Anda di halaman 1dari 17

Tugas Resume

FISIKA MODERN
Dosen Pengampu
Dr. SHARUL SAEHANA, M.Si

Disusun Oleh:
Desy Rahayu
A20217033

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN SAINS


PASCASARJANA
UNIVERSITAS TADULAKO
2018
RELATIVITAS
1. Kerangka Acuan
Terdapat dua jenis kerangka acuan, yaitu: kerangka acuan inersia dan non-inersia. Jenis
yang pertama adalah jenis kerangka acuan yang telah diisyaratkan oleh prinsip relativitas
Newtonian.
1.1 Kerangka Acuan Inersia
Suatu kerangka acuan inersia bertranslasi dengan suatu kecepatan konstan, yang berarti
kerangka acuan itu tidak berotasi (hanya bertranslasi) dan pusat koordinatnya bergerak dengan
kecepatan konstan di sepanjang sebuah garis lurus (dengan kecepatan tetap, tanpa adanya
komponen percepatan). Dalam kerangka acuan inersia, berlaku hukum pertama Newton (inersia)
dan juga hukum gerak Newton.
Beberapa cara untuk mendeskripsikan secara singkat suatu kerangka acuan inersial. Suatu
kerangka acuan inersial adalah suatu kerangka acuan yang [2];
 bergerak dengan kecepatan konstan.
 tidak bergerak dipercepat.
 dimana hukum inersia berlaku.
 dimana hukum gerak Newton berlaku.
 dimana tidak terdapat gaya-gaya fiktif.

Ilustrasi kerangka acuan inersia


Secara umum apabila suatu kerangka acuan inersia telah dipilih, maka diharapkan bahwa
pengamatan yang dilakukan langsung pada obyek pengamatan itu atau hanya dari kerangka
acuan relatif yang dipilih akan memberikan hasil pengamatan yang sama. Jika tidak, berarti ada
yang salah dalam proses pemilihan kerangka atau dikatakan bahwa kerangka acuan tidak
inersial.

Kerangka acuan yang diam


Sebagai ilustrasi di bawah ini diambil kasus sebuah benda dijatuhkan tanpa kecepatan
awal (gerak jatuh bebas) dari atas sebuah gedung [4]. Dimisalkan terdapat kemungkinan tiga
pilihan titik (di atas gedung, di tengah dan di bawah) dan dua arah (ke atas dan ke bawah) untuk
menentukan kerangka acuan inersial. Di sini diambil kasus khusus, yaitu antara koordinat
semesta dan koordinat pengamat tidak saling bergerak satu sama lain (kecepatan konstan = 0).
Catatan:
 𝑦0 : posisi awal.
 𝑦𝑎 : posisi akhir.
 𝑎: percepatan.
 : posisi pengamat di atas, dihitung dari lantai gedung.
 ℎ/𝑇: posisi pengamat di tengah, dihitung dari lantai gedung.
 𝑡𝑎 : waktu akhir, waktu yang diperlukan benda untuk sampai ke lantai gedung.
 𝑠𝑎 : jarak akhir, jarak yang diperlukan benda untuk sampai ke lantai gedung dihitung dari
posisi mula-mula ia dilepaskan.

Kasus 1
Posisi Jarak/waktu
Gambar Arah y+ Persamaan gerak
pengamat tempuh

2ℎ
Di atas Ke atas 1 𝑡𝑎 = √
𝑦(𝑡) = 𝑦0 + 𝑎𝑡 2 𝑔
𝑦0 = 0 𝑎 = −𝑔 2
𝑆𝑎 = ℎ
𝑦𝑎 = −ℎ

Kasus 2
Posisi Jarak/waktu
Gambar Arah y+ Persamaan gerak
pengamat tempuh

2ℎ
Di atas Ke atas 1 𝑡𝑎 = √
𝑦(𝑡) = 𝑦0 + 𝑎𝑡 2 𝑔
𝑦0 = 0 𝑎=𝑔 2
𝑆𝑎 = ℎ
𝑦𝑎 = ℎ
Kasus 3
Posisi Jarak/waktu
Gambar Arah y+ Persamaan gerak
pengamat tempuh

