Anda di halaman 1dari 18

MIKROBA PENYUSUN BIOFILM

Oleh :
Nama : Maria Pricilia Gita P.P
NIM : B1A015068
Rombongan : II
Kelompok :2
Asisten : Silviyatun Ni’mah

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Biofilm adalah lapisan yang merupakan koloni dari konsorsium mikroba yang
menempel dan menutupi suatu permukaan benda padat di lingkungan berair. Para ahli
mikrobiologi memperkirakan bahwa biofilm adalah cara hidup mikroorganisme yang
dominan dibandingkan dengan cara hidup melayang-layang di dalam cairan atau
planktonis. Biofilm merupakan sebuah struktur komunitas dari bakteri, algae atau
jenis sel lainnya yang menghasilkan matriks polimerik dan melekat pada permukaan.
Bakteri kebanyakan hidup sesil (pada suatu permukaan), membentuk komunitas
kehidupan jika memungkinkan, yang dapat memberikan keuntungan lebih dibanding
hidup secara planktonik. Secara fisik, keberadaan biofilm dapat dicirikan sebagai
berikut (Yoo, 2000) :
1. Jarak ketebalan dari beberapa mikron sampai lebih dari 1000 mikron.
2. Permukaan tidak rata (kasar).
3. Spesies heterogen.
4. Tersusun dari dua bagian, yaitu dasar biofilm dan permukaan biofilm.
Biofilm terdiri dari sel-sel mikroorganisme yang melekat erat ke suatu permukaan
sehingga berada dalam keadaan diam (sesil), tidah mudah lepas atau berpindah tempat
(irreversible). Pelekatan ini seperti pada bakteri disertai oleh penumpukan
bahan-bahan organik yang diselubungi oleh matriks polimer ekstraseluller yang
dihasilkan oleh bakteri tersebut. Matriks ini berupa struktur benang-benang bersilang
satu sama lain yang dapat berupa perekat bagi biofilm (Damayanti, 2001).
Biofilm terbentuk khususnya secara cepat dalam sistem yang mengalir dimana
suplai nutrisi tersedia secara teratur bagi bakteri. Pertumbuhan bakteri secara ekstensif
disertai oleh sejumlah besar polimer ekstraseluller, menyebabkan pembentukan
lapisan berlendir (biofilm) yang dapat dilihat dengan kasat mata pada permukaan baik
biotik seperti daun dan batang tumbuhan air, kulit hewan-hewan air maupun abiotik
seperti batu-batuan, bagian bawah galangan kapal serta pada tempat lainnya
(Damayanti, 2001).
Biofilm lebih toleran terhadap bahan kimia dan sejenisnya. Oleh karena itu, bisa
mengontrol dan mengeliminasi sel planktonik. Lebih dari itu, standart test
membuktikan bahwa komunikasi antar mikroorganisme yang terjadi dalam biofilm
dapat membuat biofilm mereduksi senywa kimia seperti detergen (Gattlen et al.,
2010).
Biofilm terbentuk khususnya secara cepat dalam sistem yang mengalir, dimana
suplai nutrisi tersedia secara teratur bagi bakteri. Pertumbuhan bakteri secara ekstensif
disertai oleh sejumlah besar polimer ekstraseluller, menyebabkan pembentukan
lapisan berlendir (biofilm) yang dapat dilihat dengan kasat mata pada permukaan baik
biotik seperti daun dan batang tumbuhan air, kulit hewan-hewan air maupun abiotik
seperti batu-batuan, bagian bawah galangan kapal serta pada tempat lainnya.
Walaupun banyak bakteri dapat tumbuh pada keadaan bebas (free-living) atau
planktonik, secara umum bakteri melekat ke suatu permukaan dengan menghasilkan
polisakarida ekstra seluller (EPS) atau pada beberapa kasus dengan menggunakan
holdfast. Pelekatan ini menghasilkan mikro koloni, sebagai awal perkembangan
biofilm yang dimulai dari satu sel tapi sering berkembang menjadi beberapa bakteri
