Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH ETIKA PROFESI

“Norma, Moral, dan Moralitas”

Oleh:

1. Nurmega (P07134115037) 7. Raudhatul Jannah(P07134115043)


2. Nurul Hudaeni (P07134115038) 8. Ririn Wisakha D. (P07134115044)
3. Nurul Warsita (P07134115039) 9. Riska Novitasari(P07134115045)
4. Oktafianingsih (P07134115040) 10. Saiful(P07134115046)
5. Raehun(P07134115041) 11. Shinta Devi H.(P07134115047)
6. Rafly Yunara R. (P07134115042) 12. Sigit Kurniawan (P07134115048)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MATARAM
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat serta kasih
sayang dan karunia-Nya yang telah diberikan kepada seluruh ciptaan- Nya, shalawat dan
salam semoga dilimpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW. Alhamdulillah berkat
kemudahan yang diberikan Allah SWT, saya dapat menyelesaikan makalah Etika Profesi
yang berjudul “Norma, Moral, dan Moralitas”

Adapun tujuan dari Penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu tugas Etika
Profesi. Dalam Penyusunan makalah ini, saya banyak mengalami kesulitan dan
hambatan, hal ini disebabkan oleh keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki.
saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya pada khususnya, dan
bagi para pembaca pada umumnya. Aamiin. Saya sebagai penyusun sangat menyadari
bahwa dalam Penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang
ditujukan untuk membangun.

Mataram, 18 April 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. 2

DAFTAR ISI .......................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................................. 4


B. Rumusan Masalah ............................................................................................ 5
C. Tujuan .............................................................................................................. 5

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Norma ............................................................................................ 6


B. Pengertian Moral ........................................................................................... 10
C. Pengertian Moralitas ....................................................................................... 12
D. Hubungan antara Etika, Norma, Moral, Dan Moralitas ................................... 15

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ..................................................................................................... 18
B. Saran................................................................................................................ 18

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 19

3
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pancasila sebagai dasar Negara, pedoman dan tolak ukur kehidupan berbangsa dan
bernegara di Republik Indonesia. Tidak lain dengan kehidupan berpolitik, etika politik
Indonesia tertanam dalam jiwa Pancasila. Kesadaran etik yang merupakan kesadaran
relational akan tumbuh subur bagi warga masyarakat Indonesia ketika nilai-nilai
pancasila itu diyakini kebenarannya, kesadaran etik juga akan lebih berkembang ketika
nilai dan moral pancasila itu dapat di breakdown kedalam norma-norma yang di
berlakukan di Indonesia .
Pancasila juga sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu nilai
sehingga merupakan sumber dari segala penjabaran dari norma baik norma hukum,
norma moral maupun norma kenegaraan lainya. Dalam filsafat pancasila terkandung
didalamnya suatu pemikiran-pemikiran yang bersifat kritis, mendasar, rasional,
sistematis dan komprehensif (menyeluruh) dan sistem pemikiran ini merupakan suatu
nilai. Oleh karena itu suatu pemikiran filsafat tidak secara langsung menyajikan norma-
norma yang merupakan pedoman dalam suatu tindakan atau aspek prasis melainkan
suatu nilai yangbersifat mendasar.
Nilai-nilai pancasila kemudian dijabarkan dalam suatu norma yang jelas sehingga
merupakan suatu pedoman. Norma tersebut meliputi norma moral yaitu yang berkaitan
dengan tingkah laku manusia yang dapat diukur dari sudut baik maupun buruk.
Kemudian yang ke dua adalah norma hukum yaitu suatu sistem perundang-undangan
yang berlaku di Indonesia. Dalam pengertian inilah maka pancasila berkedudukan
sebagai sumber dari segala hukum di Indonesia, pancasila juga merupakan suatu cita-
cita moral yang luhur yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia
sebelum membentuk negara dan berasal dari bangsa indonesia sendiri sebagai asal
mula (kuasa materialis).
Pancasila bukanlah merupakan pedoman yang berlangsung bersifat normatif
ataupun praksis melainkan merupakan suatu sistem nilai-nilai etika yang merupakan
sumber hukum baik meliputi norma moral maupun norma hukum, yang pada giliranya

4
harus dijabarkan lebih lanjut dalam norma-norma etika, moral maupun norma hukum
dalam kehidupan kenegaraan maupun kebangsaan.

