Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

GLAUKOMA AKUT OD + KATARAK SENILIS IMATUR ODS

Disusun oleh :

Pitri Erlina Lay

406148138

Pembimbing :

dr. Syukri Mustafa, Sp. M(K), M.Kes

KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT MATA

RUMAH SAKIT HUSADA JAKARTA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA

PERIODE 19MARET 2018 – 21 APRIL 2018

1
BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
Nama : Ny.Tjui Lindawati
Umur : 65 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Bangsa : Indonesia
Agama : Budha
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl Kartini Raya No 21
No RM : 01197688

II. ANAMNESIS
Dilakukan autonamnesis pada tanggal 7/04/2018, jam 11.00 WIB.

Keluhan utama : Pasien mengeluh penglihatan mata kanan mendadak buram sejak 1
hari lalu.

Keluhan tambahan : Pasien juga mengeluh mata kanannya merah, terasa mengganjal,
nyeri di sekitar mata kanan dan sakit kepala yang meyerupai migren, kadang-kadang
mual bahkan sesekali muntah walaupun jarang.

Riwayat penyakit sekarang :


Sejak 1 hari lalu, pasien mengeluh tiba-tiba penglihatan pada mata kanannya
memburam parah. Sebelumnya pasien hanya melihat benda seperti kabut tipis, hal ini
sudah dialami selama dua bulan terakhir ini, tetapi kemudian pasien mengeluh hanya
bisa melihat bayangan samar-samar saja, melalui mata kanannya sejak kemarin.
Pasien merasa mata kanannya mengganjal, merah, sedikit berair namun menyangkal
terdapatnya gatal, belekan, dan silau. Pasien merasa melihat lingkaran berwarna
seperti pelangi di sekitar sinar lampu. Pasien juga mengeluh terdapat nyeri
disekeliling mata kanan. Nyeri dirasakan terus menerus dan menghilang setelah tidur
sebentar. Pasien juga mengeluh sakit kepala terus-menerus, yang menyerupai migren.
Kadang-kadang pasien merasa mual bahkan sesekali muntah walaupun jarang. Pasien
mengira masuk angin dan minum air jahe untuk mengurangi mual dan muntahnya.

2
Riwayat trauma dan penggunaan obat-obatan tetes mata yang lama sebelumnya
disangkal. Tidak ada keluhan yang serupa pada mata kiri pasien. Pasien belum pernah
berobat sebelumnya.

Riwayat penyakit dahulu :


Riwayat sakit mata sebelumnya disangkal pasien. Tidak ada riwayat diabetes mellitus,
hipertensi, dan asma pada pasien. Riwayat memakai kaca mata juga disangkal.

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada anggota keluarga serumah yang mengalami keluhan yang sama dengan
pasien.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status generalis
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis

B. Status Oftalmologis

Okuli Dekstra (OD) Okuli Sinistra (OS)

Visus 6/30 6/9

Kedudukan bola Ortho Ortho


mata Tidak ada Tidak ada
Eksoftalmus Tidak ada Tidak ada
Endoftalmus Tidak ada Tidak ada
Deviasi Baik ke segala arah Baik ke segala arah
Gerak bola mata

Supra cilia
Madarosis Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Warna Hitam Hitam
Simetris Simetris Simetris

Palpebra superior
Edema Tidak ada Tidak ada
Hiperemi Tidak ada Tidak ada
Enteropion Tidak ada Tidak ada
Ekteropion Tidak ada Tidak ada
Benjolan Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan Ada Tidak ada

3
Blefarospasme Tidak ada Tidak ada
Trikiasis Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Punctum lakrimalis Ada Ada
Fissura palpebral Ada Ada

Palpebra inferior
Edema Tidak ada Tidak ada
Hiperemi Tidak ada Tidak ada
Enteropion Tidak ada Tidak ada
Ekteropion Tidak ada Tidak ada
Benjolan Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Blefarospasme Tidak ada Tidak ada
Trikiasis Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Punctum lakrimalis Ada Ada
Fissura palpebral Ada Ada
Tes Anel Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Konjungtiva tarsal
palpebra superior
Sekret mata Tidak ada Tidak ada
Hiperemi Tidak ada Tidak ada
Folikel Tidak ada Tidak ada
Papil Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Benjolan Tidak ada Tidak ada
Hordeolum Tidak ada Tidak ada
Kalazion Tidak ada Tidak ada

Konjungtiva tarsal
palpebra inferior
Sekret mata Tidak ada Tidak ada
Hipermi Tidak ada Tidak ada
Folikel Tidak ada Tidak ada
Papil Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Benjolan Tidak ada Tidak ada
Hordeolum Tidak ada Tidak ada
Kalazion Tidak ada Tidak ada

