Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN

ROLE PLAY SENTRALISASI OBAT PRAKTIK PROFESI


MANAJEMEN KEPERAWATAN DI RUANG BOUGENVILLE
RSUD DR. SOETOMO SURABAYA
PERIODE 15 MEI – 24 JUNI 2017

Disusun Oleh :

Mita Nur Lathifah, S.Kep. 131613143004


Sri Rezeki Amanda, S.Kep. 131613143009
Winda Kusumawardani, 131613143011
Akhmad Fadili, S.Kep 131613143014
Kusumastuti, S.Kep 131613143096
Eva Riantika Ratna Palupi, 131613143021
Lisa Efiana Malik, S.Kep. 131613143028
Etik Trisusilowati, S.Kep. 131613143033
Wahyu Hanung Prasetyo, 131613143034
Nia Elfira Rahmawati, S.Kep. 131613143039
Agnes Sevelina, S.Kep. 131613143043
Muhammad Syaltut, S.Kep. 131613143047
Indah Nur Rahmawati, S.Kep. 131613143048

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
DAFTAR ISI

COVER .................................................................................................................. i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.2 Tujuan........................................................................................................2
1.2.1 Tujuan umum.....................................................................................2
1.2.2 Tujuan khusus....................................................................................2
1.3 Manfaat......................................................................................................3
1.3.1 Bagi klien...........................................................................................3
1.3.2 Bagi perawat......................................................................................3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................4
2.1 Pengertian Sentralisai Obat.......................................................................4
2.2 Tujuan Sentralisasi Obat............................................................................4
2.3 Pengelolaan Obat.......................................................................................5
2.4 8 Tepat Dalam Sentralisasi Obat...............................................................7
2.5 Peran Perawat..........................................................................................13
2.6 Alur Sentralisasi Obat.............................................................................14
2.7 Alur Pelayanan Farmasi Ruang Bougenvile IRNA Bedah RSUD Dr.
Soetomo.............................................................................................................15
BAB 3 PERENCANAAN......................................................................................16
3.1 Rencana Pelaksanaan Sentralisasi Obat..................................................16
3.2 Struktur Pengorganisasian.......................................................................16
3.3 Metode.....................................................................................................16
3.4 Media.......................................................................................................17
3.5 Uraian Kegiatan Sentralisasi Obat..........................................................17
BAB 4 PELAKSANAAN KEGIATAN.................................................................18
4.1 Persiapan.................................................................................................18
4.2 Pelaksanaan Kegiatan..............................................................................18
4.3 Hambatan dan Dukungan........................................................................20
4.3.1 Hambatan.........................................................................................20
4.3.2 Dukungan.........................................................................................21
BAB 5 EVALUASI KEGIATAN..........................................................................22
5.1 Evaluasi Struktur.....................................................................................22
5.2 Evaluasi Proses........................................................................................22
5.3 Evaluasi Hasil..........................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................26

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan yang


prima dirasakan sebagai suatu fenomena yang harus segera direspon oleh perawat.
Respon yang ada harus bersifat kondusif dengan mempelajari langkah-langkah
konkrit dalam pelaksanaannya (Nursalam, 2015). Tuntutan masyarakat terhadap
kualitas pelayanan keperawatan yang prima dirasakan sebagai suatu fenomena
yang harus segera direspon oleh perawat. Respon yang ada harus bersifat kondusif
dengan mempelajari langkah-langkah konkrit dalam pelaksanaannya (Nursalam,
2015). Penerapan sentralisasi obat sudah dilakukan di Ruang Bougenvile Rumah
Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Sentralisasi obat di laksanakan dengan system one
day dose (ODD).
Sentralisasi obat di Ruang Bedah Bougenvile RSUD Dr. Soetomo
Surabaya dilaksanakan dengan metode ODD. Berdasarkan pengkajian tanggal 18
Mei 2017, didapatkan bahwa cara penyediaan obat untuk kebutuhan satu hari di
ruangan oleh farmasi. Farmasi akan memberikan obat sesuai resep dan akan
mengirimkan obat ke ruangan sesuai jenis dan dosis obat yang didapat pasien
untuk satu hari (One Day Dose). Pada metode ini, farmasi mendistribusikan obat
dengan cara obat dikemas dalam satu hari dengan label dan diletakkan di dalam
kotak obat sesuai dengan kamar dan nama pasien. Obat tersebut didistribusikan
oleh perawat ke pasien sesuai dengan jadwal pemberian obat yang telah
ditentukan. Perawat yang menerima dan petugas farmasi harus melakukan cross
check dan didokumentasikan pada medication chart jumlah obat yang diterima
dan petugas yang menerima. Sebelum obat diberikan kepada pasien akan
dilakukan double check oleh perawat sesuai prinsip 8 tepat yaitu tepat indikasi,
tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat waktu dan lama penggunaan, tepat rute,
tepat informasi, dan tepat dokumentasi. Tahap selanjutnya perawat akan
melakukan identifikasi ke pasien dengan menanyakan nama dan nomor register
serta mencocokkan dengan gelang identitas pasien, serta menjelaskan manfaat dan
efek samping obat yang diberikan.