B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan Masalah dari makalah ini adalah
1. Apa pengertian norma?
2. Apa pengertian moral?
3. Apa pengertian moralitas?
4. Apakah hubungan antara etika, norma, moral, dan moralitas?

C. TUJUAN
Tujuan dari makalah ini yaitu
1. Untuk Mengetahui pengertian norma.
2. Untuk mengetahui pengertian moral.
3. Untuk Mengetahui pengertian moralitas.
4. Untuk mengetahui hubungan antara etika, norma, moral, dan moralitas.

5
BAB II
PEMBAHASAN
A. NORMA
a. Pengetian Norma
Norma adalah perwujudan martabat manusia sebagai mahluk budaya, sosial, moral
dan religi. Norma merupakan suatu kesadaran dan sikap luhur yang dikehendaki oleh
tata nilai untuk dipatuhi. Oleh karena itu, norma dalam perwujudannya dapat berupa
norma agama, norma filsafat, norma kesusilaan, norma hukum dan norma sosial.
Norma memiliki kekuatan untuk dipatuhi karena adanya sanksi.
Norma adalah patokan perilaku dalam kelompok masyarakat tertentu, yang disebut
juga peaturan sosial yang menyangkut perilaku-perilaku yang pantas dilakukan dalam
menjalani interaksi sosialnya.
Norma adalah petunjuk hidup yang berisi perintah maupun larangan yang
ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama dan bermaksud untuk mengatur setiap
perilaku manusia dalam masyarakat guna mencapai kedamaian.
Norma adalah petunjuk tingkah laku yang harus dilakukan dan tidak boleh
dilakukan dalam hidup sehari-hari, berdasarkan suatu alasan (motivasi) tertentu dengan
disertai sanksi. Sanksi adalah ancaman/akibat yang akan diterima apabila norma tidak
dilakukan (Widjaja, 1985: 168).
b. Macam-Macam Norma
Dalam kehidupan umat manusia terdapat bermacam-macam norma, yaitu norma
agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, norma hukum dan lain-lain. Norma
agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum digolongkan sebagai
norma umum. Selain itu dikenal juga adanya norma khusus, seperti aturan permainan,
tata tertib sekolah, tata tertib pengunjung tempat bersejarah dan lain-lain.
1. Norma Agama
Norma agama adalah aturan-aturan hidup yang berupa perintah-perintah dan
larangan-larangan, yang oleh pemeluknya diyakini bersumber dari Tuhan Yang
Maha Esa. Aturan-aturan itu tidak saja mengatur hubungan vertikal, antara manusia
dengan Tuhan (ibadah), tapi juga hubungan horisontal, antara manusia dengan
sesama manusia. Pada umumnya setiap pemeluk agama menyakini bawa barang
siapa yang mematuhi perintah-perintah Tuhan dan menjauhi larangan-larangan

