Anda di halaman 1dari 6

PENGERTIAN RUMAH EKOLOGIS

Dalam pengertian yang luas, Rumah tinggal bukan hanya sebuah bangunan (struktural), melainkan
juga tempat kediaman yang memenuhi syarat-syarat kehidupan yang layak, di pandang dari berbagai
segi kehidupan masyarakat.

Secara garis besar, rumah memiliki empat fungsi pokok sebagai tempat tingal yang layak dan
sehatbagi setiap manusia, yaitu :

1. Rumah harusm memenuhi kebutuhan pokok jasmani manusia


a. Dapat memberikan perlindungan terhadap gangguan cuaca, atau keadaan iklim, dan
udara yang lembab.
b. Dapat memnuhi kebutuhan untuk melakukan berbagai kegiatan
c. Dapat digunakan sebagai tempat istirahat yang tenang
2. Rumah harus memenuhi kebutuhan pokok rohani manusia
Rumah yang dapat memenuhi kebutuhan rohani manusia adalah rumah yang memberi
perasaan aman dan tentram bagi seluruh keluarga sehingga mereka dapat kerasan
berkumpul dan hidup bersama, serta dapat mengembangkan sifat dan kepribadian yang
sehat.
3. Rumah harus melindungi manusia dari penularan penyakit
4. Rumah harus melindungi manusia dari gangguan luar
Rumah yang merupakan tempat perlindungan dari pengaruh lingkungan luar adalah rumah
yang dapat menjauhkan segala gangguan kesehatan bagi penghuninya. Karena itu, rumah
juga harus kuat dan stabil sehingga dapat memberi perlindungan terhadap gangguan
keamanan yang disebabkan bencana alam maupun kerusuhan atau kejahatan oleh
pencurian atau perampokan.

PATOKAN RUMAH YANG SEHAT DAN EKOLOGIS.

Patokan yang dapat digunakan dalam membangun rumah yang ekologis adalah sebagai
berikut:

1. Menciptakan kawasan penghijauan diantara kawasan pembangunan sebagai paru-paru


hijau.
2. Memilih tapak bangunan yang sebebas mungkin dari gangguan/radiasi geobiologis dan
meminimalkan medan elektromagnetik buatan.
3. Mempertimbangkan rantai bahan dan menggunakan bahan bangunan alamiah.
4. Menggunakan ventilasi alam untuk menyejukkan udara dalam bangunan.
5. Menghindari kelembapan tanah naik kedalam kontruksi bangunan dan memajukan sistem
bangunan kering.
6. Memilih lapisan permukaan dinding dan langit-langit ruang yang mampu mengalirkan uap
air.
7. Menjamin kesinambungan pada struktur sebagai hubungan antara massa pakai bahan
bangunan dan struktur bangunan.
8. Mempertimbangkan bentuk/proporsi ruang berdasarkan aturan harmonikal.
9. Menjamin bahwa bangunan yang direncanakan tidak menimbulkan masalah lingkungan dan
membutuhkan energi sesedikit mungkin (mengutamakan energi terbarukan).
10. Menciptakan bangunan bebas hambatan sehingga gedung dapat dimanfaatkan oleh semua
penghuni (termasuk anak-anak, orang-tua, maupun orang cacat tubuh).

MEMILIH LINGKUNGAN RUMAH EKOLOGIS

Dilihat dari lokasinya, rumah ekologis adalah rumah yang berada di lingkungan hijau, bersih,
dengan iklim serta temperatur yang ideal. Pada umumnya, semakin alami lingkungan lokasi rumah,
semakin sehatlah lokasi rumah tersebut sebab unsur natural sangat baik bagi kesehatan fisiologis
dan kesehatan psikologis.

