Anda di halaman 1dari 56

Laporan Kerja Praktek

Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PT Perta-Samtan merupakan perusahaan gabungan antara PT Pertamina Gas dan Samtan


Co., Ltd., yang didirikan dengan tujuan mendukung program Pemerintah Indonesia dalam
mengurangi beban subsidi BBM dan memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, khususnya
LPG dan Condensate.

PT Perta-Samtan Gas berkantor pusat di Komplek PT Pertamina (Persero)-RU III Desa


Sungai Gerong Kecamatan Banyuasin I Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Kami
memiliki kilang terintegrasi yang beroperasi pada dua lokasi, Kota Prabumulih yang dekat
dengan sumber feed gas sebagai sumber produksi LPG, dan Kabupaten Banyuasin, tempat
pemrosesannya menjadi LPG. Untuk menjaga kelancara proses produksi perusahaan maka
perlunya perawatan alat-alat pendukung produksi salah satunya motor-motor listrik, Generator,
air compressor dan alat-alat seluruhnya yang menggunakan energy listik.

Mengingat pentingnya energi listrik bagi PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai
Gerong ini, maka harus diusahakan agar energi listrik dapat tersedia secara kontinu dan harus
memiliki reliabilitas serta keandalan yang tinggi. Kegagalan dalam pembangkitan dan
penyaluran tenaga listrik akibat gangguan-gangguan pada sistem kelistrikan di perusahaan ini
dapat menyebabkan terhentinya proses produksi. Sekali saja system kelistrikan terganggu,
kerugian atau Loss Production akan sangat besar pengaruhnya mengingat kapasitas produksi
yang sangat tinggi setiap harinya.

Dalam hal ini Sistem Distribusi Tenaga Listrik yang baik merupakan salah satu hal yang
penting untuk diperhatikan untuk mengatur pembagian-pembagian dan control tenaga listrik
yang nantinya dari Sistem Distribusi Tenaga Listrik ini disalurkan ke masing-masing wilayah
yang akan menggunakan energi listrik.

Oleh karena itu demi tercapainya kontinuitas layanan, maka perlu dilakukan maintenance
secara berkala sehingga kondisi Sistem Distribusi Tenaga Listrik dapat terus terpantau. Selain itu
juga perlu dilakukan proteksi dari berbagai gangguan yang mungkin terjadi dengan
menggunakan berbagai macam jenis alat proteksi.

Dengan itu maka penulis melakukan kerja praktek di PT. Perta-Samtan Gas Kilang
Fraksinasi Sungai Gerong untuk melihat secara langsung dan mencari informasi mengenai
bagaimana sistematika Distribusi Tenaga Listrik di Perusahaan PT. Perta-Samtan Gas Kilang
Fraksinasi Sungai Gerong dengan produksi yang baik.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 1


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

1.2 Tujuan Kerja Praktek


Selai untuk memenuhi salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa Teknik Elektro
Universitas Sumatera Utara, yaitu mata kuliah Kerja Praktek dengan bobot 2 SKS, kerja praktek
ini juga memiliki tujuan :

a) Membuka wawasan mahasiswa mengenai aplikasi dan implementasi bidang ilmu yang
telah dipelajari pada dunia nyata
b) Memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh hands-onexperience dan
merasakan sendiri suasana dunia kerja
c) Memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mempelajari struktur organisasi,
pembagian tugas, sistem bisnis, peraturan kerja, dan hal-hal lain yang berhubungan
dengan operasi perusahaan
d) Mengasah kemampuan mahasiswa untuk berpikis analitis dan memecahkan masalah
berdasarkan hal-hal yang telah dipelajari
e) Mengetahui bagaimana proses maintenance dan proteksi transformator daya

1.3 Waktu dan Tempat Pelasanaan

Waktu Pelaksanaan : 31 Januari s.d 01 Maret 2018


Tempat Pelaksanaan : PT. PERTA-SAMTAN GAS Kilang Fraksinasi Sungai Gerong
Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin.

1.4 Metodelogi Penulisan

Metodologi yang digunakan dalam pelaksanaan kerja praktek, pengumpulan data, dan
penyusunan laporan adalah sebagai berikut :

a) Studi Literatur
Studi Literatur diperlukan untuk memperoleh referensi mengenai permasalahan
yang akan diteliti. Literatur yang digunakan bersumber dari buku, internet, manual data,
dan slide-slide teknis yang dimiliki oleh PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai
Gerong

b) Diskusi dan Wawancara


Diskusi dilakukan dengan pembimbing kerja praktek yang merupakan Power
System Engineer di PT.Perta-Samtan Gas. Selain itu, dilakukan juga diskusi dengan
engineer-engineer lainnya yang memiliki pengalaman dan berhubungan dengan sistem
proteksi dan maintenance pada Distribusi Tenaga Listrik di PT.Perta Samtan Gas.

c) Studi Lapangan
Dilakukan dengan :
 Mengamati kondisi fisik dan berbagai alat proteksi yang digunakan pada
Distribusi Tenaga Listrik dan Instrumen Lainnya.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 2


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

1.5 Batasan Masalah


Adapun batasan masalah pada Laporan Kerja Praktek di PT.Perta-Samtan Gas Kilang
Fraksinasi Sungai Gerong adalah Proteksi dan Sistem Distribusi Tenaga Listrik.

1.6 Sistematika Penulisan


Adapun sistematika yang penulis gunakan dalam penulisan laporan kerja praktek kali ini
adalah :

BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang dilakukannya kerja praktek, tujuan dan manfaat kerja
praktek baik bagi mahasiswa, universitas dan perusahaan, waktu dan tempat dilaksanakannya
kerja praktek, batasan masalah, metode penulisan dan sistematika penulisan
laporan kerja praktek.

BAB II PT. PERTA-SAMTAN GAS KILANG FRAKSINASI SUNGAI GERONG.


Berisi tentang sejarah singkat PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong,
lokasi dan daerah operasi, bahan baku dan produk, kegiatan operasi berupa kegiatan eksplorasi,
kegiatan produksi dan lapangan minyak. Bab ini juga berisikan penjelasan mengenai
Departement PG&T yaitu berupa tinjauan umum, struktur organisasi, adsministrator, planning
and development dan transmission ditribution and operation. Selain itu bab ini juga akan
membahas mengenai sistem kelistrikan di PT. CPI yaitu berupa sistem pembangkit tenaga
listrik, system transmisi dan distribusi, substation, hot line network, dan SCADA.

BAB III SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK DI PT.PERTA-


SAMTAN GAS KILANG FRAKSINASI SUNGAI GERONG
Sistem Jaringan Distribusi Tenaga Listrik sdi PT.Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi
Sungai Gerong Menjelaskan Tentang Singgel Line Diagram Jaringan Distribusi Tenaga Listrik
Secara Umum yang didapat dari RU III sebesar 6.6 kV melalui Switchgear yang dialirkan ke
sungai gerong dan masuk ke VCB dan diteruskan ke Transformator step-down lalu masuk ke
Switchgear yang ada di sungai gerong sebesar 400VAC untuk load-load beban yang ada di
kilang Fraksinasi khususnya di MCC Room.

BAB IV PERAWATAN PERALATAN DISTRIBUSI DAN BEBAN


membahas mengenai standart maintenance Distribusi, jenis-jenis maintenance dan
berbagai jenis pengujian yang dilakukan pada rele.

BAB V PROTEKSI SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI


Membahas mengenai Sistem proteksi pada Jaringan Distribusi daya. Mulai dari tinjauan
proteksi secara umum hingga pembahasan mengenai semua jenis rele yang digunakan guna
memproteksi Jaringan Distribusi pada sistem kelistrikan PT. Perta-Samtan Gas Sungai Gerong.

BAB VI PENUTUP
Berisikan kesimpulan akan topik yang dibahas dan berupa saran ,dan juga beberapa data
lampiran yang mendukung isi laporan

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 3


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

BAB II
PT. PERTA-SAMTAN GAS
KILANG FRAKSINASI SUNGAI GERONG

2.1 Sejarah Singkat PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

Perusahaan didirikan tanggal 7 Mei 2008 dengan tujuan memproduksi LPG (Liquified
Petroleum Gas) dalam rangka mendukung program Pemerintah dalam penyediaan energi bagi
masyarakat, sekaligus mengurangi beban pemerintah dalam subsidi BBM.

Pada bulan Agustus 2010, E1 Corporation mengalihkan kepemilikan seluruh sahamnya kepada
Samtan Co., Ltd Korea, suatu perseroan terbatas dari Korea Selatan. Selanjutnya, sebagai
realisasi pengalihan saham tersebut, pada 28 Januari 2011 terjadi perubahan nama PT E1-
Pertagas menjadi PT Perta-Samtan Gas.

PT Perta-Samtan Gas mendirikan Kilang NGL Plant yang terdiri atas Kilang Ekstraksi di
Prabumulih dan Kilang Fraksinasi di Sungai Gerong, dengan kapasitas desain 250 MMSCFD.
Pembangunan konstruksi kilang (EPC dan Commissioning) dilaksanakan oleh PT Tripatra
Engineers & Constructors (TPEC) dari bulan Juli 2010 sampai bulan April 2013. Proyek tersebut
diresmikan oleh Presiden RI pada tanggal 6 Desember 2012.

Periode pre-commissioning dan commissioning dilaksanakan pada Desember 2012 hingga April
2013 yang menghasilkan produksi LPG sebesar 12.166 MT dan Kondensat sebesar 54.847 bbl.
Dari hasil commissioning tersebut, PT Perta-Samtan Gas menjual LPG sebesar 8.602 MT
sebagai unspect LNG dan pengiriman Kondensat ke PT Pertamina EP sebesar 48.074 bbl. PT
Perta-Samtan Gas memulai kegiatan operasi secara komersial untuk pertama kali pada tanggal 1
Mei 2013.

Kandungan LPG saat ini dalam feed gas sebesar 3,1 % mol C3 dan 1,45% mol C4 dibandingkan
dengan desain awal (3,39% mol C3 dan 1,48% mol C4). Kapasitas maksimum kilang PT Perta-
Samtan Gas saat ini hanya mampu memproduksi 500-540 MT/hari yang berarti masih beroperasi
pada 75% dari kapasitas desain.

Sejak dimulainya operasi komersial tanggal 1 Mei 2013 hingga 31 Desember 2016, kilang PT
Perta-Samtan Gas telah memproduksi LPG sebesar 657.425 MT dan handling Kondensat sebesar
2.159.850 bbl. Pengiriman LPG ke PT Pertamina (Persero) sebesar 658.181 MT dan handling
Kondensat ke PT Pertamina Gas sebesar 2.170.405 bbl.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 4


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

2.2 Alur Produksi


2.2a Kilang Ekstraksi

 Ringkasan Proses PSGAS


Perta Samtan Gas dirancang untuk mengekstrak jumlah optimum cairan
gas alam dari kombinasi sumber gas pada kapasitas 250 MMscfd yang tersedia di
stasiun meteran gas SKG-10 Prabumulih Barat. Kilang Ekstraksi NGL, yang
terletak berdekatan dengan stasiun meteran SKG-10, menyediakan sarana untuk
mengekstraksi cairan gas alam dari pipa gas . Setelah ekstraksi, gas ramping
(residu) dikembalikan ke stasiun metering dan cairan yang diekstraksi
dipindahkan ke pabrik Fraksinasi yang berlokasi di kilang Pertamina Plaju /
Sungai Gerong, yang disebut Refinery Unit (RU) III di Palembang. Pipa yang
dikubur sepanjang sekitar 89.6 km mengangkut cairan ke kilang tersebut. Di
kilang, cairan di-fraksinasi dan disimpan dengan fasilitas pemuatan kapal yang
dipasang di dermaga yang ada dan diangkut dengan pipa ke Dom Gas yang
terletak di Plaju.

 Metering Station (SKG-10)


Feed gas yang dipasok ke Pabrik Ekstraksi NGL diambil dari dua
jaringan pipa yang ada yang terletak di stasiun meteran gas SKG-10 yang
berdekatan yaitu (1) 28 “Pipa feed gas dari SKG PPGS Benuang yang berakhir
pada pig receiver-nya dan (2) 20″ feed gas dari SKG Musi berakhir pada pig
receiver-nya. Feed gas dipindahkan ke tipe vertikal Inlet Slug Catcher untuk
memisahkan kondensat bebas dan air dari pipa gas. Feed gas yang dipisahkan
sebagai uap ditransfer ke feed gas metering untuk mengukur volume aktual feed
gas dan komposisi gas. Lean gas yang berasal dari kilang ekstraksi dipindahkan
ke lean gas metering di SKG-10 untuk mengukur volume aktual lean gas dan
komposisi gas.

(Gambar 2.2.a. Metering Station (SKG-10))

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 5


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

 Proses Ekstraksi NGL


Kilang ekstraksi NGL menyediakan sarana untuk mengekstrak NGL dari
pipa gas. Ekstraksi lean (residu) Gas metana (C1) dan Ethane (C2) dengan De-
Ethanizer kembali ke stasiun gas metering dan ekstraksi NGL (Propane / C3,
Butane / C4, Kondensat / C5 +) dipindahkan ke pabrik Fraksinasi yang berada di
RU III Pertamina Plaju / Sungai Gerong, Banyuasin. Pabrik Ekstraksi NGL di
Prabumulih dirancang untuk bisa bekerja mandiri yang dilengkapi dengan
penyediaan semua sistem utilitas, satu dan hanya di seluruh sistem jalur, sebagai
pemasok feed gas, kembali ke lean gas, jaringan pipa NGL, dan memiliki
fasilitas pembangkit listrik tenaga gas dengan kapasitas generator diesel darurat
3×725 kW dan 1 unit dengan kapasitas 537 kW. Pabrik Ekstraksi NGL di
Prabumulih yang terletak di sebelah gas metering station PEP-SBS SKG-10,
menyediakan fasilitas untuk mengekstrak NGL dari pipa gas dari lapangan gas
PEP di Sumatera Selatan. Gas buang gas Metana (C1) dan Ethane (C2) dari
proses De-Ethanizer kembali sebagai gas ke gas metering station, sedangkan
Propane / C3, Butane / C4, Condensate / C5 + dialihkan ke Kilang Fraksinasi
yang terletak di RU III Sungai Gerong di Palembang dengan jaringan pipa NGL
berukuran 8 inci dengan panjang ± 90 km.