Konjungtiva bulbi
Kemosis Tidak ada Tidak ada
Hiperemi Ada Tidak ada
Tidak ada Tidak ada
Injeksi Konjungtiva
4
Injeksi Siliar Ada Tidak ada
Tidak ada Tidak ada
Perdarahan di bawah
konjungtiva Tidak ada Tidak ada
Pterigium Tidak ada Tidak ada
Pinguekula

Sklera
Warna Putih Putih
Ikterik Tidak ada Tidak ada

Kornea
Kejernihan Keruh, oedem Jernih
Permukaan Rata Rata
Ukuran 1 cm 1 cm
Sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Infiltrat Tidak ada Tidak ada
Ulkus Tidak ada Tidak ada
Keratik presipitat Tidak ada Tidak ada
Perforasi Tidak ada Tidak ada
Arcus senilis Ada Ada
Edema Tidak ada Tidak ada
Test placido Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Bilik Mata Depan


Kedalaman Dangkal Cukup
Kejernihan Jernih Jernih
Hifema Tidak ada Tidak ada
Hipopion Tidak ada Tidak ada
Efek Tyndall Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Iris
Bentuk Bulat, reguler Bulat, reguler
Warna Coklat kehitaman Coklat kehitaman
Kripte Tidak tampak Ada
Sinekia Tidak ada Tidak ada
Koloboma Tidak ada Tidak ada
Neovaskularisasi + -

5
Pupil
Letak Ditengah Ditengah
Ukuran diameter + 5 mm + 3 mm
Refleks cahaya + (mid dilatasi) +
langsung
Refleks cahaya tak + (mid dilatasi) +
langsung

Lensa
Kejernihan Keruh Agak keruh
Letak Ditengah Ditengah
Shadow Test - +

Vitreus humor Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Funduskopi Sulit dinilai karena Papil bulat, batas


kornea & lensa tegas, CD ratio 0.3,
keruh arteri : vena = 2:3

Tonometri
Tonometri digital N+2 N
Tonometri schiotz 0/5.5 = 41,5 4/5.5 = 20,6
2/7.5 = 42,1
4/10 = 43,4

Lapang pandang Menciut (lebih sempit dari = pemeriksa


pemeriksa)

IV. RESUME

Telah diperiksa Ny.T 65 tahun datang dengan keluhan sejak 1 hari lalu, pasien
mengeluh tiba-tiba penglihatan pada mata kanannya memburam parah. Sebelumnya
pasien hanya melihat benda seperti kabut tipis, hal ini sudah dialami selama dua bulan
terakhir ini, tetapi kemudian pasien mengeluh hanya bisa melihat bayangan samar-samar
saja, melalui mata kanannya sejak kemarin. Pasien merasa mata kanannya mengganjal,
merah, sedikit berair namun menyangkal terdapatnya gatal, belekan, dan silau. Mata
kanannya merah, sedikit berair, dan merasa melihat lingkaran berwarna seperti pelangi di
sekitar sinar lampu (halo +). Pasien juga merasa nyeri disekeliling mata kanan. Nyeri
dirasakan terus menerus dan menghilang setelah tidur sebentar. Pasien juga mengeluh

6
sakit kepala seperti migren yang berlangsung terus-menerus. Kadang-kadang pasien
merasa mual bahkan sesekali muntah walaupun jarang.
Berdasarkan pemeriksaan oftalmologis mata kanan, didapatkan visus occuli
dextra (OD) 3/60 (OS) 6/9. Pada konjungtiva bulbi tampak hiperemis dengan injeksi
siliar. Kornea keruh dan oedem. COA dangkal. Iris berwarna kelabu, kriptenya tidak
tampak, tampak neovaskularisasi iris. Pupil mid dilatasi, diameter pupil + 5 mm. Pada
pemeriksaan palpasi mata kanan lebih keras dari pada mata kiri. Pada pemeriksaan
lapang pandang menggunakan test konfrontasi, didapatkan hasil yang lebih sempit dari
pada lapang pandang pemeriksa. Lensa mata kanan lebih keruh dibandingkan dengan
mata kiri. Pemeriksaan shadow test positif pada mata kiri. Pada pemeriksaan funduskopi
mata kanan sulit dinilai karena kekeruhan pada kornea dan lensanya. Pada pemeriksaan
tekanan bola mata didapatkan TIO mata kanan + 42,1 mmHg.

