Anda di halaman 1dari 26

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Permukiman
Permukiman merupakan lingkungan tempat tinggal manusia dan sekaligus
berfungsi sebagai pendukung perikehidupan dan penghidupan para penghuninya.
Terdapat perbedaan pengertian antara pemukiman dan permukiman. Dari kata
asalnya terdapat tiga istilah penting dalam permukiman yaitu pemukim,
pemukiman dan permukiman.
 Pemukim
Pemukim adalah penghuni suatu tempat atau rumah. Pemukim memiliki arti
seseorang yang menghuni suatu tempat tinggal
 Pemukiman
Pemukiman berasal dari kata pemukim dengan akhiran an. Secara ilmu
bahasa, kata pemukiman tergolong kedalam kata kerja yang yang sama
dengan to settle. Dari pembentukan katanya, pemukiman memiliki arti
tindakan memukimkan. Artinya, pemukiman adalah suatu tindakan untuk
memukimkan seseorang pada suau lokasi atau tempat tinggal tertentu
 Permukiman
Secara ilmu bahasa, kata permukiman tergolong kedalam kata benda. Dalam
bahasa inggris, permukiman dikenal sebagai human settlement, yaitu: suatu
kumpulan manusia baik itu berada di kota maupun desa serta lengkap
dengan aspek-aspek sosial, spiritual dan nilai-nilai budaya yang
menyertainya. (S. Sadana, Agus. 2014. Perencanaan Kawasan Permukiman.
Yogyakarta: Graha Ilmu).
Berikut definisi terkait permukiman:
1. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih
dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas
umum serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perotaan
atau kawasan perdesaan. (Undang-undang Republik Indonesia No.1 Tahun
2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman)
2. Tempat tinggal atau tempat kediaman secara umum disebut permukiman
dan secara khusus disebut sebagai bangunan rumah (Hudson, 1974;
Hammond, 1979).
3. Permukiman dapat diartikan sebagai bentukan baik buatan manusia ataupun
alami dengan segala kelengkapannya yang digunakan manusia sebagai
individu maupun kelompok untuk bertempat tinggal baik sementara maupun
menetap dalam rangka menyelenggarakan kehidupannya ( Hadi Sabari
Yunus, 1987).
4. Permukiman atau settlement adalah kelompok satuan-satuan tempat tinggal
atau kediaman manusia mencakup fasilitasnya, seperti: bangunan rumah,
serta jalur jalan, dan fasilitas lain yang digunakan sebagai sarana pelayanan
manusia tersebut (Finch, 1957).
Kawasan permukiman adalah bagian dari kawasan budidaya yang ditetapkan
dalam rencana tata ruang dengan fungsi utama untuk permukiman (SNI 03-1733-
2004:Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan). Kawasan
permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik
berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung
perikehidupan dan penghidupan (Undang-undang Republik Indonesia No.1 Tahun
2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman). Permukiman merupakan
satuan kelompok tempat tinggal, dari banyaknya jumlah penghuni yang ditampung
maka permukiman dapat dibagi kedalam beberapa tipe dapat dilihat pada tabel
berikut.

Tabel 3.1
Tipe-tipe Permukiman Manusia
Jumlah Penduduk
No Tipe Permukiman Bagian Permukiman
(jiwa)
1 Permukiman Sementara Rumah dan Lingkungan 3-100
2 Desa Perumahan dan lingkungannya 100-5.000
3 Kota atau Polis Kota dan lingkungannya 5.000-200.000
4 Metropolis Metropolis dan lingkungannya 200.000-10.000.000
5 Megapolis Megapolis dan lingkungannya 10.000.000-500.000.000
Sumber: Istiqomah dan Hanas, Dalam Kasjono (2011)
Dari teori-teori diatas dapat disimpulkan bahwa permukiman merupakan
lingkungan tempat tinggal manusia yang terdiri dari banyak rumah dan memiliki
fasilitas dan utilitas yang menunjang kehidupan manusia didalamnya.

1.2 Proses Terbentuknya Permukiman


Permukiman merupakan lingkungan tempat tinggal manusia. Lingkungan
tempat tinggal manusia merupakan bagian dari lingkungan alam. Manusia adalah
bagian dari alam dan menetap di lingkungan tempat tinggal. Manusia memliki tiga
macam kebutuhan primer yaitu pangan, sandang dan papan. Kebutuhan pangan
adalah kebuuhan akan makanan yang m
menyangkut kelangsungan hidup manusia. Kebutuhan sandang merupakan
kebutuhan untuk berpakian guna menutup tubuh. Kebutuhan papan adalah
kebutuhan manusia untuk bertempat tinggal, beristirahat dan berlindung dari cuaca.
Pada masa awal sistem cocok tanam, manusia masih berpindah tempat tinggal
dengan periode tertentu yaitu pada saat kesuburan tanah mulai berkurang. Setelah
mengenal teknologi pertanian manusia semakin cenderung untuk menetap disuatu
tempat. Lambat laun, tempat manusia menjadi semakin ramai dan tumbuh menjadi
area permukiman. (S. Sadana, Agus. 2014. 2014. Perencanaan Kawasan
Permukiman. Yogyakarta: Graha Ilmu).