6
Tuhan akan memperoleh pahala. Sebaliknya barang siapa yang melanggarnya akan
berdosa dan sebagai sanksinya, ia akan memperoleh siksa. Sikap dan perbuatan
yang menunjukkan kepatuhan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya tersebut disebut taqwa
2. Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan adalah aturan-aturan hidup tentang tingkah laku yang baik dan
buruk, yang berupa “bisikan-bisikan” atau suara batin yang berasal dari hati nurani
manusia. Berdasar kodrat kemanusiaannya, hati nurani setiap manusia
“menyimpan” potensi nilai-nilai kesusilaan. Hal ini analog dengan hak-hak asasi
manusia yang dimiliki oleh setiap pribadi manusia karena kodrat kemanusiaannya,
sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena potensi nilai-nilai kesusilaan itu
tersimpan pada hati nurani setiap manusia (yang berbudi), maka hati nurani
manusia dapat disebut sebagai sumber norma kesusilaan. Ini sejalan dengan
pendapat Widjaja tentang moral dihubungkan dengan etika, yang membicarakan
tata susila dan tata sopan santun. Tata susila mendorong untuk berbuat baik, karena
hati kecilnya menganggap baik, atau bersumber dari hati nuraninya, lepas dari
hubungan dan pengaruh orang lain (Widjaja, 1985: 154).Tidak jarang ketentuan-
ketentuan norma agama juga menjadi ketentuan-ketentuan norma kesusilaan,
sebab pada hakikatnya nilainilai keagamaan dan kesusilaan itu berasal dari Tuhan
Yang Maha Kuasa. Demikian pula karena sifatnya yang melekat pada diri setiap
manusia, maka nilai-nilai kesusilaan itu bersifat universal. Dengan kata lain, nilai-
nilai kesusilaan yang universal tersebut bebas dari dimensi ruang dan waktu, yang
berarti berlaku di manapun dan kapanpun juga.
3. Norma Kesopanan
Norma kesopanan adalah aturan hidup bermasyarakat tentang tingkah laku yang
baik dan tidak baik baik, patut dan tidak patut dilakukan, yang berlaku dalam suatu
lingkungan masyarakat atau komunitas tertentu. Norma ini biasanya bersumber dari
adat istiadat, budaya, atau nilai-nilai masyarakat. Ini sejalan dengan pendapat
Widjaja tentang moral dihubungkan dengan etika, yang membicarakan tentang tata
susila dan tata sopan santun. Tata sopan santun mendorong berbuat baik, sekedar
lahiriah saja, tidak bersumber dari hati nurani, tapi sekedar menghargai menghargai
orang lain dalam pergaulan (Widjaja, 1985: 154). Dengan demikian norma

7
kesopanan itu bersifat kultural, kontekstual, nasional atau bahkan lokal. Berbeda
dengan norma kesusilaan, norma kesopanan itu tidak bersifat universal. Suatu
perbuatan yang dianggap sopan oleh sekelompok masyarakat mungkin saja
dianggap tidak sopan bagi sekelompok masyarakat yang lain. Sejalan dengan sifat
masyarakat yang dinamis dan berubah, maka norma kesopanan dalam suatu
komunitas tertentu juga dapat berubah dari masa ke masa. Suatu perbuatan yang
pada masa dahulu dianggap tidak sopan oleh suatu komunitas tertentu mungkin
saja kemudian dianggap sebagai perbuatan biasa yang tidak melanggar kesopanan
oleh komunitas yang sama. Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan bahwa
norma kesopanan itu tergantung pada dimensi ruang dan waktu. Sanksi terhadap
pelanggaran norma kesopanan adalah berupa celaan, cemoohan, atau diasingkan
oleh masyarakat. Akan tetapi sesuai dengan sifatnya yang “tergantung” (relatif),
maka tidak jarang norma kesopanan ditafsirkan secara subyektif, sehingga
menimbulkan perbedaan persepsi tentang sopan atau tidak sopannya perbuatan
tertentu.
4. Norma Hukum
Norma hukum adalah aturan-aturan yang dibuat oleh lembaga negara yang
berwenang, yang mengikat dan bersifat memaksa, demi terwujudnya ketertiban
masyarakat. Sifat “memaksa” dengan sanksinya yang tegas dan nyata inilah yang
merupakan kelebihan norma hukum dibanding dengan ketiga norma yang lain.
Negara berkuasa untuk memaksakan aturan-aturan hukum guna dipatuhi dan
terhadap orang-orang yang bertindak melawan hukum diancam hukuman. Ancaman
hukuman itu dapat berupa hukuman bandan atau hukuman benda. Hukuman
bandan dapat berupa hukuman mati, hukuman penjara seumur hidup, atau
hukuman penjara sementara. Di samping itu masih dimungkinkan pula
dijatuhkannya hukuman tambahan, yakni pencabutan hak-hak tertentu,
perampasan barang-barang tertentu, dan pengumuman keputusan pengadilan.
Demi tegaknya hukum, negara memiliki aparat-aparat penegak hukum, seperti
polisi, jaksa, dan hakim. Sanksi yang tegas dan nyata, dengan berbagai bentuk
hukuman seperti yang telah dikemukakan itu, tidak dimiliki oleh ketiga norma yang
lain. Sumber hukum dalam arti materiil dapat berasal dari falsafah, pandangan
hidup, ajaran agama, nilai-nilai kesusilaam,adat istiadat, budaya, sejarah dan lain-

