Anda di halaman 1dari 6

NASKAH UJIAN PRAKTEK

MAPEL
BUDI PEKERTI LUHUR PENGHAYAT KEPERCAYAAN
TAHUN AJARAN 2017/2018

DPD MLKI KAB CILACAP


NASKAH UJIAN PRAKTEK :

MAPEL BUDI PEKERTI LUHUR


PENGHAYAT KEPERCAYAAN THD TUHAN YANG MAHA ESA

I. MENGHENINGKAN CIPTA
Mengheningkan Cipta adalah hal yang sangat penting karena sebagai tahap
awal atau dasar untuk manembah atau melakukan peribadatan bagi pelaku
penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Mengheningkan cipta adalah menyatukan atau manunggalnya cipta rasa dan
karsa, kemudian setelah mengheningkan cipta dilanjutkan pada tataran
berikutnya yaitu :
1. Hening Cipta
2. Berdoa
3. Puja Semedi
4. Menyembah Tuhan atau Sembahyang
5. Sungkeman atau Ngabekti (sungkem pangabekti}
6. Sujudan
Mengheningkan Cipta adalah satu bentuk awal dari manembah atau
menyembah kepada Tuhan Sang Maha Pencipta Alam seisinya (Gusti Ingkang
Hakarya Jagat). Mengheningkan cipta adalah dari bahasa Penghayat
Kepercayaan yaitu Bahasa Jawa yang aslinya adalah Ngeningaken Cipta atau
Weninging Cipta. Diumpamakan air didalam wadah atau air didalam gelas
yang dibiarkan tidak digoyang-goyang atau digerak-gerakan sehingga air ini
akan diam tenang yang ahirnya kotoran atau air yang tadinya keruh lambat
laun akan mengendap, kemudian akan terpisah yaitu endapan dibawah dan
air yang sudah jernih atau bening ada di atas endapan.
Air bening sangat berguna sekali atau besar kasiatnya bagi manusia. Air jernih
atau bening juga bisa dijadikan atau dibuat menjadi air kopi, menjadi air teh,
air susu dan lain sebagainya.
PRAKTEK MENGHENINGKAN CIPTA
Prolog pengantar :
Rahayu.......
Mangga sesarengan sami ngleremaken salira, menebaken raos, saha
nentremaken penggalih kangge hangeningaken cipta sahengga menapa
ingkang bade kalampahaken wiwit purwa madya lan wasana saged
kasembadan mboten wonten alangan satunggal punapa................Rahayu....
Didalam praktek melaksanakan mengheningkan cipta diawali dengan
pengertian dan kesadaran yaitu dalam bahasa jawa didalam prolog di atas
adalah sebagai berikut :
1. Ngleremaken salira
Ngleremaken = menenangkan atau tenang/diam. Salira = Raga/badan/
tubuh (seluruh anggota badan). Yang dimaksud adalah kita menenangkan
tubuh.
2. Menebaken Raos
Menebaken = mengendapkan, Raos = Rasa . Yang dimaksud adalah
menenangkan rasa pangrasa.
3. Nentremaken Penggalih
Nentremaken = ketenteraman/tenteram, Penggalih = hati/ sanubari
Tenangnya hati kita. Menenangkan hati

Atau dengan mematikan atau mengurangi fungsi dari panca indera kita
yaitu :
1. Indera Penglihatan, (mata)
2. Indera penciuman, (hidung)
3. Indera Pendengaran,(telinga)
4. Indera pengecapan, (lidah)
5. Indera peraba (kulit)
Artinya tidak terpengaruh dengan bekerjanya kelima indera tersebut
(Panca Indera). Dalam Penghayat Kepercayaan dalam bahasa jawa
dinamakan mepeti babahan hawa sanga artinya mepeti = menutup,
babahan = pintu ,hawa= udara (potensial), sanga= sembilan (9). Jadi
yang dimaksud mepeti babahan hawa sanga adalah menutup pintu
potensial sembilan yang ada di diri manusia. Babahan hawa sanga terdiri
dari :
Mata ada 2, lobang hidung ada 2, Telingga ada 2, 1 Mulut, 1 alat
reproduksi, 1 Dubur semuanya jumlah 9 babahan atau 9 lubang. Dengan
menutup 9 lubang sehingga ketika patrap atau melaksanakan
mengheningkan cipta dengan benar fokus kidmat dan betul-betul
menyatu antara cipta rasa dan karsanya, kalau dalam bahasa jawa
dikatakan :
 Ana rasa datan rinasa, ada rasa sakit, pegel linu, digigit nyamuk
misalnya tetap dibiarkan, tidak dirasakan.
 Ana swara ora dirungu, ada suara tidak didengarkan.
 Ana sesawangan datan dinulu, ada pemandangan menggoda mata
tidak kita lihat tidak diperhatikan.
 Ana Ganda datan den ambu, ada aroma atau bau-bauan tidak kita
hirup
Artinya tidak terpengaruh dengan itu semua.
Hening cipta juga divisualkan dalam seni budaya wayang purwa yaitu
dalam cerita Harjuna Wiwaha dimana Raden Harjuna yang sedang
bertapa di Gunung Indrakila dengan bergelar Begawan Citaning, yang
terlebih dahulu menghadapi cobaan godaan dari Dikiya Mamangmurka,
kemudian berhasil dilumpuhkan dan dimusnahkan dengan pusaja
rodadali (harda kendali) ... Ini adalah bentuk manifestasi keheningan
manusia dalam awal untuk bersamadi
Dalam melaksanakan patrap mengheningkan cipta adalah merdeka atau
bebas yang paling penting tidak mengganggu dan terganggu aktifitasnya,
santai, nyaman, selaras dan serasi. Patrap/sikap diantaranya :
1. Boleh dengan Sikap tubuh sambil berdiri / Sikap sempurna
2. Boleh dengan sikap duduk di kursi
3. Boleh dengan sikap duduk lesehan atau bersila atau timpuh
4. Boleh dengan sikap tiduran