1.2.1 Perkembangan permukiman


Perkembangan permukiman ini pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh
kondisi daerah setempat. Dimana hal ini mengingat bagaimana manusia memiliki
pertimbangan dalam memilih lokasi untuk tempat tinggal, baik untuk berteduh
melindungi diri atau keperluan pribadi. Berkembangnya rumah- rumah sebagai
suatu permukiman disamping sebagai tempat tinggal, juga memiliki fungsi lain
yaitu sebagai tempat berlangsungnya proses sosialisasi dimana individu
diperkenalkan kepada nilai, adat kebiasan yang berlaku dalam masyarakatnya,
juga tempat manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup ini juga
sesuai dengan peradaban manusia yang semakin tinggi dan tidak terbatas pada
kebutuhan untuk mempertahankan diri tetapi juga meningkatkan kebutuhan yang
lebih tinggi nilainya seperti kebutuhan untuk bergaul dengan manusia lain
(kebutuhan akan rasa cinta kasih), kebutuhan harga diri, kebutuhan akan rasa aman
dan juga kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri (Budiharjo, 1984). Untuk
mengetahui perkembangan permukiman pada suatu daerah, dapat dilakukan dengan
mengkaji bagaimana sejarah permukiman tersebut dari awal terbentuknya hingga
masa sekarang ini. Dari sejarah permukiman dapat dilihat pada tahun berapa atau
periode apa adanya fenomena perkembangan permukiman.
Proses Perkembangan Perumahan dan Permukiman di Kota Surabaya adalah
salah satu kota tertua di Indonesia. Bukti sejarah menunjukkan bahwa Surabaya
sudah ada jauh sebelum zaman colonial. Secara tertulis, bukti yang menyebutkan
adanya Surabaya tercantum dalam prasasti Trowulan I, yang berangka tahun 1358
M. di dalam prasasti tersebut dicantumkan nama-nama tempat penyebrangan
penting sepanjang sungai Brantas.
Von Faber (953:75-93) membuat hipotesis bahwa Surabaya didirikan pada
tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara sebagai tempat permukiman baru bagi para
prajuritnya yang berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan di tahun 1270 M.
permukiman baru yang diberi nama Surabaya itu terletak di sebelah Barat Kalimas
dan Kali Pegirian di sebelah Timur. Sebelah utara dan selatan adalah dua terusan
(yang sekarang sudah tidak ada), yang sebelah selatan menjadi Jl. Jagalan
sedangkan yang sebelah utara hilang sewaktu dibangun stasiun kereta api Semut.
Pada sekitar tahun 1720-an, VOC masuk kota Surabaya jatuh ketangan VOC.
Dalam menduduki kota Surabaya VOC mula-mula membangun loji dan benteng
yang terletak di sebelah Utara kota Surabaya lama (kurang lebih sekarang didaerah
kompleks kantor Gubernur Jatim di Jl. Pahlawan) dan VOC juga mendirikan
permukiman-permukiman untuk prajuritnya. Awal permukiman VOC di Surabaya,
yaitu Fort Retranchement. Merupakan tempat permukiman keluarga tentara
Belanda yang terletak disebelah Benteng. Oleh penduduk setempat sering disebut
sebagai kampung kecil. Lokasinya pun berdekatan yakni, terletak di Kompleks
kantor gubernur.
Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya mengalami
perkembangan yang sangat pesat. Salah satunya dalam aspek permukiman, adanya
permukiman di Surabaya sudah ada sejak masa pra colonial hingga sekarang. Kota
Surabaya tumbuh sangat pesat setelah terbentuknya Gemeente Surabaya sebagai
hasil Undang-undang Deesentralisasi pada tanggal 1 April 1896. Arsitektur di
Surabaya pun berkembang pesat setelah tahun 1900 bersamaan dengan kedatangan
para arsitek professional yang berpendidikan akademis dari Belanda. Struktur kota
dan Bangunan yang terbentuk setelah tahun 1900-an ini masih terlihat sangat
dominant di kota Surabaya sampai sekarang.
Masa penjajahan jepang dapat dikatakan relative singkat (1942-1944),
semasa perang dunia ke dua. Selama masa ini tidak ada pembangunan perumahan,
perkembangan kota tidak mengalami perubahan sampai Indonesia mencapai
kemerdekaan.
Pada masa pasca kemerdekaan tepatnya sampai tahun 1951 pembangunan
belum berjalan. Hal ini disebabkan karena Indonesia masih di liputi oleh
peperangan-peperangan kecil antar daerah. Baru pada tahun 1952 (setelah keadaan
stabil) walikota Surabaya memprakarsai membangun perumahan rakyat bagi rakyat
yang rumahnya hancur akibat perang seperti di daerah Darma Rakyat, Kapas
Krampung, Putro Agung, Karang Empat.
Kemudian pada tahun 1954 pemerintah membentuk suatu yayasan yang
mengelola perumahan bagi pegawai negeri disebut YKP-KMS. Bersamaan dengan
ini dibangun pula perumahan untuk anggota militer didaerah Gunung Sari untuk
angkatan darat, di Tanjung Perak untuk angkatan laut, di Sidotopo untuk jawatan
kereta api dan perumahan bertingkat tiga di daerah Taman Apsari dan Joyoboyo
untuk pegawai perkebunan Negara. Perkembangan pemukiman pada masa ini
dipengaruhi karena telah terbukanya hubungan dengan dunia luar sehingga banyak
bantuan dari luar negeri untuk program-program perumahan seperti proyek
perbaikan kampung di daerah WR Supratman. Sedangkan badan YKP-KMS terus
berupaya mengembangkan upayanya untuk membangun perumahan-perumahan.
Tahun 1970-1980 an adalah masa puncak pembangunan di Surabaya, pada
tahun 1970 an inilah di Surabaya berkembang perumahan yang dikelola oleh pihak
swasta yang dikenal dengan sebutan real estate. Perumahan swasta besar pertama
berada di Surabaya Barat yang dikenal dengan kota satelit yaitu Darmo Satelit,
dikelola oleh PT. Darmo Satelit Town dengan luas area 400 Ha di desa Dukuh
Kupang.
Pada perkembangan selanjutnya yaitu sekitar tahun 2000-an, perkembangan
pemukiman di Surabaya dipengaruhi oleh perkembangan penduduk dan aktivitas
perekonomian kota Surabaya. Dengan bertambahnya jumlah penduduk
menyebabkan kebutuhan akan ruang semakin banyak. Hal ini menyebabkan
pemukiman berkembang ke arah selatan, timur, dan barat kota Surabaya yang
memiliki lahan yang luas sebagai kawasan pemukiman. Selain itu, aktivitas
perekonomian yang sangat tinggi di daerah pusat kota menyebabkan penduduk
memilih untuk membangun kawasan pemukiman ke arah pinggiran kota. Hal
tersebut dapat dilihat pada tahun 2000 ke tahun 2005 yang mana perkembangan
kawasan pemukiman mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama ke
daerah pinggiran Kota Surabaya.
Maka Tujuan pembahasan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan
pemukiman di Surabaya pada setiap periode dibagi menjadi delapan periode yang
secara berturut-turut dimulai sejak jaman pra kolonial, periode 1275-1625, periode
1626-1743, periode 1743-1808, periode 1808-1870, periode 1870-1940, periode
penjajahan Jepang, dan periode pasca kemerdekaan – sekarang.