2ℎ
Di atas Ke atas 1 𝑡𝑎 = √
𝑦(𝑡) = 𝑦0 + 𝑎𝑡 2 𝑔
𝑦0 = (ℎ − ℎ/𝑇 𝑎 = −𝑔 2
𝑆𝑎 = ℎ
𝑦𝑎 = −ℎ/𝑇

Kasus 4
Posisi Jarak/waktu
Gambar Arah y+ Persamaan gerak
pengamat tempuh

2ℎ
Di atas Ke atas 1 𝑡𝑎 = √
𝑦(𝑡) = 𝑦0 + 𝑎𝑡 2 𝑔
𝑦0 = −(ℎ − ℎ/𝑇 𝑎=𝑔 2
𝑆𝑎 = ℎ
𝑦𝑎 = ℎ/𝑇

Kasus 5
Posisi Jarak/waktu
Gambar Arah y+ Persamaan gerak
pengamat tempuh

2ℎ
Di atas Ke atas 1 𝑡𝑎 = √
𝑦(𝑡) = 𝑦0 + 𝑎𝑡 2 𝑔
𝑦0 = ℎ 𝑎 = −𝑔 2
𝑆𝑎 = ℎ
𝑦𝑎 = 0

Kasus 6
Posisi Jarak/waktu
Gambar Arah y+ Persamaan gerak
pengamat tempuh

2ℎ
Di atas Ke atas 1 𝑡𝑎 = √
𝑦(𝑡) = 𝑦0 + 𝑎𝑡 2 𝑔
𝑦0 = −ℎ 𝑎 = −𝑔 2
𝑆𝑎 = ℎ
𝑦𝑎 = 0
2(𝑦𝑎 −𝑦0
Nilai 𝑡𝑎 dicari dengan Menggunakan 𝑠𝑎 = √ dan 𝑠𝑎
𝑎

𝑠𝑎 = |𝑦𝑎 − 𝑦0 |
Dalam contoh ini (kasus 1 - 6) telah dibuktikan bahwa nilai 𝑡𝑎 dan 𝑠𝑎 bernilai sama, tidak
tergantung di mana pengamatan dilakukan dan arah y mana yang positif. Dan memang
seharusnya demikian. Coba bayangkan apabila hukum-hukum yang sama tidak berlaku pada
kerangka inersia, bagaimana orang dapat mengamati pergerakan awan, peredaran planet dan
sebagainya dari bumi. Kita harus berada di sana untuk mengamatinya karena hasil yang didapat
akan berbeda dengan pengamatan yang dilakukan dari bumi. Untunglah terdapat konsep ini
sehingga pengamatan dapat dilakukan di tempat lain dan akan tetap memperoleh hasil yang
sama.

Kerangka acuan yang bergerak lurus beraturan


Ilustrasi dalam contoh ini adalah seorang pengamat 𝑃1 sedang berada di atas sebuah bus
𝐵 yang bergerak lurus beraturan (𝑣 = 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝) terhadap pengamat lain 𝑃2 yang diam di suatu
tempat. Sebuah obyek 𝑂 di-jatuhbebas-kan di atas bis.
Kedua pengamat harus mengukur jarak tempuh dan waktu tempuh yang sama (dari posisi awal
dijatuhkan sampai mencapai atap bis) karena kedua pengamat dilihat dari yang lainnya berada
pada kerangka acuan inersial.
1.2 Kerangka acuan non-inersia
Suatu kerangka acuan non-inersia, sebagai contoh mobil yang bergerak melingkar, atau
komidi putar yang sedang berputar, berakselerasi atau/dan berputar. Hukum pertama Newton
tidak berlaku dalam kerangka acuan non-inersial, yang terlihat dengan adanya percepatan pada
obyek tanpa adanya gaya yang menyebabkannya dalam kerangka acuan tersebut. Kecepatan
konstan saja tidak cukup untuk membuat suatu kerangka acuan menjadi kerangka acuan inersia,
ia juga harus bergerak dalam garis lurus. Gerak berputar atau melengkung akan menyebabkan
kerangka acuan tidak lagi menjadi inersia dikarenakan munculnya percepatan sentripetal.
Beberapa cara singkat untuk mendeskripsikan kerangka acuan non-inersia, yaitu, suatu kerangka
acuan non-inersia adalah suatu kerangka acuan yang; [3]:

 kecepatannya berubah (berubah dipercepat, diperlambat atau bergerak dalam lintasan tidak
lurus, --berbelok-belok--).
 dipercepat.
 dimana hukum inersia tidak lagi berlaku.
 dimana muncul gaya-gaya fiktif agar hukum gerak Newton tetap berlaku.

