Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM TUMBUHAN AIR

IDENTIFIKASI RUMPUT PAYUNG Cyperus alternifolus

M02

OLEH KELOMPOK 12 :
TRI AFFIDA ROHMAH K. (155080101111067)
IRAWATI (155080107111037)

MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. atas limpahan


rahmat dan hidayah-Mu penulis dapat menyajikan Makalah yang berjudul
IDENTIFIKASI RUMPUT PAYUNG Cyperus alternifolus. Di dalam tulisan ini
disajikan pokok-pokok bahasan yang meliputi
Penulis sangat menyadari bahwa dengan kekurangan dan keterbatasan
yang dimiliki, walaupun telah dikerahkan segala kemampuan untuk lebih teliti,
tetapi masih dirasakan banyak kekurangtepatan, oleh karena itu penulis
mengharapkan saran yang membangun agar tulisan ini bermanfaat bagi yang
membutuhkan

Malang, 10 Oktober 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iv
I. PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan ..................................................................................... 2
II. NAMA LATIN SPECIES DAN NAMA DAERAH ....................................... 2
III. GAMBAR LENGKAP ................................................................................ 3
IV. KLASIFIKASI ............................................................................................ 3
V. KARAKTERISTIK ..................................................................................... 4
a. Morfologi Dan Anatomi Dan Fungsi .......................................................... 4
I. Akar ......................................................................................................... 4
ii. Batang ..................................................................................................... 5
iii. Daun ........................................................................................................ 5
iv. Bunga ...................................................................................................... 6
B. Termasuk Golongan Tumbuhan Air Bagaimana...................................... 7
VI. HABITAT .................................................................................................. 7
a. Dimana tumbuhnya .................................................................................. 7
b. Penyebarannya ........................................................................................ 7
VIII. DESKRIPSI ............................................................................................... 8
a. Cyperus alternifolius merupakan Gulma................................................... 8
b. Bagaimana penangulangannya ................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 10

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Identifikasi Cyperus alternifolius ....................................................... 3


Gambar 2. Cyperus alternifolius ......................................................................... 3
Gambar 3. Akar Cyperus alternifolius ................................................................. 4
Gambar 4. Batang Cyperus alternifolius ............................................................. 5
Gambar 5. Daun Cyperus alternifolius ............................................................... 6
Gambar 6. Bunga Cyperus alternifolius .............................................................. 7

iv
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keanekaragaman tumbuhan yang terdapat di Indonesia merupakan salah
satu kekayaan alam yang perlu dilestarikan, karena peranan dan khasiat
tumbuhan tersebut dapat memberikan keuntungan bagi manusia. Pada dasarnya
tumbuhan dibagi atas tumbuhan darat dan tumbuhan air. Pepohonan dan segala
macam tumbuhan yang hidup di darat umumnya sudah banyak kita ketahui,
berbanding terbalik dengan tumbuhan air yang sedikit sekali diketahui dan
dimanfaatkan. Padahal tanpa kita sadari tumbuhan air juga ikut berperan penting
dalam ekosistem dan berguna bagi manusia. Tidak hanya di konsumsi,
tumbuhan air tertentu dapat juga dimanfaatkan sebagai penyerap polutan di
perairan yang dapat berbahaya bagi perairan iu sendiri dan organisme
didalamnya serta manusia.
Tumbuhan air mempunyai peranan sebagai produsen primer di perairan
yang merupakan sumber makanan bagi konsumen primer atau biofag (antara
lain ikan). Di samping itu tumbuhan air juga membantu aerasi perairan melalui
fotosintesis, mengatur aliran air, membersihkan aliran yang tercemar melalui
proses sedimentasi, serta penyerapan partikel dan mineral. Selain itu juga
sebagai tempat pemijahan ikan, serangga, dan hewan lainnya. Beberapa jenis
tumbuhan air juga memberikan sumber makanan langsung untuk manusia
seperti kangkung (Ipomoea aquatica). Tumbuhan air seperti ilung (Eicchornia
crassipes), purun tikus (Eleochiris dulcis), kumpai minyak (Panicum sp.), dan
rumpiang (Pandanus sp.), bento (Leersia hexandra), ganggeng (Hydrilla
verticillata), jungkal (Hanguana malayana), kangkung (Ipomoea aquatica),
kumpai bulu (Paspalum sp.) merupakan tempat pemijahan ikan pada musim
penghujan (Utomo et al., 2001).
Ada pepatah yang mengatakan sesuatu yang berlebihan tentu saja tidak
akan baik. Pepatah itu berlaku juga bagi tumbuhan di perairan, apabila satu
spesies tumbuhan memenuhi suatu perairan makan akan berdampak negative
dan mengganggu ekosisitem perairan. Tumbuhan dalam keadaan seperti itu
disebut dengan gulma air. gulma air adalah tumbuhan air yang dapat
mengganggu penggunaan air oleh manusia dan tumbuhan air sebagai gulma air
yang dalam keadaan dan waktu tertentu tidak dikehendaki, karena dianggap
menimbulkan kerugian yang melebihi peranannya yang menguntungkan (Room,
1984; Soerjani, 1978 dalam Burnawi dan Gatot, 2011).

