum berangkat. Tapi begitu
memasuki ballroom hotel tempat pesta diadakan tetap
Bianca-lah sang bintang. Atau sang diva? Ih, kok mirip acara
dagdut?! Intinya dia yang berhasil mencuri semua perhatian
undangan.

"Hm... Pasti karena bling-bling itu...." Priyayi menyimpulkan


dari kejauhan dengan nada setengah cemburu setengah sinis.
Berlian maksudnya. Mulai dari anting, kalung, cincin, gelang
dengan ukuran ekstra. Priyayi memainkan liontin kalungnya.
Hanya bling-bling alias berlian yang menempel di badannya.
Tadi sih Jimmy--another bling-bling--yang menempel,
sekarang merenggang jauh. Senasib dengan pasangan yang
hanya sebagai pendamping.

"Pajangan gratis," gumam Priyayi getir menyebut dirinya dan


mereka yang senasib. Untunglah wine yang disuguhkan sangat
enak. Kualitas atas. Lumayan bisa mengalihkan kesuntukan
Priyayi.

Selain itu, kesuntukan bertemu wine merangsang sisi otak


kreatifnya untuk mengadakan kontes, yakni kontes Tokoh
Yang Paling Membosankan di ruangan ini. Dia lantas memilih-
milih "calon-calon kontestan" yang potensial. Kriterianya
tentu aja dari mimik muka, gelagat, dan hasil obrolan yang

Ratu-buku.blogspot.com
55
menurutnya membosankan. Karena Priyayi ingin jadi
pemenangnya, dia harus bertingkah habis-habisan menjadi
yang paling membosankan. Seperti misalnya kalau ditanya
profesinya apa, Priyayi menjawab jadi honorer bagian tata
usaha di sebuah sekolah yang paling tidak kompetitif di
seluruh kota. Dan menyinggung cuaca adalah cara
membosankan lainya. "Seharusnya aku pake baju daster nih,"
gumam Priyayi tambah ngelantur.

Baru ngajak ngobrol tiga orang pilihannya, Priyayi sudah


sangat merasa bosan sendiri dan nggak tahan lagi untuk
"mewawancarai" kandidat berikutnya. Hehe, salah sendiri!

"Yayi, kamu bawa mobilku. Aku harus nganter Bianca pulang,


dia nggak mungkin nyetir dalam keadaan mabuk begini."
instruksi Jimmy membuyarkan kebengongan Priyayi.

"Acaranya sudah selesai?" tanya Priyayi. Jimmy mengerutkan


kening, heran. "Ohh.... Maksudku... Acaranya akhirnya
selesai....!" ralat Priyayi dengan mengubah intonasi dari
pertanyaan menjadi pertanyaan. Eiit, Jimmy bilang mau
antar Bianca?!

"Emang nggak bisa yang lain?" tawar Priyayi. Ia nggak rela


cowoknya pergi malam-malam ke rumah wanita bombastis
kayak begitu. Mabuk, pula.

Jimmy memegang bahu Priyayi, didekatkan mulutnya di


telinga Priyayi. "Dia klien terbesarku. Aku cuma menjaga
keselamatannya."

Ratu-buku.blogspot.com
56
Priyayi melirik Bianca yang tertunduk lunglai. Dan linglung.
Sesekali memanggil nama Jimmy. Muka Priyayi panas.
Yeah, Priyayi sempat mendengar Bianca akan membeli satu
unit lagi untuk usaha baru lounge and bar. Pastilah Jimmy
sebagai konsultan propertinya.

"Oke, biar aku mengikuti kamu sampai rumahnya selanjutnya


kita bisa pulang bareng," usul Priyayi.

Jimmy menjauhkan kepala dengan mata menyelidik raut muka


Priyayi.

"Well, biar kamu nggak kesulitan pulang....," sambung Priyayi


beralasan.

Jimmy menyunggingkan senyum, lalu meraih dagu Priyayi.


"Don't worry, i'll be fine. Kamu pulang aja, terlalu jauh
soalnya, satu jam sendiri lho sekali jalan, aku yang
mengkhawatirkanmu. I'll see you tomorrow". Sebagai
penutup, Jimmy mengecup hidung mungil Priyayi.

"Sialan, tahu begini, kuhabisin aja semua wine tadi, biar


Jimmy kerepotan ngurus diriku, bukan cewek lain," sesal
Priyayi terpikir, andai dirinya dan Bianca sama-sama mabuk,
apa benar Jimmy akan memilih ngurus dirinya.....?

"Uuuughh! Aku cabut dari sini, bikin sinting otak!"

***

Pagi, mengejutkan

Ratu-buku.blogspot.com
57
Priyayi memulai hari dengan intesitas tekanan darah yang
tinggi. Udah bangun kesiangan, masih harus mampir ke
kantor Jimmy untuk mengembalikan mobil, padahal ada
Meeting pagi pula! Mana ponsel Jimmy susah dihubungi, huh!

Ditambah lagi pagi ini di mulai hal yang sama. Kekamar mandi
di menit yang sama dengan Jagad. Efeknya sama-sama
bersungut-sungut, kendati tetap sungut Priyayi yang lebih
panjang karena statusnya di rumah itu. Tapi ada ini yang
agak nggak biasa, samak-sama nggak bisa menghubungi
ponsel pacar. Jagad sendiri malah kemarin mengalami
"kemacetan" koneksi. Sampai-sampai mereka mengira ada
masalah dengan provider.

Dor, dor, dor! Pintu kamar mandi digedor.

"Buruan! Aku harus nganterin mobil dulu ke kantor Jimmy?"


teriak Priyayi.

"Sebentar!" sahut Jagad dari dalam kamar mandi.

"Ini lagi! Biasanya sudah mandi pagi-pagi, sekarang ikut-


ikutan kesiangan!" seru Priyayi jengkel. Hampir sama dengan
Priyayi, Jagad juga mengalami kesulitan menghubungi
Syamila, sementara dia belum punya waktu ke rumah
pacarnya itu. Lagipula Syamila sedang ujian, biasanya cewek
itu ogah dikunjungin karena bakalan ngurangin waktu
belajarnya.

Bagaimanapun usahanya untuk buru-buru, Priyayi tet agak


kesiangan sampai kantor Jimmy. Belum lagi dikejar meeting.

Ratu-buku.blogspot.com
58
Dia berlari keluar dari basement parkir hendak menuju ke
dalam kantor untuk memberikan kunci mobil. Tepat di pintu
basement, dia menyaksikan Jimmy baru saja keluar dari
mobil.

Itu.... Mobil Bianca....

Priyayi terkesiap. Buru-buru ia menyembunyikan badannya.


Nggak sampai sepuluh detik, mobil itu melesat pergi. Bianca
yang duduk di belakang kemudi.

Priyayi menyandarkan badannya di dinding. Lututnya lemas.


Ya ampun, apa Jimmy nggak pulang semalam? Diliriknya
arloji.

Hampir jam setengah sebelas. Priyayi melangkah gontai.

***

Ratu-buku.blogspot.com
59
Part 13

Bad day, cemburu

Bianca, Bianca, Bianca.

Nyaris seharian kepala Priyayi dipenuhi nama itu. Dan


seringai di wajah perempuan iru kala memandang Jimmy tadi
pas di depan kantor Jimmy. Seringai tadi... Priyayi
mengartikan sebagai seringai puas.

"Huu...uh!" seru Priyayi kesal.

"Nggak pulang, Bu?" sapa salah seorang satpam tiba-tiba.


Hari sudah mulai senja.

"Eh...." Priyayi nggak tahu ada satpam lewat di dekatnya.


"Sebentar lagi,"Jawab Priyayi yang berjalan menuju area
bermain anak. Ia mendudukkan pantatnya di ayunan dan
mengayunkan pelan-pelan.

Entah berapa menit berlalu, tahu-tahu Jimmy sudah berdiri


di sebelahnya. "Mana tasnya?"

Mereka sepakat bertemu di sini. Pagi tadi Jimmy hanya


menerima kunci mobil dari office boy yang dititipi oleh
bagian resepsionis. Kontan Jimmy melepon ponsel Priyayi tapi
nggak diangkat. Ke nomor kantor juga begitu. Katanya
Priyayi ada tugas luar seharian. Menjelang pukul lima, baru
Priyayi mengangkat telepon dari Jimmy yang kesekian.

Ratu-buku.blogspot.com
60
"Masih di atas. Lagian pengin cari angin segar sebentar,"
jawab Priyayi. Jimmy ikut duduk di ayunan di sebelah Priyayi.
Nggak diayun, cuma diduduki.

"Makasih tadi nganterin mobil ke kantor. Kenapa nggak


menemuiku, kan bisa kuantar kemari?" Priyayi nggak langsung
menjawab. Ia setia dengan irama ayunannya... Pelan... pelan...
pelan....

"Semula ingin begitu. Terus aku melihatmu diantar wanita


itu...."ucap Priyayi datar.

Wajah Jimmy menegang. Jadi Priyayi tahu?!

"Kulihat setelanmu masih sepeti semalam," lanjut Priyayi


masik dengan nada yang sama. Pandangannya sendu ke depan,
bukan ke samping, ke arah Jimmy.

"Yi, jangan salah paham dulu....," sahut Jimmy. "Aku nggak


ngapa-ngapain. Waktu itu dia...."

Priyayi mengibaskan tangan. Dalam hatinya menyesal kenapa


menyerah semalam, kenapa dirinya nggak ngotot tetap ikut.

"Aku nggak ada perasaan apa-apa lagi ke dia, Yi, sungguh!"


tegas Jimmy meyakinkan Priyayi. Priyayi memejamkan mata.
"Sudah sejauh ini kita bersama, kenapa kamu masih
meragukan kesetiaanku?!" imbuh Jimmy kesal.

"Jim, kamu dan dia pernah menjalin hubungan cinta, bahkan


kamu hampir bertunangan dengannya...." Priyayi diberitahu

Ratu-buku.blogspot.com
61
oleh Kumala soal itu. Waktu itu Jimmy masih kuliah dan
lumayan dekat dengan Kumala. "Wajar kan kalau keyakinanku
goyah kamu bermalam di rumah mantanmu, yang sedang
mabuk, yang kembali mengerjarmu, yang memberi andil luar
biasa dalam kariermu?!"

"Aku percaya denganmu yang serumah dengan teman cowok


lain berbulan-bulan....," tangkis Jimmy.

"Dia bukan mantanku, aku nggak pernah ada hubungan cinta


sebelumnya! Itu beda, Jim! Kamu seperti takluk di hadapan
wanita itu, dia klienmu, bukan bosmu, bukan kekasihmu lagi!"

"Kamu cemburu?"

"Iya, sekaligus marah! Di pesta aku kayak orang bego,


malamnya disuruh pulang sendiri, ponsel kamu matikan saat
kalian berduaan, urrrghh!" seru Priyayi memuntahkan
kekesalannya, kemudian dia berdiri. " Aku nggak jadi pulang.
Tiba-tiba aku ingat masih harus menyelesaikan sesuatu.
Pulanglah dulu."

Jimmy ikut berdiri dan memegang lengan Priyayi. "Yi, apa


yang..."

"Aku yang akan menghubungi kamu," potong Priyayi. " Itu


juga kalau ponselmu aktif...." sindir Priyayi mengakhiri
pembicaraan. Di ruangan kerjanya, ia menelungkupkan wajah
di balik meja.

***

Ratu-buku.blogspot.com
62
Malam, tak jauh beda

Jadad baru saja sampai rumah, baru selesai meneguk air


dingin keluaran kulkas saat SMS Priyayi masuk yang isinya
minta tolong dijemput. Ia hanya mengganti sepatu dengan
sandal, mengambil kunci mobil di kamar Priyayi. Syamila
mengawasi tanpa berkedip di dalam mobil milik kakaknya
yang ia parkir di tempat remang taka jauh dari rumah
Priyayi. Mulai dari Jagad datang dengan mengendarai motor,
membuka pagar dan pintu rumah dengan yang dibawanya,
menyalakan lampu-lampu, kemudian keluar lagi dengan
mengendarai mobil Priyayi.

Sampai kira-kira satu setengah jam kemudian mobil bercat


abu-abu tersebut nongol lagi. Dari pintu kiri, keluar Priyayi
untuk membuka pagar. Mobil terparkir, mesin dimatikan,
pagar ditutup, keduanya menghilang di balik pintu rumah.

Hati Syamila serasa diperas-peras sampai tinggal ampas.


Sudah sedemikian bertekuk lututkah dia pada cewek itu?
Syamila menelungkupkan wajah di atas setir dan terisak.

***

Ratu-buku.blogspot.com
63
Part 14

Jumat pagi, mendung

Priyayi menengadahkan kepala. Mendung makin bikin bad


mood aja, apalagi bukan hari libur. Tapi biasanya hari jumat
begini beban kerja sedikit lebih ringan. Dia tetap bertekad
lari pagi, cuma disekitar kompleks rumah doang. Kata kakek,
menghirup udara pagi, apalagi diiringi gerak jasmani, di
tengah suasana hati dan kondisi pikiran yang buruk ibarat
menghirup oksigen dalam tabung di ruangan yang penuh asap.
Masalah memang nggak akan kelar selama orang tersebut
belum keluar dari ruangan itu, tapi setidaknya bantuan
oksigen itu dapat membuatnya berjalan menuju pintu keluar.

Sejam kemudian Priyayi mulai membenarkan ajaran kakeknya


itu (dua puluh menit terakhir ia menghirup udara pagi yang
terkontaminasi aroma bubur ayam alias pesan dua bungkus di
bawa pulang, hehe). Sepulang nanti ada yang perlu dilakukan
supaya perasaan buruk yang dirasakan nggak berlarut-larut.

"Gad! Aku beli bub..." seruan Priyayi di pintu depan seketika


terhenti, juga dengan langkah dan ayunan tangannya. Persis
kayak di serial Charmed setiap kali Piper, salah atu penyihir
cantik nan baik hati mengeluarkan ajian freezing. Beku.
"Oh, maaf, nggak tahu kalau ada tamu," sambungnya
kemudian, berhasil keluar dari kebekuan.

"Ini Mila," ucap Jagad. Priyayi yang baru mengayun kaki satu
langkah kembali berhenti dan menoleh ke arah sang tamu.

Ratu-buku.blogspot.com
64
"Kita sudah pernah kenalan," ujar Syamila datar.

"Iya," timpal Jagad belingsatan.

Priyayi menahan napas. Terus terang dia sudah lupa wajah


Mila itu (Seingatnya, nama lengkap cewek itu Sarmila deh).
Bisa jagi pagi ini pagi bencana bagi Jagad karena sejauh yang
dia tahu, Jagad nggak memberitahu pacarnya perihal
keberadaannya di sini. Tapi nggak tahu lagi kalau di hari-hari
terakhir Jagad tinggal di rumah ini, Jagad memutuskan
sebaliknya.

"Iya," celetuk Priyayi, menganggukkan kepala dan tersenyum.


Syamila hanya mengangguk. Selanjutnya Priyayi melesat ke
dalam.

"Kita bicara di luar," cetus Jagad tak lama setelah Priyayi


menghilang ke dalam. "Aku ambil kunci motor dulu."

Dari balik meja gerak dan mengamati ekspresi muka Jagad


diam-diam sambil tangannya menyuapkan sesendok demi
sesendok bubur ayam. Ia segan sekadar memanggil Jagad,
apalagi berkoar soal bubur ayam. Rasarnya kurang pantes
deh nawarin bubur ayam ke orang yang ( kelihatannya) lagi
bersitegang ama kekasih hati.

"Aku cabut dulu, bubur ayamnya kumakan nanti," pamit


Jagad kala melewati Priyayi. Jagad melajukan motornya ke
coffee shop tak jauh dari sana. Belum ada pengunjung
karena coffee shop baru saja buka mungkin sekitar lima
belas menitan.

Ratu-buku.blogspot.com
65
Jagad dan Syamila membawa dua mug kopi panas dan duduk
di teras. "Aku cuma ingin menjaga perasaanmu, itu yang
paling utama. Dan ini murni inisiatifku, nggak ada syarat atau
pengaruh apa pun dari siapa pun," jelas Jagad.

"Aku sangat kecewa sama kamu, Mas," sahut Syamila. "Aku


kecewa kamu menutup-nutupi sesuatu dariku, aku kecewa
kamu malah cari bantuan ke orang lain, sepertinya menjadi
pacar berarti dia orang yang terakhir tahu, orang yang
terakhir dimintai bantuan, orang yang nggak boleh diusik-
usik, orang yang hanya boleh tahu beresnya aja, hanya tahu
indahnya dunia...." Syamila menyorongkan badannya ke arah
jagad. "Begitu seorang pacar bagimu? Hanya pajangan,
penghias hidupmu? Dangkal sekali!" Syamila kembali
bersandar dan membuang pandangannya.

"Kalau aku nggak mendatangi rumah temanmu itu, kamu pasti


berkelit..." sambung Syamila geram.

Jagad nggak bisa menyangkal. Ada perasaan bersalah


melihat Syamila semarah ini.

"Aku paling benci dibohongi." Mata Syamila siap menumpah


air, wujud dari kekecewaan perasaannya. " Dan ini... Rasanya
lebih dari itu...., aku merasa.... Dikhianati...."Tutur Syamila
terbata-bata.

"Maaf, Mil. Kadang sesuatu yang kuanggap tindakan yang


benar...., maksudku yang bisa menjaga hubungan kita tetap
baik, belum tentu baik di matamu. Aku menghargai hubungan
kita di atas segalanya, Mil. Aku ingin kita senantiasa baik-

Ratu-buku.blogspot.com
66
baik saja. Bertemu, berbincang, bahkan saling terdiam pun,
aku ingin kita lakukan dalam atmosfer cinta, sayng, nggak
ada jengkel, sebal, marah, dan perasaan negatif lainnya."
Jagad menjabarkan alasan di balik sikapnya selama ini.

"Kamu seperti mematahkan kakiku yang baik-baik saja!"


sahut Syamila dengan raut muka kian tegang. Ia lantas
berdiri.

"Pagi ini aku cuma ingin membuka matamu lebar-lebar bahwa


aku nggak sebodoh yang kamu kira." Sedetik kemudian
Syamila berlari ke depan dan mencegat angkutan umum yang
lewat.

"Mila! Mil, aku nggak pernah berpikir begitu!" Jagad


berteriak seraya berlari menyusul, tapi Syamila sudah lenyap
dibawa angkutan.

Huuuhh.... Gimana ini! Pikir Jagad galau.

***

Ratu-buku.blogspot.com
67
Part 15

Sore, penghiburan

Priyayi duduk termangu di bangku di luar ruang periksa.


Kakeknya minta diantar periksa di rumah sakit karena tiga
hari ini dadanya terasa sakit. Lantaran bosan hanya bengong
melamun, ia mencoba menghubungi ponsel Kumala yang sejak
tadi nggak aktif.

Aha... Nyambung juga akhirnya.... "Halo, ke mana aja,


monyet? Susah banget dihubungi!" sembur Priyayi.

"Sibuk memperpanjang paspoe dan sibuk menjamu tamu jauh,


hehe...."

Priyayi memutar bola matanya, sudah hafal dengan tingkah


polah Kumala. "Aku ama Jimmy lagi berantem, menyebalkan.
Dia kayak kerbau dicucuk hidungnya ama si klien tercintanya
itu! Ada penghiburan nggak dari kamu?"

"Sialan, emang aku aku wanita penghibut?!" seloroh Kumala.


"Ada sih, besok malam diapartemenku, aku bikin party, nanti
ada temanku yang bersedia nge-DJ. Seru deh!"

"Hmm... Boleh juga..." celetuk Priyayi, walaupun bukan itu


yang dimaksud dengan penghiburan tadi.

"Aku udah SMS teman-teman. Tapi besok pagi kamu bantuin


aku nyiapin keperluan party yee!" suara Kumala bersemangat.

Ratu-buku.blogspot.com
68
"Mal, is it a part of being a very host for your new guy,
hah?"

Kumala ngakak. "Oh, darling, you know me too well! Oya,


kalau ketemu kakakmu, ingetin lagi ya buat datang besok,
ada omongan bisnis."

Restu, kakak Priyayi adalah pialang saham Kumala.

"Jumat mlam ketemu Restu di rumah? Jangan harap deh, aku


nggak janji," celetuk Priyayi. "eh, ajak juga sopir pribadimu
itu ya. Bilangin ke dia, aku bisa membuatnya menjadi tuan
semalam sebagai penghiburan telah menjadi sopir tanpa
bayaran akhir-akhir ini," sambung Kumala menyeringai nakal.

Priyayi hendak membalas Kumala tapi kakeknya keburu


nongol dari ruang periksa. "Gimana, kek?"

"Dikasih resep dan anjuran seperti yang sudah-sudah.


Kurangi makanan berlemak, kurangi beban kerja, harus lebih
rutin olahraga."

"Ironis sih. Punya tempat olahraga tapi jarang olahraga!"


Kakek terkekeh." Kakek kan sukanya golf, tempatnya jauh...."

"Huh Kakek, kalau bisa bikin lapangan golf di Area Kakek,


pasti udah dibikin!" ledek Priyayi. "Omong-omong soal golf,
hari Minggu mama-papamu menemani Kakek golf bareng
dengan opamu. Kamu mau ikut juga nggak? Kita ke rumah
Opa."

Ratu-buku.blogspot.com
69
Opa adalah sebutan ayah dari Mama Priyayi.

"Boleh, udah lama juga nggak ketemu Opa dan Oma. Restu
ikut juga nggak?"

Kakek menggeleng. "Dia malas ketemu omanya yang nggak


bosan-bosan nanyain alon istri...."

Priyayi nyengir sambil dalam hatinya menyeletuk pasti Oma


bakal kelelahan. Setelah mengejar Restu dengan pertanyaan
itu yang entah kapan Restu mau menjawabnya, Oma pasti
gantian mengejar dirinya yang setipe dengan sang kakek.
Kasihan Oma.....

Malam, ajakan Lucifer

Priyati mekangkah gontai ke dalam rumah. Hatinya masih


menyimpan kegundahan. Walaupun dia telah menyibukkan diri
seharian, tetap saja pikirannya nggak lepas dari Jimmy. Dan
apa yang telah dilakukan cowok itu. Pfff....

Masuk ke ruang tengah, di atas credenza ada sebuket bunga


mawar. Diambilkannya amplop yang nangkring di sela-sela
bunga.

One and only you.... I love you. Jimmy.

Priyayi berdiri terpekur, kemudian berjalan menghampiri


kamar Jagad. Dua ketukan, pintu terbuka. Tampak Jagad
sedang mengemasi pakaian.

Ratu-buku.blogspot.com
70
"Lho, katamu baru pertengahan bulan depan kamarmu selesai
renovasi, kok udah berkemas sekarang?" tanya Priyayi
bingung.

"Nggak apa-apa. Aku bisa tidur di ruangan depan yang sudah


selesai." Priyayi beringsut duduk bersila di tepi kasur,
matanya mengikuti gerak Jagad. "Oya, ada kiriman bunga
tadi buatmu," tukas Jagad.

Priyayi mengangguk. "Ya. Dari Jimmy. Kami lagi berantem


dan bunga itu kayaknya sebagai permintaan maafnya." Priyayi
nyerocos tanpa diminta.

"Kamu maafin?"

Priyayi mengangkat bahu. "Yaahh gitu deh...., tapi nggak


dalam waktu dekat ini, masih gondok!"

Jagad menolehkan kepala ke arah Priyayi. " Kenapa sih cewek


harus membuang waktu seperti itu? Kalau ending-nya sama,
kenapa harus diulur-ulur waktunya?"

Begini." Priyayi mengeluarkan dalih panjang. "Itu yang


disebut Kebijakan dan Kebijaksanaan. Tingkat hukuman
harus disesuaikan dengan tingkat kekesalan yang kita
rasakan. Dan itu bukan membuang waktu, itu adalah bagian
dari proses konsekuensi yang harus diterima atas perbuatan
yang tidak berkenan."

Inilah Priyayi, Mahkamah Agung dalam Pengadilan Cinta.

Ratu-buku.blogspot.com
71
"Hei...." panggil Priyayi kemudian. " Kamu berantem ama
pacarmu?" Jagad mengangguk.

"Ketahuan kamu tinggal di sini?" tebak Priyayi. Jagad lagi-


lagi mengangguk.

"Eh, sebenarnya sih kemarahan dia karena aku udah nggak


jujur berbulan-bulan, menutup-nutupi keadaan sebenarnya."

"Bahwa kamu tinggal di sini?"

Jagad mengangguk lagi. Priyayi manggut-manggut juga,


akhirnya paham kenapa Jagad mempercepat jadwal untuk
balik rumah.

"Gad, Kumala mengundang kita datang ke pestanya besok.


Mau, kan? Hitung-hitung farewell party, oke?"

Jagad mengangguk pasrah.

"Pssst..... Dandan ala metroseksual ya, kamu dapat


kehormatan berkencan dengan tuan rumah," goda Priyayi.
"Mumpung hubungan dengan tambatan hati dalam masa
demisioner, hihi...." imbuh Priyayi berbisik.

Jagad nyengir. "Lucifer, kamu menang kali ini."

***

Ratu-buku.blogspot.com
72
Part 16

Get the party started, Kumala's

"Mana si teman baru?"

"Itu..., yang lagi ngobrol ama Angga." "Oooh..." semua


melongo.

"Mirip David Naif ya, terutama gaya bajunya jo`...."


Geerrr....

"Kirain tadi juga begitu, tapi kok nggak bisa bahasa


Indonesia, ternyata cowok impor!" Geerrr lagi....

Empat cewek dan dua cowok yang berkerumunan di meja bar


terkikik. Mereka sedang ngomongin teman pelancong yang di
bawa Kumala. Ada Tio dan Sally yang kebagian meracik
minuman, Ryan yang nge-DJ "nama profesinya DJ Ry), Vina,
Yasmin, dan Priyayi kebagian "mengulurkan tangan" kepada
setiap yang datang untuk dimintai sumbangan sukarela.
Berhubung berteman, memang nggak ada tiket masuk dan
bisa minum sepuasnya, tapi bukan berarti gratis abiiis ya.
Bagi yang datang dengan botol atau krat atau kudapan
minimum harga yang sekiranya berkenan di tiga cewek
tersebut, mereka bebas dari juluran ketiga cewek tadi.

Berhubung beberapa teman mulai berdatangan, mereka


segera bubar, hanya Tio dan Sally yang memang di situ
tempat bertugasnya, dan Priyayi yang masih malas bersapa
ria. Ia menekuri sekeliling apartemen. Kumala menerapkan

Ratu-buku.blogspot.com
73
desain minimalis di dalam apartemen studio berukuran luas
ini. Vina, teman mereka sebagai desain interiornya. Sebagai
hunian, apartemen ini memang jadi terkesan lengang apalagi
hanya dihuni satu orang. Tapi konsep itu memudahkan sang
pemilik untuk mengadakan pesta seperti malam ini. Lagi pula
kan Kumala lebih banyak pergi daripada ngendon.

"Mana kamar Kumala?"

Priyayi nggak tahu kapan Restu datang, tiba-tiba saja


kakaknya sudah ikut duduk di sebelahnya. "Apa? Kamar?"
Priyayi tersentak kaget. Baru aja datang, sudah nanyain
kamar!

"Dia yang nyuruh aku langsung ke kamarnya, mau bahas


investasinya," jelas Restu mematahkan kecurigaan adiknya.
"Pasti udah mikir ngenes, huuu....," tambah Restu seraya
menyentil kepala adiknya. Priyayi cengar-cengir.

"Ooo.... Tuh...." Priyayi menunjuk sebuah pintu. Restu segera


ngeloyor ke sana.

Begitu Priyayi mengembalikan pandangan, Jagad masuk dan


berdiri mengedarkan pandangan mencari sosok yang
dikenalnya. Mulut Priyayi menganga. Wow.... Jagad lain
banget malam ini. Dia menuruti instruksi Priyayi untuk
berpenampilan ala cowok metroseksual. Rambutnya dibuat
mencuat berantakan persis model rambutnya vokalis Goo Goo
Dolls di video klip lagu Iris, pullover hitam menempel pas di
badan, bagian lengan disisingkan asal-asalan sampai siku, jins
agak kebesaran melorot sampai batas pinggang. Vina

Ratu-buku.blogspot.com
74
menyambutnya dengan rangkulan. Jagad menunjukkan
sebotol bir impor. Masih kurang berharga sih, tapi Vina
mengampuninya karena begitulah pesan Priyayi. Vina lantas
menunjuk-nunjuk ke arah meja bar, ke arah Priyayi. Priyayi
melambaikan tangan.

"You look great," sapa Priyayi. Jagad tersenyum sembari


menyodorkan "sumbangan"nya kepada Tio. Tangan Priyayi
menyentuh lengan Jagad. Hmm.... pullover-nya lembut sekali.

"Ganteng maksudmu?" sahut Jagad. "Atau hot, sexy,


adorable...., yummy....?" Priyayi meringis. "Ouch! Setiap satu
kata mengurangi poin great-mu, tauu!"

Jagad nyengir. Matanya mengamati dandanan Priyayi yang


mengenakan tank top berdada rendah dengan punggung
terbuka. Roknya menutupi setengah paha saja. Smoky eyes
menegaskan kesekian Priyayi malam ini.

"Bahan handukmu masih lebih besar daripada kedua potong


bajumu ini," gurau Jagad mengomentari. Mereka memesan
martini dan wine, kemudian cheers pertamanya.

"Mila minta break," ujar Jagad di sela menghabiskan isi


gelas pertamanya. "Dia benar-benar sakit hati."

"Break or break up?"

Jagad menghela napas. "Di tengah-tengahnya mungkin. Yang


jelas dia bilang supaya aku membiarkan dirinya sendirian
dulu, nggak mau dihubungi. Aku tanya sampai berapa lama

Ratu-buku.blogspot.com
75
akan begitu, dia bilang belum tahu." Jagad mengedikkan
bahu. "Yaahhh..... Mungkin lebih baik begitu, daripada
langsung di putus. Aku udah kasih tahu dia, nggak tinggal di
rumahmu lagi."

"Tapi luka udah terlanjur tergores, ya?" seloroh Priyayi.

Jagad mengacungkan gelasnya. "Hell, yeah."

"Aku bisa jelasin ke pacarmu tentang apa yang sebenarnya


terjadi."

"Ah, nggak perlu. Ini kesalahanku yang nggak jujur ke dia,"


tampik Jagad.

"Oke, lupakan masalah untuk malam ini. Jangan mabuk dulu


sebelum dapat undangan kencan dari Kumala,"cetus Priyayi
sembari memutar tubuh Jagad ke arah Kumala yang datang
menghampirinya.

Jagad bersiul, Priyayi nyengir. Kumala mengenakan mini


pants dan kemben menyisakan bahu dan perut.

"Dengan pakaian itu, kamu lebih bagus daripada dia," bisik


Jagad di telinga Priyayi. "sepanjang yang kutahu, kamu punya
otot bagus."

Priyayi menyeringai. "Kamu merayuku di hari terakhir kita


serumah, ya?" tanya Priyayi, jarinya menarik-narik lengan
pullover Jagad, berlagak sok menggoda.

Ratu-buku.blogspot.com
76
"Hemmm..." Jagad menyipitkan mata. Priyayi terkikik.

"Hellooo, teacher!" sapa Kumala dengan aksen sok Inggris.


Mereka bertiga melakukan cheers. Sambil bersandar pada
Priyayi, Kumala terus "menyerang" Jagad.

"Kamu lebih keren daripada yang terakhir kulihat."

"Ada yang mengimingi bakal berkencan dengan tuan rumah


yang luar biasa, jadi apa salahnya tampil all-out," celetuk
Jagad mengangkat gelas. Kumala ngakak, sedangkan Priyayi
berpikir pasti Jagad lagi butuh pelarian. Tumben genit
begini.

"Well, teacher, you can teach me math-ness, bu i'll teach


you madness, first..." ujar Kumala, tangannya menarik tangan
Jagad untuk menikmati musik di hadapan DJ.

***

Ratu-buku.blogspot.com
77
Part 17

Rumah, oleng

Pfff.... Sampai rumah dengan aman, nggak ada razia polisi di


jalan. Well, mungkin ada tapi mobil Priyayi nggak
melewatinya. Priyayi menjawil lengan Jagad, mengisyaratkan
untuk keluar dari mobil. Jagad sudah oleng, meskipun masih
bisa berjalan sendiri. Priyayi yang memegang kemudi pulang.
Priyayi sendiri merasa tubuhnya berjalan setengah melayang.
Kalau nggak ingat salah satu sari mereka harus menyetir,
bisa jadi Priyayi habis-habisan tadi sebagai pelampiasan rasa
suntuknya mikirin Jimmy. Tapi berhubung Jagad yang
kelihatannya jauh lebih suntuk, ya sudahlah... Dia ngalah....

Bruukk! Kaki Jagad terantuk sofa, sekalian ia menjatuhkan


tubuh di atas sofa. Priyayi mengambil bongkahan kecil es
dari kulkas, menempatkan dalam mangkok dan menyodorkan
kepada Jagad. Ia duduk di sebelah Jagad dan mengulum es
batu dalam kegelapan. Hanya lampu teras yang menerobos
jendela menyisakan cahaya tipis.

"Kumala nggak rela waktu kamu ikut pulang," gumam Priyayi.

"Thanks you for everything," gumam Jagad.

"Terima kasih udah sangat baik ke aku selama ini."

Priyayi tersenyum. "Sama-sama, kamu juga begitu kan ke


aku."

Ratu-buku.blogspot.com
78
Jagad mengambil tangan Priyayi dan menggenggamnya. Dan
nggak sampai berhenti di situ. Tangan Jagad menelusuri
lengan Priyayi hingga merambah bahu. Karena Priyayi hanya
diam saja, ia meneruskan ke punggung Priyayi. Aroma parfum
dan aroma tubuh cowok di sebelahnya malam ini terasa
menggugah penciuman Priyayi. Mungkin karena lagi nggak
sadar seratus persen. Priyayi memejamkan mata.

"Kulitmu sehalus bayi," bisik Jagad di telinga Priyayi. Darah


memompa jantung Priyayi lebih cepat. Dorongan dasar
mengabaikan semua. Dalam hitungan detik, bibir mereka
bertemu. Sengatan itu membuat masing-masing menginginkan
lebih.

Dan entah siapa membimbing siapa, mereka sampai di tempat


tidur Priyayi. Mungkin refleks instingtif keduanya yang
menginginkan space lebih besar. Dan nyaman.

Dan terjadilah.

***

Pagi, mengejutkan dunia

Dor, dor, dor!

Bunyi pintu digedor. Sebenarnya sih, sebelum berubah


gedoran, suaranya berupa ketukan, tuk, tuk, tuk. Karena
pintu nggak terbuka juga, akhirnya suara berubah lebih
mengentak.

Ratu-buku.blogspot.com
79
Priyayi terbangun. Pusing langsung menyambutnya. Aduh....
Dia terduduk dengan memegangi selimut menutupi dada. Dia
melirik Jagad yang tidur terlentang di sebelahnya.

Dor, dor, dor!

Mata Priyayi membelalak. Dia nggak sempat mencerna apa


yang ia dan Jagad lakukan, kepanikan keburu menyergapnya.
"Ya ampun! Aduh, aduh!" dia bergegas berdiri, mengabaikan
hantaman pusing, kebingungan mencari baju. Ia membuka
lemari dan menyahut kaus dan celana rumah.