(Gambar 2.2.b Proses Ekstraksi NGL)

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 6


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

* Peralatan Utama (Keterangan Gambar 2.2.b Proses Ekstraksi NGL)

1. COMPRESSION Sistem Kompresi adalah untuk meningkatkan tekanan natural


SYSTEM feed gas guna mendapatkan tekanan untuk kebutuhan DHU
dan meningkatkan tekanan lean gas untuk mendapatkan
tekanan memasuki area gas netwerk SBS.
1.1 Feed Gas Compressor : – Mengkompresi feed gas (400 psig ke 750 psig)
1.2 Lean Gas Compressor : – Mengkompresi lean gas (250 psig ke 550 psig)
2. DEHYDRATION Sistem De-Hydration ini berada pada sistem pengumpanan feed
SYSTEM gas hilir, namun sebelum ke sana, feed gas memasuki sistem proses
pendinginan (NGL Recovery System). Alas Molecular Sieve
Adsorbent digunakan untuk merawat feed gas agar mengeluarkan
hidrat dalam gas sebelum memasuki Sistem Pemulihan NGL.
2.1 Dehydration Unit : Dehydration units terdiri dari 3 x 100% Molecular Sieve
Dehydration Vessels (Langkah Penyerapan & Langkah
Regenerasi).
3. NGL RECOVERY Inti dari kilang ekstraksi adalah sebuah fasilitas yang mirip dengan
STSTEM kriogenik dan dapat mendinginkan diri. Setelah perawatan untuk
menghilangkan hidrat pada Sistem Dehidrasi, feed gas melewati
dua penukar panas paralel, Penukar Gas Cair dan Penukar Feed
Gas / Resinimum untuk mendinginkan dan sebagian
mengembunkannya.
3.1 Exchanger : Pertukaran panas antara feed gas & gas suhu rendah ekstrim yang
diedarkan dengan proses pemulihan lainnya.
3.2 Expander & Compressor : Proses untuk menurunkan suhu ekstrem feed gas dari -35 F ke -125
F.
3.3 Deethanizer Column : Proses pemisahan Lean Gas dan NGL yang dihubungkan dengan
unit kriogenik (exchanger & expander).

2.2b Proses di Kilang Fraksinasi

 Ringkasan Proses PSGAS


Perta Samtan Gas dirancang untuk mengekstrak jumlah optimum cairan
gas alam dari kombinasi sumber gas pada kapasitas 250 MMscfd yang tersedia di
stasiun meteran gas SKG-10 Prabumulih Barat. Kilang Ekstraksi NGL, yang
terletak berdekatan dengan stasiun meteran SKG-10, menyediakan sarana untuk
mengekstraksi cairan gas alam dari pipa gas . Setelah ekstraksi, gas ramping
(residu) dikembalikan ke stasiun metering dan cairan yang diekstraksi
dipindahkan ke pabrik Fraksinasi yang berlokasi di kilang Pertamina Plaju /
Sungai Gerong, yang disebut Refinery Unit (RU) III di Palembang. Pipa yang
dikubur sepanjang sekitar 89.6 km mengangkut cairan ke kilang tersebut. Di
kilang, cairan di-fraksinasi dan disimpan dengan fasilitas pemuatan kapal yang

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 7


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

dipasang di dermaga yang ada dan diangkut dengan pipa ke Dom Gas yang
terletak di Plaju.

 Metering Station (SKG-10)


Feed gas yang dipasok ke Pabrik Ekstraksi NGL diambil dari dua
jaringan pipa yang ada yang terletak di stasiun meteran gas SKG-10 yang
berdekatan yaitu (1) 28 “Pipa feed gas dari SKG PPGS Benuang yang berakhir
pada pig receiver-nya dan (2) 20″ feed gas dari SKG Musi berakhir pada pig
receiver-nya. Feed gas dipindahkan ke tipe vertikal Inlet Slug Catcher untuk
memisahkan kondensat bebas dan air dari pipa gas. Feed gas yang dipisahkan
sebagai uap ditransfer ke feed gas metering untuk mengukur volume aktual feed
gas dan komposisi gas. Lean gas yang berasal dari kilang ekstraksi dipindahkan
ke lean gas metering di SKG-10 untuk mengukur volume aktual lean gas dan
komposisi gas.

(Gambar 2.2.c Matering Station (SKG-10))

 Proses Kilang Fraksinasi


Pada Kilang Fraksinasi, NGL akan dimurnikan melalui ruang De-
Propanizer untuk menjadi Propane Murni (C3) dan De-Butanizer menjadi Butane
(C4) dan kemudian dicampur dengan mixer statis, yang dikenal sebagai Mixed
Liquid Petroleum Gas (Mixed LPG) yang disimpan di tangki penyimpanan
2×1.000 MT dan 2×2.000 kapasitas MT dan Kondensat (C5 +) disimpan di
tangki penyimpanan dengan kapasitas 25.000 barel dan dipindahkan melalui pipa
sepanjang 1,2 km ke fasilitas bongkar muat kapal di dermaga. Sedangkan yang
melaui pipa sepanjang 4, 2 km ke Pulau Layang (Gasdom) untuk kebutuhan stok
Sumatera Selatan (Palembang, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung).
Pada Kilang Fraksinasi di Banyuasin, beberapa sistem utilitas seperti listrik yang
dipasok oleh Refinery Unit III PT Pertamina (Persero) berkapasitas 900 kW
dilengkapi dengan dua (2) unit transformer 6,6 kV. Produk dari kilang LPG
adalah campuran LPG. NGL diproses melalui kolom De-Propanizer dan De-
Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 8
Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

Butanizer menjadi Propana murni (C3) dan Butane (C4). LPG campuran
kemudian disimpan di tangki penyimpanan 2×1.000 MT dan kapasitas 2×2.000
MT, sedangkan kondensat (C5 +) disimpan di tangki penyimpanan kondensat
berkapasitas 25.000 barel. Produk LPG ditransfer melalui pipa sepanjang 1,2
kilometer di Jetty – 1 yang akan dikirim ke luar Palembang, sedangkan untuk
kebutuhan Palembang dikirim melalui pipa sepanjang 4,2 km ke Pulau Layang
(Gasdom), untuk Palembang, Jambi, Bengkulu, Lampung dan Bangka Belitung.

(Gambar 2.2.d Proses Kilang Fraksinasi)

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 9


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

* Peralatan Utama (Keterangan Gambar 2.2.d Proses Kilang Fraksinasi)

1. FRACTIONATION SYSTEM Sistem Fraksinasi dimaksudkan untuk menghasilkan


propana dan campuran LPG secara terpisah. Sistem
ini terdiri dari proses utama berikut yang terdiri
dari proses utama berikut :
1.1 Depropanizer : Fraksinasi propana (C3) dari NGL.
1.2 Debutanizer : Fraksinasi butana (C4) dan kondensat (C5+) dari
residual liquid dari depropanizer.
1.3 Static Mixer : Mencampurkan propana dan butana kemudian
mengirimkannya ke tangki LPG.
2. STORAGE & LOADING Produk yang sudah diproses disimpan pada tiap-tiap
SYSTEM tangki LPG dan tangki kondensat.
2.1 LPG loading : LPG yang sudah tercampur pada tiap tangki dikirim ke
dermaga no. 1. Sedangkan muatan LPG loader ke kapal
dan Dom Gas.
2.2 Condensate loading : Kondensat dikirim ke dermaga no. 1 dan muatan
kondensate loader ke kapal dan RU III.

2.3. Penjualan dan Pengiriman Produk

2.3a Penjualan Produk

a) Struktur Harga LPG


Ada banyak faktor yang menentukan harga jual LPG dan berikut penjelasan terhadap
faktor – faktor tersebut.
 Harga Acuan LPG di Dunia
LPG adalah komoditas yang diperdagangkan secara internasional dan
dipengaruhi oleh harga internasional. Acuan internasional untuk LPG adalah
Saudi Aramco Contract Price, yang biasa disebut CP. Perubahan CP setiap bulan,
memaksa tinjauan harga setidaknya sekali per bulan. Indonesia tidak memiliki
pengaruh terhadap tolok ukur harga LPG, karena produksi LPG Indonesia yang
kecil dibandingkan produksi di seluruh dunia.
Tentang Harga Kontrak Aramco Saudi (CP) Pada tahun 1980an dan
1990an, Arab Saudi, pemasok lebih dari setengah volume perdagangan LPG
dunia, memiliki pengaruh dalam menentukan harga LPG internasional.
Akibatnya, perdagangan LPG global ditentukan oleh Saudi Aramco Contract
Price (CP). Harga internasional Saudi Aramco Contract Price (CP) di pasar
dinyatakan dalam $ AS per metrik ton. CP ditetapkan pada harga komoditas
propana dan butana, serta diterbitkan pada hari pertama kerja setiap bulan dan
ditetapkan sampai akhir bulan tersebut. CP ditetapkan setiap bulan oleh in-house
committee yang terdiri dari pakar penjualan dan pemasaran Saudi Aramco.
Rumusnya didasarkan pada 4 (empat) elemen yaitu : a. market sentiment, b. spot
Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 10
Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

market assessments, c. the values of naphtha and crude oil, d. 3 (three) monthly
spot sale tenders the results of which Saudi Aramco keeps confidential.

b) Kurs
CP dinyatakan dalam dolar AS per ton. Karena harga internasional untuk LPG
dalam dolar AS, nilai tukar Rupiah juga mempengaruhi harga jual LPG di Indonesia.
Nilai tukar yang berubah berkali-kali tiap hari, membuat pengaturan dan penerbitan harga
menjadi tantangan tersendiri.

c) Biaya Transportasi LPG


Biaya transportasi dan biaya terminal kilang merupakan bagian penting dari
keseluruhan biaya LPG yang dikirim. LPG Indonesia bersumber dari ladang minyak, gas,
kilang dan importir. Bervariasinya berbagai lokasi geografis Indonesia, membuat harga
jual elpiji juga menjadi bervariasi menurut lokasi dan jarak dari sumbernya.
Ada 3 (tiga) variabel biaya transportasi terkait jarak tempuh yaitu:
a. Jarak dari sumber ke terminal utama
b. Jarak dari terminal utama ke berbagai gudang lokal
c. Jarak dari gudang lokal ke lokasi akhir

d) Volume yang digunakan


Biaya untuk melayani pengguna dengan volume yang lebih besar biasanya kurang
dari pengguna dengan volume yang lebih rendah. Pengiriman jumlah yang lebih besar,
pada pengiriman tertentu lebih ekonomis. Ada juga biaya peralatan, biaya administrasi
rekening, dan biaya lainnya serta pertimbangan lainnya, bila tersebar lebih banyak, akan
mempengaruhi harga. Akibatnya, volume yang digunakan mempengaruhi harga jual
LPG.

e) Musim
Musim juga dapat mempengaruhi harga elpiji, karena permintaan di seluruh dunia
pada umumnya lebih tinggi selama musim dingin belahan bumi utara. Secara umum,
permintaan yang lebih tinggi menghasilkan pengetatan pasokan dan kenaikan harga.

f) Pajak
Pemerintah memengaruhi harga yang dibayar untuk LPG melalui penerapan
pajak. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) berlaku untuk semua harga jual LPG di Indonesia.
Hal ini menambah 14% dari harga LPG.

g) Permasalahan Geo-Political dan Gangguan Pasokan


Embargo, perang dan kerusuhan sosial di negara-negara produsen LPG dapat
mempengaruhi pasokan dan mendorong naik harga. Bencana alam, seperti gempa bumi
dan kebakaran, juga bisa mempengaruhi.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 11


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

h) Penjualan LPG PT Perta-Samtan Gas

(Gambar 2.3 Penjualan LPG)

PT Perta-Samtan Gas telah memproduksi LPG dan dijual kepada pembeli, yaitu PT
Pertamina (Persero) – Integrated Supply Chain / ISC. Harga jual LPG PT Perta-Samtan Gas
ditentukan oleh harga kontrak Saudi Aramco (CP) yaitu Propane (C3) dan Butane (C4), dengan
rumus sebagai berikut :
LPG price = USD [(AxCPAPropane)+(BxCPAButane)-α]
CPA: Reference price of LPG for Propane and Butane published price of Saudi Aramco
A: Percentage of weight from the content of Propane & lighter
B: Percentage of weight from the content of Butane & heavier
α: is a certain number, depend on freight basis
Berikut, catatan harga kontrak (CP) dan harga minyak sawit (CPO) Saudi Aramco dijelaskan di
bawah ini.