V. DIAGNOSIS
Glaukoma akut OD
Katarak senilis imatur ODS

VI. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
 Timol 0.5% eye drop 2 dd gtt I OD
 Cendocarpin 2 % eye drop 4 dd gtt I OD
 Cendoxitrol eye drop 5 dd gtt I OD
 Glauseta tab 3 dd tab I
 Aspar K tab 2 dd tab I
 Gliserin 50 % 3 x 150 cc
Non medikamentosa
 KIE tentang penyakit glaukoma akut termasuk kegawatdaruratan di mata karena
tekanan pada bola mata kanan yang tinggi dapat menimbulkan penurunan
pengelihatan bahkan kebutaan apabila tidak segera ditangani, perlu diobati segera
agar tekanannya menjadi normal sehingga bisa ditindak lanjuti misalnya dengan
trabekulektomi.
 Menjaga tekanan darah jangan sampai naik karena akan meningkatkan tekanan
bola mata.
 Tidak minum air langsung dalam jumlah banyak (2-3 gelas langsung)
 Tidak boleh minum kopi, atau makan daging kambing.
 Tidak boleh tidur ditempat yang sangat gelap.
7
 Jika berobat ke dokter lain harus mengatakan bahwa pasien mengalami glaukoma
karena beberapa obat kontraindikasi dengan obat glaukoma.
 Menjelaskan pada pasien bahwa lensa mata pasien mulai mengalami kekeruhan
yang tidak dapat disembuhkan dengan obat melainkan hanya dapat diperlambat
proses pengeruhannya.
 Menjelaskan pada pasien bahwa kekeruhan pada lensa mata hanya dapat
disembuhkan dengan pembedahan, misalnya : ECCE (Ekstraksi katarak
ekstrakapsular) dan fakoemulsifikasi + implantasi IOL
 Kontrol 2-3 hari lagi.

VII. PROGNOSIS
 Ad vitam : dubia ad bonam
 Ad fungsionam : dubia ad malam
 Ad sanationam : dubia ad malam

BAB II

ANALISA KASUS

Pada kasus ini, pasien didiagnosis glaukoma akut pada mata kanan berdasarkan

anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Hasil anamnesis yang mendukung

glaukoma akut pada mata kanan, yaitu :

 Mata kanan mendadak buram sejak 1 hari lalu.

 Mata kanan merah.

 Nyeri di sekeliling mata kanan yang timbul mendadak.

 Nyeri kepala.

 Mual dan sesekali muntah.

 Melihat lingkaran berwarna seperyti pelangi di sekitar sinar lampu (halo +).

Sedangkan dari pemeriksaan ophtalmologi dan pemeriksaan penunjang pada mata kanan

didapatkan :

8
 Konjungtiva bulbi : hiperemis dengan injeksi siliar.

 Visus mata kanan menurun (3/60)

 Kornea keruh dan oedem.

 COA dangkal.

 Iris kriptenya tidak tampak, tampak neovaskularisasi iris.

 Pupil mid dilatasi, diameter pupil + 5 mm.

 Palpasi mata kanan lebih keras dari pada mata kiri.

 Pemeriksaan lapang pandang menggunakan test konfrontasi, didapatkan hasil yang lebih

sempit dari pada lapang pandang pemeriksa.

 Funduskopi mata kanan sulit dinilai karena kekeruhan pada kornea dan lensa mata kanan.

 Pemeriksaan tekanan bola mata menggunakan tonometri Schiotz didapatkan TIO mata

kanan = + 42,1mmHg.

 Shadow test mata kanan negatif sedangkan mata kiri positif, kekeruhan lensa pada mata

kanan lebih tebal dibandingkan mata kiri.

Berdasarkan etiologinya glaukoma terdiri dari glaukoma primer, sekunder, glaukoma

kongenital. Glaukoma primer adalah glaukoma yang tidak diketahui penyebabnya. Glaukoma

sekunder adalah glaukoma yang disebabkan oleh kelainan penyakit di dalam mata tersebut

seperti kelainan pada kornea (seperti lekoma adherens), COA (seperti hifema, hipopion),

iris/pupil (sinekia posterior, tumor iris), dan lain-lain. Glaukoma kongenital adalah glaukoma

yang dibawa sejak lahir. Sedangkan berdasarkan mekanisme peningkatan tekanan intraokular,

glaukoma terbagi dalam glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup. Pasien dalam

kasus ini tergolong dalam glaukoma sekunder sudut tertutup. Glaukoma primer biasanya

mengenai dua mata sedangkan glaukoma sekunder pada umunya hanya terjadi pada satu mata.

9
Dalam kasus ini, glaukoma kemungkinan disebabkan karena katarak nya. Gejala dan tanda pada

glaukoma akut sudut tertutup, ditemukan mata merah dengan penglihatan turun mendadak,

tekanan intraokuler meningkat mendadak, nyeri yang hebat, melihat halo di sekitar lampu yang

dilihat, terdapat gejala gastrointestinal berupa mual dan muntah. Mata menunjukkan tanda-tanda

peradangan dengan kelopak mata bengkak, kornea suram dan edem, iris sembab meradang, pupil

mid dilatasi dengan diameter lebih dari normal, papil saraf optik hiperemis. Gejala spesifik

seperti di atas tidak selalu terjadi pada mata dengan glaukoma akut. Kadang-kadang riwayat

mata sakit disertai penglihatan yang menurun mendadak sudah dapat dicurigai telah terjadinya

serangan glaukoma akut seperti gejala dan tanda yang ditunjukkan pasien.