PRAKTEK UJIANNYA
Dalam uji praktek mengheningkan cipta, kepada siswa adalah sebagai
berikut :
1. Satu persatu siswa untuk mempraktekan dalam mengheningkan cipta
cukup dengan durasi waktu 5 sampai dengan 10 menit.
2. Siswa dibebaskan/diperbolehkan untuk memilih sikap/ patrap
didalam mempraktekan mengheningkan cipta diantaranya :
2.1. Sikap berdiri / sikap sempurna
2.2. Sikap duduk di kursi, atau duduk lesehan bersila/ timpuh
2.3. Sikap tiduran
3. Diperbolehkan dengan menggunakan alat bantu sebagai pengantar
keheningan seperti :
3.1. Musik (Gending2 jawa karawitan, dll...)
3.2. Aroma ( Minyak wangi.... )
3.3. Bunga ( warna warni bunga.......)
3.4. Pakaian Adat ( nyamping dan kebaya untuk putri. Untuk Putra
ikat kepala, blangkon ....)

II. LAMBANG SPIRITUAL

Lambang spiritual atau sandi yang mengandung makna yang tersirat


atau disebut juga dengan nama SASTRA TANPA TULIS. SASTRA = iImu
pengetahuan, TANPA TULIS = tidak ditulis. Jadi maknanya adalah ilmu
pengetahuan yang tidak ditulis, mengapa tidak ditulis, karena budaya
tulisannya belum lahir, atau ilmu pengetahuan itu sudah ada tetapi
tulisannya belum diciptakan. Lantas berupa apa ilmu pengetahuan itu?
Yaitu berupa lambang-lambang atau sandi, kemudian lambang yang
berkaitan dengan spiritual menjadi lambang spiritual. Ilmu
pengetahuan yang berupa lambang ini banyak tersimpan
rapih/primpen diantaranya adalah pada :

1. Sesaji
2. Adat budaya tradisi
3. Dongeng/ tutur tinular/ cerita rakyat/Ketoprak/ ludruk
4. Beksa/Tari
5. Karawitan/Pedalangan/ Macapatan dll
Faktor yang diujikan adalah siswa mengerti dan mampu menyebutkan
apa saja jenis–jenis lambang spiritual berupa sesaji Bunga-
bungaan/beraneka jenis kembang diantaranya adalah :
1. Kembang apa saja yang digunakan untuk kepentingan spiritual?
2. Jenis kembang telon apa saja ?
3. Jenis kembang Liman apa saja ?
4. Kembang setaman apa saja ?
PENILAIAN
1. Kerapihan/ keserasian kesinkronan dalam busana maupun
kesinergian antara alat bantu
2. Sikap dan patrap, tepat dalam melaksanakan yang tidak terlepas
dari nilai moral dan etika
3. Kemantapan/penjiwaan dari unsur wiraga ,wirasa dan wirama
hingga tak terpengaruh oleh unsur luar, gangguan baik yang di
sengaja maupun tidak disengaja.
4. Total atau Sempurna karena memenuhi kriteria mengheningkan
cipta.
GURU/PENYULUH/PENGAMPU :
1. Menyiapkan sarana dan prasarana peralatan/ uborampe alat bantu
praktek yang diperlukan siswa ( Tempat, bunga, alat musik, ....)
2. Membantu siswa yang mengalami kesulitan ....
3. Alat tulis untuk penilaian