1
Berdasarkan atas sifat hidupnya, tumbuhan air terbagi menjadi beberapa
macam yaitu tumbuhan air tingkat tinggi tumbuh di tepian (marjinal plant),
tumbuhan terapung (free floating plant), tumbuhan mencuat (emersed plant),
bawah air (submersed plant), tumbuhan terapung berakar di dasar (roted floating
plant). Pada makalah ini penulis akan membahas mengenai salah satu
tumbuhan air dari family Cyperaceae yang dikenal dengan sebutan rumput
payung(umbrella grass).

1.2 Tujuan Penulisan


a. Untuk mengetahui nama latin dan nama daerah dari tumbuhan rumput
payung
b. Untuk mengetahui gambar dan bagian-bagian tumbuhan rumput payung
c. Untuk mengetahui kualifikasi dari tumbuhan rumput payung
d. Untuk mengetahui karakteristik morfologi, anatomi dan fungsi dari tumbuhan
rumput payung
e. Untuk mengetahui apakah tumbuhan rumput payung termasuk dalam
kelompok gulma

II. NAMA LATIN SPECIES DAN NAMA DAERAH

Tanaman Cyperus alternifolus telah banyak dibudidayakan di Indonesia


dengan nama daerah/lokal adalah "Bintang Air", sehingga dengan mudah dapat
dijumpai di pekarangan penduduk maupun di toko pertanian atau bunga. Dari
beberapa jenis tanaman amphibiuos plants Cyperus alternifolus merupakan
tanaman hias dan memiliki nilai estetika dan paling praktis diperbanyak dengan
cara memisahkan rumpunrumpunnya, namun juga dapat diperbanyak dengan
cara pemotongan daun (Suprihatin, 2014).
Menurut Kompas (2009), rumput payung (Cyperus alternifolius)
merupakan salah satu tanaman air yang juga banyak dicari. Tanaman yang juga
kerap disebut payung lembang atau payung raja ini dikenal dari ciri fisiknya yang
khas. Sama seperti keluarga cyperus lainnya, bentuk fisik rumput payung ini
memang menyerupai payung, berbatang lurus dengan daun bulat melebar di
bagian atas. Bagian pinggir daunnya menyerupai kulit bambu yang tajam. Meski
demikian, penampilan rumput payung secara keseluruhan memang sangat
menawan.

2
Papirus Air disebut juga sebagai Rumput Payung merupakan salah satu
tanaman air (akuatik dan semi-akuatik) namun bisa juga ditanam di darat. Nama
latin tanaman ini adalah Cyperus alternifolius L. (famili Cyperaceae) yang dalam
bahasa Inggris dikenal sebagai Umbrella Plant atau Cyprus.