Ketika terjadi serangan glaukoma akut , terjadi sumbatan sudut kamera anterior oleh iris

perifer. Hal ini menyumbat aliran humor akuos dan tekanan intraokular meningkat dengan cepat,

menimbulkan nyeri hebat, kemerahan, dan kekaburan penglihatan. Serangan akut biasanya

terjadi pada pasien berusia tua seiring dengan pembesaran lensa kristalina yang berkaitan dengan

penuaan. Glaukoma akut dapat terjadi akibat katarak intumesen dalam bentuk glaukoma akut

kongestif. Hal ini terjadi pada katarak senilis, katarak trauma tumpul, atau trauma perforasi pada

lensa. Pada glaukoma akut, pupil mid dilatasi, disertai sumbatan/blokade pupil. Akibat blokade

ini, akan terjadi pendorongan iris sehingga pangkal iris akan meutup saluran trabekulum yang

berakibat pada bertambahnya bendungan cairan mata. Pada glaukoma sudut tertutup tidak efektif

jika dilakukan iridektomi, tetapi akan lebih baik jika operasi dilakukan trabekulektomi. Rasa

nyeri hebat pada mata yang menjalar sampai kepala merupakan tanda khas glaukoma akut. Hal

ini terjadi karena meningkatnya tekanan intraokular sehingga menekan simpul-simpul saraf di

daerah kornea yang merupakan cabang dari nervus trigeminus. Sehingga daerah sekitar mata

yang juga dipersarafi oleh nervus trigeminus ikut terasa nyeri. Pada Glaukoma akut, tekanan

10
okular sangat meningkat, sehingga terjadi kerusakan iskemik pada iris yang disertai edem

kornea, hal ini menyebabkan penghilatan pasien sangat kabur secara tiba-tiba dan visus menjadi

menurun.

Glaukoma akut merupakan salah satus kasus kegawatdaruratan pada penyakit mata

sehingga penatalaksanaan harus dilakukan segera di rumah sakit. Tujuan pengobatan pada

glaukoma akut adalah untuk menurunkan tekanan bola mata secepatnya kemudian apabila

tekanan bola mata normal dan mata tenang maka dapat dilakukan pembedahan. Pengobatan pada

glaukoma akut harus segera berupa kombinasi pengobatan sistemik dan topikal.

Pada kasus ini, pasien diberikan obat topikal tetes mata Timol 0.5% 2x1 tetes,

Cendocarpin 2% 4x1 tetes, Cendoxitrol 5x1 tetes (pada mata kanan) sedangkan untuk

pengobatan sistemik diberikan Glauseta (asetazolamid) tablet 2x1 mg, Aspar K 2 x1 tablet, dan

Gliserin cair 50% 3 x150 cc.

Timol berisi timolol yang merupakan beta bloker non selektif dengan aktivitas dan

konsentrasi tertinggi pada Camera Occuli Posterior (COP) yang dicapai dalam waktu 30-60

menit setelah pemberian topikal. Beta bloker dapat menurunkan tekanan intraokular dengan cara

mengurangi produksi humor aquos. Penggunan beta bloker non selektif sebagai inisiasi terapi

dapat diberikan 2 kali dengan interval setiap 20 menit dan dapat diulang dalam 4, 8, dan 12 jam

kemudian. Pemberian Timol 0.5% 2x1 tetes sudah tepat. Timolol termasuk beta bloker non

selektif sehingga perlu diperhatikan pemberiannya pada pasien dengan asma, PPOK, dan

penyakit jantung. Cendoxitrol tetes mata ini mengandung Dexamethasone 1 mg dan Neomycin

Sulfate diberi untuk mengurangi reaksi peradangan yang terjadi akibat proses akut.

Cendocarpin mengandung pilokarpin 2% yang berfungsi berfungsi sebagai miotik untuk

melepaskan iris dari jaringan trabekulum sehingga sudut bilik mata depan akan terbuka dan

11
dapat mencegah kendornya pupil. Obat ini diteteskan 4x1 sehari 1 tetes. Obat golongan atropin

bisa digunakan untuk melemaskan otot siliaris sehingga merilekskan apparatus zonularis.