"Mereka udah jemput! Mampus, mampus!" Sesuai rencana,


pagi ini keluarga Priyayi minus Restu mengunjungi Oma-Oma
Priyayi.

Jagad terbangun oleh suara-suara Priyayi. "Siapa?" Suaranya


sangat serak. Tangannya memegang kepala, hangover, lantas
menelungkupkan badan dan menenggelamkan kepala di bawah
bantal. Matanya nggak bisa membuka.

Dor, dor.....

"Iya, iya, sebentar!" Priyayi tergopoh-gopoh membuka pintu.

"Astaga! Baru bangun? Belum apa-apa sama sekali?" tegur


Mama kesal.

"Maaf...," sahut Priyayi pelan dan memberikan jalan kepada


kedua orangtua dan kakeknya untuk masuk. Tenggorokannya
tercekat.

Ratu-buku.blogspot.com
80
"Ya sudah, buruan, kamu tunggu," ucap Papa. "Dandannya di
mobil saja." Mama menimpali.

Mereka duduk di sofa depan. Buru-buru Priyayi ke dalam.


Ups.... Ia segera menyepak sandal Jagad ke kolong sofa di
ruang tengah. Maklum, nggak ada dinding antar ruang kecuali
kamar tidur dan kamar mandi.

"Cari siapa, Pak, Bu?" suara Papa.

Priyayi mengernyit. Ada tamu?

"Kami mama-papanya Jagad...."

Mata Priyayi membelalak bersamaan dengan mulutnya


menganga lebar. Ortunya Jagad?! Bagaimana bisa?!

"Jagad? Di sini rumah Priyayi, anak saya...."

"Priyayi ya namanya. Jagad memang tinggal sementara...."

"HAAA?" Mama, Papa, dan Kakek Priyayi terkaget-kaget.


Orangtuanya Jagad belum menyadari bahwa Priyayi itu
cewek, jadi mereka mengira kagetnya ketiga orang tersebut
disebabkan ketidaktahuan.

"Oh, anak Anda belum memberitahu, ya?" Bersamaan dengan


itu, Priyayi muncul.

"Yayiikk! Coba jelaskan semua ini!" Mamanya berteriak


tegang.

Ratu-buku.blogspot.com
81
"Haaa?" gantian orangtua Jagad melongo kaget.

"Yayik.... Priyayi?" tanya Mama Jagad.

"Ya ampun! Jadi Jagad serumah dengan....." Papa Jagad


menunjuk Priyayi kemudian menoleh kepada orangtua Priyayi.

"Kami tidak tahu. Bapak-ibu juga tidak tahu, kan?"

"Jagad itu pacarmu?" selidik Papa Priyayi.

Priyayi sontak menggeleng. "Nggak. Kami berteman. Jagad


menyewa kamar belakang. Teman-temannya nggak ada yang
kasih tumpangan sementara kosnya direnovasi sedangkan ia
udah bayar full dan duitnya nggak bisa balik...."

"Tetap saja nggak bisa begitu!" hardik Mama Priyayi. Si


Kakek hanya diam, tapi pandangannya tajam ke arah cucunya.

"Ma..." rengek Priyayi.

"Duh, kenapa Jagad nggak bilang. Maafkan anak kami.


Maaf....." ujar Papa Jagad merasa malu, kemudian bertanya,
"Sekarang mana Jagad? Biar kami bicara dengannya."

Badan Priyayi panas-dingin. Wajahnya sangat tegang.


Hidupku usai hari ini! Bagaimana ini?! Sekarang Jagad ada di
kamanya dan begitu Jagad keluar, akan terlihat dari sudut
ini. Apa ku bilang saja dia menginap di rumah temannya?

Ratu-buku.blogspot.com
82
"Jagad...." Belum selesai Priyayi ngomong, Jagad keluar dari
kamar.

Mati sudah!

"Apa ap...." Jagad nerusin ucapannya, berganti dengan


melongo karena kaget luar biasa mendapati siapa saja yang
tengah memandangnya nanar.

Ketegangan menyelimuti ruangan.

"Ehh.... Emm...." Priyayi berujar terbata-bata. "Jagad main


game semalaman di komputerku....

"JANGAN BOHONG!" Kelima orang berseru berbarengan.

***

Ratu-buku.blogspot.com
83
Part 18

Menjelang siang, terkuak

Selanjutnya penjelasan yang dapat menggambarkan reaksi


lima orang tamu di rumah Priyayi adalah shock, kaget,
melongo, tercengang.... Kelompok arti kata semacam itulah.
Dan gambaran itu masih di selingi dengan komentar: astaga,
ya ampun, ya Tuhan dan gelengan kepala serta tatapan mata
bikin panas-dingin mendengar pengakuan Priyayi dan Jagad.

Mama Priyayi melengos, dalam hatinya sangat menyesal dan


gregetan karena dulu pernah kemari dan dikibuli dengan
mudahnya oleh putri tercinta. Coba waktu itu Mama nggak
langsung percaya....

Mama dan Papa Jagad merasa wajah mereka nggak


berbentuk lagi. Selain malu, mereka seperti mendapatkan
lemparan bumerang, karena awalnya mereka datang untuk
memberi kejutan kepada anaknya yang berulang tahun hari
ini. Ternyata malah mereka sendiri yang mendapat "kejutan"
dari sang anak.

Jagad? Dia sampai lupa hari ini adalah hari ulangtahunnya. Ia


merasa semua bergerak terlalu cepat, mulai dari pacarnya
yang membekukan hubungan, malam gila-gilaan, tidur dengan
Priyayi yang notabene sahabatnya dan pacar lelaki lain,
hingga pagi ini memperoleh kunjungan dari orangtua yang
berujung hunjaman.

Ratu-buku.blogspot.com
84
Sementara pikiran Priyayi terbelit-belit kayak bola benang
yang dimainkan kucing garang, sudah ruwet harus ditambah
terbentur-bentur bikin stres!

"Kalian menikah!" Gantian kakek yang berseru.

"Apaaa?" sergah Priyayi, tercengang. Tiba-tiba Kakek


menghampiri Priyayi dan membentuk gerakan.....

PLAAAKK!

Kakek menampar Priyayi! Saking terkejutnya, semua hanya


tercengang menahan napas. Kepala Priyayi tertunduk dalam-
dalam, matanya tidak bisa ditahan untuk tidak basah.

"Udah punya pacar berani tidur dengan laki-laki lain?! Kamu


serong, hah?!" Kakek menggunakan istilah jadul dari kata
selingkuh. "Mana kehormatanmu sebagai perempuan, hah?!"

"Itu cuma kehilafan dan hanya itu. Nggak ada yang lain!"
sahut Priyayi meyakinkan Kakek. "Nggak akan ada yang lain!"

Kakek membentuk gerakan yang sama sekali lagi, tangannya


melayang siap menampar. Jagad secepat mungkin beringsut
ke depan Priyayi, menutupi badan Priyayi dari jangkauan
tangan Kakek. "Saya, Kek. Pukul saya, jangan Yayi....."

Lagi-lagi suasana dicekam keheningan. Kakek menatap nanar


Jagad. Napasnya tersengal-sengal. Papa Priyayi segera
menenangkan keadaan.

Ratu-buku.blogspot.com
85
"Sebaiknya pembicaraan ini disudahi dulu," ucap Papa Priyayi.
Ia membuka dompet dan mengulurkan kartu nama kepada
Papa Jagad. Mereka bertukar kartu nama.

Celeguk. Priyayi dan Jagad menelan ludah. Melihat papa


mereka seperti melihat transaksi bisnis. "Hari ini Jagad
kami pastikan segera pindah. Iya kan, Gad?!" tegas Papa
Jagad. Padahal Jagad memang berencana balik ke kosnya
hari ini. Waktunya kalah cepet dengan mereka, rutuk Jagad
dalam hati menyesali.

Setelah orangtua dan Kakek Priyayi pergi, Priyayi permisi


kepada orangtua Jagad untuk masuk ke kamar. Jagad
memandang pintu kamar Priyayi dengan khawatir.

"Kenapa bisa ceroboh begini, Gad...." keluh mamanya. Beliau


kemudian menyerahkan kotak bungkusan kepada Jagad. "ini
kue ulang tahunmu, bikinan Mama. Selamat ulang tahun."

"Eengg.... Sebentar....," cetus Jagad dan menyusul Priyayi ke


kamar.

Orangtua Jagad berpandangan dengan tatapan bingung,


bertanya-tanya. Papa Jagad berbisik kepada istrinya. "Anak
zaman sekarang, pacaran dengan yang bukan sulit dibedakan
ya, Ma...."

Sementara itu di kamar, Priyayi sesenggukan. "Ini pertama


kali Kakek menamparku..."

Ratu-buku.blogspot.com
86
Jagad mendekati Priyayi dan menyentuh pipi kanan temannya
yang tadi ditampar. "Sakit, ya?"

"Lebih sakit di sini," sahut Priyayi memegang dadanya.

"Maaf ya, Yi...., maafin aku..." Tangan Jagad menyapu keduan


pipi Priyayi yang basah.

"Huuuu.... Huuuu....!" Priyayi nangis keras di bahu Jagad.


Jagad memeluknya.

Di ruang tengah, orangtua Jagad speechbess.

Larut malam, terjaga

Priyayi duduk menekukkan lutut di atas tempat tidur.


Rambutnya yang mulai gondrong sesekali ia acak-acak. Hmm...
Ia bangkit dan keluar kamar, membuka kulkas dan meraih
kaleng diet coke. Matanya beralih ke piring berisi potongan
blackforest. Kue ulangtahun Jagad yang ke-24 buatan
mamanya. Semenjak anak pertamanya berumur setahun,
mama Jagad memiliki kebiasaan membuat kue sendiri untuk
anak-anaknya kala berulang tahun.

Priyayi menarik kursi pantry dan terpekur di atasnya. Dia


memikirkan Jimmy. Dia malu terhadap dirinya sendiri.
Keadaan berbalik menohoknya. Priyayi membuang napas
keras-keras. Dari sisi hati putihnya, dia memutuskan untuk
tetap jujur mengakui kesalahannya. Namun, dia juga punya
sisi hati abu-abu dan hitam yang bilang bahwa kalau dia jujur

Ratu-buku.blogspot.com
87
soal itu, hubungannya dengan Jimmy terancam bubar. Buat
apa cari masalah?

Dan Kakek.....

Kakek menolak ditemui Priyayi. Bertemu di kantor pun hanya


ngomongin pekerjaan. Yang bikin dia tersiksa adalah
bagaimana Kakek berusaha menghindari kontak mata di
antara mereka. Kakek nggak sudi melihatnya, bahkan demi
masalah pekerjaan sekalipun.

Hhh.... Kok bisa aku tidur ama anak itu.... Priyayi bertopang
dagu, nggak habis pikir mengenai malam itu. Dan kenapa juga
mesti ketahuan Kakek.... Dirabanya pipi sebelah kanan,
teringat salah atu ganjaran Kakek untuk apa yang telah dia
lakukan. Tapi toh itu belum cukup bagi kakeknya.

Priyayi celingukan. Hhh.... Sepi, nggak ada teman serumah


lagi. Situasi balik kayak dulu lagi. Ada sedikit kekosongan
melandanya, tapi ia meyakinkan dirinya besok juga perasaan
itu akan sirna dengan sendirinya.

***

Ratu-buku.blogspot.com
88
Part 19

Pulang kerja, menjenguk

Sepulang dari kantor, Priyayi langsung melajukan mobilnya ke


rumah orangtuanya. Tadi Mama menelepon memberitahu
bahwa Kakek batal ke kantor karena sakit. Meeting yang
sudah terjadwal pun ikutan batal.

"Yik, sebaiknya jangan ketemu Kakek dulu deh. Dia masih....


Emm.... Tahu sendiri kan....," cetus Mama.

"Aku cuma ingin menjenguk, ingin tahu keadaannya."

"Mama ngerti, Mama cuma khawatir pikiran Kakek kembali


nggak tenang kalau bertemu kamu. Karena sesungguhnya
cuma kamu yang Kakek pikirin. Maksud Mama.... Tentang
kejadian itu...."

Wajah Priyayi muram. Disodorkannya tas plastik yang


dipegangnya kepada Mama. "Buah untuk Kakek. Bilang aja
Mama yang beli, biar dia mau makan. "Lantas Priyayi
beranjak mau pergi.

"Yik...."

"Apa, Ma?"

"Mama dan papamu pelan-pelan kasih pengertian dan


membujuk kakekmu untuk mau memaafkan dan melupakan
kejadian itu. Tapi tahu sendiri..... Kakekmu keras kepalanya

Ratu-buku.blogspot.com
89
minta ampun, apalagi yang diributin masalah kehormatan,
harga diri, apalah itu...."

"Makasih, Ma, untuk bikin aku nggak makin tersudut."

"Apa un kesalahanmu, selama kamu menyesalinya, mama dan


papamu akan menganggap itu berlalu, cuma sedikit masa lalu.
Masih banyak yang lebih baik di depan."

Priyayi menatap mamanya. Di balik keketusan dan


kecerewetan, Mama tetaplah seorang ibu yang takkan tega
melihat anaknya sedih terus-terusan. Priyayi memeluk
mamanya sebelum kemudian berlalu pulang.

Di depan rumah ia berpapasan dengan Restu yang baru


datang.

"Nah, ini dia tokoh bulan ini. C'mon, i'll treat you. Mama
kunci mobilmu?" todong Restu sembari menggeret adiknya.

Rumah, membawa kesuntukan

Seperti yang sudah Priyayi duga, ngomongan sama kakak


satu-satunya malah bikin suntuk dirinya. Sembari nyetir
dengan kecepatan yang nggak diinginkan--yang diinginkan sih
bisa ngebut, tapi apa daya kalau macet gini--Priyayi
terngiang komentar nyebelin si kakak tadi.

"... Kayak listrik...., hubungan singkat arus listrik


menimbulkan kebakaran. Nah seperti itulah yang kamu alami.

Ratu-buku.blogspot.com
90
Hubungan pendek memicu kebakaran jenggot semua yang
tahu, hehe...."

Huu.....uh.... Priyayi kian bete dengan teori listrik dari Restu


yang dilontarkan kepadanya ke kafe tadi. Belum lagi
ditambah celetukan "emang enak jadi cucu kesayangan!".

"Anak itu kapan dewasanya?!" omel Priyayi dan nggak


merhatiin kalau dia sudah melewati rumahnya sendiri.

"Eiiit.... Bodoh!" rutuknya. Dia lantas memundurkan mobilnya.


Ternyata di depan pagar sudah menunggu seseorang,
nangkring di atas motornya, menyeringai geli.

"Kok bisa lupa rumah sendiri sih?"

Priyayi meringis. "Ngelamun. Eh, udah lama nunggu?" "Nggak.


Nggak merhatiin. Aku terlarut dalam kesendirian...."

Priyayi terkikik. "Lagi berhati Samsons nih..." Maksud Priyayi


adalah grup Musik Samsons. "Yi, aku mikirin kamu dengan
Jimmy. Kalau hubunganmu hancur gara-gara aku, aku bakal
merasa amat sangat bersalah."

Priyayi menghela napas, matanya menerawang ke depan.


Mereka duduk bersisian di teras. "aku belum ketemu, belum
bilang apa-apa....."

"Kalau dia ingin menghajarku atau membunuhku, kasih tahu


aja alamatku, oke?"

Ratu-buku.blogspot.com
91
Priyayi tersenyum, kemudian raut mukanya kembali serius.
"Aku menimbang-nimbang, mungkin aku nggak perlu bilang,
seperti dia nggak bilang apa-apa soal Bianca. Tapi....
Entahlan, aku belum tahu harus bagaimana."

"Memang dia beneran ada apa-apa dengan Bianca?"

Priyayi mengedikkan bahu. "Insting wanita." Ia lantas


menoleh ke arah Jagad. "Kamu sendiri dengan Mila gimana?"

"Mmm.... Nggak berharap lagi, Yi. Mungkin lebih baik putus.


Lebih baik bagi dia."

"Hah?" Priyayi mengernyit.

"Aku sendiri...., dalam kasusku, aku memutuskan nggak akan


bilang soal yang kita lakukan. Hubunganku udah buruk dan
aku nggak mau menambah kebenciannya padaku."

Melihat Priyayi terpekur, Jagad menambahkan. "Jangan


kamu samakan dengan hubungan kalian. Prinsip, cara berpikir,
dan caraku memandang hubungan cinta antara aku dan Mila
tentu lain denganmu dan Jimmy."

Priyayi menghela napas, matanya menerawang. "Kalau


diingat-ingat.... Yang kemarin itu kesalahan, kehilafan dan
membuat semua jadi kacau. Aku dengan Jimmy dan Kakek,
kamu dengan Mila..."

Jagad memandang Priyayi dan melontarkan pertanyaan


dengan hati-hati.

Ratu-buku.blogspot.com
92
" Yayi, apa kamu terluka? Sakit hati ke aku, soal yang kita
lakukan?"

"Kalau aku sakit hati, udah dari tadi aku menendangmu


sampai ke neraka," jawab Priyayi.

Jagad meringis, lantas menyenggol siku Priyayi. "Hei, semua


kekacauan ini jangan ditambah dengan ketegangan di antara
kita ya, karena cuma itu hal baik yang kupunya selain
keluarga."

Priyayi menatap Jagad. "Kalau terus saja terpaku


memikirkan dan menyesali itu, kapan kita maju untuk
melanjutkan hidup? Walaupun untuk kesalahan itu berarti
kita harus siap menerima konsekuensinya. Begitu, kan?"

***

Ratu-buku.blogspot.com
93
Part 20

Matahari terbit, suplai oksigen

Begitu, kan?

Priyayi terngiang omongannya sendiri. Begitukah? Kalau bisa


melanjutkan hidup dengan segala kensekuensinya, lantas
kenapa enggan dan belum bertemu Jimmy padahal sudah
kangen setengah mati?

Memikirkan itu, Priyayi menambah kecepatan larinya hingga


di belokan dia nyaris bertubrukan dengan tukang bubur
ayam. Masih mending kalau tukangnya, ini gerobaknya, bo!
Priyayi menjerit, si penjual meloncat kaget. Untungnya beliau
ini sigap banting setir. Lho, kok setir?! Mana ada gerobak
pake setir?!

"Neng? Neng nggak apa-apa?" Si penjual sebenarnya yakin


Priyayi nggak apa-apa, cuma si neng ini berdiri bengong
kelamaan di depannya.

"Oh, ya, ya. Mau deh, Bang, buburnya, satu bungkus."

"Hhh..... Pikiran error bikin keselamatan terancam nih,"


gumam Priyayi. Suplai oksigen ternyata nggak mampu
mengurangi ke-error-annya.

Itu ternyata belum seberapa. Sampai di rumah, ponselnya


mencatat ada telepon dari rumah papanya. Ia lantas
menelepon balik. "Kakek masuk rumah sakit, kritis."

Ratu-buku.blogspot.com
94
ICU, muram

Hari kedua di rumah sakit, Kakek masih belum sadar.


Beberapa rekan kerja Priyayi yang menjadi bawahan langsung
Kakek datang menjenguk.

Hari ketiga, kala Priyayi hanya berjaga sendirian, ia duduk


memandang sedih wajah sang Kakek yang belum bangun juga.
"Kek, jangan mati karena aku...."

Papanya bilang semenjak pulang dari tempat Priyayi waktu


itu, kakeknya menjadi murung, sering nggak mau makan,
menolak minum obat, nggak beristirahat teratur, sering
uring-uringan, dan berulang kali mengatakan kekecewaannya
kepada Priyayi.

Kepala Priyayi jadi pening. Kakek stres karena dirinya!

Hari keempat Jimmy datang menemui Priyayi di rumah sakit.


Ia memang belum tahu sosok-sosok di keluarga Priyayi, tapi
ia tahu Priyayi dekat dengan kakeknya. Mereka berbicara
pelan di koridor depan kamar.

"Jim, maaf aku belum menghubungimu....."

Jimmy menyela, " it's okay. Aku cuma memastikan kamu


jangan sampai drop, dan memastikan kamu bisa
mengandalkanku kapan saja."

Priyayi menatap tajam mata Jimmy. Tenggorokannya


tercekat, rasanya ingin menangis. "Makasih banyak."

Ratu-buku.blogspot.com
95
Priyayi diam untuk melegakan tenggorokannya sebelum
berkata lagi. "Jim, sebenarnya ada yang ingin ku...."

Ucapan Priyayi terinterupsi seruan mamanya di ambang


pintu. "Yik, kakek sadar."

Priyayi bergegas masuk kamar, meninggalkan Jimmy di


koridor.

"Kakek manggil kamu," bisik mamanya. Priyayi duduk di tepi


tempat tidur, menunduk mendekat ke wajah Kakek.

"Menikahlah, Kakek baru tenang..." Kakek nggak


mengeluarkan suara, hanya gerak mulut yang diucapkannya
dengan susah payah.

Wajah Priyayi menjadi makin pias. Aku punya andil besar


menentukan nasib Kakek! Sebenarnya sempat berkata-kata,
dokter dan perawat masuk dan memeriksa Kakek. Priyayi
keluar.

"Jim, kita harus bicara."

Senja, sedih

"Kalau nggak ingat ini di rumah sakit dan kamu yang stres
mikirin kakekmu, sudah pasti aku meledakkan kemarahanku
sekarang. Aku marah banget, Yi!"

Keterusterangan Jimmy menjawab keheranan di benak


Priyayi akan "ketenangan" Jimmy menerima hal yang baru

Ratu-buku.blogspot.com
96
saja sampaikan, karena sudah menjadi sifat Jimmy yang
menyalurkan kekesalan secara langsung. Dan kadang.... Ehm....
Berlebihan....

"Sudah cukup pahit kamu tidur dengan laki-laki itu. Tapi


ternyata masih ada sentuhan akhir....

Kamu disuruh kawin segala! Ini gila!" Bahasa tubuh Jimmy


menunjukkan kegalauan. "Aku harus ngerokok, ayo keluar."

Priyayi setengah berlari menyusul Jimmy yang ngeloyor


keluar kawasan rumah sakit. "SIAL!"

Priyayi melonjak kaget, sekian menit dalam diam, tiba-tiba


Jimmy mengumpat keras. "Seharusnya aku nggak permitif!
Seharusnya aku nggak ngizinin kamu menampung laki-laki
itu!" Tampang Priyayi sudah lebih dari memelas seharian ini.

"Jim...." Priyayi menelan ludah berkali-kali. Dia lelah meminta


maaf dan mungkin Jimmy juga sudah bosan mendengarnya,
tapi hanya itu yang bisa Priyayi lakukan sebagai cara
menunjukkan penyesalannya.

Priyayi menghabiskan iced latte yang dipesan di coffe shop


seberang rumah sakit, sementara Jimmy mengisap
berbatang-batang rokok.

"Kakek segalanya bagiku. Dia dan Nenek yang mengasuhku


saat Papa bertugas ke pelosok Kalimantan dan Mama
menyusul, aku masih SD dan Restu SMA. Restu mungkin
sudah kenyang kasih sayang Mama dan Papa, tapi aku masih

Ratu-buku.blogspot.com
97
sangat kurang. Dia juga sangat berperan mendamaikan Papa
dan Mama yang hampir bercerai. Berkas gugatan sudah di
pengadilan dan akhirnya dicabut. Itu karena Kakek."

Tanpa sadar Priyayi memilin-milin ujung kemejanya sampai


kusut. Sekusut wajahnya. "Dia sangat keras hati. Kekerasan
hatinya itu yang menyelamatkan keluargaku...." Priyayi
menatap Jimmy. "Dan aku nyaris bikin dia mati lebih cepat,
Jim...."

"Tapi beliau kan sudah sakit...."

"Dan aku membuatnya tambah parah!"

"Maksudku, belum tentu kamu...."

"Pasti aku!" Priyayi menyela. "Ada dua hal yang membuatnya


sanggup bertahan hidup dengan penyakit aterosklerosis 1
yang menyerang jantung, yang diidapnya sejak lama, yaitu
Nenek dan aku. Nenek sudah nggak ada...., sekarang tinggal
aku."

Priyayi menunduk lesu. "Aku sudah bikin Kakek patah hati."


"Kamu juga bikin hatiku patah," sela Jimmy luar biasa kesal.

_______________
1. Penyakit berupa plak yang menyebabkan penyempitan atau
sumbatan di arteri-arteri tubuh, umumnya menyerang arteri-arteri
utama. Beberapa penyakit yang disebabkan ateroskleresis adalah
penyakit jantung koroner dan stroke.
Sumber: Kompas, 14 November 2006. Judul: Aterosklerosis. Oleh:
Ujoto Lubiantoro

Ratu-buku.blogspot.com
98
"Iya, aku bikin patah hati semua orang. Aku memang
kacau...." suara Priyayi nyaris hilang ditelan perasaan
tertekan.

***

Malam, pernyataan sikap

Jagad meraih ponselnya yang bergetar. Yayi calling.


"Keluarlah, aku ada di luar."

Yayi di luar rumahku? Jagad tergopoh-gopoh keluar rumah.


Priyayi berdiri bersandar pada pintu mobil, kedua tangannya
merapatkan jaket. Alisnya naik. "Hmm.... Kamu tinggal dalam
rumah berantakan begitu?"

Jagad nyengir. "Di dalam nggak begitu berantakan kok. Ada


apa malam-malam kemari? Oya, gimana kakekmu?"

Priyayi membuka pintu mobil. "Kita cari tempat duduk."

"Di dalam mobil.....?" Jagad keheranan.

"Ikut aja dulu."

Mereka sampai di kafe tenda dan duduk berhadapan. Priyayi


menceritakan semua yang terjadi siang tadi, termasuk
keputusan besar yang diambilnya. Keputusan Jagad dari
ketercengangannya.

"Oh, ya..... Anu.... Aku blocking, Yi...."

Ratu-buku.blogspot.com
99
"Mungkin bagi Kakek, lebih baik mati daripada hidup dengan
kehormatan tercoreng." Priyayi menghela napas. "Mengapa
kehormatan hanya dilihat dari sisi itu dengan harga mati?"

"Yi, kalau itu konsekuensi yang harus kita tanggung, aku


nggak bisa berbuat apa-apa lagi."

Priyayi mendesah. "Bukannya mempermainkan arti


perkawinan, tapi mempertaruhkan masa depan kita seperti
ini saja sudah sangat berat...., aku nggak sanggup kalau
menjalani perkawinan secara beneran...."

"Maksudmu?" tanya Jagad.

Priyayi merapikan posisi sesaat. "Aku sudah mikirin ini baik-


baik. Kita nikah di hadapan Kakek, tapi kita tetap
berteman...."

"Maksudmu?" Jagang pasang tampang bingung.

"Iya. Kita serumah tapi menjalani hidup masing-masing,


kayak dulu."

Jagad manggut-manggut. "Begitu, ya?" Priyayi menjawab


dengan anggukan.

"Sampai berapa lama, Yi?"

"Priyayi terdiam agak lama sebelum menjawab. "Sampai


kondisi memungkinkan...." Nada suara Priyayi menggantung
soalnya ia sendiri nggak yakin.

Ratu-buku.blogspot.com
100
"Emm.... Soal Jimmy....?" celetuk Jagad.

Priyayi mendesah. "Aku udah menyakiti dia. Itu pasti. Aku


nangis berhari-hari, tapi rasanya belum cukup. Nggak akan
pernah cukup...."

Jagad menatap Priyayi, dipegangnya bahu cewek


disampingnya itu. "Yi...."

"Ya?" Priyayi menoleh.

"We'll be fine."

Priyayi mengatupkan bibir, nggak yakin.

***

Ratu-buku.blogspot.com
101
Part 21

Mencoba bersikap jantan

Akhirnya Jagad berkunjung ke orangtua Priyayi, menemui


mereka termasuk Kakek Priyayi tentang rencana akan
menikahi Priyayi. Jujur dirinya kedes juga. Tapi demi Priyayi.
Dan demi kebaikannya juga. Karena bisa jadi mereka akan
membawa masalah ini ke pengadilan dan menjebloskan ke
penjara, hiii.....

Jadi mungkin ini jalan terbaik. Sejelek-jeleknya nasib,


paling-paling statusnya jadi nggak single lagi dan nggak bisa
lagi cari cewek lain.

"Saya ingin Kakek, Om, dan Tante tahu bahwa saya beniat
tulus dan serius tentang pernikahan ini. Saya akan
bersungguh-sungguh menjalani dan memberikan yang terbaik
bagi Kakek, Om, Tante dan Yayi," tutur Jagad serius.

Keheningan menyergap. Jagad berkeringat dingin dibuatnya,


tapi jauh-jauh hari dia sudah mempersiapkan diri
diperlakukan yang terburuk. Intinya sekarang, siapa yang
bersalah harus menanggung akibatnya.

"Andai kalian tidak kepergok, apa kamu akan tetap


bertanggung jawab?" Kakek melontarkan pertanyaan
mematikan.

Kenapa mematikan? Karena jawabannya adalah tidak.

Ratu-buku.blogspot.com
102
Priyayi yang juga ada di sana menundukkan kepala, nggak
tega melihat Jagad disudutkan. Tapi dia sendiri nggak mau
mengambil risiko bikin Kakek lebih marah. Jadi dia memilih
diam dan menundukkan kepala.

"Nggak perlu jujur, Gad....., yang penting selamat....," tukas


Priyayi dalam hati. Tidak karena Priyayi juga nggak
keberatan--Yayi lebih memberati pacar yang dicintainya--
apalagi Priyayi nggak hamil. Walaupun dia dan Priyayi sama-
sama nggak menganut gaya hidup one night stand, tapi kalau
tanpa sengaja melakukan hal itu, masing-masing akan
menerimanya sebagai kehilafan, nggak perlu diulangi, nggak
perlu dilanjutkan, nggak perlu.... Seperti ini.

Kali ini keheningan yang ada dibarengi dengan tatapan Kakek


yang luar biasa tajam. Untung deh Jagad mengenakan kaus
polo tipis, keringatnya jadi nggak meninggalkan bercak.....

"Saya serahkan kepada Yayi. Saya nggak pernah memaksa...."

Tiba-tiba Kakek memotong dengan gusar, membuat Jagad


dan yang lain terlonjak tertahan. "Kamu mau bilang Yayi yang
merayumu, yang memaksamu?! Mustahil! Cucuku bukan wanita
gampangan, kamu pasti yang merayunya. Dasar laki-laki
hidung belang...."

"Paaa...." Papa Priyayi menenangkan ayahnya yang geram.

Jagad memejamkan mata sesaat. Sumpah dia nggak terima


dibilang laki-laki hidung belang. Oke, tahan emosimu, yang

Ratu-buku.blogspot.com
103
kamu hadapi ini pak tua kesayangan Yayi yang sakit-
sakitan...., ucap Jagad berulang-ulang dalam hati.

"Saya menyayangi Yayi atas nama hubungan apa pun.


Masalahnya kalau dia bersikap sebaliknya, saya nggak bisa
memaksakan diri," tukas Jagad dengan nada suara rendah,
lebih ke nada pasrah. "Saya bukan orang seperti yang Kakek
sebutkan. Percayalah. Untuk itu saya datang kemari."

Entah percaya atau nggak, bagi Jagad yang penting dia


sudah berusaha menunjukkan sikap jantan.

Keluar dari rumah orangtua Priyayi, dia bisa melonggarkan isi


dadanya sedikit. Huuff.... Dadanya belum bisa longgar lebih
banyak karena memang masih ada satu hal yang mengganjal.
Syamila.

Jagad bingung mesti gimana. Di luar perkiraannya sendiri,


yang dituduhkan Syamila menjadi kenyataan, padahal dulu
dirinya mati-matian membantah. Waktu itu memang begitu
adanya kok.

Jagad ingin sekali bertemu mantan kekasihnya untuk


mengatakan hal itu dan mengatakan bahwa Mila-lah yang ia
cintai. Tapi tentu saja itu perbuatan laki-laki hidung belang--
mengutip kata-kata Kakek Priyayi--jika seorang laki-laki
bilang cinta ke seorang wanita tapi di saat bersamaan mau
menikahi wanita lain. Jagad jelas ogah. Ogah dibilang laki-
laki hidung belang.

Apa aku benar-benar berhidung belang, ya.....? Pikir Jagad.

Ratu-buku.blogspot.com
104
"Hei..." Priyayi menyusul Jagad di depan rumah.

Memandang Priyayi, Jagad memutuskan untuk


berkonsentrasi pada apa yang ada di depannya terlebih
dahulu. Yang lain nanti aja dipikirin.

"Sori ya kalau kamu tersudut, jangan dimasukin ke hati,"


tukas Priyayi.

Jagad ngangkat bahu berujar, "Aku lagi ngaca di spion, mau


lihat apa hidungku memang belang."

Priyayi tertawa.

"Yi, lebih baik kalau persiapan pernikahan kita lakukan


bareng-bareng, biar kamu nggak kerepotan sendiri....."

Priyayi cepat-cepat menggeleng. "Udah kubilang, nggak perlu.


Aku sendiri sanggup kok."

"Yakin?"

Priyayi mengerjapkan mata." Yakin, Pak."

Jagad menatap Priyayi. " Kenapa sih nggak mau bantuanku?"

Priyayi menggeliat sejenak sebelum menyahuti dengan hati-


hati. "Hmm.... Aku merasa kita kayak.... Pasangan beneran
kalau mengurusi itu bersama. Jadi, bukannya aku nggak
menghargai niatmu membantu...., cuma ya itu tadi....,
maksudku kita bukan seperti itu...."

Ratu-buku.blogspot.com
105
Jagad menyahut. "Oke, aku ngerti kok." ia menjulurkan
tangan menepuk lengan Priyayi. "Itu batasan kita agar nggak
kelewat batas lagi."

"You've got my point, buddy."

"Seandainya nanti kamu benar-benar kerepotan, kamu harus


bilang, oke?"

Priyayi mengangguk. Dalam hatinya ia bertekad nggak akan


meminta Jagad untuk membantu. No way. Membayangkan
mereka berdua bersama-sama membahas soal pernikahan
sudah membuat Priyayi geli dan risi, apalagi kalau di jalani
sungguhan. Ih.

***

Ratu-buku.blogspot.com
106
Part 22

IBARAT moving picture, yang selanjutnya terjadi adalah


gerak gambar yang mengalami percepatan. Gerak
mempersiapkan pernikahan Priyayi dengan Jagad.

Diawali dengan pertemuan orangtua Priyayi dengan orangtua


Jagad. Tentunya dengan Priyayi dan Jagad juga, sumber
segala sumber peristiwa. Duduk bersama, melapangkan dada,
menjelaskan, merencanakan langkah selanjutnya, dan
melaksanakannya.

Hal terakhir inilah yang menjadi kepusingan tersendiri bagi


mama Priyayi. Priyayi menyerahkan segala urusan persiapan
kepada sang mama. Masalahnya adalah Priyayi nggak seratus
persen pasrah begitu saja terhadap keputusan mamanya.
Ada saja yang membuat mereka lantas berdebat
berkepanjangan. Inti persoalan utamanya hanya satu, Mama
Priyayi menginginkan perhelatan besar, sedangkan Priyayi
menginginkan sebaliknya. Nah, inti satu itu kan membawahi
tetek-bengek kecil lainnya!