8
lain. Dengan demikian dapat saja suatu ketentuan norma hukum juga menjadi
ketentuan norma-norma yang lain. Sebagai contoh, perbuatan mencuri adalah
perbuatan melawan hukum (tindak pidana, dalam hal ini : kejahatan), yang juga
merupakan perbuatan yang bertentangan dengan norma agama, kesusilaan (a
susila), maupun kesopanan (a sosial). Jadi, diantara norma-norma tersebut mungkin
saja terdapat kesamaan obyek materinya, akan tetapi yang tidak sama adalah
sanksinya. Akan tetapi, sebagai contoh lagi, seorang yang mengendari kendaraan
bermotor tanpa memiliki SIM, meskipun tidak melanggar norma agama, akan tetapi
melanggar norma hukum.
c. Kekuatan Sanksi Norma
Berdasarkan tingkat daya pengikatnya terhadap masyarakat, norma terdiri dari:
1. Norma Cara ( Usage )
adalah bentuk perbuatan tertentu yang dilakukan individu dalam suatu
masyarakat tetapi tidak secara terus menerus dan daya ikatnya sangat lemah.
Sanksinya ringan, hanya berupa celaan
2. Norma Kebiasaan ( Folkways )
adalah suatu bentuk perbuatan yang berulang-ulang yang bentuknya sama dan
dilakukan secara sadar serta mempunyai tujuan yang jelas.kebiasaan merupakan
bukti bahwa orang menyukai perbuatan itu. Sanksi bagi pelanggar berupa
teguran. Contoh : Makan dengan tangan kanan. Sanksinya : (bila melanggar)
Berupa teguran
3. Norma Tata Kelakuan ( Mores )
adalah merupakan aturan yang mendasarkan pada ajaran agama ( akhlak ),
filsafat atau kebudayaan. Contohnya : Pernikahan dalam satu marga di daerah
Sumatera Utara merupakan suatu pelanggaran. Tata kelakuan juga bisa bersifat
mengharuskan dan bisa juga bersifat melarang. Contoh pelanggaran terhadap
norma tata kelakuan adalah berzina, sanksinya berat. Ada yang harus
berhadapan dengan massa, dan lain sebagainya.
Fungsi Mores, antara lain :
 memberikan batasan pada perilaku individu dalam masyarakat tertentu.
 mendorong seseorang agar sanggup menyesuaikan tindakan-
tindakannya dengan aturan yang berlaku di dalam kelompoknya.

9
 membentuk solidaritas antara anggota-anggota kelompok dan sekaligus
memberikan perlindungan terhadap keutuhan dan kerja sama antara
anggotaanggota yang bergaul dalam masyarakat.
4. Norma Adat Istiadat ( Custom )
adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat
kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya.
contoh: upacara adat, tata cara pembagian waris Sanksinya : Akan mendapat
sanksi yang berat misalnya dikucilkan dari masyarakat.
5. Norma Hukum ( Laws )
adalah suatu rangkaian aturan yang ditujukan kepada anggota masyarakat yang
berisi ketentuan-ketentuan, perintah, kewajiban dan larangan agar dalam
masyarakat tercipta suatu ketertiban dan keadilan. Norma hukum dibagi
menjadi 2, yaitu
1. Norma hukum tertulis.
2. Norma hukum tidak tertulis.
B. MORAL
a. Pengertian Moral
Secara etimologis, kata moral berasal dari kata mos dalam bahasa Latin, bentuk
jamaknya mores, yang artinya adalah tata-cara atau adat-istiadat. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (1989: 592), moral diartikan sebagai akhlak, budi pekerti,
atau susila. Secara terminologis, terdapat berbagai rumusan pengertian moral, yang
dari segi substantif materiilnya tidak ada perbedaan, akan tetapi bentuk formalnya
berbeda. Widjaja (1985: 154) menyatakan bahwa moral adalah ajaran baik dan
buruk tentang perbuatan dan kelakuan (akhlak). Al-Ghazali (1994: 31)
mengemukakan pengertian akhlak, sebagai padanan kata moral, sebagai perangai
(watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa manusia dan merupakan sumber
timbulnya perbuatan tertentu dari dirinya secara mudah dan ringan, tanpa perlu
dipikirkan dan direncanakan sebelumnya. Sementara itu Wila Huky, sebagaimana
dikutip oleh Bambang Daroeso (1986: 22) merumuskan pengertian moral secara
lebih komprehensip rumusan formalnya sebagai berikut :