Ilustrasi kerangka acuan non-inersial


Contoh sederhana kerangka acuan non-inersial adalah apabila suatu kerangka
acuan bergerak lurus dipercepat atau bergerak melingkar (rotasi).

Gambar Pegas dalam lift


Suatu contoh sederhana kerangka acuan non-inersia adalah kerangka acuan yang
diletakkan dalam suatu lift dipercepat (baik ke atas maupun ke bawah). Suatu benda dan pegas
diletakkan di dalam lift untuk membuktikan hal tersebut. Pengamat 𝑃1 adalah pengamat dalam
lift yang tidak bergerak terhadap obyek 𝑂 berupa suatu massa dan pegas, sedangkan pengamat
𝑃2 adalah pengamat yang diam terhadap tanah. Bila lift merupakan suatu kerangka acuan
inersial ( ) maka panjang pegas adalah sama seperti panjang pegas mula-mula.

Akan tetapi bila lift dipercepat maka panjang pegas akan berubah. Pengamat 𝑃1 akan
menyaksikan suatu gaya fiktif bekerja pada pegas yang menyebabkan panjangnya berubah,
padahal tidak ada gaya yang dikenakan padanya. Lain halnya dengan pengamat 𝑃2 yang dengan
jelas melihat mengapa pegas dapat berubah panjangnya. Hal ini dikarenakan lift yang bergerak
dipercepat memberikan gaya normal kepada pegas sehingga panjangnya berubah.

2. Semua Gerak adalah Relatif

Suatu benda dikatakan bergerak bila kedudukan benda itu berubah terhadap suatu
titik acuan atau kerangka acuan. Seorang penumpang kereta api yang sedang duduk di dalam
kereta api yang bergerak meninggalkan stasiun dikatakan diam bila titik acuannya adalah
kereta api, sedangkan bila titik acuannya adalah stasiun penumpang tersebut
dikatakan bergerak. Pengertian diam dan bergerak di sini bersifat relatif tergantung titik
acuannya. Stasiun kita anggap diam, padahal stsiun bersama bumi bergerak mengelilingi
matahari, matahari bersama bumi bergerak terhadap galaksi, bintang, dan seterusnya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tidak ada benda yang bergerak mutlak, yang ada
hanyalah gerak relatif.
2.1 Transformasi Galileo
Dalam membahas teori relativitas diperlukan suatu kerangka acuan inersial yaitu
kerangka acuan di mana hukum pertama Newton berlaku. Kerangka acuan inersial adalah
suatu kerangka acuan yang berada dalam keadaan diam atau bergerak terhadap acuan lainnya
dengan kecepatan konstan pada suatu garis lurus.
Misalkan kejadian fisika berlangsung di dalam sebuah kerangka acuan inersial, maka
lokasi dan waktu kejadian dapat dinyatakan dengan koordinat (x, y, z, t) dengan t adalah waktu.
Kita dapat memindahkan koordinat ruang dan waktu suatu kejadian yang berlangsung di dalam
sebuah kerangka acuan inersial ke dalam kerangka acuan lain yang bergerak dengan kecepatan
relatif yang konstan melaui transformasi Galileo.
Pada gambar 10.1 terdapat dua kerangka acuna inersial S dan S. S diam dan S bergerak
dengan kecepatan v terhadap S sepanjang sumbu x positif. Bayangkanlah S sebagai stasiun dan
S sebagai kereta api yang bergerak dengan kecepatan konstan v. Mula-mula S dan S berimpit
lalu setelah t sekon, S sudah menempuh jarak d = vt. Seorang penumpang P di dalam kereta api
terhadap kerangka acuan S bergerak dengan kecepatan tetap ux searah dengan v. Pada saat t