Glauseta mengandung asetazolamid yang termasuk dalam golongan karbonik anhidrase

inhibitor. Efeknya dapat menurunkan tekanan dengan menghambat produksi humor akuos

sehingga sangat berguna untuk menurunkan tekanan intraokular secara cepat. Obat ini dapat

diberikan secara oral dengan dosis 250-1000 mg per hari. Pada pasien dengan glaukoma akut

yang disertai mual muntah hebat dapat diberikan Asetazolamid 500 mg IV, yang disusul dengan

250 mg tablet setiap 4 jam sesudah keluhan mual hilang. Pemberian obat ini memberikan efek

samping hilangnya kalium tubuh, parastesi, anoreksia, diarea, hipokalemia, batu ginjal dan

miopia sementara. Untuk mencegah efek samping hipokalemia tersebut, pada pasien ini

diberikan pemberian tablet Aspar K 2x1 tablet.

Selain itu pasien juga diberi larutan gliserin 50% secara oral, yang diminum sekaligus

150 cc, sebanyak 3 kali (dosis total 450 cc), dimana obat ini berfungsi untuk meningkatkan daya

osmotik plasma, yaitu sebagai obat hiperosmotik.

Pada pemeriksaan mata pasien AVOD SC = 6/30, AVOS SC = 6/9 artinya penglihatan

mata kiri masih lebih baik dari pada mata kanan, mesikupun didapatkan kekeruhan lensa di

kedua matanya, dimana kekeruhan lensa mata kanan lebih tebal dari pada lensa mata kiri,

pemeriksaan shadow test mata kanan,yang jika disinari dengan menggunakan senter pada

kemiringan 45o tidak menimbulkan bayangan iris, sedangkan pada pemeriksaan shadow test

mata kiri, didapatkan adanya bayangan iris. Dari hasil pemeriksaan shadow test tersebut dapat

dijelaskan bahwa pasien mengalami kekeruhan lensa atau katarak yang belum matur pada

keduamatanya.

12
Penatalaksanaan pada penyakit glaukoma akut adalah dengan obat penghambat

pembentukan aqueous humor atau peningkat ekskresi aqueous humor serta pembedahan

trabekulektomi. Sedangkan tatalaksana untuk katarak adalah dengan pembedahan katarak teknik

EKEK (ekstraksi katarak ekstra kapsular), dengan fakoemulsifikasi + pemasangan IOL.

BAB III

GLAUKOMA AKUT

I. DEFINISI
Glaukoma sudut tertutup primer terjadi apabila terbentuk iris bombe yang menyebabkan
sumbatan sudut kamera anterior oleh iris perifer, sehingga menyumbat aliran humor akueus
dan tekanan intraokular meningkat dengan cepat sehingga menimbulkan nyeri hebat,
kemerahan dan kekaburan penglihatan. Glaukoma Akut merupakan kedaruratan okuler
sehingga harus diwaspadai, karena dapat terjadi bilateral dan dapat menyebabkan kebutaan
bila tidak segera ditangani dalam 24 – 48 jam.

II. EPIDEMIOLOGI

13
Glaukoma akut terjadi pada 1 dari 1000 orang yang berusia di atas 40 tahun dengan
angka kejadian yang bertambah sesuai usia. Perbandingan wanita dan pria pada penyakit ini
adalah 4:1. Pasien dengan glaukoma sudut tertutup kemungkinan besar rabun dekat karena
mata rabun dekat berukuran kecil dan struktur bilik mata anterior lebih padat.

III. ETIOLOGI
Glaukoma akut terjadi karena peningkatan tekanan intraokuler secara mendadak yang
dapat disebabkan oleh sumbatan di daerah kamera okuli anterior oleh iris perifer, sehingga
menyumbat aliran humor akueus dan menyebabkan tekanan intra okular meningkat dengan
cepat sehingga menimbulkan nyeri hebat.

IV. PATOFISIOLOGI
Glaukoma sudut tertutup primer terjadi karena ruang anterior secara anatomis
menyempit sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan
menghambat humor akueus mengalir ke saluran schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat
karena peningkatan tekanan vitreus, penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang
mengeras karena usia tua. Peningkatan tekanan intraokuler akan mendorong perbatasan antara
saraf optikus dan retina di bagian belakang mata. Akibatnya pasokan darah ke saraf optikus
berkurang sehingga sel-sel sarafnya mati. Karena saraf optikus mengalami kemunduran, maka
akan terbentuk bintik buta pada lapang pandang mata. Yang pertama terkena adalah lapang
pandang tepi, lalu diikuti oleh lapang pandang sentral. Jika tidak diobati, glaukoma pada
akhirnya bisa menyebabkan kebutaan.

V. GEJALA DAN TANDA


Tajam penglihatan kurang (kabur mendadak), mata merah, bengkak, mata berair, kornea
suram karena edema, bilik mata depan dangkal dan pupil lebar dan tidak bereaksi terhadap

14
sinar, diskus optikus terlihat merah dan bengkak, tekanan intra okuler meningkat hingga
terjadi kerusakan iskemik pada iris yang disertai edema kornea, dibuktikan dengan tonometri
schiotz ataupun teknik palpasi (tidak dianjurkan karena terlalu subjektif), melihat halo
(pelangi di sekitar objek), nyeri hebat periorbita, pusing, bahkan mual-muntah.