IKLIM TROPIS

Dibutuhkan penanganan khusus agar kita bisa mendapatkan iklim ideal di dalam rumah.
Caranya anotara lain adalah dengan mengolah rancangan atap, dinding, jedela secermat-cermatnya
serta dengan memilih bahan bangunan yang tepat untuk mengurangi kelembapan dan menurunkan
suhu udara

PERTIMBANGAN PENGGUNAAN ATAP HIJAU

Pada lahan luasnya terbatas sehingga kurang memungkinkan penyediaan area terbuka untuk tata
lanskap sampai 40%, penggunaan atap hijaun disarankan. Adapun yang dimaksud dengan atap
hijaun (roof garden) adalah penggunaan area atap sebagai lahan bercocok tanam. Pada atap datar
dapat dipilih sistem tanam secara langsung atau sistem tanaman dalam pot. pada sistem tanaman
dalam pot, perancangan atapnya dapat lebih sederhana karena sistem aliran air dan beban media
tanam tidak terlalu besar. Sementara pada sistem tanam langsung, perencanaan atap yang matang
sangat diperlukan. Sekalipun amat jarang dijumpai, taman atap juga dapat diterapkan pada model
atap miring atau bersudut. Namun demikian, pada model atap ini hanya dimungkinkan sistem
penanaman langsung. Selain untuk mengganti kebutuhan ruang luar yang tidak mencapai 40%
karena alasan keterbatasan lahan, taman atap juga ideal untuk disediakan, sekalipun lanskap luar
ruang telah mencapai 40%. Hal ini dapat dapat menjadi pertimbangan mengingat bahwa
sesungguhnya 60% luas lahan yang digunakan sebagai area terbangun tetaplah mengurangi area
alamiah serapan dan area hijau. Penggunaan taman atap dapat mengganti luasan area yang hilang
ini sehingga keseimbangan alam dapat kembali terjaga.

Menurut peraturan menteri pekerjaan umum yang dituangkan dalam Permen PU No.
5/PRT/M/2008, jenis-jenis tanaman yang cocok digunakan pada atap hijau adalah sebagai berikut :

1. Tanaman tidak berakar dalam sehingga mampu tumbuh baik dalam pot atau bak tanaman.
2. Relatif tahan terhadap kekurangan air.
3. Perakaran dan pertumbuhan batang tidak menggunakan struktur bangunan.
4. Tahan dan tumbuh baik pada suhu yang tinggi (panas).
5. Mudah dalam pemeliharaan.

MENGURANGI PERKERASAN DAN MENGGUNAKAN PERKERASAN YANG MENYERAP AIR

Keberadaan pengkerasan pada area terbuka tentu dibutuhkan, terutama untuk akses/ jalan setapak.
Namun demikian, keberadaan perkerasan ini sebaiknya dijaga agar tidak dominan atau terlalu
banyak memakan area hijau. Selain itu, hendaknya digunakan perkerasan yang jenisnya mampu
melewatkan air sehingga air dapat diserap ke dalam tanah.

Pada lahan yang terbatas ada kalanya ruang terbuka yang ada juga digunakan sebagai area parkir,
tidak hanya sebagian, namun hampir seluruhnya. Pada keadaan ini hendaknya dipilih perkerasan
yang mampu menahan beban kendaran, namun juga meresapkan air, seperti grass block. Perkerasan
buatan lainnya yang terdiri atas susunan batuan tanpa semen juga dapat dipilih, namun kekuatannya
untuk menahan beban kendaraan kurang terjamin sehingga mudah pecah.

PENCAHAYAAN YANG HEMAT ENERGI

Untuk mendukung penghematan energi, pemilihan jenis penerangan pada ruang luar merupakan hal
yang amat penting. Empat pertimbangan penerangan luar ruang yang akan menuju penghematan
energi adalah sebagai berikut :

1. Menggunakan lampu hemat energi ( membutuhkan daya listrik kecil, namun menghasilkan
lumen cahaya besar).
2. Menggunakan jenis rumah lampu (armatur) dengan sistem penyinaran langsung sehingga
setiap titik lampu dapat menerangi area yang lebih luas. Sistem penerangan langsung juga
akan mengurangi terjadinya polusi cahaya di langit yang menyebabkan sulitnya melihat
langit cerah secara alamiah dan memandang bintang-bintang .
3. Gunakan sensor gelap terang yang secara otomatis akan menyalakan/mematikan lampu.
Alat ini berguna bagi siapa saja yang sering lupa mematikan lampu, atau pada saat bangunan
ditinggalkan/ tidak ditempatin dalam waktu lama.
4. Meskipun masih cukup mahal di pasaran, penggunaan lampu bertenaga surya juga dapat
menjadi pilihan. Pemakaian lampu jenis ini juga sangat mudah karena tanpa sistem kabel
sehingga hanya perlu ditancapkan. Lampu solar riskan tercuri manakala luar bangunannya
tidak berpagar sehingga pemasangan hanya dengan penancapan dirasa kurang memadai.
Sementara itu, untuk skala kota dan kawasan, sistem pemasangan permanen dengan sistem
cor beton dapat menjadi pilihan sekaligus untuk menjaga kekuatannya dari hembusan angin.