Gambar. Kerangka Acuan Inersia. S diam dan S’ bergerak dengan kecepatan v terhadap S.

sekon, P mempunyai koordinat P(x, y, z) terhadap kerangka acuan S dan mempunyai koordinat
P(x, y, z) terhadap kerangka acuan S dengan hubungan

x’ = x – vt ; y’ = y ; z’ = z ; t’ = t ..……(1)

Persamaan (1) disebut sebagai transformasi Galileo.

Untuk menentukan kecepatan, Persamaan (1) diturunkan terhadap waktu t. karena


menurut transformasi Galileo, t = t, maka diperoleh
𝑑𝑥 𝑑𝑥
. 𝑑𝑡 = −𝑣
𝑑𝑡

𝑑𝑥′ 𝑑𝑥′
Bentuk adalah = 𝑢𝑥 ′ kecepatan P terhadap S dan adalah kecepatan 𝑃 = 𝑢𝑥 terhadap S.
𝑑𝑡 𝑑𝑡

Dengan demikian, Persamaan (10.1) menjadi

𝑢𝑥 = 𝑢𝑥 – 𝑣 ; 𝑢𝑦′ = 𝑢𝑦 ; 𝑢𝑧′ = 𝑢𝑧 ..……(2)

Untuk mendapatkan percepatan, Persamaan (10.2) diturunkan terhadap waktu. Karena v konstan,
𝑑𝑣
maka 𝑑𝑡 = 0 sehingga berlaku hubungan

𝑎𝑥 = 𝑎𝑥 ; 𝑎𝑦′ = 𝑎𝑦 ; 𝑎𝑧′ = 𝑎𝑧 ..……(3)

Menurut Persamaan (3), a’ = a sedangkan massa P di kerangka acuan S sama dengan


massa P di kerangka acuan S’. Dengan demikian, hukum Newton, F = ma dengan F’ = ma’
adalah sama atau F = F’ Dari uraian di atas disimpulkan bahwa hukum-hukum Newton tentang
gerak dan persamaan gerak suatu benda tetap sama dalam semua kerangka acuan (bersifat
relatif). Keadaan ini disebut sebagai relativitas Newton.

2.2 Transformasi Lorentz


Transformasi Galileo, yaitu Persamaan (10.1) dan (10.2) hanya berlaku untuk
kecepatan-kecepatan yang jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya, c. Untuk peristiwa yang lebih
luas hingga kecepatan yang menyamai kecepatan cahaya diperlukan suatu transformasi baru
sehingga diperoleh bahwa kecepatan cahaya adalah vakum merupakan besaran mutlak.
Untuk memasukkan konsep relativitas Einstein, maka selang waktu menurut kerangka
acuan bergerak t tidak sama dengan selang waktu menurut kerangka acuan bergerak t.
Karenanya, hubungan transformasi mengandung suatu pengali γ, yang disebut tetapan
transformasi. Dengan demikian bila transformasi ini dianggap linear, maka Persamaan (1)
menjadi
𝑥′ = γ (𝑥 – 𝑣𝑡) ..……(3)

Jika kerangka acuan S’ terhadap kerangka acuan S bergerak ke kanan dengan kecepatan
tetap v, maka kerangka acuan S terhadap S’ dapat dianggap bergerak relatif ke kiri dengan
kecepatan v. Hubungan x terhadap x’ menjadi

𝑥′ = γ (𝑥′ – 𝑣𝑡′) ..……(4)