Huh, kayak kawin beneran aja dibuat gede-gedean, gerutu


Priyayi dalam hati. Lha, padahal orang-orang memang
menganggap begitu, kan?!

Teras belakang, curhat

"Untung kamu bisa datang, Ran. Urat-uratku hampir putus


semua ngotot-ngototan terus sama anak sendiri," keluh
mama Priyayi kepada Rani, sang adik perempuan yang rela

Ratu-buku.blogspot.com
107
linta pulau, buru-buru datang setelah mendengar kehebohan
yang dibuat Priyayi. Selain bertujuan untuk ikut membantu,
juga untuk menyaksikan secara langsung gimana kehebohan
tersebut. Rani bekerja di perusahaan PMA yang bergerak di
bidang mineral di Sulawesi.

"Yayik itu kan anak perempuanku satu-satunya, satu-satunya


kesempatan untuk bikin pesta perkawinan, masa cuma
dirayain sederhana. Anakku nggak mengerti perasaan
mamanya satu-satunya. Sedih...."

Rani mengernyit, pasti akhir-akhir ini kakakku kebanyakan


menghafal dialog sinetron dengan kata "satu-satunya" nih,
celetuk iseng Rani dalam hati. "ya udah, nanti pas
pernikahanku aja kelak, dirayain gede-gedean. Usiaku kan
cuma selisih setahun ama Restu. Anggap aja aku anak
sulungmu. Jadi dirimu mewakili ibu kita, oke," hibur Rani
makin iseng.

"Huh, lagakmu, Ran! Kelak, kelak! Kelakuan aja yang ada!


Sekarang malah keduluan keponakan sendiri!" semprot
kakaknya itu.

"Satu-satu dululah.... Nanti aku menyusul, tenang aja!" Rani


berkelit sambil cengar-cengir. Kafe, curhat

"Untunglah Tante datang. Aku jadi punya back-up


menyakinkan Mama," ujar Priyayi kepada tantenya.

Rani menyeringai karena nada yang sama ia dengar belum


lama berselang. Dan kalimat aja persis, nggak heran deh ibu-

Ratu-buku.blogspot.com
108
anak kadar ngototnya juga persis! "Siapa bilang aku jadi
back-up kamu."

"Hah?"

"Aku jadi penengah aja, oke."

Priyayi langsung cemberut mendengar jawaban tante


tercintanya.

"Yi, mamamu cuma ingin menunjukkan kebanggaannya


terhadapmu. Cuma caranya aja begitu....."

Priyayi langsung menampik. "Gimana bisa membanggakan


perkawinan karena "kecelakaan" seperti ini! Heran deh!"
tangan Priyayi membentuk tanda kutip saat mengucapkan
kata "kecelakaan". Rani tidak bisa menyembunyikan rasa
gelinya.

"Jangan cengar-cengir begitu!" Priyayi makin sewot. Rani


makin melebarkan senyum.

"Tahu nggak, leherku sampai capek kebanyakan geleng-


geleng kepala mendengar kehebohan yang kamu buat. Aku
terheran-heran bin takjub, Yi! Ternyata kamu bisa juga bikin
heboh keluarga, apalagi membakar jenggot kakekmu,
hihihi...."

Priyayi geleng-geleng kepala. "Ya ampun, teganya Tante


tertawa di atas penderitaan keponakan sendiri...."

Ratu-buku.blogspot.com
109
"Oh, kamu menderita?" Alis kiri Rani naik. "Bukannya kamu di
suruh nikah karena mulanya melakukan perbuatan yang bikin
keenakan... Bagian mana yang menderita?" Rani meledek
Priyayi habis-habisan.

Priyayi gemas bukan kepalang. "Hei, tante iseng! Jangan sia-


siakan biaya, waktu, dan tenagamu yang telah tante habisin
buat kemari hanya untuk kegiatan iseng macam begini,
mending Tante manfaatin sebaik-baiknya dengan
membantuku, setuju?!"

Priyayi menjinjing tasnya dan berdiri.

"Heh, mau kemana? Ngambek, ya?" tanya Rani.

"Ngambekku udah habis dari kemarin-kemarin. Aku harus


menghubungi satu orang lagi, daah...." Priyayi ngeloyor pergi
meninggalkan si tante yang garuk-garuk kepala.

Sore, terkaget-kaget

Satu orang dimaksud Priyayi, ia temui di sebuah pusat


kebugaran. Sore ini mereka mengambil kelas taebo.
Sebenarnya Priyayi lagi nggak mood membasahi tubuhnya
dengan keringat, namun demi bisa melobi orang satu ini yang
gila olahraga, ya apa boleh buat.

Sejam kemudian mereka melakukan "pendinginan" di dalam


kafe ber-AC terletak bersebelahan dengan pusat kebugaran.
Di tempat inilah Priyayi bertutur semua.

Ratu-buku.blogspot.com
110
Yasmin tercengang dengan penuturan Priyayi soal pernikahan
tiba-tibanya. Priyayi memang belum memberitahu teman-
temannya. Ia sendiri saja masih dalam tahap "mencoba
menerima kenyataan" yang dirasakan berat.

"Dalam aspek jurnalis ada enam poin utama yang harus


diajukan untuk meliput sebuah berita. Pertama adalah....
Why??" Mata Yasmin membesar.

"Heh, maksudmu 5W dan IH, what, when, where, who, why,


how?!" Priyayi segera tanggap apa yang dimaksud Yasmin.
Yasmin mengangguk mantap, sementara Priyayi malah
memajukan bibirna.

Yasmin meringis. " itu yang ada di benakku...."

"Oke, kalau itu maumu." Priyayi menegakkan tubuhnya.

"What? Adalah pernikahan sederhana, nggak usah ada apa-


apa dan aku butuh kamu untuk menyakinkan Mama dan
membantu persiapan. Who? Aku dan Jagad. Where? Di
rumah saja. When? Mungkin satu-dua bulan lagi...."

"Wow, cepet banget!" sela Yasmin melengking, ia lalu


merendahkan suaranya. "Why-nya bukan gara-gara serumah
terus hamil, kan?"

"Nggak, aku sudah periksa...." tangkis Priyayi spontan yang


bikin Yasmin tercengang. Mulutnya menganga. Mulut Priyayi
juga menganga menyadari ketololannya telah keceplosan
begitu saja. Ups.

Ratu-buku.blogspot.com
111
"Astaga! Astaga! Kamu ama Jagad?! Ya ampun! Padahal tadi
aku cuma iseng karena nggak mungkin...."

"Ssst... Pelanin dikit suaranya," sergah Priyayi seraya


menutup mulut Yasmin dengan tangannya untuk meredam
reaksi heboh temannya itu.

"Katamu ini bukan keinginan kalian, tapi kok bisa begitu?"


celetuk Yasmin yang membuat muka Priyayi terasa panas.

Semula Priyayi memang menyensor adegan kepergok tidur


bersama Jagad. Ia hanya bercerita kakek dan ortunya
akhirnya tahu Jagad numpang di rumahnya dan sudah
dianggap berhubungan serius. Namun berhubung keceplosan,
ya apa boleh buat, Yasmin jadi tahu deh.

"Aku dan Jagad sama-sama mabuk sepulang dari tempat


Mala. Waktu itu kami sama-sama ada masalah. Kakek shock,
mogok makan. Mogok minum obat hingga terkapar begitu.
Makanya harus segera direalisakan, takut keadaan Kakek
makin buruk."

Yasmin bengong. Priyayi jadi tambah malu dengan reaksi


sahabatnya yang kayaknya shock juga. "Itu jawaban how-
nya....." celetuk Yasmin mengambil kesimpulan.

"Aku sebenarnya malu banget harus cerita ini ke kamu,


Yas....."

"Oke, tenang, i won't tell anyone," sahut Yasmin


menenangkan. "Aku bersedia kok jadi organizer kawinanmu."

Ratu-buku.blogspot.com
112
Mata Priyayi berbinar. "Makasih, Yas! Kamu tahu aja
keadaanku. Aku lagi pusing bikin acara peresmian lapangan
basket yang baru, masih harus ditambah skandal ini, hhh...."
Priyayi memeluk Yasmin. "Aku nggak akan ngelupain jasamu
yang satu ini, suer!"

"Umm.... Jadi kamu ngelupain jasa-jasamu yang lain, begitu?"


seloroh Yasmin manyun.

Priyayi menyeringai.

"Entah kenapa kalau soal itu, tiba-tiba aku terserang


amnesia," gurau Priyayi. " You're the best."

"Huh, ngerayu," celetuk Yasmin kemudian bertanya


penasaran. "Jadi, kalian putus dengan pacar masing-masing?
Gimana reaksi Jimmy?"

Seketika raut muka Priyayi berubah muram.

***

Ratu-buku.blogspot.com
113
Part 23

Simpang jalan, ada kesempatan

Makan nggak enak, tidur nggak ngenyak. Hmm.... Itu tanda


orang jatuh cinta apa patah hati, ya? Yang jelas gejala itu
sedang menghinggapi Jimmy yang menderita patah hati
hafal. Semua terasa nggak berkenan. Bawaanya uring-uringan
atau sebaliknya, sendu berat. Bianca yang kemunculannya
kembali sempat membuat "goyah'', sekarang nggak
memberikan rasa apa-apa lagi, padahal mantannya itu
menambah porsi curahan perhatian dan materi. Mungkin
karena Jimmy sekarang ambruk, jadi nggak perlu goyah lagi.

Jimmy melajukan mobilnya keluar dari parkiran kantor. Jam


kerja belum berakhir, laporan juga belum selesai, tapi Jimmy
memutuskan cabut dari kantor. Suntuk tak tertahankan.
Biasanya jam segini, kalau dia lagi berada di depan komputer,
dia pasti ber-SMS ria dengan Priyayi untuk menghilangkan
kejenuhan.

Hhuuaahh... Jimmy menyalakan batang rokoknya yang


kesekian. Tak berapa lama pikirannya kembali melayang
menjauhi jalanan aspal tempat dia sekarang berada.

Tiba-tiba satu gerakan cepat tepat di depannya tanpa jarak.


Jimmy terkesiat kaget. Untung refleks kaki di atas pedal
rem sangat bagus, hingga moncong mobilnya hanya
menyentuh badan orang itu tanpa membuatnya jatuh.
Untungnya juga, di belakang mobilnya nggak ada kendaraan
lain. Jimmy dengan sigap keluar dari mobilnya untuk memaki-

Ratu-buku.blogspot.com
114
maki orang yang berdiri kaku menenangkan jantungnya, tak
kalah kaget. "Jagad....?"

Makian yang siap untuk disemburkan tertelan kembali ke


alamnya begitu Jimmy tahu siapa orang itu.

Jagad juga sama kagetya. "Lho, Jimmy....?"

"Ngapain berlari-lari di tengah jalan? Ceroboh banget?"


cecar Jimmy, mengangkat kedua tangan dengan telapak
menghadap ke atas. Ujung alis kiri dan kanannya udah jadi
satu!

"Sori-sori! Aku harus ke tempat kejadian secepatnya...."

"Tempat kejadian?" sela Jimmy cepat. Yang terlintas di


benaknya adalah Priyayi. Karena tiap melihat Jagad, yang
terkoneksi di otaknya adalah sosok Priyayi.

"Anak didikku dikeroyok preman di ujung jalan sana!"

"Oh." Jimmy gagu sesaat, kemudian berinisiatif, "Ayo


kuantar." Mereka bergegas nail mobil.

"Dia lagi jalan ke tempat sembari kepalanya celingukan


mengawasi sepanjang jalan. "Nah, itu dia!"

Sampai di tempat kejadian, hanya ada seorang bocah lelaki


tersungkur babak belur. Entah berapa preman yang
menghajarnya. Dari kepalanya keluar banyak darah.

Ratu-buku.blogspot.com
115
"Coba aku datang lebih awal....," gumam Jagad sedih sambil
meraih tubuh bocah itu. Jimmy diam tak berkedip.

"Kita harus ke rumah sakit," ujar Jagad seraya melepas


jaketnya untuk menekan perdarahan di kepala. Bocah itu
dalam keadaan setengah sadar, matanya sangat redup,
mungkin sebentar lagi pingsan. Berdua mereka membopong
bocah itu ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Kaus yang dikenakan Jagad terkena noda darah. Begitu juga
dengan kemeja Jimmy.

"Dia masih anak-anak, masih di bawah umur, kerja di jalanan


yang hasilnya nggak seberapa, eh duitnya dikompas pemalas-
pemalas yang nggak punya motivasi hidup secara benar," kata
Jagad dengan geram.

"Dia pintar matematika. Dia tadi pasti dalam perjalanan ke


tempat belajar kami," gumam Jagad sewaktu menunggu
dokter memeriksa dan mengobati anak tersebut. Dia
pangkuan Jagad ada buku lecek milik si bocah.

Jagad menoleh ke arah Jimmy. "Terima kasih atas


bantuannya. Kamu nggak perlu menunggu di sini, bisa
kutangani sendiri."

"Nggak apa-apa. Kalian butuh tumpangan untuk pulang."

"Sekali lagi, terima kasih banyak."

Mereka kemudian diam, meredakan lelah. "Jimmy...."

Ratu-buku.blogspot.com
116
Jimmy menoleh mendengar namanya dipanggil.

"Maaf....," sambung Jagad.

"Maaf?"

"Iya. Untuk semua kekacauan yang terjadi. Kamu dan Yayi."

"Oh." Jimmy termangu sesaat. Kemudian menimpali, "Sori,


aku nggak bisa maafin."

"Yaah, aku tahu," sahut Jagad lemah. "Yayi dan aku sepakat
untuk tetap hidup masing-masing."

Jimmy menatap Jagad, terkejut. "Apa kamu bilang?"

"Yayi belum bilang?"

Jimmy menggeleng kepala.

Jagad menjelaskan lebih lanjut, "Aku tetap menghuni kamar


belakang, seperti dulu. Hubungan kami nggak berubah, tetap
berteman."

"Tetap saja, kan? Kamu dulu juga di kamar yang berbeda,


tapi kalian tidur bersama," seloroh Jimmy sinis.

"Itu kesalahan. Aku nggak akan membiarkan diriku mabuk di


rumah Yayi lagi. Lain kali lebih baik aku tidur di jalan," tutur
Jagad dengan nada sungguh-sungguh. "Dia mencintaimu

Ratu-buku.blogspot.com
117
sampai detik ini. Dia sedang kalut sekarang. Hanya kamu
yang bisa menyentuh hatinya, Jim...."

Malam, keputusan hati

Tok, tok.

Priyayi yang baru saja menutup pintu, membukanya kembali.


Ia terperanjat Jimmy didepannya dengan kemeja terkena
darah.

"Jimmy! Kamu berdarah! Ya ampun!" Priyayi memegang erat


tubuh Jimmy panik. "Oh, bukan, bukan! Ini darah orang....."

Seketika Priyayi menghentikan segala gerakan. "Apa


maksudmu?! Kamu.....?" wajah Priyayi tegang.

"Oke, biar kujelaskan, tapi biarkan aku masuk."

Jimmy menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.


Priyayi menghela napas panjang. "Jadi Jagad nekat
mendatangi preman-preman itu sendirian, tanpa ada bantuan,
terus kalau dia yang kepalanya bocor dikeroyok....?" Nada
ucapan Priyayi perhatin. Aku kilatan cemburu pada sorot
mata Jimmy.

"Yi, Jagad bilang.... Kalian akan hidup sendiri-sendiri...."

"Oh, eh...., hmm.... Yaaa...." Priyayi tergagap. Dalam hati ia


merutuk Jagad yang membuka rahasia mereka.

Ratu-buku.blogspot.com
118
"Hei, aku masih cukup pintar untuk nggak menceritakan ke
orang lain," celetuk Jimmy membaca kekhawatiran Priyayi.

Well, semoga Jagad juga lumayan pintar, celetuk Priyayi


dalam hati. Ia menepuk-nepuk pipinya pelan.

"Dia hanya ingin bilang bahwa di antara kalian memang nggak


ada perasaan apa-apa," lanjut Jimmy yang lantas menggeser
posisinya hingga bisa meraih tangan Priyayi. "Aku
memutuskan akan tetap mempertahankanmu."

Priyayi terpana dengan yang baru saja didengarnya. "Apa....?"


ia menatap mata Jimmy tak berkedip.

"Aku ingin kamu tetap di sisiku...., paling nggak sampai aku


siap untuk merelakan kamu pergi. Beri aku waktu untuk
mempersiapkan perasaanku, Yi."

Bibir Priyayi mengatup rapat, kemudian berkata lirih, "You


have my time." Dipeluknya Jimmy. Rasanya lega sekali.

Menyusuri jalan, lagi-lagi kejutan

"Waahh... Baju-bajunya sooo cute!" Yasmin berseru dengan


mata membesar, dan seperti gerakan refleks, dia
membelokkan langkahnya memasuki butik yang terbentang di
depan matanya.

Beberapa langkah di belakangnya, Priyayi direpotkan antara


membawa tas-tas belanjaan yang lumayan berat dan harus
menerima panggilan ponsel yang beruntun dia terima siang

Ratu-buku.blogspot.com
119
ini. Priyayi meninggalkan urusan kantor gara-gara Yasmin
memaksanya ikut dalam sebagian urusan persiapan
pernikahannya. Efeknya ia seperti sekarang, telepon dari
kantor nggak putus-putus.

"Buat apa kau nyewa kamu kalau aku akhirnya harus ninggalin
kerjaan di kantor?!" protes Priyayi semula. Tapi dia nggak
bisa berkutin lantaran Yasmin mengancam akan melepaskan
bantuannta begitu saja.

"Kamu yang rugi besar, aku nggak rugi apa-apa, weeek." See,
nggak bisa berkutik, kan?

Priyayi celingukan memutar arah tubuhnya hingga 360


derajat. "Huu.... Uuh.... Hilang lagi itu anak, menjengkelkan,"
gerutu Priyayi.

Sejak tadi Yasmin selalu ngeloyor tanpa membritahu dulu


kemana arahnya. Pas ia mau menelepon Yasmin, matanya
menangkap sosok temannya itu di dalam butik baju tidur,
beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Yasmin berdiri
menghadap ke arahnya sambil mengacung-ngacungkan sehelai
pakaian dari balik kaca. Priyayi menghela napad melepas
kejengkelan, lantas menuju ke arah temannya berada.

"Wiii... Lucu-lucu, Yi!" celoteh Yasmin dengan tampang gemas


mematut-matut beberapa model pakaian.

Priyayi menanggapi datar. "Iya, lucu, tapi ini nggak masuk


agenda hari ini."

Ratu-buku.blogspot.com
120
"Aaah... Kamu kayak sekretaris aja! Ayo, di sebelah sana ada
yang sosok untukmu. "Yasmin menyeret Priyayi dan
menunjukkan dua model baju tidur dengan warna dan motif
sama. Berwarna biru langit dengan motif awan putih. Satu
model untuk cowok, satunya lagi untuk cewek.

"Nah, ini cocok untuk kalian berdua. Kelihatan kompak, tidur


seranjang dengan motif sama, hihihi.....," tukas Yasmin penuh
semangat. Priyayi melirik nggak tertarik.

"Kamu beli dong, Yi, bagus nih!" desak Yasmin seraya


merangkul Priyayi.

"Iiih, Yasmin, kami bukan pasangan. Nggak ada lagi acara


tidur seranjang, tahu!" sahut Priyayi mulai jengkel lagi. Mau
tak mau ia jadi membuka rencana rahasianya. Dengan
merendahkan suara ia menambahkan, "Aku dan jagad nggak
bisa jadi pasangan sungguhan."

***

Ratu-buku.blogspot.com
121
Part 24

Mendengar penuturan temannya barusan, Yasmin


menunjukkan gejala shock. Gerakan tubuh, kedipan mata, dan
napasnya terhenti seketika.

"Jadi.... Jadi... Ini semua...." suara Yasmin mengambang.


Bruuukk....

"Yasmin!" pekik Priyayi melihat Tasmin terduduk lemas di


lantai butik.

"Yas, kamu apa-apaan sih?" omel Priyayi sambil menarik


lengan Yasmin untuk berdiri sebelum orang-orang
mengerubuti mereka. Malunya itu lho!

"Aku shock...."

"Iya, tapi berdiri dulu dong."

"Jadi selama ini aku dengan sungguh-sungguh jadi organizer


acara yang ternyata nggak sungguh-sungguh....?"

"Pestanya sungguhan kok. Buktinya kita sebar undangan ke


teman-teman. Aku dan Jagad sungguhan menandatangani
surat-suratnya...."

Yasmin mengibaskan tangan. "Ahhh.... Sudahlah...." Ia lantas


berdiri dan melenggang keluar butik. Priyayi ditinggal begitu
saja sambil geleng-geleng kepala.

Ratu-buku.blogspot.com
122
Selama berjalan, Yasmin hanya diam. Priyayi jadi waswas,
jangan-jangan Yasmin benar-benar nggak mau lagi bantu aku.
Melewati sebuah kafe, tanpa aba-aba Yasmin nyelonong
masuk. Priyayi tergagap sesaat, nggak habis pikir dengan
tingkah Yasmin yang sampai segitunya.

"Oh Tuhan, bantulah aku. Mudahkanlah jalanku, jangan


sampai temanku ini ngambek," gumam Priyayi sebelum
menyusul Yasmin masuk ke kafe.

Setelah duduk berhadapan dengan minuman masing-masing,


Priyayi membuka suara. "Yas...." Yasmin memotong, "Aku
cuma kaget sebentar, jangan khawatir, aku akan selesaikan
semua urusan ini, tapi kamu ceritakan dulu semuanya.
Semuanya. Nggak boleh ada rahasia lagi, ngerti?"

Fiuuh... Thank god, batin Priyayi.

"Iya, iya. Tapi kamu harus simpan rapat-rapat," jawab


Priyayi lantas mulai bercerita.

Selesai Priyayi bertutur, Yasmin geleng-geleng kepala. "Ini


hal paling gila yang pernah kudengar dan aku ikut terlibat di
dalamnya....., kamu gila, Jagad gila, Jimmy juga gila....."

Priyayi mengedikkan bahu sambil menyeruput kopinya. "Demi


hidup kakek, aku nekat apa aja, Yas."

Yasmin memajukan badannya menopang pada meja. " Kalau


kamu nggak sungguh-sungguh dengan perkawinan ini,

Ratu-buku.blogspot.com
123
sebaiknya kamu buat semacam perjanjian terlebih dahulu
dengan Jagad."

Priyayi menyerngitkan dahi. "kami udah sama-sama sepakat


mengenai segala sesuatunya." "Maksudku perjanjian resmi, di
atas materi, soal harta, hak dan kewajiban, terutama soal
harta." "Ah kamu.... Kebanyakan nonton film!"

"Ih kamu!" Yasmin menunjukkan wajah serius. "Kamu nggak


tahu ke depannya kayak apa kan, apa yang akan menimpa
kamu. Perjanjian seperti itu mencegah segala kemungkinan
yang bisa membuatmu mengalami kerugian baik materi atau
yang lainnya."

Priyayi menjauhkan wajahnya dengan ekspresi "nggak habis


pikir.

"Percaya deh sama aku!" Tutur Yasmin berlanjut. "Tanteku


itu pengacara, aku jadi lumayan tahu soal begituan. Kalau
nggak diatur dulu, kadang ada beberapa hal yang secara
teknis akan jatuh ke tangan pasangan.... Hati-hati itu,
mengingat kalian bukan pasangan sungguhan, iya kan?"

Kerut-kerut di dahi Priyayi bertambah. Hmm.... Nggak ada


ruginya dilakukuan, tapi Jagad nanti tersinggung nggak, ya?

Makan malam, pasrah

"Sure. Kapan aku harus ke kantor pengacaramu?" sahut


Jagad datar menanggapi rencana Priyayi mengenai perjanjian
bersama sebelum menikah.

Ratu-buku.blogspot.com
124
"Ini sudah?" tanya Jagad menunjuk piring Priyayi. Priyayi
mengamat-amati ekspresi Jagad, apakah ada perasaan
tersinggung tersirat di wajahnya.

"Heh?" ulang Jagad.

Priyayi tersadar. "Oh, biar kucuci sendiri." "Biar aku aja,


sekalian."

Malam ini Priyayi mengundang Jagad makan malam ke


rumahnya khusus untuk membahas masalah ini.

"Kamu nggak membahas isinya terlebih dahulu?" tanya


Priyayi.

"Aku percaya kamu sajalah," jawab Jagad enteng sambil


mencuci piring. Jagad sudah terbiasa berlaku seperti rumah
sendiri di rumah Priyayi.

"Gad, jujur aku nggak enak kalau kamu sepasrah itu. Ini
menyangkut hidup dua orang, aku dan kamu, bukan aku
doang."

"Aku percaya yang kamu lakukan juga untuk kebaikanku, jadi


santai aja."

"Gad, kamu merasa bersalah kan hingga kamu mau aja di


perlakukan apa pun? C'mon, Gad, aku nggak ingin kamu
begitu. Ini bentuk tanggung jawab terhadap apa yang kita
lakukan, bukan hukuman. Jadi berhenti bersikap kayak
pesakitan gitu, please.....," tutur Priyayi menatap Jagad.

Ratu-buku.blogspot.com
125
"Yi...."

"Kamu bilang aku bisa minta bantuanmu.... Jadi please...."

Jagad menghentikan cuci piringnya, mengelap tangan,


menatap Priyayi sesaat, kemudian duduk di depan gadis itu.
"Ayo kita bikin poin-poinnya."

Priyayi tersenyum dan menyodorkan kertasnya.

"Mulai dari nama? Soal double room, berhak menjalin


hubungan dengan orang lain, atau pembagian tugas beresin
rumah?" cetus Jagad nyengir.

Priyayi meninju bahu Jagad pelan. "Yang serius dong!"

"Hmm... Apa ya... Oya, poin dariku gini, selama jadi suami aku
nggak perlu bayar sewa kamar dan semua utang dihapus...."

"Hhh.... Sudahlah, kapasitas otakmu memang terlalu kecil


untuk membuat poin-poin yang lebih bermutu....." gumam
Priyayi pasrah.

Pertengahan minggu, melepaskan

Sebulan sudah Jimmy nggak bertemu Priyayi. Ini memang


kemauan Jimmy sendiir. Bahkan ia sudah pesan tiket ke Bali.
Dia mau ngabisin waktu di Bali sampai acara besar Priyayi
yang menyedihkan hatinya itu berlalu. Tapi hari ini dia nggak
tahan juga ingin bertemu Priyayi, karena di samping kangen

Ratu-buku.blogspot.com
126
berat ke gadis itu, ada kemungkinan ini akan menjadi
pertemuan terakhir. Pertemuan terakhir?

Jimmy mengembuskan napas panjang. Pandangannya berulang


kali diarahkan ke luar jendela lounge, tepat di jalan orang
masuk dan keluar lounge. Pikirannya kembali melayang. Ke
Priyayi, tentunya.

Selama absen menemui Priyayi, terjadi pergolakan di hati


Jimmy. Antara rasa cinta dan keinginan menyerah. Akhir-
akhir ini keinginan menyerah itu yang menguasai pikirannya.
Dan malam ini, seminggu sebelum Priyayi mengubah statusnya
di mata dunia, sehari sebelum ia berangkat ke Bali, Jimmy
merasa harus bertemu dengan gadis itu. Karena begitu
kembali dari Bali, Priyayi bukan orang yang sama lahi di
matanya.

Mungkin aku memang harus mengakhiri semua ini. Jimmy


berpikir keras, merasa sangat bimbang.

"Hai." suara Priyayi memecah lamunan Jimmy. Jimmy


tergagap sesaat, kemudian tersenyum dan berdiri
menyambut Priyayi.

"Aku kan sudah pesan untuk nggak dandan cantik," celetuk


Jimmy. "Aku udah nggak dandan kok," tampik Priyayi.

"Berarti kamu memang selalu cantik," timpal Jimmy seraya


meraih Priyayi ke dalam pelukannya. Priyayi tersenyum

Ratu-buku.blogspot.com
127
senang da membalas pelukan Jimmy erat. Jimmy mencium
wajah Priyayi sesaat setelah mereka duduk di sofa lounge.

"Sudah lama kita nggak ketemu, aku kangen," ucap Jimmy


lirih. Mereka menjauh sejenak saat waiter datang mencatat
pesanan menu. Setelah waiter pergi, mereka kembali datang
membawakan makanan.

"Besok aku ke Bali," tukas Jimmy sementara kepala Priyayi


terkulai di bahunya. "Ya, aku tahu. Aku akan kehilangan
kamu."

"Aku juga akan kehilangan kamu."

"Kamu mau kan kembali kepadaku?" tanya Priyayi, kepalanya


mendongak hingga wajahnya dan wajah Jimmy sangat dekat
berhadapan. Jantung Jimmy berdebar. Pertanyaan Priyayi
seakan-akan memberi isyarat bahwa Priyayi juga merasakan
kebimbangan Jimmy.

"Nggak perlu bertanya seperti itu...." elak Jimmy


menghindari jawaban ya atau tidak. Tiba-tiba Jimmy berdiri
seraya menggaet tangan Priyayi.

"Ayo."

Priyayi melongo. "Lho...." belum sempat bertanya, Jimmy


keburu menyeretnya keluar lounge.

"Kita akan jalan-jalan seharian ini, terserah mau ke mana


aja," tukas Jimmy dengan menggenggam erat tangan Priyayi.

Ratu-buku.blogspot.com
128
"Bener nih?" tanya Priyayi kurang yakin, karena Jimmy bukan
tipe orang yang betah ngabisin waktu berjam-jam seharian
dengan berjalan-jalan tanpa tujuan pasti.

Jimmy mengangguk mantap. "Bener nih, terserah ke mana


aja?"

"Iya, Nona! Sekarang Nona manis ingin ke mana?"

Priyayi mengajak cowok itu ke tempat yang dulu sering tidak


mau disinggahi Jimmy. Priyayi menantang Jimmy main boling,
sampai pasang taruhan segala. Setelah bosan, Priyayi
menyeret Jimmy ke butik khusus pakaian pria.

"Aku ingin pilihin kamu baju...." Priyayi menuju rak


aksesoris...." harus dipaduin ama ini." Priyayi mengacungkan
suspender. Jimmy menepuk dahinya. Oh tidak......

"Ayo di coba!" perintah Priyayi seraya menyeringai. Seumur-


umur Jimmy nggak pernah mengenakan yang namanya
suspender meski benda itu jadi tren sepanjang masa
sekalipun. Jimmy bergeming. Priyayi mendorongnya dari
belakang.

"Ayo, ini lagi tren lho. Kamu kan udah janji tadi terserah aku
hari ini. Ayo, jalan grak!"

Jimmy menggerutu tapi nggak bisa berbuat apa-apa lagi.


Priyayi bertepuk tangan begitu Jimmy keluar dari kamar pas
mengenakan baju dan aksesoris yang tadi dipilih Priyayi.

Ratu-buku.blogspot.com
129
"Awesome! He's my man!" celetuk Priyayi pamer pada
salesgirl yang ikut tersenyum.

Dada Jimmy bergemuruh melihat reaksi Priyayi. Yeah, l'm


your man but next week you will marry another man....

"Heh, bengong lagi! Ayo, kita bayar dan cabut lagi," ajak
Priyayi menggandeng lengan Jimmy. Melewari gamezone,
Priyayi masuk. Jimmy lagi-lagi menggumam, "Oh tidak....."

"Aku haus, mau beli minum dulu. Kamu main aja sepuasnya,"
cetus Jimmy berusaha menghindari desakan Priyayi untuk
ikut main aneka game. Priyayi nggak terlalu menggubris

begitu perhatiannya tersedot pada war game yang ada di


depannya.

"Angkay senjata, selamatkan dunia!" seru Priyayi


`mengangkat senjata dan mulai menggempur lawan`.

Jimmy tersenyum geli. Matanya tak lepas menatap Priyayi.


Inilah alasan kenapa dia berinisiatif untuk jalan-jalan. Hanya
supaya dia bisa uas melihat Priyayi melakukan hal-hal yang
disenangi gadis itu. Belum tentu besok-besok ada hari
seperti ini.

Langit sudah gelap kala mereka mengakhiri kebersamaan.


Mereka kembali ke tempat mobil Priyayi diparkir sedari
siang tadi.

Ratu-buku.blogspot.com
130
"Lain kali, kita luangkan waktu sehari sperti ini ya, terserah
kamu ingin kemana," tukas Priyayi sebelum naik ke mobilnya.

Sekali lagi dada Jimmy bergemuruh. Dia cuma tersenyum


tipis karena nggak yakin apa akan ada lain kali. Dan
seandainya memang nggak ada lain kali, dia nggak akan
mengatakannya sekarang. Dia nggak ingin merusak akhir
kebersamaan hari ini.

"Jim...." panggil Priyayi dari balik kemudi sesaat setelah dia


menghidupkan mesin mobil. "we'll be fine."

Jimmy mengecup kening Priyayi melewati jendela mobil yang


terbuka lebar. "Hati-hati."

"Kamu juga. Kalau sudah balik ke Jakarta, langsung telepon


aku, oke."

Setelah Priyayi berlalu, Jimmy mengepalkan tangannya keras


dan menyepakkan kaki kanannya ke udara. Mengakhiri
kebersamaan dengan indah seperti tadi ternyata bikin dia
makin sulit melepaskan Priyayi.

"Sial."

***

Ratu-buku.blogspot.com
131
Part 25

Lokasi syuting, kesiangan

"Sori Ma, sori..." Priyayi nyamperin mamanya yang lagi break.


Mamanya melengos, masih tidak menerima dirinya harus naik
taksi membawa tas besar sendirian ke lokasi pagi-pagi sekali.
Sebagai catatan penting, di mama memang paranoid
bepergian sendirian.

"Kalau keberatan, bilang dong dari awal! Masa Mama naik


taksi sendirian, jalanan masih sangat sepi. Kamu membiarkan
mamamu ini ketakutan!

Umm... Mulai deh... Bahasa sinetron, celetuk Priyayi dalam


hati mengomentari ekspresi dan tutur kata Mama.

"Restu atau Papa nggak ada yang bisa nganterin?" Priyayi


duduk sambil mengipas-ngipasi dirinya dengan lembaran
naskah milik mamanya.

"Kakakmu nggak pulang, papamu nggak enak badan, takut


sakitnya tambah parah kalau harus nyetir dengan jarak
sejauh ini. Lagi pula itu tugasmu kan, kenapa harus suruh
orang lain? Heran!"

Priyayi meringis kecut. "Kan dalam kondisi darurat, Ma."

"Tadi sempat kepikiran nyamperin kamu di rumah, tapu


rutenya jadi putar balik....," lanjut Mama masih dengan nada
pedas.

Ratu-buku.blogspot.com
132
Dalam hati, Priyayi mengucap syukur karena mamanya urung
"inspeksi mendadak" ke rumah. Apa jadinya kalau dia
langsung menyeruak masuk dan tahu dirinya tidur di mana,
Jagad tidur di mana....

"Kweni nggak kasih tahu jam berapa Mama berangkat,


kupikir yaa... Pagi standar gitu...."

Mama mencibir. "Pagi standar? Standar nasional gitu?


Mengada-ada! Sejak kapan kerja beginian ada waktu
standar?!"

Priyayi yang sudah kepanasan kian gerah diomeli. Ia berdiri.