Average Yearly Price – CP & Crude (ICP)


Year Propane (USD/MT) Butane (USD/MT) ICP (USD/bbl)
2010 707.90 717.50 79.40
2011 828.80 870.80 111.55
2012 914.60 917.90 112.73
2013 857.50 884.60 105.85
2014 790.80 810.40 96.51
2015 416.30 436.70 49.21
2016 323.30 355.80 40.16
2017 430.00 476.67 48.41
(Jan~Sep)

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 12


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

(Gambar 2.3a Diagram Penjualan)

2.3b Pengiriman Produksi

1. Pengiriman LPG / Kondensat

Ada 4 (empat) tangki penyimpanan LPG dan 1 (satu) tangki penyimpanan


kondensat pada kilang fraksinasi. Kapasitas penyimpanan total LPG adalah 6.000 MT
yang terdiri dari 2 x 2.000 MT (campuran LPG) dan 2 x 1.000 mT (propana), dan
kapasitas penyimpanan kondensat adalah 25.000 bbl. Bila kita mengasumsikan kapasitas
operasi penuh, kapasitas penyimpanan ini bisa mencakup 8,5 hari produksi LPG dan 12
hari produksi Kondensat.

1. Fasilitas Pengiriman Produk


Sementara semua produk kondensat dikirim melalui pipa, pengiriman produk
LPG selain dikirim melalui pipa sepanjang 4.2 km ke Stasiun Pengisian Pertamina di
Pulau Layang juga melalui dermaga. Agar bisa menggunakan dermaga untuk pengiriman
produk, PSGAS telah membuat perjanjian sewa dengan Pertamina RU III untuk
menggunakan dermaga # 1 selama 15 (lima belas) tahun yang digunakan secara sharing
operation. Kapasitas muatan produk melalui dermaga adalah LPG 120MT / jam dan
Kondensat 1.500 bbl / jam yang mempertimbangkan kapasitas pemompaan pompa,
metering dan pemuatan. Di sisi lain, kapasitas muatan LPG melalui pipa ke Pulau Layang
adalah 50MT / jam.

2. Fasilitas Penerimaan Produk


LPG yang dihasilkan dikirim ke stasiun pengisian elpiji di Pulau Layang melalui
pipa untuk memenuhi permintaan LPG di wilayah Sumatera Selatan dengan jumlah
pengiriman harian sekitar 300 ~ 400MT. Kapasitas penyimpanan LPG Pertamina di
Pulau Layang sekitar 1.255MT, dan Pertamina mendistribusikan LPG ke Sumatera
Selatan melalui truk tangki (15 ton) dan tabung elpiji (3 ~ 50kg). Sisa produk elpiji

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 13


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

dikirim ke Dumai, Pangkalan Susu, Pontianak dan Panjang oleh kapal (yang diatur oleh
ISC, berkapasitas 1.000 ~ 1.500 MT per kapal). Skema distribusi LPG dengan kapal
adalah sebagai berikut, dan 1 round trip diperlukan selama 7 ~ 10 hari.

(Gambar 2.3b skema distribusi)

Sementara itu, Kondensat dimiliki Pertamina EP, dan keseluruhan produk


kondensat dikirim ke Pertamina Refinery Unit III melalui pipa (milik Pertamina EP).

2. Sistem Pengiriman PSGAS

Keseluruhan pengiriman produk dapat dibagi menjadi 3 (tiga) langkah ;

Langkah Faktor Manajemen Remarks


Jadwal Tingkat Persediaan Feed gas Konfirmasi dengan Pertamina EP
Perencaan (perbulan)
Produksi LPG/Kondensat Prakiraan berdasarkan tingkat feed gas /
tingkat recovery / hari produksi dll.
Rasio pengiriman melalui kapal / Konfirmasi dengan Pertamina ISC
pipa LPG (perbulan)
frekuensi pengangkatan melalui
kapal perbulan
Jadwal Produksi dan Inventaris Berdasarkan tangki gauging (kondisi saat
Monitoring (Persediaan) LPG/Kondensat ini)
perhari
Prakiraan stok LPG/Kondensat Prakiraan perpekan / perbulan
berdasarkan rencana pengiriman
Produksi LPG dan nominasi tangki Simulasi stok untuk tiap tangki
pengiriman
Tes sampel awal LPG Dilakukan 3 hari sebelum jadwal angkat
kapal
Pelaksanaan Hasil tes akhir sampel Dilakukan sebelum dimulainya
Pengiriman pengiriman
Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 14
Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

Waktu Loading Manajemen menghabiskan waktu


pemuatan dari semua fase sampai dengan
loading selesai
Manajemen kerugian Kapal) membandingkan jumlah antara
pengukur tangki, pengukuran metering
dan kapal

Pipeline) membandingkan jumlah antara


pengukuran tangki dan metering

2.3c Produk PT. Patra-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

1. Produk LPG

(Gambar 2.3c Produk LPG)

LPG stands for Liquefied Petroleum Gas and is a mixture of light hydrocarbons which are
gaseous at atmospheric temperature and pressure. LPG is contained naturally in crude oil
and natural gas production fields and is also produced in the oil refining process. LPG’s
main components are Propane (C3H8) and Butane (C4H10) which are colorless, odorless,
tasteless and non-toxic. LPG is a popular fuel that is both versatile and environmentally
friendly. It can be readily liquefied for storage and transportation by a modest increase in
pressure or by a reduction in temperature. It can thus be moved around like a liquid, but
burned like a gas. The remarkably low production of NOx, air toxics and particles during
combustion make LPG one of the world’s most environmentally friendly sources of
energy. Liquefied LPG packs a lot of energy into a small space and its vaporization and
therefore, its combustion is efficient. Each kilogram contains around 12,000 kcal of
energy. LPG has a variety of uses in residential/commercial, industrial, transportation and
Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 15
Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

agricultural sectors, such as cooking, space heating, water heating, clothes drying, air-
conditioning, ceramic manufacturing, flame cutting, forklift fuel, motor fuel, power
generation, greenhouse heating, crop drying, and etc.

LPG Mixed Specification

Maximum RVP at 100°F : 120 psig


Maximum Outlet : 120°F
Temperature
Water Content : No Free Water
Corrosivity : 1 Copper Strip (prefer 1A)
Total Sulfur : 15 grains/ cu.ft.max. (ASTM-D784)
Composition:
C2 : < 0.2 % vol
C3 + C4 : > 97.5 % vol
C5 + : < 2.0 % vol

2. Produk Kondesat

(Gambar 2.3d Produk Kondesat)

A natural gas liquid with a low vapour pressure compared with natural gasoline,
light hydrocarbon and liquefied petroleum gas. Condensate is mainly composed of propane,
butane, pentane and heavier hydrocarbon fractions. The condensate is not only generated
into the reservoir, it is also formed when liquid drops out, or condenses, from a gas stream
in pipelines or surface facilities. Condensates are very similar to light stabilized crude oil
and are used as feedstock for oil refining and other petrochemical industries. Condensate
has always Gross Heating Value. Gross Heating Value shall mean the amount of heat that
is expressed in units of BTU, which is produced by complete combustion of 1 SCF of gas,
at a temperature of sixty degrees Fahrenheit and pressure of fourteen and seven tenths
Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 16
Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

pounds per square inch (atmosphere pressure). There are many condensate sources, and
each has its own unique condensate composition. In general, gas condensate has a specific
gravity ranging from 0.5 to 0.8.

Condensate Specification

Maximum RVP at 100°F : 11 psia (not specification, estimated


value)
Maximum Outlet : 120°F
Temperature

2.4 Kebijakan Keselamatan Proses PT Perta-Samtan Gas – South Sumatera NGL


PT.Perta – Samtan Gas (PSGAS) adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan
dan pemurnian gas alam menjadi LPG (Liquefied Petroleum Gos), khususnya area Sumatera
Bagian Selatan, berkomitmen melakukan pengelolaan keselamatan proses di area operasi
perusahaan yang memiliki potensi secara signifikan dan berdampak terhadap kesehatan dan
keselamatan pekerja, mitra kerja, masyarakat dan lingkungan sekitarnya, serta menyebabkan
kerugian asset maupun reputasi perusahaan.
Tujuan kami adalah untuk mengelola keselamatan proses pada operasi kami dengan
memastikan bahwa kontrol operasi dilakukan dengan baik dan efektif untuk mencegah dan
melakukan mitigasi terhadap dampak resiko keselamatan proses.
Manajemen & pekerja PT. Perta- Samtan Gas memiliki dedikasi yang tinggi dan
berkomitmen untuk:
 Pemenuhan terhadap perudang-undangan dan peraturan serta persyaratan lainnya yang
berlaku di bidang Keselamatan Proses.
 Melakukan identifikasi sistematis bahaya keselamatan proses (Process Hazard Analysis)
pada fasilitas secara berkala.
 Implementasi manajemen perubahan yang konsisten dan efektif.
 Meningkatkan pemahaman, kompetensi dan budaya kerja dalam pengelolaan bahaya
keselamatan proses.
 Membangun, memelihara dan memantau, untuk mencegah terjadinya insiden
keselamatan proses dengan melakukan monitoring dan mitigasi terhadap dampak
kejadian keselamatan proses.
 Mengenali dan melciporkan segala kejadian keselamatan proses.
 Pre Start Up Safety Review (PSSR) untuk fasilitas baru yang akan dioperasikan dan
pasca Planned Shutdown Maintenance.
 Inspeksi Pelindung Fisik (PBA) secara berkala dan tindak lanjut yang efektif berdasarkan
rekomendasi Process Hazard Analysis dan Physical Barries Assessment (PBA).

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 17


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

 Menyelidiki semua peristiwa keselamatan proses dan mengguncikan proses belajar dciri
kejadian dan secara terus menerus melakukan perbaikan dalam pengelolaan bahaya
keselamatan proses.

Untuk mencapai hal tersebut, PT Perta-Samtan Gas melakukan :


 Menerapkan Sistern Manajemen Keselamatan Proses yang efektif yang mencakup
pengembangan, secara berkala meninjau dan mengikuti standar keselamatan proses.\
 Menetapkan tujuan yang terukur dan target untuk terus meningkatkan kinerja
keselamatan proses.
 Melakukan analisis secara berkala dan bekelanjutan terhadap bahaya keselamatan proses
yang ada dalam operasi perusahaan.
 Memastikan bahwa kontrol operasi diimplementasikan dengan efektif untuk mencegah
insiden keselamatan proses.
 Mendidik dan melatih pekerja secara berkelanjutan dalam pengelolaan manajemen
keselamatan proses serta pelaporan kejadian keselamatan proses.
 Mengoperasikan dan memelihara asset/fasilitas perusahaan, dan melakukan pengelolaan
resiko dari dampak atau bahaya keselamatan proses serendah mungkin.
 Evaluasi dan menggabungkan proses belajar dari kejadian, dan turut berpartisipasi dalam
proses belajar dari kejadian untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
 Melakukan perbaikan secara berkelanjutan dalam pengelolaan keselamatan proses di area
operasi perusahaan.

Kebijakan ini didokumentasikan, diterapkan, dipelihara, dikaji ulang secara periodik,


dikomunikasikan kepada semua orang yang bekerja untuk perusahaan dan tersedia bagi
masyarakat yang memerlukan. Perhatikan Gambar Health, Safety, Environment & Quality
Berikut

(Gambar 2.4 Health, Safety, Environment & Qualit)

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 18


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong memiliki moto keselamatan
dalam bekerta yaitu HSE Golden Rules:

1. Permit to Work (PTW) – Ijin Kerja


Setiap pekerjaan yang dilakukan di area operasi perusahaan
harus menggunakan ijin kerja dan telah disetujui dan ditandatangani
oleh fungsi terkait. Identifikasi risiko dan pengendalian yang cukup
Gambar 2.4a :
harus dilakukan dengan membuat analisa risiko bahaya pekerjaan
Permit to Work
dalam dokumen HIRARC (Hazard Identification & Risk Control).

2. Energy Isolation (LO-TO) – Mengisolasi Energi


Setiap pekerjaan yang berhubungan dengan energy harus
dilakukan pemutusan energy. Semua pihak harus memasang kunci dan
hanya yang bersangkutan yang boleh membuka kembali kunci tersebut
Gambar 2.4b :
apabila pekerjaan telah selesai.
Energy isolation

3. Confined Space Entry (CSE) – Bekerja dalam Ruang Terbatas


Memasuki ruang terbatas harus menggunakan ijin kerja dan
prosedur yang relevan. Pastikan kandungan oksigen dan rute jalan
keluar untuk penyelamatan tersedia secukupnya.
Gambar 2.4c :
Confined Space Entry

4. Working at Height (WAH) – Bekerja di Ketinggian


Bekerja di ketinggian harus mengikuti persyaratan pekerjaan di
ketinggian. Gunakan alat pelindung diri yang dibutuhkan seperti Safety
Harness.

Gambar 2.4d :
Working at Height

5. Lifting Operation (LO) – Kegiatan Pengangkatan


Bekerja dengan menggunakan alat angkat harus memiki
rencana kerja pengangkatan. Pastikan inspeksi sebelum penggunaan
alat telah dilakukan sebelum memulai pekerjaan. Dilakukan oleh
Gambar 2.4a : operator yang memiliki SIO dan memakai alat angkat dengan
Permit to Work sertifikat yang masih berlaku

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 19


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

6. Excavation & Ground Disturbance (EXA) – Kegiatan Penggalian


Semua pekerjaan penggalian harus mengikuti persyaratan
pekerjaan penggalian. Melakukan penggalian tidak boleh menimbulkan
kerusakan instalasi bawah tanah, mencegah tanah longsor dan
menyediakan akses keluar masuk.
Gambar 2.4e :
Excavation &
Ground Disturbance

7. Management Of Change (MOC) – Manajemen Perubahan


Setiap terjadi perubahan rekayasa yang signifikan harus
mengikuti prosedur manajemen perubahan.