Substitusi nilai x’ dari Persamaan (3) ke dalam Persamaan (4) menghasilkan

𝑥 = γ [ γ (𝑥 – 𝑣𝑡) + 𝑣𝑡′ ] = γ2(𝑥 – 𝑣𝑡) + 𝑣𝑡′


𝑥(1−𝛾2 )
𝑡 = γt + ..……(5)
𝛾𝑣

Misalkan kecepatan P terhadap kerangka acuan S’ pada Subbab 10.1.1 adalah kecepatan
cahaya 𝑢𝑥′ = 𝑐, maka menurut Einstein kecepatan cahaya terhadap kerangka acuan S sama
besarnya yaitu 𝑢𝑥 = 𝑐. Dari sini diperoleh hubungan x = ct dan 𝑥 = 𝑐𝑡′ sehingga Persamaan
(10.7) menjadi 𝑐𝑡 ′ = 𝛾(𝑥 − 𝑣𝑡). Kemudian dengan menggunakan nilai t dari Persamaan (5)
diperoleh

𝑥(1 − 𝛾 2
𝑐 [𝛾𝑡 + ] = 𝛾(𝑥 − 𝑣𝑡)
𝛾𝑣

Faktor yang mengandung x dikumpulkan di sebelah kiri sehingga


𝑣
𝑐 1 𝑣 1+𝑐
𝑥 [1 − ( 2 − 1)] = 𝑐𝑡 (1 + ) 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑥 = 𝑐𝑡 [ ]
𝑣 𝛾 𝑐 𝑐 1
1 − 𝑣 ( 2 − 1)
𝛾

Karena x = ct maka haruslah


𝑣
1+𝑐 𝑣 𝑐 1
= 1 𝑎𝑡𝑎𝑢 1 + =1− ( 2 )
𝑐 1 𝑐 𝑣 𝛾 −1
1−𝑣( 2 )
𝛾 −1
2
𝑣2 1 𝑣2 1
= 1 − 𝑎𝑡𝑎𝑢 = ,
𝑐2 𝛾2 𝑐2 𝑣2
1− 2
𝑐
1
𝛾= 2
..……(6)
√1−𝑣2
𝑐

Akhirnya dapat kita tulis hasil transformasi Lorentz sebagai


𝑥 − 𝑣𝑡
𝑥 ′ = 𝛾(𝑥 − 𝑣𝑡) = ; 𝑦 ′ = 𝑦; 𝑧 ′ = 𝑧
2
√1 − 𝑣2
𝑐
𝑣𝑥
𝑣𝑥 𝑡− 2
𝑡 ′ = 𝛾 (𝑡 − 𝑐 2 ) = 𝑐
2
..……(7)
√1−𝑣2
𝑐

Di sini kita lihat bahwa relativitas Einstein, ruang dan waktu adalah relatif sedangkan
relativitas Newton, ruang dan waktu adalah mutlak. Transformasi Lorentz akan tereduksi
menjadi tambahan transformasi Galileo apabila kelajuan v jauh lebih kecil dari kelajuan cahaya
(v << c).

Transformasi Lorentz untuk kecepatan

Kecepatan dapat kita peroleh dari turunan pertama fungsi kedudukan terhadap waktu.

𝑑𝑥 𝑑𝑦 𝑑𝑧 𝑑𝑥′ 𝑑𝑦′ 𝑑𝑧′


𝑢𝑥 = , 𝑢𝑦 = , 𝑢𝑧 = 𝑑𝑎𝑛 𝑢′𝑥 = , 𝑢′𝑦 = , 𝑢′𝑧 =
𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡
Dari Persamaan (10.11) diperoleh hasil diferensiasi,

𝑣
𝑑𝑥 − 𝑣𝑑𝑡 𝑑𝑡 − ( 2 ) 𝑑𝑥
𝑑𝑥 ′ = 𝑑𝑎𝑛 𝑑𝑡 ′ = 𝑐
2 2
√1 − 𝑣2 √1 − 𝑣2
𝑐 𝑐
𝑑𝑥
𝑑𝑥′ 𝑑𝑥 − 𝑣𝑑𝑡 −𝑣
𝑢′𝑥 = = = 𝑑𝑡
𝑑𝑡′ 𝑑𝑡 − ( 𝑣 ) 𝑑𝑥 1 − ( 𝑣 ) 𝑑𝑥
𝑐2 𝑐 2 𝑑𝑡
𝑢𝑥 +𝑣
𝑢′𝑥 = 𝑢 𝑣 ..……(8)
1− 𝑥2
𝑐