PROPORSI PEMANFAATAN LAHAN

Setiap pemanfaatan lahan semestinya diatur secara proporsional antara lahan untuk bangunan dan
lahan untuk ruang terbuka. Sebelum bangunan didirikan, setiap lahan wajib mematuhi aturan
setempat mengenai koefisien dasar bangunan/KDB (building coverage rati0/BCR). KDB adalah
perbandingan antara luas lantai dasar bangunan dengan luas tanah (luas lantai dasar/luas tanah x
100%). Koefisien yang digunakan biasanya berupa persen atau desimal (misalnya, 60% atau 0,6). KDB
yang memberikan kesempatan adanya luasan tanah tersisa di luar bangunan akan mempengaruhi
penyerapan air tanah atau ketersediaan air tanah untuk masa yang akan datang. Selain sebagai
penjaga keberadaan air tanah, permukaan tanah yang tidak tertutup bangunan akan mampu
menerima sinar matahari secara langsung untuk membuat tanah dalam keadaan cukup kering
sehingga udara yang tercipta di sekitar bangunan tidak menjadi lembab.

KDB ideal adalah 60%, yaitu pemanfaatannya 60% luas lahan untuk bangunan (tertutup bangunan)
dan sisanya 40% luas lahan sebagai ruang terbuka. Di beberapa kawasan di kota-kota indonesia
masih dijumpai KDB sampai 80%. Mempertimbangkan krisis lingkungan yang kini terjadi semestinya
angka 60%lebih tepat untuk diterapkan. Luas ruang terbuka 40% di sekeliling bangunan akan
memberikan kesempatan yang besar bagi bangunan untuk menerima pencahayaan dan ventilasi
alami yang dapat menghemat penggunaan energi secara nyata. Ketersediaan ruang terbuka 40%
juga memungkinkan bangunan untuk setidaknya menerapkan teori daur ulang pearson, yaitu melalui
penyediaan area sebagai resapan air dan area terbuka untuk tanam-tanaman yang akan
membersihkan (menyerap polusi udara) sebelum udara masuk ke dalam bangunan.

Idealnya bangunan memberikan tambahan persentase (%) ruang terbuka dari aturan yang telah di
tetapkan pemerintah. Misalnya, pada suatu kawasan KDB 80%, bangunan dirancang sedemikian
rupa agar memberikan ruang terbuka sampai 70%.

MATERIAL UNTUK LANSKAP DAN BANGUNAN

Pemilihan material yang akan digunakan dalam tata lanskap dan bangunan adalah aspek yang sangat
penting dalam rangka mencapai penghematan energi dan kelestarian lingkungan. Dari aspek
kelestarian lingkungan, kuncinya adalah material yang tidak diperoleh dengan cara mengesploitasi
alam dan menuju kepunahan, kelangkaan, atau kehancuran (misalnya, kayu-kayu dari pohon yang
membutuhkan waktu tumbuh puluhan tahun dan batu-batu alam dari lereng pegunungan).

Sering kali terjadi kesalahpahaman bahwa lingkungan binaan dan bangunan yang menggunakan
material-material dari alam adalah bangunan alami yang mendukung kelestarian lingkungan.
Pernyataan ini menyesatkan karena sesungguhnya dengan mengunakan sebanyak-banyaknya
material asli alam, terlebih yang membutuhkan waktu regenerasi dalam jangka waktu lama,
lingkungan binaan dan bangunan semacam itu justru dikategorikan sebagai perusak alam. Pemilik
bangunan yang sudah terlanjur menggunakan kayu-kayu langka ini sudah saatnya tersadar bahwa
hal itu bukan lagi hal yang membanggakan.