Gambar 2.4f :
Management Of
Change

8. Safety Driving (SD) – Mengemudikan Kendaraan


Menggunakan kendaraan yang layak jalan, memiliki Surat Izin
Mengemudi (SIM) dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

Gambar 2.4g :
Safety Driving

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 20


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

BAB III
SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK DI PT.PERTA-SAMTAN GAS
KILANG FRAKSINASI SUNGAI GERONG

3.1 UMUM

Sistem Distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik.Sistem distribusi ini
berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik besar (Bulk Power Source)
sampai ke Beban. Jadi fungsi distribusi tenaga listrik adalah;
1) pembagian atau penyaluran tenaga listrik ke beberapa tempat (Beban), dan
2) merupakan sub sistem tenaga listrik yang langsung berhubungan dengan beban

karena catu daya pada pusat-pusat beban (Beban) dilayani langsung melalui jaringan
distribusi.Tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit tenaga listrik besar dengan tegangan
dari 11 kV sampai 24 kV dinaikan tegangannya oleh gardu induk dengan transformator penaik
tegangan menjadi 70 kV ,154kV, 220kV atau 500kV kemudian disalurkan melalui saluran
transmisi. Tujuan menaikkan tegangan ialah untuk memperkecil kerugian daya listrik pada
saluran transmisi, dimana dalam hal ini kerugian daya adalah sebanding dengan kuadrat arus
yang mengalir (I2.R). Dengan daya yang sama bila nilai tegangannya diperbesar, maka arus yang
mengalir semakin kecil sehingga kerugian daya juga akan kecil pula.
Dari saluran transmisi, tegangan diturunkan lagi menjadi 20 Kv dengan transformator
penuruntegangan pada gardu induk distribusi, kemudian dengan sistem tegangan tersebut
penyaluran tenaga listrik dilakukan oleh saluran distribusi primer.

(Gambar 3.1 one line diagram primer)


Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 21
Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

Sumber Tenaga Listrik pada PT Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong
berasal dari PT. Pertamina Refinery Unit –III (RU-III) Sebesar 6.6 kV yang didistribusikan ke
PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong Melalui Swichgear (RU-III). Terdapat
Dua Busbar yang dikirim oleh Pertamina (RU-III) yaitu Busbar A dan Busbar B yang memiliki
tegangan sebesar 6.6kV lalu dikirim ke Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong
Melalui MCC Room.

3.2 Motor Control Center Room (MCC)

MCC merupakan pusat pengontrolan operasi motor listrik. Sebagai pusat pengontrolan,
artinya suatu MCC mampu mengontrol operasi beberapa motor secara bersamaan. Secara
lengkap, yang dimaksud dengan MCC adalah kumpulan beberapa komponen, yaitu motor starter,
bus bar dan peralatan Kontrol, yang kesemuanya berfungsi untuk melakukan pengontrolan
operasi motor listrik dan menempatkan komponen-komponen tersebut di dalam suatu panel-
panel yang terintegrasi yang terbuat dari lempengan campuran besi metal dan besi carbon. Satu
unit motor starter akan diletakkan di dalam satu unit panel.

(Gambar 3.2 MCC Room)

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 22


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

3.2a Jenis Jenis MCC Room


Jenis-Jenis MCC ditinjau dari tegangan yang menyuplainya dan berdasarkan jenis-jenis
pengoperasian motornya dapat dibagi sebagai berikut:
A) MCC Berdasarkan tingkat tegangan pensuplai Berdasarkan tingkat tegangan yang
mensuplai, MCC dapat dibedakan menjadi dua jenis antara lain:
1. MCC bersistem tegangan rendah, dimana level tegangan maksimum adalah 600V.
2. MCC bersistem tegangan menengah, dimana level tegangan maksimum sebesar
7,2KV. Pada aplikasinya, MCC bersistem tegangan rendah dipakai untuk mengontrol
operasi motor yang mempunyai tegangan nominal dari fasa ke fasa 380V.

B) MCC berdasarkan jenis pengoperasian motor


Dari jenis pengoperasiannya, dapat dibagi menjadi empat bagian antara lain:
1. Gabungan beberapa komponen (Motor Combination Starter) Dalam proses
pengontrolan motor, jenis ini didukung oleh beberapa peralatan utama, antara lain:
• Moulded case circuit breaker (MCCB) atau Motor Circuit Protector (MCP).
• Kontaktor magnetik.
• Relai pengaman gangguan beban lebih (overload relay).
• Trafo kontrol (control power transformer).
Pada umumnya jenis ini digunakan dalam proses pengontrolan motor dengan daya
kuda maksimum 200HP atau 150 KW dengan sistem tegangan rendah. Keuntungan
jenis ini adalah hanya membutuhkan ruangan yang lebih kecil. Hal ini disebabkan
karena komponen serta peralatan pendukungnya diletakkan dalam suatu panel dan
tidak terpisahkan. Keuntungan lainnya adalah waktu yang dibutuhkan untuk
melakukan penyambungan secara draw in dan pencabutan secara draw out antara
unit starter dengan bus bar jauh lebih cepat. Hal ini sangat bermanfaat bagi
kelangsungan jalannya operasi karena akan mempermudah kerja petugas pemelihara
jika unit tersebut mengalami gangguan. Selain itu dengan adanya sistem mechanical
interlock, jaminan keamanan akan lebih baik dari sisi pengoperasiannya baik bagi
petugas operasi maupun alat ini sendiri.

2. Pengoperasian Secara Manual


Pada jenis ini umumnya digunakan untuk mengontrol operasi motor yang
mempunyai daya kuda atau HP 2 maksimum sebesar 10 HP. Manual starter hanya
berupa suatu on-off saklar yang dioperasikan secara manual dimana alat tersebut
sekaligus berfungsi sebagai alat pengaman terhadap gangguan beban lebih.
Keuntungan dari tipe ini adalah pada saat tegangan sumber hilang karena posisi saklar
masih on sehingga pada saat tegangan sumber kembali normal, motor akan kembali

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 23


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

bekerja secara otomatis. Hal tersebut disebabkan karena tidak dilengkapi dengan alat
pengaman terhadap gangguan berupa hilangnya atau turunnya tegangan sumber. Akan
tetapi jenis ini memiliki kekurangan yakni sistem motor yang otomatis dapat
membahayakan petugas maupun bagi peralatan itu sendiri. Selain itu dengan tidak
adanya sistem pengamanan terhadap gangguan berupa turunnya tegangan sumber,
misalkan pada suatu kondisi tiba-tiba tegangan sumber turun menjadi sebesar 85% dari
tegangan nominal maka dengan jumlah kVA yang sama, motor akan menarik arus
listrik yang lebih besar dari arus nominalnya. Akibatnya jika penurunan tegangan
sumber cukup lama maka akan memperpendek usia motor.

3. Pengaturan Kecepatan Kontrol (Adjustable speed controllers)


Ada beberapa jenis motor yang aplikasinya membutuhkan perubahan kecepatan
putar dalam melayani beban. Sistem pengontrolan combination starter, manual starter
dan motor starter tidak dapat diterapkan pada system jenis ini karena ketiga sistem
pengontrolan di atas merupakan sistem pengontrolan dengan kecepatan putar yang
tetap (frekuensi motor tetap). Untuk itu dibutuhkan sistem pengontrolan yang berbeda,
yang disebut adjustable speed controllers.
Sistem ini memungkinkan kecepatan putar operasi motor dapat berubah sesuai
dengan keinginan proses operasi. Cara merubah kecepatan putar operasi motor dengan
cara merubah frekuensi tegangan pada sisi motor. Selain itu sistem ini juga dapat
diaplikasikan sebagai alat soft starter suatu motor, dimana soft starter ini berfungsi
untuk meminimalkan tegangan drop pada saat proses penstarteran motor.

4. Motor Starter
Pada jenis ini umumnya digunakan untuk mengontrol operasi motor yang bersistem
tegangan menengah. Motor starter jenis ini mempunyai peralatan pendukung berupa:
• No-load break switch dan fuse atau circuit breaker.
• Vacuum contactor.
• Pengaman terhadap gangguan beban lebih.

3.2b Tata Letak Komponen di dalam MCC Room Perta-Samtan Gas


Tata Letak Komponen di dalam MCC Room Perta-Samtan Gas Terbagi Atas Beberapa
Komponen Yaitu: Switchgear, 220 VAC UPS, Battery for 220 VAC UPS, 110VDC Battery
Charger, Battery for 110 VDC Battery Charger, Lighting Transformer 200kVA, Lighting dan
Small Power Panel Distribution Board, AC main Distribution Panel, PCS Remote I/0 Cabinet,
ESS Remote I/0 Cabinet, HVAC Panel, MV Switchgear, DEG Synchronizing Panel, dan Exhaust
Fan.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 24


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

(Gambar 3.2a Tata Letak MCC Room)

GAMABR TATA LETAK MCC ROOM

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 25


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

Berikut ini adalah Keterangan Gambar Diatas.


1. Switcgear
Switchgear adalah perangkat listrik untuk operasi switching atau pemutus dan
connecting beban baik beban individu maupun kelompok beban. Jadi switchgear
umumnya dilengkapi dengan komponen-komponen untuk melaksanakan fungsi-fungsi
diatas. Komponen-komponen switchgear adalah sbb: Breaker/switch, relay proteksi,
metering, pilot light, CT, and PT. Fungsi CT dan PT disini adalah sebagai power untuk
relay proteksi dan juga sebagai sensor pengukuran besaran listrik arus dan tegangan.
Switchgear Power individu atau juga kelompok yg terkoneksi melalui common busbar.
Motor Control Center (MCC) juga berfungsi kurang lebih seperti switchgear hanya
saja bebannya umumnya motor. Operasi on/off dilakukan dengan start/stop melalui
motor starter. Secara ringkas Motor Control Center (MCC) adalah kumpulan motor
starter atau gabungan motor starter dan feeder breaker yg terkoneksi melalui common
busbar.
2. Uninterruptable Power Supply (UPS)
Uninterruptible Power Supply yang merupakan peralatan listrik yang fungsi
utamanya adalah untuk menyediakan listrik cadangan pada bagian tertentu dari Power,
seperti halnya monitor,cpu atau bagian lain yang penting untuk mendapatkan asupan
listrik secara terus-menerus. UPS juga disebut sebagai Power backup (Uninterruptible
Power Supply)
3. Baterai untuk 220 VAC UPS
Baterai adalah alat untuk menyimpan energy listrik yang terhubung dengan
220 VAC UPS Sehinga Bila Terjadi mati listrik maka Baterai Secara Otomatis akan
menyuplai Tegangan 220 VAC pada UPS.
4. Charger Baterai 110 VDC
Suatu alat yang digunakan Untuk mencharger Baterai dengan input 380 VAC
dan Output 110 VDC
5. Baterai untuk Charger Baterai 110 VDC
Baterai yang digunakan untuk menyuplai tegangan 110 VDC untuk control
switchgear medium Voltag (MV) 6.6 kV pada busbar A dan B serta untuk control
Switchgear Low Voltag (LV) pada busbar A dan B
10. Trafo 03-LT-7101
Trafo digunakan untuk Main Distribution Panel AC
11. Papan Distribusi Panel 03-LP-5401
Lampu Merupakan Alat Penerangan di Kilang Fraksinasi yang Terhubung
dengan Papan Distribusi Panel Kecil yang digunakan untuk penempatan MCB, relay,
serta alat-alat pemutus dan pengaman lainnya
12. Main Distribution panel AC

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 26


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

Panel Distribusi Utama AC sebagai panel penerima daya/power dari


transformer (trafo) dan mendistribusikan power tersebut lebih lanjut ke panel Low
voltage sub distribution, Menggunakan Air Circuit Breaker atau moulded case Circuit
Breakers, panel sub distribusi akan mendistribusikan power tersebut ke peralatan
electrical sedangkan fungsi Low voltage sub distribution adalah mendistribusikan
power tersebut ke peralatan electrical.
13. PCS Remote I/0 Kabinet
PCS Remote I/0 Kabinet merupakan
14. ESS Remote I/0 Kabinet
ESS Remote I/0 Kabinet Merupakan Executive Support System atau Sistem
Pendukung Eksekutif adalah sebuah sistem yang oleh para senior manajer / eksekutif
sebuah perusahaan atau organisasi untuk memberikan dukungan terhadap keputusan
yang tidak terprogram dalam manajemen strategis.
15. HVAC Panel
Panel HVAC Merupakan Tempat Untuk Mengatur HVAC (heating,
ventilation, dan air-conditioning) Ketiga fungsi ini saling berhubungan, karena
mereka menentukan suhu dan kelembaban udara dalam sebuah gedung dan juga
menyediakan Power, menjaga tekanan antar ruang, dan menyediakan udara segar
bagi penempat. Dalam rancangan gedung modern, rancangan, instalasi dan sistem
Power dari fungsi ini dijadikan menjadi sistem tunggal “HVAC”.
16. MV Switcgear
MV Switchgear adalah perangkat listrik untuk operasi switching atau pemutus
dan connecting beban bertegangan tinggi baik beban individu maupun kelompok
beban. MV Switcgear ini Terbagi Busbar A dan B yang memutus atau
menyambungkan 6.6 kV Listrik Dari RU III Dengan Mengunakan VCB ke Kilang
Fraksinasi Sungai Gerong
17. DEG Syncronizing Panel
Panel sinkron DEG merupakan Alat yang digunakan untuk mengatur generator
agar dapat dipararelkan dengan pencatu daya dari RU III, DEG Sinkron bekerja
secara automatis dengan syarat apabila power listrik yang ada di busbar A dan B
mati atau Trip maka DEG akan jalan secara auto. Lalu Apabila power RU III On
maka DEG akan Sharing automatic dengn power RU III, saat beban mencapai 80kW
di DEG beban akan dilepas semua ke power RU III dan DEG akan mati Autometic .
18. Exhaust Fan
Exhaust fan berfungsi untuk menghisap udara di dalam ruang untuk dibuang ke
luar, selain itu exhaust fan juga mengatur volume udara yang akan disirkulasikan
pada ruang.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 27