III. GAMBAR LENGKAP

Gambar 1. Identifikasi Cyperus alternifolius

IV. KLASIFIKASI

Menurut Suprihatin (2014), Adapun klasifikasi tanaman "Bintang Air"


(Cyperus alternifolius) adalah sebagai berikut:

3
Gambar 2. Cyperus alternifolius

Divisi : Tracheophyta
Klas : Angiospremae
Sub-Klas : Monocotyledoneae
Familia : Cyperaceae
Genus : Cyperus
Spesies : Cyperus alternifolius, L.

V. KARAKTERISTIK

a. MORFOLOGI DAN ANATOMI DAN FUNGSI


i. AKAR

Gambar 3. Akar Cyperus alternifolius

Menurut Suprianti (2014), Cyperus alternifolius memiliki akar serabut,


sewaktu muda berwarna putih dan saat tua coklat kehitaman. Memiliki rimpang
yang merayap atau badan-badan seperti umbi dengan geragih yang merupakan
alat perkembangbiakan vegetative. Akar tanaman ini dapat bertahan hidup
hingga 18 °F - 21 °F (-6 °C sampai -8 °C) dan bahkan sedikit lebih rendah jika
tanah baik dikeringkan. Selain itu, Cyperus alternifolius salah satu tipe tanaman
air air yang mencuat kepermukaan air karena memiliki sistem perakaran pada
substrat periaran dan daun berada jauh diatas permukaan air.
Seperti yang di kutip dalam literature diatas, akar yang dimiliki oleh
Cyperus alternifolus adalah jenis akar serabut. Tumbuhan ini memiliki akar yang
panjang dan banyak sehingga mampu menembus dan menempel kuat di dalam
substrat. Seperti yang penulis temukan Cyperus alternifolus ini ditemukan
disebuah rawa dan menempel pada batang pohon yang lapuk tergenang air.

4
ii. BATANG

Gambar 4. Batang Cyperus alternifolius

Tanaman ini mempunyai tangkai berbentuk segitiga dan tidak berongga,


dengan panjang batang dewasa 0,5 - 1,5 meter. Tangkai menyangga daun yang
berbentuk sempit dan datar, mengelilingi ujung tangkai secara simetris
membentuk pola melingkar mirip cakram. Batang memiliki fungsi sebagai tempat
lintasan oksigen yang telah berdifusi dari atmosfir melalui pori-pori daun dan
mengalir ke akar. (Lukito, 2004 dalam Suprihatin, 2014).
Menurut Sari et al. (2015), Memiliki batang segitiga yag tidak berongga.
Cyperus alternifolius mempunyai batang berbentuk segitiga yang hidup
sepanjang tahun di ketinggian 10 – 75 cm. tanaman ini memiliki jumlah batang
tiap – tiap rumpun relatif sama (± 10 batang/rumpun). Pada keadaan sehat,
Cyperus alternifolius memiliki batang kasar, berdiameter dan tinggi lebih dari 30
cm.

iii. DAUN

Gambar 5. Daun Cyperus alternifolius

5
Menurut Lukito A. Marianto (2004) dalam Suprihatin(2014), Panjang daun
Cyperus alternifolius antara 12 – 15 cm dan pada bagian tengah–tengah daun
tumbuh bunga-bung kecil, berwarna kehijauan. Tumbuhan ini memiliki daun
berbentuk pita dan terdiri dari 4 – 10 helai. Setiap daun tersusun menyerupai
jeruji atau rusuk pada payung.
Cypernus alternifolius (rumput payung) termasuk salah satu jenis
tanaman hias yang suka air. Daun tanaman tersebut menyebar dari ujung
tangkai dan melengkung ke bawah. Panjang daun 10-20 cm dan jumlah daun
sekitar 20 helai. memiliki helaindaun yang kaku membentuk garis dan tidak
berambut. Warna permukaan atash ijau tua sedangkan permukaan bawah hijau.
Muda (Sudarmono, 1997).