Penggunaan material lokal dan material alam dari sumber yang cepat regenerasi adalah pilihan yang
paling tepat karena material lokal, misalnya bambu, biasanya akan sesuai dengan lingkungan
setempat. Bambu adalah tumbuhan lokal yang cepat regenerasinya dan dengan pengolahan yang
tepat serta rancangan kreatif, bambu akan tampil sebagai bangunan yang kokoh dan menarik.

Selain bambu, material lokal hasil industri rumah tangga, seperti batu bata, merupakan material
bangunan yang menarik untuk dikembangkan penggunaanya menjadi bagian dari lingkungan binaan
dan bangunan yang cantik. Batu bata sendiri kini menawarkan lebih banyak pilihan, baik dalam
bentuk pampat persegi maupun yang berlubang (roster). Melalui kecermatan perancangan dan ide-
ide kreatif, batu bata dapat tampil sangat menarik, baik untuk pagar maupun untuk elemen lanskap
lainnya.

MATERIAL BEKAS DAN DAUR ULANG

Selain penggunaan material lokal yang akan menghemat banyak energi dan penggunaan material
yang menjaga kelestarian alam, penggunaan material bekas atau material daur ulang akan sekaligus
memenuhi aspek hemat dan lestari. Penggunaan material bekas untuk konstruksi bangunan dan
pengolahan lahan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Material bekas bangunan atau sisa-sisa material bangunan untuk material bangunan.
2. Material bekas selain dari bangunan untuk material bangunan.

Pada jenis yang pertama dapat diambil contoh pemakaian kayu-kayu bekas, besi bekas, genteng
bekas, atau sisa/pecahan lantai keramik dari rnovasi rumah mewah yang tidak terpakai, kemudian
digunakan oleh para pekerjaan konstruksi (tukang bangunan) untuk membangun atau memperbaiki
rumahnya sendiri. Bila proses renovasi dan konstruksi dikerjakan dengan hati-hati banyak material
bekas atau material sisa masih termanfaatkan dan tetap estetis.

Sementara pada jenis yang kedua adalah pemanfaatan material non bangunan untuk konstruksi
bangunan, seperti botol, kaleng dan sebagainya. Agar memberikan hasil yang maksimal dan indah,
penggunaan material bekas mesti diperhitungkan, dirancang, dan dipasang dengan cermat. Bila
tidak, dapat dipastikan diperoleh hasil akhir yang kurang menarik sehingga tidak dapat menjadi
percontohan bagi masyarakat sekitar.

VENTILASI ALAMI BANGUNAN

Ventilasi adalah proses pertukaran atau perputaran udara secara bebas di dalam ruangan. Istilah
pertukaran dan perputaran tidak dapat dimaknai sama. Ventilasi yang terjadi karena pertukaran
udara seyogianya menghasilkan kualitas udara yang lebih baik dibandingkan ventilasi yang hanya
berupa perputaran udara. Ventilasi alami adalah jenis pengudaraan yang mengalami proses
pertukaran (udara dalam ruang, digantikan/ditukar oleh udara dari luar ruang).

Rasa nyaman akan kecepatan aliran udara di sekitar tubuh manusia tidak mengikuti ukuran yang
pasti. Hal ini sangat bergantung pada hal-hal berikut :

 Suhu dan kelembaban udara (semakin tinggi suhu dan kelembaban udara, semakin
dibutuhkan kecepatan hembusan angin yang tinggi agar manusia berada pada zona nyaman)
 Tingkat kesehatan manusia (pada keadaan sakit atau kurang sehat, manusia umumnya
membutuhkan kecepatan hembusan angin yang lebih rendah agar berada pada zona
nyaman)
 Kegiatan manusia (terkait kalor yang dikeluarkan melalui permukaan kulit; kegiatan yang
membutuhkan lebih banyak energi dan mengeluarkan lebih banyak kalor akan
membutuhkan kecepatan hembusan angin yang lebih tinggi untuk berada pada zona
nyaman)
 Bagian tubuh yang terkena hembusan (beberapa bagian tubuh manusia cukup sensitif
terhadap hembusan angin, yang dapat menyebabkan turunnya kondisi kesehatan dengan
cepat, seperti kepala, tengkuk, dada dan perut).