1
2

Sentralisasi obat yang dilaksanakan dapat meminimalkan resiko


duplikasi obat, menghindari penggunaan obat yang salah sehingga sentralisasi
obat perlu di tingkatkan agar obat semua pasien di Ruang Bougenvile RS Dr.
Soetomo Surabaya dapat dikontrol oleh perawat. Kegiatan sentralisasi obat
meliputi pembuatan strategi persiapan sentralisasi obat, persiapan sarana yang
dibutuhkan, dan membuat petunjuk teknis penyelenggaraan sentralisasi obat serta
pendokumentasian hasil pelaksanaan sentralisasi obat. Pengelolaan sentralisasi
obat yang optimal merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan mutu
pelayanan keperawatan.
Berdasarkan uraian diatas, maka mahasiswa Program Pendidikan Profesi
Ners (P3N) program A angkatan 2012 mencoba mengoptimalisasikan sentralisasi
obat di Ruang Bougenvile RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Sentralisasi obat yang
didukung kelengkapan dokumentasi perawat, diharapkan mampu menigkatkan
keefektifan pelayanan keperawatan sekaligus lebih menjamin keselamatan dan
kepuasan klien terhadap pelayanan keperawatan.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan umum

Mengaplikasikan peran perawat primer dalam pengelolaan sentralisasi


obat dan mendokumentasikan hasil pengelolaan sentralisasi obat.
1.2.2 Tujuan khusus

1. Menjelaskan pengertian sentralisasi obat.


2. Menjelaskan tujuan sentralisasi obat
3. Menjelaskan pengelolaan obat.
4. Menjelaskan peran perawat dalam sentralisasi obat
5. Menjelaskan prinsip 8T
6. Menjelaskan alur sentrali Obat.
7. Menjelaskan pelayanan farmsi ruang Bedah Bougenville IRNA Bedah
RSUD Dr. Soetomo
1.3 Manfaat

1.3.1 Bagi klien

1. Tercapainya kepuasan kerja yang optimal


2. Klien dan keluarga mendapatkan informasi tentang sentralisasi obat di
ruang Bedah Bougenvile RSUD Dr. Soetomo Surabaya
3

1.3.2 Bagi perawat

1. Meningkatkan kepercayaan klien dan keluarga terhadap perawat.


2.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sentralisai Obat

Sentralisasi obat adalah pengelolaan obat dimana seluruh obat yang akan
diberikan kepada pasien diserahkan pengelolaan sepenuhnya oleh perawat
(Nursalam, 2011). Sentralisasi obat meliputi obat oral, injeksi, maupun cairan
diserahkan sepenuhnya oleh perawat. Penanggung jawab pengelolaan obat adalah
kepala ruangan yang secara operasional dapat didelegasikan kepada staf yang
ditunjuk.
2.2 Tujuan Sentralisasi Obat

Menurut Nursalam (2011), sentralisasi obat bertujuan untuk :


1. Meningkatkan mutu pelayanan kepada klien terutama dalam pemberian obat
2. Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat secara hukum maupun secara
moral.
3. Mempermudah pengelolaan obat secara efektif dan efisien
4. Standarisasi sentralisasi obat
5. Mengamankan obat-obat yang dikelola
6. Mengupayakan ketepatan pemberian obat dengan tepat klien, dosis, obat,
waktu, rute, informasi, dokumentasi.

Hal – hal berikut ini adalah beberapa alasan obat perlu disentralisasi
menurut Nursalam (2014) :
1. Memberikan bermacam-macam obat untuk satu pasien
2. Menggunakan obat yang mahal dan bermerek, padahal obat standar yang
lebih murah dengan mutu yang terjamin memiliki efektifitas dan
keamanan yang sama
3. Pemberian obat yang tidak sesuai indikasi.
4. Pemberian obat yang tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
5. Memberikan obat kepada pasien yang tidak mempercayainya, dan yang
akan membuang atau lupa untuk minum
6. Memesan obat lebih daripada yang dibutuhkan sehingga banyak yang
tersisa sesudah batas kadaluarsa
7. Tidak menyediakan lemari es, sehingga vaksin dan obat menjadi tidak
efektif

4
5

8. Meletakkan obat di tempat yang lembab, terkena cahaya atau panas


9. Mengeluarkan obat (dari tempat penyimpanan) terlalu banyak pada suatu
waktu sehingga dipakai berlebihan atau dicuri
2.3 Pengelolaan Obat

Teknik pengeluaran obat dan pembagian obat dilakukan oleh perawat


dengan langkah-langkah sebagai berikut (Nursalam, 2014):
a. Penerimaan Obat
1. Obat yang telah diresepkan oleh dokter di medication chart, lembar
kuning di tempel identitas pasien dan diserahkan ke farmasi oleh
perawat secara langsung bila obat tersebut bersifat cito atau
menunggu assisten farmasi datang bila obat tidak cito.
2. Obat yang diterima kemudian di catat pada lembar medication chart
sesuai dengan jenis obatnya, dan jumlah yang diterima.
3. Pendistribusian obat secara keseluruhan dilakukan pada malam hari
oleh petugas farmasi. Obat yang telah di terima kemudian di simpan
dalam kotak obat pasien sesuai kamar.
4. Bila obat stop atau berubah dosis maka perawat harus menuliskan di
kitir warna merah dan kemudian menyerahkan ke farmasi.
b. Pembagian Obat
1. Obat yang telah diterima untuk selanjutnya disalin dalam format
pemberian obat. Terapi obat yang diterima pasien juga dituliskan
kedalam format pemberian obat.
2. Obat-obat yang telah disimpan untuk selanjutnya diberikan oleh
perawat dengan memperhatikan alur yang tercantum dalam buku
pemberian obat, dengan terlebih dahulu dicocokkan dengan terapi
diinstruksikan dokter.
3. Sebelum obat diberikan ke pasien, perawat harus melakukan double
check dengan perawat lain untuk meminimalkan kesalahan dalam
pemberian obat. Pada saat pemberian obat, perawat menjelaskan jenis
obat, manfaat, dosis obat, cara pemberian, jumlah obat, dan efek
samping obat kepada pasien/keluarga, serta melakukan observasi
adanya efek samping setelah minum obat.
4. Sediaan obat yang ada selanjutnya diperiksa setiap shift oleh perawat
yang bertugas berdasarkan format pemberian obat. Obat yang hampir
habis akan diinformasikan kepada dokter apakah obat tersebut
6