"Ih, Mama! Hargai dong niatky membantu Kweni, membantu
Mama. Aku udah berusaha menebus kesalahan dengan
langsung kemari tanpa sempat dandan, ngisi perut, nggak
ngantor...." dahi Priyayi berkerut-kerut. Kemudian ia
ngeloyor pergi.

"Mau ke mana?" seru Mama.

"Cari kopi. Pusing!"

Setelah berhasil menyeduh kopi paginya yang diteguk siang


ini, kepala Priyayi nggak tegang lagi, tapi kelopak mata tetap
saja minta menutup. Maklum, begadang menyelesaikan
kerjaan karena minggu ini banyak nggak ngantor.

Seseorang berdeham di dekatnya. "Ckckck.... Pengantin baru


auranya gelap sekali! Ada apa gerangan?" sapa Minel, penata
rias yang sering bekerja untuk sinetron buatan rumah

Ratu-buku.blogspot.com
133
produksi milik teman mamanya ini, yang juga menjadi teman
baik Kweni. Dan Priyayi nggak perlu waktu lama untuk
berakrab-akrab dengannya. Priyayi mengarahkan kepalanya
ke mamanya sambil menyambar roti isi coklat yang disodori
Minel.

"Omong-omong soal aura gelap, mamamu juga begitu sewaktu


tiba tadi. Lebih gelap, pake petir segala."

"Hahaha...." Priyayi tergelak.

Minel nerusin cerocosnya, "Padahal mamamu itu seharusnya


tahu, wajar aja kan kalau pengantin baru nggak bisa pergi
pagi-pagi buta, nggak relaa... Hehe..." Minel mengerlingkan
mata kirinya sambil menyeringai penuh arti, menyenggol
lengan Priyayi. Yang disenggol ikut menyeringai dengan arti
yang berbeda.

"Tahu tuh Mama, bawaannya ngajak berantem melulu, gerah


kan," gerutu Priyayi. Sang Mama masih memendam perasaan
jengkel, kecewa, nggak puas, bahkan mungkin sakit hati,
dengan anak perempuannya itu menyangkut perhelatan
penikahan kapan lalu itu. Beliau merasa tidak
"diorangtuakan," tidak "dinamakan", sedangkan Priyayi
merasa mamanya terlalu berlebihan hingga mengalihkan
urusan kepada Yasmin, Rani dan dirinya sendiri.

"Omong-omong soal gerah, aku juga gerah ke kamu. Teganya


kawin nggak undang-undang!" ujar Minel dengan tampanga
cemberut.

Ratu-buku.blogspot.com
134
"Eit, kan udah ada undang-undang, undang-undang
perkawinan, hihihi...,"seloroh Priyayi.

Minel mencibir."Mengundang diriku, bo!"

"Kamu dulu juga nggak mengundangku."

"Yeee... Kita kan belum kenal waktu itu, gimana seehh!" sahut
Minel. Priyayi meringis. "Sori, teman, budget terbatas..."

Minel menepuk keras paha Priyayi kemudian menyahut


sengit. "Ih, bohong banget sih kamu! Orang kaya macam
kalian, menyebar ribuan undangan nggak akan memengaruhi
finansial!"

"Ya udah kalau nggak percaya," balas Priyayi sambil


mengusap-usap pahannya bekas dipukul Minel. Obrolan
mereka terinterupsi telepon masuk di ponsel Priyayi. Urusan
kantor.

"Nek, lihat dong foto suamimu," pinta Minel saat Priyayi


menutup flip ponselnya. "Foto?" Priyayi gelapan. "Eeengg....
Nggak ada..."

"Hah? Di dompet, di ponsel, nggak punya foto pasangan


sendiri? Aneh..." celetuk Minel nggak percaya.

Priyayi mengacak-acak pelan rambutnya, keki. Yang ada di


ponselnya adalah foto Jimmy, disimpan di salah satu folder
ponselnya. Nggak pernah terlintas menyimpan foto Jagad....,
nggak terbayang deh!

Ratu-buku.blogspot.com
135
"Ya ampyun....! Kamu juga nggak pake cincin kawin!" kritik
Minel berlanjut. Priyayi mengacungkan jari-jari tangan
kirinya.

"Kok di tangan kiri sih?"

"Di film-film barat pakainya di sebelah kiri..."

Lagi-lagi Minel menepuk paha Priyayi. "Halooo?! Kamu nggak


lagi tinggal di Barat sono!"

"Udah deh, Nek! Dari tadi cuma dikritik kanan-kiri,


betehhh!" protes Priyayi, hendak beranjak dari duduknya.
Minel keburu menahannya.

"Jangan ngambek begitu. Ayo cerita dong soal kehidupan


baru kalian. Pasti banyak kejutan, karena pacarannya aja
orang-orang pada nggak tahu, tahu-tahu kawin...."

"Nggak ada," jawab Priyayi spontan.

"Hah, nggak? Biasanya bulan-bulan pertama banyak hal yang


nggak terduga dari pasangan...." Priyayi mengangkat bahu dan
berjar datar. "Nggak ada. Udah biasa..."

"Hah? Udah biasanya gimana?!" Minel makin penasaran.


Priyayi baru sadat kalau dirinya terlalu jujur menjawab.

"Eeengg... Iya... Udah biasa... Nggak saling ngejutin gitu...."


imbuh Priyayi ngawur. "???"

Ratu-buku.blogspot.com
136
Tangan Priyayi makin kencang berkipas ria. Gerah..... Malam,
tetap gerah

Sampai di depan rumah orangtuanya, Priyayi hendak melepas


sabuk pengaman, namun mamanya segera mencegah.

"Nggak perlu. Mama bisa bawa tasnya."

"Nggak apa-apa, sekalian aku masuk ke dalam..."

"Jam segini mau berdatangan?!" hardik Mama. Priyayi melirik


jam digital di dashboard mobilnya. Masih kam sembilan kok....

Aku kan mau bertemu keluargaku, menjenguk Papa, kakek..."

"Mereka sudah tidur, percuma." Mama bertutur gemas.


"Kamu sudah jadi istri orang, jangan pulang mam kalau nggak
ada kepentingan! Apa kata suamimu nanti?!"

Priyayi melongo, bibirnya membentuk huruf O. Ooo... Itu


masalahnya.

"Pake bengong pula, sana pulang!" cecar Mama. Priyayi


mengangkat tangan, menyerah dengan kejutekan mamanya
seharian ini.

Sambil menyetir, Priyayi memasang hands-free dan menelpon


papanya.

"Pa, istrimu sentimen sekaleee ke aku." Priyayi membuka sesi


curhat via telepon. Papa tergelak. Priyayi menyambung. "Dari

Ratu-buku.blogspot.com
137
zaman kapan itu, jengkelnya ke aku nggak abis-abis. Dia
masih sakit hati, ya?"

"Mamamu nggak pernah sakit hati. Dia cuma kesal kamu


nggak jemput dia tadi..."

"Tapi masa sampai melarangku masuk rumah! Aku kan ingin


menjenguk Papa. Katanya lagi sakit!"

"Papa nggak apa-apa. Yi. Mamamu cuma merasa nggak enak


sama Jagad kalau kamu pulang terlalu malam.

Priyayi cemberut. "ih, Papa sama aja deh. Pa, bilangin ke


istrimu supaya jangan galak-galak ke anak cewek satu-
satunya, oke."

Papa lagi-lagi tergelak, kemudian menyahut dengan suara


lebih pelan. "Mamamu lagi mendelik ke Papa, Papa nggak
berani; Yi...." keduanya terkiki.

"Papa payah, sudah lama hidup bareng belum bisa


menjinakkan beliau, hihi...."

"Udah sampai di rumah?!" suara Mama tiba-tiba menyerbu


pendengaran Priyayi. Bulu kuduknya seketika berdiri. Ups...
Mendapat telepon, ingat "posisi"

Jagad baru saja keluar dari kamar mandi saat ponselnya


berbunyi. Lintang calling. "Kak, weekend ini aku ama Sita ke
Jakarta, band-nya pacarku ikut main di ajang Alternative

Ratu-buku.blogspot.com
138
Alive, nanti nginap di rumahmu ya. Kak Jagad nggak ke mana-
mana, kan?"

Jagad agak bimbang. "Emmm... Coa nanti aku ngomong ke


Yayi...." "Kalau Kak Yayi sibuk, nggak apa-apa, yang penting
Kak Jagad nggak." "Eengg.... Bukan itu. Ini kan rumahnya,
jadi lebih baik kalau ngomong dulu."

"Kak Jagad kan suaminya, apa perlu bilang dulu?" ada nada
heran dalam pertanyaan Lintang. Jagad terdiam sebelum
akhirnya menjawab. "Nanti aku telepon."

"Emang Kak Yayi udah tidur?"

"Eee... I... Ya."

Tepat saat itu, suara mobil Priyayi terdengar masuk carport.


"Nah itu dia datang!"

"Lho, katanya tadi tidur?"

Jagad menepuk jidatnya. Tolol, keceplosan! Umpatnya dalam


hati.

"Iyaa... Tadi udah tidur. Aku telepon lagi nanti." Jagad buru-
buru menutup ponsel, menyelamatkan diri investigasi
adiknya.

Jagad ke depan membukakan pintu. Priyayi agak kaget


melihat Jagad hanya mengenakan celana boxer malam-malam

Ratu-buku.blogspot.com
139
begini dan "berkeliaran" di dalam rumah. Apalagi dengan
rambut basah begitu.....

"Yi, barusan adikku telepon, weekend ini dia ama sepupuku


mau nginap di sini, boleh nggak?" Jagad membuntuti Priyayi
yang berjalan ke pantry untuk mengambil es krim.

"Ya bolehlah. Kalau perlu dijemput, pake aja mobilku."

"Makasih, Yi," sahut Jagad lega. Eh, bukannya di bangku


pantry untuk menyendok es krim langsung dari wadahnya,
bergantian dengan Priyayi. Perut cowok itu jadi membentuk
kotak otot.

Hmm... Gerahnya Priyayi jadi nggak berkurang meski sudah


mengonsumsi es krim!

Kamu nggak pake baju begitu untuk merayuku agar


mengabulkan permintaanmu, ha?" Priyayi menyeletuk iseng.

"Berhasil kan dengan pesona dalamku ini..." balas Jagad.

"Awa, aku bisa melihat pipimu memerah...." sambungnya,


mendekatkan wajahnya ke arah Priyayi dan menyeringai
nakal.

"Huh, sok keren!" sahut Priyayi sambil melemparkan serbet


ke muka Jagad, agak salah tingkah. "Oya, Yi, pas sodara-
sodaraku datang, sebaiknya aku.... Emm... Gabung di
kamarmu... Tahu kan...., supaya mereka nggak...."

Ratu-buku.blogspot.com
140
"He-eh," sela Priyayi. "Besok pindahin barang harianmu ke
kamarku." Besok setting baru harus disiapkan. Peran yang
lain harus dimainkan.

"Oya, tunggu sebentar....,"Tukas Jagad lalu bangkit dari


duduknya, berjalan menuju kamarnya. Dua menit kemudian
dia balik ke hadapan Priyayi.

"Nih,” Jagad menyodorkan sejumlah uang kepada Priyayi.


"Uang sewa kamar...."

Priyayi tidak langsung menyambar seperti biasanya.


"Hubungan kita seperti biasa, kan?" tambah Jagad.

"Eee..." Priyayi masih ragu-ragu. Tapi pikir punya pikir... Iya,


seperti biasa. Nggak ada yang berubah untuk yang satu ini.
Eropa masih akan menunggunya. Priyayi pun menerima uang
tersebut sembari say thank you.

"Oya satu lagi, Yi, kemarin Mama kasih saran...."

Wajah Priyayi berubah serius, menyimak baik-baik. "Apa


sarannya?" "Lebih baik kalau kita, eh maksudku kamu, pasang
saluran telepon rumah." Priyayi beralih duduk di sofa. " kan
udah ada HP...."

"Iya sih, tapi telepon rumah pulsanya jauh lebih murah."

"Nggak masalah sih, cuma ngurus tetek bengeknya itu lho...


Malasss...."

Ratu-buku.blogspot.com
141
"Oh, biar aku aja yang handle, pokonya kamu setuju."

"Duitnya perlu kusiapin sekarang?" tanya Priyayi.

"Oh, nggak, biar aku aja," sergah Jagad dengan tangan kanan
melambai mengisyaratkan menolak.

"Nggak dong. Aku kan yang tinggal di sini terus, kalau kamu
udah nggak di sini, salurannya nggak bisa ikut dibawa kan...,
biar aku aja yang nanggung, kamu yang urus, oke buddy,"
sahut Priyayi kemudian berjalan masuk kamar.

Duk! Hati Jagad serasa disukit mendengar kalimat terakhir


yang dilontarkan Priyayi. Kalau kamu udah nggak di sini....

Ditariknya napas dalam-dalam. "Inget posisi, Gad, inget....."


pesannya pada diri sendiri. Peran tuan rumah, mengejutkan

"Sukanya musik apa? Rock, pop, jazz, top 40?" tanya Priyayi
kepada para saudara ipat di dalam mobil saat hendak
menentukan tempat hang-out mereka malam ini.

"Alternative dong," jawab Lintang lantang.

"Huuu... Ngikut pacaaar! Kalau pacarnya ganti, selera


musiknya ganti!" ledek Sita. Lintang menyentil kepala
sepupunya gemas.

"Yang biasa di datangi KakYayi deh," imbuh Sita antusias.


Sekadar menyegarkan ingatan, Sita adalah sepupu Jagad

Ratu-buku.blogspot.com
142
yang masih ABG, yang menemani dan mendampingi Priyayi
sewaktu acara di kediaman orangtua Jagad.

"Sita ngefans kamu, Yi," ujar Jagad berbisik. Priyayi


tersenyum geli.

"Katanya gayamu cool abis. Lihat aja potongan rambutnya,


maksudku sih menirumu tapi nggak sukses karena dia
keriting..." sambung Jagad menyeringai lebar. Priyayi
menoleh kearah Sita dan ikutan menyeringai geli.

"Hayooo.... Ngomongin aku ya!" seloroh Sita.

Priyayi tiba-tiba punya ide. "Hei, mau nggak ke butik


langgananku? Di sana model bajunya cool abis. Cocok buat
Sita."

Sita ragu-ragu menjawab. "Eengg... Mau banget sih, tapi....


Pasti mahal-mahal ya, Kak....?" Priyayi tersenyum. "Karena
Sita belum bisa cari duit sendiri, aku dispensasi deh."

Mata Sita membesar. "Maksudnya... Gratisan?!" Priyayi


mengangguk. Sita bertepuk tangan.

"Huh, dasar kecil-kecil matre, maunya gratisan," olok Lintang


mencibir. Sita balas mencibir.

Tepat saat Priyayi menginstrupsikan Jagad untuk mampir ke


plaza tempat butik langganan Priyayi berada, yang punya
butik adalah sahabat mama Priyayi, jadi namanya dan
mamanya masuk dalam daftar pelanggan yang memperoleh

Ratu-buku.blogspot.com
143
diskon, ponsel Priyayi berbunyi. Ia merogoh tas jinjingnya.
Sally calling.

"Nek, besok malam kita ngadain Malam Drama di apartemen


Mala."

Yang dimaksud Malam Drama adalah berkumpulnya para


cewek di rumah salah satu dari mereka untuk menonton DvD
film-film drama sampai muntah, baik itu drama komedi
romantis, thriller, maupun tragedi. Meskipun sudah muntah,
besok-besoknya tetap aja diulangi nggak pernah kapok,
hehe....

"Apa temannya?"

"Hollywood. Sandra Bullock."

"Wah, bagus tuh!"

Ups. Priyayi baru ingat, ia harus berperan sebagai pasangan


baru yang tak terpisahkan. "Emm... Tapi nggak janji deh, Sal,
aku lagi kedatangan saudara Jagad di rumah..." Priyayi
memelankan suara, namun masih tertangkap kuping Jagad.

Saat berjalan dari basement parkir menuju ke dalam gedung


plaza, Jagad berujar lirih ke Priyayi," kalau besok ada acara,
aku sendiri bisa antar mereka kok."

"Ah, nggak enak dilihat mereka kalau aku keluyuran


sendirian," sahut Priyayi lantas lebih mendekat ke telinga

Ratu-buku.blogspot.com
144
Jagad. "Bahaya kalau mereka kasih laporan pandangan mata
ke ortumu, kita pergi main sendiri-sendiri."

"Dasar!" timpal Jagad nyengir. "Rapi banget kamu


bermain...."

Priyayi ikut nyengir sembari mengedipkan sebelah matanya.

Sampai di dalam, Jagad mutusin untuk melihat-melihat


pameran tour and travel yang sedang digelar di atrium depan
plaza, sementara Priyayi menggiring "tamu-tamu ABG"
berbelanja sesuai yang ia janjikan.

Semua agen perjalanan yang mengisi pameran itu berlomba-


lomba menawarkan paket dengan harga menarik. Jagad
bukannya mau bepergian atau berlibur, tapi tour and travel
mengingatkannya akan seseorang yang sangat berarti.

Ya, Syamila. Gadis itu bekerja paro waktu di agen perjalanan.


Kakak perempuannya yang tinggal berdua bersamanya adalah
tour guide di agen tersebut dan berhasil mereferensikan
adiknya mengisi posisi front desk.

Sambil berjalan pelan mengitari stan, Jagad mengenang


masa-sama dulu dia mengantar jemput Syamila dari kampus-
kantor-rumah. Urutan perjalanan bisa berubah-ubah
tergantung jadwal. Dan di sela-sela tiga tujuan itu, mereka
berdua kerap mampir untuk makan bersama atau sekadar
jalan-jalan. Sederhana memang, tapi waktu itu jagad merasa
bahagia. Lolita Fun Tour dan Travel.

Ratu-buku.blogspot.com
145
Ini dia. Jagad berhenti di depan stan tersebut. Seorang
pegawai sedang melayani pertanyaan dua orang pengunjung.
Dua orang lainnya berdiri melihat-lihat brosur.

Bukan Syamila. Terselip rasa kecewa di benak Jagad karena


sebetulnya dia ingin banget melihat Syamila. Semenjak
putus, Syamila menolak dihubungi.

Apa dia sudah berhenti dari tempat ini? Jagad penasaran


hendak bertanya kepada pegawai tersebut. Tapi jagad
mengurungkan rasa penasarannya, lalu membalikkan badan
untuk melangkah pergi. Saat itulah Jagad tepat berhadapan
dengan Syamila yang belum menyadari keberadaannya karena
berjalan menunduk merapikan gulungan lengan kemejanya.
"Eh..." Syamila hampir menabrak orang yang ada di
hadapannya. Ia mendongak dan....

"Hai," sapa Jagad mengangkat telapak tangan kanannya.

Syamila disergap kebengongan yang nggak bisa


disembunyikan. Tuhan mewujudkan keinginan terpendammu,
Mim, batin Syamila.

Now what, Mil...?

"Lama nggak bertemu," ujar Jagad memecahkan kebekuan.


Syamila tetap terdiam. "Lagi tugas?"

Syamila mengangguk. Oke, kuasai dirimu, dorong Syamila


pada dirinya sendiri.

Ratu-buku.blogspot.com
146
"Mau berlibur?" tanya Syamila. Dia merasa gugup dan
jantungnya berdegup kencang, sialan.....

"Oh, nggak. Lagi nganter adikku jalan-jalan."

"Mana saudaranya?" Syamila melemparkan pandangan ke


sekeliling. Lumayan sebagai dalih dari keharusan
memerhatikan Jagad.

"Oh, eee... Lagi di butik... Emm...." Jagad nggak tahu nama


butiknya.".... Di lantai ini juga kok."

"Kok ditinggal, nanti kesasar lagi...." Ucapan halus Syamila


untuk mengusir Jagad karena ia nggak tahan ditatap Jagad
senanar ini lebih lama lagi.

"Nggak sendiri, ada Yay... Eee... Yaa... Sama temanku juga,"


sahut Jagas hampir keceplosan mengatakan ' Yayi.'

"Aku harus kerja, maaf..."

Jagad mengangguk, begitu Syamila membalikkan badan,


jagad memanggil. "Mil...."

Syamila menoleh. "Iya?"

"Senang bisa melihatmu lagi. Aku...."

"Maaf, aku benar-benar harus kerja sekarang. Met jalan-


jalan," potong Syamila mengakhiri pembicaraan dan bergegas
kembali ke mejanya, menyibukkan diri dengan pengunjung.

Ratu-buku.blogspot.com
147
Tapi matanya mengikuti Jagad sampai cowok itu tidak
tampak lagi. Syamila mengembuskan napas panjang seraya
mengempaskan punggungnya di sandaran kursi. Rasa rindu
dan sakitnya makin bertambah. Duh....

***

Malam, mengatur posisi.

Pulang dari jalan-jalan, Priyayi mengatur posisi.

"Ini kamar kalian. Tempat tidurnya muat sih untuk dua orang
tapi agak mepet." ucap Priyayi di kamar belakang kepada
kedua tamunya di akhir malam.

"Kalau mau longgar, salah satu tidur di kamar depan sama


Yayi, aku tidur di sofa," timpal Jagad. Priyayi melirik ke arah
Jagad.

"Nggak usah," sergah Lintang cepat. "Kita di sini aja. Kita


nggak mau mengganggu....," tambahnya sembari nyengir.

Sita terkikik. Priyayi dan Jagad saling melirik dengan arti


tersendiri. Jagad dan Lintang ngobrol di ruang tengah untuk
beberapa lama.

Sita langsung terlelap begitu mencium bantal. Priyayi


rebahan di kamar. Untuk dua malam ini, dia meliburkan
kostum tidurnya yang berkonsep minimalis. Kayaknya baru
terlelap sebentar, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Hah,
sudah pagi, ya? Cepet amat, gumam Priyayi dalam hati.

Ratu-buku.blogspot.com
148
Jagad menggaruk-garuk kepala begitu Priyayi membuka
pintu. "Aku nggak bisa masuk, pintunya dikunci...."

Ups. Priyayi nyengir menyadari kealpaannya." sori...."

Jagad menyeletuk iseng sambil melangkah masuk dan


menutup pintu kamar. "Apa kata lapotan pandangan mata,
seorang istri mengunci kamar hingga suaminya dibiarin
terlunta-lunta tidur di luar?"

Priyayi ngakak seraya melempar bantal ke arah Jagad. Is


lantas meloncat kembali ke atas tempat tidur, narik selimut
dan meringkuk coba mengabaikan keberadaan Jagad.
Sedangkan Jagad, merebahkan badannya di tempat tidur itu
membuat otaknya, memorinya, perasaannya otomatis
berputar mengenai awal mulai ia berada dalam lingkaran
hidup yang sekarang dijalani. Di tempat tidur inilah TKP-nya.
Tempat Kejadian Perkara.

"Yi, kayaknya kita, eh, aku harus kasur lipat," ujar Jagad.

"Hemm.... Setuju banget," timpal Priyayi singkat. Dia


berkonsentrasi untuk menghipnotis dirinya tertidur
sesegera mungkin.

Sementara itu Jagad masih setia dengan pikirannya yang


berkecamuk. Syamila mau di ajak bicara tadi...., apa dia
sudah bersedia kalau aku menghubunginya, ya? Tapi.... Bisa
jadi itu cuma basa-basi..... Hhh....

Ratu-buku.blogspot.com
149
Jagad mengubah posisi badannya, menghadap Priyayi yang
memungginya. Dia menggeser badannya menjauh hingga
benar-benar berada di pinggir tempat tidur. Matanya
menerawang. Hhh... Nggak gampang harus seranjang dengan
cewek seperti begini. Andai dulu bisa mengendalikan diri,
nggak sampai "kehilangan kesadaran", nggak berbuat macam-
macam....

"Gad...."

Jagad terkesiap kaget dan secepat mungkin membalikkan


badan, takut kepergok....

BRUUKK!

Hah! Mata Priyayi seketika membuka dan....

"Jagad!" Priyayi menegakkan punggungnya. Kepala Jagad


nongol dari pinggir bawah tempat tidur, meringis. Priyayi
nggak bisa menahan tawa.

"Hahaha... Kok bisa jatuh sih, dodol.... Hahaha!"

Jagad kembali naik ke tempat tidur, duduk bersandar sambil


meringis. "Enak nggak?" tanya Priyayi kemudian....

"Sialan, bukannya tanya sakit nggak....," protes Jagad


bersungut-sungut.

"Hehehe.... Abis kasur gede begini, bisa-bisanya jatuh..."

Ratu-buku.blogspot.com
150
Jagad meringis tengsin. "Heh, tadi kukira sudah tidur,
ternyata masih manggil, aku jadi kaget, tahu.....

Priyayi ikut menyandarkan punggungnya. "Hhh... Nggak bisa


tidur nih. Rasanya aneh aja...., dulu kita di sini dan
berakhir.... You know...., rasanya kita ingin mengendalikan
semua tapi nggak bisa....."

Jagad mengangguk-angguk setuju, ternyata Priyayi


merasakan hal yang sama. "Aku juga nggak bisa tidur, di
sini...

"Kita memang butuh kasur lipat," gumam Priyayi.

"Yi..."

"Apa?"

Jagad diam sejenak. "Emm... Aku tadi...." ia menggantung


kalimatnya, ragu untuk bercerita soal pertemuannya dengan
Syamila. Priyayi memajukan punggungnya, menyimak Jagad
lebih saksama.

"Ah, sudahlah, nggak penting," sambung Jagad akhirnya,


lantas bangkit dari tempat tidur, "Aku mau nonton TV, belum
ngantuk."

Priyayi mengangkat bahu, nggak ngerti dengan sikap Jagad


barusan. "Hati-hati jatuh, hihihi....," seru Priyayi meledek.
"Tahanan rumah",tanpa daya Priyayi menunggu siang untuk

Ratu-buku.blogspot.com
151
mandi, menunggu hawa dingin pergi. Selesai mandi, dia
langsung mendekam lagi di kamar.

Tepar, tewas. Ambruk. Itu yang menimpa Priyayi.


Penyebabnya? Apa lagi kalau bukan karena kelelahan.
Maraton kerja, memenuhi acara keluarga, jadi tuan rumah,
ngumpul bareng teman-teman, dan kencan dengan Jimmy.

Priyayi sebal. Selain karena merasakan sakit itu sendiri,


kesebalan Priyayi adalah karena sikap Jagad yang menuruti
berlebihan, sampai-sampai ia terispirasi menjuluki Jagad
memaksanya ke dokter yang bikin dia harus menelan obat
yang kini teronggok di meja. Tekanan darah Priyayi
mengkhawatirkan rendahnya. Mengkhawatirkan Jagad, bukan
Priyayi. Priyayi sih udah pernah seperti itu sebelumnya, jadi
nggak begitu cemas. Dan Jagad selalu (dan nggak pernah
bosan) mengingatkan untuk minum obat. Bahkan karena tahu
Priyayi malas-malasan, Jagad bela-belain menghitung jumlah
obat yang tersisa.

"Kamu nggak mau sembuh sampai akhirnya ketahuan mama-


papamu?"

Iya sih, Priyayi lebih ogah sakit di bawah pengawasan


mamanya. Sangat tidak menentramkan jiwa. Rasanya lebih
baik menjual jiwa daripada berada di bawah cengkeraman
sang mama, hihi.

"Iya, tapi kalau gini-gini amat, kamu nggak jauh beda ama
Mama. Kamu mau disamain ama ibu-ibu cerewet?" balas
Priyayi cemberut.

Ratu-buku.blogspot.com
152
Saat Yasmin menelepon, Priyayi malah dibuat lebih cemberut
"Namanya juga suami, wajar dong kalau cemas, hihihi....."

"Kamu sama aja, bikin sebel! Tapi yang lebih sebel, jadi batal
ngerayain ultah rame-rame nih. Sedih....," keluh Priyayi.

Untuk meredakan kebeteannya, Priyayi bermalas-malasan di


tempat tidur. Sebentar memejamkan mata, eh, ketiduran.

Priyayi dibangunkan oleh suara nyaring ponselnya.

"Hai, sayang, aku bebas siang ini. Mau makan siang bareng?"
Suara Jimmy menyusup telinga Priyayi.

Ah ya, Jimmy belum tahu Priyayi tepar. Habisnya, cowok itu


nggak menelepon dua hari ini. "Aku lagi nggak ngantor, tepar,
kecapekan."

"Kamu sakit?"

"Iya."

"Kenapa nggak bilang-bilang?" Nada suara Jimmy cemas.

Priyayi senang mendengarnya. "Nggak apa-apa disuruh


banyak istirahat. Makanya kamu jangan lupa istirahat, jangan
kebanyakan kerja."

Jimmy tertawa. "Baik, Bu. Terus, jadi ngerayain ultah ama


teman-temanmu?"

Ratu-buku.blogspot.com
153
Priyayi mendesah." Kayaknya nggak jadi, aku nggak boleh ke
mana-mana.."

Jimmy termangu begitu telepon ditutup. Dia nggak ke mana-


mana.... Kalau begitu aku akan memberinya kejutan.....

***

Rencana mendadak, persiapan

"Pesta di rumah?" ulang Jagad menirukan Yasmin yang


meneleponnya, ngusulin mereka bikin acara makan-makan di
rumah Priyayi untuk merayakan ulang tahun gadis itu. Yasmin
bertutur kepada Jagad mengenai keluhan Priyayi, mulai dari
kejengkelannya terhadap Jagad sampai batalnya hang-out
rame-rame di hari ulang tahunnya. Jagad tertawa saat
Yasmin bilang Priyayi menjulukinya "Lifeguard". Bisa-
bisanya....

Jagad memang otomatis bereaksi over setiap orang-orang


dekatnya sakit. Sudah kebiasaan di keluarga. Itu yang
dilakukan jika Kakak atau adik perempuannya sakit sewaktu
mereka masih tinggal serumah. Dulu saat status mereka
masih teman biasa dan nggak serumah, dia nggak ambil
pusing ke Priyayi jika gadis itu sakit. Berhubung sekarang
mereka terkondisikan lebih dekat dan lebih peduli, sikapnya
jadi over juga ke Priyayi.

Hemm... Dibikin acara apa ya, biar berkesan nggak cuma


kadar makan-makan? Pikir Jagad. Yasmin bagi-bagi tugas

Ratu-buku.blogspot.com
154
dengan Jagad. Ia mengurus kue tar, minuman, dan kudapan
ringan, sementara Jagad mengurus makan besarnya.

"Yang praktis aja, bisa kamunya nggak kerepotan. Ajak Tio


buat bantu-bantu," saran Yasmin.

Saat mereka membereskan tumpukan kertas ulangan murid-


muridnya, mata Jagad tertuju pada satu lembar ulangan
paling atas. Di pojok kanan tercantum nama murid: Mila
Ramadhani. "Mila... Pesta barbekyu....! Pikiran Jagad seketika
terkoneksi pada ulang tahun Syamila dua tahun lalu, mereka
mengadakan pesta barbekyu di pantai beramai-ramai.

Tiing! Ide acara telah ditemukan!

Jagad lantad menelepon adiknya, Lintang.

"Aduh, Kak, hari jumat aku ada kuliah. Kenapa nggak sabtu
aja sih? Lagian Kak Jagad juga kerja, kan?"

"Ulang tahunnya hari jumat. Aku ngajuin izin. Kamu titip


absen aja. Nggak ujian, kan?! Pokoknya jumat pagi kamu udah
di sini, terus kita belanja bareng, oke?"

Jagad menetapkan Lintang sebagai koki di pesta nanti. Dan


sepulang kerja dia melajukan mobil, selama Priyayi sakit,
mobilnya dipakai Jagad, ke "rumah" lamanya, menemui
mantan teman serumah sekaligus pemilik rumah itu
merangkap sahabat baik, Danu.

Ratu-buku.blogspot.com
155
"Ini dia, ready to use," ujar Danu sembari menyeret alat
yang hendak di pinjam Jagad.

"Thankd, buddy!" sahut Jagad menepuk lengan temannya itu.

Lantas bersama Danu, ia mengangkat alat pembakaran untuk


barbekyu tersebut ke mobil.

Sebelum datang, Jagad sudah menelepon Danu soal


rencananya. Kepada Danu, Jagad memang terbuka mengenai
kehidupan pribadinya. Danu sudah melewati masa Jagad
jomblo, bersama Syamila, sampai kejadian dengan Priyayi
yang bikin Danu geleng-geleng kepala.

"Perasaanmu sudah lain nih ke dia?" tanya Danu,


menyimpulkan dari kesudian Jagad bikin acara ulang tahun
segala.

Jagad menyeringai. "Nggak. Ini ide sahabatnya. Berhubung


aku yang serumah, dan tahunya teman-teman Yayi kan aku
suaminya, jadi otomatis terlibat."

"Ajaklah dia kemari. Kamu kan selalu ngenalin pasanganmu ke


aku," celetuk Danu. "Eee.... Ralat, dia bukan pasanganku...."

Danu tertawa, menepuk jidatnya. "Oke, oke. Maksudku, aku


ingin kenal dengan Priyayi. Aku cuma tahu pas acara
pernikahan."

Jagad meringis. "Iya, kalau ada waktu kuajak main


kerumahmu."

Ratu-buku.blogspot.com
156
"Gad, pada akhirnya..... Kamu berharap kalian akan jadi
pasangan sesungguhnya nggak?"

Jagad mengangkat bahu. "Nggak tahu, Nu. Hati nggak bisa


dipaksa arahnya."

"Dia cantik pas di acara itu," celetuk Danu.

"Oh yeah, dia cantik setiap hari," timpal Jagad. "Dan dia
sudah mengambil hati keluarga besarku." Mereka berdua
tertawa.

"Tapi soal hati nggak bisa dipaksa...." tiru Danu. Kemudian dia
teringat sesuatu. "Omong-omong soal hati, Mila pernah
menanyakan soal kamu ke aku."

Jagad tertegun. "Dia nanya soal aku? Kapan? Kamu bilang


apa?" "Sudah agak lama. Aku nggak bilang apa-apa."

"Bagus. Makasih." Jagad diam sejenak sebelum menyambung,


"Aku nggak sengaja bertemu dia belum lama ini. Sikapnya
sakit banget ya, Nu...."

Danu menepuk punggung Jagad, menenangkan sahabatnya.


"Dia akan baik-baik saja, teman." Persiapan, ceria

Priyayi dkejutkan dengan kedatangan Lintang dan banyaknya


belanjaan yang dibawa bareng Jagad plus cake coklat buatan
mama Jagad.

Ratu-buku.blogspot.com
157
"Selamat ulang tahun, Kak. Ini dari Mama," tukas Lintang
seraya memberi ciuman pipi. "Makasih banyak ya. Tapi..."
Priyayi mengernyit bingung dan menunjuk ke banyaknya tas
belanjaan. " ini semua apa?"

Lintang mengarahkan jari menunjuk Jagad. Jagad meringis


kemudian menuturkan rencananya.

"Astaga! Jadi malam ini kalian ngadain pesta untukku?" seru


Priyayi kegirangan. Tahu-tahu Priyayi meloncat memeluk
Jagad.

"Asyiiik! Thanks you soo much, buddy!"

Belum sempat Jagad membalas pelukan, Priyayi sudah


meloncat memeluk Lintang. Yaah.... Bukan rezeki, batin
Jagad. Hehe....

"Kamu pasti dihasut kakakmu supaya bolos hanya untuk


bantu dia," tebak Priyayi menuduh di depan Jagad. Lintang
hanya cengengesan.