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

3.3 Diagram Satu Garis Sistem Jaringan Distribusi Kilang Fraksinasi


3.3a Pengertian Diagram Satu Garis
Peralatan/instalasi dari suatu sistem Jaringan kelistrikan dalam 2 dimensi digambarkan
dalam single line diagram. Single line diagram ini berisi symbol-simbol umum kelistrikan yang
menggambarkan instalasi yang terdapat pada sistem tersebut. Contoh single line diagram dapat
dilihat pada gambar berikut ini.
1. Feeder / penyulang
2. Rel / busbar 20 kV
3. Trafo step-up
4. Generator
5. PMT
6. PMS
7. Trafo PS/EB
3.3b Penjabaran Diagaram Satu Garis Sistem Jaringan Distribusi Kilang Fraksinasi
Sungai Gerong
a. Diagram Satu Garis Sistem Jaringan Pada Kilang Fraksinasi
Kilang Fraksinasi Sungai Gerong mendapatkan suplai Power dari PT. Pertamina RU
III sebesar 6.6 kV melalui dua rel/Busbar yaitu Bus A 6.6 kVAC , 630A, 3P+E, 50Hz, 20kA
dan Bus B 6.6 kVAC, 630A, 3P+E, 50Hz, 20kA yang dialiri melewati Switchgear RU III
menuju Kilang Fraksinasi Sungai Gerong.
Perhatikan Gambar Diagram satu Garis dibawah ini :

(Gambar 3.3 one line diagram sekunder)


Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 28
Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

Dapat dilihat dari gambar diagram satu garis diatas bahwa pengiriman sumber tenaga
dari RU III langsung dikirim ke MCC Room kilang Fraksnasi Sungai Gerong melalui VCB
03-VCB-7101A dan 03-VCB-7101B sebesar 6.6Kv. Selanjutnya diteruskan ke
Transformator Stepdown 03-TRF-7101-A dan 03-TRF-7101-B sebesar 6.6kV/400V yang
diteruskan melalui BUSDUCT ke ACB-01 dan ACB-02 Perhatikan gambar ACB brikut :

(Gambar 3.3a Panel ACB) (Gambar 3.3b Transformator)


Dari ACB-01 dan ACB-02 tersebut di hubungkan load-load beban melalaui MCCB
masing-masing beban. ACB-03 berfungsi sebagai Bustie sebagai penghubung antara
tegangan ACB-01, ACB-02 dan ACB-04 “Diesel Engine Generator 800kW, 400V akan
bekerja secara otomatis jika suplai power dari RU III pada busbar A dan B Mati, maka secara
otomatis Generator akan menyala. Lihat gambar berikut:

(Gambar 3.3c Panel DEG) (Gambar 3.3d Air Circuit Breaker)

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 29


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

b. Diagram Satu Garis Sistem Jaringan Pada Load-Load Beban Pada Busbar A dan B
Perhatikan Gambar Busbar Load-load Beban di dalam MCC Room dibawah ini:

(Gambar 3.3e Busbar A dan B)


Berdasarkan gambar diatas maka setiap load-load beban yang ada di kilang fraksinasi
Sungai Gerong terhubung melalu Panel yang ada di MCC Room yang masing memiliki
pengaman dan pemutus tegangan masing-masing setiap load-load beban. Perhatikan gambar
diagram satu garis load-load beban berikut ini:

(Gambar 3.3f one line diagram Busbar A)

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 30


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

(Gambar 3.3g one line diagram Busbar B)


Pada gambar di atas kita ketahui bersama bahwa load-load pada busbar A terhubung
secara pararel melalu sumber dari ACB-01 sebesar 380/220 VAC, 50Hz menuju Circuit
breaker masing-masing load beban. Sedangkan pada busbar B, dari ACB-02 tidak jauh
berbeda dengan sistem jaringan distribusi yang mengalir menuju load-load beban dengan
pengaman seperti MCCB, MCB dan ELCB setelah itu barulah terhubung ke beban masing-
masing

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 31


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

BAB IV
PERAWATAN PERALATAN JARINGAN DISTRIBUSI DAN BEBAN

4.1 Jenis-Jenis Maintenance

Pemeliharaan transformator daya dilakukan untuk menjaga efektivitas dan daya tahan
peralatan sistem tenaga listrik, khususnya transformator daya agar dapat bekerja sebagaimana
mestinya sehingga kontinuitas penyaluran tetap terjaga dengan baik. Oleh karena itu biasanya
setiap paralatan pada sistem tenaga listrik biasanya dilakukan maintenance atau perawatan
berkala, apalagi peralatan tersebut berhubungan dengan kontinuitas pelayanan.

Pemeliharaan atau Maintenance dibagi menjadi beberapa jenis sebagai berikut :


a. Pemeliharaan preventive (Time base maintenance)
Pemeliharaan preventive adalah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan untuk
mencegah terjadinya kerusakan secara tiba-tiba dan untuk mempertahankan unjuk kerja peralatan
yang optimum sesuai umur teknisnya

b. Pemeliharaan Prediktif (Conditional maintenance)


Pemeliharaan prediktif adalah pemeliharaan yang dilakukan dengan cara mempredisi
kondisi suatu peralatan listrik, apakah dan kapan kemungkinannya peralatan listrik tersebut
menuju kegagalan

c. Pemeliharaan korektif (Corective maintenance)


Pemeliharaan korektif adalah pemeliharaan yang dilakukan secara terencana ketika
peralatan listrik mengalami kelainan atau unjuk kerja rendah pada saat menjalankan fungsinya
dengan tujuan untuk mengembalikan pada kondisi semula disertai perbaikan dan penyempurnaan
instalasi

d. Pemeliharaan darurat (Breakdown maintenance)


Pemeliharaan darurat adalah pemeliharaan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan
mendadak yang waktunya tidak tertentu dan sifatnya terurai.

4.2 Jenis-Jenis Pengujian


Berikut adalah beberapa pengujian yang dilakukan secara berkala maupun tidak, dalam
rangka maintenance atau perawatan guna mengetahui kondisi Jaringan Distribusi dan Beban. Hal
ini dipelukan untuk mengontrol perkembangan dari keseluruhan bagian yang ada pada Jaringan
Distribusi dan Beban . Adapun pengujian yang dilakukan adalah :

4.2a Preventive Maintenance


Preventive Maintenance merupakan suatu pengamatan secara sistematik yang disertai
dengan analis teknis – ekonomis untuk menjamin berfungsinya suatu peralatan produksi dan
memperpanjang umur peralatan industri. Tujuan dari Preventive Maintenance adalah untuk

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 32


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

mencapai suatu tingkat pemeliharaan terhadap seluruh pralatan produksi agar memperoleh suatu
kualitas produk yang optimum, kegiatan pada Preventive biasanya meliputi :
 Inspeksi, Inspeksi adalah kegiatan pemeliharaan periodik untuk memeriksa kondisi
komponen peralatan produksi.
 Pemeliharaan berjalan / sering disebut Running maintenance, merupakan kegiatan
pemeliharaan tanpa menghentikan peralatan yang sedang beroperasi.
 Penggantian komponen yang kecil, merupakan pemeliharaan yang menggantikan
komponen kecil saja.
 Shutdown Maintenance, adalah pemeliharaan yang dilakukan ketika mesin produksi
sedang offline / sedang berhenti memproduksi.
Tujuan dari Preventive Maintenance adalah untuk menemukan suatu tingkatan yang
menunjukan gejala kerusakan sebelum alat – alat produksi mengalami kerusakan yang sangat
fatal, maka sudah kita ketahui Preventive Maintenance berfungsi menangani langsung hal – hal
yang bersifat mencegah terjadinya kerusakan pada alat produksi dengan beratur dan berkala serta
memperbaiki kerusakan kecil yang ditemukan saat pemeriksaan.
Pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) adalah inspeksi periodik untuk
mendeteksi kondisi yang mungkin menyebabkan produksi berhenti atau berkurangnya fungsi
mesin dikombinasikan dengan pemeliharaan untuk menghilangkan, mengendalikan, kondisi
tersebut dan mengembalikan mesin ke kondisi semula atau dengan kata lain deteksi dan
penanganan diri kondisi abnormal mesin sebelum kondisi tersebut menyebabkan cacat atau
kerugian. Diantaranya sebagai berikut
 Inspeksi: memeriksa secara berkala (periodic) bagian-bagian tertentu untuk dapat dipakai
dengan membandingkan fisiknya, mesin, listrik, dan karakteristik lain untuk standar yang
pasti,
 Kalibrasi: mendeteksi dan menyesuaikan setiap perbedaan dalam akurasi untuk material
atau parameter perbandingan untuk standar yang pasti,
 Pengujian: pengujian secara berkala (periodic) untuk dapat menentukan
pemakaian dan mendeteksi kerusakan mesin dan listrik,
 Penyesuaian: membuat penyesuaian secara periodik untuk unsur variabel tertentu untuk
mencapai kinerja yang optimal,
 Servicing: pelumasan secara periodik, pengisian, pembersihan, dan seterusnya, bahan
atau barang untuk mencegah terjadinya dari kegagalan yang baru,
 Instalasi: mengganti secara berkala batas pemakaian barang atau siklus waktu pemakaian
atau memakai untuk mempertahankan tingkat toleransi yang ditentukan,
 Alignment: membuat perubahan salah satu barang yang ditentukan elemen variabel
untuk mencapai kinerja yang optimal.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 33


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

4.2b Prediktiv mantenace

(Gambar 4.2 Diagram Analisa Predictive)

Jadi Preventive Maintenance merupakan bentuk baru dari perencanaan pemeliharaan yang
dimana penggantian suku cadang dilakukan sejak terjadinya kerusakan. Untuk membantu
melaksanakan Predictive Maintenance terdapat sesuatu diagram analis predictive yang sering
digunakan yang mengacu pada kondisi peralatan produksi. Dalam Predictive
Maintenance terdapat metode metode dalam pemantauan atau monitoring kondisi dari suatu
peralatan produksi, antara lain :
1. Memonitoring minyak pelumas dengan cara mengambil sebuah sample oli dari
peralatan produksi untuk mengecek tingkat kekentalannya / untuk melihat kualitas oli
yang tersimpan di tangki oli.
2. Monitoring Visual Metode ini menggunakan pancaindra yang meliputi indra
penglihatan, indra perasa, dan indra pendengaran guna mengetahui kondisi mesin.
3. Monitoring kinerja merupakan teknik dalam memonitoring kondisi mesin produksi
dengan cara memeriksa dan mengukur parameter kinerja kemudian dibandingkan
dengan standardnya.
4. Monitoring geometris diharapkan penyimpangan geometris yang terjadi pada peralatan
produksi dapat kita ketahui dan dapat dilakukan kegiatan pengukuran leveling dan
pengukuran posisi (alignment)
5. Monitoring getaran, pada monitoring ini memeriksa dan mengukur letak getaran secara
rutin dan terus menerus.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 34


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

4.2c Pemeliharaan korektif (Corrective Maintenance)


Pemeliharaan secara korektif (corrective maintenance) adalah pemeliharaan yang
dilakukan secara berulang atau pemeliharaan yang dilakukan untuk memperbaiki suatu bagian
(termasuk penyetelan dan reparasi) yang telah terhenti untuk memenuhi suatu kondisi yang bisa
diterima. Pemeliharaan ini meliput i reparasi minor, terutama untuk rencana jangka pendek, yang
mungkin timbul diantara pemeriksaan, juga overhaul terencana. Biasanya, pemeliharaan korektif
(Corrective Maintenance) adalah pemeliharaan yang tidak direncanakan, tindakan yang
memerlukan perhatian lebih yang harus ditambahkan, terintegrasi, atau menggantikan pekerjaan
telah dijadwalkan sebelumnya.
Oleh karena itu, Dalam pelaksanaan pemeliharaan antara terencana yang harus
diperhatikan adalah jadwal operasi pabrik, perencanaan pemeliharaan, sasaran perencanaan
pemeliharaan, faktor-faktor yang diperhatikan dalam perencanaan pekerjaan pemeliharaan,
sistem organisasi untuk perencanaan yang efektif, dan estimasi pekerjaan Jadi, Pemeliharaan
terencana merupakan pemakaian yang paling tepat mengurangi keadaan darurat dan waktu
nganggur mesin. Adapun keuntungan lainnya yaitu:
a. Pengurangan pemeliharaan darurat,
b. Pengurangan waktu nganggur,
c. Menaikkan ketersediaan (availability) untuk produksi
d. Meningkatkan penggunaan tenaga kerja untuk pemeliharaan dan produksi,
e. Memperpanjang waktu antara overhaul
f. Pengurangan penggantian suku cadang, membantu pengendalian sediaan,
g. Meningkatkan efisiensi mesin,
h. Memberikan pengendalian anggaran dan biaya yang bisa diandalkan,
i. Memberikan informasi untuk pertimbangan penggantian mesin.