dilanjutkan atau stop. Bila obat dilanjutkan dan instruksi by phone


maka resep akan di tulis oleh dokter DPJP ruangan.
c. Penambahan Obat baru
1. Saat terdapat penambahan atau perubahan jenis, dosis atau jadwal
pemberian obat, maka informasi ini akan disampaikan kepada farmasi
melalui kitir obat yang nantinya akan diambil oleh petugas farmasi
keliling.
2. Pada pemberian obat yang sifatnya tidak rutin (satu kali pemberian
atau ekstra), maka dokumentasi dilakukan di lembar medication chart
yang bertuliskan obat sekali pakai, ini berlaku untuk semua macam
jenis obat baik oral maupun injeksi.
d. Obat Khusus
1. Obat disebut khusus apabila sediaan yang memiliki harga mahal,
memiliki jadwal pemberian yang cukup sulit, memiliki efek samping
yang cukup besar atau hanya diberikan dalam waktu tertentu atau
sewaktu saja. (Contoh: Albumin)
2. Pemberian obat khusus dilakukan dengan menggunakan format
pemberian obat khusus untuk obat tersebut.
e. Pengembalian Obat
Pada pasien pulang atau pindah ruangan jika obat masih ada dan
sudah tidak dipakai atau stop maka obat akan dikembalikan ke farmasi
dengan menuliskan pada form retur obat yang nantinya akan diambil oleh
petugas farmasi.
2.4 8 Tepat Dalam Sentralisasi Obat

Pengeluaran dan pembagian obat tersebut dilakukan oleh perawat dimana


pasien atau keluarga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol penggunaan
obat tersebut Prinsip Enam Tepat (tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat
waktu, tepat cara pemberian, tepat dokumentasi dan waspada efek samping obat).
1. Tepat Indikasi
Memastikan kebenaran dari indikasi dari pemberian obat.
2. Tepat Pasien
Benar pasien merupakan dasar yang sangat menentukan dalam prinsip
pemberian obat. The Joint Commission on Accreditation of Healthcare
Organization (JCAHO), sebuah komisi yang yang mengeluarkan
akreditasi dan sertifikat pada lebih dari 19.000 organisasi dan program
7

perawatan kesehatan di Amerika Serikat; mewajibkan dua bentuk


pengidentifikasian primer dalam pemberian obat. Pasien menyahuti
nama mereka bila dipanggil atau sama sekali tidak berespon, sehingga
untuk mengidentifikasi kebenarannya dilakukan saat pemberian obat
(Kee dkk., 2009, hal. 23). Implikasi dalam perawatan mencakup:
a. Memastikan pasien dengan mengecek gelang identitas, papan
identitas di tempat tidur, atau bertanya langsung kepada pasien.
Beberapa fasilitas di institusi tertentu mencantumkan foto pada
status pasien.
b. Jika pasien tidak mampu berespon secara verbal, dapat digunakan
cara non-verbal seperti menganggukkan kepala.
c. Untuk bayi, diidentifikasi melalui gelang identitas.
d. Jika pasien mengalami gangguan mental atau penurunan kesadaran
sehingga tidak mampu mengidentifikasi diri, maka harus dicarikan
alternatif lain untuk mengidentifikasi pasien sesuai dengan ketentuan
rumah sakit.
e. Membedakan dua pasien dengan nama belakang yang sama; berikan
peringatan dengan warna yang lebih mencolok pada alat identitas
(ID tools) seperti kartu medis (med card), gelang, atau kardex.
f. Beberapa institusi melengkapi gelang identitas pasiennya dengan
kode tertentu untuk status alergi. Bila ada, perawat harus tanggap
dengan kebijakan ini.
g. Ketika pasien tidak menggunakan stiker identitas, perawat
mengidentifikasi secara teliti terhadap masing-masing pasien ketika
melakukan pemberian obat (Kee dkk., 2009, hal. 23 dan Tambayong,
2002, hal. 3-4).
3. Tepat Obat
Benar obat berarti menerima obat yang telah diresepkan, baik oleh
dokter, dokter gigi, atau petugas kesehatan yang sudah mendapatkan
izin seperti perawat yang sudah berpengalaman (Advanced Practice
Registered Nurse/APRN) yang berwewenang untuk mengorder obat
Obat mempunyai nama dagang dan nama generik, jadi apabila ada
8

obat dengan nama dagang yang asing ditemui, harus diperiksa nama
generiknya. Bila ada keraguan, hubungi apotekernya. Jika label tidak
terbaca atau isinya tidak uniform, maka tidak boleh digunakan dan
harus dikembalikan ke bagian fasmasi (Tambayong, 2002, hal. 4; Kee
dkk., 2009, hal. 24). Implikasi keperawatan mencakup:
a. Cek permintaan obat dari segi kelengkapan dan dapat dibaca
dengan jelas. Jika order tidak lengkap dan tidak terbaca, beritahu
bidang keperawatan, apoteker atau petugas kesehatan yang menulis
order.
b. Ketahui alasan kenapa pasien mendapatkan obat.
c. Cek label obat sebanyak tiga kali sebelum obat diberikan:
a) Melihat kemasan obat.
b) Membaca permintaan obat dan memperhatikan kemasan
sebelum obat dituang.
c) Mengembalikan kemasan setelah obat dituang ke lemari obat.
d. Mengetahui tanggal obat diorder dan tanggal akhir pemberian
(seperti: pemberian antibiotik), (Kee dkk., 2009, hal. 24;
Tambayong, 2002, hal. 2).