iv. BUNGA

Gambar 6. Bunga Cyperus alternifolius

Menurut Lukito A. Marianto (2004) dalam Suprihatin (2014), pada bagian


tengah–tengah daun tumbuh bunga-bunga kecil bertangkai. Bunganya berwarna
hijau, terletak di ujung tangkai dengan tiga tunas helaian benang sari berwarna
kuning jernih, membentuk bunga-bunga berbulir dan mengelompok menjadi satu
paying. Perbungaan umbelliform terdiri dari 10-20 kelompok kecil hijau dan
bunga kuning kecil. Tampaknya pada ujung batang, di atas daun berbentuk
bracts.
Menurut Putra (2017), Cyperus alternifolius memiliki bulir yang longgar
dan terbentuk di ujung batang. Bractea dua sampai empat dan tidak
rontok.Bercabang utama tiga sampai sembilan yang menyebar. Mampu
berbunga dengan baik dan hasil pertumbuhan muncul di sinar matahari penuh,
tetapi dapat mentolerir beberapa naungan. Bunganya menyerupai rumput
berwarna hijau kecoklatan dan muncul dalam jarak yang sangat dekat.

6
b. TERMASUK GOLONGAN TUMBUHAN AIR BAGAIMANA
Menurut Suprihatin (2014),Tumbuhan air dengan nama spesies Cyperus
alternifolius atau yang dikenal dengan nama rumput payung, merupakan salah
satu tumbuhan air yang dapat kita temukan didarat maupun di perairan seperti
didaerah rawa. Rumput payung termasuk dalam jenis tanaman yang mencuat
keatas, dimana akarnya berada didasar perairan sedangkan batangnya mencuat
kepermukaan.
Menurut Izzah (2017), Cyperus alternifolius merupakan tumbuhan yang
beradaptasi pada lingkungan aquatik dan lingkungan terestis. Jenis tumbuhan ini
tumbuh di perairan dangkal atau perairan yang berlumpur. Tumbuhan ini tum-
buh di perairan dangkal atau perairan yang berlumpur. Bagian tumbuhan yang
terdapat di permukaan air (udara) kadang–kadang memperlihatkan sifat–sifat
tumbuhan mesofit atauxerofit, sedangkan bagian yang terendam air atau
tenggelam memperlihatkan ciri–ciri tumbuhan hidrofit sejati. Tumbuhan amfibi
yang batangnya terdapat di permukaan tanah, tetapi akarnya tetap terbenam di
dalam rawa atau tanah yang terendam di sebut sebagai “tumbuhan rawa”.

VI. HABITAT

a. Dimana Tumbuhnya
Menurut Tjitrosoepomo (2000), Cyperus alternifolius yang masuk ke
dalam bangsa Cyperaceae pada umumnya menyukai habitat yang lembab,
berair, dan berumpun. Tumbuhan air ini sebagian besar tumbuh dalam kondisi
lembab, tempat teduh dan beriklim utara dengan ekstensi ke dataran tinggi
tropis. Namun saat ini Cyperus alternifolius sangat jarang ditemukan karena
berkurangnya lahan basah yang merupakan habitatnya.
Menurut Dalimartha (2009) dalam Roza (2016), Tanaman ini biasanya
tumbuh secara liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari sinar matahari
seperti di tanah kosong, tegalan, lapangan rumput, pinggir jalan atau lahan
pertanian dan tumbuh sebagai gulma. Spesies ini didistribusikan seluruh dunia
tetapi sebagian besar dalam kondisi lembab, tempat-tempat beriklim dingin di
zona utara dengan ekstensi ke dataran tinggi tropis. Setiap tahunan tumbuhan ini
dapat ditemukan tumbuh di segala macam situasi, salah satunya di lahan basah.