4.2d Pemeliharaan tak terencana (unplanned maintenance)


Pemeliharaan tak terencana adalah yaitu pemeliharaan darurat, yang didefenisikan
sebagai pemeliharaan dimana perlu segera dilaksanakan tindakan untuk mencegah akibat yang
serius, misalnya hilangnya produksi, kerusakan besar pada peralatan, atau untuk keselamatan
kerja. Pada umumnya sistem pemeliharaan merupakan metode tak terencana, dimana peralatan
yang digunakan dibiarkan atau tanpa disengaja rusak hingga akhirnya, peralatan tersebut akan
digunakan kembali maka diperlukannya perbaikan atau pemeliharaan. Secara skematik
dapat dilihat sesuai diagram alir proses suatu perusahaan untuk sistem pemeliharaan dibawah
ini.

4.3 Pembersihan (Cleaning)


Sangat diperlukan untuk melakukan pembersihan semua komponen-komponen listrik
yang ada di MCC Room serta mesin-mesin listrik yang ada di kilang fraksinasi sungai gerong
dari debu-debu dan korosi yang menempel pada bodi mesin oleh cuara dan kondisi sekitar.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 35


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

BAB V
PROTEKSI SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI

5.1. Teori Umum

5.1a Pengertian Sistem Proteksi


Setiap bagian dari sistem tenaga listrik perlu diproteksi karena gangguan baik dari dalam
maupun luar sistem akan selalu ada dan mengancam keamanan dari semua peralatan yang ada
dalam sistem. Sistem proteksi yang baik dapat menghindari terjadinya kehilangan daya.
Misalnya proteksi beban lebih pada trafo mencegah berlebihnya beban pada trafo dan kegagalan
isolasinya yang menyebabkan kerusakan pada trafo. Jika bagian yang terganggu diisolasi
secara cepat, maka kerusakan yang diakibatkannya dapat diminimalisir dan bagian yang
terganggu dapat diperbaiki secepatnya serta fungsi pelayanannya dapat dilanjutkan tanpa
penundaan yang lebih lama.
Secara sederhana fungsi sistem proteksi adalah mendeteksi perubahan parameter sistem,
mengevaluasi besar perubahan parameter dan membandingkan dengan besaran dasar yang telah
ditentukan sebelumnya. Selanjutnya alat akan memberi perintah kepada peralatan yang berfungsi
untuk menghubungkan dan memutuskan bagian-bagian tertentu dari sistem untuk melakukan
proses switching.

Adapun akibatnya jika gangguan dibiarkan berlangsung secara lama, maka pengaruh-
pengaruh yang tidak diinginkan seperti diantaranya :
1. Berkurangyna batas-batas kestabilan untuk sistem tenaga listrik
2. Rusaknya peralatan yang berada dekat denagn gangguan yang disebabkan
oleh arus yang besar, arus tak seimbang atau tegangan-tegangan rendah
yang ditimbulkan oleh gangguan.
3. Ledakan pada peralatan yang mengandung minyak isolasi pada saat
terjaadi hubung singkat, dapat mengakibatkan kebakaran pada peralatan

5.1b Komponen-Komponen Sistem Proteksi

Sistem proteksi terdiri dari :


1. Transformer instrument
2. Rele proteksi
3. Pemutus tenaga
Secara garis besar sistem proteksi terdiri dari ketiga komponen ini dengan kualifikasi masing-
masing yaitu :
 Transformator instrument berfungsi untuk memonitor arus atau tegangan dan
menurunkan besar kedua besaran tersebut ke suatu nilai yang sesuai untuk keperluan rele
 Rele berfungsi untuk membandingkan besar arus atau tegangan yang diterimanya dari
trafo instrument dengan nilaai setelannya. Jika sinyal input melebihi nilai setelan rele,
maka rele akan trip dan memberikan sinyal ke suatu pemutus tenaga.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 36


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

 Pemutus tenaga berfungsi untuk mengisolasi bagian yang terganggu dari sistem yang
sehat.

5.2 Pengaman Jaringan Distribusi
Keandalan dan kemampuan suatu sistem tenaga listrik dalam melayani konsumen sangat
tergantung pada sistem proteksi yang digunakan. Oleh sebab itu dalam perencangan suatu sistem
tenaga listrik, perlu dipertimbangkan kondisi-kondisi gangguan yang mungkin terjadi pada
sistem, melalui analisa gangguan. Dari hasil analisa gangguan, dapat ditentukan sistem proteksi
yang akan digunakan, seperti: spesifikasi switchgear, rating circuit breaker (CB) serta penetapan
besaran-besaran yang menentukan bekerjanya suatu relay (setting relay) untuk keperluan
proteksi. karakter serta gangguan-gangguan dan sistem proteksi yang digunakan pada sistem
tenaga listrik yang meliputi: generator, transformer, jaringan dan busbar.
Definisi Sistem Proteksi Tenaga Listrik adalah sistem proteksi yang dipasang pada
peralatan-peralatan listrik suatu sistem tenaga listrik, misalnya generator, transformator, jaringan
dan lain-lain, terhadap kondisi abnormal operasi sistem itu sendiri. Kondisi abnormal itu dapat
berupa antara lain: hubung singkat, tegangan lebih, beban lebih, frekuensi sistem rendah,
asinkron dan lain-lain.

Dengan kata lain sistem proteksi itu bermanfaat untuk:


1. menghindari ataupun untuk mengurangi kerusakan peralatan-peralatan akibat
gangguan (kondisi abnormal operasi sistem). Semakin cepat reaksi perangkat proteksi
yang digunakan maka akan semakin sedikit pengaruh gangguan kepada kemungkinan
kerusakan alat.
2. cepat melokalisir luas daerah yang mengalami gangguan, menjadi sekecil mungkin.
3. dapat memberikan pelayanan listrik dengan keandalan yang tinggi kepada konsumen
dan juga mutu listrik yang baik.
4. mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik.

Pengetahuan mengenai arus-arus yang timbul dari berbagai tipe gangguan pada suatu
lokasi merupakan hal yang sangat esensial bagi pengoperasian sistem proteksi secara efektif. Jika
terjadi gangguan pada sistem, para operator yang merasakan adanya gangguan tersebut
diharapkan segera dapat mengoperasikan circuit-circuit Breaker yang tepat untuk mengeluarkan
sistem yang terganggu atau memisahkan pembangkit dari jaringan yang terganggu. Sangat sulit
bagi seorang operator untuk mengawasi gangguan-gangguan yang mungkin terjadi dan
menentukan CB mana yang dioperasikan untuk mengisolir gangguan tersebut secara manual.
Mengingat arus gangguan yang cukup besar, maka perlu secepat mungkin dilakukan
proteksi. Hal ini perlu suatu peralatan yang digunakan untuk mendeteksi keadaan-keadaan yang
tidak normal tersebut dan selanjutnya menginstruksikan circuit breaker yang tepat untuk bekerja
memutuskan rangkaian atau sistem yang terganggu. Dan peralatan tersebut kita kenal dengan
relay.
Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 37
Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

Ringkasnya proteksi dan tripping otomatik circuit-circuit yang berhubungan, mempunyai dua
fungsi pokok:
1. Mengisolir peralatan yang terganggu, agar bagian-bagian yang lainnya tetap beroperasi
seperti biasa.
2. Membatasi kerusakan peralatan akibat panas lebih (over heating), pengaruh gaya-gaya
mekanik dst. "Koordinasi antara relay dan circuit breaker(CB) dalam mengamati dan
memutuskan gangguan disebut sebagai sistem proteksi".
Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam mempertahankan arus kerja maksimum
yang aman. Jika arus kerja bertambah melampaui batas aman yang ditentukan dan tidak ada
proteksi atau jika proteksi tidak memadai atau tidak efektif, maka keadaan tidak normal dan akan
mengakibatkan kerusakan isolasi. Pertambahan arus yang berkelebihan menyebabkan rugi-rugi
daya pada konduktor akan berkelebihan pula, sedangkan pengaruh pemanasan adalah sebanding
dengan kwadrat dari arus:
H = 1kwadrat.R.t Joules
Dimana;
H = panas yang dihasilkan (Joule)
I = arus listrik (ampere)
R = tahanan konduktor (ohm)
t = waktu atau lamanya arus yang mengalir (detik)
Proteksi harus sanggup menghentikan arus gangguan sebelum arus tersebut naik mencapai harga
yang berbahaya. Proteksi dapat dilakukan dengan Sekering atau Circuit Breaker.
Proteksi juga harus sanggup menghilangkan gangguan tanpa merusak peralatan proteksi itu
sendiri. Untuk ini pemilihan peralatan proteksi harus sesuai dengan kapasitas arus hubung
singkat “breaking capacity” atau Repturing Capacity.

Disamping itu, sistem proteksi yang diperlukan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Sekering atau circuit breaker harus sanggup dilalui arus nominal secara terus menerus
tanpa pemanasan yang berlebihan (overheating).
2. Overload yang kecil pada selang waktu yang pendek seharusnya tidak menyebabkan
peralatan bekerja.
3. Sistem Proteksi harus bekerja walaupun pada overload yang kecil tetapi cukup lama,
sehingga dapat menyebabkan overheating pada rangkaian penghantar.
4. Sistem Proteksi harus membuka rangkaian sebelum kerusakan yang disebabkan oleh
arus gangguan yang dapat terjadi.
5. Proteksi harus dapat melakukan “pemisahan” (discriminative) hanya pada rangkaian
yang terganggu yang dipisahkan dari rangkaian yang lain yang tetap beroperasi.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 38


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

Proteksi overload dikembangkan jika dalam semua hal rangkaian listrik diputuskan sebelum
terjadi overheating. Jadi disini overload action relatif lebih lama dan mempunyai fungsi inverse
terhadap kwadrat dari arus. Proteksi gangguan hubung singkat dikembangkan jika action dari
sekering atau circuit breaker cukup cepat untuk membuka rangkaian sebelum arus dapat
mencapai harga yang dapat merusak akibat overheating, arcing atau ketegangan mekanik.
Persyaratan Kualitas Sistem Proteksi

Ada beberapa persyaratan yang sangat perlu diperhatikan dalam suatu perencanaan sistem
proteksi yang efektif, yaitu:
a). Selektivitas dan Diskriminasi Efektivitas suatu sistem proteksi dapat dilihat dari
kesanggupan sistem dalam mengisolir bagian yang mengalami gangguan saja.
b). Stabilitas Sifat yang tetap inoperatif apabila gangguan-gangguan terjadi diluar zona
yang melindungi (gangguan luar).
c). Kecepatan Operasi Sifat ini lebih jelas, semakin lama arus gangguan terus mengalir,
semakin besar kemungkinan kerusakan pada peralatan. Hal yang paling penting
adalah perlunya membuka bagian-bagian yang terganggu sebelum generator-
generator yang dihubungkan sinkron kehilangan sinkronisasi dengan sistem. Waktu
pembebasan gangguan yang tipikal dalam sistem-sistem tegangan tinggi adalah 140
ms. Dimana dimasa mendatang waktu ini hendak dipersingkat menjadi 80 ms
sehingga memerlukan relay dengan kecepatan yang sangat tinggi (very high speed
relaying).
d). Sensitivitas (kepekaan) Yaitu besarnya arus gangguan agar alat bekerja. Harga ini
dapat dinyatakan dengan besarnya arus dalam jaringan aktual (arus primer) atau
sebagai prosentase dari arus sekunder (trafo arus).
e). Pertimbangan ekonomis Dalam sistem distribusi aspek ekonomis hampir mengatasi
aspek teknis, oleh karena jumlah feeder, trafo dan sebagainya yang begitu banyak,
asal saja persyaratan keamanan yang pokok dipenuhi. Dalam suatu sistem transmisi
justru aspek teknis yang penting. Proteksi relatif mahal, namun demikian pula sistem
atau peralatan yang dilindungi dan jaminan terhadap kelangsungan peralatan sistem
adalah vital. Biasanya digunakan dua sistem proteksi yang terpisah, yaitu proteksi
primer atau proteksi utama dan proteksi pendukung (back up).
f). Realiabilitas (keandalan) Sifat ini jelas, penyebab utama dari “outage” rangkaian
adalah tidak bekerjanya proteksi sebagaimana mestinya (mal operation).
g) Proteksi Pendukung Proteksi pendukung (back up) merupakan susunan yang
sepenuhnya terpisah dan yang bekerja untuk mengeluarkan bagian yang terganggu
apabila proteksi utama tidak bekerja (fail). Sistem pendukung ini sedapat mungkin
indenpenden seperti halnya proteksi utama, memiliki trafo-trafo dan rele-rele
tersendiri. Seringkali hanya triping CB dan trafo -trafo tegangan yang dimiliki
bersama oleh keduanya. Tiap-tiap sistem proteksi utama melindungi suatu area atau

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 39


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

zona sistem daya tertentu. Ada kemungkinan suatu daerah kecil diantara zo na -zona
yang berdekatan misalnya antara trafo-trafo arus dan circuit breaker-circuit breaker
tidak dilindungi. Dalam keadaan seperti ini sistem back up (yang dinamakan, remote
back up) akan memberikan perlindungan karena berlapis dengan zona-zona utama.

Proteksi dan automatic tripping Circuit Breaker (CB) dibutuhkan untuk:


1. Mengisolir peralatan yang terganggu agar bagian-bagian yang lainnya tetap beroperasi
seperti biasa.
2. Membatasi kerusakan peralatan akibat panas lebih (overheating), pengaruh gaya
mekanik dan sebagainya.
Proteksi harus dapat menghilangkan dengan cepat arus yang dapat mengakibatkan panas yang
berkelebihan akibat gangguan ( H = Ikwadrat.R×t Joules ) Peralatan proteksi selain sekering
adalah peralatan yang dibentuk dalam suatu sistem koodinasi relay dan circuit breaker Peralatan
proteksi dipilih berdasarkan kapasitas arus hubung singkat ‘Breaking capacity’ atau ‘Repturing
Capcity’.

