Anda di halaman 1dari 11

TUGAS ACUAN PERANCAH

( PLAT LANTAI )

OLEH :
Harum Fifi Yani
2 SF
061730100746

Dosen Pembimbing : Drs. Yurpino

JURUSAN TEKNIK SIPIL

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

TAHUN AJARAN 2017/2018


A. Definisi Bekisting

Bekisting dalam ilmu bahan bangunan adalah sebuah cetakan yang


bersifat sementara yang digunakan untuk menahan beton selama beton
dituang dan dibentuk sesuai dengan yang diinginkan dan merupakan suatu
sarana pembantu struktur beton untuk pencetak beton sesuai dengan ukuran,
bentuk, rupa ataupun posisi yang direncanakan. Karena bersifat sementara,
bekisting akan dilepas atau dibongkar setelah beton mencapai kekuatan yang
cukup.

Formwork atau bekisting merupakan salah satu faktor penting yang harus
direncanakan secara matang dalam suatu pekerjaan konstruksi beton. Menurut
Stephens (1985), formwork atau bekisting adalah cetakan sementara yang
digunakan untuk menahan beton selama beton dituang dan dibentuk sesuai
dengan bentuk yang diinginkan. Dikarenakan berfungsi sebagai cetakan
sementara, bekisting akan dilepas atau dibongkar apabila beton yang dituang
telah mencapai kekuatan yang cukup.

B. Fungsi Bekisting

1. Bekisting menentukan bentuk dari beton yang akan dibuat. Bentuk


sederhana dari sebuah konstruksi beton menuntut bekisting yang
sederhana.
2. Bekisting harus dapat menyerap dengan aman beban yang
ditimbulkan oleh spesi beton dan berbagai beban luar serta getaran.
Dalam hal ini perubahan bentuk yang timbul dan geseran-geseran
dapat diperkenankan asalkan tidak melampaui toleransi-toleransi
tersebut.
3. Bekisting harus dapat dengan cara sederhana dipasang, dilepas, dan
dipindahkan.
4. Untuk memberi bentuk kepada suatu konstruksi beton;
5. Untuk memperoleh struktur permukaan beton yang diharapkan;
6. Untuk memikul beton, hingga konstruksi tersebut cukup keras untuk
dapat memikul diri sendiri.

Selain fungsi utama di atas, fungsi lain dari bekisting yaitu untuk
memberikan ukuran yangsesuai dengan rencana desain beton selain itu
bekisting juga bisa befungsi untuk melindungi beoin yang belum kering dari
air hujan.

C. Jenis-Jenis Bekisting

1. Bekisting Tradisional
Bekisting ini dibuat dari kayu dan triplek (plywood) atau papan
yang tahan akan kelembaban. Sangat mudah untuk diproduksi tetapi
memakan waktu untuk struktur yang lebih besar, dan triplek yang
digunakan memiliki umur yang relatif singkat. Hal ini masih digunakan
secara luas di mana biaya tenaga kerja lebih rendah daripada biaya untuk
pengadaan bekisting yang dapat digunakan kembali (reusable). Ini juga
merupakan jenis bekisting yang paling fleksibel, karena dapat diterapkan
pada bentuk konstruksi yang rumit.

2. Sistem Bekisting Rekayasa (Engineering).


Bekisting ini dibangun dari modul prefabrikasi dengan bingkai logam
(biasanya baja atau aluminium) dan ditutup pada aplikasi (beton). Dua
keuntungan utama dari sistem bekisting, dibandingkan dengan bekisting
kayu tradisional, adalah kecepatan konstruksi ( pin dengan sistem
modular, klip, atau sekrup ) dan menurunkan biaya penggunaan kembali
(perkuatan, frame hampir tidak bisa dihancurkan, sementara jika terbuat
dari kayu, mungkin harus diganti setelah beberapa - atau beberapa lusin
penggunaan, tetapi jika penutup tersebut dibuat dengan baja atau
aluminium, penggunaan dapat mencapai hingga dua ribu penggunaan
tergantung pada perawatan dan aplikasi).
3. Bekisting Plastik Guna Kembali (Reusable).
Sistem ini saling terkait dan berbentuk modular. Digunakan untuk
membangun banyak macam bentuk truktur beton yang relatif sederhana.
Panelnya ringan dan sangat kuat. Jenis ini cocok untuk konstruksi berbiaya
rendah, dan skema perumahan massal.

4. Bekisting Permanen Terisolasi (Insulated).

Bekisting ini dirakit di tempat, biasanya untuk isolasi bentuk beton


/ insulating concrete forms (ICF). Bekisting tetap di tempat setelah beton
telah diawetkan (cured), dan dapat memberikan keuntungan dalam hal
kecepatan, kekuatan, isolasi termal dan akustik yang superior, ruang untuk
menjalankan utilitas dalam lapisan EPS, dan jalur terintegrasi untuk
pemasangan cladding.

5. Sistem Bekisting Struktural Stay-In-Place .


Bekisting ini dirakit di tempat, biasanya keluar dari prefabrikasi
dengan diperkuat serat berbahan plastik. Ini tersedia dalam bentuk tabung
berongga, dan biasanya digunakan untuk kolom dan dermaga. Bekisting
tetap di tempat setelah beton telah awet (cured) dan bertindak sebagai
penguat aksial dan geser, serta melayani untuk membatasi beton dan
mencegah terhadap dampak lingkungan, seperti korosi dan siklus beku.

