Anda di halaman 1dari 18

Metode Ekstraksi,

Isolasi, dan
Identifikasi Alkaloid
Kelompok 5
Credits
Syarif Pujiantoro 11151020000102
Gianika Frakastiwi 11161020000028
Miftahul Jannah 11161020000033
Aditya Rahmansyah 11161020000040
Dimas Ihza Febrian 11161020000045
Saila Salsabila 11161020000050
Ade Lia Fitri 11161020000081
Siti Khadijah K 11161020000087
Vicka Hendriyan 11161020000093
Ekstraksi Alkaloid
1. Alkaloid diekstraksi sebagai garam
2. Alkaloid diekstraksi sebagai basa
Bahan diekstraksi dg pelarut organik
larut air ( etanol,metanol)  yang
diasamkan (HCl 1M,asam asetat 10%,
asam sitrat 5%, asam tartarat 2%),
yang melarutkan alkaloid sebagai
garam. Pigmen dan senyawa tak larut Alkaloid
lainnya dipisahkan dengan
menambahkan pelarut non polar Diekstrak
si
seperti kloroform. Fasa asam
diperlakukan dg penambahan basa
misal ammonium hidroksida
sehingga bentuk garam menjadi
alkaloid bebas yg akan terekstrak Sebagai
oleh pelarut organik.
Garam
Bahan dibasakan dengan natrium
karbonat atau lainnya, alkaloid basa
bebas dilarutkan dengan pelarut
organik seperti kloroform, eter, etil
asetat. Larutan tersebut yang
mengandung basa bebas lalu
Alkaloid
diekstraksi dengan asam encer
misalnya HCl 2 M,sehingga alkaloid Diekstrak
akan pindah dari fase organik ke
fase berair sebagai garam klorida. si
Sebagai
Basa
Penyarian (ekstraksi) alkaloid :
A. Menggunakan eter sebagai penyari :
Keuntungan :
o Eter tidak membentuk emulsi pada pengocokan
sehingga tidak mempersukar proses
pemisahannya Alkaloid
o Eter mempunyai titik didih rendah sehingga
sangat ideaal untuk penyarian alkaloid termolabil
Kerugian :
Diekstrak
o Daya larut kecil bagi senyawa alkaloid tertentu.
Misal kinin, strihnin. si
Sebagai
o Eter dapat dijenuhkan dengan air → masih dapat
tercampur dengan air
o Eter mudah terurai dan ada kemnugkinan

Basa
peledakan pada saat ekstrak sari diuapkan
B. Menggunakan CHCL (kloroform) :
3

Keuntungan :
o Memiliki daya larut yang besar untuk

Alkaloid
melarutkan alkaloid
o Kemungkinan terurai lebih kecil daipada eter
o Tidak ada bahaya peledakan pada
pemanasan
Kerugian : Diekstrak
si
o Titik didih kloroform (CHCl ) agak tinggi
3

sehingga tidak dapat dipakai sebagai cairan


penyarian bagi alkaloid termolabil.

Sebagai
o Dapat membentuk emulsi pada pengocokan
sehingga timbul kesulitan pada penyarian dan
pemisahan lapisan