10
1. Moral sebagai perangkat ide-ide tentang tingkah laku hidup, dengan warna
dasar tertentu yang dipegang oleh sekelompok manusia di dalam lingkungan
tertentu.
2. Moral adalah ajaran tentang laku hidup yang baik berdasarkan pandangan hidup
atau agama tertentu.
3. Moral sebagai tingkah laku hidup manusia, yang mendasarkan pada kesadaran,
bahwa ia terikat oleh keharusan untuk mencapai yang baik , sesuai dengan nilai
dan norma yang berlaku dalam lingkungannya.

Dalam pembicaraan sehari-hari, moral sering dimaksudkan masih sebagai


seperangkat ide, nilai, ajaran, prinsip, atau norma. Akan tetapi lebih kongkrit dari itu ,
moral juga sering dimaksudkan sudah berupa tingkah laku, perbuatan, sikap atau
karakter yang didasarkan pada ajaran, nilai, prinsip, atau norma.

Kata moral juga sering disinonimkan dengan etika, yang berasal dari kata ethos
dalam bahasa Yunani Kuno, yang berarti kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan,
sikap, atau cara berfikir. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989: 237) etika
diartikan sebagai

(1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban
moral (akhlak)

(2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, dan

(3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Sementara itu Bertens (1993: 6) mengartikan etika sejalan dengan arti dalam kamus
tersebut. Pertama, etika diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang
menjadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Dengan kata lain, etika di sini diartikan sebagai sistem nilai yang dianut oleh
sekelompok masyarakat dan sangat mempengaruhi tingkah lakunya. Sebagai contoh,
Etika Hindu, Etika Protestan, Etika Masyarakat Badui dan sebagaimya. Kedua, etika
diartikan sebagai kumpulan asas atau nilai moral, atau biasa disebut kode etik. Sebagai
contoh Etika Kedokteran, Kode Etik Jurnalistik, 3 Kode Etik Guru dan sebagainya. Ketiga,
etika diartikan sebagai ilmu tentang tingkah laku yang baik dan buruk. Etika merupakan

11
ilmu apabila asas-asas atau nilai-nilai etis yang berlaku begitu saja dalam masyarakat
dijadikan bahan refleksi atau kajian secara sistematis dan metodis.

C. MORALITAS
a. Pengertian Moralitas

Moralitas berasal dari kata dasar “moral” berasal dari kata “mos” yang berarti
kebiasaan. Kata “mores” yang berarti kesusilaan, dari “mos”, “mores”. Moral adalah
ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban
dan lain-lain; akhlak budi pekerti; dan susila. Kondisi mental yang membuat orang tetap
berani; bersemangat; bergairah; berdisiplin dan sebagainya.

Moral secara etimologi diartikan: a) Keseluruhan kaidah-kaidah kesusilaan dan


kebiasaan yang berlaku pada kelompok tertentu, b) Ajaran kesusilaan, dengan kata lain
ajaran tentang azas dan kaidah kesusilaan yang dipelajari secara sistimatika dalam etika.
Dalam bahasa Yunani disebut “etos” menjadi istilah yang berarti norma, aturan-aturan
yang menyangkut persoalan baik dan buruk dalam hubungannya dengan tindakan
manusia itu sendiri, unsur kepribadian dan motif, maksud dan watak manusia.
kemudian “etika” yang berarti kesusilaan yang memantulkan bagaimana sebenarnya
tindakan hidup dalam masyarakat, apa yang baik dan yang buruk.

Moralitas yang secara leksikal dapat dipahami sebagai suatu tata aturan yang
mengatur pengertian baik atau buruk perbuatan kemanusiaan, yang mana manusia
dapat membedakan baik dan buruknya yang boleh dilakukan dan larangan sekalipun
dapat mewujudkannya, atau suatu azas dan kaidah kesusilaan dalam hidup
bermasyarakat.