𝑑𝑦 √ 𝑣2 𝑣2 𝑢
𝑑𝑦′ 𝑑𝑦√1 − 1 − 𝑣2
𝑦√1− 2
𝑑𝑥 𝑐2 𝑐2 𝑐
𝑢′𝑥 = = = = 𝑢𝑥 𝑣
𝑑𝑥′ 𝑑𝑡 − ( 𝑣 ) 𝑑𝑥 1− 2
𝑣 𝑑𝑥 1− 2
𝑐2 𝑐 𝑠𝑡 𝑐

𝑣2
𝑢𝑧 √1 − 2
𝑐
𝑢′𝑧 = 𝑢𝑥 𝑣
1− 2
𝑐
Persamaan (8) dapat ditulis menjadi

𝑢𝑥 𝑣 𝑢𝑥 𝑢′ 𝑥 𝑣
𝑢′ 𝑥 (1 − ) = 𝑢𝑥 − 𝑣 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑢 ′
𝑥 − = 𝑢𝑥 − 𝑣
𝑐2 𝑐2
𝑢′ 𝑥 +𝑣
𝑢𝑥 = 𝑢′ 𝑣 ..……(9)
1− 𝑥2
𝑐

Dengan penalaran yang sama, nilai uy dan uz adalah

𝑣2 𝑣2
𝑢′𝑦 √1− 2 𝑢′𝑧 √1− 2
𝑐 𝑐
𝑢𝑦 = 𝑢′ 𝑣 𝑑𝑎𝑛 𝑢𝑧 = 𝑢′ 𝑣 ..……(10)
1+ 𝑥2 1+ 𝑥2
𝑐 𝑐

3. Teori Relativitas

3.1 Teori Relativitas Umum

Relativitas umum diterbitkan oleh Einstein pada 1916. Teori relativitas umum
menggantikan hukum gravitasi Newton. Teori ini menggunakan matematika geometri diferensial
dan tensor untuk menjelaskan gravitasi. Teori ini memiliki bentuk yang sama bagi seluruh
pengamat, baik bagi pengamat yang bergerak dalam kerangka acuan lembam ataupn bagi
pengamat yang bergerak dalam kerangka acuan yang dipercepat. Dalam relativitas umum,
gravitasi bukan lagi sebuah gaya (seperti dalam Hukum gravitasi Newton) tetapi merupakan
konsekuensi kelengkungan (curvature) ruang-waktu. Relativitas umum menunjukan bahwa
kelengkungan ruang-waktu ini terjadi akibat kehadiran massa.
Teori ini merupakan penjelasan gravitasi termutakhir dalam fisika modern. Albert
Einstein menyatukan, teori relativitas khusus, dengan hukum gravitasi Newton. Hal ini dilakukan
dengan melihat gravitasi bukan sebagai gaya, tetapi lebih sebagai manifestasi dari kelengkungan
ruang dan waktu. Utamanya, kelengkungan ruang waktu berhubungan langsung dengan
momentum dari materi atau radiasi apa saja yang ada. Hubungan ini digambatkan oleh
persamaan medan Einstein.
Banyak prediksi relativitas umum yang berbeda dengan prediksi fisika klasik, utamanya
prediksi mengenai berjalanya waktu, geometri ruang, gerak pada jatuh bebas, dan perambatan
cahaya. Contoh perbedaan ini meliputi dilasi waktu gravitasional, geseran merah gravitasional
cahaya, dan tunda waktu gravitasional. Prediksi-prediksi relativitas umum telah dikonfirmasikan
dalam semua percobaan dan pengaatan fisika. Walaupun relativitas umum bukanlah satu-satunya
teori relativistic gravitasi, ini merupakan teori paling sederhana dan konsisten dengan data-data
eksperimen. Namun, masihterdapat pertanyaan yang belum terjawab, secara mendasar, teradapat
pertanyaan bagaimanakah relativitas umum ini dapat digabungkan dengan hukum-hukum fisika
kuantum untuk menciptakan teori gravitasi kuantum yang lengkap dan konsisten.

