Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Bangunan pelengkap merupakan bagian dari sistem jaringan irigasi yang
dibangun sesuai kondisi topografi dan berfungsi untuk memaksimalkan pendistribusian
air dan menoptimalkan pengelolaan suatu jaringan Irigasi. Adapun yang termasuk
dalam bangunan pelengkap adalah bangunan terjun, bangunan ukur, gorong-gorong,
talang, siphon, got miring, dan lain-lain. Dalam tugas makalah Irigasi ini, hanya dibahas
mengenai bangunan siphon.
Bangunan siphon adalah salah satu bangunan pelengkap dalam jaringan irigasi
yang dibangun untuk mengalirkan air irigasi dimana jalurnya terpotong oleh sungai
dengan bentang terpanjang. Bangunan siphon juga merupakan salah satu bangunan
persilangan berupa saluran tertutup yang dibangun apabila muka air saluran irigasi
hanya sedikit lebih tinggi daripada muka air banjir sungai yang dilaluinya, dan juga
apabila saluran yang terpotong tersebut tidak dapat dibangun talang atau gorong-
gorong.
Penulisan makalah ini selain sebagai salah satu tugas yang diberikan oleh dosen
mata kuliah Irigasi I dalam proses pengenalan bangunan siphon seperti cara pemilihan
lokasi, kriteria hidrolis maupun bagian-bagian bangunan siphon. Dilain pihak, tugas
dimaksudkan sebagai sarana untuk melatih mahasiswa dalam hal menulis dan
mempersentasikan hasil tulisanya.

1.2 Maksud dan Tujuan


Adapun yang menjadi maksud dari penulisan makalah ini adalah merupakan
syarat dalam matakuliah Irigasi I sebagai proses pembelajaran bagi mahasiswa dan
juga sebagai salah satu tugas dari matakuliah Irigasi I.
Sedangkan yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
acuan belajar bagi mahasiswa, agar mahasiswa itu sendiri dapat mengerti, memahami
bentuk, fungsi dan dimensi bangunan-bangunan air dalam hal ini bangunan Siphon.
Serta melatih mahasiswa agar bisa mandiri dalam pengumpulan materi dari berbagai
sumber dan topik bahasan tentang perencanaan jaringan Irigasi
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 PENGERTIAN IRIGASI


Bangunan siphon merupakan salah satu bangunan persilangan yang berupa
saluran tertutup yang dibangun apabila muka air irigasi hanya sedikit lebih tinggi dari
pada muka air banjir sungai yang dilalui ( Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan
KP – 04 ).

2.2 JENIS – JENIS SIPHON


Secara hidrolik, siphon merupakan saluran tertutup yang berdasarkan
bentuknya, dibedakan menjadi 4 macam ( Euro Consult Mott McDonald & Associates ),
yaitu :
2.2.1 Siphon Berbentuk Bulat atau Lingkaran
Siphon berbentuk lingkaran seperti gambar 2.1 di bawah ini adalah bentuk
siphon yang paling ideal karena menghasilkan aliran yang sempurna. Penampang bulat
adalah penampang yang paling efisien, hal ini dikarenakan suatu lingkaran mempunyai
keliling basah yang paling kecil untuk suatu luas yang tertentu.

d d

Gambar 2.1 Siphon Berpenampang Lingkaran

2.2.2 Siphon Berbentuk Trapesium

Siphon berbentuk trapesium seperti gambar 2.2 di bawah ini adalah bentuk
siphon yang dianjurkan setelah siphon berbentuk bulat. Hal ini dikarenakan bentuknya
yang mendekati ideal. Namun kendala yang dihadapi untuk siphon berbentuk trapesium
b

Gambar 2.2 Siphon Berpenampang Trapesium

2.2.3 Siphon Berbentuk Persegi


Siphon berbentuk persegi seperti gambar 2.3 di bawah ini adalah bentuk siphon
yang dianjurkan setelah siphon berbentuk trapesium. Siphon berbentuk persegi sangat
mudah dalam dalam pelaksanaan, karena bentuknya yang sederhana.

B=h B=h

Gambar 2.3 Siphon Berpenampang Persegi

2.2.4 Siphon Berbentuk Kombinasi


Siphon berbentuk kombinasi merupakan bentuk siphon yang dikombinasikan dari
bentuk lingkaran, trapesium dan persegi. Siphon berbentuk kombinasi jarang dibangun
karena pelaksanaannya yang sulit dan juga bentuknya yang sulit, sehingga
membutuhkan pengawasan yang lebih teliti.
Siphon ini dapat berbentuk :
 Bagian atas berbentuk persegi, sedangkan bagian bawah berbentuk lingkaran.
 Bagian atas berbentuk persegi sedangkan bagian bawah berbentuk trapesium.
 Dan lain-lain.
2.3 BAHAN PEMBUAT SIPHON
Konstruksi siphon dapat dibuat dari berbagai jenis bahan. Berdasarkan bahan
pembuat, siphon dapat dibadakan menjadi 4 jenis ( Euro Consult Mott McDonald &
Associates ), yaitu :
2.3.1 Siphon Pipa Besi
Besi merupakan bahan yang paling bagus untuk mengalirkan air karena
permukaannya yang licin, sehingga kecepatan aliran di dalam pipa sangat cepat.
Kecepatan aliran yang cepat menyebabkan kehilangan energi yang kecil. Selain itu,
kecepatan aliran yang cepat juga dapat mengurangi terjadinya pengendapan sedimen
di dalam pipa.
Kelebihan penggunaan pipa besi untuk konstruksi siphon adalah :
 Tahan terhadap temperatur yang tinggi.
 Tidak mudah lapuk.
 Tidak mudah mengalami kebocoran karena tidak mudah mengalami keretakan.
 Baik digunakan pada tanah yang labil.
 Kecepatan aliran tinggi.
Kekurangan penggunaan besi untuk konstruksi siphon adalah :
 Membutuhkan biaya yang besar.
 Memerlukan perawatan karena mudah berkarat.
 Berat sehingga tidak mudah diangkut ke tempat-tempat lain.

2.3.2 Siphon Beton


Beton merupakan alternatif kedua setelah besi. Beton adalah bahan bangunan
yang terbuat dari semen (Portland cement atau semen hidrolik lainnya), pasir atau
agregat halus, kerikil atau agregate kasar, air dan dengan atau tanpa bahan tambahan.
Kekuatan tekan beton yang digunakan untuk perencanaan ditentukan berdasarkan
kekuatan tekan beton pada umur 28 hari.
Sifat-Sifat Beton :
 Daya rembesan air ( permeability )
 Penyusutan beton ( shrinkage )
 Koefisien perubahan temperatur
 Berat jenis beton ( unit weight )
 Perubahan volume beton

Syarat-Syarat Beton Bermutu Baik :


 Bahan bangunannya baik dan bersih.
 Peralatan kerja harus baik dan kapasitasnya sesuai dengan yang diperlukan.
 Bekisting harus kuat menahan beban selama pengecoran berlangsung.
 Diadakan pemeriksaan slump dan kokoh desak beton ( berbentuk kubus atau
silinder ) sebelum dan selama pengecoran berlangsung.
 Diadakan perawatan yang cukup sampai dengan batas waktu yang telah
ditentukan.
 Tempat pengecoran dilindungi terhadap hujan.
Kelebihan dari penggunaan beton untuk konstruksi siphon adalah :
 Dapat dengan mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan konstruksi.
 Kecepatan aliran di dalam siphon cepat namun tidak secepat kecepatan aliran
pada besi.
 Mampu memikul beban yang berat ( tanah penutup pada siphon ).
 Tahan terhadap temperatur yang tinggi.
 Biaya pemeliharaan atau perawatan yang rendah karena tahan terhadap
perkaratan atau pembusukan oleh kondisi alam.
 Tidak mudah lapuk
 Tidak mudah terbakar.
 Tidak dimakan serangga atau rayap.
 Kekuatannya tinggi.
 Lebih mudah jika dibandingkan dengan baja.
 Umurnya tahan lama.
Kekurangan penggunaan beton dalam konstruksi siphon adalah :
 Keretakan setipis rambutpun (disebut retak rambut/hair crack) bisa ditembus
oleh air dan menyebabkan dinding menjadi lembab atau bahkan menyebabkan
kebocoran.
 Menuntut ketelitian yang tinggi dalam pelaksanaan karena jika terjadi kesalahan,
perbaikannya tidak mudah bahkan kadang-kadang harus dibongkar dan diganti
baru.
 Mempunyai bobot yang Berat.

2.3.3 Siphon Pasangan Batu


Pasangan batu merupakan bahan yang sederhana dan ekonomis karena bahan
batu merupakan bahan konstruksi yang paling murah dan mudah didapat. Siphon
pasangan batu dibuat untuk struktur yang permanen dan untuk menahan beban yang
tidak terlalu berat dan besar.
Kelebihan penggunaan pasangan batu untuk konstruksi siphon adalah :
 Mudah dalam pelaksanaan.
 Tidak membutuhkan biaya yang mahal.
 Tanah yang dibebaskan lebih kecil.
 Mencegah gerusan dan erosi.
Kekurangan penggunaan pasangan batu untuk konstruksi siphon adalah :
 Kehilangan energinya besar.
 Mudah mengalami keretakan pada konstruksi.
 Jika ada keretakan pada kostruksi, maka aliran dengan kecepatan tinggi masuk
ke dalam retakan pasangan sehingga dapat mengeluarkan bahan-bahan dari
pasangan tersebut.
 Kecepatan maksimum dibatasi.

2.3.4 Siphon Kayu


Siphon kayu adalah siphon yang terbuat dari kayu yang merupakan bahan
darurat yang terdapat di sekitar lokasi. Siphon kayu hanya dipakai untuk keadaan yang
darurat dan bersifat sementara bukan untuk penggunaan yang bersifat permanen.

Kelebihan penggunaan bahan kayu untuk konstruksi siphon adalah :


 Bahan - bahan mudah didapat karena disediakan oleh alam.
 Tidak membutuhkan biaya yang besar.
 Pelaksanaanya mudah.
 Tidak membutuhkan tenaga ahli dalam pembangunan.
Kekurangan penggunaan bahan kayu untuk konstruksi siphon adalah :
 Tidak tahan lama.
 Mudak mengalami kerusakan.
 Tidak kuat menahan beban yang berat.
 Mudah menyerap air.
 Mudah mengalami kembang - susut
 Kurang tahan terhadap pengaruh cuaca.
 Rentan terhadap rayap.

2.4 KOMPONEN – KOMPONEN PELENGKAP SIPHON


Adapun komponen – komponen yang menjadi pelengkap untuk konstruksi
siphon adalah :
2.4.1 Bangunan Pembilas
Bangunan pembilas pada siphon adalah bangunan yang terdapat pada
pemasukan siphon. Bangunan ini berfungsi untuk mengontrol pergerakan sedimen dan
mengendapkan sedimen dasar agar tidak masuk ke siphon yang dapat merusak
kostruksi siphon. Endapan sedimen ini dapat dibuang dengan cara membuka pintu
pembilas.

Pintu pembilas

Gambar 2.4.1 Bangunan Pembilas


2.4.2 Kisi - Kisi Penyaring ( Trashrack )
Kisi – kisi penyaring ( trashrack ) harus dipasang pada bukaan atau lubang
masuk bangunan yang berupa saluran tertutup, contohnya pada bangunan siphon. Kisi
– kisi penyaring ( trashrack ) berfungsi untuk mencegah benda padat, sampah dll
masuk ke dalam siphon agar pipa siphon tidak tersumbat, sehingga tidak menimbulkan
akibat - akibat yang serius.
Trashrack dibuat dari jeruji - jeruji baja dan mencakup seluruh bukaan.
Jeruji - jeruji tersebut dapat berbentuk segi empat dan bulat. Faktor bentuk untuk
trashrack berbentuk segi empat, β = 2,4 sedangkan faktor bentuk untuk trashrack jeruji
bulat, β = 1,8. Dengan adanya trashrack diharapkan tidak ada sampah-sampah yang
menghambat kelancaran air di dalam siphon.

Gambar 2.4.1 Kisi-kisi Penyaring ( Trashrack )

2.4.3 Pintu Air


Pintu yang dimaksud adalah pintu air yang dibuat dengan konstruksi tertentu dari
bahan besi atau baja dan kayu yang gunanya untuk mengatur debit air.
Pintu pada pembangunan siphon dipasang pada pemasukan siphon. Pintu inlet
pada siphon berfungsi untuk menahan air dari saluran sebelum siphon pada waktu
pembersihan siphon. Setelah pembersihan, pintu dapat dibuka kembali untuk
mengalirkan air irigasi.
Gambar 2.4.3 Pintu Air

2.4.4 Tanggul
Tanggul terdapat pada sisi kiri dan sisi kanan siphon pada bagian hulu dan hilir
siphon. Bangunan ini dibangun untuk melindungi lereng terhadap erosi oleh aliran air
yang berasal dari hujan maupun sungai. Karena fungsi lindungnya terhadap daerah
irigasi maka kekuatan dan keamanan tanggul harus benar-benar diselidiki. Biaya
pembuatan tanggul bisa menjadi sangat besar jika tanggul terlalu panjang dan tinggi.
Oleh karena itu, tanggul harus direncanakan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak
membutuhkan biaya yang besar. Apabila tanggul melintasi saluran lama, maka dasar
tanggul harus diperlebar di bagian samping luar. Tanggul harus mepunyai lebar atas
yang besar guna mengakomodasi jalur pemeliharaan selama muka air mencapai
ketinggian kritis.
Dalam membangun tanggul perlu dilakukan penyelidikan pendahuluan mengenai
lokasi tanggul.
Hal tersebut dimaksudkan untuk menentukan :
 Perkiraan muka air banjir ( tinggi dan lamanya ).
 Elevasi tanah yang akan dilindungi.
 Masalah-masalah fisik yang sangat mungkin dijumpai, terutama kondisi tanah
karena ini erat hubungannya dengan kebutuhan pondasi dan galian timbunan.
 Tata guna lahan dan peningkatan tanah pertanian guna menilai arti penting
daerah yang akan dilindungi dari segi ekonomi.

Gambar 2.4.4 Tanggul

2.4.5 Pelimpah.
Pelimpah adalah bangunan yang dibangun untuk membuang air kelebihan dari
saluran irigasi dan dibangun tepat di sebelah hulu. Penempatan pelimpah di bagian
hulu dimaksudkan agar air tidak meluap di atas tanggul saluran di hulu siphon, karena
kelebihan air akan menimbulkan kerusakan pada konstruksi siphon. Bangunan
pelimpah yang dibangun harus merupakan bangunan yang relatif murah dan memiliki
kapasitas yang besar untuk mengalirkan seluruh air lebih yang berasal dari banjir atau
kesalahan eksploitasi tanpa menyebabkan naiknya tinggi muka air di saluran yang akan
membahayakan tanggul.
Gambar 2.4.5 Bagunan Pelimpah

2.5 PEMILIHAN LOKASI SIPHON


Secara umum hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pembangunan sebuah
siphon adalah sebagai berikut :
o Pilih bagian sungai yang lurus untuk menghindari belokan pada konstruksi
siphon.
o Pilih pada bentang terpendek untuk mengurangi kehilangan energi dan juga
untuk menghemat biaya pelaksanaan.
o Bangun pada kedalaman yang cukup terhadap dasar sungai untuk menghindari
bahaya gerusan tanah dasar sungai akibat dasar sungai yang terganggu..
o Pertimbangan daya dukung tanah dan elevasi dasar saluran.
o Tebing sungai harus kuat untuk menghindari terjadinya erosi.
o Ketersediaan bahan bangunan di sekitar lokasi pembangunan siphon.
o Pelaksanaan yang mudah
Pemilihan lokasi siphon hendaknya dipilih yang paling menguntungkan dari
berbagai segi. Pemilihan lokasi siphon hendaknya dipertimbangkan pula dari beberapa
segi, antara lain :
1. Keadaan sungai
Faktor – faktor yang perlu dipertimbangkan :
 Kemiringan dasar sungai.
 Jumlah air dan distribusi angkutan sedimen sepanjang tahun.
 Morfologi sungai.
 Kedalaman dan lebar muka air pada waktu terjadi banjir.
 Jenis sedimen atau bahan yang terangkut.

2. Keadaan morfologi sungai


Keadaan morfologi sungai yang menentukan pelaksanaan pembangunan siphon
adalah :
 Sungai stabil : tebing dari batuan kokoh, dasar sungai ada batu-batuan besar.
 Sungai labil : tebing tidak kokoh, penuh kerikil dan pasir.
Pengecekan morfologi sungai untuk bangunan siphon dilakukan untuk
mengetahui keadaan-keadaan seperti :
o Kestabilan tebing sungai.
o Terjadi degradasi atau tidak.
o Terjadi agradasi atau tidak
3. Keadaan geologi dan lokasi siphon
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan berkaitan dengan factor geologi teknik dalam
perencanaan siphon adalah :
 Daya dukung tanah pondasi harus kuat.
 Jangan terletak pada daerah patahan.
 Kestabilan tebing kanan dan kiri sungai.
 Ketersediaan bahan bangunan.

2.6 Kriteria Perencanan


Bangunan siphon untuk irigasi hanya digunakan jika benar-benar diperlukan dan
tidak ada alternatif lain untuk membuat persilangan dengan sungai atau saluran lain.
Hal ini dikarenakan biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan sebuah siphon sangat
besar dan juga pelaksanaanya yang sulit. Secara hidrolis juga kurang menguntungkan
karena kehilangan energi yang terjadi pada bangunan siphon cukup besar, jika
dibandingkan dengan bangunan persilangan yang lain, seperti : gorong – gorong dan
talang.
2.6.1 Kriteria Bangunan

Persyaratan dalam membangun siphon adalah, sebagai berikut :

 Siphon hanya dipakai untuk membawa aliran di saluran yang memotong sungai
di mana tidak bisa dibangun gorong-gorong, jembatan atau talang.
 Pembuatan bangunan siphon harus mempertimbangkan kecepatan air dalam
pipa siphon, sebesar 1,50 m/dtk – 3 m/dtk. Kalau kecepatan air diambil terlalu
besar maka akan mengakibatkan kehilangan tekanan besar, sehingga dapat
mengurangi areal sawah yang akan diairi. Kalau kecepatan air terlalu kecil,
menimbulkan pengendapan atau penyumbatan pada pipa siphon.
 Untuk kepentingan inspeksi dan pembersihan ukuran pipa siphon, diambil
minimum ukuran siphon 0,70 m.
 Dasar dan tebing sungai di tempat siphon perlu diperkuat dengan pasangan
untuk menjaga bahaya penggerusan setempat dan kelongsoran tebing.
 Agar pipa siphon tidak tersumbat karena sampah-sampah yang terbawa dalam
saluran dan tidak ada orang atau binatang yang masuk secara kebetulan, maka
mulut sipon ditutup dengan kisi-kisi penyaringan ( trashrack ).
 Biasanya pipa siphon dikombinasi dengan pelimpah tepat di sebelah hulu agar
air tidak meluap di atas tanggul hulu.
 Siphon harus cukup kuat agar tidak mudah retak.

Adapun struktur siphon adalah sebagai berikut :


 Pada bagian masuk harus dipasang saringan sampah ( trashrack ) dari besi
untuk menahan benda padat atau sampah masuk ke dalam siphon yang dapat
menimbulkan akibat-akibat yang serius.
 Dibuat spooning untuk balok-balok sekat dengan tujuan untuk pemeliharaan
pada bagian masuk.
 Bangunan siphon harus dilengkapi pelimpah dengan tujuan supaya air tidak
meluap di atas tanggul saluran hulu sehingga mengurangi kerusakan pada
konstruksi siphon.
 Siphon harus stabil dan tahan terhadap tekanan aliran sekelilingnya.
Pembangunan siphon di sungai yang lebih besar, biasanya siphon dibuat
dengan pipa rangkap ( double barrels ). Penggunaan pipa rangkap ( double barells )
bertujuan untuk menghindari kehilangan yang lebih besar di dalam pipa siphon.
Penggunaan pipa rangkap ( double barrels ) juga menguntungkan dari segi
pemeliharaan dan mengurangi biaya pelaksanaan pembangunan. Siphon yang
panjangnya lebih dari 100 m harus dipasang dengan lubang periksa ( manhole ) dan
pintu pembuangan, sehingga dapat mempermudah pemeliharaan. Pemasangan pipa
siphon harus berada di bawah permukaan air normal. Hal ini bertujuan untuk
mengurangi kemungkinan berkurangnya kapasitas siphon akibat masuknya udara di
dalam siphon. Kedalaman tenggelamnya bagian atas lubang siphon disebut air perapat
( water seal ).
Konstruksi siphon dalam keadaan kosong, harus mampu menahan gaya tekan
ke atas agar konstruksi siphon tidak cepat mengalami kerusakan. Oleh karena itu,
diperlukan penutup tanah yang memadai. Gaya-gaya yang bekerja harus lebih besar
dari gaya tekan ke atas (Erman Mawardi “ Bangunan Silang dan Bangunan Terjun” ).
q > 1,5 U … … … … … … … persamaan 1
Keterangan :
q = gaya-gaya yang bekerja ( kg/m )
U = Uplift ( kg/m )
Kecepatan aliran di dalam pipa siphon harus tinggi. Hal ini bertujuan untuk
mencegah adanya sedimentasi di dalam pipa siphon. Tetapi kecepatan aliran yang
tinggi dapat menyebabkan bertambahnya kehilangan tinggi energi. Oleh karena itu,
keseimbangan antara kecepatan yang tinggi dan kehilangan tinggi energi di dalam pipa
siphon harus dijaga. Kecepatan aliran di siphon harus dua kali lebih tinggi dari
kecepatan normal aliran dalam saluran dan tidak boleh kurang dari 1 m/dtk atau bila
perlu tidak kurang dari 1,5 m/dtk dan kecepatan maksimum sebaiknya tidak melebihi
3 m/dtk.
Perhitungan pembesian :

Gambar 2.6.1 potongan selimut siphon

Gambar 2.6.1.1 detail pipa siphon


Langkah-langkah perhitungan pembesian :
 Pembebanan tetap berdasarkan “ Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971”
Pada pembebanan tetap dicari tegangan-tegangan beton dan baja yang
diijinkan, nilai tegangan-tegangan beton dan baja ditentukan berdasarkan mutu
beton dan mutu baja.
 Perhitungan Momen
1
M= ql² … … … … … … … … persamaan 2
12
Keterangan :
M = momen yang terjadi ( kgm )
q = gaya-gaya yang bekerja ( kg/m )
l = panjang penampang ( m )
 Perbandingan tegangan baja tarik dengan tegangan tekan beton
σa
∅o = … … … … … … … … persamaan 3
n x σb
Keterangan :
Øo = perbandingan tegangan baja tarik dengan tegangan tekan beton
σa = tegangan baja tarik ( kg/m² )
n = angka ekivalensi
σb = tegangan beton tekan ( kg/m² )
 Perhitungan tinggi manfaat penampang
h = ht − d … … … … … … … … … persamaan 4
keterangan :
h = tinggi manfaat penampang ( cm )
ht = tinggi total penampang ( cm )
d = jarak berat tulangan sampai tepi penampang ( cm )
 Perhitungan koefisien penampang
h
Ca = … … … … … … … … … persamaan 5
√n x M
b x σa
Keterangan :
Ca = koefisien penampang
h = tinggi manfaat penampang ( cm )
n = angka ekivalensi
M = momen ( kgm )
b = lebar penampang ( m )
σa = tegangan baja tarik ( kg/m² )
 Penentuan koefisien-koefisien penampang
Dari nilai Ca dengan menggunakan cara “n” biasa, dicari koefisien-
koefisien penampang.

 Perhitungan Tulangan
A=ωbh … … … … … … … … … persamaan 6
Keterangan :
A = luas penampang ( cm² )
ω = koefisien tulangan tarik
b = lebar penampang ( m )
h = tinggi manfaat penampang ( cm )

2.6.2 Perencanaan Hidrolis


Perencanaan hidrolis untuk bangunan siphon harus mempertimbangkan beberapa hal
( Kriteria Perencanaan Bangunan – KP 04 ), antara lain :
 Kecepatan aliran
Q
V= … … … … … … persamaan 7
A

Keterangan :
Q = debit ( m³/dtk )
V = kecepatan aliran ( m/dtk )
A = luas penempang ( m² )
 Kehilangan energi akibat gesekan
Kehilangan energi akibat gesekan yang terjadi sepanjang siphon dihitung
dengan mengggunakan persamaan :
V² . L
∆Hf = … … … … … … persamaan 8
C². R
Keterangan :
∆Hf = kehilangan energi akibat gesekan ( m )
V = kecepatan aliran (m/dtk )
L = panjang siphon ( m )
R = jari-jari hidraulik ( m )
A
R=
P
C = koefisien Chezy ( k.R1/6 )
k = koefisien kekasaran Strickler

 Kehilangan energi akibat belokan


Kehilangan energi akibat belokan pada siphon dihitung dengan
menggunakan persamaan :

ΔHb = Kb … … … … … … persamaan 9
2. g

Keterangan :
ΔHb = kehilangan energi di bagian belokan ( m )
V = kecepatan aliran (m/dtk )
Kb = koefisien akibat belokan
g = percepatan gravitasi

 Kehilangan energi pada peralihan masuk dan keluar


Kehilangan energi akibat peralihan masuk dan peralihan keluar dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan :
ξ(V − Va )²
∆H = … … … … … … persamaan 10
2. g
Keterangan :
ΔH = kehilangan energi pada peralihan masuk dan keluar ( m )
V = kecepatan aliran ( m/dtk )
Va = kecepatan aliran di saluran ( m/dtk )
ξ = koefisien akibat peralihan
g = percepatan gravitasi
 Kehilangan energi akibat saringan ( trashrack )
Kehilangan energi akibat saringan ( trashrack ) dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan :
v2
Hf = c . … … … … … … persamaan 11
2g
Nilai c dihitung dengan menggunakan persamaan :
s 4/3
c = β. ( ) sin α … … … … … … … persamaan 12
b
Keterangan :
Hf = kehilangan energi akibat saringan ( m )
V = kecepatan aliran ( m/dtk )
g = percepatan gravitasi
c = koefisien berdasarkan :
β = faktor bentuk ( 2,4 untuk segi empat dan 1,8 untuk jeruji bulat )
s = tebal jeruji ( m )
b = jarak antar jeruji ( m )
α = sudut kemiringan dari bidang horizontal ( º )
Gambar tampak atas bangunan siphon

Gambar potongan melintang siphon


BAB III

PERENCANAAN SIPHON

3.1 Contoh Kasus

+ 42,25

+ 41,48 + 40,68

L1 = 10,20 m L3 = 9,20 m

L2 = 32,14 m
Gambar 3.1 Potongan melintang sungai

Gambar 3.2 Potongan Pipa Siphon

BAB I - 22
Berdasarkan hasil survey di suatu lokasi yang akan di bangun siphon, maka di peroleh
data teknis berupa :

 Debit saluran ( Qmaksimum ) = 3,83 m³/dtk


 Lebar dasar saluran ( b ) =2m
 Kedalaman aliran ( h ) = 1,57 m
 Kecepatan aliran di saluran ( v ) = 1,13 m/dtk
 Elevasi dasar saluran hilir = + 40,68
 Elevasi air di hilir = + 42,25
 Elevasi dasar saluran hulu = + 41,48
 Panjang siphon = 51,54 m
 Sudut pada belokan =
 Siphon direncanakan mempunyai 2 jalur ( double barrel ).

3.1.1 Dimensi Siphon ( A )


Untuk menentukan dimensi siphon, kecepatan aliran di dalam siphon
direncanakan 2 m/dtk ( Kriteria Perencanaan Bagian Saluran KP – 03 ).
Q
A= … … … … … … … Rumus Kontinuitas
V

Diketahui :
Q = 3,83m³/dtk
v = 2 m/dtk
Q
A=
V

3,83
A=
2

A = 1,92 m²

BAB I - 23
Bangunan siphon yang direncanakan mempunyai 2 jalur ( double barells ), sehingga :

A 1 2
= πd
2 4
0,5
A
d= ( )
1
2x 4 xπ
0,5
1,92
d= ( )
1
2 x 4 x 3,34

d = 1,1
d≈ 1m
Jadi, diameter yang dipakai untuk pembangunan siphon adalah 1 m.

3.1.2 Kecepatan Aliran di Dalam Siphon ( V aliran )


Penentuan kecapatan aliran di dalam siphon dihitung dengan menggunakan
diameter siphon ( d ) = 1 m.
Q
V=
A
Diketahui :
Q = 3,83 m³/dtk
A = 1/4πd2
Karena siphon direncanakan mempunyai 2 jalur ( double barrels ), maka :
A = (1/4 πd² )x 2
A = (1/4x 3,14 x1² )x 2
A = 0,79 x 2
A = 1,58 m²
Q
V=
A
3,83
V=
1,58
V = 2,42 m/dtk < 3 m/dtk … … … … … … . OK

BAB I - 24
3.1.3 Kehilangan Energi Akibat Gesekan ( ∆Hf )
Kehilangan energi akibat gesekan yang terjadi sepanjang siphon dihitung dengan
persamaan :
V² . L
∆Hf =
C². R

o Luas penampang basah untuk tiap barell


1,58
A=
2
A = 0,79 m²
o Keliling basah
P=πxD
P = 3,14 x 1
P = 3,14 m
o Jari-jari hidraulik
A
R=
P
0,79
R=
3,14
R = 0,25 m
o Koefisien Chezy
C = k x R1/6
C = 70 x 0,251/6
C = 55,56
V² . L
∆Hf =
C². R

2,422 x 51,54
∆Hf =
55,56 x 0,25

301,84
∆Hf =
771,73

∆Hf = 0,39 m

BAB I - 25
3.1.4 Kehilangan Energi Akibat Belokan (ΔHb)
Kehilangan energi akibat belokan pada siphon dihitung dengan menggunakan
persamaan :

ΔHb = Kb
2. g
Diketahui :
Kb = 0,24 untuk belokan 45° ( Tabel 5.2 hal 64 KP – 04 )
= 0,36 untuk belokan 50° ( Tabel 5.2 hal 64 KP – 04 )


ΔHb = Kb
2. g

2,42²
ΔHb = ( 0,24 + 0,36 )
2.9,81

5,86
ΔHb = 0,6
19,62

ΔHb = 0,18 m

3.1.5 Kehilangan Energi Akibat Peralihan ( ∆Hmasuk dan ∆Hkeluar)


Kehilangan energi akibat peralihan masuk dan peralihan keluar dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan :

BAB I - 26
ξ(V − Va )²
∆H =
2. g
Diketahui :
𝜉masuk = 0, 55 ( Tabel 5.2 hal 62 KP – 04 )
𝜉keluar = 1,10 ( Tabel 5.2 hal 62 KP – 04 )

ξmasuk(V − Va )2
∆Hmasuk =
2. g
0,55(2,42 − 1,13 )²
∆Hmasuk =
2.9,81
0,55(1,29)²
∆Hmasuk =
19,62
∆Hmasuk = 0,047 m
ξkeluar(V − Va )²
∆Hkeluar =
2. g
1,10(2,42 − 1,13 )²
∆Hkeluar =
2.9,81

BAB I - 27
1,10(1,29)²
∆Hkeluar =
19,62
∆Hkeluar = 0,093 m

3.1.6 Kehilangan Energi Akibat Trashrack ( Hf )


Kehilangan energi akibat trashrack dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan :

v2
Hf = c .
2g
Diketahui:
V = 2,42 m/dtk
β = 1,8
s = 19 mm
b = 100 mm
α = 50°
Hitung nilai c dengan menggunakan persamaan :
s 4/3
c = β. ( ) sin α
b
0,019 4/3
c = 1,8. ( ) 50°
0,1
c = 0,151 m
Nilai c yang diperoleh dari hasil perhitungan dimasukkan ke dalam persamaaa :
v2
Hf = c .
2g
BAB I - 28
2,422
Hf = c .
2x9,81
Hf = 0,045 m

3.1.7 Kehilangan Total Energi


∆Htotal = ∆Hf + ∆Hb + ∆Hmasuk + ∆Hkeluar + Hf
= 0,39 + 0,18 + 0,047 + 0,093 + 0,045
= 0,76 m
∆Htotal ≈ 0,8 m

Sehingga muka air di bagian hulu siphon adalah :


= elevasi muka air hilir + ∆Htotal
= + 42,25 + 0,8
= + 43,05

BAB I - 29
BAB V

PENUTUP

BAB I - 30
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat diambil kesimpulan, sebagai
berikut :
a. Siphon adalah salah satu bangunan pelengkap pada jaringan irigasi berupa
saluran tertutup yang dibangun untuk mengalirkan air irigasi untuk mengairi
lahan pertanian.
b. Pembangunan siphon sangat bermanfaat karena dapat meningkatkan daerah
potensial yang ada di di daerah pertanian.
c. Perencanan siphon

5.2 SARAN
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka beberapa saran perlu
diterapkan dalam pembangunan Siphon sebagai berikut :
a. Karena siphon merupakan saluran tertutup, maka perlu pemeliharaan yang
intensif dari pihak yang berkait agar tidak terjadi pengendapan lumpur di dalam
pipa siphon sehingga proses pengaliran air irigasi berjalan lancar.
b. Siphon merupakan saluran tertutup yang pengalirannya menggunakan sistem
gravitasi yaitu air mengalir karena gaya tarik bumi dari tempat tinggi ke tempat
yang renda, maka dalam merencanakan siphon perlu mempertimbangkan garis
kontur. Diusahakan agar siphon dibuat sejajar atau searah dengan garis kontur
yang akan mengalirkan air dari puncak bagian atas menuju ke bawah melalui
lembah kontur.

DAFTAR PUSTAKA

BAB I - 31
Departemen PU – Direktorat Jenderal Pengairan. 1986. Kriteria Perencanaan
Bagian Saluran ( KP – 03 ). Bandung: C.V. Galang Persada.

PU – Direktorat Jenderal Pengairan. 1986. Kriteria Perencanaan Bagian


Bangunan ( KP – 04 ). Bandung: C.V. Galang Persada.

Mawardi, Erman dan Moch. Memed. 2002. Desain Hidraulik Bendung Tetap
untuk Irigasi Teknis. Bandung: Alfabeta.

Mawardi, Erman. 2005. Bangunan Silang dan Bangunan Terjun. Bandung:


Alfabeta.

BAB I - 32
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1


1.2 Maksud dan Tujuan 1
1.3 Pembatasan Masalah .1

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Siphon 2


2.2 Jenis – Jenis Siphon 2
2.3 Bahan Pembuat Siphon 4

2.4 Komponen – Komponen Pelengkap Siphon 7

2.5 Pemilihan Lokasi Siphon 10

2.6 Kriteria Perencanaan 11

BAB III PERENCANAAN SIPHON

3.1 Contoh Kasus 18

BAB IV LAMPIRAN GAMBAR

3.2 4.1 Lampiran Gambar 24

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan 25
5.2 Saran 25

DAFTAR PUSTAKA 26

BAB I - 33