Secara terminologi moralitas diartikan oleh berbagai tokoh dan aliran-aliran yang
memiliki sudut pandang yang berbeda:

Franz Magnis Suseno menguraikan moralitas adalah keseluruhan norma-norma,


nilai-nilai dan sikap seseorang atau sebuah masyarakat. Menurutnya, moralitas adalah
sikap hati yang terungkap dalam perbuatan lahiriah (mengingat bahwa tindakan
merupakan ungkapan sepenuhnya dari hati), moralitas terdapat apabila orang
mengambil sikap yang baik karena Ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya dan

12
bukan ia mencari keuntungan. Moralitas sebagai sikap dan perbuatan baik yang betul-
betul tanpa pamrih.

W. Poespoprodjo, moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang dengan


itu kita berkata bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk atau dengan
kata lain moralitas mencakup pengertian tentang baik buruknya perbuatan manusia.

Immanuel Kant, mengatakan bahwa moralitas itu menyangkut hal baik dan buruk,
yang dalam bahasa Kant, apa yang baik pada diri sendiri, yang baik pada tiap
pembatasan sama sekali. Kebaikan moral adalah yang baik dari segala segi, tanpa
pembatasan, jadi yang baik bukan hanya dari beberapa segi, melainkan baik begitu saja
atau baik secara mutlak.

Emile Durkheim mengatakan, moralitas adalah suatu sistem kaidah atau norma
mengenai kaidah yang menentukan tingka laku kita. Kaidah-kaidah tersebut
menyatakan bagaimana kita harus bertindak pada situasi tertentu. Dan bertindak
secara tepat tidak lain adalah taat secara tepat terhadap kaidah yang telah ditetapkan.

Dari pengertian tersebut, disimpulkan bahwa moralitas adalah suatu ketentuan-


ketentuan kesusilaan yang mengikat perilaku sosial manusia untuk terwujudnya
dinamisasi kehidupan di dunia, kaidah (norma-norma) itu ditetapkan
berdasarkan konsensus kolektif, yang pada dasarnya moral diterangkan berdasarkan
akal sehat yang objektif.

b. Moralitas Sebagai Norma


Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, moralitas adalah kualitas perbuatan
manusiawi, sehingga perbuatan dikatakan baik atau buruk, benar atau salah. Penentuan
baik atau buruk, benar atau salah tentunya berdasarkan norma sebagai ukuran.
Sumaryono (1995) mengklasifikasikan moralitas menjadi dua golongan, yaitu:

1. Moralitas objektif
Moralitas objektif adalah moralitas yang terlihat pada perbuatan sebagaimana adanya,
terlepas dari bentuk modifikasi kehendak bebas pelakunya. Moralitas ini dinyatakan
dari semua kondisi subjektif khusus pelakunya. Misalnya, kondisi emosional yang
mungkin menyebabkan pelakunya lepas control. Apakah perbuatan itu memang

13
dikehendaki atau tidak. Moralitas objektif sebagai norama berhubungan dengan semua
perbuatan yang hakekatnya baik atau jahat, benar atau salah. Misalnya:

 menolong sesama manusia adalah perbuatan baik


 mencuri, memperkosa, membunuh adalah perbuatan jahat

Tetapi pada situasi khusus, mencuri atau membunuh adalah perbuatan yang dapat
dibenarkan jika untuk mempertahankan hidup atau membela diri. Jadi moralitasnya
terletak pada upaya untuk mempertahankan hidup atau membela diri (hak utnuk hidup
adalah hak asasi).

2. Moralitas subjektif
Moralitas subjektif adalah moralitas yang melihat perbuatan dipengaruhi oleh
pengetahuan dan perhatian pelakunya, latar belakang, stabilitas emosional, dan
perlakuan personal lainnya. Moralitas ini mempertanyakan apakah perbuatan itu
sesuai atau tidak denga suara hati nurani pelakunya. Moralitas subjektif sebagai
norma berhebungan dengan semua perbuatan yang diwarnai nait pelakunya, niat
baik atau niat buruk. Dalam musibah kebakaran misalnya, banyak orang membantu
menyelamatkan harta benda korban, ini adalah niat baik. Tetapi jika tujuan akhirnya
adalah mencuri harta benda karena tak ada yang melihat, maka perbuatan tersebut
adalah jahat. Jadi, moralitasnya terletak pada niat pelaku.
Moralitas dapat juga instrinsik atau ekstrinsik. Moralitas instrinsik menentukn
perbuatan itu benar atau salah berdasarkan hakekatnya, terlepas dari pengaruh
hokum positif. Artinya, penentuan benar atau salah perbuatan tidak tergantung pada
perintah atau larangan hokum positif. Misalnya:
 gotong royong membersihkan lingkungan tempat tinggal
 jangan menyusahkan orang lain berikanlah yang terbaik