b. Penyebarannya

7
Menurut Lemke (1999) dalam Suprihatin (2014), tanaman Cyperus
alternifolius merupakan tanaman hias yang berasal dari Madagaskar dan
merupakan jenis lain dari tanaman Papyrus yang berasal dari sungai Nil. Dapat
tumbuh cepat dilingkungan basah (berair), dengan variasi ketinggian tanaman
antara 0,5 – 1,5 meter. Berkembang biak setiap bulan secara vegetatif melalui
sistem perakaran maupun secara generatif melalui biji yang terletak diujung
batang pada pangkal daun.
Tanaman tersebut telah banyak dibudidayakan di Indonesia dengan
nama daerah/lokal adalah "Bintang Air", sehingga dengan mudah dapat dijumpai
di pekarangan penduduk maupun di toko pertanian/bunga. Kemampuan tanaman
Cyperus alternifolius untuk menyerap nitrogen (N) dan fosfor (P) dibanding
tanaman lain yang digunakan dalam sistem Lahan Basah uatan relatif masih
cukup baik (Supradata, 2005).

VII. REPRODUKSI

Menurut Lukito A. Marianto (2004), Cyperus alternifolius paling praktis


diperbanyak dengan cara memisahkan rumpun-rumpunnya, namun juga dapat
diperbanyak dengan cara pemotongan daun. Cyperus alternifolius memiliki kadar
pH optimum berkisar antara 5,25 – 7,2. Dalam tanah terdapat rimpang yang
merayap atau badan-badan seperti umbi dengan geragih yang merupakan alat
perkembangbiakan vegetatif.
Menurut Lemke (1999) dalam Suprihatin (2004), mengatakan bahwa
Cyperus alternifolius dapat berkembang biak setiap bulan secara vegetatif
melalui sistem perakaran maupun secara generatif melalui biji yang terletak
diujung batang pada pangkal daun. Sehingga besar kemungkinan sangat sulit
untuk dikendalikan tumbuhan yang berkembangbiak secara vegetative maupun
generative. Cyperus alternifolius merupakan jenis rumputan air yang dapat
berkembangbiak dengan cepat melalui rizhoma.

VIII. DESKRIPSI

a. CYPERUS ALTERNIFOLIUS MERUPAKAN GULMA


Menurut Dalimartha (2009), Cyperus alternifolius merupakan tumbuhan
yang biasanya tumbuh secara liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari
sinar matahari seperti di tanah kosong, tegalan, lapangan rumput, pinggir jalan
atau lahan pertanian dan tumbuh sebagai gulma. Tanaman ini sangat sulit

8
dikendalikan karena dapat berkembangbiakbaik secara vegetative maupun
generative.
Menurut Yunasfi (2007), Cyperus alternifolius dikatakan termasuk dalam
golongan gulma dikarenakan sifat-sifatnya sebagai berikut:
1. Mampu berkembang biak secara cepat baik melalui vegetative maupun
generative karena tumbuhan ini merupakan jenis rumputan yang dapat
berkembangbiak dengan cepat melalui rizhoma.
2. Memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri (adaptasi) yang tinggi dan
tetap hidup pada keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan.
3. Mempunyai sifat dormansi yang baik, sehingga kemampuan untuk tumbuh
dan berkembang sangat besar.
4. Mempunyai daya kompetisi yang tinggi.

b. BAGAIMANA PENANGULANGANNYA
Cara pengendalian gulma Cyperus alternifolius adalah dengan cara
kimiawi dengan menggunakan herbisida kontak (Sidaxone) karena herbisida
kontak adalah herbisida yang langsung mematikan jaringan-jaringan atau bagian
gulma yang terkena larutan herbisida, terutama bagian gulma yang berwarna
hijau. Herbisida jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika di gunakan
memberantas tanaman jenis gulma yang masih muda dan berwarna hijau, serta
gulma yang memiliki perakaran yang tidak meluas (Barus, 2003).
Menurut Moenandir (2003), Pengendalian gulma dapat juga dilakukan
apabila terjadi perubahan iklim dan tanggapan Cyperus alternifolius terhadap
perlakuan zat kimia terhadap herbisida yang digunakan. Selain itu, untuk
pengendalian perlu pengenalan secara tepat (nama, siklus hidup, pertumbuhan,
perkembangan). Saat pertumbuhan aktif, merupakan saat yg baik utk
melakukan tindakan pengendalian, terutama penggunaan herbisida. Jangan
ditunggu samppai membentuk biji, spora, atau alat perkembang-biakan lain.
Jenis tumbuhan yang mencuat di permukaan air, pada temperatur 45oC cukup
untuk menimbulkan proses koagulasi protoplasma sehingga tumbuhan layu dan
kering.