Selain itu peralatan proteksi harus memenuhi persyaratan, sebagai berikut:


1. Selektivitas dan Diskriminasi
2. Stabilitas
3. Kecepatan operasi
4. Sensitivitas (kepekaan).
5. Pertimbangan eko nomis.
6. Realibilitas (keandalan).
7. Proteksi pendukung (back up protection)
Pada sistem distribusi aplikasi back up digunakan tidak seluas dalam sistem
tansmisi,cukup jika hanya mencakup titik-titik strategis saja. Remote back up akan bereaksi
lambat dan biasanya memutus lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengeluarkan bagian
yang terganggu. Komponen-Komponen Sistem Proteksi Secara Menyeluruh, komponen-
komponen sistem proteksi terdiri dari:
1. Circuit Breaker, CB (Sakelar Pemutus, PMT)
2. Relay
3. Trafo arus (Current Transformer, CT)
4. Trafo tegangan (Potential Transformer, PT)
5. Kabel control
6. Catu daya, Supplay (batere)

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 40


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

5.2a Circuit Breaker

Circuit Breaker atau Sakelar Pemutus Tenaga (PMT) adalah suatu peralatan pemutus
rangkaian listrik pada suatu sistem tenaga listrik, yang mampu untuk membuka dan menutup
rangkaian listrik pada semua kondisi, termasuk arus hubung singkat, sesuai dengan ratingnya.
Juga pada kondisi tegangan yang normal ataupun tidak normal. Adapun macam dari Circuit
Breaker yaitu:
1. MCB (Miniatur Circuit Breaker)
2. MCCB (Mold Case Circuit Breaker)
3. ACB (Air Circuit Breaker)
4. OCB (Oil Circuit Breaker)
5. VCB (Vacuum Circuit Breaker)
6. SF6CB (Sulfur Circuit Breaker)

1. MCB (Miniatur Circuit Breaker)


MCB adalah suatu rangkaian pengaman yang dilengkapi dengan komponen thermis
(bimetal) untuk pengaman beban lebih dan juga dilengkapi relay elektromagnetik untuk
pengaman hubung singkat. MCB banyak digunakan untuk pengaman sirkit satu fasa dan tiga
fasa. Keuntungan menggunakan MCB, yaitu :
1. Dapat memutuskan rangkaian tiga fasa walaupun terjadi hubung singkat pada salah
satu fasanya.
2. Dapat digunakan kembali setelah rangkaian diperbaiki akibat hubung singkat atau
beban lebih.
3. Mempunyai respon yang baik apabila terjadi hubung singkat atau beban lebih.

Pada MCB terdapat dua jenis pengaman yaitu secara thermis dan elektromagnetis,
pengaman termis berfungsi untuk mengamankan arus beban lebih sedangkan pengaman
elektromagnetis berfungsi untuk mengamankan jika terjadi hubung singkat. Pengaman thermis
pada MCB memiliki prinsip yang sama dengan thermal overload yaitu menggunakan dua buah
logam yang digabungkan (bimetal), pengamanan secara thermis memiliki kelambatan, ini
bergantung pada besarnya arus yang harus diamankan, sedangkan pengaman elektromagnetik
menggunakan sebuah kumpa- ran yang dapat menarik sebuah angker dari besi lunak.
MCB dibuat hanya memiliki satu kutub untuk pengaman satu fasa, sedangkan un- tuk
pengaman tiga fasa biasanya memiliki tiga kutub dengan tuas yang disatukan, sehingga apabila
terjadi gangguan pada salah satu kutub maka kutub yang lainnya juga akan ikut terputus.
Berdasarkan penggunaan dan daerah kerjanya, MCB dapat digolongkan menjadi 5 jenis ciri
yaitu :
 Tipe Z (rating dan breaking capacity kecil) Digunakan untuk pengaman rangkaian
semikonduktor dan trafo-trafo yang sen- sitif terhadap tegangan.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 41


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

 Tipe K (rating dan breaking capacity kecil) Digunakan untuk mengamankan alat-alat
rumah tangga.
 Tipe G (rating besar) untuk pengaman motor.
 Tipe L (rating besar) untuk pengaman kabel atau jaringan.
 Tipe H untuk pengaman instalasi penerangan bangunan

Gambar 5.2 : MCB

2. MCCB (Mold Case Circuit Breaker)


MCCB merupakan salah satu alat pengaman yang dalam proses operasinya mem- punyai
dua fungsi yaitu sebagai pengaman dan sebagai alat untuk penghubung.
Jika dilihat dari segi pengaman, maka MCCB dapat berfungsi sebagai pengaman gangguan arus
hubung singkat dan arus beban lebih. Pada jenis tertentu pengaman ini, mempunyai kemampuan
pemutusan yang dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan.

Gambar 5.2a. MCCB (Mold Case Circuit Breaker)


Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 42
Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

1. ACB (Air Circuit Breaker)


ACB (Air Circuit Breaker) merupakan jenis circuit breaker dengan sarana pemadam
busur api berupa udara. ACB dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan menengah.
Udara pada tekanan ruang atmosfer digunakan sebagai peredam busur api yang timbul akibat
proses switching maupun gangguan.

Gambar 5.2b : ACB (Air Circuit Breaker)

4. OCB (Oil Circuit Breaker)


Oil Circuit Breaker adalah jenis CB yang menggunakan minyak sebagai sarana
pemadam busur api yang timbul saat terjadi gangguan. Bila terjadi busur api dalam minyak,
maka minyak yang dekat busur api akan berubah menjadi uap minyak dan busur api akan
dikelilingi oleh gelembung-gelem- bung uap minyak dan gas. Gas yang terbentuk tersebut
mempunyai sifat thermal conductivity yang baik dengan tegangan ionisasi tinggi sehingga baik
sekali digunakan sebagi bahan media pemadam loncatan bunga api.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 43


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

Gambar 5.2c : OCB (Oil Circuit Breaker)


5. VCB (Vacuum Circuit Breaker)
Vacuum circuit breaker memiliki ruang hampa udara untuk memadamkan busur api, pada
saat circuit breaker terbuka (open), sehingga dapat mengisolir hubungan setelah bunga api
terjadi, akibat gangguan atau sengaja dilepas. Salah satu tipe dari circuit breaker adalah recloser.
Recloser hampa udara dibuat untuk memutus- kan dan menyambung kembali arus bolak-balik
pada rangkaian secara otomatis. Pada saat melakukan pengesetan besaran waktu sebelumnya
atau pada saat recloser dalam keadaan terputus yang kesekian kalinya, maka recloser akan
terkunci (lock out), sehingga recloser harus dikembalikan pada posisi semula secara manual.

Gambar 5.2d : VCB (Vacuum Circuit Breaker)

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 44


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

6. SF6CB (Sulfur Circuit Breaker)


SF6 CB adalah pemutus rangkaian yang menggunakan gas SF6 sebagai sarana pemadam
busur api. Gas SF6 merupakan gas berat yang mem- punyai sifat dielektrik dan sifat mema-
damkan busur api yang baik sekali. Prinsip pemadaman busur apinya adalah Gas SF6 ditiupkan
sepanjang busur api, gas ini akan mengambil panas dari busur api tersebut dan akhirnya padam.
Rating tegangan CB adalah antara 3.6 KV – 760 KV.

Gambar 5.2e : 6. SF6CB (Sulfur Circuit Breaker)

5.2b Rele
Rele proteksi merupakan susunan piranti, baik elektronik maupun magnetik yang
direncanakan untuk mendeteksi suatu kondisi ketidaknormalan pada peralatan listrik yang bisa
membahayakan atau tidak diinginkan. Pada prinsipnya rele yang dipasang pada sistem tenaga
listrik mempunyai 3 macam fungsi yaitu :
1. Merasakan, mengukur, dan menentukan bagian sistem yang terganggu serta
memisahkan secepatnya
2. Mengurangi kerusakan yag lebih parah dari peralatan yang terganggu
3. Mengurangi pengaruh gangguan terhadap bagian sistem yang lain yang tidak
terganaggu di dalam sistem tersebut serta dapat beroperasi secara normal.
Dalam sistem tenaga listrik, rele memegang peran yang sangat vital. Pengaman berkualitas yang
baik memerlukan rele proteksi yang baik juga. Untuk itu ada beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi oleh rele pengaman, yaitu :

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 45


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

(Gambar 5.2f : Relay Philosophy)

1. Kepekaan (sensitivity) Artinya rele harus mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap
besaran minimal sebagaimana direncanakan. Rele harus dapat bekerja pada awal
terjadinya gangguan. Namun dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa rele juga harus
stabil, dalam artian :
 rele dapat membedakan antara arus gangguan atau arus beban maksimum.
 Pada saat transformator dihubungkan ke 46nstru atau start awal, rele tidak boleh
bekerja karena adanya arus inrush yang besarnya dapat mencapai 3-5 kali arus
inrush
 Rele harus dapat membedakan antara gangguan dan ayunan
2. Keandalan (Reliability) Rele harus dapat bekerja kapanpun gangguan terjadi dan tidak
boleh gagal bekerja. Walaupun tidak bekerja selama berbulan-bulan pada saat
gangguan namun pada saat terjadi gangguan rele harus selalu dapat mengatasi
gangguan. Keandalan rele proteksi ditentukan oleh rancangan, pengerjaan, beban
yang digunakan dan perawatannya.
3. Selektivitas(selectivity) Rele harus mempunyai daya beda terhadap bagian yang
terganggu, sehingga dengan tepat dapat memilih bagian mana dari 46nstru yang
terganggu. Jadi rele harus mampu mendeteksi gangguan yang ada pada zona
proteksinya saja dan memisahkan bagian yang terganggu.
4. Kecepatan kerja(speed) Rele harus dapat bekerja dengan cepat. Namun rele juga tidak
boleh terlalu cepat (kurang dari 10 ms). Selain itu waktu kerja rele tidak boleh
melampaui waktu penyelesian kritis (critical clearing time).
5. Ekonomis Rele tidak dapat diaplikasikan di dalam 46nstru tenaga listrik apabila
harganya sangat mahal. Jadi reliabilitas, sensitivitas, selektivitas dan kecepatan kerja
tidak seharusnya membuat rele tersebut mahal.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 46


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

5.2c Tranformator Arus dan Tegangan

1. Transformator arus
Transformator arus digunakan untuk mengukur arus beban pada sebuah rangkaian.
Dengan penggunaan transformator arus, maka arus beban yang besar dapat diukur hanya dengan
menggunakan amperemeter yang rangenya tidak terlalu besar. Bila sebuah transformator arus
mempunyai perbandingan 100/5 A, artinya transformator mengubah arus primer dari 100 A
menjadi 5 A di sisi sekunder. Karena pada sisi primer selalu mengalir arus yang besar, maka sisi
sekunder harus selalu dalam keadaan tertutup, bila terbuka maka transformator akan mengalami
kerusakan, hal tersebut disebabkan karena tidak adanya fluks yang berasal dari sisi sekunder.
Jadi pada dasarnya defenisi serta fungsi dari transformator arus ini yaitu sebagai media
pengukuran serta penurunan yang dilakukan pada sebuah arus untuk tolak ukur sebagai dasarnya
yang berdasarkan perbandingan yang tertentu saja dilakukan. Transformator arus ini termasuk
dalam bagian dari transformator khusus yang disebut transformator pengukuran (47nstrument).

Gambar 5.2g : Transformator

2. Transformator Tegangan
Pada umumnya prinsip kerja transformator tegangan hampir sama dengan sebuah
transformator biasa. Jadi yang membedakannya hanya pada perbandingan transformasinya,
dimana transformator tegangan memiliki ketelitian yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan
transformator biasa. Diketahui bahwa biasanya transformator tegangan berguna mengubah
tegangan tinggi menjadi rendah.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 47


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

Misalnya saja bisa dilihat pada sebuah gardu distribusi yang mempunyai tegangan 20 KV
dengan transformator tegangan diturunkan menjadi 200 Volt yang digunakan untuk pengukuran.
Untuk mencegah terjadinya perbedaan tegangan yang besar antara kumparan primer dengan
sekunder, karena adanya kerusakan isolasi pada kumparan primer maka pada sisi sekunder perlu
dipasang pembumian.
Begitu pula pada dasarnya defenisi serta fungsi dari transformator tegangan juga tak jauh
berbeda sebagai media pengukuran serta penurunan yang dilakukan pada sebuah tegangan untuk
tolak ukur sebagai dasarnya yang berdasarkan perbandingan yang tertentu saja dilakukan.
Transformator tegangan ini termasuk dalam bagian dari transformator khusus yang disebut
transformator pengukuran (instrumen).