4. Tepat Cara / Rute Pemberian


Tambayong (2002, hal. 4-5) berpendapat bahwa obat diberikan
melalui rute yang berbeda, tergantung keadaan umum pasien, kecepatan
respon yang diinginkan, sifat obat (kimiawi dan fisik obat) serta tempat
kerja yang diinginkan. Oleh karena itu, berdasarkan bentuk obat, rute obat
dibagi menjadi:
a. Bentuk Padat
Dalam kelompok ini, obat dibagi menjadi empat rute, yaitu oral,
topikal, rektal atau vaginal.
b. Bentuk Cairan
Bentuk obat cairan dibagi menjadi larutan, suspensi dan emulsi
c. Bentuk Gas
a) Gas Terapeutik
9

b) Gas Anestetik
d. Bentuk Aerosol
Obat ini berupa larutan atau bubuk yang bekerja di
bawah tekanan. Jika berbentuk larutan, obat
disemprotkan berupa “kabut” ke dalam mulut dan
dihirup ke dalam paru, misalnya salbutamol
(Ventolin) dengan alat penyemprot khusus. (Tambayong, 2002,
hal. 8).
e. Bentuk Parenteral
Parenteral berasal dari bahasa Yunani. Para berarti disamping,
enteron berarti usus. Jadi, parenteral berarti di luar usus. Atau tidak
melalui saluran cerna (Tambayong, 2002, hal. 5).
f. Inhalasi
Saluran napas memiliki luas epitel untuk absorpsi
yang sangat luas dan berguna untuk memberi obat
secara lokal, seperti salbutamol (Ventolin) atau sprei
beklometason (Becotide, Aldecin) untuk asma, atau
terapi oksigen dalam keadaan darurat (Tambayong,
2002, hal. 5).
Implikasi keperawatan mencakup:
a. Nilai kemampuan menelan pasien sebelum
memberikan obat oral.
b. Lakukan teknik aseptik sewaktu memberikan obat,
terutama rute parenteral.
c. Berikan obat pada tempat yang seharusnya.
d. Tetap bersama pasien sampai obat oral telah ditelan.
e. Pemberian melalui enteral: mengecek kepatenan
slang NGT sebelum obat dan mengirigasi slang
dengan air sebelum dan sesudah pemberrian obat
(Kuntarti, 2005).
5. Tepat Dosis
10

Benar dosis diperhatikan melalui penulisan resep


dengan dosis yang disesuaikan dengan keadaan pasien.
Beberapa kasus yang ditemui di lapangan, terdapat banyak
obat yang direkomendasikan dalam bentuk sediaan.
Perawat harus teliti menghitung dosis masing-masing obat
dan mempertimbangkan adanya perubahan dosis dari
penulis resep. Berat badan pasien merupakan indikator
penting dalam pemberian obat tertentu, seperti obat
pediatrik, bedah dan perawatan kritis (Kee dkk., 2009, hal.
25).
Perawat harus memiliki pengetahuan dasar dalam
meracik obat, membandingkan dan membagi dosis
sebelum mengimplementasikan perhitungan dosis obat.
Perawat mengecek ulang pembagian dosis atau adanya
perbedaan dosis yang sangat besar setelah dihitung (Kee
dkk., 2009, hal. 25).
Implikasi keperawatan mencakup:
a. “Bentuk dosis asli jangan diubah”
b. Hitung dan periksa dosis obat dengan benar. Jika
ada keraguan, dosis obat harus dihitung ulang dan
diperiksa oleh perawat lain, serta menghubungi
apoteker atau penulis resep sebelum pemberian
dilanjutkan.
c. Periksa bungkus obat atau obat lain yang
direkomendasikan secara khusus
d. Jika pasien meragukan dosis, periksa kembali.
Apabila sudah mengonsulkan dengan apoteker atau
penulis resep tetap rancu, obat tidak boleh
diberikan, beritahu penanggung jawab unit atau
ruangan dan penulis resep beserta alasannya.
f. Perhatian berfokus pada titik desimal dosis dan
beda antara singkatan mg dengan mcg bila ditulis
11

tangan (Tambayong, 2002, hal. 4 dan Kee dkk.,


2009, hal. 26).
6. Tepat Waktu dan Lama Penggunaan
Ini sangat penting, khususnya bagi obat yang
efektivitasnya tergantung untuk mencapai atau
mempertahankan kadar darah yang memadai. Jika obat
harus diminum sebelum makan, untuk memperoleh kadar
yang diperlukan, harus diberi satu jam sebelum makan.
Ingat dalam pemberian antibiotik yang tidak boleh
diberikan bersama susu karena susu dapat mengikat
sebagian besar obat itu sebelum dapat diserap. Ada obat
yang harus diminum setelah makan, untuk menghindari
iritasi yang berlebihan pada lambung misalnya asam
mefenamat Contohnya, untuk PCT (Paracetamol) dosis
500mg, waktu antara efek toksik dan efektif tersebut harus
dipertahankan, sehingga pemberian obat harus
diperhatikan. Salah cara pemberian atau waktu, bisa terjadi
resistensi kuman, ini akan lebih berbahaya.
Implikasi keperawatan mencakup:
a. Perhatikan simbol tertentu, seperti “a.c atau ante
cimum” (obat diminum satu jam sebelum makan)
untuk memperoleh kadar yang dibutuhkan dan “p.c
atau post cimum” (obat harus diminum sesudah
makan) agar terhindar dari iritasi berlebihan pada
lambung (contohnya, indometasin) atau supaya
diperoleh kadar darah yang lebih tinggi (contohnya,
griseufulvin bila diberi bersama makanan berlemak),
(Tambayong, 2002, hal. 6).
b. Perhatikan kontraindikasi pemberian obat. Hal ini
berlaku untuk banyak antibiotik. Contoh: tetrasiklin
dikhelasi (berbentuk senyawa tidak larut) jika diberi
bersama susu atau makanan tertentu, akan
12