1.2.1.1 Kajian Terhadap Penelitian Terdahulu Terkait Perkembangan


Permukiman
Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui
perkembangan permukiman pada permukiman di kecamatan Indramayu, Pulau
doom dan wilayah peri urban.
Hilmi Hilmansyah dan Iwan Rudianto (2015) judul penelitian yang
dilakukan adalah Kajian Perkembangan dan Kesesuaian Lahan Permukiman
Eksisting di Kecamatan Indramayu. Penelitian ini dilakukan karena
perkembangan kota di Kecamatan Indramayu menimbulkan kecenderungan
tumbuhnya permukiman baru dan menyebar secara sporadis menempati
kawasan yang bukan pada peruntukannya, maka tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengkaji perkembangan dan kesesuaian lahan permukiman
eksisting di Kecamatan Indramayu. Kajian ini menggunakan pendekatan
spatial (teknologi GIS) dan pendekatan kuantitatif (skoring).Perkembangan
Pemukiman atau Perubahan luas lahan permukiman dari tahun 2001 ke tahun
2013 sebesar 248.88 ha.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis spasial dan
analisis kuantatif deskriptif. Analisis deskriptif kuantitatif merupakan metode
yang terdiri dari pengumpulan pengolahan, penaksiran, dan penarikan
kesimpulan dari data statistik untuk menguraikan masalah. Dalam penelitian
ini untuk mengetahui perkembangan permukiman ada 2 variabel yaitu
penggunaan lahan dan luas lahan.
Perkembangan Lahan Permukiman Pada kajian perkembangan
permukiman, tahap awal adalah dengan melakukan identifikasi kawasan
permukiman di Kecamatan Indramayu Tahun 2001 dan Tahun 2013. Berikut
adalah hasil interpretasi citra quickbird Kecamatan Indramayu:

Gambar 3.1 Permukiman Tahun 2001 Gambar 3.2 Permukiman Tahun 20013
Sumber : Analisis Penyusun, 2014

peta penggunaan lahan permukiman tahun 2001, dapat dilihat pada bagian
warna kuning adalah kawasan pemukiman yang masih belum terlalu padat pada
pusat perkotaan, dan sedikit berkembang pada luar perkotaan. Sedangkan di
sekitar kawasan permukiman masih dimanfaatakan sebagai kawasan pertanian dan
tambak. Pada sisi utara Kecamatan Indramayu sebagian besar adalah kawasan
tambak untuk kegiatan budidaya ikan air payau, kawasan permukiman berada
menjauh dari kawasan bibir pantai. Sedangkan pada sisi selatan di Kecamatan
Indramayu masih kawasan pertanian, sawah atau landang. Sebagian besar
penggunaan lahan adalah kawasan tidak terbangun. Pada tahun 2001 luas desa/
kelurahan yang memiliki perkembangan permukiman yang tinggi adalah
Kelurahan Lemahmekar dengan luasan sebesar 56.15 ha atau 12%. Desa
Pekandangan dengan luasan sebesar 48.69 ha atau 10.61 %. Sedangkan desa yang
paling kecil perkembangannya adalah berada di Desa Tambak dengan luasan
permukiman sebesar 4.36 ha atau 0.95 %. Kemudian Desa Pekandangan Jaya,
dan Desa Singajaya.
peta penggunaan lahan permukiman tahun 2013, dapat dilihat kawasan
pemukiman sudah berkembang baik di pusat perkotaan maupun ke kawasan
perdesaan. Perubahan luasan lahan permukiman Kecamatan Indramayu begitu
besar yaitu sebesar 248.88 ha. Peningkatan tertinggi terjadi di Kelurahan
Lemahmekar dengan total perubahan luasan lahan sebesar 32. 09 ha. Desa yang
paling besar mengalami peningkatan adalah Desa Singajaya dan Desa Pabean
Udik dengan masing- masiing perubahan sebesar 20 ha. Total penggunaan lahan
permukiamn dari tahun 2001 adalah sebesar 458.82 dan tahun 2013 adalah sebesar
707.70 ha. Luas perubahan lahan permukiman adalah sebesar 248.88 ha. Berikut
adalah peta pola dan distribusi permukiman:

Gambar 3.3 Pola Distribusi Permukiman Tahun 2001 hingga 2013


Sumber: Analisis Penyusun, 2014

Devid Abraham Johansz, RienekenL.E. Sela, ST,MT dan Ir. Sonny Tilaar,
Msi (2017) judul penelitiannya adalah Perkembangan Permukiman di Pulau DOM
Kota Sorong. Penelitiam ini dilakukan karena perkembangan permukiman dipulau
DOM semakin berkembang dari tahun ke tahun dan menjadi padat akibat
pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Perkembangan permukiman di
Pulau Doom dari tahun 2007 hingga 2015 mengalami perkembangan yang pesat.
Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menganalisis arah perkembangan
permukiman dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan
permukiman di Pulau Doom Kota Sorong pada tahun 2007 hingga 2015. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan
analisis spasial (overlay) dengan menggunakan software ArcGIS 10.1. Tujuan
penelitian deskriptif kualitatif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran-
gambaran atau lukisan-lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai
fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Berdasarkan metode penelitian deskriptif kualitatif tersebut penelitian ini
bertujuan menganalisis arah perkembangan pemukiman dan faktor-faktor apa
saja yang mempengaruhi perkembangan permukiman di Pulau Doom Kota Sorong
sedangkan Dalam penelitian menggunakan analisis overlay yang digunakan
yaitu dengan menggabungkan beberapa peta untuk mengetahui arah
perkembangan permukiman Pulau Doom Kota Sorong. Peta tersebut antara lain
peta Google Earth. Peta Google Earth yang dioverlay untuk mengetahui arah
perkembangan permukiman yang terjadi, yakni peta tahun 2007-2015. Dalam
penelitian ini untuk mengetahui perkembangan permukiman ada 2 variabel yaitu
penggunaan lahan dan luas lahan.
Perkembangan permukiman dalam penelitian ini menggunakan analisis
spasial (overlay) dengan menggabungkan peta time series pada tahun 2007, 2010
dan 2015. berikut adalah perkembangan permukiman di Pulau Doom
Gambar 3.4 Peta Lahan Terbangun Tahun 2007Polau Doom
Sumber: Penulis, 2016

Gambar 3.4 Peta Lahan Terbangun Tahun 2010 Pulau Doom


Sumber: Penulis, 2016

Gambar 3.5 Peta Lahan Terbangun Tahun 2015 Pulau Doom


Sumber: Penulis, 2016
Berdasarkan peta lahan terbangun di Pulau Doom Kota Sorong tahun 2007,
kawasan yang terbangun yaitu ±37,67 Ha dan kawasan yang tidak terbangun
±14,80 Ha. Tahun 2010 kawasan terbangun yaitu ±39,33 Ha dan kawasan
tidak terbangun ±13,14 Ha. Tahun 2015 kawasan terbangun yaitu ±40,00 Ha
dan kawasan tidak terbangun ±13,00 Ha. Jumlah kawasan terbangun pada tahun
2007-2015 menunjukkan adanya perubahan pertambahan ketersediaan lahan,
sedangkan pada kawasan tidak terbangun pada tahun 2007-2015 menunjukkan
adanya penurunan atau berkurangnya ketersediaan lahan. Berikut merupakan peta
hasil analisis overlay lahan terbangun pada tahun 2007-2015

Gambar 3.6 Peta Persebaran Lahan Terbangun Pulau Doom


Sumber: Penulis, 2016

Hasil analisis peta overlay pada tahun 2007-2015 di Pulau Doom Kota
Sorong, diketahui bahwa luas lahan kawasan pembangunan ±11,79 Ha, luas lahan
kawasan terbangun awal ±32,59 Ha dan luas lahan kawasan tidak terbangun ±8,27
Ha dan berdasarkan peta overlay dari tahun 2007-2015 dapat diketahui bahwa
perkembangan permukiman di Pulau Doom Kota Sorong berkembang ke arah
kelurahan Doom Barat. Analsisi peta persebaran permukiman merupakan hasil
perekaman citra satelit landsat yang telah diolah menggunakan software Arcgis
10.1 sehingga diperoleh peta pemukiman Pulau Doom Kota Sorong tahun 2007-
2015. Berikut peta persebaran permukiman pada tahun 2007, 2010 dan 2015
Gambar 3.7 Peta Persebaran Lahan Permukiman Pulau Doom Tahun 2007
Sumber: Penulis, 2016

Gambar 3.8 Peta Persebaran Lahan Permukiman Pulau Doom Tahun 2010
Sumber: Penulis, 2016

Gambar 3.9 Peta Persebaran Lahan Permukiman Pulau Doom Tahun 2015
Sumber: Penulis, 2016
Hasil analisis peta persebaran permukiman di Pulau Doom Kota Sorong
tahun 2007-2015 dapat diketahui bahwa pertambahan permukiman setiap tahun
mengalami perkembangan dan arah perkembangan permukiman di Pulau Doom
Kota Sorong lebih dominan berkembang kearah pesisir dan cenderung kearah laut
di bagian kelurahan doom barat dibandingkan kearah pesisir di kelurahan doom
timur dan perbukitan perbukitan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar mata
pencaharian masyarakat adalah nelayan sehingga lebih mudah menjangkau
akses terhadap pekerjaan sehari-hari.
Virta Ihsanul Mustika Jati (2012) judul penelitiannya adalah Kajian
Perkembangan Permukiman Wilayah Peri Urban di Sebagian Wilayah Kabupaten
Sukoharjo Tahun 2001-2007. Penelitian ini dilakukan karena Interaksi antar
Sukoharjo dan Surakarta dilihat dari arah perkembangan dari Kabupaten Sukoharjo
yang memadati jalan propinsi yang membelah dari selatan menuju ke utara (Kota
Surakarta) serta daerah padat permukiman yang berada di Kecamatan Kartasura
dan Grogol (perbatasan Sukoharjo dan Surakarta). Kedua wilayah ini sudah lama
mengalami proses complementarity dalam pertukaran barang dan jasa. Akses jalan
yang baik sangat mendukung interaksi kedua wilayah ini. Interaksi ini memberikan
dampak bagi wilayah yang dilaluinya. Beberapa kecamatan yang berada di sekitar
Surakarta dan Sukoharjo diketahui mengalami perkembangan permukiman yang
cukup pesat, Keberadaan perumahan baru dalam skala besar menunjukkan bahwa
kecamatan disekitar Surakarta dan Sukoharjo merupakan wilayah peri urban yang
cukup dinamis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
analisis deskriptif dan analisis komparatif. Dalam penelitian ini untuk mengetahui
perkembangan permukiman ada 2 variabel yaitu penggunaan lahan dan kepadatan
permukiman.
Perkembangan permukiman dalam penelitian ini dianalisis dengan
membandingkan keadaan permukiman paa tahun 2001 dan tahun 2007 baik secara
numerik maupun secara spasial.
Gambar 3.10 Peta Perubahan Permukiman Sebagian Daerah Kabupaten Sukoharjo
Sumber: Analisis Penulis, 2012

