Anda di halaman 1dari 11

BAB III

1. Definisi
Tendon achilles adalah tendon yang paling kuat dan paling besar dalam tubuh
manusia yang panjangnya 15 cm yang dimulai dari pertengahan tungkai
bawah.Kemudian stukturnya mengumpul dan melekat pada bagian tengah – belakang
tulang calcaneus.. Terdiri dari stuktur tendinous ( melekatnya otot ke tulang ) yang
dibentuk oleh gabungan antara otot gastronemius dan otot soleus yang terdapat di betis.
Tendon ini melekat pada tulang tumit (calcaneus) dan menyebabkan kaki berjinjit
(plantar flexi) ketika otot-otot betis berkontraksi. Tendon ini sangat penting untuk
berjalan, berlari dan melompat secara normal. (Silvia,dkk. 2005)
Tendon achilles atau tendon calcaneus adalah tendon pada bagian belakang
tungkai bawah dan fungsinya untuk meletakkan otot gastronemius dan otot soleus
kesalah satu tulang penyusunan pegelangan kaki, calcaneus. Tendon achilles berasal
gabungan dari tiga otot yaitu Gastronemius,soleus,dan otot plantaris kaki, Pada manusia
letaknya tepat dibagian pegelangan kaki. (deltoidea.wordpress.com.2011)
Putusnya tendon Achilles itu adalah keadaan dimana tendon besar itu di belakang
pergelangan kaki itu pecah atau terputusnya tendon. Tendon merupakan jaringan fibrosa
di bagian belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis dengan tulang
tumit.
Rupture tendon Achilles adalah roben atau putusnya hubungan tendon (jaringan
penyambung) yang disebabkan oleh cidera dari perubahan posisi kaki secara tiba-tiba
atau mendadak dalam keadaan dorsifleksi pasif maksimal. (muttaqin, A. 2011)

2. Etiologi
a) Penyakit tertentu, seperti arthritis dan diabetes
b) Obat-obatan, seperti kortikosteroid dan beberapa antibiotik yang dapat meningkatkan
risiko pecah
c) Cedera dalam olah raga, seperti melompat dan berputar pada olah raga badminton,
tenis, basket dan sepak bola
d) Trauma benda tajam atau tumpul pada bawah betis
e) Obesitas

3. Tanda dan gejala


a) Rasa sakit mendadak yang berat dirasakan pada bagian belakang pergelangan kaki
atau betis seperti adanya rasa sakit pada tendon achilles sekitar 1-3 inci di atas tulang
tumit. daerah ini paling sedikit menerima supplai darah dan mudah sekali mengalami
cedera meskipun oleh sebab yang sederhana, meskipun oleh sepatu yang
menyebabkan iritasi.
b) Terlihat bengkak dan kaku serta tampak memar dan merasakan adanya kelemahan
yang luas pada serat-serat protein kolagen, yang mengakibatkan robeknya sebagian
serat atau seluruh serat tendon.
c) Terlihat depresi di tendon 3-5 cm diatas tulang tumit
d) Tumit tidak bisa digerakan turun naik
e) Sebuah kesenjangan atau depresi dapat dilihat di tendon sekitar 2 cm di atas tulang
tumit
f) Biasanya, snap tiba-tiba atau pop dirasakan di bagian belakang pergelangan kaki.
Pasien mungkin menggambarkan sensasi ditendang di bagian belakang kaki.
g) Nyeri bisa berat. nyeri yang datang secara tiba-tiba selama melakukan kegiatan,
khususnya saat mengubah arah lari atau pada saat lari mendaki. Atlet mungkin
merasakan adanya bagian yang lembek bila meraba daerah sekitar tendon, hal ini
dikarenakan adanya cairan peradangan yang berkumpul dibawah selaput peritenon.
h) nyeri lokal, bengkak dengan gamblang kesenjangan sepanjang Achilles tendon dekat
lokasi penyisipan, dan kekuatan plantarflexion lemah aktif semua sangat
menyarankan diagnosis.

4. Faktor predisposisi
Orang-orang yang biasa jatuh korban pecah Achilles atau robek termasuk atlet
rekreasi, orang-orang usia tua, air mata Achilles tendon sebelumnya atau pecah, suntikan
tendon sebelumnya atau penggunaan kuinolon, perubahan ekstrim dalam intensitas
pelatihan atau tingkat aktivitas, dan partisipasi dalam aktivitas baru.Sebagian besar kasus
pecah Achilles tendon yang traumatis olahraga cedera. Umur rata-rata pasien adalah 30-
40 tahun dengan rasio laki-perempuan hampir 20:1. antibiotik fluorokuinolon, seperti
ciprofloxacin, dan glukokortikoid telah dikaitkan dengan peningkatan risiko pecah
Achilles tendon. Suntikan steroid langsung ke tendon juga telah dikaitkan dengan pecah.
Kuinolon telah dikaitkan dengan Achilles tendinitis dan ruptur tendon Achilles
untuk beberapa waktu sekarang. Kuinolon adalah agen-agen antibakteri yang bertindak
pada tingkat DNA dengan DNA girase menghambat. DNA girase merupakan enzim yang
digunakan untuk bersantai DNA beruntai ganda yang penting untuk Replikasi DNA.
Kuinolon adalah khusus dalam fakta bahwa ia dapat menyerang DNA bakteri dan
mencegah mereka dari replikasi dengan proses ini, dan sering diresepkan untuk lansia.
Sekitar 2% sampai 6% dari semua orang tua di atas usia 60 yang telah memiliki Achilles
pecah dapat dikaitkan dengan penggunaan kuinolon.

5. Klasifikasi
Tendon Achilles berasal dari gabungan tiga otot yaitu gastrocnemius, soleus, dan
otot plantaris. Pada manusia, letaknya tepat di bagian pergelangan kaki. Tendon Achilles
adalah tendon tertebal dan terkuat pada tubuh manusia. Panjangnya sekitar 15 cm,
dimulai dari pertengahan tungkai bawah. Kemudian strukturnya kian mengumpul dan
melekat pada bagian tengah-belakang tulang calcaneus.
Rupture tendon Achilles dapat terjadi secara komplit maupun sebagian. Rupture
dapat dibagi menjadi rupture traumatic akut, rupture kronis dan rupture kronik attritional.
Namun rupture tendon sering disebabkan karena penggabungan dari keausan karena
umur dan adanya insiden traumatic akut. Berdasarkan keparahan dan derajat retraksinya,
rupture tendon Achilles dibagi menjadi 4 tipe sebagai berikut :
Tipe 1 ruptur parsial < 50% kerobekan
Tipe 2 rupture komplit dengan celah tendon 3 cm
Tipe 3 ruptur komplit dengan celah tendon 3-6 cm
Tipe 4 rupture komplit dengan defek lebih dari 6 cm

Patofisiologi
Rupture traumatic tendon Achilles, biasanya terjadi dalam selubung tendo akibat
perubahan posisi kaki secara tiba-tiba atau mendadak dalam keadaan dorsifleksi pasif
maksimal sehingga terjadi kontraksi mendadak otot betis dengan kaki terfiksasi kuat
kebawah dan diluar kemampuan tendon Achilles untuk menerima suatu beban.
Rupture tendon Achilles sering terjadi pada atlet atletik saat melakukan lari atau
melompat. Kondisi klinik rupture tendon Achilles menimbulkan berbagai keluhan, meliputi
nyeri tajam yang hebat, penurunan fungsi tungkai dalam mobilisasi dan ketidakmampuan
melakukan plantarfleksi, dan respons ansietas pada klien. (muttaqin, A. 2011)
Saat istirahat, tendon memiliki konfigurasi bergelombang akibat batasan di
fibrilkolagen. Stress tensil menyebabkan hilangnya konfigurasi bergelombang ini, hal ini
yang menyebabkan pada daerah jari kaki adanya kurva tegangan-regangan. Saat serat
kolagen rusak, tendon merespons secara linear untuk meningkatkan beban tendon. Jika
renggangan yang ditempatkan pada tendon tetap kurang dari 4 persen- yaitu batas beban
fisiologi secara umum serat kembali ke konfigurasi asli mereka pada penghapusan beban.
Pada tingkat keteganganantara 4-8 persen, serat kolagen mulai meluncur melewati 1 sama
lain karena jalinan antar molekul rusak. Pada tingkat tegangan lebih besar dari 8 persen
terjadi rupture secara makroskopik karena kegagalan tarikan oleh karena kegagalan
pergeseran fibriller dan interfibriller.
Penyebab pasti pecah Achilles tendon dapat terjadi tiba-tiba, tanpa peringatan, atau
akibat tendinitis Achilles . Tampaknya otot betis yang lemah dapat menyebabkan masalah.
Jika otot-otot menjadi lemah dan lelah, mereka dapat mengencangkan dan mempersingkat
kontraksi. Kontraksi berlebihan juga dapat menjadi masalah dengan mengarah pada
kelelahan otot. Semakin lelah otot betis, maka semakin pendek dan akan menjadi lebih ketat.
Keadaan sesak seperti ini dapat meningkatkan tekanan pada tendon Achilles dan
mengakibatkan kerobekan. Selain itu, ketidakseimbangan kekuatan otot-otot kaki anterior
bawah dan otot-otot kaki belakang yang lebih rendah juga dapat mengakibatkan cedera pada
tendon Achilles. Achilles tendon robek lebih mungkin ketika gaya pada tendon lebih besar
dari kekuatan tendon. Jika kaki yang dorsofleksi sedangkan kaki bagian bawah bergerak
maju dan betis kontrak otot, kerobekan dapat terjadi. Kerobekan banyak terjadi selama
peregangan kuat dari tendon sementara otot betis berkontraksi.
https://www.scribd.com/document/343395846/PBL-BLOK-14-Ruptur-Tendon-Achilles-Akibat-
Trauma-Olahraga

http://www.kerjanya.net/faq/5475-ruptur-tendon-achilles.html

iskandar, yongki.rupture tenson Achilles.


https://www.academia.edu/10997615/Ruptur_tendon_achilles.

Penatalaksanaan kasus rupture tendon Achilles

A. Anamnesis Umum
B. Anamnesis Khusus
Keluhan Utama : Nyeri pada daerah belakang pergelangan kaki
Lokasi keluhan : Tungkai sebelah kiri
Riwayat Perjalanan Penyakit : Diawali sejak 1 hari yang lalu, pasien sedang berlatih
untuk kejuaraan lari sprint. Pasien mengalami cedera saat melakukan push off dengan
menumpu pada kaki sementara lutut meregang. Pasien mendengar bunyi “pop” pada area
pergelangan kaki dan timbul nyeri hingga pasien tidak dapat melanjutkan aktifitasnya.

C. Pemeriksaan Fisik
a. Vital Sign
Tekanan Darah : 100/70 mmHg
Denyut Nadi : 70x/menit
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 36oC

D. Inspeksi/observasi
- Terdapat pembengkakan dan kemerahan pada dorsal pergelangan kaki
- Pasien tidak dapat menumpu dengan kaki kiri
E. Palpasi
- Nyeri tekan pada dorsal pergelangan kaki
- Terdapat gap sign dorsal ankle
- Temperature lokal

F. Pemeriksaan fungsi dasar


Tes gerak aktif
- Plantarfleksi ankle : Tebatas karena nyeri
- Dorsofleksi ankle : Terbatas karena nyeri
Tes gerak pasif
- Plantarfleksi ankle : Nyeri dan empty endfeel
- Dorsofleksi ankle : Nyeri dan empty endfeel

Tes TIMT

- Plantarfleksi ankle : tidak dapat dilakukan karena sangat nyeri


- Dorsofleksi ankle : tidak dapat dilakukan karena sangat nyeri

G. Pemeriksaan spesifik
 Thompson’s test
Tes ini bertujuan untuk mendeteksi rupture
komplit tendon Achilles. Pasien tengkurap
dengan kaki berada di luar bed. Praktikan
menekan/meremas muscle belly dari calf
muscle. Normalnya maneuver ini
menyebabkan gerakan refleks plantarfleksi
dari ankle. Test positif apabila ketiadaan
plantarfleksi
 Tes Matles

Tes ini dilakukan pada posisi pronasi


kemudian meminta pasien untukmelakukan
fleksi lutut aktif. Hasil tes positif jika tidak
ada posisi netral padakaki atau kaki yang
mengalami ruptur akan terlihat lebih rendah
kedorsofleksi karena tidak ada tahanan balik
dari tendon sehingga tidakditemukan kaki
pada posisi netral.