3.2 Teori Relativitas Khusus


Pada tahun 1905, Albert Einstein menerbitkan teori relativitas khusus, yang menjelaskan
bagaimana menafsirkan gerak pada kenangka acuan inersia yang berbeda – yaitu, tempat-tempat
yang bergerak dengan kecepatan konstan relatif satu sama lain.
Einstein menejelaskan bahwa ketika dua benda bergerak dengan kecepatan konstan sebagai
gerakan relatiff antara dua bend, bukannya menarik bagi eter sebagai kerangka acuan mutlak
untuk mendefinisikan apa yang sedang terjadi. Jika seseorang dan beberapa astronot, Amber,
yang bergerak dalam pesawat ruang ankasa yang berbeda dan ingin membandingkan
pengamatan, yang penting adalah berapa cepat seseorang tersebut dan Amber bergerak terhadap
satu sama lain.
Relativitas khusus hanya mencakup kasus khusus dimana gerak menjadi seragam.
Gerakan ini menjelaskan hanya jika Anda bergerak dalam garis lurus dengan kecepatan konstan.
Segera setelah Anda mempercepat atau melengkung – atau melakukan sesuatu yang mengubah
sifat gerak dengan cara apapun - relativitas khusus dihentikan penggunaanya. Di situlah teori
relativitas umum Einstein masuk, karena dapat menjelaskan khusus umum dari segala macam
gerak.
Teori Einstein didasarkan pada dua prinsip utama:
- Prinsip relativitas: Hukum-hukum fisika tidak berubah, bahkan untuk benda ynag bergerak
dalam kerangka acuan inersia (kecepatan konstan).
- Prisip kecepatan cahaya : Kecepatan cahaya adalah sama untuk semua pengamat, terlepas
dari gerakan mereka relative terhadap sumber cahaya.

4. Gejala Relativistik
4.1 Dilatasi Waktu
Menurut Einstein, selang waktu yang diukur oleh pengamat yang diam tidak sama
dengan selang waktu yang diukur oleh pengamat yang bergerak terhadap suatu kejadian.
Ternyata waktu yang diukur oleh sebuah jam yang bergerak terhadap kejadian lebih besar
dibandingkan terhadap jam yang diam terhadap kejadian. Peristiwa ini disebut dilatasi waktu
(time dilation).
𝛥𝑡0
𝛥𝑡 =
2
√1 − 𝑣2
𝑐

Dengan
𝛥𝑡 = selang waktu yang diukur oleh pengamat yang bergerak terhadap kejadian,
𝛥𝑡0 = selang waktu yang diukur oleh pengamat yang diam terhadap kejadian.
Waktu yang diukur oleh jam pengamat yang diam terhadap kejadian disebut waktu
benar (proper time).

4.2 Konstraksi Panjang


Pengukuran panjang dipengaruhi oleh relativitas. Kita akan mengamati sebuah tongkat yang
terletak pada sumbu xdalam kerangka acuan 𝑆′ yang bergerak dengan kecepatan v terhadap
kerangka acuan S seperti pada gambar 10.5. Kedudukan tongkat terhadap S adalah 𝑥′1 dan 𝑥′2 .
Panjang batang terhadap kerangka acuan S adalah 𝐿 = 𝑥1 − 𝑥2 sedangkan panjang batang
terhadap kerangka acuan S adalah 𝐿0 = 𝑥′1 − 𝑥′2 .

Gambar Kontraksi Panjang

Sesuai Persamaan 7, maka

𝑥′1 − 𝑥′2 = 𝛾(𝑥2 − 𝑣𝑡2 ) − 𝛾(𝑥1 − 𝑣𝑡1 ) = 𝛾[𝑥2 − 𝑥1 − 𝑣(𝑡2 − 𝑡1 )]

Karena waktu pengukuran 𝑥1 sama dengan 𝑥2 , maka 𝑡2 − 𝑡1 = 0 sehingga

𝑥′1 − 𝑥′2 = 𝛾(𝑥2 − 𝑥1 ) 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐿0 = 𝛾𝐿

𝐿0 𝑣2
𝐿= = 𝐿0 √1 − 2
𝛾 𝑐

dengan :
𝐿 = panjang benda bergerak yang diamati oleh kerangka diam,
𝐿0 = panjang benda yang diam pada suatu kerangka acuan,
v = kecepatan benda terhadap kerangka acuan yang diam.