Perkembangan permukiman pada masing-masing kecamatan di daerah


penelitian dari tahun 2001-2007 cukup signifikan, namun tidak demikian halnya
dengan Kecamatan Sukoharjo. Perubahan permukiman di daerah ini tidak
signifikan yaitu hanya sebesar 1%. Arah perkembangan terlihat jelas di daerah
Grogol dan sekitarnya.
Berdasarkan Uraian diatas untuk mengkaji proses perkembangn
permukiman dalam penentuan tahun-tahun yang akan diamati adalah dengan
melihat fenomena perkembangan permukiman di masing-masing lokasi penelitian.

Tabel 3.2
Hasil Sintesa
Penentuan Tahun Dalam Mengkaji Proses perkembangan permukiman
Proses perkembangan
No Sumber Kesimpulan
permukiman
1 Proses Perkembangan penelitian ini untuk untuk mengkaji proses
Perumahan dan mengetahui perkembangan perkembangn permukiman
Permukiman di Kota pemukiman di Surabaya pada
dalam penentuan tahun-tahun
Surabaya setiap periode dibagi menjadi
delapan periode yang secara yang akan diamati adalah
berturut-turut dimulai sejak dengan melihat fenomena
jaman pra kolonial, periode
perkembangan permukiman di
1275-1625, periode 1626-
1743, periode 1743-1808,
periode 1808-1870, periode masing-masing lokasi
1870-1940, periode penelitian.
penjajahan Jepang, dan
periode pasca kemerdekaan –
sekarang.
2 Jurnal Kajian perkembangan kota di
Perkembangan dan Kecamatan Indramayu
Kesesuaian Lahan menimbulkan
kecenderungan tumbuhnya
Permukiman
permukiman baru dan
Eksisting di menyebar secara sporadis
Kecamatan menempati kawasan yang
Indramayu bukan pada peruntukannya.
Perkembangan Pemukiman
(Hilmi Hilmansyah atau Perubahan luas lahan
dan Iwan Rudianto) permukiman dari tahun
2001 ke tahun 2013 sebesar
248.88 ha, maka tujuan dari
penelitian ini adalah untuk
mengkaji perkembangan dan
kesesuaian lahan
permukiman eksisting di
Kecamatan Indramayu.
.

3 Jurnal Perkembangan perkembangan permukiman


Permukiman di Pulau dipulau DOM semakin
Doom Kota Sorong berkembang dari tahun ke
tahun dan menjadi padat
(Devid Abraham akibat pertumbuhan
Johanez) penduduk yang semakin
meningkat. Perkembangan
permukiman di Pulau Doom
dari tahun 2007 hingga 2015
mengalami perkembangan
yang pesat.
4 Jurnal Kajian Interaksi antar Sukoharjo
Perkembangan dan Surakarta dilihat dari
Permukiman Peri arah perkembangan dari
Urban di sebagian Kabupaten Sukoharjo yang
Wilayah Kabupaten memadati jalan propinsi
Sukoharjo Tahun yang membelah dari selatan
2001-2007 menuju ke utara (Kota
Surakarta) serta daerah padat
(Virta Ihsanul permukiman yang berada di
Mustika Jati dan Joko Kecamatan Kartasura dan
Christanto) Grogol (perbatasan
Sukoharjo dan Surakarta).
Kedua wilayah ini sudah
lama mengalami proses
complementarity dalam
pertukaran barang dan jasa.
Akses jalan yang baik sangat
mendukung interaksi kedua
wilayah ini. Interaksi ini
memberikan dampak bagi
wilayah yang dilaluinya.
Beberapa kecamatan yang
berada di sekitar Surakarta
dan Sukoharjo diketahui
mengalami perkembangan
permukiman yang cukup
pesat.
Sumber: Hasil Kajian Peneliti, 2018

Tabel 3.3
Hasil Sintesa
Variabel perkembangan permukiman
No Sumber Variabel Kesimpulan
1 Proses Perkembangan - Sejarah Terbentuknya - Sejarah Permukiman
Perumahan dan Permukiman - Penggunaan lahan
Permukiman di Kota - Luas Lahan
Surabaya - Kepadatan
2 Jurnal Kajian - Penggunaan Lahan permukiman
Perkembangan dan - Luas Lahan
Kesesuaian Lahan
Permukiman
Eksisting di
Kecamatan
Indramayu

(Hilmi Hilmansyah
dan Iwan Rudianto)
3 Jurnal Perkembangan - Penggunaan lahan
Permukiman di Pulau - Luas Lahan
Doom Kota Sorong

(Devid Abraham
Johanez)
4 Jurnal Kajian - Penggunaan lahan
Perkembangan - Kepadatan permukiman
Permukiman Peri
Urban di sebagian
Wilayah Kabupaten
Sukoharjo Tahun
2001-2007

(Virta Ihsanul
Mustika Jati dan Joko
Christanto)