Jagad membalas sengis. "Sok tahu! Lintang cuma ingin


ngambil jatah absennya yang belum pernah diambil..."

"Eee... Sebenarnya udah dua kali...," sela Lintang meralat


ucapan kakaknya.

"Nah, dia ingin ngambil jatah selanjutnya....," timpal Jagad


membelokkan kekeliruan. Priyayi mencibir.

Ratu-buku.blogspot.com
158
"Lintang aku benar-benar nggak tahu lho. Jadi kalau ada apa-
apa dengan prestasi akademismu, kesalahan penuh ada pada
kakakmu."

"Tuh, sudah di bikinin pesta, kayak begitu balasannya,"


seloroh Jagad.

Priyayi ngakak. Dia ceria banget hari ini. Dengan penuh


semangat dia ikut membantu-bantu. Dia juga menelepon
Yasmib berkali-kali menanyakan detail makanan dan minuman
uang dibeli. Pake cerewet pula. Yasmin dibuat bete jadinya.
Walhasil, dia nggak lagi seratus persen lulus bikin pesta
untuk Priyayi!

"Yi, kamu istirahat sana. Jangan lupa minum obatnya. Kalau


nggak istirahat, nanti malam ambruk lho," tutur Jagad.

Priyayi yang berdiri di samping Lintang di dapur berbisik,


"Aku serasa masih tinggal serumah dengan mamaku."

Lintang terkikik. Priyayi ngelanjutin, "Kamu merasa begitu


nggak sih? Mungkin bukan mamamu, tapi nenekmu barang
kali....?"

Lintang makin terkikik. "Iya, bener banget, kak."

"Ayo, bandel, makan dulu," cetus Jagad. "Kita juga makan,


Lin. Kalau nggak begitu, orang satu ini maunya makan nanti
pas pesta."

Ratu-buku.blogspot.com
159
Priyayi mencibir, tapi menurut juga. "Iya, Nek," ledek
Priyayi. Lintang tertawa dan ikut menuruti kata kakaknya.

Di sela makan, Lintang memerhatikan Jagad dan Priyayi yang


makan sambil sesekali saling meledek.

"Kalian pasangan yang ceria ya, jadi iri deh," celetuk Lintang.

Kontan Jagad dan Priyayi menghentikan suapan masing-


masing dan melongo. "Hah?"

"Apa?"

Tanpa ada yang memberi aba-aba, keduanya serempak ingsut


menjauh. Jagad berdiri ngambil

minum di kulkas, Priyayi pindah ke depan TV. Giliran Lintang


yang melongo tak mengerti.

Dibilang pasangan ceria kenapa jadi pada salah tingkah, ya?


Pasangan yang aneh.....

***

Ratu-buku.blogspot.com
160
Part 26

Perayaan, "uji akting"

Beberapa jam kemudian, bersamaan dengan jam pulang


kantor, satu dua orang mulai nongol di rumah Priyayi dan
makin bertambah setelah matahari tenggelam. Ada yang
langsung dari kantor___biasanya pasa numpang ngopi atau
tidur-tiduran___ada yang pulang dulu atau pergi memenuhi
urusan lain dan agak malam baru datang. Restu masuk dalam
golongan terakhir.

Di halaman, Kumala mengolesi ikan dengan bumbu buatan


Lintang, kemudian Jagad membakarnya secara merata.

"Hummm.... Enaak...." komentar Kumala, mencubit sedikit ikan


yang selesai dibakar, kemudian dimasukkan ke mulutnya.

Jagad mendekatkan kepalanya ke Kumala, hidungnya nyungir


berlagak mengendus-endus. "Uh, bau ikan semua. Rugi
parfum dong."

"Tak apalah, demi ngerayain ultah sahabat tercinta. Omong-


omong, apa kabar kalian? Sebulan ini aku nggak kontak-
kontakan ama Yayi."

"Iya, Yayi pernah ngeluh soal itu."

Kumala meringis, merasa bersalah. "Aku memang nggak punya


waktu sebanyak dulu untuk Yayi dan sahabatku yang lain.
Tapi aku berusaha tetap menjadi teman yang baik. So,

Ratu-buku.blogspot.com
161
perkawinan kalian baik-baik aja, kan? Kalian udah saling
menyesuaikan diri?"

Kumala tidak tahu sebanyak Yasmin tahu mengenai hubungan


Jagad dan Priyayi setelah menikah. Jagad tersenyum dan
hanya menjawab iya. Kesibukannya membakar ikan bikin
orang lain___ dalam hal ini,Kulama___memaklumi bahwa
Jagad tidak bisa ngobrol banyak saat ini. Jagad malas
berbicara hal-hal yang nggak benar-benar ia alami.

"Baguslah," imbuh Kumala. "Gad, mungkin Yayi masih butuh


waktu untuk bisa melupakan Jimmy, jadi bersabar aja, oke."

Jagad terbatuk. Cukup, aku harus menghentikan obrolan ini.


Batin Jagad. "Kamu kemana aja sebulan ini." tanya Jagad
membanting arah pembicaraan.

Sambil melayani beberapa teman yang meminta ikan bakar,


Kumala menjawab," Ada teman di Belanda yang marrid.
Karena betah di sana, aku puasin tinggalnya. Sekarang
gantian aku yang jadi host beberapa kenalan di Belanda yang
ikut ke Indonesia."

Jagad bersiul. "Kamu sebenarnya layak diangkat jadi duta


pariwisata."

Kumala tertawa. "Nggak juga. Aku nggak tahu banyak tempat


wisata di Indonesia selain Bali dan Lombok. Ini aku lagi cari-
cari tour agent yang bagus untuk mereka."

Ratu-buku.blogspot.com
162
Jagad menghentikan aktifitasnya. "Eengg.... Aku punya
kenalan...., kenal baik, dengan orang yang kerja di tour agent
yang bonafide."

"Oya? Wah kebetulan banget. Aku pusing mesti pilih-pilih."


"Aku bisa nganter kalau kamu mau."

"Perect. Thanks you."

Keduanya tersenyum, tapi masing-masing untuk tujuan yang


berbeda. "Hooiii.... Kuenya datang! Ayo tiup lilin!" Sally
berseru masuk ke dalam.

"Sory kawan, jalan macet gila," ujar Vina yang kebagian


tugas mengambil pesanan kue tar. "Hah, ada kue tarnya!"
pekik Priyayi nggak nyangka. Nggak ada yang ngasih tahu sih.

Mereka mengelilingi Priyayi dan kue tar besar tersebut.


Jagad berdiri disampingnya. Lilin angak 24 ditiup, kue diiris,
dan Priyayi bimbang irisan pertama disodorin kepada siapa.
Hampir aja disodorkan ki Restu sebelumnya menyadari
semua menatap Jagad. Sang pasangan. Sang suami. Itu yang
tampak di mata orang-orang sedunia.

Sambil menerima irisan kue, Jagad agak kikuk mencium pipi


kiri dan kanan Priyayi. Tak ayal beberapa orang protes.

"Huuu.... Basiiii! Kayak orang yang udah kawin emas aja, cuma
cium pipi!" "Iyaaa. Tunjukin dong gairah pengantin baru!"

"Iya, biar kita termotivasi untuk mengawini pacar kita...."

Ratu-buku.blogspot.com
163
Celotehan ngga akan berhenti sebelum Priyayi dan Jagad
menuruti mereka. Muka Priyayi bersemu merah, dalam hati
mengumpat-umpat seluruh temannya itu. Tangan kanan
Jagad meraih dagu Priyayi, mendongakkan wajah Priyayi agak
ke atas dan terasa tangannya menekan dagu Priyayi agar
membuka bibirnya.

"Maaf....," bisik Jagad kemudian mencium bibir Priyayi.


Sensasi sengatan menyentak Priyayi. Tepukan riuh dan siulan
menyudahi adegan mereka. Yasmin hanya bisa terpana.
Nggak bisa bersuara, berkedip, dan bergerak menyaksikan.

Pipi Priyayi terasa panas, apalagi Jagad memandangnya


seakan-akan ingin memastikan reaksi biologis yang timbul
dalam dirinya. Sialan.

Acara makan-makan berlanjut. Nggak demikian dengan


Priyayi. Dia menyelinap masuk kamar dan berdiri di depan
cermin. Adegan ciuman tadi berlangsung cepat. Priyayi nggak
sempat menyiapkan mental dan langsung memegang-megang
kedua pipinya meredam panas. Di meraba bibirnya. Aduh,
kenapa jadi begini?

Pintu kamar terbuka pelan. Priyayi kaget dan secepat kilat


merain ponsel.

"Eee.... Kakek telepon, ngucapin selamat ulang tahun,"Cetus


Priyayi mengajukan alasan palsu kenapa tadi langsung masuk
kamar.

Ratu-buku.blogspot.com
164
Jagad cuma manggut-manggut. Ada jeda hening. Priyayi
masih belingsatan berduaan dengan Jagad sekarang. Jagad
berdiri di belakangnya. "Eengg.... Maaf soal ciuman itu,
semua demi...." "Akting," sahut Priyayi cepat. "Itu akting
terberat kita ya," imbuhnya tersenyum. Gugup.

Jagad terdiam beberapa lama sampai akhirnya menjawab,


"Ya." Terdengar suara ketukan di pintu kamar.

"Sori..." Yasmin yang ada di depan pintu. "Ada.... Jimmy."

"Apaaa?" seloroh Priyayi terperangah kaget. Ia langsung


menghambur menuju pintu depan rumah. Jagad bergegas
menyusul. Yasmin juga.

Di teras, Jimmy berdiri kaku. Tangan kanannya membawa


sebuket mawar. Sebagian besar yang berada di sana terpana
dengan kehadiran Jimmy. Hampir semua tahu dulu Jimmy
adalah pacar Priyayi. Dan setahun mereka tentu saja
hubungan mereka berakhir karena pernikahan Priyayi.

Makanya, kalau lantas Jimmy ada di sini, itu adalah sesuatu


yang patut dipertanyakan. Ada apa di balik cerita mereka
sesungguhyna? Udah kayak infotaiment aja.....

Hawa panas menerpa sekujur tubuh Jimmy. Saat ini yang ia


rasakan adalah malu dan..... Marah. "Jimmy...," panggil Priyayi
saat berdiri di depannya. Jimmy masih mematung. Ia benar-
benar tidak menyangka keriuhan yang ia saksikan.

"Jim...." Priyayi makin mendekat.

Ratu-buku.blogspot.com
165
Jimmy mengambil napas dalam-dalam, berusaha
mengendalikan diri setenang mungkin. "Wah, ada pesta ya.
Tadi di jalan tiba-tiba teringat kamu ulang tahun hari ini,
makanya aku mampir. Selamat ulang tahun." Jimmy
menyodorkan buket mawar kepada Priyayi. Priyayi menatap
Jimmy tanpa berkedip.

"Maaf, mengganggu. Kalau begitu aku pulang dulu, masih ada


urusan lain." Jimmy menganggukan kepala kemudiam berjalan
pergi. Priyayi terpaku.

"Ee... Biar aku antar sampai mobil. " Yasmin mengambil


inisiatif memecah kekakuan suasana.

"Biar aku aja," sergah Priyayi dan bergegas menyusul Jimmy.

"Baiklan. Ok, everybody, siapa mau cocktail?" Tio, tolong


bikinin cocktail buat kita duoongg!" seru Yasimb berusaha
mengembalikan perhatian teman-teman pada pesta.

Di sudut teras, Tio berjalan menuju pantry melaksanakan


instrukso Yasmin. Ia menepuk bahu Jagad yang masih berdiri
menatap ke arah pagar. "ayo, teman, bantu aku meracik
cocktail." ajak Tio berusaha mengalihkan perhatian Jagad.

Semetara itu, agak jauh dari rumah, Jimmy dan Priyayi


berdiri berhadapan. "Kamu bilang nggak ada acara apa-apa."

Priyayi menyahut dengan wajah tegang. " waktu aku bilang


itu, aku nggak tahu apa-apa."

Ratu-buku.blogspot.com
166
"Kejutan dari Jagad?" Tanya Jimmy sinis.

"Bukan. Itu ide mendadak teman-teman. Jim, kenap kamu


nekat kemari? Aku kan udah bilang kita bertemu di luara aja.
Aku khawatir sewaktu-waktu orang-orang bisa datang...."

Jimmy memotong, " aku hanya ingin menghiburmy yang sakit


dan nggak bisa merayakan ulang tahun. Aku ingin kasih kamu
kejutan, tapi... Aku malah terkejut." Nada bicara Jimmy
getir. "Aku hanya ingin membuatmu senang, itu aja."

Jimmy lalu merogoh sakunya, mengeluarkan kotak mungil dan


menyodorkan kepada Priyayi. "Butuh berhari-hari
memikirkan hadiah yang tepat untukmu. Nggak mungkin
cincinm karena akan terlalu banyak cincin di jarimu. Kalung
juga terlalu mencolok perhatian...."

Hati Priyayi tersentuh mendengar penuturab Jimmy. Jimmy


meraih tangannya dan menyerahkan kotak mungil ke telapak
tangan Priyayi.

"Ini gelang. Orang-orang nggak akan merhatiin, kalau itu


yang kamu khawatirkan. Terimalah. Setelah itu aku nggak
akan buat kamu khawatir lagi."

Jimmy lalu berbalik menuju mobilnya. Tiba-tiba Priyayi


memeluknya erat dari belakang. Jimmy terenyak.

"Maa. Maafkan aku," ucap Priyayi.

Ratu-buku.blogspot.com
167
"Niat baik tulus nggak berharga lagi. Aku nggak tahu lagi..."
tukas Jimmy lalu melepaskan kedua tangan Priyayi yang
mendekap perutnya, melangkah terus masuk mobil dan
menghilang dari pandangan Priyayi.

Dada Priyayi terasa sesak. Ia tertegun di tengah jalan.


Kenapa kamu sekejam iru, Yi.... Rutuknya menyesal. Ia ingin
menangis tapi nggak mungkin sekarang.

"Oke, Yi, kuatkan dirimu malam ini. Jangan bikin suasana


tambah runyam. Pasang wajah ceria. Ceria! Ayo ceria!"
Priyayi mendoktrin otak dan sarafnya. Kemudian ia kembali
dalam keceriaan pesta. Pagi, tersadar

Priyayi tiba-tiba terbangun, menegakkan punggung dan nahan


napas. Empat, lima, enam detik kemudian ia meloncat dari
tempat tidur....

"Aooww!" Suara erangan berasal dari lantai tempat Priyayi


mendaratkan kaki.

"Upss...." pekik Priyayi tertahan. Di nggak ingat kalau


semalam Jagad tidur di kasur lipat ke kamarnya karena
kamar Jagad di pake Lintang.

"Uuh... Lagi-lagi diinjak," protes Jagad.

Priyayi buru-buru merosot ke lantai. "Maaf, nggak sengaja.


Sakit, ya?" ia mengurut-urut betis Jagad, tanpa memikirkan
"efeknya" ke cowok itu,

Ratu-buku.blogspot.com
168
Jagad terpaksa ikut bangun dan menepis tangan Priyayi.
Remasan tangan cewek___tanpa dihalangi lapisan kain
pula___di pagi hari adalah stimulus besar. "Udah, sana....."

Priyayi meringis lalu segera ke kamar mandi. Kembali ke


kamar, dia tergesa-gesa mengambil pakaian dari lemari. Saat
hendak mencopot kaus, dia baru ingat. Dia menoleh ke arah
Jagad yang kembali tidur. Dengan mengendap-endap, Priyayi
menunduk mendekati Jagad. Telapak tangannya melambai-
lambai di depan muka Jagad, memastikan Jagad benar-benar
tidur.

Ah, aman, batin Priyayi kemudian kembali ke depan lemari


untuk berganti baju. Ia mengenakan gelang pemberian
Jimyy, meraih kunci mobil, dan berjingkat-jingkat menuju
pintu.

"Mau ke mana pagi-pagi begini?"

Priyayi terkesiap kaget. Jagad belum tidur! Gagang pintu


yanng sudah digenggamnya langsung dilepas. Ia meringis
sekaligus mengkeret. "Eee.... Ke rumah itu.... Eee Yasmin...."

Jagad menegakkan punggung dan mengusap-usap rambutnya.


"Biar kuantar, aku cuci muka dulu sebentar."

"Oh nggak usah! Aku bisa sendiri!" sergah Priyayi.

"Heh, kamu ini masih sakit."

Ratu-buku.blogspot.com
169
"Nggak, udah nggak apa-apa kok. Bener! Suer!" Priyayi
ngotot lengkap dengan jari telunjuk dan jari tengah
membentuk huruf V.

"Udahlah kuantar aja, biar aku nggak khawatir."

"Eee... Sebenarnya aku mau ke rumah.... Jimmy...." Priyayi


terpaksa mengaku.

Jagad menghentikan gerakannya merapikan rambut, terdiam.

"Eeengg.... Ada yang harus kuomongin dengan dia...," tambah


Priyayi. Benar dugaanku, pasti ada sesuatu semalam, batin
Jagad.

"Kamu kuantar sampai depan rumahnya." Jagad keluar kamar


untuk mencuci muka.

Priyayi menghela napas. Dia merasa nggak enak ke Jagad.


Tapi sudahlah.... Yang penting aku bisa ketemu Jimmy
secepatnya.....

Diperjalanan, Priyayi nggak bisa nahan penasarannya. "Tadi


setelah aku injak kakimu.... Kamu nggak tidur?"

"Nggak."

Apa?? Priyayi melirik Jagad yang berkonsentrasi nyetir.


"Jadi, kamu tahu.... Aku gant.... Eh, aku ngapain aja?"

"Nggak juga."

Ratu-buku.blogspot.com
170
Priyayi mengembuskan napas lega. Jadi dia nggak melihatku
ganti baju. Priyayi melirik Jagad sekali lagi. Jaagd balas
memandang Priyayi. Priyayi segera membuang muka ke luar
jendela. Jagad berdeham. "Kenapa memangnya? Kamu ganti
baju?"

Priyayi spontan noleh memandang Jagad dengan wajah


setengah panik. "Jadi, kamu melihatku?" Jagad nyengir. "Aku
kan sudah bilang nggak."

Priyayi memejamkan mata, merasa malu. Aduh, kamu ceroboh


sekali, Yi! Santai aja. Kita toh sudah pernah lebih dari itu
kan..."

Priyayi makin memejamkan mata rapat-rapat. Aduh... Ini


memalukan! Jagad nggak bida menahan tawa melihat Priyayi.

Sesuai permintaan Priyayi, Jagad memarkir mobil nggak


tepat di depan rumah Jimmy. "Aku tunggu di sini," cetus
Jagad.

"Jangan, kamu pulang aja. Biar nanti Jimmy yang


mengantarku."

"Kamu yakin?"

Priyayi mengangguk. Sebenarnya dia nggak yakin. "Baiklah."

Priyayi turun dari mobil. "Yi...."

Priyayi menunduk melihat Jagad.

Ratu-buku.blogspot.com
171
"Tetap berjuang," ujar Jagad seraya ngepalin tangan.

Priyayi tertawa dan menirukan Jagad. "Tetap berjuang.


Thanks."

Setelah Priyayi masuk rumah Jimmy, Jagad nunggu beberapa


lama untuk memastikan Priyayi diterima di dalam. Ia
tersenyum mengingat ia harus mencium Priyayi di hadapan
teman-teman. Tetap berjuang, kamu sendiri, apa yang kamu
perjuangkan sekarang ini, Gad...? Gumam Jagad bertanya
pada diri sendiri. Lebih tepatnya, menyindir.

Jagad melajukan mobil ke arah jalan yang dulu sering


dilewati. Agak jauh dari rumah bercat putih, Jagad berhenti
beberapa lama. Tanpa disangka, ada yang keluar dari rumah
tersebut dan membuka pagar.

Dia yang seharusnya kuperjuangkan, batin Jagad miris.

Yang keluar dari rumah dan membuka pagar adalah Syamila.

***

Berbaik hati, harus bahagia

Priyayi menelantangkan badan di atas tempat tidur di


kamarnya sendiri. Diangkatnya pergelangan tangan kanan.
Diamat-amatinya gelang emas pemberian Jimmy.

"Hubungan kita melibatkan orang lain, jadi memanf sama


nggak mudah tapi bukan berarti nggak bisa," ujar Priyayi

Ratu-buku.blogspot.com
172
saat ia mendatangi rumah Jimmy pagi-pagi itu. Priyayi
sedang mencoba menyakinkan Jimmy bahwa kedatangan
Jimmy waktu iu sebenarnya sangat berarti baginya dan
memastikan cowok itu tidak kecewa pada dirinya, serta mau
memaafkannya.

"Kita lihat nanti." Jimmy menanggapi dengan dingin. Dan itu


membuat Priyayi gundah. Sepertinya Jimmy berubah, nggak
yakin lagi dengan keputusannya mempertahankan hubungan
ini, pikir Priyayi. Dia tampak siap melepaskan aku... Tapi aku
nggak siap....

Kecamuk pikiran Priyayi buyar ketukan di pintu kamarnya.

"Buka aja," jawab Priyayi seraya bangun dan duduk di tempat


tidur. "Aku pinjam mobilmu ya, mau balikin alat barbekyu."

Priyayi mengangguk. "Thanks."

Beberapa detik setelah Jagad menutup pintu kamarnya....

Tebersit di pikiran Priyayi untuk ikut. Dia bergegas


membuka kamar. "Eeehh!"

Ternyata Jagad masih di depan kamarnya. Nyaris saja


Priyayi menubruknya. Keduanya berhadapan sangat dekat,
tapi mereka hanya diam dan saling menatap. Rasanya Jagad
ingin mendorong Priyayi seketika masuk kembali ke kamar
dan mereka....

Ratu-buku.blogspot.com
173
"Eeeh.... Aku mau ikut," cetus Priyayi memecah keheningan
sekaligus memecah fantasi Jagad.

"Kenapa mau ikut....?" Jagad diam di tempat dan terus


memandangi Priyayi, sampai-sampai Priyayi harus mendorong
badan Jagad agar dirinya bisa lewat.

"Mau ikut ngucapin terima kasih!" seru Priyayi yang berjalan


keluar rumah. "Beli pizza dulu ya!"

Sekitar sejam kemudian, mereka sampai di depan rumah


Danu. Baru pada kunjungan kedua ini Priyayi memerhatian
tempat tinggal Jagad di masa silam ini cukup teduh, banyak
tanaman di halaman depan. Lain dengan halaman rumahnya
yang gersang. Baru akhir-akhir ini saja, setelah Jagad
"bergabung" menjadi penghuni, halamannya jadi lebih asri.
Mungkin Jagad ketularan hobi Danu merawat tanaman atau
memang hobinya juga begitu. Atau dia cuma terlalu risi
dengan kegersangan halaman rumahya!

"Dia tahu kita," bisik Jagad membuka pagar. "Dia tahu kita
datang?" Priysayi ikut berbisik.

"Ya, tapi bukan itu yang kumaksud. Dia tahu soal rahasia
kita." "Ooo...." Priyayi mengangguk mengerti.

"Kamu punya Yasmin, aku punya dia."

Priyayi berhenti dan menarik lengan baju Jagad, memintanya


berhenti juga. "Dia juga tahu soal aku dan...."

Ratu-buku.blogspot.com
174
"Oh itu, nggaklah. Maksudku hanya soal kita tidur bareng
dan menikah nggak sungguhan. "Dia tahu kita pernah....
Itu...?" Priyayi sudah merasa malu padahal belum bertemu
Danu. "Aduh, kamu ini...." Jagad mulai lemas. "Aku kan juga
butuh teman curhat. Lagian dia maklum, kita mabuk waktu
itu."

"Whatt?! Dia tahu kita mabuk?!" Priyayi berseru tapi dengan


suara berbisik. "Aduh, aku kan jadi malu...."

"Heh, aku nggak protes kamu cerita ke Yasmin! Lagian lebih


dimaklumi orang yang nggak saling cinta tidur bareng dalam
keadaan nggak sadar....." suara Jagad nggak berbisik lagi dan
itu membuat Danu bahwa tamu-tamunya sudah datang.

"Wah, wah, kalau cuma untuk ngobrol berdua, ngapain jauh-


jauh datang kemari," gurau Danu.

"Tahu nih, Yayi."

"Kok aku sih....?"

Danu tertawa melihat Jagad dan Priyayi saling manyun. "Hei,


aku nggak peduli dengan kalian. Aku cuma menagih pizza yang
kamu janjiin, Gad."

Pas mau masuk, ponsel Priyayi berbunyi. Dari Jimmy. Priyayi


berdeham. "Kalian masuk aja dulu."

Jagad dan Danu masuk, membuka bungkusan pizza dan mulai


menyantao roti Italia yang sudah terpotong-potong itu.

Ratu-buku.blogspot.com
175
"Kamu kelihatan beda sekarang," ujar Danu.

"Beda gimana?"

"Lebih... Emm.... Rumahan, udah jarang ngumpul-ngumpul.

Jagad tertawa. "Sekarang aku harus terlibat dalam keluarga


Yayi. Dan teman-temannya."

"Udah punya tanggung jawab gede sekarang, membawa hidup


anak orang."

"Nggak juga. Kamu tahu sendiri hubunganku kayak gimana


sama Yayi."

"Hubungan kalian memang aneh. Nggak wajar, nggak sehat,


tahu nggak?!" komentar Danu.

Jagad menghela napas, menghentikan kegiatan ngunyah-


mengunyah. "Jujur, Nu, kadang kalau melihat Yayi, apalagi
kalau ada saudara yang menginap sehingga kami harus
sekamar...."

"Satu tempat tidur?!" sela Danu.

"Nggak. Tapi tetap saja kadang ada keinginan.... Yaaahh....


Apalagi kalau ingat dia istri sahku, berarti aku punya hak,
kan...."

"Itulah maksudku nggak sehat tadi," timpal Danu

Ratu-buku.blogspot.com
176
Jagad memajukan badannya, mendekat ke Danu, dan
memelankan suara, "Seperti tadi, dia hampir menubrukku,
tinggal satu dorongan...."

"Heh, kamu nggak berniat maksain kehendak, kan?!"

"Nggaklah!" sahut Jagad sewot. "Emang aku cowok brengsek,


apa?!"

"Siapa yang brengsek?" sahut Priyayi berjalan menghampiri


mereka. "Semoga bukan aku yang kalian omongin."

Danu berdeham keras sementara Jagad mengalihkan


perhatian dengan permisi ke kamar mandi. "Jagad bilang
kamu sudah ngambil hati keluarga besarnya," ujar Danu saat
Jagad ke kamar mandi.

"Oya? Aki nggak melakukan apa-apa lho," sahut Priyayi herab


sendiri. Mulutnya penuh dengan pizza, nyam, nyam, nyam....

"itu karena kamu menyenangkan."

"Ah, biasa aja, nyam, nyam, nyam....

"Kamu nggak sadar kalau kamu adalah orang yang


menyenangkan?"

"Sadar sih, tapi aku nggak mungkin mengakui terang-


terangan, he.... he...."

Danu tertawa. Barusan dia mengakui terang-terangan!

Ratu-buku.blogspot.com
177
"Hooh.... Tidak...." celetuk Priyayi tiba-tiba dengan mulut
menganga, padahal baru saja dia nyuapin pizza ke dalam
mulut dengan ukuran maksimal. Walhasil, Danu kehilangan
setengah dari selera makannya karean melihat Priyayi.

"Gimana kalau aku juga ngambil hati Jagad, sama kayak


keluarganya itu? Gawat!" Danu mengernyitkan membaca
mimik muka Priyayi. "Kamu ini bercanda atau serius?"
Hahaha! Gelak Priyayi kembali membahana.

"Heh! Nggak sopan di depan orang tertawa keras dengan


mulut penuh makanan! Malu-maluin aja!! Jagad tiba-tiba
berseru lantang tepat di belakang kursi Priyayi. Priyayi
terkesiap kaget sampai tersedak. Ia megap-megap kesulitan
bernapas sehingga Jagad dan Danu jadi kelabakan. "Air, air!"
ujar Jagad meminta kepada Danu.

Setelah keadaan tenang, Jagad dan Danu baru tergelak


menertawakan Priyayi. Hahaha! "Kelakuan kalian ini...." Danu
geleng-geleng kepala "Nggak heran kalian pernah melakukan
sesuatu yang jauh lebih heboh daripada ini...." Wajah Priyayi
terasa panas. Ia berdeham.

Eh, tanpa dinyana Jagad yang berdiri di belakang Priyayi


duduk, menunduk, merangkulkan tangan ke leher Priyayi dan
menempelkan dagunya ke ubun-ubun Priyayi lantas berujar,
"Dia luar biasa...."

Haaah.... Mulut Priyayi menganga. Ia sontak berdiri


melepaskan diri dari Jagad yang iseng banget malam ini.

Ratu-buku.blogspot.com
178
Jagad sampai terhuyung ke belakang dan wajah Priyayi
memerah.

"Huuh.... Kalian ngerjain aku! Sebal!"

Jagad terbahak dan mengedipkan sebelah matanya kepada


Danu yang ikut tertawa.

Saat hendak berpisah, Danu melongok Priyayi dan Jagad


yang berada di dalam mobil. "Kalian harus bahagia... Dengan
cara kalian masing-masing...."

Ucapan terakhir Danu menyentak Priyayi hingga kata-kata


tersebut terngiang-ngiang terus selama perjalanan. Kalian
harus bahagia....

Rasanya sudah lama sekali nggak ada yang menyuruhnya


untuk hidup bahagia. Seabad yang lampau Priyayi pernaj
membahas tentang kebahagiaan. Waktu itu ada yang bilang
cinta yang menciptakan kebahagiaan. Priyayi sendiri waktu
itu berpendapat panjang lebar. Bahwa bahagia dipisahkan
menjadi dua jenis, bahagia yang dangkal dan kebahagiaan
mendalam atau hakiki kebahagiaan dangkal biasanya
berkaitan dengan materi seperti bahagia dapat hadiah,
dapat barang bagus. Tapi nggak semua. Materi juga bisa
memberikan kebahagiaan mendalam, seperti uang banyak
digunakan menolong kaum papa. Intinya materi sebagai
tujuan kebahagiaan berakhir dangkal. Materi sebagai alat
untuk memperoleh kebahagiaan mendalam akan lebih baik.
Kebahagiaan mendalam lebih bersifat emosional dan
spiritual, seperti terpenuhinya kebutuhan akan mencintai

Ratu-buku.blogspot.com
179
dan dicintai, penemuan makna hidup, tercapainya tingkat
spiritual yang diharapkan.

Masalahnya adalah karena manusia hidup di dunia, jadi


kadang-kadang ada hal-hal duniawi yang memengaruhi dan
akhirnya kebahagiaan pun terusik. Contohnya, saat
seseorang menemukan apa yang disebut cinta sejati ternyata
hanya bertahan beberapa tahun karena "cinta sejati" itu
berpaing kepada yang lain. Nah!

Dan waktu itu Kumala menganggap pendapat Priyayi cuma


omong-kosong rumit. "Bahagia itu ya happy, senang. Kamu
senang berarti kamu bahagia."

Hehe. That's simple. Namanya juga Kumala.

Kata orang cinta yang bisa membuat bahagia.... Priyayi


melirik Jagad. Jagad nggak bisa menemukan cinta selama
masih bersamaku. Priyayi dihinggapi rasa bersalah.

"Gad, kamu ingin apa?"

"Ha?" Jagad bengong.

"Ayo ngomong aja. Aku ingin bikin kamu bahagia malam ini."
tentu saja yang di maksud Priyayi adalah bahagia yang
dangkal, karena itu yang bisa dia berikan sekarang.

Dengan tangan kanan tetap memegang kemudi, tangan kiri


Jagad mengulur memegang dahi Priyayi. "Nggak panas...., kok
bisa ngomong aneh begini, ya?"

Ratu-buku.blogspot.com
180
Priyayi cemberut dan menepis tangan Jagad. "Aaah! Aku
cuma ingin berbuat sama setelah kamu bikin aku happy di
ulang tahunku."

"Kamu happy waktu itu?"

Priyayi mengangguk. Well, terlepas dari permasalahannya


dengan Jimmy.

Jagad memandang Priyayi kurang yakin, ia hendak bertanya


soal Jimmy, tapi... Sudahlah...

"Hmm.... Aku memang lagi ingin sesuatu...."ucap Jagad


kemudian.

"Apa?"

"Bisa kita melakukan.... Itu.... Lagi?"

Plakk! Priyayi memukul bagian belakang kepala Jagad dengan


telapak tangannya.

"Aduhh! Kekerasan dalam rumah tangga!" seloroh Jagad.

Priyayi mencibir dan menggosokkan kedua telapak tangannya.

***

Jagad mengarahkan mobil ke sebuah mall, lantas menggiring


Priyayi menuju konter pakaian khusus pria. "Dari beberapa
hari yang lalu aku ingin beli kemeja itu..."

Ratu-buku.blogspot.com
181
Jagad nunjuk sebuah model kemeja yang digantung, lalu
noleh ke Priyayi." Aku bakalan bahagia banget malam ini
kalau bisa beli kemeja itu...."

Priyayi tertawa. "Ya udah, kamu ambil. Aku kan udah janji."
keluar dari kamar pas untuk menunjukkan kemejanya saat
dikenakan, tahu-tahu Jagad sudah memadukannya dengan
suspender.

"Pasti keren berdiri di depan murid seperti ini," celetuk


Jagad seraya bergaya.

Priyayi mengacungkan dua jempol tangannya. Ada desahan


samar keluar dari saluran pernapasan Priyayi. Ini
mengingatkannya pada satu hari menyenangkan yang
dihabiskan berdua dengan Jimmy. Ia ingin Jimmy seperti
hari itu untuk seterusnya, bukan hanya sehari....

"Astag! Aku bikin kamu seterpesona itu ya, sampai


terbengong-bengong?" seru Jagad keras-keras. Priyayi yang
duduk bengong tersentak.

"Eh, aku mempraktikkan reaksi muridmu melihat kamu


sekeren ini, hehe..."

Jagad terbahak. "Aku senang malam ini. Thanks," ucapnya


dan mengulurkan tangan memegang ubun Priyayi.

Priyayi meringis, merasa kikuk kalau suasana mulai mengarah


sentimentil seperti ini....

Ratu-buku.blogspot.com
182
Perhatian yang sama, tanggapan yang berbeda

"LOLITA Fun Tour and Travel. Ini kantornya," gumam


Kumala sedikit mendongakkan kepala membaca papan nama
yang bertengger di atas kompleks tuko. Jagad mengangguk
dan mengajak Kumala masuk. Di memenuhi janjinya menemui
Kumala pergi ke kantor agen perjalanan tersebut.

Di dalam kantor, Jagad celingukan mencari yang di


harapkannya. Kumala memiringkan kepala, heran melihat
tingkah Jagad. Sadar diperhatikan Kumala dengan tanda
tanya, Jagad meringis. "Eee.... Cat ruangannya bagus...."

Kumala mengedarkan pandangan pada dinding ruangan.


Bercat krem, cat standar sebuah kantor. Apanya yang
bagus? Lebih bagus cat rumahnya Yayi, pikir Kumala. Kumala
kembali memandang Jagad, kali ini dengan pandangan lebih
heran. Jagad buru-buru ngalihin pembicaraan.

"Ada tur yang sesuai nggak?"

"Hemm... Aku udah baca sekilas...." Kumala berpaling pada


customer service. "Mbak, bisa minta info detail paket ini...."

Mumpung Kumala sibuk berbicara dengan salah satu pegawai


di meja lobi, Jagad dengan sigap bertanya pada salah satu
front desk.

"Saya teman Syamila...., kok dia nggak kelihatan, ya?"

"Mila nggak masuk hari ini, izin sakit."

Ratu-buku.blogspot.com
183
"Sakit? Sakit apa? Sudah berapa hari?"

"Baru hari ini. Katanya sih demam. Oya, kakak teman


kampusnya?"

"Oh, bukan, teman.... Mmm....teman lama," jawab Jagad


sekenanya.

Pikirannya jadi nggak tenang memperoleh kabar Syamila


sakit. Dulu saat masih bersama, setiap Syamila sakit, ia
adalah satu-satunya orang yang menemani lantaran kakak
satu-satunya yang tinggal berdua saja dengan Syamila sering
tugas berhari-hari meninggalkan Syamila sendirian.

Keluar dari kantor agen perjalanan itu, Jagad beralasan


kepada Kumala bahwa dia masih punya urusan lain, jadi nggak
bisa pulang bareng. Dan tanpa pikir panjang dia langsung
menuju rumah Syamila.

"Mas...." Syamila sangat terkejut dengan kedatangan Jagad.


Dia nggak siap bertemu Jagad, apalagi dengan penampilan
kacau seperti ini, berpiama dan berwajah kuyu.

"Hai. Maaf, tapi aku dengar kamu sakit...., kakakmu sering


nggak ada di rumah...., aku khawatir kamu sendirian dalam
keadaan sakit, jadi aku menjenguk kemari. Kamu sendirian
sekarang?"

"Iya, tapi nggak apa-apa, demamnya sudah turun."

"Dari mana Mas tahu aku sakit?"

Ratu-buku.blogspot.com
184
"Tadi aku nganter teman ke kantormu."

"Oh," gumam Syamila.

Mereka diam berdiri di ambang pintu.

Mungkin datang kemari adalah keputusan yang salah, batin


Jagad. "Eengg.... Maaf aku bikin kamu nggak nyaman," ucap
Jagad memecah kebisuan. "Kulihat kamu baik-baik saja....,
kalau begitu aku permisi pulang. Banyak makan dan istirahat,
oke." Jagad membalikkan badan.

"Jangan pergi." Jagad menoleh.

"Eh, maksudku.... Kamu udah jauh-jauh kemari, masuklah


dulu, aku buatin minum," sambung Syamila mengklarifikasi
apa maksud "jangan pergi" yang terlontar tadi.

Jagad menceritakannya kunjungannya ke kantor Syamila,


tapi Syamila hanya memberi jawaban singkat. Dan Syamila
nggak bertanya apa pun kepada Jagad.

Semua sudah berubah, batin Jagad sedih. Syamila udah


memagari diri tinggi-tinggi darinya. "Kepalamu sakit?" tanya
Jagad melihat Syamila memijit-mijit keningnya.

"Nggak apa-apa. Minum obat juga hilang."

Jagad menatapnya saksama. Syamila jadi makin tak berdaya.


Ia berdeham. "Mas, makasih sudah jenguk kemari. Dan

Ratu-buku.blogspot.com
185
makasih sudah.... Mengkhawatirkanku. Aku menghargai
perhatiannya."

Jagad tersenyum.

"Tapi.... Aku harap.... Jangan seperti ini lagi. Ini bisa...."


Syamila ngambil jeda beberapa detik, "....Membuatku
kembali terluka. Maaf...."

Napas Jagad tertahan mendengar kata-kata Syamila.

"Begitu ya.... Aku jadi merasa bersalah dengan semua ini...."


Jagad menimpali lemas.

"Nggak," seloroh Syamila. "Jangan merasa begitu. Akulah


yang bersalah karena punya sikap seperti itu.... Maafkan
aku...."

Jagad mendesah. "Aku yang minta maaf. Aku hanya


mengkhawatirkan keadaanmu."

"Iya, aku tahu. Maafkan aku."

Sepulang Jagad, Syamila mendesah keras-keras. Matanya


berkaca-kaca. Dadanya terasa mau meledak. Otot-ototnya
tegang selama Jagad berada di rumahnya karena berusaha
keras menahan luapan perasaannya yang belum bisa
melupakan cowok pti. Tapi di satu sisi, dia juga nggak bisa
melupakan bagaimana Jagad melakukan kebohongan besar
dan sangat pantas dilakukannya.

Ratu-buku.blogspot.com
186
Syamila menuju kamarnya, mengambil paper bag super besar
dari kolong tempat tidur. Isinya adalah semua barang yang
pernah diberikan Jagad untuknya. Keputusannya makin bulat
untuk mengembalikan isi paper bag itu. Balik kaca, asumsi

"Huuh.... Panas banget sore ini. Jam segini matahari masih


terang aja."Kumala menggerutu. Dikenakan topi lebarnya
sebelum turun dari mboil. Kacamata gelapnya bertengger
setia melindungi matanya.

Hari ini Kumala balik ke kantor Lolita Fun Tour and Travel.
Ada satu kenalan yang mndadak ingin berganti tujuan wisata
karena baru menyadari bahwa dia pernah pergi ke sana
beberapa tahun lalu.

"Huuh.... Cari kerjaan aja. Kalau nggak inget baiknya dia


selama aku di negaranya, ogah banget berpanas-panas dan
bermacet-macet di jalan untuk mengurus hal begini." Kumala
masih setia menggerutu.

Hampir setengah jam kemudian, sambil menunggu proses


adminitrasi untuknya berlangsung, Kumala duduk menunggu
di kursi lobi menghadap ke jalan.

"Huuh.... Pemandangan yang membosankan," gerutu Kumala


sekali lagi. Matanya memandang tanpa semangat ke jalan
yang dilewati kendaraan dan orang-orang berlalu-lalang. Lalu
pandangan terpaku pada satu orang yang sedang lewat.

"Jagad? Ngapain kemari?

Ratu-buku.blogspot.com
187
Ternyata Jagad cuma lewat doang. Ngapain dia beredar di
sini? Pikir Kumala. Tiba-tiba mulutnya menganga dan matanya
membesar.

"Jangan-jangan dia...." Kumala bergegas berdiri. Aku harus


cari tahu. Ini menyangkut sahabat baikku, putusnya menuju
pintu keluar cepat-cepat, tak lupa menyambar topinya yang
tergeletak di meja.

"Saya pergi sebentar," pesannya kepasa pegawai yang


melayaninya.

"Ke mana, ya?" Kepala Kumala menoleh kanan-kiri sembari


berjalan. Saat menoleh ke kanan ke sebuah kafe, tampak
jelas Jagad duduk berhadapan dengan seorang perempuan,
karena meja mereka tepat di sebelah jendela kaca.

Kumala menutup mulutnya yang membuka lebar. "Hoohh....!"


dengan sigap dia berbalik. Tapi.... Aku nggak bisa lihat kalau
balik badan begini...., pikir Kumala menyadari ketololannya.
Dia lalu mengenakan topi dan membenamkan kepalanya
dalam-dalam, tapi lantas mengangkat topinya kembali
sedikit, soalnya dia kesusahan melihat. Hehe, bodoh.
Ditambah kacamata gelap super lebar, Kumala berharap
Jagad nggak mengenalinya saat masuk kafe tersebut.

Dan kayak di film-film, Kumala memilih meja di belakang


Jagad dan duduk menghadap lawan bicara Jaagd. Semua
dilakukan hati-hati tanpa menarik perhatian. Saat harus
pesan minuman, dia hanya menunjukkan jari pada buku menu,

Ratu-buku.blogspot.com
188
tidak berani mengeluarkan suara, takut ketahuan. Soalnya
kafenya kecil dan lenggang.

"Untuk topping-nya apa, Kak? Kita ada almond, nuts, dan


cokelat." Aduh, batin Kumala. Ia menggelengkan kepala.

"Makanannya pesan apa?"

Lagi-lagi Kumala menggeleng. Si waiter mengernyitkan dahi....


Merasa janggal dengan kelakuan wanita bertopi di depannya.

Kumala menyaksikan si perempuan menyerahkan paper bag


berukuran besar kepada Jagad. "Ini Mas, ini semua
barang...."

Bersamaan dengan itu, ponsel Kumala berbunyi dengan


volume keras. Kumala terlonjak.

Hah, Jagad menoleh! Kumala membalikkan badan dengan


cepat sembari tangannya memegang ponsel untuk dijawab.
Posisi duduknya memang jadi aneh, tapi daripada ketahuan.....

Aduh, mampus. Restu telepon! Pasti soal keputusan lepas


saham, harus dijawab nih.

"Halo? Mala?" Suara Restu di ujung telepon. Kumala berdiri,


melempar uang ke meja untuk minuman yang nggak sempat
diminumnya, melihat wujudnya pun belum, dan melangkah
terburu-buru dengan kepal menunduk.

"Huuh.... Kacau deh!" omel Kumala saat membuka pintu mobil.

Ratu-buku.blogspot.com
189
Berdasarkan petunjuk-petunjuk yang didapatnya sejauh ini,
Kumala berasumsi bahwa Jagad selingkuh. Sekarang dia
bingung bagaimana harus mengatakan ini ke Priyayi.

"Kasihan Yayi. Aku tahu mereka kawin bukan karena


keinginan mereka, tapi nggak bisa gini dong." Kumala
bersungut-sungut sambil menyetir.

Sampai setengah perjalanan.....

"Hoohhh! Lolita! Tiket tur!" Kumala baru ingat dia belum


menyelesaikan urusan di agen tur tadi.

Kacau memang.....

***

Ratu-buku.blogspot.com
190
Part 27

Serius, laporan pandangan mata

"Apanya yang jelas?"

"Semuanya." Kumala meloncat ke sofa bergabung dengan


Yasmin yang bertengger nyaman. Sesaat tubuh mereka
berguncang dikarenakan dahsyatnya per sofa ditimpa oleh
dahsyat pantat Kumala. Mereka berdua ngobrol serius di
apartemen Kumala. Lebih tepatnya, Kumala yang serius.
Yasmin sih berlagak serius,hehe.

"Jagad kasih referensi ke aku untuk pake tour agent itu


karena ada ceweknya kerja di sana! Huh, tahu begitu, aku
mana mau, ih!"

Yasmin memainkan kumpulan rambut di tengkuknya. Ingin


rasanya ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara
Priyayi dan Jagad, bahwa sebenarnya nggak terjadi apa-apa,
sehingga kupingnya nggak perlu tersiksa mendengarkan
ocehan Kumala ini.

"Dari mana kamu tahu cewek itu kerja di sana?"

"Seragamnya. Cewek itu ngasih hadiah gede banget ke


Jagad, berarti mereka udah lama berhubungan!"

Kumala mengelus-elus dagunya. "Apa dia pacar lama Jagad,


ya? Hhh.... Kasihan Yayi. Dia udah susah payah berusaha agar
perkawinannya berjalan baik, tapi Jagad malah.... Hhh...."

Ratu-buku.blogspot.com
191
Kumala menghela napas dengan wajah muram, prihatin
dengan hubungan temannya itu.

Yasmin menutupi wajahnya dengan bantal sofa. Duh, Yi, kamu


udah menempatkan aku pada posisi yang nggak enak nih....

Kumala menoleh ke arah Yasmin. "Menurutmu kita harus


bagaimana?"

Yasmin menurunkan bantal dari wajah. "Ha....? Oh itu.....


Eee.... Kita nggak usah mencampuri urusan pribadi mereka
deh...."

"Nggak bisa!" sergah Kumala berseru kencang, bikin Yasmin


melonjak kaget dan mengelus dada.

"Aku nggak rela Yayi dibohongi terus-terusan."

Yasmin mendesah pasrah. Coba kalau kelak Kumala tahu


rahasia itu dan dia tahu kalau aku tahu tapi nggak
memberitahu, dia pasti marah besar.... Tapi kalau aku
memberitahu sekarang, Yayi yang pasti marah.... Inikah
rasanya makan buah simalakama....? Atau buah
kumalakama....?

"Heh! Bengong melulu!" sentak Kumala kepasa temannya itu.


"Pikiranmu lagi nggak di sini, ya?!"

"Iya," sahut Yasmin otomatis. "Eh, nggak! Maksudku, ya


kalau gitu bilang aja ke Yayi."

Ratu-buku.blogspot.com
192
"Tapi.... Aku nggak tega melihat Yayi jadi sedih."

Yasmin menepuk-nepuk bahu Kumala. "Dia nggak akan sedih."

Dahi Kumala berkerut-kerut. "Kamu yakin banget Yayi nggak


sedih?"

Yasmin berdeham, nahan senyum, membayangkan gimana


menggebu-gebunya Kumala menyampaikan "laporan
pandangan mata" ke Priyayi dan gimana reaksi Priyayi
mendengarnya. "Pasti seru...." gumam Yasmin tanda sadar.

"See....ruu.... Kamu bilang?!" celetuk Kumala, lalu menyentil


kepala Yasmin gemas. "Huuh, apa sih yang ada di otakmu
ini?!"

***

Melabrak, mengaku

Priyayi termangu lama setelah Kumala menyampaikan laporan


padangan mata perihal Jagad. Siapa ya, cewek itu? Apa
pacarnya dulu? Pikir Priyayi sibul menebak-nebak.

"Kemarin dia pulang bawa bag jumbo?" tanya Kumala seraya


merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memvisualisasi-
kan ukuran paper bag tersebut. Priyayi mengangguk.

"Hiih, keterlaluan," celetuk Kumala geram.

Ratu-buku.blogspot.com
193
"Jagad nggak cerita apa-apa ya," gumam Priyayi kepasa
dirinya sendiri tapi terdengar oleh Kumala.

"Bodoh! Nggak mungkinlah dia cerita, gimana sih!" timpal


Kumala.

"Maksudku, aku bisa....." Priyayi menatap Kumala, kemudian


mengibaskan tangannya. "Ah, sudahlah....." ia baru sadar
Kumala nggak tahu yang sebenarnya.

"Kok sudahlah?! Kamu harus bertindak dong."

"Iyaaa...." sahut Priyayi malas.

"Hei, ayo kita ke tempat cewek itu, kalau kamu penasaran


wujudnya kayak apa," tantang Kumala.

Hati Priyayi tergerak juga, tapi maksudnya berbeda dengan


yang dimiliki Kumala. Kalau benar pacar lamanya, berarti
Jagad benar-benar mencintai cewek itu....

Setelah menyelesaikan makan siang, mereka pergi ke kantor


Lolita Fun Tour and Travel. Tepat di depan kantor, Kumala
mengajak masuk, tapi Priyayi teringat, kalau benar pacarnya
Jagad, berarti dia tahu aku, nggak enak ah!

Ia menoleh kepada Kumala. "Mal, kamu aja yang masuk, lalu


kamu foto diam-diam dengan HP-mu."

"Halah kamu ini, ngapain kamu repot-repot kemari kalau


begitu?!"

Ratu-buku.blogspot.com
194
Kumala gemas dengan Priyayi. "Kenapa sih nggak masuk aja?"

"Eeee... Aku terlalu gugup...." Priyayi mengarang alasan.


Kumala memutar otak matanya, oh....

Please!

Nggak sampai lima belas menit, Kumala nongol di hadapan


Priyayi yang menunggu di dalam mobil. Priyayi menyahut
ponsel Kumala. Benar, ini pacar Jagad dulu!

"So....?" celetuk Kumala.

"Well... Eengg...." Priyayi termangu-mangu. Kumala mulai


habis kesabaran Priyayi bergerak kayak kriput, lamban!

"Hah, lihat! Itu dia!" pekik Kumala. Tangan kirinya memukul


lengan Priyayi, tangan kanannya menunjuk ke depan, ke arah
seorang cewek yang sedang berjalan keluar.

"Kafe! Dia pasti janjian ama Jagad di sana! Ayo, sebelum


terlambat." Kumala membuka pintu mobil.

Priyayi menarik lengan Kumala. "Duh kamu ini, mau ngapain


lagi?!

Kumala menatap Priyayi. "Hah? Masih nanya lagi mau


ngapain!" Kumala keluar dari mobil dan berlari kecil menuju
kafe.

Ratu-buku.blogspot.com
195
Priyayi buru-buru ikut turun dan berteriak "Mal! Ini sama
sekali nggak seperti yang kamu kira!"

Percuma. Mau tak mau Priyayi harus masuk ke kafe itu juga,
mulutnya komat-kamit berdoa, "Tuhan, please jangan bikin
skenario yang memalukan untuk diriku...."

Melewati pintu masuk, Priyayi mendapati cewek yang


"diburu" Kumala duduk membelakangi pintu masuk. Kumala
duduk di depannya dengan wajah tegang.

"Kamu nggak usah hubungi Jagad lagi!"

Syamila terkejut ada orang asing yang tiba-tiba menyerobot


dan yang lebih bikin terkejut adalah orang itu menyebut
nama Jagad. Apa dia.... Pacar baru Jagad?

"Saya nggak menghubungi Mas Jagad lagi."

"Halah, nggak usah berkelit! Kalian pernah bertemu di sini


dan...."

"Mal, udah!" bentak Priyayi sembari mendekat dan berdiri di


sisi Kumala duduk. "Hai, maaf...." sapa Priyayi mengangguk
kepada Syamila.

Syamila terperanjat kaget. Ini kan Priyayi....!

Kumala terus melabrak. "Heh, dengar baik-baik ya, itu pun


kalau kamu belum tahu, Jagad itu udah kawin!"

Ratu-buku.blogspot.com
196
"Mala!" seru Priyayi. Ia menoleh ke Syamila yang bertambah
shock.

"Nggak...." Kumala memotong. "Iya. Dan ini istrinya." Kumala


meraih lengan Priyayi.

"Mala! Sudah! Hentikan!" bentak Priyayi lantang.

Wajah Syamila sudah membeku, sampai-sampai matanya


nggak berkedip. "Maaf, ini semua salah paham....." terang
Priyayi yang lagi-lagi disela Kumala.

"Salah paham apanya? Yi...."

"Diam aku bilang!" Priyayi menjerit. Beberapa orang menoleh


denga kehebohan yang terjadi.

"Saya yang akan pergi," ujar Syamila berdiri.

"Jangan. Kumohon," cegah Priyayi. "Aku harus ngelurusin ini,


Sarmila, please...."

"Syamila. Mila." suara Syamila sangat dingin.

Ups. Salah panggil....

"Mal, tinggalin kami berdua." tampang Priyayi tegang banget


ke Kumala. Kumala mengedikkan bahu lalu ngeloyor keluar.

"Maaf, Mila. Begini...."

Ratu-buku.blogspot.com
197
Priyayi menuturkan semua dari awal. Eh, ralat, hampir semua,
karena tentu saja dia nggak bercerita tentang tidur
bersama dengan Jagad. Priyayi bertekad membantu Jagad
meluluhkan Syamila, jadi menceritakan hal itu jelas nggak
akan membuat hati Syamila luluh.

"Kami seperti teman kos. Dia bayar sewa kamarnya dan aku....
Aku tetap menjalin hubungan dengan pacarku. Namanya
Jimmy. Kami sudah pacaran selama dua tahun."

Syamila tertegun. Lama banget dalam posisi diam. Dia nggak


menyangka hari ini bakal dapat kejutan yang nggak pernah
terlintas di benaknya dalam versi apa pun.

Priyayi merogoh ponsel dan meletakkannya di sisi meja dekat


Syamila. "Bukalah. Yang ada hanya foto-foto cowok lain, foto
Jimmy...."

Syamila menatap Priyayi lekat-lekat. Priyayi meneruskan,


"Kamu orang ketiga yang tahu semua detail ini. Dan kuharap
cukup tiga orang saja yang tahu."

Syamila mengigit-gigit bibir bawahnya. Ini semua masih di


luar jangkauan otaknya yang menggambarkan Jagad selama
ini. Jagad melakukan ini semua???

"Aku merasa bersalah karena udah nggak adil ke Jagad. Dia


juga berhak memperoleh cintanya. Dan kamu juga berhak
memperoleh cintamu...."

Mata Syamila berkaca-kaca.

Ratu-buku.blogspot.com
198
Malam, kembali

Yayi, Yayi.... Jagad sibuk membatin di atas motor dalam


perjalanan pulang malam ini. Dia baru saja bertemu dengan
Syamila. Syamila menghubunginya dan mereka terlibat
pembicaraan panjang dan menyentuh.

Syamila bercerita soal insiden kecil di kafe dengan Kumala


dan bagaimana akhirnya Priyayi bercerita juga tentang
rahasia besarnya agar Syamila nggak salah paham.

"Sekarang semuanya jelas. Aku memikirkan ini berhari-hari


sebelum mengutarakannya. Aku ingin.... Kembali ke kamu, Ma.
Selama ini aku nggak pernah bisa melupakn dirimu."

Jagad memeluk Syamila erat. Hatinya sangat senang


walaupun ada satu hal yang mengganjal. Sesampainya di
rumah, Jagad mendapati Priyayi tertidur di sofa di depan
televisi yang menyala. Remote control didekap di dadanya.
Jagad membungkuk ke sofa dan dengan hati-hati menggeser
tangan Priyayi guna mengambil remote control.

Tapi sedikit gerakan itu ternyata mampu membangunkan


Priyayi. Priyayi membuka mata. Karena terkejut ada satu
sosok sangat dekat dengan jangkauan pandangannya, refleks
dia bangun menegakkan punggung.

"Aduuh!" seru Jagad. Priyayi dengan sukses membenturkan


jidatnya ke muka Jagad. Jagad berdiri terhuyung menutupi
mukanya, sementara Priyayi panik.

Ratu-buku.blogspot.com
199
"Hoohh.... Sori nggak sengaja!" Priyayi bergegas menuju
kulkas, mengambil es batu. Dibungkusnya es itu dengan lap
bersih dan didekatkan ke wajah Jagad yang duduk di sofa.
"Biar kukompres," cetus Priyayi merasa bersalah. Jagad
menurut.

"Kenapa kamu hobi banget nyakitin aku?" keluh Jagad.

Priyayi nyengir, "Ya, ampun, aku nggak sengaja, tauu!"

"Kalau nggak sengaja, kenapa sering banget?"

Priyayi terkikik Jagd mengeluh dengan nada yang memelas.

"Suer nggak sengaja. Mungkin kosmikmu dan kosmikku nggar


sejajar, jadi sering berbenturan."

Jagad tertawa, kemudian meraih kommpresan dari tangan


Priyayi. "Yi, makasih kamu ngelurusn masalah ke Mila."

"Sama-sama. Gimana dia?"

"Kami berbaikan."

Mata Priyayi membesar. "Kalian balik?"

Jagad mengangguk. Priyayi tersenyum lebar, "Wah, selamat


ya!"

"Thanks. Tapi Yi...." Jagad diam sejenak mencari kata-kata


yang tepat.

Ratu-buku.blogspot.com
200
Priyayi berubah cemas. "Oh, tidak... Dia nggak minta kamu
pindah rumah sekarang, kan?!"

"Nggak, nggak. Hanya saja, Yi, aku tetap nggak jujur soal
yang kita lakukan malam itu. Aku takut membuat dia terluka
kedua kali."

Priyayi mendesah. "Yaahh.... Kadang suatu kesalahan yang


pernah kita lakukan cukup disimpan untuk kita saja agar
orang lain yang nggak ikut melakukan kesalahan nggak ikut
menanggung perasaan bersalah yang muncul sebagai
dampaknya. Kamu ngerti maksudku, kan?"

Jagad diam bersandar di sofa. Priyayi menoleh, "Aku yang


nggak jujur, Gad, karena aku yang cerita, bukan kamu."
Priyayi berusaha mendapatkan optimisme Jagad. "Aku cuma
nggak ingin bahagia sendirian."

Jagad mengangkat senyum, memegang ubun Priyayi seraya


berujar dalam hati, semakin kamu baik kepadaku, rasa
bersalahku ke kamu makin nggak mau pergi, Yi....

Siang, dua pria

UH, dimatikan ponselnya dengan malas. Siang ini Priyayi


janjian dengan Jimmy untuk makan bareng di restoran ikan
bakar langganan mereka. Sudah beberapa hari ini dia ingin
banget, tingkat keinginannya menyerupai ngidam, menu ikan
bakar direstoran tersebut. Namun Jimmy baru saja
menelepon dan mengabarkan bahwa dia bakal datang telat
menjemput Priyayi karena mendadak dipanggil atasannya,

Ratu-buku.blogspot.com
201
padahal Priyayi sudah menunggu di lobi. Ia siap berlari ke
depan kala Jimmy datang (biasanya Jimmy menjemput di
pintu masuk, nggak sampai masuk depan lobi). Karena malas
balik ke ruangannya, Priyayi memilih duduk ngelamun di lobi.

"Menunggu tamu, Mbak?" sapa seorang satpam kepada


Priyayi yang duduk terpekur di lobi kantor. Pak Ayub, satpam
tertua di kantor ini, bahkan mungkin di dunia(?), dengan
rambut didominasi putih dan kulit sebentar lagi didominasi
keriput. Dia selalu memanggil Priyayi dengan mbak, panggilan
sejak Priyayi magang. Dia ramah kepada siapa saja, terutama
kepada Priyayi yang merupakan keturunan sang pemilik
usaha.

Priyayi tersenyum. "Nggak, Pak."

"Nggak makan siang?"

"Rencananya sih mau makan siang, nunggu dijemput....


Teman."

Jawaban yang serbasingkat dengan muka lesu membuat Pak


Ayub ikut duduk di dekatnya. "Maaf, boleh lihat tangan
kirinya Mbak Yayi?"

Priyayi bengong. "Haa?" tapi diulurkannya juga.

Pak Ayub mengamati telapak tangan kiri Priyayi yang


terbuka. Dimiringkannya sedikir, kemudian bertutur, "Ada
dua pria dalam hati Mbak Yayi sekarang." Dahi Pak Ayub
mengernyit.

Ratu-buku.blogspot.com
202
Mata Priyayi membelalak. Semula dia mengira itu cuma
bercanda, tapi dilihatnya Pak Ayub memasang mimik serius.

"Pak Ayun bisa baca garis tangan, ya? Waaah.... Hebat, nggak
nyangka!" ujar Priyayi antusias. "Meski cuma jadi satpam tapi
ilmu harus luas, dan saya tertarik untuk mendalami dan
mencapai tingkat spiritual yang tinggi." Priyayi manggut-
manggut.

"Pokoknya buka mata dan hati lebar-lebar. Pak Ayub kembali


membahas. "isi" Priyayi.

"Haa?" semula Priyayi belum nyambung. "Oooh... Saya...." Nah


sambungan otaknya kembali bekerja.

"Salah satu dari mereka adalah pasangan sejati Mbak Yayi.


Oleh karena itu, Mbak Yayi harus buka lebih lebar mata dan
hati. Jawabannya ada di sana."

Priyayi melongo, nggak yakin apa ramalan ini benar ditujukan


untuknya. Dua pria? Pasangan sejati? Jawaban....? Halooo....?

"Pikiran Mbak Yayi sedang nggak tenang. Hati-hati jangan


sampai stres."

"Tapi...." Belum sempat Priyayi menyelesaikan kalimatnya, HT


yang digenggam Pak Ayub memanggilnya.

"Maaf, Mbak, saya permisi dulu."

Ratu-buku.blogspot.com
203
Priyayi mengangguk bingung, masih terkesima dengan apa
yang baru saja didengar

"Pak Ayub...." panggil Priyayi kemudian. "Makasih ya. Lain kali


boleh kan minta nasehatnya lagi?"

Pak Ayub tersenyum hangat. "Silahkan, kapan saja."

Priyayi termenung.

Jimmy dan Jagad adalah dua pria yang dekat dengan dirinya.
Tentu saja Kakek, Papa, dan Restu juga dekat dengan dirinya
namun dalam kasus ini mereka nggak dihitung, ini kan tentang
pencarian pasangan sejati.

"Pasanganku kan udah jelas," gumam Priyayi bingung.

Memang sih Priyayi makin sering memikirkan Jagad akhir-


akhir ini, tepatnya sejak Jagad kembali menjalin hubungan
dengan pacarnya. Dia dan Jagad jadi jarang bertemu, makan
bersama, sekadar belanja bareng ke swalayan, apalagi
ngobrol panjang. Priyayi sedikit merasa....

Kesepian, tapi dia merasa nggak menempatkan Jagad di


hatinya dalam posisi yang sama dengan Jimmy. Pikiran Priyayi
terbelah sampai-sampai dia nggak sempat ngambek saat
Jimmy akhirnya nggak bisa memenuhu janji makan siang
bersama.

***

Ratu-buku.blogspot.com
204
Kamar Yasmin, apa artinya

"Hah, bener kamu diramal seperti itu? Aneh....," kata Yasmin


agak heran.

"Betul, aneh...." Priyayi menimpali setuju.

"Kamu kan cintanya untuk satu orang aja. Dan dinamakan


pasangan sejati itu kan yang keduanya saling cinta. Tapi
kenapa di ramalannya ada dua? Berarti....." Yasmin
mengacungkan telunjuknya ke muka Priyayi sambil tersenyum
geli. "Kamu cinta theother guy ini, ya? Hayooo....!"

Priyayi langsung menepis. "Ah, itu kan cuma ramalan,


diragukan kebenarannya."

"Ih, katamu si pak satpam itu punya pencapaian spiritual


yang tinggi, berarti jam terbangnya sudah tinggi dan tingkat
keampuhannya sudah diakui. Kamu kan yang bilang begitu.
Iya, kan? Gimana sih...."

Sebelum Priyayi mulai membantah lagi, Yasmin nyerobot


duluan. Dipegangnya pipi Priyayi. "Yi, ini cuma Yasmin, ayo
curahkan isi hatimu yang terdalam...."

Priyayi melengos. "Sumur kali, dalaaamm....!"

Yasmin terkikik dan meneruskan bujukannya. "Ayolah,


mungkib membagi ceritamu yang membagi cinta bisa
membuatku merasa jadi wanita lebih baik...., lebih baik
darimu, hehe...."

Ratu-buku.blogspot.com
205
Priyayi memencet hidung temannya itu. "Sembarangan kalau
ngomong, aku nggak membagi cinta, tau! Cuma sesekali
kepikiran Jagad, aku jarang ngobrol ama dia akhir-akhir
ini....."

"Jadi.... Bener nih?" selidik Yasmin.

"Yasmin, pasang kuping baik-baik, ENG-GAK!"

Yasmin nyengir lebar. "Eh, waktu di ultahmu, aku lihat Jagad


mesra banget cium kamu...."

Pipi Priyayi terasa panas diingatkan adegan itu. "Itu akting


doang."

"Hmm.... Aku tahu salah tingkah waktu itu, hihihi."

Plukk! Priyayi melempar boneka ke jidat Yasmin. Yasmin


makin semangat melanjutkan ledekannya.

"Maafkanlah.... Karena aku.... Cinta kau dan diaa...." Yasmin


menyanyikan lagunya Dhani Ahmad dengan lantang sambil
menyeringai. Priyayi makin gemas dibuatnya dan menggempur
Yasmin dengan boneka, bantal, guling, sandal, sampai kotak
makeup.

Malam, telaah

Keakraban. Mungkin itu jawabannya. Aku dan Jagad cuma


terlalu akrab aja, sudah tahu kebiasaan masing-masing,
sudah terbiasa berbagi ruang dan privasi. Itu kesimpulan

Ratu-buku.blogspot.com
206
pribadi Priyayi, meluruskan apa yang telah "dituduhkan"
Yasmin kemarin.

Priyayi duduk bersila di atas sofa, pandangannya menyapu


langit-langit rumah, berlanjut ke sudut-sudut di ruang
tengah itu. Kalau lagi sendirian malam-malam begini, yang
kerap melintas di benak Priyayi adalh Jagad.

"Itu wajar. Jagad yang tinggal serumah denganku,


visualisasiku lebih banyak merekam gambar Jagad, jadi kalau
dia nggak ada otomatis otakku mencari the missing picture,
which is Jagad." itu salah satu argumen dari sisi (sok) logis
versi Priyayi yang diutarakan ke Yasmin waktu itu.

Tiba-tiba engsel pintu depan bergerak. Priyayi terperanjat.


Jagad pulang! Kok nggak kedengaran suara motornya.... Aduh
gimana nih, aku nggak siap ngobrol sama dia sekarang!

Buru-buru Priyayi merebahkan badannya ke sofa, pura-pura


tertidur. Sedetik kemudian, Jagad nongo. Di ruang tengah.
Perlahan Jagad mendekati Priyayi, mengambil remote control
yang ada di genggaman Priyayi.

Aduh bodoh, remotenya ngapain kupegang, batin Priyayi. Ayo


cepat pergi! Sesudah televisi mati, Priyayi merasa lega. Tapi
kok....

Bukannya beranjak pergi, Jagad kembali menatap Priyayi


yang memejamkan mata sok pulas. Cowok itu membungkuk,
tangannya menjulur perlahan-lahan merapikan poni Priyayi
yang menutupi mata.

Ratu-buku.blogspot.com
207
Oh My God, mampus aku! Batin Priyayi berseru panik. Priyayi
harus menahan diri untuk tidak bergerak dan tanpa ekspresi
sama sekali. Oke, tidur, tidur...., empat, lima, enam.... Priyayi
menghitung detik-detik Jagad memandangi dirinya. Waduh,
kalau dia menciumku gimana nih?! Jantungnya berdegup
cepat.

Detik ke-16 Jagad baru beranjan berdiri dan pergi ke


kamarnya. Priyayi mengembuskan napas sangat-sangat lega.
Nggak ada ciuman. Emangnya di film? Hehe....

Di kamar, Priyayi meloncat ke atad tempat tidur,


menelungkupkan tubuhnya dan membenamkan mukanya ke
atad bantal.

Ngapain Jagad begitu? Apa yang ada di benaknya, ya? Aduh,


aku jadi keki.....

Priyayi membolak-balik badannya dengan pikiran sibuk


menelaah. "Aku harus melakukan sesuatu."

Kalau dibiarkan, lama-lama aku dan dia jadi berperilaku


kayak suami-istri beneran. Gawat.....

Tawaran, dua tahun

"Tumben, jam segini sudah mongkrong di pantry. Mau


berangkat lebih pagi?" sapa Jagad. "Ada yang lagi kupikirin."

Jagad mendengarkan sambil bikin susu dan ngambil roti


cokelat dari kulkas.

Ratu-buku.blogspot.com
208
"Giman kamu ama pacarmu? So far so good, I hope." Priyayi
belum berani menatap mata Jagad, masih teringat kejadian
"mendebarkan tanpa kata" semalam.

"Emm.... Yaa," sahut Jagad sambil ngunyah roti. Benaknya


agak heran dengan Priyayi yang tumben nanyain hubungan
dengan pacarnya.

Hmm.... Hubungannya dengan pacar baik-baik aja, kenapa


semalam dia.... Hhhh.... Priyayi menahan pikirannya dan
berkata, "Emmm.... Jagad, aku mau ngajuin tawaran...."

"Tawaran?"

"Iya. Aku mikirin yang dikatakan Danu....., bahwa kita harus


bahagia...."

"Itu lagi. Kamu udah jadi peri kebahagiaan sekarang?"


celetuk Jagad.

"Hei, nggak usah sesinis itu," protes Priyayi kemudian


melanjutkan, "Danu benar. Aku berpikir kita nggak akan
selamanya begini, harus ada tenggat waktu untuk mengakhiri
hidup bersama seperti ini dan kembali menjalani hidup
normal bersama pasangan kita."

Jagad diam, nggak memberikan reaksi apa-apa.

"Adik Kakek pernah bercerai, jadi kakek nggak tahu dengan


hal itu. Mungkin kita tempuh itu sebagai solusi."

Ratu-buku.blogspot.com
209
"Kamu yakin kakek nggak apa-apa? Nggak jatuh sakit lagi?"

Priyayi mengangguk. "Yang jelas kamu sudah menunjukkan


pada beliau kamu bertanggung jawab waktu itu. Untuk
selanjutnya, kita berdua yang menjalaninya."

"Kapan?"

"Aku memikirkan angka dua. Dua tahun. Gimana menurutmu?"

"Kamu yakin kakekmu bisa terima?"

"Mmmhh... Kita beri tandanya jauh-jauh sebelum berucap.

"Kamu udah berpikir detail, merencanakan semua dengan


sebegitu sungguh-sungguh, ya?"

Priyayi menunduk. Jagad menepuk bahu Priyayi. "You're the


director, I'm only the actor."

***

Sebuah pukulan, arti dua tahun

Petang ini hati Priyayi kacau-balau, antara terpukul dan


marah. Kepada Jimmy. Yang bikin dadanya pengap hingga
megap-megap saat ini adalah kenyataan bahwa dia nggak
berhak marah kepada cowok itu.

"Dua tahun? Aku belum berpikir sejauh itu," sahut Jimmy.

Ratu-buku.blogspot.com
210
"Kamu hanya melihat kepentinganmu sendiri tanpa melihat
kepentinganku. Kamu nggak tebersit kan untuk menanyakan
apa arit waktu dua tahun bagiku?"

Priyayi duduk termenung dalam kegelapan pantry. Tangannya


memainkan kaleng root beer yang sudah diminum setengah-
nya dalam hitungan detik. Well,kegelapan dan root beer bisa
bikin dia sedikit tenang.

Priyayi terngiang-ngiang lontaran kalimat Jimmy tadi.


Sebelumnya dia memang sudah menduga Jimmy akan
keberatan dengan keputusannya, tapi dia tidak menduga
tanggapan Jimmy telak memukulnya, membuatnya merasa
jadi manusia paling egois sedunia.

"Itu sudah menjadi konsekuensimi, Yi, untuk menelan


mentah-mentah semua kekecewaan dia. Kamu sendiri yang
memulai gara-gara, kan.... Gadis bodoh....," rutuk Priyayi
getir. Dia lalu melangkah gontai dan mengurung diri di kamar.

Lewat tengah malam, nggak tenang

Jagad bete. Mata dan otaknya enggan diajak untuk istirahat


bersama. Bersama siapa? Ya bersama pemiliknya dong. Jagad
pun memutuskan bangun, meraih sebatang rokok dan lighter,
lantas keluar kamar, berjalan ke pojok belakang rumah.
Tepatnya ke tempat jemuran.

Sambil jongkok, dia memainkan kepulan asap yang keluar dari


hidung dan mulutnya. Sebenarnya dia nggak merokok. Cuma
akhir-akhir ini dia dikelilingi teman-teman perokok disaat

Ratu-buku.blogspot.com
211
pikirannya suntuk dan perasaannya...., perasaannya seperti
daun yang melayang-layang di udara, tinggal menunggu satu
angin kencang untuk membuatnya jatuh dan mendarat di
suatu tempat di bumi ini.

Karena capek jongkok, Jagad ngambil bangku pantry, dibawa


ke tempat jemuran dan melanjutkan aksinya. Hmm.... Sampai
di mana tadi? Oya, sampai melayang-layang. Hatinya sedang
nggak tenang, melayang nggak jelas. Ia memang gembira
Syamila memberinya kesempatan untuk bersama lagi. Namun
tanpa bisa dia cegah, pikirannya kerap tertuju kepada
rumah. Kepada Priyayi. Bukan hanya saat dia sendiri, bahkan
saat berdua dengan Syamila sekalipun. Dia kan jadi merasa
bersalah ke Syamila, meskipun pacarnya itu nggak
menyadarinya.

"Bandel."

Jahad terkesiap kaget mendengar satu suara tiba-tiba


menyeruak didekatnya. Tak ayal dia melonjak bangun dari
duduknya dan menjatuhkan rokoknya, dia injak-injak,
kepalanya tetap lurus menghadap Priyayi.

"Telat. Baunya udah ke mana-mana," lanjut Priyayi.


Tangannya mengucek-ucek matanya.

"Bukan skenarionya kamu bangun dan celingukan kemari,"


celetuk Jagad.

"Idih, skenariomu doang! Skenarioku kan lain," kelit Priyayi.

Ratu-buku.blogspot.com
212
"Selain karena skenariomu, ada apa bangun tengah malam
begini?" tanya Jagad.

Priyayi menyandarkan kepala dan tubuhnya ke tembok.


"Tiba-tiba terbangun, terus nggak bisa tidur lagi. Lagi
sedih...."

Priyayi menunduk, lagi-lagi mengucek matanya. Kemudian


terdengar isakan. Tangan Jagad menelangkup kedua telinga
Priyayi, mendongakkan kepala cewek itu.

"Ya ampun, sampai nangis segala....," komentar Jagad.

Isak Priyayi tambah keras ia menubruk tubuh Jagad dan


menangis di dadanya. Huuaaaaaa.....

Hati Jagad terenyuh. Terhadap Priyayi, terhadap dirinya


sendiri, terhadap adegan ini. Karena tangis Priyayi nggak
reda juga, tangan Jagad akhirnya merengkuh tubuh dan
mengelus kepala Priyayi. Rambutnya harum sampo dan lembut
sekali.

Perlahan Jagad membimbing Priyayi masuk. Lama mereka


tidak mengucapkan sepatah kata pun, Jagad membiarkan
Priyayi menangis di sofa.

"Please, bilang sesuatu untuk bikin aku tenang," cetus Priyayi


kemudian.

"Sesuatu."

Ratu-buku.blogspot.com
213
Hahaha.... Priyayi tak urung tertawa dengan air mata yang
belum kering dan hidung merah. Tampak lucu jadinya.

"Udah tenang?" tanya Jagad.

"Bodoh," celetuk Priyayi nyengir.

"Oya, aku tadi beli ikan bakar di resto favoritmu, kamu


pengin banget, kan?" ujar Jagad.

Kenapa Jagad yang berbuat hal manis ini? Kenapa bukan


Jimmy? Mata Priyayi berkaca-kaca.

"Tadi pas aku datang, kamu udah masuk kamar, udah tidur.
Emm.... Kita makan sekarang aja yuk."

"Gad, kenapa kamu perhatian banget sih?"

"Itu karena aku sudah menganggap kamu bukan orang lain


lagi."

Priyayi tertegun mendengar jawaban Jagad. Buru-buru


Jagad menjelaskan, "Maksudku, kamu adalah teman terbaik
dan terdekat saat ini yang kutemui setiap hari. Otomatis aku
nggak bisa memalingkan muka dan menutup telinga darimu."

Huuaaaa..... Priyayi kembali menangis keras. Dia kesal kepada


Jimmy yang terlalu cuek, kepada Jagad yang terlalu
perhatian. Jagad jagi nggak enak sendiri. Waduh, apa aku
salah jawab, ya....

Ratu-buku.blogspot.com
214
Seharian, sesuatu yang lain

Priyayi menutup kepalanya dengan bantal. Tujuannya sih


menutup telinga dari suara mesin dan klontang-klonteng
bunyi alat-alat yang mengusik tidurnya.

Tapi apa lacur, dia sudah kepalang bangun. Dan Priyayi


takkan begitu saja melepad oknum yang telah menyebabkan
tidurnya tidak berjalan sebagaimana mestinya, meski oknum
itu udah memberikan bahu untuk mengangis dan
membelikannya makanan yang sudah diidamkannya sekian
lama.

Dengan menyeret kakinya malas, Priyayi membuka pintu


depan. Jagad menyeringai menyaksikan penampakan di
hadapannya. Kaus kusut, rambut mencuat ke empat arah
mata angin, bibir cemberut maju, mata sembap, dan pasti
belum gosok gigi!

"Emang nggak bisa siangin dikit, ya?! Orang tidur baru


sebentar, diganggu, huuuhh!" "Tuan Putri, lihat dulu jam
berapa sekarang," balas Jagad.

Priyayi menjulurkan badan ke dalam menengok jam dinding....


Hehe.... Jam sepuluh. Tapi peduli amat. "Pokoknya jangan
berisik, oke, Teman Yang Baik?!" Priyayi beringsut ke dalam.

"Hei, pemalas, mau ke mana?"

"Ya tidurlah!"

Ratu-buku.blogspot.com
215
Jagad gemas ingin merapikan rambut empat arah mata angin
Priyayi itu. "Hei, aku dan anak-anak didikku mau ke tempat
latihan skateboard. Kamu belum pernah ke sana, kan?"

Priyayi menggeleng. "Belum. Kamu bisa?"

"Belum, makanya kita rame-rame mau latihan ke sana. Mau


ikut?"

Priyayi mengangguk antusias. "Naik motor ya!"

Jagad memiringkan kepala, raut mukanya heran. Tuan Putri


merajuk naik motor? Nggak salah tuh....

"Bosan setir mobil terus, lagian tarikannya lagi kurang enak,


harus ke bengkel," tutur Priyayi menjawab keheranan Jagad.
Yang sebenarnya sih, Priyayi sedang bosan dengan hidupnya!

Bagi Priyayi, seharian itu menjadi hari Mencopot Sementara


Segala Beban Pikiran. Naik motor, menghirup polusi,
ditempeli miliaran debu, disengat matahari, bergaul dengan
anak-anak permukiman padat yang menjadi murid jagad,
jatuh-bangun dan berteriak-teriak skate, bertemu para
skater, melihat Jagad yang disegani anak didiknya.....

"Awaaass! Minggir semuaaa....!"

Terlambat. Teriakan Priyayi nggak mampu mencegahnya


nabraj barisan anak-anak yang sedang melakukan start.
Tabrakan beruntun tak terelakkan.

Ratu-buku.blogspot.com
216
Akhisah Priyayi berhasil juga memainkan skateboard dan dia
langsung sok main di jalan menurun dengan ngebut. Karena
nggak sanggup menghentikan dirinya sendiri, kejadian
berikutnya seperti yang digambarkan tadi.

"Hahaha!"

Gelak tawa riuh terdengar. Mereka pada terbaring


bertumpuk-tumpuk dan tergelak senang. Priyayi berada di
antara tumpukan anak-anak. Ia satu-satunya manusia dewasa
yang berkelakuan anak-anak di sana. Jagad menundukkan
kepala dengan tangan menutupi matanya, menunjukkan dia
malu mampus sudah mengajak Priyayi.

"Kalian nggak apa-apa?!" tanya Priyayi berseru kepada anak-


anak. "Tidak, Bu!" jawab mereka bersahutan.

"Wuiih.... Mendebarkan!" kata Priyayi menyeringai lebar.

"Asyik, Bu Jagad! Ayo lagi!" seru salah seorang anak yang


diamini teman-temannya.

Jagad makin menutupi mukanya. Beberapa skater tertawa


melihat. Sedangkan Priyayi tetap nggak tahu malu.

"Hah, Bu Jagad?! Gad, mereka panggil aku Bu Jagad! Lucu....


Hihihi!"

Jagad menghampiri Priyayi dan menyeretnya ke pinggir.


"Ssst..... Kencang-kencang."

Ratu-buku.blogspot.com
217
"Ups sori. Lupa. Aku lupa segalanya saking asyiknya, hehe....."
timpal Priyayi, kemudian siap beraksi lagi.

"Heh, jangan malu-maluin lagi ya. Kamu membawa nama Jagad


di sini."

"Siap, Pak!" sahut Priyayi menyeringai lebar dan berlari


kembali ke area lintasan.

Dari tempatnya berdiri, Jagad kembali menikmati tingkah


polah Priyayi.

" Maann.... Kurasa aku melakukan kesalahan besar....."

***

Ratu-buku.blogspot.com
218
Part 28

Lain hari, lain sikap

Jagad menggedor pintu kamar mandi. "Yi, HP-mu bunyi! Mau


diterima nggak?"

"Dari siapa?" seru Priyayi.

Jagad meraih ponsel Priyayi yang tergeletak di meja pantry.


Ia mendesah membaca nama yang di layar ponsel. "Dari
Jimmy!"

Priyayi membuka sedikit pintu kamar mandi dan menjulurkan


tangan minta ponselnya. Tiga menit kemudian, dia buru-buru
keluar dari kamar mandi, menyudahi mandinya. Handuknya
membungkus rambutnya yang basah, lantas berlari keluar
rumah. Mobil Jimmy sudah terparkir di depan rumah. Priyayi
membuka pintu mobil dan duduk di joki kiri. Jimmy menatap
nanar pada rambut Priyayi yang basah. Handuk dikalungkan
di leher menutupi pundak.

"Aku harus bilang langsung....," tukas Jimmy membuat


jantung Priyayi dag-dig-dug. "Aku sudah pesen cottage di
Pulau Ayer. Kita berangkat Sabtu depan."

Tak ayal mata Priyayi berbinar. "Maksudmu kita berlibur ke


sana?"

Jimmy mengangguk. "Temanku sewa cottage di sana, dia


bikin acara Hawaiian Night."

Ratu-buku.blogspot.com
219
Senym Priyayi mengembang sangat lebar. Ternyata Jimmy
nggak secuek itu. Dan Jimmy nggak lagi kecewa perihal
tenggat waktu itu. Buktinya, dia memberi Piyayi kejutan
manis sepagi ini. Hati Jimmy memang seluas lautan. Itu yang
sangat disukai Priyayi dari pacarnya itu. Ia mencium bibir
Jimmy kemudian memeluk Jimmy erat sebagai ucapan terima
kasih dan perasaan terharu. Dan..... Sedetik Priyayi melepas
pelukannya, sebuah mobil yang nggak asing lagi menuju ke
arahnya. Mata Priyayi melotot.

"Mati aku! Mama! Aduh...." Priyayi diserbu kepanikan dan


meloncat keluar mobil.

Dari mobil si Mama, keluar Mama dan Kweni. Mamanya


menatap tajam Priyayi dan Jimmy yang masih di belakang
kemudi. Apalagi Priyayi berkalungan handuk, rambut acak-
acakan, kaus, dan celana kolor kedodoran.

"Ngapain di dalam situ? Kok nggak ke dalam rumah? Siapa


dia?" tanya Mama menyelidik.

Jimmy keluar dari mobil dan menganggukkan kepala ke arah


mama Priyayi. Kweni berusaha mengingat di mana dan kapan
permah bertemu cowok itu. Apa pemain sinetron, ya?

Oya, Kweni tadi sempat menangkap siluet tubuh Priyayi


melepaskan pelukan dari cowok itu. Untungg Mama lagi
menoleh ke belakanga meraih kotak berisi makanan buat
Priyayi di jok belakang. Kweni bahkan sudah mengambil
ancang-ancang mengalihkan perhatian Mama Priyayi kalau

Ratu-buku.blogspot.com
220
Priyayi berbuat lebih jauh yang bisa bikin Mama mencak-
mencak.

"Pagi Tante, saya cuma sebentar," tukas Jimmy.

"Mana suamimu?" tanya Mama.

Priyayi ngelirik Jimmy, melihat reaksinya tatkala dengar


kata suamimu. Jimmy melengos. "Di dalam."

Kweni ingat! Mulutnya menganga lebar, untung nggak sampai


keceplosan. Ini cowok yang makan siang bareng Priyayi dulu!
Ya ampun! Apa benar mereka ada apa-apa, batin Kweni
penasaran. Wah, Yayi harus diselamatkan dari situasi ini!

"Ma...." Kweni memanggil Mama Priyayi dengan sebutan


Mama.".... Ke dalam yuk, biar mereka beresin urusan penting
mereka. Waktu kita juga mepet, sebentar lagi harus balik ke
lokasi."

Kweni menarik, agak paksa, tangan Mama supaya masuk ke


rumah. Tepat saat itu, Jagad keluar.

"Pagi Mama, Kwen," sapa Jagad.

"Hai." Jagad menghampiri kerumunan. Hai-nya Jagad


mengarah kepada Jimmy, didendangkan dengan (sok) akrab.
Jimmy dengan kikuk membalas lambaian tangan Jagad.
Temperatur tubuh Priyayi sudah nggak keruan.

"Bener nih, nggak masuk dulu?" tegas Jagad kepada Jimmy.

Ratu-buku.blogspot.com
221
Jagad merapat di samping Priyayi, sebelah tangannya
merangkul bahu Priyayi. Tak pelak Jimmy dan Priyayi kaget.
Untung Priyayi segera tanggap. Maklum, mereka kan sudah
mahir berakting spontan dalam segala kondisi.

Sedangkan Jimmy masih melongo.

"Dia terburu-buru banget. Makasih lho, Jim, udah


Diusahain," timpal Priyayi. Tubuhnya bergerak maju agar
lepas dari rangkulanan Jagad, tapi tangan Jagad tidak mau
lepas. Priyayi merasa cengkeraman tangan Jagad kian kuat.
Sialan.

"Oh ya, tentu." Jimmy menyahut nggak jelas. Raut mukanya


merah padam. "Oke, aku permisi dulu. Mari semua."

Kweni bengong. Si Mama sudah nggak menyelidik lagi. Priyayi


menghela napas. Jagad? Senyum-senyum kecil....

Di dalam rumah, Priyayi menyeret Jagad ke kamar dan


menutup pintunya. Dia tidak mau suara mereka sampai
terdengar Mama dan Kweni.

"Ngapain kamu keluar segala tadi?!" protes Priyayi dengan


suara tertahan. "Hei, aku coba menyelamatkan kamu.
Mamamu sudah curiga...."

"Terus ngapain pake ngerangkul-rangkul segala, ih!"

"Nggak bisa lihat apa, mamamu itu sudah curiga."

Ratu-buku.blogspot.com
222
"Mamaku mencurigai semua hal di dunia ini!" tampik Priyayi
berang. "Kamu bikin keki Jimmy deh.....," imbuhnya kesal.

"menurutmu aku nggak keki harus sok mesra denganmu


didepan cowokmu itu?" balas Jagad.

Priyayi menggeram. "Hheeergghh.....!!"

***

Kesalahan besar, rumit

"Aku melakukan kesalahan besar."

"Ke pacarmu?" celetuk Yasmin.

"Bukan. Eh, iya juga sih. Tapi tadi yang kemaksud adalah
Yayi."

"Hah?" Yasmin melongo.

"Kurasa aku jatuh cinta sama dia."

"Ke pacarmu?"

"Bukan. Ke Yayi."

"Haaah?!" Yasmin tambah melongo.

"Jangan bikin aku merasa tambah nggak enak dengan


reaksimu itu," seloroh Jagad manyun. Yasmin nyengir.

Ratu-buku.blogspot.com
223
"Sorry, ma, bukan maksudku, aku cuma kaget."

Secara nggak sengaja keduanya menghela napas bareng,


hhh.... Kontan mereka tertawa. Keduanya sedang berada di
teras rumah Yasmin. Jagad menyempatkan diri mampir
bertemu Yasmin sekadar ngeluarin unek-uneknya.

"Hhh.... Apa yang mesti kulakukan?" tanya Jagad muram.

"Hhh.... Iya, apa yang mesti kamu lakukan, ya?" timpal Yasmin
ikutan muram.

Jagad memutar bola matanya. Ah, Yasmin, kalau bukan


karena dia yang tahu segalanya soal rahasia ini, Jagad
bakalan menempatkan Yasmin di urutan kesekian untuk
diajak bicara. "Ah, aku tahu! Yasmin berseru seraya
menjentikkan jari.

"Kamu harus bisa bikin Yayi jatuh cinta padamu."

Jagad tetap muram. "Yas, masalahnya kan...." Yasmin nyela,


"Pacarmu, ya?"

"Dan pacarnya," timpal Jagad lesu.

Yasmin ikutan lesu. "Masalahnya memang rumit...."

"Sudahlah, Yas." Jagad membesarkan hatinya sendiri dan


juga Yasmin. "Yayi bilang Santu besok Jimmy ngajak dia
pergi wekend ke Pulau Ayer, ada pantry di sana. Dia happy

Ratu-buku.blogspot.com
224
banget, Yas. Kalau sudah begitu, nggak ada yang bisa
kulakukan lagi, kan?"

"Ya ampun, aku inget!" seloroh Yasmin. "Yayi pernah cerita


dia pernah dibaca garis tangannya dan diramal bahwa ada
dua pria di hatinya, salah satunya adalah pasangan
sejatinya."

"Jimmy....," celetuk Jagad.

Yasmin nepuk bahu Jagad keras. Jagad sampai meringis di


buatnya.

"Heh, belum tentu! Intinya dia juga menempatkan kamu di


hatinya. Itu yang penting, betul nggak?!" tutur Yasmin
bersemangat sampai alisnya naik.

"Yas...." Jagad memandang Yasmin. "Makasih sudah


menghiburku, aku sangat menghargai usahamu." Jagad lalu
berdiri, siap untuk pergi.

"Lho, Gad....?!" Yasmin melongo, Jagad nggak tergerak


dengan penuturannya.

"Oya, Yas, kamu jangan cerita ini ke siapa pun, oke."

"Tapi...."

"Dilarang keras. Ke siapa pun." Jagad mempertegas kata-


katanya. Yasmin mengkeret dan mengangguk.

Ratu-buku.blogspot.com
225
"Thanks. Aku cuma nggak ingin merusak kebahagiaan Yayi.
Kamu juga, kan?" Lagi-lagi Yasmin mengangguk. Aduh, betapa
berat beban hidupku, menjaga rahasia semua orang di dunia
ini.....

Weekend, berubah

Hup. Priyayi menjinjing traveling bag yang menggembung


menutupi pintu kamar. Tadinya pintu itu ingin dikuncinya, tapi
nggak jadi. Siapa tahu Jagad butuh komputer. Pagi-pagi itu
sudah keluar, pamitnya mau menyiapkan acara kemah bagi
anak-anak permukiman padat. Priyayi teringat acara belajar
skateboard. Hmm.... Pasti menyenangkan bagi mereka.

Tin. Suara klakson mobil Jimmy. Priyayi bergegas keluar dan


perjalanan menuju Kawaiian Night dimulai.

Jimmy tersenym menyambut Priyayi, yang dibalas gadis itu


tak kalah riangnya. Kesegaran pagi bersaing dengan kesegar-
an rona wajah mereka. Itu karena suasana hati mereka juga
lagi segar. Ini adalah perjalanan liburan bersama pertama
setelah Priyayi menikah. Jadi, mereka menyambutnya dengan
antusias.

"Yi...."

"Ya...."

"Soal dua tahun itu..., aku nggak keberatan menunggumu.


Maaf kalau waktu itu aku emosi. Setelah kupikir matang-
matang apalah arti dua tahun dibanding kehilangan kamu....."

Ratu-buku.blogspot.com
226
"Ooo.... Jim....that's so sweet...." Priyayi mengerjap-
kerjapkan mata, sangat senang mendengar akhirnya Jimmy
berkata itu.

Sekitar setengah jam perjalanan. Ponsel Priyayi berbunyi.


Nomor nggak dikenal +62812xxxxxx

"Priyayi? Istri Jagad?" suara laki-laki.

"Iya, saya Yayi. Ini siapa?"

"Saya Eki, teman Jagad. Begini...., Jagad .... Mmm....


Kecelakaan...."

"Haaahh?! Di mana?! Luka parah nggak?! Sekarang dia di


mana?!" pekik Priyayi cemas. Tanpa sadar dia memajukan
tubuhnya. Raut mukanya tegang sehingga Jimmy menoleh
memandangnya.

Si teman memberitahu informasi yang dibutuhkan. Priyayi


menutup ponsel. Wajahnya pias. "Jim, maaf, aku nggak bisa
ikut, Jagad di rumah sakit...."

"Kenapa dia?" tanya Jimmy tak urung terkejut.

"Kata temannya dia dikeroyok preman, gara-gara membela


anak didiknya. Dia.... Ditusuk...." bibir Priyayi bergetar.
Kedua tangannya menutup muka. Kemudian dia menoleh ke
Jimmy. "Jim, maaf.... Aku harus ke rumah sakit."

"Kuantar kamu ke sana," ujar Jimmy kemudiam.

Ratu-buku.blogspot.com
227
Raut mukanya sangat tegang, tapi Priyayi nggak menyisakan
pikirannya untuk menelaah ekspresi Jimmy.

Pikiran Priyayi kalut. Dia menghubungi orangtua Jagad,


lantas menghubungi mama-papanya. Mereka sepekat nggak
memberitahu dulu si kakek.

Selama perjalanan menuju rumah sakit yang lumayan juga


jauhnya, Priyayi nggak bisa duduk dengan tenang, nggak
sabar untuk cepat sampai. Jimmy berusaha nggak
menampakkan emosi apa pun.

Sampai di depan rumah sakit, Jimmy membantu menurunkan


traveling bag Priyayi.

"Yi, karena banyak keluargamu akan kemari, aku nggak bisa


nganter kamu ke dalam...." Priyayi meremas lengan Jimmy.
"It's okay. Makasih ya atas tumpangannya dan maafkan aku,
semuanya nggak sesuai rencana."

Jimmy mengangguk lemah. Ia masuk ke mobil dan sempat


melihat Priyayi lari tergesa-gesa ke dalam lobi rumah sakit.
Dada Jimmy sesak..... Kejadian barusan menyadarkan Jimmy.
"Aku sudah kehilangan kamu, Yi...."

Di rumah sakit, mamanya dan Kweni sudah tiba lebih dulu.

"Yayik," panggil Mama cemas. Ada dua teman Jaagd berada


di sana, salah satunya menyongsong Priyayi.

"Saya Eki. Jagad sedang dioperasi."

Ratu-buku.blogspot.com
228
"Gimana kejadiannya?"

"Jagad berusaha menolong Lukman, salah satu murid kami,


dia sekarang juga sedang dirawat. Dia nggak sengaja nabrak
preman mabuk dengan skateboard. Lukman dihajar, kemudian
Jagad datang, mereka berantem. Lalu datang teman-teman
mereka mengeroyok dan ada yang bawa pisau menusuk
Jagad. Lukman lari mendatangi kami."

Priyayi menutup mulutnya dengan tangan. "Ya ampum! Ya


ampun....!"

"Dia luka parah," kata Mama sembari merangkul Priyayi.

Priyayi hanya bisa berkata "ya ampun" berkali-kali


sementara tangannya memegang dada, shock.

"Dunia anak-anak kami di jalanan memang keras. Kami


sebagai pendidik mereka mau tak mau ikut merasakannya,"
tukas Eki serius.

Selanjutnya mereka diam. Menunggu. Kedua teman Jagad


pamit karena masih harus mengurus persiapan acara
perkemahan. Papa Priyayi tiba dua menit kemudian. Kweni
menceritakan kembali kepada beliau tentang apa yang telah
terjadi. Priyayi duduk melamun. Mamanya, well....

Sudah naluri dasarnya..., meneliti keadaan anaknya itu.


Penampilannya kasual tapi rapi, sandal santai, jins, kaus,
makeup tipis, dan wangi parfum. Masih segar. Aneh....,
terutama dengan tas besarnya itu. Mengingat berita

Ratu-buku.blogspot.com
229
musibah yang menimpa Jaagd sangat mendadak, kayaknya
nggak cukup waktu menyiapkan diri dan berdandan serapi ini.
Atau Yayik memang mau pergi.....? Ke mana dia tanpa
suaminya dengan tas sebesar itu....?

Si mama berusaha keras tidak bersikap menyelidik di saar


seperti ini, tapi pertahanannya nggak sekuat imannya.

"Kamu sudah siap dengan pakaian Jagad?" tanya Mama


sambil menunjuk tas besar di lantai.

Agak lama otak Priyayi baru bisa nyambung. "Oh.... Itu....


Bukan....! Itu bajuku, aku harus menginap di sini...." otaknya
bereaksi cepat. "Aku menunggu operasi Jagad selesai, baru
balik ke rumah ambil keperluan hariannya," tambahnya sigap.

"Lebih baik kamu pulang sekarang, kami nunggu di sini, jadi


kalau Jagad sadar, kamu sudah ada di sini," saran Papa.

Priyayi menganggul. "Kwen, temani aku ya."

Maksudnya, nggak cuma nemenin, tapi juga nganter dia


dengan mobil si mama. Untung Mama nggak mengusut soal
dengan apa dia datang. Dan yang pasti, Kweni harus dibuat
bungkam di depan mereka.

Foto, tertegun

Baru beberapa jam ditinggal, Priyayi merasakan atmosfer


yang sama sekali berbeda kala masuk rumah. Rumah jadi
terasa.... Kosong. Padahal dulu dia terbiasa dengan hal

Ratu-buku.blogspot.com
230
semacam itu. Sekarang sebaliknya, dia terbiasa berbagi.
Berkompromi. Bertukar argumen. Bekerja sama. Bersama
Jagad, sesuatu yang besar menjadi kecil, sesuatu yang kecil
menjadi nggak ada. And he's such handyman. Oya, dan
masalah menenangkan dirinya karena stres kerja dan juga
soal.... Jimmy.

Priyayi menghela napas, lantas menuju kamar Jagad. Baru


kali ini dia membuka lemari dan memilah-milah perlengkapan
cowok itu. Dia mengambil tas olahraga dan mulai berkemas.
Sisir, gel rambut, deodorant roll-on, parfum. Jagad selalu
wangi. Iseng dia membuka laci. Priyayi tertegun.

Ada foto Jagad dan Syamila berdua, dan foto Syamila


seorang diri. Entah datangnya dari mana, Priyayi merasa
dadanya bergemuruh melihat foto-foto tersebut.

"Aduh, kenapa sih aku ini!" Priyayi nepuk kepalanya keras,


menyadarkan diri, dan bergegad membereskna sisa barang
lalu berangkat kembali ke rumah sakit dengan mengendarai
mobilnya sendiri.

Beberapa jam kemudian operasi selesai dilaksanakan dan


Jagad dipindahkan ke ruang intensif. Hanya Priyayi yang
menunggu di sana. Dia merapikan barang-barang milik Jagad
dan baru menyadari ponsel Jagad bergetar. Ternyata ada
beberapa panggilan masuk.

Syamila.

Syamila.

Ratu-buku.blogspot.com
231
Syamila. Priyayi menghela napas panjang, tertegun lama
sebelum akhirnya memutuskan untuk nelepon balik Syamila
dan menuturkan apa yang terjadi.

Sadar, menunggu

Sepertinya baru sebentatr memejamkan mata, datang


perawat ke kamar Jagad. Membersihkan, ganti perban,
mengobati, dan merawat pasien satu ini. Ternyata Jagad
sudah sadra lumayan lama. Priyayi nggak tahu karena
tertidur. Jagad dipindah ke kamar perawatan biasa. Priyayi
menghendaki kamar VIp.

Jagad merasa sangat tersentuh mengetahui Priyayi setia


menungguinya.

"Sini...." Jagad menyuruh Priyayi mendekat. Priyayi menurut


dan menarik kursi, lalu mendekat duduk di samping Jagad.

"Kamu nggak ingin tahu kejadian yang menimpaku?"

Priyayi menggeleng. "Aku nggak mau dengar. Aku nanti akan


mencuri dengar kalau kamu cerita ke orang lain, oke?"

Jagad kontan tertawa tapi badannya jadi sakit semua. "Oya,


mamamu nanti akan datang," tambah Priyayi.

"Yi, makasih ya sudah nemenin. Itu berarti kamu berkorban


dengan membatalkan acara liburanmu," ucap Jagad menatap
Priyayi lekat-lekat.

Ratu-buku.blogspot.com
232
Priyayi belum pernah melihat Jagad berbicara dan
menatapnya sesentimentil ini. Kayak begini ya, sikap orang
yang baru saja sadar dari obat bius, pikir Priyayi.

"Hhh.... Lihatlah dirimu, lebam-lebam dan bekas jahitan....


Sejelek-jeleknya kamu, aku masih punya rasa belas kasihan,"
celetuk Priyayi melumerkan suasana sentimentil yang bikin
dia merinding grogo. Hiii....

Jagad meraih tangan Priyayi dan menggenggamnya. "Yi,


aku...."

Tepat saat itu, muncul seseorang di ambang pintu.


Mengetahui siapa yang datang, Priyayi secepat kilat menarik
tangannya dari genggaman Jagad.

"Mila....," panggil Jagad terkejut.

Priyayi berdiri. "Aku yang nelepon dia."

"Apa?" seloroh Jagad. Terkejut juga.

"Hai, silahkan," ujar Priyayi kepada Syamila. Syamila


mengangguk dan mengambil tempat di sisi seberang Priyayi
berdiri dekat pembaringan Jagad.

Syamila dan Jagad saling memandang dan tersenyum. "Hai,


Mas, aku datang."

Priyayi merasa perutnya mulas. Ia berdeham menatap


Syamila. "Maaf. Eee.... Bisa kamu di sini sampai ibu, eee....

Ratu-buku.blogspot.com
233
Maksudku mamanya Jagad datang? Kalau kamu nggak repot
sih."

"Tentu."

"Eee... Gumam Jagad mau ngomong tapi langsung diserobot


Priyayi.

"Makasih ya. Saya harus ke kantor sebentar. Sampai nanti."


dengan tergesa-gesa Priyayi meraih tasnya dan keluar. Mata
Jagad mengikuti sampai Priyayi menghilang.

Berdiiri tepat di samping mobilnya, Priyayi berkacak


pinggang dan mengumpat dengan sepenuh hati. "Sialan,
sialan! Hiiih... Harus balik ke dalam, sialan!"

Kunci mobilnya ketinggalan. Dengan langkah gontai dia


berjalan kembali ke kamar Jagad dirawat.

Mendekati kamar Jagad, Priyayi menempelkan tubuhnya ke


dinding dan kepalanya menjulur ke ambang pintu yang tidak
tertutup sempurna, mengintip apa yang " berlangsung" di
dalam kamar. Dia takut kedatangannya kembali bakal
menganggu hal yang seharusnya nggak boleh diganggu.

Priyayi melihat tangan Syamla terulur ke kening Jagad.


Mereka saling tersenyum. "Gawat, perutku mulas lagi,"
gumam Priyayi dari balik dinding.

"mbak....? Ada yang bisa saya bantu?"

Ratu-buku.blogspot.com
234
Priyayi meloncat super kaget. Ups...

Seorang perawat memergokinya. "Mbak cari pasien?"

Priyayi mengangguk spontan. Kalut.

"Atas nama siapa?"

"Yayi...." panggil Jagad heran Priyayi muncul di ambang pintu.


Ternyata Priyayi meloncat ke arah yang salah....

"Oh ,hai," cetus Priyayi melambaikan tangan. Dia noleh ke


perawat tadi. "Sus, udah ketemu, hehe... Terima kasih...."
Priyayi meringis ke arah suster. Dengan sangat segan,
Priyayi lantas masuk.

"Kamu diapain suster?"

"Hehe.... Nggak...." Priyayi berdiri rikuh. Syamila dan Jagad


memandanginya. "Kunci mobil ketinggalan...., sori menganggu."
Priyayi segera menyambar kunci yang tergeletak di meja.
Tanpa ba-bi-bu dia ngeloyor ke arah pintu.