Karena tetapan transforamsi selalu lebih besar dari satu, maka sesuai dengan Persamaan diatas
benda yang ergerak akan tampak lebih pendek bila diukur dari kerangka acuan diam (L < L0).
Peristiwa penyusutan ini disebut kontraksi panjang atau kontraksi Lorentz.
4.3 Massa Relativistik
Menurut fisika Newton atau fisika klasik, massa benda konstan tidak bergantung pada
kecepatan. Akan tetapi, berdasarkan teori relativitas Einstein massa benda adalah besaran relatif.
Massa benda yang bergerak (m) relatif terhadap seorang pengamat akan lebih besar dari massa
diam (m0) benda tersebut. Massa benda yang bergerak dengan kecepatan v adalah

𝑚0
𝑚 = 𝛾𝑚0 =
2
√1 − 𝑣2
𝑐
Perubahan massa karena gerak benda hanya dapat diabaikan untuk benda yang bergerak
dengan kecepatan yang jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya. Dengan kata lain, fisika Newton
hanya berlaku untuk benda-benda yang kecepatannya jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya (v
<< c).

4.4 Momentum Relativistik


Momentum linear suatu benda adalah p = m v. untuk benda-benda yang bergerak
mendekati kecepatan cahaya, momentum relativistiknya diperoleh dengan memperhatikan
massa relativistik benda sesuai dengan Persamaan (10.18) sehingga diperoleh
𝑚0 𝑣
𝑝 = 𝛾𝑚0 𝑣 =
2
√1 − 𝑣2
𝑐

4.5 Energi Relativistik


Usaha yang dilakukan oleh gaya F untuk memindahkan suatu benda sejauh s dapat
dihitung secara integrasi,
𝑠

𝑊 = ∫ 𝐹𝑑𝑠
0

Dengan menggunakan bentuk relativistik untuk Persamaan gerak, yaitu F = d(mv)/dt,


maka Einstein menyelesaikan Persamaan (10.20) dan memperoleh hasil bahwa energi kinetik
relativistik suatu benda, 𝐸𝑘 , adalah
𝐸𝑘 = 𝑚𝑐 2 − 𝑚0 𝑐 2
Persamaan diatas menyatakan bahawa energi kinetik benda sama dengan pertambahan
massa benda sebagai akibat gerak relatifnya dikalikan kuadrat kecepatan cahaya.
Einstein memberikan tafsiran bahwa 𝑚𝑐 2 adalah energi total benda ketika bergerak
dengan kecepatan v dan 𝑚0 𝑐 2 adalah energi benda ketika diam. Jadi, ada kesetaraan antara
massa dan energi, yaitu
𝐸0 = 𝑚0 𝑐 2
dengan 𝐸0 = energi diam benda. Persamaan diatas dikenal sebagai hukum kesetaraan massa
energi Einstein.
Apabila energi total kita sebut 𝐸𝑡 , dari uraian di atas dapat kita rangkum hubungan sebagai
berikut.
Energi diam 𝐸0 = 𝑚0 𝑐 2
𝑚0 𝑐 2
Energi total 𝐸𝑡 = 𝑚𝑐 2 = 2
= 𝛾𝑚0 𝑐 2 = 𝛾𝐸0
√1−𝑣2
𝑐

Energi kinetic 𝐸𝑘 = 𝐸𝑡 − 𝐸0 = ( 𝛾 − 1)𝐸0 = ( 𝛾 − 1)𝑚0 𝑐 2


REFERENSI

[1]. Carroll S M., 2004 An introduction to General Relativity Spacetime andGeometry,


Addison Wesley, San Fransisco
[2]. Kenneth Krane, Fisika Modern ( Modern Physics ), Universitas Indonesia (UI-Press),
Jakarta, 1992.
[3]. http://www.scribd.com/doc/46316795/BAB-I
[4]. http://blogs.phys.unpad.ac.id/aprilia/files/2010/01/Bab-I-Teori-Relativitas-Khusus.pdf