9
DAFTAR PUSTAKA

Barus, E. 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan. Kanisius, Yogyakarta.


Burnawi dan G.Subroto. 2011. Jenis Tumbuhan Air Di Suaka Perikanan Awang
Landas Perairan Sungai Barito, Kalimantan Selatan. BTL. 9(1).
Dalimartha, S. 2009. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 1. Trubus Agriwidya.
Jakarta.
Izzah. 2017. Laporan MK Tumbuhan Air. (Online),
(https://id.scribd.com/document/351608428/Laporan-MK-Tumbuhan-Air.
Diakses 13 Oktober 2017).
Kompas.com.2009. Rumput Payung: Si Bandel yang Fleksibel.
http://tekno.kompas.com/read/2009/08/11/06464188/rumput.payung.s
i.bandel.yang.fleksibel. Diakses pada 13 Oktober 2017. Pukul 17.45
WIB.
Lukito A. Marianto, 2004, Merawat dan Menata Tanaman Air, Penerbit Agro
Media Pustaka, Jakarta.
Meriavun. 2015. Identifikasi Gulma Dan Pengendalian Gulma Di Pembibitan
Main Nursery Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Di
PT. Kalpataru Sawit Plantation. Skripsi. Jurusan Manajemen Pertanian
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Samarinda
Putra, Robinsyah. 2017. Makalah Cyperales. (Online),
(http://www.academia.edu/23540815/makalah_cyperales. Diakses 13
Oktober 2017).
Roza, F. N. 2016. Efek Teratogenik Ekstrak Rimpang Rumput Teki (Cyperus
rotundus L.) Terhadap Jumlah Fetus, Panjang Ekstremitas Depan Dan
Belakang, Serta Malformasi Lainnya Pada Fetus Mencit (Mus musculus
L.). Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Sari, P., Sudarno, I. Wisnu. 2015. Pengaruh Jumlah Tanaman Cyperus
Alternifolius Dan Waktu Tinggal Limbah Dalam Penyisihan Kadar
Ammoniak, Nitrit, Dan Nitrat (Studi Kasus : Pabrik Minyak Kayu Putih).
Jurnal Teknik Lingkungan. 4 (2): 1-9.
Sudarmono. 1997. Mengenal dan Merawat Tanaman Hias Ruangan. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI).

10
Supradata. 2005. Pengolahan Limbah Domestik Menggunakan Tanaman Hias
Cyperus alternifolius, L. Dalam Sistem Lahan Basah Buatan Aliran Bawah
Permukaan (SSF-Wetlands). Tesis. Ilmu Lingkungan.
Supriatin, E. 2014. Cyperus alternifolius. (Online),
(https://id.scribd.com/doc/216577885/Cyperus-alternifolius. Diakses 13
Oktober 2017).
Suprihatin, Hasti. 2014. Penurunan Konsentrasi BOD Limbah Domestik
Menggunakan Sistem Wetland dengan Tanaman Hias Bintang Air
(Cyperus alternifolius). Dinamika Lingkungan Indonesia. 1 (2): 80-87.
Tjitrosoepomo, G. 2000. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Utomo, A. D., Asyari, & S. Nurdawati. 2001. Peranan suaka perikanan dalam
peningkatan dengan pola pengembangan daerah aliran sungai. Prosiding
Seminar Perikanan Perairan Umum. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perikanan.
Yunasfi. 2007. Permasalahan Hama, Penyakit dan Gulma Dalam Pembangunan
Hutan Tanaman Industri dan Usaha Pengendaliannya. USU Repository.

11