mengikat sebagian besar obat tersebut sebelum


diserap (Tambayong, 2002, hal. 5-6).
c. Antibiotika diberikan dalam rentang yang sama
(misal, setiap 8 jam dalam 24 jam).
d. Periksa tanggal kadaluarsa. Obat baru (pengganti)
diletakkan di belakang atau di bawah sehingga obat
yang lama tetap terpakai dan tidak menjadi
kadaluarsa. Bila obat dalam bentuk cairan,
perhatikan perubahan warna (dari bening menjadi
keruh) dan tablet menjadi basah (Tambayong, 2002,
hal. 9).
7. Benar Dokumentasi
Benar dokumentasi mencakup ketepatan informasi
pemberian obat yang dicatat oleh perawat, meliputi:
a. Nama obat
b. Dosis obat
c. Rute/cara pemberian
d. Waktu dan tanggal pemberian
e. Nama atau tanda tangan perawat
f. Penulis resep
Bila pasien menolak meminum obat atau obat belum
terminum, harus dicatat alasannya dan dilaporkan (Kee
dkk., 2009, hal. 27; Tambayong, 2002, hal. 6). Perawat
mendokumentasikan respon pasien terhadap pengobatan
yang diberikan dengan memperhatikan jenis obat, seperti:
a. Narkotik (Bagaimana efeknya dalam mengurangi
nyeri)
b. Non-narkotik anagesik
c. Sedatif
d. Antiemetik
e. Reaksi obat yang tidak diharapkan, seperti iritasi
gastrointestinal atau tanda sensitif pada kulit.
13

Penundaan pencatatan oleh perawat dapat


menyebabkan perawat tidak ingat untuk mencatat obat
yang telah diberikan atau perawat lain akan memberikan
obat yang sama karena mengira obat tersebut belum
diberikan (Kee dkk., 2009, hal. 27).
2. Tepat Informasi Efek Samping
Sebagai perawat kita harus mengetahui efek samping dari
obat yang akan kita berikan. Sehingga kita lebih berhati -hati
terhadap obat yang akan kita berikan ke pasien.
.
2.5 Peran Perawat

1. Perawat Primer dan Perawat Associate


a. Menjelaskan tujuan dilaksanakannya sentralisasi obat
b. Menjelaskan manfaat dilaksanakannya sentralisasi obat
c. Memfasilitasi surat persetujuan pengelolaan dan pencatatan obat
d. Melakukan pencatatan dan kontrol terhadap pemakaian obat selama
pasien dirawat
e. Melakukan tindakan kolaborasi dalam pelaksanaan program terapi

2. Perawat Primer Lain dan Supervisor


a. Memberikan perlindungan pada pasien terhadap tindakan kelalaian
(negligence) dan malpraktik
b. Memotivasi pasien untuk mematuhi program terapi
c. Menilai kepatuhan pasien terhadap program terapi
14

2.6 Alur Sentralisasi Obat

Dokter
Koordinasi dengan
perawat
Pasien/ Keluarga

Farmasi/ Apotik

Pasien/Keluarga

PP/ Perawat yang menerima  Surat persetujuan sentralisasi


obat dari perawat
 Lembar serah terima obat
Pengaturan dan pengelolaan  Buku serah terima/masuk obat
oleh perawat

Pasien/Keluarga

Gambar 2.1 Diagram Alur Pelaksanaan Sentralisai Obat (Nursalam, 2011)


15

2.7 Alur Pelayanan Farmasi Ruang Bougenvile IRNA Bedah RSUD Dr.
Soetomo

Dokter

Resep

Perawat

Keluarga

Farmasi Lembar serah terima obat


Surat persetujuan sentralisasi obat dari
perawat
Perawat

Sentralisasi Obat

One Day Dose Dispensing

Medication Chart Salinan obat

Persiapan obat Pasien

Obat diberikan ke pasien Pulang/Pindah/meninggal

Sisa obat

Pengembalian oleh farmasi

Gambar 2.2 Alur Pelayanan Farmasi Ruang Bougenvile IRNA Bedah


RSUD Dr. Soetomo Surabaya (Wawancara Staf Farmasi
Bougenvile, 2017)
BAB 3
PERENCANAAN

3.1 Rencana Pelaksanaan Sentralisasi Obat

Hari : Senin
Tanggal : 5 Juni 2017
Waktu : 09.00 WIB
Pelaksanaan : Perawat primer, perawat associate, Karu, Farmasi
Tempat : Ruang Bedah Bougenville RSUD Dr. Soetomo
Pembimbing Institusi :
1) Dr.Hanik Endang N,S.Kep.,Ns.,M.Kep
2) Deni Yasmara,S.Kep.,Ns.,M.Kep., Sp.Kep.MB
Pembimbing Klinik :
1) Evi Tri Wahyuningsih, S.Kep.Ns.,M.Kes.
3.2 Struktur Pengorganisasian

Kepala ruangan : Wahyu Hanung P


Perawat Primer 1 : Etik Trisusilowati
Perawat Asscosiate Tim 1 : Akmad Fadili
Perawat Asscosiate Tim 1 : Eva Riantika R. A.
Perawat Asscosiate Tim 1 : Agnes Sevelina A
Perawat Primer 2 : Kusumastuti
Perawat Asscosiate Tim 2 : Muhammad Syaltut
Perawat Asscosiate Tim 2 : Nia Elfira
Perawat Asscosiate Tim 2 : Lisa Efiana M
Perawat Primer 3 : Mita Nur Lathifah
Perawat Asscosiate Tim 3 : Winda Kusumawardani
Perawat Asscosiate Tim 3 : Sri Rezeki Amanda
Perawat Asscosiate Tim 3 : Indah Nur Rahmawati

3.3 Metode

Roleplay

3.4 Media

1) Informed consent pengelolaan sentralisasi obat


2) Format sentralisasi obat
3) Lemari dan kotak sentralisai obat

16
17

3.5 Uraian Kegiatan Sentralisasi Obat

Uraian kegiatan sentralisasi obat dilaksanakan seperti dibawah ini.