Walupun Undang-undang tidak mengatur perbuatan-perbuatan tersebut secara


instrinsik menurut hakekatnya adalah baik dan benar. Moralitas ekstrinsik
menentukan perbuatan itu benar atau salah sesuai dengan sifatnya sebagai perintah
atau larangan dalam bentuk hokum positif. Misalnya:

14
 larangan menggugurkan kandungan
 wajib melaporkan mufakat jahat

Perbuatan-perbuatan itu diatur oleh Undang-undang (KUHP). Jika ada yang


menggugurkan kandungan atau ada mufakat jahat berarti itu perbuatan salah.
Pada zaman modern muali muncul perbuatan yang berkenaan dengan moralitas,
yang tadinya dilarang sekarang malah dibenarkan. Contohnya:

 Euthanasia untuk menghindarkan penderitaan berkepanjangan.


 Aborsi untuk menyelamatkan ibu yang hamil.
 Menyewa rahim wanita lain untuk membesarkan janin bayi tabung.

D. HUBUNGAN ANTARA ETIKA, NORMA, MORAL, DAN MORALITAS

Dalam kehidupan sehari-hari etika sangat penting dalam berkomunikasi karena


menyangkut perasaan dan harga diri seseorang. Oleh karena itu kita diharapkan dapat
memahami makna etika itu sendiri.

Etika berasal dari kata Yunani ethos, yang berarti “adat istiadat” atau “kebiasaan”.
Dalam pengertian ini etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri
seseorang maupun pada suatu masyarakat atau kelompok masyarakat. Ini berarti etika
berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik, dan
segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang yang lainnya.

Dilihat dari pengertian etika diatas, etika hampir sama dengan pengertian moralitas.
Moralitas berasal dari kata Latin mos, yang berarti “adat istiadat” atau “kebiasaan”. Arti
secara harafiah yaitu etika dan moralitas sama-sama berarti sistem nilai tentang
bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia yang telah di institusionalisasikan
dalam sebuah adat kebiasaan yang kemudian terwujud dalam pola perilaku yang ajek
dan terulang dalam kurun waktu yang lama sebagaimana baiknya sebuah kebiasaan.
Etika dan moralitas memberi petunjuk konkret tentang bagaimana manusia harus hidup
secara baik sebagai manusia begitu saja, kendati petunjuk konkret itu bisa disalurkan
melalui dan bersumber dari agama dan kebudayaan tertentu.

15
Di dalam kehidupan terdapat banyak norma yang berfungsi untuk memberikan
pedoman bagaimana harus hidup dan bertindak secara baik dan tepat, sekaligus
menjadi dasar bagi penilaian mengenai baik buruknya perilaku dan tindakan kita. Secara
umum norma dibedakan menjadi 2 macam, yaitu norma khusus dan norma umum.

Norma Khusus adalah aturan yang berlaku dalam bidang kegiatan atau kehidupan
khusus, misalnya olahraga, aturan pendidikan, aturab disekolah, dan sebagainya.
Norma Umum lebih bersifat umumdan sampai tingkat tertentu boleh dikatakan bersifat
universal. Norma umum dibedakan menjadi 3, yaitu norma sopan santun, norma
hukum dan norma moral.