Sumber: Hasil Kajian Peneliti, 2018


1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman
Keberadaan suatu permukiman dapat mempengaruhi berkembangnya suatu
wilayah, dan sebaliknya kegiatan pembangunan dalam suatu wilayah dapat
mempengaruhi berkembangnya permukiman Permukiman berkaitan secara
langsung dengan kehidupan dan harkat hidup manusia, faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan permukiman cukup banyak, antara lain faktor
geografis, faktor kependudukan, faktor kelembagaan, faktor swadaya dan peran
serta masyarakat, faktor keterjangkauan daya beli, faktor pertanahan, faktor
ekonomi dan moneter. Faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap pembangunan
perumahan adalah disebabkan oleh perubahan nilai-nilai budaya masyarakat.
(Sumber:Jurnal Perencanaan Wilayah Dan Kota, Nomor 12.April 1994).
menurut Siswono, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
perkembangan permukiman yang dapat dilihat dari 9 aspek, antara lain: letak
geografis, kependudukan, sarana dan prasarana, ekonomi dan keterjangkauan daya
beli, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, kelembagaan, dan peran serta
masyarakat (Sumber : Siswono, dkk)
1. Faktor geografi
Letak geografis suatu permukiman sangat menentukan keberhasilan
pembangunan suatu kawasan. Permukiman yang letaknya terpencil dan sulit
dijangkau akan sangat lambat untuk berkembang. Topografi suatu kawasan
juga berpengaruh, jika topografi kawasan tersebut tidak datar maka akan sulit
bagi daerah tersebut untuk berkembang. Lingkungan alam dapat
mempengaruhi kondisi permukiman, sehingga menambah kenyamanan
penghuni permukiman.
2. Faktor Kependudukan
Perkembangan penduduk yang tinggi, merupakan permasalahan yang
memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pembangunan permukiman.
Jumlah penduduk yang besar merupakan sumber daya dan potensi bagi
pembangunan, apabila dapat diarahkan menjadi manusia pembangunan yang
efektif dan efisien. Tetapi sebaliknya, jumlah penduduk yang besar itu akan
merupakan beban dan dapat menimbulkan permasalahan bila tidak diarahkan
dengan baik. Disamping itu, penyebaran penduduk secara demografis yang
tidak merata, merupakan permasalahan lain berpengaruh terhadap
pembangunan perumahan.
3. Faktor Kelembagaan
Faktor lain yang berpengaruh terhadap pembangunan perumahan adalah
perangkat kelembagaan yang berfungsi sebagai pemegang kebijaksanaan,
pembinaan, dan pelaksanaan baik sektor pemerintah maupun sektor swasta,
baik di pusat maupun di daerah. Secara keseluruhan perangkat kelembagaan
tersebut belum merupakan suatu sistem terpadu. Menurut UU No. 5 Tahun
1979, Pemda memegang peranan dan mempunyai posisi strategis dalam
pelaksanaan pembangunan perumahan. Namun unsur-unsur perumahan di
Tingkat Daerah yang melaksanakan program khusus untuk koordinasi, baik
dalam koordinasi vertikal maupun horisontal dalam pembangunan perumahan,
masih perlu dimantapkan dalam mempersiapkan aparaturnya. Termasuk
didalamnya adalah kebijaksanaan yang mengatur kawasan permukiman,
keberadaan lembaga-lembaga desa, misalnya LKMD, Karang Taruna,
Kelompok wanita dan sebagainya.
4. Faktor Swadaya dan Peran Serta Masyarakat
Dalam rangka membantu golongan masyarakat yang berpenghasilan
rendah, menengah, tidak tetap, perlu dikembangkan pembangunan perumahan
secara swadaya masyarakat yang dilakukan oleh berbagai organisasi non-
pemerintah. Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa masyarakat yang
berpenghasilan tidak tetap serta amat rendah dan tidak berkemampuan tersebut
mampu membangun rumahnya sendiri dengan proses bertahap, yakni mula-
mula dengan bahan bangunan bekas atau sederhana, kemudian lambat laun
diperbaiki dengan bangunan permanen bahkan ada pula beberapa rumah yang
sudah bertingkat. Faktor swadaya dan peran serta masyarakat atau aspek sosial
tersebut juga meliputi kehidupan sosial masyarakat, kehidupan bertetangga,
gotong royong dan pekerjaan bersama lainnya.
5. Faktor Sosial Budaya
Faktor sosial budaya merupakan faktor internal yang mempengaruhi
perkembangan permukiman. Sikap dan pandangan seseorang terhadap
rumahnya, adat istiadat suatu daerah, kehidupan bertetangga, dan proses
modernisasi merupakan faktor-faktor sosial budaya. Rumah tidak hanya
sebagai tempat berteduh dan berlindung terhadap bahaya dari luar, tetapi
berkembang menjadi sarana yang dapat menunjukkan citra dan jati diri
penghuninya.
6. Ekonomi dan Keterjangkauan Daya Beli
Aspek ekonomi meliputi yang berkaitan dengan mata pencaharian.
Tingkat perekonomian suatu daerah yang tinggi dapat meningkatkan
perkembangan permukiman. Tingkat perekonomian suatu daerah akan
mempengaruhi tingkat pendapatan seseorang. Makin tinggi pendapatan
sesorang, maka makin tinggi pula kemampuan orang tersebut dalam memiliki
rumah. Hal ini akan meningkatkan perkembangan permukiman di suatu daerah.
Keterjangkauan daya beli masyarakat terhadap suatu rumah akan
mempengaruhi perkembangan permukiman. Semakin murah harga suatu
rumah di daerah tertentu, semakin banyak pula orang yang membeli rumah,
maka semakin berkembanglah permukiman yang ada.
7. Sarana dan Prasarana
Kelengkapan sarana dan prasarana dari suatu perumahan dan permukiman
dapat mempengaruhi perkembangan permukiman di suatu wilayah. Dengan
adanya sarana dan prasarana yang memadai dapat memudahkan penduduknya
untuk beraktivitas sehari-hari. Semakin lengkap sarana dan prasarana yang
tersedia maka semakin banyak pula orang yang berkeinginan bertempat tinggal
di daerah tersebut.
8. Pertanahan
Kenaikan harga lahan sebagai akibat penyediaan kelangkaan lahan untuk
permukiman, menyebabkan timbulnya slum dan squatter.
9. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat meningkatkan
perkembangan perumahan dan permukiman. Dengan diciptakannya teknologi-
teknologi baru dalam bidang jasa konstruksi dan bahan bangunan maka
membuat pembangunan suatu rumah akan semakin cepat dan dapat menghemat
waktu. Sehingga semakin banyak pula orang-orang yang ingin membangun
rumahnya. Hal ini akan meningkatkan perkembangan permukiman.
Devid Abraham Johansz, RienekenL.E. Sela, ST,MT dan Ir. Sonny Tilaar,
Msi (2017) judul penelitiannya adalah Perkembangan Permukiman di Pulau DOM
Kota Sorong. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman
adalah sebagai berikut:
1. Geografis
Faktor geografis yang dikaji adalah luas wilayah, letak wilayah, jarak
tempuh Kota Sorong ke Pulau Doom
Kependudukan
2. Kependuukan
Untuk mengetahui faktor kependudukan dapat mempengaruhi
perkembangan permukiman dengan melihat jumlah penduduk dan
kepadatan penduduknya
3. Kebijakan
Dalam penelitian ini yang dilihat adalah bagaimana kebijakan terhadap
faktor swadaya dan peran serta masyarakat. Pemerintah setempat belum
menyediakan perumahan swadaya bagi masyarakat yang berpenghasilan
rendah, sehingga masyarakat cenderung membangun permukiman
dibagian daerah pesisir pantai dan mengarah kearah laut dan kurang
tegasnya pemerintah dalam mengambil kebijakan akan pembangunan
permukiman.
4. Swadaya dan Peran Serta Masyarakat
Dalam penelitian ini yang dilihat adalah bagaimana faktor swadaya dan
peran serta masyarakat terhadap faktor sosial budaya yaitu peran serta
masyarakat dalam aspek sosial yang saling membantu dan memiliki
solidaritas kekeluargaan yang kuat maka secara langsung sangat
berpengaruh besar terhadap sosial budaya bagi masyarakat yang saling
membantu dalam pembangunan permukiman, sehingga perkembangan
permukiman terus meningkat.
5. Sosial dan Budaya
Dalam penelitian ini yang dilihat adalah bagaimana faktor sosial budaya
terhadap faktor ekonomi dan keterjangkauan daya beli yaitu masyarakat
memiliki sosial budaya solidaritas kekeluargaan yang kuat dan saling
membantu satu dengan yang lain dalam hal pembangunan permukiman.
Maka meskipun masyarakat berpenghasilan standar dengan sebagian besar
mata pencaharian sebagai nelayan namun masyarakat dapat terjangkau
untuk membangun permukiman. Sehingga perkembangan permukiman
terus berkembang dan perkembangan permukiman yang ada mengarah
kearah daerah pesisir pantai dan cenderung mengarah kearah laut.
6. Faktor Ekonomi dan Keterjangkauan Daya Beli
Dalam hal ini yang dilihat adalah jumlah pendapatan masyarakat di Pulau
Doom.
7. Prasarana dan Sarana
Ketersedian akan kebutuhan prasarana dan sarana dapat dikatakan sudah
memadai. Karena semua fasilitas prasarana dan sarana dari pendidikan,
peribadatan perdagangan jasa sampai pemerintahan sudah memadai
sehingga Pulau Doom tidak mengalami ketertinggalan. Dengan adanya
kelengkapan prasarana dan sarana yang telah disediakan oleh pemerintah
maka perkembangan permukiman di lokasi penelitian juga ikut meningkat.
8. Pertanahan
Pertambahan penduduk yang terus meningkat membuat luas lahan
terbangun mencapai 40 Ha dari luas lahan di Pulau Doom akibatnya harga
tanah menjadi tinggi maka masyarakat yang berpenghasilan rendah akan
lebih mudah menjangkau atau memiliki permukiman yang berada di Pulau
Doom daripada Kota Sorong. Dengan demikian perkembangan
permukiman terus meningkat di Pulau Doom dan dominan berkembang
kearah pesisir pantai.