VI. DIAGNOSIS
Berdasarkan penjelasan di atas, maka diagnosis dapat ditegakan dari anamnesis,
pemeriksaan status umum dan oftalmologis, serta penunjang.
Berdasarkan ananmnesis, pasien akan mengeluhkan pandangan kabur, melihat pelangi
atau cahaya di pinggir objek yang sedang dilihat (halo), sakit kepala, sakit bola mata, pada
kedua matanya, muntah – muntah.
Pada pemeriksaan akan ditemukan tanda-tanda, antara lain : visus sangat menurun, mata
merah, tekanan intra okular meningkat, injeksi pericorneal, kornea oedem, COA dangkal,
iris oedem dan berwarna abu – abu, pupil sedikit melebar dan tidak bereaksi terhadap sinar,
serta diskus optikus terlihat merah dan bengkak.
Selain itu, dapat juga dilakukan pemeriksa penunjang, diantaranya, pemeriksaan
tekanan intra okular dengan menggunakan tonometri, melihat sudut COA, menilai CDR,
pemeriksaan lapang pandang, tonografi, serta tes kamar gelap.

VII. KLASIFIKASI
Glaukoma sudut tertutup primer dapat dibagi menjadi :
a. Akut
Glaukoma ini terjadi apabila terbentuk iris bombe yang menyebabkan sumbatan sudut
kamera anterior oleh iris perifer dan akibat pergeseran diafragma lensa-iris ke anterior
disertai perubahan volume di segmen posterior mata.
b. Subakut
Glaukoma dengan gejala klinis nyeri unilateral berulang dan mata tampak kemerahan
c. Kronik
Glaukoma dengan gejala klinis terdapat peningkatan tekanan intraokular, sinekia
anterior perifer meluas
d. Iris plateau
Iris plateau adalah suatu kelainan yang jarang dijumpai kedalaman kamera anterior
sentral normal tetapi sudut kamera anterior sangat sempit karena insersi iris secara
kongenital terlalu tinggi.
15
VIII. DIAGNOSIS BANDING
Iritis akut, menimbulkan fotofobia lebih besar daripada glaukoma. Tekanan intraokular
biasanya tidak meningkat, pupil konstriksi, dan kornea biasanya tidak edematosa. Di kamera
anterior tampak jelas sel – sel, dan terdapat injeksi siliaris dalam.
Konjungtivitis akut, nyerinya ringan atau tidak ada dan tidak terdapat gangguan
penglihatan. Terdapat tahi mata dan konjungtiva yang meradang hebat tetapi tidak terdapat
injeksi siliaris. Respon pupil dan tekanan intraokular normal, dan kornea jernih.
Glaukoma sudut tertutup akut sekunder dapat terjadi akibat pergeseran diafragma
lensa-iris ke anterior disertai perubahan volume di segmen posterior mata. Hal ini dapat
dijumpai pada sumbatan vena retina sentralis, pada skleritis posterior dan setelah tindakan –
tindakan terapeutik misalnya fotokoagulasi panretina, krioterapi retina, dan scleral buckling
untuk pelepasan retina. Gambaran klinis biasanya mempermudah diagnosis.

IX. KOMPLIKASI
Apabila terapi tertunda, iris perifer dapat melekat ke jalinan trabekular (sinekia
anterior), sehingga menimbulkan sumbatan ireversibel sudut kamera anterior yang
memerlukan tindakan bedah untuk memperbaikinya. Kerusakan saraf optikus sering terjadi.