membentuk multilayers dengan matrik yang hidup pada komunitas komplek.
Kenyataannya, hampir semua permukaan berhubungan dengan cairan dan nutrisi akan
dikoloni oleh mikroorganisme (Rheinheimer, 2000).
Menurut Maier (2009), proses terbentuknya biofilm dibagi menjadi 5 tahap :
1. Tahap pelekatan awal : Mikroba melekat pada permukaan benda padat dengan
perantara fili (rambut halus). Contoh bakteri yang dapat melekat dan membentuk
koloni adalah Pseudomonas aeruginosa, bakteri gram negatif dengan molekul
sinyal utama homoserin lakton. Pelekatan awal ini disebabkan oleh hidrofobik
(tidak larut air, larut di minyak) dan elektrostatik (medan listrik statik).
2. Tahap pelekatan permanen :
Mikroba semakin menempel
dengan diprakarsai oleh matriks
polimer ekstraseluler dengan
bantuan eksopolisakarida (EPS).
Contoh: pada tahap 2
P.aeruginosa akan berubah
menjadi fase flagella.
3. Maturasi I : Terjadi penarikan pada bakteri lain membentuk polisakarida
ekstraseluler dan sel bakteri terus tumbuh dan berkembang. Pada tahap ini
ketebalan biofilm lebih dari 10 µm. Contoh: pada bakteri P.aeruginosa akan
berubah menjadi Type IV pili flagella.
4. Maturasi II : Ketebalan biofilm mencapai 100 mm. Bakteri yang terakumulasi
membentuk beberapa lapisan. Bakteri yang ada dilapisan dalam akan lebih terlebih
terlindungi dari pada bakteri yang berada pada lapisan luar. Koloni ini akan
membentuk nutriennya sendiri, karena bakteri yang mati dapat menjadi nutrien
bagi yang hidup.
5. Dispersi : Biofilm yang sudah terbentuk dapat mengalami pelepasan sel secara
erosi atau sloghing. Erosi terjadi secara berkala karena geseran dari cairan yang
mengalir. Sloughing adalah pelepasan banyak sel yang terjadi secara acak karena
adanya perubahan dalam medium pertumbuhan.
Bakteri oligotropik tumbuh secara aktif walaupun lambat, diantaranya tidak
dapat mengambil makanan yang cukup untuk mendukung pertumbuhan lalu hanya
bertahan pada keadaan kekurangan nutrisi. Keadaan ini memberikan beberapa
kesimpulan adanya kemampuan bakteri untuk bertahan (revert) dalam keadaan diam
(sesil). Seringkali kekurangan nutrisi disertai oleh mengecilnya ukuran dan respirasi
endogenous, peningkatan hidrofobisitas permukaan sel dan meningkatkan pelekatan.
Faktor ini membuat bakteri cenderung melekat ke permukaan padat, dimana
kesempatan untuk mendapatkan nutrisi lebih tinggi (Damayanti, 2001).
Sampel yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah air sungai dan kamar
mandi dengan substrat batu, paralon, genteng, gayung, dan sandal. Penggunaan
sampel air sungai dan kamar mandi bertujuan untuk mengamati keanekaragaman
mikroalga yang ada di kedua sampel air tersebut. Menurut Wahdi & Fitrianingsih
(2014), penggunaan air ini untuk melihat perbedaan jenis mikroorganisme yang ada
pada lokasi yang berbeda. Mikroorganisme khususnya bakteri pembentuk biofilm,
dipengaruhi oleh substrat. Menurut Costerton & Steware (2001), semakin renggang
suatu substrat, maka semakin mempermudah untuk melakukan perlekatan. Perlekatan
akan semakin baik pada permukaan yang kasar karena akan menurunkan kekuatan
aliran yang dapat melepaskan biofilm dan memiliki permukaan yang luas. Maka dari
itu, dalam praktikum ini digunakan berbagai subsrat dengan kepadatan permukaan
yang berbeda.