D. Persyaratan Bekisting yang Baik

Dalam mekanisme pembuatan cor beton bangunan, bekisting


merupakan bagian yang bisa dikatakan terpenting. Itu sebabnya,
perancangan bekisting perlu memperhatikan syarat-syarat tertentu yang
mendukung kualitasnya. Di bawah ini sejumlah persyaratan yang harus
dipenuhi oleh bekisting yang baik :

1. Konstruksinya Kuat
Bekisting yang baik memiliki kekuatan setara dengan beban yang
bakal ditopangnya. Kekuatan yang dimaksud mampu menjaga tingkat
kestabilan selama proses pengecoran maupun setelahnya. Dengan
demikian pembangunan konstruksi pun dapat berjalan lancar sesuai
rencana dan mempunyai risiko yang rendah.

2. Ketetapan Bentuk

Bentuk bekisting dibuat sedemikian rupa agar sesuai dengan


konstruksi beton yang diinginkan. Perhatikan pula kerataan dan ketegakan
bekisting tersebut. Bekisting yang baik selalu memiliki tingkat kerataan
yang kokoh.

3. Tidak Bocor

Persyaratan ketiga yaitu bekisting wajib dipastikan tidak bocor.


Strukturnya harus dibuat serapat mungkin sehingga air yang terkandung di
adukan semen tidak keluar. Tujuannya supaya dimensi bekisting yang
tercetak memiliki ukuran yang benar-benar akurat.

4. Bersifat Kedap Air

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan bekisting


seyogyanya dipilih yang bersifat kedap air. Hal ini dimaksudkan supaya
material tersebut tidak menyerap air semen yang terdapat di dalam adukan
beton. Fungsi lainnya yakni agar beton mudah dilepaskan dari bekisting
sehingga hasilnya permukaan beton tersebut tetap mulus.

5. Gampang Dibongkar

Seperti yang sudah disebutkan di atas, struktur bekisting dipakai


untuk sementara waktu. Artinya struktur ini perlu direncanakan agar kaku,
kuat, dan stabil. Di samping itu, bekisting pun sebaiknya juga gampang
dipasang serta dibongkar kembali.
E. Pembenanan

Berbagai beban yang perlu diperhatikan dalam merencanakan


sebuah bekisting,pada prinsipnya berawal dari beban vertical dan beban
horizontal serta pengaruh khusus angin dan getaran yang ditimbulkan oleh
vibrator. Dengan demikian sebuah bekisting harus diperhitungkan
terhadap kekuatan, kekakuan dan kestabilan. Beban yang dipikul dan harus
diperhitungkan dalam perencanaan bekisting adalah sebagai berikut :

 Beban tetap, yaitu berat sendiri dari bekisting, beton segar serta
besi tulang
 Beban tidak tetap, adalah berat peralatan, pekerja, dan barang
lainnya.

Beban ini harus mampu dipikul oleh bekisting dan hanya diperbolehkan
terjadi lendutan sebesar maksimum yang diijinkan. Perhitungan beban
vertikal yang direkomendasikan oleh Commitee ACI, sebagai dasar
perhitungan adalah :

 Beton bertulang : 2400 kg/m3


 Bekisting :70 kg/m2
 Beban hidup : 235kg/m2
 Beban hidup min : 150-250 kg/m2

Sedangkan beban horisontal terjadi pada proses pengecoran sebagai akibat


dari tekanan hidrostatis. Jadi tekanan horisontal dipengaruhi oleh :

 Mortal beton, berat volume, plastisitas dan kecepatan pengerasan


 Proses pengeoran, temperatur lapangan, kecepatan
pengecoran,metode kerja serta pemadatan
 Beksiting, tinggi,bentuk dan dimensi
 Kondisi tulangan : jarak dan besar tulangan.
Besarnya defleksi yang diperkenankan pada konstruksi beton dan dapat
dipakai pada konstruksi bekisting adalah antara 1/300 -1/360 L. Dan
beberapa bagian bekisting yang harus dikontrol defleksinya antara lain:

 Lapis penutup
 Balok pembagi
 Pendukung joist/stud dan juga waler (klem)

F. Faktor Penggunaan Metode Bekisting

1. Kondisi struktur yang akan dikerjakan

Hal ini menjadi pertimbangan utama sebab sistem perkuatan


bekisting menjadi komponen utama keberhasilan untuk menghasilkan
kualitas dimensi struktur seperti yang direncanakan dalam bestek. Metode
bekisting yang diterapkan pada bangunan dengan dimensi struktur besar
tentu tidak akan efisien bila diterapkan pada dimensi struktur kecil.

2. Luasan bangunan yang akan dipakai

Pekerjaan bekisting merupakan pekerjaan yang materialnya


bersifat pakai ulang (memiliki siklus perpindahan material). Oleh karena
itu, luas bangunan ini menjadi salah satu pertimbangan utama untuk
penentuan berapa kali siklus pemakaian material bekisting. Hal ini juga
akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya pengajuan harga satuan
pekerjaan.

3. Ketersediaan material dan alat

Faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah kemudahan atau


kesulitan untuk memperoleh material atau alat bantu dari sistem bekisting
yang akan diterapkan.
4. Work-Time

Waktu yang diperlukaan dalam membuat dan memasang bekisting

5. Harga Bahan dan Upah Kerja

G. Kesimpulan
Bekisting adalah merupakan konstruksi bersifat sementara yang
berfungsi untuk mencetak beton pada saat masih segar. Bekisting harus
didesain dan dibuat dengan kekakuan (stiffness) dan keakurasian sehingga
bentuk, ukuran, posisi, dan penyelesaian dari pengecoran dapat
dilaksanakan sesuai dengan toleransi yang diinginkan dengan
memperhatikan faktor keamanan dan nilai ekonomis yang tinggi.
Bekisting dibagi dua jenis yaitu konvensional dan sistem namun harus
memiliki kestabilan dan daya dukung yang tinggi sehingga dapat
dilakuakn antisipasi dan pengendalian terhadap kualitas dari bekisting
tersebut.
H. Gambar