X. PENATALAKSANAAN
Glaukoma hanya bisa diterapi secara efektif jika diagnose ditegakkan sebelum
serabut saraf benar-benar rusak. Tujuannya adalah menurunkan tekanan intraokular, dapat
dilakukan dengan minum larutan gliserin dan air bisa mengurangi tekanan dan
menghentikan serangan glaukoma. Bisa juga diberikan inhibitor karbonik anhidrase
(misalnya asetazolamid  500 mg iv dilanjutkan dgn oral 500 mg/1000mg oral). Tetes mata
pilokarpin menyebabkan pupil mengecil sehingga iris tertarik dan membuka saluran yang
tersumbat. Untuk mengontrol tekanan intraokuler bisa diberikan tetes mata beta bloker
(Timolol 0.5% atau betaxolol 0.5%, 2x1 tetes/hari) dan kortikosteroid topikal dengan atau
tanpa antibiotik untuk mengurangi inflamasi dan kerusakan saraf optik. Setelah suatu
serangan, pemberian pilokarpin dan beta bloker serta inhibitor karbonik anhidrase biasanya
16
terus dilanjutkan. Pada kasus yang berat, untuk mengurangi tekanan biasanya diberikan
manitol intravena (melalui pembuluh darah).
Prinsip dari pengobatan glaukoma akut yaitu untuk mengurangi produksi humor
akueus dan meningkatkan sekresi dari humor akueus sehingga dapat menurunkan tekanan
intra okuler sesegera mungkin. Obat – obat yang dapat digunakan, yaitu :
• Menghambat pembentukan humor akueus
Penghambat beta andrenergik adalah obat yang paling luas digunakan. Dapat
digunakan tersendiri atau dikombinasi dengan obat lain. Preparat yang tersedia antara lain
Timolol maleat 0,25% dan 0,5%, betaksolol 0,25% dan 0,5%, levobunolol 0,25% dan
0,5%, dan metipranolol 0,3%. Apraklonidin adalah suatu agonis alfa adrenergik yang
baru yang berfungsi menurunkan produksi humor akueous tanpa efek pada aliran keluar.
epinefrin dan dipiferon juga memiliki efek yang serupa. Inhibitor karbonat anhidrase
sistemik asetazolamid digunakan apabila terapi topikal tidak memberi hasil memuaskan
dan pada glaukoma akut dimana tekanan intraokuler sangat tinggi dan perlu segera
dikontrol. Obat ini mampu menekan pembentukan humor akueous sebesar 40-60%.

• Fasilitasi aliran keluar humor akueous


Obat parasimpatomimetik meningkatkan aliran keluar humor akueous dengan
bekerja pada jalinan trabekuler melalui kontraksi otot siliaris. Obat pilihan adalah
pilokarpin, larutan 0,5-6% yang diteteskan beberapa kali sehari atau gel 4% yang
dioleskan sebelum tidur. Semua obat parasimpatomimetik menimbulkan miosis disertai
meredupnya penglihatan, terutama pada pasien dengan katarak, dan spasme akomodatif
yang mungkin mengganggu bagi pasien muda.

• Penurunan volume korpus vitreum


Obat-obat hiperosmotik menyebabkan darah menjadi hipertonik sehingga air tertarik
keluar dari korpus vitreum dan terjadi penciutan korpus vitreum. Penurunan volume
korpus vitreum bermanfaat dalam pengobatan glaukoma akut sudut tertutup. Gliserin
1ml/kgBB dalam suatu larutan 50% dingin dicampur dengan sari lemon, adalah obat yang
paling sering digunakan, tetapi pemakaian pada pasien diabetes harus berhati-hati. Pilihan
lain adalah isosorbin oral atau manitol intravena.
17
• Miotik, Midriatik
Konstriksi pupil sangat penting dalam penalaksanaan glaukoma sudut tertutup akut
primer dan pendesakan sudut pada iris plateau. Dilatasi pupil penting dalam penutupan
sudut akibat iris bombe karena sinekia posterior. Apabila penutupan sudut diakibatkan
oleh pergeseran lensa ke anterior, atropine atau siklopentolat bisa digunakan untuk
melemaskan otot siliaris sehingga mengencangkan apparatus zonularis.

Bila tidak dapat diobati dengan obat – obatan, maka dapat dilakukan tindakan :
 Iridektomi dan iridotomi perifer
Sumbatan pupil paling baik diatasi dengan membentuk komunikasi langsung
antara kamera anterior dan posterior sehingga beda tekanan diantara keduanya
menghilang. Hal ini dapat dicapai dengan laser neonidium: YAG atau aragon atau
dengan tindakan bedah iridektomi perifer, tetapi dapat dilakukan bila sudut yang
tertutup sebesar 50%.
 Trabekulotomi (Bedah drainase)
Dilakukan jika sudut yang tertutup lebih dari 50% atau gagal dengan
iridektomi.

XI. PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap glaukoma akut dapat dilakukan Pada orang yang telah berusia
20 tahun sebaiknya dilakukan pemeriksaan tekanan bola mata berkala secara teratur setiap
3 tahun, bila terdapat riwayat adanya glaukoma pada keluarga maka lakukan pemeriksaan
setiap tahun. Secara teratur perlu dilakukan pemeriksaan lapang pandangan dan tekanan
mata pada orang yang dicurigai akan timbulnya glaukoma. Sebaiknya diperiksakan tekanan
mata, bila mata menjadi merah dengan sakit kepala yang berat, serta keluarga yang pernah
mengidap glaukoma.

XII. PROGNOSIS
Glaukoma akut merupakan kegawat daruratan mata, yang harus segera ditangani
dalam 24 – 48 jam. Jika tekanan intraokular tetap terkontrol setelah terapi akut glaukoma

18
sudut tertutup, maka kecil kemungkinannya terjadi kerusakan penglihatan progresif. Tetapi
bila terlambat ditangani dapat mengakibatkan buta permanen.