1. 2 Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah dapat mengetahui keragaman mikroba penyusun
biofilm di lingkungan perairan.

II. MATERI DAN CARA KERJA


A. Materi

Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah batu-batuan, potongan
genteng, paralon, gayung, sandal, akuarium, cutton bud, tabung reaksi, rak tabung
reaksi, cawan petri, pipet ukur, filler, bunsen dan spirtus, pinset, pipet tetes, gelas
benda, gelas penutup, mikroskop cahaya, jarum ose, drugalsky, dan bak preparat.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sampel air kamar
mandi, air sungai, pepton water, medium NA (Nutrient Agar), medium PDA (Potato
Dextrose Agar), alkohol 70%, gram A (Crystal violet), gram B (Lugol’s iodine), gram
C (Ethanol), dan gram D (Safranin).

B. Cara Kerja

1. Pengamatan di Lingkungan Perairan


Benda yang akan dijadikan tempat penempelan biofilm berupa genteng,
paralon, sandal, gayung dan batu-batuan. Benda tersebut dimasukkan pada
akuarium yang berisi sampel kamar mandi atau sungai. Biofilm diamati selama 3
minggu dengan tiap minggu dilakukan pengamatan terhadap bakteri, jamur dan
mikroalga.
2. Perhitungan Jumlah Koloni (Total Plate Count)
Jumlah koloni bakteri dan jamur dihitung dengan cara cutton bud dicelupkan
pada pepton water, kemudian diulas pada benda yang dijadikan penempelan
biofilm. Cutton bud yang sudah terdapat sampel biofilm, dimasukkan pada
akuades untuk dilakukan pengenceran bertingkat sampai 10-5. Sampel dengan
dua pengenceran terakhir yaitu 10-4 dan 10-5 ditanam secara duplo pada media
NA dan PDA secara spread plate sebanyak 0,1 ml. Pengamatan bakteri pada
media NA diinkubasi selama 2x24 jam dan pengamatan bakteri diinkubasi
selama 7x24 jam pada suhu ruang. Setelah inkubasi, dihitung jumlah koloni
bakteri dan jamur yang tumbuh dengan menggunakan rumus TPC.
CFU’s/ml = jumlah rata-rata koloni x 1/sp x fp (factor pengenceran)
3. Identifikasi Mikroalga
Sampel air diteteskan pada gelas benda, ditutup dengan gelas penutup kemudian
diamati dibawah mikroskop dan diidentifikasi jenis mikroalga menggunakan
buku identifikasi. Hasil yang diperoleh kemudian difoto dan dicatat.
4. Pewarnaan Gram
Pewarnaan gram dilakukan dengan cara koloni yang tumbuh paling dominan pada
media NA, diulas pada gelas benda kemudia ditetesi akuades dan dilewatkan
diatas api bunsen 2-3 kali. Selanjutnya, ditetesi dengan gram A yang didiamkan
selama 60 detik, dan cuci dengan akuades lalu keringanginkan. Kemudian ditetesi
gram B dan dibiarkan selama 60 detik, dan dicuci dengan akuades lalu
keringanginkan. Tetesi gram C hingga jernih, dibilas dengan akuades lalu
keringanginkan. Tetesi gram D dan dibiarkan selama 45 detik, lalu bilas dengan
akuades dan dikeringanginkan. Selanjutnya, hasil diamati di bawah mikroskop.
Interpretasi hasil Gram positif, apabila sel bakteri terwarnai ungu dan Gram
negatif, apabila sel bakteri terwarnai merah.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Biofilm

Kelompok 1/I 1/II 1/II 2/II 1/III 2/III


Sampel air Sungai Kamar Sungai Kamar Sungai Kamar
mandi mandi mandi
Substrat Batu Paralon Genteng Gayung Gayung Sandal
Hari ke-7
TPC NA 2,19x107 1,73x107 1,8x107 1,16x107 4,6x106 Spreade
(CFU’s/ r
ml) PDA 4x106 5x105 41x106 TFTC 2,5x105 0,5x106
Pewarnaan Negatif Negatif Positif Negatif Positif Positif
Gram
Mikroalga Chlamydo - Coelosph Botrydio 1. Eura
aerium psis sp. strum
monas sp.
minutissi verroco
sum
mum
2. Dura
liella
salina
Gata
3. Dura
liella
salina
Hari ke-14
TPC NA 4,48x105 2,45x106 12x105 28,6x106 57x106 166x105
(CFU’s/ PDA 3,7x106 5,05x106 5,5x108 5,5x105 1x105 5,7x106
ml)
Pewarnaan Positif Positif Negatif Negatif Negatif Negatif
Gram
Mikroalga Chlamydo Asteroti 1. Micro 1. Actino 1. M.
cus spora sp. phryssol radiosa
monas sp.
limnetic 2. Genic sp. 2. Clad
ularia sp. 2. Mallu ophora
us
3. Sphae muna sp. sp.
rellopsis 3. Eugle
sp. na sp.
Hari ke-21
TPC NA 1,163x108 Spreader 1866x10 3,15x106 3,65x106 3x105
(CFU’s/ 6
*
ml) PDA 6,17x107* 5x105 TFTC
Pewarnaan Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif
Gram
Mikroalga Chlamy 1. Gonioc 1. Hyalo 1. Schiz
domona hlori sp. thera ochlamy
s sp. 2. Anaba dissitens s
ena 2. Chall geratik
uccrainic otrix sp. 2. Bubo
a 3. Chaet chaete
3. Chaeto ophora sp.
peltis sp. sp.

Tabel 3.1 menunjukkan keanekaragaman mikroalga pada setiap kelompok di


tiga rombongan. Pada sampel air sungai terdapat Chlamydomonas sp., Microspora
sp., Genicularia sp., Sphaerellopsis sp., dan Botrydiopsis sp. Chlamydomonas sp.
memiliki sel tunggal (uniseluler) dan memiliki klorofil. Mikroalga ini digunakan
sebagai bahan penelitian untuk mempelajari proses fotosintesis karena memiliki
organ-organ yang sama seperti pada tumbuhan hijau (Natali & Croce, 2015).
Selain itu, Micropsora sp. memiliki filamen koloni tidak bercabang, pada waktu
muda sesil (tertanam pada substrat).Microspora banyak ditemukan di kolam air
tawar, filamen koloni tidak bercabang. Dinding selnya berebentuk seperti huruf H
sehingga protoplasama berada dalam sambungan “huruf H”. Dinding sel ini dari
selulose, tapi lapisan terluar di filamen tersusun dari pektin. Pada pembelahan sel
terjadi pembentukan lapisan selulose tipis menyelubungi protoplasma anak yang
disusul dengan penambahan tangan-tangan huruf-huruf H yang juga dari selulose.
Sel berinti tunggal seringkali di dalam sel terlalu banyak tepung untuk cadangan
makanan sehingga sulit untuk menentukan bentuk kloroplasnya. Pada sel muda,
bentuk kloroplas merupakan penjuluran-penjuluran yang tidak teratur seperti
anyaman. Kloroplas tidak memiliki pirenoid (Prasetyo, 1987).
Kelompok 2 rombongan II dengan sampel kamar mandi dan substrat gayung
mendapatkan mikroalga Coelosphaerium minutissimum, Actinophrys sol, Mallumuna
sp., Goniochlori sp. Anabaena uccrainica, dan Chaetopeltis sp. Coelosphaerium
minutissimum merupakan mikroalga yang biasa hidup di air payau, penampungan
air,, dan danau dengan kedalaman rendah (Caroppo, 2015). Actinophrys sol
merupakan mikroalga dengan tingkat toleransi pH tinggi (4-8,5). Mikroalga ini
melakukan reproduksi secara autogami (Gast, 2017). Hasil yang didapatkan dari
hasil pewarnaan Gram semua kelompok, menunjukkan bahwa rata-rata
mikroorganisme dalam sampel air yang digunakan adalah Gram negatif. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Jawetz & Adelberg (2004), bahwa bakteri Gram negatif
banyak terdapat di perairan yang diam dan di permukaan air.

Gambar 3.1 Mikroalga Coelosphaerium minutissimum

Gambar 3.2. Hasil Platting pada Medium NA Hari ke-7

Gambar 3.3. Hasil Platting pada Medium NA Hari ke-14

Gambar 3.4. Hasil Platting pada Medium NA Hari ke-21


Berdasarkan Tabel 3.1. rata-rata perhitungan TPC setiap kelompok mengalami
fluktuasi setiap minggunya. Sedangkan, menurut Donlan (2012, semakin lama
biofilm itu berada pada suatu badan perairan maka jumlah bakteri dan jamur akan
semakin meningkat. Biofilm terbentuk karena adanya interaksi antara bakteri dan
permukaan yang ditempeli. Interaksi ini terjadi dengan adanya faktor-faktor yang
meliputi kelembaban permukaan, makanan yang tersedia, pembentukan matrik
ekstraseluller (exopolimer) yang terdiri dari polisakarida, faktor-faktor fisikokimia
seperti interaksi muatan permukaan dan bakteri, ikatan ion, ikatan Van Der Waals, pH
dan tegangan permukaan serta pengkondisian permukaan. Artinya terbentuknya
biofilm adalah karena adanya daya tarik antara kedua permukaan (psikokimia) dan
adanya alat yang menjembatani pelekatan (matriks eksopolisakarida). Sel bakteri pada
permukaan biofilm berbeda dari sel dengan matrik biofilm. Sifat sel yang terselubung
dalam matrik dapat berubah sejalan dengan perubahan ketebalannya. Sel permukaan
cenderung untuk sel permulaan biofilm muda yang aktif secara metabolisme. Sel
permukaan membelah dan meningkatkan ketebalan biofilm. Oksigen yang tersedia
bagi sel dalam matrik lebih sedikit oleh sebab itu mereka lebih kecil dan tumbuh
dengan lambat. Bakteri akan menjadi sedikit dorman, dan menjadi aktif bila lapisan
luarnya dibunuh (Barbara et al.., 2014).

Gambar 3.5. Hasil Platting pada Medium PDA Hari ke-7

Gambar 3.6. Hasil Platting pada Medium PDA Hari ke-14


Gambar 3.7. Hasil Platting pada Medium PDA Hari ke-21

Gambar 3.5 sampai Gambar 3.7 menunjukkan bahwa terdapat jamur yang
tumbuh pada biofilm di medium PDA. Menurut Dong et al. (2010), pertumbuhan
biofilm bergantung pada substansi matriks bahan yang digunakan. Matriks bahan yang
digunakan ini akan menyediakan aseptor elektron bagi mikroba untuk proses oksidasi
dalam upaya menghasilkan energi. Selain itu, pembentukan biofilm ini bergantung
pada keragaman/variasi jenis mikroba yang tumbuh. Biofilm dapat dibentuk dari satu
jenis mikroba saja, namun secara alami hampir semua jenis biofilm terdiri dari
campuran berbagai jenis mikroba. Sebagai contoh fungi, algae, yeast (ragi), amoeba,
bakteri dan jenis mikroba lainnya. Semakin beragam mikroba yang tumbuh, maka
biofilm yang terbentuk akan semakin cepat dan kompetitif. Bagi bakteri yang bersifat
aerob akan tumbuh di bagian luar, sedangkan bakteri yang bisa tumbuh secara anaerob
akan berada di lapisan bagian dalam. Semakin beragam bakteri, maka interaksi antara
bakteri semakin kompleks. Demikian halnya jenis mikroba yang lain.

a b c

Gambar 3.8. Hasil Pewarnaan Gram Hari ke-7 (a), Hari ke-14 (b) dan
Hari ke-21 (c)

Gambar 3.8 menunjukkan bahwa pewarnaan Gram yang dilakukan kelompok 2


rombongan II mendapatkan hasil Gram negatif. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil
pewarnaan yang berwarna merah. Hasil tersebut sesuai dengan pernyataan Jawetz &
Adelberg (2004), bahwa bakteri Gram negatif banyak terdapat di perairan yang diam
dan di permukaan air. Pentingnya sifat struktural biofilm pada mesoscale (kisaran
milimeter), terutama bila biofilm perlu dipahami secara lebih rinci, misalnya, dalam
aspek struktur biofilm, fungsi biofilm dan mekanisme pengembangan biofilm.
Sampai saat ini, peneliti tidak mampu memantau pembentukan biofilm non invasif
pada mesoscale di drippers, terutama karena struktur biofilm hancur setelah
memotong dan membuka drippers (Qian et al., 2017).
Sebuah penelitian menunjukkan, bahwa pada suhu kamar, pembentukan biofilm
di dalam drippers bergantung pada ketersediaan nutrisi. Tingkat pembentukan
biofilm paling tinggi bila asetat sebagai substrat mudah terurai biodegradable
ditambahkan ke T-TWW yang digunakan untuk irigasi. Perkembangan biofilm
tercepat kedua diamati saat S-TWW digunakan. Perkembangan biofilm dengan
T-TWW murni adalah yang paling lambat. Kedua, pada suhu kamar, volume biofilm
di kompartemen labirin meningkat lebih cepat dibandingkan kompartemen cekungan.
Penyumbatan/kegagalan MFD terutama disebabkan oleh penyumbatan di
kompartemen labirin. Ketiga, di kompartemen labirin, pertumbuhan biofilm biasanya
dimulai di tepi saluran aliran dan perlahan bergerak ke arah daerah dengan sedikit
geser. Cakupan biofilm di labirin hingga 60% tidak mengurangi laju pelepasan,
sedangkan semakin meningkat Cakupan sampai 80% mengurangi tingkat debit
sebesar 50% dalam penelitian ini. Keempat, siklus suhu (antara 20 dan 50oC)
memiliki dampak negatif pada pembentukan biofilm. Suhu yang lebih tinggi menjaga
pertumbuhan bakteri non-adaptif (mesofil) terkendali. Dibandingkan dengan
eksperimen pada suhu sekitar 20oC, laju pembentukan biofilm untuk T-TWW dengan
sumber karbon tambahan menurun dari 1,37% d-1 menjadi 0,15% d-1 pada siklus
suhu harian (Qian et al., 2017).

Menurut Dewanti & Hariadi (2002), manfaat biofilm sebagai berikut :


1. Bidang Bioteknologi
Biofilm ternyata juga bisa memberi keuntungan bagi manusia dan dapat
dimanfaatkan sebagai solusi alternatif untuk stabilisasi bangunan yang berdiri di
atas tekstur tanah yang rentan terhadap bencana gempa bumi. Penelitian ini
dilakukan oleh para peneliti dari Lafayette College, Amerika Serikat. Biofilm
yang diaplikasikan ini adalah koloni dari bakteri Flavobacterium johnsoniae
yang secara alami terdapat di tanah. Bakteri ini dipilih karena bersifat
non-patogenik, terdapat secara alami pada aliran (pembuangan) air tanah, tidak
perlu zat nutrien tinggi, bahkan dapat menguraikan molekul makro yang banyak
terdapat dalam limbah seperti kitin, dan membentuk biofilm. Penggunaan bakteri
ini diharapkan dapat secara alami membentuk polimer biofilm pada lapisan
tanah yang rentan terhadap gempa tempat bangunan berdiri lewat aliran air
tanah.
2. Bioremediasi
Biofilm telah ditemukan untuk menjadi cocok untuk remediasi polutan karena
biomassa mikroba yang tinggi dan kemampuan untuk melumpuhkan polutan.
Penelitian biofilm dalam lingkungan alam tanah, pasir, sedimen dan vegetasi
lahan basah telah mengungkapkan potensi biofilm memiliki kemampuan untuk
mengobati air limbah bantalan beberapa polutan. Sistem biofilm sangat cocok
untuk pengobatan senyawa bandel karena biomassa mikroba yang tinggi dan
kemampuan untuk melumpuhkan senyawa polutan. Bakteri, seperti
Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter calcoaceticus, Arthrobacter sp., dan
Streptomyces viridans menghasilkan senyawa biosurfaktan/bioemulsi yangdapat
menyerap berbagai jenis logam berat seperti Cd, Cr, Pb, Cu dan Zn dari tanah
yang terkontaminasi. Berbagai jenis Baccillus yang membentuk biofilm pada
permukaan perairan dapatmenyerap Cd, Cr, Cu, Hg, Ni, dan Zn dari dalam air.
Mikroba yang membentuk film dalam ekosistem perairan juga memiliki peranan
yang penting dalam bioremediasi logam seperti Saccharomyces cerevisiae dan
Candida sp dapat mengakumulasi Pb dari dalam perairan, Citrobacter san
Rhizopus arrhizus memiliki memampuan menyerap uranium. Selain itu,
biosorpsi kromium heksavalen menggunakan biofilm E. coli didukung pada
pasir karbon aktif juga dapat menghilangkan ion Cr lingkungan berair. Ilmuwan
telah mengembangkan strain hasil rekayasa genetika, yaitu Escherichia coli
yang bermanfaat untuk pembersihan merkuri dan logam berat lainnya. Beberapa
bakteri hasil rekayasa genetika dapat mengabsorbsi merkuri secara langsung,
sementara yang mengikat merkuri dari suplai air dapat tumbuh pada biofilm.
Biofilm harus diganti secara periodik untuk menghilangkan bakteri yang
mengandung merkuri. Hal yang sama terjadi pada sel tunggal alga yang diubah
secara genetik yang mengandung gen metallothioniein dan bakteri yang disebut
Cyanobacteria, yang telah menunjukkan kemampuan untuk mengabsorbsi
cadmium, yaitu logam berat lain yang bersifat toksik yang dapat menyebabkan
masalah kesehatan yang serius pada manusia.
4. Biofiltrasi
Biofiltrasi adalah sebuah cara pemurnian limbah dengan bantuan bahan
pengendali biologis yang sangat efektif dan tidak membahayakan perairan
maupun mencemari perairan. Teknik biofiltrasi merupakan salah satu alternatif
yang tepat untuk dikembangkan dalam upaya penyisihan polutan. Teknik ini
memanfaatkan kemampuan aktifitas mikroba dalam mendegradasi/
mengeliminasi senyawa polutan. Pengembangan teknik biofiltrasi, memerlukan
jenis media serta mikroba yang handal sehingga pemilihan biofilm tepat untuk
digunakan dalam proses biofiltrasi. Contohnya: proses biofilter untuk
menghilangkan senyawa amonia dengan menggunakan biofilm sebagai media
penyangga.
5. Bioreaktor
Bioreaktor atau dikenal juga dengan nama fermentor adalah sebuah peralatan atau
sistem yang mampu menyediakan sebuah lingkungan biologis yang dapat
menunjang terjadinya reaksi biokimia dari bahan mentah menjadi bahan yang
dikehendaki. Reaksi biokimia yang terjadi di dalam bioreaktor melibatkan
mikroorganisme atau komponen biokimia aktif (enzim) yang berasal dari
mikroorganisme tertentu, baik secara aerobik maupun anaerobik. Dengan kata
lain, sebuah bioreaktor adalah tempat berlangsungnya proses kimia yang
melibatkan mikroorganisme atau enzim yang dihasilkan oleh suatu
mikroorganisme.
Sedangkan dampak negatif dari biofilm, antara lain (Dewanti & Hariadi, 2002) :
1. Industri Makanan
Biofilm dikhawatirkan dalam industri makanan, dalam hal ini biofilm dapat
muncul dari bahan mentah, permukaan, manusia, hewan, dan udara. Ketika
makanan atau permukaan pada pabrik pemprosesan makanan terkontaminasi,
bakteri dapat membentuk koloni, akhirnya membentuk biofilm. Sebagai contoh
adalah papan iris yang digunakan untuk memotong daging dapat terinfeksi
dengan mikroorganisme. Mikroorganisme lain dapat menempel pada
mikroorganisme yang duluan melekat dan biofilm dapat terbentuk. Pembersih
yang digunakan untuk mengusap papan iris dapat membunuh planktonik, bakteri
yang hidup lepas, tapi terkadang tidak mampu menembus biofilm. Makanan
yang bersentuhan dengan papan iris dapat terkontaminasi.
2. Sistem Perairan
Suatu survei pada aliran sampah menunjukkan, bahwa populasi bakteri sesil
(biofilm) melebihi sel planktonik sebanyak 200 unit logaritma. Kandungan nutrisi
yang tinggi tersedia dalam sistem limbah, merangsang pertumbuhan biofilm.
Biofilm yang melekat pada pipa logam dapat menyebabkan korosi. Potensi korosi
dibangun antara permukaan logam yang tidak dikoloni dan permukaan logam
yang dikoloni oleh biofilm. Perbedaan pH sekitar 1,5 unit dapat terjadi pada zona
yang lebih rendah dari biofilm yang tumbuh pada permukaan metalik. Di
lingkungan laut, suksesi kerusakan secara ekologi pada permukaan benda/substrat
misalnya karet, pastik, kayu, dan besi, diinisiasi oleh perlekatan secara
permanen mikroba laut yang bersifat heterotrofik. Selanjutnya, akan diperparah
oleh inveretebrata seperti cacing teredo, Mollusca, Bernacle, Polycaheta,
Brachopoda, Sponges, dan Bryozoa. Dibawah kondisi euphotik, mikroalga dan
makroalga juga berperan dalam kerusakan tersebut. Biofilm dapat tumbuh dengan
baik pada shower karena didukung oleh lingkungan yang berubah lembab dan
hangat dari air yang mengalir. Biofilm juga dapat terbentuk pada bagian dalam
pipa sehingga mengakibatkan penyumbatan dan korosi. Pada sistem
pembuangan atau pengolahan limbah, terdapat berbagai macam organisme
termasuk bakteri, protozoa, dan rotifera. Biasanya sistem
tersebut dilengkapai oleh penyaring. Penyaring tersebut seringkali ditutupi
oleh biofilm. Bakteri yang terdapat dalam biofilm berperan dalam menangkap
materi organik dan menguraikannya, sedangkan protozoa dan rotifera berperan
dalam menguraikan dan membuang suspensi padat, termasuk patogen dan
mikroba.
3. Dampak Bagi Kesehatan
Dalam kehidupan sehari-hari biofilm banyak dijumpai di sekitar kita. Salah satu
contohnya adalah karang gigi. Karang gigi biasanya adalah lapisan biofilm dari
bakteri Streptococcus. Biofilm yang dapat terdiri dari multi lapisan ini menempel
pada permukaan gigi dan dapat menyebabkan caries gigi. Penelitian biofilm pada
gigi ini berdampak luas pada ilmu kedokteran gigi dan kesehatan mulut. Biofilm
juga terdapat pada saluran pencernaan kita.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dan praktikum acara Mikroba Penyusun Biofilm,
maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Keragaman mikroba penyusun biofilm yang didapatkan dalam praktikum, antara
lain bakteri Gram negatif, jamur, dan mikroalga. Mikroalga tersebut antara lain
Chlamydomonas sp., Coelosphaerium minutissimum, Botrydiopsis sp.,
Eurastrum verrocosum, Duraliella salina Gata, Duraliella salina, Asteroticus
limneticus, Microspora sp., Genicularia sp., Sphaerellopsis sp., Actinophryssol
sp., Mallumuna sp., M. radiosa, Cladophora sp., Euglena sp., Goniochlori sp.,
Anabaena uccrainica, Chaetopeltis sp., Hyalothera dissitens, Challotrix sp.,
Chaetophora sp., Schizochlamys geratik, dan Bubochaete sp.