Tabel 3.4
Hasil Sintesa
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman
No Sumber Variabel Sub Variabel Kesimpulan
1 Siswono, dkk geografi Letak lokasi penelitian  Geografis
Kependudukan Jumlah penduduk - Letak Wilayah
Kelembagaan Lembaga Desa - Luas Wilayah
Dokumen Kebijakan - Jarak Tempuh
Swadaya dan Peran Serta Organisasi non pemerintah  Kependudukan
Masyarakat Kehidupan sosial masyarakat - Jumlah penduduk
Sosial dan Budaya Adat istiadat - Kepadatan Penduduk
Modernisasi budaya  Kelembagaan
Ekonomi dan keterjangkaua Mata pencaharian - Lembaga Desa
daya beli Pendapatan/gaji - Dokumen Kebijakan
Harga rumah  Swadaya dan peran serrta
Sarana dan Prasarana Jenis sarana dan prasarana masyarakat
Jumlah sarana dan prasarana - Organisasi non
Lokasi sarana dan prasarana pemerintah
- Kehidupan sosial
Pertanahan Harga lahan
masyarakat
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bidang jasa  Sosial dan budaya
Teknologi konstruksi - Adat istiadat
Teknologi bahan bangunan - Modernsasi Budaya
2 Jurnal Kondisi Geografis Letak Wilayah - Solidaritas
Perkembangan Luas Wilayah kekeluargaan
Permukiman Jarak Tempuh Kota Sorong masyarakat
di Pulau Doom ke Pulau Doom  Ekonomi dan
Kota Sorong Kependudukan Jumlah Penduduk keterjangkauan daya beli
Kepadatan Penduduk - Mata pencaharian
(Devid Kebijakan Kebijakan Pemerintah terkait - Pendapatan/gaji
Abraham permukiman - Harga Rumah
Johanez) Swadaya dan peran serta Peran serta masyarakat  Sarana dan prasarana
masyarakat dalam aspek sosial - Jenis Sarana dan
Sosial dan budaya Solidaritas kekeluargaan Prasarana
masyarakat - Jumlah Sarana dan
Ekonomi dan keterjangkaua Jumlah pendapatan Prasarana
daya beli Masyarakat - Lokasi Sarana dan
Prasarana
Sarana dan prasrana Jenis sarana dan prasarana
 Pertanahan
Jumlah sarana dan prasarana
- Harga Lahan
Lokasi sarana dan prasarana
 Ilmu Pengetahuan dan
pertanahan Harga tanah Teknologi
- Teknologi bidang
jasa konstruksi
- Teknologi Bahan
Bangunan