5.2d Cabel Control


Kabel listrik adalah media untuk menyalurkan energi listrik. Sebuah kabel listrik terdiri
dari isolator dan konduktor. Isolator di sini adalah bahan pembungkus kabel yang biasanya
terbuat dari bahan thermoplastik atau thermosetting, sedangkan konduktornya terbuat dari bahan
tembaga ataupun aluminium. Kemampuan hantar sebuah kabel listrik ditentukan oleh KHA
(kemampuan hantar arus) yang dimilikinya, sebab parameter hantaran listrik ditentukan dalam
satuan Ampere. Kemampuan hantar arus ditentukan oleh luas penampang konduktor yang berada
dalam kabel listrik Jenis - jenis kabel listrik :

 Kabel NYA
Digunakan dalam instalasi rumah dan system tenaga. Dalam
instalasi rumah digunakan kabel NYAdengan ukuran 1,5 mm2 dan
2,5 mm2.Syarat penandaan dari kabel NYA : berinti tunggal, berlapis
bahan isolasi PVC, untuk instalasi luar/kabel udara. Kode warna
isolasi ada warna merah, kuning, biru dan hitam.Kabel tipe ini umum
dipergunakan di perumahan karena harganya yang relatif murah.
Lapisan isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat, tidak tahan

Gambar 5.2h :Kabel NYA air (NYA adalah tipe kabel udara) dan mudah digigit tikus.
Agar aman memakai kabel tipe ini, kabel harus dipasang dalam
pipa/conduit jenis PVC atau saluran tertutup. Sehingga tidak mudah menjadi sasaran gigitan
tikus, dan apabila ada isolasi yang terkelupas tidak tersentuh langsung oleh orang
N Kabel jenis standart dengan penghantar tembaga
Y Isolator PVC
A Kawat berisolasi

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 48


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

 Kabel NYM

Digunakan untuk kabel instalasi listrik rumah atau


gedung dan system tenaga. Kabel NYM : memiliki lapisan
isolasi PVC (biasanya warna putih atau abu-abu), ada yang
berinti 2, 3 atau 4. Kabel NYM memiliki lapisan isolasi dua
lapis, sehingga tingkat keamanannya lebih baik dari kabel NYA
(harganya lebih mahal dari NYA).Kabel ini dapat dipergunakan
dilingkungan yang kering dan basah, namun tidak boleh
Gambar 5.2i :Kabel NYM
ditanam.
N Kabel jenis standart dengan penghantar tembaga
Y Isolator PVC
M Berselubung PVC

 Kabel NYY
Kabel ini dirancang untuk instalasi tetap didalam tanah yang dimana
harus tetap diberikan perlindungan khusus (misalnya duct, pipa PVC atau pipa
besi). Kabel protodur tanpa sarung logam. Instalasi bisa ditempatkan didalam dan
diluar ruangan, dalam kondisi lembab ataupun kering. memiliki lapisan isolasi
PVC (biasanya warna hitam), ada yang berinti 2, 3 atau 4. Dan memiliki lapisan
isolasi yang lebih kuat dari kabel NYM (harganya lebih mahal dari NYM). Kabel
NYY memiliki isolasi yang terbuat dari bahan yang tidak disukai tikus.

Gambar 5.2j :Kabel NYY

 Kabel NYAF
Kabel ini direncanakan dan direkomendasikan untuk instalasi
dalam kabel kotak distribbusi pipa atau didalam duct. Kabel NYAF
merupakan jenis kabel fleksibel dengan penghantar tembaga serabut
berisolasi PVC. Digunakan untuk instalasi panel-panel yang
memerlukan fleksibelitas yang tinggi, kabel jenis ini sangat cocok
untuk tempat yang mempunyai belokan – belokan tajam. Digunakan
pada lingkungan yang kering dan tidak dalam kondisi yang
lembab/basah atau terkena pengaruh cuaca secara langsung.

Gambar 5.2h :Kabel


NYA
Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 49
Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

 Kabel NYFGbY/NYRGbY/NYBY
Kabel ini dirancang khusus untuk instalasi tetap dalam tanah yang
ditanam langsung tanpa memerlukan perlindungan tambahan (kecuali harus
menyeberang jalan). Pada kondisi normal kedalaman pemasangan dibawah
tanah adalah 0,8 meter.

Gambar 5.2k :Kabel NYFGbY

 Kabel NYCY
Kabel ini dirancang untuk jaringan listrik dengan penghantar konsentris
dalam tanah, dalam ruangan, saluran kabel dan alam terbuka. Kabel protodur
dengan dua lapis pelindung pita CU Kabel. Instalasi ini bisa ditempatkan diluar
atau didalam bangunan, baik pada kondisi lembab maupun kering.

Gambar 5.2l :Kabel NYCYNYA

 Kabel BC
Kabel ini dipilin/stranded, disatukan. Ukuran / tegangan mak = 6 –
500 mm2 / 500 V Pemakaian = saluran diatas tanah dan penghantar
pentanahan.

Gambar 5.2m :Kabel BC

 Kabel AAAC
Kabel ini terbuat dari aluminium-magnesium-silicon
campuran logam, keterhantaran elektris tinggi yang berisi
magnesium silicide, untuk memberi sifat yang lebih baik. Kabel
ini biasanya dibuat dari paduan aluminium 6201. AAAC
mempunyai suatu anti karat dan kekuatan yang baik, sehingga
daya hantarnya lebih baik.

Gambar 5.2h :Kabel AAAC

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 50


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

 Kabel ACSR
Kabel ACSR merupakan kawat penghantar yang terdiri dari
aluminium berinti kawat baja. Kabel ini digunakan untuk saluran-saluran
Transmisi tegangan tinggi, dimana jarak antara menara/tiang berjauhan,
mencapai ratusan meter, maka dibutuhkan kuat tarik yang lebih tinggi,
untuk itu digunakan kawat penghantar ACSR.

Gambar 5.2n :Kabel ACSR


 Kabel ACAR
Kabel ACAR yaitu kawat penghantar aluminium yang
diperkuat dengan logam campuran, sehingga kabel ini lebih
kuat daripada kabel ACSR.

Gambar 5.2o :Kabel ACAR

 Kabel NYMHYO
Merupakan kabel jenis serabut dengan berintikan dua serabut. Kabel ini
biasanya digunakan untuk soundsystem, loudspeaker, virtual video.

Gambar 5.2p :Kabel NYMHYO

 Kabel NYMHY/NYYHY
Kabel tembaga berbentuk serabut dan
berisolasi PVC. NYMHY umumnya berwarna
putih dan NYYHY biasanya berwarna hitam.
Kabel-kabel ini berinti lebih dari 1 kabel.
Biasanya digunakan untuk instalasi didalam
rumah yang tidak permanen, karena sifatnya
fleksible dan tidak mudah patah.Kabel jenis ini
Gambar 5.2q :Kabel NYMHY khusus direkomendasikan untuk digunakan

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 51


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

sebagai penghubung alat-alat rumah tangga yang sering dipindah pindah dan
harus ditempat kering. Kabel ini mempunyai isolasi plastic tahan panas. Bilamana
digunakan untuk penghubung alat pemanas, maka pada titik sambungannya antar
alat dengan kabel, temperaturnya tidak boleh lebih dari 85 derajat Celcius, karena
hal tersebut dapat membahayakan kabel itu sendiri

5.2e Power Supply Baterai


Power Supply adalah sebuah perangkat atau sistem yang memasok listrik atau energi ke
output yang dihubungkan pada beban atau kelompok beban. Beberapa tipe dari power supply :
 Catu daya baterai/ battery power supply
 Catu daya tak teregulasi/ unregulated power supply
 Catu daya tergulasi secara linear/ linear regulated power supply
 Variabel catu daya/ Switch mode power supply
 Catu daya terprogram/ programable power supply
 Uninterruptible Power Supply
 Catu daya tegangan tinggi/ High voltage power supply
 Pengali tegangan/ Voltage multipliers
Catu daya baterai/ battery power supply

Gambar 5.2t : Baterai

Baterai adalah jenis catu daya yang tidak tergantung pada ketersediaan induk listrik,
cocok untuk peralatan portabel dan digunakan dalam lokasi tanpa daya listrik. baterai terdiri dari
beberapa sel elektrokimia terhubung secara seri untuk memberikan tegangan yang diinginkan.
Sel primer yang digunakan adalah karbon-seng sel kering. Ia memiliki tegangan sebesar 1,5 volt
Karbon-seng dan sel-sel sudah banyak digunakan, tetapi sekarang jenis baterai alkaline lebih
banyak digunakan karena memiliki lebih banyak energi. Tegangan baterai yang paling sering
digunakan adalah 1.5 (1 sel) dan 9V (6 sel). Untuk saat ini jenis yang paling sering digunakan
adalah NiMH , dan lithium ion dan varian lainnya

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 52


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

BAB VI
PENUTUP

6.1 KESIMPULAN
 PT Perta-Samtan merupakan perusahaan gabungan antara PT Pertamina Gas dan Samtan
Co., Ltd., yang didirikan dengan tujuan mendukung program Pemerintah Indonesia dalam
mengurangi beban subsidi BBM dan memenuhi kebutuhan energi dalam negeri,
khususnya LPG dan Condensate. PT Perta-Samtan Gas berkantor pusat di Komplek PT
Pertamina (Persero)-RU III Desa Sungai Gerong Kecamatan Banyuasin I Kabupaten
Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Kami memiliki kilang terintegrasi yang beroperasi
pada dua lokasi, Kota Prabumulih yang dekat dengan sumber feed gas sebagai sumber
produksi LPG, dan Kabupaten Banyuasin, tempat pemrosesannya menjadi LPG. Untuk
menjaga kelancara proses produksi perusahaan maka perlunya perawatan alat-alat
pendukung produksi salah satunya motor-motor listrik, Generator, air compressor dan
alat-alat seluruhnya yang menggunakan energy listik.
 PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong Mendapatkan pasokan tenaga
listrik dari RU III sebesar 6.6 kVAC yang dikirim Kesungai Gerong melalui dua Busbar
A/B yang keluar melalui transformator Stepdown sebesar 400VAC untuk Proses
Produksi yang ada di load-load beban di Kilang Fraksinasi
 Sistem Jaringan Distribusi Tenaga Listrik dijabarkan melalaui single line diagram pada
MCC room yang mendistribusikan dan mengatur penghubung dan pemutus load-load
beban.
 Maintenance Transformator di PT.Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi menggunakan
standart Nasional dan Internasional khusus untuk electrical instrument
 Proteksi utama dari Sistem Jaringan Distribusi adalah circuit breaker yang bervariasi
mulai dari Tegangan Tinggi sampai Menengak Kebawah.
 Perlu dilakukan maintenance berkala dan pengadaan proteksi yang handal pada Sistem
Jaringan Distribusi untuk menjaga kontinuitas layana

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 53


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

6.2 SARAN

1. Karena PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong merupakan salah satu
Perusahaan Migas yang sangat tergantung kepada kontinuitas layanan energi listrik, maka
diharapkan kiranya kehandalan dan efisiensi dari transformator dapat terus dijaga melalui
maintenance yang sesuai standart dan juga sistem proteksi yang baik demi terciptanya suplai
energi yang berkulitas.

2. Perlu dilakukan juga maintenance dari rele, circuit breaker, alat indikator, dan juga berbagai
perlengkapan proteksi Sistem Jaringan Listrik sehingga tetap bekerja dengan performa yang
baik.

3. Perlu dilakukan up-date sistem proteksi terkini dan melakukan pengkajian pengkajian
settingan Pengaman system jaringan yang telah ada untuk mendapatkan karakteristik kerja
yang lebih baik.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 54


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

6.3 Daftar Pustaka

US Depatement of the interior Bureau of Reclamation, 2005, “Transformer : Basics,


Maintenance and Diagnostics. Denver, colorado. Tersedia :
http://www.usbr.gov/pmts/client_service/recent/studytransformers.pdf

T60 Transformer management Relay UR Series Instruction Manual. Tersedia :


http://www.electricalmanuals.net/files/RELAYS/GE/T60/GEK106448B.pdf

Neil labrake, Jr, PE, 2009, “ Preventive Maintenance/Electrical Service Equipment”, National
Grid, Turning Stone Ressort. Tersedia :
http://www.shovelready.com/documents/neillabrake.ppt

Wikipedia Indonesia :

https://id.wikipedia.org/wiki/HVAC

http://en.wikipedia.org/wiki/Power_supply

Blog elektro :

http://www.elektroindonesia.com/elektro/ener35a.html

https://robyandri67.wordpress.com/2015/07/15/pemeliharaan-jaringan-distribusi/

http://insyaansori.blogspot.co.id/2013/09/macam-macam-circuit-breaker-cb.html

http://www.eventzero.org/penggunaan-dan-penjelasan-transformator-arus-dan-tegangan/

http://www.tipsrawatrumah.com/2015/03/mengenal-jenis-jenis-kabel-listrik-dan.html

http://aloekmantara.blogspot.co.id/2014/05/sistem-elektrikal-gedung.html

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 55


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang
Laporan Kerja Praktek
Di PT. Perta-Samtan Gas Kilang Fraksinasi Sungai Gerong

LAMPIRAN

Permasalahan-permasalahan teknis kelistrikan yang ditemukan di Lapangan

1. Adanya masalah korosi yang ada di motor-motor serta alat-alat instrument yang menyebabkan
gangguan maupun kebocoran gas pada palep-palem yang telah lama tidak diganti. Berbagai
faktor yang mempengaruhi tingkat korosi seperti kondisi pada permukaan badan alat yang
bersentuhan langsung dengan tanah, suhu, kelembapan udara, dsb. Oleh sebab itu dilakukan
pengecekan tingkat korosi dan thickness (ketebalan) tiang sehingga dapat dilakukan tindakan
perbaikan atau penggantian tiang dengan tingkat korosi tinggi.

2. Putusnya salah satu kabel Distribusi pada salah satu fasa di sekitar Gathering station sehingga
perlu dilakukan perbaikan langsung. Karena dapat menggagu keseimbangan tegangan pada 2
fasa yang lain.

Apriyadi Budi Santoso (132015030) Page 56


Daud Karimun (132015019)
Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang