Anda di halaman 1dari 20

Laporan Projek Komunitas

LAPORAN HASIL KEGIATAN

PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BALITA


DI GAMPONG TEUNGOH KECAMATAN GRONG-GRONG
KABUPATEN PIDIE

Oleh:

RISA MOLIZA, S. Kep

PEMBIMBING :

Ns. NURLELA MUFIDA, M.Kep

KEPANITERAAN KLINIK KEPERAWATAN SENIOR (K3S)


STIKes MEDIKA NURUL ISLAM SIGLI
SIGLI, 2018

0
LAPORAN PENDAHULUAN KEGIATAN
PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BALITA
DI GAMPONG TEUNGOH KECAMATAN GRONG-GRONG
KABUPATEN PIDIE

A. Latar Belakang

Pemberian Makanan Tambahan adalah program intervensi bagi balita

yang menderita kurang gizi dimana tujuannya adalah untuk meningkatkan

status gizi anak serta untuk mencukupi kebutuhan zat gizi anak agar

tercapainya status gizi dan kondisi gizi yang baik sesuai dengan umur anak

tersebut. Sedangkan pengertian makanan untuk pemulihan gizi adalah makanan

padat energi yang diperkaya yang diperkaya dengan vitamin dan mineral,

diberikan kepada balita gizi buruk selama masa pemulihan (Kemenkes RI,

2011).

Kurang Energi Protein sampai saat ini masih merupakan salah satu

masalah gizi utama di Indonesia. Kurang Energi Protein dikelompokkan

menjadi 2, yaitu gizi kurang dan gizi buruk. Penanganan balita gizi kurang dan

gizi buruk melalui PMT-Pemulihan dirasakan masih belum menampakkan

hasil yang diharapkan untuk status gizinya. Data nasional menuknjukkan 27%

dari anak balita di seluruh Indonesia menderita gizi kurang dan gizi buruk.

Menggingat besaran dan sebaran gizi buruk yang ada di semua wilayah

Indonesia dan dampaknya terhadap sumber daya manusia, solusinya yaitu

dilakukan pencegahan dan penanggulangan gizi buruk. Dengan mengunakan

berbagai strategi antara lain : mencegah dan menanggulangi gizi buruk seluruh

kabupaten dan kota seluruh wilayah Indonesia, mengembalikan fungsi

1
posyandu, meningkatkan kemampuan petugas dalam tata laksana gizi buruk,

dan mengadakan kerja sama lintas sektor masyarakat.

Setelah pemberian PMT-Pemulihan terhadap 30 balita ada kenaikan

status gizi dari status buruk naik menjadi status kurang dan status gizi kurang

menjadi status gizi baik sebanyak 43,4 % balita. Perubahan status gizi balita di

puskesmas Demangan Kota Madiun berkaitan erat dengan faktor pendidikan,

kesediaan pangan dan daya beli keluarga, pola pengasuhan dan kesehatan.

Berdasarkan data didapatkan dari hasil survey tentang jumlah balita di

gampong Teungoh Kecamatan Grong-Grong Kabupaten Pidie adalah 0-5 tahun

11 balita laki-laki (2,4%) dan 13 balita (2,8%). Berdasarkan hasil pengumpulan

data yang telah dilakukan oleh mahasiswa Keperawatan Komunitas didapatkan

data tindakan yang dilakukan jika berat badan anak-anak tidak naik di

gampong Teungoh Kecamatan Grong-Grong Kabupaten Pidie yaitu merubah

menu makanan (90%) dan memberi vitamin tambahan (10%).

B. Rencana Keperawatan

1. Diagnosa Keperawatan

Pemberian makanan tambahan pada balita di Gampong Teungoh

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan manfaat dari pemberian

makanan tambahan

2. Tujuan

a. Tujuan Umum

Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Pemberian makanan

tambahan pada balita.

2
b. Tujuan Khusus

1) Masyarakat mampu menyebutkan pengertian pemberian makanan

tambahan.

2) Masyarakat mampu menyebutkan jenis-jenis pemberian makanan

tambahan.

3) Masyarakat mampu menyebutkan waktu pemberian pemberian

makanan tambahan.

4) Masyarakat mampu menyebutkan manfaat dan tujuan pemberian

makanan tambahan.

C. Rencana Kegiatan

1. Topik

Pemberian makanan tambahan di gampong Tuengoh Kecamatan Grong-

Grong Kabupaten Pidie

2. Metode

Penyajian materi, tanya jawab dan diskusi

3. Media

Infocus, Laptop, dan Leaflet

4. Waktu

Hari/Tanggal :

Pukul : WIB s/d selesai

5. Tempat

Gampong Teungoh Kecamatan Grong- Grong Kabupaten Pidie

3
6. Strategi Pelaksanaan

NO WAKTU KEGIATAN PJ
1 15.30-15.35 WIB 1. Pembukaan Moderator
a. Memberikan salam (Dara Murtia, S.Kep)
b. Membuat kontak waktu
c. Menjelaskan tujuan
pertemuan
2. 15.35-16.00 WIB 2. Kegiatan inti: Pengaji
a. Memberikan penyuluhan (Risa Moliza, S.Kep)
tentang pengertian
pemberian makanan
tambahan
b. Menyebutkan jenis-jenis
pemberian makanan
tambahan.
c. Menyebutkan waktu
pemberian pemberian
makanan tambahan.
d. Menyebutkan manfaat dan
tujuan pemberian makanan
tambahan.
e. Membagikan leaflet
f. Memberikan kesempatan
warga untuk bertanya

3 16.00-16.05 WIB 3. Penutup :


Moderator
a. Menyimpulkan hasil
(Dara Murtia, S.Kep)
kegiatan
b. Melakukan evaluasi dari
hasil kegiatan yang
dilakukan
c. Mengucapkan salam

4
D. Pengorganisasian

1. Penanggung Jawab : Risa Moliza, S. Kep

2. Moderator : Dara Mutia, S. Kep

3. Pengajian Materi : Risa Moliza, S. Kep

4. Observer : Muhammad Arif Fazillah, S. Kep

Desi Novianti, S. Kep

5. Dokumentasi : Muhammad Rizal Saputra, S. Kep

6. Fasilitator : Eva Moulita, S. Kep

Nanda Maisarah, S. Kep

Rini Zahara, S. Kep

Nur Faiza, S. Kep

Risma Juliyanti, S. Kep

Sahra Firda, S. Kep

Riska Maulidna, S. Kep

Mastura, S. Kep

Yuni Astara, S. Kep

Nurul Alfalah, S. Kep

Dieny Fitria, S. Kep

Riski Fadhilah, S. Kep

Masdaruddin, S. Kep

Muzammil, S. Kep

Alun Aulia Putra, S. Kep

Heri Irfandi, S. Kep

5
Teuku Basri, S. Kep

Erika Rizki Yunita, S. Kep

7. Konsumsi :

8. Perlengkapan : Ira Marnika, S. Kep

Lisa, S. Kep

E. Kriteria Evaluasi

1. Evaluasi Struktur

a. Pemberian kepada masyarakat di Gampong Teungoh diberitahukan 1

hari sebelum kegiatan

b. Adanya kesiapan dan partisipasi masyarakat dalam mengikuti kegiatan

penyuluhan

c. Media dan peralatan sudah tersedia.

d. Tempat kegiatan sesuai dengan rencana

e. Waktu yang dipergunakan sesuai dengan yang direncanakan

2. Evaluasi Proses

a. Mahasiswa dan masyarakat berperan aktif dalam kegiatan.

b. Kegiatan berlangsung dengan lancar

c. Kegiatan selesai sesuai dengan perencanaan

d. Peserta mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

3. Evaluasi Hasil

a. >75% masyarakat mampu menyebutkan pengertian pemberian

makanan tambahan

6
b. >75% masyarakat mampu menyebutkan jenis-jenis pemberian

makanan tambahan

c. >75% masyarakat mampu menyebutkan waktu pemberian makanan

tambahan

d. >75% masyarakat mampu menyebutkan manfaat dan Tujuan

pemberian makanan tambahan

7
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Pentingnya Pemberian Makanan Tambahan Pada Balita

Sasaran : Ibu yang memiliki balita

Target : Ibu-Ibu yang ada di Gampong Teungoh

Waktu :

Hari/Tanggal :

Tempat : Gampong Teungoh Kecamatan Grong-Grong

A. Latar Belakang Masalah

Makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun,dengan bertambahnya

umur bayi dan tumbuh kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi

yang melebihi jumlah ASI. Bayi harus mendapat makanan tambahan atau

pendamping ASI. Setelah bayi berumur 6 bulan maka makanan pendamping

ASI dapat mulai diberikan.

Dalam pengkajian yang telah dilakukan oleh mahasiswa program

studi D3 Kebidanan,D3 Keperawatan dan D3 Analis kesehatan pada

Kelurahan Tambak Wedi RW.04 Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya pada

bulan juni 2013 di dapat data bahwa ± 6 balita di RT.6 s/d 9 mengalami

BGM. Hal ini merupakan suatu masalah kesehatan karena bayi yang baru

lahir belum siap untuk menerima makanan.

8
B. Tujuan Umum

Setelah mendapatkan penyuluhan ini, diharapkan ibu yang memiliki

bayi mampu mengerti dan menerapkan pentingnya pemberian makanan

tambahan pada bayi diwaktu yang tepat.

C. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti proses penyuluhan,ibu-ibu yang memiliki bayi atau

balita dapat memahami tentang pengertian PMT, manfaat PMT, dan macam-

macam PMT.

D. Pokok Bahasan : Pentingnya Pemberian Makanan Tambahan pada Balita

E. Sub Pokok Bahasan :

1. Pengertian PMT bayi

2. Manfaat PMT pada bayi

3. Macam-macam PMT

4. Saat tepat pemberian PMT

F. Metode

Metode yang digunakan adalah ceramah dan diskusi

G. Media

1. Leaflet

2. Laptop/LCD

H. Pengorganisasian

1. Moderator

Membuka acara penyuluhan, memperkenalkan diri dan tim kepada peserta,

mengatur proses dan lama penyuluhan dan menutup acara penyuluhan.

9
2. Penyaji

Menjelaskan materi penyuluhan dengan jelas dan mudah dipahami.

3. Fasilitator

Mengevaluasi peserta tentang kejelasan materi penyuluhan.

4. Observer

Mengevaluasi hasil penyuluhan dengan rencana penyuluhan

5. Notulen

Mencatat pertanyaan yang diajukan peserta

6. Peserta

Masyarakat Gampong Teungoh

I. Rencana Kegiatan penyuluhan

Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Ibu


Pendahuluan 5 1. Memberikan salam, Memperhatikan dan
menit memperkenalkan diri, dan membuka Menjawab salam
penyuluhan. Memperhatikan
2. Menjelaskan gambaran umum
tentang materi yang akan diajarkan
beserta manfaatnya.
Penyajian 15 1. Menjelaskan pengertian pemberian Memperhatikan
menit makanan tambahan pada balita. Memberikan
a. Menanyakan kepada peserta apabila pertanyaan
ada yang kurang jelas Memperhatikan
b. Menerima dan menjawab pertanyaan
yang diajukan peserta Memperhatikan

2. Menjelaskan macam-macam Memberikan

PMT pertanyaan

a. Menanyakan kepada peserta apabila Memperhatikan

10
ada yang kurang jelas
b. Menerima dan menjawab pertanyaan Memperhatikan

yang diajukan peserta. Memberikan

3. Menjelaskan waktu tepat pemberian pertanyaan

makanan tambahan. Memperhatikan

a. Menanyakan kepada peserta apabila Memperhatikan

ada yang kurang jelas Memberikan

b. Menerima dan menjawab pertanyaan pertanyaan

yang diajukan peserta memperhatikan

4. Menjelaskan manfaat dan tujuan


pemberian makanan tambahan pada
balita.
a. Menanyakan kepada peserta apabila
ada yang kurang jelas
b. Menerima dan menjawab pertanyaan
yang diajukan peserta
Penutup 10 menit1. Menutup pertemuan dengan Memperhatikan
membacakan kesimpulan materi
yang telah dibahas bersama dengan Menerima leaflet

anak. memperhatikan dan

2. Membagikan leaflet menjawab salam.

3. Member salam penutup

J. Evaluasi

1. Ibu mampu menyebutkan definisi dari pemberian makanan tambahan

2. Ibu mampu menyebutkan macam-macam dari pemberian makanan

tambahan

3. Ibu mampu menyebutkan waktu tepat pemberian dari pemberian makanan

tambahan

11
4. Ibu mampu menyebutkan manfaat dan tujuan dari pemberian makanan

tambahan

K. Referensi

1. Depkes RI. (2006). Pemberian Makanan Pendampng ASI lokal. Jakarta.

2. Ikatan Dokter Anak lndonesia (2007) Pokok-pokok Pikiran Ikatan Dokter

Anak Indonesia. Jakarta: Penerbit IDAI.

3. Pudjiadi. (2008). Ilmu gizi pada Anak. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta

4. Rosidah, R. (2008). Pemberian Makanan Tambahan. Jakarta : EGC.

5. Suhardjo. (1999). Pemberian Makanan Pada Bayi dan Anak. Yogyakarta.

12
MATERI

PENTINGNYA PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BALITA

A. Pengertian Pemberian Makanan Tambahan

Makanan atau minuman yang mengandung zat gizi yang diberikan

kepada bayi atau anak berusia 6-24 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizi

selain dari ASI (Depkes, 2006).

Pemberian makanan tambahan adalah memberi makanan lain selain

ASI untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan nutrisi dengan jumlah yang

didapat dari ASI (Rosidah, 2008).

B. Jenis-Jenis Pemberian Makanan Tambahan

1. Makanan Tambahan Lokal

Makanan tambahan lokal adalah makanan tambahan yang diolah di

rumah tangga atau Posyandu, terbuat dari bahan makanan yang tersedia

setempat, mudah diperoleh dengan harga terjangkau oleh masyarakat, dan

memerlukan pengolahan sebelum dikonsumsi oleh bayi. Makanan

tambahan lokal ini disebut juga dengan makanan pendamping ASI lokal

(Depkes, 2006)

Pemberian makanan tambahan lokal memiliki beberapa dampak

positif, antara lain ibu lebih memahami dan terampil dalam membuat

makanan tambahan dari pangan lokal sesuai dengan kebiasaan dan sosial

budaya setempat, sehingga ibu dapat melanjutkan pemberian makanan

tambahan secara mandiri, meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan

13
masyarakat serta memperkuat kelembagaan seperti Posyandu dan

Puskesmas, memiliki potensi meningkatkan pendapatan masyarakat

melalui penjualan hasil pertanian dan sebagai sarana dalam pendidikan atau

penyuluhan gizi (Depkes, 2006).

Hal yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan makanan bayi di

rumah antaranya menyiapkan makanan bayi dengan mengikuti cara-cara

yang bersih dan higiene, menggunakan bahan makanan yang segar dan

beku, melakukan metode masak yang baik di antaranya pengukusan lebih

baik dari perebusan dan penyaringan lebih baik dari penggorengan,

menambahkan sedikit gula bila dibutuhkan dan tidak memberi madu pada

tahun pertama usia bayi karena kemungkinan madu mengandung

Clostridium bolitunium yang tidak aman bagi bayi, menghaluskan atau

membuat pure (bubur) buah segar yang dicuci bersih dan dikupas seperti

pisang, pepaya, pir dan melon, serta makanan bayi yang dimasak dirumah

dapat segera dibekukan atau disimpan dalam wadah tertutup dan disimpan

di dalam lemari es selama satu atau dua hari kemudian di panaskan dan

segera diberikan pada bayi (Depkes, 2006)

2. Makanan Tambahan Olahan Pabrik

Makanan tambahan hasil olahan pabrik adalah makanan yang

disediakan dengan olahan yang bersifat instan dan beredar dipasaran untuk

menambah energi dan zat-zat gizi esensial pada bayi (Depkes, 2006).

Makanan tambahan pabrik disebut juga makanan pendamping ASI

pabrikan atau makanan komersial. Secara komersial, makanan bayi tersedia

14
dalam bentuk tepung campuran instan atau biskuit yang dapat dimakan

secara langsung atau dapat dijadikan bubur.

Makanan tambahan pabrikan seperti bubur susu diperdagangkan

dalam keadaan kering, sehingga tidak perlu dimasak lagi dan dapat

diberikan pada bayi setelah mendapat air matang seperlunya. Bubur susu

terdiri dari tepung serealia seperti beras, maizena, terigu ditambah susu dan

gula dan bahan perasa lainnya. Makanan tambahan pabrikan yang lain

seperti nasi tim yakni bubur beras dengan tambahan daging, ikan atau hati

serta sayuran wartel dan bayam, dimana untuk bayi kurang dari sepuluh

bulan nasi tim harus disaring atau diblender terlebih dahulu. Selain

makanan tambahan bayi lengkap (bubur susu dan nasi tim) beredar pula

berbagai macam tepung mentah maupun yang sudah matang (pre-cooked)

(Pudjiadi, 2008)

Makanan tambahan yang baik adalah makanan yang kaya energi,

protein dan mikronutrien (terutama zat besi, zink, kalsium, vitamin A,

vitamin C dan fosfat), bersih dan aman, tidak ada bahan kimia yang

berbahaya atau toksin, tidak ada potongan tulang atau bagian yang keras

yang membuat bayi tersedak, tidak terlalu panas, tidak pedas atau asin,

mudah dimakan bayi, disukai bayi, mudah disiapkan dan harga terjangkau

(Rosidah, 2004).

Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90%

diantara mereka menderita hipertensi essensial (primer), dimana tidak dapat

15
ditentukan penyebab medisnya. Sisanya mengalami kenaikan tekanan darah

dengan penyebab tertentu (hipertensi sekunder). (Udjianti, Wajan. 2011).

C. Waktu Pemberian Makanan Tambahan

Air Susu Ibu (ASI) memenuhi seluruh kebutuhan bayi terhadap zat-zat

gizi yaitu untuk pertumbuhan dan kesehatan sampai berumur enam bulan,

sesudah itu ASI tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan bayi. Makanan

tambahan mulai diberikan umur enam bulan satu hari. Pada usia ini otot dan

saraf didalam mulut bayi cukup berkembang untuk mengunyah, menggigit,

menelan makanan dengan baik, mulai tumbuh gigi, suka memasukkan sesuatu

kedalam mulutnya dan berminat terhadap rasa yang baru (Rosidah, 2004).

Adapun waktu yang baik dalam memulai pemberian makanan tambahan

pada bayi adalah umur 6 bulan. Pemberian makanan tambahan pada bayi

sebelum umur tersebut akan menimbulkan risiko sebagai berikut (IDAI, 2002):

1. Seorang anak belum memerlukan makanan tambahan saat ini. Makanan

tersebut dapat menggantikan ASI, jika makanan diberikan maka anak akan

minum ASI lebih sedikit dan ibu pun memproduksinya lebih sedikit

sehingga akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

2. Anak mendapat faktor pelindung dari ASI lebih sedikit sehingga risiko

infeksi meningkat.

3. Risiko diare juga meningkat karena makanan tambahan tidak sebersih ASI.

4. Makanan yang diberikan sebagai pengganti ASI sering encer, buburnya

berkuah atau berupa sup karena mudah dimakan bayi, makanan ini

memang membuat lambung penuh tetapi memberikan nutrient sedikit.

16
5. Ibu mempunyai risiko lebih tinggi untuk hamil kembali.

Akibat dari kurang menyusui dan risiko pemberian makanan tambahan

terlalu lambat adalah :

1. Anak tidak mendapat makanan ekstra yang dibutuhkan mengisi

kesenjangan energi dan nutrient.

2. Anak berhenti pertumbuhannya atau tumbuh lambat.

3. Pada anak risiko malnutrisi dan deficiency mikro nutrient meningkat.

Daftar Pemberian Makanan

Bayi Umur Jumlah Pemberian Dalam Sehari


(Kali)
0 – 6 bulan ASI

6 – 8 bulan ASI
Bubur Susu 1
Nasi Tim Saring 1

8 – 10 bulan ASI
1
Buah
1
Bubur Susu
2
Nasi Tim Dihaluskan
10 – 12 bulan
ASI 1
Buah 3
Nasi Tim
12 – 24 bulan
ASI 1
Nasi Tim atau Makanan 1
Makanan Kecil

Sumber: Pudjiadi, 2008

D. Manfaat dan Tujuan Pemberian Makanan Tambahan

Makanan tambahan ASI bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan zat

gizi anak, penyesuaian kemampuan alat cerna dalam menerima makanan

17
tambahan dan merupakan masa peralihan dari ASI ke makanan keluarga selain

untuk memenuhi kebutuhan bayi terhadap zat-zat gizi (Suhardjo, 1999).

Tujuan pemberian makanan tambahan adalah untuk mencapai

pertumbuhan perkembangan yang optimal, menghindari terjadinya kekurangan

gizi, mencegah risiko malnutrisi, defisiensi mikronutrien (zat besi, zink,

kalsium, vitamin A, Vitamin C dan folat), anak mendapat makanan ekstra yang

dibutuhkan untuk mengisi kesenjangan energi dengan nutrien, memelihara

kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan bila sakit, membantu

perkembangan jasmani, rohani, psikomotor, mendidik kebiasaan yang baik

tentang makanan dan memperkenalkan bermacam-macam bahan makanan

yang sesuai dengan keadaan fisiologis bayi (Husaini, 2001).

Indikator bahwa bayi siap untuk menerima makanan padat adalah :

1. Kemampuan bayi untuk mempertahankan kepalanya untuk tegak tanpa

disangga.

2. Menghilangnya refleks menjulurkan lidah.

3. Balita mampu menunjukkan keinginannya pada makanan dengan cara

membuka mulut, lalu memajukan anggota tubuhnya ke depan untuk

menunjukkan rasa lapar, dan menarik tubuh ke belakang atau membuang

muka untuk menunjukkan ketertarikan pada makanan (Pudjiadi, 2008).

18
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (2006). Pemberian Makanan Pendampng ASI lokal. Jakarta.

Ikatan Dokter Anak lndonesia (2007) Pokok-pokok Pikiran Ikatan Dokter Anak

Indonesia. Jakarta: Penerbit IDAI.

Pudjiadi. (2008). Ilmu gizi pada Anak. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta

Rosidah, R. (2008). Pemberian Makanan Tambahan. Jakarta : EGC.

Suhardjo. (1999). Pemberian Makanan Pada Bayi dan Anak. Yogyakarta.

19

Anda mungkin juga menyukai