Sumber: Hasil Kajian Peneliti, 2018

1.4 Landasan Penelitian


Landasan penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah
penelitian. Landasan penelitian ini berisi teori-teori yang digunakan sebagai dasar
untuk melakukan penelitian Kajian Proses Perkembangan Permukiman Kampung
Ujoh Bilang. Penelitian ini menggunakan teori-teori dari refrensi-refrensi yang
telah dikaji pada sub bab sebelumnya.
1. Permukiman merupakan lingkungan tempat tinggal manusia yang terdiri
dari banyak rumah dan memiliki fasilitas dan utilitas yang menunjang
kehidupan manusia didalamnya.
2. Proses terbentuknya permukiman diawali dengan kebutuhan hidup manusia
yaitu Kebutuhan papan, kebutuhan manusia untuk bertempat tinggal,
beristirahat dan berlindung dari cuaca. Pada masa awal sistem cocok tanam,
manusia masih berpindah tempat tinggal dengan periode tertentu yaitu pada
saat kesuburan tanah mulai berkurang. Setelah mengenal teknologi
pertanian manusia semakin cenderung untuk menetap disuatu tempat.
Lambat laun, tempat manusia menjadi semakin ramai dan tumbuh menjadi
area permukiman. (S. Sadana, Agus. 2014. Perencanaan Kawasan
Permukiman. Yogyakarta: Graha Ilmu).
3. Perkembangan permukiman ini pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh
kondisi daerah setempat. Dimana hal ini mengingat bagaimana manusia
memiliki pertimbangan dalam memilih lokasi untuk tempat tinggal, baik
untuk berteduh melindungi diri atau keperluan pribadi. Berkembangnya
rumah- rumah sebagai suatu permukiman disamping sebagai tempat tinggal,
juga memiliki fungsi lain yaitu sebagai tempat berlangsungnya proses
sosialisasi dimana individu diperkenalkan kepada nilai, adat kebiasan yang
berlaku dalam masyarakatnya, juga tempat manusia memenuhi kebutuhan
hidupnya. Kebutuhan hidup ini juga sesuai dengan peradaban manusia yang
semakin tinggi dan tidak terbatas pada kebutuhan untuk mempertahankan
diri tetapi juga meningkatkan kebutuhan yang lebih tinggi nilainya seperti
kebutuhan untuk bergaul dengan manusia lain (kebutuhan akan rasa cinta
kasih), kebutuhan harga diri, kebutuhan akan rasa aman dan juga kebutuhan
untuk mengaktualisasikan diri (Budiharjo, 1984)
4. untuk mengkaji proses perkembangn permukiman dilakukan kajian
terhadap sejarah terbentuknya permukiman, mengetahui penggunaan lahan
pada lokasi penelitian, luas lahan permukiman dan kepaatannya. Sedangkan
untuk penentuan tahun-tahun yang akan diamati adalah dengan melihat
fenomena perkembangan permukiman di masing-masing lokasi penelitian.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman adalah
Geografis, Kependudukan, Kelembagaan, Swadaya dan peran serrta
masyarakat, Sosial dan budaya, Ekonomi dan keterjangkauan daya beli,
Sarana dan prasarana, Pertanahan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
1.4.1 Penentuan Variabel Penelitian
Dalam penentuan variabel penelitian terlebih dahulu melakukan kajian
terkait teori-teori yang digunakan seperti yang telah penulis lakukan di sub bab
sebelumnya. Berikut variabel-variabel penelitian dalam kajian proses
perkembangan permukiman Kampung Ujoh Bilang.

Tabel 3.5
Rumusan Variabel
No Sasaran Variabel Sub Variabel
1 Menganalisis proses perkembangan  Sejarah  Sejarah Permukiman
permukiman masyarakat di Kampung Permukiman
- Tahun awal
Ujoh Bilang  Penggunaan
lahan terbentuknya
 Luas Lahan permukiman dan
 Kepadatan
perkembangannya
permukiman
hingga masa
sekarang
 Penggunaan lahan
- Lahan terbangun
- Lahan tidak
terbangun
 Kepadatan Permukiman
- Jumlah rumah
- Luas wilayah

2 Identifikasi faktor-faktor yang  Geografis  Geografis


mempengaruhi berkembangnya
 Kependudukan - Letak Wilayah
permukiman masyarakat di Kampung
Ujoh Bilang  Kebijakan - Luas Wilayah
 Swadaya dan - Jarak Tempuh
peran serrta  Kependudukan
masyarakat - Jumlah penduduk
 Sosial dan - Kepadatan
budaya Penduduk

 Ekonomi dan  Kelembagaan


keterjangkauan - Lembaga Desa
daya beli - Dokumen
Kebijakan
 Sarana dan  Swadaya dan peran serta
prasarana masyarakat
 pertanahan - Organisasi non
pemerintah
- Kehidupan sosial
masyarakat
 Sosial budaya
- Adat istiadat
- Modernsasi Budaya
- Solidaritas
kekeluargaan
masyarakat
 Ekonomi dan
Keterjangkauan daya
beli
- Mata pencaharian
- Pendapatan/gaji
- Harga Rumah
 Sarana dan prasarana
- Jenis sarana dan
prasarana
- Jumlah sarana dan
prasarana
- Lokasi sarana dan
prasarana
 Pertanahan
- Harga tanah
 Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi
- Teknologi bidang
jasa konstruksi
- Teknologi Bahan
Bangunan
Sumber: Hasil Kajian Peneliti, 2018