Tahap Kegiatan Tempat Waktu Pelaksanaan
Persiapan 1. Medication chart pasien Nurse 3 menit PA
station

Pelaksanaan 1. PP menjelaskan tentang sentralisasi Bad 30 menit PP,


obat kepada keluarga pasien keluarga
2. PP menunjukkan tempat farmasi Farmasi PP, keluarga
PP, keluarga
dan cara menebus obat
Tempat
3. PP menunjukkan tempat
PP, keluarga
penyimp
penyimpanan obat ketika obat telah
anan
di serahkan oleh farmasi ke PP
Nurs
4. PP meminta tanda tangan
station
persetujuan penjelasan sentralisasi
obat ke keluarga
Penutup 1. PP memeriksa ulang kelengkapan Nurse 2 menit PA, PP
dokumentasi obat station
2. PA menyimpan obat di kotak obat
yang telah disediakan sesuai
dengan kamar pasien.
BAB 4
PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Persiapan

18
19

Persiapan yang dilakukan beberapa hari sebelum pelaksanaan Roleplay Sentralisasi


Obat di ruang Bedah Bougenvile adalah menyiapkan berkas - berkas Sentralisasi obat dan
juga rekam pemberian obat, melakukan kontrak dan informed consent pada pasien,
mengkonsulkan proposal sentralisasi obat pada pembimbing, kontrak waktu kegiatan,
mengundang perawat, dan pembimbing yang berkaitan dengan sentralisasi obat.
Persiapan pada hari kegiatan adalah menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk
sentralisasi obat. Kontrak waktu dilakukan 45 menit sebelum Roleplay dimulai.
4.2 Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan Roleplay Sentralisasi Obat dilaksanakan pada minggu IV (05 Juni 2017).
Kegiatan Roleplay Sentralisasi Obat ini dilaksanakan bukan pada klien kelolaan dikarenakan
pada saat Roleplay tidak ada pasien yang menerima obat. Pasien yang dilibatkan adalah Tn. S
yang saat itu ada jadwal pemberian obat yang juga merupakan pasien dari ruang bedah
bougenville RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Selama proses pelaksanaan Roleplay sentralisasi obat, dihadiri oleh pembimbing
klinik dan pembimbing akademik. Kegiatan sentralisasi obat dilaksanakan pada hari Senin
tanggal 05 Juni 2017 pukul 09.20 WIB. Kegiatan Roleplay sentralisasi obat ini dilaksanakan
bukan dengan pasien kelolaan melain kan pasien lain yang ada di ruang bedah bugenvile
dikarenakan pada saat pelaksanaan Roleplay tidak ada dari pasien kelolaan yang menerima
obat. Pasien yang dilibatkan dalam Roleplay ini adalah Tn. S yang merupakan pasien pasien
di ruang bedah bougenville dengan diagnosa Attantion to sigmoidectomy, HBSAg, Past
Tutup Stoma H-7 oleh mahasiswa praktik profesi manajemen keperawatan di ruang Bedah
Bugenville RSUD Dr.Soetomo Surabaya. PN diperankan oleh Etik Tri Susilowati,S.Kep.,
AN diperankan oleh Akhmad Fadili,S.Kep.
Roleplay sentralisasi obat dimulai dengan PP mendatangikamar pasien untuk
menjelaskan sentralisasi obat yang ada di RSUD Dr. Soetomo. Setelah PP menjelaskan
tentang alur sentralisasi obat kepada pasien dan keluarga pasien, PP mengajak keluarga
pasien untuk ke farmasi untuk memperkenalkan keluarga pasien dengan petugas farmasi, PP
juga menjelaskan persyaratanb apa saja yang harus dibawa saat keluarga klien menebus
resep obat di farmasi. Setelah PP dan keluarga pasien dari farmasi PP membawa keluarga
pasien ke tempat sentralisasi obat. Disini PP menekankan kembali bahwa obat yang di terima
benar-benar milik pasien dan tidak akan tertukar dengan pasien lagi. setelah semua selesai
PP mengajak keluarga pasien ke ners station untuk meminta tanda tangan di surat
persetujiuan sentralisasi obat.
Bagian kedua dari Roleplay sentralisasi obat dimulai saat keluarga pasien menebus
20

obat. Kenudian petugas farmasi memberikan obat kepada PP yang bertugas dan dilakukan
double chack dan penandatanganan lembar serah terima obat dari farmasi ke perawat.
Setelah PP mendapatkan obat PP mengecek permintaan dokter dengan obat yang di dapatkan
dari farmasi. Setelah obat di catat dalam rekam pemberian obat, PP meminta bantuan PA
untuk memberikan obat kepada Tn. S, sebelum obat diberikan kepada Tn. S PA mengngecek
kembali obat bersama PP. Setelah obat benar benar tepat. PA memberikan obat kepada Tn. S
dengan menanyakan nama dan juga nomor ID band dan di cocokkan dengan label pada obat,
setelah benar dan sama. PA menjelsakan kegunaan obat dengan 8T. Setelah PA memberikan
obat PA melapor ke PP dan menandatangani rekam pemberian obat.