 Tes fungsional
a. Calf raises (jinjit dengan kedua kaki)
b. Single calf raise (jinjit dengan satu kaki)
H. Problematik fisioterapi

Problematik Fisioterapi :
1. Impairment :
- Nyeri dorsal ankle
- Kelemahan calf muscle akibat nyeri
- Potensial kaku sendi dan kontraktur

2. Activity limitation :
- Kesulitan untuk melakukan gerakan
- Kesulitan untuk berjalan dan berlari

3. Patricipation restriction :
Keterbatasan latihan dengan maksimal

I. Rencana intervensi fisioterapi


Tujuan :
- Mengurangi nyeri dan pembengkakan
- Mengembalikan fungsional area yang cedera
INTERVENSI FISIOTERAPI

A. Stadium Awal

Fisioterapi diberikan sesaat setelah cedera di lapangan terjadi, tindakan yang


diberikan adalah protokol RICE:

1. Rest/istirahat

Istirahat dibutuhkan untuk penyembuhan dan membatasi penumpuan knee. Dilakukan


selama 24-36 jam pertama setelah injury untuk mencegah dan mengurangi atau mengantisipasi
keluhan lebih lanjut yang memperberat kondisi cedera. Pada saat rest/istirahat termasuk
mengurangi aktifitas provokasi seperti: naik turun tangga dan berdiri terlalu lama.

2. Ice pack/terapi dingin

Untuk mengurangi perdarahan dan bengkak, dilakukan selama 2 kali 24 jam dalam durasi
pendek dan singkat (short time periode) dan perhatikan sensasi kulit pasien. ketika bangun tidur,
edukasikaan pasien untuk mengkpres ankle dengan es setiap dua jam selama 20 menit setiap
waktunya.

3. Kompresi

Kompresi dilakukan untuk mengurangi pembengkakan. Dengan menggunakan elastis


bandage atau splint.

4. Elevasi

Untuk mencegah keadaan statik cairan dalam jaringan, dan untuk mengurangi bengkak.
Sandarkan lutut diatas bantal/ knee ditinggikan diatas jantung.
B. Stadium lanjut

1. Penggunaan splint

Setelah diagnosis dibuat, pergelangan kaki harus


splinted untuk mencegah pergerakan yang dapat
memperparah cedera.

2. Ultrasound (US)

Tujuan :
 Mengurangi ketegangan otot
 Mengurangi nyeri
 Memacu proses penyembuhan collagen jaringan

3. ROM Exercise

Dapat dilakukan dengan ROM penuh segera setelah nyeri dan bengkak
berkurang. Latihan fleksi dan ekstensi ankle dapat dilakukan baik secara aktif maupun
pasif. Misalnya untuk kondisi non weight bearing dilakukan dalam posisi duduk.

4. Strengthening exercise.

Latihan – latihan penguatan dapat diberikan dengan tahanan dari fisioterapis


selama beberapa kali repetisi dalam 5 menit, atau sesuai dengan tingkat kelelahan pasien.

 Latihan isometrik plantar dan dorsifleksi ankle.


 Latihan berjinjit
 Latihan berjalan dengan tumit

5. Balance exercise

Tujuan nya untuk melatih keseimbangan tubuh , trunk dan anggota gerak lainnya
agar mampu melakukan aktivitas secara optimal. Latihan keseimbangan dapat diberikan
setelah pasien mampu melakukan full weight bearing. Latihan ini membantu untuk
mempertahaankan keseimbangan sehingga menghindaari resiko jatuh.

6. Latihan Endurance

Latihan tahap akhir dengan tujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan


daya tahan otot agar tercapai fungsi yang lebih optimal dan menjadi lebih prouktif. Dapat
dilakukan dengan berbagai macam exercise mulai dari yang ringan. Misalnya dengan
jogging ataupun bersepeda.