Jika kita membahas tentang norma, etika, dan hukum tentunya kita tidak dapat
melepaskannya dari segi moral. Dari arti kata, etika dapat disamakan dengan moral.
Moral berasal dari bahasa latin mos yang berarti adat kebiasaan.
Beberapa ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda tantang hubungan antara moral
dan etika. Menurut Lawrence Konhberg terdapat hubungan antara moral dengan etika.
Menurut Lawrence Konhberg pendidikan moral merupakan dasar dari pembangunan
etika. Pendidikan moral itu sendiri terdiri dari ilmu sosiologi, budaya, antropologi,
psikologi, filsafat,pendidikan, dan ilmu poitik. Pendapat Lawrence Konhberg berbeda
dengan pendapat Sony Keraf. Soni Keraf membedakan antara moral dengan etika. Nilai-
nilai moral mengandung nasihat, wejangan, petuah, peraturan, dan perintah turun
temurun melalui suatu budaya tertentu. Sedangkan etika merupakan refleksi kritis dan
rasional mengenai nilai dan norma manusia yang menentukan dan terwujud dalam
sikap dan perilaku hidup manusia. Karena etika dan moral saling mempengaruhi, maka
keduanya tentu memiliki hubungan yang erat dengan norma-norma yang berlaku di
masyarakat. Norma sebagai bentuk perwujudan dari etika dan moral yang tumbuh dan
berkembang di masyarakat. Norma tersebut dapat berbeda-beda antara satu daerah
dengan daerah lainnya. Meski tiap daerah memiliki norma yang berbeda-beda namun
tujuannya tetap sama yaitu mengatur kehidupan bermasyarakat agar tercipta suasana
yang mendukung dalam hidup bermasyarakat. Sedangkan hukum merupakan suatu
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat yang memiliki etika,
moral, dan norma-norma didalamnya Hukum berperan sebagai `penjaga` agar etika,
moral, dan norma-norma dalam masyarakat dapat berjalan dengan baik. Apabila terjadi

16
pelanggaran terhadap etika,moral, dan norma maka hukum akan berperan sebagai
pemberi sanksi. Sanksi tersebut dapat berupa sanksi sosial sebagai akibat dari
pelanggaran norma-norma sosial masyarakat dan sanksi hukum apabila norma-norma
yang dilanggar juga termasuk dalam wilayah peraturan hukum yang berlaku

17
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil uraian pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa
 Norma adalah aturan tingkah laku yang ideal yang berfungsi untuk memberikan
pedoman bagaimana harus hidup dan bertindak secara baik dan tepat, sekaligus
menjadi dasar bagi penilaian mengenai baik buruknya perilaku dan tindakan kita
 Moral adalah tingkah laku, perbuatan, sikap atau karakter yang didasarkan pada
ajaran, nilai, prinsip, atau norma.
 Moralitas adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai
perbuatan, sikap, kewajiban dan lain-lain; akhlak budi pekerti; dan susila.
 Hubungan antara etika, norma, moral, dan moralitas yaitu nilai dan norma
senantiasa berkaitan dengan norma dan etika. Dalam pengertian inilah maka kita
memasuki wilayah norma sebagai penutup sikap dan tingkah laku manusia.
Sedangkan hubungan moral dengan etika sangat erat sekali dan kadangkala kedua
hal tersebut di samakan begitu saja. Namun sebenarnya kedua hal tersebut
memiliki perbedaan. Moral merupakan suatu ajaran-ajaran ataupun wewenang-
wewenang, patokan-patokan, kumpulan peraturan, baik lisan maupun tertulis
tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang
baik. Sedangkan Etika tidak berwenang menentukan apa yang boleh atau tidak
boleh di lakukan oleh seseorang.
B. Saran
Sebagai seorang mahasiswa, khususnya mahasiswa Analis
Kesehatan kita harusmengetahui dengan pasti segala bentuk norma maupun etika
profesi sebagai seorang Analis Kesehatan dengan memiliki moral dan etika yang baik
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam melaksana profesi sebagai Analis
Kesehatan.

18
DAFTAR PUSTAKA
 https://www.scribd.com/doc/207489350/DASAR-DASAR-PENGERTIAN-MORAL-pdf
 http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Nilai%20dan%20Norma_0.pdf
 https://www.academia.edu/28798274/MAKALAH_HUBUNGAN_ETIKA_DENGAN_M
ORAL_NORMA_DAN_NILAI
 https://susianty.wordpress.com/2010/09/26/hubungan-antara-etika-moralitas-dan-
norma/
 https://rizkynovianis.wordpress.com/2012/11/10/hubungan-etika-norma-moral-
dalam-kaitannya-dengan-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara-ditinjau-dari-
implementasi-sila-sila/

19