4.3 Hambatan dan Dukungan

4.3.1 Hambatan

Tabel 4.1 Hambatan pelaksanaan Roleplay Sentralisasi Obat


21

Masalah Sebab Rekomendasi


Mekanisme 1. Acara yang direncanakan Kegiatan menyesuaikan jadwal
Persiapan pukul 09.00 WIB, kegiatan di ruangan
dimundurkan jam 09.10
WIB di Ruang Bedah
Bougenvile, dikarenakan
menunggu kedatangan
pembimbing dan persiapan Mencari pasien lain yang juga
pasien yang mundur. mendapatkan obat pada hari
2. Pasien kelolaan yang tersebut
rencana di gunakan sebagai
pasien saat roleplay
mendadak terjadwalkan foto Membuat form sentralisasi obat
rontgen sehingga harus baru dan disesuaikan dengan
mencari pasien lain ruangan serta di konsulkan ke
3. Form yang digunakan masih pembimbing
tidak standart dan masih
banyak konten yang
seharusnya tidaqk di
sertakan
Isi Jalannya setting tempat yang Perbaikan dari alur sentralisasi
Setting tempat. belum jelas dan perubahan dari obat dan setting tempat.
rencana awal.
Peran
Tidak ada masalah PN dan AN sudah Dipertahankan
memerankan perannya
dengan baik

4.3.2 Dukungan

Pasien dan keluarga pasien sangat kooperatif untuk dilakukan


sentralisasi obat. Petugas farmasi memberi dukungan dan mau ikut berperan aktif
dalam sentralisasi obat.
BAB 5
EVALUASI KEGIATAN

5.1 Evaluasi Struktur

Persiapan roleplay Penerimaan Pasien Baru dan Sentralisasi Obat


dilaksanakan pada tanggal 05 Juni 2017 pukul 08.30 WIB pada minggu ke
VI. Persiapan yang dilakukan antara lain:
1. Membentuk penanggung jawab dari pelaksanaan roleplay
sentralisasi obat
2. Menyususn proposal kegiatan roleplay sentralisasi obat dengan
menetapkan pasien yang akan dilakukan roleplay sentralisasi obat
3. Memberikan informed consent kepada pasien terkait dengan
roleplay sentralisasi obat
4. Menyiapkan pelaksanaan roleplay sentralisasi obat
5.2 Evaluasi Proses

Proses roleplay sentralisasi obat yang dilakukan pada tanggal 05 Juni


2017 pukul 09.15 WIB pada minggu ke VI oleh mahasiswa praktik profesi
manajemen keperawatan di Ruang Bedah Bugenville RSUD Dr.Soetomo
Surabaya adalah sebagai berikut:
1. Sentralisasi obat dilakukan pada pasien baru yang termasuk
pasien kelolaan.
2. Sentralisasi obat dilakukan oleh perawat primer, dan perawat
associate.
Pelaksanaan roleplay sentralisasi obat meliputi menentukan pasien
baru yang termasuk pasien kelolaan, menyiapkan berkas – berkas yang
dibutuhkan, dan melakukan roleplay sentralisasi obat.

22
23

Tabel 5.1 Evaluasi Proses Pelaksanaan Roleplay Penerimaan Pasien Baru dan
Sentralisasi Obat
Waktu Tahap Kegiatan Tempat Pelaksanaan
08.30 Persiapan Medication chart pasien Nurse station PA

09.15 Pelaksanaan 1. PP menjelaskan Bad pasien PP,


Farmasi
WIB tentang sentralisasi keluarga
PP, keluarga
obat kepada keluarga Tempat
PP, keluarga
2. PP menunjukkan
penyimpanan
tempat farmasi dan Nurs station PP, keluarga
cara menebus obat
3. PP menunjukkan
tempat penyimpanan
obat ketika obat telah
di serahkan oleh
farmasi ke PP
4. PP meminta tanda
tangan persetujuan
penjelasan sentralisasi
obat ke keluarga
5. PP memberikan resep
obat kepada keluarga
pasien
6. Farmasi memberikan
obat kepada PP
7. PP menandatangani
form serah terima obat
dan melakukan double
chack
8. PP mengecek obat
dengan RPO yang ada
di status pasien
24

9. PP meminta bantuan
PA untuk memberikan
obat kepada pasien
10. PA melakukan double
chack dengan
Ppmenggunakan
prinsip 8T
11. PA memberikan obat
kepada pasien dan
menjelaskan dengan
prinsip 8T
12. PA menandatangani
lembar RPO
10.00 Penutup 1. PP memeriksa ulang Nurse station PA, PP
kelengkapan
dokumentasi obat
2. PA menyimpan obat di
kotak obat yang telah
disediakan sesuai
dengan kamar pasien.

5.3 Evaluasi Hasil

1. Kegiatan dihadiri oleh pembimbing akademik yaitu Dr.Hanik


Endang N,S.Kep.,Ns.,M.Kep dan 4 orang pembimbing klinik
yaitu Evi Tri Wahyuningsih, S.Kep.Ns.,M.Kes, Moecharom
S.kep., Ns., Bambang Subagio S.Kep., Ns. M.Kes., Sri Endang
S.Kep., Ns., M.Kes. dan 13 orang mahasiswa profesi Manajemen.
2. Kegiatan berjalan dengan baik dan lancar.
3. Pasien atau keluarga sebagai pihak yang menerima obat
dapat terdokumentasi dalam Rekam pemberian Obat
25

DAFTAR PUSTAKA

Gillies. 1989. Manajemen Keperawatan Suatu Pendekatan Sistem. Alih bahasa:


Dika Sukmana. Jakarta : EGC
. 2007. Kumpulan materi kuliah Manajemen Keperawatan : Disampaikan
pada perkuliahan PSIK Unair (tidak dipublikasikan)
. 2014. Manajemen keperawatan: aplikasi dalam praktik keperawatan
professional. edisi 4. Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam, 2013. Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktek
Keperawatan Profesional. Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika
Nursalam. 2015. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional. Jakarta: salemba Medika
Nursalam, dan Ferry Efendi. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika
Siregar, Charles J.P. (2004). Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan. Jakarta:
EGC.
Suarli, YB. 2009. Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis. Jakarta :
EGC
Suyanto. 2008. Mengenal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan di
Rumah Sakit. Jakarta : Mitra Cendika Press
26

Lampiran 1
SKENARIO SENTRALISASI OBAT

Pada hari Senin 5 Juni 2017 pukul 09.00 Klien Tn. X yang sedang dirawat
di Ruang Bedah Bougenville mendapatkan suatu resep obat dari dokter yang
harus di tebus di farmasi.
PP : “Selamat pagi”.
Keluarga : “Selamat pagi juga ners”
PP : “Perkenalkan nama saya Ns Etik. Ssaya boleh meminta waktu
ibu sebentar, saya akan menjelaskan tentang sentralisasi obat di
ruang Bedah Bougenvile. Ini Tn. X habis operasi kan. Jadi nanti
dokter akan memberikan resep obat yang di butuhkan oleh Tn X.
Nanti resep akan diberikan oleh dokter kepada perawat yang
sedang jaga. Resep tersebut nanti akan diberikan oleh ners jaga
kepada keluarga. Dan disini keluarga berperan untuk menebus
resep dengan membawa persyaratan berupa fotocopy BPJS dan
persyaratan lain jika keluarga memakai jaminan BPJS farmasi,
Apakah ibu sudah tahu dimana farmasi Ruang Bedah
Bougenvil?”
Keluarga : “Yang sebelahnya pintu kan Ners?”
PP : “iya ibu betul. Setelah resep diberikan kepada farmasi keluarga
tidak perlu menunggu obat tersebut kecuali dalam keadaan
tertentu seperti darurat, farmasi akan menyiapkan obat tersebut
dan kemudian akan diberikan kepada ners jaga pada hari tersebut.
Dan ners jaga akan meng-crosscheck obat-obatan yang diberikan
farmasi. Setelah obat-obatan dipastikan benar, obat tersebut akan
disimpan di tempat penyimpanan obat. Mari ibu ikut saya akan
saya tunjukkan dimana penyimpanan obatnya (PP mengajak
keluarga ke tempat penyimpanan obat dan menunjukkan laci
penyimpanan obat)”
Keluarga : “Iya ners”
27

PP : “Ini adalah tempat penyimpanan obat yang saya beri tahu tadi.
Jadi setiap obat yang diberikan farmasi akan di simpan disini
sesuai dengan waktu pemberiannya (pagi, siang, malam) dan
setiap obat yang diberikan oleh farmasi memiliki label nama
pasien, nama obat nomer register dan waktu pemberiannya
sehingga obat tidak mungkin tertukar antara pasien satu denngan
pasien lain. Sementara ini apakah ada yang ditanyakan?”
Keluarga : “Kalau begitu obat-obatan tidak akan tertukar dengan pasien lain
ya?”
PP :” iya bu, kami pastikan obat tidak akan tertukar. Ini ada resep
dari dokter. Mari akan saya antar untuk menebusnya. Tolong
disiapkan persyaratannya.”
Keluarga : “Baik ners.”

Kemudian keluraga Tn. X dan Ners Etik menebus resep di ruang farmasi. Setelah
obat disiapkan oleh farmasis obat diserahkan kepada ners jaga pada hari itu.

Farmasis : “Ners ini obat Tn. X. Obatnya terdiri dari.............”


PP : “Baik, terimakasih farmasis akan saya crosscheck terlebih
dahulu. (PP melihat advis dari dokter). Baik sudah lengkap,
terimakasih.”
Farmasis : “Sama-sama ners.”

Setelah obat diberikan oleh farmasi PP mencatat di lembar medical chart dan
menugaskan PA untuk memberikan medikasi

PP : “Ns. Fadili come here pleace.”


PA :” Yes Ns. Etik, what can i do for you?”
PP : “This is drug for Mr. X, can you help me to give the drug to the
Mr. X?”
PA : “Yes nurs. Of cours.the drug such as.........(PA menyebutkan
nama2 obat yang ada saat itu dengan prinsip 8T)”
28

PP : “yes its true.”

Setelah PA mengcrosscheck dengan PP, PA menuju ke bed Tn. X


PA : “Selamat pagi Tn X”
Tn X : “Selamat pagi juga ners.”
PA : “Perkenalkan nama saya Ns Fadili disini saya akan memberikan
obat kepada bapak. Boleh saya tau nama bapak?”
Tn X : “Nama saya.....” (menyebutkan namanya)
PA : “Boleh saya chek gelang ID bapak?”
Tn X : “Silahkan Ners.”
PA : (mencocokkan Nomer id dan nama di gelang dengan nomer id
dan nama di label obat). “Jadi bapak mendapat kan obat terdiri
dari......(menyebutkan nama-nama obat) yang masing masing obat
tersebut berfungsi sebagai ........ “(menyebutkan fungsi dari kerja
obat dan efek samping obat). “Baik bapak obatnya saya masukkan
ya.”
Tn X : “Iya ners silahkan.”
PA : ”Baik bapak obat sudah saya berikan nanti kalau ada hal yang
sikaranya bapak tidak nyaman atau muncul reaksi alergi, bapak
bisa memanggil saya di ners station. Terimakasih bapak, silahkan
beristirahat kembali”.
Tn X : “Baik Ners. Terimakasih.”

Setelah PA memberikan obat kepada Tn X. PP mengecek kelengkapan dokumen


pemberian obat dan menyimpan kembali obat yang tidak diberikan di lemari
penyimpanan.