B. SARAN

Sebaiknya, sampel air dan substrat yang digunakan lebih bervariasi lagi agar
semakin banyak keragaman mikrobanya.

DAFTAR REFERENSI
Barbara, V., Miao, C., Russell, J., Crawford & Elena, P. I. 2014, Bacterial
Extracellular Polysaccharides Involved in Biofilm Formation. Molecules
Journal, 1(1), pp.2535 – 2554.
Caroppo, C. 2015. Ecology and biodiversity of picoplanktonic cyanobacteria in
coastal and brackish environments. Biodiversity and Conservation, 24(4), pp.
949-971.
Costerton, J.W. & Steware, P.S. 2001. Battling Biofilm. USA: Academic Press of
Elsevier.
Damayanti, E. 2001. Karakterisasi Biofilm pada Escherichia coli Enteropatogen.
Skripsi. Jurusan Biologi FMIPA: Institut Pertanian Bogor.
Dewanti, R & Hariadi. 2002. Pembentukan Biofilm Pada Permukaan Padat. Bogor:
IPB.
Dong H.C., Noh, J.N., Yu, O.H. & Kang, Y.S. 2010. Bacterial Diversity in Biofilms
Formed on Condenser Tube Surfaces in a Nuclear Power Plant. Biofouling
Journal, 26(8), pp. 953-959.
Gast, R.J. 2017. Centrohelida and Other Heliozoan-Like Protists. Handbook of the
Protists. USA: Academic Press of Elsevier.
Gattlen, J., Amberg, C., Zinn, M. & Mauclaire. L. 2010. Biofilms Isolated from
Washing Machines from Three Continents and Their Tolerance to a Standard
Detergent. Biofouling Journal, 26(8), pp.873-882.
Jawetz, M. & Adelberg. 2004. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Maier. 2009. Environmental Microbiology. USA: Academic Press of Elsevier.
Natali, A. & Croce, R. 2015. Characterization of the major light-harvesting
complexes (LHCBM) of the green alga Chlamydomonas reinhardtii. PloS
One, 10(2), pp.1-8.
Prasetyo, T.I. 1987. Genus Alga Air Tawar. IKIP: Malang.
Qian, J., Horn, H., Tarchitzky, J., Chen, Y., Katz, S. & Wagner, M. 2017. Water
quality and daily temperature cycle affect biofilm formation in drip irrigation
devices revealed by optical coherence tomography. Biofouling Journal, 33(3),
pp.1-12.
Rheinheimer, G. 2000. The Aquatic Microbiology. Toronto: John Wileys & Sons.
Wahdi, A.R. & Fitrianingsih, A.A. 2014. Pengaruh Suhu terhadap Penambahan
Bakteri Eschericia coli O157: H7 dalam Urin untuk Pembentukan Biofilm dan
Produksi Elektron. Jurnal Neutrino, 6, pp.109-118.
Yoo, E.S. 2000. Biological and Chemichal Mechanism of Reductive Decolorization
Od Azzo Dyes Biofilm. Disertasi. Berlin: Genehmitge.