"Hei," panggil Jagad.

Priyayi berhenti dan noleh. "Ya?"

"Kamu nanti ke sini jam berapa?"

"Eee... Mamamu kan nanti ke sini, jadi... Lebih baik aku...


Nggak di sini...."

Ratu-buku.blogspot.com
235
"Begitu ya... Tapi besok ke sini, kan?"

Priyayi melirik Syamila. Gadis itu membuang muka. "Well,


mungkin. Aku harus pergi sekarang."

Wuuusss.....

Gelap, menyepi

Peeet.....<maksudnya lampu tiba-tiba padam>

Kontan Priyayi buru-buru bangkit, kaki kanannya menginjka


pump shoes yang berserakan di lantai, dan membuatnya
kehilangan keseimbangan....

KROMPYAANGG....!

Lampu kembali menyala. Ada Pak Ayub si satpan senior


berdiri dekat saklar dengan bahasa tubuh waspada. Begitu
tahu siapa yang bikin keributan, Pak Ayub mengendorkan
kewaspadaannya.

"Maaf, saya kira sudah nggak ada orang. Tadi Mbak Yayi di
mana?"

Priyayi tadi duduk meringkuk di lantai, meja


menyembunyikan posisinya dari pandangan, melamun
menghadap jendela kantor yang menyisakn pemandangan
senja metropolitan, sekadar untuk nyepi, merenungkan
perasaan yang menyergapnya akhir-akhir ini.

Ratu-buku.blogspot.com
236
Aturannya aku lega menyaksikan Jagad kembali bersama
orang yang dicintai. Tapi aku malas mulas.... Huuh....

Sampai langit gelap, Priyayi tetap bergeming dengan pikiran


terapung.

"Mbak Yayi baik-baik saja?" tanya Pak Ayub memastikan


lantaran Priyayi hanya berdiri bengong.

"Oh, eh, iya, baik...." Priyayi memungut tutup gelas yang tadi
jatuh tersapu telapak tangannya saat berusaha menjaga
keseimbangan.

"Maaf tadi saya mematikan lampu...."

"Nggak, nggak apa-apa."

Pak Ayub mengangguk kemudian memalingkan badan untuk


keluar ruangan. "Pak Ayub....," panggil Priyayi.

Pak Ayub noleh. "Iya, Mbak?"

"Mmm... Tentang dua pria itu..., ramalannya Pak Ayub...., apa


bener saya harus memilik?"

Pak Ayub tertawa. "mungkin nggak harus memilih, cukup


membuka hati dan pikiran dengan jernih, itu akan
membimbing seseorang menuju tempatnya."

Priyayi mengusap-usap rambutnya. "itulah masalahnya.


Semakin saya membuka hati untuk menerima segala

Ratu-buku.blogspot.com
237
kemungkinan, kok semakin bikin bingung. Apa saya terlalu
lebar membuka, ya?"

Pak Ayun lagi-lagi tertawa. " mungkin Mbak Yayi hanya perlu
waktu."

Priyayi manggut-manggut.

"Dan lebih peka terhadap kata hati sendiri," Pak Ayub


menambahkan.

Lagi-lagi Priyayi manggut-manggut. Manggut-manggut nggak


ngerti, hehe.

Saat Priyayi beres-beres mejanya bersiap untuk pulang, ada


SMS dari Jimmy, meminta dia bertemu sekarang di kafe.
Priyayi berdandan kilat dan berlari-lari keluar gedung.

Malam, keputusan

"Aku ingin putus."

Priyayi yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi di


depan Jimmy kontan mendongak, menatap Jimmy tak
berkedip. Mereka terinterupsi dengan waiter yang membawa
dua cangkir kopi untuk merek.

"Aku sudah pesan minuman untukmu, kopi yang biasa kamu


pesan. Mau pesan makanan juga?" tawar Jimmy.

Priyayi menggeleng lemah. Ia masih shock.

Ratu-buku.blogspot.com
238
Jimmy menyesap kopinya. "Pembatalan pergi dengaku ke
Ayer merupakan puncak kecemburuanku. Aku nggak sanggup
lagi juka harus mengalami yang lebih dari itu."

Kepala Priyayi tertunduk. "Maaf, aku nggak bermaksud


begitu."

"Aku tahu. Kita saling mencintai, tapi aku terus-terusan


dicekam perasaan cemburu dan nggak nyaman. "Jimmy
berhenti sejenak, memalingkan pandangan ke luar jendela,
kemudian melanjutkan, "Aku cuma nggak ingin gila, Yi...."

Priyayi bergeming beberapa lama. Matanya menerawang


menembus ke dalam isi cangkir di hadapannya.

"Aku sedih jika harus berpisah denganmu," ucap Priyayi lirih,


nyaris berbisik.

"Sampai kapan pun aku nggak siap melepasmu, tapi aku juga
nggak sanggup dengan hubungan seperti ini, jadi, kuharap
kamu mengerti."

Mata Priyayi mulai berkaca-kaca.

"Kalau kita memang ditakdirkan bersama, kita pasti bisa


bersama. Mungkin.... Mmm.... Dua tahun lagi seperti yang
kamu bilang....?" Jimmy menyunggingkan senyum. Priyayi
mengangkat senyum lemah. "Aku nggak ingin kita saling
menunggu. Aku nggak ingin kita membuang waktu untuk
sesuatu yang mungkin bukan takdir kita. Jalani saja, akan
mengarah pada takdir kita sendiri...."

Ratu-buku.blogspot.com
239
"Oh, Jim... Kamu bikin nangis sekarang," celetuk Priyayi
dengan mata berkaca-kaca. "Kebesaran hatimu yang
membuatku jatuh hati dan juga menangis...." Priyayi tidak
menahan air matanya lagi. "Aku cinta kamu, Jim."

"Aku tahu," sahut Jimmy. Dan aku juga tahu kamu mulai
mencintai orang lain, Yi....

"Nggak bisakah kamu mengubah keputusanmu ini, Jim? Ini


terlalu.... Menyedihkan," rajuk Priyayi disela isakannya.

"Yi, kupikir inilah yang terbaik buat kita."

Huuu.... Huuuuu.... Priyayi tidak bisa tidak menangis tanpa


suara. "Jim... Boleh aku minta pelukanmu....?"

Jimmy tersenyum dan berpindah tempat ke samping Priyayi.


Huuaaaa..... Priyayi nangis keras di pelukan Jimmy.

Well, malu juga sih dengan adegan begini, tapi tak apalah
untuk sesuatu yang akan menjadi hal terakhir kali, pikir
Jimmy miris.

Di masa depan adegan ini akan jadi adegan yang berkelebat


di benak dan menjadi memori yang kayak dikenang.

Jimmy mengantar Priyayi sampai gadis itu menjalankan


mobilnya keluar dari pelataran parkir. Ia lantas berdiri
mematung. Selesai sudah. Kamu kalah, Jim!

***

Ratu-buku.blogspot.com
240
Menghindar, bungkam

Yasmin melambaikan tangan melihat Priyayi celingukan di


depan rumah sakit. "Ya ampun, kamu kok pucat sih? Sakit?"
tanya Yasmin begitu Priyayi mendekat.

"Iya, nggak dandan, lagi!" timpal Kumala.

"Semalam kurang tidur, terus tadi bangun kesiangan."

Semalam Priyayi merenungi dan menangisi nasibnya habis-


habisan. Sendirian.

Priyayi berbisik ke telinga Yasmin. "Ngapain kamu ngajak


Mala segala? Aku kan mau curhat hal penting rahasia
banget...."

Ups. Yasmin meringis. "Tadi ke gym bareng, terus dia maksa


ikut aku seharian ini. Maklum, stok cowoknya lagi kosong.
Aku nggak enak dong.... Apalagi dia tahu tujuanku."

"Ngobrol apaan sih, aku nggak denger," seloroh Kumala


merangsek di antara teman-temannya. Wajah Priyayi pucat.

Siang ini Priyayi menjemput Jagad pulang. Dia meng-SMS


Yasmin supaya menemuinya di rumah sakit. Sebelum menemui
Jagad, Priyayi ingin banget curhat langsung ke Yasmin soal
pemutusan hubungannya oleh Jimmy semalam.

Tiba di depan kamar Jagad, pintu kamar terbuka. Priyayi


melihat ada perawat di dalam dan....

Ratu-buku.blogspot.com
241
Gawat! Ada Syalala, eh, Syamila! Priyayi buru-buru mundur
dan balik badan menjauhi pintu. "Aduh!"

"Auuuw!"

Priyayi menubruk Yasmin dan Kumala yang tadi berdiri di


belakangnya. "Sssst... Ini rumah sakit, janga berisik," tegur
Priyayi berbisik.

"Kita berbisik juga karena kamu," seloroh Kumala.

"Sssst.... Ayo pergi, ada Sya.... Eh, mamanya Jagad." Priyayi


menarik kedua temannya menuju ruang tunggu di lorong agak
jauh dari kamar Jagad.

"Kok malah pergi sih?" tanya Kumala heran.

"Eengg.... Perjumpaan anak dan ibu, aku nggak mau ganggu,"


sahut Priyayi kesal.

Dia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Yasmin. "Ada


pacarnya, aku nggak mau ganggu mereka."

"Ooo. Dari jam berapa dia kemari?"

"Nggak tahu, tadi...."

"Tuh kan, bisik-bisik lagi! Sebal, minggir kalian!" protes


Kumala. Ia menarik Yasmin yang duduk di tengah. Dia sendiri
yang lantas menduduki tempat tengah di antara Priyayi dan
Yasmin. Bangkunya memang hanya muat untuk bertiga.

Ratu-buku.blogspot.com
242
"Nah, sekarang kalian nggak bisik-bisik kalau ngomong."
Yasmin mencibir, priyayi melongo.

"Nih, kalian mau?" Kumala membuka tas dan menyodorkan


cokelat berbentuk kepingan kepada kedua temannya.

Yasmin menggeleng, Priyayi nyeletuk, " Aku nggak nafsu


makan apa pun di rumah sakit." "Ya udah."

Lalu Priyayi menemukan ide guna memecahkan kebuntuan


untuk curhat ke Yasmin. Dia meraih ponsel dan jempolnya
mulai memencet huruf demi huruf.

Semalam Jimmy mutusin aku karena nggak tahan pacarn


dengan kondisi sekarang. Aku patah hati:(

Yasmin membuka ponsel mendengar nada terima SMS.


Astaga, Yayi! Dia menoleh ke Priyayi. Priyayi pura-pura nggak
menggubris. Yasmin membalas....

Jadi itu yang bikin kurang tidur? Hmm, cepat atau lambat
Jimmy akan mengakhiri hubungan kalian. Mana sangguplah!
Kamu dan Jagad kan akrab. Coba kalau kamu cuek mampus ke
Jagad, Jimmy mungkin masih bisa tahan.

Priyayi membaca SMS balasan Yasmin dan mengetik


balasannya. Huh, kamu sama aja, bikin sedih . Tai mungkin
lebih baik begitu ya.

Giliran Yasmin membaca SMS dan mengetik balasan.

Ratu-buku.blogspot.com
243
Sementara Kumala tidak menyadarinya. Setahunya, kedua
temannya sibuk dengan ponselnya masing-masing.

Lebih baik apanya! Kamu nggak dapat apa-apa. Sekarang


suami berduaan dengan cewek lain malah dibiarin. Payah!
Pacar nggak, suami nggak! Pengorbanan Jimmy melepasmu
akan sia-sia kalau kamu juga melepas Jagad. Payah, payah,
payah!

Membaca balasan Yasmin, Priyayi menoleh dan mendelikkan


mata ke arah Yasmin. Giliran Yasmin yang bergeming, pura-
pura nggak menggubris. Priyayi lantas mengetik.

Aku nggak menjalin hubungan dengan Jagad, jadi aku nggak


pernah melepas dia, dia aslinya lepad beban, tau!

"Hah!" Yasmin berseru dengan nada mengolok membaca SMS


dari Priyayi.

Kumala setengah melonjak kaget seraya menoleh ke Yasmin


kesal. " Ngagetin aja...."

Priyayi meringis geli. Yasmin membalas cepat dan dibaca


Priyayi.

Istri yang buruk, menelantarkan suami!

"Apa kamu bilang?" seru Priyayi seraya memandang Yasmin.


Kumala bingung tiba-tiba Priyayi menegur Yasmin.

"Yasmin nggak bilang apa-apa, Yi."

Ratu-buku.blogspot.com
244
Yasmin mengangguk." Iya, aku dari tadi diam aja. Aneh...."
sahutnya sembari mencibir. Hihihi....

Dengan gemas Priyayi membalas.

Dia bukan suamiku. Dan aku bukan istri yang buruk! Dia sama
orang dicintainya, tauuu! Yasmin membalas.

Memanf kamu nggak mencintai....?!

"Yasmin!" pekik Priyayi. Lagi-lagi Kumala melonjka kaget.

"Astaga Yayi, Yasmin itu cuma selisih satu kursi, nggak usah
lantang begitu kalau manggil!" hardik Kumala berang.

Yasmin terkikik. "Tau tuh, hihihi...."

"Hah! Itu.... Itu....!" tiba-tiba Kumala megap-megap melihat


seseorang yang berjalan mendekat. Priyayi dan Yasmin
kontam menoleh ke arah yang dimaksud Kumala.

Priyayi terperangah. Wah, gawat..... Syamila! Kumala kan


pernah melabrak dia!

Kumala berdiri siap menyongsong Syamila. Dengan gesit


Priyayi berdiri dan nahan badan Kumala. "Aduh, jangan bikin
ribut, please.... Ini rumah sakit."

"Tapi ini keterlaluan, Yi, masa dia tetap nyamperin Jagad!"

Yasmin ikut berdiri, bingung. "Emang siapa dia?"

Ratu-buku.blogspot.com
245
Di antara kerepotannya menahan Kumala yang mulai naik
darah, Priyayi menjawab dengan suara berbisik. "Itu pacar
Jagad."

Mulut Yasmin membentuk huruf O panjang. "Oooo...."

Kumala berseru ke arah Syamila, "Heh, kamu! Ngap..."

Hup. Priyayi membungkam mulut Kumala dengan tangannya


lalu menyeret Kumala dengan paksa, menjauh dari jalan yang
akan dilewati Syamila. Hanya Yasmin yang berdiri saat
Syamila lewat. Itu pun sudah bikin Syamila agak ngeri,
karena Yasmin memandangnya tanpa kedip. Apalagi kalau
Kumala nggak dicegah, bisa-bisa Syamila pingsan dan ikut
dirawat karena shock menghadapi kegarangan Kumal.

Sementara itu, Priyayi mendekap erat Kumala di balik


tangga.

Beberapa lama kemudian, Yasmin melongok. "Clear!"

Priyayi melepas sekapannya dan menghela napas.... Hahhh.....

Kumala berang. "Aku dizalimi!!"

Hahaha.... Priyayi dan Yasmin tergelak. Apalagi rambut kriwil


Kumala awut-awutan. Ketiganya terkapar di tangga. Orang-
orang memandangi mereka dengan tatapan aneh.

"Ayo, jemput Jagad," ajak Priyayi berdiri.

Ratu-buku.blogspot.com
246
"Iya, sebelum dikira pasien di paviliuv perawatan jiwa yang
kabur," timpal Yasmin.

"Hei!" tiba-tiba dari arah belakang, dua orang perawat


berseru.

"Lariii....!" Ketiga cewek itu ngibrit kencang, tanpa tahu pasti


siapa yang ditegur perawat itu.

"Yas, kamuh bawah Malah pulang ajah," intruksi Priyayi


dengan tersengal-sengal karena sambil berlari. "Kalian belok
sanah...."

Mereka berpisah di perempatan lorong.

Priyayi tiba di hadapan Jagad dengan ngos-ngosan. Jagad


terheran-heran dibuatnya. Priyayi meringis.

"Takut kamuh kelamaan nungguh, jadih larih-larih, hhh....


hhh....."

***

Ratu-buku.blogspot.com
247
Part 29

Ragu, honeymoon

Priyayi menelungkup di meja pantry dengan kepala


dibenamkan di antara kedua tangan. Nggak ada kesibukan
lagi di Sabtu malam. Nggak ada Jimmy. Dan Jagad sudah
punya dunianya sendiri. Teman macam Kumlala mengajaknya
keluar tapi Priyayi sedang bosan menghabiskan malam dengan
obrolan peribasi dan intens, berdua saja.

Untuk kesekian kali diamatinya brosut yang ditindih


tangannya. Brosur paket honeymoon kiriman oma dan opanya,
sebagai hadiah pernikahan Priyayi, beliau membiayai semua
biaya honeymoon. Tinggal si pasangan baru yang menentukan
ke mana tujuannya.

Priyayi dilanda keraguan untuk mengajak Jagad. Priyayi


punya harapan dengan perjalanan honeymoon___walaupun
dalam pratiknya nggak honeymoon beneran___dia bisa
menjalin hubungan lebih dekat lagi dengan teman
serumahnya itu. Maksudnya, menjadi Priyayi berpikir kenapa
nggak sekalian saja jadian beneran sama Jagad.

Tapi.... Masalahnya dia dulu yang menggiring Jagad supaya


balik ke Syamila.

"Hhh..... Mana kutahu kalau perasaanku bisa berkembang


seperti ini," gumam Priyayi dengan tampang lesu. Kepalanya
lagi-lagi ditangkupkan ke dalam dua tangan di atas meja
pantry.

Ratu-buku.blogspot.com
248
"Yi," panggil Jagad. Karena nggak ada respons, Jagad
mendekat dan menyentuh tengkuk Priyayi setengah melonjak
dan mendongak

"Kamu sakit?" tanya Jagad.

"Nggak!" jawab Priyayi spontan sembari merapikan rambut.

Ups, mata Jagad mengarah pada brosut. Buru-buru Priyayi


menyambar brosur tersebut dan bangkit dari duduknya.

"Kenapa menelungkupkan kepala gitu?" Jagad kurang percaya


Priyayi kalau sudah menyahur urusan pengakuan keadaan
sakit/tak sakit.

"Oh, lagi mikir kerjaan."

Tahu-tahu tangan kanan Jagad sudah mendarat di dahi


Priyayi. Priyayi refleks mengelak dengan menggenggam
tangan Jagad yang terulur itu. Mata bertemu mata. Tangan
bertemu tangan. Sekarang sudah memasuki detik ke-21.
Posisi mereka masih seperti tadi. Dada Priyayi berdebar-
debar nggak keruan. Dia merasakan remasan tangan Jagad
menguat. Kali ini Priyayi memutuskan nggak akan mengelak.

Lakukan apa pun yang kamu mau, Gad.... Priyayi membatin.

"Aku....." Jagad menelan ludah.".... Harus pergi sekarang.


Tangan mereka pun terlepas. Jagad memundurkan badannya.
"Jangan lupa kunci pintu. Jangan ketiduran di sofa."

Ratu-buku.blogspot.com
249
Selepas kepergian Jagad, Priyayi mendesah sekeras-
kerasnya. Dilihatnya brosur honeymoon sekali lagi sebelum
akhirnya dilempar ke tempat sampah.

***

Rumah, pusing

Yasmin menelepon Jagad, yang sedang berada di kamar.


"Yayi cerita nggak?"

"Cerita apa?"

"Yayi putus ama Jimmy. Jimmy yang mutusin."

"Oh ya?" Jagad terkejut.

"Sekarang dia di mana?"

"Katanya pergi ke bar ama Sally."

"Wah, sialan tuh anak, nggak ajak-ajak,"celetuk Yasmin. "Dia


lagi bosan sama kamu."

"Ug, kamu juga sialan." Jagad meringis, kemudian bertanya


ke Yasmin. "Hmm.... Yass, aku mesti gimana di depan dia?"
pura-pura nggak tahu sambil mancing dia untuk cerita....?"
Jagad bingung sendiri. "Aku nggak enak kalau berlagak nggak
ada apa-apa, tapi dia emang berlagak nggak ada-apa di
depanku."

Ratu-buku.blogspot.com
250
"Halah, nggak penting. Yang penting itu kesempatan kamu
menyatakan perasaanmu ke dia," saran Yasmin straight to
the point.

"Aku nggak bisa, Yas. Aku masih berhubungan sama orang


lain. Aku nggak mau jadi cowok brengsek, Yas."

Yasmin menghela napas keras, sampai terdengar Jagad di


speaker ponselnya. "Kamu udah brengsek sejak kamu
meniduri Yayi, Gad...." Yasmin berujat kalem, sama sekali
nggak ada nada menghardik atau sinis pada suaranya.

"Oh, Yas, kamu bikin aku tak berdaya." Jagad menimpali


dengan suara memelas.

"Satu hal yang mesti kamu camkan, Gad...., Yayi nggak akan
mau melakukan itu dengan cowok yang nggak membuatnya
merasa nyaman dan berkenan dia hatinya."

"Tapi kamu sama-sama mabuk waktu itu."

"A-a! Dia bisa nyetir mobil sampai rumah dengan selamat


malam itu kan. Dia nggak mabuk mampus. Dia memang di
bawah pengaruh alkohol hingga berani melakukan itu tapi dia
tahu siapa yang tidur bersamanya."

Semalaman Jagad memikirkan benar-benar semua ucapan


Yasmin di telepon. Pandangan Jagad menjelejah gelisah ke
seluruh kamar dan berhenti di laci meja. Ia buka laci
tersebut dan mengambil foto.

Ratu-buku.blogspot.com
251
Sekarang aku nggak bisa, Yas....

Yaaahh.... Apa yang bisa diharapkan dari menjadi pasangan


jadi-jadian? Yang ada cuma rekayasa. Andai akhirnya timbul
satu rasa yaang nyata...., itu salah sendiri! Aturannya
memang nggak begitu, kan?

Jadi.....

"Itu salahmu sendiri, Gad," gumam Jagad pada dirinya


sendiri.

***

Jauh, terlantar

"Yik, sabtu kamu dan Jagad ke rumah ya, kita makan malam
bareng. Sudah lama kita nggak kumpul-kumpul...."

Priyayi menghela napas. Wajahnya nggak bersemangat.


Bukan soal undangan makam malamnya, melainkan karena dia
terpaksa menolak undangan tersebut. Well, kalau datang
sendiri sih dia pasti bisa. Tapi dalam kasus ini, di diwajibkan
bersama sang pasangan. Masalahnya....

"Yik? Halo?"

Sebentar, kita lanjutkan dulu pembahasannya. Masalahnya


sudah seminggu Priyayi berjauhan dengan Jagad. Jagad yang
tampak menjauh. Bawaannya sibuk. Banget. Sampai-sampai
ngobrol pun udah nggak pernah. Paling banter sapaan dan

Ratu-buku.blogspot.com
252
basa-basi sedikit di pagi hari. Di malam hari, kendati Priyayi
masih nongkrong di depan TV, Jagad memilih langsung
ngeloyr ke kamar.

"Ma, maaf...., kayaknya kami nggak bisa deh. Aku sibuk


banget, Jagad juga. Hmm... Mungkin minggu depan, atau
minggu depannya lagi. Lihat nanti deh."

Priyayi menutup flip ponselnya, meraih tas, dan melangkah


keluar dari ruang kerjanya. Hari sudah gelap saat dia
melajukan mobilnya ke cafe and bar.

"Hai, Ron. Yang biasa ya."

"Sip. Sendirian aja?" tanya Robby, bartender yang sudah


mengenal Priyayi karena seringnya Priyayi ke tempat ini. Ini
memang bar langganan cewek itu sejak zaman culun dulu.

"Ho-oh," jawab Priyayi lesu.

Belakangan ini, sepulang kerja Priyayi selalu mampir ke


tempat ini. Kadang sama teman. Kadang sendiri. Tapi nggak
pernaj lagi sama Jimmy. Juga Jagad.

Omong-omong soal Jimmy, sayup-sayup berita yang masuk


kuping Priyayi adalah Jimmy sekarang resmi "jalan" ama
Bianca. Hrrrgghh.....

Ramalan Pak Ayub salah. Dua-duanya bukan pasangan


sejatiku. Tapi bukan beliau yang keliru, melainkan aku
sendiri. Aku nggak membuka mata hatiku bahwa selama ini

Ratu-buku.blogspot.com
253
udah mencintai orang yang sangat dekat dengan
keseharianku.... Hhh.... Sekarang dia menjauh bersama orang
lain.... Aku bisa apa, coba?

"Ssst.... Masih patah hati?" tanya Robby, melihat Priyayi


yang melamun dengan wajah lesu. Priyayi memang sempat
menyinggung sepintad tentang suasana hatinya ke Robby.

Priyayi nyengir. "Masih nih. Beruntun."

"Kayak tabrakan aja."

"Hehe.... Emang. Satu ditabrak cinta lama. Terus langsung


ditabrak cinta baru. Well, bukan baru sih, tapi baru
belakngan ini aja menyadarinya. Habis-habisan pokoknya."

"Ouch," celetuk Robby sembari mengepalkan tangan


kanannya dan menempelkannya ke dada kirinya. Lambang
berduka.

"Untuk itulah bar diciptakah, menampung orang-orang yang


patah hati supaya nggak terlantar di jalan sebelum ahli jiwa
memungut ongkos dari penderitaan mereka, hehe....." tutur
Robby.

Priyayi tertawa dan mengacungkan jempol. Tapi ada yang


diralat sedikit. Baginya, dia nggak terlantar di jalan,
melainkan di rumah. Hatinya terlantar setiap berada di
rumah......

Ratu-buku.blogspot.com
254
Part 30

Sunrise, kompleks apartemen

Kalau di dunia ini hanya ada 100 pria, berapa kira-kira yang
setia?

Mungkin hanya lima

Sekitar tiga puluh

Dua puluh saja.

Sepuluh, termasuk saya.

Wow! Priyayi menurunkan majalah wanita 1 terbitan ibukota


edisi lama di kamar, dari depan wajahnya. Kalau 100
perempuan, berapa yang setia, ya?

Berhubung lagi iseng sembari nunggu waktu berjalan, Priyayi


kembali mengangkat majalah menutupi wajah, kembali
menekuni poin-poin pertanyaan yang ditujukan kepada empat
pria dan harus mereka jawab.

_______________

1. Sumber : Rahasia Kesetiaan Pria 'Agar Pindah ke Lain


Hati,' Femina no 19/xxxII 6-12 Mei 2004

Ratu-buku.blogspot.com
255
Batas kesetiaan itu di mana sih?

Pada emosi dan hasrat khusus.

Kontak fisik yang intens.

Di hati.

Selama tidak melakukan hal-hal yang melukai perasaan.

Priyayi mencerna perlahan. Oke, mari ditelaah. Pada emosi


dan hasrat khusus.

Seberapa khusus batasan khusus itu? Apakah flirting,


sekadar makan bareng, jalan bareng, nonton bareng, dan
aktifitas lain yang mengatasnamakan "Just for having fun"
nggak termasuk dalam term tersebut? Apakah yang
dimaksud khusus adalah menjalin hubungan lebih dari
sekadar teman, teman kencan, teman tapi mesra, teman
curhat, sahabat, hemm....

Kontak fisik yang intens. Yang ini sudah jelas. Dalam habitat
hidup manusia, fisik akan selalu dinilai pertama, termasuk
untuk urusan ini, urusan tentang batas kesetiaan.
Masalahnya seberapa jauh batasan intens itu....?

Di hati. Hmm... Nggak melakukan kontak fisik, tapi kalau


hatinya dipenuhi sosok lain, berarti dapat dikatakan nggak
setia. Berarti.... Priyayi berpikir-pikir, tingginya intensitas
kontak fisik, mungkin sampai batas tertinggi dari definisi
kontak fisik itu, katakan saja tidur bersama, selama nggak

Ratu-buku.blogspot.com
256
melibatkan hati, belum bisa dikatakn berkhianat. Wah.... Apa
betul begitu? Priyayi geleng-geleng kepala, makin ditelaah
makin tambah kacau definisinya.

Selama tidak melakukan hal-hal yang melukai perasaan.

Kalau misalnya ada satu pasangan yang sedang berjalan-jalan,


kemudian salah satu memandang satu sosok lawan jenis yang
nggak dikenal semata-mata hanya karena kagum dengan baju
atau sakit hati, berarti.... Sudah dibilang nggak setia.

Grrrh..... Berarti selama ini aku memang termasuk cewek


yang nggak setia. Ya ampun....

Sedihnya, pikiran Priyayi berkoar-koar. Raut mukanya jadi


muram.

Hhh... Ini bisa membunuhku, aku harus berhenti! Ujar Priyayi


dalam hati seraya bangkit dari tempatnya meringkuk dan
melangkah keluar kamar.

Pagi masih gelap saat Priyayi membuka seluruh tirai yang


menutupi jendela lebar apartemen. Semalam Priyayi tidur di
apartemen Kumala. Nggak ada siapa-siapa. Dan itu yang lagi
dibutuhkan Priyayi sekarang. Being alone for a while.

Dari ketinggian lantai ini, matahari terbit akan tampak lebih


jelas dan cantik. Priyayi menyeret kursi malas ke dekat
jendela menghadap timur, dan dengan secangkir kopi panas
plus musik dari CD chill-out, Priyayi duduk bersiap
menyambut munculnya matahari pagi sebelum ke bawah dan

Ratu-buku.blogspot.com
257
melakukan satu lagi hal favorit setiap berada di apartemen
Kumala.

Kumala memang sempurna dalam memilih apartemen. Yang


paling Priyayi sukai adalah jendela sebagai dapat menikmati
sunrise dan sunset. Yang kedua adalah taman yang yang
dimiliki apartemen ini. Tamannya indah dengan bunga-bunga
yang terawat segar. Dua hal itu sangat menenangkan, apalagi
jika suasana hatinya lagi nggak bagus sperti sekarang ini.

Selain dua itu, hal favorit lain di apartemen itu adalah tentu
saja private party, hehe. Eits, tapi itu nggak menenangkan
ya, hanya menghibur saja.

Langit mulai menguning. Priyayi menyesap kopinya perlahan.


Hati Priyayi sedang muram. Dia rindu kebersamaannya
dengan Jagad. Seperti dulu. Dia merasa kehilangan. Dia mulai
membenarkan kata-kata Yasmin di SMS dulu: pacar nggak,
suami nggak.

Priyayi mengerjap-ngerjapkan mata saat matahari mulai


menaik.

Aku kehilangan semua, batin Priyayi miris. Matanya tak lepas


memandang keindahan langit pagi dengan matahari terbit
sempurna, seperti telur mata sapi raksasa. ThanKs God, aku
bersyukur punya kesempatan menyaksikan keindahan alam
ini.

Priyayi bangkit dari duduknya dan berdiri. Tapi aku


kehilangan dia, tuhan. Dia nggak lagi melihatku ada di sana....

Ratu-buku.blogspot.com
258
Untuknya..... Pandangan Priyayi kabur oleh titik air mata yang
mulai mengembun di sudur matanya.

Ah, terlalu merusak lagi indah ini. Priyayi segera mengganti


bajunya dengan setelan sport lycra warna pink. Keluar dari
apartemen, masuk lift, dan lift mulai turun.

Priyayi mengembangkan senyum begitu tiba di taman


kompleks apartemen. Dia berlari dua kali mengelilingi taman,
selebihnya berjalan agar lebih menikmati bunga-bunga yang
menyemarakkan taman.

"Thaks you flowers, you kame the world prettier," ucap


Priyayi dan mencium segerombolan bunga lili.

"And thanks you...., tou make my world prettier...."

Priyayi terkesiap kaget ada suara sangat dikenalnya


terdengar tepat di belakangnya. "Jagad!" seru Priyayi
membalikkan badan.

"Pagi...." Jagad tersenyum manis.

"Kok bisa.... Kemari?" tanya Priyayi datar tapi sorot matanya


tidak tahu menyembunyikan rasa gembiranya.

"Kamu yang bilang sendiri, kamu selalu ke taman di pagi hari


kalau menginap di tempat Mala."

"Eee.... Maksudku, ada apa sampai kemari? Ada hal penting?"

Ratu-buku.blogspot.com
259
Jagad mengangguk. "Sangat penting."

Wajah Priyayi berubah tegang."Kakek....?"

"Bukan. Bukan orang lain, tapi aku."

"Kenapa kamu?"

"Minta maaf."

"Minta maaf?" ulang Priyayi heran.

Jagad mengangguk. "Akhir-akhir ini aku nggak banyak


bersamamu. Aku.... Harus melepaskan dan menyelesaikan
beberapa hal hingga akhirnya aku benar-benar bisa ngomong
ini ke kamu, Yi."

Priyayi menyimak serius. Jagad meneruskan penuturannya .


"Aku sudah kenal kamu, sudah berteman, sudah pernah tidur
bersama, sudah tinggal serumah, sudah menikahimu...., dan
aku.... Sudah mencintaimu..."

Jagad meraih tangan Priyayi yang dilanda kebengongan luar


biasa.

"Tapi bodohnya aku belum mengatakan aku mencintaimu. Aku


mencintaimu, Yi."

Priyayi dilanda perasaan bahagia mendengar ungkapan


perasaan Jagad, tapi tunggu dulu....

Ratu-buku.blogspot.com
260
"Aku bilang aku sudah menyelesaikannya. Sudah selesai.
Sekarang nggak ada orang lain selain kamu." Jagad menjawab
pikiran Priyayi.

Sontak Priyayi memeluk Jagad erat. "I really miss you, Gad.
Aku benci waktu kamu menjauhiku...."

Jagad mendekap kepala Priyayi. "Maaf. Itu kulakukan karena


aku ingin mengatakan cintaku dengan yakin dan tanpa ada
beban. Maaf ya, aku nggak akan kosmikku dan kosmikmu
berbenturan," celetuk Priyayi.

Jagad memencet hidung Priyayi . "itu karena kita belum


jadian. Kalau udah jadian, kosmik kita akan jadi serasi."
keduanya tertawa.

"So, kita pasangan beneran sekarang, bukan jadi-jadian,"


celetuk Priyayi bermanja di lengan Jagad.

Jagad nyengir. Dia menundukkan kepala agar bisa mencium


bibir Priyayi. Tapi melihat orang-orang yang berada di taman
memerhatikan Jagad dan Priyayi dengan sebegitunya
lantaran dua orang itu berpelukan sepagi ini, mereka jadi
mengurungkan niat untuk berciuman.

"Hei, mau melakukan satu hal favorit di apartemen Mala di


pagi hari?" Tanya Priyayi mengedipkan sebelah matanya.

Jagad menyeringai lebar.

***

Ratu-buku.blogspot.com
261
Sore, capek

"Hhh....capeknya hari ini...." Kumala mengguman sembari


membuka pintu apartemennya. Setelah perjalanan panjang
dalam pesawat, nggak ada yang lebih diinginkan selain....
Tiduurrr! Dilihatnya ruangan berantakan. Piring bekas
makanan, gelas-gelad, botol wine kosong....

"Sialan Yayi, nggak rapi-rapi dulu sebelum pergi. Awas ya."

Kumala melenggang berjalan menuju kamarnya. Ia membuka


pintu.....

"AAAAAAAAAAA!!!" Kumala menjerit sejadi-jadinya. Tas


jinjing terjatuh dari tangannya.

"Apa yang kalian lakukan di atas tempat tidurkuuuuu???!!!"

-END-

eBook by
Ratu-buku.blogspot.com

Ratu-buku.blogspot.com
262