BAB IV
KATARAK

I. DEFINISI
Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa dan dapat terjadi akibat keduanya. 1,2
Penuaan merupakan penyebab katarak yang terbanyak, tetapi banyak juga factor yang mungkin
terlibat, antara lain: trauma, toksin, penyakit sistemik (mis. Diabetes), merokok dan herediter.1

II. PATOGENESIS
Patogenesis belum sepenuhnya dimengerti.Pada lensa katarak secara karakteristik terdapat
agregat-agregat protein yang menghamburkan berkas cahaya dan mengurangi
transparansinya.Dapat pula ditemukan vesikel di antara serat-serat lensa atau migrasi sel epitel
dan pembesaran sel-sel epitel yang menyimpang. Sejumlah factor yang diduga turut berperan
19
dalam terbentuknya katarak, antara lain kerusakan oksidatif (dari proses radikal bebas), sinar
ultraviolet dan malnutrisi.1 Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif
ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama.2

III. KLASIFIKASI
A. Berdasarkan derajat kekeruhan:1,2
- Katarak matur : bentuk katarak yang seluruh proteinnya telah mengalami kekeruhan.
Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh.
- Katarak imatur : memiliki sebagian protein transparan. Pada katarak imatur akan dapat
bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotic bahan lensa yang degenerative.
Pada keadaan lensa mencembung akan menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaucoma
sekunder.
- Katarak hipermatur : protein-protein di bagian korteks lensa telah mancair.
- Katarak morgagni : katarak hipermatur yang nukelus lensanya mengambang dengan bebas di
dalam kantung kapsulnya.

B. Berdasarkan usia2
- katarak kongenital : katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun
- katarak juvenile : katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
- katarak senil : katarak setelah usia 50 tahun

IV. KATARAK TERKAIT USIA


- Katarak nuclear : akibat terjadinya sclerosis nuclear setelah usia pertengahan. Biasanya
bilateral, tetapi bisa asimetrik.
- Katarak kortikal : kekeruhan pada korteks lensa. Derajat gangguan fungsi pengelihatan
bervariasi, tergantung seberapa dekat kekeruhan lensa dengan sumbu pengelihatan
- Katarak subscapular posterior : terdapat pada korteks di dekat kapsul posterior bagian sentral.
Gejala yang umum antara lain : “glare” dan penurunan pengelihatan pada kondisi pencahayaan
yang terang.1

V. KATARAK TRAUMATIK

20
Disebabkan oleh trauma benda asing pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata. Lensa
menjadi putih segera setelah masuknya benda asing karena lubang pada kapsul lensa
menyebabkan humor aqueous dan kadang-kadang vitreus masuk ke dalam struktur lensa.1

VI. KATARAK KOMPLIKATA


Katarak biasanya berawal di daerah subscapular posterior dan akhirnya mengenai seluruh
struktur lensa.Penyakit-penyakit intraokular yang sering berkaitan dengan pembentukan katarak
adalah uveitis kronik atau rekuren, retinitis pigmentosa, dan ablatio retina. Katarak biasanya
unilateral.1

VIII. PENATALAKSANAAN KATARAK


Bedah katarak adalah satu-satunya terapi untuk menghilangkan katarak. 2 Metode operasi yang
umum dipilih untuk katarak adalah meninggalkan bagian posterior kapsul lensa atau yang
dikenal dengan ekstraksi katarak ekstrakapsular.Penanaman lensa intraokular merupakan bagian
dari prosedur.Saat ini, fakoemulsifikasi adalah teknik ekstraksi katarak ekstrakapsular yang
paling sering digunakan.1 Setelah pembedahan lensa diganti dengan kacamata afakia, lensa
kontak atau lensa tanam intraokular.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Paul Riordan-Eva, John P. Witcher.Vaughan and Ashbury : Oftalmologi Umum. 2009.


17th ed. Jakarta : Widya Medika.
2. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. 5rd ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2017
3. Jack J. Kanski, Brad Bowling. Kanski: Synopsis of Clinical Ophtalmology. 3rd ed. 2013.
4. Friedmand NJ, Kaiser PK, Trattler WB. Ophtalmology. Philadelphia. Elsevier Saunders.
2002
5. Gerhard KL, Oscar, Gabriele, Doris, Peter. Ophtalmology a short textbook. Second
edition. Thieme Stuttgart : New York. 2007.
6. Lang, GK. Ophthalmology. Germany. 2000.
7. Khaw PT, Elkington AR. AC Of Eyes. Edisi ke-4. BMJ Book: London.2005
8. James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes Oftalmologi. Ed 9. EMS: Jakarta. 2005
9. Gondowihardjo T, Simanjuntak G. editor. Glaukoma Akut dalam Panduan Manajemen
Klinis Perdami. PP Perdami: Jakarta. 2006

22