Basa
Isolasi Alkaloid
Proses Isolasi Alkaloid
• Ekstrak dipartisi menggunakan campuran kloroform-air (1:1) dengan
melarutkan ekstrak terlebih dahulu dalam kloroform.
• Lapisan kloroform (bagian bawah) dipisahkan dan diekstraksi dengan asam
asetat 5% hingga terbentuk 2 lapisan.
• Lapisan asam (bagian atas) dipisahkan dan dibasakan dengan NH4OH
pekat hingga pH 9−10, lalu diekstraksi kembali dengan kloroform.
• Lapisan kloroform dipisahkan dan dipekatkan dengan penguap putar hingga
diperoleh ekstrak alkaloid total.
Metode KLT Preparatif
• Komponen alkaloid dipisahkan menggunakan kolom kromatografi berdiameter 2.5
cm dan panjang 50 cm dengan kapasitas sampel maksimum 1 g.
• Ekstrak dimasukkan ke dalam kolom yang telah dikemas.
• Proses elusi dilakukan menggunakan pelarut n-heksana, kloroform, etil asetat, dan
metanol dengan berbagai variasi kepolaran secara bertingkat, dimulai dari pelarut
nonpolar.
• Setiap 50 mL eluat yang terkumpul diuji dengan kromatografi lapis tipis (KLT).
• Eluat yang menunjukkan noda dengan nilai Rf yang sama pada eluen CHCl3-MeOH
(9:1) digabungkan menjadi 1 fraksi.
• Setiap fraksi tersebut diperiksa keberadaan alkaloidnya dengan cara
menyemprotkan pereaksi alkaloid pada pelat KLT.
• Fraksi yang paling kuat alkaloidnya dipisahkan lebih lanjut dengan KLT preparatif
hingga didapatkan noda tunggal.
Penjelasan Proses Isolasi Alkaloid
Alkaloid diisolasi berdasarkan prinsip ekstraksi asam-basa. Alkaloid
memiliki sifat basa dari atom nitrogen penyusunnya. Umumnya alkaloid di
dalam tumbuhan terikat dengan asam organik membentuk garam. Garam
alkaloid ini yang kemudian diekstraksi dengan pelarut organik yang sesuai.
Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah kloroform. Kloroform
memiliki sifat semipolar sehingga dapat dengan baik melarutkan alkaloid.
Larutan asam organik atau anorganik digunakan untuk memisahkan
alkaloid dari senyawa metabolit sekunder lain yang ikut terekstraksi dalam
kloroform. Alkaloid akan terlarut dalam larutan asam karena kondisinya
dalam bentuk garam.
Penjelasan Isolasi Alkaloid
Penambahan NH4OH bertujuan melepaskan ikatan alkaloid dengan
asamnya sehingga alkaloid kembali berada dalam kondisi bebas.
Penambahan NH4OH dihentikan pada pH 9−10.
Untuk menentukan banyaknya senyawa alkaloid yang terekstraksi,
dilakukan uji KLT, lalu keberadaan alkaloid dideteksi secara kualitatif
dengan menyemprotkan pereaksi Dragendorf pada kromatogram. Hasil
positif akan ditunjukkan oleh noda jingga yang tertinggal pada
kromatogram.
Identifikasi Senyawa Alkaloid
Pengujian dilakukan dengan mengambil masing-masing 2 mL sampel yang telah
diekstraksi dengan pelarut air dan etanol kedalam 2 buah tabung reaksi yang berbeda.
Setelah itu masing-masing ekstrak dapat ditambah dengan salah satu reagen :
1. 5 tetes reagen Dragendroff (Bi(NO3)3 dan KI dalam larutan asam asetat glasial)
Hasil positif alkaloid pada uji Dragendorff juga ditandai dengan terbentuknya endapan coklat
muda sampai kuning (jingga).
2. 3 tetes asam klorida pekat dan 5 tetes reagen Mayer (KI dan HgCl2)
Hasil positif alkaloid pada uji Mayer ditandai dengan terbentuknya endapan putih.
Metode ini memiliki kelemahan yaitu pereaksi-pereaksi tersebut tidak saja dapat
mengendapkan alkaloid tetapi juga dapat mengendapkan beberapa jenis senyawa
antara lain, protein, kumarin, α-piron, hidroksiflavon, dan tanin. Reaksi tersebut dikenal
dengan istilah “false positive”.
Identifikasi Senyawa Alkaloid
Identifikasi alkaloid dengan metode Culvenor-Fitzgerald
yaitu sampel dicampur dengan 5 ml kloroform dan 5 ml
amoniak kemudian dipanaskan, dikocok dan disaring.
Ditambahkan 5 tetes asam sulfat 2 N pada masing-
masing filtrat, kemudian kocok dan di diamkan. Bagian
atas dari masing masing filtrat diambil dan diuji dengan
pereaksi Meyer, Wagner, dan Dragendorf. Terbentuknya
endapan putih, cokelat, dan jingga menunjukkan adanya
alkaloid.
Tes Kemurnian Alkaloid
Sebagian besar alkaloid yang diekstraksi dari dalam obat alami adalah berupa campuran,
sehingga masih perlu diisolasi dan dimurnikan. Metode pemisahan alkaloid secara
umum adalah berdasarkan prinsip berikut :
 Sesuai dengan perbedaan kelarutan zat
 Sesuai dengan perbedaan kelarutan zat pada temperatur yang berbeda untu
rekristalisasi atau dalam pelarut yang berbeda untuk mengendap secara berturut-turut
 Sesuai dengan perbedaan kelarutan zat dalam dua fase pelarut untuk memisah,
seperti ekstraksi cair - cair dan distribusi arus balik cair-cair dan sebagainya
 Menurut perbedaan adsorpsi substansi untuk terpisah, seperti karbon aktif tradisional
atau ekstraksi fase padat
 Terlebih lagi, sesuai dengan ukuran molekul substansi dan perbedaan tingkat
disosiasi.
Analisis Alkaloid dengan KLT (KLT
analitik)
1. Filtrat pada skrining fitokimia ditambah amonia 25% hingga PH 8-9.
2. Kemudian ditambahkan kloroform, dan dipekatkan diatas waterbath.
3. Fase kloroform ditotolkan pada plat silika gel G60.
4. Elusi dilakukan dengan metanol : NH4OH pekat = 200 :3.
5. Plat dikeringkan dan diamati pada cahaya tampak, UV 254 nm dan 366 nm.
6. Kemudian plat disemprot dengan pereaksi Dragendorff, dikeringkan dan
diamati pada cahaya tampak, UV254 nm dan 366 nm.
Analisis Alkaloid dengan HPLC
Sebelum dilakukan pemisahan dengan KCKT, fase gerak yang digunakan
harus disaring terlebih dahulu. Penyaringan ini dilakukan dengan kertas saring
millipore dengan ukuran pori 0,5 µm, yang bertujuan untuk memisahkan fase
gerak dari partikel partikel pengotor dan menghindarkan tumbuhnya
mikroorganisme yang dapat merusak kolom fase diam. Selain itu udara
terlarut dalam fase gerak juga dihilangkan agar tidak terdapat puncak udara
pada kromatogram yang mengganggu pemisahan. Udara terlarut dihilangkan
dengan proses sonifikasi menggunakan alat sonikator. Selain itu udara
terlarut juga dapat dihilangkan dengan mengalirkan gas inert seperti helium.
KCKT yang dilakukan untuk pemisahan alkaloid dilakukan menggunakan
kolom fase terbalik yaitu C18 (RP-18e), fase gerak 10% asetonitril dan 90%
kalium dihidrogen fosfat 0,05 M dalam air (pH 3), laju alir 1,0 mL/menit, suhu
kolom 27,5°C(ambien), detektor UV pada panjang gelombang 210 nm dan
volume injeksi 20 µL.
Analisis Alkaloid dengan HPLC
Larutan KH2PO4 0,05 diasamkan dengan larutan asam fosfat 10%
hingga mencapai pH 3,00. Asam fosfat digunakan karena
merupakan asam lemah dari garam KH2PO4 sehingga
membentuk larutan buffer yang mempunyai pH stabil. Pengaturan
pH menjadi 3 dilakukan karena menurut literatur, senyawa alkaloid
terelusi lebih cepat pada pH rendah. Hal ini disebabkan amina
yang terprotonasi menjadi lebih polar pada pH rendah, sehingga
tidak tertahan dalam kolom C18(RP-18e) yang nonpolar.